Anda di halaman 1dari 26

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. MARTINA BERTO TBK


17 OKTOBER 2017
KESELAMATAN KERJA

Kelompok III
Mohamad Rheza Firmansyah, S. Ked
Nadya Yosvara, S. Ked
Nathania Kosuhary, S. Ked
Novita Valentina, S. Ked
Ovia Yanli¸ S. Ked
Savina Umar, S. Ked
Tuti Nurcholifah, S. Ked
Yodi Setiawan, S. Ked

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


KEMENTRIAN KETENAGAKERJAAN INDONESIA
PERIODE 23 – 30 OKTOBER 2017
JAKARTA

0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perkembangan industri sekarang ini berkembang semakin pesat sejalan
dengan kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi mendorong meningkatnya
penggunaan mesin-mesin, peralatan kerja teknologi modren dan bahan-bahan
kimia dalam proses produksi. Di satu pihak perkembangan industri ini
memberikan dampak yang positif dengan terciptanya lapangan pekerjaan yang
lebih luas. Namun, akibat percepatan proses industrialisasi dengan sendirinya
akan memperbesar resikonya bahaya yang terkandung dalam industri, timbulnya
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan potensi kecelakaan kerja semakin besar.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan standar kerja yang harus
dipenuhi oleh suatu perusahaan guna menciptakan tempat kerja yang aman,
efisien dan produktif dengan mengendalikan berbagai resiko yang berkaitan
dengan kegiatan kerja. Ruang lingkup K3 terdiri dari aspek tenaga kerja, sistem
kerja, sarana dan prasarana perusahaan. Sistem manajemen K3 (SMK3) wajib
diterapkan oleh perusahaan di Indonesia dan memiliki landasan hukum yang
diatur dalam UUD 45 pasal 27 ayat 2, Undang-undang No.1 tahun 1970, Undang-
undang No.13 tahun 2003 dan Permenaker No. 05/Men/1996.
Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya
(cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka
panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang
Berbagai macam permasalahan di bidang K3 masih banyak ditemukan
terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Masalah yang masih ditemukan
antara lain kurangnya perhatian dari semua pihak akan pentingnya keselamatan
kerja, masih tingginya angka kecelakaan kerja dan rendahnya komitmen dari
pemilik dan pengelola usaha. Hal ini juga berpengaruh terhadap kemampuan
perusahaan untuk dapat bersaing secara global.

1
Salah satu kegiatan dalam pelatihan hiperkes yang diselenggarakan oleh
Pusat K3 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI adalah melakukan
kunjungan ke perusahaan PT. Martina Berto Tbk yang memiliki jenis usaha dalam
bidang kosmetik. Melalui laporan ini kami menyampaikan hasil inspeksi secara
obyektif dan subyektif pada PT. Martina Berto Tbk beserta hasil analisa data dan
pemecahan masalah yang kami temukan terkait penerapan SMK3 di perusahaan
tersebut.

2
1.2 DASAR HUKUM
1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
2. UU RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
3. UU Uap tahun 1930.
4. Peraturan Uap tahun 1930.
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 01/MEN/1980
tentang keselamatan dan kesehatan tenaga kerja pada konstruksi bangunan.
6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 04/MEN/1980
tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan.
7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 01/MEN/1982
tentang bejana tekanan.
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 04/MEN/1985 tentang pesawat
tenaga dan produksi.
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 05/MEN/1985 tentang pesawat
angkat-angkut.
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 02/MEN/1989 tentang
pengawasan instalasi penyalur petir.
11. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 186/MEN/1999 tentang
penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
12. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 187/MEN/1999 tentang
pengendalian bahan kimia berbahaya.
13. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 75/MEN/2002 tentang
pemberlakuan SNI No SNI 04-0225-2000 mengenai persyaratan umum
instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di tempat kerja.
14. Surat keputusan direktur jenderal pembinaan dan pengawasan
ketenagakerjaan nomor 113 tahun 2006 tentang pedoman dna pembinaan
teknis petugas K3 ruang terbatas
15. Surat keputusan direktur jenderal pembinaan dan pengawasan
ketenagakerjaan nomor 45/DJPPK/IX/2008 tentang pedoman keselamatan
dan kesehatan kerja bekerja pada ketinggian dengan menggunakan akses tali
(rope access).

3
1.3 PROFIL PERUSAHAAN
a. Sejarah perusahaan
PT. Martina Berto Tbk merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun
1977 oleh Dr HC. Martha Tilaar, (alm) Pranata Bernard, dan Theresa Bu Harsini
Setiady. Perusahaan ini berlokasi di Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri
Pulogadung. Perusahaan ini bergerak di bidang barang kosmetik, obat tradisional
(jamu) dan pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan kecantikan dan
barang-barang obat tradisional. Selain itu, perusahaan memiliki dukungan dari
kegiatan bisnis yang dilakukan oleh anak perusahaannya, PT Cedefindo, yang
merupakan kosmetik manufaktur kontrak atau makloon dengan kering, semi-
padat, cairan, dan aerosol.
Pada tahun 1981 perusahaan ini mendirikan pabrik di kawasan industri
Pulogadung dengan partnership Grup Kalbe. Setelah dua tahun kemudian,
mendirikan pabrik keduanya PT. Sari Ayu Indonesia untuk mendukung
distribusin kosmetik. Dari tahun 1988 - 1995 mereka melakukan konsolidasi dari
beberapa bisnis yang diperoleh oleh Martha Tilaar Group menjadi PT. Martina
Berto.
 Pada tahun 1999 PT. Martino Berto resmi menjadi perusahaan keluarga
Martha Tilaar.
 Tahun 2006 - 2008 meluncurkan produk dalam keindahan dan segmen
perawatan pribadi. Jaringan ekspornya semakin meluas ke pasar Eropa
(Yunani dan Ukraina) dan Asia (Jepang, Hongkong, dan Taiwan).
 Tahun 2010, meluncurkan toko ritel baru. Martha Tilaar Shop (MTS), di luar
Indonesia untuk meraih pangsa pasar Internasional.
b. Visi dan misi perusahaan
Visi
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan
kecantikan dan industri spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui teknologi
modern, penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan nilai tambah
kepada konsumen dan stakeholder lainnya.
Misi

4
 Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk
perawatan kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar
kualitas internasional untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai
segmen pasar dengan portofolio yang sehat mampu mencapai peringkat tiga
besar di setiap segmen di Indonesia.
 Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua
pelanggan dalam proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan
perdagangan;
 Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang
berkelanjutan;
 Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten
dan produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan;
 Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem, dan
teknologi di seluruh organisasi dan unit bisnis;
 Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk
kepentingan semua stakeholder;
 Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk dia pemegang saham;
 Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal
dengan fokus jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus jangka
panjang di pasar global dengan produk yang dipilih dan merek.
c. Jumlah pegawai perusahaan
Jumlah pekerja sebanyak 1600 orang pekerja. Jam kerja pegawai dibagi
menjadi 2 shift utama.
d. Sektor usaha
Perusahaan ini bergerak di bidang barang kosmetik, obat tradisional (jamu)
dan pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan kecantikan dan barang-
barang obat tradisional.
1. Segment A Plus
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, PAC Martha Tilaar, Martha Tilaar Solutions,
Jamu Garden Martha Tilaar
2. Segment A

5
Biokos Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar
3. Segment B
Sariayu Tilaar Martha, Martha Tilaar Caring Colours, Belia Martha Tilaar
4. Segment C
Mirabella, Cempaka,Pesona, Martina. Currently, Pesona and Martina products
have been sold in Malaysia through direct selling.
e. Jam kerja
Factory : Jam Kerja : 07.30 – 14.30 Shfit I dan Shift II 15.30 – 22.00
Office : Jam Kerja : 08.00 - 16.30
f. Asuransi
Provider Astra life dan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan
g. Sertifikasi perusahaan
Pada tahun 1996 menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang
mendapatkan sertifikat ISO 9001. Tahun 2000 menjadi satu‐satunya pendiri UN
Global Compact dari Asia, mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat
GMP: CPKB (Cara Produksi Kosmetika yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi
Obat Tradisional yang Baik).
h. Kelembagaan P2K3
Total P2K3 : 56 Orang
Petugas K3 : 20 Orang
Pelatihan : Tanggap Darurat untuk DAMKAR
Emergency Respond Kecelakaan Kerja
Sertifikasi P3K : PMI dan Disnakertrans
Proses Kerja : Standby di masing masing Bagian
Bekerja sesuai kejadian darurat
PJK3 : Sesuai kualifikasinya masing :
AK3 Umum
AK 3 Kimia, DAMKAR
1.4 ALUR PRODUKSI
PT. Martina Berto Tbk memiliki rencana produksi bulanan yang dihitung
oleh bagian PPIC. Dari rencana produksi ini bagian produksi akan menghitung

6
jumlah jam orang yang diperlukan berdasarkan standar jam orang yang telah
ditetapkan oleh bagian IE (Industrial Engineering). Jam orang adalah jumlah jam
produksi dikali dengan jumlah orang yang diperlukan melaksanakan produksi
tersebut. Hal ini berkaitan dengan efisiensi dan produktifitas perusahaan.
Dalam pelaksanaanya, produksi akan meminta bahan baku ke gudang bahan
baku menggunakan dokumen PWO (Proccess Work Order). Gudang akan
menyiapkan kebutuhan sesuai dengan PWO dan hasil penimbangan akan
diperiksa ulang oleh produksi. Jika semua bahan telah siap, produksi akan
mengolah bahan tersebut sesuai dengan LPP (Lembar Petunjuk Proses). Tiap
langkah LPP yang telah dilaksanakan kemudian diparaf oleh operator dan
pengawas yang bersangkutan dan setiap penyimpangan, adjusting, atau segala
perbaikan yang tidak tertera di LPP akan dicatat sebagai pedoman pemeriksaan
dan penelusuran jika terjadi kesalahan. Proses pencucian dan sanitasi mesin
produksi dilakukan setiap pergantian batch ataupun pergantian produk dengan
prosedur yang telah ditetapkan.
Selama proses hingga dihasilkan produk ruahan, dibagian produksi terdapat
tim dari QC untuk melakukan pengawasan mutu pada tiap akhir proses sebelum
pengemasan. QC akan memeriksa kesesuain spesifikasi produk tersebut dengan
standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika telah memenuhi spesifikasi
tersebut dapat diteruskan untuk pengemasan dan jika kurang memenuhi, bagian
produksi akan melakukan adjusting. Segala perbaikan yang dilakukan terhadap
produk harus dicatat LPP dan didokumentasikan. Produk ruahan yang telah
dinyatakan lulus oleh QC kemudian akan dikemas. Permintaan bahan kemas ke
gudang menggunakan dokumen PCO (Packing Order) dan pengemasan dilakukan
berdasarkan prosedur pengemasan dari R&D yang disebut LPK (Lembar Petunjuk
Kemas).
Perseroan dan anak perusahaan memiliki fasilitas produksi yang terbagi ke
dalam empat kategori, yaitu kosmetika cair, kosmetika kering, kosmetika semi
padat, obat tradisional. Selain pembagian kategori produk berdasarkan proses
produksi,

7
Gambar 1. Alur produksi PT Martina Berto Tbk
1.5 LANDASAN TEORI
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran
beserta praktiknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental,
maupun sosial, dengan usaha-usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan
faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit
umum. Keselamatan kerja menurut PP no.50/ 2012 adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Sedangkan beberapa ahli sepert Suma’mur, Simanjuntak, Mathis dan Jackson
mengemukakan beberapa pengertian tentang keselamatan kerja, yaitu :
• Menurut Suma’mur (2001, p.104), keselamatan kerja merupakan rangkaian
usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para
karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
• Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan
yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang
mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan,
dan kondisi pekerja.

8
• Mathis dan Jackson (2002, p. 245), menyatakan bahwa Keselamatan adalah
merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap
cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada
kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keselamatan adalah suatu
usaha untuk mencegah terjadinya kecelakaan sehingga manusia dapat merasakan
kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian
terutama untuk para pekerja konstruksi. Agar kondisi ini tercapai di tempat kerja
maka diperlukan adanya keselamatan kerja. Keselamatan kerja secara filosofi
diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan
manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan
diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Pentingnya keselamatan kerja tidak hanya untuk para pekerja tetapi juga
untuk sebuah perusahaan. Jika perusahaan dapat menurunkan angka kecelakaan
kerja, penyakit akibat kerja, atau penyakit yang berhubungan dengan kerja maka
perusahaan akan semakin efektif. Keselamatan kerja merupakan hak para pekerja
karena diatur dalam UU No. 1 Tahun 1970 yang secara garis besar adalah untuk
melindungi para pekerja dan orang lain di tempat kerja, menjamin agar setiap
sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien, dan untuk menjamin
proses produksi berjalan lancar.
Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan
kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin
tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya
kecelakaan kerja seperti pernyataan Jackson (1999) bahwa keselamatan adalah
merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap
cedera yang terkait dengan pekerjaan.
Dalam melaksanakan K3, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
1. Identifikasi potensi bahaya

9
Merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi secara
menyeluruh dan mendetail mengenai risiko yang ditemukan dengan
menjelaskan konsekuensi dari yang paling ringan sampai dengan yang paling
berat. Pada tahap ini harus dapat mengidentifikasi hazard yang dapat
diramalkan (foreseeable) yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi
membahayakan kesehatan dan keselamatan terhadap:
a. Karyawan
b. Orang lain yg berada ditempat kerja
c. Tamu dan bahkan masyarakat sekitarnya
Pertimbangan yang perlu diambil dalam identifikasi risiko antara lain :
a. Kerugian harta benda (Property Loss)
b. Kerugian masyarakat
c. Kerugian lingkungan
Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
a. Apa Yang Terjadi Hal ini dilakukan untuk mendapatkan daftar yang
komprehensif tentang kejadian yang mungkin mempengaruhi tiap-tiap
elemen.
b. Bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi Setelah mengidentifikasi
daftar kejadian sangatlah penting untuk mempertimbangkan penyebab-
penyebab yang mungkin ada/terjadi.
c. Alat dan Tehnik Metode yang dapat digunakan untuk identifikasi risiko
antara lain adalah: Inspeksi, Check list, Hazops (Hazard and Operability
Studies), What if, FMEA (Failure Mode and Effect Analysis), Audits g.
Critical Incident Analysis, Fault Tree Analysis, Event Tree Analysis, dll.
Dalam memilih metode yang digunakan tergantung pada type dan ukuran
risiko.
2. Penilaian Risiko
Terdapat 3 ( tiga) sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan penilaian
risiko di tempat kerja yaitu untuk :
a. mengetahui, memahami dan mengukur risiko yang terdapat di tempat kerja;

10
b. menilai dan menganalisa pengendalian yang telah dilakukan di tempat kerja;
c. melakukan penilaian finansial dan bahaya terhadap risiko yang ada.
d. mengendalikan risiko dengan memperhitungkan semua tindakan
penanggulangan yang telah diambil;
3. Pengendalian Risiko
Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai
berikut:
a. Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya
b. Substitusi
1) Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta
2) Proses menyapu diganti dengan vakum
3) Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
4) Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan
c. Rekayasa Teknik
1) Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)
2) Pemasangan general dan local ventilation
3) Pemasangan alat sensor otomatis
d. Pengendalian Administratif
1) Pemisahan lokasi
2) Pergantian shift kerja
3) Pembentukan sistem kerja
4) Pelatihan karyawan
e. Alat Pelindung Diri

11
BAB II
PELAKSANAAN

2.1 TANGGAL DAN WAKTU PENGAMATAN


Kunjungan perusahaan ke PT Martina Berto Tbk ini dilakukan pada hari Kamis
tanggal 26 Oktober 2017 pukul 14.00-16.30.
2.2 LOKASI PENGAMATAN
PT Martina Berto Plant I, Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri
Pulogadung.
2.3 DOKUMEN PENGAMATAN

12
BAB III
HASIL PENGAMATAN

3.1 MESIN, PESAWAT, DAN ALAT KERJA YANG DIGUNAKAN


Mesin mesin : Mixing Driling,
Kontruksi : Bangunan sesuai kontruksi Factory
Personel : sudah memilki surat izin operasi
Maintenance : Sesuai prosedur pemeliharaan dan Perawatan
Pengadaan mesin telah sesuai dengan standar perusahaan.

3.2 BAHAN DAN PROSES KERJA TERKAIT K3


Bahan baku terkait telah tersertifikasi oleh dinas kesehatan. Namun rincian
bahan baku tersebut tidak dapat diuraikan oleh pihak perusahaan.

Proses kerja

Dari hasil pengamatan sudah sesuai dengan yang dijelaskan dari system
kerja perusahaan tersebut.

13
3.3 LANDASAN KERJA, SOP KERJA
Perusahaan dalam mencapai komitmen dan tekat dimaksud, Manajemen
terus menerus meningkatkan kinerja Perusahaan dengan menerapkan sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berbasis SMK3 sesuai
dengan Kepmenaker 05 tahun 1996 dan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012
serta OHSAS 18001 secara konsisten dan berkesinambungan
Komitmen Perusahaan Komitmen Pusat K3

Landasan Menjamin keselamatan dan Menyusun dan memelihara Sistem


kerja, SOP Kesehatan Kerja (K3) seluruh Manajemen Keselamatan dan
kerja karyawan termasuk orang lain Kesehatan Kerja (SMK3)
(Kontraktor, Supplier, Pengunjung berkelanjutan.
dan Tamu) di tempat kerja. Membentuk Organisasi / Unit K3
Menjamin pengendalian dampak dalam lingkungan Manajemen
lingkungan operasional. Perusahaan.
Memenuhi semua perundangan Mengidentifikasi dan
dan peraturan yang berlaku yang mengendalikan semua sumber
berkaitan dengan K3. bahaya dan aspek lingkungan
Melakukan perbaikan operasi Perusahaan.
berkelanjutan guna meningkatkan Memberikan pelatihan-pelatihan
K3 Perusahaan. K3 bagi karyawan untuk
meningkatkan Budaya K3
Perusahaan.
Mengajak seluruh Karyawan
untuk berperan serta
meningkatkan K3 Perusahaan.
Kebijakan K3 ini akan ditinjau
ulang minimal 1 tahun sekali
mengikuti tinjauan SMK3.

3.4 INSTALASI LISTRIK DAN PRASARANA KERJA


Pada saat kunjungan kami hanya melihat beberapa mesin saja, mesin
tersebut dapat menyala. Tidak terdapat permasalahan dalam hal listrik. Walaupun
begitu, PT. Martina Berto tetap menyediakan Generator Set (Genset)/motor diesel
yang berjumlah dua buah berkapasitas 500 kva. Sehingga dalam segi listrik, PT.
Martina Berto tidak ada permasalahan.
Selain itu, PT. Martina Berto mempunyai prasarana lift pengangkut barang
berjumlah 8 buah yang mampu mengangkut lebih dari 8000 kg barang. Data
tersebut diambil dari sumber informasi terpercaya disana, karena kami tidak

14
sempat untuk melihat lift tersebut. Selama ini, lift tersebut tidak ada masalah dan
dirawat secara berkala.
Dalam rangka mengantisipasi terjadinya sambaran petir pada musim
hujan, PT. Martina Berto sudah membuat instalasi penyalur petir, sehingga tidak
ada kejadian tersambar petir di PT tersebut. Kami tidak sempat melihat instalasi
penyalur petir tersebut, tetapi kami mendapatkan informasi terpercaya dari
perwakilan PT. Martina Berto tersebut.
Dari peninjauan kami ke PT. Martina Berto, kami dapat menyimpulkan
bahwa tidak terdapat permasalahan mengenai instalasi listrik, instalasi penyalur
petir dan lift barang pada perusahaan tersebut. Dari hasil pengamatan, kami
dapatkan:
1. Maintenance dilakukan secara berkala.
2. Penerangan baik, tapi masih tidak merata, ada beberapa lorong yang gelap
3. Maintenance dilakukan oleh petugas internal yang memiliki sertifikasi/lisensi.
4. Kabel tertata dengan baik.
5. Kami tidak sempat melihat instalasi penyalur petir tersebut, tetapi kami
mendapatkan informasi terpercaya dari perwakilan PT. Martina Berto
tersebut.

3.5 SARANA PENANGGULANGAN KEBAKARAN


Penyelenggaraan perencanaan penanggulangan bencana adalah serangkaian
upaya yang bertujuan agar organisasi dapat melakukan tindakan efektif dalam
situasi darurat, dan meminimalisirkan dampak lingkungan yang ditimbulkan saat
dan setelah keadaan darurat itu terjadi.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di PT. Martina berto Tbk ditemukan :
1. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) telah ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat
serta dijangkau menggantung pada tembok dan diatas lantai, hampir terdapat pada
seluruh koridor. Tabung alat berwarna merah, bentuk dari tabung tersebut tidak
berlubang ataupun cacat, sesuai dengan Permenakertrans No PER.04/MEN/1980.

15
2. Pekerja hampir seluruhnya telah mengetahui letak dari alat pemadam api
ringan (APAR) dan Hydrant oleh karena telah diletakkan pada posisi yang
mudah dilihat dan dicapai juga berwarna merah.
3. Perusahaan memiliki petugas tanggap darurat namun tidak spesifik untuk
petugas peran kebakaran, koordinator kebakaran, dan regu penanggunganan
kebakaran sebagaimana tertuang pada Kepmenaker No. Kep-186/MEN/1999.
4. Pada beberapa tempat ditemukan detector api, water sprinkle dan hydrant.
5. Pada APAR dilengkapi dengan kertas pemeriksaan berkala, pemeriksaan berkala
sudah dilakukan sesuai dengan Permenakertrans No PER.04/MEN/1980.
6. Untuk pemeliharaan APAR cukup baik dikarenakan APAR tidak berkarat,
tidak ada sumbatan pada ujung selang, dilakukan pemeriksaan rutin, terdapat
cara penggunaan APAR dan APAR terkunci dengan baik.

3.6 KONSTRUKSI TEMPAT KERJA


Konstruksi
PENGAMATAN STANDART
tempat kerja
Akses keluar Akses keluar-masuk ruangan terdiri dari Akses keluar
masuk lobi utama , terdapat 4 pintu samping dan masuk ruangan
pintu keluar. aman

Kebersihan Kebersihan dan kerapian tata ruang Kebersihan dan


dan kerapian sangat bersih dan rapi pada lantai 1 dan kerapian tata
tata ruang lantai 2, namun tampak tumpukkan ruang tidak
sampah dekat pintu keluar berantakan dan
merintangi akses
jalan

Jaminan Tidak didapatkan informasi akan adanya Terdapat jaminan


keselamatan jaminan keselamatan peralatan, bahan, keselamatan
peralatan, dan benda-benda dalam ruangan. peralatan, bahan,
bahan dan dan benda –
benda – benda benda dalam
di dalam ruangan
ruangan

Tanda Tampak tanda-tanda peringatan pada Sudah Sesuai


peringatan tempat-tempat tertentu yang merupakan
tempat dengan resiko tinggi.

16
3.7 ALAT PELINDUNG DIRI
APD PENGAMATAN STANDART
Topi/ Berbahan kain, berguna Semua tenaga Semua
Penutup sebagai pengaman kerja pekerja
Kepala rambut dan penutup menggunakan mengunakan
(di ruang kepala dari bahaya penutup kepala tutup kepala
packaging) panas, api dan mesin tersebut.
juga bahan kimia,
kemudian agar tidak
terjadi kontaminasi
Masker Berwarna Putih Tidak semua Pekerja
(di ruang berbahan kain, dengan pekerja seharusnya
packaging) tali sebagai pengait, menggunakan menggunakan
berfungsi untuk masker, namun masker
menyaring cemaran untuk penggunaan dengan benar,
bahan kimia dan cegah masker juga belum yaitu
terhirupnya partikel- semua benar menutupi
partikel kecil. karena ada yang mulut dan
hanya menutupi hidung.
mulut
Sarung Berbahan kain, sebatas Semua pekerja Semua
Tangan pergelangan tangan, menggunakan pekerja sudah
(di ruang berfungsi untuk sarung tangan menggunakan
packaging) melindungi tangan dari yang dapat sarung tangan
goresan. melindungi dari sesuai
goresan. kebutuhan.

17
Sepatu Sepatu yang digunakan Semua pekerja Semua
(di ruang berwarna merah, sudah pekerja sudah
packaging) berbahan kanvas dengan menggunakan menggunakan
alas karet. Berguna sepatunya. sepatunya.
untuk melindungi kaki
dari benturan juga luka.

3.8 TANGGAP DARURAT DAN EVAKUASI

Gambar 2. Peta jalur evakuasi

Tanggap
Darurat & PENGAMATAN STANDART
Evakuasi
Fire Alarm Terdapat di semua ruangan, dan juga terdapat di Sudah Sesuai
luar ruangan, di setiap lorong
Emergency Terdapat di semua ruangan Sudah Sesuai
Lamp
Jalur Tangga darurat dan tangga umum, Pintu – pintu Sudah Sesuai
Evakuasi jalur evakuasi mudah terlihat dan semuanya

18
tidak ada yang ditemui dalam keadaan terkunci.
Jalur cukup terawat dengan baik, terbuka, tidak
terdapat benda yang membahayakan disekitar
area evakuasi, cukup lebar, dan untuk menuju
titik area evakuasi dapat menggunakan jalur
yang sudah ditandai dengan garis- garis kuning.
Rambu – Rambu – rambu yang menunjukan lokasi jalur Rambu-
Rambu evakuasi saru dengan yang lain terlalu berjarak. rambu
Jalur Rambu – rambu yang menunjukan lokasi jalur diletakkan
Evakuasi evakuasi cukup jelas, berwarna hijau dengan pada posisi
kondisi yang cukup baik. yang strategis
Hanya saja rambu – rambu ini kurang besar, dan
letaknya terlalu tinggi sehingga dapat tertutup diperbesar
asap saat terjadi kebakaran. tulisannya,
Peta jalur evakuasi juga jelas terdapat di setiap dan letaknya
ruangan. jangan terlalu
Tempat berkumpul Titik Point terdapat 3 tempat tinggi.
didekat parkiran namun tidak kosong melainkan Tempat
digunakan sebagai lahan parkir oleh beberapa berkumpul
pekerja. dikosongkan.
APAR ( Terdapat di setiap lorong, dalam keadaan baik, Sudah Sesuai
Alat terdapat cara penggunaan, maintenance nya
Pemadam dilaksanakan sesuai aturan, dimana seharusnya
Api Ringan) dilakukan pengecekan ulang setiap 6 bulan
sekali.

Setiap bagian / divisi di PT. Martina Berto memiliki tim yang bertanggung
jawab dalam keadaan darurat. Tim ini dilengkapi dengan HT, peralatan P3K,
absensi pekerja, dan bertugas untuk menyisir bagian / divisi masing – masing
untuk keluar dari gedung serta mengevakuasi dokumen – dokumen penting saat
terjadi keadaan darurat dan memastikan tidak adanya pekerja yang tertinggal.

19
Tim ini juga yang bertugas untuk segera melakukan absen di titik area evakuasi
yang terdapat di luar gedung. Seluruh Tim tanggap darurat rutin diberi pelatihan
K3 dan pelatihan keadaan darurat sekali dalam setahun, sedangkan pekerja
lainnya, dilakukan pelatihan keadaan darurat secara bergiliran setiap tahunnya.

3.9 KEJADIAN KECELAKAAN KERJA


PENGAMATAN STANDART
Angka kejadian Menurut PT. Martina Berto Seharusnya pihak
kecelakaan kerja Tbk angka kejadian pimpinan PT Martina
(saat ditanyakan ke kecelakaan kerja adalah Berto melakukan tahapan-
pihak PT. Martina nihil sepanjang tahun 2017. tahapan untuk mencegah
Berto) Menurut mereka, pegawai terjadinya kecelakaan
perusahaan taat terhadap kerja, yaitu melakukan
peraturan yang berkaitan promosi kesehatan, tidak
dengan keselamatan kerja lupa dengan dilakukan
sebagai salah satu juga evaluasi untuk
contohnya yaitu melihat apakah promosi
penggunaan alat pelindung kesehatan sudah berhasil.
diri. Dan apabila memang
Kami tidak mendapat data sedang dilakukan audit
yang menggambarkan yang sebenarnya
tingkat angka kejadian sebaiknya di utarakan
kecelakaan di perusahaan angka kejadiannya.
tersebut.
Angka kejadian Sudah dipasang spanduk Pihak pimpinan PT
kecelakaan kerja dan poster tentang Martina Berto sebaiknya
(setelah dilakukan keselamatan kerja dan melakukan kerja, yaitu
kunjungan peraturan tentang melakukan promosi
perusahaan) penggunaan alat pelindung kesehatan, seperti
diri di setiap bidang misalnya apa itu apd, dan
perusahaan. untuk apa

20
Masih banyak pegawai menggunakannya dan
yang belum tepat bagaimana caranya, dan
menggunakannya maupun saat sampai ke tahapan
tidak menggunakannya, evaluasi, benar-benar
sehingga memungkinan dievaluasi apakah ada
resiko terjadinya perubahan perilaku dari
kecelakaan kerja di pegawainya untuk
perusahaan tersebut. mencegah kecelakaan
kerja, seperti misalnya
penggunaan apd yg baik
dan benar.

3.10 PERSONIL KESELAMATAN KERJA


Pada perusahaan ini personil keselamatan kerja dibuat dalam bentuk panitia
yang disebut dengan P2K3, yaitu Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan
Kerja. Panitia ini memiliki spesifisikasi seperti berikut ini:
o Total P2k3 : 54 Orang
o Petugas P3K : 18 Orang
o Pelatihan : Tanggap Darurat untuk DAMKAR (Pemadam Kebakaran)
Emergency Respond Kecelakaan Kerja
o Sertifikasi P3K : PMI dan Disnakertrans
o Proses Kerjanya : Standby di masing masing Bagian di setiap lantai
o Bekerja sesuai kejadian darurat
o PJK3 : Sesuai kualifikasinya masing :
 AK3 Umum
 AK 3 Kimia, DAMKAR

21
BAB IV
PEMECAHAN MASALAH

Unit Kerja Permasalahan Dasar hukum Saran


Instalasi Listrik Beberapa lorong PERMENKERTRANS -Mengukur
yang dilallui No. intensitas cahaya
kurang PER.01/MEN/1980 dengan luxmeter
penerangan, Bab II Pasal 5.2 -Pengendalian
karena bohlam teknis –
tidak dipasang pemasangan
bohlam.
Sarana Tidak adanya Kepmenaker No- Disediakannya
Penanggulangan unit 186/Men/1999 unit
Kebakaran penanggulangan penanggulangan
kebakaran secara kebakaran secara
khusus. khusus yang
terdiri dari
Petugas peran
kebakaran, Regu
penanggulangan
kebakaran,
Koordinator unit
penanggulangan
kabakaran dan
Ahli K3 spesialis
penaggulangan
kebakaran
sebagai
penaggungjawab
teknis
Konstruksi Dari segi Undang-undang dasar no Ditambahkan
tempat kerja keselamatan 1 tahun 1970, undang- adanya informasi
konstruksi cukup undang no 18 tahun 1999 yang jelas untuk
baik namun masih tentang jasa konstruksi. akses keluar.
terdapat tanda
yang kurang
informatif
mengenai arah
untuk akses keluar

Alat pelindung Dari perusahaan Peraturan menteri tenaga Perusahaan


diri tersebut belum kerja dan transmigrasi RI bersedia
ditemukan nomor menyediakan APD
dokumen tertulis PER.08/MEN/VII/2010 yang sesuai dengan
(tertulis dalam tentang Alat Pelindung standard dan

22
SOP) standar APD Diri hazard yang ada di
yang digunakan lingkungan tempat
untuk masing- kerja. Selain itu
masing pekerjaan., lebih baik lagi
belum ada apabila sebelum
penjelasan memulai pekerjaan
(briefing) diberikan suatu
mengenai APD briefing singkat
mengenai
pentingnya APD
dan cara
penggunaan APD
yang baik dan
benar.

23
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Penatalaksanaan sistem K3 di PT. Martina Berto Tbk dari penilaian
keselamatan kerja secara umum sudah cukup baik, namun masih ada beberapa hal
yang harus ditingkatkan lagi agar dapat lebih mengurangi tingkat kejadian
kecelakaan kerja. Antara lain:
1. Belum tersedia SOP yang memadai untuk mencegah kecelakaan kerja dari
masing-masing kegiatan kerja.
2. Tidak dilakukan briefing rutin sebelum melakukan kerja yang mengingatkan
tentang pentingnya perhatian dan kehati-hatian setiap pekerja agar terhindar
dari kecelakaan kerja (safety induction).
3. Dari segi keselamatan konstruksi semuanya sudah cukup baik, namun akan
lebih baiknya apabila ditambahkan adanya informasi keselamatan peralatan,
bahan, dan benda-benda dalama ruangan.
4. Tidak semua pekerja dari PT. Martina Berto tbk. tersebut mengetahui cara
penggunaan alat-alat penanggulangan kebakaran.

5.2 SARAN
1. Menyediakan SOP yang memadai untuk mencegah kecelakaan kerja dari
masing-masing kegiatan kerja.
2. Melakukan briefing rutin sebelum melakukan kerja yang mengingatkan
tentang pentingnya perhatian dan kehati-hatian setiap pekerja agar terhindar
dari kecelakaan kerja (safety induction).
3. Ditambahkan adanya informasi keselamatan peralatan, bahan, dan benda-
benda dalama ruangan.
4. Jadwal rutin pelatihan penggunaan APAR, pengecekan APAR, dan evakuasi.

24
LAMPIRAN

25