Anda di halaman 1dari 57

CEKUNGAN KUTAI

II.1. GEOLOGI REGIONAL

Lapangan penelitian secara regional termasuk dalam fisiografi Cekungan


Kutai, Kalimantan Timur. Cekungan Kutai merupakan salah satu Cekungan Tersier
Kalimantan Timur yang dibatasi sebelah barat oleh Paparan Stabil Sunda dari
Kalimantan Barat yang merupakan komplesks batuan dasar pra-Tersier, batuan beku
dan metamorf yang telah stabil, dibagian baratlaut oleh dibatasi oleh Tinggian Kuching,
disebelah utaranya terletak Cekungan Tarakan yang antara keduanya dipisahkan oleh
pegunungan Meratus memisahkan Cekungan Tarakan yang antara keduanya
dipisahkan oleh Busur Mangkalihat. Pada bagian Selatan, pegunungan Meratus
memisahkan Cekungan Kutai dengan subcekungan Barito dan subcekungan Pasir.
Pada bagian Selatan juga dibatasi oleh Patternosfer Arch yang merupakan batuan
dasar yang menunjam ke arah Timur – Tenggara, sedang pada bagian timur Cekungan
Kutai membujur selat Makasar.
Sedimen Tersier di Cekungan Kutai menerus keselatan dengan Cekungan
Barito dan Paparan Patternosfer, demikian pula Cekungan Tarakan. Stratigrafi
cekungan ini pada umumnya menunjukkan daur trangresi yang diikuti dengan regresi,
namun terdapat variasi khusus tiap cekungan.

II.1.1. Stratigrafi Regional


Menurut Marks et all (1982), stratigrafi regional Cekungan Kutai bagian Tenggara dari
yang tertua sampai yang termuda, sebagai berikut :
1.. Formasi Pamaluan .
2. Formasi Bebulu Group
3 Formasi Balikpapan Group
4. Formasi Kampung Baru Group
5. Formasi Mahakam Group

Pada daerah telitian merupakan formasi Balikpapan, formasi ini tersusun atas
batupasir dan batulempung dengan sisipan lanau, serpih, batugamping, dan batubara.
Adapun umur dari formasi ini adalah Miosen Tengah bagian bawah – Miosen Atas
bagian bawah. Formasi ini merupakan endapan regresif perenggang delta sampai
daratan delta (delta plain). Ketebalannya diperkirakan sekitar 1000 – 1500 meter, yang
mempunyai hubungan menjari dengan Formasi Bebulu dan ditumpangi secara selaras
oleh Formasi Kampung Baru. Formasi Balikpapan dibagi menjadi tiga bagian yaitu
Formasi Klandasan, Formasi Badak Bawah, dan Formasi Badak Atas, yang merupakan
hasil pengendapan di lingkungan delta plain. Formasi –formasi ini banyak yang menjadi
reservoar bagi lapangan minyak di cekungan Kutai.

II.1.2. Struktur Geologi


Menurut Marshall, A. (1977) secara regional daerah Kalimantan Timur terdiri
dari struktur antiklin yang rapat dan sinklin yang lebar dengan arah umum Utara Timur
Laut – Selatan Barat Daya. Semakin ke arah timur struktur geologinya semakin
sederhana. Semua lapangan minyak di Cekungan Kutai terletak pada sumbu antiklin
dari barat timur.
Perlipatan regional ini terjadi pada Akhir Miosen Tengah dan berhubungan
dengan pergerakan lempeng tektonik selat Makasar ke arah Barat yang ditahan oleh
tinggian Kuching.

II.2. Sedimentologi Delta Mahakam


Delta Mahakam terbentuk pada muara Sungai Mahakam yang terletak di pantai
timur Pulau Kalimantan, antara 0°20' LS dan 117°40' LT. Delta ini terbentuk pada tahap
akhir transgresi Holosen selama 5000 sampai dengan 7000 tahun yang lalu. Selama
waktu itu delta telah berkembang maju (progradasi) dan membentuk sistem delta yang
melingkupi daerah seluas ± 5000 km²,termasuk 1000 km² delta plain.
Delta Mahakam adalah daerah dimana terdapat beberapa lapangan minyak
besar, yang tersusun oleh rangkaian endapan deltaik Miosen. Allen, (1987) telah
melakukan penelitian atau studi terhadap delta Mahakam modern, karena delta
Mahakam modern mempunyai karateristik yang hampir sama dengan delta Mahakam
Miosen sehingga dapat memberikan gambaran pembentukan reservoar batupasir
Miosen di daerah ini.
Dalam pembentukan suatu delta, akan berkembang pola-pola morfologi yang
masing –masing merupakan produk lingkungan pengendapan yang berbeda.
Komponen morfologi delta antara lain delta plain, delta front,dan prodelta. Tiga proses
pokok yang mengontrol pembentukan delta yaitu proses fluvial, tidal dan gelombang air
laut. Berdasarkan ketiga parameter ini, delta Mahakam yang merupakan delta dengan
pengaruh proses fluvial dan tidal yang relatif sama atau seimbang, termasuk dalam
tipe fluvial – tide delta.

II.2.1. Aspek – aspek Umum Sedimentasi Delta


Lyell, (1954) mendefinisikan delta sebagai tempat akumulasi sedimen fluvial
yang diendapakan di muara sungai. Dalam pengertian umum, delta didefinisikan
sebagai suatu kenampakan pantai atau garis pantai yang terbentuk akaibat adanya
material – material sedimen yang dibawa oleh air sungai dan diendapkan di muara
sungai tersebut. Sebuah delta terbentuk dan berkembang jika akumulasi sedimen –
sedimen yang berasal dari sungai pada tepi cekungan lebih cepat dibandingkan dengan
penyebaran sedimen oleh proses – proses yang berasal dari cekungan penerima.
Atas dasar perkembangan pola morfologi dan komponen sedimnennya, Allen
(1987) membagi delta menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Delta plain
Merupakan daratan delta yang dibangun oleh endapan fluvial, diendapkan di atas
bagian delta yang lebih marin (delta front). Bagian ini membentuk dataran landai
berawa yang disusun terutama oleh sedimen berbutir halus seperti serpih, serpih
organik dan batubara. Dataran tersebut digerus secara erosional sampai bagian
dasarnya oleh alur- alur(distributary chanel) yang membentuk pola percabangan yang
menyalurkan air dan sedimen. Alur – alur ini adalah tempat pengendapan pasir
(channel fill sand), yang merupakan reservoar yang baik.
2. Delta front
Merupakan paparan laut dangkal dengan kemiringan ke arah laut, yang mengakumulasi
sedimen ke arah laut memalui alur – alur (distributaries). Umumnya pemasukan pasir
ke delta front melalui alur – alur ini membentuk endapan gosong muara
sungai (distributary mouth bar). Pola fasies dan ukuran endapan ini tergantung pada
intensitas aktivitas laut terhadap pantai dan kecepatan pemasukan sedimen oleh
sungai. Diantara endapan tersebut, diendapakan lumpur lanauan dan pasiran, yang
semakin meningkat kandungan lumpurnya ke arah lepas pantai.
3. Prodelta
Prodelta merupakan perselingan antara gosong pasir (sand bar) dan endapan lumpur,
tetapi umumnya berupa zona lumpur tanpa pasir. Zona ini sangat dipengaruhi oleh
proses pasang surut air laut yang hanya mengakumulasi lempung dan lanau. Prodelta
sulit dibedakan dengan endapan paparan (shelf deposit), tetapi pada umumnya lebih
tipis dan lebih bersifat marin.

II.2.2. Delta Mahakam Miosen


Delta Mahakam Miosen telah mengalami beberapa fase pengisian sedimen.
Pada kala Oligosen di daerah ini mulai mengendapkan sekuen trangresif berupa marine
shale.Pada Miosen Tengah sampai Pliosen terjadi pengendapan sedimen delta sampai
fluvial dengan tebal lebih dari 5000 meter dengan pola pengendapan sekuen regresif.
Rangkaian deltaik disusun oleh beberapa siklus delta dengan ketebalan masing -
masing siklus berkisar antara 30 – 80 meter. Siklus ini disusun oleh endapan delta
berupa batubara dan endapan transgresif berupa marine shale, yang ditutupi oleh
serpihpodelta. Kemudian diatasnya diendapkan endapan regresif yang terdiri dari
batupasir mouth bar dan serpih pasiran, batupasir distributary channel, splays, serpih
organik dan batubara. Puncak siklus ditandai dengan lapisan batubara yang relatif
tebal, ditutupi oleh marine shale atau endapan karbonat yang menunjukkan aktivitas
tektonik regional atau peristiwa kenaikan muka air laut global.
Selama Miosen Tengah sampaai Pliosen terbentuk rangkaian lipatan berarah
timur laut – barat daya sepanjang pantai Kalimantan Timur dan di lepas pantainya.
Pembentukan lipatan ini terjadi bersaman dengan pengendapan sedimmen dari arah
barat. Analisa fasies dari batuan inti (core rock) menunjukkan bahwa delta Mahakam
dipengaruhi oleh sistem fluvialdan tidal dengan tidak adanya pengaruh gelombang air
laut. Sifat –sifat umum morfologi dan sedimentologi delta Mahakam Miosen
menunjukkan kesamaan dengan delta Mahakam modern (Alle,1987).
Lumpur deltaik yang kaya akan bahan organik di delta front dan prodelta serta
serpih organik dan batubara di delta plain merupakan batuan induk bagi pembentukan
hidrokarbon yang terperangkap pada antiklin. Reservoar utama di cekungan delta
Mahakam terdapat pada batupasirdistributary channel di delta palain dan mouth
bar di delta front.

II.2.3. Delta Mahakam Modern


Delta Mahakam modern terletak di muara Sungai Mahakam, pantai timur
Kalimantan. Delta ini merupakan delta Holosen yang berprogradasi di atas permukaan
endapan transgresif Holosen sejak 5000 – 7000 tahun yang lalu, dan telah mencakup
daerah hampir seluas 5000 km², dengan tebal sedimen sekuen regresif delta antara 50
–70 meter (Allen,1987).
Delta Mahakam modern menunjukkan morfologi berbentuk kipas asimetris, yang
terbentuk akibat pengaruh campuran dua sistem, yaitu antar sistem fluvial dan tidal.
Delta Mahakam modern berprogradasi di atas permukan endapan transgresif Holosen,
membentuk pola sedimen regresif yang ukuran butirnya mengkasar keatas (coarsening
upward), tersusun atas pengendapan sedimen prodelta, delta front dan delta plain yang
vertikal sebagai progradasi ke arah laut. Batas luar prodelta berada pada kedalaman 70
meter dan delta front terletak pada kedalaman 0 – 10 meter dari muka air laut. Alur –
alur (channel) pada delta plain membentuk pola percabangan sungai ke laut,
menggerus vegetasi pada delta plain sampai delta frontdengan kedalaman sekitar 20
meter.

II.3. Tinjauan Umum Lapangan Badak


Lapangan Badak terletak di delta Sungai Mahakam , berjarak kira – kira 55 km
di sebelah timur laut kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada posisi geografis
117º22'30" BT, 0º23'30" LS dan 117º27'30" BT , 0°15'0" LS.

II.3.1. Sejarah Lapangan Badak


Lapangan Badak pertama kali ditemukan oleh Huffco Indonesia pada tahun
1972, dan melakukan pengeboran pada sumur Badak 1. Hingga saat ini sumur yang
telah selesai dibor pada lapangan Badak berjumlah 192 sumur.
Pengeboran lapangan Badak dilakukan pada kedalaman 5000 feet sampai
dengan kedalaman 12000 feet. Sampai sekarang masih dilakukan pengeboran sumur
pengembangan serta pemeliharaan sumur – sumur lama dengan tujuan untuk
meningkatkan produksi.
II.3.2. Kondisi Geologi Lapangan Badak
Lapangan Badak merupakan bagian dari delta Mahakam, yang sejarah sedimentasinya
dimulai dari Miosen sampai sekarang. Pada akhir masa Miosen terbentuk delta dibawah
permukaan sungai Mahakam. Delta ini terbentuk dan bergerak dari arah barat ke arah timur
setelah terangkatnya daerah bagian barat yang terangkat sedikit demi sedikit (pengangkatan
dari daerah tinggian Kuching) dari batas datarannya, kemudian beregresi ke arah timur
sehingga terbentuk lipatan – lipatan, dan salah satunya adalah lipatan Badak.

II.3.3. Stratigrafi Lapangan Badak


Stratigrafi lapangan Badak berumur Miosen – Holosen, dicirikan oleh perselingan antara
serpih, batulanau dan batupasir yang merupakan endapan delta. Hidrokarbon ditemukan dalam
perlapisan batupasir delta dari Formasi Balikpapan. Formasi Balikpapan ini terdiri dari batuan
klastik seperti batupasir,batulanau, dan shale, dengan perlapisan batugamping berselang –
seling dan batubara. Sedimen klastik ini diendapkan pada beberapa zona dari lingkungan delta
selama Miosen Tengah sampai Miosen Akhir.
Gwin et al (1974) membagi urutan stratigrafi Lapangan Badak menjadi tiga urutan
berdasarkan variasi fasies batuannya, yaitu Lower Badak sequence dan Middle Badak
sequence yang termasuk dalam Formasi Balikpapan, serta Upper Badak Sequence yang
termasuk dalam formasi Kampung Baru.
a. Lower Badak Sequnce (Sekuen Badak Bawah)
Terdapat pada interval kedalaman 1.021 ft sampai 7540 ft, dan termasuk dalam formasi
Balikpapan. Sekuen ini tersusun atas batulanau dan sisipan serpih, lapisan batugamping dan
interkalasi batupasir kuarsa. Umumnya batupasir yang terdapat memiliki pola mengkasar ke
atas, tidak menerus dan padat dengan semen karbonat, yang menandakan bahwa
pengendapannya terjadi pada lingkungan distal delta front.
b. Middle Badak Sequnce ( Sekuen Badak Tengah)
Middle Badak Sequence masih termasuk dalam Formasi Balikpapan, terdapat
pada kedalaman 2450 ft – 7540 ft. Sekuen ini tersusun atas litologi batupasir kuarsa lebih
melimpah dan tebal, batulanau, shale, dan lapisan batubara. Batupasir ini umumnya berupa
clean sand dan lebih potous dibanding dengan batupasir yang berada ditempat yang lebih
dalam. Fasies sequencenya menunjukkan lingkungan pengendapan proximal delta front facies.
c. Upper Badak Sequence (Sekuen Badak Atas)
Sekuen ini terletak paad kedalaman 2450 ft hingga ke permukaan dan merupakan
Formasi Kampung Baru. Sekuen ini tersusun atas batupasir kuarsa, beberapa lapisan
batulanau, batulempung, dan lignit yang melimph hingga mencapai 47 % dari ketebalan
sekuen. Fosil fauna tidak ditemukan, sekuen ini merupakan ciri lingkungan delta plain facies.

II.3.4. Struktur Geologi Lapangan Badak


Lapangan Badak terletak pada ujung utara sekitar 80 km dari rangkain antiklin Badak –
Handil. Daerah ini berupa antiklin landai yang asimetri dan relatif condong ke arah timur laut –
barat daya dengan sayap yang relatif terjal dibagian tenggara. Berdasarkan peta struktur hasil
interpretasi seisimik menunjukkan bahwa klosur vertikal berkembang seiring dengan
bertambahnya kedalaman atau menunjukkan pertumbuhan synsedimentary structure. Selama
periode waktu pengendapan batuan penyusunnya berkembang pula struktur geologi pada
daerah ini.

BAB III
DASAR TEORI

Akumulasi hidrokarbon di bawah permukaan dapat dideteksi melalui tahap – tahap


penyelidikan geologi dibawah permukaan yang telah banyak dilakukan oleh perusahaan -
perusahaan minyak di dunia.Tahap – tahap penyelidikan geologi bawah permukaan merupakan
salah satu metode yang penting dalam explorasi dan exploitasi minyak dan gas bumi.
Produksi minyak dan gas bumi yang terus menerus dapat mengakibatkan cadangan
makin menciut, dan dengan harapan bahwa dengan dilakukannya eksplorasi disuatu daerah
yang diperkirakan terdapat akumulasi hidrokarbon maka dapat diadakan inventarisasi mengenai
jumlah cadangan dan sampai kapan minyak bumi ini akan habis.

III.1. LOG MEKANIK


Log merupakan suatu data yang didapat melalui hasil rekaman suatu lubang bor dari
permukaan sampai kedalaman tertentu. Prinsip dasar dari log adalah mengukur parameter fisik
yang meliputi porositas, kejenuhan hidrokarbon, ketebalan lapisan yang permeabel.
Berdasarkan sifat –sifat fisika yang diukur log mekanik dapat dibagi atas tiga yaitu log
listrik, log radioaktif dan log sonik. Yang termasuk dalam log listrik antara lain log SP dan log
resistivitas, sedangkan yang termasuk dalam log radioaktif antara lain log GR, log densitas dan
log netron.
Logging merupakan salah satu tahap dalam melakukan eksplorasi minyak dan gas bumi
yang bertujuan untuk menentukan letak kedalam zona produktif dan mengetahui kondisi
struktur dan startigrafis suatu daerah dengan cara melalukan korelasi antara sumur pemboran
yang dijadikan sebagai dasar dalam pembuatan peta bawah permukaan.

III.1.1. Log Sinar Gamma (Gamma Ray Log)


Log sinar gamma adalah log yang mengukur intensitas radiasi sinar gamma yang
dipancarkan secara alamiah oleh batuan. Sumber radiasi sinar gamma di dalam batuan berasal
dari peluruhan potasium, uranium, dan thorium. Dari ketiga unsur tersebut potasium lebih
banyak dijumpai dibanding dengan unsur radioaktif lainnya. Log ini terekam pada track 1dengan
satuan API. Nilai radioaktivitas yang diukur sangat tergantung dari macam batuannya. Pada
batuan sedimen , unsur radioaktif banyak terkonsentrasi pada serpih atau lempung, sehingga
dalam log GR besar kecilnya intensitas radioaktif akan menunjukkan ada tidaknya kandungan
serpih atau lempung, yang juga berperan dalam pekerjaan korelasi dan evaluasi kandungan
serpih di dalam suatu formasi.

III.1.2. Log SP (Spontaneous Potensial)


Yaitu log listrik yang digunakan untuk mengetahui beda potensial yang timbul antara
lumpur pemboran dengan batuan insitu pada formasi disekitar lubang bor. Log SP direkam
pada track 1 bersamaan dengan log GR dengan satuan milivolt. Pada shaly section, log SP
mencapai maksimum ke arah kanan. Log SP hanya dapat menunjukkan lapisan permeabel,
namun tidak dapat mengukur harga absolut dari permeabilitas maupun porositas dari suatu
formasi.

III.1.3. Log Tahanan Jenis (Resistivity Log)


Log tahanan jenis yaitu log listrik yang dipakai untuk mengukur tahanan jenis batuan
secara langsung dari dasar sumur samapi ke permukaan. Secara umum tahanan jenis suatu
batuan didefinisikan sebagai kemampuan dari batuan untuk menghambat arus listrik yang
melalui batuan tersebut. Tahanan jenis batuan adalah kebalikan dari daya hantarnya. Jika
tahanan jenis batuan besar maka batuan tersebut mempunyai daya hantar kecil. Faktor yang
mempengaruhi tahanan jenis batuan adalah kandungan fluida dan faktor formasi batuan.

III.1.4. Log Densitas


Log densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur densitas elektron
suatu formasi. Prinsip pencatatan dari log densitas adalah suatu sumber radioaktif (cobalt-
60 atau cesium 137) yang dimasukkan kedalam lubang bor mengemisikan sinar gamma
kedalam formasi. Didalam formasi sinar tersebut akan bertabrakan dengan elektron dari
formasi. Pada setiap tabrakan sinar gamma akn berkurang energinya. Sinar gamma yang
terhamburkan dan mencapai detektor pada suatu jarak tertentu dari sumber dihitung sebagai
indikasi densitas formasi. Jumlah tabrakan merupakan fungsi langsung dari jumlah elektron
didalam suatu formasi. Karena itu log densitas dapat mendeterminasi densitas elektron formasi
dihubungkan dengan densitas bulk sesungguhnya dalam gr/cc. Harga ρb tergantungdari
densitas matrik batuan, porositas dan densitas fluida pengisi formasi.

III.1.5. Log Netron (Compensated Neutron Log)


Log netron merupakan tipe log porositas yang mengukur kosentrasi ion hidrogen
didalam suatu formasi. Di dalam formasi bersih dimana porositas diisi air atau minyak, log
netron mencatat porositas yang diisi cairan.
Netron energi tinggi yang dihasilkan oleh suatu sumber kima (
campuran americium dan beryllium) ditembakkan kedalam formasi. Didalam formasi, netron
bertabrakan dengan atom – atom penyusun formasi, sebagai akibatnya netron kehilangan
energinya. Kehilangan energi maksimum akan terjadi pada saat netron bertabrakan dengan
atom hidrogen karena kedua materi tersebut mempunyai massa yang hampir sama. Karena
itulah jumlah kehilangan energi maksimum merupakan fungsi dari kosentrasi hidrogen dalam
formasi, karena dalam formasi yang sarang hidrogen terkosentrasi didalam pori-pori yang terisi
cairan, maka jumlah kehilangan energi dapat dihubungkan dengan porositas formasi.

III.1.6. Log Sonik


Log sonik merupakan suatu log porositas yang mengukur interval waktu lewat (∆t) dari
suatu gelombang suarakompresional untuk melalui satu feet formasi. Interval waktu
lewat (∆t) dengan sataun mikrodetik per kaki merupakan kebalikan kecepatan gelombang suara
kompresional (satuan feet per detik). Harga ∆t tergantung paad litologi dan porositas

III.2. ANALISA DATA LOG MEKANIK


Dalam menganalisa suatu log mekanik dapat dibagi menjadi tiga yaitu analisa log untuk
interpretasi lingkungan pengendapan, anlisa log secara kualitatif dan analisa log secara
kuantitatif.

III.2.1. Analisa Log untuk Interpretasi Lingkungan Pengendapan Delta


Interpretasi suatu sekuen pengendapan cenderung didasarkan pada karakteristik urutan
vertikal dari ukuran butir dan struktur sedimen. Profil ukuran butir dapat diketahui dari macam –
macam pola kurva log. Pada log SP dan log GR merupakan log yang menunjukkan ukuran butir
batuan. Disamping data log yang ada, data paleontologi, core, seismik, maupun data – data
pemboran lainnya (cutting, mudlog) dapat digunakan juga dalan mengiterpretasi suatu
lingkungan pengendapan.
Litologi yang biasanya dijumpai pada endapan delta adalah batupasir, pasir lempungan,
lempung, serpih, serpih organik, batubara dan batuan karbonat. Sedangkan sekuen delta dibagi
menjadi tiga fasies utama yaitu prodelta, delta front, dan delta plain. Pada
endapan prodelta terdiri dari litologi batulempung dan serpih dengan sedikit lapisan tipis
bataulanau dan batupasir. Endapan delta frontlitologinya terutama terdiri dari batupasir,
sedangakan endapan delta plain terdiri atas bataupasir, lumpur dan akumulasi bataubara.
Berdasarkan kontak dasarnya (base contact), endapan pasir delta dapat dibedakan
menjadi dua kelas utama (Serra an Abbott,1980, Getz et al, 1977, vide Allen, 1987) yaitu:
1. Tipe sekuen bar
Tipe ini dicirikan dengan bidang dasar yang bergradasi dari serpih, serpih pasiran, selang –
seling antar serpih dengan pasir, sampai pasir murni (clean sand). Pada log GR, tipe ini
mempunyai bentuk kurva corong (funnel), dan banyak fijumpai pada fasies delta front yang
merupakan suatu progradasi bar seperti distributary mouth bar atau tidal bar. Biasanya sekuen
ini ditutupi dengan batugamping, semen karbonat, serpih organik atau bataubara. Sekuen bar
yang lebih tipis dapat juga dijumpai pada delta plain.

2 Tipe sekuen channel


Tipe ini dicirikan dengan bidang dasar erosi (erosive base) yang tajam dan bergradasi keatas
dari pasir sampai serpih. Pada sekuen stratigraphi dengan perubahan yang tajam akan
memberikan kurva berbentuk tabung (cylindrical), sedangkan perubahan yang bergradasi akan
memberikan bentuk intermediate. Untuk perubahannya yang menerus memberikan bentuk
kurva lonceng (bell). Tipe sekuen ini banyak dijumpai pada fasies delta plain. Sekuen suatu
delta adalah merupakan gabungan dari tipe sekuen bar dan sekuen channel

III.2.2. Analisa Log Kualitatif


Analisa yang dilakukan yaitu untuk mengetahui zona mana yang bersifat permeable
atau zona impermeable. Selain itu untuk mengetahui jenis litologi yang ada pada data log dan
zona mana yang termasuk zona porous dan zona tidak porous. Dari zona – zona yang
permeable dan porous akan didapatkan jenis kandungan fluida yang terkandung dalm suatu
reservoar, yaitu apakah berupa gas, minyak atau air.
Pada evaluasi kualitatif ini parameter – parameter yang dievaluasi anatara lain :
1. Jenis litologi, jenis litologi pada zona reservoar dapat ditentukan berdasarkan kenampakan
defleksi log tanpa melakukan perhitungan, dan dapat menentukan porositas dan permeabilitas
yang nantinya akan dikaitkan dengan kandungan fluidanya.
2. Jenis fluida reservoar, diperoleh dari analisa porositas dan permeabilitas pada litologi yang ada.
3. Batas – batas GOC (gas oil contact), GWC (gas water contact),dan OWC (oil water contact).

III.2.3.Analisa Log Kuantitatif


Analisa log secara kuantitaif dimaksudkan untuk mengetahui sifat – sifat fisik batuan
yang meliputi porositas, permeabilitas, serta untuk mengetahui kuantitas dan jenis kandungan
batuan yang terdiri dari kejenuhan hidrokarbon. Sehingga hasil analisa tersebut dapat
digunakan dalam pembuatan peta gross sand, net sand, dan net pay.
III.2.3.1. Porositas (Ǿ)
Porositas (Ø) merupakan fraksi ruang pori yang terdapat pada suatu batuan, atau
merupakan perbandingan volume rongga – rongga pori terhadap volume total seluruh batuan.
Nilai porositas dari suatu formasi dapat ditentukan dari log netron, densitas, Adapun
perhitungan mencari harga porositas adalah sebagai berikut :
1. Dengan menggunakan log densitas
Log densitas mengukur bulk density (ρb), dimana parameter ini dapat digunakan untuk
menghitung porositas setelah diperhitungkan dengan densitas matriks (ρma) dan densitas
fluida (ρf) dalam satuan g/cc
Rumus yang digunakan
ØD = (ρma – ρb) / (ρma – ρf)

2. Dengan menggunakan log netron


Log netron dipengaruhi oleh jumlah hidrogen di dalam suatu formasi, selain itu juga dipengaruhi
oleh jenis batuan, salinitas, suhu fluida, dan tekanan formasi. Untuk shaly formation ,
penambahan serpih akan mempengaruhi porositas batuan.
Rumus yang digunakan :
ØNc = ØN – (ØNlp x Vcl)
Vcl = (ØN – ØD) / (ØNcl – ØDcl)

III.2.3.2. Tahanan Jenis Air Formasi (Rw)


Tahanan jenis formasi merupakan tahanan jenis air yang terdapat dalam formasi
sebelumformasi tersebut ditembus oleh bit pemboran. Air yang terdapat didalam formasi
disebut connate water.
Cara untuk menentukan resitivitas air formasi adalah dengan menggunakan persamaan :
Rw = Rmf x ( Ro / Rxo )
dimana, Rw = resistivitas air formasi , dalam Ωm
Rmf = resistivitas mud filtrate, dalam Ωm
Ro = resisitivitas hidrokarbon, dalam Ωm
Rxo = resisitivitas formasi pada flushed zone, dalam Ωm

III.2.3.3. Resistivitas Formasi (Rt)


Resistivitas formasi (Rt) merupakan harga tahanan jenis dari formasi yang cukup jauh
dari lubang bor dan tidak terpengaruh oleh pemboran atau zona invasi, sehingga tahanan jenis
tersebut merupakan harag tahanan jenis aktual. Harga tahan jenis ini dapat langsung dibaca
pada log tahanan jenis dengan alat yang dalam (LLD/ Laterolog deep) atau dari log induksi
(ILD/ introduction log deep).

III.2.3.4. Tahanan Jenis Zona Terusir (Rxo)


Harga tahanan jenis dari zona terusir (Rxo) ini dapat dibaca pada log MSFL
(Microspherical Focused Log) atau dari log MLL (Micro Laterolog)

III.2.3.5. Kejenuhan Air Formasi (Sw)


Kejenuhan air didefinisikan sebagai fraksi dari pori suatu batuan yang mengandung atau
terisi oleh air. Setelah pemboran, formasi disekitar lubang bor terkontaminasi (flushed) oleh
mud filtrate. Bila hydrocarbon bearing formation yang terletak di dekat lubang bor memiliki
resistivitas rendah, maka sebaliknya di zona yang semakin menjauh menjauh dari lubang bor
mempunyai harga resistivitas yang semakin tinggi.
Pada kedalaman yang tidak dipengaruhi air filtrat (uninvaded zone) batuan sepenuhnya
berisi kandungan awal, sehingga pengukuran – pengukuran pada zona ini dipengaruhi oleh air
formasi, kandungan hidrokarbon dan karakteristik batuan itu sendiri. Untuk menentukan jenis
kandungan fluida pada zona tersebut dilakukan berdasarkan perhitungan harga Sw, yang
secara tidak langsung juga menunjukkan nilai SHC (kejenuhan Hidrokarbon)
SHC = 1 – Sw
1/√Rt
Sw = -------------------------------------------------
Vlp ( 1 - Vlp/2 ) Ø
-------------------- + --------------
√Rlp √a.Rw

dimana, Rt = tahanan jenis formasi


Ø = porositas
Rw = tahanan jenis air formasi
a = 0,8 untuk batupasir
1 untuk batugamping

III.3. KORELASI DATA LOG


Menurut Koesoemadinata (1982), korelasi adalah suatu operasi dimana satu titik dalam
suatu penampang startigrafi disambungkan dengan titik – titik yang lain pada penampang –
penampang starigrafi lainnya dengan pengertian bahwa titik – titik tersebut terdapat dalam
bidang perlapisan yang sama.
Sedangkan dalam Sandi Stratigrafi Indonesia (1996) disebutkan korelasi adalah penghubung
titik –titik kesamaan waktu atau penghubung satuan – satuan startigrafi dengan
mempertimbangkan kesamaan waktu.
Menurut Koesoedinata (1971) dikenal 2 metode korelasi yaitu :
1. Metode Organik
Metode Korelasi organik merupakan pekerjaan menghubungkan satuan – satuan stratigrafi
berdasarkan kandungan fosil dalam batuan (biasanya foraminifera plantonik). Yang biasa
digunakan sebagai marker dalam korelsi organik adalah asal munculnya suatu spesies dan
punahnya spesies lain. Zona puncak suatu spesies, fosil indeks, kesamaan derajat evolusi dan
lain-lain.
2. Metode Anorganik
Pada metode korelasi anorganik penghubungan satuan – satuan stratigrafi tidak didasarkan
pada kandungan organismenya (data organik). Beberapa data yang biasa dipakai sebagai dasr
korelasi antara lain :
a. Key Bed (lapisan penunjuk)
Lapisan ini menunjukkan suatu penyebaran lateral yang luas, mudah dikenal baik dari data
singkapan, serbuk bor, inti pemboran ataupun data log mekanik. Penyebaran vertikalnya dapat
tipis ataupun tebal . Lapisan yang dapat dijadikan sebagai key bed antara lain : abu vulkanik,
lapisan tipis batugamping terumbu, lapisan tipis serpih (shale break), lapisan batubara / lignit.
b. Horison dengan karakteristik tertentu karena perubahan kimiawi dari massa air akibat
perubahan pada sirkulasi air samudra seperti zona – zona mineral tertentu,zona kimia tertentu,
suatu kick dalam kurva resistivitas, sifat radioaktivitas yang khusus dari suatu lapisan yang tipis.
c. Korelasi dengan cara meneruskan bidang refleksi pada penampang seismik.
d. Korelasi atas dasar persamaan posisi stratigrafi batuan
e. Korelasi atas dasar aspek fisik/litologis. Metode korelasi ini merupakan metode yang sangat
kasar dan hanya akurat diterapkan pada korelasi jarak pendek.
f. Korelasi atas dasar horison siluman (panthom horizon)
g. Korelasi atas dasar maximum flooding surface, maximum flooding surface merupakan suatu
permukaan lapisan yang lebih tua dari lapisan yang lebih muda yang menunjukkan adanya
penigkatan kedalaman air secara tiba – tiba.
Sebagian besar pekerjaan korelasi pada industri minyak dan gas bumi menggunakan data
log mekanik. Tipe – tipe log yang biasa digunkan antara lain log penafsiran litologi (Gamma
Ray,SP) yang dikombinasikan dengan log resistivitas atau log porositas (densitas,netron,dan
sonik). Pemilihan tipe log unutk korelasi tergantung pada kondisi geologi yang bersangkutan.
Kombinasi log SP dan resistivitas biasa digunakan pada cekungan silisiklastik sementara untuk
cekungan karbonat digunakan log GR plus resistivitas atau GR plus netron.
Langkah – langkah dalam korelasi log mekanik :
1. Menentukan horison korelasi dengan cara membandingkan log mekanik dari suatu
sumur tertentu terhadap sumur yang lain dan mencari bentuk – bentuk atau pola yang sama
atau hampir sama.
2. Menentukan lapisan penunjuk (marker bed) untuk setiap log yang khas bentuknya yang yakin
akan kesamaan waktunya.
3. Menentukan rekaman log dengan lintasan yang telah ditentukan digantung pada bidang datum
(datum plane), dan korelasi dilakukan lapisan demi lapisan.
4. Pemilihan sumur – sumur yang akan digunakan dalam korelasi diusahakan agar bersifat
representatif terutama untuk mengetahui penyebaran batuan secara lateral.
Korelasi dibagi menjadi dua yaitu korelasi struktur dan korelasi stratigrafi. Korelasi struktur
dibuat dengan cara menempatkan lapisan pada keadaan yang sekarang, sehingga akan
memberikan gambaran posisi batuan setelah mengalami aktivitas tektonik (misalnya struktur
sesar, kekar, dan lipatan), sedangkan korelasi stratigrafi dibuat dengan cara menempatkan atau
menggunakan suatu lapisan penunjuk (marker bed) pada kedudukan yang sama.

III.4. PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN


Pemetaan bawah permukaan dapat dikatakan sebagai pekerjan – pekerjaan yang
dilaksanakan dengan menggunakan metode khusus untuk merekam informasi geologi bawah
permukaan yang hasil rekamannya (data) kemudian diolah dan ditafsirkan sehingga kita
mendapatkan gambaran yang kebih jelas tentang geologi bawah permukaan.
Pada peta permukan hanya berhadapan dengan satu bidang permukaan, yang dapat
dipetakan adalah sifat – sifat geologi, keadaan geologi, dan topografi. Sedangkan pada peta
bawah permukaan kita berhadapan dengan sejumlah berbagai macam bidang permukaan
ataupun interval – interval anatar dua bidang permukaan tersebut. Bidang permukaan ini
biasanya adalah bidang perlapisan, ketidakselarasan, patahan, dll.
Peta bawah permukaan adalah peta yang menggambarkan bentuk maupun kondisi
geologi bawah permukaan, yang bersifat kuantitatif ( menggambarkan suatu garis yang
menghubungkan titik – titik yang bernilai sama atau garis iso/kontur) dan dinamis (yaitu
kebenaran peta tidak dapat dinilai atas kebenaran metode tetapi atas data yang ada, dan
sewaktu – waktu akan dapat berubah jika ditemukan data – data yang baru).

III.5.1. Peta Kontur Struktur (Stuctural Countoured Map)


Peta kontur struktur merupakan peta yang menunjukkan kedalaman dari zona lapisan
batuan yang sama, dibuat berdasarkan data – data yang diperoleh dari sumur pemboran
eksplorasi, baik selama atau setelah dilakukan pemboran. Peta ini memperlihatkan kondisi
struktur puncak (top) dan dasar (base) dari zona batupasir. Peta ini dibuat berdasarkan data –
data korelasi yang dilakukan pada setiap sumur – sumur pemboran.

III4..2. Peta Fasies (Facies Map)


Peta fasies adalah peta yang menggambarkan suatu perubahan secara litologi dan
paleontologi yang terjadi pada saat pengendapan yang menunjukkan kesamaan litologi dan
paleontologi. Di lingkungan delta, dalam peta fasies akan mencerminkan penyebaran lateral
dari setiap sekuen batupasir yang terbentuk pada suatu zona reservoar, antar lain berupa
sekuen chanel atau sekuen bar, yang juga akan mencerminkan jenis lingkungan pengendapan
dari setiap sekuen batupasir tersebut.

III.4.3. Peta Ketebalan Total Batupasir (Gross Sand Map)


Gross sand map adalah peta yang menggambarkan penyebaran batupasir dengan cara
menghubungkan titik- titik yang mempunyai ketebalan yang sama, dan dibuat berdasarkan data
ketebalan batupasir yang ada pada setiap sumur pemboran. Ketebalan batupasir diperoleh dari
ketebalan zona batupasir dari semua kurva log yang ada.
Dalam penarikan garis kontur untuk peta ini harus memperhatikan beberapa aspek,
antara lain :
1. Geologi regional daerah yang dipetakan, untuk menentukan lingkungan pengendapan secara
regional batupasir tersebut.
2. Karakteristik kurva log mekanik dari sumur-sumur pemboran yang menunjukkan variasi dan
perkembangan batupasir yang dipetakan.
3. Kandungan fluida yang ada tiap sumur yaitu pada zona-zona reservoir yang dipetakan apakah
tubuh batupasirnya saling berhubungan atau tidak.

III.4.4. Peta Reservoar (Net Sand Map)


Peta ini menggambarkan ketebalan batupasir yang terisi hidrokarbon (minyak atau gas),
yang ketebalannya diperoleh dari analisa petrofisik batuan pada zona batupasir. Ketebalan ini
didapat setelah dikoreksi terhadap kandungan shale pada tubuh batupasir tersebut.

III.4.5. Peta Net Pay


Peta net pay dibuat berdasarkan batas – batas penyebaran fluida yang diplot dalam
peta netsand dan ditampalkan terhadap peta kontur struktur. Peta ini menggambarkan
penyebaran dan variasi ketebalan dari hidrokarbon yang terperangkap dalam reservoar. Batas
– batas penyebarannya adalah dengan menentukan daerah – daerah gas atau oil – water
contact dan peta ini selanjutnya akn digunakan sebagai dasar untuk perhitungan cadangan.

III.5. PERHITUNGAN CADANGAN HIDROKARBON SECARA VOLUMETRIK


Pengertian cadangan adalah jumlah volume minyak dan gas bumi di dalam reservoar.
Cadangan mempunyai dua pengertian yaitu cadangan terhitung dan nyata terdapat di dalam
reservoar, dapat berupa oil in place (OIP) atau gas in place (GIP), serta cadangan yang
mempunyai nilai ekonomis dalam arti dapat diproduksi secara ekonomis (disebut
sebagai reserve). Perbandingan antara OIP dan reservedisebut recovery factor (RF).
Klasifikasi cadangan hidrokarbon , berdasarkan ats derajat ketidak pastian dari
perhitungannya, menurut SPE (1988) cadangan minyak bumi dapat dibedakan menjadi tiga ,
yaitu :
1. Cadangan terbukti (proved reserves)
Cadangan terbukti adalah volume minyak bumi yang diperkirakan dapat diperoleh dari
reservoar yang ada dengan tingkat keyakinan yang tinggi pada kondisi ekonomi dan potensi
yang sedanag berlangsung.
2. Cadangan tereka (probable reserves)
Cadangan tereka adalah cadangan minyak bumi dengan tingkat keyakinanya lebih rendah
dari cadangan terbukti. Cadangan ini termasuk cadangan yang didasarkan dari operasi yang
sedang berlangsung.
3. Cadangan terkira (possible reserves)
Cadangan terkira adalah cadangan minyak bumi yang memiliki derajat kepastian yang
paling rendah dan hanya dapat diperkirakan dengan tingkat kepercayaan yang rendah.
Cadangan hidrokarbon merupakan fungsi dari waktu sehingga estimasinya harus
dilakukan secara periodik. Ketetapan estimasi tergantung paad jumlah dan kualitas data yang
digunakan. Untuk estimasi cadangan hidrokarbon terdapt lima metode estimasi cadangan yang
sering digunakan (Campbell,1973), antara lain :
1. Estimasi dengan cara volume (volumetric estimation)
2. Kesetimbangan bahan (material balance)
3. Kurva penurunan produksi (production decline kurve)
4. Perbandingan dengan cadangan pada reservoar lain yang mempunyai kemiripan kondisi
geologi dan kondisi reservoar yang lain.
5. Perbandingan dengan data dari formasi yang sama pada lapangan yang berbeda
Metode volumetrik lebih ditekankan pada pendekatan data – data geologi bawah
permukaan. Metode ini lmerupakan metode yang menghitung cadangan ditempat hidrokarbon
pada kondisi asli reservoar. Metode material balance dipakai untuk menguji kebenaran metode
volumetrik, hal ini dilakukan karena kurangnya informasi geologi sehingga penting untuk
mengukur volume reservoar secara keseluruhan. Estimasi cadangan hidrokarbon dengan cara
volumetrik memerlukan parameter – parameter tertentu meliputi volume reservoar yang
mengandung hidrokarbon, porositas batuan, presentase pori batuanyang terisi oleh hidrokarbon
dan berapa persen hidrokarbon yang dapt diambil.
Untuk menetukan initial in place dengan metode volumetrik, terlebih dahulu dicari volume
bulk (VB) dari reservoar yang ditempati oleh fluida. Untuk itu diperlukan data log unutk
mengetahui ketebalan formasi produktif. Kalkulasi secara volumetrik didasarkan terutama pada
peta bawah permukaan, data log, data core, dan data DST (drill stem test)
Adapun parameter yang diperlukan untuk perhitungan besarnya cadangan minyak dan gas
bumi secara volumetrik adalah :
 Porositas (Ø)
 Kejenuhan air (Sw)
 Ketebalan lapisan batuan resrvoar
 Luas batuan reservoar
 Formation volume factor (FVF)
Peta yang diperlukan dalam perhitungan cadangan antara lain peta kontur struktur top lapisan,
gross sand map ( peta ketebalan total batupasir), peta net sand (peta ketebalan total pasir
bersih) dan peta net pay . Ada tiga pendekatan yang digunakan untuk menghitung
VB reservoar dari net pay isopach map, yaitu metode piramidal, metode trapezoidal dan
metode grafis (Heysse,1991). Setelah VB didapat selanjutnya menghitung initial oil in place.

Pada metode grafis, luas masing – masing daerah yang dibatasi oleh kontur peta
isopach diplot versus ketebalan yang dinyatakan oleh kontur tersebut. VB reservoar adalah luas
areal dibawah kurva (acre feet)

BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1. Studi geologi regional daerah penelitian, yaitu dengan melakukan kaji pustaka yang
menyangkut kondisi geologi daerah penelitian.
2. Pembagian tubuh batupasir serta korelasi pada zona C018B dan zona C020A berdasarkan
data – data log sumur pemboran di lapangan Badak..
3. Pembuatan peta facies zona C018B.
4. Pembuatan peta kontur struktur top sand zona C018B.
5. Pembuatan peta net sand zona C018B
6. Pembuatan peta net pay zona C018B.
7. Perhitungan cadangan (volumetrik), berhubung dengan keterbatasan waktu penelitian, maka
perhitungan ini hanya dilakukan perhitungan volume bulk dari zona C018B berdasarakan dari
peta reservoir yang dibuat.
Berikut ini akan dijelaskan lebih detail mengenai analisa dan hasil pembahasan untuk setiap
langkah penelitian .

IV.1. Korelasi Reservoar Zona C018B dan Zona C020A


Sebelum melakukan pemetaan bawah permukaan yang harus dilakukan pertama kali
yaitu korelasi detail dari tiap – tiap zona yang kan dipetakan. Data log yang dipakai untuk
korelasi yaitu data log GR, log SP, log resistivitas, log densitas, log porositas, dan log sonic.
Banyaknya sumur yang dikorelasikan pada zona C018B dan zona C020A yaitu 35
sumur yang terletak pada lapangan Badak pada bagian selatan. Yang dijadikan sebagai dasar
atau patokan dalam korelasi yaitu sumur 191 di lapangan Badak. Ke 35 sumur tersebut adalah:
- Bdk 0070 - Bdk 0620 - Bdk 1020 - Bdk 1700
- Bdk 0210 - Bdk 0640 - Bdk 1030 - Bdk 1720
- Bdk 0220 - Bdk 0680 - Bdk 1040 - Bdk 1760
- Bdk 0300 - Bdk 0750 - Bdk 1080 - Bdk 1880
- Bdk 0390 - Bdk 0780 - Bdk 1100 - Bdk 1910
- Bdk 0460 - Bdk 0790 - Bdk 1170
- Bdk 0490 - Bdk 0830 - Bdk 1290
- Bdk 0500 - Bdk 0850 - Bdk 1470
- Bdk 0540 - Bdk 0920 - Bdk 1600
- Bdk 0560 - Bdk 0980 - Bdk 1660
Secara umum pada bagian bawah dan bagian atas dari zona tersebut terdapat lapisan
batubara yang memiliki karakteristik pola log yang khas dengan penyebaran lateral relatif luas,
sehingga lapisan batubara tersebut dapat dipakai sebagai marker stratigrafi (datum C017 TZ
dan C020 TZ), sehingga lapisan inilah yang dipakai sebagai horison acuan atau bidang datum
untuk pemetaan kontur struktur pada zona C018B didaera penelitian. Korelasi dilakukan
dengan menghubungkan tubuh – tubuh batupasir dengan pola yang sama menjadi satu tubuh
reservoar.

IV.2. Analisa Data Secara Kualitatif


IV.2.1. Lingkungan Pengendapan
Pada zona C018B, berdasarkan data rekaman lognya dapat disimpulkan bahwa daerah
penelitian diendapkan pada lingkungan delta plain dan upper delta front, yang dibuktikan oleh
karakteristik bentuk kurva log yang menunjukkan :
1. Terdapatnya lapisan tipis batubara pada bagian atas dan bawah zona C018B.
2. Banyak ditemukan sisipan serpih atau batulempung.

IV.2.2.. Interpretasi Litologi


Log yang dipakai dalam melakukan interpretasi litologi adalah log Gamma Ray, log SP,
dan log sonic. Pertama – tama yang dilakukan adalah menetukan pasir dan serpih berdasarkan
kenampakan pola kurva lognya, dimana log yang dipakai adalah log GR dan log SP, untuk
batupasir dicirikan oleh log GR dan log SP yang defleksi ke arah kiri dengan melihat
kenampakan log soniknya yang relatif stabil di tengah, sedangkan batubara ditunjukkan dengan
pola GR dan sonic yang defleksinya ke kiri sedangkan log SP defleksinya ke kanan. Serpih
ditunjukkan dengan pola log GR, Log SP, dan log sonic ke kanan.

IV.2.3. Menentukan Kandungan Fluida


Penentuan adanya hidrokarbon dapat dilihat dari pola – pola kurva lognya, dimana
setelah ditemukan lapisan batupasir dari log GR, Log SP, maupun log sonic. Setelah ditentukan
lapisan batupasirnya kemudian mengamati kombinasi kurva log densitas dan log neutron.
Adanya hidrokarbon akan menyebabkan pembacaan log densitas menjadi menurun karena
minyak dan gas memiliki densitas lebih kecil bila dibandingkan dengan air, sedangkan pola log
neutron kehadiran hidrokarbon menyebabkan pembacaan log menjadi menurun, sehingga akan
terjadi cross over antara keduanya yang dapat menandakan adanya kehadiran hidrokarbon
dimana crossover yang besar menandakan gas sedangkan minyak menengah dan air lebih
kecil akan tetapi selain itu perlu juga dilihat pembacaan log resistivitasnya dimana kehadiran
hidrokarbon akan menunjukkan resistivitas yang rendah, sehingga hal tersebut dapat pula
dijadikan acuan untuk menentukan batas – batas contactnya
Zona C018B adalah salah satu zona batupasir yang merupakan salah satu reservoir
baru (new pool) dari pengeboran sumur Badak 191 dengan menghasilkan minyak ± 323 bopd,
solution gas ± 1080 mcfd dan air ± 243 bwpd, dilihat dari kenampakan log densitas, log
soniknya, log resistivitasnya besar dan juga dari berdasarkan data perhitungan petrofisika
(lumping) dengan ketebalan net sand 15,5 ft dan net pay 12,5 ft diperkirakan bagian bawah dari
batupasir ini merupakan kontak antara minyak dan air. Sedangkan pada sumur Bdk 0210, Bdk
0220, Bdk 0300, Bdk 0390, Bdk 0500, Bdk 1020, Bdk 1470, dan Bdk 1600 tidak ada kandungan
hidrokarbonnya (WET) walaupun didalam perhitungan petrofisik (lumping) terdapat ketebalan
net paynya, tetapi dilihat dari kurva lognya tidak menunjukkan adanya suatu kandungan
hidrokarbon yaitu dimana log resistivitasnya rendah dan tidak menunjukkan crossover antara
log densitas dan log neutron.

IV.3. Analisa Data Log Kuantitatif


Dalam analisa data log secara kuantitatif, dilakukan perhitungan parameter petrofisik
dari reservoir yaitu perhitungan porositas, permeabilitas, dan kejenuhan air yang nantinya
parameter – parameter tersebut dipakai dalam perhitungan cadangan.
Dalam hal ini perhitungan parameter – parameter tersebut menggunakan software yang telah
tersedia di VICO Indonesia yaitu petroworks, dimana perhitungan tersebut menggunakan cut off
yang digunakan oleh VICO Indonesia. Yaitu sebagai berikut:
- Sw ( Water Saturation) = 0,650
- Vcl ( Shale Volume ) = 0,280
- Porosity = 0,070 – 0,500
Dengan hasil data terlampir, tabel 1

IV.4. Pemetaan Bawah Permukaan


Peta bawah permukaan yang dibuat meliputi peta fasies, peta kontur struktur, peta net
sand, dan peta reservoar sand.

IV.4.1. Peta Fasies


Berdasarkan pada bentuk –bentuk kurva log GR dapat ditentukan lingkungan
pengendapan dari zona C018B pada masing –masing sumur, apakah itu adalah channel atau
yang lainnya, kemudian berdasarkan pada analysa tersebut dibuat juga peta fasies yang akan
digunakan sebagai acuan dalam pembuatan peta – peta selanjutnya.
Analisa fasies pengendapan daerah telitian berdasarkan peta ini adalah channel, bar,
dan creavase splay. Pada daerah telitian terdapat tiga chanel utama dengan terdapatnya
creavase splay (limpahan banjir) disekitar tubuh channel dengan bentuk yang relatif lonjong dan
bar yang berada diantara channel – channel tersebut.
Pemisahan atau penyatuan jaringan alur batupasir yang menyusun daerah ini ditentukan
berdasarkan :
1. Berkembang atau tidaknya batupasir di suatu sumur pada zona tersebut.
2. Kemiripan bentuk kurva log listrik yang relatif mencerminkan karakteristik litologi di lapangan.
3. Korelasi batupasir dengan tebal yang relatif maksimum merupakan sumbu alur utama
pengendapan batupasir dengan penyebaran lateral.
4. Karakteristik fasies berdasarkan rekaman log listrik.

IV.4.2. Kontur Struktur


Peta kontur struktur pada zona C018B dibuat dengan menggunakan batas atas (top
sand) dari batupasir pada masing – masing sumur yang dikorelasikan pada lapangan Badak.
Peta ini menggambarkan kedalaman puncak batupasir pada masing – masing zona, dimana
caranya adalah dengan menghubungkan titik – titik kedalaman top sand yang sama diukur pada
TVDSS, dengan skala grafis 1 : 10.000 dan interval kontur 50 ft. Data kedudukan top dan
bottom zona batupasir C018B disetiap sumur dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Kedalaman top sand dan bottom sand zona C018B
No Well UTM - X UTM -Y TOP TVD BOT TVD TOP TVDSS BOT
TVDSS
(ft) (ft) (ft) (ft)
1 Bdk 544737.9 9960550 6519.21 6522.96 -6393.62 -6397.34
0070
2 Bdk 548817.3 9959523 6464.91 6486.65 -6437.47 -6459.18
0210
3 Bdk 548968.5 9959594 6618.51 6634.58 -6540.8 -6555.94
0220
4 Bdk 547736.1 9963600 6331 6340.52 -5987.4 -5995.45
0300
5 Bdk 548053.1 9960154 6328.8 6334.33 -6297.33 -6302.85
0390
6 Bdk 547519.1 9958542 6492.92 6500.28 -6464.26 -6471.61
0460
7 Bdk 547461.9 9957621 6681.08 6715.13 -6652.92 -6686.94
0490
8 Bdk 546744.5 9956678 6800.69 6812.13 -6759.2 -6770.64
0500
9 Bdk 546951.9 9958760 6537.24 6543.38 -6478.13 -6484.27
0540
10 Bdk 548053.4 9958078 6577.04 6597.18 -6554.82 -6574.92
0560
11 Bdk 549132.2 9958762 6759.82 6771.39 -6732.22 -6743.77
0620
12 Bdk 544350 9960934 6537.58 6540.96 -6451.92 -6455.29
0640
13 Bdk 547947.1 9956753 6765.69 6771.83 -6735.45 -6741.59
0680
14 Bdk 545959.6 9957345 6676.76 6687.13 -6564.57 -6574.94
0750
15 Bdk 545795.8 9960110 6456.34 6464.64 -6345.29 -6353.55
0780
16 Bdk 549834 9959510 6888.51 6893.39 -6860.7 -6865.57
0790
17 Bdk 546473.5 9959118 6562.17 6564.91 -6437.96 -6440.69
0830
18 Bdk 544513.9 9957881 6783.14 6785.22 -6625.74 -6627.82
0850
19 Bdk 548172.8 9958851 6446.56 6451.48 -6423.65 -6428.57
0920
20 Bdk 548365.5 9958756 6523.92 6551.73 -6493.47 -6521.27
0980
21 Bdk 546143.4 9959488 6617.53 6621.84 -6451.13 -6455.44
1020
22 Bdk 547492.2 9959285 6398.4 6498.97 -6359.65 -6370.21
1030
23 Bdk 547250.8 9956998 6724.16 6724.74 -6687.55 -6688.13
1040
24 Bdk 545237 9960485 6489.74 6492.83 -6396.84 -6399.93
1080
25 Bdk 1100 546565.4 9960059 6441.9 6450.54 -6308.3 -6316.9
26 Bdk 1170 546089.8 9960077 6487.52 6493.58 -6346.77 -6352.83
27 Bdk 548539.3 9958546 6589.01 6603.48 -6554.18 -6568.64
1290
28 Bdk 548186.4 9959666 6353.9 6360.86 -6322.04 -6328.99
1470
29 Bdk 548375.1 9959075 6462.95 6470.75 -6435.2 -6442.99
1600
30 Bdk 547922.6 9960878 6149.81 6154.61 -6117.44 -6122.24
1660
31 Bdk 547787.9 9957308 6649.09 6653.53 -6610.28 -6614.71
1700
32 Bdk 548381.2 9959332 6433.38 6435.82 -6393.69 -6396.13
1720
33 Bdk1760 548018.6 9958469 6532.9 6533.19 -6504.8 -6505.1
34 Bdk 547703 9958403 6581.61 6585.88 -6484.6 -6488.87
1880
35 Bdk 1910 548590.9 9959106 6629.35 6647.63 -6473.65 -6491.93
Berdasarkan pola kontur yang diteliti diketahui bahwa struktur geologi yang berkembang
di zona penelitian adalah struktur perlipatan antiklin dengan arah relatif timur laut – barat laut,
yang didapat dari hasil korelasi antar sumur – sumur dilapangan badak.

IV.4.3. Peta net sand ( net sand isopach)


Untuk membuat peta net sand maka sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu harga
ketebalan batupasir bersihnya, untuk mendapatkan harga ketebalan pasir bersih maka
dilakukan proses lumping, yaitu perhitungan dengan menggunakan komputer untuk didapatkan
data petrofisik zona C018B yang meliputi porositas, kejenuhan air, dan volume batulempung,
dimana hasil perhitungan tersebut didapat dari data log untuk kedalaman top sand dan bottom
sand pada masing – masing zona. Harga cut off yang sudah ditentukan oleh pihak VICO
Indonesia untuk lapangan Badak adalah meliputi :
- Sw = 0,650
- Vcl = 0,28
- Porosity = 0,07 – 0,5
Besarnya ketebalan bersih batupasir pada zona C018B setelah dikoreksi terhadap
kandungan serpih atau lempung, dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Ketebalan net sand dan net pay zona C018B
No Well Net sand (ft) Net pay (ft)
1 Bdk 0070 0 0
2 Bdk 0210 19,5 3.5
3 Bdk 0220 15,14 12.02
4 Bdk 0300 8,05 7.85
5 Bdk 0390 4,46 1.5
6 Bdk 0460 - -
7 bdk 0490 - -
8 Bdk 0500 10.44 3.94
9 Bdk 0540 6,14 0
10 Bdk 0560 - -
11 Bdk 0620 - -
12 Bdk 0640 - -
13 Bdk 0680 - -
14 Bdk 0750 8,50 0
15 Bdk 0780 7,50 0
16 Bdk 0790 2,50 0
17 Bdk 0830 - -
18 bdk 0850 - -
19 Bdk 0920 - -
20 Bdk 0980 26,94 7.5
21 Bdk 1020 - -
22 Bdk1030 5 0
23 Bdk 1040 - -
24 Bdk 1080 - -
25 Bdk 1100 - -
26 Bdk 1170 - -
27 Bdk 1290 - -
28 Bdk 1470 6.96 4.98
29 Bdk 1600 3.25 2
30 Bdk 1660 2.5 0
31 Bdk 1700 3.47 1.5
32 Bdk 1720 0 0
33 Bdk 1760 0.29 0
34 Bdk 1880 1 0
35 Bdk 1910 15.5 12.5
35 Bdk 1910 15.5 12.5

Ketebalan batupasir disetiap sumur untuk zona batupasir C018B didaerah penelitian
menunjukkan bahwa :
1. Nilai ketebalan pasir pada rangkaian sumur – sumur dari arah timur ke barat daya semakin
menurun.
2. Pada sumur – sumur dibagian timur mempunyai ketebalan yang lebiht besar dibanding
ketebalan sumur- sumur disekitarnya.
Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa alur batupasir makin menipis ke arah barat
daya, yang mengindikasikan bahwa energi sedimentasi ke arah tersebut semakin berkurang

IV.4.5. Peta net oil pay


Peta net pay dibuat untuk mengetahui geometri penyebaran dari reservoir yang
mengandung hidrocarbon. Untuk hal tersebut diperlukan peta kontur struktur puncak lapisan
batupasir pada masing – masing zona yang kemudian ditampalkan dengan peta net sand.
Setelah ditampalkan antara peta kontur struktur top sand dan peta net sand, ditentukan batas
OWC ( Oil Water Contact) untuk tank yang bersangkutan. Untuk tank zona telitian berada pada
kedalaman 6486 ft TVDSS pada sumur Bdk 191. Adanya OWC dapat diperkirakan dari data
lognya juga dari hasil perhitungan petrofisik (lumping), dimana pada data lumping nilai net sand
dari Bdk 191 adalah 15.5 sedangkan harga net paynya yaitu 12.5, sehingga dapat diketahui
bahwa harga waternya 3.

IV.5. Perhitungan VB ( Volume Bulk dari C018B Reservoir)


Adanya kandungan hidrokarbon harus dibuktikan dengan analisa kuantitatif, terutama
untuk menentukan porositas dan kejenuhan air (Sw) serta kejenuhan hidrokarbon berdasarkan
analisa petrofisika. Harga Sw dapat digunakan sebagai patokan untuk menetukan ada tidaknya
interval lapisan batuan yang mengandung hidrokarbon. Sebenarnya tidak ada harga Sw
yang pasti untuk menentukan kandungan hidrokarbon karena setiap lapangan minyak
mempunyai karakteristik batuan yang mungkin berbeda harga SW-nya terhadap lapangan
lainnya. Melihat kenyataan tersebut maka sangat sulit untuk mengambil batasan yang jelas dari
kisaran Sw.
Perhitungan volume reservoar dilakukan dengan menggunakan peta ketebalan gas
produktif ( net gas pay map). Pada penelitian kali ini, penulis hanya melakukan perhitungan VB
(Volume Bulk) secara grafis berdasrkan pada peta reservoir yang dibuat, dengan berdasarkan
data ketebalan, oil water contact, dan luas dari peta reservoir dengan menggunakan software
(Zmap+), hasil yang diperoleh adalah sbb
Tabel 4. Hasil perhitungan volume reservoar pada zona batupasir C018B (VB)
No. Tank Positive Area (acree) Positive Volume (acree ft)
1 1 20.9 215.00

Hasil perhitungan VB ini selanjutnya akan digunakan untuk perhitungan volumetric


cadangan, baik untuk menghitung initial oil in place (IOIP) ataupun initial gas in place (IGIP)
pada tahap – tahap berikutnya.

BAB V. KESIMPULAN

Hasil analisa data log sumur di lapangan Badak yang menembus zona reservoar C018B
menghasilkan beberapa peta bawah permukaan yang meliputi peta fasies, peta kontur struktur
top sand, , net sand, dan net pay.
Pada peta fasies yang ada lingkungan pengendapan dari batupasir C018B adalah
channel, bar dan creavase splay. Diantara alur –alur utama atau channel sand terdapat
endapan limpahan banjir (creavase splay) yang dijumpai di beberapa tempat dengan lebar
bervariasi dan penyebaran lateral berbentuk lonjong.
Pada peta penampang kontur struktur daerah penelitian, menunjukkan bahwa untuk
zona C018B merupakan suatu struktur perlipatan yaitu perlipatan antiklin dengan sumbu arah
relatif timur laut – barat laut.
Sedangkan dari data korelasi stratigrafi secara keseluruhan menunjukkan semakin
berkurangnya kandungan pasir ke arah barat daya daerah penelitian dan semakin bertambah
kandungan lempung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa arah pengendapan sedimen pada
zona C018B adalah ke arah barat daya dengan energi semakin berkurang
Dari interpretasi petrofisik dan data lognya kandungan fluida pada batupasir zona
C018B sumur Bdk 191 adalah minyak dan air, sedangkan pada sumur lainnya yang dikorelasi
tidak terdapat adanya kandungan hidrokarbon.
Jadi dapat disimpulkan bahwa minyak yang terkandung pada zona C018B yang
terdapat pada sumur Bdk 191 menempati area seluas 20.9 acree dan VB(volume bulk) sebesar
215.00 acree feet.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, GP., 1987, Deltaic Sediment in The Modern and Miocene Mahakam Deta,
Total Exploration Laboratory, Pessac, Perancis

Harsono, A., 1994, Pengantar Evaluasi Log, 6th rev., Sclumberger Data Services,
Jakarta

Kosoemadinata, R. P., 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, edisi ke-2, Institut
Teknologi Bandung, Bandung

Kosoemadinata, R. P., 1974, Teknik Penyelidikan Geologi Bawah Permukaan,


Pedoman Praktikum Geologi Minyak dan Gas Bumi, Institut Teknologi
Bandung, Bandung

Kutai Basin Study, 1995

Geologi Regional Cekungan Kutai

Gambar 1. Struktur geologi regional kalimantan (Satyana et al., 1999) dan Cekungan Kutai (Van de weerd dan Armin, 1992)

Secara fisiografis, Cekungan Kutai berbatasan di sebelah utara dengan


Tinggian Mangkalihat, Zona Sesar Bengalon, dan Sangkulirang. Di
sebelah selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang yang bertindak
sebagai zona sumbu cekungan sejak akhir Paleogen hingga sekarang
(Moss dan Chamber, 1999). Di sebelah barat berbatasan dengan Central
Kalimantan Range yang dikenal sebagai Kompleks Orogenesa Kuching,
berupa metasedimen kapur yang telah terangkat dan telah terdeformasi.
Di bagian timur berbatasan dengan Selat Makassar.
Kerangka tektonik di Kalimantan bagian timur dipengaruhi oleh
perkembangan tektonik regional yang melibatkan interaksi antara
Lempeng Pasifik, Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia, serta
dipengaruhi oleh tektonik regional di asia bagian tenggara (Biantoro et
al., 1992).
Bentukan struktur Cekungan Kutai didominasi oleh perlipatan dan
pensesaran. Secara umum, sumbu perlipatan dan pensesarannya berarah
timurlaut-baratdaya dan subparalel terhadap garis pantai timur pulau
Kalimantan. Di daerah ini juga terdapat tiga jenis sesar, yaitu sesar naik,
sesar turun dan sesar mendatar. Adapun struktur Cekungan Kutai dapat
dilihat pada Gambar 1.

Batuan dasar (basement) dari Cekungan Kutai diduga sebagai karakter


benua dan samudera yang dikenal sebagai transisi mengambang (rafted
transitional). Batuan dasar Cekungan Kutai berkaitan dengan segmen
yang lebih awal pada periode waktu Kapur Akhir – Paleosen (70 – 60
MA).

Cekungan pada bagian timur dan tenggara Kalimantan dikontrol oleh


adanya proses pergerakan lempeng kerak samudera dari arah tenggara
yang mengarah ke baratlaut Kalimantan seperti terlihat pada Gambar 2.
Gambar. 2 Perkembangan tektonik Cekungan Kutai (Hutchison, 1996)

Dari Gambar 2 terlihat bahwa kerak samudera yang berasal dari


tenggara Kalimantan mendesak massa kerak benua Schwaner ke arah
baratlaut, dikarenakan massa kerak Schwaner sangat kuat maka kerak
samudera mengalami patah sehingga ada yang turun ke bawah dan naik
ke atas. Karena di dorong terus dari arah Irian Jaya terjadilah obduksi
yang akhirnya membentuk batuan ofiolit pada pegunungan Meratus.
Ketika kerak samudera mengalami tekanan dari arah tenggara sudah
sampai pada titik jenuh maka kerak tersebut patah dan karena adanya
arus konveksi dari bawah kerak maka terjadilah bukaan (rifting) yang
kemudian terisi sedimen sehingga menyebabkan terbentuknya
cekungan-cekungan yang berarah relatif utara–selatan seperti Cekungan
Kutai.

Kawasan daratan pesisir Delta Mahakam memiliki seri perlipatan


antiklin kuat dan sinklin yang luas yang dikenal dengan nama
Antiklonorium Samarinda yang merupakan hasil proses struktur
pembalikan (inversi) dari cekungan Paleogen.
Stratigrafi Cekungan Kutai menurut Allen dan Chamber (1998) terdiri
dari dua pengelompokan utama yaitu:

Seri transgresi Paleogen

Zona ini dimulai dari tektonik ekstensional dan rift infill saat Eosen dan
diakhiri dengan ekstensional post-rift laut dalam dan karbonat platform
pada kala Oligosen Akhir.
Seri regresi Neogen
Zona ini dimulai Miosen Akhir hingga sekarang, yang menghasilkan
deltaic progradation. Sedimen regresi ini terdiri dari lapisan-lapisan
sedimen klastik delta hingga paralik atau laut dangkal dengan progradasi
dari barat ke arah timur dan banyak dijumpai lapisan batubara (lignit).

Adapun stratigrafi Cekungan Kutai dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Stratigrafi Cekungan Kutai (Satyana et al., 1999)

SISTEM PETROLEUM
Batuan induk utama terdiri dari Formasi Pamaluan, Pulau Balang, dan
Balikpapan.Formasi Pamaluan, kandungan material organiknya cukup
(1-2%), tetapi hanya terdapat di bagian utara dari Cekungan Kutai. Pada
Formasi Bebulu terdapat kandungan material organik yang cukup
dengan HI di atas 300. Formasi Balikpapan merupakan batuan induk
yang terbaik di Cekungan Kutai karena kandungan material organiknya
tinggi dengan HI lebih besar dari 400 dan matang. Formasi ini
ketebalannya mencapai lebih dari 3000 m, sehingga diperkirakan
mampu menghasilkan hidrokarbon dalam jumlah yang cukup banyak
(Hadipandoyo, et al., 2007).

Batuan reservoar terdapat pada formasi Kiham Haloq, Balikpapan, dan


Kampung Baru, tetapi yang produktif hanya Formasi Balikpapan dan
Kampung Baru (Hadipandoyo, et al., 2007). Porositas permukaan pasir
literanitik berkisar <5% - 25% dengan permeabilitas <10 mD - 200 mD.

Seal yang ada pada cekungan ini berasal dari serpih dan dijumpai hampir
di semua formasi yang berumur Miosen. Kelompok Balikpapan dan
Formasi Kampung Baru memiliki serpih yang sangat potensial sebagai
seal.

Migrasi vertikal dari dapur Paleogen matang terjadi melalui jaringan


sesar-sesar menuju ke reservoar yang berumur Miosen Tengah dan Atas.
Migrasi lateral dari areal dapur matang oleh reservoar lapisan
kemiringan ke timur menuju trap stratigrafi ataupun struktur.

Jenis perangkap didominasi oleh perangkap struktur khususnya tutupan


(closure) four-way yang diikat oleh sesar. Perangkap stratigrafi menjadi
perangkap yang penting namun lebih sulit diidentifikasi keberadaannya
bila dibandingkan dengan perangkap struktur. Kombinasi dari perangkap
struktur dan stratigrafi lebih umum ditemukan pada Cekungan Kutai.
REFERENSI

Allen, G.P dan Chambers, J.LC., 1998, Deltaic Sediment in The Modern
and Miocene Mahakam Delta, IPA, Jakarta
Biantoro, E., Muritno, B.P., Mamuaya, J.M.B., 1992, Inversion Faults
As The Major Structural Control In The Northern Part Of The Kutai
Basin, East Kalimantan, Proceedings of 21st Annual Convention of
Indonesian Petroleum Association
Hadipandoyo, S., Setyoko, J., Suliantara, Guntur, A., Riyanto, H.,
Saputro, H.H., Harahap, M.D., Firdaus, N., 2007, Kualifikasi
Sumberdaya Hidrokarbon Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangn
Energi dan Sumberdaya Mineral “LEMIGAS”, Jakarta
Hall, R., 2005, Cenozoic Tectonics of Indonesia, Problems and Models,
Indonesian Petroleum Association and Royal Halloway University of
London
Hutchison, C.S., 1996, The 'Rajang Accretionary Prism' and 'Lupar Line'
Problem of Borneo, in R. Hall and D.J. Blundell, (eds.), Tectonic
Evolution of SE Asia, Geological Society of London Special
Publication, p. 247-261.
Mora, S., Gardini, M., Kusumanegara, Y., dan Wiweko, A.A., 2000,
Modern, ancient deltaic deposits & petroleum system of Mahakam Area.
AAPG-IPA Fieldtrip Guidebook
Moss, S.J. dan Chambers, J.L.C., 1999, Depositional Modelling And
Facies Architecture Of Rift And Inversion In The Kutai Basin,
Kalimantan, Indonesia, Indonesian Petroleum Association, Proceedings
27th Annual Convention, Jakarta, 459-486
Satyana, A.H., Nugroho, D., Surantoko, I, 1999, Tectonic Controls on
The Hydrocarbon Habitats of The Barito, Kutai and Tarakan Basin,
Eastern Kalimantan, Indonesia; Major Dissimilarities, Journal of Asian
Earth Sciences Special Issue Vol. 17, No. 1-2, Elsevier Science, Oxford
99-120
Van de weerd, A. A., and R.A. Armin, 1992, Origin and evolution of the
Tertiary hydrocarbon bearing basins in Kalimantan (Borneo), Indonesia:
AAPG Bulletin, v.76,p.1778-1803

Mengenal Lebih Dekat Tentang


Delta Mahakam
Delta Mahakam (wikimapia.org)

Delta Mahakam merupakan salah satu contoh wilayah


interaksi antara air tawar (fresswater) dari darat dan salinitas
dari Selat Makassar yang dibawa oleh tenaga pasut saat
pasang. Sungai Mahakam adalah salah satu sungai terbesar di
Indonesia yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang
bermuara di Selat Makassar. Bahan dasar dari daratan berupa
bahan padat atau cair yang dibawa oleh air hujan melalui
sungai dan seterusnya ke muara atau ke perairan pantai
berasal dari lokasi yang lebih tinggi. Berdasarkan pengamatan
megaskopis, sedimen permukaan daerah Delta Mahakam terdiri
atas lempung, lempung pasiran, pasir lempungan, lumpur
pasiran, pasir, lumpur dan kerikil (Ranawijaya,dkk.2000).
Persebaran material sedimen Delta Mahakam (Ranawijaya dkk,2000)

Menurut Storm drr (2005), Delta Mahakam merupakan tipe


delta yang didominasi oleh proses pasang-surut dan
gelombang laut yang berlokasi di tepian Cekungan Kutai,
Kalimantan Timur dan mempunyai runtunan stratigrafi deltaik
pantai (coastal deltaic) berumur Miosen hingga Holosen.
Stratigrafi paparan berumur Kuarter di mana Sungai Mahakam
berprogradasi menunjukan dominasi perulangan
sedimen karbonat paparan dan endapan delta
silisiklastik sebagai respon dari adanya perubahan muka
air laut. Endapan paparan ini telah dipengaruhi oleh arus laut
yang kuat dari Selat Makassar berarah utara-selatan. Roberts
(2001) menunjukan bahwa sedimen prodelta Holosen Delta
Mahakam telah dibatasi menjadi paparan bagian dalam (inner
shelf) di sektor bagian utara, sedangkan di sektor
bagian tengah merupakan delta front namun dibelokan ke arah
selatan membentuk massa fasies prodelta yang luas. Paparan
bagian tengah-luar didominasi oleh topografi tanggul,
berupa individu bioherm (Halimeda) dan agregat.

Penelitian Crumeyrolle dan Renaud (2003) menunjukan adanya


relif tanggul di lepas pantai Delta Mahakam yang terkadang
membentuk bidang erosi dengan topografi yang
bervariasi antara 10 – 30 m (rata-rata 20 m).
Tanggultanggul (diapirism) ini membentuk Halimeda lumpur
terigenik yang kaya akan biota laut dan hidup pada permukaan
transgresif perairan yang jernih. Bioherm (Halimeda) paparan
bagian dalam secara perlahan terkubur oleh sedimen Delta
Mahakam kala Holosen. Di bawah permukaan transgresif
Plistosen-Holosen, endapan sedimen menandakan tahapan
masa sistem susut laut yang terdiri dari jaringan fluvial, isian
gerusan lembah alluvium (channel fill), dataran delta agradasi
dan endapan paparan serta kipas delta progradasi.

Tatanan Tektonik Daerah Mahakam

Tatanan tektonik cekungan kutai dapat diringkas sebagai


berikut (Gambar 3.1.2).
• Awal Synrift (Paleosen ke Awal Eosen): Sedimen tahap ini
terdiri dari sedimen aluvial mengisi topografi NE-SW dan NNE-
SSW hasil dari trend rifting di Cekungan Kutai darat. Mereka
menimpa di atas basemen kompresi Kapur akhir sampai awal
Tersier berupa laut dalam sekuen.
• Akhir Synrift (Tengah sampai Akhir Eosen): Selama periode
ini, sebuah transgresi besar terjadi di Cekungan Kutai,
sebagian terkait dengan rifting di Selat Makassar, dan
terakumulasinya shale bathial sisipan sand.
• Awal Postrift (Oligosen ke Awal Miosen): Selama periode ini,
kondisi bathial terus mendominasi dan beberapa ribu meter
didominasi oleh akumulasi shale. Di daerah structural shallow
area platform karbonat berkembang
• Akhir Postrift (Miosen Tengah ke Kuarter): Dari Miosen
Tengah dan seterusnya sequence delta prograded secara major
berkembang terus ke laut dalam Selat Makassar, membentuk
sequence Delta Mahakam, yang merupakan bagian utama
pembawa hidrokarbon pada cekungan. Berbagai jenis
pengendapan delta on – dan offshore berkembang pada
formasi Balikpapan dan Kampungbaru, termasuk juga fasies
slope laut dalam dan fasies dasar cekungan. Dan juga hadir
batuan induk dan reservoir yang sangat baik dengan
interbedded sealing shale. Setelah periode ini, proses erosi
ulang sangat besar terjadi pada bagian sekuen Kutai synrift.

Tektonik Delta Mahakam

Model Pengendapan Delta Mahakam


Delta merupakan garis pantai yang menjorok ke laut, terbentuk
oleh adanya sedimentasi sungai yang memasuki laut, danau
atau laguna dan pasokan sedimen lebih besar daripada
kemampuan pendistribusian kembali oleh proses yang ada
pada cekungan pengendapan (Elliot, 1986 dalam Allen, 1997)
Menurut Boggs, 1987 (Dalam Allen, 1998), delta diartikan
sebagai suatu endapan yang terbentuk oleh proses sedimentasi
fluvial yang memasuki tubuh air yang tenang (Gambar 4.3.2).
Dataran delta menunjukkan daerah di belakang garis pantai
dan dataran delta bagian atas (Upper Delta Plain) didominasi
oleh proses sungai dan dapat dibedakan oleh pengaruh laut
terutama penggenangan tidal. Delta terbentuk karena adanya
suplai material sedimentasi dari sistem fluvial. Ketika sungai –
sungai pada sistem fluvial tersebut, terbentuk pula morfologi
delta yang khas dan dapat dikenali pada setiap sistem yang
ada. Morfologi delta secara umum terdiri dari tiga yaitu : delta
plain, delta front dan prodelta
Model Lingkungan Pengendapan Delta Mahakam (Allen 1998)

Potensi Hidrocarbon Daerah Delta Mahakam

Pembahasan pengelolaan Delta Mahakam oleh Perusahaan


asing sedang hangat saat ini, hal ini tak lain karena potensi gas
dan minyak sangat tinggi didaerah ini. Delta Mahakam dan
sekitarnya mempunyai potensi batubara yang relatif berukuran
antara lignit sampai bituminous, punya potensi tinggi dalam
minyak, gas dan Kondensat.
Grafik Produksi Perusahaan Asing dalam Pengelolaan Di Delta Mahakam

Delta mahakam purba juga menjadi daerah incaran para


pengusaha batubara selain formasi tanjung, dan berau di
wilayah kisaran Kalimantan Timur.

Referensi

– Allen,G.P, Chambers, J.L.C,1998, Sedimentation in the


Modern and Miocene Mahakam Delta, IPA.
– B. Triatmodjo, Tehnik Pantai, Beta Offset, Yogyakarta, 1999,
p.397.
– ETTI Team. 2010-2012.Delta Mahakam Workfield
Report.Jakarta: PT Exploration Think Tank Indonesia (Tidak
Diterbitkan)
– Ranawijaya, D.A.S., E. Usman, M.K. Adisaputra, N.A.
Kristanto dan Y. Noviadi, 2000. Penyelidikan Geologi dan
Geofisika Kelautan Perairan Delta Mahakam, Kalimantan
Timur, Lembar Peta 1915. Laporan Intern Pusat Pengembangan
Geologi Kelautan (PPGL) PPGL.PGK.087.2000. Tidak diterbitkan
dalam Mimin K. Adisaputra dan D. Rostyati.2003.Foraminifera
Sedimen Dasar Laut Delta Mahakam,Kalimantan
Timur.Jakarta:Jurnal Geologi Kelautan
-Roberts, H. H., 2001, Late Quaternary Stratigraphy and
Sedimentology of the Offshore Mahakam Delta, East JURNAL
GEOLOGI KELAUTAN Volume 6, No. 3, Desember 2008
173 Kalimantan (Indonesia), AAPG Annual Meeting.
– Storms, J.E.A., R. M. Hoogendoorn, R. A.C. Dam, A.J.F.
Hoitink and S.B. Kroonenberg, 2005, Late-Holocene evolution
of the Mahakam delta, East Kalimantan, Indonesia,
Sedimentary Geology. Vol. 180, Issues 3-4 ,p 149-166.
– Berita IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) no 2/2012

Suara Geologi
Artikel Tentang Dunia Geologi, Eksplorasi, Energi, dan Sumberdaya Alam
 Home
 Peta Topografi Indonesia
 E-book Geologi
 Paper Geologi
 Sewa Alat Survei Geologi dan Jasa Pemboran Air Tanah
 About Me
 Blog lainnya
Labels

Geologi Tambang Stratigrafi Eksplorasi Malang Cebakan Mineral Energi Fisiografi Geotermal Jawa
Timur Sedimen Karst gas logampeta geologi CBM

Tektonik Cekungan Kutai


Tektonik
Cekungan Kutai di sebelah utara berbatasan dengan Bengalon dan Zona Sesar Sangkulirang, di selatan
berbatasan dengan Zona Sesar Adang, di barat dengan sedimen-sedimen Paleogen dan metasedimen
Kapur yang terdeformasi kuat dan terangkat dan membentuk daerah Kalimantan Tengah, sedangkan di
bagian timur terbuka dan terhubung denganlaut dalam dari Cekungan Makassar bagian Utara.
Elemen Struktur bagian timur Cekungan Kutai. (Beicip, 1992, op.cit. Allen dan Chambers, 1998. )

Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi fase pengendapan transgresif Paleogen dan pengendapan
regresif Neogen. Fase Paleogen dimulai dengan ekstensi pada tektonik dan pengisian cekungan selama
Eosen dan memuncak pada fase longsoran tarikan post-riftdengan diendapkannya serpih laut dangkal
dan karbonat selama Oligosen akhir. Fase Neogen dimulai sejak Miosen Bawah sampai sekarang,
menghasilkan progradasi delta dari Cekungan Kutai sampai lapisan Paleogen. Pada Miosen Tengah dan
lapisan yang lebih muda di bagian pantai dan sekitarnya berupa sedimen klastik regresif yang mengalami
progradasi ke bagian timur dari Delta Mahakam secara progresif lebih muda menjauhi timur. Sedimen-
sedimen yang mengisi Cekungan Kutai banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel dengan
pantai. Intensitas perlipatan semakin berkurang ke arah timur, sedangkan lipatan di daerah dataran
pantai dan lepas pantai terjal, antiklin yang sempit dipisahkan oleh sinklin yang datar. Kemiringan
cenderung meningkat sesuai umur lapisan pada antiklin. Lipatan-lipatan terbentuk bersamaan dengan
sedimentasi berumur Neogen. Banyak lipatan-lipatan yang asimetris terpotong oleh sesar-sesar naik
yang kecil, secara umum berarah timur, tetapi secara lokal berarah barat.
Cekungan Kutai dari Oligosen akhir – sekarang. (Beicip, 1992, op.cit. Allen dan Chambers, 1998.)

Pada Kala Oligosen (Tersier awal) Cekungan Kutai mulai turun dan terakumulasi sediment-sediment laut
dangkal khususnyamudstone, batupasir sedang dari Formasi serpih Bogan dan Formasi Pamaluan. Pada
awal Miosen, pengangkatan benua ( Dataran Tinggi Kucing) ke arah barat dari tunjaman menghasilkan
banyak sedimen yang mengisi Cekungan Kutai pada formasi delta-delta sungai, salah satunya di
kawasan Sangatta. Ciri khas sedimen-sedimen delta terakumulasi pada Formasi Pulau Balang,
khususnya sedimen dataran delta bagian bawah dan sedimen batas laut, diikuti lapisan-lapisan dari
Formasi Balikpapan yang terdiri atas mudstone, bataulanau, dan batupasir dari lingkungan pengendapan
sungai yang banyak didominasi substansi gambutdelta plain bagian atas yang kemudian membentuk
lapisan-lapisan batubara pada endapan di bagian barat kawasan Pinang.Subsidence yang berlangsung
terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam dan meyebabkan terbentuknya sesar-sesar pada
sedimen-sedimen. Pengendapan pada Formasi Balikpapan dilanjutkan dengan akumulasi lapisan-lapisan
Kampung Baru pada kala Pliosen. Selama Kala Pliosen, serpih dari serpih Bogan dan Formasi Pamaluan
yang sekarang terendapkan sampai kedalaman 2000 meter, menjadi kelebihan tekanan dan tidak stabil,
menghasilkan pergerakan diapir dari serpih ini melewati sedimen-sedimen diatasnya menghasilkan
struktur antiklin-antiklin rapat yang dipisahkan oleh sinklin lebih datar melewati Cekugan Kutai dan pada
kawasan Pinang terbentuk struktur Kerucut Pinang dan Sinklin Lembak.

Referensi :

Allen, G.P., dan Chambers,J.L.C.,1998, Sedimentation in the Modern and Miocen Mahakam Delta. IPA,
hal. 156-165

Geologi Indonesia Kalimantan, Sejarah, Potensi

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Interaksi antara dua buah lempeng merupakan pengaruh dari konsep konveksi mantel
yang terjadi di dalam perut bumi. Lapisan astenosfer yang bersifat plastis memperoleh panas
yang dari mantel bumi sehingga mampu menjadi roda penggerak lapisan litosfer yang berada
tepat diatasnya, inilah yang menjadi dasar lahirnya konsep tektonik lempeng. Pada dasarnya
interaksi antar lempeng dapat berupa tiga macam bentuk interaksi, yakni : Interaksi Konvergen,
Divergen dan Strike Slip (Berpapasan).

Pulau Kalimantan merupakan hasil dari salah satu bentuk interaksi tersebut. Pulau
Kalimantan berada dibagian tenggara dari lempeng Eurasia. Pada bagian utara dibatasi oleh
cekungan marginal Laut China Selatan, di bagian timur oleh selat Makassar dan di bagian
selatan oleh Laut Jawa.

Studi zona konvergen sangat berguna untuk menjelaskan gejala tektonik yang terjadi
pada suatu daerah dengan mengamati bentukan-bentukan struktur (deformasi) yang terjadi
pada daerah tersebut. Selain itu pula, studi zona konvergen dapat digunakan untuk
menganalisa kemungkinan potensi cebakan mineral ekonomis dan potensi bencana yang
mungkin terjadi pada suatu daerah.

I.2 Maksud dan Tujuan

Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Geologi Indonesia
(GL-3721) di Departemen Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut
Teknologi Bandung.

Makalah ini di susun agar penulis dan pembaca lebih memahami materi konsep Geologi
Pulau Kalimantan, sejarah terbentuknya dan lainnya.

I.3 Metoda Penulisan

Penulisan makalah dilakukan melalui studi literatur, yang secara sistematik di sajikan
dalam 4 Bab pembahasan , antara lain :

BAB I Pendahuluan, membahas latar belakang pembuatan makalah, maksud dan tujuan
penulisan, dan metoda penulisan.

BAB II Geologi Pulau Kalimantan, membahas tatanan geologi dari Pulau Kalimantan baik dari
segi tektonik maupun stratigrafi

BAB III Kesimpulan, membahas tentang inti sari dari makalah ini

BAB IV Daftar Pustaka

1.4 Lingkup Pembahasan

Pembahasan makalah ini di batasi hanya mencakup pembahasan interaksi lempeng


konvergen dan penerapan konsep konvergen pada daerah tertentu.
BAB II
GEOLOGI PULAU KALIMANTAN

PULAU KALIMANTAN

Pulau Kalimantan berada dibagian tenggara dari lempeng Eurasia. Pada bagian utara
dibatasi oleh cekungan marginal Laut China Selatan, di bagian timur oleh selat Makassar dan di
bagian selatan oleh Laut Jawa.

Gambar 1: Kerangka Tektonik Pulau Kalimantan (Bachtiar, 2006)


Bagian utara Kalimantan didominasi oleh komplek akresi Crocker-Rajang-Embaluh
berumur Kapur dan Eosen-Miosen. Di bagian selatan komplek ini terbentuk Cekungan Melawi-
Ketungai dan Cekungan Kutai selama Eosen Akhir, dan dipisahkan oleh zona ofiolit-melange
Lupar-Lubok Antu dan Boyan.

Di bagian selatan pulau Kalimantan terdapat Schwanner Mountain berumur Kapur Awal-
Akhir berupa batolit granit dan granodiorit yang menerobos batuan metamorf regional derajat
rendah. Tinggian Meratus di bagian tenggara Kalimantan yang membatasi Cekungan Barito
dengan Cekungan Asem-asem. Tinggian Meratus merupakan sekuens ofiolit dan busur
volkanik Kapur Awal. Cekungan Barito dan Cekungan Kutai dibatasi oleh Adang flexure.

a. Tatanan Tektonik

 Basement pre-Eosen

agian baratdaya Kalimantan tersusun atas kerak yang stabil (Kapur Awal) sebagai
bagian dari Lempeng Asia Tenggara meliputi baratdaya Kalimantan, Laut Jawa bagian barat,
Sumatra, dan semenanjung Malaysia. Wilayah ini dikenal sebagai Sundaland. Ofiolit dan
sediment dari busur kepulauan dan fasies laut dalam ditemukan di Pegunungan Meratus, yang
diperkirakan berasal dari subduksi Mesozoikum. Di wilayah antara Sarawak dan Kalimantan
terdapat sediment laut dalam berumur Kapur-Oligosen (Kelompok Rajang), ofiolit di (Lupar line,
Gambar 4; Tatau-Mersing line, Gambar 5 dan 6; Boyan mélange antara Cekungan Ketungai
dan Melawi), dan unit lainnya yang menunjukkan adanya kompleks subduksi. Peter dan
Supriatna (1989) menyatakan bahwa terdapat intrusive besar bersifat granitik berumur Trias
diantara Cekungan Mandai dan Cekungan Kutai atas, memiliki kontak tektonik dengan formasi
berumur Jura-Kapur.
Gambar 2: NW – SE Cross section Schematic reconstruction (A) Late Cretaceous, and

(B) Eocene (Pertamina BPPKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006).

 Permulaan Cekungan Eosen

Banyak penulis memperkirakan bahwa keberadaan zona subduksi ke arah tenggara di


bawah baratlaut Kalimantan (Gambar 2 dan 3) pada periode Kapur dan Tersier awal dapat
menjelaskan kehadiran ofiolit, mélanges, broken formations, dan struktur tektonik Kelompok
Rajang di Serawak (Gambar 4), Formasi Crocker di bagian barat Sabah, dan Kelompok
Embaluh. Batas sebelah timur Sundaland selama Eosen yaitu wilayah Sulawesi, yang
merupakan batas konvergensi pada Tersier dan kebanyakan sistem akresi terbentuk sejak
Eosen.

Gambar 3: Paleocene – Middle Eocene SE Asia tectonic reconstruction.

SCS = South China Sea, LS = Lupar Subduction, MS = Meratus Subduction,

WSUL = West Sulawesi, I-AU = India Australia Plate, PA = Pacific plate

(Pertamina BPKKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006)


Gambar 4: Cross section reconstruction of North Kalimantan that show Lupar
subduction in Eocene

(Hutchison, 1989, op cit., Bachtiar 2006))

Mulainya collision antara India dan Asia pada Eosen tengah (50 Ma) dan mempengaruhi
perkembangan dan penyesuaian lempeng Asia. Adanya subsidence pada Eosen dan
sedimentasi di Kalimantan dan wilayah sekitarnya merupakan fenomena regional dan
kemungkinan dihasilkan dari penyesuaian lempeng, sebagai akibat pembukaan bagian back-
arc Laut Celebes.

 Tektonisme Oligosen

Tektonisme pada pertengahan Oligosen di sebagian Asia tenggara, termasuk


Kalimantan dan bagian utara lempeng benua Australia, diperkirakan sebagai readjusement dari
lempeng pada Oligosen. Di pulau New Guinea, pertengahan Oligosen ditandai oleh
ketidakselarasan (Piagram et al., 1990 op cit., Van de Weerd dan Armin, 1992) yang
dihubungkan dengan collision bagian utara lempeng Australia (New Guinea) dengan sejumlah
komplek busur. New Guinea di ubah dari batas konvergen pasif menjadi oblique. Sistem sesar
strike-slip berarah barat-timur yang menyebabkan perpindahan fragmen benua Australia
(Banggai Sula) ke bagian timur Indonesia berpegaruh pada kondisi lempeng pada pertengahan
Oligosen.
Gambar 5: Late Oligocene – Early Miocene SE Asia tectonic reconstruction.

SCS = South China Sea, LS = Lupar Subduction, MS = Mersing Subduction, WSUL = West
Sulawesi,

E SUL = East Sulawesi I-AU = India Australia plate, PA = Pacific plate, INC = Indocina,
RRF = Red River Fault,

IND = India; AU = Australia, NG = New Guinea, NP = North Palawan, RB = Reed Bank, H =


Hainan,

SU = Sumba (Pertamina BPKKA, 1997, op cit., Bachtiar 2006)

Ketidakselarasan pada pertengahan Oligosen hadir di Laut China selatan (SCS) dan
wilayah sekitarnya (Adams dan Haak, 1961; Holloway, 1982; Hinz dan Schluter, 1985; Ru dan
Pigott, 1986; Letouzey dan Sage, 1988; op cit., Van de Weerd dan Armin, 1992). Ketidak
selarasan ini dihubungkan dengan pemekaran lantai samudera di SCS. Subduksi pada
baratlaut Kalimantan terhenti secara progresif dari baratdaya sampai timurlaut. Di bagian
baratdaya, berhenti pada pertengahan Oligosen; di bagian timurlaut, berhenti pada akhir
Miosen awal (Holloway, 1982, op cit., Van de Weerd dan Armin, 1992).
Gambar 6: NW – SE cross section schematic reconstruction (A) Oligocene – Middle
Miocene, and

(B) Middle Miocene - Recent (Pertamina BPPKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006).

Gambar 7: Middle Miocene – Recent SE Asia tectonic reconstruction


(Pertamina BPKKA, 1997, op cit., Bachtiar, 2006)

 Tektonisme Miosen

Di wilayah sekitar SCS pada Miosen awal-tengah terjadi perubahan yang Sangat
penting. Pemekaran lantai samudera di SCS berhenti, sebagai subduksi di Sabah dan Palawan;
mulai terjadinya pembukaan Laut Sulu (silver et al., 1989; Nichols, 1990; op cit., Van de Weerd
dan Armin, 1992); dan obduksi ofiolit di Sabah (Clennell, 1990, op cit., Van de Weerd dan
Armin, 1992). Membukanya cekungan marginal Laut Andaman terjadi pada sebagian awal
Miosen tengah (Harland et al., 1989. op cit., Van de Weerd dan Armin, 1992).

Gambar 8: Elemen Tektonik Pulau Kalimantan pada Miosen tengah. Nuay, 1985, op cit.,
Oh, 1987.)
b. Tatanan Stratigrafi

Dalam pembahasan stratigrafi, akan dibahas hubungan tektonik dan pengendapan


cekungan dari 2 (dua) cekungan yaitu Cekungan Barito dan Cekungan Kutai.

 Cekungan Barito

Tektonik

Secara tektonik Cekungan Barito terletak pada batas bagian tenggara dari
Schwanner Shield, Kalimantan Selatan. Cekungan ini dibatasi oleh Tinggian Meratus pada
bagian Timur dan pada bagian Utara terpisah dengan Cekungan Kutaioleh pelenturan berupa
Sesar Adang, ke Selatan masih membuka ke Laut Jawa, dan ke Barat dibatasi oleh Paparan
Sunda.

Cekungan Barito merupakan cekungan asimetrik, memiliki cekungan depan (foredeep)


pada bagian paling Timur dan berupa platform pada bagian Barat. Cekungan Barito mulai
terbentuk pada Kapur Akhir, setelah tumbukan (collision) antara microcontinent Paternoster dan
Baratdaya Kalimantan (Metcalfe, 1996; Satyana, 1996).

Pada Tersier Awal terjadi deformasi ekstensional sebagai dampak dari tektonik
konvergen, dan menghasilkan pola rifting Baratlaut – Tenggara. Riftingini kemudian menjadi
tempat pengendapan sedimen lacustrine dan kipas aluvial (alluvial fan) dari Formasi Tanjung
bagian bawah yang berasal dari wilayah horstdan mengisi bagian graben, kemudian diikuti oleh
pengendapan Formasi Tanjung bagian atas dalam hubungan transgresi.

Pada Awal Oligosen terjadi proses pengangkatan yang diikuti oleh pengendapan
Formasi Berai bagian Bawah yang menutupi Formasi Tanjung bagian atas secara selaras
dalam hubungan regresi. Pada Miosen Awal dikuti oleh pengendapan satuan batugamping
masif Formasi Berai.

Selama Miosen tengah terjadi proses pengangkatan kompleks Meratus yang


mengakibatkan terjadinya siklus regresi bersamaan dengan diendapkannya Formasi Warukin
bagian bawah, dan pada beberapa tempat menunjukkan adanya gejala ketidakselarasan lokal
(hiatus) antara Formasi Warukin bagian atas dan Formasi Warukin bagian bawah.

Pengangkatan ini berlanjut hingga Akhir Miosen Tengah yang pada akhirnya
mengakibatkan terjadinya ketidakselarasan regional antara Formasi Warukin atas dengan
Formasi Dahor yang berumur Miosen Atas – pliosen.
Tektonik terakhir terjadi pada kala Plio-Pliestosen, seluruh wilayah terangkat, terlipat,
dan terpatahkan. Sumbu struktur sejajar dengan Tinggian Meratus. Sesar-sesar naik terbentuk
dengan kemiringan ke arah Timur, mematahkan batuan-batuan tersier, terutama daerah-daerah
Tinggian Meratus.

Stratigrafi

Urutan stratigrafi Cekungan Barito dari tua ke muda adalah :

Formasi Tanjung (Eosen – Oligosen Awal)

Formasi ini disusun oleh batupasir, konglomerat, batulempung, batubara, dan basalt.
Formasi ini diendapkan pada lingkungan litoral neritik.

Formasi Berai (Oligosen Akhir – Miosen Awal)

Formasi Berai disusun oleh batugamping berselingan dengan batulempung / serpih di


bagian bawah, di bagian tengah terdiri dari batugamping masif dan pada bagian atas kembali
berulang menjadi perselingan batugamping, serpih, dan batupasir. Formasi ini diendapkan
dalam lingkungan lagoon-neritik tengah dan menutupi secara selaras Formasi Tanjung yang
terletak di bagian bawahnya. Kedua Formasi Berai, dan Tanjung memiliki ketebalan 1100 m
pada dekat Tanjung.

Formasi Warukin (Miosen Bawah – Miosen Tengah)

Formasi Warukin diendapkan di atas Formasi Berai dan ditutupi secara tidak selaras oleh
Formasi Dahor. Sebagian besar sudah tersingkap, terutama sepanjang bagian barat Tinggian
Meratus, malahan di daerah Tanjung dan Kambitin telah tererosi. Hanya di sebelah selatan
Tanjung yang masih dibawah permukaan.

Formasi ini terbagi atas dua anggota, yaitu Warukin bagian bawah (anggota klastik), dan
Warukin bagian atas (anggota batubara). Kedua anggota tersebut dibedakan berdasarkan
susunan litologinya.

Warukin bagian bawah (anggota klastik) berupa perselingan antara napal atau lempung
gampingan dengan sisipan tipis batupasir, dan batugamping tipis di bagian bawah, sedangkan
dibagian atas merupakan selang-seling batupasir, lempung, dan batubara. Batubaranya
mempunyai ketebalan tidak lebih dari 5 m., sedangkan batupasir bias mencapai ketebalan lebih
dari 30 m.
Warukin bagian atas (anggota batubara) dengan ketebalan maksimum ± 500 meter,
berupa perselingan batupasir, dan batulempung dengan sisipan batubara. Tebal lapisan
batubara mencapai lebih dari 40 m., sedangkan batupasir tidak begitu tebal, biasanya
mengandung air tawar. Formasi Warukin diendapkan pada lingkungan neritik dalam
(innerneritik) – deltaik dan menunjukkan fasa regresi.

Formasi Dahor (Miosen Atas – Pliosen)

Formasi ini terdiri atas perselingan antara batupasir, batubara, konglomerat, dan serpih
yang diendapkan dalam lingkungan litoral – supra litoral.

 Cekungan Kutai

Tektonik

Cekungan Kutai di sebelah utara berbatasan dengan Bengalon dan Zona Sesar
Sangkulirang, di selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang, di barat dengan sedimen-
sedimen Paleogen dan metasedimen Kapur yang terdeformasi kuat dan terangkat dan
membentuk daerah Kalimantan Tengah, sedangkan di bagian timur terbuka dan terhubung
denganlaut dalam dari Cekungan Makassar bagian Utara.

Gambar 9: Elemen Struktur bagian timur Cekungan Kutai. (Beicip, 1992, op.cit. Allen
dan Chambers, 1998. )
Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi fase pengendapan transgresif Paleogen dan
pengendapan regresif Neogen. Fase Paleogen dimulai dengan ekstensi pada tektonik dan
pengisian cekungan selama Eosen dan memuncak pada fase longsoran tarikan post-rift dengan
diendapkannya serpih laut dangkal dan karbonat selama Oligosen akhir. Fase Neogen dimulai
sejak Miosen Bawah sampai sekarang, menghasilkan progradasi delta dari Cekungan Kutai
sampai lapisan Paleogen. Pada Miosen Tengah dan lapisan yang lebih muda di bagian pantai
dan sekitarnya berupa sedimen klastik regresif yang mengalami progradasi ke bagian timur dari
Delta Mahakam secara progresif lebih muda menjauhi timur. Sedimen-sedimen yang mengisi
Cekungan Kutai banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel dengan
pantai. Intensitas perlipatan semakin berkurang ke arah timur, sedangkan lipatan di daerah
dataran pantai dan lepas pantai terjal, antiklin yang sempit dipisahkan oleh sinklin yang datar.
Kemiringan cenderung meningkat sesuai umur lapisan pada antiklin. Lipatan-lipatan terbentuk
bersamaan dengan sedimentasi berumur Neogen. Banyak lipatan-lipatan yang asimetris
terpotong oleh sesar-sesar naik yang kecil, secara umum berarah timur, tetapi secara lokal
berarah barat.
Gambar 10: Cekungan Kutai dari Oligosen akhir – sekarang. (Beicip, 1992, op.cit. Allen
dan Chambers, 1998.)

Stratigrafi

Pada Kala Oligosen (Tersier awal) Cekungan Kutai mulai turun dan terakumulasi
sediment-sediment laut dangkal khususnya mudstone, batupasir sedang dari Formasi serpih
Bogan dan Formasi Pamaluan. Pada awal Miosen, pengangkatan benua ( Dataran Tinggi
Kucing) ke arah barat dari tunjaman menghasilkan banyak sedimen yang mengisi Cekungan
Kutai pada formasi delta-delta sungai, salah satunya di kawasan Sangatta. Ciri khas sedimen-
sedimen delta terakumulasi pada Formasi Pulau Balang, khususnya sedimen dataran delta
bagian bawah dan sedimen batas laut, diikuti lapisan-lapisan dari Formasi Balikpapan yang
terdiri atas mudstone, bataulanau, dan batupasir dari lingkungan pengendapan sungai yang
banyak didominasi substansi gambut delta plain bagian atas yang kemudian membentuk
lapisan-lapisan batubara pada endapan di bagian barat kawasan Pinang. Subsidenceyang
berlangsung terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam dan meyebabkan terbentuknya
sesar-sesar pada sedimen-sedimen. Pengendapan pada Formasi Balikpapan dilanjutkan
dengan akumulasi lapisan-lapisan Kampung Baru pada kala Pliosen. Selama Kala Pliosen,
serpih dari serpih Bogan dan Formasi Pamaluan yang sekarang terendapkan sampai
kedalaman 2000 meter, menjadi kelebihan tekanan dan tidak stabil, menghasilkan pergerakan
diapir dari serpih ini melewati sedimen-sedimen diatasnya menghasilkan struktur antiklin-antiklin
rapat yang dipisahkan oleh sinklin lebih datar melewati Cekugan Kutai dan pada kawasan
Pinang terbentuk struktur Kerucut Pinang dan Sinklin Lembak.

Gambar 11: Stratigrafi Cekungan Barito, Cekungan Kutai, dan Cekungan Tarakan.

(Courtney, et al., 1991, op cit., Bachtiar, 2006).


BAHAN GALIAN

Saat ini terdapat 15 (lima belas) daftar mineral-mineral potensial yang terdapat di Kalimantan
Tengah, mineral-mineral tersebut adalah :

1. Emas

2. Batubara

3. Gambut

4. Intan

5. Kaolin

6. Pasir Kuarsa

7. Fosfat

8. Batu gamping

9. Kristal Kuarsa

10. Batuan Beku / Batu belah

11. Besi
12. Timah Hitam

13. Tembaga

14. Air Raksa

15. Zircon

Beberapa yang sudah produksi seperti batubara, emas, intan, batu lempung, batu gamping, pasir kuarsa,
kristal kuarsa dan zircon. Sedangkan mineral-mineral lain sedang berada dalam proses survey dari tahap
pengamatan lapangan sampai eksplorasi detail, karena itu data-data sumberdaya mineral tersebut
cukup akurat karena berdasarkan tahapan survey.

1. Potensi Emas

Kalimantan Tengah memiliki sejumlah endapan emas primer dan letakan (placer). Endapan letakan
(placer) banyak ditemukan di sungai, danau, rawa-rawa dan paleo chanel (gosong), sedangkan yang
merupakan hasil endapan hidrotermal yang secara genetic berasosiasi dengan intrusi batuan beku asam
dan juga sering berasosiasi dengan kuarsa dan sulfide (pirit, arseno pirit, tetrahidrit, kalkopirit dan
sedikit pada galena dan spalerit).

Endapan emas di Kalimantan Tengah dapat dijumpai di :

- Kab.Kapuas : Kec.Kapuas Hulu, Kapuas Tengah dan Timpah

- Kab.Gunung Mas : Kec.Tewah, Kahayan Hulu Utara, Rungan, Manuhing, Sepang dan Kurun.

- Kota Palangka Raya : Sungai Takaras Kec.Bukit Batu.

- Kab.Murung Raya : Kec.Sumber Barito, Permata Intan dan Tanah Siang

- Kab.Barito Timur : Kec.Dusun Tengah.

- Kab.Seruyan : Kec.Seruyan Hulu, Kec.Seruyan Tengah.

- Kab.Katingan : Kec.Katingan Hulu, Katingan Tengah, Sanaman Mantikei dan Katingan Hilir.
2. Potensi Batubara

Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi
bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan, melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu
yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara.

Batubara di Indonesia banyak digunakan untuk bahan bakar, industri semen, PLTU dan dalam jumlah
kecil dalam peleburan timah dan nikel.

Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat
Muara Teweh sudah ditambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7.000 ton pertahun
saat itu.

Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960.

Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa
institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing, salah satunya PT. BHP-Biliton yang telah
memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7.000 berkualitas
baik (> 8.000 kal/gr) juga ditemukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara.

Didaerah ini batubara banyak ditemukan di Muara Bakah, Bakanon, Sungai Montalat, Sungai Lahei,
Sungai Maruwai dan sekitarnya. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1,5 – 7
meter dan mempunyai kualifikasi “Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut :

- Kandungan air : 8,74 – 15,53 %


- Volatile Matter : 0,39 – 1,76 %

- Karbon : 38,44 – 48,66 %

- Sulfur : 0,35 – 0,46 %

- Nilai Kalori : 7.000 – 8.000 cal/gr.

- CSN : 5 - 7

Lokasi lain yang juga memiliki potensi kandungan batubara dengan nilai kalori <6.000 kal/gr antara lain :

- Kab.Gunung Mas : Kec.Tewah, Rungan, Kurun, Manuhing.

- Kotawaringin Timur : Kec.Mentaya Hulu, Mentaya Hilir dan Cempaga.

- Kab.Katingan : Kec.Katingan Tengah, dan Tewang Sangalang garing.

- Kab.Kotawaringin Barat : Pangkalan Banteng dan Kotawaringin Lama.

3. Potensi Gambut

Gambut adalah endapan organik yang mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami
dekomposisi sebagian dan mengandung bahan lain seperti air dan bahan-bahan lain non organic
biasanya berupa lempung dan lanau.

Gambut di Indonesia diperkirakan memiliki area lebih 20 juta hektar dan kebanyakan dalam bentuk
dataran rendah dan rawa. Lebih dari 7 juta hektar berada sepanjang daerah barat, tengah dan selatan
pantai pulau Kalimantan.

Survey tanah gambut telah banyak dilakukan secara intensif terutama untuk keperluan pertanian
(agricultur). Penyelidikan yang dilakukan untuk tujuan pertanian biasanya hanya gambut yang
mempunyai kedalaman 100 cm atau kurang. Gambut yang mempunyai kedalaman lebih dari 100 cm
mempunyai potensi sebagai energi.

Sumber energi gambut biasanya digunakan untuk tenaga pembangkit tapi dapat juga digunakan untuk
bahan baker dan memasak yang biasanya dalam bentuk briket.

Penyelidikan gambut untuk bahan baker telah dilakukan oleh Direktorat batubara dari Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 1984 didaerah Bereng Bengkel, Palangka Raya dan
Kanamit, Kuala Kapuas.

Daerah Bereng Bengkel – Kanamit mempunyai potensi yang cukup besar dengan rata-rata kedalaman
gambut sekitar 2 meter, dan di Bereng Bengkel sendiri sekitar 20 hektar telah diselidiki secara detail dan
telah dilakukan ujicoba produksi gambut bekerjasama dengan Finlandia.

Kualitas gambut Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut :


- Kandungan air : 6,11 – 18,70 %

- Abu : 0,66 – 6,72 %

- Karbon : 21,03 – 37,66 %

- Zat Terbang : 41,75 – 57,13 %

- Nilai Kalori : 3.982 – 5.426 cal/gr

Daerah lain yang mempunyai potensi gambut di Kalimantan Tengah adalah :

- Daerah antara Sampit dan Kota Besi.

- Daerah antara Sampit dan Pangkalan Bun

- Daerah antara Palangka Raya dan Pulang Pisau.

4. Potensi Intan

Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan
berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura
Kalimantan Selatan.

Secara umum endapan utama intan berasosiasi dengan batuan ultrabasic khususnya batuan periodit,
contohnya batuan yang kita kenal sebagai Kimberlite-pipe di Afrika Selatan.

Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan
peralatan dan metode yang masih sederhana. Intan yang terdapat dalam endapan alluvial biasanya
terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum, rutile, brookite, quartz, emas, platinum dan pirit.

Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite, kromit,
garnet, spinel, hyacinth, topaz, dan ruby.

Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum
mendapatkan hasil berupa penemuan endapan utamanya. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi
endapan utama dan alluvial masih ada dan dilakukan.
BAB III
KESIMPULAN

 Sejarah tektonik dari Pulau Kalimantan dimulai dari Eoses-Oligosen hingga miosen dimana
pada kejadiannya terdapat berbagai evolusi tektonisme.

 Cekungan-cekungan sedimentasi di daerah Pulau Kalimantan cenderung memiliki kemampuan


yang baik dalam mengahasilkan hidrokarbon, seperti Cekungan Kutai dan Cekungan Barito

 Pulau Kalimantan juga memiliki potensi bahan galian yang terbukti cukup bervariasi seperti
emas, batubara, intan dan gambut

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Sumber:

Allen, G.P., dan Chambers,J.L.C.,1998, Sedimentation in the Modern and Miocen Mahakam Delta. IPA,
hal. 156-165.

Bachtiar, A., 2006, Slide Kuliah Geologi Indonesia, Prodi Teknik Geologi, FIKTM-ITB.

Oh,H.L., The Kutai Basin a Unique Structural History. Proceeding IPA 20th October1987 Vol I p. 311-
316.

Satyana, A.H., 2000, Kalimantan, An Outline of The Geology of Indonesia, Indonesian Association of
Geologists, p.69-89.

Van de Weerd, A.A., dan Armin, Richard A., 1992, Origin and Evolution of the Tertiary Hydrocarbon-
Bearing Basins in Kalimantan (Borneo), Indonesia, The American Association of Petroleum
Geologists Bulletin v. 76, No. 11, p. 1778-1803.