Anda di halaman 1dari 112

TEORI AKUNTANSI KEUANGAN

Scot, William R

1.1. Tujuan Penulisan Buku


Teori akuntansi:
– Normatif: apa yg shrsnya dilakukan Suwardjono
– Positif: penjelasan tentang “apa” & “Bagaimana” Scott
Inti buku Scott: tentang akuntansi, bukan tentang bagaimana menghitung
Tujuan buku memberi pemahaman tentang lingkungan akuntansi dan pelaporan keuangan yang
ada sekarang ini, dari sudut pandang investor maupun manajer.

1.2. Beberapa Perspektif Sejarah


Akuntansi memiliki sejarah yang panjang. Deskripsi utuh pertama terkait sistem double entry
bookkeeping muncul pada tahun 1494 oleh Luca Pacioli, matematikawan/pertapa dari Italia.
Pacioli tidak menemukan sistem tersebut, melainkan tumbuh seiring berjalannya waktu. “Method
of Venice” tersebut banyak dmasukkan dalam buku matematika di masa itu.
Pada tahun 1543 metode Pacioli tersebut ditranslasikan ke bahasa Inggris.
Pada awal abad 18, konsep gabungan kekayaan perusahaan berkembang di Inggris, termasuk
eksistensi permanen, keterbatasan kewajiban pemilik, dan kemampuan untuk mentransfer saham.
Maka, terjadilah perubahan dari akuntansi finansial, dari sistem yang memungkinan pedagang
mengontrol operasinya menuju sistem untuk menginformasikan investor. 1844 Companies Act
memberikan konsep untuk membuat neraca yang diaudit untuk pemegang saham, namun tidak
langsung dilaksanakan dan baru dikumandangkan kembali pada awal 1900an.
Pada abad 20, perkembangan akuntansi banyak terjadi di Amerika yang perkembangan
ekonominya meningkat pesat. Kemunculan pajak penghasilan badan pada 1909 memberikan
dampak terhadap pengukuran pendapatan.
Terjadinya market crash pada 1929 menimbulkan Great Depression yang melahirkan SEC
(Securities and Exchange Commision) pada 1934 oleh Securities Act, yang bertujuan
memproteksi investor.
Pada tahun 1940 akuntansi berbasis biaya historis menerima ekspresi tertinggi dari monograph
Paton & Littleton yg terkenal, Introduction of Corporate Accounting Standard.
Terdapat 2 alternatif dari historical cost, yaitu value in use dan fair value (akan dipelajari di
chapter 7).
Pada tahun 1960an, teori akuntansi berfokus kepada konsep praktik akuntansi seperti apa yang
terbaik. Akhirnya, didapatkan konsep informasi statemen keuangan yang berguna. Pada 1966,
dibuat A Statement of Basic Accounting Theory oleh American Accounting Association (AAA),
sebuah draft rerangka konseptual IASB dan FASB (2008).
Apabila diperhatikan lebih lanjut, akuntansi mengalami perubahan besar ketika terjadi kasus-
kasus, seperti pada tahun 1900, dan kasus Enron yang melahirkan Sarbanes-Oxley Ac

1.3 The 2007-2008 Market Meltdowns


Meskipun regulasi dan standar baru tersebut, Special Purpose Entities (SPE) masih banyak
digunakan, terutama oleh institusi finansial, yang mereka sering sebut sebagai Structured
Investment Vehicle (SIV).
Kendaraan ini mereka dibuat oleh pemberi pinjaman seperti bank, perusahaan mortgage, dan
institusi finansial lainnya unuk mengamankan holding atas mortgage, credit card balances, auto
loans, dan aset finansial lainnya. SIV kemudian mengumpulkannya menjadi asset-backed
securities (ABS). ABS kemudian disekuritaskan sebagai collaterallized debt obligation (CDOs).
Untuk membiayai aset yang dibeli oleh sponsor,SIV meminjam uang dengan menerbitkan asset-
backed commercial paper (ABCP).
Pembiayaan dengan ABSs dengan uang pinjaman adalah strategi yang berisiko. SIV kemudian
mengurangi risiko nya dengan membeli credit default swaps (CDS).
Mulai tahun 2007, struktur seperti mulai hancur. Asset-backed securities kurang transparan. Hal
ini kemudian menimbulkan kecurigaan pasar yang menimbulkan penurunan yang lebih jauh
terhadap nilai pasar. Penurunan yang didaarkan kepada sedikitnya pembelian saham oleh
investor ini disebut sebagai liquidity risk. Semakin banyak kecurigaan terhadap nilai sekuritas
adalah dengan menurunkan harga penawaran, atau tidakmembeli sama sekali.
Penjualan CDOs dan CDSs dan CDOs sintetis menjadi atu bagian yang disebut Shadow Banking
System. Singkatnya, risiko counerparty adalah hal utama yang menyebabkan hancurnya pasar
ABS. Citigroup mengembalikan $147,4 milyar aset kepada sponsor SUVnya.
Buyback dari para SUV tadi memberkan konsekuensi bahwa pembayaran tersebut memperlemah
sulvensi peruahaan dan pengetahuan mengenai aset “beracun”.
Musibah ini menimbulkan kritik keras terhadap akuntansi nilai wajar
IASB dan FASB membutuhkan pekerjaan ulang untuk fair-value accounting standard, dan juga
standar derekognisi, konsolidasi, dan pengakuan pendapatan yang beberapa akan dibahas pada
chapter 7.
Berdasarkan pemaparan di atas, terdapat 4 poin penting.
1. Pelaporan keuangan harus transparan, sehingga investor dapat melihat dengan jelas nilai aset
dan liabilitas
2. akuntansi nilai wajar dapat menggantikan value-in-use ketika market collapse karena nilai
likuiditas yang menimbulkan penrunan terahadap kepercayaan diri investor.
3. Kegiatan off-balance sheet harus diungkapkan seluruhnya, meskipun tidak dikonsolidasikan
4. karena standar akuntansi adalah satu peraangka regulasi,perubahan yang substansil terhadap
standar yang ada, termasuk pengungkapan terhadap kompensasi manajer, telah terjadi.

1.4 Efficient Contracting


Kritik tajam terhadap penerapan akuntansi berdasarkan fair value salah satunya muncul dari
pengguna paham efficient contracting. Efficient contracting berpendapat bahwa kontrak
perusahaan menjadi dasar kebutuhan informasi akuntansi. Laporan keuangan menimbulkan
kepercayaan. Kebutuhan yang utama, lain dengan akuntansi nilai sekarang, adalah reliabilitas.
Perbedaan utama yang kedua adalah terkait dengan konservatisme pada pelaporan keuangan.
Berdasarkan konservatisme, kerugian yang belum terealisasi diakui pada saat itu juga, sedangkan
keuntungan tidak diakui sampai dengan terealisasi.
Dalam buku ini, kedua paham yaitu kebergunaan untuk pengambilan keputusan dan efficient
contracting sama-sama memiliki nilai penting. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada section
1.10.

1.5 Catatan Perilaku Etis


Jatuhnya Enron dan World Com membuat kepercayaan masyarakat juga ikut jatuh. Hal ini
memicu pertanyaan mengenai bagaimana menghilangkan dan menjaga kepercayaan public
terhadap laporan keuangan. Salah satu cara adalah dengan meningkatkan regulasi atau peraturan
termsuk standard akuntansi yang baru. Namun bagimanapun, perilaku etis akuntan dan auditor
juga sangat dibutuhkan karena beberapa kasus banyak melibatkan mereka.
Dengan perilaku etis, diharapkan akuntan dan auditor melakukan hal yang benar. Dalam konteks
ini, akuntan dan auditor diharapkan bertindak dengan integritas dan bebas serta menjadikan
kepentingan publik di atas kepentingan pegawai maupun klien. Buku ini mengasumsikan adanya
pengungkapan penuh, pernyataan keuangan yang bermanfaat, perilaku kooperatif dan bereputasi.

1.6 Standar Akuntansi Rules-Based VS Principles-Based


Standar akuntansi Rules-Based mencoba untuk memberikan aturan detail atau rinci mengenai
bagaimana menghitung. Sebagai alternatif, standar akuntansi juga memberikan dasar-dasar
umum saja dan selanjutnya bergantung pada keputusan auditor professional untuk meyakinkan
bahwa penerapan standard tidak salah.
Saat ini, dunia bergerak menuju standar Principles-Based. Namun, pada kenyataannya meskipun
kerangka kerja konseptual telah disusun dengan kuat, standar tersebut akan menghadapi tekanan
dari manajer dan bahkan pemerintah untuk menyusun pelaporan keuangan dengan keinginan
mereka. Untuk menghindari tekanan tersebut, auditor dan akuntan harus mengadopsi pandangan
jangka panjang dari tanggung jawab mereka.

1.7 Kompleksitas Informasi Akuntansi Keuangan dan Pelaporan


Lingkungan akuntansi bersifat sangat kompleks dan menantang. Kompleksitas dalam lingkungan
akuntansi disebabkan karena produk akuntansi adalah informasi yang merupakan komoditas kuat
dan penting. Alasan utama kompleksitas ini adalah karena tidak adanya konsep akuntansi yang
sempurna dan standar. Akibatnya, individu tidak akan memiliki reaksi yang sama meskipun
informasi yang diperoleh sama. Misalnya, setiap investor memiliki pertimbangan dalam
melakukan investasi. Ada investor yang lebih memilih penilaian asset dan kewajiban berdasar
value-in-use dengan alas an akan membantu untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa
depan. Investor lain mungkin lebih suka akuntansi nilai wajar dengan pertimbangan mewakili
pelayanan manager. Lainnya mungkin kurang setuju terhadap segala bentuk akuntansi nilai
sekarang karena dianggap tidak dapat diandalkan atau hanya karena telah terbiasa menggunakan
informasi biaya historis.
Alasan lain kompleksitas informasi adalah karena informasi akuntansi lebih dari
mempengaruhi keputusan individu. Informasi akuntansi selain mempengaruhi keputusan, juga
akan mempengaruhi kinerja pasar seperti pasar sekuritas dan pasar tenaga kerja manajerial. Hal
ini merupakan hal penting untuk efisiensi dan keadilan ekonomi sehingga pasar bekerja dengan
baik.
Tantangan bagi para akuntan keuangan adalah untuk bertahan dan berkembang dalam lingkungan
yang kompleks, ditandai dengan preferensi yang bertentangan dari kelompok berbeda yang
berbeda dengan pelaporan keuangan. Buku ini berpendapat bahwa prospek bertahan hidup dan
kemakmuran akan meningkat jika akuntan memiliki kesadaran kritis mengenai dampak
pelaporan keuangan pada investor, manajer, dan ekonomi.

1.8 Peran Riset Akuntansi


Terdapat dua cara yang dapat digunakan untuk melihat peranan penelitian akuntansi,yaitu:
1. Melihat pengaruh penelitian terhadap praktek akuntansi
Misalnya, Esensi dari Pendekatan Keputusan Manfaat berdasarkan kerangka konseptual adalah
untuk membantu investor memperoleh informasi dalam membuat keputusan investasi yang baik
dan tepat.
2. Meningkatkan pemahaman atas lingkungan akuntansi
Sebagai contoh, penelitian yang fundamental menjadi model dari pemecahan konflik. Dalam
memahami model teori agency, kita memperoleh peningkatan pemahaman mengenai
kepentingan manajer dalam pelaporan keuangan, serta peranan perencanaan kompensasi
eksekutif dalam memotivasi dan mengendalikan operasi manajemen perusahaan, selain itu juga
mengenai cara menggunakan informasi akuntansi.

1.9 Pentingnya Asimetri Informasi


Akuntansi berperan mengurangi asimetri informasi. Terdapat dua macam asimetri informasi,
yaitu :
1. Adverse selection, yaitu suatu kondisi dimana terdapat beberapa orang, seperti manajer
dan orang-orang dalam lainnya, yang mempunyai lebih banyak informasi yang
menguntungkan dibandingkan investor pihak luar. Pada kasus ini, manajer dapat
bertindak oportunis dengan membuat bias informasi keuangan yang dirilis kepada
investor lainnya dengan menunda atau merilis informasi secara selektif di awal untuk
kepentingan pihak-pihak tertentu. Taktik ini dapat mempengaruhi keputusan yang akan
diambil oleh investor biasa.
2. Moral hazard, terjadi ketika ada satu pihak dalam sebuah hubungan kontraktual
melakukan tindakan yang tidak diketahui oleh pihak lainnya. Misalnya, manajer
melakukan tindakan di luar pengetahuan pemegang saham yang melanggar kontrak dan
sebenarnya secara etika atau norma mungkin tidak layak dilakukan

1.10 Permasalahan Fundamental dalam Teori Akuntansi


Karena ketiadaan konsep akuntansi yang sempurna, ternyata pengukuran yang paling berguna
dari net income yaitu untuk menginformasikan investor – untuk mengendalikan adverse
selection- tidak sama dengan pengukuran terbaik untuk mengukur dan memotivasi manager
sebagai pelayan – untuk mengendalikan moral hazard. Kepentingan manajer terbaik disajikan
oleh informasi yang memiliki korelasi tinggi dengan usaha mereka dalam menjalankan
perusahaan. Tetapi informasi yang relevan untuk investor, seperti nilai pasar dari asset dan
kewajiban, mungkin akan mudah berubah dan berdampak pada net income yang dilaporkan. Dan
juga terhadap tingkat dimana nilai pasar reliable tidak tersedia, informasi yang berorientasi pada
nilai mungkin menjadi lebih bias dan dapat dimanipulasi dibandingkan informasi yang
berdasarkan historical cost. Akibat dari kedua hal tersebut mengurangi korelasi usaha manajer.
Masalah fundamental dalam teori akuntansi adalah bagaimana mendesain dan
mengimplementasikan konsep dan standard yang mengkombinasikan penginformasian investor
dan peran evaluasi kinerja manajer sebagai informasi akuntansi. Beberapa kebijakan
membutuhkan trade off di antara kedua peran ini. Kepentingan investor terbaik disajikan oleh
informasi yang menyajikan tradeoff yang berguna antara relevansi dan reliabilitas, dimana
informasi yang relevan adalah informasi yang memungkinkan investor untuk menilai prospek
ekonomi perusahaan di masa yang akan datang, dan informasi yang reliable adalah informasi
yang tepat dan bebas dari bias atau manipulasi manajer lainnya.

1.11 Regulasi Sebagai Reaksi Terhadap Permasalahan Fundamental


Terdapat dua rekasi dasar dari permasalahan fundamental, yaitu:
1. Mengapa tidak menjaga peraturan untuk jumlah minimum yang diperlukan untuk
menyediakan lingkungan yang stabil untuk perdagangan, untuk menyelesaikan konflik
dan hukuman untuk kesalahan. Kemudian membiarkan kekuatan pasar menentukan
seberapa banyak dan informasi perusahaan apa saja yang harus dihasilkan. Investor dan
pengguna laporan lainnya sebagai pihak yang meminta informasi dan manajer sebagai
penyedia informasi. Selanjutnya, kekuatan demand dan supply dapat menentukan
kuantitas informasi yang dihasilkan.
2. Mengadakan regulasi untuk melindungi investor dengan dasar bahwa informasi
merupakan sebuah komoditas yang komplek dan penting dimana kekuatan pasar gagal
mengendalikan moral hazard dan adverse selection.

1.12 The organization of This Book


Pada bab 1 ini menjelaskan apa yang menjadi garis besar outline dalam teori akuntansi keuangan
pada buku ini.

Terdapat empat komponen dasar yang akan dibahas pada buku ini.
1.12.1 Kondisi Ideal
Menurut Scott (2006) yang dimaksud kondisi ideal adalah suatu perekonomian yang dicirikan
oleh pasar sempurna dan lengkap, atau tidak adanya asimetri informasi dan halangan-halangan
lainnya bagi operasi pasar yang wajar dan efisien. Kondisi tersebut juga disebut ‘first-best’.
Selain itu, penilaian aset dan kewajiban berdasar nilai tunai/sekarang harapan arus kas yang akan
datang. Arbitrasi memastikan bahwa nilai-nilai tunai dan nilai-nilai pasar sama. Laporan
keuangan sangat relevan dan reliabel, serta investor-investor dan manajer-manajer tidak ruangan
untuk tidak sepakat atas pilihan kebijakan akuntansi, dan tidak ada dorongan-dorongan untuk
meminta regulasi. Akuntansi berbasis nilai tunai atau nilai pasar adalah contoh-contoh yang lebih
umum konsep akuntansi nilai wajar (fair value), yang didefinisi sebagai jumlah dalam mana
pihak-pihak akan mau membeli dan menjual harta dan kewajiban secara bebas tanpa campur
tangan pihak ketiga (arm’s-length transaction).
Dalam praktik, kondisi ideal tidak ada/tidak berlaku. Namun begitu, kondisi ideal memberi
sebuah patok-duga dalam mana kondisi yang lebih realistis, kondisi akuntansi ‘second-best’,
dapat diperbandingkan. Studi akuntansi dalam kondisi ideal adalah berguna, karena dapat
membantu untuk melihat apakah masalah-masalah real dan seperti apakah tantangan-tantangan
akuntansi nilai wajar bila kondisi-kondisi ideal yang diperlukan tidak terpenuhi.

1.12.2 Pemilihan yang sulit


Kotak tiga atas menggambarkan komponen kedua dari rerangka kerja. Ini mengenalkan masalah
adverse selection, yakni masalah komunikasi dari perusahaan kepada investor-investor luar. Di
sini, peranan akuntansi memberi sebuah “level playing field” melalui disklosur penuh informasi
yang relevan, reliabel, tepat-waktu dan cost-effective kepada investor-investor dan pengguna-
pengguna laporan keuangan lainnya.
Untuk memahami bagaimana akuntansi keuangan dapat membantu mengendalikan masalah
adverse selection, maka penting untuk mengetahui bagaimana investor-investor membuat
keputusan. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini adalah dengan anggapan bahwa
kebanyakan investor adalah rasional, yaitu, mereka membuat keputusan sedemikian rupa untuk
memaksimumkan utilitas/kepuasan harapan mereka, dari kekayaan.
Pelaporan informasi yang berguna bagi investor-investor rasional disebut decision usefullness
approach

1.12.3 Moral Hazard


Kotak tiga di bawah dalam Gambar diatas menggambarkan komponen ketiga buku ini. Di sini
masalah asimetri informasi adalah moral hazard, yang timbul dari upaya manajer yang tak
teramati di dalam menjalankan perusahaan. Peranan akuntansi adalah untuk memberi sebuah
ukuran kinerja untuk melaporkan hasil-hasil upaya manajer. bagaimanakah moral hazard
menarik perhatian manajer akan kebijakan akuntansi, dengan menguraikan masalah konsekuensi-
konsekuensi ekonomis. Konsekuensi ekonomis mempunyai arti bahwa kebijakan-kebijakan
akuntansi adalah berarti (matter). Masalah-masalah moral hazard bisa dikendalikan, tetapi tidak
dapat dihilangkan. Hal ini karena pengenaan kontrak adalah mahal. Terutama, kontrak-kontrak
tersebut membebankan risiko pada manajer-manajer. Sebagai contoh, para manajer tidak dapat
sepenuhnya mengendalikan kinerja perusahaan dikarenakan kejadian seperti pemogokan kerja,
perubahan-perubahan tingkat bunga, dan lainnya.
1.12.4 Penyusunan Standar
Perlu adanya penyusunan standar akuntansi untuk memfasilitasi konflik kepentingan antara
investor dan manajer.

1.12.5 Proses Penyusunan Standar


The International Accounting Standar Board (IASB)
IASB dibentuk pada tahun 2001, merupakan badan yang bertanggung jawab dalam penyusunan
standar dari badan yang sebelumnya, yaitu International Accounting Standards Committee.
Badan ini dibentuk pada tahun 1973 dengan kesepakatan badan-badan akuntansi di Australia,
Canada, Prancis, Jerman, Jepang, Meksiko, Belanda, Inggris, Irlandia, dan Amerika Serikat.
IASB merupakan lembaga yang independen yang berfungsi untuk menyusun standar akuntansi
berkaualitas tinggi, yang dapat diterima, diterapkan, dan diterima secara internasional. IASB
menghasilkan sebuah standar akuntansi yaitu IFRS. International Finance Reporting Standards
(IFRS) merupakan standar pencatatan dan pelaporan akuntansi yang berlaku secara internasional.

The Financial Accounting Standards Boards (FASB)


FASB dibentuk pada tahun 1973 dengan tujuan untuk menyusun standar akuntansi di negara
Amerika Serikat. Sama dengan IASB, FASB didukung secara finansial oleh sebuah lembaga
yaitu Financial Accounting Foundation (FAF). Misi dari FASB adalah untuk menetapkan dan
meningkatkan standar akuntansi dan pedoman pelaporan dan untuk pendidikan masyarakat.
FASB mempunyai tujuh anggota yang terdiri atas 3 orang berasal dari praktisi akuntansi
professional, 2 orang dari industry dan masing-masing satu orang dari akademi dan pemerintah.
Dalam menyusun dan memperbaharui akuntansi dan standar dan konsep pelaporan, FASB seperti
IASB, penekanan beratnya pada proses.

The Canadian Accounting Standards Board (AcSB)


The AcSB merupakan badan penyusun standar akuntansi di Kanada. The AcSB terdiri dari dari
sebuah kelompok dengan jumlah anggota maksimal Sembilan. Tidak seperti anggota IASB dan
FASB, dengan pengecualian dari ketua lembaganya, bertugas dengan sukarela.

Securities Commissons
Jika sebuah badan penyusun standar menginginkan tujuan mereka tercapai, laporan keuangan
harus mematuhi GAAP. Securities Commissons adalah salah satu hal yang penting dalam
melaksanakan standar akuntansi.
Securities and Exchange Commission (SEC) merupakan sebuah badan independen dari
pemerintah Amerika yang memiliki tanggung jawab untuk mengawasi pelaksanaan peraturan-
peraturan dibidang perdagangan efek dan mengatur pasar perdagangan pada bursa efek.
Tujuan utama dibentuknya SEC adalah untuk mengatur bursa efek dan mencegah
penyalahgunaan oleh perseroansehubungan dengan penawaran saham dan penjualan efek serta
pelaporan keuangan perseroan

1.13 Relevansi Teori Akuntansi Keuangan Dengan Praktek Akuntansi


Kerangka kerja yang dideskripsikan hanya menyediakan suatu cara untuk mengorganisir studi
kita mengenai teori akuntansi keuangan. Dan mencoba membuktikan bahwa teori tersebut
relevan dengan praktek akuntansi. Hal ini terpenuhi dengan dua cara. Pertama, berbagai riset dan
teori yang mendasari akuntansi keuangan diuraikan dan diterangkan dalam bahasa sederhana,
dan keterkaitan mereka ditunjukkan oleh banyak rekomendasi untuk praktik akuntansi.
Pendekatan yang kedua untuk menunjukkan keterkaitan akan pemasalahan tugas. Suatu usaha
nyata telah dibuat dalam memilih masalah penting
FINANCIAL ACCOUNTING THEORY
CHAPTER 2
ACCOUNTING UNDER IDEAL CONDITIONS

ORGANISASI CHAPTER 2

Present Value under


certainty

Complete relevance
and reliability

Mixed
Historical cost measurement
Current accounting model
value-based
accounting Low Relevance Medium
High Reliability relevance and
reliability

Present Value under Reserve Recognition


uncertainty Accounting

Complete relevance High relevance


and reliability Low reliability

2.1. OVERVIEW
Model nilai sekarang (present value model) menyediakan informasi yang relevan
sepenuhnya kepada pengguna laporan keuangan. Dalam konteks ini informasi yang relevan
didefinisikan sebagai informasi mengenai prospek ekonomi perusahaan di masa depan, terutama
terkait dengan dividen, arus kas, dan profitabilitas.
Dengan kondisi dimana laporan keuangan tersebut relevan maka informasi juga bisa
diandalkan (reliable), kita dapat menemukan informasi yang dapat diandalkan sebagai informasi
laporan keuangan dan hasil operasional yang tepat dan bebas dari bias. Kita juga dapat
mengeksplorasi kondisi dimana nilai pasar aset dan kewajiban dapat digunakan sebagai ukuran
tidak langsung dari nilai sekarang (present value). Hal ini hanya terjadi di bawah kondisi yang
ideal. Jika kondisi tidak ideal, permasaIahan fundamental akan timbul untuk penilaian
aset dan pengukuran pendapatan.

2.2. MODEL PRESENT VALUE DI BAWAH KEPASTIAN


(THE PRESENT VALUE MODEL UNDER CERTAINTY)
Model nilai sekarang secara luas digunakan dalam ekonomi dan keuangan, dan memiliki
pengaruh yang dipertimbangkan pada akuntansi selama beberapa tahun. Pertama-tama kita
mempertimbangkan versi yang sederhana di bawah kondisi yang pasti. “Kepastian” diartikan
bahwa arus kas masa depan perusahaan dan tingkat bunga dalam ekonomi secara luas diketahui
dengan pasti. Hal ini disebut sebagai kondisi yang ideal.
Contoh: Sebuah aset perusahaan menghasilkan $150 per tahun untuk dua tahun tanpa
kewajiban (liabilities) dan memiliki nilai $0 pada akhir tahun kedua. Suku bunga = 10%

Neraca (Balance Sheet)


As at Time 0

Capital asset, PV $260.33 Shareholder’s equity $260.33

Laporan Laba Rugi (Income Statement)


For Year 1

Accretion of discount $26.03

Pendapatan bersih (net income) tahun tersebut: $260.33 x 10% = $26.03

Neraca (Balance Sheet)


As at End of Year 1

Financial Asset $150.00 Shareholder’s equity $260.33


Cash 136.36 Opening Value 26.03
Capital asset, PV $286.36 $286.36
*Catatan: diasumsikan tidak ada dividen yang harus dibayarkan
Jadi: Untuk tahun 0, PA0= $260.33
Untuk tahun 1, accretion of discount = $26.03

Catatan:
1. Net book value (NBV) untuk aset modal tiap akhir tahun sama dengan present value
(PV).
2. Pertambahan diskon (Accretion of discount) juga disebut sebagai ex ante or expected
net income. Ketika kondisi dalam kepastian, expected net income sama dengan ex post
atau realized net income.
3. Laporan keuangan yang relevan memberikan informasi mengenai prospek ekonomis
perusahan di masa depan. Future dividends = payoff to investors.
Dividend irrelevancy: dalam kondisi ideal, waktu penentuan dividen tidak akan
mempengaruhi present value (PV). Arus kas (cash flows) juga sepenuhnya relevan.
Oleh karena itu laporan keuangan dalam contoh adalah relevan.
4. Net income tidak berperan pada penilaian perusahaan dalam kondisi yang ideal. Hal
tersebut dikarenakan arus kas masa depan (future cash flows) telah diketahui,
pendapatan bersih (net income accretion of discount) dapat diprediksi, neraca berisi
informasi yang relevan.
5. Informasi yang dimuat dalam laporan keuangan reliable, dilihat dari aliran kas dan
tingkat suku bunga diketahui dengan pasti dan semua kesalahan perhitungan segera
dapat di temukan.
6. Dalam kondisi ideal, present value (PV) dari aset atau kewajiban sama dengan harga
pasar.
Arbitrase: membuat keuntungan dalam sebuah pasar dan menjual di pasar lain dengan
barang dan jasa yang sama.
Contoh: tingkat suku bunga = 10%
Pemilik tidak akan menjual aset dengan harga kurang dari $260.33
Tidak ada yang mau membeli lebih dari harga $260.33
Jadi, present value aset pada waktu ke 0 = $260.33
7. Nilai pasar perusahaan = jumlah aset finansial dan present value yang diterima dari
aset + aset tak berwujud – present value kewajiban
Total nilai pasar pada contoh = $260.33
2.2.1. RINGKASAN (SUMMARY)
Di bawah kondisi yang ideal dari arus kas masa depan yang diketahui dengan pasti dan
tingkat bunga tetap yang bebas resiko dalam ekonomi, memungkinkan untuk menyiapkan
laporan keuangan yang relevan dan andal. Proses arbritase memastikan bahwa nilai pasar dari
sebuah aset setara dengan nilai sekarang dari arus kas masa depannya. Nilai pasar perusahaan
kemudian adalah nilai aset keuangannya ditambah nilai aset modalnya (dikurangi kewajiban).

2.3. MODEL PRESENT VALUE DI BAWAH KETIDAKPASTIAN


(THE PRESENT VALUE MODEL UNDER UNCERTAINTY)
Asumsi-asumsi pada model ini adalah:
1. Terdapat peristiwa masa depan yang memengaruhi kinerja perusahaan, yang disebut
dengan istilah states of nature atau state. Contoh state ini antara lain cuaca, kebijakan
pemerintah, pemogokan suppliers, kerusakan peralatan, dan lain-lain.
2. Dalam kondisi ideal, state yang terjadi merupakan salah satu dari opsi state yang telah
diketahui sebelumnya.
3. Tidak ada yang dapat mengontrol atau mengetahui state mana yang akhirnya terjadi,
tetapi dalam kondisi ideal, diketahui opsi state apa saja yang mungkin terjadi.
4. Opsi kemungkinan ini diketahui semua orang dan semua orang tahu bahwa orang lain
juga tahu.
5. Asumsi probabilitas/kemungkinan ini bersifat objektif dan diketahui secara umum.
6. Orang-orang mengetahui dengan jelas dan pasti state mana yang terjadi.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa model present value dalam
ketidakpastian memiliki (1) tingkat berkurangnya aliran kas perusahaan yang bersifat pasti, (2)
informasi tentang states of nature yang diketahui secara umum dan menyeluruh, (3) probabilitas
states yang objektif dan diketahui secara umum, (4) terjadinya state dapat diamati secara umum.
Model present value dalam ketidakpastian ini dapat dikatakan serupa dengan model present
value dalam kepastian, hanya saja terdapat tambahan situasi berupa kondisi aliran kas
perusahaan dalam berbagai states kondisional.
Risiko yang timbul dari ketidaktahuan atas state mana yang akhirnya terjadi, disebut
estimation risk. Secara umum, risiko ini muncul ketika pembuat keputusan tidak meyakini nilai
parameter yang terkait. Hasil perhitungan present value dengan asumsi dua states dengan
kemungkinan 50:50 sebetulnya menunjukkan hasil yang sama dengan model present value dalam
kepastian. Namun, investor pada dasarnya adalah risk averter, sehingga di antara tiga opsi good
state, bad state, dan present value, mereka akan memilih present value, meskipun pada nilai
pasar kenyataannya akan lebih rendah dari present value karena konteksnya adalah kondisi
ketidakpastian/berisiko.
Sementara itu, apabila realisasinya adalah bad state, komponen yang diperhatikan adalah:
1. Expected earning. Ini adalah pendapatan yang diharapkan dalam kondisi pasti. Dalam contoh
kasus, besaran expected earning ini adalah sebesar $26,03 (lihat perhitungan di subbab model
present value dalam kepastian).
2. Pendapatan yang diharapkan tadi dikurangi/ditambah dengan abnormal/unexpected earning.
Inilah yang mewakili unsur ketidakpastian. Dalam contoh kasus, besaran
abnormal/unexpected earning ini adalah sebesar $50,00.
3. Besaran abnormal/unexpected earning ini didapatkan dari selisih antara expected cash flow
dan actual cash flow. Dalam kondisi ideal, tidak ada selisih antara expected dengan actual,
sehingga besaran abnormal/unexpected earning adalah $0,00, dan expected earning akan
sama dengan actual earning karena tidak ada pengurang/penambahnya.
4. Karena kondisi yang terjadi ternyata adalah bad state maka terdapat selisih di mana actual
lebih kecil daripada expected (kenyataan lebih buruk dari harapan). Akibatnya,
abnormal/unexpected earning yang dihasilkan pun bernilai negatif, sehingga memberikan
efek ‘shock’ kepada expected earning berupa pengurangan sebesar $50,00, dan berujung pada
net loss $23,97.
5. Sebaliknya, apabila yang terjadi ternyata adalah good state, selisih yang ada bersifat positif
karena actual lebih besar daripada expected (kenyataan melebihi dari harapan). Akibatnya,
abnormal/unexpected earning positif dan menambah expected earning sebesar $50,00, dan
berujung pada net income $76,03.

Dari contoh kasus, dapat digarisbawahi poin-poin berikut:


1. Informasi pada laporan keuangan tetap diasumsikan relevan dan andal karena tetap sama-
sama berdasarkan expected future cash flow. Namun, hal ini tidak berarti bahwa nilai di
dalamnya tidak statis (volatility).
2. Income statement tidak dapat memberitahu kapankah abnormal earning berhenti terjadi.
Namun, dalam kondisi ideal, investor dapat menghitung realisasi net income begitu
mengetahui state mana yang terjadi. Jadi, dapat dikatakan net income bisa diprediksi dalam
konteks state.
Income statement menjadi informatif dalam lingkup subjective probabilities, di mana
investor tidak memiliki states yang sudah diketahui dan harus menilai sendiri kemungkinan yang
ada. Penilaian ini menjadikan state probabilities bersifat subyektif, begitu juga dengan nilai
perusahaan. Lingkup subjektif ini lebih masuk akal dan dalam lingkup inilah income statement
menjadi salah satu sumber informasi investor dalam memprediksi (lebih lanjut dalam chapter 3).
2.4. EXAMPLES OF PRESENT VALUE ACCOUNTING

RESERVE RECOGNITION ACCOUNTING (RRA)


Pada kenyataannya kondisi ideal itu belum tercipta. Oleh sebab itu, praktek akuntansi
bergerak secara kuat ke arah peningkatan penggunaan nilai wajar dari kelas-kelas besar aset dan
kewajiban. Selain pergerakan ke arah nilai wajar, model nilai sekarang menghadapi
permasalahan keandalan yang serius ketika kita mencoba untuk menerapkannya tanpa kondisi
ideal.
Sulit dikatakan bahwa perusahaan minyak dan gas beroperasi dibawah kondisi yang pasti.
Konsekuensinya, kita seharusnya mempertimbangkan SFAS 69 dalam hubungannya terhadap
model nilai sekarang dibawah ketidakpastian. Akuntansi nilai sekarang diterapkan untuk
persediaan minyak dan gas dikenal sebagai reserve recognition accounting (RRA).

KRITIK ATAS RRA


Reaksi Manajemen: Perlu untuk membuat perubahan dalam estimasi yang kelihatannya
menjadi tulang punggung atas RRA. Manajer perusahaan minyak, khususnya, cenderung
menganggap RRA dengan menunggu dan penuh kecurigaan.
Kegunaan untuk Para Investor: Disamping jelas bahwa manajemen berhati-hati terhadap
RRA, hal ini tidak berarti bahwa hal riil tidak menyediakan informasi yang berguna untuk
investor. Tentunya RRA lebih relevan dibandingkan informasi biaya historis, sehingga RRA
potensial untuk menjadi bermanfaat.
Di bawah akuntansi biaya historis, peningkatan dalam nilai cadangan yang terbukti tidak
akan tampak dalam laporan laba rugi sampai cadangan yang terbukti itu diproduksi dan dijual.
Sedangkan laporan laba rugi berdasarkan nilai sekarang mengakui peningkatan tersebut dengan
"segera". Sehingga, informasi nilai sekarang mempunyai potensi untuk kegunaan karena
relevansi yang lebih besar. Notes: dengan laporan laba rugi berdasarkan nilai sekarang, investor
akan mengetahui berapa potensi pendapatan yang akan mereka peroleh, jika laba rugi
berdasarkan biaya historis investor hanya mengetahui berapa pendapatan yang mereka peroleh
pada saat minyak dan gas tersebut telah terjual.

2.5. HISTORICAL COST ACCOUNTING REVISITED

2.5.1. PERBANDINGAN PERBEDAAN BASIS PENGUKURAN


Pada titik ini, kita menganggap bahwa kondisi idealnya mengarah pada akuntansi dengan
menggunakan present value version dari current value accounting. Namun, praktik akuntansi
saat ini dapat digambarkan sebagai model pengukuran campuran (mixed measurement model).
Beberapa tahun terakhir, standard setters telah memperkenalkan sejumlah standar berbasis
current value, tetapi current value accounting ini menemui permasalahan terkait volatilitas dan
reliabilitas. Masalah ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana current value accounting
akan menggantikan biaya historis. Sehingga, perlu mempertimbangkan dua basis pengukuran
tersebut dalam kaitannya dengan konsep akuntansi.

Relevance vs Reliability
Relevance dan reliability merupakan karakteristik penting dalam informasi akuntansi.
Seperti yang telah disimpulkan pada pembahasan sebelumnya bahwa, tidak mungkin menyusun
laporan keuangan yang sempurna relevan dan reliabel, sehingga harus ada trade off antara
keduanya. HCA relatif lebih reliable/dapat diandalkan karena biaya atas aset atau kewajiban pada
sebuah perusahaan biasanya merupakan sebuah angka objektif, lebih terhindar dari kesalahan
estimasi dan bias daripada perhitungan present value. Namun, biaya historis mungkin kurang
relevan. Biaya historis, nilai pasar, dan present value mungkin sama pada tanggal akuisisi, tetapi
nilai pasar dan present value akan berubah selama kondisi pasar berubah. Akibatnya , relevansi
current value accounting umumnya melebihi dari HCA. Akan tetapi, penggunaan akuntansi nilai
sekarang dalam kondisi yang tidak ideal akan menimbulkan masalah reliabilitas.
Revenue Recognition
Perbedaan yang penting antara current value accounting seperti RRA dan HCA adalah
perubahan waktu pengakuan dalam nilai aset. Berdasarkan current value accounting, current
valuation atas aset dan kewajiban akan meningkatkan (atau mengurangi) nilai aset dan kewajiban
yang diakui (diukur) pada saat mereka terjadi, dengan mendiskontokan arus kas masa depan (inti
dari nilai) dan mengkapitalisasi nilai tersebut dalam neraca. Pendapatan kemudian pada dasarnya
adalah perubahan bersih dalam nilai sekarang untuk periode yang bersangkutan.
Di bawah perspektif HCA, inventori dinilai berdasarkan kos/nilai perolehan dan accounts
receivable dinilai berdasarkan harga jual, sehingga pendapatan diakui ketika inventori terjual
(penjualan terealisasi). Peningkatan nilai yang belum terealisasi tidak diakui di neraca dan net
income.

Recognition Lag
Current value accounting memiliki sedikit lag pengakuan, karena ketika perubahan nilai
ekonomi terjadi, maka pada saat itulah pendapatan diakui. HCA memiliki lag pengakuan yang
lebih besar, karena pendapatan tidak diakui sampai kenaikan nilai persediaan telah divalidasi,
biasanya melalui realisasi penjualan.

Matching of Costs and Revenues


Konsep matching ini terutama terkait dengan akuntansi biaya historis (HCA), karena laba
bersih di bawah HCA adalah hasil dari matching / penandingan antara pendapatan yang
terealisasi dengan biaya untuk memperoleh pendapatan tersebut. Konsep matching ini
merupakan prinsip dari akuntansi akrual. Sedangkan, dalam curent value accounting, konsep
matching ini lebih sedikit digunakan, karena laba bersih merupakan perubahan bersih current
value dari aset dan kewajiban selama periode tersebut. Matching tidak diperlukan, karena
perubahan nilai aset dan kewajiban didorong oleh kekuatan pasar dan respon perusahaan atas
kekuatan pasar ini.
Meskipun konsep matching pada HCA ini cukup reliable, namun tidak sepenuhnya begitu.
Contohnya, penyusutan aset tetap. Dalam prinsip matching, pendapatan ditandingkan salah
satunya dengan penyusutan aset tetap selama periode tertentu yang pada akhirnya menghasilkan
laba bersih. Namun, prinsip akuntansinya juga tidak menyebutkan secara jelas seberapa besar
penyusutan yang harus dibebankan, hanya menyebutkan bahwa penyusutan dilakukan secara
sistematis dan rasional. Akibat ketidakjelasan ini, ada beberapa macam metode penyusutan yang
diterima untuk digunakan dalam praktek, seperti garis lurus, metode saldo menurun, dsb.
Hal ini mempersulit perbandingan profitabilitas antar perusahaan karena investor harus
memastikan metode penyusutan yang digunakan perusahaan sebelum membuat perbandingan.
Ketidakjelasan ini juga akan mengikis reliabilitas HCA, karena manajer perusahaan memiliki
ruang untuk mengatur profitabilitas yang mereka laporkan melalui pilihan metode penyusutan
atau melalui perubahan metode yang digunakan. Dengan kata lain, HCA mungkin lebih reliable
daripada current value accounting, namun hal ini bukan berarti HCA dapat dipercaya secara
lengkap.

2.5.2. CONCLUSION
 HCA rendah relevansi tapi cukup reliable, akuntan menunggu sampai bukti obyektif tersedia
sebelum mengakui pendapatan
 biaya historis lebih terlambat (lags) dalam mengakui perubahan nilai aset dan kewajiban
 biaya historis adalah proses matching kos dan revenue.

2.6. KETIADAAN LABA BERSIH YANG SEBENARNYA


(THE NON-EXISTENCE OF TRUE NET INCOME)
Untuk mempersiapkan susunan laporan keuangan yang lengkap berdasarkan current value
basis, perlu untuk menilai seluruh aset dan kewajiban perusahaan, dengan net income yang
menjelaskan perubahan current value perusahaan selama periode tertentu. Namun, dalam
kenyataannya, laba bersih tidak ada sebagaimana sebuah konstruksi perekonomian yang
terdefinisikan dengan baik. Sebuah permasalahan yang fundamental adalah kurangnya
objektifitas atas probabilitas keadaan/states. Dengan probabilitas keadaan yang objektif, nilai
sekarang dari aset dan kewajiban secara benar merefleksikan ketidakpastian yang dihadapi
perusahaan, karena nilai sekarang dimasukkan ke dalam seluruh kemungkinan kejadian masa
depan dan probabilitasnya. Dalam kasus ini, informasi akuntansi relevan secara lengkap
sebagaimana andal secara lengkap dan pendapatan ekonomi terjadi.
Sebuah pendekatan tidak langsung terhadap pendapatan ekonomi yang sebenarnya dari
mendasarkan atas perhitungan pendapatan atas perubahan nilai pasar dibandingkan dengan nilai
sekarang mengarahkan ke dalam dimana nilai pasar perlu ada untuk seluruh aset dan kewajiban
perusahaan, kondisi yang dikenal sebagai pasar yang tidak lengkap (incomplete markets). Jika
nilai pasar tidak tersedia untuk seluruh aset dan kewajiban perusahaan, sebuah pengukuran
pendapatan yang berdasar atas nilai pasar adalah tidak memungkinkan.
Kurangnya probabilitas keadaan objektif membuka pintu untuk estimasi subjektif atas
kinerja masa depan perusahaan. Beberapa estimasi ini dapat menjadi subjek untuk kurangnya
keakuratan dan bias yang mungkin terjadi. Sebagai hasilnya, estimasi akuntansi yang didasarkan
atas nilai sekarang kehilangan keandalan pada saat mereka berjuang untuk mempertahankan
relevansi. Kesimpulan kedua adalah bahwa akuntan merasa bahwa akuntansi berdasar biaya
historis untuk kelas-kelas besar dari aset dan kewajiban operasi menyajikan sebuah cara yang
berguna untuk mencatat, sejak kita melihat akuntansi biaya historis untuk kelas-kelas ini
mengakar kuat dalam praktek. Beberapa relevansi hilang, tetapi diharapkan keandalan
ditingkatkan.

2.7. KESIMPULAN ACCOUNTING UNDER IDEAL CONDITION


Daripada membahas secara mendalam tentang keberadaan laba bersih, akuntan lebih
berfokus untuk membuat laporan keuangan lebih berguna dalam pengambilan keputusan.
BAB III
PENDEKATAN KEBERMANFAATAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
UNTUK PELAPORAN KEUANGAN

1. OVERVIEW
Figur 3.1 Organization Chapter 3

The information
system

Decision Useful Single person Rational, risk Optional investment Decision Usefulness
Approach decision theory averse investor decision Applied : MD & A

Information
defined

Pada bab 2 disimpulkan bahwa dalam penerapannya, metode present value mengalami
berbagai kendala dan diragukan untuk menyajikan suatu laporan keuangan yang lengkap.
Ketidakmampuan untuk menilai keseluruhan perusahaan pada basis present value atau market
value dapat diartikan bahwa secara teori konsep tentang net income dalam keadaan yang
kompleks dimana akuntan bekerja sulit dicapai.
Akan tetapi, seluruh akuntan setuju bahwa laporan keuangan harus berguna. Hal ini
membawa kepada sebuah konsep akuntansi, yaitu decision usefulness, yang merupakan konsep
tenang kemampuan informasi akuntansi keuangan untuk membantu pengguna dalam pembuatan
keputusan yang tepat. Untuk memahami konsep ini, diperlukan adanya teori-teori lain selain
present value model terkait ekonomi dan keuangan. Hal ini dikarenakan kita tidak dapat
membuat laporan keuangan lebih berguna sampai kita mengetahui arti dari kebermanfaatan itu
sendiri. Selain itu diperlukan juga definisi informasi yang tepat. Decision theories dan capital
market theories dapat membantu dalam memahami konsep arti kebermanfaatan informasi
laporan keuangan. Tujuan dari pembahasan kali ini adalah untuk memperkenalkan salah satu
teori, yaitu teori pembuatan keputusan rasional dan relevansinya dalam akuntansi.

2. PENDEKATAN MANFAAT KEPUTUSAN


Pendekatan ini menggunakan suatu pandangan bahwa “Jika para akuntan tidak dapat
menyiapkan laporan keuangan secara teoritis tepat, setidaknya dapat mencoba untuk menjadikan
laporan keuangan yang lebih bermanfaat.”
Dalam menggunakan pendekatan manfaat keputusan (decision usefulness), ada dua
pertanyaan utama yang harus dibahas, yaitu:
1. Siapa pengguna laporan keuangan?
Terdapat banyak pengguna laporan keuangan. Akan membantu jika para pengguna tersebut
digolongkan dalam beberapa kelompok, seperti investor, pemilik , manager, perserikatan,
pengatur standar, dan pemerintah, yang kemudian grup ini disebut constituencies of
accounting.
2. Apakah persoalan keputusan dari pengguna laporan keuangan?
Dengan memahami masalah keputusan ini, akuntan akan lebih mudah untuk menyiapkan
kebutuhan informasi. Atau dapat dikatakan, membuat informasi mengenai laporan keuangan
sesuai dengan kebutuhan yang spesifik bagi pengguna laporan tersebut akan membantu
peningkatan pengambilan keputusan. Dengan cara ini, laporan keuangan yang dibuat akan
lebih bermanfaat.
Menghadapi pertanyaan yang sulit seperti diatas, untuk membantu, para akuntan
mengarahkannya ke berbagai teori dalam bidang ekonomi dan keuangan. Teori pengambilan
keputusan (theory of rational decision making) atau teori keputusan (decision theory) adalah
suatu teori yang tepat dalam memulai memahami bagaimana individu membuat keputusan di
bawah ketidakpastian. Teori ini memungkinkan kita untuk mengapresiasikan konsep informasi
yang memudahkan pembuat keputusan untuk menajamkan kepercayaan subjektifnya tentang
pengembalian di masa depan atas keputusannya. Hal ini membantu dalam memahami konsep
risiko investasi dan bagaimana risiko dapat setidaknya dikendalikan melalui strategi diversifikasi
portofolio.

3. SINGLE-PERSON DECISION THEORY


Sudut pandang teori ini adalah seseorang yang harus mengambil keputusan dalam kondisi
ketidakpastian. Teori ini mengakui bahwa state probabilities tidak lagi objektif, sebagaimana
dalam kondisi yang ideal, dan mengemukakan suatu prosedur formal dimana individu dapat
mengambil keputusan yang terbaik dengan memilih dari satu perangkat atau kumpulan alternatif
yang ada. Teori ini mengijinkan investor memperoleh informasi tambahan untuk merevisi
penilaian subjektif pembuat keputusan atas peristiwa yang mungkin terjadi setelah keputusan
dibuat. Teori keputusan ini relevan dengan akuntansi karena laporan keuangan menyediakan
informasi tambahan yang berguna bagi banyak keputusan.
a. Pengaplikasian Teori Keputusan
Bill Cautious memiliki $10.000 untuk investasi dalam satu periode. Terdapat dua pilihan
investasi yang dapat dilakukan, yaitu membeli saham perusahaan X pada current market price
atau membeli obligasi pemerintah dengan tingkat bunga 2,25%. Pilihan investasi
digambarkan dengan a1 untuk pembelian saham dan a2 untuk pembelian obligasi.
Apabila membeli saham, Bill akan dihadapkan dengan risiko, dimana performa masa depan
perusahaan X tidak diketahui ketika Bill membuat keputusan. Dalam menghadapi risiko, Bill
mendefinisikan dua states of nature:
 State 1: Perusahaan X performa masa depan tinggi
 State 2: Perusahaan X performa masa depan rendah
Di sini, informasi laporan keuangan terkini digunakan sebagai prediktor performa masa depan
perusahaan, walaupun performa masa depan telah ditentukan. Asumsikan bahwa apabila
perusahaan X pada kondisi state 1 Bill’s net return pada saham X akan menjadi $1.600.
Apabila perusahaan X pada kondisi state 2, maka diasumsikan Bill’s net return akan menjadi
nol. Apabila Buy membeli obligasi, dia akan menerima $225 di periode yang akan datang
tanpa memperhatikan state of nature. Investasi obligasi diperlakukan sebagai investasi dengan
risiko rendah.
Nilai yang akan diterima berdasar keputusan disebut payoffs, yang ditunjukkan dalam tabel
3.1 sebagai berikut:
Tabel 3.1 Tabel Payoff untuk Decision Theory

State
Act
High Low

a1 (membeli saham) $1.600 $0


a2 (membeli obligasi) $225 $225

Selanjutnya perlu pertimbangan probabilitas state. Bill menentukan probabilitas state 1


sebagai P(H) = 0,3, probabilitas state 2 P(L) = 0,7. Hal ini disebut prior probabilities.
Probabilitas ini dapat didasarkan pada analisis laporan keuangan tahun sebelumnya dengan
asumsi performa masa lalu tetap berlanjut ditambah informasi lain terkait perusahaan.
Asumsikan bahwa Bill mengakarkuadratkan nilai payoff untuk menentukan nilai utilitas atau
kepuasan. Sehingga dengan menerima $1.600, nilai utilitasnya adalah 40. Figur 3.2 berikut
menggambarkan diagram pohon untuk masalah pengambilan keputusan Bill:
Figur 3.2 Diagram Pohon Untuk Keputusan Bill

High performance (0,3) $1.600 (40)


a1

Low performance (0,7) $ 0 (0)


Invest $10.000

a2
Performance high or low (1,00) $225 (15)

Berdasarkan hal tersebut, dapat dibuat nilai Expected Utility (EU):


 EU (a1) = (0,3 x 40) + (0,7 x 0) = 12
 EU (a2) = 1,00 x 15 = 15
Maka Bill sebaiknya memilih pilihan a2, yaitu membeli obligasi.
Alternatif lain, Bill memperoleh lebih banyak informasi sebelum memutuskan. Asumsikan
laporan keuangan akan terbit beberapa hari lagi, Bill memutuskan menunggu. Setelah laporan
keuangan terbit, net income cukup tinggi dan net current assets dan debt equity ratio
meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukan Good News (GN). Berdasar
pengalaman, Bill mengasumsi bahwa perusahaan X adalah high state firm, terdapat 80%
kemungkinan bahwa laporan keuangan akan menunjukkan GN dan 20% kemungkinan BN.
Probabilitas kemungkinan P(GN|H) = 0,8 dan P (BN|H) = 0,2. Bill juga mengasumsi apabila
perusahaan adalah low state firm, masih terdapat kemungkinan menunjukkan GN. Dengan
asumsi perusahaan pada low state, probabilitas akan menunjukkan GN 10% dan BN 90%,
sehingga dapat dinyatakan P(GN|L) = 0,1 dan P(BN|L) = 0,9. Berdasarkan kondisi tersebut,
dapat dihitung posterior state probabilities:

(H|GN) = = = 0,77.

P(L|GN) = 1,00 – 0,77 = 0,23.


Sehingga Expected Utility dapat dihitung:
 EU (a1|GN) = (0,77 x 40) + (0,23 x 0) = 30,8
 EU (a2|GN) = 1,00 x 15 = 15
Oleh karena itu, berdasar informasi laporan keuangan keputusan Bill menjadi a 1 yaitu
membeli saham X.

b. Sistem Informasi
Supaya lebih bermanfaat, informasi dalam laporan keuangan harus membantu untuk
memprediksi pengembalian investasi di masa depan. Pada kondisi non ideal, laporan
keuangan tidak menunjukkan nilai masa depan yang diharapkan secara langsung. Namun,
laporan keuangan akan tetap berguna untuk investor secara luas yang memungkinkan suatu
prediksi baik kabar baik ataupun buruk yang terdapat didalamnya akan bertahan sampai masa
depan.
Laporan keuangan masih dapat berguna walaupun tidak melaporkan secara langsung arus kas
masa depan. Hal ini menjadi keterbatasan kondisi ideal. Hubungan antara current financial
statement dan future performance merupakan kondisi probabilitas:
Tabel 3.2 Sistem Informasi Untuk Teori Keputusan Contoh 3.1

Current Financial Statement

GN BN

High 0,8 0,2


State
Low 0,1 0,9

Secara bersama, probabilitas ini disebut sistem informasi sebagaimana dalam tabel 3.2.
Probabilitas 0,8 dan 0,9 disebut main diagonal probabilities.
Sebuah sistem informasi secara spesifik menunjukkan kondisi state of nature dan probabilitas
objektif dari kemungkinan berdasarkan laporan keuangan. Konsep dari sistem informasi
merupakan konsep yang sangat kuat (karena dapat menangkap isi informasi dari laporan
keuangan dengan demikian menentukan nilainya untuk pembuatan keputusan oleh investor)
dan sangat berguna (karena banyak masalah akuntansi praktis dapat dibingkai dalam kerangka
dampaknya terhadap sistem informasi dalam teori akuntansi keuangan).

c. Information defined
Teori keputusan dan konsep penerangan memberikan cara untuk mendefinisikan informasi,
yaitu bahwa informasi adalah bukti yang memiliki potensi mempengaruhi keputusan
seseorang. Dari definisi tersebut terdapat hal- hal yang bisa kita simpulkan, yaitu:

1. Informasi adalah ex ante definition.


Tuntutan yang paling utama bagi bahan bukti untuk menggambarkan informasi adalah
minimal beberapa bahan bukti harus diperoleh, kepercayaan secara cukup berpengaruhi
bahwa keputusan akan berubah.
2. Definisi adalah individual- specific.
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda dan bersifat khusus atas informasi yang sama.
3. Definisi seharusnya menggambarkan biaya bersih.
Suatu sumber informasi mungkin memiliki potensi dalam mempengaruhi keputusan
individu, akan tetapi apabila menelan biaya yang mahal, hal ini tidak akan menjadi
informasi karena tidak dapat digunakan.
4. Definisi informasi seharusnya menekankan bahwa penerimaan informasi oleh individu dan
kepercayaan terhadap informasi sebagai proses yang kontinu. Sebagaimana digambarkan
dalam contoh yang menggambarkan perbaikan berdasarkan laporan tahunan. Sumber
informasi lain dapat berupa analisis perkiraan, laporan kuartal, media, website, laporan
statistik, dll.

4. INVESTOR RASIONAL PENGHINDAR RISIKO


Dalam teori keputusan, konsep individu rasional secara sederhana berarti bahwa dalam
pembuatan keputusan, tindakan yang dipilih adalah yang memiliki manfaat tertinggi. Hal ini
secara tidak langsung menunjukkan bahwa individu dapat mencari tambahan informasi yang
terkait dengan keputusan yang kemudian digunakan untuk merevisi kondisi probabilitas
melalui Teorema Bayes.
Selain asumsi bahwa investor merupakan pribadi yang rasional, terdapat juga asumsi
umum bahwa investor rasional juga penghindar risiko. Risiko naik sejalan dengan besarnya
aset yang dipertaruhkan dalam sebuah operasi. Pengundian koin Rp.500 misalnya, karena
peluangnya 50:50 maka jika menang dapat Rp1.000, jika kalah kehilangan Rp.500. Nominal
tersebut tentunya tidak mengandung risiko tinggi apabila anda memiliki aset Rp. 1 juta,
namun apabila yang dipertaruhkan dalam pengundian koin tersebut Rp. 1 juta dijamin anda
akan enggan untuk bertaruh karena jika kalah anda akan kehilangan semua aset. Konsep
inilah yang disebut penghindaran risiko.
Untuk membentuk model penghindaran risiko, teori keputusan menggunakan
instrumen utility function, yang menghubungkan hasil yang didapat terhadap utilitas
pembuat keputusan.
Untuk menggambarkan fungsi utilitas, pahami gambar 3.3 dibawah. Garis tebal
menunjukkan utilitas dari Bill pada tabel 3.1. Fungsi utilitas Bill yaitu:

Dimana x adalah jumlah pendapatan. Perhatikan bahwa fungsi utilitas dari penghindaran
risiko individual adalah cekung.

Bill akan cenderung lebih memilih titik D, dimana nilai terdapat nilai utilitas/kepuasan lebih
tinggi (sehingga risiko lebih rendah) dan tetap memperoleh pendapatan.
Berbeda dengan asumsi penghindaran risiko, terkadang digunakan juga asumsi bahwa
terdapat investor yang tidak terlalu memperdulikan risiko (risk-neutral). Jadi investor
tersebut hanya mempedulikan pendapatan yang mungkin diperoleh tanpa mempedulikan
perhitungan risiko. Gambar 3.4 akan menunjukkan fungsi utilitas dari pembuat keputusan
risk-neutral dimana persamaannya adalah U(x) = bx.

Netralitas terhadap risiko mungkin merupakan asumsi yang beralasan apabila pendapatn
yang diperoleh kecil, namun normalnya asumsi penghindaran risiko lebih realistis untuk
digunakan. Konsep penghindaran risiko penting bagi akuntan, karena berarti investor
membutuhkan informasi mengenai risiko dan juga nilai yang akan diperoleh di masa depan.

5. PRINSIP DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO


Pada asumsi sebelumnya investor secara pribadi diasumsikan sebagai penghindar risiko.
Oleh karena itu, untuk suatu hasil (nilai) yang diharapkan dari investasi, investor yang
rasional menginginkan investasi yang paling tidak berisiko, atau untuk risiko yang sama,
investasi tersebut haruslah yang memiliki nilai pengembalian tertinggi. Dampaknya adalah,
para investor akhirnya menggunakan tradeoff antara risiko dan pengembalian. Investor akan
meminta pengembalian yang tinggi apabila risiko suatu investasi tinggi dan sebaliknya.
Untuk menurunkan risiko dalam investasi maka investor menggunakan teknik diversifikasi
yaitu berinvestasi pada portofolio saham. Prinsip diversifikasi portofolio menunjukkan pada
kita bahwa beberapa (meskipun tidak semua) risiko dapat dihilangkan melalui strategi
investasi. Prinsip ini memiliki dampak penting terhadap informasi sifat risiko yang
diinginkan investor. Informasi mengenai risiko tersebut tergambar melalui informasi umum
akuntansi seperti rasio hutang-modal, return on assset dan rasio lancar.
Persamaan bagi fungsi utilitas/kepuasan bagi individu sudah diketahui namun pertanyaan
yang kemudian timbul adalah bagaimana fungsi utilitas bagi individu secara keseluruhan.
Hal tersebut dijawab dengan asumsi mean-variance utility:

a = aksi investasi
fi = fungsi tingkat pengembalian yang diharapkan
xa = aksi investasi
σa2 = varians dari investasi

Fungsi yang lebih spesifik misalnya:

Dimana 2xa merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan dan σa2 adalah varians.
Contoh kasus dengan dua pilihan investasi untuk menjelaskan diversifikasi portofolio:
Toni Rastafara investor penghindar risiko memiliki $200 untuk diinvestasikan pada saham
PT. A, harga saham sekarang $20, probabilitas naik menjadi $22 adalah 0,74 probabilitas
turun menjadi $17 adalah 0,26. Diasumsikan juga PT. A membayar dividen $1 pertahun.

Pilihan Pertama, investasi dalam satu perusahaan


Hitungan probabilitas:
Saham naik $22 x 10 lembar + $10 dividen = $230
Saham turun $17 x 10 lembar + $10 dividen = $180
Dengan demikian perhitungan RoR Varians adalah sebagai berikut:

Jika diasumsikan fungsi utilitas Toni adalah


Maka tingkat utilitas Toni adalah (2 x 0.0850) – 0.0120 = 0.1580
Pilihan Kedua, investasi dalam beberapa perusahaan
Plihan ini menambahkan asumsi bahwa ada PT. B yang juga menawarkan saham untuk Toni
berinvestasi. Harga saham PT. B sekarang $10, probabilitas naik menjadi $10.5 adalah 0,675
probabilitas turun menjadi $8.5 adalah 0,325. Diasumsikan juga PT. B membayar dividen $1
pertahun. Oleh karena itu, Toni memutuskan untuk membagi investasinya pada dua
perusahaan, PT. A dan PT. B.

Jika diasumsikan fungsi utilitas Toni adalah


Maka tingkat utilitas Toni pada pilihan kedua adalah (2 x 0.0850) – 0.0074 = 0.1626, naik
dari pilihan pertama senilai 0.1580

6. MENINGKATKAN KEGUNAAN KEPUTUSAN PADA LAPORAN KEUANGAN


Pengantar
Pada subbab ini, akan lebih banyak membahas seputar Analisis dan Diskusi Manajemen
(MD&A), MD&A ini adalah sebuah bagian dari Laporan Tahunan Perusahaan yang berisi
berbagai aspek penjelasan dari sudut pandang manajer mengenai perusahaan itu sendiri,
berisi tentang kinerja, laporan keuangan, tahun sebelumnya maupun tahun sekarang, dan
rencana kedepan serta pendekatan terhadap proyek-proyek baru disertai analisis resiko yang
ada.

Sasaran dari MD&A


MD&A ini sendiri adalah amanat dari Instrument Nasional nomor 51-102 OSC (Ontario
Securites Commision), yang selanjutnya diadopsi oleh SEC.
Sasarannya adalah :
a. Membantu Investor (saat ini atau nantinya) untuk memahami laporan keuangan
b. Membahas informasi yang tidak sepenuhnya mencerminkan laporan keuangan
c. Membahas tren, resiko, dan hal-hal yang mempeengaruhi kinerja untuk kedepan
d. Menyediakan informasi tentang kualitas, variabel potensial, pendapatan, serta aliran
kas, untuk membantu investor menentukan apakah kinerja di masa lalu akan
merepresentasikan kinerja di masa mendatang
Untuk mencapai sasaran tersebut, pengungkapan yang akan dilakukan perlu mengandung
hal-hal yang spesifik seperti :
a. Membahas kemampuan perusahaan dalam pengajuan kebutuhan likuiditas dalam
jangka pendek maupun jangka panjang
b. Membahas perjanjian-perjanjian penting dan penyusunan off balance sheet
c. Menjelaskan dan membahas tentang tren, resiko, dan ketidakpastian yang diduga
akan mempengaruhi kinerja mendatang
Perlu dingat bahwa standar MD&A ini terlihat konsisten dengan teori pengambilan
keputusan investor yang rasional, lebih jauh lagi pengungkapan hal ini dapat membantu
mengurangi asimetri informasi oleh Investor.

Contoh Pengungkapan MD&A


Dalam contoh kali ini, kita akan membahas tentang MD&A dari Laporan Tahunan sebuah
perusahaan ban di Kanada. Dimulai dari Ikhtisar Bisnisnya, lalu menjelaskan Sasaran
Strategis untuk tahun 2013, serta langkah-langkahnya. Dan terakhir membahas tentang
berbagai resiko yang akan dihadapi perusahaan.

Exhibit 3.1
Untuk mencapai Aspirasi Pendanaan sampai 5 tahun yang dimulai dari tahun 2010, di tahun
2012 Perusahaan ini menargetkan 4 aktivitas yang akan menjadi kunci kesuksesan, yaitu :
a. Menguatkan Pusat Retail
b. Mengarahkan semua unit bisnis untuk menguatkan Pusat
c. Membangun Organisasi yang mempunyai kinerja tinggi
d. Menyiapkan Platform untuk tumbuh kembang nya Perusahaan
Financial Aspiration
 CTR retail sales annual growth
Realisasinya 0.8% masih dibawah target minimal 3%, hal ini disebabkan oleh
Ketidakpastiaan Ekonomi dan Pilihan Konsumen yang teliti yang berimbas pada
penurunan daya jual
 Consolidated EPS annual growth
Realisasinya 6,9% masih dibawah target minimal 8%. Namun apabila dilihat melalui
kinerja CAGR, maka Realisasinya sampai tahun 2012 sebesar 14.3% sudah mencapai
target
 Retail ROIC
Realisasinya 6,7%, masih dibawah target minimal 10%
 Financial Services return on receivables
Realisasinya 6,8%, telah melampaui target
 Total return to shareholders
Realisasinya 6,8%, masih dibawah target minimal 10%
Itu tadi adalah Fiancial Aspiration dalam tahun 2012 yang mencerminkan ekspektasi
perusahaan dalam satu tahun yang akan digunakan untuk keputusan pendanaan

Resiko Manajemen Perusahaan


Untuk menjaga kepercayaan Pemegang Saham, Perusahaan melakukan pendeekatan
melalui pengelolaan Manajemen Resiko secara strategis, program-programnya yaitu :
a. Memperluas pandang perusahaan dengan menyediakan pemahaman atas resiko
yang signifikan dan dampak potensialnya terhadap perusahaan
b. Penerapan Lintas Fungsi untuk menyediakan kedisiplinan yang konsisten untuk
mengatur resiko
c. Dirancang untuk meningkatkan keputusan alokasi modal untuk mengoptimalkan
hubungan resiko/penghargaan
d. Terintegrasi kedalam rencana strategis dan operasional dan proses melaporkan
Dirancang untuk mengelola sejumlah pendekatan untuk mengatur resiko, termasuk
menghindari, meringankan, mengasuransikan, dan menerimanya

Resiko Utama
Kunci dari keberhasilan ERM adalah review yang teratur, identifikasi, dan bantuan dalam
mengelola resiko utama. Resiko Utama ini didefinisikan sebagai 1 kesatuan atau gabungan
antara resiko-resiko yang saling berhubungan.

Apakah MD&A berguna dalam pengambilan keputusan


Karena masih MD&A itu hanya berisi pembahasan dan kajian, dapat dikatakan cukup sulit
untuk digunakan dalam pengambilan keputusan. Juga dikatakan bahwa MD&A ini memiliki
ketepatan waktu yang rendah, semenjak Laporan Tahunan dipublikasikan, banyak informasi
keuangan juga telah dipublikasikan.

7. REAKSI BADAN AKUNTANSI PROFESIONAL TERHADAP DECISION


USEFULLNESS APPROACH
Kerangka Konseptual
 Mayoritas badan akuntansi profesional mengadopsi pendekatan manfaat keputusan.
Contohnya, dalam Kerangka Konseptual IASB/FASB Chapter 1 dan 3 (2010), tujuan dari
laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk
investor saat ini dan investor potensial, lenders, dan kreditor lainnya dalam menyediakan
sumber daya bagi entitas.
 Decision usefullness approach menyatakan bahwa investor yang membuat keputusan,
dan peran pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk
tujuan tersebut. Ini merupakan esensi dari decision usefullness approach sebagaimana
dijelaskan di Section 3.2. Framework menyatakan bahwa ini bukan merupakan peran
akuntan untuk mempengaruhi keputusan investor.
 Berbagai pihak yang terlibat menurut tujuan umum laporan keuangan dalam Framework
yang merupakan pengguna utama, yaitu investor saat ini dan investor potensial, lenders,
dan kreditor lainnya. Orientasi mereka dalam menggunakan laporan keuangan adalah
untuk membuat keputusan investasi. Dengan mengetahui tanggung jawab atas pelaporan
kepada pemilik modal, Framework mengadopsi sudut pandang entitas dalam pelaporan
keuangan. Laporan keuangan mencerminkan gambaran perusahaan secara keseuruhan,
bukan hanya untuk pemegang saham.
 Pertanyaan yang muncul, jenis informasi apa yang dibutuhkan pemilik modal?
Framework menyatakan bahwa pengguna utama membutuhkan informasi mengenai
“jumlah, waktu, dan ketidakpastian” atas arus kas perusahaan di masa depan.
 Tujuan informasi keuangan adalah orientasi masa depan – disebut juga dengan hasil
investasi di masa depan. Framework menyatakan investor membutuhkan informasi yang
berorientasi pada masa depan.
 Bagaimana laporan keuangan dapat memprediksi pengembalian di masa depan? Perlu
dilakukan penghubungan antara kinerja perusahaan saat ini dan prospeknya di masa
depan.

Pernyataan Framework:
“Oleh karena itu, investor saat ini dan investor potensial, pemberi pinjaman, dan kreditor
lainnya membutuhkan informasi untuk membantu mereka menilai prospek arus kas
entitas di masa depan... Informasi mengenai laporan kinerja keuangan entitas (termasuk
saat ini)... biasanya berguna dalam memprediksi pengembalian di masa depan atas
sumber daya ekonomi entitas.”

Jadi laporan keuangan selain melaporkan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan saat
ini, juga berguna untuk investor yang berorientasi pada masa depan.

 Framework menyatakan:

“Informasi mengenai pelaporan sumber daya ekonomik dan klaim entitas dan
perubahannya selama suatu periode memberikan basis yang lebih baik dalam menilai
kinerja masa lalu dan masa depan dibandingkan informasi yang hanya berisi tentang kas
yang diterima dan pembayaran dalam periode tersebut.”

Dengan kata lain, laporan keuangan membuat prediksi yang lebih baik atas aliran kas di
masa depan dibanding dengan saat ini.

 Bagaimana informasi laporan keuangan disajikan agar berguna secara maksimal bagi
investor dalam memprediksi pengembalian di masa depan? Jawabannya ada pada konsep
relevan dan reliabilitas, dimana Framework menyebutkan sebagai karakteristik
fundamental atas kegunaan laporan keuangan.

Definisi Framework:

“Informasi keuangan yang relevan bisa membuat perbedaan dalam pengambilan


keputusan yang dibuat oleh pengguna.”

Definisi framework:

“Agar berguna, laporan keuangan harus secara tepat merepresentasikan fenomena.”

 Framework mencoba menjelaskan bahwa agar merepresentasikan secara tepat, informasi


harus lengkap, bebas dari kesalahan material, dan netral, dimana informasi netral adalah
bebas dari bias yang mempengaruhi interpretasi pengguna.
 Framework tidak secara spesifik menyatakan bahwa antara relevansi dan reliabilitas
harus terjadi trade-off.
Framework menyatakan:

“Informasi harus relevan dan terpercaya dan direpresentasikan secara tepat agar berguna.
Pertama, mengidentifikasi fenomena ekonomik yang dapat berguna bagi pengguna
informasi keuangan entitas. Kedua, mengidentifikasi jenis informasi mengenai fenomena
yang paling relevan apabila tersedia dan dapat mewakili secara tepat. Ketiga, menentukan
apakah informasi tersedia dan dapat merepresentasikan secara tepat. Jika begitu, proses
memuaskan karakteristik kualitatif fundamental berakhir pada titik tersebut. Jika tidak,
proses berulang pada jenis informasi relevan selanjutnya.”

8. KESIMPULAN ATAS DECISION USEFULLNESS


Berdasarkan laporan dari ASOBAT dan Trueblood Committee, decision usefullness
approach atas pelaporan keuangan berarti bahwa akuntan harus mengerti masalah keputusan
pengguna laporan keuangan. Single person decision theory dan aplikasinya terhadap
keputusan investasi portofolio memberikan pemahaman atas kebutuhan investor rasional,
menghindari risiko. Teori ini menjelaskan bahwa investor membutuhkan informasi untuk
membantu mereka menilai pengembalian sekuritas yang diharapkan dan risiko dari
pengembalian tersebut.
Laporan keuangan penting dan merupakan sumber informasi biaya yang efektif bagi
investor, meskipun laporan keuangan tidak secara langsung melaporkan hasil investasi di
masa depan. Peran GAAP adalah memberikan sistem informasi yang dapat membantu
investor untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa depan, yang dapat juga membantu
memprediksi pengembalian investasi di masa depan. Untuk memaksimalkan informasi
laporan keuangan, akuntan harus menemukan trade-off terbaik antara relevansi dan
realibilitas.
Mayoritas badan akuntansi profesional seperti IASB dan FASB mengadopsi
pendekatan manfaat keputusan. Hal ini dibuktikan dengan Kerangka Konseptual mereka,
yang menunjukkan pengakuan yang jelas mengenai peran pelaporan keuangan dalam
memberikan informasi yang berguna bagi investor.
CHAPTER 5
VALUE RELEVANCE OF ACCOUNTING INFORMATION

The Ball and


Brown Study

Value relevance – finding A Caveat: accounting Market response


the market response to information as a consistent with
accounting information public good theory

Earnings response
coefficient, earnings
persistence

5.1 OVERVIEW
Jika Teori Pasar Efisien dan Teori Keputusan mendasari deskripsi wajar atas realitas rata-rata,
kita mestinya dapat mengamati bahwa nilai sahamdi pasar akan merespon adanya informasi baru dengan
cara yang dapat diprediksi.
Hal ini mengarahkan padadilakukannyapenelitian-penelitian empiris mengenai hal tersebut.
Meskipun terdapatkesulitan dalam merancang eksperimen untuk menguji implikasi dari kebermanfaatan
keputusan (decision usefulness) atas informasi akuntansi, penelitian tersebut telah menemukan bahwa
harga saham di pasar sekuritasmemang merespons terhadap informasi akuntansi. Ketika harga
sahambereaksi dengan informasi dengan cara tersebut, kita dapat mengatakan bahwa informasi akuntansi
memiliki relevansi nilai (value relevance). Bukti signifikan pertama atas reaksi pasar sekuritasterhadap
pengumuman pendapatan perusahaan diberikan oleh Ball dan Brown pada tahun 1968. Sejak itu,
sejumlah besar penelitian empiris telah dilakukan untuk mendokumentasikan aspek tambahan dari nilai
relevansi.
Atas dasar penelitian tersebut, tampak bahwa informasi akuntansi memang berguna bagi investor
dalam membantu mereka memperkirakan nilai dan risiko dari pengembalian sekuritas yang diharapkan.
Pada Contoh 3.1 di bab sebelumnya (penggunaan terorema Bayes), kita dapat melihat bahwa jika
informasi akuntansi tidak memiliki kandungan informasi, maka tidak akan ada revisi keyakinan yang
dilakukan oleh investorsaat informasi baru diterima, dan tidak akan ada pemicu keputusan beli/jual. Tanpa
adanya keputusanbeli/jual tersebut, tidak akan ada volume perdagangan atau perubahan harga yang
terjadi.
Intinya, suatu informasi dianggap berguna jika informasi tersebut dapat mengarahkan investor
untuk mengubah keyakinan dan tindakan mereka, dan tingkat kebermanfaatan informasi bagi investor
dapat diukur dari tingkat perubahan volume atau harga setelah dirilisnyasuatu informasi.
Pendekatan relevansi nilai mengambil sudut pandang bahwa investor ingin membuat prediksi
mereka sendiri dalam menentukan tingkat pengembalian saham di masa depan (bukan dari laporan
keuangan, sebagaimana dalam kondisi ideal) dan mampu "melahap" semua informasi yang berguna dalam
hal ini. Relevansi nilai juga menyiratkan bahwa penelitian empiris dapat membantu akuntan untuk lebih
meningkatkan kebermanfaatan dengan membiarkan respon pasar membimbing mereka mengenai
informasi apa yang dianggap penting dan tidak penting bagi investor.
Namun demikian,kita harus berhati-hatiketika menyamakan kebermanfaatan informasi dengan
tingkat perubahan harga saham. Meskipun investor dan akuntan dapat mengambil manfaat dari informasi
yang berguna, tidak berarti bahwa masyarakat akan mendapatkan manfaat yang sama. Informasi adalah
komoditas yang sangat kompleks, dan nilai suatu informasi secara privat dan sosial tidaklah sama. Salah
satu alasannya adalah biaya. Pengguna laporan keuangan umumnya tidak membayar langsung untuk
mendapatkan informasi tersebut. Akibatnya, mereka dapat menemukan bahwasuatu informasi dapat
berguna bagi mereka, namun menimbulkan biaya yang lebih bagi masyarakat (misalnya, dalam bentuk
harga produk yang lebih tinggi untuk membantu perusahaan-perusahaan membayar biaya dalam
menghasilkan dan melaporkan informasi). Selanjutnya, informasi mempengaruhi orang secara berbeda-
beda, dan dibutuhkan analisis biaya-manfaat yang kompleks untuk dapay menyeimbangkan berbagai
kepentingan dari berbagai konstituen yang berbeda.
Pertimbangan sosial ini tidak membatalkan nilai relevansi. Akuntan masih dapat berusaha untuk
meningkatkan posisi kompetitif mereka di pasar informasi dengan memberikan informasi yang lebih
berguna. Dan masih benar bahwa pasar sekuritas akan bekerja lebih baik dalam mengalokasikan sumber
dayanya apabila harga sekuritas memberikan indikator yang baik mengenai peluang investasi dan kinerja
di masa mendatang. Namun demikian, akuntan tidak dapat begitu sajamengklaim bahwa kebijakan
akuntansi yang terbaik adalah yang dapan menghasilkan respon pasar yang terbesar.

5.2 OUTLINE OF THE RESEARCH PROBLEM


5.2.1 Reasons for Market Response
Pertimbangkan beberapa prediksi berikut mengenai perilaku investor dalam menanggapi informasi
laporan keuangan:
1. Investor memiliki keyakinan sebelumnya mengenai kinerja perusahaan di masa depan – yang
dapat berupa dividen, arus kas, dan/atau laba, yang memiliki pengaruh terhadap pengembalian
yang diharapkan dan risiko sekuritas perusahaan. Keyakinan sebelumnya ini akan didasarkan
pada semua informasi yang tersedia, termasuk harga pasar pada waktu sesaat sebelum rilis
informasi laba bersih perusahaan. Bahkan ketika mereka didasarkan pada informasi publik yang
tersedia, keyakinan sebelumnya ini tidak begitu saja dianggap sama karena adanya perbedaan
dalam jumlah informasi yang diperoleh setiap investor dan sejauh mana mereka memahaminya.
2. Setelah dirilisnya laba bersih periode berjalan, beberapa investor akan dengan cepat memutuskan
untuk mencari lebih banyak informasi dengan menganalisis jumlah pendapatan. Sebagai contoh,
jika laba bersih tinggi, atau lebih tinggi dari yang diharapkan, ini mungkin menjadi kabar baik.
Jika demikian, investor akan merevisi secara positif keyakinan mereka mengenai kinerja
perusahaan di masa depan. Investor lain, yang mungkin memiliki keyakinan terlalu tinggi atas
laba bersih perusahaan, mungkin akan menafsirkan angka pendapatan bersih yang sama sebagai
berita buruk.
3. Investor yang telah merevisi secara positif keyakinan mereka mengenai kinerja perusahaan di
masa depan akan cenderung membeli saham perusahaan pada harga pasar saat ini, dan sebaliknya
pula bagi investor yang telah merevisi keyakinan mereka secara negatif. Evaluasi investor atas
tingkat risiko saham juga dapat direvisi.
4. Kita dapat berekspektasi bahwa volume saham yang diperdagangkan akan meningkat ketika
perusahaan melaporkan laba bersih. Lebih jauh, volume saham tersebut akan semakin besar
seiring besarnya perbedaan keyakinan sebelumnya dari investor mengenai kinerja perusahaan di
masa mendatang, dan interpretasi mereka atas informasi keuangan saat ini. Jika investor yang
menafsirkan laporan laba bersih sebagai kabar baik (dan karenanya telah meningkatkan harapan
mereka atas kinerja masa depan perusahaan) lebih besar daripada investor yang menafsirkannya
sebagai berita buruk, kita dapat mengharapkan adanya peningkatan harga pasar saham
perusahaan, dan sebaliknya.

Beaver (1968), dalam penelitiannya yang terkenal, meneliti reaksi volume perdagangan. Ia
menemukan adanya peningkatan yang dramatis dalam volume perdanganan pada minggu rilisnya
pengumuman laba. Rincian lebih lanjut mengenai temuan Beaver dibahas dalam Pertanyaan 9 bab ini.
Dalam bab ini kita hanya akan berkonsentrasi pada reaksi harga pasar. Reaksi harga pasar dapat
menjadialat uji kebermanfaatan keputusan yang lebih baik dari reaksi atas volume perdagangan.
Misalnya, model Kim dan Verrecchia (1997) menunjukkan bahwa volume perdaganganlebih noisydari
perubahan harga sebagai ukuran kebermanfaatan keputusan informasi laporan keuangan.
Jika teori keputusan dan teori pasar efisien memiliki relevansi dengan akuntan, prediksi mereka
harus terlahir secara empiris. Seorang peneliti empiris bisa menguji prediksi ini dengan mendapatkan
sampel perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan dan menyelidiki apakah volume dan harga
memang bereaksi terhadap berita baik atau buruk sebagaimanadisebutkan dalam teori.
5.2.2 Finding the Market Response
1. Teori pasar efisien menyiratkan bahwa pasar akan bereaksi dengan cepat terhadap informasi baru.
Akibatnya, penting untuk mengetahui kapan laporan laba bersih tahun berjalan diumumkan
kepada publik. Jika peneliti mencari effek volume dan harga bahkan beberapa hari saja terlambat,
tidak ada efek yang dapat diamati meskipun efek tersebut mungkin sebenarnya terjadi.
Para peneliti telah memecahkan masalah ini dengan menggunakan tanggal laba bersih perusahaan
dilaporkan di media keuangan seperti The Wall Street Journal. Baru-baru ini, banyak perusahaan
mengumumkan informasi laba pada konferensi pers atau dalam panggilan konferensi. Jika pasar
akan bereaksi, hal tersebut harus terjadi pada beberapa hari sekitar tanggal pengumuman.
2. Kabar baik atau kabar buruk dalam laporan laba bersih biasanya dievaluasi relatif terhadap apa
yang diharapkan investor. Jika suatu perusahaan melaporkan laba bersih sebesar, katakanlah, $ 2
juta, dan angka ini merupakan angka yang diharapkan investor (dari laporan triwulanan, pidato
oleh pejabat perusahaan, prediksi analis, informasi di MD&A dan, tentu saja, dalam harga saham
itu sendiri), akan hampir tidak banyak konten informasi dalam laba bersih yang dilaporkan.
Keyakinan sebelumnya investor akan telah direvisi untuk mencerminkan informasi sebelumnya.
Namun akan berbeda jika investor mengharapkan laba $ 2 juta dan laba bersih yang dilaporkan
ternyata adalah $ 3 juta. Kabar baik ini akan memicu revisi keyakinan yang cepat mengenai
kinerja masa depan perusahaan. Ini berarti bahwa peneliti harus mendapatkan proxy atas laba
bersih yang diharapkan oleh investor akan terjadi. Proxy ini biasanya didasarkan pada pendapatan
sebelumnya atau prediksi laba dari analis.
3. Ada banyak peristiwa yang terjadi yang akan mempengaruhi volume dan harga saham
perusahaan. Ini berarti bahwa respon pasar terhadap laba bersih yang dilaporkan dapat sulit untuk
diketahui. Misalnya, sebuah perusahaan merilis laba bersihnya tahun ini, yang berisi berita baik,
pada hari yang sama di mana pemerintah mengumumkan adanya peningkatan substansial dalam
defisit. Pengumuman publik seperti ini mungkin akan mempengaruhi harga dari semua atau
sebagian besar surat berharga yang ada di pasar, yang pada gilirannya mungkin akan menghapus
efek dariperilisan informasi laba perusahaan. Dengan demikian, perlu untuk memisahkan dampak
dari faktor pasar (market-wide) dan dan faktor spesifik perusahaan (specific-firm) terhadap
tingkat pengembalian saham.

5.2.3 Separating Market-Wide and Firm-Specific Factors


Model pasar secara luas digunakan untuk memisahkan faktor pasar dan spesifik perusahaan yang
mempengaruhi pengembalian sekuritas. Gambar 5.2 memberikan ilustrasi grafis dari model pasar untuk
perusahaan j untuk periode t, di mana kita lamanya periode adalah satu hari.Periode waktu yang lebih
lama, seperti minggu, bulan, atau tahun, atau bahkan periode yang lebih pendek, juga digunakan oleh para
peneliti.
Angka ini menunjukkan hubungan antara pengembalian saham perusahaan j dan pengembalian
portofolio pasar (diproksi, misalnya, dengan indeks Dow Jones Industrial Average atau Indeks Komposit
S&P/TSX).

Gambar 5.2

Perhatikan persamaan dari model pasar berikut:

Seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya, peneliti akan memperoleh data terakhir pada R jt dan RMt
dan menggunakan analisis regresi untuk memperkirakan koefisien model. Misalkan dalam hal ini
dihasilkan nilai αj = 0,0001 dan βj = 0.80, seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Sekarang, dengan perkiraan dari model pasar untuk perusahaan j ini, peneliti dapat
mengkonsultasikannyake media keuangan untuk menemukan hari diumumkannya laba perusahaan
periode ini. Sebut saja "hari 0". Misalkan untuk hari 0 pengembalian indeks industri Dow Jones adalah
0,001. Maka model pasar yang diperkirakan untuk perusahaan j digunakan untuk memprediksi laba atas
saham perusahaan j untuk hari ini. Seperti ditunjukkan dalam Gambar 5.2, hasil yang diharapkan adalah
0,0009. Sekarang asumsikan bahwa pengembalian aktual atas saham perusahaan j untuk hari 0 adalah
0,0015. Maka perbedaan antara pengembalian aktual dan yang diharapkan adalah 0,0006 (yaitu, Є jt =
0,0006 untuk hari ini). Angka 0,0006 ini adalah perkiraan yang abnormal, atau perusahaan-spesifik, atas
pengembalian saham perusahaan j untuk hari itu. Pengembalian abnormal ini juga diartikan sebagai
tingkat pengembalian saham perusahaan j untuk hari 0 setelah dihapusnya pengaruh faktor pasar.
Perhatikan bahwa penafsiran ini konsisten dengan Contoh 3.2, di mana kita membedakan antara faktor
pasar dan faktor spesifik perusahaan. Prosedur ini memberikan suatu cara operasional untuk membuat
pemisahan ini.

5.2.4 Comparing Returns and Income


Peneliti empiris sekarang dapat membandingkan abnormal return atas saham pada hari 0
sebagaimana dihitung di atas dengan komponen yang tak terduga dari laba bersih perusahaan saat ini. Jika
laba bersih tak terduga ini adalah berita baik (yaitu, laba bersih tak terduga positif) maka, dengan efisiensi
yang wajar pada pasar sekuritas, abnormal return saham yang positif merupakan bukti bahwa investor
rata-rata bereaksi positif terhadap berita baik yang tak terduga dalam pendapatan. Penalaran yang sama
berlaku jika laba yang dilaporkan pada saat pengumuman adalah berita buruk.
Untuk meningkatkan kekuatan penyelidikan, peneliti mungkin ingin juga memeriksa beberapa hari
di sebelum dan sesudah hari 0. Hal ini dimungkinkan, misalnya, apabila pasar mengetahuimengenai berita
baik atau buruk tersebut satu atau dua hari setelah hari 0 sementara pasar mencerna informasi, meskipun
efisiensi pasar menunjukkan bahwa kelebihan pengembalian harus hilang dengan cepat. Akibatnya,
penjumlahan dari abnormal return untuk lingkup yang sempit antara tiga sampai lima hari sekitar hari 0
tampaknya lebih masuk akal daripada memeriksa hanya hari 0 saja. Hal ini juga membantu melindungi
terhadap kemungkinan bahwa tanggal pengumuman laba saat ini merupakan perkiraan yang akurat dari
tanggal ketersediaan informasi bagi publik.
Jika return abnormal positif dan negatif seputar berita penghasilan yang baik atau buruk ditemukan
pada seluruh sampel perusahaan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa prediksi yang didasarkan atas teori
keputusan dan teori pasar sekuritas efisien benar terbukti. Hal ini pada gilirannya akan mendukung
pendekatan kebermanfaatan dalam pengembilan keputusan (decision usefulness) pada akuntansi dan
pelaporan keuangan, karena, jika investor tidak menganggap bahwa informasi laba bersih bermanfaat,
maka respon pasar akan sulit diamati.
Tentu saja, metodologi ini tidak sempurna – sejumlah asumsi dan estimasi harus dibuat dalam
penerapannya. Salah satu komplikasi yang ditemui adalah bahwa informasi spesifik perusahaan lainnya
yang seringkaliterjadi bersamaan dengan sekitar waktu pengumuman laba perusahaan. Misalnya, jika
perusahaan j mengumumkan pemecahan saham atau perubahan dividen pada hari yang sama dengan
perusahaan merilis laba, akan sulit untuk mengetahui apakah respon pasar adalah karena hal yang satu
atau yang lain. Namun demikian, para peneliti dapat mengatasi hal ini dengan menghapus perusahaan
tersebut dari sampel.
Komplikasi lain adalah estimasi beta perusahaan, yang diperlukan untuk memisahkan
pengembalian pasar dan spesifik perusahaan sebagaimana pada Gambar 5.2. Seperti disebutkan
sebelumnya, estimasi ini biasanya didasarkan pada analisis regresi atas data masa lalu dengan
menggunakan model pasar. Kemudian, perkiraan beta adalah kemiringan garis regresi. Namun demikian,
beta suatu perusahaan dapat berubah dari waktu ke waktu, misalnya seiring perubahanoperasi dan/atau
struktur modal perusahaan. Jika beta estimasi berbeda dengan beta aktual, halakan ini mempengaruhi
perhitungan abnormal return, dan dapat membuat bias hasil penyelidikan.
Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi komplikasi ini. Misalnya, dimungkinkan
adanya "opini kedua (second opinion)" pada beta dengan memperkirakannya dari informasi laporan
keuangan dan bukan dari data pasar. Atau, beta dapat diperkirakan dari periode setelah pengumuman laba
dan dibandingkan dengan estimasi dari periode sebelum pengumuman laba.
Selain itu, terdapat cara untuk memisahkan return pasardan spesifik perusahaan yang mengabaikan
beta. Sebagai contoh, kita dapat memperkirakan return spesifik perusahaan dari perbedaan antara return
saham perusahaan j pada periode 0 dan rata-rata pengembalian saham selama beberapa periode
sebelumnya. Atau, kita dapat menggunakan perbedaan antara return perusahaan j pada periode 0 dan
pengembalian portofolio pasar untuk periode yang sama. Ataualternatif lainnya, seperti dijelaskan dalam
Easton dan Harris (1991), kita juga dapat menggunakan total return saham saja dan tanpa
mempertimbangkanfaktor return pasar sama sekali.
Alasan untuk ini prosedur sederhana tersebut adalah bahwa tidak ada jaminan bahwa model pasar
ini mampu mewakili proses nyata dalam mendapatkanreturn saham. Sepanjang model pasar tidak
sepenuhnya mengungkap realita, penggunaannya dapat lebih menghasilkan kesalahan dalam
memperkirakan beta dan abnormal return daripada mengurangi dengan menghapus return pasar dan
pengendalian risiko. Komplikasi lebih lanjut adalah adanya berbagai indeks return portofolio pasar yang
tersedia, dimana indeks Dow Jones Industrial Average hanya satu. Mana yang harus digunakan?
Isu-isu ini ditelaah oleh Brown dan Warner (1980) dalam sebuah studi simulasi. Meskipun terdapat
permasalahan dalam pemodelan dan pengukuran seperti yang baru saja disebutkan, Brown dan Warner
menyimpulkan bahwa, untuk jangka waktu bulanan, prosedur berbasis model pasar bekerja cukup baik di
antara alternatif lain yang disebutkan di atas. Dengan demikian, prosedur tersebut adalah prosedur yang
digunakan dalam penelitian.
Dengan prosedur ini, terlihat bahwa pasar bereaksi terhadap informasi laba sebagaimana telah
diprediksi dalam teori. Kita sekarang akan meninjau bukti pertama yang signifikan dan interpretasi atas
reaksinya dalam studi Brown dan Ball tahun 2968 yang terkenal.
5.3 THE BALL AND BROWN STUDY
5.3.1 Methodology and Findings
Pada tahun 1968, Ball dan Brown (BB) memulai tradisi penelitian empiris akuntansi di pasar modal
yang berlanjut hingga hari ini. Mereka adalah yang pertama kali memberikan bukti ilmiah yang
meyakinkan bahwa returnsaham perusahaan merespon terhadap isi informasi laporan keuangan –dengan
kata lain, bahwa laporan keuangan memiliki nilai relevansi. Jenis penelitian ini disebut studi peristiwa
(event study), karena mempelajari reaksi pasar sekuritas dalam ruang lingkup yang sempitatasperistiwa
tertentu, dalam hal ini, rilis laba bersih perusahaan. Tinjauan ataspenelitian BB ini baik dilakukan karena
metodologi dasar, termasuk adaptasi dan pengembangan metodenya, masih terus digunakan. Hasil
penelitian mereka menjadibahan pembimbing, serta pendorong, untuk mereka yang ingin lebih
memahami kebermanfaataninformasi pelaporan keuangan (decision usefulness of financial reporting).
BB meneliti sampel 261 perusahaan yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) selama
sembilan tahun dari 1957 ke 1965. Mereka berkonsentrasi pada isi informasi dari laba, dengan
mengesampingkan komponen laporan keuangan lainnya yang berpotensi informatif seperti solvabilitas
dan struktur modal. Salah satu alasannya, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah bahwa pendapatan
untuk perusahaan NYSE biasanya diumumkan di media sebelum rilis yang sebenarnya dari laporan
tahunan sehingga relatif mudah untuk memperkirakan kapan informasi tersebut pertama tersedia untuk
umum.
Tugas pertama BB adalah untuk mengukur kandungan informasi dari laba - yaitu, apakah laba yang
dilaporkan lebih besar dari apa yang diharapkan oleh pasar (GN) atau kurang dari yang diharapkan (BN).
Tentu saja, diperlukan proxy untuk ekspektasi pasar. Adapun proxy yang mereka gunakan adalah laba
aktual tahun lalu, dan bahwa pendapatan tak terduga pada tahun ini dianggap sebagai perubahan laba.
Dengan demikian, perusahaan dengan pendapatan lebih tinggi dari tahun lalu diklasifikasikan sebagai
BN.
Tugas berikutnya adalah untuk mengevaluasi return pasar pada saham perusahaan sampel pada
waktu yang dekat dengan setiap pengumuman laba. Hal ini dilakukan sesuai dengan prosedur abnormal
return yang diilustrasikan pada Gambar 5.2. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa BB mengukur return
sahamdalam jangka waktu return bulanan (return harian tidak tersedia pada database di tahun 1968).
Analog dengan Gambar 5.2, misalkan perusahaan j melaporkan pendapatannya pada tahun 1957 di
bulan Februari 1958, dan bahwa laba ini adalah GN. Misalkan juga bahwa pengembalian portofolio pasar
NYSE bulan Februari 1958 adalah 0,001, dengan ekspektasi pengembalian perusahaan j 0,0009. BB
kemudian akan menghitung pengembalian saham aktual perusahaan j untuk Februari 1958. Misalkan
angkanya adalah 0,0015, dengan abnormal return untuk bulan Februari sebesar 0,0006. Karena laba
perusahaan j tahun 1957 dilaporkan pada bulan Februari 1958 dan angka perolehen abnormal returnnya
0,0006 di atas nilai pasar di bulan ini, kita dapat menduga bahwa alasan terjadinya abnormal return yang
positif adalah bahwa investor bereaksi positif terhadap informasi GN laba.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah pola ini berulang pada seluruh sampel?
Jawabannya adalah ya. Jika kita mengambil semua laba dalam pengumuman GN dalam sampel (sebanyak
1.231), rata-rata abnormal return pasar di bulan di mana labadirilis adalah positif. Sebaliknya, rata-rata
abnormal return untuk 1.109 pengumuman laba berita buruk dalam sampel adalah negatif. Ini
memberikan bukti kuat bahwa pasar memang merespon terhadap kabar baik atau buruk dalam bulan rilis
pengumuman laba.
Aspek yang menarik dan penting dalam penelitian BB adalah bahwa mereka mengulangi
perhitungan abnormal return pasar untuk jangka waktu yang lebih luas, yang terdiri dari masing-masing
11 bulan sebelum dan enam bulan setelah bulan informasi laba dirilis (bulan 0). BB menghitung abnormal
return rata-rata untuk setiap bulan dalam jangka waktu 18bulan ini. Hasilnya ditunjukkan pada Gambar
5.3, yang diambil dari penelitian BB.

Bagian atas dari Gambar 5.3 menunjukkan rata-rata kumulatif abnormal return untuk pengumuma
laba GN perusahaan dalam sampel; bagian bawah menunjukkan hal yang sama untuk pengumuman BN
perusahaan. Seperti dapat dilihat, perusahaan GN secara keseluruhan mengungguli total sampel (total
sampel mewakili aspek pasar yang luas), dan perusahaan BN sangat underperformed, selama periode
11bulan menjelang bulan dirilisnya laba perusahaan.

5.3.2 Causation Versus Association


Perhatikan bahwa return bulanan bersifat kumulatif pada Gambar 5.3. Meskipunterdapat
peningkatan yang substansial (untuk GN) dan penurunan (untuk BN) pada rata-rata abnormal return pada
bulan 0, seperti dijelaskan di atas, Gambar 5.3 menunjukkan bahwa pasar mulai mengantisipasi GN atau
BN sejak satu tahun sebelumnya, dengan hasil bahwa pengembalian terakumulasi terus selama jangka
waktu tersebut. Seperti dapat dilihat, jika seorang investor dapat membeli saham semua perusahaan yang
merilis GN satu tahun sebelum kabar baik dirilis dan menahannya sampai akhir bulan ketika dirilis, akan
ada pengembalian tambahan sebesar lebih dari 5% di atas pengembalian pasar. Demikian pula, kerugian
abnormal sebesar lebih dari 9% juga akan terjadi pada portofolio perusahaan BN yang dibeli satu tahun
sebelum berita buruk dirilis.
Hal ini membawa kita pada perbedaan penting antara studi dengan jangka waktu sempit dan lebar.
Jika reaksi pasar sekuritas terhadap informasi akuntansi diamati selama jangka waktu beberapa hari (atau,
dalam kasus BB, sebulan) sekitar pengumuman laba, dapat dikatakan bahwa informasi akuntansi adalah
penyebab dari reaksi pasar. Alasannya adalah bahwa selama jangka waktu yang sempit tersebut hanya ada
relatif sedikit peristiwa spesifik perusahaan yang terjadi selain laba bersih yang mempengaruhi
pengembalian saham. Juga, jikapun ada peristiwa lain yang terjadi, seperti stock split atau pengumuman
dividen, perusahaan yang terkena dampak tersebut dapat dihapus dari sampel, seperti yang telah
disebutkan sebelumnya. Dengan demikian, hubungan dalam jangka waktu yang sempit antara return
sekuritas dan informasi akuntansi menunjukkan bahwa pengungkapan akuntansi adalah sumber informasi
baru bagi investor.
Evaluasi terhadap return sahampada jangka waktu yang lebih lebar, ternyata, membuka hubungan
reaksi kepada sejumlah peristiwa lain yang berpengaruh terhadap harga saham. Misalnya, sebuah
perusahaan mungkin menemukan cadangan minyak dan gas baru, terlibat dalam proyek R&D yang
menjanjikan, atau mengalami peningkatan penjualan dan kenaikan pangsa pasar. Seiring pasar menyerap
informasi ini dari sumber-sumber yang lebih tepat waktu, seperti artikel media, pengumuman perusahaan,
kondisi ekonomi dan industri, laporan triwulanan, dan insider buying(untuk GN) dan selling (BN), harga
saham akan mulai naik. Hal ini mencerminkan sebagian sifat informatif harga saham mengingat, di pasar
yang efisien, harga saham mencerminkan semua informasi yang tersedia, bukan hanya informasi
akuntansi. Dengan demikian, perusahaan yang dianggap berjalan baikharus mengantisipasi efek informasi
akuntansi terhadap harga saham mereka sebelum GN muncul dalam laporan keuangan. Artinya, karena
adanya jeda pengakuan (recognition lag) ini, harga menyebabkan laba. Sehinggaarguman yang bisa
diungkapkan dalam lingkup jangka waktu yang panjang adalah bahwa laba bersih dan return saham
berhubungan. Bahwa hal tersebutlahyang mendasari kinerja ekonomi riil dari perusahaan yang
menghasilkan asosiasi, karena baik harga saham dan laba bersih (dengan lag) yang mencerminkan kinerja
nyata.
Jelas, efek ini berlangsung dalam penelitian BB. Sekilas Gambar 5.3 menunjukkan bahwa
meskipunterdapat peningkatan yang signifikan (perusahaan GN) dan penurunan (BN) dalam
pengembalian tahunan kumulatif selama bulan 0, sebagaimana disebutkan sebelumnya, sebagian besar
informasi laba bersih telah diantisipasi sebelum bulan 0. Bahkan, BB memperkirakan bahwa, rata-rata,
85%-90% dari informasi dalam pendapatan tahunan telah ikut membangun harga saham pada saat
pendapatan tahunan diumumkan. Namun demikian, hasil penelitian dalam jengka waktu yang sempit
tersebut tetap; pasar tidak mengantisipasi semua informasi laba bersih, sehingga mendukung baik teori
keputusan maupun teori pasar efisien serta relevansi nilai informasi akuntansi.

5.3.3 Outcomes of the BB Study


Salah satu hasil yang paling penting dari penelitian BB adalah bahwa mereka membuka sejumlah
permasalahantambahan terkait kebermanfaatan (decision usefulness). Langkah logis berikutnya adalah
untuk menanyakan apakah besarnya laba tak terduga terkait dengan besarnya respon pasar sekuritas -
ingat bahwa analisis BB hanya didasarkan pada pertanda laba tak terduga. Artinya, kandungan informasi
dari laba dalam penelitian BB diklasifikasikan hanya ke GN atau BN, ukuran yang cukup kasar.
Pertanyaan mengenai besarnya respon diteliti, misalnya, oleh Beaver, Clarke, dan Wright (BCW)
pada tahun 1979. Mereka meneliti sampel dari 276 perusahaan NYSE dengan tahun buku yang berakhir
pada 31 Desember, selama periode 10tahun dari 1965-1974. Untuk setiap perusahaan sampel, untuk
setiap tahun pada periode sampel, mereka memperkirakan perubahan laba tak terdugayang terjadi.
Mereka kemudian menggunakan prosedur model pasar untuk memperkirakan abnormal return saham
yang berhubungan dengan perubahan laba tak terduga ini.
Setelah perbandingan perubahan laba tak terduga dengan abnormal return saham, BCW
menemukan bahwa semakin besar perubahan laba tak terduga, semakin besar respon pasar saham. Hasil
ini konsisten dengan CAPM dan kebermanfaatan keputusan (decision usefulness), karena semakin besar
perubahanlaba tak terduga, semakin banyak rata-rata investor yang akan merevisi perkiraan mereka atas
kinerja perusahaan di masa depan dan return investasi yang mereka harapkan, hal-hal lain yang
tetapsama.
Selain itu, para peneliti akuntansi telah mempelajari respon pasar sekuritas dengan laba bersih di
bursa saham lainnya, di negara-negara lain, dan untuk laporan pendapatan kuartalan, dengan hasil yang
mirip. Pendekatan ini telah diterapkan untuk mempelajari respon pasar terhadap informasi yang
terkandung dalam standar akuntansi baru, perubahan auditor, dll. Namun, di bab ini kita hanya akan
berkonsentrasi pada bagian paling penting dari penelitian BB, koefisien respon laba. Subjek penelitian ini
mengajukan pertanyaan yang berbeda dengan BCW - yaitu, untuk jumlah tertentu laba tak terduga,
apakah respon pasar sekuritas akan lebih besar pada beberapa perusahaan dibanding perusahaan lainnya?
5.4 EARNINGS RESPONSE COEFFICIENTS
Ingat bahwa yang abnormal return pasar sekuritas yang diidentifikasi oleh BB adalah nilai rata-rata
– yang menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan GN menikmati abnormal return positif, dan perusahaan
BN mereka menunjukkan abnormal return yang negatif. Tentu saja, nilai rata-rata bisa saja
menyembunyikan banyak variasi atas nilai rata-rata tersebut. Sehinggaterdapat kemungkinan bahwa
abnormal return beberapa perusahaan bisa saja di atas rata-rata atau jauh di bawahnya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa pasar merespon lebih kuat terhadap kabar baik atau
buruk dalam pendapatan untuk beberapa perusahaan tertentu dibandingkan perusahaan lainnya. Jika
jawaban untuk pertanyaan ini dapat ditemukan, akuntan dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang
bagaimana informasi akuntansi dapat berguna bagi investor. Hal ini, pada gilirannya, dapat mengarahkan
pada penyusunan laporan keuangan yang lebih bermanfaat.
Konsekuensinya, salah satu arah yang paling penting dalam penelitian akuntansi keuangan empiris
setelahpenelitian BB adalah identifikasi dan penjelasan tentang respon pasar diferensial terhadap
informasi laba. Hal ini disebut penelitian koefisien respon laba (ERC).

Koefisien respon laba mengukur sejauh mana respons abnormal return saham
perusahaan terhadap komponen laba tak terduga perusahaan yang menerbitkan saham
tersebut.

Artinya, untuk menghitung ERC, bagi abnormal return saham (untuk jangka waktu seputar tanggal
rilis laba) dengan pendapatan tak terduga untuk periode tersebut. Ini akan mengukur abnormal return per
dolar dari pendapatan abnormal, yang memungkinkan perbandingan ERC di berbagai perusahaan dan dari
waktu ke waktu.

5.4.1 Reasons for Differential Market Response


Sejumlah alasan dapat diajukanmengenai respon pasar diferensial untuk laba yang dilaporkan. Kita
akan meninjaunya satu persatu.

Beta Semakin berisiko urutan pengembalian yang diharapkan di masa depan atas suatu perusahaan,
semakin rendah nilainya bagi investor yang menghindari risiko, hal-hal lain yang sama. Untuk investor
yang terdiversifikasi, ukuran risiko yang relevan atas saham adalah beta. Karena investor mengacu ke
laba saat ini sebagai indikator kinerja masa depan dan return saham, semakin berisiko pengembalian
tersebut di masa depan, semakin rendah reaksi investor terhadap besaran laba tak terduga, yang akan
mengarah ke biaya modal yang lebih tinggi.
Sebagai gambaran, asumsikan investor yang rasional dan menghindari risiko,yang utilitasnya
naikseiring dengan kenaikan ekspektasi nilai dan turun seiring dengan risiko pengembalian/portofolionya.
Anggap bahwa investor tersebut, setelah menyadari bahwa perusahaan baru saja merilis informasi laba
GN, merevisi tingkat pengembalian yang diharapkan atas saham perusahaan secara positif dan
memutuskan untuk membeli lebih banyak saham. Namun demikian, jika saham ini memiliki beta yang
tinggi, hal tersebut akan meningkatkan risiko portofolio. Karena investor melakukan tradeoff antara risiko
dan return, beta yang tinggi bertindak sebagai rem pada permintaan investor untuk saham GN. Karena
semua investor yang rasional dan menghindari risiko akan berpikir dengan cara ini, permintaan untuk
saham perusahaan GN ini akan semakin rendah beta semakin tinggi, hal-hal lain yang sama. Tentu saja,
permintaan yang lebih rendah menunjukkan peningkatan yang lebih rendah dalam harga pasar dan return
saham dalam merespons GN, karenanya ERC menjadi lebih rendah.
Bukti empiris dari ERC yang lebih rendah untuk beta yang lebih tinggiditemukan oleh Collins dan
Kothari (1989) dan Easton dan Zmijewski (1989).

Struktur Saham Untuk perusahaan yang dengan leverage yang tinggi, peningkatan, katakanlah,
pada laba (sebelum bunga) menambah kekuatan dan keamanan atas obligasi dan hutang lainnya, sehingga
banyak kabar baik mengenai laba lebih ditujukan ke debtholders daripada pemegang saham. Oleh karena
itu, ERC untuk sebuah perusahaan yang memiliki leverageyan tingi harus lebih rendah dari perusahaan
yang memiliki sedikit atau tidak ada utang, hal-hal lain sama.
Bukti empiris mengenai ERC yang lebih rendah bagi perusahaan dengan leverage yang tinggi
dilaporkan oleh Dhaliwal, Lee, dan Fargher (1991).

Kualitas Laba Kita menentukan kualitas (yaitu, keinformatifan) atas laba dari besarnya
probabilitas diagonal utama pada sistem informasi yang terkait. Semakin tinggi probabilitas ini, semakin
tinggi ERC yang kita harapkan, karena investor akan lebih mampu untuk menyimpulkan kinerja
perusahaan di masa depan dari kinerja saat ini.
Sebagai masalah praktis, pengukuran kualitas laba tidak sejelas di atas, karena probabilitas sistem
informasi tidak secara langsung diamati dan pendekatan pengambilan sampel menemui masalah sampling
error. Pendekatan tidak langsung, dibahas dalam Bagian 3.3.2, adalah untuk menyimpulkan kualitas laba
dengan besarnya revisiperkiraan laba analis setelah pengumuman laba. Namun demikian, hal ini hanya
menimbulkan pertanyaan mengapa analis merevisi perkiraan mereka lebih pada beberapa perusahaan
tertentu daripada yang lain.
Untungnya, beberapa langkah pengukuran lain dari kualitas laba tersedia. Di sini kita
mempertimbangkan dua langkah. Yang pertama adalah persistensi laba. Kita berharap bahwa ERC akan
semakin tinggi seiring dengan kabar baik atau buruk pada usaha tahun berjalan diperkirakan akan
bertahan di masa depan, karena penghasilan saat ini dianggap memberikan indikasi yang lebih baik
mengenai kinerja perusahaan di masa depan. Jadi, jika GN saat ini adalah karena efisiensi operasi,
keberhasilan pengenalan produk baru, atau pemangkasan biaya oleh manajemen, ERC harus lebih tinggi
daripada jika GN adalah karena, katakanlah, keuntungan yang tak terduga dari penjualan pabrik dan
peralatan. Dalam kasus kedua, nilai pasar perusahaan meningkatkan dolar ke dolar dengan jumlah
keuntungan, karena hanya ada sedikit alasan untuk mengharapkan keuntungan yang tidak biasa terjadi.
Dengan meningkatknya operasi, peningkatan pendapatan atau penghematan biaya akan bertahan dan
bermanfaat dalam pelaporan pendapatan di masa depan juga, sehingga ERC harus lebih tinggi.
Bukti bahwa ERC lebih tinggi seiringpersistensi perubahan pendapatan tak terduga disampaikan
oleh Kormendi dan Lipe (1987), yang mengukur persistensi dari sejauh mana perubahan laba dalam dua
tahun terakhir terus berlanjut hingga tahun ini – semakin besar pengaruh perubahan laba dua tahun
terakhir dengan perubahan laba tahun berjalan, semakin besar persistensi penghasilan sebelumnya.
Li (2011) mengusulkan pendekatan yang terkait untuk mengukur persistensi. Dia berargumen
bahwa keputusan mengenai investasi modal dan tenaga kerja perusahaan mencerminkan informasi
internal manajemen tentang prospek laba jangka panjang perusahaan. Artinya, seorang manajer yang
rasional hanya akan menginvestasikan modal dan tenaga kerja pada proyek yang diharapkan akan bernilai
positif. Jika demikian, kekuatan hubungan antara perubahan belanja modal dan perubahan laba
merupakan ukuran kualitas laba. Karena laba jangka panjang dan persistensi laba adalah konsep yang
mirip, pendekatan Li memungkinkan adanya alternatif perkiraan persistensi laba.
Berdasarkan sampel perusahaan selama periode 1952-2004, Li mendokumentasikan hubungan
positif antara perubahan belanja modal dan perubahan laba, dan bahwa hubungan ini berkorelasi dengan
persistensi laba, konsisten dengan argumennya. Hasil ini dicapaidengan pengendalianatas ukuran lain
kualitas laba.
Persistensi adalah sebuah konsep yang menantang dan bermanfaat. Salah satu alasannya,
dikemukakan oleh Ramakrishnan dan Thomas (RT, 1991), adalah bahwa komponen yang berbeda dari
laba bersih mungkin memiliki persistensi yang berbeda. Misalnya, asumsikan bahwa di tahun yang sama
di mana sebuah perusahaan berhasil memperkenalkan suatu produk baru,perusahaan tersebut juga
melaporkan keuntungan dari penjualan pabrik dan peralatan. Dalam hal ini, persistensi laba merupakan
rata-rata tertimbang dari persistensi berbeda dari komponen pendapatan. RT membedakan tiga jenis
peristiwa laba:
 Permanen, diharapkan bertahan tanpa batas waktu
 Transitoris, mempengaruhi laba pada tahun berjalan tapi tidak tahun depan
 Harga tidak relevan, persistensi nol

ERCs per dolar dari pendapatan tak terduga untuk ini adalah (1 + R f)/Rf (di mana Rf adalah tingkat bunga
bebas risiko), 1, dan 0, masing-masing.
Sebagai akibatnya, terdapat tiga ERC, masing-masing mungkin ada di laporan laba rugi yang sama.
RT menyarankan bahwa alih-alih mencoba untuk memperkirakan ERC rata-rata, investor harus berusaha
untuk mengidentifikasi tiga jenis ERC tersebut secara terpisah dan menetapkan ERC yang berbeda untuk
masing-masing. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi kekuatan laba permanen, atau
persisten.
Untuk memahami ERC untuk laba permanen, perhatikan bahwa hal itu dapat ditulis sebagai 1 +
1/Rf. Jadi, di bawah kondisi ideal, respon pasar atasi $1 dari pendapatan permanen terdiri dari angsuran
tahun berjalan sebesar $1 ditambah nilai sekarang dari lamanya angsuran masa depan 1/R f. Menulis ERC
dengan cara ini juga menunjukkan bahwa ketika laba tetap bertahan melampaui tahun berjalan, besarnya
ERC berbanding terbalik dengan tingkat bunga.

Peluang Pertumbuhan GN atau BN untuk laba saat ini dapat mengisyaratkan prospek pertumbuhan
masa depan perusahaan, dan karenanya ERC yang lebih tinggi. Seseorang dapat berpikir bahwa karena
laporan keuangan masih mengandung komponen biaya historis yang cukup besar, laba bersih tidak bisa
benar-benar menginformasikan pertumbuhan masa depan perusahaan. Namun, hal tersebut belum tentu
terjadi. Misalkan laba bersih saat ini mengungkapkan profitabilitas tinggi yang tidak terduga untuk
beberapa proyek investasi baru perusahaan. Hal ini dapatmemberikan indikasi ke pasar bahwa perusahaan
akan menikmati pertumbuhan yang kuat di masa depan.

Kesamaan Harapan Investor Investor yang berbeda akan memiliki harapan yang berbeda
mengenai laba perusahaan periode berikutnya, tergantung dari informasi awal yang mereka miliki dan
sejauh mana kemampuan mereka untuk mengevaluasi informasi tersebut. Namun, perbedaan ini akan
berkurang sepanjang mereka mendapatkan informasi tersebut dari sumber yang umum, seperti perkiraan
konsensus analis (misalnya, rata-rata semua perkiraan), ketika membentuk harapan mereka.

Keinformatifan Harga DiBagian 4.4, kita menggambarkan bagaimana harga saham secara
parsial menginformasikan tentang nilai masa depan perusahaan. Konsekwensinya adalah bahwa harga
menyebabkan laba, karena harga pasar merupakan agregat dari semua informasi perusahaan yang
diketahui publik, banyak di antaranya yang oleh sistem akuntansi terdapat lag. Efek ini muncul dengan
jelas dalam penelitian Ball dan Brown (lihat Gambar 5.3), di mana return saham atas GN atau BN
diantisipasi bahkan sejak 12 bulan sebelum laba dirilis. Akibatnya, semakin informatif laba tersebut,
semakin sedikit kandungan informasi dari laba akuntansi saat ini, hal-hal lain sama, sehingga semakin
rendah ERC.

5.4.2 Implications of ERC Research


Mengapa akuntan harus tertarik pada respon pasar terhadap informasi akuntansi keuangan? Pada
dasarnya, alasannya adalah bahwa pemahaman yang lebih baik atas respon pasar menunjukkan cara-cara
di mana mereka dapat lebih meningkatkan kegunaan keputusan laporan keuangan. Misalnya, bukti
empiris dari hubungan positif antara ERC dan kualitas laba menunjukkan bahwa kualitas laba yang lebih
tinggi dihargai oleh investor.
Selain itu, hasil penelitian bahwa ERC akan lebih rendah untuk perusahaan yang memiliki leverage
yang tinggi mendukung argumen untuk memperluas pengungkapan sifat dan besarnya instrumen
keuangan, termasuk informasi yang off balance sheet. Jika ukuran relatif kewajiban suatu perusahaan
mempengaruhi respon pasar terhadap laba bersih, maka diharapkan bahwa semua kewajiban untuk
diungkapkan. Ingat dari Bagian 1.3 bahwa kewajiban off balance sheet dari lembaga keuangan adalah
faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan pasar pada 2007-2008.
Akhirnya, pentingnya persistensi laba terhadap ERC berarti bahwa pengungkapan komponen laba
bersih berguna bagi investor. Banyak detail dalam laporan laba rugi, neraca, dan informasi tambahan yang
membantu investor menafsirkan persistensi jumlah pendapatan saat ini. Argumen ini didukung oleh Jones
dan Smith (2011), yang mempelajari persistensi keuntungan dan kerugian yang tidak biasa dan non-
recurring (disebut item khusus oleh penulis), berdasarkan sampel dari perusahaan-perusahaan di AS
selama periode 1986-2005. Mereka melaporkan bahwa item khusus bertahan rata-rata selama setidaknya
lima tahun.

5.4.3 Measuring Investors’ Earnings Expectations


Memperoleh perkiraan yang wajar dari ekspektasi laba adalah komponen penting dari penelitian
relevansi nilai. Ketika kondisi tidak ideal, ekspektasi laba akan lebih kompleks. Salah satu pendekatan
yang dapat digunakan adalah memproyeksikan time series yang dibentuk oleh laporan pendapatan bersih
masa lalu perusahaan – yaitu, untuk mendasarkan harapan masa depan pada kinerja masa lalu. Namun
demikian, proyeksi wajar tergantung pada persistensi laba. Untuk melihat ini, pertimbangkan kondisi
ekstrem di mana laba persisten 100% dan laba persisten 0%.
 Jika penghasilan 100% persisten, pendapatan yang diharapkan untuk tahun berjalan adalah laba
aktual tahun lalu. Dan pendapatan tak terduga untuk tahun berjalan dianggap sebagai perubahan
dari tahun lalu. Pendekatan ini digunakan oleh Ball dan Brown, seperti yang dijelaskan dalam
Bagian 5.3.
 Jika penghasilan 0% persisten, maka tidak ada informasi laba tahun lalu tentang laba masa depan,
dan semua penghasilan saat ini tak terduga. Artinya, pendapatan tak terduga akan sama dengan
tingkat pendapatan tahun berjalan.
Pada pembahasan sebelumnya, kita hanya berfokus pada pendekatan time series. Sumber lain
ekspektasi laba adalah perkiraan analis. Sumber ini sekarang tersedia secara luas untuk hampir seluruh
perusahaan besar. Jika perkiraan analis lebih akurat daripada perkiraan time series, maka dapat
memberikan perkiraan yang lebih baik dari ekspektasi laba, karena investor yang rasional akan
menggunakan perkiraan yang paling akurat. Bukti oleh Brown, Hagerman, Griffin, dan Zmijewski
(1987), yang mempelajari kinerja perkiraan triwulanan satu organisasi forecasting (Value Line),
menunjukkan bahwa analisis mengungguli model time series dalam hal keakurasian. O'Brien (1988) juga
menemukan bahwa perkiraan laba triwulanan analis lebih akurat dibandingkan perkiraan time series.
Hasil ini adalah seperti yang kita harapkan, karena analis dianggap dapat membawa informasi luar yang
terkandung dalam laba masa lalu ketika membuat proyeksi pendapatan di masa depan.
Ketika lebih dari satu analisis menelaah perusahaan yang sama, akan tampak masuk akal untuk
mengambil konsensus, atau rata-rata, perkiraan sebagai proxy untuk ekspektasi laba pasar, mengikuti
penalaran yang mendasari dalam contoh perkiraan dalam sepak bola dari Bagian 4.2.2. O'Brien
menunjukkan, bagaimanapun, bahwa usia perkiraan memiliki efek penting pada akurasi. Dia menemukan
bahwa suatu perkiraan laba terbaru memberikan prediksi laba yang lebih akurat dalam sampelnya
dibandingkan rata-rata perkiraan seluruh analis yang menelaah suatu perusahaan, di mana perkiraan rata-
rata tersebut mengabaikan berapa lama perkiraan individu. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu
perkiraan mendominasi efek pengurang kesalahan dari perkiraan rata-rata.
Meskipun bukti bahwa analis prakiraan cenderung lebih akurat daripada perkiraan berdasarkan
time series, bukti lain (Easton dan Sommers, 2007) menunjukkan bahwa perkiraan analis memiliki
kecenderungan bias untuk optimis, terutama untuk perusahaan-perusahaan kecil. Meskipun demikian,
penelitian terbaru mengenai nilai isi informasi dari laba cenderung mendasarkan ekspektasi laba pada
perkiraan analis.

5.4.4 Summary
Relevansi nilai dari laba bersih yang dilaporkan dapat diukur dengan tingkat perubahan harga
saham atau, lebih khusus, dengan besarnya abnormal return pasar, pada sekitar waktu di mana pasar
mengetahui informasi laba bersih saat ini. Hal ini karena investor yang rasional akan merevisi harapan
mereka mengenai kinerja perusahaan masa depan dan return saham atas dasar informasi laba saat ini.
Keyakinan yang direvisi dapat memicu keputusan membeli/menjual, karena investor bergerak dengan
membandingkan antara risiko-return dalam portofolio mereka ke tingkat yang diinginkan. Jika tidak ada
konten informasi pada laba bersih, maka tidak akan ada revisi keyakinan, dan tidak ada keputusan
jual/beli yang dihasilkan, sehingga dianggap tidak ada keterkaitan dengan perubahan harga.
Untuk jumlah tertentu laba bersih tak terduga, teori memprediksi bahwa tingkat perubahan harga
saham atau abnormal return tergantung pada faktor-faktor seperti ukuran perusahaan, struktur modal,
risiko, prospek pertumbuhan, persistensi, kesamaan harapan investor, dan kualitas laba.
Setelah penelitian rintisan yang dilakukan Ball dan Brown, penelitian empiris telah menunjukkan
respon pasar diferensial tergantung pada sebagian besar faktor-faktor ini. Hasil empiris benar-benar
sangat luar biasa. Pertama, mereka dapat mengatasi masalah substansial desain statistik dan
eksperimental. Kedua, mereka menunjukkan bahwa pasar, rata-rata, sangat canggih dalam
kemampuannya untuk mengevaluasi informasi akuntansi. Hal ini mendukung teori efisiensi pasar dan
teori keputusan yang mendasarinya. Akhirnya, mereka juga mendukung pendekatan kebermanfaatan
keputusan (decision usefulness approach) dalam pelaporan keuangan. Seiring akuntan mendapatkan
pemahaman yang lebih baik dari respon investor terhadap informasi laporan keuangan, kemampuan
mereka untuk menyediakan informasi yang berguna untuk investor juga akan lebih meningkat.

5.5 A CAVEAT ABOUT THE “ BEST” ACCOUNTING POLICY


Hingga saat ini, kita telah berargumen bahwa akuntan dapat dipandu oleh reaksi pasar dalam
menentukan kegunaan informasi akuntansi keuangan. Dari sini, mudah untuk menyimpulkan bahwa
kebijakan akuntansi terbaik adalah kebijakan yang menghasilkan respon harga pasar terbesar. Sebagai
contoh, jika laba bersih yang dilaporkan di bawah prosedur akuntansi nilai sekarang menghasilkan reaksi
pasar lebih besar dari laba bersih yang dilaporkan di bawah akuntansi konservatif, haruskah kebijakan
nilai sekarang tidak digunakan? Untuk beberapa hal, jawabannya adalah ya, karena, seperti yang telah
kita lihat dalam bab ini, respon pasar keamanan adalah ukuran kegunaan untuk investor.
Namun demikian, kita harus sangat berhati-hati dalam mengambil kesimpulan ini. Akuntan
mungkin akan lebih baik mengetahui sampai sejauh mana mereka dapat memberikan informasi yang
bermanfaat kepada investor, tetapi belum tentu masyarakat akan menjadi lebih baik dengan informasi
tersebut.
Alasannya adalah bahwa informasi memiliki karakteristik barang publik. Sebuah barang publik
adalah barang yang ketika dikonsumsi oleh satu orang tidak menghilangkan atau mengurangi
kebermanfaatannya ketika digunakan oleh yang lain. Konsumsi barang privat – misalnya apel –
menghilangkan kegunaannya bagi konsumen lainnya. Investor dapat menggunakan informasi dalam
laporan tahunan tanpa menghilangkan kegunaannya untuk investor lain. Konsekuensinya, pemasok
barang publik mungkin mengalami kesulitan dalam membebani biaya untuk produk ini, sehingga kita
sering menyaksikan barang publik disediakan oleh lembaga pemerintah. Jika suatu perusahaan mencoba
untuk membebankan biaya kepada investor untuk laporan tahunannya, mungkin tidak akan ada banyak
pelanggan yang tertarik, karena sebuah laporan tahunan, setelah dibuat, dapat diunduh oleh banyak
pengguna. Nyatanya, kita amati pemerintah melalui undang-undang sekuritas dan perusahaan,
mengharuskan perusahaan untuk menerbitkan laporan tahunan.
Tentu saja, laporan tahunan perusahaan tidaklah "gratis". Produksi laporan tahunan memakan biaya
yang tidak sedikit. Kemungkinan biaya yang paling besar termasuk kemungkinan pengungkapan
informasi berharga kepada para pesaing dan kemungkinan bahwa keputusan operasi manajer akan
dipengaruhi oleh jumlah informasi tentang keputusan-keputusan tersebut yang harus diumumkan ke
publik. Sebagai contoh, manajer bisa saja mengurangi rencana ekspansi perusahaan jika terlalu banyak
informasi perusahaan yang harus diungkapkan. Investor akhirnya akan membayar biaya tersebut melalui
harga produk yang lebih tinggi dan/atau harga saham yang lebih rendah. Namun demikian, investor
menganggap laporan tahunan sebagai gratis, karena penggunaan mereka atas informasi dalam laporan
keuangan tidak akan mempengaruhi harga produk yang mereka bayar. Selain itu, investor juga mungkin
akan mengeluarkan biaya sendiri untuk menginformasikan diri mereka, baik secara langsung dengan
membayar untuk menerima informasi secepat mungkin, atau tidak langsung dengan membayar analis atau
layanan informasi lainnya. Pada dasarnya, "bahan baku" dianggap gratis, dan investor akan melakukan
apa yang setiap konsumen rasional lainnya lakukan ketika harga rendah – mengkonsumsi lebih banyak
barang tersebut. Akibatnya, investor dapat menganggap informasi akuntansi berguna meskipun dari sudut
pandang masyarakat biaya informasi ini lebih besar daripada manfaatnya kepada investor.
Juga, sebagaimana disebutkan dalam Bab 1, informasi mempengaruhi orang yang berbeda dengan
cara berbeda. Sehingga, suatu informasi mungkin berguna untuk calon investor dan pesaing, tapi bagi
manajer dan pemegang saham mungkin merugikan. Akibatnya, nilai sosial informasi tersebut bergantung
baik pada manfaat untuk calon investor dan pesaing dan bergantung pada biaya yang harus ditanggung
manajer dan pemegang saham. Pengorbanan biaya-manfaat tersebut sangat sulit untuk dibuat.
Pikirkan informasi sebagai komoditas, yang dituntut oleh investor dan dipasok oleh perusahaan
melalui akuntan. Karena aspek barang publik dari informasi, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan
permintaan dan penawaran untuk menghasilkan angka yang "benar" atau terbaik, sebagaimana yang kita
dapat lakukan untuk barang privat yang diproduksi dalam pasar yang kompetitif. Alasan utamanya adalah
bahwa sistem harga tidak, dan mungkin tidak akan bisa, beroperasi untuk membebankan biaya kepada
investor atas informasi yang mereka gunakan. Akibatnya, dari perspektif sosial, kita tidak bisa bergantung
pada sejauh mana respon pasar untuk memberitahu kita kebijakan akuntansi yang mana yang harus
digunakan (atau, begitu juga, "berapa banyak" informasi yang perlu dihasilkan). Argumen formal untuk
mendukung kesimpulan ini diberikan oleh Gonedes dan Dopuch (1974).
Kegagalan pasar yang terjadi pada 2007-2008 memberikan ilustrasi dramatis atas efek sosial yang
lebih luas dari informasi akuntansi. Setelah kegagalan pasar terjadi, muncul argumen bahwa akuntansi
nilai wajar adalah pro-cyclical; yaitu, meningkatkan besarnya booms dan busts. Argumennya adalah
bahwa, di masa yang baik, akuntansi nilai wajar mengembangkan laba. Kemudian, perusahaan didorong
untuk melakukan ekspansi, dan bank (yang penghasilannya juga meningkat) didorong untuk memberikan
pinjaman untuk mendukung ekspansi tersebut. Ledakan ekonomi pun terjadi. Namun, ketika booming
runtuh, seperti yang terjadi pada tahun 2007-2008, harga likuiditas dapat mengakibatkan (Bagian 1.3),
bahwa nilai wajar aset ternyata jauh di bawah nilai value-in-use. Aset legal bank terancam, bank
menghentikan pinjaman, dan ekonomi pun jatuh ke dalam resesi. Dengan berkonsentrasi pada penyediaan
informasi nilai wajar yang berguna untuk investor, pembuat standar rentan terhadap tuduhan bahwa
mereka mengabaikan dampak sosial yang lebih luas ini. Kita akan kembali ke pertanyaan mengenai
pengaturan informasi dalam Bab 12 dan 13. Untuk saat ini, yang menjadi poin penting adalah benar
bahwa akuntan dapat dipandu oleh respon pasar untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi
kompetitif mereka sebagai pemasok ke pasar untuk informasi. Juga benar bahwa pasar sekuritas akan
bekerja lebih baik sepanjang harga saham memberikan indikasi yang baik dari peluang investasi riil yang
mendasarinya. Namun, pertimbangan sosial juga menunjukkan bahwa, sebagai aturan umum, badan
penetapan standar akuntansi harus waspada dalam menggunakan respon pasar sekuritas sebagai satu-
satunya panduan untuk keputusan mereka.

5.6 THE VALUE RELEVANCE OF OTHER FINANCIAL STATEMENT INFORMATION


Pada bagian ini, kita berpindah dari fokus pada isi informasi dari laba bersih untuk
mempertimbangkan keinformatifan komponen laporan keuangan lainnya, seperti neraca dan informasi
tambahan.
Secara keseluruhan, sulit untuk menemukan bukti langsung dari kegunaan informasi laporan
keuangan lainnya, seperti halnya bukti yang meyakinkan mengenai reaksi pasar terhadap pendapatan
yang telah dijelaskan sebelumnya. Meskipun relevansi informasi RRA (bagian 2.4), studi oleh Magliolo
(1986) dan Doraran, collins, dan Dhaliwal (1988) hanya dapat menemukan reaksi pasar yang lemah untuk
RRA. Boone (2002) melaporkan reaksi pasar yang lebih kuat terhadap informasi RRA dibandingkan
informasi yang berbasis biaya historis, dan berpendapat bahwa reaksi lemah yang dilaporkan oleh peneliti
sebelumnya adalah karena masalah statistik dalam metodologi mereka.
Keandalan yang rendah adalah salah satu penjelasan yang mungkin untuk hasil yang beragam ini.
Kemungkinan lainnya adalah bahwa RRA didahului oleh sumber informasi cadangan lain yang lebih tepat
waktu, seperti pengumuman penemuan baru, dan perkiraan analis. Selain itu, titik waktu di mana pasar
pertama kali mengetahui informasi RRA sering tidak jelas. Untuk laba bersih, publikasi media mengenai
pengumuman laba memberikan tanggal yang wajar. Namun demikian, mengingat sifat cadangan minyak
dan gas informasi dan kepentingannya terhadap nilai perusahaan, analis dan pihak lain mungkin akan
bekerja lebih keras untuk menggali informasi tersebut sebelum laporan tahunan. Jika tanggal yang wajar
atas rilis informasi laporan keuangan lainnya tidak ditemukan, penelitian kembali harus dilakukan dengan
menggunakan lingkup yang lebih luas, yang terbuka untuk sejumlah besar pengaruh pada harga selain
informasi akuntansi.
Namun demikian, terdapat sebuah pendekatan tidak langsung untuk menemukan bukti kegunaan
yang menghubungkan informasi lain dengan kualitas laba. Untuk menggambarkannya, misalkan sebuah
perusahaan minyak melaporkan laba yang tinggi tahun ini, tetapi informasi tambahan mengenai cadangan
minyak dan gas menunjukkan bahwa cadangan telah menurun secara substansial selama setahun.
Interpretasi dari informasi ini adalah bahwa perusahaan telah menggunakan cadangan untuk
meningkatkan penjualan dalam jangka pendek. Jika demikian, kualitas laba saat ini akan berkurang,
karena mengandung komponen non-persistent yang akan menghilang jika cadangan baru tidak
ditemukan. Selain itu, reaksi pasar atas berita buruk dalam informasi cadangan minyak dan gas tersebut
dapat dengan mudah ditemukan di ERC rendah dibandingkan dalam reaksi langsung terhadap cadangan
informasi itu sendiri. Sebaliknya, ERC yang lebih tinggi akan diharapkan jika cadangan meningkat.
Pendekatan ini digunakan secara umum oleh Lev dan Thiagarajan (1993) (LT). Mereka
mengidentifikasi 12 "fundamental" yang digunakan oleh analis keuangan dalam mengevaluasi kualitas
laba. Misalnya, salah satu fundamental tersebut adalah perubahan investor, relatif terhadap penjualan. Jika
persediaan meningkat, ini mungkin menunjukkan adanya penurunan kualitas laba - perusahaan dapat
memasuki masa penjualan rendah, atau hanya mengelola persediaan dengan kurang efektif. Fundamental
lainnya termasuk perubahan dalam belanja modal, backlog order, dan, dalam kasus perusahaan minyak
dan gas, perubahan cadangan.
Informasi tambahan juga bisa diperoleh dari MD& A (dibahas di Chapter 3). MD&A ini adalah
sebuah bagian dari Laporan Tahunan Perusahaan yang berisi berbagai aspek penjelasan dari sudut
pandang manajer mengenai perusahaan itu sendiri, berisi tentang kinerja, laporan keuangan, tahun
sebelumnya maupun tahun sekarang, dan rencana kedepan serta pendekatan terhadap proyek-proyek baru
disertai analisis resiko yang ada. Apakah MD&A berguna dalam pengambilan keputusan? Karena masih
MD&A itu hanya berisi pembahasan dan kajian, dapat dikatakan cukup sulit untuk digunakan dalam
pengambilan keputusan. Juga dikatakan bahwa MD&A ini memiliki ketepatan waktu yang rendah,
semenjak Laporan Tahunan dipublikasikan, banyak informasi keuangan juga telah dipublikasikan.
5.7 CONCLUSIONS OF VALUE RELEVANCE
Literatur empiris dalam akuntansi keuangan sangatlah luas, dan kita hanya baru melihat pada
bagian-bagian tertentu saja. Meskipun demikian, kita telah melihat bahwa, hampir secara keseluruhan,
respon pasar terhadap laporan laba bersih sangat mengesankan dalam hal kecanggihannya. Hasil
penelitian empiris di area ini mendukung teori pasar efisien dan teori keputusan yang mendasarinya.
Namun demikian, akuntan harus memastikan bahwa item-item yang tidak biasa dan non-recuring
sepenuhnya diungkapkan. Jika tidak, investor mungkin melebih-lebihkan persistensi laba yang dilaporkan
saat ini.
Pasar tampaknya tidak merespons terhadap informasi laporan keuangan lainnya seperti halnya
mereka merespons informasi laba. Sejauh mana kurangnya respon yang kuat untuk informasi lainnya ini
adalah karena kesulitan metodologi, rendahnya reliabilitas, ketersediaan sumber informasi alternatif, atau
kegagalan teori pasar efisien yang tidak sepenuhnya dipahami, meskipun mungkin juga bahwa investor
mengantisipasi neraca dan informasi tambahan untuk menyempurnakan ERC, dan bukannya
menggunakan informasi tersebut secara langsung.
Terlepas dari berbagai pertimbangan tersebut, akuntan harus berhati-hati dalam menyimpulkan
bahwa kebijakan akuntansi dan pengungkapan yang menghasilkan respon pasar terbesar adalah yang
terbaik bagi masyarakat. Ini tidak selalu benar, karena sifat barang publik dari informasi akuntansi.
Investor tidak akan selalu menuntut jumlah informasi yang “benar ”, karena mereka tidak menanggung
biaya penuh. Pertimbangan ini membatasi kemampuan penelitian mengenai kebermanfaatan keputusan
(decision usefulness) untuk memandu pembuat standar akuntansi.
Meskipun demikian, hingga saat ini, pendekatan informasi mendominasi teori akuntansi keuangan
dan penelitian, dimulai dengan penelitian Ball and Brown pada tahun 1968. Penelitian tersebut telah
mengarahkan ke banyak penelitian empiris lainnya yang memperkaya pemahaman kita tentang
kebermanfaatan keputusan (decision usefulness) informasi akuntansi bagi investor.
CHAPTER 6 THE MEASUREMENT APPROACH TO DECISION USEFULNESS

6.1 OVERVIEW Value


relevance of Low and
earnings failing?
information
Clean surplus
theory

Measurem
ent
Concept of Are securities Other reasons Estimating approach
market efficient? faces a
measurement Behavioural finance for firm value reliability
approach versus investor measurement constraint
rationality
approach

Auditor Conservatism
liability Impairment
test

Perspektif pengukuran dalam pelaporan keuangan (financial reporting) adalah sebuah


pendekatan dimana akuntan mengambil sebuah tanggung jawab untuk menggabungkan nilai
wajar (fair values) dalam laporan keuangan (financial statement) yang tepat, dengan tetap
memperhatikan reliabilitas. Hal ini memberikan sebuah kewajiban tambahan untuk memberikan
informasi kepada investor sehingga dapat digunakan untuk memprediksi kinerja perusahaan di
masa depan.
Ketika tidak mungkin bahwa perspektif pengukuran akan ‘mengganti’ basis biaya historis
dari akuntansi, maka kemungkinan menjadi suatu masalah dimana keseimbangan relatif dari
informasi berbasis biaya dibandingkan dengan informasi berbasis fair-value dalam laporan
keuangan bergerak dalam arah fair value. Mungkin hal ini aneh, dari masalah teknik seperti RRA
dan akuntansi biaya langsung sudah terjadi. Tujuan dari chapter ini adalah untuk mengetahui
alasan yang mendasari tekanan dari current values.
Alasan pertama terkait dengan rasionalitas investor dan efisiensi pasar sekuritas, dimana
ternyata pasar sekuritas tidak seefisien yang dipercaya sebelumnya.
Alasan lain perubahan ke pendekatan pengukuran didorong dari variabilitas proporsi
rendah harga saham yang dijelaskan oleh historical based net income, dari Ohlson clean surplus
teori yang mendukung peningkatan pengukuran dan liabilitas legal dimana akuntan
mengungkapkan ketika perusahaan mengalami masalah finansial.
6.2 APAKAH PASAR SAHAM EFISIEN SEPENUHNYA?
6.2.1 Pendahuluan
Premis dasar pertanyaan ini adalah rata- rata perilaku investor tidak terkait dengan teori
keputusan rasional dan model investasi sebagaimana menjadi garis besar Bab 3. Misalnya
dengan setiap indidu mungkin memiliki limited attention. Mereka mungkin tidak mempunyai
waktu untuk mengolah seluruh informasi yang tersedia, sehingga mereka akan berfokus pada
informasi yang telah tersedia dan mengabaikan informasi pada catatan atau bagian lain dari
laporan keuangan.
Individu juga sering overconfident, dimana mereka meng-overestimate informasi penting
yang mereka koleksi/olah sendiri. Misalnya, investor yang meneliti perusahaan secara mandiri
mungkin akan bereaksi berlebihan terhadap bukti yang mereka raih dan bereaksi sebaliknya
terhadap informasi baru yang tidak berkaitan dengan informasi yang mereka koleksi sendiri.
Juga terdapat karakter individu lainnya, yaitu representatives. Disini individu
menitikberatkan pada bukti atau fakta yang konsisten dengan pandangan individu atas populasi
dimana bukti itu berasal.
Investor biased dengan reaksi mereka terhadap informasi, dimana terdapat beberapa
atribut dalam merespon informasi, misalnya self-attribution bias dan momentum bias. Self-
attribution bias yaitu individu merasa bahwa hasil dari keputusan yang baik berasal dari
kemampuan mereka, sedangkan hasil yang buruk dikarenakan ketidakberuntungan realisasi dari
states of nature, bukan dari kesalahan mereka. Kedua atribut ini tidak konsisten dengan sekuritas
efisiensi pasar dan teori keputusan yang mendasarinya.
Motivated Reasoning berarti individu menerima nilai informasi saat ini yang konsisten
dengan pilihan mereka. Jika informasi yang diterima tidak konsisten dengan preferences
mereka, mereka akan menerima dengan skeptis dan mencoba untuk meragukan informasi
tersebut.
Studi yang mempelajari perilaku investor terkait sekuritas pasar efisien adalah behavioural
finance. Selanjutnya kita akan mereview beberapa pertanyaan mengenai efisiensi yang muncul
dari teori ini.
6.2.2 Prospect Theory
Teori prospek memberikan alternatif berdasar perilaku pada teori keputusan rasional.
Berdasarkan teori ini, investor yang mempertimbangkan investasi berisiko akan secara terpisah
mengevaluasi keuntungan dan kerugian prospektif. Teori ini berlawanan dengan teori keputusan
dimana investor mengevaluasi keputusan yang dibuat dalam konteks menilai akibatnya terhadap
total kekayaan yang mereka miliki. Ini merupakan implikasi dari konsep psikologis narrow
framing, dimana individu menganalisis masalah di dalam lingkup yang sanagat tertutup sebagai
cara penghematan dari usaha mental atas pembuatan keputusan.
Teori prospek mengasumsikan loss aversion, perilaku dimana individu tidak menyukai
kerugian walaupun sangat kecil. Hal ini menyebabkan efek disposisi, dimana investor
menunjukkan perilaku pengambil risiko dengan respek pada rugi, investor menahan saham saat
rugi (loser) dan menjual saham saat laba (winner), dan mungkin membeli lebih pada saham yang
rugi.
Teori prospek juga mengasumsikan bahwa ketika individu mengkalkulasikan perkiraan
nilai dari suatu prospek, individu under/overweight probabilitas mereka. Underweighting
probabilitas merupakan bagian dari over confidence, sedangkan overweighting probabilitas
merupakan bagian dari representativeness. Tendensi ini dapat mengakibatkan pada asumsi
“terlalu rendah” atas probabilitas state yang akan terjadi, dan “terlalu tinggi” atas probabilitas
state yang mungkin tidak akan terjadi.
Kombinasi dari evaluasi terpisah atas untung dan rugi serta weighting/pembobotan dari
probabilitas dapat mengakibatkan variasi luas dari perilaku irasional. Misalnya, investor
menghindar dari pasar saham karena ketakutan atas rugi atau mungkin underreact atas badnews
dengan tetap menahan saham “losers” untuk menghindari realisasi rugi atau bahkan membeli
lebih banyak saham loser walaupun menambah risiko.
6.2.3 Is Beta Dead?
Implikasi dari CAPM adalah beta saham, yaitu determinan spesifik perusahaan tunggal
atas harapan pengembalian dari saham.
Fama dan French (1992) menemukan bahwa beta dan CAPM memiliki kemampuan kecil
dalam menjelaskan return saham. Mereka menemukan bahwa book-to-market ratio dan ukuran
perusahaan (firm size) lebih signifikan menjelaskan keuntungan sekuritas. Daripada melihat beta,
lebih baik melihat book-to-market ratio dan ukuran perusahaan sebagai ukuran risiko. Risiko
akan meningkat dengan meningkatkanya book-to-marke ratio dan menurun dengan semakin
besarnya ukuran perusahaan. Hasil penelitian Fama dan French ini menjadikan beta “mati.”
Sebaliknya, Kothari, Shanken, dan Sloan (1995) menemukan bahwa dalam jangka waktu
lama (1941-1990), beta merupakan prediktor signifikan atas return. B/M juga sebagai prediktor
return, tetapi relatif lemah.
Behavioral Finance menyediakan perspektif yang berbeda atas validitas CAPM dan Beta.
Perilaku return saham tidak konsisten dengan CAPM dipandang sebagai bukti dari
ketidakefisienan pasar.
Daniel, Hiershleiferk,dan Subrahmanyam (2001) menyajikan model yg mengasumsikan
dua tipe investor, rasional dan overconfidence. Karena investor rasional, beta saham
berhubungan positif dengan returnnya, sebagaimana pada CAPM. Sedangkan untuk investor
overconfidence bereaksi berlebihan terhadap informasi yang dikumpulkan sendiri, yang
mendorong B/M terlalu tinggi atau rendah. Semakin lama, harga saham beralih ke level efisien
saat overconfidence terungkap. Sehingga hasilnya, beta dan B/M berelasi positif terhadap return
masa depan. Berdasarkan Daniel, Hiershleiferk,dan Subrahmanyam, relasi positif B/M terhadap
return masa depan yang ditemukan oleh Fama and French tidak didorong oleh investor rasional
yang melindungi diri dari kesulitan keuangan, tetapi didorong oleh overconfidence.
Status CAPM dan implikasinya pada Beta tidak jelas. Beta mungkin berubah selama ini,
tidak stationary.
Dari sudut pandang akuntansi, luas beta bukan ukuran risiko spesifik perusahaan yang
relevan, dimana beta hanya meningkatkan peran laporan keuangan dalam melaporkan informasi
berisiko, yang artinya bahwa beta is not dead. Bagaimanapun juga, beta berubah sepanjang
waktu dan secara berangsur- angsur memiliki status sebagai ukuran risiko
dengan variable berdasar akuntansi.
6.2.4 Excess Stock Market Volatility
Pertanyaan mengenai apakah pasar efisien didorong dari bukti bahwa adanya volatilitas
harga saham ekses pada level pasar. CAPM beranggapan bahwa beta dan tingkat bunga bebas
risiko konstan, hanya perubahan dalam return pada portofolio pasar (E(RMT)) yg menyebabkan
perubahan dalam return saham-j. Determinan fundamental E(RMT) adalah dividen harapan
agregat di antara semua perusahaan dalam pasar. Semakin tinggi dividen harapan agregat,
semakin banyak investor akan investasi dalam pasar yang menyebabkan permintaan saham dan
menyebabkan indeks pasar naik, dan sebaliknya. Akibatnya, jika pasar efisien, perubahan dalam
E(RMT) seharusnya tidak menyebabkan perubahan dalam dividen harapan agregat.
Shiller (1981) menemukan bahwa variabilitas indeks pasar beberapa kali lebih besar
daripada variabilitas dividen agregrat yang menunjukkan bahwa pasar tidak efisien.
Penjelasan yang mungkin dari ketidakefisienan ini adalah faktor keperilakuan
meningkatkan volatilitas pasar saham. Sebagai contoh, Model momentum Daniel et al. (2001)
mengimplikasikan volatilitas pasar ekses seperti harga menaik (overshoot) dan kemudian jatuh
lagi. Shleifer et al. (1990) mempunyai argumen yang berbeda. Menurut mereka, ada dua investor,
yaitu rasional dan berumpan balik positif. Berumpan balik positif yaitu investor membeli saham
ketika harganya mulai naik, dan sebaliknya. Sedangkan Rasional, investor akan menjual singkat
(sell short ), mengantisipasi turunnya harga yang akan mengikuti harga menaik yang disebabkan
oleh pembelian investor berumpan balik positif. Sebagai hasilnya, terdapat kelebihan volatilitas
di pasar karena harga pasar terus meningkat meskipun investor rasional percaya bahwa harga
saham melebihi nilai pasar efisien.
Penjelasan lain atas temuan Shleifer et al. adalah dividen adalah spesifik untuk sebagian
besar perusahaan. Variabilitas dividen antara perusahaan dapat didiversifikasikan pada portofolio
yang luas, sehingga kita tidak memperkirakan bahwa variabilitas agregat dividen untuk
menjelaskan variabilitas dari index pasar saham.
Sadka et al. (2009) membandingkan variabilitas dari earnings terhadap variabilitas return
pasar saham. Mereka menemukan bahwa proporsi signifikan dari variabilitas earning dijelaskan
dari faktor ekonomi, dimana variabilitas earnings tidak dapat didiversifikasikan. Mereka juga
menemukan bahwa earning agregat dan return pasar saham berkorelasi signifikan dan
variabilitas earnings menjelaskan porsi signifikan dari variabilitas return. Variabilitas index pasar
saham tidak melebihi earnings, hasil ini lebih konsisten dengan efisiensi pasar sekuritas
dibanding temuan Shiller.
6.2.5 Stock Market Bubbles
Stock market bubbles adalah harga saham meningkat jauh dari nilai rasional yang
menggambarkan kasus ekstrim dari volatilitas. Bubbles berdasarkan Shiller didorong dari
kombinasi bias self-attribution dan momentum, trading umpan balik positif, dan perilaku “herd”
yang didorong dari prediksi optimis media dari ahli pasar. Shiller membuktikan bahwa perilaku
bubble dapat terjadi suatu waktu, dan sulit diprediksi kapan berakhirnya. Secepatnya, hal ini
akan ‘meletus’ karena peningkatan kepercayaan, seperti gangguan resesi dan peningkatan inflasi.
Namun demikian, perkembangan bubble tidak serta merta mengkontradiksi efisiensi pasar,
tergantung apakah informasi tersedia atau tidak pada saat itu untuk mempredikasi risiko ini.
6.2.6 Diskusi Efisiensi Pasar Saham Vs Behavioural Finance
Secara kolektif, teori behavioural finace dan bukti yang telah didiskusikan sebelumnya
meningkatkan pertanyaan mengenai seberapa jauh efisiensi pasar sekuritas dan perilaku rasional
investor. Fama mengevaluasi bukti ini dan menyimpulkan bahwa hal ini tidak menjelaskan
gambaran besarnya. Walaupun terdapat bukti inkonsisten dengan efisiensi, tidak terdapat teori
alternatif yang memprediksi dan mengintegrasikan bukti anomali. Misalnya, teori untuk
memprediksi kapan pasar akan overreact atau underreact.
Shleifer (BSV) menggambarkan konsep perilaku konservatif untuk menjelaskan
underreaction. Investor konservatif mengentengkan/underweight relasi bukti baru terhadap
informasi sebelumnya. Sehingga harga saham underreacts, relatif terhadap reaksi pasar efisien,
naik atau turun sampai evaluasi benar-benar terjadi berdasarkan laporan penghasilan di masa
depan.
Sedangkan untuk overreaction, BSV menggambarkan dalam representativeness. Pada saat
investor mengobservasi penghasilan perusahaan yang terus meningkat sepanjang waktu, investor
akan menganggap ini sebagai perusahaan berkembang, mengesampingkan fakta bahwa
kenyataan perusahaan berkembang sangatlah jarang. Sehingga direlasikan dengan pasar efisien,
harga saham overreacts terhadap laporan penghasilan.
Hirshleifer&Teoh (2003) membuat model dimana sebagian nvestor adalah rasional
sepenuhnya, sedangkan sebagian sisanya memiliki limited attention yang mempengaruhi
kemampuan mereka untuk mengolah informasi publik yang tersedia. Limited Attention
mempengaruhi interpretasi investor atas informasi. Sehingga pasar akan underreacts terhadap
informasi tambahan. Misalnya, diasumsikan pesent values dari cadangan (minyak) menurun
tajam tahun ini. Hirshleifer&Teoh memprediksi bahwa pasar akan underreacts terhadap
informasi ini karena investor dengan kemampuan terbatas untuk mengolah informasi hanya
berkonsentrasi terhadap laba bersih perusahaan, mengabaikan informasi RRA yang ada di dalam
MD&A atau catatan laporan keuangan. Membawa current value accounting untuk cadangan
pada pernyataan keuangan secara baik akan memudahkan investor untuk mengetahui implikasi
dari kinerja perusahaan di masa depan dan mempercepat reaksi pasar.
Hal ini diperkuat dengan bukti empiris oleh Ahmed et al. (2006), dimana mereka
menemukan tidak terdapat reaksi signifikan harga saham atas nlai derivativ yang diungkapkan
sebagai informasi tambahan, tetapi terdapat reaksi positif signifikan ketika pengungkapan
tersebut terdapat pada neraca.
6.3 ANOMALI PASAR SEKURITAS EFISIEN
Terdapat bukti bahwa pasar mungkin tidak merespon informasi akuntansi tepat seperti
yang diprediksikan oleh teori efisiensi. Contohnya, harga saham mungkin tidak akan bereaksi
penuh terhadap pernyataan keuangan saat itu juga, sehingga abnormal return berlanjut beberapa
waktu mengikuti diumumkannya infrmasi tersebut. Pasar juga mungkin tidak mengekstrak
keseluruhan konten informasi dari pernyataan keuangan. Kasus ini tidak konsisten dengan
efisiensi pasar sekuritas sehingga disebut anomali pasar sekuritas efisien. Terdapat dua macam
anomali sebagai berikut.
1. Post-Announcement Drift
Pertama kali laba perusahaan diketahui, isi informasi harus segera diterjemahkan investor
dan terkait dengan harga pasar efisien. Bagaimanapun, sudah diketahui yang terjadi adalah
tidak demikian. Unutk perusahaan yang melaporkan GN dalam laba per
kuarter, return sekuritas abnormal cenderung menyimpang naik pada beberapa waktu
berikutnya dari pengumuman laba. Dengan cara yang sama perusahaan yang melaporkan
BN memiliki return abnormal menyimpang mundur dengan periode yang sama. Fenomena
inilah yang dinamakan post- announcement drift (PAD).
Bernard dan Thomas (BT, 1989) membuktikan hal ini. Investor yang mengikuti strategi
membeli saham perusahaan GN dan menjual singkat saham perusahaan BN di hari
pengumuman earning, dan menahannya dalam jangka waktu 60 hari, akan mendapatkan
rata-rata return 18% di atas return pasar. GN atau BN disini adalah perbedaan antara
penghasilan kuartal yang dilaporkan saat ini dan penghasilan di kuartal yang sama tahun
lalu. Hal ini disebut quarterly seasonal earnings changes.
Terlihat bahwa investor meremehkan implikasi penghasilan saat ini terhadap penghasilan
masa depan. Sebagaimana dikatakan BT, telah diketahui bahwa quarterly seasonal earnings
changes berkorelasi positif sampai dengan 3 kuartal setelahnya. Hal ini seharusnya direspon
cepat oleh investor rasional, tetapi kenyataannya tidak demikian. Dikarenakan adanya PAD,
investor membutuhkan waktu untuk mengetahui hal ini atau mungkin mereka meremehkan
korelasi ini.
Penjelasan atas PAD ini salah satunya adalah limited attention, dimana investor tidak
memaksimalkan waktu dan usahanya untuk mengerti sepenuhnya korelasi dari quarterly
seasonal changes. Terdapat penjelasan lain dari Narayanamoorthy (2006) menggambarkan
akuntasi konservatism untuk mengargumentasikan bahwa korelasi positif antara quarter
seasonal changes saat ini dan selanjutnya akan lebih rendah untuk BN daripada GN.
Narayanamoorthy menunjukkan bahwa strategi menggunakan PAD dan hanya
menginvestasikan pada perusahaan GN akan memberikan abnormal return lebih besar dari
18%.
Chordia dan Shivakumar (CS, 2005) mengatakan bahwa investor tidak sepenuhnya
menggabungkan efek inflasi terhadap pertumbuhan earnings masa depan perusahaan,
investor akan menunggu sampai kenaikan atau penurunan earnings benar-benar terjadi.
Kegagalan investor untuk mengantisipasi inflasi menjadi sebagian penjelasan atas PAD.
Zhang (2008) meneliti efek PAD dari timelines atas revisi analist forecast yang mengikuti
pengumuman earnings kuartalan. Investor merespon terhadap earnings kuartal saat ini
sebagian dikarenakan revisi analist forecast, dan PAD sebagian dikarenakan penundaan
analist atas prediksi earnings kuartal masa depan. Kebanyakan manajer mengumumkan
perkiraan earning masa depan bersamaan dengan laporan earning kurtalan saat ini. PAD dari
kuartal selanjutnya berkurang signifikan ketika investor mengharapkan bahwa perkiraan
masa depan manajer adalah akurat.
Efek dari volatilitas earnings pada PAD dipelajari oleh Cao dan Narayanamoorthy (CN,
2012). Mereka menyimpulkan bahwa makin tinggi volatilitas earnings maka makin rendah
potensi PAD terjadi.
Hal ini menunjukkan bahwa investor tidak cuma meremehkan implikasi dari earnings saat
ini terhadap earnings masa depan, tetapi juga mengabaikan efek dari volatilitas earnings.
2. Market Response to Accruals
Sloan memisahkan pelaporan laba bersih dalam arus kas dari aktivitas operasional dan
komponen akrual, baik pengurangan ataupun penjumlahan keduanya. Dapat digambarkan
dengan formula berikut ini.
Net income = Cash flow from operations ±Net accruals
Sloan mengatakan bahwa akrual menjadi subjek kesalahan estimasi dan mungkin manajer
akan bias daripada dengan Cash flow, dan berargumen bahwa reliabilitas yang lebih rendah
ini seharusnya mengurangi asosiasi antara akrual saat ini dan laba bersih periode
selanjutnya. Akrual kurang reliable jika dibandingkan dengan cash flow, komponen earnings
pada cash flow lebih persisten daripada komponen akrual. Hal ini juga dibuktikan dari studi
Sloan bahwa Laba bersih yang dilaporkan di tahun depan jauh lebih berasosiasi dengan
komponen operating cash flow dari pendapatan tahun ini. Sehingga, kita akan
memperkirakan bahwa pasar efisien akan merespon lebih kuat pada GN atau BN dari
komponen cash flow dibandingkan dengan GN atau BN dari komponen akrual.
Namun, hasil penelitian Sloan tidak begitu. Return saham dari perusahaan dengan akrual
tinggi akan turun sepanjang waktu, tidak jatuh begitu saja, sedangkan return saham dari
perusahaan dengan akrual rendah akan terdorong naik. Sloan membuat simulasi investasi
dengan membeli saham perusahaan akrual rendah dan menjual singkat saham perusahaan
akrual tinggi, menahan selama satu tahun, dan mendapat pengembalian sebesar 10.,4%.
Hasil dari Sloan menambah pertanyaan mengenai rasionalitas investor dan efisiensi pasar
saham serupa dengan PAD.
Richardson et al. Memperluas penelitian Sloan dengan memasukkan seluruh non kas aset
dan kewajiban. Mereka menemukan bahwa reliabilitas akrual yang lebih rendah adalah lebih
persisten, dan investor mengabaikan hal tersebut. Sehingga semakin rendah reliabilitas
komponen akrual, investor makin overestimate terhadap persisten earning, yang
mengarahkan terhadap mispricing saham yang besar. Strategi investasi berdasarkan
mispricing ini menghasilkan abnorma return melebihi dari 10,4%.
Anomali ini menunjukkan bahwa pasar sekuritas tidak sepenuhnya efisien dan inefisiensi
tersebut didorong oleh perilaku bias investor.
6.4 Keterbatasan Arbitrase
Terdapat alasan dari anomali yang persisten, yaitu “limit to arbitrage”. Hal itu adalah biaya
yang terjadi oleh investor yang membatasi kemampuan mereka untuk secara penuh
mengeksploitasi anomali dan demikian arbitrase itu hilang. Terdapat dua batas: biaya transaksi
dan risiko.
Perlu dicatat bahwa persisten dari anomali karena limit arbitrase adalah konsisten dengan
rata-rata rasionalitas investor. Terlepas dari apakah persisten itu dikarenakan perilaku bias atau
limit arbitrase, pasar sekuritas tidak sepenuhnya efisien. Bagaimanapun, pertanyaan yang
sebenarnya adalah apakah kekurangan efisiensi ini disebabkan oleh perilaku bias investor?
Ng Rusticus&Verdi (NRV,2008) mengukur biaya transaksi yang dihadapi investor dengan
bid-ask spread dan komisi. Mereka menemukan bahwa abnormal return atas strategi membeli
saham perusahaan GN dan menjual singkat saham perusahaan BN dan menahannya selama 3
bulan adalah negatif setelah dikurangi biaya transaksi. Ketika waktu untuk menahan ditambah
menjadi 12 bulan, net return tidak negatif tetapi sangat jauh berkurang.
Alasan lain untuk tidak melakukan investasi arbitrase adalah risiko yang muncul akibat
mengurangi diversifikasi. Perlu dicatat bahwa portofolio terdiri dari beberapa saham yang
mispricing, seperti saham yang didesain untuk mengksploitasi PAD dan anomali akrual. Sebagai
hasil dari pengurangan diversifikasi, varian dari return perusahaan tertentu mempunyai peran
yang sangat besar. Strategi investasi arbitrase menyebabkan risiko idiosinkratik. Risiko
idiosinkratik ini menjadi limit arbitrase dari investor rasional yang menghindari risiko.
Secara singkat, biaya transaksi dan risiko idiosinkratik menjadi sebagian penjelasan
mengapa anomali seperti PAD dan akrual masih ada.
Untuk mengerti persisten dari anomali, perlu memperhatikan bahwa terdapat berbagai
macam investor dengan level kesulitan yang berbeda atas biaya transaksi dan risiko. Bartov et al.
meneliti bahwa efek PAD berkurang jika sebagian besar proporsi atas saham suatu perusahaan
dimiliki oleh institusi, hal ini menunjukkan investor institusi menghasilkan keuntungan arbitrase,
dengan demikian mengeliminasi sebagian PAD.
Penelitian saat ini menunjukkan bahwa dua anomali saat ini hampir hilang. Secara
keseluruhan, terlihat bahwa investor institusi besar dengan biaya transaksi yang rendah dan
manajemen risiko yang baik meningkatkan eksploitasi mereka terhadap PAD dan anomali akrual
sampai dengan anomali tersebut hampir hilang. Jika begitu, maka penjelasan biaya dan risiko
sebagai persisten anomali telah didukung.
6.5 PERTAHANAN DARI RASIONALITAS RATA-RATA INVESTOR
6.5.1 Menggugurkan Ekspektasi Rasional
Mengapa anomali muncul?apakah karena karakteristik perilaku atau dapatkah hal tersebut
terjadi jika investor rata-rata rasional?
Brav&Heaton (2002) mengasumsikan bahwa investor segera mencari perubahan yang
mendasari parameter perusahaan. Diasumsikan terdapat perusahaan yang melaporkan adanya
peningkatan substansial dari penghasilannya. Pertanyaannya, apakah perusahaan
diekspektasikan adanya peningkatan earning power, atau hanya sebuah noise (bersifat jangka
pendek). Untuk menghadapi risiko estimasi, investor akan mengubah kepercayaan terhadap
power earning lebih sedikit jika mereka yakin earning tinggi benar ada, dan lebih banyak jika
mereka yakin itu hanyalah noise. Untuk mengurangi risiko estimasi, investor akan membutuhkan
informasi tambahan. Jika ekspektasi earning power benar-benar naik, informasi baru akan
diobservasi, kemudian investor akan mengubah estimasi earning power yang diekspektasikan
dan membeli saham tambahan. Sehingga harga saham akan naik, namun hal tersebut memakan
waktu seperti konsep perilaku konservatif.
Argumen mispricing lainnya diungkapkan oleh Lo’s “adaptive market hypothesis” (2004).
Investor dipandang sebagai rasional terbatas (boundedly rasional), yaitu ketika lingkungan
berubah, mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Hal ini berakibat pada return saham
seperti yang diprediksikan dalam behavioural finance, under atau overreaction terhadap
informasi akuntansi. Harga saham bereaksi terhadap informasi dengan penundaan/delay.
Bagaimanapun, karena harga saham tetap naik, hasil ini konsisten dengan argumen sebelumnya
bahwa investor mengurangi risiko estimasi dengan mencari informasi tambahan. Selain itu, dari
penelitian dibuktikan bahwa semakin berkualitas akuntansinya berasosiasi signifikan dengan
penundaan yang lebih rendah.
Investor rasional membutuhkan waktu untuk menginterpretasi penuh pengumuman
penghasilan. Terdapat pengurangan PAD yang menunjukkan bahwa perkiraan kredible (dari
analist) membantu investor untuk mengatasi secara cepat ketidakpastian dalam earning masa
depan.
6.5.2 Menggugurkan Pengetahuan Umum
Pada kasus CAPM, setiap investor diasumsikan mengetahui beta saham dan sluruh investor
mengetahui kalau semua orang mengetahui beta.
Ketika investor membuat keputusan dengan dasar kepercayaan mereka atas kepercayaan
orang lain, daripada kepercayaan mereka tentang states of nature yang relevan, kepercayaan ini
disebut “higher order belief”. Hal ini dikarenakan kepercayaan investor rasional dapat
menghasilkan perilaku harga saham seperti pada behavioral finance yang diprediksikan.
Hal ini dijelaskan pada model berikut. Generasi pertama investor membeli
menginvestasikan saham pada perusahaan yang berisikodi awal periode satu dan menjualnya di
awal periode dua yang kemudian dibeli oleh generasi dua dan seterusnya. Hal ini terus
berlangsung sampai nilai fundamental perusahaan terungkap. Model ini menangkap horison
jangka pendek banyak investor yang membuat higher order belief.
Pola harga saham ini melawan kondisi pasar yang efisien. Model ini menyediakan
penjelasan kenapa pasar tidak efisien konsisten dengan rasionalitas investor.

6.6. SUMMARY RE SECURITIES MARKET INEFFICIENCIES


Konsekuensi yang paling tampak adalah pelaku (trader) cukup noise, tetapi ekspektasinya
nol. Karena itu, bahkan dalam konteks ekspektasi, harga saham tergantung pada nilai yang
mendasar dari saham tersebut. Pada waktu yang lain, bagaimanapun juga, investor rasional
termasuk analysts akan menemukan mispricing dan mengambil keuntungan dari hal tersebut,
yang memicu harga pada nilai fundamental. Laporan keuangan yang diperbaiki semakin
membantu memprediksi nilai fundamental perusahaan dan mempercepat proses arbitrasi.
Kemudian, dengan mengurangi biaya analisis rasional pelaporan yang lebih baik akan
mengurangi bias dari perilaku investor. Akibatnya, inefisiensi pasar sekuritas mendukung
perpektif pengukuran.

6.7. CONCLUSIONS ABOUT SECURITIES MARKET EFFICIENCY AND INVESTOR


RATIONALITY
Secara bersama- sama, teori dan bahan bukti menimbulkan pertanyaan yang lebih besar
mengenai luas efisiensi pasar efisien. Terdapat bahan bukti yang membingungkan perilaku
investor dan mengakibatkan mispricing yang besar kemungkinan terjadi pada perusahaan dimana
evaluasi keuangan sulit dilakukan, misalnya untuk perusahaan dengan sejumlah besar aset tidak
berwujud, perusahaan yang sedang berkembang, dan pada perusahaan dimana asimetri informasi
antara insider dan outsider cukup tinggi. Pada intinya adalah bahwa model pasar efisien masih
bermanfaat sebagai pedoman laporan keuangan, tetapi teori dan bahan bukti tidak efisien
terakumulasi pada saat mendukung perspektif pengukuran, meskipun harus melalui
pengorbanan reliabilitas untuk peningkatan relevansi.

6.8. OTHER REASON SUPPORTING A MEASUREMENT PERSPECTIVE


Sejumlah pertimbangan diberikan untuk menyarankan bahwa kegunaan keputusan atas
pelaporan keuangan akan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan perhatian terhadap
pengukuran. Pertimbangan-pertimbangan tersebut dijelaskan pada poin- poin berikutnya.
6.9. THE LOW VALUE RELEVANCE OF FINANCIAL STATEMENT INFORMATION
Dalam chapter 5 telah dibuktikkan bahwa adanya respon terhadap harga sekuritas terhadap
kandungan informasi mengenai laba bersih. Penelitian ERC menunjukkan bahwa pasar cukup
bergairah dalam menggunakan kemampuannya untuk mengekstrak implikasi nilai laporan
keuangan yang disiapkan dengan dasar historical cost.
Lev (1989) telah menunjukkan bahwa respon pasar terhadap good news atau bad news
terhadap laba ialah cukup kecil. Kenyataannya, hanya 2 – 5% dari variabilitas abnormal return
dalam narrow-window di seputar tanggal pengumuman laba dapat diatribusikan terhadap laba itu
sendiri. Kebanyakan dari variabilitas atas return saham terlihat sebagai akibat dari faktor-faktor
di luar laba.
Lev (1989) menghubungkan rendahnya saham dengan rendahnya kualitas laba. Collins et
al. (1994) memberikan bukti bahwa kualitas laba dapat ditingkatkan dengan memasukkan
perpektif pengukuran dalam laporan keuangan, dengan dasar bahwa penambahan ketepatan
waktu atas laba yang dinilai dengan nilai wajar tidak melebihi dari penurunan dalam reliabilitas.
Menurut Lev, masih banyak ruang bagi para akuntan untuk meningkatkan kegunaan informasi
laba.

6.9.1. Ohlson’ s Clean Surplus Theory


Teori surplus bersih dari Ohlson memberikan kerangka yang konsisten dengan perspektif
pengukuran, dengan menunjukkan bagaimana nilai pasar dari suatu perusahaan, dapat
ditunjukkan dari segi komponen laporan neraca dan laporan laba-rugi. Teori ini mengasumsikan
kondisi ideal, termasuk deviden yang tidak relevan. Namun demikian, teori ini sudah
memberikan banyak keberhasilan dalam menjelaskan dan memprediksi nilai aktual perusahaan.
Garis besar atas teori ini didasarkan kepada versi sederhana yang dikemukakan oleh Feltham dan
Ohlson (1995) atau dapat disingkat F&O.
F&O mulai dengan menunjukkan determinan fundamental nilai perusahaan yaitu arus
deviden perusahaan tersebut. Goodwill yang bernlai 0 mewakili kasus khusus dari model F&O
yang disebut akuntansi tidak bias dimana laba abnormal tidak ada. Model F&O dapat digunakan
untuk mengestismasi nilai saham persusahaan.

6.10. AUDITORS LEGAL LIABILITY


Mungkin sumber tekanan utama dalam perspektif pengukuran muncul sebagai reaksi
terhadap kegagalan yang begitu luar biasa dari perusahaan-perusahaan besar, khususnya institusi
keuangan.Dengan menggunakan akuntansi biaya historis, dapat saja terjadi bahwa perusahaan
yang ada saat ini bisa menghilang di waktu kemudian. Sementara itu para akuntan dan para
auditor dapat mengklaim bahwa informasi tentang kegagalan yang akan datang secara harfiah
implisit didalam catatan atau sumber-sumber lain, atau tidak merupakan tanggung jawab mereka,
terdapat logika dasar tertentu terhadap masalah yang dimunculkan oleh mereka-mereka yang
mempertanyakan mengapa laporan keuangan primer tidak secara lebih jelas meramalkan
kemalangan yang terjadi. Lebih lanjut, tekanan-tekanan tanggung jawab hukum ini cenderung
terus meningkat.
Sebagai tambahan, perusahaan tengah menghadapi tekanan yang semakin besar untuk
bisa berperilaku dalam cara-cara yang secara sosial dan lingkungan bertanggung jawab.
Kebanyakan perusahaan memiliki tanggung jawab ke depan secara substansial, sebagai contoh
dalam biaya restorasi tempat, yang sangat terkait dengan konsep penyesuaian pendapatan dan
biaya. Salah satu cara dimana para akuntan dan auditor bisa melindungi diri mereka melawan
tekanan-tekanan ini adalah untuk mengadopsi perspektif pengukuran, yaitu, memperkenalkan
lebih banyak nilai terbuka kedalam akun.

6.11. CONCLUSION
Dengan asumsi keandalan yang wajar, akuntansi nilai sekarang dapat meningkatkan
keputusan kegunaan relatif terhadap perspektif informasi
Peningkatan penggunaan akuntansi nilai sekarang dalam pelaporan keuangan
Alasan:
1. Pasar tidak sepenuhnya efisien
2. kekuatan penjelas rendah dari laba bersih untuk pengembalian saham
3. Teori Surplus bersih Ohlson
4. kewajiban auditor
Keputusan kegunaan bagi investor dapat lebih ditingkatkan dengan akuntansi konservatif
CHAPTER 8
THE EFFICIENT CONTRACTING APPROACH TO
DECISION USEFULNESS

Organisasi Chapter 8

8.1 OVERVIEW
Teori kontrak efisien mengambil sudut pandang yang mana perusahaan mengatur dirinya
dengan cara yang paling efisien, begitu pula untuk memaksimalkan kemungkinan bertahan
hidup. Beberapa perusahaan lebih terdesentralisasi dari pada perusahaan lainnya, beberapa
perusahaan mengadakan kegiatan didalam sedangkan perusahaan lainnya mengontrakkan
beberapa kegiatanya, beberapa perusahaan membiayai dengan hutang lebih dari yang lain, dan
sebagainya. Bentuk paling efisien atas tata kelola perusahaan untuk perusahaan tertentu
tergantung faktor-faktor seperti lingkungan hukum dan institusional, teknologinya, dan tingkat
kompetisi dalam industri.
Kontrak efisien adalah sebuah komponen yang signifikan dari tata kelola perusahaan.
Untuk menguatkan tata kelola perusahaan, kontrak-kontrak ini harus efisien. Mereka harus
secara optimal seimbang antara biaya dan manfaat. Akhirnya, tujuan dari teori ini adalah untuk
memahami dan memprediksi pilihan kebijakan akuntansi manajerial pada situasi yang berbeda
dan di perusahaan yang berbeda, dan bagaimana akuntansi keuangan dapat berkontribusi
terhadap kontrak efisien.
Teori tersebut mengasumsikan bahwa manajer, seperti investor, rasional.
Teori efisiensi kontrak membantu akuntan mengetahui mengapa melaporkan ke
pengurus adalah penting, dan untuk mengapresiasi batasan perhatian legitimasi manajemen
tentang pemilihan kebijakan akuntansi.

8.2 APAKAH YANG DIMAKSUD TEORI KONTRAK EFISIEN


Teori kontrak efisien mempelajari peran informasi akuntansi keuangan dalam
memoderasi asimetri informasi antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, dengan
demikian berkontribusi terhadap kontrak efisien dan penatalayanan dan keefisienan tata kelola
perusahaan.
Asimetri informasi muncul dalam kontrak karena manajemen memiliki informasi dalam
tentang keadaan perusahaan, dan mungkin tidak perlu membagi informasi ini dengan pihak-
pihak yang melakukan kontrak atau, jika mereka membaginya, mungkin mengubah atau
melebih-lebihkan informasi. Juga, usaha manajemen dalam mengoperasikan perusahaan tidak
dapat dilihat langsung oleh orang luar. Pada dua kasus tersebut, pihak luar yang melakukan
kontrak mencari informasi akuntansi untuk membantu melindungi diri dari ekploitasi.
Kita mendefinisikan tata kelola sebagai kebijakan yang meluruskan aktivitas perusahaan
dengan kepentingan investor dan sosial. Perusahaan memasuki banyak kontrak, seperti
pelanggan, pemasok, managemen, pegawai lainnya, dan pemberi pinjaman. Untuk tata kelola
yang baik, kontrak-kontrak ini harus efisien. Mereka harus mencapai optimal trade off antara
benefit dan cost dari kontrak. Contohnya perusahaan mungkin diuntungkan dari menurunkan
biaya pinjaman jika biaya ditanggung untuk meyakinkan pemberi pinjaman, seperti
menjaminkan aset sebagai keamanan, atau menerima perjanjian untuk membatasi pinjaman
selanjutnya yang melemahkan keamanan pemberi pinjaman yang ada.
Mengkontrak adalah relevan pada akuntansi keuangan sejak kontrak penting tergantung
pada variabel akuntansi. Jadi kontrak hutang mungkin memuat perjanjian, seperti menjaga
tingkat working capital, tidak melebihi ratio debt equity, dan lainnya. Juga biasanya bonus yang
dibayar lewat kompensasi manajemen biasanya tergantun pada laba bersih, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Teori kontrak efisien berasumsi bahwa manajer, seperti investor, adalah rasional. Sebagai
hasilnya, manajer tidak dapat diasumsikan tentunya memaksimalkan keuntungan perusahaan,
secara umum, melakukan sesuai kepentingan investor. Melainkan, merekan akan melakukannya
demi kepentingan dirinya sendiri. Konsekuensinya, kepentingan manajer, pemberi pinajaman,
dan pemegang saham terjadi konflik. Teori kontrak efisien mempelajari bagaimana konflik ini
diselesaikan. Melalui ini memungkinkan kita untuk menilai seberapa efisien desain kontrak dapat
membantu menselarakan kepentingan manajer dengan para pemberi pinjaman dan pemegang
saham.
Teori ini juga membahas kontrak implisit, yang mana muncul dari menjaga hubungan
bisnis.
Akhirnya, teori kontrak efisien percaya pada pasar. Menegaskan bahwa idealnya
permintaan informasi akuntansi keuangan harus memenuhi tekanan pasar, dengan peran dari
pengaturan standar yang disediakan prinsip umum yang ada yang mana praktik akuntansi dapat
mengembangkan berdasarkan hukum permintaan dan penawaran.

8.3 SUMBER PERMINTAAN KONTRAK EFISIEN ATAS INFORMASI


AKUNTANSI KEUANGAN
8.3.1 Pemberi Pinjaman
Kontrak hutang adalah sumber keuangan yang penting bagi kebanyakan perusahaan.
Ketika keamanan paling penting bagi pemberi pinjaman, seperti pemegang saham, adalah kinerja
perusahaan di masa akan datang, dua aspek kontrak hutang harus diperhatikan.
Yang pertama, adalah manajemen yang memiliki informasi terbaik tentang kondisi
perusahaan. Pemberi pinjaman peduli tentang asimetri informasi ini karena manajemen mungkin
tidak membagi informasi tersebut dengan mereka dan, mungkin memilih kebijakan akuntansi
yang menyembunyikan kinerja yang mengancam kepentingan pemberi pinjaman. Pemeberi
pinjaman jadi memeinta perlindungan atas kemungkinan ini.
Yang kedua, pemberi pinjaman mehadapi asimetri hasil. Seperti investor ekuitas, mereka
akan kehilangan jika perusahaan bekinerja buruk. Namun, tidak seperti investor, keuntungan
mereka terbatas jika perusahaan berkinerja baik. Pemberi pinjaman meminta kebijakan
akuntansi keuangan yang membantu mencegah kesulitan keuangan dan menyediakan early
waring system jika kesulitan mengancam.
8.3.2 Pemegang Saham
Eksploitasi dikendalikan dengan mendasarkan kompensasi manajer pada beberapa ukuran
performa manajer, seperti net income. Juga penegasan peran statement keuangan membantuk
mencegah manager dari overstating informasi dalamnya selama tahun berjalan, yang dapat
mengakibatkan harga saham overvaluation oleh pasar. Namun, karena manajer diasumsikan
berlaku sesuai dengan kepentingannya sendiri, dan asimetri informasi mencegah pemegang
saham mengawasi langsung usaha manajer dalam menjalankan perusahaan (moral hazard),
manajer mungkin melalaikan usaha dan menutupi overstatement dan keuntungan kecil seperti
overvaluation aset dan memanage pendapatan kedepannya. Hal ini menimbulkan permintaan
untuk kebijakan akuntansi keuangan yang memaksa tanggung jawab usaha manajer dan
membatasi aksi oppotunistic manajer.

8.4 KEBIJAKAN AKUNTANSI UNTUK KONTRAK EFISIEN


8.4.1 Reliabilitas
Asimetri hasil mengalihkan pemberi pinjaman trade off relevansi-reliability terhadap
perhatian lebih pada relatif reliability pada investor ekuitas. Karena pemberi pinjaman tidak
secara langsung mendapat hasil dari meningkatnya performa perusahaan, mereka tidak terlalu
tertarik dengan berita baik yang berorientasi masa depan. Namun, mereka sangat tertarik dengan
berita buruk yang berorientasi dimasa datang karena ini mungkin mengindikasikan kesulitan
keuangan perusahaan. Jadi, mereka meminta financial statement yang reliabel yang melindungi
dari kebijakan manajer yang oportunistik yang menyembunyikan penurunan nilai dan overstate
performa perusahaan.
Agar reliabel, informasi akuntansi untuk kontrak efisien yang berdasar pada transaksi
pasar yang terealisasi, dan dapat diverifikasi oleh pihak ketiga.
Catat bahwa peningkatan perhatian pada reliabilitas berarti bahwa financial statement
terbaik untuk menginformasikan pemberi pinjaman dan melindungi manajer oportunis adalah
tidak sama dengan yang terbaik untuk menginformasikan investor ekuitas.

8.4.2 Konservatisme
Asimetri hasil juga membuat sebuah permintaan untuk konservatism bersyarat, yaitu
impairment test. Perimintaan Pemberi pinjaman informasi tentang unrealized loss adalah lebih
baik daripada permintaan merekan terkait dengan unrealized gain, mengingat unrealized gain
dipercaya tidak lebih bermanfaat daripada unrealized losses dalam rangka memprediksi kesulitan
keuangan.
Namun, pemikiran kontrak efisien untuk kondisi konservatism bersyarat melebihi diluar
kewajiban hukum. Dia menyediakan early warning system atas kesulitan keuangan mendatang.
Juga, konservatism bersyarat, dengan membuat sebuah sistematik understatement atas nilai
bersih aset, menyediakan pemberi pinjaman dengan batas bawah aset bersih untuk membantu
mereka mengevaluasi keamanan pinjaman.

8.5 KETEGASAN KONTRAK


Kontrak, sifatnya sulit untuk dapat diubah. Dengan kata lain, kontrak itu tegas. Juga,
banyak kontrak, seperti kontrak hutang adalah jangka panjang. Jika kontrak jangka panjang
bergantung pada variabel akuntansi, sepertinya standar akuntansi akan berubah selama umur
hidup kontrak. Perubahan tersebut dapat secara negatif mempengaruhi perjanjian, meningkatkan
kemungkinan pelanggaran. Memang mungkin sebuah kontrak dapat dinegoisasi mengikuti
perubahan standar akuntansi, proses tersebut dapat akan panjang dan mahal.
Kemungkinan lain adalah ketentuan tambahan pada kontrak itu sendiri untuk menghadapi
event yang tidak terduga. Namun, prakteknya sulit secara efektif mengantisipasi semua kejadian
dimasa depan yang dapat mempengaruhi nilai perjanjuan, khususnya standar akuntansi
keuangan.
Kemungkinan lain adalah untuk membekukan kebijakan akuntansi yang digunakan untuk
menghitung nilai perjanjian . Namun hal ini akan menimbulkan biaya dan kesusahan menajga
track atas efek pada statement keuangan dari asemua standar yang berubah selama hidup
kontrak.
Cara yang lebih efisien untuk menghadapi perubahan standar akuntansi adalah
mengijinkan manajer beberapa fleksibilitas dalam pemilihan kebijakan akuntansi, sehinggadia
dapat beradaptasi dengan kondisi yang tak terduga.
Namun, memberi manajemen kebijaksanaan untuk memilih dari seperangkat kebijakan
akuntansi membuka peluang perilaku opportunistic.
Diberikan kontrak yang tegas, perusahaan menghadapi trade off tata kelola. Kebijakan
akuntansi yang optimal untuk perusahaan mewakili kompromi. Menentukan kebijakan akuntansi
secara ketat sebelumnya akan meminimalkan opportunistic kebijakan akuntansi yang dipilih
manajer. Disisi lain, membiarkan manajer memilih kebijakan akuntansi akan mengurangi biaya
ketegasan kontrak tapi membuka perusahaan biaya perilaku manajer opportunistic.

8.6 EMPLOYEE STOCK OPTIONS


Dalam bagian ini, kita memeriksa area dimana manajemen keprihatinan tentang
kebijakan akuntansi tampak jelas. Yaitu akuntansi untuk opsi saham yang dikeluarkan bagi
manajemen dan, dalam beberapa kasus, bagi karyawan-karyawan lainnya, yang memberi mereka
hak untuk membeli saham perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Kita menyebut opsi-opsi
tersebut sebagai employee stock opsions (ESOs).
Sampai sekitar tahun 2005, akuntansi untuk ESOs di Amerika Serikat dan tempat lain
didasarkan pada opinion 25 Accounting Principles Board tahun 1972 (APB 25). Standar tersebut
mewajibkan perusahaan mengeluarkan ESO dengan nilai tetap untuk mencatat biaya yang sama
dengan selisih antara nilai pasar saham pada tanggal pemberian opsi tersebut pada karyawan
(grant date) dan harga pelaksanaan opsi tersebut. Selisihnya disebut nilai intrinsik. Kebanyakan
perusahaan yang menetapkan harga pelaksanaanya sama dengan nilai pasar pada tanggal
pemberiannnya,sehingga nilai intrinsiknya nol. Akibatnya, tidak ada expense untuk kompensasi
ESO tercatat.
Alasan tidak diwajibkannya pencatatan nilai wajar untuk ESO adalah sulit menetapkan
nilainya. Sehingga muncul rumus Black/Sholes yang berasumsi bahwa opsi dapat
diperdagangkan dengan bebas Hal ini tidak dimungkinkan karena ESO tidak dapat dilaksanakan
sampai tanggal penyerahan (vesting date). Juga, jika karyawan mengundurkan diri dari
perusahaan sebelum dilakukannya penyerahan, maka opsi tersebut dinyatakan hangus, atau
kalaupun belum dilaksanakan, mungkin ada pembatasan-pembatasan terhadap kemampuan
karyawan untuk menjual saham yang diperolehnya.
Bulan juni 1993, FASB mengeluarkan exposure draft standar baru yang diusulkan.
Exposure draft tersebut mengusulkan agar perusahaan mencatat biaya kompensasi berdasarkan
nilai wajarnya pada tanggal pemberian ESO yang dikeluarkan pada periode tersebut. Exposure
tersebut ditentang oleh kalangan bisnis dan meluas ke kongres. Muncul kekhawatiran akan
konsekuensi ekonomi dari laporan laba yang lebih rendah yang akan dihasilkan. Konsekuensi
tersebut mencakup harga saham yang rendah, biaya modal yang tinggi, kurangnya bakatr
manajerial,serta rendahnya motivasi manajer dan karyawan.
Meskipun demikian, biaya ESO tersebut sangat sulit diukur secara reliabel. Hal ini karena
karyawan mungkin melaksanakan opsi tersebut setelah tanggal penyerahan sampai tanggal
kadaluwarsa. Biaya ex post bagi perusahaan pun akan tergantung pada selisih nilai pasar saham
dan harga pelaksanaan pada saat itu. Untuk mengetahui nilai wajar ESO, perlu diketahui strategi
pelaksanaan optimal karyawan.
Untuk mengatasi masalah ini, muncul model strategi yang disusun oleh Huddart (1994).
Dengan membuat beberapa asumsi, Huddart menunjukkan bahwa rumus Black/Sholes dengan
ESO yang ditahan sampai tanggal kadaluwarsa dapat menaikkan pencatatan nilai wajar ESO
pada saat tanggal pemberian.
Terdapat tiga karakteristik Opsi:
1. Pengembalian yang diharapkan dari menahan suatu opsi melebihu return saham yang
diharapkan.
2. Potensi kenaikan (upside potencial) opsi America (tendensi kenaikan terhadap nilainnya)
meningkat seiring dengan waktu jatuh tempo.
3. Jika opsi “deep-in-the-money” artinya jika nilai saham dasar jatuh lebih tinggi daripada harga
exercise price ,maka hasil dari menahan opsi tersebut dan probabilitasnya sangat mendekati
hasil dan probabilitasnya dari menahan saham dasarnya.
Dua keadaan dimana karyawan melaksanakan opsinya. Pertama jika ESO mencakup nilai
uang sedikit (resiko substansial terjadinya hasil nol), waktu sampai jatuh temponya singkat
(sedangkan pengorbanan untuk potensi kenaikan) dan karyawan tersebut diharuskan menahan
saham yang diperolehnya,maka penghindaran resiko dapat memicu pelaksanaan lebih awal.
Kedua jika ketika ESO menyangkut banyak uang,waktu sampai jatuh temponya singkat,dan
karyawan dapat menahan maupun menjual saham yang diperolehnya dan menginvestasikan
hasilnya pada aktiva yang tidak beresiko.
Pada tahun 1994, FASB mengumumkan pembatalan exposure draft,dengan alasan tidak
memperoleh dukungan yang cukup. FASB beralih ke pengungkapan tambahan. Dalam SFAS
123, yang keluar tahun 1995, FASB mendesak perusahaan untuk menggunkan pendekatn nilai
wajar yang disarankan dalam exposure draft,namun memungkinkan digunakannya penetapan
nilai intrinsic APB 25 selam perusahaan member pengungkapan tambahan dari biaya WSO yang
ditentukan dengan menyusutkan nilai wajar dari ESO yang diberikan selama periode
penyerahannnya menurut waktu pelaksanaan yang diharapkan. Sejak tahun 1993,exposure draft
telah diabaikan. Baru-baru ini skandal penyusunan laporan keuangan seperti enron dan
worldcom telah menimbulkan tekanan baru untuk mengeluarkan ESO. Eksekutif senior
menggunakan taktik untuk meningkatkan nilai-nilai ESOs mereka. Beberapa taktik yang
digunakan yaitu:
 pompa and dump, dimana manajer akan mengambil tindakan untuk meningkatkan share
value tak lama sebelum meng-exercise options, kemudian menjual saham sebelum harga
saham jatuh kembali dan, mungkin, berinvestasi hasil pada securities yang kurang berisiko.
 CEO perusahaan dengan menjadwalkan grant dates (sehingga CEO tahu kapan ESO datang)
menggunakan taktik (misalnya, pengumuman lebih awal bad news tetapi tidak untuk good
news) untuk menurunkan harga saham, dan kemudian ESO meng-exercise harga.
 spring loading, manajer menekan compensation committees untuk memberikan unscheduled
ESOs sesaat sebelum good earnings news.
 late timing, pengunduran ESO awards untuk tanggal ketika harga saham adalah lebih rendah
daripada di grant date ESO sebenarnya.

8.7 DISCUSSION AND SUMMARY OF ESO EXPENSING


Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Mengapa pihak manajemen menentang
pembebanan ESO? Satu kemungkinan yang bisa menjelaskan sikap manajemen tersebut adalah
bahwa manajemen tidak menerima adanya efisiensi pasar sekuritas. Manajemen percaya bahwa
para investor akan bereaksi negatif terhadap laba yang dilaporkan menurun, apa pun alasannya.
Kemungkinan yang lain adalah bahwa laba yang dilaporkan menurun akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya debt covenant violation. Selain itu, kompensasi manajemen bisa
menurun sampai titik di mana kompensasi ditentukan berdasarkan laba yang dilaporkan.

8.8 DISTINGUISHING EFFICIENCY AND OPPORTUNIS


Dalam bagian ini, kita mempertimbangkan beberapa studi empiris yang baik mendukung
dan mepertanyakan efficient contracting.
Mian dan Smith (1990) melakukan penelitian tentang efficient contracting. Mian dan
Smith mengamati pilihan kebijakan akuntansi untuk mengkonsolidasi perusahaan subsidiary.
Mereka berpendapat bahwa semakin besar interdependensi antara perusahaan induk dengan
perusahaan anak maka akan semakin efisien untuk menyiapkan laporan keuangan konsolidasi.
Mereka memperkirakan bahwa semakin besar integrasi antara perusahaan induk dan perusahaan
anak, maka semakin besar kemungkinan/kecenderungan perusahaan induk untuk menyiapkan
laporan konsolidasian.
Bharath, Sunder, dan Sunder (2008) menginvestigasi efek dari kualitas akuntansi
terhadap suku bunga yang dibebankan dalam pasar pinjaman (lending markets) publik maupun
swasta (misalnya bank). Mereka menemukan bahwa suku bunga secara signifikan lebih rendah
dalam pasar hutang publik dan swasta untuk perusahaan-perusahaan dengan akrual yang rendah
(akuntansi berkualitas tinggi). BSS juga menemukan bahwa perusahaan dengan kualitas
pelaporan yang rendah cenderung untuk meminjam dari bank (swasta), sedangkan perusahaan
dengan kualitas pelaporan yang tinggi cenderung untuk meminjam dari pasar publik.
Wittenberg-Moerman (2008) mengukur asimetri informasi dalam bid-ask spread pada
pasar hutang. WM menemukan bahwa, seperti yang telah diduga, konservatisme kondisional
berasosiasi negative dengan bid-ask spread. WM tidak menemukan adanya keterkaitan ketika
perusahaan mengakui unrealized gain.
Gigler, Kanodia, Sapra, dan Venugopalan (2009) menunjukkan bahwa meskipun
akuntansi konservatif mungkin saja menurunkan suku bunga pinjaman, hal ini juga membawa
cost karena secara alamaiah, konservatisme meningkatkan kemungkinan covenant violation
ketika tidak dijamin oleh economic state perusahaan.
Armstrong, Jagolinzer, dan Larcker (AJL; 2010) mempelajari mengenai banyaknya
perusahaan yang mengalami restatement laporan keuangan, class-action lawsuit, dan investigasi
SEC yangmungkin mengindikasikan perilaku oportunistik manajer. Pertanyaannya adalaha:
Apakah perusahaan dengan CEO yang mempunyai delta portofolio tinggi menunjukkan perilaku
oportunistik CEO yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan serupa dengan CEO
yang memiliki delta portofolio lebih rendah? Dalam penelittiannya, AJL tidak menemukan bukti
akan hal tersebut. Oleh karena itu, kepemilikan saham perusahaan oleh manager sepertinya tidak
menyebabkan perilaku oportunistik.
Meskipun penelitian AJL menyatakan demikian, adanya restatement, lawsuit, dan
investigasi SEC menunjukkan bahwa perilaku seperti itu memang ada. Dengan demikian, hal
tersebut mungkin saja terjadi dengan didorong oleh motivasi yang lain.
Bukti lebih jauh mengenai perilaku oportunistik diungkapkan oleh Hope dan Thomas
(2008). Mereka meneliti sampel perusahaan-perusahaan multinasional di bawah SFAS.
Berlakunya SFAS 31 menghapuskan kewajiban untuk melaporkan laba berdasarkan wilayah
geografis, sehingga pengungkapan tersebut bersifat sukarela saja setelah adanya SFAS 131. Hope
dan Thomas melaporkan bahwa di antara perusahaan-perusahaan sampel tersebut yang tidak
mengungkapkan laba berdasarkan wilayah geografis setelah berlakunya SFAS 131, total
penjualan asingnya meningkat tetapi total laba asingnya secara rata-rata menurun jika
dibandingkan dengan periode sebelum berlakunya SFAS 131 atau jika dibandingkan dengan laba
domestic perusahaan yang sama setelah SFAS 131. Hal tersebut menunjukkan bahwa sepertinya
manajer telah mengeksploitasi kemampuan investor yang menurun untuk mengawasi kinerja
mereka dengan cara meningkatkan penjualan asing dengan mengorbankan keuntungan. Hal
tersebut oleh penlis disebut sebagai “empire bulding”, yaitu suatu bentuk moral hazard yang
mana manajer secara oportunistis menaikkan ukuran perusahaan (dengan menaikkan penjualan
asing).
Kesimpulannya, baik efficient contracting maupun sikap oportunisme dua-duanya
ada/terjadi di dalam dunia akuntansi pada kenyataanya.

8.9 SUMMARY OF EFFICIENT CONTRACTING FOR DEBT AND


STEWARDSHIP
Teori efficient contracting mempelajari tentang peran informasi akuntansi keuangan
dalam menjembatani asimetri informasi antara pihak-pihak dalam kontrak. Untuk mencapai
kontrak yang efisien (efficient contracting), informasi keuangan harus reliable dan konservatif
(secara kondisional). Suatu implikasi signifikan atas teori efficient contracting adalah bahwa
kebijakan akuntansi mempunyai konsekuensi-konsekuensi ekonomi. Oleh karena itu, hal tersebut
menjadi penting bagi para manajer. Selama manager memiliki fleksibilitas untuk memilih
kebijakan akuntansi, mereka dapat mengubah kebijakan ini untuk mengimbangi dampak dari
standar akuntansi baru pada kontrak utang dan kompensasi.
Perusahaan menghadapi tradeoff dalam fleksibilitas kebijakan akuntansi yang diberikan
kepada manajer. Terlalu sedikit fleksibilitas akan mengarah kepada inefisiensi kontrak ketika
standar akuntansi berubah. Terlalu banyak fleksibilitas membuka kemungkinan oportunisme
manajer. Kompromi yang masuk akal untuk menjembatani keduanya adalah dengan mengizinkan
manajer untuk memilih kebijakan akuntansi dalam tataran GAAP.

8.10 IMPLICIT CONTRACTS


8.10.1 Definition and Empirical Evidence
Dalam banyak situasi, perusahaan dapat mendapatkan keuntungan dari effiecient
contracting tanpa harus benar-benar masuk ke dalam sebuah kontrak formal. Sebagai contoh
yaitu kepercayaan yang diperoleh perusahaan atas konsistensinya melaporkan laba yang terus
berkembang secara transparan. Hubungan yang berdasarkan kepercayaan semacam itu disebut
sebagai kontrak implisit (implicit contracts).
Investigasi mengenai kontrak implisit awal mulanya dilakukan oleh Bowen, DuCharme,
dan Shores (BDS; 1995). Mereka berpendapat bahwa reputasi perusahaan dapat didukung oleh
keuntungan yang dilaporkan tinggi, yang meningkatkan kepercayaan stakeholder bahwa manajer
akan terus memenuhi kewajiban kontrak. BDS menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat
keterlibatan berkelanjutan yang tinggi dengan para pemangku kepentingan lebih cenderung
untuk memilih kebijakan FIFO dan amortisasi garis lurus dari perusahaan dengan tingkat yang
lebih rendah dari keterlibatan berkelanjutan, konsisten dengan prediksi mereka. Graham, Harvey,
dan Rajgopal (2005) mendukung temuan BDS tersebut. Mereka melaporkan bahwa manajer
menempatkan hubungan dengan pemangku kepentingan lainnya sebagai alasan penting untuk
memenuhi target laba.

8.10.2 Single Period Non-Cooperative Game


Ketika membuat keputusan, investor sadar bahwa manajer tidak selalu mengungkapkan
semua informasi yang dimilikinya. Hal ini terlalu sulit dan mahal untuk menyediakan bagi setiap
investor dengan informasi yang diinginkan tentang perusahaan. Teori Permainan mengasumsikan
setiap pemain memilih strategi tanpa mengetahui pilihan strategi yang lain. Strategy Pair
(strategi berpasangan) adalah pilihan dari strategi yang diambil oleh masing-masing pihak. Nash
Equilibrium adalah salah satu strategi berpasangan, setiap pemain memilih strategi mereka dan
tidak akan meninggalkan pilihan mereka. Nash Equilibrium adalah hasil dari prediksi permainan
Non-Cooperative.
Dalam teori Single-Person Decision Theory, alami (nature) adalah kekuatan yang tidak
memihak dan strategi yang dipilih oleh investor tidak dipengaruhi dari nature ini. Teori ini
diturunkan ketika hasil yang diperoleh oleh lawan (manajer) dan bukan oleh nature, yang
membawa kita ke teori permainan.
Sejak kebutuhan akan keputusan dari pihak yang berbeda mungkin tidak selalu sama,
konflik antar pihak dapat dimodelkan sebagai sebuah permainan. Salah satu contoh konflik ini
mungkin terjadi di antara investor dan manajer. Investor menginginkan informasi keuangan yang
relevan dan dapat diandalkan untuk membantu mereka dalam menilai risiko dan imbalan yang
diharapkan dari investasi. Namun, manajer mungkin tidak ingin mengungkapkan semua
informasi yang dimilikinya.
Contoh 9.1: Hubungan antara Manager-Investor pada Teori Permainan
Manajer harus memilih antara satu dari dua strategi. Dia bisa memilih “mendistorsi” (D)
dengan investasi di bawah sistem pengendalian internal atau melaporkan laba bersih yang tidak
sebenarnya. Pilihan kedua adalah memilih “jujur” (H). Investor juga memiliki dua strategi. Dia
bisa membeli saham (B) dalam perusahaan atau menolak untuk membeli saham.
Table 9.1 Utility Payoffs in a Non-Cooperative Game
Manager
HONEST (H) DISTORT (D)
BUY (B) 60, 40 20, 80
Investor
REFUSE TO BUY ® 35, 20 35, 30

Setiap pihak memiliki informasi yang lengkap tentang pihak yang lain. Jadi, investor tahu
strategi dan hasil yang tersedia bagi manajer dan sebaliknya. Namun, mereka harus memilih
strategi mereka tanpa mengetahui strategi pihak lain yang dipilih. Oleh karena itu, RD akan
menjadi strategi yang dipilih. Ini adalah pasangan dimana tiap pemain terdiri dari strategi
mereka, meskipun kedua belah pihak akan lebih baik jika pasangan BH yang akan dipilih.
Titik mendasar adalah bahwa model ini memungkinkan individu untuk lebih memahami
proses pilihan kebijakan akuntansi. Setiap pihak memiliki kepentingan mereka sendiri untuk
dipertaruhkan, yang mungkin bertentangan. Pemahaman yang lebih baik dalam situasi konflik ini
oleh pembuat standar akuntansi akan menghasilkan pilihan kebijakan akuntansi yang lebih
realistis.
Dalam buku ini digunakan contoh investor dan manajer yang menunjukkan teori
permainan non-kooperatif dalam situasi konflik. Contoh serupa dari model ini misalnya pada
industri mobil bekas. Pembeli menginginkan semua informasi yang relevan dan dapat diandalkan
tentang mobil untuk membantu dia dalam menilai nilai mobil yang diharapkan dan risiko
pembelian mobil tersebut. Penjual mungkin tidak ingin mengungkapkan semua informasi negatif
tentang mobilnya. Mobil itu dapat menjadi sulit untuk terjual, penjual mungkin harus
menghabiskan dananya untuk memperbaiki mobil, atau pembeli dapat membeli di tempat lain.
Kedua belah pihak menyadari strategi pihak yang lain dan reaksi yang mungkin terjadi. Ini
adalah permainan non-kooperatif karena tidak ada kesepakatan yang mengikat antara penjual dan
pembeli.
Penjual memiliki dua strategi. Dia bisa berbohong tentang kualitas mobilnya digunakan,
sehingga terdengar lebih baik daripada yang sebenarnya. Atau, ia bisa jujur tentang kualitas
kendaraan dan risiko kehilangan penjualan. Pembeli dapat memilih untuk membeli atau menolak
untuk membeli mobil.
HONEST LIE
BUY 70,40 30,70
REFUSE 35,10 35,30

Pasangan strategi yang dipilih tidak akan Menolak (refuse) / Jujur (honestly) atau Beli
(buy) / Berbohong (Lie). Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa masing-masing pihak memiliki
informasi yang lengkap tentang yang lain dan tahu strategi dan hasilnya. Sebagai contoh, jika
penjual memilih untuk Berbohong, pembeli tidak akan memilih untuk Membeli karena dia akan
menerima sebuah utilitas yang lebih tinggi dengan Menolak. Berbohong / Menolak adalah
pasangan strategi yang dipilih karena pengaruh strategi pemain lain, setiap pemain adalah
pemeran dengan nya atau keputusannya meskipun membeli / Jujur akan memberikan setiap
pemain utilitas yang lebih tinggi. Hal ini disebut sebagai Nash Equilibrium.
Teori Permainan membantu kita untuk memahami proses memilih kebijakan akuntansi.
Hal ini membantu kita untuk memahami mengapa dalam situasi tertentu perusahaan akan
memilih untuk mendistorsi laporan keuangan jika hal ini membantu mereka untuk
melakukannya. Teori ini juga membantu dalam menunjukkan bagaimana sulitnya untuk mencoba
dan menerapkan kebijakan dan prosedur baru yang menghasilkan keuntungan yang rendah
kepada manajemen. Teori permainan juga dapat digunakan untuk menunjukkan dewan standar
akuntansi tentang bahaya jika tidak mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang
dipengaruhi oleh pilihan-pilihan kebijakan yang ditemukan menjadi sulit untuk diterapkan.

8.10.4 SUMMARY OF IMPLICIT CONTRACTING


Teori permainan non-kooperatif menjelaskan model situasi tentang adanya konflik yang
biasa terjadi antar pengguna laporan keuangan. Bahkan model teori permainan sederhana
menujukkan bahwa badan penyusun standar akuntansi yang gagal untuk mempertimbangkan
kepentingan semua konstituen yang dipengaruhi oleh pilihan kebijakan akuntansi sedang dalam
bahaya membuat rekomendasi kebijakan yang sulit untuk diterapkan.

8.11 SUMMARY OF EFFICIENT CONTRACTING


Efficient contracting menimbulkan dua pertanyaan penting untuk Conceptual
Framework. Pertama, haruskah kerangka memberikan pengakuan yang lebih besar untuk
verifiability, seperti bergerak ke karakteristik meningkatkan laporan keuangan untuk komponen
representasional faithfulness? Seperti pendapat O'Brien, hal ini akan memperkuat peran
kehandalan dalam kerangka, sehingga mengurangi keprihatinan investor bahwa manajer secara
opportunistik dapat mengelola penghasilan untuk menghindari pelanggaran perjanjian hutang
dan untuk meningkatkan reputasi dan kompensasi.
Kedua, sejauh mana seharusnya financial statements memberikan sistem peringatan awal
untuk memperingatkan debtholders untuk kemungkinan financial distress perusahaan?
Conditional conservatism menyediakan seperti sistem peringatan dini dengan mengakui kerugian
yang belum direalisasi.
Penelitian empiris telah melaporkan bukti kontrak efisien dan perilaku oportunistik
manajer. Sementara itu penting bagi akuntan untuk menyadari kemungkinan oportunisme
manajer, bukti efisien menunjukkan bahwa mungkin untuk menyelaraskan manajer kepentingan
dengan orang-orang investor.
Chapter 12

STANDARD SETTING: ECONOMIC ISSUES

Externalities
and free-riding

Adverse
selection Private
Concept of Market How much
incentives for
Informaon failures-a role information
information
Production for regulation to regulate?
production
Moral
hazard

Lack of
unaminity

A. Overview
Penyusunan standarmerupakan suatu bentuk dari peraturan yang pada akhirnya juga
merupakan pertanggungjawaban dari pemerintah. Pemerintah biasanya menyerahkan tanggung
jawab terkait peraturan satandar akuntansi kepada badan tertentu, seperti komisi surat berharga.
Pada gilirannya, badan tersebut mungkin menyerahkannya lagi kepada badan semi independen
seperti IASB, AcSB, dan FASB. Tanpa membeda-bedakan badan-badan terebut, kita biasa
menyebutnya dengan istilah regulator.
Ingat bahwa kita melihat regulator sebagai mediator antara benturan kepentingan antara
para investor dan manajer. Masalah mendasar yang terjadi adalah bagaimana melakukan mediasi
ini, atau bagaimana menggabungkan pelaporan keuangan dan kontrak efisien dari informasi
akuntansi, atau bisa juga bagaimana menentukan secara tepat jumlah suatu informasi.
Bagi banyak produk, kekuatan pasar cukup untuk mendorong produksi hingga
mendekati keadaan terbaik dengan adanya sedikit regulasi. Namun, sementara terdapat banyak
insentif berbasis pasar bagi perusahaan guna menghasilkan informasi, hasil informasi terbaik
mustahil dicapai hanya dengan kekuatan pasar saja. Alasan utama adalah adanya asimetri
informasi. Oleh karena informasi akuntasi keuangan memiliki sifat sebagai barang publik,
pemasok informasi tidak selalu mendapatkan bayaran atas informasi yang mereka hasilkan.
Sebagai konsekuensi, mereka akan menghasilkan informasi dibawah kualitas terbaik. Akibatnya,
asimetri informasi, yang mengarah pada adverse selection dan moral hazard, lebih besar dari
yang diinginkan. Kegagalan pasar ini mendukung argumen untuk regulasi pengungkapan
keuangan. Namun, karena sulitnya pengukuran manfaat yang kompleks dan kos untuk
menghasilkan informasi, pembuat standar tidak mampu memperoleh informasi terbaik pula. Oleh
karena suatu peraturan juga memiliki kos, pertanyaan kemudian menjadi salah satu tingkat dari
penyusunan standar. Intinya, luasanya penyusunan standar merupakan suatu tantangan bagi
akuntan. Banyaknya aspek informasi yang diatur dan luasnya regulasi meningkat seiring semakin
tersiarnya standar akuntansi.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak dari industri membuat aturan dalam pola
kerjanya. Penerbangan, pengangkutan, jasa keuangan, dan telekomunikasi merupakan contoh
dari industrialisasi yang telah diatur secara formal. Kemudian pertanyaan selanjutnya, yaitu
apakah aturan yang akan dibuat ini menimbulkan kekacauan. Namun, pembahasan mengenai pro
dan kontra dari penyusunan standar membantu kita dalam melihat trade-offs yang terlibat dan
memahami peran penting informasi dalam masyarakat.

B. Regulation of Economic Activity


Terdapat banyak contoh dalam regulasi ekonomi perusahaan yang memiliki monopoli
seperti perusahaan listrik, telpon, dan transportasi. Dalam hal ini, regulasi biasanya berbentuk
regulasi tingkat tarif, regulasi tingkat pengembalian modal yang diinginkan atau bahkan
keduanya.Adapun alasan utama dalam hal regulasi tersebut adalah untuk melindungi individu
yang dalam suatu keadaan yang mengakibatkan seluruh tindakan manajer dan informasi dapat
diobservasi oleh semua pihak, sehingga akibatnya yaitu tidak ada kebutuhan untuk melindungi
individu dari konsekuensi pada kerugian informasi.
Eksternalitas dan asimetri informasi juga sering digunakan untuk membenarkan
peraturan guna melindungi investor. Contohnya, yaitu aturan insider trading, MD&A, aturan
untuk mengatur profesi akuntan, dan sebagainya. Tidak hanya melindungi investor biasa,
regulasi tersebut juga bermaksud untuk meningkatkan operasi modal dan tenaga kerja manajerial
dengan cara meningkatkan kepercayaan pasar bahwa pasar bekerja dengan baik.
Pada bab ini, perhatian utama kita adalah mengenai peraturan kebutuhan pengungkapan
minimum, standar audit dan akuntansi yang diterima secara umum, dan kebutuhan perusahaan
publik untuk di audit.
Dalam mempertimbangkan masalah informasi, terdapat dua hal yang akan digunakan
sebagai acuan dalam membantu untuk membedakan jenis informasi yang mungkin dimiliki oelh
manajer, yaitu proprietary information dan non-proprietary information. Proprietary
information diartikan sebagai informasi yang jika dikeluarkan maka akan sangat mempengaruhi
arus kas masa depan perusahaan. Contohnya informasi mengenai paten yang dapat dinilai atau
rencana insentif strategis seperti penawaran pengambilalihan atau merger. Biaya manajer dan
perusahaan dalam mengeluarkan proprietary information lumayan tinggi dalam hal ini.
Berikutnya non-proprietary information, adalah informasi yang tidak secara langsung
memengaruhi arus kas perusahaan. Hal ini mencakup informasi laporan keuangan, peramalan
pendapatan, perincian pendanaan baru dan sebagainya. Audit juga termasuk salah satu informasi
non-propreiatary.

C. Ways to Characterize Information Production


Produksi informasi digunakan untuk dua alasan. Pertama, informasi sebagai suatu
komoditas yang dapat diproduksi dan dijual. Maka, wajar saja jika kita mempertimbangkan
secara terpisah biaya dan manfaat informasi yang diproduksi. Kedua, memerlukan suatu cara
yang dapat menyatukan pemikiran mengenai berbagai macam cara yang dilakukan untuk
memproduksi informasi. Informasi merupakan komoditas yang kompleks. Apa yang kita maksud
saat kita membicarakan kuantitas informasi yang diproduksi? Ada beberapa cara untuk
menjawab pertanyaan ini. Pertama, kita dapat memikirkan hal berikut:
 Kita dapat memikirkan informasi yang lebih tajam dan benar (finer information). Sebagai
contoh, termometer yang memberikan informasi mengenai suhu dalam derajat merupakan
informasi yang lebih baik ketimbang yang hanya memberi tahu mengenai apakah suhu berada
dibawah atau diats titik beku.
 Kita bisa berpikir mengenai informasi tambahan. Sebagai contoh, kita dapat menambah
barometer pada termometer kita. Dalam konteks akuntansi, tambahan informasi berarti
pengenalan sistem informasi baru untuk melaporkan hal-hal yang belum disertakan.
 Memikirkan produksi informasi yang lebih kredibilitas. Dalam contoh termometer
sebelumnya, pembeli mengetahui bahwa pabrik pasti memproduksi produk yang akurat guna
bertahan dalam bisnisnya. Kemudian, pembeli menerima termometer sebagai penunjuk suhu
yang kredibel.. Dalam audit, sering disugesti bahwa ‘Big Four’ lebih kredibel ketimbang yang
tidak termasuk.
D. Market Failures in The Production of Information
Berikut beberapa bentuk kegagalan pasar yang mencegah produksi informasi terbaik:
1. Eksternalitas dan Free – Riding
Eksternalitas merupakan tindakan atau aktivitas ekonomi yangdilakukan oleh perusahaan
atau inidvidu yang membebankan biaya atau keuntungan pada perusahaan atau individu
lainnya, dimana perusahaan yang menciptakan eksternalitas tersebut tidak dikenakan biaya
atau tidak menerima pendapatan. Free riding ialah penerimaan oleh perusahaan atau
individu atas suatu manfaat daru eksternalitas pada sedikit atau tanpa kos.
Aspek penting dari eksternalitas dan free riding ialah bahwa biaya dari keuntungan produksi
informasi yang dirasakan oleh perusahaan akan berbeda dari biaya dan keuntungan pada
lingkungan.
2. Masalah Adverse Selection
Pada konteks ini, terdapat dua versi dari adverse selection. Pertama, yaitu masalah terkait
insider trading (perdagangan saham yang bersifat ilegal). Jika kesempatan atau peluang itu
ada untuk pihak insider guna meraup keuntungan, maka kesempatan tersebut akan
digunakan oleh orang yang menginginkannya, dan investor luar juga menganggap bahwa
pasar sekuritas berjalan sebagaimana mestinya.
Versi kedua dari masalah adverse selection muncul ketika manajer yang mengetahui berita
buruk mengenai masa depan perusahaan tidak mengeluarkan informasi tersebut, dengan
demikian hal ini akan menunda atau menghindari kehancuran reputasi mereka, dan sebagai
konsekuensinya akan mengakibatkan adanya pengurangan nilai pada pasar tenaga kerja
manajerial/
3. Masalah Moral Hazard
Mengingat usaha manajer secara tipikal tidak dapat diobservasi pada pemilik perusahaan
dan pasar, maka konsekuensinya adalah manajer tidak akan berusaha untuk memaksimalkan
jalannya perusahaan sehingga pasar tenaga kerja tidak akan berjalan dengan baik.
4. Unanimity
Karakteristik ekonomi dengan pasar yang tidak bekerja dengan baik adalah kurangnya
unaminity, yang berasal dari efek adverse selection dan moral hazard seperti yang sudah
dijelaskan. Jika pasar berjalan dengan baik, pemegang saham akan berusaha bersuara
dengan bulat untuk memaksimalkan nilai pemegang saham. Namun ketika pasar tidak
bekerja dengan baik akibat adverse selection dan moral hazard, hal ini yang akan menjadi
masalah.
E. Contractual Incentives for Information Production
Dorongan untuk memproduksi informasi pribadi muncul dari kontrak yang diikuti oleh
perusahaan. Informasi diperlukan untuk memonitor ketaatan terhadap kontrak, misalnya, jika
usaha manajerial tidak dapat diamati, hal ini mengarah pada suatu kontrak insentif yang
didasarkan atas hasil operasi perusahaan. Demikian juga, suatu audit akan menambah kredibilitas
terhadap net income yang dilaporkan, sehingga baik pemilik dan manajer perusahaan bersedia
menerima net income yang dilaporkan sebagai ukuran yang andal atas kinerja manajemen.
Kontrak dapat memberikan banyak rincian dalam laporan keuangan (finer information) untuk
menyulitkan pemilik, yang sekaligus menjadi manajer, dalam menyembunyikan atau
memendamkan biaya dari penghasilan tambahan. Kontrak juga dapat mewajibkan suatu audit
untuk meningkatkan kredibilitas produksi informasi
Alasan kontraktual lainnya atas produksi informasi privat yang muncul saat perusahaan
yang dimiliki perseorangan akan go public. Ini dirumuskan oleh Jensen dan Meckling (1976).
Manajer-pemilik perusahaan go publik, setelah menjual semua atau sebagian kepentingannya,
memiliki motivasi untuk meningkatkan kelalaian. Perhatikan bahwa sebelum IPO, masalah
kelalaian merupakan urusan internal perusahaan—pemilik sekaligus manajer menanggung semua
biaya. Biaya kelalaian merupakan pengurang profit yang terjadi. Akibat adanya issue baru,
pemilik sekaligus manajer tidak memikul semua biaya itu—pemilik yang baru akan ikut
menanggung bagiannya secara proporsional. Jadi, biaya kelalaian pemilik sekaligus manajer tak
sebanyak setelah go public, sehingga ia akan mengadakan biaya kelalaian yang melebihi
sebelumnya. Ini merupakan biaya agensi bagi pemilik baru perusahaan.

F. Market-Based Incentives for Information Production


Dorongan pribadi bagi manajer untuk memproduksi informasi mengenai perusahaannya
juga berasal dari tekanan pasar. Hal ini melibatkan beberapa pasar. Pertama kali, pertimbangan
pasar manajer, seperti dibahas oleh Fama (1980), kita bisa memikirkan manajer sebagai subyek
pasar tenaga kerja manajerial, yang menempatkan nilai pasar atas jasa manajerialnya. Manajer
yang rasional akan memilih nilai pasar yang lebih tinggi, dengan asumsi hal-hal lain dianggap
sama/tidak berubah. Ini akan meningkatkan reservation utility yang dapat mereka minta dalam
kontrak pekerjaan agensi. Konsekuensinya, mereka akan terdorong untuk memaksimumkan nilai
pasar perusahaan, sebab nilai pasar mereka sendiri agaknya ditentukan oleh kesuksesan mereka
dalam menciptakan nilai pasar.
Model formal yang berkaitan dengan informasi yang dirilis bagi nilai pasar perusahaan
ditunjukkan oleh, misalnya, Merton (1987) dan Diamond & Verrecchia (1991). Dalam model
Merton, informasi asimetri dirumuskan hanya sebagai subset investor yang mengetahui tiap
perusahaan. Jika perusahaan bisa meningkatkan besar subset ini, katakanlah dengan dirilisnya
informasi secara sukarela, nilai pasarnya akan meningkat, ceteris paribus. Dalam model
Diamond dan Verrecchia, disclosure sukarela akan mengurangi informasi asimetri antara
perusahaan dengan pasar, yang memudahkan perdagangan sahamnya.

G. Are Firm Rewarded For Superior Disclosure?


1. Theory
Jika pasar dipaksa untuk memotivasi pengungkapan superior, perusahaan
seharusnya mendapatkan keuntungan berupa harga saham yang lebih tinggi (higher share
price) dan biaya modal yang lebih rendah (lower cost of capital).
Terdapat beberapa cara untuk mencapainya:
1) improve the ability of investor to diversity (meningkatkan kemampuan investor untuk
diversifikasi)
Merton (1987) menampilkan sebuah model dimana asimetri informasi dimodelkan
sebagai sebagian pengetahuan investor tentang perusahaan.Hasilnya investor dapat tidak
sepenuhnya diversity untuk menghilangkan risiko idiosyncratic (sebagaimana dijelaskan
di chapter 3.5) dimana dengan adanya risiko ini menghasilkan cost perusahaan yang lebih
besar dari CAPM model (chapter 4.5). Jika perusahaan dapat meningkatkan pengetahuan
investor dengan pengungkapan superior, maka cost of capital akan turun dan harga pasar
akan naik dan factor lain tetap.Efek tambahannya idiosyncratic risk berkurang.
2) improve liquidity (meningkatkan likuiditas)
Diamond and Verrecchia (1991) mengungkapkan model pengungkapan sukarela yang
kredibel mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dan pasar, sehingga
meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Ini menarik investor institusi besar yang
dapat menjual sebagian besar saham perusahaan tanpa risiko menurunkan harga.Harga
saham perusahaan naik sebagai hasil dari permintaan yang besar.
3) reduce investor estimation risk (mengurangi risiko estimasi investor)
Easley and O’hara (EO, 2004) mengungkapkan model dengan informasi kedalam (inside
information) dan keluar (outside information). Model ini menunjukkan semakin tinggi
estimasi pengembalian yang diinginkan investor, semakin besar informasi ke dalam
daripada informasi keluar.Alasannya adalah insiders (manajemen) dapat membuat
investasi yang lebih baik dibandingkan outsiders (investor) karena keuntungan
informasinya. Perusahaan dapat mengurangi cost of capital dan meningkatkan harga
pasar dengan cara mengurangi informasi kedalam melalui pengungkapan superior.
2. Empirical Test Of Measures Of Reporting Quality
Meskipun model teoritis telah dijelaskan sebelumnya, sejauh mana perusahaan
memperoleh manfaat dari pengungkapan kualitas tinggi merupakan pertanyaan empiris.
Banyak penelitian terkait hal tersebut, diantaranya:
1) Botosan (1997)
Penelitian dilakukan menggunakan a self developed disclosure quality scale (skala
kualitas pengungkapan dikembangkan sendiri) dimana membuktikan adanya hubungan
antara pengungkapan superior dan cost of capital yang lebih rendah bagi perusahaan
dengan beberapa analisis.
2) Francis, Nanda, and Olson (2008)
Melakukan penelitian dengan metode yang sama dengan Botosan, menemukan bahwa
terdapat hubungan yang sangat kecil atau tidak ada antara pengungkapan dengan cost of
capital. Metode a self developed disclosure quality scale (skala kualitas pengungkapan
dikembangkan sendiri) sangat subyektif dan skala pengukuran yang berbeda
memungkinkan menangkap dimensi yang berbeda dari pengungkapan.
3) Lehavy and sloan (2008)
Melakukan penelitian terhadap Merton model dimana menggunakan sejumlah perusahan
dari periode 1982-2004 sebagai sampel. Menggunakan jumlah kekayaan saham yang
dipegang oleh investor sebagai obyek yang diteliti dan menemukan bahwa ketika investor
yang tahu tentang saham meningkat maka tingkat pengembalian saham di masa datang
akan jatuh atau cost of capital lebih rendah.
4) Hail and Leuz (2009)
Melakukan penelitian terhadap sejumlah perusahaan asing selama periode 1990-2005,
menganalisis efek dari cost of capital perusahaan tersebut dan menemukan bahwa
terdapat penurunan cost of capital secara signifikan dan terus menerus perusahaan asing
tersebut. Hasil tersebut konsisten terhadap kekhawatiran investor mengurangi informasi
di dalam dan merton model.
5) Healy, Hutton, and Palepu (1999)
Menguji Diamond and Verrecchia model menggunakan peringkat analisis keuangan
terhadap kualitas pengungkapan berdasarkan laporan triwulan dan tahunan perusahaan
dan hubungan dengan investor, ditemukan bahwa perusahaan yang meningkatkan
peringkat pengungkapannya memeliki pengaruh yang signifikan dengan kenaikan harga
saham. Selain itu, ditemukan juga peningkatan yang signifikan terhadap kepemilikan
institusional.
6) Welker (1995)
Meneliti dampak dari kualitas pengungkapan terhadap komponen likuiditas. Welker
menemukan hubungan negative yang signifikan antara kualitas pengungkapan dengan
tawar menawar saham dimana hasil tersebut konsisten dengan Diamond and Verrecchia
model.
7) Sengupta (1998)
Meneliti tentang dampak kualitas pengungkapan terhadap cost of debt dan menemukan
bahwa peningkatan kualitas pengungkapan memiliki pengaruh terhadap penurunan
bunga. Alasannya adalah peminjam menyetujui kredit bunga rendah kepada perusahan
dengan pengungkapan superior.
8) Barth, Konchitchki, and Landsman (2013)
Menguji hubungan antara earning transparency dengan cost of capital. Earning
transparency adalah hubungan antara pendapatan perusahaan dengan tingkat
pengembalian saham selama tahun berjalan.Hubungan yang kuat menunjukkan bahwa
laba bersih/net income merekam lebih dari peristiwa ekonomi tertentu perusahaan yang
saat ini mempengaruhi harga saham perusahaan.
9) Ashbaugh-Skaife, Kinney, and Lafond (ACKL, 2009)
Menguji Lambert, Leuz, and Verrecchia model (LLV, 2007) terkait dampak kelemahan
pengendalian internal sesuai dengan Sarbanes-Oxley Act Section 404 (hokum atau
peraturan yang ditetapkan sebagai tanggapan terhadap berbagai skandal akuntansi pada
perusahaan dengan tujuan untuk mengembalikan kepercayaan public) dimana disebutkan
bahwa manajer dan auditor wajib melaporkan kebijakan pengendalian intern perusahaan.
Mereka menemukan bahwa perusahaan yang melaporkan adanya kelemahan
pengendalian internal ditunjukkan dengan beta, risiko estimasi, dan cost of capital yang
lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan tanpa kelemahan pengendalian intern. Hal
ini konsisten dengan prediksi LLV model terkait dampat risiko estimasi pada beta dan
cost of capital. Selain itu, ditemukan juga terdapat penurunan cost of capital yang
signifikan bila kelemahan tersebut diperbaiki.
10) Riedl and Serafeim (2011)
Menguji LLV model bahwa risiko estimasi terkait nilai wajar instrument keuangan
meningkat berdasarkan penilaian dari Level 1 ke Level 3, dimana semakin tinggi level
penilaian pertimbangan manajer lebih dibutuhkan. Semakin rendah level penilaian
menunjukkan semakin rendah risiko estimasi, beta yang lebih rendah, dan kualitas
informasi perusahaan semakin baik dibandingan level yang lebih tinggi. Hal tersebut
konsisten dengan Merton model.
3. Is Estimation Risk Diversifiable?
Teori dan bukti empiris yang dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa
perusahaan mendapat manfaat dari pengungkapan superior.Namun, beberapa investor merasa
tidak pasti terkait sejauh mana informasi di dalam perusahaan dan kemungkinan kelalaian
manajer.Sehingga muncul pertanyaan “apakah sumber dari risiko estimasi dapat dibedakan
”.Jika dapat, investor fokus tentang risiko estimasi, dimana dampak menguntungkan dari
pengungkapan superior adalah berkurangnya cost of capital. Terdapat beberapa penelitian
tentang risiko estimasi, diantaranya:
1) Dechow and Dichev (2002) memprediksi bahwa semakin rendah kualitas akrual semakin
rendah keinformatifan laba sehingga semakin tinggi risiko estimasi dan cost of
capitalnya. Penelitian ini didukung oleh studi empiris dari Francis, LaFond, and Schipper
(2005) dan peneliti lainnya dan ditentang oleh Core, Guay, and Verdi (2008) dan Ogneva
(2012).
2) Mohanram and Rajgopal (MR, 2009) menggunakan pengukuran lain untuk risiko
estimasi. Mereka menggunakan proporsi total jual beli pesanan saham yang berasal dari
investor (stock’s PIN). Mereka menemukan sedikit bukti bahwa PIN berdampak pada
cost of capital. Terkait risiko estimasi, setidaknya diukur menggunakan PIN, risiko
estimasi dapat dibedakan. Penelitian ini didukung oleh
3) Hwang, Lee, Lim, and Park (2013) menggunakan metode stock’s PIN. Mereka
menemukan hubungan positif yang signifikan antara PIN dan cost of capital.
4) Amstrong, Core, Taylor, and Verrecchia (ACTV, 2011) menguji menggunakan sampel
perdagangan saham selama periode 1976-2005. Untuk masing-masing perusahaan, risiko
estimasi diukur dengan beberapa cara termasuk tingkat persebaran dan kualitas
akrualnya. ACTV menemukan bahwa pertanyaan tentang diversifiability risiko estimasi
utamanya terkonsentrasi pada perusahaan dengan relative sedikit pemegang saham.
4. Conclusion
Dari perspektif akuntansi, tampaknya sulit untuk menyatakan bahwa perusahaan
tidak mendapatkan keuntungan dari pengungkapan superior dan mengurangi risiko estimasi
karena adanya teori dan bukti empiris yang cukup.Kami menyimpulkan bahwa banyak teori
dan bukti yang mendukung manfaat dari pengungkapan unggul, sementara sumber dan
cakupan manfaat ini belum sepenuhnya dipahami.

H. Decentralized Regulation
Dalam bagian 12.5 kita berksesimpulan bahwa pasar gagal dalam menghasilkan
informasi yang dianggap penting sehingga diperlukan beberapa peraturan atau regulasi.Kita
menyebutnya sebagai pendekatan yang fleksibel “Regulasi desentralisasi” disebut juga dengan
pendekatan manajemen yaitu keputusan didesentralisasikan pada keputusan intern
manajemen.Desentralisasi dapat meningkatkan relevansi pelaporan karena telah disesuaikan
dengan keadaan/situasi perusahaan.
Pelaporan segmen merupakan salah satu contoh regulasi desentralisasi.Informasi
tentang segmen perusahaan sangat berguna bagi investor dalam evaluasi kinerja perusahaan,
informasi yang relevan seperti membedakan risiko, tingkat pengembalian, dan kesempatan untuk
berkembang.Selanjutnya, perusahaan bervariasi dalam tingkat dan basis segmentasi, sehingga
informasi segmen harus lebih memungkinkan investor untuk menghargai perusahaan individu.
IFRS 8 (2006) mengatur tentang pelaporan segmen dimana mengharuskan perusahaan
melaporkan informasi segmen atas dasar yang samayang mengatur segmen yang secara internal
untuk pengambilan keputusan manajemen dan evaluasi kinerja.Standar yang serupa adalah ASC
280-10 berlaku di United States.
Ada dua persyaratan, yaitu:
1. Berbagai basis/dasar segmentasi yang mungkin dilakukan, melaporkan pada basis yang
konsisten dengan model bisnis perusahaan dan organisasi internal, akan sangat berguna bagi
investor, karena manajemen tahu cara terbaik bagaimana mengatur bisnis perusahaan,
menghasilkan produk dan layanan, dan mengatur risiko, pengembalian, dan perkembangan
yang dihadapi.
2. Oportunisme cost dalam pelaporan segmen akan tinggi, karena berdasarkan standar yang
baru saja dijelaskan, perusahaan perlu untuk mengubah organisasi internal jika keinginan
untuk mengubah format pelaporan segmen.
I. How Much Information is Enough?
Meskipun pasar gagal dalam menghasilkan informasi, kita tidak harus berasumsi bahwa
peningkatan regulasi benar-benar dibutuhkan. Hal itu dikarenakan regulasi disertai dengan cost
yang sangat besar.
1. Direct cost
Digunakan untuk menyusun dan mengelola regulasi, serta compliance cost (biaya
kepatuhan) yang diterapkan pada perusahaan.
2. Indirect cost
a. Untuk menerapkan standar akuntansi dan pelaporan yang sama akan mengurangi
kesempatan manajer untuk melakukan signal. Standar audit yang seragam untuk semua
perusahaan dan perkiraan yang ketat merupakan contoh standar yang mungkin dilakukan
untuk mengurangi signal.
b. Pembuat regulasi tidak dapat menghitung jumlah optimal informasi yang dibutuhkan
secara sosial. Informasi dianggap sebagai komoditi yang sangat kompleks karena
regulasi pembentukan informasi sangat kompleks karena ada konflik antara kegunaan
keputusan dan kebutuhan informasi kontraktual, dan karena investor yang berbeda
memiliki kebutuhan keputusan yang berbeda.
Berdasarkan pertimbangan cost-benefit yang sangat kompleks, kita tidak tahu seberapa
banyak regulasi bisa mencukupi. Saat ini aman dikatakan bahwa deregulation tidak benar-benar
dibutuhkan secara sosial. Dampak yang tidak terkontrol dari asimetri informasi, eksternality, dan
moral hazard akan cukup serius yang mungkin menyebabkan pasar berhenti berfungsi
sebagaimana mestinya. Tidak juga terhadap regulasi lengkap yang diinginkan, karena cost untuk
menghilangkan kebijakan akuntansi dan pilihan pengungkapan akan sangat besar sehingga
meninggalkan pertanyaan yang cukup untuk memperdebatkan sejauh mana regulasi dibutuhkan.

J. Conclusions on Standard Setting Related to Economic Issues


Pertanyaan terkait sejauh mana standar dalam menghasilkan informasi harus diterapkan
merupakan hal yang kompleks dan penting bagi akuntan karena sangat menentukan lingkungan
dimana akuntan bekerja.Penerapan standar juga sangat penting bagi ekonomi pasar, dicontohkan
regulasi tentang keputusan pembuatan informasi perusahaan.
Teori menyarankan sejumlah alasan mengapa perusahaan harus menghasilkan
informasi, diantaranya kebutuhan informasi secara kontraktual dan kekuatan pasar.Pihak terkait
menginginkan informasi untuk memotivasi usahanya dan mendapat prestasi/reward.
Kekuatan pihak swasta tidak diragukan menghasilkan banyak informasi.Secara teori,
jumlah informasi yang dihasilkan dari kekuatan swasta itu sendiri mungkin jatuh seiring dengan
permintaan masyarakat. Ada 2 alasan, yaitu:
1. Kontrak dalam menghasilkan informasi akan terpecah ketika banyak orang yang terlibat
sehingga kita tidak bisa mengandalkan kontrak untuk semua kebutuhan informasi.
2. Ketika kontrak terpecah, harga pasar harus mengambil alih sebagai motivator dalam
pembuatan informasi.
Bagaimanapun juga, penting disadari bahwa kekuatan swasta tidak perlu sepenuhnya
menghilangkan kegagalan pasar untuk mencegah regulasi. Hal ini karena regulasi memiliki cost,
terdiri dari direct cost dan indirect cost. Mengingat dampak dari pembuatan informasi
perusahaan, pembiayaan, dan keputusan investasi, dan permasalahan ekonomi, cost dapat
menjadi signifikan.
Chapter 13

STANDARD SETTING: POLITICAL ISSUES

A. Overview
Tujuan pertama dalam bab ini adalah untuk mereviu dua teori mengenai regulasi. Teori
yang pertama yaitu public interest theory. Teori ini memandang bahwa regulasi seharusnya dapat
memaksimalkan kesejahteraan sosial. Teori yang kedua yaitu interest group theory. Teori ini
menyatakan bahwa individu-individu dalam koalisi atau konstituen akan melindungi dan
mempromosikan kepentingan (interest) mereka dengan cara melobi pemerintah. Koalisi-koalisi
tersebut dipandang memiliki konflik antara satu sama lain untuk mencapai keuntungan dari
regulasi yang ada.
Tujuan yang kedua yaitu untuk mempertimbangkan kriteria yang perlu
dipertimbangkan oleh penyusun standar (standard setters) agar standar yang mereka buat dapat
diterima. Secara khusus, standar tersebut harus dapat diterima oleh berbagai konstituen yang
beragam tersebut.

B. Two Theories Of Regulation


1. The Public Interest Theory
Teori ini menyatakan bahwa regulasi merupakan respon terhadap tuntutan publik
terhadap koreksi atas kegagalan pasar. Dalam teori ini, pembuat regulasi diasumsikan paling
mengutamakan kepentingan publik. Mereka diasumsikan akan berusaha sebaik mungkin
untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial, yaitu dengan mencapai jumlah produksi
informasi yang terbaik/paling optimal. Akibatnya, regulasi dipandang sebagai suatu tradeoff
antara biaya (cost) dan manfaat sosial (social benefit) dalam bentuk operasi pasar yang
meningkat.
Hal tersebut merepresentasikan kondisi ideal di mana suatu regulasi seharusnya
dilaksanakan. Meskipun demikian, terdapat beberapa masalah dalam pelaksanaannya.
Masalah tersebut di antaranya adalah tidak mungkin untuk memenuhi keinginan semua
orang. Masalah selanjutnya yaitu bagaimana menentukan seberapa banyak regulasi yang
harus dibuat. Selain itu, masalah yang tidak kalah penting yaitu mengenai motivasi para
pembuat regulasi. Sulit bagi pemerintah untuk mengawasi kerja para pembuat regulasi,
meskipun mereka merupakan bagian dari pemerintah. Hal tersebut dapat memunculkan
masalah moral hazard, yaitu kemungkinan bahwa para pembuat regulasi akan bekerja demi
kepentingannya sendiri dan bukan demi kepentingan publik.

2. The Interest Group Theory


Interest group theory dalam regulasi pertama kali diperkenalkan oleh Stigler (1971).
Selanjutnya, Posner (1974), Peltzman (1976), dan Becker (1983) juga memberikan kontribusi
kepada teori tersebut, yang mempunyai pandangan bahwa sebuah industri beroperasi dengan
adanya sejumlah kelompok kepentingan (interest groups), atau konstituensi, di dalamnya.
Berbagai macam kelompok kepentingan tersebut akan berusaha melobi para pembuat
regulasi untuk menyusun regulasi dalam berbagai macam ukuran dan jenis. Berbagai macam
kelompok kepentingan tersebut dapat dianggap sebagai pihak yang menuntut adanya
regulasi.
Konstituen tersebut juga mungkin akan melobi para pembuat regulasi karena tidak
setuju dengan regulasi yang dibuat.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Becker, kelompok kepentingan dipandang
sebagai pihak-pihak yang akan berkompetisi untuk memperjuangkan atau menentang suatu
regulasi. Hasilnya tergantung pada kelompok mana yang secara relative lebih efektif dalam
memberikan tekanan pada para pembuat regulasi.
Interest group theory membuat beberapa perkiraan/prediksi berikut:
 Creation of standard-setting bodies
Dibutuhkan biaya yang tinggi untuk membuat kelompok besar dan untuk melobi
manajemen. Selain itu, akan ada kecendengungan beberapa investor menjadi free rider.
Oleh karena itu, para investor akan mendukung pembentukan badan penyusun standar,
dengan perwakilan di dalamnya yang akan bekerja untuk kepentingan mereka.
 Activities subject to market failure
Dalam teori Becker, kegagalan pasar akan meningkatkan potensi keuntungan atas
regulasi untuk para investor. Sejauh manajemen merupakan sumber dari kegagalan pasar
tersebut, diharapkan untuk mengamati regulasi yang dapat dipertimbangkan mengenai
pengungkapan informasi oleh manajemen.
 Due process
Diharapkan manajemen dapat terlibat dalam pengembangan standar melalui, misalnya,
reaksi atas exposure draft dan representasi dalam standars board.

Interst group theory kemudian diperluas oleh Bertomeu dan Magee (2011). BM
mempertimbangkan bagaimana seberapa jauh suatu regulasi dapat berbeda-beda dalam siklus
bisnis. Selain itu, kualitas pelaporan seperti apa yang ditetapkan oleh penyusun standar?
Model ini kemudian menyatakan bahwa penyusunan standar merupakan sebuah proses yang
dinamis, dipengaruhi oleh tuntutan dari manajer, bankir, dan pemerintah. Tuntutan-tuntutan
tersebut dapat berubah seiring waktu, tergantung pada kondisi (state) ekonomi.

3. Teori Regulasi Mana yang Dapat Diterapkan dalam Penyusunan Standar?


Sudah jelas bahwa public interest theory sulit untuk diimplementasikan. Kita tidak
tahu bagaimana cara menghitung tradeoff dalam penggunaan informasi antara investor dan
manajemen yang dibutuhkan dalam teori tersebut. Oleh karena itu, dipertimbangkan bahwa
interest group theory dalam regulasi sebagai teori yang dapat memprediksi/memperkirakan
standar baru yang lebih baik daripada public interest theory, karena interest group theory
secara formal mengakui adanya konstituen-konstituen yang bertentangan kepentingannya.

C. Conflict And Compromise: An Example Of Constituency Conflict


Pada bulan November 2009, selama perdebatan di U.S. Congress of the Financial
Stability Improvement Act, dua anggota DPR memperkenalkan amandemen berjudul "Prudential
Oversight of Accounting Principles and Standards that Pose Systemic Risk". Perubahan tersebut
akan menggeser pengawasan FASB dari SEC ke Financial Services Oversight Council, yang
terdiri dari perwakilan dari U.S. Treasury, regulator perbankan AS, SEC, dan beberapa lembaga
regulator lainnya. Jika ada anggota Dewan merasa bahwa prinsip akuntansi atau standar
mengancam stabilitas sistem keuangan AS, Dewan akan menyelidiki dan, jika disetuji dengan
suara terbanyak, memaksa SEC untuk mengambil "tindakan korektif" yang bisa mencakup
modifikasi atau pembatalan standar tersebut.
The American Bankers' Association (Asosiasi Bankir Amerika), sebuah konstituen
penting dan kuat yang memikirkan tentang akuntansi perbankan, mendukung amandemen
tersebut, mungkin karena kekhawatiran atas efek dari nilai wajar akuntansi untuk instrumen
keuangan pada rasio modal legal selama kegagalan pasar (market meltdowns) pada tahun 2007-
2008, dan kekhawatiran atas standar FASB baru yang mencakup persyaratan yang diperluas
untuk konsolidasi kegiatan di luar neraca (off balance sheet).
Mengikuti keberatan yang kuat dari konstituen lainnya (termasuk kelompok
perlindungan investor, U.S. Chamber of Commerce, dan American Accounting Association),
amandemen tersebut ditarik dan diganti oleh satu amandemen yang menuntut anggota Financial
Services Oversight Council untuk "mereviu dan berkomentar" pada standar akuntansi. Karena
SEC sudah memiliki kekuatan ini, amandemen baru tersebut secara substansial melemahkan
proposal awal.
Inti dari konflik antara penyusun standar dan konstituen yang terkena dampak seperti
ini adalah bahwa standar tidak dapat ditetapkan dalam kondisi ”vacuum”. Jika konstituen penting
tidak dapat memperoleh apa yang mereka inginkan, mereka akan mengajukan banding ke proses
politik.

D. Distribution Of The Benefits Of Information, Regulation Fd


Seperti sudah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, komplikasi dalam masalah
penyusunan standar adalah mengenai distribusi manfaat produksi informasi antara kelompok-
kelompok kepentingan. Bagaimana distribusi/pembagian tersebut diputuskan?
Regulasi dimaksudkan untuk meningkatkan keadilan dalam distribusi informasi.
Sebagai contoh, SEC Regulation FD, yang diadopsi pada tahun 2000, melarang perusahaan
untuk mengungkapkan informasinya secara pilih-pilih (selective disclosure), misalnya kepada
analis. Regulation FD muncul dari pemikiran bahwa para “big guy” mungkin mempunyai
sumber yang lebih banyak, baik secara langsung maupun pengutamaan akses kepada analis dan
untuk menemukan serta menganalisis informasi. Selain itu, mereka mungkin juga mempunyai
bargaining power yang cukup untuk memperoleh pengutamaan dalam memperoleh informasi
dalam perusahaan langsung dari manajemen.
Pengenalan Regulation FD diliputi oleh konflik konstituensi. Satu prediksi
menyebutkan bahwa abnormal share return antara tanggal-tanggal pengumuman laba akan
menjadi lebih cenderung mudah berubah (volatile), karena informasi baru akan dikeluarkan oleh
perusahaan langsung ke pasar, bukannya disaring melalui analis. Perlu diperhatikan bahwa
volatilitas (kecenderungan untuk mudah berubah) atas share returns merupakan ukuran bagi
informasi baru yang masuk ke pasar. Dengan demikian, semakin tinggi volatilitas antara
pengumuman laba berarti bahwa pasar menerima informasi lebih banyak secara lebih cepat. Dari
sudut pandang investor kecil, hal ini merupakan hal yang diinginkan, karena berarti bahwa waktu
yang dimiliki oleh orang-orang dalam dan para big guy untuk memperoleh keuntungan dari
informasi dalam akan menjadi lebih sedikit. Namun dari pihak FD, yang merepresentasikan
kelompok dengan para investor besar, menyatakan bahwa untuk menurunkan volatilitas harga
saham tersebut, perusahaan harus menurunkan jumlah informasi yang mereka keluarkan antara
pengumuman laba.
Francis, Nanda, dan Wang (2006) dalam penelitiannya tidak menemukan adanya
peningkatan dalam abnormal share returns, baik antara tanggal pengumuman laba ataupun pada
tanggal-tanggal di sekitar tanggal pengumuman laba, yang menunjukkan bahwa Regulation FD
hanya sedikit berpengaruh dalam meningkatkan jumlah maupun timing dari pengumuman
informasi ke pasar. Meskipun demikian, mereka menemukan bahwa, setelah adanya FD, adanya
abnormal share returns yang lebih rendah di sekitar tanggal analis mengumumkan prakiraan
laba. Hal tersebut menunjukkan bahwa prakiraan yang dibuat oleh analis menjadi kurang
informatif.
Dalam bab ini, disimpulkan bahwa tidak jelas sejauh mana Regulation FD telah
memberikan keuntungan bagi para investor kecil. Hanya satu tujuannya saja yang nampaknya
terpenuhi, yaitu penurunan manfaat atas informasi yang diperoleh dari analis.

E. Criteria For Standard Setting


1. Decision Usefulness
Kriteria ini sulit untuk diukur sebelumnya, karena pasar belum mempunyai
kesempatan untuk merespon standar yang dimaksud. Meskipun demikian, teori investor
rasional dapat digunakan untuk memperkirakan kemanfaatan dalam pengambilan keputusan
tersebut. Sebagai contoh, Bandyopadhyay (1994) memperkirakan bahwa laba perusahaan
minyak dan gas yang dilaporkan dalam kondisi yang sukses akan lebih informatif jika
dibandingkan dengan yang dilaporkan di bawah akuntansi full-cost.

2. Reduction of Information Asymmetry


Para penyusun standar seharusnya menggunakan pengurangan asimetri informasi
dalam pasar modal dan tenaga kerja manajerial sebagai kriteria untuk standar yang baru.
Pengurangan tersebut akan meningkatkan operasi pasar, karena investor akan memandang
investasi sebagai lahan bermain dengan tingkatan yang lebih tinggi. Hal tersebut akan
menurangi kekhawatiran investor mengenai asimetri informasi dan menghasilkan risiko
estimasi, mengurangi bid-ask spread dan memperluas likuiditas pasar, serta menghasilkan
manfaat sosial secara umum dari pasar yang bekerja dengan lebih baik.
Meskipun demikian, pengurangan asimetri informasi ini memakan biaya. Oleh
karena itu, sulit untuk mengetahui kapan pengurangan asimetri informasi ini akan efektif
secara biaya (cost effective).

3. Economic Consequences of New Standards


Konsekuensi ekonomi atas standar baru lebih banyak berhubungan dengan cost
yang ditimbulkan oleh adanya standar baru tersebut. Salah satu cost yang muncul adalah cost
yang memaksa perusahaan dan manajer untuk mematuhi atau memenuhi standar baru
tersebut. Selain itu cost juga tercipta oleh kekakuan kontrak, seperti meningkatnya
probabilitas pelanggaran perjanjian utang dan pengaruh tingkat dan volatitlitas aliran bonus
manajer di masa depan. Cost ini dapat mempengaruhi kebijakan operasi dan keuangan
manajer.
Pengurangan kebebasan manajer untuk memilih dari kebijakan akuntansi berbeda
yang seringkali dihasilkan ketika sebuah standar baru diterapkan juga merupakan sebuah
sumber konsekuensi ekonomi. Model Darrough dan Stoughton menyatakan dalam industri
yang kompetitif mungkin lebih sedikit kebutuhan standar akuntansi dalam industri tersebut
dibanding dengan industri lain.
Pernyataan tersebut menyatakan bahwa penyusun standar harus mempertimbangkan
kemungkinan konsekuensi ekonomi atas standar baru sebagai sumber biaya penting yang
akan mempengaruhi kebutuhan akan standar dan keinginan konstituen untuk menerima
standar tersebut.
4. Consensus
Karena adanya aspek politis dalam penyusunan standar, penyusun standar harus
membangun konsensus yang cukup kuat meskipun konstituen tidak menyukai suatu standar
baru. Struktur dan proses hukum badan penyusunan standar dibentuk untuk mendorong
semacam suatu konsensus. Kita menyimpulkan sebelumnya bahwa proses penyusunan
standar terlihat paling konsisten dengan the interest group theory of regulation. Sementara
perhatian terhadap proses hukum mungkin menghabiskan waktu, perhatian seperti terlihat
penting jika kemahalan dan pencabutan diminimalisasi.

5. Summary
Penyusun standar akuntansi dapat dipandu oleh kebermanfaatan keputusan dan
pengurangan asimetri informasi. Kriteria tersebut diperlukan, tetapi tidak cukup untuk
memastikan keberhasilan penyusunan standar. Diperlukan juga untuk mempertimbangkan
kepentingan sah manajemen dan konstituen yang lain, dan untuk memberi perhatian secara
hati-hati ke dalam proses hukum.

F. The Regulator’ s Information Asymetri


Theory of Regulation mengakui bahwa regulator menghadapi asimetri informasi,
banyak informasi yang dibutuhkan oleh regulator seperti informasi keuangan, dipegang oleh
manajer perusahaan yang secara monopoli memproduksi informasi tentang perusahaan.
Selanjutnya manajer tidak bisa mengamati usaha manajer. Sehingga regulator menghadapai
permasalahan adverse selection dan moral hazard.

Model Laffont dan Tirole (LT;1993)


Model yang dikembangkan Laffont dan Tirole (LT;1993) secara umum menunjukkan
pengaruh asimetri terhadap regulasi yang dibuat oleh regulator. Informasi diminta oleh investor
dan dipenuhi oleh manajer. Jika tidak diatur, manajer akan memilih-milih informasi yang
dikeluarkan. Kualitas informasi yang tinggi diharapkan oleh investor yang akan menghargai
perusahaan dengan cost of capital yang lebih rendah. Manajer diasumsikan rasional, risiko
netral, dan enggan usaha. Manajer harus diberi kompensasi atas usaha mereka menerbitkan
informasi. Manajer memiliki informasi privat yang digunakan oleh manajer untuk memperoleh
kompensasi tambahan melalui perilaku opportunis. Tanpa regulasi, manajer akan memilih
kualitas informasi yang akan dikeluarkan, dan mengambil manfaat informasi internal untuk
mendapatkan kompensasi lebih.
Asumsi pertama adalah bahwa tidak ada asimetri informasi, antara manajer dengan
regulator, sehingga regulator memiliki informasi yang cukup untuk menentukan kualitas
informasi yang harus dikeluarkan oleh manajemen. Dengan demikian manajemen tidak
mendapatkan kompensasi lebih.
Asumsi kedua adalah bahwa terdapat asimetri informasi, sehingga regulator tidak bisa
mengetahui informasi internal perusahaan/manjer. Oleh karena itu, regulator tidak dapat
mencegah manajer mengeksploitasi informasi internal untuk memperoleh kompensasi lebih.
Regulator menyusun regulasi yang optimal yaitu kualitas informasi yang memaksimalkan
perkiraan informasi internal atas manfaat sosial informasi di bawah kondisi tersebut. Di bawah
kondisi asimetri informasi, kualitas informasi yang diatur lebih rendah. Di bawah model asimetri
informasi, regulasi yang optimal membatasi kompensasi berlebih pada manajer.
Dari sudut pandang akuntansi, ditarik tiga kesimpulan dari model tersebut:
 Jika penyusun standar mengikuti publik interest theory, yang secara optimal penyusunan
standar mengijinkan beberapa pengurangan kualitas pendapatan sehingga membatasi
kemampuan manajer untuk menerima lebih banyak kompensasi dibanding yang diperlukan
untuk memenuhi persyaratan utility.
 Untuk akuntan dapat mengurangi jumlah informasi internal, masalah kompensasi lebih
manajer menjadi berkurang. Tentu pengurangan tersebut tidak lengkap karena biaya untuk
penghilangan semua informasi internal perusahaan dilarang.
 Regulasi optimal merupakan hal spesifik perusahaan, karena karakteristik perusahaan dan
manajer berbeda. Hal ini juga menyarankan selain meletakkan standar yang meliputi banyak
hal untuk diterapkan ke semua perusahaan, regulator harus mengijinkan fleksibilitas kualitas
pelaporan. Hal ini mendukung principles-based approach untuk penyusunan standar, di mana
keandalan ditempatkan pada pertimbangan akuntan dan auditor untuk menyusun standar
umum untuk situasi spesifik.

Penelitian Dessein (2002)


Penelitian Dessein (2002) yang memodelkan outcome dari permainan strategi
pelaporan antara regulator dan manajer. Asumsi bahwa regulator adalah komisi sekuritas,
ditugaskan oleh pemerintah dengan tanggung jawab utama untuk melindungi kepentingan
investor. Komisi tersebut menghadapi sebuah keputusan tentang keluasan penyusunan standar
dengan memberikan standar akuntansi berkualitas tinggi, atau mengurangi kualitas standar
dengan mengijinkan manajer perusahaan setidaknya beberapa fleksibilitas kebijakan akuntansi.
Alternatif pertama membutuhkan informasi tentang kebijakan akuntansi yang paling
berguna untuk perusahaan. Manajer mengetahui kebijakan yang paling berguna tidak
mengkomunikasikannya dengan regulator. Kekurangan pengetahuan internal, regulator harus
mengusahakan untuk menyusun standar berdasar pada informasi terbaik yang dapat diperoleh.
Regulator akan memiliki beberapa informasi awal tentang kebijakan yang paling berguna, karena
mengetahui kondisi ekonomi saat ini, industri perusahaan, struktur modal, opsi saham beredar,
dll. Meskipun tidak mengetahui secara tepat. Alternatif kedua, tidak sepertinya bahwa manajer
akan mengeluarkan banyak informasi kepada investor seperti yang diinginkan secara sosial
(kegagalan pasar dalam memproduksi informasi). Manajer mungkin menggunakan kebijakan
akrual dan pilihan kebijakan akuntansi lainnya untuk mengelola pelaporan pendapatan.
Regulator memiliki dua opsi. Dibawah opsi komunikasi, mensyaratkan manajer untuk
menyampaikan informasi return, termasuk laporan pendapatan dan MD&A. Setelah memeriksa
return, regulator merevisi probabilitas sebelumnya atas kebijakan akuntansi yang terbaik bagi
perusahaan, dan kemudian menetapkan standar untuk meminta perusahaan untuk melaporkan
berdasarkan hal itu. Alternatifnya, di bawah opsi delegasi, dapat mengurangi keluasan
penyusunan standar dengan mendelegasikan keputusan pelaporan kepada manajer, sebagai
akibatnya membiarkan kemungkinan pelaporan pendapatan bias, tetapi mengandalkan kekuatan
pasar untuk mengendalikan bias tersebut. Opsi yang dipilih tergantung dari informasi awal yang
dimiliki regulator.
Model Dessein lebih lanjut meningkatkan pemahaman tentang proses penyusunan
standar. Model ini mengasumsikan bahwa tujuan komisi sekuritas adalah untuk memaksimalkan
kegunaan pelaporan keuangan bagi investor (public interest theory), keputusan komisi tentang
luasnya penyusunan standar mengambil tempat dihadapan konflik antara regulator dan manajer.
Lebih jauh analis menunjukkan kondisi untuk delegasi penyusunan standar oleh komisi sekuritas
sebagai badan penengah, kosisten dengan pengamatan kita dalam praktik. Dengan menunjukkan
manfaat sosial komunikasi antara intermediary dengan manajemen, mendukung proses, sesuai
dengan pernyataan kita bahwa manajemen yang responsible memiliki kepentingan yang sah
dalam pelaporan keuangan.

G. International Integration of Capital Markets


1. Convergence of Accounting Standard
Akuntansi berlangsung dalam institusi sosial, politik, legal, dan ekonomik di
berbagai negara. Pasar modal menjadi lebih terintegrasi di seluruh dunia, investor
menginvetasikan secara meningkat dalam perusahaan di negara asing, dimana custom,
intitusi, dan standar akuntansi mungkin berbeda dari negara asal investor. Oleh karena itu,
evaluasi aspek politik penyusunan standar harus diintegrasikan secara internasional. Salah
satu respon atas integrasi pasar modal adalah untuk mengikuti seperangkat standar akuntansi
internasional untuk menggantikan PABU/GAAP lokal. Hal ini akan menurunkan beberapa
biaya atas pertukaran saham, seperti biaya persiapan laporan keuangan perusahaan, cost of
capital. Meningkatnya keterbandingan laporan keuangan menurunkan biaya untuk analist
dan pengguna laporan keuangan yang lain.
Covrig, DeFond, dan Hung (2007) meneliti kepemilikan saham atas reksa dana
untuk sampel perusahaan dari 29 negara di luar AS dan Kanada. Mereka menemukan bahwa
reksa dana asing (dana tidak berlokasi di negara yang sama dengan perusahaan berada)
termasuk portofolio secara signifikan lebih tinggi jumlah saham perusahaan yang sukarela
mengadopsi IASB, dibandingkan perusahaan yang menggunakan menggunakan
PABU/GAAP lokal. Tan, Wang, dan Welker (2011) meneliti 25 negara yang mengadopsi
standar IFRS selama 1988-2007, menemukan bahwa jumlah analist asing mengikuti
perusahaan yang mengadopsi meningkat. Mereka juga menemukan bahwa akurasi
peramalan pendapatan oleh analist asing meningkat. Hasil ini menyatakan sebuah
peningkatan dalam keterbandingan laporan keuangan dari adopsi IFRS.
Pertanyaan konvergensi muncul, haruskah konvergensi menjadi standar FASB atau
IASB? Sebuah respon adalah untuk mempertemukan kedua standar. 2002 Norwalk
Agreement antara FASB dan IASB mempercayakan kedua badan untuk bekerja menuju
seperangkat standar berkualitas tinggi. Beberapa kemajuan telah dibuat ke arah konvergensi
IASB/FASB standar yang meliputi pembebanan ESO, metode pembelian atas akuntansi
pembelian goodwill, other comprehensive income yang mengikuti net income dalam satu
laporan pendapatan komprehensif, atau laporan terpisah mengikuti laporan pendapatan
bersih. Namun, perbedaan tetap ada. Sebagai contoh, standar IASB tidak memperbolehkan
metode persediaan LIFO. IAS 16 memperbolehkan revaluasi atas property, plan, and
equipment, sedangkan cost historis umumnya digunakan di AS dan Kanada. Development
costs mungkin dikapitalisasi di bawah IAS 38, sedangkan di AS, hampir semua R&D adalah
biaya. Perbedaan yang tersedia tetap ada, kemajuan lebih jauh dalam penyatuan standar
akan membutuhkan waktu dan akan mensyaratkan pengembangan lebih jauh atas Rerangka
Konseptual.

2. Effects of Customs and Institutions on Financial Reporting


Pelaporan keuangan dipengaruhi oleh institusi dan custom lokal. Ball, Kothari, and
Robin (BKR; 2000), dalam sebuah penelitian selama 1986-1995 membandingkan laporan
keuangan di beberapa negara common law (Australia, UK, AS,) dengan kualitas pelaporan
di negara code law (Perancis, Jerman dan Jepang). Di negara common law, standar
akuntansi ditetapkan, pada berbagai tingkat, pada sektor privat, dan khususnya berorientasi
kepada investor. Standar di negara code law ditetapkan secara khusus oleh pemerintah,
karenanya menjadi subjek dari lebih banyak pengaruh politik dibandingkan common law.
BKR menegaskan, lebih sedikit asimetri informasi di negara code law, karena konstituen
penting adalah pihak dalam selain dari pada pihak luar.
BKR memprediksi bahwa pelaporan keuangan memiliki lag recognition lebih
besar dalam negara code law daripada negara common law. BKR juga memprediksi bahwa
pelaporan keuangan konservatif lebih sedikit di negara code law. Karena pengaruh pihak
dalam akan benar-benar waspada atas kerugian, mereka dapat secara cepat menekan dan
menanggungkan manajemen untuk mencegah dan memperbaikinya. Konsekuensinya, lebih
sedikit kebutuhan untuk standar konservatif, seperti impairment test, dibandingkan negara
common law. Efeknya biaya agensi atas kontrak antara manajer dan pemilik lebih rendah di
negara code law. Recognition lag yang tinggi dan kurangnya akuntansi konservatif
menyarankan bahwa pelaporan keuangan di negara code law adalah lebih rendah
kualitasnya dibandingkan di bawah common law. Ini tidak berarti bahwa pelaporan
keuangan di bawah code law lebih opportunistic dibanding di bawah common law.
Sebaliknya perbedaan ini merefleksikan mendasari perbedaan dalam struktur institusi, biaya
agensi, dan corporate governance.
Pada umumnya, negara dalam penelitian tersebut tidak menggunakan standar
akuntansi internasional. Jika seluruh negara mangadopsi standar internasional, biaya yang
lebih tinggi bagi investor dalam menginterpretasi dan menganalisis laporan keuangan
perusahaan asing dalam mengahadapi perbedaan seperti timeliness dan konservatime akan
menghilang. Standar akuntansi berkualitas tinggi adalah fleksibel, mereka mengijinkan
pertimbangan penilaian dan kebijaksanaan dalam penerapan kebijakan akuntansi.
Ball, Robin, dan Wu (BRW;2003) meneliti sampel perusahaan antara 1984-1996
dari Hong Kong, Singapore, Malaysia, dan Thailand yang mengadopsi standar berkualitas
tinggi, seperti IASB, yang berasal dari negara common law. Karakteristik institusi di
keempat negara seperti code law. Hal ini mengurangi biaya agensi atas manajerial dan
kontrak utang, karena kebutuhan informasi untuk tindakan pengawasan dan perbaikan dapat
dikomunikasikan di antara pihak internal daripada melalui pengungkapan keuangan. Hal ini
mengurangi kebutuhan untuk pelaporan konservatif dan timely, sesuai dengan penelitian
BKR. BRW menemukan bahwa pelaporan keuangan di negara tersebut, diukur dengan
recognition lag dan konservatisme, sama dengan negara code law berkualitas rendah.
Menyarankan bahwa kita tidak bisa menerima dengan yakin bahwa standar berkualitas
tinggi dengan sendirinya akan meningkatkan pelaporan keuangan.
Bushman dan Piotroski (2006), yang meniliti sebuah sampel 38 negara selama
periode 1992-2001. Mereka menemukan bahwa negara dengan keterlibatan besar dalam
ekonomi, recognition untuk good news perusahaan relatif rendah, sementara lag untuk bad
news relatif tinggi. Kecenderungan ini untuk memaksimalkan pelaporan pendapatan melalui
pengakuan good news lebih cepat dan smoothing kerugian menunjukkan bahwa untuk
mengurangi posibilitas keterlibatan negara lebih jauh mendominasi berbagai perhatian
perusahaan mungkin memiliki pelaporan keuangan berkualitas rendah dan mungkin tekanan
rasial.
3. Enforcement Accounting Standards
Standar akuntansi harus ditegakkan jika ingin memberikan kontribusi untuk
pelaporan keuangan yang berkualitas tinggi.Penegakan standar terkait dengan perlindungan
terhadap investor kecil. Investor akan menghadapi resiko yang serius bila tidak adanya
penegakan standar untuk terpenuhinya laporan keuangan yang berkualitas tinggi. Investor
kecil ini akan sangat tertekan dengan kepentingan dari pemegang kuasa / kendali. Hal ini
tentu membuat suatu permasalahan baru selain permasalahan “agency theory” yaitu antara
pemilik saham mayoritas dengan pemilik saham minoritas. Semakin kuat kepemilikan maka
semakin besar mereka memegang kebijakan.juga semakin kuat mereka melindungi
kepentingan mereka sendiri.
Audit adalah mekanisme penegakan yang penting. Menggunakan jasa auditor
berkualitas tinggi merupakan salah satu jalan keluarnya. Dengan laporan keuangan yang
telah di audit menguatkan investor dan manajemen membuat kontrak yang efisien yang
nantinya dapat menghindarkan dari kelebihan kompensasi, pembayaran di luar gaji pihak
yang terkait.

4. Benefits of Adopting High-Quality Accounting Standards


Mengadopsi salah satu Standar Akuntansi yang diakui memiliki kualitas yang baik
merupakan salah satu cara untuk membuat kebijakan akuntansi
Beberapa pihak mengatakan bahwa penentuan standar akuntansi internasional
merupakan solusi yang terlalu sederhana atas masalah yang rumit. Lebih jauh lagi,
ditakutkan bahwa adopsi standar internasional akan menimbulkan “standar yang
berlebihan”. Perusahaan harus merespon terhadap susunan tekanan nasional, politik, sosial,
dan ekonomi yang semakin meningkat dan semakin dibuat untuk memenuhi ketentuan
internasional tambahan yang rumit dan berbiaya besar.
Harapan pembuat kebijakan dengan mengadopsi standar akuntansi berkualitas
tinggi tentunya untuk menghasilkan laporan keuangan yang andal dan daya banding
internasional. Kebijakan akuntansi berhubungan erat dengan kebijakan perpajakan.
Mengadopsi standar akuntansi memungkinkan berubahnya sitem / kebijakan perpajakan
suatu negara.Standar akuntansi adalah akuntansi kebijakan dalam rangka memenuhi
kebutuhan politik dan ekonomi nasional yang berbeda-beda di setiap negara
Dunia akuntansi saat ini masih disibukkan dengan adanya standar akuntansi yang
baru yaitu Standar Akuntansi Keuangan Internasional IFRS.
Tentang tujuan penerapan IFRS adalah memastikan bahwa penyusunan laporan
keungan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimasukkan dalam laporan
keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang terdiri dari :
• Memastikan bahwa laporan keuangan internal perusahaan mengandung infomasi
berkualitas tinggi
• Tranparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang
disajikan
• Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna
• Meningkatkan investasi
Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh adanya suatu perubahan sistem IFRS
sebagai standar global yatitu :
• Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa
hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara
konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal
• Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik
• Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai
merger dan akuisisi
• Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan dalam
mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi.
Demikian peran regulator dalam mensosialisasikan betapa besar tujuan dan
manfaat yang diperoleh menuju ke IFRS . "Perusahaan juga akan menikmati biaya modal
yang lebih rendah, konsolidasi yang lebih mudah, dan sistem teknologi informasi yang
terpadu,"

5. The Relative Quality of IASB and FASB


Bahwa kesenjangan komparatif tidak dengan sendirinya berarti bahwa satu set
standar lebih baik daripada standar yang lain. Seiring berjalannya waktu komparabilitas dan
kualitas masing-masing standar bergerak dinamis

6. Should Standard Setters Compete


“No size fits all” Tidak ada ukuran yang cocok untuk semua pihak. Persaingan
akan terus terjadi dari waktu ke waktu dengan permasalahan yang kompleks.
Ada potensi keuntungan persaingan ketika ekonomi skala rendah. Akan ada
kenaikan biaya subtansial dalam penyusunan standar bila FASB dan IASB bersaing dalam
menyusun standar.
Perusahaan mempunyai informasi yang lebih memadai dibandingkan penyusun
standar, terutama kondidi di lapangan. Walaupun kita ketahui penyusun standar mempunyai
ilmu pengetahuan yang lebih perihal masalah akuntansi.Maka dari itu penyusun standar
melakukan audiensi dengan pihak yang berkait yang akan terpengaruh oleh kebijakan yang
akan ditetapkan. Dari setiap daerah / wilayah mempunyai masalah tersendiri, setiap
penyusun standar berusaha mememecahkan masalah-masalah tersebut, namun tidak semua
terangkum dalam standar yang dibuat.
7. Should US Adopt IASB Standards
US bisa mengadopsi standar dari IASB dilakukan secara bertahap dan konvergen.

8. Summary of Accounting for International Capital Markets Integration


Bahwa pelaporan keuangan di suatu wilayah tidak bisa langsung dianggap
berkualitas rendah, namun melihat efisiensi, perbedaan struktur pemerintahan, kepabeanan,
hal-hal yang perlu ditegakkan. Makin berkualitas laporan keuangan maka bisa dikaitkan
dengan kinerja pasar yang lebih baik.