Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

KOSMETOLOGI
SEDIAAN MILK CLEANSER

Dosen Pengampu:
Nelly Suryani, P.hD., Apt.
Herdini, M.Si., Apt.
Via Rifkia, M.Si., Apt.
Dimas Agung Waskito, M.M., S.Far

Disusun oleh:
Kelompok 6B
Yoga Sutrisno (1151020000053)
Adha Dhastu Illahi (1151020000062)
Giyan Ramdan (1151020000070)
M. Hugo Syafisva (1151020000108)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
MARET / 2018
DAFTAR ISI
Daftar Isi.............................................................................................................................i
Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang......................................................................................................1
1.2. Tujuan....................................................................................................................2
1.3. Manfaat.................................................................................................................2
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1. Tinjauan Pustaka....................................................................................................4
Bab III Metodologi
3.1. Tempat dan Waktu Praktikum...................................................................................17
3.2. Alat dan Bahan..........................................................................................................17
3.2. Formulasi..................................................................................................................18
3.2. Perhitungan Bahan....................................................................................................18
3.3. Prosedur Kerja..........................................................................................................19
Bab IV Hasil dan Pembahasan
4.1. Hasil..........................................................................................................................20
4.2. Pembahasan..............................................................................................................21
4.4. Lampiran...................................................................................................................15
Bab V Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan...............................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................27

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kosmetik menjadi salah satu kebutuhan sehari-hari


setiap orang. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan
industry, ragam kosmetik terus berkembang. Berbagai jenis
kosmetik dengan fungsi dan manfaat spesifik sbermunculan di
masyarakat (Muliyawan dan Suriana, 2013)
Pembersih muka merupakan kebutuhan utama bagi
setiap orang. Sekresi minyak di muka termasuk yang paling
tinggi serta penggunaan kosmetik membuat kotoran dari udara
bisa dengan mudah menempel. Pembersihan kulit adalah tahap
pertama pada setiap tindakan perawatan bahkan langkah
pertama dari setiap aplikasi kosmetika lain. Pembersihan kulit
dilakukan untuk mengeluarkan berbagai zat yang tidak berguna
lagi yang terdapat pada permukaan kulit, minyak permukaan
kulit yang sudah tercemar kotoran, sel keratin epidermal yang
sudah terlepas dan kosmetika lama yang masih menempel di
permukaan kulit.
Dari sekian banyak jenis pembersih muka, salah
satunya adalah pembersih berbahan dasar emulsi. Pembersih
tipe ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran yang larut
dalam air maupun larut dalam minyak. Pembersih dengan
bahan dasar emulsi tidak menyebabkan kulit kering dan kasar.
Namun pembersih tipe ini juga memiliki kekurangan yaitu
lebih mahal, lebih lengket dan terasa panas karena menutupi
pori-pori.

1
1.2. Rumusan Masalah
 Bagaimana formulasi sediaan milk cleanser?
 Bagaimana cara membuat sediaan milk cleanser?

1.3. Tujuan
 Menjelaskan formulasi sediaan milk cleanser
 Menjelaskan cara pembuatan sediaan milk cleanser.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kosmetik
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk
digunakan pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir,
dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk
membersihkan, menambah daya tarik, mengubah
penampakkan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik,
memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk
mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Iswari, 2007).
Komposisi utama dari kosmetik adalah bahan dasar
yang berkhasiat, bahan aktif dan ditambah bahan tambahan
lain seperti : bahan pewarna, bahan pewangi, pada
pencampuran bahan-bahan tersebut harus memenuhi kaidah
pembuatan kosmetik ditinjau dari berbagai segi teknologi
pembuatan kosmetik termasuk farmakologi, farmasi, kimia
teknik, dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).
2.2. Pembersih (Cleansing)
Pembersih (Cleansing) merupakan sediaan kosmetika
yang digunakan untuk mengangkat kotoran atau sisa-sisa
make up diwajah. Penggunaannya biasanya dengan
mengusapkan sambil memijat halus diwajah dan kemudian
dibersihkan dengan menggunakan kapas (Handra, 2017).

2.2.1. Syarat-syarat Umum (Handra, 2017)


 Mempunyai daya bersih yang bagus
 Meninggalkan kesan lembut dikulit
 Tidak menyebabkan iritasi pada kulit atau
aman digunakan

3
2.2.2. Syarat-syarat Estetika (Handra, 2017)
 Tidak memberikan kesan lengket
 Aroma dan warna yang sesuai dan menarik
 Spreading bagus saat diaplikasikan
2.2.3. Syarat Formulasi
 Stabil dalam penyimpanan dan saat dijual
 Sebaiknya mempunyai pH sekitar 4-7 (Handra, 2017)
2.3. Klasifikasi Pembersih (Cleansing)
Secara formulasi ada 2 tipe pembersih, yakni :
1) Cream
Umumnya mengandung kadar oil yang lebih
tinggi dengan kekentalan yang cukup besar (>2000
cps). Biasanya digunakan untuk membersihkan sisa-
sisa make up yang cukup tebal. Untuk kulit-kulit yang
ekstrim kering, cream mungkin pilihan yang bagus.
Secara tradisional bias dimasukkan dalam kelompok
Vanishing Cream (30:70 oil:water) (Handra, 2017).
2) Milks
Umumnya kadar oil lebih rendah dibandingkan
cream dan kekentalannya lebih kecil (<2000 cps).
Pembersih ini umum digunakan dan 80% produk yang
ada dipasar menggunakan tipe ini. Mudah untuk
digunakan karena mudah mengalir sari sediaan
(Handra, 2017).
Berdasarkan tipe kulit dibagi atas :
1) Pembersih untuk kulit berminyak
2) Pembersih untuk kulit kering
3) Pembersih untuk
kulit normal
(Handra, 2017)
2.4. Tinjauan Formulasi

4
Pembersih adalah sediaan emulsi (umumnya M/A)
sehingga semua teori dan persyaratan untuk emulsi juga
berlaku. Formulasi Pembersih Umum :
1) Fase luar
2) Fase dalam
3) Emulsifier
Tambahan
1) Stabilizer
2) Aktif
3) Pengawet
4) Aroma (Handra, 2017)
2.4.1. Fase Luar
Dengan tipe emulsi O/W maka fase luar adalah
air. Ke dalam fase luar ini bias ditambahkan bahan-
bahan lain yang bias membantu meningkatkan fungsi
kosmetika seperti humektan (Handra, 2017).
2.4.2. Fase Dalam
Biasanya digunakanlah jenis oil dengan pilihan sebagai
berikut :
1) Non Polar
2) Murah
3) Dikombinasikan dengan oil-oil yang
memberikan efek
“enak” saat digunakan, biasanya digunakan silicon
4) Jika menggunakan oil yang berasal dari alam,
perlu dipertimbangkan untuk menambahkan
antioksidan untuk menghindari terjadi
perubahan bau karena oil menjadi tengik
(Handra, 2017).
2.5. Emulsi pada Milk Cleanser
Ada dua tipe emulsi yaitu M/A dan A/M. Pada
umumnya kosmetika dibuat dalam bentuk sediaan emulsi M/A

5
karena alasan harga yang lebih murah, lebih mudah dibuat,
lebih enak dipakai karena tidak begitu lengket, lebih cepat
menyebar ke permukaan kulit, dan lebih dingin. Emulsi
dengan komponen air jauh lebih banyak dari minyak sehingga
membentuk emulsi yang cair disebut susu pembersih (milk
cleanser) (Suryani, 2017).
Suatu milk cleanser bahan utamanya adalah air,
minyak, dan emulgator yang berfungsi mengemulsikan air dan
minyak. Selain tiga
bahan utama ini, ditambahkan bahan-bahan lainnya
yang dapat meningkatkan stabilitas, efektivitas, dan
performa sediaan. Bahan-bahan
tersebut antara lain :
1) Pengawet : untuk mencegah pertumbuhan
mikroorganisme dalam sediaan
2) Pengatur viskositas : untuk mengatur viskositas
sediaan agar sesuai dengan yang diinginkan
3) Pengatur pH sediaan : untuk mengatur pH sediaan,
terutama agar sesuai dengan pH fisiologis kulit yaitu
4,6-6,5
4) Humektan : untuk membantu menjaga kelembaban
kulit setelah berpenetrasi kea lam kulit
5) Antioksidan : terkadang ditambahkan untuk mencegah
oksidasi
6) Bahan pengeksfoliasi (exfoliating agent) : bahan ini
terkadang ditambahkan untuk membantu mengangkat
sel kulit mati. Penggunaannya harus hati-hati karena
bias menyebabkan iritasi pada kulit.
7) Parfum : untuk memberikan sensasi
wangi di kulit. (Suryani, 2017)
2.6. Data Preformulasi
2.6.1. Jeruk Nipis

6
A. Klasifikasi
Klasifikasi jeruk nipis menurut (Sarwono,2001) adalah
sebagai berikut :
Regnum : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Sub class : Dialypetalae
Ordo : Rutales
Family : Rutacea
Genus : Citrus
Spesies : Citrus aurantifolia Swingle

B. Morfologi
Morfologi tanaman dan buah jerik nipis yang direview
dari (Rukmana 1996 dan Steenis et al 2006) adalah sebagai
berikut: Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) termasuk
salah jenis citrus jeruk. Tanaman jeruk nipis mempunyai akar
tunggang. Jeruk nipis termasuk jenis tumbuhan perdu yang
memiliki dahan dan ranting. Batang pohonnya berkayu ulet
dan keras, sedangkan permukaan kulit luarnya berwarna tua
dan kusam. Daunnya majemuk, berbentuk elips dengan
pangkal membulat, ujung tumpul, dan tepi beringgit. Panjang
daunnya mencapai 2,5-9 cm dan lebarnya 2-5 cm. Tulang
daunnya menyirip dengan tangkai bersayap, hijau dan lebar
5-25 mm (Rukmana, 1996).
Buah jeruk nipis diameternya berukuran 1,5 –2,5 cm,
daun mahkotanya berwarna putih kuning. Kelopak berjumlah
4 –5, bersatu atau lepas.Mahkota berjumlah 4-5, berdaun
lepas lepas. Benang sari 4-5 atau 8-10, kepala ruang sari
beruang 2. Tonjolan dasar bunga beringgit atau berlekuk.

7
Bunga beraturan, berkelamin 2, bentuk aak payung, tandan
atau malai (Steenis et al., 2006)
Tanaman jeruk nipis pada umur 2,5 tahun sudah mulai
berbuah. Buahnya berbentuk bulat sebesar bola pingpong
dengan diameter 3,5-5 cm. Kulitnya berwarna hijau atau
kekuning-kuningan dengan tebal 0,2-05 cm. Daging buahnya
berwarna kuning kehijauan (Rukmana, 1996 dan Steenis et
al., 2006).
C. Kandungan dan khasiat buah jeruknipis
Jeruk nipis juga mengandung unsur-unsur senyawa
kimia yang bermanfaat, seperti asam sitrat, asam amino
(triftopan, lisin), minyak atsiri (sitral, limonen, flandren,
lemon kamfer, kadinen, gerani-asetat, linali-asetat,
aktiladehid, nonildehid), damar, glikosida, asam situn, lemak,
kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C (Alicce,
2010).
D. Manfaat jeruk nipis
Buah jeruk nipis selain kaya vitamin dan mineral juga
mengandung zat bioflavonoid yang berguna untuk mencegah
terjadinya pendarahan pada pembuluh nadi, kemunduran
mental dan fisik, serta mengurangi luka memar. Disamping
itu sari buah jeruk nipis mengandung asam sitrat 7% dan
minyak atsiri “limonen” (Rukmana, 1996)
Manfaat lain jeruk nipis adalah sebagai obat tradisional
seperti obat batuk, penghilang rasa lelah, panas dalam, anti
mabuk dan lain sebagainya. Jeruk nipis juga berguna untuk
minuman seperti juice, sirup, perawatan kecantikan dan
penyedap bumbu masakan (Yusmeiarti, dkk., 1998).

2.6.2. Parafin Cair (FI V hal 983 dan HOPE 6th Edition hal 474)

8
Pemerian : Hablur tembus cahaya atau agak buram,
tidak berwarna atau putih; tidak berbau;
tidak berasa; agak berminyak
Kelarutan : Tidak larut dalam air dan dalam etanol;
mudah larut dalam kloroform, dalam eter,
dalam minyak menguap, dalam hampir
semua jenis minyak lemak hangat; sukar
larut dalam etanol mutlak.
Berat Molekul : 400-1400
0
Titik Leleh : 96-105 C
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung
cahaya dan cegah pemaparan terhadap
panas berlebih
Stabilitas : Parafin stabil walaupun dilelehkan berulang
dan
Kegunaan : Bahan pengental

2.6.3. Propilen Glikol (HOPE 6th hal 591)

Struktur Kimia :

Rumus Kimia : C3H8O2


Berat Molekul : 76,09
Pemerian : Jernih, tidak berwarna, kental, cairan tidak
berbau dengan rasa manis
Kelarutan : Larut dalam aseton, kloroform, etanol 95%,
gliserin, dan air; larut dalam 6 bagian eter;
tidak larut dengan minyak mineral ringan
atau fixed oils, tetapi larut dengan beberapa
minyak esensial
0
Titik Didih : 188 C
0
Titik Leleh : -59 C
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan sejuk
Stabilitas : Dalam temperature tinggi dan pada wadah
terbuka akan teroksidasi
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan bahan pengoksidasi
seperti Kalium Permanganat
Kegunaan : Humektan

th
2.6.4. Asam Stearat (HOPE 6 hal 697)

9
:

Struktur Kimia

Rumus Kimia : C18H36O2


Berat Molekul : 284,47
Pemerian : Padat, putih atau sedikit kekuningan,
terkadang berkilau, Kristal padat atau
serbuk putih kekuningan, sedikit berbau dan
berasa seperti lemak
Kelarutan : Sangat larut dalam benzene, karbon
tetraklorida, kloroform, dan eter, larut
dalam etanol 95%, heksana, dan propilen
glikol, praktis tidak larut dalam air
0
Titik Didih : 383 C
0
Titik Leleh : 69-70 C
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik, sejuk,
dan kering
Stabilitas : Asam stearate merupakan bahan yang stabil,
biasanya ditambahkan antioksidan
kedalamnya
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan logam hidroksida,

10
basa, agen pereduksi, dan agen
pengoksidasi
Kegunaan : Sebagai pengemulsi

2.6.5. Setil Alkohol (HOPE 6th Edition hal 155)

Struktur Kimia :

Rumus Kimia : C16H34O


Berat Molekul : 242,44
Pemerian : Lunak, putih, kepingan, berbau lemah dan
rasa lunak
Kelarutan : Sangat larut dalam etanol 95% dan eter,
praktis tidak larut dalam air
0
Titik Didih : 344 C
0
Titik Leleh : 49 C
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup baik, sejuk,
dan kering
Stabilitas : Stabil dengan keberadaan asam, basa,
cahaya, dan udara tidak menjadi tengik
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan agen pengoksidasi
kuat
Kegunaan : Sebagai pengemulsi, pengental, dan emolien
th
2.6.6. TEA (HOPE 6 Edition hal 754)

Rumus Kimia : C6H15NO3


Berat Molekul : 149,19
Pemerian : Jernih, kental, tidak berwarna sampai
kekuningan
Kelarutan : Larut dalam aseton, karbon tetraklorida,
metanol, dan air, larut dalam 24 bagian
benzene dan dalam 63 bagian etil eter
0
Titik Didih : 335 C
0
Titik Leleh : 20-21 C
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah kedap udara,
terlindung dari cahaya, sejuk dan kering
Stabilitas : Dapat berubah menjadi kecoklatan bila
terpapar udara dan cahaya
Inkompatibilitas : Bereaksi dengan asam mineral menjadi

11
garam Kristal dan ester
Kegunaan : Dapar

2.6.7. Span
Struktur Kimia :

Rumus Kimia : C24H46O6


Berat Molekul : 430,62
Pemerian : Cairan minyak, berwarna kuning pucat atau
tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam paraffin cair, air panas, minyak
mineral dan etil asetat. Tidak larut dalam
air, PEG, dan alcohol
0
Titik Didih : >110 C
0
Titik Leleh : 54-57 C
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Stabilitas : Stabil dibawah kondisi biasa
Inkompatibilitas : Reaktif dengan agen pengoksidasi
Kegunaan : Emulgator fase minyak
th
2.6.8. Nipagin (FI V hal 845 dan HOPE 6 Edition hal 441)

Struktur Kimia :

Rumus Kimia : C8H8O3


Berat Molekul : 152,15
Pemerian : Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk
hablur, putih: tidak berbau atau berbau khas
lemah; sedikit rasa terbakar.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzen dan
dalam karbon tetraklorida; mudah larut
dalam etanol dan dalam eter.

12
0
Titik Leleh : 125-128 C
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Stabilitas : Larutan nipagin pada pH 3-6 dapat
disterilkan dengan autoklaf pada suhu
0
120 C selama 20 menit tanpa penguraian
Inkompatibilitas : Mengurangi efektivitas dari surfaktan
nonionic, meningkatkan potensi aktivitas
antibakteri dengan propilenglikol,
inkompatibilitas dengan bentonit,
magnesium trisilikat, talcum, tragakan, na
alginate, minyak esensial, sorbitol dan
atropine
Kegunaan : Sebagai pengawet antimikroba

th
2.6.9. Nipasol (HOPE 6 Edition hal 596)

Struktur Kimia :

Rumus Kimia : C10H12O3


Berat Molekul : 180,20
Pemerian : Serbuk kristal putih, tidak berbau, dan tidak
berasa
Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzen dan
dalam karbon tetraklorida; mudah larut
dalam etanol dan dalam eter.
0
Titik Didih : 295 C
0
Titik Leleh : 95-98 C
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah kering dan tertutup
rapat
Stabilitas : Stabil pada tekanan dan suhu normal
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan oksidator kuat, asam
kuat, dan basa
Kegunaan : Pengawet antimikroba

th
2.6.10. Vitamin E (HOPE 6 Edition hal 764)

13
Struktur Kimia :

Rumus Kimia : C33O5H54(CH2CH2O)20-22


Berat Molekul : ᴝ1513
Pemerian : Putih hingga kecoklatan dan tidak berasa
Kelarutan : Larut dalam air
0
Titik Leleh : 37-41 C
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertuup baik dan sejuk
Stabilitas : Stabil dalam suhu ruang
Inkompatibilitas : Inkompatibilitas dengan asam kuat dan basa
kuat
Kegunaan : Sebagai antioksidn

2.6.11. Parfum (Handbook of Pharmaceutical Excipient, Hal :


369)

Pemerian : Dalam larutan memiliki rasa dan bau seperti


strawberry atau nanas.
Kelarutan : Larut dalam 21 bagian etanol 95 % dan
dalam 80 bagian gliserin, dalam 53 bagian
propanol, dalam 28 bagian propilen glikol,
dalam 83 bagian air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup dan tempat yang
sejuk dan kering
Inkompatibilitas : Konsentrasi larutan dalam wadah terbuat
dari logam yang mengandung stainless
steel, dapat mengurangi warna pada
penyimpanan
Kegunaan : Pewangi
2.6.12. Aquadest (FI IV hal 112 dan HOPE 6th Edition hal 766)

Rumus Kimia : H2O


Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Kelarutan : Larut dalam semua pelarut polar
0
Titik Didih : 100 C
0
Titik Leleh : 0C

14
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Stabilitas : Stabil dalam berbagai kondisi
Inkompatibilitas : Aquadest dapat bereaksi dengan
menghidrolisis obat-obatan atau eksipien
lain tertentu
Kegunaan : Pelarut

BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Lokasi
Waktu : Jumat 2 Maret 2018 pukul 11.30-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Penelitian 2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
3.2. Alat dan Bahan

3.2.1. Alat  Gelas ukur


 Hot plate  Batang
 Termometer
pengaduk
 Lumpang dan
 Spatel
Alu  Timbangan
 Beker glass
analitik
 Kaca Arloji
 Cawan penguap

15
3.2.2. Bahan
 Olive oil
 Parafin Cair
 Propilen Glikol
 Asam Stearat
 Setil Alkohol
 TEA
 Span
 Nipagin
 Nipasol
 Vitamin E
 Parfum
 Aquadest
 Kertas perkamen

16
3.3. Formulasi
Olive oil 5%
Parafin Liquid 15%
Propilen Glikol 3%
Asam Stearat 1%
Setil Alkohol 3%
TEA 0,5%
Span 3%
Nipagin 0,2%
Nipasol 0,01%
Vitamin E 0,5%
Parfum qs
Aquadest ad 100%

3.4. Penimbangan Bahan


Olive oil 5% =
Parafin Liquid 15%
=
Propilen Glikol 3% =
Asam Stearat
1% =
Setil Alkohol 3% =
TEA
0,5%
=
Span 3% =
Nipagin 0,2%
=
Nipasol 0,01% =
Vitamin E
0,5%
=
Parfum qs
Aquadest 100% = 100 gram – (5+15+3+1+3+0,5+3+0,2+0,01+0,5) gram =
100 gram – 31,21 gram = 68,79 gram

Prosedur Kerja
BAB IV
Hasil dan Pembahasan

4.1. Hasil

4.1.1. Sediaan Milk Cleanser

4.1.2. Evaluasi Sediaan Milk Cleanser

Parameter Uji Hasil Uji


Warna : Putih susu
Uji organoleptis Bau : Jeruk Nipis
Tekstur : Lembut

Uji homogenitas Tidak Homogen, ada gelembung

Uji pH 6

Uji Daya Bersih Dapat membersihkan kosmetik

4.2. Pembahasan
Emulsi adalah suatu sistem yang secara termadinamik tidak stabil,
terdiri dari paling sedikit dua fasa sebagai globul-globul dalam fasa cair yang
lainnya. Sistem ini biasanya distabilkan dengan adanya emulsi. Dalam bidang
farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air. Berdasarkan fase
terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu emulsi minyak dalam air, yaitu
bila fase minyak terdispersi di dalam fase air dan emulsi air dalam minyak,
yaitu bila fase air terdispersi di dalam fase minyak (Partang, 2008).
Emulsi cair tipe minyak dalam air (O/W) sering dipasarkan dengan
nama face milk atau beauty milk, dipakai baik sebagai preparat pembersih
maupun dasar bedak. Untuk tujuan yang berlainan itu, formulasinya harus
disesuaikan. Emulsi dengan kadar air yang tinggi digunakan untuk pembersih
make-up (Kusantati, 2008).
Pada praktikum kali ini dibuat emulsi tipe O/W untuk membuat
sediaan milk cleanser dengan kandungan ekstrak jeruk nipis. Menurut
Rindengan dan Novarianto, 2004, jeruk nipis merupakan pelembab kulit
alami karena mampu mencegah kerusakan jaringan dan memberikan
perlindungan terhadap kulit tersebut. Ekstrak jeruk nipis pun mampu
mencegah berkembangnya bercak-bercak di kulit akibat penuaan dan
melindungi kulit dari cahaya matahari. Bahkan ekstrak jeruk nipis dapat
memperbaiki kulit yang rusak atau sakit. Oleh karena itu, penggunaan
ekstrak jeruk nipis akan mampu menampilkan kulit lebih muda.
Pada praktikum kali ini, kelompok kami akan membuat sediaan milk
cleanser dengan menggunakan ekstrak jeruk nipis. Alasan digunakan ekstrak
jeruk nipis antara lain : pertama proses ekstrasinya lebih mudah dibandingkan
dengan buah yang lain. Pada proses ekstrasi jeruk nipis, kita hanya perlu
mencuci jeruk nipis tersebut agar jeruk nipis bebas dari microbial, lalu jeruk
nipis diiris bagian tengah atau dibelah menjadi dua bagian dengan vertikal akan
mendapatkan sari jeruk nipis yang banyak, dan terakhir setelah diekstrak jeruk
nipisnya, maka didapatkan hasil berupa sari dari jeruk nipis. Selanjutnya, kita
memilih jeruk nipis sebagai bahan aktif karena menurut teori yang didapatkan,
hasil yang didapat pada pembuatan milk cleanser dengan menggunakan jeruk
nipis sebagai zat aktif akan menghasilkan sediaan yang bersifat homogeny dan
stabil serta Ph dari sediaan tersebut sesuai dengan literatur. Adapun factor
eksternal kelompok kami memilih jeruk nipis sebagai bahan aktif pada sediaan
milk cleanser adalah mudah didapatkan dan harganya yang relative murah
dibandingkan dengan bahan zat aktif yang lain.
Untuk proses ekstrasi jeruk nipis. Prosesnya sangat sederhana, yaitu
hanya dengan mencuci jeruk nipis dan selanjutnya yaitu membelah jeruk nipis
menjadi dua bagian dengan potongan vertikal lalu diperas jeruk nipis tersebut
lalu disaring agar tidak ada zat pengotor seperti bulir jeruk dan biji dari jeruk
nipis yang masuk kedalam ekstrak yang jeruk nipis.
Salah satu keuntungan digunakannya ekstrak jeruk nipis adalah daya
antibakteri minyak atsiri yang dikandung oleh jeruk nipis tersebut. Daya
antibakteri minyak atsiri jeruk nipis disebakan oleh adanya senyawa fenol dan
turunannya yang dapat mendenaturasi protein sel bakteri. Salah satu turunan
senyawa tersebut adalah kavikol yang memiliki daya bakterisida lima kali ebih
kuat dibandingkan dengan fenol.
Perlakuan yang dilakukan setelah penimbangan adalah pembuatan
sediaan krim. Hasil sediaan milk cleanser mempunyai aroma jeruk nipis dan
terdapat sensasi lembut pada saat menggunakannya. Setelah dilakukan
pembuatan sediaan krim perlu dilakukan uji evaluasi pada sediaan tersebut untuk
mengetahui sediaan tersebut layak untuk digunakan atau tidak.
Pembuatan milk cleanser dilakukan dengan dileburnya fase minyak
dan fase air di atas penangas air hingga suhu 70ᴼC. Dengan menggunakan
termometer dilakukan IPC (in process control) untuk memastikan bahwa
suhu pada fase minyak dan fase air mencapai 70ᴼC. Fase minyak terdiri dari
olive oil sebagai emollien, paraffin liquid yang berfungsi sebagai pengental,
asam stearat yang berfungsi sebagai emulgator, setil alkohol yang berfungsi
sebagai zat pengemulasi, dan span yang berfungsi sebagai emulgator.
Sedangkan fase air terdiri dari TEA dengan konsentrasi 0,5% yang berfungsi
sebagai buffer, nipagin yang berfungsi sebagai antimikroba, nipasol yang
berfungsi sebagai antimikroba, propilen glikol yang berfungsi sebagai
humektan, dan air yang berfungsi sebagai pembawa. Menurut Suryani dkk.,
2017, suatu milk cleanser bahan utamanya adalah air, minyak dan emulgator
yang berfungsi mengemulsikan air dan minyak. Penambahan zat antimikroba
ditambahkan untuk menjaga kestabilan sediaan dari pertumbuhan mikroba.
Dileburnya bahan-bahan yang digunakan pada suhu 70ᴼC dikarenakan pada
suhu ini bahan-bahan yang digunakan melebur dan tidak menggangu
kestabilan coconut oil maupun bahan-bahan lainnya
Setelah semua bahan melebur, fase air dimasukan ke dalam mortar
yang sebelumnya sudah dihangatkan dengan cara air dengan suhu ± 100ᴼC
dimasukkan ke dalam mortar kemudian dibuang dan dikeringkan. Pemanasan
mortar ini dilakukan karena mortar yang digunakan memiliki pori-pori yang
apabila dalam keadaan dingin bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dapat
masuk ke dalam pori-pori tersebut. Setelah fase air dimasukan ke dalam
mortar, fase minyak dicampurkan ke dalam fase air. Kemudian diaduk hingga
terbentuk massa putih seperti susu.
Setelah massa putih seperti susu dingin 40ᴼC, ditambahkan vitamin E
kemudian diaduk hingga homogen. Alasan Vitamin E ditambahkan pada suhu
40ᴼC adalah karena vitamin E dapat dirusak oleh adanya oksigen atau
teroksidasi. Proses oksidasi dapat berlangsung lebih cepat apabila terkena
cahaya, panas, alkali, dan adanya logam seperti Cu2+ dan Fe 3+. Oleh karena
itu penambahan vitamin E tidak dilakukan pada suhu yang tinggi.
(Raymond.2009)

Setelah ditambahkan vitamin E dan diaduk homogen, ditambahkan


ekstrak bahan zat aktif jeruk nipis yang sudah diekstrasi. Penambahan ini
bertujuan untuk menimbulkan bau jeruk nipis pada milk cleanser serta daya
bersih dari jeruk milk cleaser menjadi lebih baik. Setelah campuran diaduk
homogen, campuran dimasukan ke dalam wadah dan dievaluasi. Uji
organoleptis bertujuan untuk melihat, mengamati dan mengetahyi sifat fisik
dari sediaan milk cleanser yang dihasilkan mulai dari warna, bau dan
teksturnya. Apabila terdapat kekurangan dalam ketiga aspek ini maka dapat
dijadikan data untuk memperbaiki sediaan pada pembuatan berikutnya.
Dalam uji ini sediaan milk cleanser yang kami buat sudah sesuai standar
dengan baik. Warna sediaan putih susu bersih dengan bau citrus yang khas
dan menarik serta tekstur yang tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental.
(Kuitansi.2008)
Uji homogentias digunakan untuk mengetahui apakah sediaan yang
dihasilkan sudah homogen dan tidak mengandung jeratan udara yang dapat
mengurangi kualitas sediaan. Pada uji ini didapatkan bahwa sediaan milk
cleanser kelompok enam belum homogen karena adanya jeratan udara pada
saat sediaan diletakkan diantara dua object glass. Hal ini menandakan bahwa
pengadukan tidak dilakukan dengan konstan dan rata. Apabila terdapat
gelembung udara atau tidak homogen dapat menyebabkan sediaan menjadi
tidak stabil selama penyimpananndan tidak tahan lama karena adanya udara
dapat menimbulkan reaksi-reaksi yand dapat mempercepat rusaknya sediaan.
(Kustanti.2008). Kemudian alasan sediaan tidak homogen dikarenakan ketika
penambahan ekstrak jeruk nipis pada saat sediaan sudah mulai dingin,
seharusnya suhu fase minyak dan fase air masih dalam keadaan hangat yaiu
sekitar 40ᴼC.
Uji keasaman atau OH bertujuan untuk mengetahui pH dari sediaan
yang dihasilkan. pH merupakan aspek yang sangat perlu diperhatikan, karena
sediaan milki cleaner yang dibuat akan diaplikasikan pada kulit yang
memiliki pH tersendiri yaitu 4,6 - 6,5. Apabila pH yang dihasilkan tidak
sesuai dengan pH kulit maka akan menyebabkan reaksi yang tidak
diinginkan. Setelah dilakukan pengujian terhadap sediaan milki cleaner kami
didapatkan pH 6 dan ini menandakan bahwa pH sediaan kami berada dalam
rentang standar. (Kuitansi.2008)

4.4 Lampiran
C

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum ini, sediaan milk cleanser yang dihasilkan kurang baik secara
organoleptik, homogenitas, pH, sedangkan pada uji daya bersih menghasilkan hasil yang bagus
dan memiliki aroma yang harum.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi ke IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta

Ditjen POM. 2014. Farmakope Indonesia Edisi ke V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta

Handra, Hefriyan. 2017. Kosmetika untuk Penggunaan Dasar. Bahan Ajar. Universitas Islam Syarif
Hidayatullah Jakarta: Tangerang Selatan

Iswari, T. R. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Muliyawan, D., dan Suriana, N. 2013. A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Raymond, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. London: Pharmaceutical
Press.
Rukmana, R. 1996. Jeruk Nipis. Jakarta. Kanisius.
Sarwono, B. 2001. Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis. Jakarta. AgroMedia.
Steenis, V., Bloembergen, S dan Eyma, P.J. 2006. Flora untuk sekolah diIndonesia. Jakarta. PT Pradyna
Paramita.
Suryani, Nelly dkk.,. 2017. Modul Praktikum Kosmetologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta.

Taiz and Zeiger. 1991. Plant Physiology. The Benjamin/Cummings. Publishing Company, Inc.
Wasitaatmadja, S. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Universitas Indonesia: Jakarta