Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

KARTOGRAFI DASAR

ACARA VI
TATA LETAK PETA DAN NAMA GEOGRAFIS

Disusun oleh :
Nama : Ade Febri Sandhini Putri
NIM : 16/397484/GE/08363
Hari, Tanggal : Jumat, 21 Oktober 2016
Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
Asisten : 1. Rifki Fauzi
2. Ridho Dwi Dharmawan

LABORATORIUM KARTOGRAFI
PROGRAM STUDI KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH
DEPARTEMEN SAINS INFORMASI GEOGRAFI
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
ACARA VI

I. JUDUL
Tata Letak Peta dan Nama Geografis

II. TUJUAN
1. Melatih keterampilan dalam melakukan desain tata letak peta beserta
kelengkapan informasi tepi.
2. Menuliskan nama geografis pada peta sesuai dengan kaidah yang berlaku.

III. ALAT DAN BAHAN


1. Peta RBI dan Peta Tematik
2. Kertas Kalkir
3. Alat tulis
4. Laptop atau komputer*
5. Kertas HVS
6. Peta dalam format digital*
7. Perangkat lunak ArcGIS*
*) Untuk kepentingan demonstrasi oleh asisten

IV. LANGKAH KERJA

Peta RBI skala Demonstrasi Asisten


Peta 1 : 25.000
Tematik Praktikum tentang
labelling

Membuat sketsa tata Menyalin nama Mencatat dan


letak peta geografis di kertas memperhatikan
kalkir
Peta Hasil
Penulisan Ulasan
Nama kelebihan
Geografis dan
kekurangan
Labelling

Sketsa Sketsa
tata letak Sketsa tata letak
Peta RBI tata letak Usulan
Peta
Tematik

V. HASIL PRAKTIKUM
1. Sketsa tata letak Peta RBI ( terlampir )
2. Sketsa tata letak Peta Tematik ( terlampir )
3. Sketsa tata letak usulan( terlampir )
4. Peta hasil penulisan nama geografis ( terlampir )
5. Ulasan kelebihan dan kekurangan Labelling ( Pembahasan )

VI. PEMBAHASAN
Peta sebagai alat komunikasi harus didesain dengan sebaik mungkin
agar informasi dari peta dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca
peta. Pada umumnya informasi pada peta ditempatkan dalam muka peta dan
informasi tepi peta. Informasi tepi peta mencakup judul peta, skala peta,
legenda, gratikul, diagram lokasi peta indeks, sumber data, dan informasi lain
yang penting (Sukwardjono, 1997).
Penempatan informasi tersebut pada peta termasuk muka peta dan
informasi tepi peta akan membentuk suatu susunan atau tata letak peta yang
disebut dengan komposisi peta. Penentuan tata letak peta harus
memperhatikan prinsip keseimbangan, mempertimbangkan cara-cara yang
dapat menimbulkan perasaan tertarik/sensible dan harus tetap memperhatikan
segi keindahannya sebagaimana fungsi peta sebagai hasil karya seni. Selain
itu, tata letak peta harus memenuni optical balance yaitu tidak adanya unsur
dalam peta yang lebih menonjol dari pada yang lainnya.
Informasi dari Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 25.000 harus
disusun sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh Badan Standarisasi
Nasional pada tahun 2010 yaitu harus memuat ± 17 informasi tepi dan 1 muka
peta mulai dari judul, petunjuk letak peta, diagram lokasi, keterangan
proyeksi, simbol, legenda, ketarangan ibukota daerah, keterangan riwayat,
petunjuk pembacaan koordinat, gambar pembagian daerah administrasi
beserta keterangannya, skala, keterangan singkatan, dan orientasi (BSN,
2010). Pada peta RBI skala 1 : 25.000 wilayah Timoho sudah dibuat sesuai
standar dan disusun berdasarkan jenis keseimbangan grid, hal tersebut terlihat
dari tata letak informasi tepi peta yang membentuk huruf L dan menyiku di
bagian kanan bawah dengan muka peta di bagian kiri atas dan memenuhi
sebagian besar peta. Tata letak judul, skala, nomor lembar peta dan edisi
diletakkan di bagian kanan atas. Kemudian urut membujur ke bawah setelah
edisi peta yaitu petunjuk letak peta dan diagram lokasi yang diletakkan
sejajar. Lalu, urut ke bawah terdapat keterangan proyeksi, simbol, legenda,
keterangan mengenai Ibukota Negara, keterangan riwayat, petunjuk
pembacaan koordinat geografi dan petunjuk pembacaan koordinat UTM.
Selanjutnya, bergeser urut dari kanan ke kiri bawah terdapat gambar
pembagian daerah administrasi, keterangan pembagian daerah administrasi,
skala peta, keterangan singkatan dan orientasi.
Tata letak peta tidak hanya dilakukan pada Peta RBI tetapi juga pada
peta tematik. Pada umumnya tata letak pada peta tematik tidak terdapat
standar khusus dan dibuat bebas sesuai dengan kreatifitas pembuat peta. Dari
segi kelengkapan informasi disesuaikan dengan tujuan pembuatan peta dan
paling tidak memuat judul, skala, orientasi, legenda, sumber data peta
pembuat peta dan tahun pembuatan peta. Tata letak peta tematik dari Peta
Jumlah Penduduk di Indonesia Semester II Tahun 2004 skala 1 : 18.000.000
yang dibuat oleh GIS PUSDATINKOMTEL Kemendagri RI disusun dengan
jenis bleeding map yang ditandai dengan tidak adanya garis pembatas,
sehingga informasi tepi peta berada pada batas potongan dari area muka peta.
Informasi penting peta terdiri dari judul yang diletakkan di bagian kiri atas,
kemudian pojok kanan atas adalah logo instansi. Kemudian urut ke bawah
dari logo instansi terdapat Orientasi dan skala peta, lalu muka peta terdapat di
bagian tengah. Selanjutnya urut dari sebelah kiri ke kanan terdapat legenda,
nama instansi pembuat peta dan sumber data peta.
Menurut saya, tata letak informasi pada peta tematik tersebut
sebaiknya diorganisir dengan lebih baik agar lebih mudah dibaca dan
dipahami dengan cepat oleh pembaca peta. Peletakkan informasi peta dengan
tata letak tersebut sebaiknya dikelompokkan berdasarkan jenisnya serta diberi
garis pembatas antara muka peta dan informasi tepi peta agar lebih rapi.
Contohnya, logo instansi dan nama instansi sebaiknya diletakkan berdekatan
dan berkelompok. Contoh lainnya skala dan orientasi yang sebaiknya
diletakkan secara berdampingan. Pada sketsa tata letak peta tematik usulan
saya, judul diletakkan di bagian kanan atas, orientasi disebelah kiri, dan di
pojok kiri atas terdapat skala peta agar terkelompok dan pembaca peta tidak
kesulitan untuk mencari informasi tersebut. Kemudian muka peta diletakkan
di bagian tengah peta tanpa terpotong oleh informasi tepi peta. Selanjutnya
dibagian kanan bawah terdapat instansi pembuat peta, tahun pembuatan peta
dan sumber data peta. Lalu, urut ke sebelah kiri dari sumber data peta terdapat
logo instansi pembuat peta dan legenda.
Komposisi peta yang baik, selain memperhatikan tata letak dari
informasi penting peta tetapi juga memperhatikan penulisan nama geografis.
Penulisan nama geografis harus dilakukan sesuai kaidah yang berlaku
terutama pada tipe, warna dan ukuran huruf yang digunakan. Terdapat
beberapa kaidah penulisan nama geografis yaitu penulisan nama geografis
dari wilayah administrasi dan nama tempat ditulis dengan huruf tegak
berwarna hitam, relief muka bumi ditulis dengan huruf miring berwarna hitam
dan perairan ditulis dengan huruf miring berwarna biru. nama negara. Untuk
lebih jelasnya sebagai berikut pembagian administrasi (provinsi), pulau-pulau
besar, kota-kota besar ditulis dengan huruf tegak besar berwarna hitam.
Samudera, laut dan sungai besar ditulis dengan huruf besar miring berwana
biru. Kota, desa dan hutan ditulis dengan huruf tegak kecil berwarna hitam.
Sungai, bentuk pantai dan pulau kecil ditulis dengan huruf kecil miring
berwarna biru ( Sukwardjono, 1997).
Peta RBI wilayah Timoho skala 1 : 25.000 pada koordinat 47’00” BT-
48’30” BT dan 26’30” LS - 28’30” LS terdapat toponim dari kabupaten,
kecamatan, desa dan dusun. Penulisan daerah administratif tersebut ditulis
dengan huruf tegak berwana hitam. Penulisan Kabupaten Sleman ditulis
dengan tipe huruf besar tegak hitam tipe arial, Kecamatan Tegaltirto ditulis
dengan huruf tegak kecil hitam. Kemudian desa kalitirto ditulis dengan huruf
besar tegak hitam dan dusun atau desa yang lebih kecil ditulis dengan huruf
kecil tegak berwarna hitam. Dari segi ukuran semakin kecil urut dari
kabupaten, kecamatan, desa lalu dusun yang menunjukan adanya tingkatan
sesuai dengan kepentingan dari setiap objek.
Penulisan nama geografis/ labelling dapat dilakukan baik dengan cara
manual maupun digital. Pada cara digital menggunakan perangkat lunak
ArcGIS sedangkan cara manual dapat dilakukan dengan menulis tangan
menggunakan rapidograph. Kelebihan dari labeling secara digital dibanding
manual yaitu lebih cepat, mudah dilakukan dan pembuat peta dapat memilih
jenis huruf, warna dan efek tulisan sesuai dengan fitur yang disediakan. Selain
itu, pembuat peta juga dapat mengatur scale based visibility / nilai radius dari
skala yang diinginkan agar label tetap terlihat. Label pada data juga dapat
dipindah-pindah dan diputar kedudukannya. Tampilan dari label juga dapat
diatur, apabila pembuat peta memilih “in point” di kolom sebelah ukuran
huruf maka, label akan muncul dalam ukuran yang sama tudak peduli
seberapa jauh pembuat peta melakukan perbesaran atau pengecilan skala.
Sedangkan, jika pembuat peta memilih “in map units, maka label akan terlihat
relatif yaitu label akan terlihat lebih kecil jika dilakukan pengecilan dan akan
tampak lebih besar jika dilakukan perbesaran skala. Sayangnya, labelling
dengan cara digital ini hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang yang
menguasai perangkat lunak ArcGIS dan membutuhkan biaya yang mahal
untuk karena harus menggunakan komputer dan perangkat lunak ArcGIS.
Labelling secara manual mempunyai kelebihan yaitu dari segi biaya
yang lebih murah namun kekurangannya membutuhkan waktu pembuatan
yang lebih lama dan tipe huruf dan warna terbatas pada kreatifitas pembuat
peta dan kualitas labeling secara manual kurang baik karena ditentukan oleh
kemampuan menggambar dan menulis dari pembuat peta.

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan tentang tata letak peta dan
nama geografis, maka dapat diambil kesimpulan :
1. Desain tata letak peta harus memperhatikan prinsip keseimbangan,
menimbulkan efek tertarik bagi pembaca dengan tetap memperhatikan
segi keindahanya. Tata letak dan kelengkapan informasi tepi dari peta
RBI harus sesuai standar yang berlaku dan memuat ± 16 informasi
tepi, sedangkan tata letak dan kelengkapan informasi dari peta tematik
disusun berdasarkan kreatifitas pembuat peta dan disesuaikan dengan
tujuan pembuatan peta tematik tersebut.
2. Penulisan nama geografis dari wilayah administrasi dan nama tempat
ditulis dengan huruf tegak berwarna hitam, relief muka bumi ditulis
dengan huruf miring berwarna hitam dan perairan ditulis dengan huruf
miring berwarna biru. Penulisan ini dapat disesuaikan dari ukuran dan
kapital huruf tergantung pada tingkat kepentingan dari objek.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Wibowo, Totok Wahyu; Nurul, Khakim. 2016. Petunjuk Praktikum
Kartografi Dasar GKP 0101.Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM
Sukwarjono dan Sukoco,Mas. 1997. Kartografi Dasar. Yogyakarta : Fakultas
Geografi UGM
BSN. 2010. Spesifikasi Penyajian Peta Rupabumi-Bagian 2 Skala 1 : 25.000.
Diakses oleh Ade Febri Sandhini Putri pada 27 Oktober 2016 pukul 14.00
WIB di www.bakosurtanal.go.id