Anda di halaman 1dari 34

I.

Judul Percobaan : Isolasi Minyak Jahe dari Rimpang Jahe


II. Hari, Tanggal Percobaan : Rabu, 28 Februari 2018, pukul 10.00 WIB
III. Selesai Percobaan : Rabu, 28 Februari 2018, pukul 15.30 WIB
IV. Tujuan Percobaan :
- Memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang
dikerjakan.
- Memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang
dikerjakan.
- Mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan cara yang tepat.

V. Dasar Teori
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan tanaman obat berupa tumbuhan
rumpun berbatang semu. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae),
satu famili dangan Temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma
xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit, (Curcuma domestica),
kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga), dan lain-lain. Jahe
merupakan rempah-rempah Indonesia yang sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari, terutama dalam bidang kesehatan. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang
tersebar dari India sampai Cina (Paimin F. d., 1991)
Jahe kering mempunyai kadar air 7-12%, minyak atsiri 1-3%, oleoresin 5-
10%, pati 50-55% dan sejumlah kecil protein, serat, lemak sampai 7% (Eze dan
Agbo dalam balittro litbang,2011). Sedangkan untuk rendemen yang dapat
dihasilkan dalam ekstraksi jahe yaitu untuk 1 ton jahe basah (154 kg jahe kering)
dihasilkan minyak jahe sebanyak 4 kg, dan memiliki spesifikasi sebagai berikut :
- Appearance = clear yellow with the characteristic odor and
flavor of ginger.
- Specific gravity = 0.8677 gram/mL (27oC)
- Refractive index = 1.471 (27 oC)
- Acid number = 0.4085 mg KOH/gram sample
- Ester number = 4.5545
- Kadar minyak jahe = 2,6 %
(Anonim, lipi, 2009)
Minyak atsiri adalah minyak yang dihasilkan dari bagian-bagian tanaman
atau hewan yang merupakan hasil proses metabolism yang berbau khas,
mempunyai rasa getir, larut dalam alcohol encer dan tidak larut dalam air (Wita,
2013).
Minyak jahe merupakan salah satu minyak atsiri yang dapat diisolasi dari
rimpang (akar) jahe sebanyak 1,5 - 3% dari berat jahe kering. Minyak jahe di
negara maju digunakan sebagai campuran pembuatan kosmetik, bahan penyedap
masakan tertentu dan sebagai obat. Senyawa penyusun minyak jahe terdiri dari α-
pinena, kamfena, 1,8-sineol, borneol, neral, geranial, α-kurkumina, α-zingeberena,
dan β-saskuipellandrena (Tim dosen kimia organic, 2018).

Pengertian Isolasi
Isolasi adalah suatu usaha bagaimana caranya memisahkan senyawa yang
bercampur sehingga dapat menghasilkan senyawa tunggal murni (Dwiyanti ;
tanpa tahun).
Isolasi bahan alam dapat dilakukan berdasarkan sifat bahan alam tersebut
dan dapat digolongkan menjadi isolasi cara fisis dan isolasi cara kimia.
a. Isolasi cara fisis Isolasi cara ini berdasarkan sifat fisik bahan alam, seperti
kelarutan dan tekanan uap. Isolasi berdasarkan perbedaan kelarutan bahan
alam dalam pelarut tertentu dapat dilakukan dingin atau pelarut panas.
Isolasi dengan pelarut dingin digunkan untuk mengisolasi bahan alam yang
larut dalam keadaan dingin. Tekhniknya dapat dilakukan dengan merendam
sumber bahan alamnya dalam pelarut tertentu selama beberapa lam (jam
atau hari). Untuk bahan alam yang larut dalam keadaan panas digunakan
teknik isolasi secara kontinyu dengan alat Soxlet.
b. Isolasi secara kimia Isolasi cara ini berdasarkan sifat kimia atau kereaktifan
bahan alam terhadap pereaksi tertentu. Bahan alam diisolasi melalui reaksi
kimia dan dipisahkan dari senyawa lain yang tidak bereaksi.

Secara kimiawi pada dasarnya kandungan senyawa dalam jahe ada dua jenis
yaitu senyawa mudah menguap (volatil) dan tidak mudah menguap (nonvolatil).
Aroma khas ini berasal dari minyak atsiri yang dikategorikan sebagai senyawa
mudah menguap. Minyak atsiri dalam jahe merupakan gabungan dari senyawa
terpenoid yang terdiri dari senyawa-senyawa seskuiterpena, zingiberena,
bisabolena, sineol, sitral, zingiberal, dan zingiberol. Zingiberal mengandung
gugus aldehid, dan zingiberol mengandung gugus hidroksida,-OH), felandren
(phellandrena), borneol, sitronellol, geranial, linalool, limonene, dan kamfena.
(Fakhrudin, 2008)
Ada tiga cara umum untuk mengambil komponen atsiri dari tumbuhan:
distilasi, ekstraksi dengan pelarut dan pengaliran udara atau aerasi (Robinson,
1995). Distilasi (distilasi uap) pada suhu kamar dapat menimbulkan penguraian.
Distilasi pada tekanan rendah dan suhu rendah memungkinkan terjadinya
peruraian oleh enzim, sehingga menimbulkan perubahan kandungan jaringan. Jadi
reaksi oksidasi menimbulkan masalah, distilasi dapat dilakukan dalam lingkungan
nitrogen. Cara ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan pada keadaan khusus
terutama untuk senyawa yang tidak begitu polar. Beberapa minyak atsiri yang
berbobot molekul rendah terlalu mudah larut dalam air untuk diekstraksi dengan
pelarut organik secara efisien.( Tim Dosen Kimia Organik,2018)

Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan zat terlarut dari dua pelarutnya yang
tidak dapat bercampur (unmiscible) (Underwood ; 1999). Berdasarkan bentuk
campuran yang diekstraksi, dapat dibedakan dua macam ekstraksi yaitu :
a. Ekstraksi padat-cair Jika substansi yang diekstraksi terdapat di dalam
campurannya yang berbentuk padat. Proses ini paling banyak ditemui di
dalam usaha untuk mengisolasi suatu substansi yang terkandung di dalam
suatu bahan alam. Oleh karena itu, hanya proses ektraksi ini yang akan
dibahas dalam bab ini.
b. Ekstraksi cair-cair Jika substansi yang diekstraksi terdapat di dalam
campurannya yang berbentuk cair.
Berdasarkan proses pelaksanaannya ekstraksi dapat dibedakan :
a. Ekstraksi yang berkesinambungan (Continous Extraction) Dalam
ekstraksi ini pelarut yang sama dipakai berulang-ulang sampai proses
ekstraksi selesai.
b. Ekstraksi bertahap (Bath Extraction) Dalam ekstraksi ini pada tiap tahap
selalu dipakai pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai.
Dalam percobaan ini akan dilakukan dengan menggunakan ekstraksi Soxhlet.
Peralatan ekstraksi Soxhlet terdiri dari kondensor (pendingin), ruang ekstraksi,
labu alas bulat, pemanas, klem, statif, tempat air masuk kondensor, tempat air
keluar kondensor, selang air, sifon, dan penangas.

Sumber : researchgate.net
Langkah-langkah menggunkan ekstraktor Soxhlet :
a. Bungkus bahan padat yang akan diekstrak dengan kertas saring.
b. Masukkan bahan padat pada tempatnya.
c. Masukkan pelarut pada tabung distilasi.
d. Rangkai alat Soxhlet sesuai gambar, jangan lupa menyambung
kondensor dengan kran air.
e. Panaskan tabung dengan refluks.
f. Suhu pemanas harus lebih rendah dari titik ddih senyawa yang akan
diekstraksi.
Setelah mencapai titik didihnya, pelarut tersebut akan menguap dan naik ke
atas. Ketika uap mencap kondensor, uap akan mengembun dan kemudian
membentuk tetesan-tetesan air. Tetesan air ini akan jatuh menuju ruangan tempat
bahan padat, sedikit demi sedikit. Ruagan bahan padat secara perlahan terus terisi
dengan tetesan pelarut. Hal ini memungkinkan senyawa-senyawa tertentu yang
diinginkan larut pada pelarut. Ketika pelarut telah memenuhi ruangan, bahan sifon
akan bekerja dan mengeluarkan seluruh pelarut menuju tabung distilasi kembali.
Bahan padat tidak ikut larut bersama padat dibungkus kertas saring agar material
pelarut. Satu siklus Soxhlet, berakhir ketika sifon mengeluarkan seluruh isinya
menuju tabung distilasi. Siklus tersebut akan dilakukan berulang-ulang hingga
seluruh senyawa yang diinginkan terekstraksi. Estraktor Soxhlet akan menghemat
penggunaan pelarut, karena dapat digunakan berulang-ulang. Senyawa yang telah
larut tidak akan ikut menguap saat dipanaskan karena refluks telah diatur dibawah
titik didihnya ( Anonim, edubio,2015).

Pemilihan Pelarut
Faktor yang paling penting menentukan berhasilnya proses ekstraksi adalah
mutu dari pelarut yang dipakai. Pelarut yang ideal, harus memenuhi syarat sebgai
berikut :
a. Harus dapat melarutkan semua zat yang diekstrak dengan cepat dan
sempurna.
b. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah
diuapkan tanpa menggunakan suhu tingggi. Hal ini akan
mengakibatkan hilangnya sebagian pelarut akibat penguapan yang terlalu
panas.
c. Pelarut tidak boleh larut dalam air (non polar).
d. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen
minyak.
e. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan
tidak akan tertinggal dalam minyak. f. Harga pelarut harus serendah
mungkin dan tidak mudah terbakar.
(Guenther ; 1987)
Karena hampir tidak ada pelarut yang memenuhi semua syarat diatas, maka
untuk setiap proses ekstraksi harus dicari pelarut yang paling sesuai. Beberapa
pelarut yang terpenting adalah: air, asam-asam organic dan anorganik,
hidrokarbon jenuh, toluene, karbon bisulfit, eter, aseton, hidrokarbon yang
mengandung khlor, isopropanol, etanol. (Bernasconi, 1995)
Pelarut minyak atau lemak yang biasa digunakan dalam proses ekstraksi
antara lain :
1. Etanol Sering digunakan sebagi pelarut dalam laboratorium karena
mempunyai kelarutan yang relatif tinggi dan bersifat inert sehingga tidak
bereaksi dengan komponen lainnya. Etanol memiliki titik didih yang
rendah sehingga memudahkan pemisahan minyak dari pelarutnya dalam
proses distilasi.
2. n-Heksana Merupakan pelarut yang paling ringan dalam mengangkat
minyak yang terkandung dalam biji–bijian dan mudah menguap sehingga
memudahkan untuk refluk. Pelarut ini memiliki titik didih antara 65–70
o
C.
3. Isopropanol Merupakan jenis pelarut polar yang memiliki massa jenis
0,789 g/ml. Pelarut ini mirip dengan ethanol yang memiliki kelarutan
yang relatif tinggi. Isopropanol memiliki titik didih 81-82oC.
4. Etyl Asetat Etil asetat merupakan jenis pelarut yang bersifat semi polar.
Pelarut ini memiliki titik didih yang relatif rendah yaitu 77oC sehingga
memudahkan pemisahan minyak dari pelarutnya dalam proses destilasi.
5. Aseton Aseton larut dalam berbagai perbandingan dengan air, etanol,
dietil eter,dll. Ia sendiri juga merupakan pelarut yang penting. Aseton
digunakan untuk membuat plastik, serat, obat-obatan, dan senyawa-
senyawa kimia lainnya.
6. Metanol Pelarut metanol merupakan pelarut yang paling banyak
digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam.

Indeks Bias
Indeks bias adalah perbandingan antara kecepatan cahaya dalam udara
dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias memiliki fungsi untuk
mengidentifikasi zat kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu 20oC dan
suhu tersebut harus benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat
mempengaruhi indeks bias. Nilai indeks bias dinyatakan dalam farmakope
Indonesia edisi empat dinyatakan garis (D) cahaya natrium pada panjang
gelombang 589,0 nm dan 589,6 nm. Umumnya alat dirancang untuk digunakan
dengan cahaya putih. Alat yang digunakan untuk mengukur indeks bias adalah
Refraktometer (Anonim, multimeter ; tanpa tahun).

Sumber : www.refraktometer.pl
 Rumus yang digunakan untuk menghitung rendemen :

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛
% rendemen = 𝑥 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

 Rumus yang dugunakan untuk menghitung kadar air :

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑜𝑣𝑒𝑛


𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 = 𝑥100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑎𝑤𝑎𝑙
VI. Alat dan Bahan
Alat-alat :
1. Satu set alat ekstraksi soxhlet
 Kondensor 1 buah
 Soxhlet 1 buah
 Kertas saring 1 buah
 Labu dasar bulat 1 buah
 Batu didih 1 buah
 Selang bening 2 buah
 Alat pemanas 1 buah
2. Evaporator 1 set
3. Gelas ukur 100 mL 1 buah
4. Gelas kimia 50 mL 1 buah
5. Gelas kimia 100 mL 1 buah
6. Sepatula 1 buah
7. Pipet tetes 3 buah
8. Kaca arloji 1 buah
9. neraca O’hause 1 buah
10. Oven 1 buah
11. Refraktometer 1 buah
12. Tali 2 helai

Bahan :
1. Natrium sulfat anhidrat 0,1 gram
2. Jahe kering 10 gram
3. Jahe segar 1 gram
4. Petroleum eter (n-heksana) 100 mL
VII. Alur Percobaan
1. Pembuatan serbuk jahe dan penentuan kadar air dalam jahe

Jahe segar yang


matang/cukup tua

- Dibersihkan dari kotoran yang melekat


- Ditimbang
- Dikeringkan

Jahe kering

- Digiling/dihaluskan

Serbuk Jahe

Penentuan kadar air

Jahe segar yang


matang/cukup tua

- Ditimbang sebanyak 1 gram


- Dioven pada suhu 1100C
- Ditimbang kembali
- Dicatat beratnya
- Diulangi pemanasan sampai diperoleh
berat yang konstan

Jahe kering
2. Penentuan rendemen dan indeks bias serbuk jahe

10 gram serbuk jahe

- Dimasukkan dalam pelarut


petrolium soxhlet
- Dimasukkan pelarut petrolium
eter sebanyak 100 mL ke dalam
labu ekstraktor tesebut (atau
disesuaikan dengan kapasitas
labu)
- Dilakukan ekstraksi sampai
terbentuk hasil ekstraksi

Hasil ekstraksi tidak berwarna


(hasil ekstraksi + petroleum eter)

- Diuapkan pelarutnya menggunakan


evaporator

Residu Filtrate

- Ditambah Na2SO4
Anhidrat
- Didekantasi

Residu Ekstrak
Gumpalan putih Minyak atsiri
Na2SO4*(nH2O) Jahe

- Dihitung rendemen
minyak jahe

Indeks bias Massa

Rendemen
VIII. Hasil Pengamatan
Hasil Pengamatan
No.Perc. Prosedur Percobaan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Sebelum Sesudah
1. Pembuatan serbuk jahe Rimpang jahe : Serbuk jahe =
kuning serbuk kuning tua
Jahe segar yang
matang/cukup tua aroma jahe

- Dibersihkan dari kotoran


yang melekat
- Ditimbang
- Dikeringkan
Jahe kering

- Digiling/dihaluskan

Serbuk Jahe
2. Penentuan rendemen dan indeks bias - Massa serbuk - Larutan n-heksana - Na2SO4 anhidrat + - Pada percobaan ini
serbuk jahe jahe : 10 g + ekstrak = 10 H2O Na2SO4 dilakukan cara
- Larutan n- berwarna kuning anhidrat.10 H2O soxletsi jahe dengan
10 gram serbuk jahe
heksana = - Pelarut nai ke metode ekstraksi
- Dimasukkan dalam larutan tidak rimpang jahe = 17 - Indeks bias n- sehingga didapatkan
pelarut petrolium soxhlet
berwarna kali heksana secara teori rendemen minyak
- Dimasukkan pelarut
petrolium eter sebanyak - Serbuk jahe = - Setelah dievaporasi = 1,375 jahe sebesar 5 % dan
100 mL ke dalam labu kuning tua minyak jahe - Indeks bias minyak indeks bias sebesar
ekstraktor tesebut (atau
- Na2SO4 = kuning kecokelatan jahe secara teori = 1,4866860.
disesuaikan dengan
kapasitas labu) serbuk putih - Setelah disuling 1,48-1,49 - Untuk n – heksan
- Dilakukan ekstraksi sampai - Massa Na2SO4 terpisah dan Sumber : 1,38143157
terbentuk hasil ekstraksi
= 1 gram terbentuk ( Anwar,et al.1994 ) - Nilai indeks bias pada
- V n- heksan = gumpalan minyak jahe sesuai
100 mL - Ekstrak + Na2SO4 - Rendemen minyak dengan teori dan n
: larutan kuning atsiri secara teori = heksan sesuai
Hasil ekstraksi tidak berwarna
kecokelatan ada 1,5 – 3 % mendekati teori tetapi
(hasil ekstraksi + petroleum eter)
endapan putih (Santoso,1989) massa rendemen tdak
- Indeks bias n- sesuai. Hal tersebut

X heksana secara dapat terjadi karena


X praktikum beberapa hal, salah
1,38143157 satunya kurang
- Diuapkan pelarutnya
menggunakan evaporator - Indeks bias minyak lamanya proses
jahe secara evaporasi.
Residu Filtrate praktikum
1,4866860

- Ditambah Na2SO4 Anhidrat - Massa rendemen =


- Didekantasi 0,5 gram
- Rendemen =
𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘
× 100 %
Residu Ekstrak 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Gumpalan putih Minyak atsiri 0,5
Na2SO4*(nH2O) Jahe = × 100 %
10
=5%

X
X

Massa Indeks bias

- Dihitung rendemen minyak jahe

Rendemen

3. Penentuan kadar air - Rimpang jahe : - Massa jahe setelah Kadar air pada jahe - Percobaan yang tela
kuning dioven : pada jahe segar dilakukan diperoleh
Jahe segar yang
matang/cukup tua - Massa jahe M1 = 0,6 g secara teori 85-91 % berat jahe konstan
segar = 1 gram M2 = 0,4 g (Rochman,1996) sebesar 0,3gram dan
- Ditimbang sebanyak 1 gram
- Dioven pada suhu 1100C M3 = 0,3 g diperoleh kadar air
- Ditimbang kembali M4 = 0,3 g pada jahe segar
- Dicatat beratnya Massa jahe konstan sebesar 70 %.
- Diulangi pemanasan sampai
diperoleh berat yang konstan = 0,3 gram

Jahe kering Kadar air jahe =


1 − 0,3
× 100 %
1
0,7
= × 100 %
1
= 70 %
X. Analisis dan Pembahasan
Pada Percobaan kali ini yaitu dengan judul “Isolasi minyak jahe dari
rimpang jahe (Zingiber officinale)” adalah percobaan yang membahas tentang cara
membuat minyak atsiri dari rimpang jahe dengan metode ekstraksi cara soxhletasi.
Tujuan dari percobaan ini adalah memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan
percobaan yang dikerjakan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan
percobaan yang dikerjakan, dan mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan
cara yang tepat.
Pada percobaan ini tidak dapat digunakan teknik isolasi secara maserasi
karena senyawa organik berupa minyak jahe yang terkandung dalam serbuk jahe
tersebut berada dalam jumlah kecil. Teknik isolasi yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu soxhletasi, dimana pelarut yang digunkan harus dalam keadaan
panas dan mudah menguap sehingga diharapkan dapat megisolasi senyawa organik
(minyak jahe) secara lebih efisien. Prinsip soxhletasi yaitu penyaringan yang
berulang-ulang (continous extraction) dengan pelarut yang sama, sehingga semua
komponen yang diinginkan dalam sampel terisolasi dengan sempurna sehingga
didapat hasil maksimal dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Pelarut yang
umumnya digunakan ada 2 jenis yaitu heksana (C6H14) untuk sampel kering dan
metanol (CH3OH) untuk sampel basah. Pada percobaan kali ini digunakan pelarut
n-heksana untuk melarutkan ekstrak minyak jahe pada jahe kering.
Pemisahan minyak jahe dari rimpang jahe dilakukan dengan metode
ekstraksi dengan cara soxhletasi. Ekstraksi adalah pemisahan suatu atau beberapa
bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas
dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran.
Alat ekstraksi yang digunakan dalam percobaan ini yaitu alat ekstraksi soxhlet atau
yang biasa disebut ekstraktor soxhlet. Ekstraktor soxhlet adalah alat yang
digunakan untuk mengekstraksi suatu senyawa dari material padatnya dengan
menggunakan pelarut cair. Hasil ekstraksi kemudian diuapkan dengan evaporator
agar dapat diperoleh minyak jahe yang telah terpisah dari komponen-komponennya
dan juga telah terpisah dari pelarutnya. Evaporator adalah sebuah alat yang
berfungsi untuk mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari suatu
larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator memiliki dua prinsip dasar, untuk
menukar panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari cairan
Sebelum percobaan dilakukan, terlebih dahulu disiapkan alat dan bahan
yang diperlukan. Pada tahap ini pastikan alat-alat yang akan digunakan telah bersih.
Hal ini dilakukan agar tidak ada zat pengotor dalam percobaan yang dapat
mempengaruhi hasil akhir. Tahap percobaan ini diawali dengan pembuatan serbuk
jahe, kemudian penentuan rendemen minyak jahe, indeks bias minyak jahe, dan
yang terakhir adalah penentuan kadar air dalam jahe.
1. Pembuatan Serbuk Jahe
Percobaan pertama yaitu pembuatan serbuk jahe. Langkah pertama yang
harus dilakukan adalah menyiapkan rimpang jahe yang akan dibuat serbuk. Jahe
yang digunakan dalam percobaan ini adalah jahe emprit. Jahe emprit memiliki
ruas yang kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu
dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada
jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini
cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak
atsirinya.
Jahe yang telah dipilih kemudian dibersihkan dengan air bersih agar kotoran
yang melekat pada rimpang jahe terpisah, sehingga jahe yang akan digunakan
tidak tercampur zat-zat lain yang dapat mempengaruhi percobaan ini. Setelah itu
jahe yang telah dibersihkan dipotong kecil-kecil dengan menggunakan pisau lalu
dikeringkan sampai kering. Proses pegeringan bertujuan untuk mengurangi
kadar air dalam jahe agar jahe dapat terisolasi secara maksimal. Jahe yang sudah
kering kemudian dihaluskan hingga berbentuk serbuk jahe. Tujuan dari
mengubah jahe menjadi serbuk adalah untuk memperluas permukaan jahe
sehingga dapat mempercepat terjadinya ekstraksi/reaksi. Hal ini sesuai dengan
teori yang menyatakan bahwa semakin luas permukaan zat maka akan semakin
banyak tumbukan yang terjadi sehingga mempercepat reaksi dan proses
pengekstrakkan akan berjalan dengan cepat.
Serbuk jahe yang telah dibuat ini kemudian digunakan untuk percobaan
selanjutnya yaitu untuk menghitung rendemen minyak jahe, indeks bias minyak
jahe dan penentuan kadar air dalam jahe.
2. Penentuan Rendemen dan Indeks Bias minyak Jahe
Percobaan kedua yaitu menentukan rendemen dan indeks bias dari
serbuk jahe. Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan serbuk jahe yang
akan digunakan untuk percobaan lalu menimbang serbuk jahe seberat ± 10 gram
untuk proses ekstraksi. Setelah itu serbuk jahe dimasukkan dalam kertas saring
yang telah digulung dan salah satu ujungnya telah diikat sehingga menyerupai
sebuah bungkus, jika semua serbuk jahe itu telah masuk ke bungkus dari kertas
saring tersebut, ujung kertas saring yang digunakan untuk memasukkan serbuk
jahe itu kemudian diikat dengan kencang sehingga serbuk jahe tidak dapat keluar
dari bungkus tersebut. Fungsi bungkus kertas saring tersebut adalah untuk
menggantikan porous timble yang berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang
ingin diambil zatnya. Jahe serbuk yang telah terbungkus kemudian dimasukkan
dalam alat ektraktor, hal yang harus diperhatikan saat memasukkan sampel
kedalam alat ekstraksi adalah tinggi sampel (bungkusan serbuk jahe) hendaknya
memenuhi bagian dalam soxhlet namun tidak boleh melebihi aliran air dalam
alat ektraksi atau tidak melebihi batas pipa yang berada disamping alat ekstraksi
agar sampel terendam sepenuhnya dalam pelarut dan terekstrak secara maksimal,
pelarut yang digunakan dalam percobaan ini adalah n-heksana.
Langkat kedua yaitu mengambil pelarut yang akan digunakan untuk
mengekstrak serbuk jahe sebanyak 100 mL, elarut yang digunakan adalah n-
heksana. N-heksana adalah pelarut organik non-polar dan sering digunakan
untuk melarutkan senyawa dengan sifat kepolaran yang sama, minyak jahe larut
dalam pelarut n-heksana karena senyawa yang terkandung dalam minyak jahe
adalah senyawa non-ionik yang memiliki gugus non-polar sehingga dapat larut
dalam larutan n-heksana. Tujuan penggunaan pelarut n-heksana untuk
memudahkan proses pemisahan dan pemurnian antara minyak atsiri jahe dengan
larutan n-hksana itu sendiri karena adanya perbedaan titik didih yang jauh antara
minyak jahe dan larutan n-heksana, dalam hal ini n-heksana merupakan larutan
yang mudah menguap yang memiliki titik didih sebesar 690C dan senyawa
dalam minyak jahe memiliki titik didih sebesar 134-1350C.
Pengambilan pelarut dilakukan dengan cara mengambil larutan n-
heksana dalam botol dituangkan dalam gelas kimia, hal ini dilakukan agar
larutan n-heksana didalam botol tidak terkontaminasi jika diambil langsung
dengan menggunakan pipet. Pelarut tersebut kemudian dimasukkan dalam gelas
ukur 100 mL sampai larutan n-heksana mencapai batas garis 100 mL lalu
dimasukkan dalam labu dasar bulat.
Langkah selanjutnya yaitu merangkai alat ekstraksi soxhlet seperti
gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1 Alat Ekstraksi Soxhlet


Serbuk jahe dalam bungkusan dimasukkan didalam pipa dalam
soxhlet (A) kemudian disambungkan dengan labu dasar bulat yang
telah berisi 100 mL larutan n-heksana dan batu didih (C). Fungsi dari
penambahan batu didih adalah untuk meratakan panas sehingga panas
menjadi homogen pada seluruh bagian larutan dan untuk menghindari
titik lewat didih. Pori-pori yang ada dalam batu didih membantu
penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan
larutan, hal ini akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung
kecil pada batu didih. Setelah itu memasang kondensor (D) sebagai
pendingin uap agar uap yang tidak keluar ke udara bebas tetapi dapat
menjadi cairan kembali. Setelah alat terangkai kemudian diletakkan
dalam pemanas yang berfungsi untuk memenaskan pelarut n-heksana
supaya menjadi uap. Pemanas yang digunakan adalah heating mantle
karena dapat menjaga suhu pemanasan tetap konstan. Setelah itu
memasang selang air yang berfungsi untuk mengalirkan air dari keran
ke pipa dalam alat ekstraksi untuk mempercepat proses pendinginan
uap agar menjadi cairan kembali. Setelah alat terpasang sempurna
pemanas mulai dinyalakan agar proses ekstraksi dapat berjalan.
Saat proses ekstraksi berlangsung pelarut yang digunakan
mulai mendidih, lalu gas (uap) melewati tabung (E) lalu akan
dikondensasikan oleh kondensator (D), dan pelarut yang
dikondensasikan jatuh kedalam “Porous Thimble” (bungkusan serbuk
jahe) sehingga larutan berwarna kuning yang berasal dari serbuk jahe
dan secara perlahan mengisi bagian dari Soxhlet. Ketika pelarut
mencapai puncak pipa (F), pelarut tersebut akan kembali ke labu (C)
sehingga mengakibatkan larutan dalam labu (C) yang semula tidak
berwarna menjadi berwarna kuning jernih, proses ini dinamakan 1
siklus. Proses ini akan terulang secara otomatis sampai ekstraksi selesai
yang ditandai dengan warna larutan dalam bagian (A) tidak berwarna
lagi. Dengan demikian menghilangkan kandungan serbuk jahe dalam
bagian (A).
Pada percobaan kali ini diperoleh hasil sebanyak 17 tetes air
yang jatuh atau 17 siklus. Semakin banyak jumlah cairan yang jatuh
menunjukkan luas permukaan jahe semakin kecil sehingga dibutuhkan
waktu lebih lama untuk bereaksi. Pada ekstraksi ini diperoleh ekstrak
yang berwarna kuning, kemudian alat soxlet di lepas untuk mengambil
serbuk jahe. Setelah itu larutan dalam labu bulat dasar didinginkan,
ketika sudah dingin e kstrak minyak jahe dalam labu bulat dasar itu
kemudian diuapkan agar larutan n-heksana memisah dari minyak jahe.
Proses penguapan larutan dilakukan dengan menggunakan alat yang
disebut sebagai evaporator. Evaporator adalah alat yang digunakan
untuk menguapkan pelarut dari campuran yang terdiri atas zat terlarut
yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Labu
dasar bulat itu kemudian dipasangkan dengan evaporator seperti
gambar 2.
Gambar 2 Alat Evaporator
Saat labu sudah terpasang erat dengan alat, alat tersebut kemudian
dinyalakan. Suhu diatur sebesar 30°C, dan rotation sebesar 70 rpm.
Pada suhu tersebut n-heksana akan menguap dan terpisah dari minyak
jahe, karena dengan evaporator n-heksana akan menguap sebelum
mecapai titik didihnya. N-heksana dapat menguap terlebih dahulu
karena titik didih n-heksana lebih rendah dibandingkan titik didih
minyak jahe, sehingga pelarut dalam campuran menguap menjadi uap
lalu didinginkan dengan pipa yang dialiri air sehingga uap tersebut
akan mencair lalu jatuh dalam labu dibawah pendingin. Dalam hal ini
pelarut n-heksana akan kembali terbentuk sebagai larutan tidak
berwarna. Kemudian proses ini dihentikan saat ekstrak minyak jahe
sudah mencapai volume yang sangat sedikit dan sedikit mengental.
Kedua labu yang besisi minyak jahe dan larutan n-heksana kemudian
diambil.
Kemudian minyak jahe yang berada pada labu dasar bulat di
tuangkan ke dalam gelas kimia, setelah itu ditambahkan 0,5 gram
serbuk Na2SO4 anhidrat yang berwarna putih. Penambahan natrium
sulfat anhidrat ini berfungsi untuk mengikat air yang masih terdapat
dalam minyak jahe sehingga dihasilkan minyak atsiri (minyak jahe)
dengan kemurnian cukup tinggi, karena natrium sulfat anhidrat
memiliki kapasitas penyerapan air yang tinggi.
Reaksi yang terjadi yaitu:
Na2SO4 anhidrat + 10 H2O Na2SO4. 10 H2O
(T < 32,4)
Setelah minyak jahe di tambah Na2SO4 anhidrat untuk
mengikat air, minyak jahe diaduk hingga rata, setelah itu minyak jahe
di dekantasi ke dalam wadah lain suapaya minyak jahe terpisah dengan
Na2SO4 anhidrat, sehingga diperoleh minyak jahe yang murni. Minyak
jahe dalam wadah tersebut kemudian ditimbang untuk menghitung
rendemen dalam jahe dan didapatkan berat minyak jahe sebesar 0,5
gram. Setelah itu menghitung rendemen minyak jahe dengan
menggunakan rumus:
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑗𝑎ℎ𝑒
𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛 = × 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘 𝑗𝑎ℎ𝑒
Sehingga diperoleh hasil rendemen minyak sebesat 5 %. Hasil ini
belum sesuai degan teori yang menyatakan bahwa rendemen dalam
jahe berkisar antara 1,5-3% dari berat sampel jahe (santoso, 1989).
Penyebab terjadinya perbedaan hasil eksperimen dengan toeri yang
sudah ada akan di jelaskan lebih lengkap pada bagian diskusi.
Langkah selanjutnya yaitu menentukan indeks bias pada minyak
jahe dan pelarutnya yaitu n-heksana. Indeks bias adalah perbandingan
antara kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam
gas. Indeks bias juga merupakan perbandingan antara kecepatan
cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya di dalam zat tersebut
pada suhu tertentu. Alat yang digunakan untuk mengukur indeks bias
adalah alat reftaktometer. Alat refraktometer ini menggunakan prinsip
Hukum Snwllius mengenai pemantulan cahaya.
Pengukuran indeks bias dilakukan untuk memeriksa kembali
kemurnian minyak jahe yang didapatkan. Langkah pertama yang
dilakukan adalah menyiapkan aquades, larutan n-heksana dan minyak
jahe. Setelah itu menyiapkan alat refraktometer yang akan digunakan
untuk mengukur indeks bias. Sebelum dilakukan pengukuran alat
tersebut harus dipastikan bahwa plat pada alat tersebut bersih yaitu
dengan dicuci, dengan cara ditetesi dengan aquades kemudian dilap
dengan searah sampai kering. Kemudian diteteskan sampel yang akan
diuji yaitu minyak jahe pada plat kaca alat pengukur indeks bias
(refraktometer), setelah itu disesuaikan cahayanya melalui tanda silang
yang terlihat. Indeks bias dapat diketahui saat bagian atas tanda silang
terlihat terang dan bagian bawah tanda silang terlihat gelap. Angka
yang terlihat pada alat refraktometer saat keadaan itulah adalah nilai
indeks bias dari larutan yang diuji. Setelah itu plat kaca dibersihkan
dengan aquades lagi kemudian mulai untuk mengukur indeks bias pada
n-heksana dengan cara yang sama. Dalam percobaan kali ini
didapatkan indeks bias minyak jahe sebesar 1,466860 hal ini sesuai
dengan teori yaang menyatakan bahwa indeks bias minyak jahe adalah
sebesar 1,48-1,49 (anwar, at al, 1994). Sedangkan indeks bias n-
heksana adalah sebesar 1,3843157. Nilai dari indeks bias ini sangat
mendekati indeks bias n-heksana secara teoritis yaitu sebesar 1,375
(anwar, et al, 1994).

3. Penentuan Kadar Air Serbuk Jahe


Percobaan ketiga adalah penentuan kadar air pada rimpang
jahe. Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang rimpang
jahe seberat 1 gram. Langkah selanjutnya rimpang jahe yang sudah di
timbang dimasukkan dalam oven dengan suhu sebesar 1100C selama 5
menit. Setelah 5 menit rimpang jahe diambil kemudian ditimbang
kembali sehingga didapatkan massa rimpang jahe yang sudah di oven
sebesar 0,6 gram. Hal ini diulangi sampai diperoleh massa serbuk jahe
konstan. Massa konstan yang didapatkan pada percobaan ini adalah
seberat 0,3 gram.
Massa Serbuk
Perlakuan
Jahe
Massa awal 1,0 gram
Pengovenan 1 0,6 gram
Pengovenan 2 0,4 gram
Pengovenan 3 0,3 gram

Pengovenan 3 0,3 gram

Massa Konstan 0,3 gram


Setelah itu menghitung kadar air serbuk jahe dengan menggunakan
persamaan berikt:
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 𝐽𝑎ℎ𝑒 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙
Pada percobaan ini kadar air pada rimpang jahe yang diperoleh adalah
sebesar 70%. Kadar air ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
kadar air pada jehe segar sebesar 85-91% (Rochman, 1998).

XI. Diskusi
Pada pecobaan isolasi minyak jahe dari rimpang jahe yang telah dilakukan
diperoleh hasil massa minyak jahe sebear 0,5 dan rendeman sebesar 5%. Hasil ini
tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa rendemen minyak jahe dari
rimpang jahe sebesar 1,5% - 3,33% (santoso, 1989). Penyebab dari ketidak
sesuaian hasil percobaan dengan teori adalah sebagai berikut:
1. Kurang lamanya evaporator atau penguapan dari eksatrak minyak jahe
sehingga dalam minyak jahe masih terdapat pelarut berupa n-heksana.
2. Kurang lamanya pengovenan Na2SO4 anhidrat sehingga ketika Na2SO4
anhidrat di campurakan dalam minyak jahe tidak sempurna menyerap air
yang terkandung dalam minyak jehe, sehingga dalam minyak jahe masih
terdpat air.

XII. Simpulan
Pada pecobaan diperoleh beberapapa kesempilan sebagai berikut:
1. Proses isolasi minyak jahe dalam skala laboratorium dapat
menggunakan peralatan yang memang digunakan untuk proses
ekstraksi minyak atsiri yaitu satu set alat ekstraksi soxhlet yang terdiri
dari pemanas (heating mantel), labu dasar bulat yang berisi pelarut,
alat ekstraksi soxhlet sebagai tempat sampel, serta pendingin untuk
mendinginkan uap yang panas. Untuk mendapatkan minyak atsiri
diperlukan evaporator dengan menerapkan prinsip sederhana yaitu
perbedaan titik didih pelarut dan hasil ekstraksi. Refraktometer unutk
mengukur kemurnian minyak atsiri rimpang jahe ditinjau dari indeks
biasnya.
2. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk isolasi minyak jahe adalah
serbuk jahe yang sudah kering, Na2SO4 anhidrat, serta larutan n-
heksana sebagai pelarut dengan titik didih yang rendah melarutkan
persenyawaan dalam serbuk kering jahe emprit.
3. Cara yang dilakukan untuk isolasi minyak jahe dari rimpang jahe
yaitu dengan prinsip perbedaan titik didih antara pelarut dan hasil
ekstraksi (minyak atsiri rimpang jahe).
XIII. Daftar Pustaka
Anonim. 2009 . http://kimia.lipi.go.id/?page_id=5&mode=detail&ID=225 .
Diakses pada tanggal 03 Maret 20187 pukul 22:00 WIB.
Anonim. 2015. www.edubio/2015/01/metode-ekstraksi-denganekstraktor-html.
Diakses pada tanggal 03 Maret 2018 pukul 22:00 WIB.
Anonim. Tanpa Tahun. https://multimeter-digital.com/refraktometerdan-
kegunaanya.html. Diakses pada tanggal 03 Maret 2018 pukul 21:25 WIB
Bernasconi, G. (1995). Teknologi Kimia Bagian 2. terjemahan lienda handojo.
Jakarta: PT. Pradnya Paramitha.
Dwiyanti, Gebi. Tanpa Tahun. File-upiedu/Direktori/FMIPA/Jur.Pend kimia/
19561206198303-GEBI-DWIYANTI/Bahan ajar-1-pdf. Diakses pada
tanggal 03 Maret 2018 pukul 21:00 WIB.
Guenter, Ernest. 1987. Minyak Atsiri Jilid 1. Terjemahan S. Keteran. Jakarta : UI-
Press.
Paimin, F. d. (1991). Budidaya,Pengolahan Jahe. Jakarta: Penebar Swadaya.
Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB
Tim dosen kimia organik. 2018. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Organik.
Surabaya : FMIPA UNESA.
Underwood, A.L & R.A Day. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif. Terjemahan oleh
Iis Sopyan. Jakarta : Erlangga.
Wita, Mulia, dkk. 2013. Teknologi Isolasi Minyak Atsiri. http: //www.academia-
edu. Diakses pada tanggal 03 Maret 2018 pukul 20:00 WIB
Pertanyaan
1. Jelaskan secara singkat prinsip kerja ekstraksi soxhlet yang digunakan
dalam percobaan ini!
2. Bilamana pemisahan pelarut menggunakan alat evaporator? Berikan
alasan!
3. Berdasarkan hasil rendemen minyak atsiri yang anda peroleh, apakah cara
pengeringan dan penghalusan serbuk jahe berpengaruh pada hasil?
Jelaskan!
4. Apa fungsi Na2SO4 anhidrat dalam percobaan ini? Jelaskan!
5. Sebutkan minimal lima senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri jahe
dan tuliskan rumus strukturnya!
Jawaban
1. Prinsip kerja metode ekstraksi soxhlet adalah ekstraksi dengan pelarut
organik (seperti n-heksan), lalu pelarut diuapkan dan dikondensasikan
lewat kondensor, setelah itu pelarut akan membasahi dan
mengekstraksi bahan (serbuk jahe) hingga pelarut turun kembali dan
hasil ekstraksi akan bercampur kedalam pelarut di dalam labu.
2. Pemisahan pelarut menggunakan alat evaporator dilakukan bilamana
antara pelarut dengna hasil ekstrak memiliki perbedaantitik didih,
sehingga pelarut akan diuapkan dan hasil ekstraksi akan tertinggal.
3. iya berpengaruh, apabila suhu yang digunakan dalam pengeringan
terlalu tinggi akan merusak struktuk minyak jahe dan semakin halus
serbuk jahe yang diperoleh maka akan semakin maksimal proses
ekstraksi yang terjadi karena semakin luas permukaan sentuhan maka
akan akan semakin banyak minyak jahe yang terekstrak..
4. Fungsi Na2SO4 anhidrat dalam percobaan ini adalah mengikat
molekul air. Molekul air yang dimaksud adalah molekul air yang
tersisa atau yang tidak sengaja bercampur dengan hasil ekstraksi
sehingga hasil ekstraksi bisa benar – benar murni.
5. Senyawa dalam minyak atsiri jahe
Lampiran Perhitungan

1. Rendemen minyak jahe


𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘
Rendemen minyak jahe = x 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
0,6
= gram x 100%
10

=6%
Kadar air pada jahe kering
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑚𝑢𝑙𝑎 𝑚𝑢𝑙𝑎−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑎ℎ𝑒 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
Kadar air pada jahe kering = x 100 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑢𝑙𝑎 𝑚𝑢𝑙𝑎
1 𝑔𝑟𝑎𝑚−0,3 𝑔𝑟𝑎𝑚
= x 100 %
1 𝑔𝑟𝑎𝑚
0,7𝑔𝑟𝑎𝑚
= 10 𝑔𝑟𝑎𝑚 x 100 %

= 70 %
Lampiran Gambar

No Percobaan Gambar Keterangan


1 Pembuatan Serbuk jahe yang
serbuk jahe digunakan untuk
praktikum

2 Penentuan 10 gram serbuk jahe


rendemen dan dimasukkan dalam kertas
indeks bias saring yang telah diikat
serbuk jahe salah satu ujungnya
dengan tali.

Serbuk jahe dalam kertas


saring yang telah diikat
kedua ujungnya.
Serbuk jahe yang telah
digulung dengan kertas
saring dimasukkan dalam
soxlet

Rancangan set ekstraksi


dengan metode soxhlesi
dengan gulungan serbuk
jahe dalam soxlet dan
pelarut n-Heksana dalam
dasar labu bulat.

n-heksana yang telah


bereaksi dengan serbuk
jahe meghasilkan larutan
bewarna kuning.
Ekstraksi dihentikan saat
n-heksan dan serbuk jahe
yang telah bereaksi dalam
soxlet tidak berwarna.

Hasil ekstrasi minyak jahe

Set alat evaporasi


Proses penguapan pelarut
n-heksana dengan alat
evaporasi.

Minyak astiri yang


diperoleh dari ekstraksi

Minyak astiri ditambah


Na2SO4 anhidrat
Menimbang berat minyak
atsiri setelah didekantasi.

Menentukan indeks bias


dari minyak atsiri dengan
reflaktometer

3 Penentuan kadar 1 gram jahe segar


air ditimbang untuk
menentukan kadar air.
setelah itu dioven sampai
diperoleh massa jahe yang
konstan.

Anda mungkin juga menyukai