Anda di halaman 1dari 10

Mengelola Tanah Rawa Untuk Pembangunan Berkelanjutan

ESSAY

Diajukan dalam rangka perlombaan IMS GOES TO SCHOOL

Oleh :
1. Zulkardi Ariansyah X MIPA 1

Pemerintah Kota Palembang


Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Palembang
SMA Negeri 13 Palembang
2017
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

ESSAY

Kontribusi Teknik Sipil dalam Mewujudkan


Palembang Sebagai Kota BARI (Bersih, Aman, Rapi,
dan Indah)

Oleh :
Dira Damayanti XI MIPA 1
Zulkardi Ariansyah X MIPA 1

Telah disetujui oleh :

Pembimbing Palembang, 28 Oktober 2017

Arindra Julistiowatie, SP.,MSi.


NIP : 196807222014072001
HALAMAN PENGESAHAN

ARTIKEL

Mengelola Tanah Rawa Untuk Pembangunan Berkelanjutan

Disusun dan ditulis oleh :


Zulkardi Ariansyah X IPA 1

Telah disahkan 28 Oktober 2017

Pembimbing Kepala SMA Negeri13 Palembang

Arindra Julistiowatie, SP.,MSi. Dra. Zainab


NIP : 196807222014072001 NIP : 196011181987012002
Mengelola Tanah Rawa Untuk Pembangunan Berkelanjutan
,Zulkardi Ariansyah1
1
Sekolah Menengah Atas 13 Palembang, aribaee2@gmail.com

Palembang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Selatan di Negara


Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi di
wilayah Sumatera Selatan. Luas wilayah Kota Palembang adalah seluas 358,55
Km². Palembang dan wilayah Sumsel pada umumnya merupakan tanah rawa yang
tergenang air. Hal ini menjadikan tanahnya memiliki tekstur yang lembek dan
basah. Menurut Danarti (1995), Tanah Rawa adalah lahan darat yang tergenang
secara periodic atau terus-menerus secara alami karena drainase yang terhambat.

Secara geografis, Palembang terletak pada 2°59′27.99″LS


104°45′24.24″BT dengan ketinggian rata-rata 8 meter dari permukaan laut. Kota
Palembang disebut juga sebagai Kota Air karena terdapat Sungai Musi yang
berfungsi sebagai sarana transportasi dan perdagangan antar wilayah.

Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh
air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan
saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh
air (data Statistik 1990). Berdasarkan data tersebut, keadaan topografi Kota
Palembang merupakan dataran rendah. Lokasi daerah yang tertinggi berada di
Bukit Seguntang Kecamatan Ilir Barat I, dengan ketinggian sekitar 10 meter dpl.
Sedangkan kondisi daerah terendah berada di daerah Sungai Lais, Kecamatan Ilir
Timur II.

(http://www.kemendagri.go.id/pages/profildaerah/kabupaten/id/16/name/sumatera
-selatan/detail/1671/kota-palembang)

Dari segi kondisi hidrologi, Kota Palembang terbelah oleh Sungai Musi
menjadi dua bagian besar disebut Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Terdapat
perbedaan karakter topografi antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Wilayah
Seberang Ulu pada umumnya mempunyai topografi yang relatif datar dan
sebagian besar dengan tanah asli berada dibawah permukaan air pasang
maksimum Sungai Musi (± 3,75 m diatas permukaan laut) kecuali lahan-lahan
yang telah dibangun dan akan dibangun dimana permukaan tanah telah
mengalami penimbunan dan reklamasi. Dibagian wilayah Seberang Ilir ditemui
adanya variasi topografi (ketinggian) dari 4 m sampai 20 m diatas permukaan laut
dan ditemui adanya penggunaan-penggunaan mikro dan lembah-lembah yang
“kontinyu” dan tidak terdapat topografi yang terjal. Dengan demikian dari aspek
topografi pada prinsipnya tidak ada faktor pembatas untuk pengembangan ruang,
baik berupa kemiringan atau kelerengan yang besar.

Kota Palembang terdiri dari jenis tanah yang berlapis alluvial (tanah
endapan yang terbentuk dari lumpur dan pasir halus yang mengalami erosi tanah),
liat, dan berpasir. Sebagian besar jenis tanah di wilayah Kota Palembang adalah
tanah liat dan lapisan aluvial terutama di wilayah Seberang Ilir. Sedangkan pada
wilayah Seberang Ulu terdiri dari tanah liat berpasir.

(http://www.palembang.go.id/35/geografis-kota-palembang)

Seiring berjalannya waktu, pembangunan-pembangunan baik


pembangunan mega proyek maupun proyek lainnya seperti, perumahan dan
pertokoan mulai menjamur di Kota Palembang . Pembangunan ini dilaksanakan
mengingat Kota Palembang telah sukses menjadi tuan rumah dalam
penyelenggaraan event-event bertaraf internasional, sebagai contohnya event Sea
Games ke-26 pada tahun 2011 dan Islamic Solidarity Games (ISG) pada tahun
2017.

Penyelenggaraan event-event besar ini berdampak sangat luas terhadap


masyarakat Kota Palembang. Mulai dari persiapan, penyelenggaraan, sampai
pasca acara pun memberikan dampak yang sangat besar. Di masa persiapan,
pembangunan infrastruktur yang dikucurkan pemerintah sebesar triliunan rupiah
untuk membangun LRT, jalan tol, jembatan, bahkan penambahan venue-venue
baru. Pembangunan berbagai infrastruktur ini membutuhkan teknik pengerjaan
yang bisa dibilang mudah-mudah susah, karena apabila perhitungan dan perkiraan
yang dilakukan sedikit saja meleset atau tidak sesuai dapat berdampak besar bagi
pembangunan itu sendiri.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan adalah pondasi
atau dasar sebagai penopang infrastruktur yang akan dibangun. Hal ini harus
terlebih dahulu dipertimbangkan sebelum mengerjakan pembangunan karena
apabila pondasinya saja tidak kuat, maka bagian bangunan yang ditopangnya juga
akan tidak akan tahan lama. Maka dari itu sebelum pengerjaan proyek diperlukan
sebuah pondasi yang kuat dan kokoh. Dalam hal ini, diperlukan sebuah ilmu yang
dinamakan soil mekanik atau ilmu mekanika tanah yang mengatur bagaimana
perlakuan terhadap tanah itu sehingga suatu tanah yang sebelumnya tidak dapat
digunakan sebagai pondasi menjadi tanah yang sanggup menopang pondasi yang
kuat.

Sebagai contoh, kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian Jalan Tol
Palembang-Indralaya yang ambles sepanjang 30 meter. Kejadian ini dikarenakan
Jalan Tol Palembang-Indralaya tersebut berada pada lahan rawa yang
mengharuskan terlebih dahulu melakukan penimbunan terhadap lahan rawa. Agar
jalan dapat dibangun dan tahan lama digunakan salah satu metode yakni vacuum
consolidation untuk mengurangi kadar air dan udara dari butiran tanah pada lahan
tersebut. Namun, hal ini tidak dapat dilakukan, karena adanya badan jalan yang di
bawahnya terdapat kabel saluran udara tegangan tinggi (SUTET) sepanjang 30
meter yang tidak bisa ditanam vaccum saat proses perbaikan lahan rawa.
Kecerobohan perencana dan pelaksana ini akibat target proyek agar jalan tersebut
dapat segera digunakan.

(http://bisnis.liputan6.com/read/2996348/tanah-tol-palembang-indralaya-ambles-
ini-penjelasan-menteri-pupr)

Dalam rangka membangun pondasi yang kuat dan kokoh, diperlukan


penanaman tiang-tiang pancang ke dalam tanah yang berbentuk menyerupai
paku. Tiang-tiang pancang ini biasanya terbuat dari beton dengan tulangan besi
yang kuat.

Berdasarkan ukurannya, pondasi bangunan berjenis tiang pancang dapat


dibedakan menjadi 2 macam yaitu mini pile dan maxi pile. Tiang pancang mini
pile merupakan tiang yang berukuran kecil dan umumnya digunakan dalam
pondasi bangunan rendah serta tanah yang kokoh. Sedangkan tiang pancang maxi
pile adalah tiang pancang yang bisa diandalkan untuk pondasi bangunan
bertingkat dan tanah yang agak labil.

Palembang sebagai kota Metropolis yang sedang giat-giatnya membangun


juga tidak boleh mengabaikan pemakaian geosintetik sebagai alternatif
penggunaan konstruksi bangunannya. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan
tanah di Palembang adalah tanah rawa yang juga bersifat menyerap air dan
sifatnya yang lembek membutuhkan geotekstil sebagai lapisan penahan timbunan
tanah, supaya timbunan menjadi lebih padat. Apabila kepadatannya tidak sesuai
dengan azaz konstruksi maka timbunan tanah ini tidak akan kuat menahan beban.

Tiang pancang mini pile memiliki penampang berbentuk segitiga dan


persegi. Tiang pancang segitiga berukuran 28 mampu menahan
beban bangunan seberat 25-30 ton, sedangkan tiang berukuran 30 sanggup
menopang beban 35-40 ton. Sementara itu, tiang persegi berukuran 20 x 20 dapat
menyangga beban 30-35 ton dan tiang persegi berukuran 25 x 25 bisa menahan
beban 40-50 ton.

Tiang pancang maxi pile ialah tiang yang mempunyai ukuran besar dan
mampu menahan beban yang sangat berat. Bahkan tiang maxi pile yang berukuran
50 x 50 mampu menyangga beban dengan bobot mencapai 500 ton. Adapun tiang
pancang maxi pile tersedia dengan bentuk penampang persegi dan lingkaran.
Sementara itu, panjang tiang pancang di pasaran umumnya berkisar antara 3-12
meter.

(http://bisnis.liputan6.com/read/2996348/tanah-tol-palembang-indralaya-ambles-ini-
penjelasan-menteri-pupr)
DAFTAR PUSTAKA

Danarti, dkk. 1995. Studi Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Puslitbangtrans: Jakarta.

Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Palembang. 2016. Geografis Kota Palembang.
http://www.palembang.go.id/35/geografis-kota-palembang. Diakses pada tanggal
24 Oktober 2017.

Ariyanti, Fiki. 2017. Tanah Tol Palembang Indralaya Ambles.


http://bisnis.liputan6.com/read/2996348/tanah-tol-palembang-indralaya-ambles-
ini-penjelasan-menteri-pupr. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2017.

Arafuru. 2016. Pengertian, Ukuran, dan Spesifikasi Tiang Pancang.


http://arafuru.com/sipil/pengertian-ukuran-dan-spesifikasi-tiang-pancang.html.
Diakses pada tanggal 24 Oktober 2017.

Pusdatin. 2016. Kota Palembang.


http://www.kemendagri.go.id/pages/profildaerah/kabupaten/id/16/name/sumatera
-selatan/detail/1671/kota-palembang. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2017.
BIODATA PENULIS

Judul Naskah : Mengelola Tanah Rawa Untuk Pembangunan


Berkelanjutan
Penulis 1
Nama Penulis : Zulkardi Ariansyah
Tempat dan Tanggal Lahir : Palembang, 28 Mei 2002
Nama Instansi : SMA N 13 Palembang
Kelas/Jurusan : X. IPA 1
Angkatan : 2017/2018
Alamat Sekolah : Jl. Adi Sucipto No.2803 Sukodadi Palembang,
Sumatera Selatan
Alamat Tempat Tinggal : Jl. Kebun Bunga Komplek Kebun Bunga Melati
Blok C No. 1 RT.16 RW.05 Sukarami Palembang,
Sumatera Selatan
Alamat Email : aribaee2@gmail.com
Nomor Telepon : 089624519088
BIODATA PEMBIMBING

Nama Pembimbing : Arindra Julistyowatie, S.P., M.Si

NIP : 1968072220142001

Tempat dan Tanggal Lahir : Probolinggo, 22 Juli 1968

Alamat Tempat Tinggal : Rumah Dinas Kehutanan Jl. Taman Sari lll, No.3,
Puntikayu Palembang.

Email : arindraj@gmail.com