Anda di halaman 1dari 6

Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia, tentu

sangat berpengaruh terhadap pola hidup bangsa Indonesia. Dalam pandangan


masyarakat Indonesia, hukum Islam merupakan bagian penting dari ajaran
agama, dan juga Islam merupakan ruangan ekspresi pengalaman agama yang
utama dan menjadi diterminan kontinyutas dan identitas historis. Sekurang-
kurangnya, ada lima teori berlakunya hukum Islam di Indonesia. Kelima teori
itu ialah:
1. Teori Kredo atau Syahadat.
2. Teori Receptio In Complexu.
3. Teori Receptie.
4. Teori Receptie Exit.
5. Teori Receptie a Contrario

Teori Reception In Complexu

Teori Receptio in Complexu, Diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh


Lodewijk Willem Christian van den Berg tahun 1845-1927 di indonesia. Teori
Receptio In Complexu menyatakan bahwa bagi setiap penduduk berlaku hukum
agamanya masing-masing. Bagi orang Islam berlaku penuh hukum Islam sebab
dia telah memeluk agama Islam walaupun dalam pelaksanaannya terdapat
penyimpangan-penyimpangan. Teori Receptio In Complexu ini telah
diberlakukan di zaman VOC sebagaimana terbukti dengan dibuatnya berbagai
kumpulan hukum untuk pedoman pejabat dalam menyelesaikan urusan-urusan
hukum rakyat pribumi yang tinggal di dalam wilayah kekuasaan VOC yang
kemudian dikenal sebagai Nederlandsch Indie. Contohnya, Statuta Batavia yang
saat ini desebut Jakarta 1642 pada menyebutkan bahwa sengketa warisan
antara pribumi yang beragama Islam harus diselesaikan dengan
mempergunakan hukum Islam, yakni hukum yang dipergunakan oleh rakyat
sehari-hari.

Kemudian pada tahun 1882 dibentuklah pengadilan agama ditempat tempat


yang terdapat pengadilan negeri, yakni Pengadilan Agama berkompeten
menyelesaikan perkara-perkata dikalangan umat Islam yang menyangkut
hukum perkawinan dan hukum kewarisan Islam. Sehingga dengan demikian
hukum Islam mendapat pengakuan resmi dan pengukuhan dari pemerintah
Belanda sejak didirikannya pengadilan agama tahun 1882 itu.

2) Teori Receptie

Teori Receptie, merupakan pertentangan dari teori sebelumnya ( Receptio in


Complexu), yang mana Teori Receptie dipelopori oleh Christian Snouck
Hurgronje (1857-1936).dan kemudian dikebangkan oleh van Volenhoven (1874-
1933) dan Ter Haar. Teori ini menyatakan bahwa bagi rakyat pribumi pada
dasarnya berlaku hukum adat. Hukum Islam berlaku bagi rakyat pribumi kalau
norma hukum Islam itu telah diterima atau diresepsi oleh masyarakat sebagai
hukum adat. Oleh karena itu, hukum adatlah yang menentukan berlaku
tidaknya hukum Islam.

Teori ini diberi dasar hukum dalam undang-undang dasarhindia belanda yang
menjadi pengganti RR, yaitu Wet op deStaatsinrichting van Nederlands Indie
(IS). Teori ini dijadikan alat oleh Snouck Hurgronye agar orang-orang pribumi
jangan sampai kuat memegangajaran Islam dan hukum Islam. . Jika mereka
berpegang terhadap ajarandan hukum Islam, dikhawatirkan mereka akan sulit
menerima dan dipengaruhi dengan mudah oleh budaya barat.

Teori receptie ini amat berpengaruh bagi perkembangan hukum Islam di


Indonesia serta berkaitan erat dengan pemenggalan wilayah Indonesia kedalam
sembilan belas wilayah hukum adat Pasal 134 IS yang sering disebut sebagai
pasal receptie menyatakan bahwa bagi orang-orang pribumi, kalau hukum
mereka menghendaki, diberlakukan hukum Islam selama hukum itu telah
diterima oleh masyarakat hukum adat. Sebagai contoh teori Receptie saat ini di
Indonesia diungkapkan sebagai berikut. Hukum Islam yang bersumber dari Al-
Qur’an dan Al-Hadits hanya sebagian kecil yang mmpu dilaksanakan oleh orang
Islam di Indonesia. Hukum pidana Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-
Hadits tidak mempunyai tempat eksekusi bila hukum yang dimaksud tidak
diundangkan di Indonesia. Oleh karena itu, hukum pidana Islam belum pernah
berlaku kepada pemeluknya secara hukum ketatanegaraan di Indonesia sejak
merdeka sampai saat ini. Selain itu, hukum Islam baru dapat berlaku bagi
pemeluknya secara yuridis formal bila telah diundangkan di Indonesia. Teori ini
berlaku hingga tiba di zaman kemerdekaan Indonesia.

3. Teori Receptie Exit

Teori Receptie Exit diperkenalkan oleh Prof. Dr. Hazairin,


S.H.Menurutnya setelah Indonesia merdeka, tepatnya setelah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945 dijadikan sebagai
konstitusi Negara Republik Indonesia, semua peraturan perundang- undangan
Hindia Belanda yang berdasarkan teori receptie dinyatakan bertentangan
dengan jiwa UUD 1945. Dengan demikian, teori receptie itu harus exit atau
keluar dari tata hukum Negara Indonesia.

Pemikiran yang membuahkan teori receptie exit ini, sekaligus merupakan upaya
menentang atau meng-exitkan teori receptive yang memberikan prasayarat bagi
hukum Islam untuk dapat diterima sebagai hukum yang berlaku bila diterima
terlebih dahulu oleh hukum adat. Teori receptive harus exit dari sistem hukum
nasional karena dianggap bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah serta
tidak sejalan dengan konstitusi negara Indonesia. Hal ini terlihat dari
pengaturan secara tegas dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa“Negara
berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan “Negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanyamasing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Demikian dinyatakan
dalam pasal 29 (1) dan (2).

Pokok-pokok pikiran Hazairin terkait dengan hal tersebut adalah:

a. Teori receptie telah patah, tidak berlaku dan exit dari tata negara Indonesia
sejak tahun 1945 dengan merdekanya negara Indonesia dan mulai berlakunya
UUD 1945.
b. Sesuai dengan UUD 1945 pasal 29 ayat 1, maka negara republik Indonesia
berkewajiban membentuk hukum nasional Indonesia yang bahannya adalah
hukum agama.

c. Hukum agama yang masuk dan menjadi hukum nasional Indonesia bukan
hanya hukum Islam, melainkan juga hukum agama lain. Hukum agama
dibidang hukum perdata maupun hukum pidana diserap menjadi hukum
nasional Indonesia dengan berdasarkan Pancasila.

Teori receptie exit yang dikemukakan Hazairin dikembangkan oleh muridnya,


Sayuthi Thalib yang menulis buku Receptio A Contrario: Hubungan Hukum
Adat dengan Hukum Islam.

4. Teori Receptie A Contrario

Teori Receptie Exit yang diperkenalkan oleh Hazairin dikembangkan oleh


Sayuti Thalib, S.H. dengan memperkenalkan sebuah teori, yaitu Teori Receptie
A Contrario. Teori Receptie A Contrario yang secara harfiah berarti lawan dari
Teori Receptie menyatakan bahwa hukum adat berlaku bagi orang Islam kalau
hukum adat itu tidak bertentangan dengan agamaIslam dan hukum Islam.
Dengan demikian, dalam Teori Receptie AContrario, hukum adat itu baru
berlaku kalau tidak bertentangan denganhukum Islam.. Kalau Teori Receptie
mendahulukan berlakunya hukum adat dari pada hukum Islam, maka Teori
Receptie A Contrario sebaliknya.Dalam Teori Receptie, hukum Islam tidak
dapat diberlakukan jikabertentangan dengan hukum adat sedngkan pada Teori
Receptie A Contrario mendahulukan berlakunya hukum Islam daripada hukum
adat, karena hukum adat baru dapat dilaksanakan jika tidak bertentangan
dengan hukum Islam.

Seperti di Aceh, masyarakatnya menghendaki agar sosl-soal perkawinan dan


soal warisan diatur menurut hukum Islam. Apabila ada ketentuan adat di
dalamnya, boleh saja dilakukan atau dipakai, tetapi dengan satu ukuran, yaitu
tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam. Dengan demikian yang ada
sekarang adalah kebalikan dari teori Resepsi yaitu hukum adat baru berlaku
kalau tidak bertentangan dengan hukum Islam. Inilah yang disebut oleh Satyuti
Thalib dengan teori Reseptio A Contrario

5. Teori Eksistensi

Teori eksistensi ini dikemukakan oleh H. Ichtijanto S.A, yang berpendapat


bahwa teori eksistensi dalam kaitannya dengan hukum Islam adalah teori yang
menerangkan tentang adanya hukum Islam didalam hukum nasional. Teori ini
mengungkapkan, bentuk eksistensi hukum Islam sebagai salah satu sumber
hukum nasional ialah sebagai berikut: (1) Merupakan bagian integral dari
hukum nasional Indonesia. (2) Keberadaan, kemandirian, kekuatan, dan
wibawanya diakui oleh hukum nasional serta diberi status sebagai hukum
nasional. (3) Norma-norma hukum Islam (Agama) berfungsi sebagai penyaring
bahan-bahan hukum nasional Indonesia. dan (4) Sebagai bahan utama dan
unsur utama hukum nasional Indonesia.

Kerangka pemikiran yang berkembang dalam peraturan dan perundang-


undangan nasional didasarkan pada kenyataan hukum Islam yang berjalan di
masyarakat. Pengamalan dan pelaksanaan hukum Islam yang berkenan dengan
puasa, zakat, haji, infak, sedekah, hiba, baitul-mal, hari-hari raya besar Islam,
selalu ditatai oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Melihat adanya hubungan
yang sangat sinergis antara hukum Islam dan hukum nasional, maka dapat
menjadi suatu indikator bahwa hukum Islam telah eksis dan semestinya
diakomodasi sebagai sumber hukum nasional

Eksistensi hukum Islam dalam tata hukum nasional ini nampak melalui
berbagai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku saat ini. Hukum
Islam tetap ada walaupun belum merupakan hukum tertulis. Dalam hukum
tertulis juga ada nuansa hukum Islam yang tercantum dalam hukum nasional.

Dari gambaran diatas dapat dikatakan bahwa hukum Islam ada di dalam
hukum nasional sebagai salah satu sumber hukumnya. Eksistensi hukum Islam
dalam hukum nasional dibuktikan dengan terakomodasinya hukum Islam
secara tertulis dalam berbagai bentuk peraturan dan perundang-undangan,
seperti undang-undang penyelenggaraan ibadah haji, pengelolaan zakat, dan
perbankan syariah. Demikian juga dapat dikatakan bahwa hukum Islam yang
tidak tertulis itu ada karena dalam praktiknya masih tetap dilaksanakan
melalui acara ritual kenegaraan dan kegamaan, seperti isra’ mi’raj, nuzunul
qur’an, maulid Nabi Muhammad.