Anda di halaman 1dari 11

SEL TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah Anatomi Tumbuhan
dosen pengampu :
Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.S.
Dr. Amprasto, M.Si.

disusun oleh:
Kelompok 8
Pendidikan Biologi A/2016

Alfhi Fauzan 1602333


Hanatul Haifa Kurnia 1600144
Shafira Rizka Amani 1605181
Utami Nurfajrini 1603375

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2018
A. Judul
Identifikasi Sel Tumbuhan
B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari : Selasa, 13 Februari 2018
Waktu : Pukul 09.30 s.d 12.00 WIB
Tempat pelaksanaan : Laboratorium Struktur Tumbuhan (STB)
C. Tujuan
1. Mendeteksi aliran plasma dalam sel tumbuhan
2. Mengidentifikasi pigmen dalam sel tumbuhan
3. Membedakan zat-zat ergastik dalam sel tumbuhan
D. Dasar Teori
Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran, dan struktur yang bervariasi.
Struktur sel adalah rumit. Namun demikian semua sel mempunyai persamaan
dalam beberapa segi dasar. Tumbuhan dan hewan merupakan organisme, yang
tubuhnya tersusun oleh sel-sel. Sel tumbuhan dan sel hewan merupakan variasi
dan satu tipe unit dasar atau satuan struktur. Berdasarkan konsep teori sel bahwa
sel merupakan kesatuan struktur dan fungsi organisme hidup maka berarti bahwa
sel itu mempunyai kesamaan dalam pola susunan metabolisme dan makromolekul
(Setjo dkk, 2004).
Perbedaan pokok antara sel tumbuhan dan sel hewan adalah sel tumbuhan
mempunyai dinding sel yang nyata, sedang pada sel hewan tidak mempunyai
dinding sel. Selain itu pada sel tumbuhan ditemukan adanya plastida serta vakuola
sel yang dapat membesar, sedang pada sel hewan tidak dijumpai. Sel hidup
mempunyai kemampuan untuk memperbanyak diri. Sel tumbuhan pada dasarnya
terdiri atas dinding sel dan protoplas. (Setjo dkk, 2004). Protoplas merupakan
bagian sel yang berada di sebelah dalam dinding sel. Protoplas tersusun oleh
bahan hidup dalam bentuk sederhana, yang disebut 2 dengan protoplasma. Pada
sel tumbuhan protoplas terdiri atas komponen protoplasmik dan komponen non
protoplasmik (Setjo dkk, 2004).
E. Alat dan Bahan
Tabel 1. Alat yang Digunakan
No. Nama Alat Jumlah
1 Mikroskop 2 set

2 Kaca objek 8 buah

3 Kaca preparat 8 buah

4 Silet 2 buah

5 Tusuk gigi 2 buah

Tabel 2. Bahan yang Digunakan


No. Nama Bahan Jumlah

1 Daun Rhoeo discolor Secukupnya

2 Umbi Solanum tuberosum Secukupnya

3 Umbi Daucus carota Secukupnya

4 Buah Musa paradisiaca Secukupnya

5 Daun Vallisneria sp. Secukupnya

6 Bunga Rhoeo discolor Secukupnya

F. Langkah Kerja
Filamen Rhoeo discolor dari
Alat dan bahan disiapkan, bunga yang belum mekar disayat
yaitu Mikroskop, Object
melintang setipis mungkin dan
glass, aquades, silet, tusuk
disimpan diatas object glass yang
gigi, cover glass dan preparat
sudah ditetesi aquades.

Hasil di mikroskop diamati


Ditutup dengan cover glass,
dan didokumentasikan
diamati di mikroskop

Hasil pengamatan dicatat


dan digambar

Diagram 1. Mengamati aliran plasma pada rambut tangkai sari (filamen) Rhoeo
discolor dalam air
Alat dan bahan disiapkan, yaitu Sayatan melintang umbi
Mikroskop, Object glass, wortel dibuat setipis mungkin
aquades, silet, tusuk gigi, cover dan diletakkan di object glass
glass dan preparat. yang sudah di tetesi aquades.

Hasil di mikroskop diamati Ditutup dengan cover glass,


dan didokumentasikan diamati di mikroskop sampai
kromoplas terlihat.

Hasil pengamatan dicatat


dan digambar

Diagram 2. Mengidentifikasi pigmen plastida pada umbi wortel (Daucus


carota)

Alat dan bahan disiapkan, yaitu Bagian dalam umbi kentang disayat
Mikroskop, Object glass, secara membujur setipis mungkin
aquades, silet, tusuk gigi, cover dan disimpan di atas object glass
glass dan preparat. yang sudah di tetesi aquades.

Hasil di mikroskop diamati Ditutup dengan cover glass,


dan didokumentasikan diamati di mikroskop

Hasil pengamatan dicatat dan


digambar

Diagram 3. Membedakan zat-zat ergastik dalam umbi kentang (Solanum


tuberosum)
Alat dan bahan disiapkan, yaitu Pangkal Vallisneria disayat
Mikroskop, Object glass, secara paradermal diambil sedikit,
aquades, silet, tusuk gigi, cover disimpan di atas object glass yang
glass dan preparat. sudah di tetesi aquades.

Hasil di mikroskop diamati Ditutup dengan cover glass,


dan didokumentasikan diamati di mikroskop

Hasil pengamatan dicatat dan


digambar

Diagram 4. Mengamati aliran plasma pada Vallisneria sp.

Alat dan bahan disiapkan, yaitu Sayatan melintang buah


Mikroskop, Object glass, pisang dibuat setipis mungkin
aquades, silet, tusuk gigi, cover dan diletakkan di object glass
glass dan preparat. yang sudah di tetesi aquades.

Hasil di mikroskop diamati Ditutup dengan cover glass,


dan didokumentasikan diamati di mikroskop sampai
kromoplas terlihat.

Hasil pengamatan dicatat


dan digambar

Diagram 5. Membedakan zat-zat ergastik dalam buah pisang (Musa


paradisiaca)
Alat dan bahan disiapkan, yaitu Sayatan melintang daun Rhoeo
Mikroskop, Object glass, discolor dibuat setipis mungkin
aquades, silet, tusuk gigi, cover dan diletakkan di object glass
glass dan preparat. yang sudah di tetesi aquades.

Hasil di mikroskop diamati


dan didokumentasikan
Ditutup dengan cover glass,
diamati di mikroskop.

Hasil pengamatan dicatat


dan digambar

Diagram 6. Mengidentifikasi sel-sel penyusun dalam daun Rhoeo discolor

G. Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan Sel Tumbuhan

No Nama Preparat Gambar Pengamatan Gambar Referensi Keterangan

A
C
B A: Celah stomata
B: Dinding sel
Sayatan
C: Pigmen
1 melintang daun
antosianin
Rhoeo discolor
D: Ruang antar
D sel

Perbesaran: 40 × 10 Gambar 1b Rhoeo discolor


Gambar 1a Sayatan daun Rhoeo
discolor (Barid, 2014)
(Dok. Kelompok 8, 2018)
A B
A: Kloroplas
Sayatan
B: Dinding sel
2 melintang
C: Aliran plasma
Vallisnaria sp C
sirkulasi

Perbesaran: 40 × 10
Gambar 2a Sayatan melintang
Vallisnaria sp Gambar 2b Vallisnaria sp
(Dok. Kelompok 8, 2018) (Anonim, 2016)

A: Dinding sel
Kromoplas wortel C B: Kromoplas
3
(Daucus carota) wortel
A
C: Ruang antar sel

Perbesaran: 40 × 10
Gambar 3a Daucus carota. Gambar 3b Daucus carota
(Dok. Kelompok 8, 2018) (Adwinta, 2012)

D
A: Hilum
Sayatan B: Lamela
membujur pati B C: satu butir pati
C
4 kentang tunggal
(Solanum D: Ruang antar
tuberosum) sel
A

Perbesaran: 40 × 10 Gambar 4b Solanum


Gambar 4a Solanum tuberosum tuberosum
(Dok. Kelompok 8, 2018) (Fiqardina, 2013)
B
Sayatan
melintang A: Kloroplas
5 rambut tangkai B: Dinding sel
sari Rhoeo
A
discolor

Perbesaran: 40 × 10
Gambar 5a Sayatan melintang
rambut tangkai sari Rhoeo discolor. Gambar 5b Rhoeo discolor
(Dok. Kelompok 8, 2018) (Siwi, 2012)

C
Sayatan A: Butir padi
B
melintang pisang B: Dinding sel
6
(Musa C: Ruang antar sel
paradisiaca)

Perbesaran: 40 × 10
Gambar 6a Sayatan melintang
Musa paradisiaca Gambar 6b Musa paradisiaca
(Dok. Kelompok 8, 2018) (Lelychoir, 2015)

H. Pembahasan
1. Sayatan Daun Rhoeo discolor
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop, yang dapat diamati
dalam daun Rhoeo discolor dan menjadi ciri khas adalah stomata dan pigmen
antosianin. Karena yang diamati adalah daun dan yang tersayat adalah
permukaan bawah daun, maka stomatanya bisa terlihat dengan jelas. Pigmen
antosianin berwarna ungu, pigmen tersebut terdapat dalam vakuola. Pigmen
antosianin ini memiliki manfaat, salahsatunya sebagai antioksidan. Sistem ikatan
rangkap terkonjugasi yang terdapat dalam antosianin mampu menangkal radikal
bebas.
2. Sayatan Daun Vallisneria sp
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop, yang dapat diamati
dalam daun Vallisneria sp adalah kloroplas yang banyak dan dapat bergerak.
Karena yang diamati adalah daun, maka terlihat banyak sekali kloroplas yang
tersimpang di tepi sel (bagian tengah sel telah terisi oleh vakuola. Pergerakan
kloroplas terjadi karena adanya aliran sitoplasma yang bertipe sirkulasi, artinya
sitoplasma bergerak dengan lebih dari satu arah.
3. Sayatan Umbi Wortel (Daucus carota)
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop, yang dapat diamati
dalam umbi wortel dan menjadi ciri khas adalah adanya kromoplas. Kromoplas
ini terletak di tepi-tepi sel. Kromoplas pada umbi wortel mengandung pigmen
karotenoid yang menghasilkan warna oranye. Kromoplas di dalam sel umbi
wortel memiliki bentuk bulat tidak teratur dan jumlahnya banyak sehingga
memberikan warna oranye pada wortel.
4. Sayatan Umbi Kentang (Solanum tuberosum)
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop, yang dapat diamati
dalam umbi kentang dan menjadi ciri khas adalah adanya butir-butir pati yang
terdapat di dalam leukoplas sel umbi kentang. Butir pati adalah salah satu zat
ergastik (zat non-protoplasma yang salah satunya sebgai cadangan makanan).
Butir pati yang terlihat adalah yang bertipe tunggal. Butir pati tunggal, berarti
pada butir pati tersebut terdapat satu hilum (sebuah titik dalam butir pati) yang
terletak di tepi butir pati dan dikelilingi oleh beberapa lapis lamela.
5. Sayatan Rambut Tangkai Sari Rhoeo discolor
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop, yang dapat diamati
dalam rambut tangkai sari Rhoeo discolor dan menjadi ciri khas adalah susunan
selnya yang berbentuk rantai dan berdinding jelas. Seharusnya di dalamnya
terdapat aliran sitoplasma. Aliran sitoplasma yang terdapat dalam sel rambut
tangkai sari Rhoeo discolor bertipe sirkuler.
6. Sayatan Buah Pisang (Musa paradisiaca)
Berdasarkan hasil pengamatan di bawah mikroskop, yang dapat diamati
dalam buah pisang dan menjadi ciri khas adalah adanya butir-butir pati di dalam
leukoplas sel buah wortel. Butir-butir pati tersebut bertipe tunggal, artinya dalam
satu butir pati terdapat satu hilum yang dikeliligi oleh lamela.
I. Kesimpulan
1. Stomata pada daun Rhoeo discolor memiliki pigmen antosianin yang terdapat
dalam vakuolanya, sedangkan pada Daucus carota memiliki pigmen berwarna
oranye karna mengandung karotenoid.
2. Adanya aliran sitoplasma pada Vallisneria dan pada benang sari bunga Rhoeo
discolor membuktikan bahwa protoplasmanya hidup dan kloroplasnya yang
ada di dalam plastida, dapat bergerak dalam satu arah (rotasi) atau lebih dari
satu arah (sirkulasi).
3. Pada Solanum tuberosum dan Musa paradisiaca memiliki butir pati yang
terdapat di dalam leukoplas. Pada Solanum tuberosum butir patinya
mengandung zat ergastik, keduanya memiliki tipe butir pati yang tunggal.
DAFTAR PUSTAKA

Setjo, dkk. 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: Universitas Negri Malang.

Sutrian, Yayan. 2011. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan.
Jakarta: Rineka Cipta.

DAFTAR PUSTAKA GAMBAR

Gambar 1b. Rhoeo discolor

Barid. N. (2014). Laporan Hasil Pengamatan IPA “ Struktur Jaringan pada


Daun dan Stomata Tumbuhan”. [Online]. Tersedia: http://baka-
nbi.blogspot.co.id/2014/11/laporan-hasil-pengamatan-ipa-struktur_15.html. (25
Februari 2018)

Gambar 2b. Vallisnaria sp.

Anonim. (2016). Gerakan Sitoplasmik Pada Sel Vallisneria Americana. [Online].


Tersedia:http://www.pictame.com/media/1338401268309246070_2921196183.
(25 Februari 2018)

Gambar 3b. Daucus carota

Adwinta. (2012). Kromoplas. [Online]. Tersedia:


http://adwintaactivity.blogspot.co.id/2012/04/kromoplas.html. (25 Februari 2018)
Gambar 4b. Solanum tuberosum

Fiqardina. A. (2013). Hasil Pengamatan Mikroskop. [Online]. Tersedia:


http://www.fiqardina.com/2013/10/hasil-pengamatan-mikroskop.html. (25
Februari 2018)
Gambar 5b. Rhoeo discolor

Siwi. M. (2012). Praktikum Biologi. [Online].


http://catatantertulisku.blogspot.co.id/2012/01/praktikum-biologi.html. (25
Februari 2018)

Gambar 6b. Musa paradisiaca

Lelychoir. (2015). Gambar Praktikum SPT Dan Biosel Sedikit. [Online]. Tersedia:
http://lelychoir.blogspot.co.id/2015/07/gambar-praktikum.html. (25 Februari
2018)