Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR KIMIA MEDISINAL

SEMESTER GANJIL 2015 - 2016

PENGARUH PH DAN PKA TERHADAP IONISASI DAN


KELARUTAN OBAT

Hari / Jam Praktikum : Kamis / 13.00-16.00

Tanggal Praktikum : 1 Oktober 2015

Kelompok :1

Asisten : Dewi Permatasari


Savira Silma A

YENI ANDRIYANI SETIAWAN


260110150044

LABORATORIUM KIMIA MEDISINAL


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015
PENGARUH PH DAN PKA TERHADAP IONISASI DAN KELARUTAN OBAT

ABSTRAK

ABSTRACT
I. Tujuan
Mengamati pengaruh pH terhadap ionisasi obat.
II. Prinsip
1. pH
Satuan derajat keasaman (acidity) atau kebasaan (alkalinity) suatu
larutan (Gunawan, 1999).
2. pKa
pKa adalah logaritma negative (log-) dari tekanan ionisasi asam (ka)
(Aryani, 2005).
3. Persamaan Henderson-Hasselbach
Menjelaskan hubungan antara pH, pKa dan konsentrasi asam lemah
serta basa konjungasinya, persamaan Handerson-Hasselbach adalah:
[𝑔]
pH = pKa + log [𝑎]
[𝑔]
pOH = pKb + log [𝑏]

Ka = tetapan ionisasi asam lemah; pKa = -log Ka


Kb = tetapan ionisasi basa lemah; pKb = -log Kb
[g] = konsentrasi molar garam
[a] = konsentrasi molar asam
[b] = konsentrasi molar basa (Sumardjo, 2009).
III. Reaksi

1. O OH O
O CH3 + Na2H2PO4 + CH3-C-O-CH2-CH3

(Asam Salisilat) O (Svehla, 1985).


2. O OH O

O CH3 + HCl + CH3-C-O-CH2-CH3

O (Svehla, 1985).

3. OH
O

+ NaH2PO4 + CH3-C-O-CH2-CH3
O

H N CH3

(Paracetamol) (Svehla, 1985).

4. OH

+ HCl + CH3-C-O-CH2-CH3

H N CH3 (Svehla, 1985).


5. H N H
O

+ HCl + CH3-C-O-CH2-CH3

OH

(p-aminofenol) (Svehla, 1985)

6. H N H

+ NaH2PO4 + CH3-C-O-CH2-CH3

OH (Svehla, 1985)

IV. Teori Dasar


Kekuatan asam bergantung pada jumlah ion hydrogen yang
dibebaskan jika asam mengalami ionisasi, dan hal ini bergantung pada
derajat ionisasi (𝛼), pada setiap konsentrasi yang diberikan. Tetapan
kesetimbangan untuk disosiasi asam memberikan ukuran jauhnya
kesetimbangan ionisasi bergerak kearah kanan atau kebagian produk.
Kb memberikan ukuran kekuatan basa dan sama halnya dengan Ka,
semakin besar nilai numeric Ka semakin kuat kebasaannya. Untuk
menyatakan kekuatan asam dan basa, seringkali berguna dan lebih baik
dengan menggunakan istilah yang sama, pKa, dan hal ini dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan kesetimbangan yang terjadi
antara asam dan basa konjungasinya (Cairns, 2004).
pH suatu larutan adalah ion negative konsentrasi ion hydrogen.
Konsentrasi ion hydrogen [H+] menentukan keasaman larutan yang
dinyatakan dalam pH (Marks, et al, 2012).
pH mempengaruhi aktivitas antioksidan. Asam lebih maksimum
bekerja pada pH 4-5 dibandingkan pH netral. Partisi pada fase air
memungkinkan adanya penurunan aktivitas antioksidan polar
hidrofobik pada pH rendah tersebut (Fatimah, 2008).
Sebagian besar obat merupakan elektrolit lemah, yaitu asam atau
basa lemah. Besarnya ionisasi dari elektrolit lemah tergantung dari pKa
dan pH lingkungan obat tersebut (Soekardjo, 1995).
Pengukuran pH diperlukan untuk berbagai kebutuhan dibidang
pertanian, kedokteran, kosmetik, serta biomedik. Salah satu alat untuk
mengukur pH yaitu kertas lakmus. Jika kertas lakmus berwarna biru
digunakan untuk mengukur pH disuasana asam, sedangkan kertas
lakmus merah digunakan untuk mengukur pH dengan suasana basa.
Prinsip kerjanya sederhana, yaitu dengan melihat perubahan warna
lakmus (Martin, 2012).
Membran biologis lebih permeable terhadap bentuk model yang
tidak terionisasi daripada bentuk ion. Dengan mengetahui nilai pKa
suatu obat dan pH tempat obat terlarut maka akan diketahui jumlah obat
yang tidak teronisasi, dengan menggunakan persamaan Henderen-
Hasselbach sebagai berikut:
100
%ionisasi = 1+𝑎𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 (𝑝𝐾𝑎−𝑝𝐻)

Selain untuk memprakirakan kemampuan suatu obat untuk


menembus membran biologis pada pH tertentu, nilai pKa obat juga
dapat digunakan untuk memprakirakan kelarutan obat pada pH tertentu,
sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan formulasi sediaan
farmasi (Aryani, 2005).

Penetapan nilai pKa suatu obat dapat dilakukan dengan metode


spektrofotometri lembayung ultra. Metode spektrofotometri dapat
digunakan untuk menentukan nila pKa bila spectrum serapan dari
bentuk yang terionisasi (A-) dan bentuk molekul (HA) berbeda.
Pengukuran nilai pKa yang paling sederhana adalah dengan mengukur
pH larutan sebagai fungsi dari konsentrasi relative dari asam atau basa
kuat yang ditambahkan ke dalam larutan (Aryani, 2005).

Perhitungan dengan Persamaan HendersonHasselbach adalah


persamaannya sebagai berikut:

[𝐺]
pH= pKa + log [𝐴]

[𝐺]
pOH= pKa + log[𝐵]

Keterangan:
Ka = tetapan ionisasi asam lemah; pKa = -log Ka
Kb = tetapan ionisasi basa lemah; pKb = -log Kb
G = konsentrasi molar garam
A = konsentrasai molar asam
B = konsentrasi molar basa (Thenawijaya, 1982).

V. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah beaker
glass, gelas ukur, lampu UV 254nm, pipet tetes, rak tabung reaksi, dan
tabung reaksi. Serta bahan yang digunakan adalah asam asetul salisilat,
buffer fosfat, etil asetat, lapisan silica gel HF 254, larutan HCl pH 1,
dan paracetamol.
VI. Prosedur
Alat dan bahan disiapkan diatas meja. Enam buah tabung reaksi
disiapkan di rak tabung reaksi, kemudian 50mg senyawa asam salisilat,
asetosal, dan parasetamol masing-masing dimasukkan kedalam dua
tabung reaksi. 3 tabung yang berisi masing-masing larutan asam
salisilat, asetosal, dan parasetamol diteteskan 3mL larutan HCl yang
memiliki pH 1 lalu diteteskan larutan organik yaitu etil asetat sebanyak
3mL. 3 tabung yang lainnya ditambahkan dengan larutan buffer dan etil
asetat 3mL. tabung reaksi dikocok selama 10 menit lalu setiap 3 menit
sekali tabung reaksi dibuka untuk mengeluarkan gas yang ada didalam
tabung. Tunggu beberapa menit hingga lapisan sudah selesai dibentuk.
Kedua lapisan diambil lalu di totolkan ke lapisan silika gel. Seluruh
hasil tetesan tersebut di catat lalu diamati perubahan yang terjadi ketika
disinari oleh sinar UV 254 nm. Konsentrasi, intesitas cahaya dicatat dan
dihitung.

VII. Data pengamatan

No. Perlakuan Hasil


1. Dilarutkan NaH2PO4 sebanyak Didapatkan 0,2 N larutan
0.624 g ke dalam 20 ml NaH2PO4
aquades
2. Dilarutkan Na2HPO4 sebanyak Didapatkan 0,2 N larutan
7,1 g ke dalam 20 ml aquades Na2HPO4.
3. Dicampurkan 2 larutan Didapatkan larutan buffer dengan
tersebut NaH2PO4 12,5 ml dan pH 8
Na2HPO4 237,5 ml
4. Tiga tabung masing-masing Terbentuk 2 fase
yang berisi 50 mg
paracetamol, asam salisilat
dan asetasol ditambahkan
dengan HCl dan etil asetat,
lalu dikocok selama 10 menit.
5. Tiga tabung lainnya, masing- Terbentuk 2 fase
masing yang diisi dengan 50
mg paracetamol, asam salisilat
dan asetasol ditambahkan
dengan dapar fosfat dan etil
asetat, lalu dikocok selama 10
menit dan dihitung banyaknya
kocokan dalam 10 menit.
6. Fase atas yang terbentuk pada Terdapat 3 tetes pada setiap silica
masing-masing tabung reaksi gel dengan larutan yang berbeda
diambil dan ditotolkan dengan (dari masing-masing tabung
pipet ke lapisan silica gel reaksi).
7. Lapisan silica gel yang sudah Dihasilkan warna yang berbeda
ditetesi fase atas dari tiap dari tiap sampel. Warna larutan
tabung diamati dengan sinar yang dicampur HCl lebih terang
UV 254 nm. dibandingkan dengan dapar
fosfat.

VIII. Perhitungan
1. Perhitungan larutan Na H2PO4 0,2 N
𝑋 1000
0,2 = 156,01 𝑋 20

31,202 = 50x
X= 0,624 g
2. Pembuatan larutan Na2HPO4 0,2 N
𝑋 1000
0,2 = 141,97 𝑋 250
0,2 𝑥 141,97
X = 4

= 7,098 g
3. Pengenceran NaOH
𝐺 1000
M= 𝑀𝑟 . 𝑉
𝑋
0,1 = 40 . 10

X= 0,4 gr
4. Pengenceran HCl
HCl 37% = 37 gram/100 mL
𝐺 1000
M= 𝑀𝑟 . 𝑉
37 1000 370
M= 36,5 . = 36,5 = 10, 14 M
100

M1.V1= M2.V2

10,14. V1 = 0,1 . 1000

10
V1= 10,14 = 0,98 mL

IX. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kita akan mengamati pengaruh pH
terhadap ionisasi dan kelarutan obat. Sebelumnya kita harus mengetahui
bahwa kelarutan merupakan besaran kuantitatif konsentrasi zat terlarut
dalam larutan jenuh pada temperature tertentu. Suatu senyawa akan
melarutkan zat yang menyerupai senyawa tersebut yang didasarkan atas
polaritas antara zat pelarut dan zat terlarut. Kelarutan obat adalah
jumlah ml pelarut yang melarutkan 1 gram zat terlarut. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kelarutan diantaranya adalah pH larutan, tekanan.
Temperature, viskositas zat, pengadukan, jenis pelarut, bentuk dan
ukuran partikel, konstanta dielektrik pelarut, surfaktan, dan efek garam.
Pada praktikum kali ini kita akan melihat pengaruh pH terhadap ionisasi
obat. Perbedaan pH yang digunakan adalah larutan asam HCl 0,1 N (pH
1) dan larutan basa dapar fosfat (pH 8). Semua tabung reaksi diisi zat
dengan berat yang sama yaitu 50 mg agar pada hasil akhirnya kita dapat
mengetahui perbedaan dari tiap-tiap tabung akibat perbedaan pH. 3
tabung yang berisi asam salisilat, paracetamol, dan asetasol
ditambahkan dengan HCl 0,1 N sebanyak 3 ml dan etil asetat sebanyak
3 ml. ketiga tabung ini adalah tabung yang akan diamati dengan pH
asam, sedangkan ketiga tabung lainnya yang masig-masing berisi asam
salisilat, asetasol, dan paracetamol ditambahkan dengan larutan dapar
fosfat sebanyak 3 ml dan etil eter sebanyak 3 ml. ketiga tabung ini
adalah tabung yang diamati dengan pH basa.

Setelah semua tabung sudah terisi dengan zat masing-masing, tabung dikocok selama
10 menit.

X. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Thenawijaya. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Pustaka Media