Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

AKUNTANSI PERBANKAN

“ LAPORAN KEUANGAN PERBANKAN ”

DI SUSUN OLEH :

RISKY NOVELINO 1513010024

ERIK PRAMBUDI SETYANA 1513010047

MICHAEL ANTONI R M 1513010081

HENDY FEBRIANTO 1513010165

ALIF FARUQI FEBRI YANTO 1513010204

PROGAM STUDI AKUNTANSI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

“Menurut Munawir (2001 : 2), laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktifitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan
tersebut”.

Menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10


November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat banyak

Makalah ini disusun untuk membahas laporan keuangan di lmbaga keuangan terutama Bank,
karena setiap perusahaan atau lembaga dapat mengevaluasi semua kegiatan keuangan yang
dilakukan dengan melihat dan menganalisis semua kegiatan keuangan yang telah di lakukan.

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memahami konsep dari laporan keuangan
Bank.

1.2. Rumusan Masalah


· Bank
· Laporan Keuangan
· Laporan Neraca
· Rekening Administratif
· Laporan Laba Rugi
BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Bank
2.1.1. Pengertian Bank
Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima
simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote.[1]
Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat penukaran uang [2].
Sedangkan menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November
1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. [3]
Menurut pasal 1 Undang - Undang No. 4 Tahun 2003 tentang Perbankan, Bank adalah Bank
umum dan Bank Perkreditan Rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran.

2.1.2. Jenis Bank


Berdasarkan pasal 5 Undang – Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang
No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, terdapat dua jenis bank berdasarkan undang-undang, yaitu
:

1. Bank umum adalah : Bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam
bentuk giro dan deposito dalam usahanya terutama dalam memberikan kredit jangka pendek.

2. Bank Perkreditan Rakya adalah : Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran.
2.1.3. Fungsi Pokok Bank

Bank sebagai lembaga perantara keuangan memberikan jasa - jasa keuangan baik kepada pihak
yang membutuhkan dana dan pihak yang memiliki dana bank - bank melakukan beberapa fungsi
dasar sementara tetap menjalankan kegiatan rutinnya di bidang keuangan.

Fungsi dasar dan bank dapat dilihat dan keterangan berikut. Bank memiliki fungsi pokok sebagai
berikut ( Dahlan Siamat 2001 : 88)

1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi.

2. Menciptakan uang

3. Menghimpun dana dan menyalurkan kepada masyarakat.

4. Menawarkan jasa - jasa keuangan lain.

5. Menyediakan fasilitas untuk perdagangan intemasional

6. Menyediakan pelayanan penyimpanan untuk barang - barang berharga.

7. Menyediakan jasa - jasa pengelolaan dana.

2.2. Laporan Keuangan

2.2.1. Pengertian Laporan Keuangan

Pada mulanya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dari
pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat
penguji saja tetapi juga sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuangan
perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang berkepentingan
mengambil suatu keputusan.
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2007 : 19) laporan keuangan dalam suatu perusahaan
sebenarnya merupakan output dari proses atau siklus akuntansi dalam suatu kesatuan akuntansi
usaha, dimana proses akuntansi meliputi kegiatan-kegiatan :

· Mengumpulkan bukti-bukti transaksi

· Mencatat transaksi dalam jurnal

· Memposting dalam buku besar dan membuat kertas kerja

· Menyusun laporan keuangan

“Menurut Munawir (2001 : 2), laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktifitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan
tersebut”.

2.2.2. Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 , Tujuan laporan keuangan
adalah sebagai berikut :

1) Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2) Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang
mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum
menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu dan tidak diwajibkan untuk
menyediakan informasi non keuangan.

Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang
ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian
agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan ini mungkin mencakup, misalnya
keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk
mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

2.2.3. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut PSAK (2007) merupakan ciri khas yang
membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat karakteristik
kualitatif pokok yaitu:

1) Dapat dipahami.

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya
untuk segera dapat dipahami oleh pemakai.

2) RelevanAgar bermanfaat,

Informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan
keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa
depan, menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.

3) Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki kualitas andal jika
bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari seharusnya disajikan atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan.

4) Dapat dibandingkan

Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk
mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat
membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

2.2.4. Keterbatasan Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan produk akhir dari proses akuntansi yang mempunyai beberapa
keterbatasan. Keterbatasan yang dimiliki laporan keuangan ini bertujuan agar dalam membaca
laporan keuangan tidak menimbulkan salah tafsir.

Menurut Jumingan (2005 : 10) empat keterbatasan laporan keuangan adalah :


1. Laporan keuangan pada dasarnya merupakan laporan intern report, bukan merupakan laporan
final karena laba rugi riil/final hanya dapat ditentukan bila perusahaan dijual atau dilikuidasi.
Karena alasan tersebut laporan keuangan perlu disusun untuk periode waktu tertentu.
2. Laporan keuangan ditunjukkan dalam jumlah rupiah yang tampaknya pasti. Sebenarnya
jumlah rupiah ini dapat saja berbeda bila dipergunakan standar lain karena adanya lebih dari satu
standar yang diperkenankan.
3. Neraca dan laporan laba rugi mencerminkan transaksi-transaksi keuangan dari waktu ke
waktu.

Laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang lengkap mengenai keadaan


perusahaan. Laporan keuangan tidak mencerminkan semua faktor yang mempengaruhi kondisi
keuangan dan hasil usaha karena tidak semua faktor dapat diukur dalam satuan uang.

2.2.5. Jenis Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan.
Laporan keuangan disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang
menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.

Menurut PSAK (2007) No. 31, laporan keuangan bank terdiri atas:
1) Neraca

Bank menyajikan aktiva dan kewajiban dalam neraca berdasarkan karakteristiknya dan disusun
berdasarkan urutan likuiditasnya; urutan likuiditas secara garis besar akan sama dengan urutan
jatuh temponya. Pos lancar dan tidak lancar tidak disajikan secara terpisah karena sebagian besar
aktiva dan kewajiban suatu bank dapat direalisasikan atau diselesaikan dalam waktu dekat.

2) Laporan Laba Rugi

Bank menyajikan laporan laba rugi dengan mengelompokkan pendapatan dan beban menurut
karakteristiknya dan disusun dalam bentuk berjenjang (multiple step) yang menggambarkan
pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan operasional dan non operasional

3) Laporan Arus Kas

Laporan arus kas harus disusun berdasarkan kas selama periode laporan. Kas dan setara kas
terdiri atas kas, giro BI dan giro bank lain.

4) Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas menyajikan peningkatan dan penurunan aktiva bersih atau kekayaan
bank selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan
harus diungkapkan dalam laporan keuangan.

5) Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca,
laporan laba rugi dan laporan arus kas yang perlu penjelasan harus didukung dengan informasi
yang dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan.

2.3. Laporan Neraca

Laporan neraca adalah laporan keuangan utama yang diterbitkan pada akhir periode akuntansi
yaitu per tanggal 31 Desember. Tanggal tersebut adalah syarat minimal dan sifatnya formal
berdasarkan suatu kewajiban perusahaan melaporkan transaksi keuangan bukan berdasarkan
kebutuhan.

Disisi lain masih banyak perusahaan yang membutuhkan waktu lama untuk menerbitkan laporan
neraca, sehingga setiap saat pimpinan perusahaan melihat laporan posisi keuangan yang
dilihatnya adalah informasi yang sudah basi. Sementara pengguna Aplikasi Komputer akuntansi
dapat menampilkan laporan neraca kapan saja.

Dalam menyusun neraca pada akuntansi manual terlebih dahulu dibuat jurnal setiap transaksi
keuangan. Terus dibuat Neraca saldo dengan menghitung jumlah saldo setiap rekening neraca &
laba rugi selama satu periode akuntansi dan hasilnya dimasukkan ke kertas kerja (neraca lajur).
Berdasarkan fakta atau hal tertentu di buat ayat penyesuaian sehingga didapat neraca saldo yang
disesuaikan. Kolom berikutnya ikhtisar pabrikasi, rugi laba untuk merangkum biaya dan rugi
laba kolom terakhir adalah neraca akhir.

2.3.1. Pos pos Neraca

Menurut Jumingan (2005 : 13) unsur-unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran
posisi keuangan adalah aktiva, utang dan modal sendiri. Pos-pos ini didefinisikan sebagai berikut
:

a) Aktiva

Aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan. Bentuknya dapat berupa harta
kekayaan atau hak atas kekayaan atau jasa yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan.
Harta kekayaan tersebut harus dinyatakan dengan jelas, diukur dalam satuan uang dan diurutkan
berdasarkan lamanya waktu atau kecepatannya berubah kembali menjadi uang kas.

b) Utang

Utang menunjukkan sumber modal yang berasal dari kreditur. Dalam jangka waktu tertentu
pihak perusahaan wajib membayar kembali atau wajib memenuhi tagihan yang berasal dari pihak
luar tersebut. Pemenuhan kewajiban ini dapat berupa pembayaran uang, penyerahan barang atau
jasa kepada pihak yang telah memberikan pinjaman kepada perusahaan.

c) Modal Sendiri

Modal sendiri merupakan sumber modal yang berasal dari pemilik perusahaan. Dalam catatan
akuntansi modal sendiri ditentukan dengan mengurangkan modal pinjaman dari jumlah
keseluruhan modal yang ditanamkan dalam aktiva.
Tabel Pos pos Neraca Menurut Bank Indonesia

2.4.Rekening Administratif
2.4.1. Pengertian Rekening Administrasi
Rekening administratif adalah rekening dalam valuta asing yang dapat menimbulkan tagihan dan
atau kewajiban di masa mendatang yang merupakan komitmen dan kontinjensi yang mencakup
bank garansi maupun L/C yang dipastikan menjadi kewajiban Bank setelah dikurangi margin
deposit, spot, serta transaksi derivatif antara lain transaksi forward,option dan future, maupun
produk-produk lain yang sejenis baik terhadap penduduk maupun bukan penduduk.”

2.4.2. Transaksi Rekening Administrasi

Transaksi Rekening Administrasi adalah komitmen dan kontinjensi ( Of - Balance Sheet ) yang
terdiri dari warkat penerbitan jaminan, akseptasi / endosemen, irrevocable Letter of Credit (
L/C) yang masih berjalan, akseptasi wesel impor atas dasar L/C berjangka, penjualan Surat
Berharga dengan syarat repurchase agreement ( repo ) , standby L/C dan garansi lainnya, serta
transaksi derivatif yang mempunyai resiko Kredit.

2.4.3. Pos – Pos Rekening Administratif

a. Kewajiban

Kewajiban adalah komitmen yang di berikan oleh bank kepada nasabah dan atau pihak lain.

Kewajiban Komitmen

Kewajiban Komitmen antara lain :

· Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik

· Fasilitas kredit kepada bank lain yang belum ditarik

· Irrevocable L/C yang masih berjalan

· Posisi pembelian valuta asing

Kewajiban Kontinjen
Kontijensi adalah suatu keadaan yang masih diliputi ketidakpastian mengenai diperolehnya laba atau

rugi oleh suatu perusahaan, yang baru akan terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu

atau lebih peristiwa di masa yang akan datang.

Kewajiban Kontinjen terdiri dari :


1. Garansi yang diberikan

1.1 Penerbitan Jaminan

1.1.1 Bank Garansi

1.1.2 Risk Sharing

1.1.3 Standby L/C

1.1.4 Bid Bonds

1.1.5 Lainnya

1.2 Akseptasi atau endosmen surat berharga

1.3 Lainnya

2. L/C yang revocable dan masih berjalan dalam rangka impor ekspor

3. Penjualan Opsi Valuta Asing

Jumlah Kewajiban Kontinjen

Jumlah Tagihan/Kewajiban Kontinjen Bersih (selisih A dan B)

b. Tagihan
Tagihan Komitmen

Tagihan komitmen antara lain:

· Fasilitas pinjaman yang diterima dari pihak lain yang belum ditarik

Fasilitas ini merupakan fasilitas pinjaman yang diterima bank dari bank atau pihak lain dan
belum digunakan pada tanggal laporan.

· Posisi pembelian valuta asing


o Pembelian valuta asing berjangka
Pembelian valuta asing berjangka adalah transaksi berjangka valuta asing (forward/future) yang
masih outstanding pada saat tanggal laporan
o Pembelian valuta asing tunai (spot) yang belum diselesaikan
Pembelian valuta asing tunai adalah merupakan komitmen bank yang berupa tagihan karena
transaksi valuta asing secara tunai yang masih belum diselesaikan pada saat tanggal laporan.

Tagihan Kontinjen

Tagihan Kontinjensi terdiri dari :


1. Garansi dari bank lain

1.1 Bank Garansi

1.2 Jaminan Risk Sharing

1.3 Jaminan Lainnya

2. Pembelian Opsi Valuta Asing

3. Pendapatan bunga dalam penyelesaian

Jumlah Tagihan Kontinjen


2.5. Laporan Laba Rugi
2.5.1. Pengertian laporan laba rugi

Laporan rugi laba adalah laporan yang mengikhtisarkan pendapatan dan pengeluaran perusahaan
selama satu periode akuntansi, yang biasanya setiap satu kuartal atau satu tahun . Penjualan
bersih disajikan pada bagian atas dari setiap laporan, yang sesudahnya akan dikurangkan dengan
berbagai biaya untuk mendapatkan laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa, yang
umumnya cukup dinyatakan sebagai laba bersih saja. Sebuah laporan tentang laba dan deviden
per saham disajikan di bagian bawah dari laporan rugi laba. Rugi laba per lembar saham (EPS)
yang disebut sebagai “tototal akhir” menunjukkan bahwa di antara seluruh pos yang terdapat di
dalam laporan rugi laba, EPS adalah yang paling penting.

Depresiasi dan amortisasi merupakan komponen-komponen yang penting dari total biaya
operasional. Depresiasi (depreciation) adalah pembebanan tahunan terhadap laba yang
mencerminkan estimasi biaya dolar dari peralatan modal yang digunakan dalam proses produksi.
Depresiasi adalah penyusutan pada aktiva berwujud (tangible asset), sedangkan amortisasi
(amortization) adalah penyusutan pada aktiva tidak berwujud (intangible).

Bank menyajikan laporan laba rugi dengan mengelompokkan pendapatan dan beban menurut
karakteristiknya. Jenis-jenis pendapatan utama dari operasi suatu bank antara lain adalah
pendapatan bunga, pendapatan komisi dan provisi serta pendapatan lainnya. Jenis-jenis beban
utama dari operasi suatu bank antara lain adalah beban bunga, beban komisi, beban penyisihan
kerugian akibat produktif, beban yang terkait dengan penurunan nilai tercatat investasi dan beban
administrasi umum.
Untuk membuat laporan laba rugi kita harus mengetahui tentang pengertian laporannya. Laporan
laba rugi adalah suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi-laba yang
diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Yang kita dapatkan dalam laporan ini
dimana dalam laporan ini menggambarkan mengenai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan rugi-laba dalam suatu periode tertentu.
Laporan laba rugi mempunyai 2 unsur yaitu pendapatan dan beban/biaya.
Penghasilan (Income)
Adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akutansi dalam bentuk pemasukan atau
penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak
berasal dari kontribusi penanaman modal. Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas
perusahaan seperti penjualan barang dagang, penghasilan jasa (fee), pendapatan bunga dan
lainnya.
Beban (Expanse)
Adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akutansi dalam bentuk arus keluar
atau berkurangnya nilai aktiva atau kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak
menyangkut pembagian kepada penanam modal. Contoh yang termasuk dalam kategori
beban/biaya adalah harga pokok (penjualan atau produksi/HPP), biaya pemasaran, biaya gaji
karyawan, biaya penyusutan dan sejenisnya.
2.5.2. Format atau bentuk laporan laba rugi
Single Step
Yaitu bentuk laporan yang disusun dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi suatu
kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok lainnya yang terjadi dalam suatu periode.
Sehingga untuk menghitung laba rugi bersih hannya memerlukan satu langkah yaitu
mengurangkan total penghasilan dengan total biaya. Selisih positif antara kelompok penghasilan
dengan biaya disebut dengan istilah penghasilan bersih atau laba, sedangkan jika selisih tsb
negative disebut dengan rugi.

Multiple Step
Yaitu bentuk laporan yang disusun secara bertahap penghasilan dan beban disajikan sesuai
dengan uturan aktivitas yaitu kegiatan usaha diluar usaha dan luar biasa
Untuk menyajikan pos luar biasa seperti kebakaran, gempa, dan sebagainya perusahaan dapat
menganut salah satu dari 2 perlakuan berikut ini:
ALL INCLUSIVE
Pencatatan kerugian dari pos luar biasa tsb dapat disajikan dalam laporan laba rugi, sedangkan
dalam laporan laba yang ditahan hanya berisi net income yang ditransfer dari laporan rugi laba
deklarasi (pembayaran dividend), penyisihan dari laba (appropriation of retained earning)
CURRENT OPERATING PERFORMANCE/NON CLEAN SURPLUS CONCEPT
Pecatatan kerugian dari pos luar biasa tidak boleh disajikan dalam laporan laba rugi melainkan
disajikan dalam laporan laba ditahan atau laporan perubahan modal maka laporan laba rugi
hanya menentukan hasil dari operasi normal periode tersebut.

2.5.3. Fungsi Laporan Laba / Rugi

Berdasarkan Undang - Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 34, setiap bank
diwajibkan menyampaikan laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan laba / rugi
berdasarkan waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Menurut Bambang Riyanto
pengertian laporan keuangan adalah ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan,
dimana neraca ( Balance Sheet) mencerminkan nilai aktiva, hutang dan modal sendiri pada suatu
saat tertentu dan laporan laba 1 rugI (Income Statement ) mencerminkan hasil - hasil yang
dicapai dalam suatu periode tertentu biasanya meliputi periode 1 tahun.

Adapun pengertian dan neraca (Balance Sheet) adalah suatu gambaran dan laporan keuangan
bank yang mengemukakan perbandingan yang seimbang antara harta benda, milik atau kekayaan
bank dengan semua kewajiban, utang dan modalnya pada saat tertentu.

Dan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dan susunan laporan keuangan untuk
memenuhi kebutuhan akan informasi yang berguna dalam membuat keputusan bagi pihak - pihak
yang berkepentingan.

Laporan keuangan yang disusun dan disajikan sebagai data tahunan kepada semua pihak yang
berkepentingan pada hakekatnya mempunyai keterbatasan dalam memberikan gambaran tentang
keadaan keuangan dan potensi laba.

Untuk mengatasinyadiperlukan suatu laporan untuk beberapa periode, yaitu dengan menyusun
laporan keuangan yang diperbandingkan.

Laporan keuangan mempunyai arti penting sebagai berikut:

· Kepentingan masyarakat.

· Kepentingan pemegang saham.


· Kepentingan perpajakan

· Kepentingan pemerintah

· Karyawan

· Manajemen bank.

2.5.4. Pos pos Laba / Rugi


Laporan laba/rugi bank (Profit and Loss Statement) atau lebih dikenal juga dengan Income Statement dari
suatu Bank umum adalah suatu laporan keuangan bank yang menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan
non operasional bank serta keuntungan bersih bank untuk suatu periode tertentu. Berikut ini adalah pos-pos yang ada
pada laporan laba/rugi :

Tabel laba/rugi Bank Menurut Ketentuan Bank Indonesia


Tabel Pos Pos Laba / Rugi Menurut Bank Indonesia
I. Pendapatan
1. Pendapatan Operasional
a. Hasil Bunga
b. Provisi dan Komisi
2. Pendapatan Non Operasional
II. Biaya
1) Biaya Operasional
a) Biaya Bunga
b) Biaya Lanilla
2) Biaya Non Operasional
III. Laba/Rugi Sebelum Pajak
IV. Sisa/Laba/Rugi Tahun lalu
Sumber : Dendawijaya,2003 : 113-114
2.6. Rasio Keuangan Bank

Analisis rasio keuangan bank merupakan suatu alat atau cara yang paling umum digunakan
dalam membuat analisis laporan keuangan. Analisis rasio menggambarkan hubungan matematis
antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya. Karena penginterprestasikan terhadap rasio - rasio
ini cukup kompleks, maka keefektifan rasio keuangan ini sebagai suatu alat analisis sangat
tergantung dan kemampuan dan keahlian analisis dalam menginterprestasikannya. Berikut
beberapa analisis rasio keuangan yang digunakan dalam suatu bank, yaitu sebagai berikut:

a. Cash Ratio adalah : Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang dihimpun bank yang
harus segera dibayar. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam membayar
kembali simpanan nasabah pada saat ditari dengan menggunkaan alat likuid yang dimilikinya.
Menurut ketentuan Bank Indonesia, alat likuid terdiri atas uang kas ditambah dengan rekening
giro bank yang disimpan pada Bank Indonesia. Semakin tinggi rasio mi semakin tinggi pula
kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan, namun dalam praktik akan mempengaruhi
produktifitasnya.

b . Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah : Rasio antara seluruh jumlah kredit
yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menunjukkan salah satu
penilaian likuiditas bank. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya
kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal mi disebabkan karena jumlah dana yang
diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar.

c . Return on Assets (ROA ) adaiah Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin besar ROA bank,
semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi
bank tersebut dan segi penggunaan asset.

d . Return on Equity ( ROE) adalah : Perbandingan antara laba bersih bank dengan ROE
modal sendiri. Rasio mi banyak diamati oleh para pemegang saham bank serta para investor di
pasar modal yang ingin membeli saham bank yang bersangkutan. Kenaikan dalam rasio mi
berarti terjadi kenaikan laba bersih dan bank yang bersangkutan. Selanjutnya, kenaikan tersebut
akan menyebabkan kenaikan harga saham bank.
e . Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah Rasio yang memperlihatkan seberapa jauh
seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan,, surat berharga, tagihan pada
bank lain) ikut dibiayai dan dana modal sendiri bank, disamping memperoleh dana - dana dan
sumber - sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman, dan lain - lain. Rasio ini
merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai
akibat dan kerugian - kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko.

f. Debt to Equity Ratio ( DER) adalah Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank
dalam menutup sebagian atau seluruh utang - utangnya, baik jangka panjang maupun jangka
pendek. Dengan dana yang berasal dari modal bank sendiri.

2.7. Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas adalah analisis yang dilakukan terhadap kemampuan Bank dalam memenuhi
perolehan laba. Keuntungan sudah menjadi tujuan utama dan setiap perusahaan, dan keuntungan
tersebut modal akan bertambah yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan bank
dalam melaksanakan operasinya. Keuntungan yang diperoleh selain ditentukan oleh kecakapan
dan keterampilan pimpinan bank, juga tidak lepas dan kepercayaan para pemegang saham dan
masyarakat yang menyimpan uangnya berupa giro, tabungan, maupun deposito. Untuk memupuk
kepercayaan masyarakat yang menyimpan dananya, bank dituntut untuk memelihara alat - alat
likuid yang cukup besar tanpa menghilangkan kesempatan untuk memperoleh laba optimal.

Keuntungan yang rendah merupakan hambatan bagi pertumbuhan bank dan juga dapat
menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank dan sebaliknya. Dalam analisis mi
dicani hubungan timbal balik dengan pos - pos yang ada pada laporan laba / rugi bank dengan
pos pada neraca bank guna memperoleh berbagai indikasi yang bermanfaat dalam mengukur
tingkat efisiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan. Analisis Rasio Profitabilitas suatu
bank antara lain adalah Return on Assets, Return on Equity, Rasio biaya operasional, dan Net
profit margin. Berikut mi adalah pengertian dan rumus rasionya:

1. Return on assets adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen Bank
dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu Bank, semakin
besar pula tingkat keuntungan yang dicapai Bank tersebut semakin baik pula posisi Bank
tersebut dan penggunaan asset. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

x 100%

2. Return on Equity adalah rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih suatu Bank dengan
modal sendiri. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

x 100%

3. Biaya operasional adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat

efisiensi dan kemampuan Bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya.

x 100%

4. Rasio Net Profit Margi adalah Rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh
Bank disbanding dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Rasio ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :

x 100%
b. Contoh Perhitungan Rasio Rentabilitas, Solvabilitas, dan Likuiditas
2.8. Return Bank

2.8.1. Sumber dan Jenis Pendapatan Bunga

Kegiatan operasional suatu bank pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan
semua kegiatan ekonomi lanilla, yaitu memperoleh keuntungan. Keuntungan pokok Perbankan
adalah selisih bunga simpanan dengan bunga kredit atau pinjaman. Keuntungan ini dikenal
dengan istilah spread based. Namur disamping keuntungan dari kegiatan pokok tersebut yang
sebagian besar diperoleh dari bunga yang dihasilkan dari pemberian kredit, pihak Perbankan juga
dapat memperoleh pendapatan dari transaksi yang diberikan dalma jasa-jasa bank lanilla.

Jenis pendapatan yang diperoleh bank atas produk dan jasa yang diberikan lepada
masyarakat dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu sebagian berikut : (Kasmir, 2002 : 120).

1. Pendapatan bunga (Interest Income) adalah pendapatan yang diperoleh dalam bentuk bunga atas
pemberian kredit sebagai penyalur dana kepada masyarakat, baik perorangan atau badan usaha
dan juga penempatan dana kepada bank lain.

2. Pendapatan non bunga (Fee Based Income) adalah pendapatan provisi, fee atau komisi yang
diperoleh bank yang bukan merupakan pendapatan bunga. Pendapatan ini dapat juga diperoleh
dari pemasaran produk maupun transaksi jasa Perbankan.

Pendapatan dari transaksi dalam jasa-jasa yang disebut fee based income dewasa ini semakin
diupayakan untuk ditingkatkan oleh bank-bank komersial.

Perolehan pendapatan dair jasa-jasa bank ini walaupun relative kecil, namun mengandung suatu
kepastian dan sangat berperan besar dalam memperlancar transaksi simpan pinjam di dunia
Perbankan. Hal ini disebabkan resiko terhadap jasa-jasa bank ini lebih kecil jika dibandingkan
dengan pendapatan bunga kredit.

Adapun pendapatan yang diperoleh dari jasa-jasa bank antara lain (Kasmir,

2002 : 121).
1. Biaya Administrasi

Dikenakan untuk jasa-jasa yang memerlukan administrasi khusus. Pembebanan biaya


administrasi biasanya dikenakan untuk pengelolaan sesuatu fasilitas tertentu.

2. Biaya Kirim

Diperoleh dari jasa pengiriman uang (Transfer), baik jasa transfer dalam negeri maupun transfer
ke luar negeri.

3. Biaya Tagih

Merupakan jasa yang dikenakan untuk menagihkan dokumen-dokumen milik nasabahnya,


sepreti jasa kliring (penagihan dokumen dalam kota) dan jasa inkasso (penagih dokumen ke luar
kota). Biaya tagihan ini dilakukan baik untuk tagihan dokumen dalam negeri maupun luar
negeri_.

4. Biaya Provisi dan Komisi

Biya ini biasanya dibebankan kepada jasa kredit dan jasa transfer serta jasa- jasa atas bantuan
bank terhadap suatu fasilitas Perbankan.

5. Biaya Iuran

Diperoleh dari jasa pelayanan kartu kredit, dimana kepada setiap pemegang kartu dikenakan
biaya iuran.

6. Biaya Sewa

Dikenakan kepada nasabah yang menggunakan jasa safe deposit box. Besarnya biaya sewa
tergantung dari ukuran box dan jangka waktu yang digunakan.
2.8.2. Fee Based Income

Adalah pendapatan berupa komisi atau fee dari suatu kegiatan dengan mengandalkan
pelayanan atas jasa. Fee Based Income diperoleh dari biaya administrasi, provisi atau komisi,
ongkos telex yang dibebankan kepada nasabah sehubungan dengan produk dan jasa bank yang
dinikmatinya.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa strategi untuk meningkatkan fee based income
adalah dengan cara mengembangkan dan melakukan diversifikasi produk atau jasa yang
ditawarkan kepada masyarakat, disamping bila memunngkinkan menaikkan tarif fee atau provisi
yang dikenakan kepada nasabah.

Sumber utama untuk memperoleh fee antara lain berasal dari aktivitas jasa Perbankan,
seperti aktivitas dalam dan luar negeri. Pendapatan non bunga atau fee based income ini
dianggap cukup potensial karena beberapa pertimbangan, antara lain sebagai berikut :
· Pendapatan non bunga ini dapat diperoleh baik dari aktivitas pemberian
kredit maupun aktivitas lainnya yang bersifat non kredit. Mengandung resiko unpaid
(tidak terbayar kembali) yang relatif kecil karenapembayaran fee ini diterima segera jasa
maupun transaksi terjadi atau saat fee tersebut efektif dibebankan.
· Penetapan tarif fee oleh bank atas suatu produk atau jasanya tidak
banyak dipergunakan oleh tingkat fee yang diberlakukan oleh pesaing.
· Memberikan konstribusi yang cukup besar untuk peningkatan laba bank.

Alasan bank memperlukan fee based income adalah sebagai berikut :

Disamping keuntungan utama dari kegiatan pokok Perbankan yaitu dari selisih bunga
simpanan dengan bunga pinjaman (spread based) maka pihak Perbankan juga dapat memperoleh
keuntungan lainnya yaitu dari transaksi yang diberikannya dalam jasa-jasa bank lainnya.

Keuntungan dair transaksi dalam jasa-jasa bank ini disebut fee based. Dewasa ini semakin
banyak bank yang mencari keuntungan lewat jasa-jasa bank lainnya. Walaupun keuntungan yang
diperoleh dari jasa-jasa bank lainnya masih relatif kecil, namun mengandung suatu kepastian.
Kemudian penghasilan dari jasa ini pun cukup beragam sehingga pihak Perbankan dapat
lebih meningkatkan jasa-jasa bank lainnya. Yang paling penting adalah jasa-jasa bank lainnya ini
sangat berperan besar dalam memperlancar transaksi simpanan dari pinjaman.
BAB III

PENUTUP
3.1. Kesimpulan

Laporan keuangan melaporkan prestasi histories dari suatu perusahaan dan memberikan dasar,
bersama dengan analisis bisnis dan ekonomi, untuk membuat proyeksi dan peramalan untuk
masa depan. Laporan tahunan merupakan dokumen yang memberi informasi kepada pemegang
saham dan diaudit sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum.

Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan.
Laporan keuangan disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang
menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.

Menurut PSAK (2007) No. 31, laporan keuangan bank terdiri atas:

1) Neraca

2) Laporan Laba Rugi

3) Laporan Arus Kas

4) Laporan Perubahan Ekuitas

5) Catatan atas Laporan Keuangan


DAFTAR PUSTAKA

Eugene F. Brigham & Houston, Fundamentals of Financial Management (Dasar-


dasar Manajemen Keuanagan), edisi 10 Salemba Empat 2006.

Fred J. Weston & Thomas E. Coupeland, Manajemen Keuanagan, edisi 9.

Hidayah Nurul, Modul Akuntansi Perbankan.

1. Hoggson, N. F. (1926) Banking Through the Ages, New York, Dodd, Mead & Company.

2. A LAW DICTIONARY By John Bouvier.Revised Sixth Edition 1856.

3. Kasmir. Manajemen Perbankan.Jakarta:Rajawali Press.2000.

Lubis Irsan, Laporan Keuangan (www.pdffactory.com).

Peraturan Bank Indonesia Nomor : 6/20/Pbi/2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bank
Indonesia.

Direksi No. 31 / 147 / Kep / Dir, Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Tentang Kualitas
Aktiva Produktif Direksi Bank Indonesia ,