Anda di halaman 1dari 18

PERTEMUAN 1&2

AKUNTANSI KEPRILAKUAN

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1. I Putu Bayu Suyadnya Pratama 1406305035


2. Ni Putu Meiditya Ningsih 1406305126
3. Anisa Sheirina Cahyadi 1406305135

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2017

0
I. PENGANTAR AKUNTANSI KEPERILAKUAN

1
I.1 Akuntansi Keperilakuan – Tinjauan Umum
Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang
digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Aspek-aspek
keperilakuan dari para pengambil keputusan juga dilibatkan dalam pemilihan dan penetapan
suatu keputusan bisnis. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat dilepaskan dari aspek
perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dapat dihasilkan oleh
akuntansi. Penjelasan di atas menunjukkan adanya aspek keperilakuan pada akuntansi, baik
dari pihak pelaksana/penyusun informasi maupun dari pihak pemakai akuntansi. Pihak
pelaksana/penyusun informasi akuntansi adalah seseorang atau kumpulan orang yang
mengoperasikan sistem informasi akuntansi dari awal sampai terwujudnya laporan
keuangan.
Di sisi lain, pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok
yaitu pemakai internal (internal users) dan pemakai eksternal (external users). Pihak internal
menggunakan laporan keuangan untuk melakukan serangkaian evaluasi kinerja. Sedangkan
pihak eksternal lebih berfokus pada jumlah investasi yang mereka lakukan dalam organisasi
tersebut. Informasi akuntansi dirancang untuk berfungsi sebagai suatu dasar bagi
pengambilan keputusan penting di dalam maupun di luar perusahaan. Sistem informasi
dimanfaatkan untuk membantu dalam proses perencanaan, pengoordinasian dan
pengendalian yang kompleks, serta aktivitas yang saling berhubungan untuk memotivasi
orang-orang pada semua tingkatan di dalam perusahaan.
Akuntansi keperilakuan sebenarnya merupakan bagian dari ilmu akuntansi yang
perkembangannya semakin meningkat dalam 25 tahun belakangan ini. Pada awal
perkembangannya, riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi
manajemen, khususnya penganggaran (budgeting). Namun, cakupannya terus berkembang
dan bergeser ke arah akuntansi keuangan, sistem informasi akuntansi, dan audit. Dalam
bidang audit, riset akuntansi keperilakuan telah berkembang sedemikian rupa sehingga
tinjauan literatur telah menjadi terspesialisasi dengan lebih memfokuskan diri pada atribut
keperilakuan yang spesifik seperti proses kognitif, atau riset keperilakuan pada satu topik
khusus seperti audit sebagai tinjauan analitis (analytical review). Tingginya volume riset
terhadap akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan
studi secara periodik akan memberikan manfaat untuk beberapa tujuan berikut:

2
a. Memberikan gambaran terkini (state of the art) terhadap minat khusus dalam bidang
baru yang ingin diperkenalkan.
b. Membantu mengidentifikasikan kesenjangan riset.
c. Meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset berdasarkan sub
bidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen, dan perpajakan, sehingga para
peneliti dapat mempelajarinya melalui sub bidang lain.
Akuntansi keperilakuan tidak sama dengan akuntansi tradisional yang hanya
melaporkan data keuangan. Akuntansi keperilakuan menggunakan metodologi ilmu
pengetahuan perilaku untuk melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan
melaporkan faktor manusia yang memengaruhi keputusan bisnis dan hasilnya. Manfaat
utama dari bidang baru ini adalah menyediakan informasi bisnis yang memungkinkan para
direktur eksekutif (chief executive officer – CEO), direktur keuangan (chief financial officer
– CFO), dan perencana strategis lainnya untuk mengukur dan memengaruhi variabel-
variabel yang secara konvensional tidak dapat diukur, tetapi sangat menentukan bisnis
mereka.
1. Akuntansi Konvensional
Akuntansi pada dasarnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan praktis. Artinya,
teori akuntansi memiliki hubungan yang bersifat definitif dengan praktik akuntansi. Jika
suatu struktur akuntansi sebagai hasil rekayasa telah diterapkan dalam lingkungan
tertentu, maka akuntansi dapat dipandang sebagai suatu proses atau kegiatan yang
meliputi proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, pengklasifikasian,
penguraian, penggabungan, pengikhtisaran, dan penyajian data keuangan dasar yang
terjadi sebagai akibat dari kegiatan operasi suatu unit organisasi dengan cara-cara tertentu
untuk menghasilkan informasi yang relevan bagi pihak yang berkepentingan. Pemakai
internal dari informasi akuntansi adalah organisasi yang memiliki struktur organisasi,
yang memandang laporan akuntansi sebagai landasan dari pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan pendanaan, investasi, dan kegiatan operasional. Pemakai eksternal
meliputi kelompok pemegang saham, kreditor, serikat buruh, analis keuangan, dan badan
atau lembaga pemerintah.

2. Akuntansi sebagai Suatu Sistem Informasi

3
Tujuan utama akuntansi adalah melahirkan informasi keuangan melalui proses
pencatatan, pelaporan, dan interpretasi atas data-data ekonomi yang digunakan sebagai
pengambilan keputusan. Sedangkan sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang
kompleks dan dibentuk dari berbagai komponen yang saling berkaitan. Sebagai suatu
sistem informasi, akuntansi dapat dijelaskan pada bagian berikut:
1) Akuntansi adalah sistem
Pengembangan sistem memerlukan manajemen, pengguna, dan personel
sistem. Umumnya, kelompok perancang atau tim proyek pengembangan sistem
terdiri atas para pemakai, analis, dan wakil manajemen yang bertugas untuk
mengidentifikasi kebutuhan pemakai sistem, mengembangkan spesifikasi teknis,
dan mengimplementasikan sistem baru. Di samping itu, manajemen puncak
merupakan faktor penting yang menentukan efektivitas penerimaan sistem
informasi dalam organisasi. Beberapa alasan keterlibatan manajemen puncak dalam
pengembangan sistem informasi, yaitu:
a) Manajemen puncak merupakan pihak yang paling mengetahui rencana
perusahaan.
b) Manajemen puncak merupakan fokus utama dalam proyek pengembangan
sistem.
c) Keterlibatan manajemen puncak menjamin bahwa tujuan perusahaan lebih
ditekankan daripada aspek teknisnya.
d) Manajemen puncak merupakan pihak yang paling dapat menginterpretasikan
kemungkinan manfaat yang ingin diperoleh dari sistem yang akan
dikembangkan.
e) Keterlibatan manajemen puncak akan memberikan manfaat dan menghasilkan
keputusan yang lebih baik dalam pengembangan sistem.

Keterlibatan pemakai tidak terpisahkan dari kesuksesan suatu sistem


informasi. Keterlibatan ini seharusnya terdapat pada semua tahap yang disebut
sebagai siklus hidup pengembangan sistem (system development live cycle –
SDLC). Tahap-tahap tersebut mencakup perencanaan, analisis, perancangan,
implementasi, dan pascaimplementasi. Untuk mengukurnya, berikut enam tingkatan
keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi:
a) Tidak ada keterlibatan (no involvement).
b) Keterlibatan simbolis (symbolic involvement).
c) Keterlibatan melalui pemberian saran (involvement by advice).

4
d) Keterlibatan dengan pengendalian yang lemah (involvement by weak control).
e) Keterlibatan dengan melakukan (involvement by doing).
f) Keterlibatan dengan pengendalian yang kuat (involvement by strong control).

2) Akuntansi adalah Informasi


Informasi yang diperlukan oleh manajemen harus memiliki karakteristik
seperti akurat dan tepat waktu. Tersedianya informasi secara cepat, relevan, dan
lengkap lebih dikarenakan adanya kebutuhan setiap unit bisnis untuk mendapatkan
posisi keunggulan kompetitif. Dengan demikian, tidak mengherankan jika
dikatakan bahwa akuntansi dapat disamakan dengan informasi. Dalam kaitannya
dengan akuntansi sebagai informasi, beberapa jenis sistem informasi yang telah
berkembang saat ini, seperti pemrosesan data elektronik (electronic data processing
– EDP), pemrosesan data (data processing), sistem informasi manajemen
(management information system – MIS), sistem pendukung keputusan (decision
support system – DSS), sistem pakar (expert system), sistem informasi eksekutif
(executif information system – EIS), dan sistem informasi akuntansi (accounting
information sytem – AIS) merupakan bukti bahwa sistem informasi dirancang untuk
memenuhi kebutuhan informasi yang semakin kompleks.
Sebagai sistem informasi, akuntansi juga sering disebut sebagai “bahasa
bisnis” yang dapat menyediakan informasi penting mengenai kegiatan ekonomi.
Sistem informasi akuntansi dibangun disekitar aktivitas bisnis perusahaan dengan
struktur tertentu dalam suatu organisasi sehingga akuntansi disebut sebagai bahasa.

I.2 Perkembangan Sejarah Akuntansi Keperilakuan


Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok, dan organisasi bisnis, terutama yang
berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Riset akuntansi keperilakuan
meliputi masalah yang berhubungan dengan:
a. Pengambilan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor.
b. Pengaruh dari fungsi akuntansi, seperti partisipasi dalam penyusunan anggaran,
karakteristik sistem informasi, dan fungsi audit terhadap perilaku baik karyawan,
manajer, investor, maupun Wajib Pajak.
5
c. Pengaruh hasil dari fungsi tersebut, seperti informasi akuntansi dan penggunaan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Mulai dari tahun 1960-an sampai ke 1980-an, jumlah artikel mengenai akuntansi
keperilakuan semakin meningkat. Artikel pertama mencoba untuk menggambarkan
akuntansi keperilakuan, sementara artikel selanjutnya membahas mengenai teori dan konsep
ilmu pengetahuan keperilakuan dalam kaitannya dengan akuntansi secara implikasinya bagi
prinsip-prinsip dan praktik akuntansi. Pertumbuhan studi akuntansi keperilakuan mulai
muncul dan berkembang, terutama yang diprakarsai oleh akademisi profesi akuntansi. Hal
ini dapat dilihat dari diterbitkannya jurnal-jurnal akademis, seperti Journal of Accounting,
Organization, and Society (AOS) dan Research in Audit Program pada tahun 1976 oleh Peit
Marwick. Kejadian tersebut meningkatkan kegiatan riset secara simultan dan
mempublikasikan eksperimen dan riset teoretis baru mengenai akuntansi keperilakuan
secara eksplisit. Penggabungan aspek-aspek perilaku pada akuntansi menunjukkan
pertumbuhan minat akan bidang riset ini.

I.3 Landasan Teori dan Pendekatan Akuntansi Keperilakuan


1. Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif
Seiring dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset diperluas
dengan dengan diangkatnya topik mengenai penyusunan anggaran, akuntansi
pertanggungjawaban (responsibility accounting), dan masalah harga transfer (transfer
pricing). Berbagai riset tersebut masih bersifat normatif karena hanya mengangkat
permasalahan mengenai desain pengendalian manajemen dengan berbagai metode
matematis, seperti arus kas yang didiskonto atau pemrograman linear guna membantu
manajer dalam mengambil keputusan ekonomi yang optimal, tanpa melibatkan faktor-
faktor lain yang mempengaruhi efektivitas desain pengendalian manajemen.
Sejak tahun 1950-an, tepatnya sejak C.Argyris menerbitkan risetnya pada tahun
1952, riset Argyris yang berjudul “The Impact of Budgjet on People” suatu studi yang
disponsori oleh The Controller Foundation Cornell University Scholl of Business and
Public Administrator, sejarah penelitian akuntansi keprilakuan mulai berkembang. Sejak
saat itu, tumbuhlah kesadaran untuk mengintegrasikan ilmu akuntansi dengan ilmu-ilmu
keperilakuan, terutama ilmu psikologi dalam riset akuntansi.
Pada tahun 1978, riset Hopwood diulang oleh Otley dengan temuan yang berbeda.
Pertama, Otley tidak dapat membuktikan penemuan Hopwood bahwa ketegangan

6
bawahan akan semakin meningkat dengan gaya keterbatasan laba. Kedua, bertentangan
dengan penemuan Hopwood, Otley menemukan bahwa kinerja manajer lebih baik dengan
gaya keterbatasan laba. Adanya temuan yang bertolak belakang tersebut mengundang
banyak peneliti untuk menyelidikinya, hingga kemudian digunakan teori kontinjensi
dalam riset akuntansi.

2. Dari Pendekatan Universal ke Pendekatan Kontinjensi


Riset akuntansi keprilakuan awalnya dirancang dengan pendekatan universal
(universalistic approach), seperti riset Angyris tahun 1952, Hopwood dan Otley. Namun
karena pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, maka muncul pendekatan lain yaitu
pendekatan kontinjensi (contingency approach).
Berbagai riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi dilakukan dengan
tujuan mengidentifikasi berbagai variabel kontinjensi yang memengaruhi perancangan
dan penggunaan sistem pengendalian manajemen. Secara ringkas, berikut berbagai
variabel kontinjensi yang memengaruhi desain sistem pengendalian manajemen tersebut:
a. Ketidakpastian (uncertainty)
b. Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependent)
c. Industri, perusahaan, dan unit variabel
d. Strategi kompetitif (competitive strategy)
e. Faktor-faktor yang dapat diamati (observability factor)
Kompleksitas desain riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi bisa dibagi
dalam empat tingkatan, yaitu:
a. Desain riset yang menghubungkan satu variabel kontinjensi dalam satu variabel
sistem pengendalian.
b. Desain riset yang menguji interaksi antara satu variabel kontinjensi dan satu
variabel sistem pengendalian terhadap variabel dependen tertentu.
c. Desain riset yang menguji interaksi antara satu variabel kontinjensi dengan lebih
dari satu variabel sistem pengendalian manajemen terhadap variabel konsekuensi.
d. Desain riset yang memasukkan berbagai variabel kontijensi untuk menentukan
desain pengendalian yang optimal.

II. TINJAUAN TERHADAP ILMU KEPERILAKUAN: DALAM PERSPEKTIF


AKUNTANSI
II.1 Mengapa Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada Akuntansi

7
Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan untuk menjadi dasar
dalam memilih informasi yang relevan terhadap pengambilan keputusan. Kesempurnaan
teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk menyadari bahwa tujuan akhir jasa
akuntansi organisasi bukan sekedar teknik yang didasarkan pada efektivitas dari pelaksanaan
segala prosedur akuntansi, tetapi juga bergantung pada bagaimana perilaku orang-orang di
dalam perusahaan, baik sebagai pemakai maupun pelaksana, dipengaruhi oleh informasi
yang dihasilkannya.

1. Akuntansi adalah Tentang Manusia


Dari pengalaman dan praktik, banyak manajer dan akuntansi telah memperoleh
suatu pemahaman yang lebih dari sekedar aspek manusia dalam tugas mereka.
Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa banyak sistem akuntansi masih dihadapkan pada
berbagai kesulitan manusia yang tidak terhitung, bahkan terkadang sampai menyebabkan
penggunaan dan penerimaan seluruh sistem akuntansi menjadi meragukan. Para manajer
terbiasa bebas memanupulasi laporan informasi sistem akuntansi karena
pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan dilakukan hanya berdasarkan hasil yang
mereka laporkan dan bukan berdasarkan kontribusi mereka yang lebih luas terhadap
efektivitas organisasi. Dengan menganalisis secara sistematis hubungan antara sistem
akuntansi, bentuk pengendalian, sikap manusia dalam pengambilan keputusan, serta
tingkatan sosial dan perilaku, akuntan dapat memusatkan perhatiannya keluar. Dengan
demikian, hal tersebut tidak menjadi dasar bagi munculnya konflik dan pertentangan dari
banyaknya permasalahan akuntansi, serta tidak menyebabkan potensi organisasi dan
akuntansi sosial itu sendiri diragukan.

2. Akuntansi adalah Tindakan


Dalam organisasi, semua anggotanya mempunyai peran yang harus dimainkan guna
mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut bergantung pada besarnya porsi tanggung
jawab dan rasa tanggung jawab anggota tersebut terhadap pencapaian tujuan organisasi
tersebut. Untuk itu, keselarasan tujuan (good congruence) antara individu dan organisasi
diperlukan untuk mewujudkan terjadinya sinergi antara individu dan organisasi.
Keselarasan tersebut dapat diwujudkan dengan lebih baik ketika individu memahami dan
patuh pada ketetapan-ketetapan yang ada di dalam anggaran. Lewat akuntansi, berbagai

8
realisasi dalam anggaran dapat diwujudkan dan informasi yang dihasilkannya terus
berdampak pada pola tindakan individu yang ada dalam organisasi tersebut.

II.2 Dimensi Akuntansi Keperilakuan


Informasi ekonomi dapat ditambah dengan tidak hanya melaporkan data-data
keuangan saja, tetapi juga data-data nonkeuangan yang terkait dengan proses pengambilan
keputusan. Berdasarkan kondisi ini, adalah wajar jika akuntansi sebaiknya memasukkan
dimensi-dimensi keperilakuan dari berbagai pihak yang terkait dengan informasi yang
dihasilkan oleh sistem akuntansi.

1. Lingkup Akuntansi Keperilakuan


Dimensi akuntansi berkaitan dengan perilaku manusia sekaligus juga dengan
desain, konstruksi, serta penggunaan suatu sistem informasi akuntansi yang efisien.
Ruang lingkup akuntansi keperilakuan sungguh luas, antara lain: 1) aplikasi dari konsep
ilmu keperilakuan terhadap desain dan kontruksi sistem akuntansi, 2) studi reaksi
manusia terhadap format dan isi laporan akuntansi, 3) cara dimana informasi diproses
untuk membantu pengambilan keputusan, 4) pengembangan teknik pelaporan yang dapat
mengomunikasikan perilaku para pemakai data, dan 5) pengembangan strategi guna
memotivasi dan memengaruhi perilaku, cita-cita, serta tujuan dari orang-orang yang
menjalankan organisasi. Secara umum, lingkup dari akuntansi keperilakuan dapat dibagi
menjadi tiga bidang besar, yaitu:
a. Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain, kontribusi, dan penggunaan sistem
akuntansi.
b. Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia.
c. Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.

2. Akuntansi Keperilakuan: Perluasan Logis dari Peran Akuntansi Tradisional


Gambaran ekonomi suatu perusahaan secara logis memerlukan aplikasi dari prinsip
pengungkapan penuh (full disclosure). Prinsip ini mengharuskan dicantumkannya
penjelasan yang tidak hanya berfungsi sebagai pengganti dan penambah informasi yang
mendukung laporan data keuangan perusahaan, melainkan juga sebagai laporan yang
menjelaskan kritik terhadap kejadian-kejadian non keuangan. Untuk itu, diperlukan suatu
masukan informasi keperilakuan guna melengkapi data keuangan dan data lain yang
dilaporkan. Sulit dipahami jika dikatakan bahwa pengambil keputusan tidak tertarik

9
terhadap informasi tambahan yang relevan karena menganggap informasi tersebut tidak
memiliki nilai tambah.
Tekanan-tekanan dalam bidang bisnis juga memberikan informasi mengenai
implikasi dari gejala keperilakuan ini terhadap keberhasilan perusahaan dimasa depan.
Telah diakui bahwa kekuatan para akuntan terletak pada pengalaman mereka selama
berabad-abad dalam memenuhi kebutuhan informasi dari pemakai eksternal maupun
internal guna pengambilan keputusan bisnis. Para akuntan berkualitas akan
memperhitungkan gejala keperilakuan dalam melakukan penyelidikan karena mereka
mengetahui data keperilakuan sangat berarti untuk melengkapi data keuangan. Lebih
lanjut lagi, para akuntan menjadi satu-satunya kelompok yang secara logis mampu
mengikut sertakan informasi keperilakuan ke dalam laporan keuangan bisnis yang ada.

II.3 Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu Keperilakuan


Agar dapat dianggap sebagai bagian dari ilmu keperilakuan, riset tersebut harus
memenuhi dua kriteria dasar. Pertama, riset tersebut harus berkaitan dengan perilaku
manusia. Tujuan utama dari ilmu perilaku manusia adalah untuk mengidentifikasikan
kebiasaan yang mendasari manusia dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Kedua, riset
tersebut harus dilakuakan “secara ilmiah”. Hal ini berarti bahwa harus ada suatu usaha
sistematis untuk menggambarkan, menghubungkan, menjelaskan, dan oleh karena itu
memprediksikan sekelompok fenomena; yaitu, kebiasaan yang mendasari dalam perilaku
manusia harus dapat diobservasi atau mengarah pada dampak yang dapat diobservasi.

Ilmu keperilakuan adalah bagian dari ilmu sosial manusia. Ilmu sosial meliputi disiplin
ilmu antropologi, ekonomi, sejarah, politik, psikologi, dan sosiologi. Ilmu keperilakuan
meliputi psikologi dan sosiologi, aspek ekonomi keperilakuan dan ilmu pengetahuan politik,
serta aspek antropologi keperilakuan.

II.4 Lingkup dan Sasaran Hasil dari Akuntansi Keperilakuan

Para akuntan keperilakuan memusatkan perhatian mereka pada hubungan antara


perilaku dan sistem akuntansi. Mereka menyadari proses akuntansi melibatkan ringkasan
dari sejumlah kejadian ekonomi makro yang dihasilkan dari prilaku manusia dan akuntansi
itu sendiri, serta dari beberapa faktor yang dapat memengaruhi prilaku, yang pada gilirannya
secara bersama-sama akan menentukan semua keberhasilan peristiwa ekonomi. Akuntan
10
keperilakuan percaya bahwa tujuan utama laporan akuntansi adalah memengaruhi perilaku
dalam rangka memotivasi dilakukannya tindakan yang diinginkan.

II.5 Persamaan dan Perbedaan Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan


Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan
manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan
akuntansi. Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial, sedangkan akuntansi
keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan. Oleh
karena itu, ilmuwan keperilakuan terlibat dalam riset terhadap aspek-aspek teori motivasi,
kepuasan sosial, maupun bentuk sikap. Sementara itu, para akuntan keperilakuan
menerapkan unsur-unsur khusus dari riset atau teori tersebut untuk menghasilkan hubungan
dengan situasi akuntansi yang ada.

Ketika akuntan keperilakuan dan ilmuwan keperilakuan memiliki kemampuan yang


sama terhadap pendekatan akuntansi yang berkaitan dengan dilema organisasi, baik akuntan
keperilakuan dan ilmuwan keperilakuan memainkan peran yang berbeda, bahkan saling
melengkapi, dalam memecahkan masalah. Secara bersamaan, keduanya dapat bekerjasama
memilih metode riset dalam analisis data dan penulisan laporan.

II.6 Perspektif Berdasarkan Perilaku Manusia: Psikologi, Sosiologi, dan Psikologi Sosial
Seseorang dapat disebut sebagai psikolog sosial jika dia berupaya memahami,
menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu
dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau
bahkan yang hanya dibayangkannya. Dalam konteks organisasi perusahaan, para prikolog
industri atau organisasi adalah orang yang memperhatikan masalah kelemahan, kebosanan,
dan faktor-faktor lain yang relevan dengan kondisi kerja yang dapat menghalangi kinerja
yang diharapkan.
Sementara itu, orang yang disebut sebagai sosiolog adalah orang yang mempelajari
manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia. Secara spesifik, sosiolog telah
memberikan kontribusi yang besar pada ilmu perilaku organisasi melalui studi mereka
terhadap perilaku kelompok dalam organisasi.
Psikologi sosial adalah suatu bidang kajian di dalam psikologi yang memadukan
konsep-konsep baik dari psikologi maupun sosiologi. Psikologi sosial memfokuskan pada
pengaruh satu-satu terhadap orang lain. Salah satu bidang utama adalah bagaimana

11
melaksanakan pengaruh tersebut dan bagaimana mengurangi hambatan terhadap
penerimaannya.

Ketiga hal tersebut, yaitu psikologi, sosiologi, dan psikologi sosial menjadi kontributor
utama dari ilmu keperilakuan. Ketiganya melakukan pencarian untuk menguraikan dan
menjelaskan perilaku manusia walaupun secara keseluruhan ketiganya memiliki perspektif
yang berbeda mengenai kondisi manusia. Psikologi berfokus pada cara individu bertindak.
Fokusnya didasarkan pada tindakan manusia ketika mereka bereaksi terhadap stimuli dalam
lingkungannya, dan prilaku manusia dijelaskan dalam kaitannya dengan ciri, arah, dan
motivasi individu.

II.7 Beberapa Hal Penting dalam Perilaku Organisasi


Ilmu perilaku organisasi dikembangkan dengan menggunakan konsep-konsep umum
dan kemudian mengubah penerapannya pada situasi tertentu. Teori-teori perilaku
organisasional mencerminkan inti yang ditangani oleh teori-teori tersebut. Manusia bersifat
kompleks dan rumit, demikian pula dengan teori-teori yang dikembangkan untuk
menjelaskan tindakan-tindakannya.

1. Teori Peran
Peran dapat digambarkan secara sederhana sebagai bagian dari orang-orang yang
berinteraksi satu sama lain. Peran membedakan perilaku dari orang yang menduduki
posisi organisasi tertentu dan berfungsi untuk mempersatukan kelompok dengan
melengkapi spesialisasi dan fungsi koordinasi. Peran merupakan komponen perilaku
nyata yang disebut norma. Norma-norma adalah harapan dan kebutuhan perilaku yang
sesuai untuk suatu peranan tertentu. Satu aspek penting dari teori peran adalah bahwa
identitas dan perilaku dianugerahkan secara sosial kepada dukungan sosial. Posisi
seseorang yang menduduki suatu organisasi formal atau suatu kelompok membawa pola
perilaku bersama yang diharapkan.
2. Struktur Sosial
Studi keperilakuan manusia yang sistematis bergantung pada dua fakta. Pertama,
orang-orang bertindak secara teratur dan dengan pola yang berulang. Kedua, orang-orang
tidak mengisolasikan bentuk, tetapi mereka saling berhubungan satu dengan yang
lainnya. Untuk mencakup sejumlah aturan dalam perilaku manusia, konsep masyarakat

12
dan budaya perlu dipertimbangkan. Di dalam sistem sosial ini, masih ada subsistem dan
kelompok manusia yang saling berhubungan dan menarik perhatian para akuntan
keperilakuan. Pola teladan dari berbagai bagian subsistem yang beroperasi dikenal
sebagai struktur sistem. Memasukkan struktur sosial yang mengacu pada hubungan yang
dipolakan antara berbagai subsistem sosial dan individu memungkinkannya berfungsi
bagi masyarakat, organisasi sosial, atau kelompok sosial.
3. Budaya
Budaya merupakan satu titik pandang yang pada saat yang bersamaan dijadikan
jalan hidup oleh suatu masyarakat. Budaya memengaruhi pola teladan perilaku manusia
yang teratur karena budaya menggambarkan perilaku yang sesuai untuk situasi tertentu.
Manusia adalah makhluk yang memiliki budaya. Dengan demikian, seorang akuntan
perilaku harus menyadari akan gagasan untuk budaya. Budaya merupakan norma-norma
dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi. Budaya dapat dipecah
menjadi tiga faktor mendasar, yaitu struktural, politis, dan emosional.
Dimensi budaya nasional merupakan suatu kerangka berpikir yang berfungsi
untuk memahami perbedaan antarbangsa. Budaya nasional didefinisikan sebagai nilai-
nilai, kepercayaan, dan asumsi yang dipelajari sejak masa anak-anak, yang membedakan
antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Menurut Hofstede (dalam Lubis,
2005:35) ada empat dimensi budaya nasional sebagai berikut:
a. Jarak kekuasaan (power distance), yaitu sejauh mana orang percaya bahwa
kekuasaan dan status didistribusikan secara tidak merata dan bagaimana orang
menerima distribusi kekuasaan yang tidak merata tersebut sebagai cara yang tepat
untuk mengorganisasikan sistem sosial.
b. Penghindaran ketidakpastian (uncertain avoidance), yaitu sejauh mana orang
merasa terancam dengan keadaan yang tidak tentu atau tidak diketahui.
c. Maskulinitas dan feminimitas (masculinity and feministy), maskulinitas adalah
suatu situasi yang ditandai dengan adanya nilai-nilai yang dominan dalam
masyarakat, yang lebih menekankan dan mementingkan uang, harta benda, atau
materi. Feminisitas adalah suatu situasi yang menjelaskan nilai-nilai yang dominan
dalam masyarakat, yang lebih menekankan pada pentingnya hubungan antar-
manusia, kepedulian terhadap orang lain, dan ketentraman hidup.
d. Individualisme dan kolektivisme (individualism and collectivism), individualisme
adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam suatu masyarakat, yang

13
cenderung untuk memerhatikan dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja.
Kolektivisme adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam masyarakat, yang
cenderung untuk merasa memiliki ikatan yang kuat dengan satu kelompok yang
berbeda dengan kelompok lainnya.
4. Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi merupakan tingkat sampai sejauh mana seorang karyawan
memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat untuk
mempertahankan keanggotaanya dalam organisasi itu. Meyer dan Allen (dalam Lubis,
2005:36) mengemukakan tiga komponen mengenai komitmen organisasi, yang antara lain
adalah:
a. Komitmen afektif (affective commitment), terjadi apabila karyawan ingin menjadi
bagian dari organisasi karena adanya ikatan emosional (emotional attachment) atau
psikologis terhadap organisasi.
b. Komitmen kontinu (continuance commitment), muncul apabila karyawan tetap
bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan-
keuntungan lain, atau karena karyawan tersebut tidak menemukan pekerjaan lain.
c. Komitmen normative (normative commitment), timbul dari nilai-nilai diri
karyawan. Karyawan bertahan menjadi anggota suatu organisasi karena memiliki
kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan hal yang memang
seharusnya dilakukan.

Mengingat pentingnya komitmen tersebut, banyak perusahaan berusaha untuk


menciptakan kondisi perusahaan sedemikian rupa agar dapat menghasilkan loyalitas
karyawan dengan cara antara lain:
1. Memberikan kompensasi yang menarik atau bahkan kompetitif bila dibandingkan
dengan perusahaan lain.
2. Membuat kondisi kerja yang nyaman dan menyediakan fasilitas kerja yang baik
3. Memberikan tugas atau pekerjaan yang menantang dan menarik.
4. Mempraktikkan manajemen terbuka (open management) dan manajemen
partisipatif
5. Memerhatikan persoalan yang dianggap penting oleh karyawan dan menjaga
keadilan perlakuan terhadap karyawan dalam perusahaan.
5. Konflik Peran
Secara umum, konflik dapat dibagi menjadi dua bagian utama. Yang pertama
adalah konflik peran dan yang kedua adalah konflik kepentingan. Suatu gejala psikologis

14
yang dialami oleh anggota organisasi, yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dalam
bekerja dan berpotensi untuk menurunkan motivasi kerja disebut sebagai konflik peran.
Dampak negatif yang ditimbulkan oleh konflik peran adalah timbulnya ketegangan kerja,
penurunan komitmen pada organisasi, dan penurunan kinerja secara keseluruhan.
6. Konflik Kepentingan
Menurut prinsip manajemen yaitu kepentingan pribadi atau kelompok harus
tunduk kepada kepentingan organisasi secara keseluruhan. Dalam praktik bisnis, demi
kepentingan orang organisasi, manajemen harus memutuskan hubungan kerja dengan
seorang atau beberapa orang karyawan. Banyak bukti riset yang menunjukkan bahwa
konflik kepentingan pekerja dan keluarga sangat merugikan karyawan dan perusahaan.
Konflik kerja dan keluarga cenderung berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan.
Hasil-hasil riset tersebut merekomendasikan perlunya manajemen perusahaan untuk
mengambil kebijakan yang menginterpretasikan kepentingan pekerjaan dengan
kepentingan pribadi.
7. Pemberdayaan Karyawan
Tujuan pemberdayaan dalam organisasi antara lain untuk:
1. Meningkatkan motivasi guna mengurangi kesalahan dan mendorong karyawan
untuk bertanggung jawab terhadap tindakannya.
2. Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi
3. Mendorong peningkatan kualitas produk dan jasa
4. Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mendekatkan karyawan terhadap
pelanggan, sehingga karyawan dapat melayani dengan lebih baik.
5. Meningkatkan kesetiaan dan pada saat yang sama mengurangi tingkat kemangkiran
6. Mendorong kerjasama yang lebih baik dengan sesama rekan kerja dalam
meningkatkan pengawasan dan produktivitas
7. Mengurangi tugas pengawasan dari manajemen menengah dalam pekerjaan
operasional sehari-hari, sehingga para manajer lebih mempunyai waktu dan
perhatian terhadap masalah-masalah yang lebih besar.
8. Menyiapkan karyawan untuk berkembang dan menghadapi perubahan, suksesi, dan
tuntutan persaingan.
9. Meningkatkan daya saing bisnis.

Untuk melaksanakan pemberdayaan tersebut, biasanya organisasi kemudian


menyusun dan menentukan visi serta misi organisasi. Di samping itu, perusahaan
melaksanakan pula perencanaan strategis dan berbagai macam pelatihan berkaitan dengan
pemberdayaan, seperti membangun kerjasama tim, pemberdayaan kepemimpinan dan

15
motivasi, kepekaan emosional di tempat kerja, peningkatan kualitas terus-menerus,
pelatihan keterampilan khusus yang berkaitan dengan pekerjaan, dan lain sebagainya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan dan Muhammad Ishak. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba
Empat

17