Anda di halaman 1dari 13

1.

Pengertian Hukum Perdata

Hukum perdata di bedakan menjadi dua macam, yaitu hukum perdata


materil dan hukum perdata formil. Secara umum yang dimaksud dengan hukum
perdata ialah hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu
dengan orang yang lain di dalam masyarakat yang menitikberatkan kepada
kepentingan perseorangan (pribadi).
Selanjutnya hukum perdata ini ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis.
Hukum perdata yang tertulis ialah hukum perdata yang termuat dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata. Sedangkan hukum perdata yang tidak tertulis
ialah Hukum Adat.

2. Hukum Perdata di Indonesia

Hukum perdata di Indonesia sampai saat ini masih beraneka


ragam(pluralistis), dimana masing-masing golongan penduduk mempunyai
hukum perdata sendiri, kecuali bidang-bidang tertentu yang sudah ada unifikasi.
Keanekaragaman hukum ini bersumber ini bersumber pada ketentuan dalam
pasal 163 IS (Indische Staatsregeling) yang membagi penduduk Hindia Belanda
atas tiga golongan yaitu:
1. Golongan Eropah, ialah : (a) semua orang Belanda, (b) semua orang
Eropah lainnya, (c) semua orang Jepang, (d) semua orang yang berasal
dari tempat lain yang negaranya tunduk kepada hukum keluarga yang
pada pokoknya berdasarkan asas yang sama seperti hukum Belanda, dan
(e) anak sah atau diakui menurut undang-undang, dan anak yang
dimaksud sub. b dan c yang lahir di Hindia Belanda.
2. Golongan Bumiputra, ialah semua orang yang termasuk rakyat
Indonesia Asli, yang tidak beralih masuk golongan lain dan mereka yang
semula termasuk golongan lain yang telah membaurkan dirinya dengan
rakyat Indonesia asli.
3. Golongan Timur Asing, ialah semua orang yang bukan golongan Eropah
dan golongan Bumiputera.

3. Dasar Hukum Berlakunya Hukum Perdata Eropah


Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Konstitusi RIS dan UUDS 1950 ada
dimuat aturan peralihan.
Dengan adanya aturan-aturan peralihan tersebut maka segala peraturan
hukum peninggalan pemerintah Belanda (seperti IS, BW, BVK,dan sebagainya).
Dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan UUD 1945.

1
4. Sejarah Terbentuknya Hukum Perdata (BW)
Semenjak 50 tahun sebelum Masehi, pada waktu Julius Caesar berkuasa di
Eropah Barat, hokum Romawi telah berlaku di Perancis berdampingan dengan
hukum Perancis kuno yang berasal dari hukum Germania dengan saling
mempengaruhi.
Suatu ketika wilayah negeri Perancis terbelah menjadi dua daerah hukum
yang berbeda. Bagian Utara adalah daerah hukum yang tidak tertulis (pays de
droit coutimer), sedangkan daerah Selatan merupakan daerah hukum yang tidak
tertulis (pays de doit ecrit).
Courpus Iurus Civilis pada zaman itu dianggap sebagai hukum yang paling
sempurna, terdiri dari 4 bagian, yaitu (1) Codex Justiniani, (2) Pandecta, (3)
Institutiones, dan (4) Novelles. Codex Justianni berisi kumpulan undang-
undang (leges lex) yang telah di bukukan oleh para ahli hukum atas perintah
kaisar Romawi yang dianggap sebagai himpunan segala macam undang-undang.
Berdasarkan fakta-fakta sejarah tentang terbentuknya kode civil Perancis,
kitab undang-undang hukum perdata Belanda dan Burgerlijk Witboek yang
diungkapkan diatas ini maka jelas bahwa kitab undang-undang hukum perdata
yang sekarang masih berlaku adalah kitab undang –undang hukum perdata yang
telah menyerah atau mengambil alih secara tidak langsung dari hukum Romawi,
hukum Perancis kuno, Belanda kuno, dan sudah tentu pula hukum yang
berkembang dan tumbuh di masyarakat dimana dan dimasa kodifikasi di
ciptakan pada ratusan tahun yang silam.

5. Kedudukan BW Pada Waktu Sekarang


Menteri Kehakiman Sahardjo SH tersebut, prof. Mahadi SH bependapat
sbb:
1. BW sebagai kodifikasi sudah tidak berlaku lagi.
2. Yang masih berlaku ialah aturan-aturannya, yang tidak bertentangan
dengan semangat serta suasana kemerdekaan.
3. Diserahkan kepada yurisprudensi dan doktrina untuk menetapkan aturan
mana yang masih berlaku dan aturan mana yang tidak bisa di pakai lagi.
4. Tidak setuju diambil suatu tindakan legislative untuk menyatakan bahwa
aturan-aturan BW dicabut sebagai aturan-aturan tertulis. Tegasnya tidak
setuju, untuk menjadikan aturan-aturan BW yang masih bias berlaku
menjadi hukum kebiasaan (hukum adat),sebab:
a. Kelompok-kelompok hukum, yang sekarang diatur dalam BW,akan
menjelma nanti di dalam hukum nasional kita juga dalam bentuk tertulis.
b. Dengan berlakunya aturan-aturan BW sebagai hukum adat, tidak hilang
segi diskriminatifnya.
c. Dengan memperlakukan BW sebagai hukum adat, tidak ada lagi alasan
untuk mempertahankan peraturan-peraturan tentang Burgerlijk Stand
sebagai aturan-aturan tertulis.

2
d. Kedudukan BW rasanya harus kita tilik bergandengan dengan
kedudukan KUHD dagang.
e. Menjadikan aturan-aturan BW sebagai hukum adat mempunyai akibat
psikologis terhadap alam fikiran para hakim madya.
Dapat disimpulkan, bahwa secara yuridis formil kedudukan BW tetap
sebagai undang-undang, sebab BW tidak pernah dicabut dari kedudukannya
sebagai undang-undang. Namun pada waktu sekarang BW bukan lagi sebagai
kitab Undang-undang Hukum Perdata yang bulat dan utuh seperti keadaan
semula saat dikodifikasikan.

6. Bidang-bidang Hukum Perdata dan Sistimatiknya


Hukum perdata menurut ilmu pengetahuan lazimnya dibagi dalam 4 bagian
yaitu:
1.Hukum Perorangan/badan pribadi (personenrecht)
2.Hukum Keluarga (familierecht)
3. Hukum Harta Kekayaan ( vermogenrecht)
4. Hukum waris (efrecht)

Hukum perorangan /badan pribadi memuat peraturan-peraturan hukum


yang mengatur tentang seseorangan manusia sebagai pendukung hak dan
kewajiban.
Hukum keluarga memuat peraturan –peraturan hukum yang mengatur
hubungan hukum yang timbul karena hubungan keluarga/kekeluargaan seperti
perkawinan.
Hukum harta kekayaan memuat peraturan-peraturan hukum yang mengatur
hubungan hukum seseorang dalam lapangan harta kekayaan seperti perjanjian.
Hukum waris memuat peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang
benda atau harta kekayaan seseorang yang telah meninggal dunia.
Sistimatik hukum perdata menurut undang-undang yaitu susunan hukum
perdata sebagaimana termuat dalam BW yang terdiri dari 4 buku:
Buku 1 tentang orang memuat hukum tentang diri seseorang dan hukum
keluarga.
Buku II tentang benda memuat hukum kebendaan serta hukum waris.
Buku III tentang perikatan memuat hukum kekayaan mengenai hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak
tertentu.
Buku IV tentang penbuktian dan daluwarsa memuat ketentuan alt-alat bukti
dan akibat lewat waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.

7. Bagian- bagian BW yang Tidak Berlaku Lagi


a. Pasal-pasal yang tidak belaku lagi ialah;

3
1. Pasal-pasal tentang benda tak bergerak yang berhubungan dengan hak-
hak mengenai tanah.
2. Pasal-pasal tentang cara memperoleh hak milik melalui mengenai tanah.
3. Pasal-pasal mengenai penyerahan benda-benda tak bergerak, tidak
pernah berlaku.
4. Pasal-pasal tentang kerja Rodi pasal 673 BW.
5. Pasal-pasal tentang hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertetangga
pasal 625-672 BW.
6. Pasal-pasal tentang pengabdian pekarangan (erfdienstbaarheid) pasal
674-710 BW.
7. Pasal-pasal tentang hak Opstal pasal 711-719 BW.
8. Pasal-pasal tentang hak Erfpcaht pasal 720-736 BW.
9. Pasal-pasal tentang bunga tanah dan hasil sepersepuluh pasal 737-755
BW.
8. Hukum Perdata Yang Bersifat Pelengkap dan Bersifat Memaksa
Hukum yang bersifat pelengkap adalah peraturan-peraturan hukum yang
boleh dikesampingkan atau disimpangi oleh orang-orang yang berkepentingan,
peraturan-peraturan hukum mana hanyalah berlaku sepanjang orang-orang yang
berkepentingan tidak mengatur sendiri kepentingannya.
Peraturan- peraturan hukum yang bersifat memaksa tidak berarti
pelaksanaanya dapat dipaksakan. Namun dalam hal-hal lain undang-undang
tidak mempunyai sanksi kebatalan, tetapi hanya membatasi pada penentuan
denda atau rugi.

4
II

HUKUM ORANG (PERSONENRECHT)

1. Manusia Sebagai Subyek Hukum

A. Manusia
Menurut hukum modern seperti hukum yang berlaku di Indonesia, setiap
manusia diakui sebagai manusia pribadi. Artinya diakui sebagai orang atau
person. Karena itu setiap manusia diakui sebagai subyek
hukum(rechtspersoonlijkheid) yaitu pendukung hak dan kewajiban.
Manusia sebagai pendukung hak dan kewajiban mulai sejak lahir dan baru
berakhir apabila mati atau meninggal dunia. Artinya selama seseorang masih
hidup selama itu pula ia mempunyai kewenangan berhak.
Tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi kewenangan berhak
seseorang yang sifatnya membatasi kewenangan berhak tersebut antara lain
adalah:
1.kewarga-negaraan
2.tempat tinggal
3.kedudukan atau jabatan
4. tingkah laku atau perbuatan

B. Ketidak cakapan
Orang-orang yang menurut undang-undang dinyatakan tidak cakap untuk
melakukan perbuatan hukum adalah;
1. Orang-orang yang belum dewasa, yaitu anak yang belum mencapai umur
18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan.
2. Orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan, yaitu orang-orang
dewasa tapi dalam keadaan dungu, gila, dan pemboros.
3. Orang-orang yang dilarang undang-undang untuk melakukan perbuatan-
perbuatan-perbuatan hukum tertentu,misalnya orang dinyatakan pailit.
Jadi orang yang cakap untuk melakukan perbuatan hukum adalah orang
yang dewasa dan sehat akal fikirannya serta tidak dilarang oleh suatu undang-
undang untuk melakukan perbuatan-perbuatan hukum tertentu.

C. Pendewasaan
Pendewasaan merupakan suatu cara untuk meniadakan keadaanbelum
dewasa terhadap orang-orang yang belum mencapai umur 21 tahun. Akan tetapi
lembaga pendewasaan ini sekarang sudah tidak relevan lagi dengan adanya
Undang-undang No. 1 tahun 1974 yang menentukan bahwa seseorang yang telah
mencapai umur 18 tahun adalah dewasa.

5
D. N a m a
Masalah nama merupakan hal yang paling penting, karena nama itu
merupakan identifikasi seseorang sebagai subyek hukum. Bahwa dari nama itu
sudah dapat diketahui keturunan siapa seorang yang bersangkutan.

E. Tempat tinggal
Kepentingan adanya ketentuan tentang tempat tinggal seseorang ini
antara lain adalah untuk menyampaikan gugatan perdata terhadap seseorang.
Setiap orang dianggap mempunyai tempat tinggal (domisili) dimana ia
berkediaman pokok. Tetapi bagi orang yang tidak mempunyai tempat kediaman
tertentu, maka tempat tinggal dianggap dimana ia sungguh-sungguh berada.

F. Keadaan tidak hadir


Meskipun orang yang telah meninggalkan tempat tinggal itu tidak
kehilangan statusnya sebagai person atau sebagai subyek hukum, namun
keadaan tidak di tempat (keadaan tak hadir-afwezight) orang tersebut
menimbulkan ketidakpastian hukum, sehingga oleh karena itu pembentuk
undang-undang perlu mengaturnya.

2. Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum


A. Pengertian badan hukum
Sebagaimana halnya subyek hukum manusia, badan hukum inipun dapat
mempuyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban, serta dapat pula mengadakan
hubungan-hubungan hukum baik antara badan hukum yang satu dengan badan
hukum lain maupun antara badan hukum dengan orang manusia.
Dan sebagai subyek hukum yang tidak berjiwa, maka badan hukum ini
tidak dapat dan tidak mungkin berkecimpung di lapangan keluarga seperti
mengadakan perkawinan.

B. Teori-teori Badan Hukum

1.Teori fictie dari Von Savigny


Badan hukum ini hanyalah fiksi, yakni sesuatu yang sesungguhnya tidak
ada, tetapi orang menghidupkannya dalam bayangan sebagai subyek hukum
yang dapat melakukan perbuatan hukum seperti manusia. Teori ini juga di ikuti
juga oleh Houwing.

2.Teori harta kekayaan Bertujuan (Doel vermogens theorie)

Kekayaan yang tidak ada yang mempunyai dan yang terikat kepada
tujuan tertentu inilah yang di beri nama subyek hukum. Teori ini di ajarkan oleh
A. Brinz, dan diikuti oleh Van der Heyden.

6
3. Teori Organ dari Otto van Gierre
Badan hukum menurut teori ini bukan abstrak (fiksi) dan bukan
kekayaan (hak) yang tidak bersubyek, tetapi badan hukum adalah suatu
organisme, yang riil, yang menjelma sunguh-sungguh dalam pergaulan hukum,
yang dapat membentuk kemauan sendiri dengan perantaraan alat-alat yang ada
padanya (pengurus) seperti manusia biasanya.

4. Teori propriete collective


Menurut teori ini hak dan kewajiban badan hukum pada hakikatnya
adalah hak dan kewajiban para angota bersama-sama.

5. Teori Kenyataan Yuridis (juridische Realiteitsleer)


Teori yang di kemukakan oleh Mejers ini menekankan bahwa
hendaknya dalam mempersamakan badan hukum dengan manusia terbatas
sampai pada bidang hukum saja.

C. Pembagian badan-badan Hukum

Menurut pasal 1653 BW badan hukum dapat dibagi atas 3 macam yaitu:
1. Badan hukum yang diadakan oleh pemerintah, misalnya Daerah Tingkat
I.
2. Badan hukum yang diakui oleh pemerintah /kekuasaan umum, misalnya
: organisasi-organisasi agama.
3. Badan hukum yang didirikan untuk suatu maksud tertentu yang tidak
bertentangan dengan undang-undang dan kesusilaan, seperti PT.

Badan hukum dapat pula dibedakan atas 2 jenis yakni:


1. Badan hukum public
2. Badan hukum privat

D. Peraturan tentang Badan Hukum (Rechtspersoon)


Peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang badan hukum ini antara
lain termuat dalam Stb. 1870 No. 64 tentang pengakuan badan hukum; Stb. 1927
No. 156 tentang gereja dan organisasi-organisasi agama; Stb. Stb. 1939 No. 570
jo. 717 tentang badan hukum Indonesia.

E. Syarat-syatar Badan Hukum


Menurut doktrin syarat-syarat itu adalah sbg berikut di bawah ini:
1. Adanya harta kekayaan yang terpisah
Harta kekayaan ini diperoleh dari para anggota maupun dari
perbuatan pemisahan yang

7
dilakukanseseorang/partikelir/pemerintah untuk suatu tujuan
tertentu.
2. Mempunyai tujuan tertentu
Tujuan tertentu ini dapat berupa tujuan yang idiil maupun tujuan
komersiil yang merupakan tujuan tersendiri daripada badan hukum.
3. Mempunyai kepentingan sendiri
Dalam mencapai tujuannya, badan hukum mempunyai kepentingan
sendiri yang dilindungi oleh hukum.
4. Ada organisasi yang teratur
Bagaimana tata cara organ badan hukum yang terdiri dari manusia
itu bertindak, mewakili badan hukum, bagaimana organ itu dipilih,
diganti dan sebagainya. Dengan demikian badan hukum mempunyai
organisasi.

F. Perbuatan Badan Hukum


Sebagaimana dikatakan badan hukum adalah subyek hukum yang tidak
berjiwa seperti manusia, karena itu badan hukum tidak dapat melakukan
perbuatan-perbuatan hukum sendiri, melainkan harus diwakili oleh orang-orang
manusia biasa. Namun orang-orang ini bertindak bukan untuk dirinya sendiri,
tetapi untuk dan atas nama badan hukum.

III
HUKUM KELUARGA (FAMILIERECHT)

1. Perkawinan

A. Pengertian perkawinan
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

B. Syarat-syarat Perkawinan
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melangsungkan
menurut Undang-undang No. 1 tahun 1974 adalah sebagai berikut, sebagaimana
disebutkan dalam pasal 6 s/d 12:
1. Adanya persetujuan kedua calon mempelai;
2. Adanya izin kedua orang tua/wali bagi calon mempelai yang belum
berusia 21 tahun;
3. Usia calon mempelai pria sudah mencapai 19 tahun dan usia calon
mempelai sudah mencapai 16 tahun;

8
4. Antara calon mempelai pria dan wanita tidak dalam hubungan
darah;
5. Tidak berada dalam ikatan perkawinan dengan pihak lain;
6. Bagi suami isteri yang telah bercerai, lalu kawin lagi satu sama lain
dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, agama dan kepercayaan
mereka tidak melarang mereka kawin untuk ketiga kalinya;
7. Tidak berada dalam waktu tunggu bagi calon mempelai wanita yang
janda.

C. Pencatatan dan Tatacara Perkawinan


Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan harus
memberitahukan kehendaknya itu kepada Pegawai Pencatatan Perkawinan.
Pemberitahuan harus sudah disampaikan selambat-lambatnya 10 hari
kerja sebelum perkawinan itu dilangsungkan, kecuali disebabkan sesuatu alas an
yang penting, maka pemberitahuan itu dapat kurang dari 10 hari, dengan
mengajukan permohonan dispensasi Kepala Bupati Kepala Daerah cq Camat
setempat.
Tata cara perkawinan dilakukan menurut masing-masing hukum agama
dan kepercayaan orang yang melangsungkan perkawinan itu.
Sesaat sesudah dilangsungkan perkawinan, kedua calon mempelai
menanda-tangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat
berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Dengan ditanda-tanganinya akta perkawinan tersebut, maka perkawinan
itu telah tercatat secara resmi.

D. Keabsahan Perkawinan
Sah tidaknya suatu perkawinan menurut Undang-undang No. 1 tahun
1974 diukur dengan ketentuan hukum agama dan kepercayaan masing-masing
orang yang melangsungkan perkawinan. Suatu perkawinan adalah sah apabila
dilakukan dengan memenuhi semua syarat dan rukun hukum agama dan
kepercayaanya itu.

E. Pencegahan Perkawinan
Pencegahan perkawinan diajukan kepada Pengadilan dalam daerah
hukum diman perkawinan akan dilangsungkan dengan memberitahukan juga
kepada pegawai Pencatat Perkawinan.
Adanya pelanggaran dari ketentuan dalam pasal 7 ayat (1), pasal 8,
pasal 9 dan pasal 12 undang-undang meskipun tidak ada pencegahan
perkawinan, yaitu bilamana:
a. Calon mempelai pria belum berusia 19 tahun dan wanita
belum berusia 16 tahun;
b. Antara calon mempelai pria dan wanita berhubungan darah;

9
c. Calon mempelai masih terikat perkawinan dengan pihak lain;
d. Antara calon mempelai pria dan wanita satu sama lain telah
bercerai untuk kedua kalinya, sedangkan agamanya dan
kepercayaanny melarang kawin untuk ketiga kalinya;
e. Perkawinan yang akan dilangsungkan tidak memenuhi
prosedur.

F. Pembatalan Perkawinan
Pasal 22 Undang-undang No. 1 tahun 1974 menyatakan:
“perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat
untuk melangsungkan perkawinan”.

2. Akibat Hukum Perkawinan

A. Hak dan kewajiban suami isteri


Hak dan kewajiban suami isteri dalam Undang-undang No. 1 tahun
1974 diatur dalam pasal 30 s/d 34 yang menentukan garis besar sebagai berikut:
1. Suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan
rumah tangga;
2. Suami isteri wajib saling mencintai, menghormati, setia dan
memberi bantuan lahir bathin;
3. Hak dan kedudukan isteri seimbang dengan hak dan kewajiban
suami dalam kehidupan rumah tangga.
4. Suami isteri berhak untuk melakukan perbuatan hukum;
5. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu
keperluan hidup berumah tangga, dan isteri wajib mengurus rumah
tangga;
6. Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.

B. Harta Benda Dalam Perkawinan


Dalam pasal 35 disebutkan bahwa harta benda yang diperoleh selama
perkawinan menjadi harta bersama. Sedangkan harta bawaan masing-masing
suami isteri, serta harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai
hadiah/warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing.

C. Kedudukan Anak
Disebutkan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam
atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Hal ini bahwa anak yang lahir diluar
perkawinan yang sah bukanlah anak yang sah.
Dengan demikian anak yang lahir di luar perkawinan itu hanya dapat
mewarisi harta benda yang ditinggalkan ibunya dan keluarga ibunya.

10
D. Hak dan Kewajiban antara Orang Tua dan Anak
Dalam pasal 45 ditentukan bahwa kedua orang tua wajib memelihara
dan memelihara dam mendidik anak mereka dengan sebaik-baiknya, sampai
anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban ini berlaku terus meskipun
perkawinan antara kedua orang tua itu sudah putus.

E. Perwalian
Perwalian dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 diatur dalam
pasal 50 s/d 54. Akan tetapi juga mempunyai kaitan yang erat
dengan pasal 48 dan 49 yang mengatur kekuasaan orangtua dan
pembatasannya.
Perwalian hanyalah ada bilamana terhadap seorang atau beberapa
orang anak tidak berada dalam kekuasaan orang tuanya sama sekali.
Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam pasal 50 ayat (1) yang
menyatakan: ” Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas)
tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak
berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di bawah kekuasan
wali”.

3. Putusnya Perkawinan

A. Sebab-sebab Putusnya Perkawinan


Sebab putusnya perkawinan disebutkan dalam pasal 38 Undang-
undang No. 1 tahun 1974 adalah:

1. Kematian;
Putusnya perkawinan karena kematian adalah putusnya perkawinan
karena matinya salah satu pihak.

2. Perceraian; dan
Putusnya perkawinan karena perceraian adalah putusnya perkawinan
karena dinyatakannya talak oleh seorang suami terhadap isterinya yang
perkawinannya dilakukan menurut agama Islam.

3. Atas keputusan Pengadilan.


Putusnya perkawinan atas Keputusan Pengadilan adalah putusnya
perkawinan karena gugatan perceraian isteri terhadap suaminya yang
melangsungkan perkawinan menurut agama Islam atau karena gugatan
perceraian suami/isteri yang melangsungkan perkawinan menurut agama dan
kepercayaan bukan islam, gugatan perceraian mana dikabulkan Pengadilan
dengan suatu keputusan.

11
B. Akibat Putusnya Perkawinan
Bila perkawinan putus karena perceraian, bekas suami isteri yang
bersangkutan yang merupakan ayah dan ibu dari anak-anaknya, tetap
berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata untuk
kepentingan anak-anaknya.
Meskipun mungkin anak-anak itu ikut bersama ibunya, namun ayahnya
bertanggung jawab sepenuhnya atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan
anak-anaknya.
Kemudian mengenai harta bersama akibat putusnya perkawinan,
sebagaimana telah diterangkan, Undang-undang No. 1 tahun 1974 pada pasal 37
menyerahkan pengaturannya kepada hukum masing-masing yaitu hukum agama,
hukum adat, dan hukum-hukum lainnya.

12
RESUMAN HUKUM PERDATA

Resuman ini disusun guna untuk melengkapi tugas matakuliah


hokum perdata yang diampu oleh :bpk sarwadi S.H

Disusun oleh: aji santoso

FAKULTAS SYARI’AH AKHWALUSYAHSIAH(AS)

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH

DI WONOSOBO

13