Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN OSTEOPOROSIS

Epidemiologi

Osteoporosis dapat dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini masih

merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di

Amerika Serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita

post-menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Dari pasien-

pasien tersebut diatas, 1,5 juta mengalami fraktur setiap tahun yang antara lain mengenai

tulang femur bagian proksimal sebanyak 250.000 pasien dan fraktur vertebra menyerang

500.000 pasien. Fraktur panggul merupakan keadaan yang paling berat pada pasien

osteoporosis dan akan mengakibatkan kematian pada sebanyak 10-15% setiap tahunnya.

Lebih dari 50% pasien fraktur panggul terancammengalami ketergantungan sehingga

25% di antaranya memerlukan bantuan perawat terlatih.

Masyarakat atau populasi osteoporosis yang rentan terhadap fraktur adalah populasi

lanjut usia yang terdapat pada kelompok di atas usia 85 tahun, terutama terdapat pada

kelompok lansia tanpa suatu tindakan pencegahan terhadap osteoporosis. Proses

terjadinya osteoporosis sudah di mulai sejak usia 40 tahun dan pada wanita proses ini

akan semakin cepat pada masa menopause.

Pengertian

Osteoporosis adalah suatu keadaan di mana terdapat pengurangan jaringan tulang per unit

volume, sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya fraktur terhadap

trauma minimal. ( buku ajar ilmu penyakit dalam jilid 1).


Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan masa tulang total. (buku ajar

medikal bedah vol 3 )

Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas/ matriks/ massa tulang,

peningkatan porositas tulang, dan penurunan proses mineralisasi disertai dengan

kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan kekokohan

tulang sehingga tulang menjadi mudah patah. Osteoporosis merupakan hasil interaksi

kompleks yang menahun antara faktor genetik dan faktor lingkungan. (Askep klien

gangguan sistem muskuloskeletal )

Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang

lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penurunan massa tulang

total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh, dan mudah patah; tulang menjadi

mudah fraktur dengan stress yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal.

Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis,

fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter dan patah tulang colles pada

pergelangan tangan. Fraktur kompresi ganda vertebra mengakibatkan deformitas skelet.

Kehilangan massa tulang merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan usia.

Kalsitonin yang menghambat resorpsi tulang dan merangsang pembentukan tulang

mengalami penurunan. Estrogen yang menghambat pemecahan tulang, juga berkurang

dengan bertambahnya usia. Hormon paratiroid di sisi lain, meningkat bersama

bertambahnya usia dan meningkatkan resorpsi tulang. Konsekuensi perubahan ini adalah

kehilangan tulang neto bersama berjalannya waktu. Wanita lebih sering mengalami
osteoporosis dan lebih ekstensif dari pada pria karena puncak massa tulang juga lebih

rendah dan efek kehilangan estrogen selama menopause.

Identifikasi awal wanita usia belasan dan dewasa muda yang mempunyai resiko tinggi

dan pendidikan untuk meningkatkan asupan kalsium, berpartisipasi dalam latihan

pembebanan berat badan teratur, dan mengubah gaya hidup ( mis. Mengurangi

penggunaan kafein, sigaret, dan alkohol) akan menurunkan risiko terjadinya osteoporosis,

fraktur tulang dan kecacatan yang diakibatkannya pada usia lanjut.

Faktor risiko yang tidak dapat diubah

1. Usia. Lebih sering terjadi pada lansia

2. Jenis kelamin, tiga kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Perbedaan

ini mungkin disebabkan oleh faktor hormonal dan rangka tulang yang lebih kecil.

3. Ras. Kulit putih mempunyai resiko lebih tinggi.

4. Riwayat keluarga/keturunan. Sejarah keluarga juga mempengaruhi penyakit ini. Pada

keluarga yang mempunyai riwayat osteoporosis, anak-anak yang dilahirkannya

cenderung mempunyai penyakit yang sama.

5. Bentuk tubuh. Adanya kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vertebra

menyebabkan penyakit ini. Keadaan ini terutama terjadi pada wanita antara usia 50-

60 tahun dengan densitas tulang yang rendah dan di atas usia 70 tahun dengan

BMI( body mass index) [ BB dibagi kuadrat TB] yang rendah.

6. Tidak pernah melahirkan.


Faktor risiko yang dapat diubah

1. Merokok

2. Defisiensi vitamin dan gizi( antara lain protein), kandungan garam pada makanan,

perokok berat, peminum alkohol dan kopi yang berat. Nikotin dalam rokok

menyebabkan melemahnya daya serat sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. Oleh

karena itu, proses pembentukan tulang oleh osteoblas menjadi melemah. Dampak

konsumsi alkohol pada osteoporosis berhubungan dengan jumlah alkohol yang

dikonsumsi. Konsumsi alkohol yang berlebihan akan menyebabkan melemahnya

daya serat sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. Mengkonsumsi atau minum kopi

lebih dari tiga cangkir per hari menyebabkan tubuh ingin berkemih. Keadaan tersebut

menyebabkan kalsium banyak terbuang bersama air kencing. Kekurangan protein dan

kalsium pada masa kanak-kanak dan remaja menyebabkan tidak tercapainya massa

tulang yang maksimal pada waktu dewasa.

3. Gaya hidup. Aktifitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan penyangga

berat badan merupakan stimulus penting bagi resorpsi tulang. Beban fisik yang

terintegrasi merupakan penentu dari puncak massa tulang.

4. Gangguan makan ( anoreksia nervosa)

5. Menopause dini ( menopause yang terjadi pada usia 46 tahun) dan hormonal, yaitu

kadar esterogen plasma yang kurang/menurun. Dengan menurunnya kadar esterogen,

resorpsi tulang menjadi lebih cepat sehingga akan terjadi penurunan massa tulang

yang banyak. Bila tidak segera diintervensi, akan cepat terjadi osteoporosis.

6. Penggunaan obat-obatan tertentu seperti diuretik, glukokortikoid, anti konvulsan,

hormon tiroid berlebihan, kortikosteroid).


Jenis osteoporosis

1. Osteoporosis primer

a. Tipe 1 adalah tipe yang timbul pada wanita pascamenopause

b. Tipe 2 terjadi pada orang lanjut usia baik pria maupun wanita.

2. Osteoporosis sekunder. Di sebabkan oleh penyakit-penyakit tulang erosif (misalnya

mieloma multiple, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme) dan akibat obat-obatan yang

toksik untuk tulang (misalnya glukokortikoid). Jenis ini ditemukan pada kurang lebih

2-3 juta klien.

3. Osteoporosis idiopatik, adalah osteoporosis yang tidak di ketahui penyebabnya dan di

temukan pada

a. Usia kanak-kanak (juvenil)

b. Usia remaja (adolesen)

c. Pria usia pertengahan

Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah

1. Nyeri tulang. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang yang intensitas serangannya

meningkat pada malam hari.

2. Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatik pada vertebra dan menyebabkan

kifosis angular yang dapat menyebabkan medula spinalis tertekan sehingga dapat

terjadi paraparesis.

Gambaran klinis sebelum terjadi patah tulang : Klien(terutama wanita tua) biasanya

datang dengan nyeri tulang terutama tulang belakang bungkuk dan sudah menopause.
Gambaran klinis sesudah terjadi patah tulang : klien biasanya datang dengan keluhan

tiba-tiba punggung terasa sakit(nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau

bengkak pada pergelangan tangan sesudah jatuh. Dengan pemeriksaan radiologi,

dapat dilihat gambaran patah tulang pada tempat-tempat tertentu.

Osteoporosis didiagnosa tidak hanya berdasarkan pemeriksaan klinik serta radiologi

saja, tetapi juga dengan pemeriksaan penunjang yaitu BMD (Bone Mineral Density)

dan DEXA (Dual Energy X-ray Absorptiometry) sehingga diagnosis osteoporosis jadi

lebih pasti.

Penanganan yang dapat di lakukan pada klien osteoporosis meliputi :

a. Diet

b. Pemberian kalsium dosis tinggi

c. Pemberian vitamin D dosis tinggi

d. Pemasangan penyangga tulang belakang (spina brace) untuk mengurangi nyeri

punggung.

e. Pencegahan dengan menghindari faktor resiko osteoporosis ( mis. Rokok,

mengurangi konsumsi alkohol, berhati-hati dalam aktifitas fisik).

f. Penanganan terhadap deformitas serta fraktur yang terjadi.


Hasil interaksi kompleks yang menahun
antara factor genetic dan factor lingkungan

Melemahnya daya serap sel terhadap kalsium


Factor usia, jenis dari darah ke tulang Merokok,
kelamin, ras,keluarga, Peningkatan pengeluaran kalsium bersama alcohol,kopi,defisiensi vitamin
bentuk tubh, dan tidak urine & gizi, gaya hidup(imobilitas),
pernah melahirkan. Tidak tercapainya massa tulang yang maksimal anoreksia nervosa dan
Resorpsi tulang lebih cepat penggunaan obat-obatan

Penyerapan tulang lebih banyak


daripada pembentukan baru
Kolaps terhadap tulang vertebra

Penurunan massa tulang Kifosis progresif


total
Tulang menjadi osteoporosis
rapuh dan patah Penurunan tinggi badan

Fraktur kompresi Perubahan postural


Fraktur colles Fraktur femur Fraktur
vertebra torakalis
kompresi
vertebra
lumbalis Relaksasi otot abdominal,
Gg fungsi ekstremitas perut menonjol
Nyeri atas dan bawah Perubahan
Pergerakan fragmen postural
tulang, spasme otot Kompresi
saraf Insufisiensi paru
pencernaan
Deformitas
Penurunan ileus paralitik Kelemahan dan
skelet
kemampuan perasaan mudah lelah
pergerakan
konstipasi
Gg citra Ansietas
Deficit
Hambatan diri
perawatan diri
mobilitas fisik Resiko tinggi
trauma Gg
eliminasi
BAB
KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengkajian Keperawatan

a. Anamnesis

1). Riwayat kesehatan. Anamnesis memegang peranan penting pada evaluasi klien

osteoporosis. Kadang- kadang keluhan utama mengarahkan ke diagnosa ( mis.,

fraktur colum femoris pada osteoporosis). Faktor lain yang diperhatikan adalah

usia, jenis kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi

lama, penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar matahari,

asupan kalsium, fosfat dan vitamin D, latihan yang teratur dan bersifat weight

bearing.

Obat-obatan yang diminum pada jangka panjang harus diperhatikan seperti

kortikosteroid, hormon tiroid, anti konvulsan, antasid yang mengandung

aluminium, natrium flourida dan etidronat bifosfonat, alkohol dan merokok

merupakan faktor risiko terjadinya osteoporosis.

Penyakit lain yang harus dipertanyakan dan berhubungan dengan osteoporosis

adalah penyakit ginjal, saluran cerna, hati, endokrin, dan insufiensi pankreas.

Riwayat haid, usia menarke dan menopause, penggunaan obat kontrasepsi juga

diperhatikan. Riwayat keluarga dengan osteoporosis juga harus diperhatikan

karena ada beberapa penyakit tulang metabolik yang bersifat herediter.

2). Pengkajian psikososial. Gambaran klinis pasien dengan osteoporosis adalah

wanita pascamenopause dengan keluhan nyeri punggung yang merupakan faktor

predisposisi adanya fraktur multiple karena trauma. Perawat perlu mengkaji

konsep diri klien terutama citra diri, khususnya klien dengan kifosis berat. Klien
mungkin membatasi interaksi sosial karena perubahan yang tampak atau

keterbatasan fisik, tidak mampu duduk di kursi, dan lain-lain. Perubahan seksual

dapat terjadi karena harga diri atau tidak nyaman selama posisi interkoitus.

Osteoporosis dapat menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat perlu

mengkaji perasaan cemas dan takut pada klien.

3). Pola aktifitas sehari-hari. Pola aktifitas dan latihan biasanya berhubungan dengan

olah raga, pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan

toilet. Olah raga dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa

lebih baik. Selain itu, olah raga dapat mempertahankan tonus otot dan gerakan

sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat untuk mempertahankan fungsi

tubuh. Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang kompleks antara saraf dan

muskulosekeletal. Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan

menurunnya gerak persendian adalah agility ( kemampuan gerak cepat dan lancar)

menurun, stamina menurun, koordinasi menurun dan dexterity ( kemampuan

memanipulasi ketrampilan motorik halus) menurun.

2. Pemeriksaan fisik

a. B1 (Breathing).

Inspeksi: ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang.

Palpasi : taktil fremitus seimbang kanan dan kiri.

Perkusi: cuaca resonan pada seluruh lapang paru.

Auskultasi: pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki.


b. B2 ( Blood). Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin

dan pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh

darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat.

c. B3 ( Brain). Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien

dapat mengeluh pusing dan gelisah.

a.Kepala dan wajah: ada sianosis

b. Mata: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis.

c.Leher: Biasanya JVP dalam normal

Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan

halus merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur kompresi vertebra

d. B4 (Bladder). Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan

pada sistem perkemihan.

e. B5 ( Bowel). Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu

di kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.

f. B6 ( Bone). Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien

osteoporosis sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan

penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas

tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi

adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.

3. Pemeriksaan diagnostik

a. Radiologis. Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau massa tulang yang

menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra
biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisan korteks dan hilangnya

trabekula transversal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus

vertebrae menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus

kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.

b. CT-scan. Ct-scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang

mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow-up. Mineral vertebra di

atas 110 mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan

sedangkan mineral vertebra di bawah 65 mg/cm 3 ada pada hampir semua klien yang

mengalami fraktur.

c. Pemeriksaan laboratorium

1. Kadar Ca, P dan fosfatase alkali tidak menunjukan kelainan yang nyata.

2. Kadar HPT ( pada pascamenopause kadar HPT meningkat) dan Ct ( terapi

estrogen merangsang pembentukan Ct)

3. Kadar 1,25-(OH)2-D3 dan absorpsi Ca menurun

4. Ekskresi fosfat dan hidroksiprolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

Data subjektif

- os mengeluh nyeri punggung

- os mengatakan sulit BAB

- os mengatakan mudah lelah

- Adanya riwayat jatuh


Data objektif

- kekuatan otot menurun

- kekakuan sendi

- deformitas

- kifosis

- fraktur baru

- ketidakseimbangan tubuh

- keletihan

Diagnosa keperawatan

1. Nyeri yang berhubungan dengan dampak sekunder dan fraktur vertebra

2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat

perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.

3. Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan

ketidakseimbangn tubuh

4. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak

( kerusakan muskuloskeletal)

5. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan

fisik(ketidakseimbangan mobilisasi) serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit

atau terapi.

6. Ansietas berhubungan dengan perubahan postural dan kurang pengetahuan


NO DX TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1 2 3 4 5
a. Setelah di berikan 1. Pantau tingkat nyeri pada 1. Pembatasan gerak spinal,

askep selama punggung, nyeri tulang dalam peningkatan

3x24 jam di terlokalisasi atau jumlah trabekular.

harapkan nyeri menyebar pada abdomen

berkurang dengan atau pinggang

KH : klien 2. Ajarkan pada klien tentang 2. Alternatif lain untuk

mengekspresikan alternatif lain untuk mengatasi nyeri,

perasaan mengatasi atau pengaturan posisi, kompres

nyerinya, klien mengurangi rasa nyerinya hangat, dan sebagainya.

tampak lebih 3. Kaji obat-obatan untuk 3. Keyakinan klien tidak dapat

tenang dan mengurangi nyeri menoleransi obat yang

istirahat yang adekuat dan tidak adekuat

cukup. untuk mengatasi nyeri.

4. Rencanakan pada klien 4. Kelelahan dan keletihan

tentang periode istirahat dapat menurunkan minat

adekuat dengan berbaring untuk aktifitas sehari-hari.

dalam posisi telentang

selama kurang lebih 15

menit.
b. Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat kemampuan 1. Dasar untuk memberikan

askep selama 3x klien yang masih ada alternatif dan latihan gerak

24 jam yang sesuai dengan

diharapkan klien kemampuannya.


mampu 2. Rencanakan tentang 2. Latihan akan meningkatkan

melakukan pemberian program pergerakan otot dan

mobilitas fisik dg latihan : stimulasi sirkulasi darah.

KH: - Bantu klien jika

- Klien dapat diperlukan latihan

meningkatkan - Ajarkan klien tentang

mobilitas fisik aktifitas hidup sehari-

- Klien mampu hari yang dapat

melakukan dilakukan

aktifitas fisik - Ajarkan pentingnya

sehari-hari latihan 3. Aktifitas hidup sehari-hari

secara mandiri 3. Bantu kebutuhan untuk secara mandiri.

beradaptasi dan

melakukan aktifitas

sehari-hari, rencana

okupasi. 4. Dengan latihan fisik:

4. Peningkatan latihan fisik  Massa otot lebih besar

secara adekuat: sehingga memberikan

 Dorong latihan dan perlindungan pada

hindari tekanan pada osteoporosis

tulang seperti  Program latihan

berjalan. merangsang

 Instruksikan klien pembentukan tulang


untuk latihan selama  Gerakan menimbulkan

kurang lebih 30 kompresi vertikal dan

menit dan selingi risiko fraktur vertebra

dengan istirahat

dengan berbaring

selama 15 menit.

 Hindari latihan

fleksi, membungkuk

dengan tiba-tiba dan

mengangkat beban

berat.
c. Setelah dilakukan 1. Ciptakan lingkungan 1. Menciptakan lingkungan

askep selama yang bebas dari bahaya : yang aman dan mengurangi

3x24 jam cedera  Tempatkan klien pada resiko terjadinya

tidak terjadi dg tempat tidur yang kecelakaan.

KH : rendah

- Klien tidak  Amati lantai yang

jatuh dan membahayakan klien.

fraktur tidak  Berikan penerangan

terjadi yang cukup

- Klien dapat  Tempatkan klien pada

menghindari ruangan yang tertutup

aktifitas yang dan mudah di

mengakibatkan observasi
fraktur  Ajarkan klien tentang

pentingnya

menggunakan alat

pengaman di ruangan

2. Berikan dukungan 2. Ambulasi yang dilakukan

ambulasi sesuai dengan tergesa-gesa dapat

kebutuhan : menyebabkan mudah jatuh.

 Kaji kebutuhan untuk

berjalan

 Konsultasi dengan ahli

terapis

 Ajarkan klien untuk

meminta bantuan bila

di perlukan

 Ajarkan klien waktu

berjalan dan keluar

ruangan

3. Bantu klien untuk 3. Penarikan yang terlalu

melakukan aktifitas hidup keras akan menyebabkan

sehari-hari secara berhati- terjadinya fraktur.

hati

4. Ajarkan pada klien untuk 4. Pergerakan yang cepat akan

berhenti secara perlahan, lebih memudahkan


tidak naik tangga, dan terjadinya fraktur kompresi

mengangkat beban berat. vertebra pada klien

osteoporosis.

5. Ajarkan pentingnya diet 5. Diet kalsium dibutuhkan

untuk mencegah untuk mempertahankan

osteoporosis: kalsium serum, mencegah

 Rujuk klien pada ahli bertambahnya kehilangan

gizi tulang. Kelebihan kafein

 Ajarkan diet yang akan meningkatkan

mengandung banyak kehilangan kalsium dalam

kalsium urine. Alkohol akan

 Ajarkan klien untuk meningkatkan asidosis yang

mengurangi atau meningkatkan resorpsi

berhenti menggunakan tulang

kopi atau rokok.

6. Ajarkan tentang efek 6. Rokok dapat meningkatkan

rokok terhadap pemulihan terjadinya asidosis.

tulang

7. Observasi efek samping 7. Obat-obatan seperti

obat-obatan yang di diuretik, fenotiazin dapat

gunakan menyebabkan pusing,

mengantuk, dan lemah yang

merupakan predisposisi
klien untuk jatuh.

d. Setelah diberikan 1. Pertahankan mobilitas 1. Mendukung kemandirian

askep selama kontrol terhadap nyeri dan fisik/emosional.

3x24 jam di program latihan.

harapkan 2. Kaji hambatan terhadap 2. Menyiapkan untuk

kebutuhan partisipasi dalam meningkatkan kemandirian

perawatan diri perawatan diri. yang akan meningkatkan

dapat diatasi dg Identifikasi/rencana untuk harga diri.

KH: modifikasi lingkungan.

 Klien 3. Konsul dengan ahli terapi 3. Berguna untuk menentukan

melaksanakn alat bantu untuk memenuhi

aktifitas kebutuhan individual.

perawatan diri

pada tingkat

yang konsisten

dengan

kemampuan

individual

 Klien dapat

mendemontrasik

an perubahan

teknik/gaya

hidup untuk
memenuhi

kebutuhan

perawatan diri.

 Klien dapat

mengidentifikasi

sumber-sumber

pribadi/komunit

as yang dapat

memenuhi

kebutuhan

perawatan diri.
e. Setelah dilakukan 1. Dorong pengungkapan 1. Beri kesempatan untuk

askep selama mengenai masalah tentang mengidentifikasikan rasa

3x24 jam proses penyakit, harapan takut/kesalahan konsep dan

diharapkan klien masa depan. menghadapinya langsung.

dapat 2. Diskusikan arti dari 2. Mengidentifikasi

mengungkapkan perubahan pada klien. bagaimana penyakit

peningkatn rasa Memastikan bagaimana mempengaruhi persepsi diri

percaya diri pandangan klien dalam dan interaksi dengan orang

dalam memfungsikan gaya hidup lain akan menentukan

kemampuan sehari-hari, termasuk kebutuhan terhadap

untuk aspek seksual. intervensi/ konseling lebih

menghadapi lanjut.

penyakit, 3. Diskusikan persepsi klien 3. Isyarat verbal/nonverbal


perubahan pada mengenai bagaiman orang orang terdekat dapat

gaya hidup dan terdekat menerima mempunyai pengaruh

kemungkinan keterbatasan. mayor pada bagaimana

keterbatasan. pasien memandang dirinya

sendiri.

4. Perhatikan perilaku 4. Dapat menunjukan

menarik dri, penggunaan emosional ataupun metode

menyangkal koping maladaptif,

membutuhkan intervensi

lebih lanjut/dukungan

psikologis.

5. Ikut sertakan klien dalam 5. Meningkatkan perasaan

merencanakan perawatan kompetensi/ harga diri,

dan membuat jadwal mendorong kemandirian

aktifitas dan mendorong partisipasi

dalam terapi.

6. Bantu dengan kebutuhan 6. Mempertahankan

perawatan yang penampilan yang dapat

diperlukan. meningkatkan citra diri


f. Setelah dilakukan 1. Pahami rasa takut klien 1. Perasaan adalah nyata dan

askep selama membantu pasien untuk

2x24 jam terbuka sehingga dapat

diharapkan rasa mendiskusikan dan

cemas berkurang/ menghadapinya.


hilang. 2. Kaji tingkat ansietas klien 2. Respon individu dapat

bervariasi tergantung pada

pola kultural yang

dipelajari.

3. Identifikasi persepsi 3. Tanpa memperhatikan

pasien/orang terdekat realitas situasi,persepsi

terhadap situasi. akan mempengaruhi

bagaimana setiap individu

menghadapi penyakitnya.

4. Evaluasi mekanisme 4. Mungkin dapat menghadapi

koping/pertahanan selama situasi dengan baik.

digunakan

5. Identifikasi cara-cara 5. Memberikan jaminan

dimana klien mendapat bahwa staf bersedia untuk

bantuan jika dibutukan. membantu.

6. Sediakan informasi yang 6. Informasi yang kompleks

akurat sesuai kebutuhan dapat membantu pasien

dan jika diminta oleh dalam mengurangi beban

pasien/orang terdekat. pikiran mengenai

penyakitnya.

Evaluasi

Hasil yang di harapkan

1. Nyeri berkurang
2. Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik

3. Tidak terjadi cedera

4. Terpenuhinya kebutuhan perawatan diri

5. Status psikologis yang seimbang

6. Terpenuhinya kebutuhan pengetahuan dan informasi