Anda di halaman 1dari 49

 Beranda

Search

Chemistry Of Drizzle
 Home
 Kuliah
 Praktikum
 Ceritaku
 Download

laboratorium kimia makanan

Tuesday, April 16, 2013 Neneng Suhartini No comments


Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook

Produk pangan dewasa ini semakin baragam bentuknya, baik itu dari segi jenisnya
maupun dari segi rasa dan cara pengolahannya. Namun seiring dengan semakin pesatnya teknik
pengolahan pangan, penambahan bahan-bahan aditif pada produk pangan sulit untuk dihindari.
akibatnya keamanan pangan telah menjadi dasar pemilihan suatu produk pangan yang akan
dikonsumsi.

Keamanan pangan merupakan hal yang sedang banyak dipelajari, karena manusia
semakin sadar akan pentingnya sumber makanan dan kandungan yang ada di dalam makanannya.
aban manusia dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karena danya kemajuan ilmu pengetahuan serta
kemajuan teknologi, sehingga diperlukan suatu cara untuk mengawasi keamanan pangan. Dalam
proses keamanan pangan, dikenal pula usaha untuk menjaga daya tahan suatu bahan sehingga
banyaklah muncul bahan-bahan pengawet yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan
suatu bahan pangan. Namun dalam praktiknya di masyarakat, masih banyak yang belum
memahami perbedaan penggunaan bahan pengawet untuh bahan-bahan pangan dan yang non
pangan. Formalin merupakan salah satu pengawet non pangan yang sekarang banyak digunakan
untuk mengawetkan makanan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1168/MENKES/ PER/X/1999 yang
merupakan perubahan dari Peraturan Menteri Kesehatan No.722/MENKES/IX/1988 tentang
bahan tambahan makanan, telah mengatur jenis bahan tambahan makanan yang diijinkan dan yang
dilarang penggunaannya. Pada lampiran dua Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1168/MENKES/PER/X/1999 menyebutkan bahwa bahan tambahan yang dilarang digunakan
dalam makanan adalah: asam borat dan senyawaan-nya, asam salisilat dan garamnya,
dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang dibrominasi,
nitrofurazon, formalin, kalium bromat (Anonim, 1999).
Formalin dijadikan salah satu zat untuk mengawetkan makanan, sehingga makanan akan
lebih lama bertahan dibanding desinfektan lain sehingga lebih dipilih untuk mengawetkan mayat.
Zat yang sebetulnya banyak memiliki nama lain berdasarkan senyawa campurannya ini memiliki
senyawa CH2OH yang reaktif dan mudah mengikat air. Bila zat ini sudah bercampur dengan air
barulah dia disebut formalin.
Tujuan penambahan formalin pada makanan adalah sebagai pengawet sekaligus sebagai
pengenyal pada mi basah dan bakso. Penyalahgunaan formalin pada makanan ini selain disebabkan
harganya yang sangat murah dan mudah didapatkan, juga disebabkan karena minimnya
pengetahuan produsen tentang bahaya penggunaan formalin pada makanan.
Salah satu makanan yang sering ditambahi formalin oleh produsen adalah tahu. Bahan
pangan ini cukup populer di masyarakat Indonesia. Kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena
rasanya enak, tetapi juga mudah untuk membuatnya dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk
masakan serta harganya murah. Selain itu tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan
karena kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein hewani. Tahu
mengandung zat gizi seperti lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi. Tahu
juga mempunyai kelemahan yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena
mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan, kebanyakan industri tahu yang
ada di Indonesia menambahkan bahan pengawet. Bahan pengawet yang ditambahkan tidak
terbatas pada pengawet yang diizinkan, tetapi banyak pengusaha yang dengan sengaja
menambahkan formalin (Depkes, 2009).
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini adalah salah satu zat tambahan
makanan yang dilarang. Meskipun sebagian banyak orang sudah mengetahui terutama produsen
bahwa zat ini berbahaya jika digunakan sebagai pengawet, namun penggunaannya bukannya
menurun namun malah semakin meningkat dengan alasan harganya yang relatif murah dibanding
pengawet yang tidak dilarang dan dengan kelebihan. Formalin sebenarnya bukan merupakan
bahan tambahan makanan, bahkan merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan.
Memang orang yang mengkonsumsi bahan pangan (makanan) seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan
dan bahkan permen, yang berformalin dalam beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Tapi
efek dari bahan pangan (makanan) berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian.
Formalin dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran
pernafasan. Di dalamtubuh cepat teroksidasi membentuk asam format terutama di hati dan sel
darah merah. Pemakaian pada makanan dapat mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia,
yaitu rasa sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau
kegagalan peredaran darah (Farida, 2010).
Pemeriksaan formalin secara kualitatif dapat dilakukan dengan menambahkan asam
kromatropat dalam asam sulfat pekat dengan pemanasan beberapa menit akan terjadi warna violet.
Penentuan kadar formalin dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain titrasi volumetri
asam-basa (Ditjen POM, 1979) dan spektrofotometri sinar tampak menggunakan pereaksi Nash
(Herlich, 1990).
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa formalin dalam makanan dengan metode
destilasi.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, dapat di angkat permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah terdapat formalin pada beberapa produk pangan yang akan diperiksa
2. Apakah kadar formalin yang terdapat pada sampel masih dalam batas yang diperbolehkan masuk
kedalam tubuh

1.3 Tujuan Kerja Praktek


Kerja praktek ini memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah
sebagai berikut:
1. Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah kedalam dunia industri atau dunia kerja.
2. Mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat digunakan dalam
dunia kerja
3. Memperluas wawasan tentang Kimia Kesehatan Lingkungan.
Tujuan Khusus dari kegiatan ini yaitu:
1. Mengidentifikasi formalin pada beberapa produk pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat
2. Mengetahui kandungan formalin yang terdapat pada beberapa produk pangan

1.4 Manfaat Kerja Praktek


Hasil kerja praktek ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa, universitas dan intansi
tempat kerja praktek.
Manfaatnya adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat menerapkan konsep kimia yang telah diperoleh dari perkuliahan pada tempat
Kerja Praktek.
2. Mahasiswa mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia berupa latihan dalam
peningkatan.
3. Mahasiswa mampu meningkatkan keterampilan dan kedisiplinan dalam bekerja
4. Mahasiswa dapat memperoleh ilmu baru yang tidak dapat dari perguruan tinggi
5. Dapat meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan
Gunung Djati Bandung.
6. Terjalin hubungan kerjasama antara Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dengan Balai Laboratorium Kesehatan
Provinsi Jawa Barat.
7. Instansi dapat menjalin hubungan baik dengan lembaga pendidikan, khususnya dengan Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
8. Suatu bentuk kerjasama dengan universitas untuk mengenalkan dunia kerja dan lapangan sebagai
bekal keterampilan bagi mahasiswa.

1.5 Waktu
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini di mulai pada tanggal 4 Juli sampai 15 Agustus
2011
1.6 Tempat
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini dilakukan di bidang Laboratorium kimia kesehatan
lingkungan Laboratorium bagian Kimia Makanan dan Minuman Balai Laboratorium Kesehatan
(BLK) Provinsi Jawa Barat.

1.7 Sistematika Penyusunan


Penyusunan laporan ini mengikuti sistematika penyusunan urutan penulisan sebagai
berikut: (1) Kata Pengantar, (2) Daftar Isi, (3) Isi laporan, (4) Daftar Pustaka, dan (5) Lampiran.
Bagian Daftar Isi terdiri atas: (a) Daftar Isi, (b) Daftar Tabel, dan (c) Daftar Gambar. Bagian Isi
Laporan terdiri atas: (a) Bab I Pendahuluan, (b) Bab II Tinjauan Kelembagaan (c) Bab III Tinjauan
Pustaka, (d) Bab IV Metode Pemeriksaan, (e) Bab V Hasil dan Pembahasan, dan (f) Bab VI
Kesimpulan dan Saran. Bagian Daftar Pustaka terdiri atas: Daftar Pustaka. Bagian Lampiran terdiri
atas: (a) Gambar Peralatan yang digunakan, (b) Struktur Organisasi BLK, (c) Kegiatan BLK, (d)
Capaian Kinerja BLK, (e) Alur Pelayanan BLK, (f) Alur Pengaduan BLK, dan (g) Denah Lokasi
BLK.
BAB II
TINJAUAN KELEMBAGAAN

2.1 Profil BLK


2.1.1 Sejarah BLK
Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat melaksanakan sebagian tugas Dinas Kesehatan yaitu dalam bidang
Laboratorium Kesehatan.
 Masa awal pendirian tahun 1970
Didirikan tahun 1970 sebagai Laboratorium Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular (P3M) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Fungsi: Melaksanakan kegiatan pemeriksaan laboratorium kesehatan lingkungan (kimia air,
makanan dan minuman) dan surveilans (Kolera, difteri, TBC, telur cacing, slifilis dan mikrobiologi
air) dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
 Periode 1978
Tahun 1978 menjadi Balai Laboratorium Kesehatan berdasarkan SK Menkes No.
142/Menkes/SK/IV/1978 berada dibawah direktur Laboratorium Dirjen Yankes.
Fungsi:
a. Melaksanakan pemeriksaan meliputi pemeriksaan mikrobiologi, kimia air, patologi klinik dan
imunologi.
b. Melaksanakan sistem rujukan (referal) Laboratorium Kesehatan
 Periode 1986
Tahun 1986 dengan SK/Menkes No. 783/Menkes/SK/XI/1986 BLK menjadi UPT pusat berada
dibawah kepala pusat laboratorium kesehatan sekretariat jendral departemen kesehatan RI dan
menjadi institusi penghasil PNBP (Pendapatan Negara bukan pajak).
 Periode 1998
Tahun 1998 BLK berada dibawah Dirjen Yan.Med Depkes RI
 Periode 2001-2009
Periode 2001 dengan SK Menkes RI No. 909/Menkes/SK/VIII 2001 BLK diserahkan kepada
Pemda Provinsi Jawa Barat melalui SK Gubernur Provinsi Jawa Barat No. 5 tahun 2002 menjadi
Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat dengan tugas pokok
melaksanakan sebagian fungsi dinas kesehatan dibidang pengembangan laboratorium kesehatan.
 Periode 2009-sekarang
Tahun 2009 dengan SK Gubernur No. 113 tahun 2009 BPLK menjadi Balai Laboratorium
Kesehatan dengan tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas kesehatan dibidang
pengembangan laboratorium kesehatan.
2.1.2 Gambaran Umum
Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan publik, orientasi Balai Laboratorium Kesehatan di
arahkan kepada kepuasan pelanggan, berusaha memberikan pelayanan semaksimal mungkin bagi
masyarakat. Balai Laboratorium Kesehatan diharapkan mampu menjadi Laboratorium kesehatan
terdepan yang mampu bersaing dalam pasar global dengan melakukan perbaikan secara terus
menerus dalam peningkatan kualitas pelayanannya.
Dalam rangka mewujudkan kepuasan yang optimal di Balai Laboratorium Kesehatan
Provinsi Jawa Barat perlu disikapi dan ditindaklanjuti masalah-masalah yang dijumpai berkaitan
dengan kepuasan pelanggan berdasarkan beberapa pokok pemikiran, bahwa:
1. Laboratorium Kesehatan sebagai Social Aspect yaitu merupakan suatu institusi pelayanan
kesehatan umum yang berate bagi nilai-nilai kemanusiaan dan pusat rujukan yang berskala
regional dan local sehingga harus mampu mengakomodir beban yang tinggi namun tetap
berorientasi kemasyarakatan.
2. Laboratorium Kesehatan sebagai pusat rujukan dan diagnose bagi ilmu kedokteran dan pelayanan
medis sehingga teknologi kecanggihan peralatan maupun disiplin ilmu, profesionalisme dituntut
sebagai salah satu kemajuan IPTEK yang senantiasa berkembang’
3. Laboratorium Kesehatan sebagai Economic Aspect merupakan lembaga yang harus mampu serta
layak secara ekonomi dan di arahkan pada kemampuan untuk di kelola secara swadaya.
2.1.3 Dasar Hukum
1. Pada tahun 1970 didirikan sebagai Laboratorium seksi pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular (P3M) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
2. SK Menkes No. 142/Menkes/SK/IV/1978 tanggal 28 April 1978 menjadi Balai Laboratorium
Kesehatan yang berada dan bertanggung jawab pada direktur Laboratorium Kesehatan Direktorat
Jendral Pelayanan Kesehatan.
3. SK Menkes No. 783/Memkes/SK/XI/1986 tanggal 8 november 1986 Balai Laboratorium
Kesehatanmenjadi UPT Pusat ditingkat provinsi yang bertanggung jawab kepada kepala pusat
Laboratorium Kesehatan Sekretariat Jenderal Departemen kesehatan RI.
4. Pada periode tahun 1998 BLK berada dibawah Dirjen Yan.Med Depkes RI.
5. Tahun 2001 dengan SK Menkes RI No. 909/Menkes/SK/VIII/2001 BLK diserahkan kepada
Pemda Provinsi jawa Barat melalui SK Gubernur Provinsi Jawa Barat No. 50 tahun 2002 BLK
dikukuhkan menjadi UPTD dibawah dinas kesehatan dan namanya menjadi Balai Pengembangan
Laboratorium Kesehatan (BPLK) Provinsi Jawa Barat.
6. Tahun 2009 dengan SK Gubernur No. 113 tahun 2009 menjadi Balai Laboratorium Kesehatan
dengan tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas kesehatan bidang pengembangan
laboratorium kesehatan.
2.1.4 Visi, Misi dan tujuan
2.1.4.1 Visi
Laboratorium kesehatan yang yang mandiri, dinamis dan sejahtera
2.1.4.2 Misi
1. Meningkatkan pelayanan prima yang berstandar Internasional
2. Meningkatkan profesionalisme yang inovatif, produktif dan kompetitif
3. Meningkatkan kinerja demi kepuasan pelanggan dan karyawan
4. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam keahlian, pengetahuan dan perilaku
5. Mengembangkan jenis pelayanansesuai dengan program kesehatan, pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
2.1.4.3 Tujuan
1. Meningkatkan kebijakan-kebijakan teknis yang mengatur penyelenggaraan pelayanan
laboratorium kesehatan yang lebih bermutu
2. Meningkatkan kualitas pelayanan-pelayanan laboratorium yang didukung oleh sarana dan
prasarana yang memadai
3. Meningkatkan kerjasama kemitraan dan meningkatkan kualitas manajemen kesehatan dalam
mengoptimalkan pemanfaatan potensi kesehatan.
2.1.5 Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas Pokok:
“Melaksanakan sebagian fungsi Dinas kesehatan di bidang Pengembangan Laboratorium
Kesehatan”
Fungsi:
“Pengelolaan Laboratorium Kesehatan”
2.1.6 Struktur organisasi
(Lihat di lampiran)
2.1.7 Sarana dan prasarana
1. Luas tanah : 2.816,84
2. Luas gedung: 1.642,75
Terdiri dari 3 gedung yaitu gedung A, gedung B dan gedung C dengan masing-masing berlantai
3.
Gedung A: Laboratorium Kimia Klinik, Immunologi, Mikrobiologi dan
Kimia Kesehatan Lingkungan.
Gedung B : Untuk Administrasi
Gedung C : Ruang diklat, gudang reagen dan ATK, Laboratorium Biomolekuler
3. IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
4. Perpustakaan
5. Ruang kantin
6. Mushola
7. Tempat wudhu
8. Sarana parkir
9. Ruang DIESEL
10. Ground tank
11. Ruang gas
12. Incinerator
13. Satuan Pengamanan (Satpam)
14. Kendaraan:
 Mobil kijang tahun 1995 dari APBN Depkes
 Mobil panther 2004 dari APBN Provinsi Jawa Barat
 Mobil Unit Laboratorium Udara : truk Izzu Panther tahun 2000, bantuan dari Kementrian
Lingkungan Hidup (KLH)
 Kendaraan roda 2 (motor), Honda Karisma tahun 2005 dari APBN Provinsi Jawa Barat
 Alat Laboratorium
 Ambulance
2.1.8 Sumberdaya kepegawaian
1. Jumlah pegawai : 85 orang, terdiri dari
- PNS : 58 orang
- CPNS : 8 orang
- TKK : 1 orang
- Tenaga Out Sourcing (Tenaga Honorer) : 14 orang (Satpam dan
Cleaning Service)
- Tenaga Out Sourcing (Tenaga Ahli) : 2 orang
- Tenaga Dokter (PTT) : 2 orang
2. Kualifikasi Pendidikan
- Tenaga Teknis : 39 orang = 46 %
- Tenaga non teknis : 46 orang = 54 %
Tabel 2.1 Daftar Pendidikan Kepegawaian
(Lihat di Lampiran)
2.2 Profil Laboratorium
2.2.1 Laboratorium Kimia Kesehatan Lingkungan
Laboratorium Kimia Kesehatan Lingkungan terdiri dari 5 Laboratorium yaitu
Laboratorium Air bersih, Laboratorium Air limbah, Laboratorium Makanan dan Minuman,
Laboratorium udara dan Laboratorium Toksikologi yang berada dibawah pengawasan Ibu Tuti
Rustiana sebagai Penanggung jawab Laboratorium Kimia Kesehatan Lingkungan.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Formalin
3.1.1 Formaldehida
Formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida dengan rumus
kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang
dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan
Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867.
Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi oksidasi katalitik pada metanol. Oleh
sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon dan
terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer
bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan
hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan
sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia. (Anonim, 2011)
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering
digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan,
Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih; lantai,
kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam
bidang medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat kutil.
Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk
sementara mengawetkan bangkai.
Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan rupa-rupa
bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau melamin, formaldehida menghasilkan
resin termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk
kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam bentuk busanya sebagai insulasi. Lebih dari 50%
produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida. Untuk mensintesis bahan-
bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi alkohol polifungsional seperti pentaeritritol,
yang dipakai untuk membuat cat bahan peledak. Turunan formaldehida yang lain adalah metilena
difenil diisosianat, komponen penting dalam cat dan busa poliuretana, serta heksametilena
tetramina, yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida untuk membuat RDX (bahan peledak).
(Anonim, 2011)
3.1.2 Pengertian Formalin
Formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi
serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau
yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol.
Formalin atau Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan aldehida
berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan
Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. Formaldehida
bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon. Terkandung dalam asap pada
kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida
dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada
di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan
organisme, termasuk manusia (Reuss 2005).
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam
air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang ('formalin' atau 'formol'
). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk
monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi
polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%.
Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini
lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam
reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi
elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi
Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik,
1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas
formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin.
Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan
formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara (Reuss 2005).
Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling
sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium.
Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan oksigen
terjadi pada 250°C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan persamaan kimia
2 CH3OH + O2 → 2 H2CO + 2 H2O.
Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam temperatur yang lebih tinggi, kira-
kira 650 °C. dalam keadaan ini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus yang menghasilkan
formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi

CH3OH → H2CO + H2.

Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada dalam
larutan formaldehida dalam kadar ppm. Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga
dihasilkan dari konversi etanol, yang secara komersial tidak menguntungkan.

Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang
beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% - 40%. Formalin
sangat mudah larut dalam air. Jika dicampurkan dengan ikan misalnya, formalin dengan mudah
terserap oleh daging ikan. Selanjutnya, formalin akan mengeluarkan (dehydrating) isi sel daging
ikan, dan menggantikannya dengan formaldehid yang lebih kaku. Akibatnya bentuk ikan mampu
bertahan dalam waktu yang lama. Selain itu, karena sifatnya yang mampu membunuh mikroba,
daging ikan tidak akan mengalami pembusukan. (Fahrudin, 2007)

3.1.3 Kegunaan Formalin


Secara umum, formalin digunakan sebagai berikut:
1. Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang, dan pakaian.
2. Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain.
3. Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca, dan bahanpeledak.
4. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas.
5. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
6. Bahan untuk pembuatan produk parfum.
7. Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
8. Pencegah korosi untuk sumur minyak.
9. Bahan untuk insulasi busa.
10. Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood).
11. Cairan pembalsam ( pengawet mayat ).
12. Dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1% ) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang
konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pemcuci piring, pelembut, perawat sepatu,
sampo mobil, lilin dan pembersih karpet.
3.1.4 Karakteristik produk pangan yang mengandung Formalin
Terdapat sejumlah produk yang secara sengaja ditambahkan formalin sebagai pengawet.
Untuk memastikan apakah sebuah produk pangan mengandung formalin atau tidak memang
dibutuhkan uji laboratorium. Kita sebaiknya berhati-hati bila menjumpai produk pangan yang
mempunyai ciri sebagai berikut:
1. Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur / rusak / busuk sampai tiga hari
pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10
derajat Celsius), terlampau keras, namun tidak padat, bau agak mengengat.
2. Mie basah yang awet beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak
mengandung formalin, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan
bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius), bau agak menyengat, tidak
lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal
3. Baso yang tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius), teksturnya sangat
kenyal.
Ada beberapa cara mengidentifikasi makanan yang menggunakan formalin:
1. Bakso yang menggunakan formalin memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan
bakso yang menggunakan banyak daging.
2. Ikan basah yang tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua dan tidak
cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.
3. Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari 3 hari, bahkan
lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin.
4. Mie basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat celcius), berbau
menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap. (Anonim, 2009)
3.1.5 Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan
Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, sukar bernafas, nafas
pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.
b. Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar
c. Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan
kabur, bahkan kebutaan
d. Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala,
pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan,
kejang, bahkan koma dan kematian.
Formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan
seharusnya, tetapi bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet makanan karena bahan-bahan
tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan diatas pengaruhnya terhadap kesehatan.
Walaupun begitu, karena ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen
makanan yang tetap menggunakan bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya.
Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan formalin sebagai bahan pengawet
makanan adalah karena bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat, karena harga nya relatif
murah dibanding bahan pengawet lain yang tidak berpengaruh buruk pada kesehatan. Selain itu,
formalin merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan
rupa yang bagus, misalnya bakso dan kerupuk. Beberapa contoh makanan yang dalam
pembuatannya sering menggunakan formalin adalah bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie, dan juga
daging ayam.
Formalin merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena
merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja
syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa besar kadar konsentrat formalin yang
digunakan dalam suatu makanan. Oleh karena itu lebih baik hindari makanan yang mengandung
formalin.
3.1.6 Bahaya Formalin
Formalin sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang
ditimbulkan dapat berupa : Luka baker pada kulit, Iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan
bahaya kanker pada manusia. Dampak formalin pada kesehatan manusia, dapat bersifat:
1. Akut : efek pada kesehatan manusia langsung terlihat : sepert iritasi, alergi, kemerahan, mata
berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing.
2. Kronik : efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan
berulang : iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas,
system saraf pusat, menstruasi dan pada hewan percobaan dapat menyebabkan kanker sedangkan
pada manusia diduga bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan
yang mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang, karena terjadi
akumulasi formalin dalam tubuh.
3. Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit kepala, ganggua
pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan
sensitasi pada paru Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan
terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang. Gangguan head dan kemandulan
pada perempuan Kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
4. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit,
gatal-gatal, penglihatan kabur, dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan beronsentrasi
tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan
pada lensa mata.
5. Apabila tertelan maka mulut,tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah,
dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (
tekanan darah rendah ), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan
hati, jantung, otak, limpa, pancreas, system susunan saraf pusat dan ginjal.
3.1.7 Pertolongan pertama keracunan formalin akut
Pertolongan tergantung konsentrasi cairan dan gejala yang dialami korban.Sebelum ke
rumah sakit : berikan arang aktif ( norit ) bila tersedia. Jangan melakukan rangsang muntah pada
korban karena akan menimbulkan risiko trauma korosif pada saluran cerna atas.Di rumah sakit
: lakukan bilas lambung ( gastric lavage ), berikan arang aktif (walaupun pemberian arang aktif
akan mengganggu penglihatan bila nantinya dilakukan tindakan endoskopi). Untuk mendiagnosis
terjadinya trauma esofagus dan saluran cerna dapat dilakukan tindakan endoskopi. Untuk
meningkatkan eliminasi formalin dari tubuh dapat dilakukan hemodyalisis (tindakan cuci darah),
indikasi tindakan cuci darah ini bila terjadi keadaan asidosis metabolik berat pada korban.
a. Untuk mencegah agar tidak terhirup gunakan alat pelindung untuk pernafasan seperti masker, kain
atau alat pelindung lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin kedalam
hidung atau mulut Lengkapi alat ventilasi dengan penghisap udara ( exhaust fan )yang tahan
ledakan.
b. Gunakan pelindung mata / kaca mata,penahan yang tahan terhadap percikan Sediakan kran air
untuk mencuci mata ditempat kerjayang berguna apabila terjadi keadaan darurat.
c. Gunakan pakaian pelindung bahan kimia yang cocok Gunakan sarung tangan yang tahan bahan
kimia.
d. Hindari makan,minum dan merokok selama berkerja, cuci tangan sebelum makan.
3.1.8 Tindakan Pertolongan
1. Bila terhirup
Jika tidak aman memasuki daerah paparan, pindahkan penderita ketempat yang aman bila perlu
gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis unuk melakukan pernafasan buatan segera
hubungi Dokter.
2. Bila terkena mata
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan pastikan tidak
ada lagi sisa formalin di mata Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (
seujung sendok the garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus menerus sampai
penderita siap dibawa ke Rumah Sakit Segera bawa ke Dokter.
3. Bila terkena kulit
Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena Formalin,Cuci kulit selama 15- 20 menit
dengan sabun atau deterjen lunak dan cair yang banyak dan dipastikan dan dipastikat sudah tidak
ada lagi bahan yang tersisa dikulit ,pada bagian yang terbakar ,lindungi luka dengan pakian yang
kering ,steril dan longgar,bila perlu segera hubungi dokter.
4. Bila tertelan
Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.
3.2 Destilasi
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik
pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat
dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan.
Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan
termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori
bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model
ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk
memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu
campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya.
Senyawa-senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih
masing-masing.

Gambar 1. Alat Destilasi Sederhana


Gambar di atas merupakan alat destilasi atau yang disebut destilator. Yang terdiri dari
thermometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu penampung destilat.
Thermometer Biasanya digunakan untuk mengukur suhu uap zat cair yang didestilasi selama
proses destilasi berlangsung.
3.3 Asam Kromatofat (K10H8O8S2)
Asam kromatofat digunakan untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan.
Formalin juga bereaksi dengan asam kromatopik menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna
merah keunguan. Reaksinya dapat dipercepat dengan cara menambahkan asam fosfat dan dan
hydrogen peroksida. Caranya bahan yang diduga mengandung formalin ditetesi dengan campuran
antara asam kromatopik, asam fosfat, dan hydrogen peroksida. Jika dihasilkan warna merah
keunguan maka dapat disimpulkan bahwa bahan tersebut mengandung formalin (Reuss 2005).
3.4 Asam Sufat (H2SO4)
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik)
yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak
kegunaan, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia. Kegunaan utama termasuk pemrosesan bijih
mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.
Reaksi hidrasi (pelarutan dalam air) dari asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat.
Jika air ditambah kepada asam sulfat pekat, terjadi pendidihan. Senantiasa tambah asam kepada
air dan bukan sebaliknya. Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan isipadu kedua cairan.
Air kurang padu dibanding asam sulfat dan cenderung untuk terapung di atas asam. Reaksi tersebut
membentuk ion hidronium:
H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-.
Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen pengering
yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buahan kering. Apabila gas SO3
pekat ditambah kepada asam sulfat, ia membentuk H2S2O7. Ini dikenali sebagai asam sulfat fuming
atau oleum atau, jarang-jarang sekali, asam Nordhausen. Di atmosfer, zat ini termasuk salah satu
bahan kimia yang menyebabkan hujan asam. Asam sulfat dipercayai pertama kali ditemukan di
Iran oleh Al-Razi pada abad ke-9 (Wells 1984).

BAB IV
METODE PEMERIKSAAN
4.1 Alat dan Bahan
Tabel 4.1 Alat dan Bahan yang digunakan
Alat Bahan
Labu kjeldahl 500 ml H3PO4 10%
Mat pipet Asam kromatropat 60 %
Corong kecil Batu didih
Neraca Aquades
Cawan timbang
Gelas ukur 100 ml
Gelas piala
Tabung reaksi

4.2 Prosedur Pemeriksaan


1. Ditimbang sebanyak 10-20 gram sampel dan dimasukan ke dalam labu kjeldahl yang telah berisi
100-200 ml aquadest dan batu didih
2. Ditambahkan 5 ml asam fosfat 10%
3. Campuran Didestilasi perlahan-lahan hingga diperoleh 20 ml destilat yang ditampung dalam gelas
ukur yang telah berisi sekitar 1-2 ml aquadest
4. 2 ml destilat dimasukan kedalam tabung reaksi
5. Ditambahkan 5 ml asam kromatropat 0,5 % dalam asam sulfat 60 %
6. Dimasukan kedalam penangas air mendidih selama 15 menit
7. Jika berwarna ungu, berarti sampel tersebut mengandung formalin

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Pemeriksaan
5.1.1 Hasil Pemeriksaan Positif (+)
No Kode Sampel Ciri-ciri Formalin
1 Tb-10/437/mmkl Berminyak +
2 Tb-10/443/mmkl Kenyal +
3 Tb-10/463/mmkl Berminyak +
4 Tb-10/469/mmkl Kenyal +
5 Tb-10/470/mmkl Kenyal dan bau +
6 Tb-012/489/mmkl Warnanya Kuning mencolok +
7 Tb-02/516/mmkl Bau +
8 Tb-02/518/mmkl Warnanya kuning dan berminyak +
9 Tb-03/543/mmkl Warnanya kuning pudar dan berminyak +
10 Tb-03/545/mmkl Warnyanya putih dan teksturnya keras +
11 Tb-03/559/mmkl Teksturnya lebar dan berminyak +
12 Tb-04/570/mmkl Teksturnya lebar dan lengket +
13 Tb-04/571/mmkl Teksturnya kecil dan lengket +
14 Tb-04/572/mmkl Teksturnya keras +
15 Tb-06/601/mmkl Warnanya hitam, kenyal, keras, dan segar +
16 Tb-04/602/mmkl Teksturnya lebar dan lengket +
17 Tb-04/617/mmkl Teksturnya kecil dan lengket +
18 Tb-04/637/mmkl Teksturnya kenyal +
19 Tb-04/663/mmkl Teksturnya lengket dan berbau +
20 Tb-04/668/mmkl Teksturnya keras dan berwarna hitam +

5.1.2 Hasil Pemeriksaan Negatif (-)


No Kode Sampel Jenis Formalin
1 Tb-10/424/mmkl Pempek -
2 Tb-10/432/mmkl Cilok -
3 Tb-10/435/mmkl Mie ayam -
4 Tb-10/436/mmkl Mie telor -

5 Tb-10/459/mmkl Baso kecil -


6 Tb-10/462/mmkl Mie basah -
7 Tb-012/464/mmkl Mie -
8 Tb-012/468/mmkl Tahu kuning -
9 Tb-03/477/mmkl nugget -
10 Tb-03/478/mmkl Otak-otak -
11 Tb-03/451/mmkl Pempek -

12 Tb-04/450/mmkl nugget -
13 Tb-04/441/mmkl Tahu kuning -
14 Tb-04/442/mmkl Tahu putih -
15 Tb-486/mmkl Baso -
16 Tb-490/mmkl Bihun -
17 Tb-496/mmkl Tahu putih -

18 Tb-497/mmkl Tahu -
19 Tb-504/mmkl Tahu kuning -
20 Tb-540/mmkl Baso putih -

5.2 Pembahasan
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika
kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam
sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan
pada tubuh.
Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung,
alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan
perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur
darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran
darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam
menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.
Melalui pemeriksaan ini, ditemukan sejumlah produk pangan seperti Mie basah dan tahu
yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Jadi untuk masyarakat harus waspada terhadap
pedagang yang menjual tahu dan mie basah karena dilihat dari kegunaan formalin itu sendiri sudah
tidak cocok untuk bahan pangan dan juga formalin dapat juga mengakibatkan beberapa penyakit.
Berdasarkan sifat bahan makanan yang telah diperiksa, Semakin tinggi kandungan
formalin, maka tercium bau obat yang semakin menyengat, sedangkan tahu atau mie yang tidak
berformalin akan tercium bau protein kedelai yang khas.
Tahu dan mie yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat kenyal),
sedangkan tahu dan mie tak berformalin jika ditekan akan hancur; Tahu dan mie berformalin akan
tahan lama, sedangkan yang tak berformalin paling hanya tahan satu dua hari. Tahu dan mie yang
memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat penampakannya. Jika tahu dan mie
memakai pewarna buatan, warnanya sangat homogen/seragam dan penampakan mengilap.
Sedangkan jika memakai pewarna kunyit, warnanya cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita
potong, maka akan kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak homogen/seragam. Bahkan, ada
sebagian masih berwarna putih.
Adanya kandungan formalin pada bahan makanan ditandai dengan timbulnya warna ungu
sampel ketika dipanaskan pada tabung reaksi setelah dilakukan detilasi terlebih dahulu. Selain
dengan metode destilasi, pemeriksaan formalin juga dapat dilakukan dengan metode lain salah
satunya adalah metode Kit. Test Kit Formalin merupakan alat uji cepat kandungan formalin yang
mudah untuk digunakan siapa saja dengan background pendidikan apa saja. Test Kit Formalin
berbasis pada analisis pembentukan warna antara formaldehid atau formalin dengan pereaksi
warna yang ada didalamnya. Warna ungu akan terbentuk jika produk positif mengandung
formalin.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan maka diperoleh 20 sampel yang
mengandung formalin yang terdiri dari Mie, Baso, Siomay, Tahu, Nugget dan Otak-otak. Tetapi
yang lebih banyak mengandung kadar formalin yaitu Tahu dan Mie.
2. Berdasarkan hasil pemeriksaan, rata-rata sampel yang banyak mengandung Formalin adalah Mie
basah dan Tahu.

6.2 Saran
1. Menghindari dan cermat dalam memilih makanan yang aman dan bebas dari bahaya zat–zat
tertentu terutama formalin adalah salah satu upaya dalam mengurangi resiko keracunan zat
tersebut.
2. Perlu dilakukan penelitian bahan tambahan makanan lain (misalnya boraks dan pewarna) yang
digunakan dalam mie, baso, tahu dan bahan pangan lain.
3. Masyarakat perlu segera diberikan informasi tentang keamanan makanan yang dikonsumsi.
4. Laboratorium kesehatan merupakan suatu instansi pemerintah untuk melayani masyarakat
sehingga diharapkan harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Bahaya Formalin. Available
at:http://mily.wordpress.com/2009/09/10/bahaya- formalin-2/. (Diakses tanggal 29 September
2011).

Anonim. 2011. Efek samping formalin. Available at: http://id.shvoong.com/medicine-and-


health/epidemiology-public-health/2158297-formalin-dan-efek-sampingnya/. (Diakses 29
september 2011).

Anonim. 2011. Cara Untuk Pengujian Formalin Pada makanan. Available


at: http://easy4test.blogspot.com/2010/11/cara-untuk-melakukan-
pengujian.html. (Diakses tanggal 20 september 2011).

Anonim. 1999. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1168/MENKES/PER/X/ 1999.


Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Buckle. 1987. Ilmu Pangan, diterjemahkan oleh Purnomo, H. Jakarta: Penerbit UI Press.

Fadholi, Arif. 2009. Analisis Formalin Pada Tahu. Available


at: http://ariffadholi.blogspot.com/2009/10/jurnal-analisis-formalin-
pada tahu.html#!/2009/10/jurnal-analisis-formalin-pada-tahu.html. (Diakses tanggal
20 september 2011)

Farida I. 2010. Bahaya Paparan Formalin terhadap Tubuh. Available


at: http://cheminterconnected.spaces.live.com. (Diakses 10 Desember 2011).

Fahrudin. 2007. Formalin dan Bahayanya bagi Kesehatan. Available at:


http://www.tribun- timur.com/view.php?id=47300&jenis=Opini. (Diakses tanggal 28 November
2011)

Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Wells A. F. 1984. Structural Inorganic Chemistry, 5th ed. Sulfate acid. Available at:
http://en.wikipedia.org/wiki/sulfate.com. (Diakses tanggal 28 November 2011)

Reuss G, W. Disteldorf, A.O.Gamer. 2005. Formaldehyde in Ullmann’s Encyclopedia of Industrial


Chemistry Wiley-VCH. Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/Formaldehyde. (Diakses tanggal
29 November 2011).

LAMPIRAN
Lampiran 1 : Alat-alat yang digunakan

Desikator LabuDestilasi

Neraca Analitik Lemari Pemanas

Hot plate tabung reaksi

Peralatan destilasi Pemeriksaan sampel tahu

Pipet Volume

Lampiran 2: Struktur Organisasi Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi Jawa


Barat
Peraturan Gubernur:113 tahun 2009
Kepala Balai Laboratorium Kesehatan
Provinsi Jawa Barat
(dr. Tintin Gartinah SpPK)
Kelompok Fungsional
Sub bagian Tata Usaha
(Drs. Isak Solohin)
Tenaga Fungsional

Lampiran 3: Kegiatan Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat


I. Pelayanan Laboratorium Klinis
1. Pemeriksaan kimia klinik
Mengetahui fungsi organ: Jantung, ginjal, hati, metabolism karbohidrat, lemak dan protein.
Jenis pemeriksaan:
- Gula darah
- Kolesterol
- Trigliserida
- Asam urat
- Kreatinin
- Ureum
- Bilirubin
- Alkalifosfatase
- Tinja
- HDL Kelesterol
- SGOT
- SGPT
2. Pemeriksaan hematologi
Melakukan pemeriksaan terhadap darah untuk mengetahui adanya kelainan pada darah.
Jenis pemeriksaan:
- Hemoglobin
- Leukosit
- Trombosit
- Hematokrit
- Entrosit
- Laju endapan darah
- Morfologi darah tepi
3. Pemeriksaan Imunologi
Melakukan pemeriksaan secara serologis untuk mengetahui adanya penyakit sebagai berikut:
- Hepatitis A, B dan C
- HIV
- TORCH
- Dengue
- Tifes/widal
- ASTO
- CRP
- Rhematoid Faktor
4. Pemeriksaan Bakteriologi dan Parasitologi
Melakukan pemeriksaan secara mikroskopis dan biakan untuk menentukan penyebab infeksi serta
penentuan kekebalan bakteri terhadap obat.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi:
- TBC
- Antrax
- Kolera
- Difteri
- Shigella
- E. coli
- Malaria
- Telur cacing
- Filaria
- Amoeba
- Gonococcus
- S.Typhi

II. Pelayanan Laboratorium Kesehatan Masyarakat


1. Pemeriksaan Kimia Lingkungan
Diajukan untuk memeriksa kualitas lingkungan hidup. Pemeriksaan dilakukan terhadap:
a. Air bersih, air minum, Air limbah dan Air badan Air untuk parameter fisika dan kimia
b. Udara ambien, untuk parameter: SOx, NOx, H2S,NH3,CO dan partikel debu.
2. Bakteriologi Lingkungan
Diajukan untuk memeriksa adanya bakteri pencemar pada:
- Air bersih
- Air minum
- Air kolam
- Air badan air
3. Kimia Makanan dan Minuman
Ditujukan untuk memeriksa adanya unsur-unsur toksik atau bahan tambahan yang terdapat dalam
makanan dan minuman serta unsur-unsur pembentukannya. Parameter yang diperiksa:
- Pengawet (formalin, boraks, benzoat)
- Proksimat (karbohidrat, lemak, protein dan kadar air)
- Pewarna buatan
- Pemanis buatan
4. Bakteriologi Makanan dan Minuman
Ditujukan untuk memeriksa adanya bakteri pencemar yang terdapat pada makanan dan minuman
yang digunakan oleh masyarakat agar memenuhi syarat kesehatan. Parameter yang diperiksa
adalah Escherichia Coli dan Angka kuman.
5. Toksikologi
Ditujukan untuk memeriksa adanya bahan toksik atau pencemar dalam bahan pemeriksaan.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah:
a. Pestisida: Memeriksa adanya cemaran atau residu pestisida (Organoklorin, Organofosfat dan
Karbamat) dalam makanan dan sisa pencernaan makanan (muntahan).
b. Kimia organik seperti: Sianida.
c. Kimia anorganik seperti: Logam berat, Arsenik, Merkuri/Raksa, dll.
III. Pelayanan Pemeriksaan Radiologi dan Ultrasonografi (USG)
IV. Pemeriksaan Electrokardiografi (EKG)
Melayani permintaan dari:
- Masyarakat
- Peserta ASKES
- Instansi Pemerintah
- Instansi Swasta
- Kejadian luar biasa (KLB): Diare, flu burung, H1N1, Demam berdarah, chikungunya, keracunan
makanan, dll
- Surveilans: HIV-AIDS, TBC, Infeksi menular seksual, dll
V. Melaksanakan Diklat Teknis Laboratorium Kesehatan
VI. Tempat Magang tenaga teknis laboratorium dari:
- Instansi Pemerintah kabupaten/kota di Jabar maupun Nasional
- Lembaga pendidikan pemerintah maupun swasta
- Institusi swasta
VII. Tempat penelitian bekerjasama dengan pihak instansi pendidikan pemerintah dan swasta
VIII. Mengadakan pemantapan mutu eksternal regional di bidang:
1. Kimia Klinik
2. Hematologi
3. Mikrobiologi
4. Kimia Lingkungan
Lampiran 4: Capaian Kinerja Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat
1. Pemeriksaan Laboratorium
No Tahun Realisasi Pemeriksaan Target pemeriksaan Prosentase
1 2007 160.344 108.6 147.65%
2 2008 167.558 109.548 159.95%
3 2009 154.922 170.451 90.98%

2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)


No Tahun Realisasi (Rp) Target (Rp) Prosentase
1 2007 1.550.034.800 1.032.195.000 150.17%
2 2008 1.797.423.000 1.560.000.000 115.22%
3 2009 2.394.156.300 1.873.804.550 127.70%

Lampiran 5: Alur Pelayanan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi Jawa


Barat
Costumer

Costumer
Pembayaran

Pembayaran
Pendaftaran

Pendaftaran
Pengambilan Sampel
Pengambilan Sampel
Hasil

Hasil
Analisis
Analisis

Penyerahan Hasil

Penyerahan Hasil

Costumer

Costumer

Lampiran 6: Alur Pengaduan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi Jawa


Barat
Customer
Manajer Administrasi Pelayanan
Staf Manajemen Administrasi Pelayanan Pendaftaran

Manajer Teknis

Customer

Staf Manajer Teknik/Penyedia

Lampiran 7: Denah Lokasi Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi Jawa Barat

U
BPOM

RS. Hasan Sadikin


Jl. Sederhana

BLK

Jl. Raya Sukajadi Pasteur Leuwi Panjang

CARE FOUR

Lampiran 8 : Daftar Pendidikan Kepegawaian BLK

No Pendidikan Jumlah
1 Spesialisasi Patologi Klinik 2
2 Spesialisasi Radiologi 1
3 Dokter umum 3
4 Magister Biomolekuler (S2) 1
5 Magister Farmasi (S2) 1
6 Magister Kedokteran Dasar (S2) 1
7 Sarjana Pangan (S1) 1
8 Sarjana Kimia Murni (S1) 1
9 Sarjana Kesehatan Masyarakat (S1) 1
10 Sarjana Ekonomi (S1) 1
11 Sarjana Biologi (S1) 1
12 Sarjana Administrasi (S1) 2
13 D4 Analis Kesehatan 3
14 D3 Analis Kesehatan 16
15 D3 Farmasi 1
16 D3 Akper 2
17 D3 Perawat Gigi 1
18 D3 Radiografer 1
19 SMAK (Analis Kesehatan) 1
20 SPA (Analis Kesehatan) 2
21 Perawat 1
22 SLTA 22
23 SMEA 4
24 SMK 4
25 SLTP 1
26 SD 9
27 Asisten Apoteker 1
Total 85

Posted in: Semester 7


Newer Post Older Post Home

0 komentar:

Post a Comment

chat twitter

on twitter
Pengunjung
233293
Popular Posts
 TITRASI ARGENTOMETRI (TITRASI PENGENDAPAN)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Percobaan · Menentukan


konsentrasi AgNO 3 yang distandarisasikan terhadap NaC...

 Penentuan Kadar Abu

BAB V PEMBAHASAN Abu adalah zat anorganik sisa pembakaran dari senyawa
organic ( Sudarmadji, 1989). Dalam bahan pangan, selain abu terda...

 Unsur golongan VA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkup ilmu kimia dan kedudukan
ilmu kimia sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam. A...

 LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II ISOTERM ADSORPSI

Tujuan · Menentukan isoterm adsorpsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi


asam asetat pada arang.

 Penentuan Kadar Vitamin C

BAB V PEMBAHASAN Vitamin c atau yang dikenal sebagai asam askorbat


(H ...

About Drizzle
Thynne Drizzle

Chat Room
Follow Me

Follow this blog

My Archive
Powered by Blogger.

online
Like'rrsss

Connect With Us

Recomended
Instructions
my age
Copyright © 2012 Chemistry Of Drizzle | IF.C 4rrul'z 09
Design by Catatan Informatika

e
l
z
z
i
r
D
f
o
y
r
t
s
i
e
h
C
SHARE
http://chemistryofdrizzle.blogspot.co.id/2013/04/laboratorium-kimia-makanan.html
Diposkan oleh Kevin Rudhyansyah | Minggu, 13 Januari 2013 | | Label: kimia analisa

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Bagi kebanyakan orang, formalin adalah bahan yang lazim digunakan untuk pengawet
mayat . Formalin mempunyai sifat khas dibanding desinfektan lain sehingga lebih dipilih untuk
mengawetkan mayat.

Formaldehide yang lebih dikenal dengan nama formalin sebenarnya bukan merupakan bahan
makanan, bahkan merupakan zat yang tidak boleh di tambahkan pada makanan. Formalin bagi tubuh
manusia diketahui sebagai zat beracun, karsinogen, mutagen, korosif, dan iritatif.

Akhir – akhir ini semakin marak dibicarakan tentang formalin yang terdapat dibeberapa bahan
makanan. Formalin dijadikan salah satu zat untuk mengawetkan makanan, sehingga makanan akan
lebih lama bertahan.

Pengawet formalin mempunyai unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein,
karenanya jika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari
bagian permukaan tahu hingga terus meresap ke bagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah
terikat unsur kimia dari formalin maka bila di tekan tahu terasa lebih kenyal. Selain itu protein yang
telah mati tidak akan di serang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, itulah sebabnya
tahu atau makanan lainnya menjadi lebih awet.

Sifat antimicrobial dari formaldehid merupakan hasil dari kemampuannya menginaktivasi


protein dengan cara mengkondensasi dengan amino bebas dalam protei menjadi campuran lain.
Kemampuan dari formaldehid meningkat seiring dengan peningkatan suhu (Lund,1994). Mekanisme
formalin sebagai pengawet adalah jika formaldehid bereaksi dengan protein sehingga membentuk
rangkaian – rangkaian antara protein yang berdekatan.

Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di
dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki
dosis tinggi.
Formalin juga dapat merusak persyarafan tubuh manusia dan di kenal dengan zat yang
bersifat neurotoksik. Gangguan pada persyarafan berupa susah tidur, sensitif, mudah lupa, sulit
berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan gangguan menstruasi dan infertilas. Penggunaan
formalin jangka panjang pada manusia dapat menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan.

(Sumber : CP-BULLETIN SERVICE edisi januari 2006)

Dampak Buruk Formalin Bagi Tubuh Manusia

 Kulit : irritatif, kulit kemerahan, kulit seperti terbakar, alergi kulit

 Mata : irritatif, mata merah dan berair, kebutaan

 Hidung : Mimisan

 Saluran Pernapasan : Sesak napas, suara serak, batuk kronis, sakit tenggorokan

 Saluran Pencernaan: Irritasi lambung, mual, muntah, mules

 Hati : Kerusakan hati

 Paru – paru : Radang paru – paru karena zat kimia (pneumonitis )

 Saraf : Sakit kepala, lemas, susah tidur, sukar konsentrasi

 Ginjal : Kerusakan ginjal

 Organ reproduksi : Kerusakan testis, ovarium, gangguan menstruasi, fertilitas.

(Sumber : Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia)


BAB II

ISI

FORMALIN/FORMALDEHIDE (CH₂O)

Nama Kimia : Methanal

Nama lain :Formaldehide solution, Formalin, Formol, Formic AldehIde, Methaldehyde, Methylene oxide,
Oximethylene, karsan.

Rumus Kimianya : CH₂O

SENYAWA KIMIA

1. Struktur Kimia :

2. Sifat Fisika – Kimia Formalin

 Massa molar : 30,03 g.mol¯¹

 Densitas : 1 g/m³

 Titik didih : -117 °C (156 K)

 Titik leleh : -19,3 °C (253,9 K)

 Kelarutan dalam air > 100g/100 ml (20° C)


Dalam udara bebas formaldehid berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya
di jual dalam kadar larutan ±37% menggunakan merk dagang ‘formalin’ atau ‘formol’).

Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit yang ada dalam bentuk monomer
H₂CO. Formaldehide dalam larutan bersifat sebagai pereduksi yang kuat, terutama dengan adanya
alkali. Formaldehide bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan
formaldehyde harus di tutup serta di isolasi supaya tidak kemasukkan udara.

(Sumber : www.Wikipedia Indonesia/formaldehida.html)


UJI KUALITATIF FORMALIN

A. UJI ASAM KROMATROPAT

 Prinsip : Formadehide dapat diketahui dengan penambahan reagen asam kromatropat dalam asam
sulfat pekat disertai pemanasan beberapa menit akan terjadi pewarnaan violet.
 Pereaksi : Pereaksi yang digunakan adalah asam kromatropat dibuat dengan melarutkan asam
1,8-dihidroksinaftalen-3,6-diosulfat dalam H₂SO₄ 72% (kira-kira 500mg/100ml).
 Prosedur : Sebanyak 5 ml pereaksi asam kromatropat dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambah 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Larutan dimasukkan ke dalam penangas air
mendidih selama 15 menit dan diamati perubahan warna yang terjadi. Adanya formaldehyde
ditunjukkan dengan timbulnya warna ungu terang sampai ungu tua.
(Sumber: Dr. Ir. Wisnu Cahyadi, M.Si, 2009)

 Reaksi Kimia
Formalin dengan adanya asam kromatropat dalam asam sulfat disertai pemanasan beberapa menit
akan terjadi paewarnaan violet.

Reaksi asam kromatropat mengikuti prinsip kondensasi senyawa fenol dengan formaldehida
membentuk senyawa berwarna (3,4,5,6-dibenzoxanthylium).

Pewarnaan disebabkan terbentuknya ion karbenium-oksonium yang stabil karena mesomeri.

(sumber: http://www.scribd.com/doc/39999429/Chapterll-artikel)

B. LARUTAN SCHIFF

Prosedur :Sejumlah sample digerus dalam mortir, tambahkan air secukupnya, saring. Ambil filtrat, kemudian
diasamkan dengan HCl sampai pH kurang dari 3, lalu tambahkan pereaksi Schiff yang tak berwarna
dengan volume sama banyak. Setelah beberapa saat akan terbentuk warna merah sampai ungu jika
positif ada formalin.

(Sumbaer: Fitriah Kusumawati, Ikatriharyanti. Penatapan Kadar formalin. Fakultas Farmasi


Universitas Muhammadiyah Surakarta.pdf.file)

C. PEREAKSI NASH’S

Prosedur :Larutan Uji yang mengandung formalin ditambah dengan pereaksi nash’s lalu diinkubasikan dalam
penangas air pada suhu 37°C±1°C selama 30 menit. Timbulnya warna kuning yang intens menunjukkan
adanya formalin.

Pereaksi Nash’s dibuat dengan melarutkan 150 gram ammonium asetat, 3ml asam asetat, 2ml asetil
aseton dengan aquades sampai 1000ml.

Cara ini juga digunakan untuk melakukan uji kuantitatif untuk mengetahui kandungan formalin yang
ditambahkan dalam makanan.
D. UJI HEHNER-FULTON

Prosedur :Sebanyak 5ml larutan hasil destilasi ditambah 6ml H₂SO₄ dan didinginkan.

Sebanyak 5ml campuran ini masukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambah 1ml susu bebas aldehid
secara perlahan sambil didinginkan.

Campuran selanjutnya ditambah 0,5ml pereaksi (dibuat dengan mencampur 1 bagian air brom jenuh
ke dalam 1bagian asam sulfat pekat dan dibiarkan dingin). Adanya formaldehid ditunjukkan dengan
timbulnya warna merah muda ungu.

E. UJI DENGAN FERRI KLORIDA

Prosedur :Sebanyak 5gram sample ditimbang lau ditambah 50ml aquades dan dimasukkan ke dalam corong
pisah.

Campuran ditambah 1-2 ml asam asetat 4N lalu dikocok dengan 2x20ml eter.

Lapisan eter dipisahkan dan diuapkan dengan rotavapor sampai kering.

Residu ditambah 10-20ml aquades lalu diaduk dan dituang ke dalam 3ml asam sulfat yang telah
ditetesi dengan 2 tetes FeCl₃ 10% secara perlahan-lahan. Timbulnya warna merah lembayung
menunjukkan adanya formaldehid.
UJI KUANTITATIF FORMALIN

SPEKTROFOTOMETRI

Prinsip metode Spektrofotometri didasarkan adanya interaksi dari energy radiasi


elektromagnetik zat kimia tempat cahaya putih diubah menjadi cahaya monokromatis yang bisa
dilewatkan ke dalam larutan berwarna, sebagian cahaya diserap dan sebagian diteruskan.

Hasil analisis formalin secara kualitatif positif (berwarna ungu), maka intensitas warna di ukur
dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 560 nm. Semakin tinggi kandungan formaldehida
dalam sampel nilai absorbannya makin besar. Nilai absorban kemudian dibandingkan dengan kurva
standar.

Prosedur:

1. Dibuat larutan standar formalin konsentrasi 1000 ppm dengan cara mencampurkan larutan formalin
sebanyak 0,25 ml (larutan formalin 40%).
2. Kemudian di encerkan dalam labu takar 100 ml dengan aquadest sampai tanda batas.
3. Larutan tersebut kemudian di buat larutan standar dengan konsentrasi
1,3,6,10,15,20,25,30,35,40,50,60,70,80,90,100,dan 120 ppm dan diencerkan dengan aquadest dalam
labu takar 100 ml sampai tanda batas.
4. Larutan pereaksi sebanyak 1 ml larutan standar formalin (dibuat untuk semua konsentrasi diatas)
sambil diaduk.
5. Tabung reaksi dimasukkan kedalam penangas air yang mendidih selam 15 menit, angkat dan dinginkan
kemudian masukkan kedalam kuvet dan ukur absorbansinya dengan spektrofotometri pada panjang
gelombang 546 nm.
6. Plot hubungan antara konsentrasi dengan absorban larutan standar formalin, lalu buat persamaan
regresi linier (digunakan untuk menghitung konsentrasi /kadar formalin dalam sampel).
7. Penentuan kadar formalin dalm sampel. Mencampurkan 10 gram sampel dengan cara menggerusnya
dalam lumpang.
8. Campuran dipindahkan kedalam labu kjedahl dan diasamkan dengan H₃PO₄. Labu kjedahl
dihubungkan dengan pendingin dan disuling. Hasil sulingan ditampung dan ditambahkan
pereaksi(larutan jenuh asam 1,8 dihidroksinaftalen 3,6 disulfonat dalam H₂SO₄ 72%), diencerkan
dalam labu takar 50 ml sampai tanda batas, kemudian sampel tersebut diukur absorban dengan
spektrofotometri dan hitung kadar formalinnya.

Perhitungan kadar formalin berdasarkan persamaan garis lurus dari kurva baku:

Y =bX + a, maka :

X= x fp

Keterangan :

Y :Absorbansi

a :Konstanta

X :Kadar formalin sampel (mg/l)

b :Koefisien

fp :Faktor Pengenceran
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Formaldehid merupakan bahan tambahan kimia yang efisien, tetapi dilarang ditambahkan
pada bahan pangan (makanan), tetapi ada kemungkinan, formaldehid digunakan dalam pengawetan
susu, tahu, mie, ikan asin, ikan basah, dan produk pangan lainnya.

Formaldehid merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika
kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel,
sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada
tubuh.

Uji kualitatif formalin pada bahan makanan dapat dilakukan dengan reagen asam kromatopat.
Untuk sampel susu dapat dilakukan dengan uji Hehner-Fulton dan uji dengan Ferri Klorida.

Uji kuantitatif formalin menggunakan spektrofotometer. Prinsipnya adalah penyerapan warna


dengan alat spektrofotometer panjang gelombang 560 nm

http://kevinrudhy.blogspot.co.id/2013/01/formalin.html