Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat,


baik anak-anak,remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua.
Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan
zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan
pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat, lemah,
dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb)
dalam darah dari harga normal.
Anemia bukan suatu penyakit tertentu, tetapi cerminan perubahan
patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang
seksama, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi laboratorium (Baldy, 2006)

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian dari Anemia
2. Etiologi dari Anemia
3. Klasifikasi dari Anemia
4. Tanda dan Gejala Anemia
5. Patologi Anemia
6. Pathway Anemia
7. Pemeriksaan Penunjang
8. Komplikasi pada penyakit Anemia
9. Penatalaksanaan pada pasien anemia

C. Tujuan
1. Memahami teori penyakit pada Anemia
2. Menguasai teori penyakit Anemia

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anemia
Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar
hemoglobin atau hematokrit di bawah normal (Brunner & Suddarth,
2000:22).
Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin lebih rendah
dari nilai normal (Emma, 1999).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit
lebih rendah dari harga normal yaitu bila Hb < 14 g/dL dan Ht < 41%, pada
pria atau Hb < 12 g/dL dan Ht < 37% pada wanita (Mansjoer, 1999:547).
Dapat disimpulkan bahwa anemia adalah berkurangnya jumlah sel darah
merah atau kandungan hemoglobin didalam darah. Hemoglobin adalah
salah satu senyawa protein pembawa oksigen didalam sel darah merah .
Sel darah merah diproduksi disumsum tulang belakang.

B. Etiologi Anemia

1. Pendarahan hebat

Akut

a. Kecelakaan
b. Pembedahan
c. Persalinan
d. Pecah pembuluh darah

Kronik ( menahun )
a. Pendarahan hidung
b. Wasir ( Hemoroid )
c. Akut ( mendadak )
d. Ulkus peptikum
e. Kanker atau polip di saluran pencernaan
f. Tumor ginjal ( kandung kemih )
g. Pendarahan menstruasi yang sangat banyak

2
2. Berkurang nya pembentukan sel darah merah

a. Kekurangan zat besi


b. Kekurangan vitamin B12
c. Kekurangan asam folat
d. Kekurangan vitamin C
e. Penyakit kronik

3. Meningkatnya penghancuran sel darah merah

a. Pembesaran limpa
b. Kerusakan mekanik pada sel darah merah
c. Reaksi autoimun terhadap sel darah merah
d. Hemoglobinuria nocturnal paroksismal
e. Sferositosis herediter
f. Elliptosistosis herediter
g. Kekurangan G6PD
h. Penyakit sel sabit

C. Klasifikasi Anemia
Secara patofisiologi anemia terdiri dari :
1. Penurunan produksi : anemia defisiensi,anemia aplastic
2. Peningkatan penghancuran anemia karena pendarahan, anemia
hemolitik

Secara umum anemia terdiri dari :


1. Anemia mikrositik hipokrom
a. Anemia defisiensi besi
Untuk membuat sel darah merah diperlukan zat besi ( FE )
Anemia ini umumnya disebabkan oleh pendarahan kronik. Di
Indonesia banyak disebabkan oleh investasi cacing tambang,ini pun
tidak akan mnyebabkan anemia bila tidak disertai malnutrisi. Anemia
ini juga dapat disebabkan :
a) Diet yang tidak mencukupi
b) Absorpsi yang menurun

3
c) Kebutuhan yang meningkat pada wanita hamil dan menyusui
d) Pendarahan pada saluran cerna,menstruasi,donor darah
e) Hemoglobinuria
f) Penyimpanan besi yang berkurang, seperti pada
hemosiderosis paru

b. Anemia penyakit kronik


Anemia ini di kenal pula dengan nama sideropenic anemia with
reticuloendothelial siderosis. Penyakit ini banyak dihubungkan
dengan berbagai penyakit infeksi seperti : infeksi ginjal,paru (
apses,empisema,dll )

2. Anemia makrositik
a. Anemia pernisiosa
Anemia yang terjadi karena kekurangan vitamin B12 akibat faktor
intrinsic karena gangguan absorpsi yang merupakan penyakit
herediter autoimun maupun faktor ektrinsik karena kekurangan
asupan vitamin B12.
b. Anemia defisiensi asam folat
Anemia ini berhubungan dengan malnutrisi, namun penurunan
absorpsi asam folat jarang ditemukan karena absorpsi terjadi di
seluruh saluran cerna.

3. Anemia karena pendarahan


a. Pendarahan akut
Mungkin timbul renjatan bila pengeluaran darah cukup banyak.
Sedangkan penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari
kemudian.
b. Pendarahan kronik
Pengeluaran darah biasanya sedikit-sedikit sehingga tidak
diketahui pasien. Penyebab yang sering antara lain ulkus peptikum,
menometroragi, pendarahan saluran cerna dan epistoksis

4
4. Anemia hemolitik
Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah (
normal 120 hari ), baik sementara atau terus-menerus anemia ini
disebabkan karena kelainan membran, kelainna glikolisis, kelainan
enzim, gangguan sistem imun, infeksi, hipersplenisme, dan luka bakar.

5. Anemia alplastik
Terjadi karena ketidaksanggupan sum-sum tulang untuk
membentuk sel-sel darah. Penyebabnya bisa kongenital, kemoterapi,
radioterapi, toksin, dll .

D. Tanda dan Gejala Anemia

Tanda dan gejala anemia secara umum antara lain :


1. Mudah lelah dan kehilangan energy
2. Kulit pucat
3. Detak jantung yang cepat dan tidak teratur
4. Napas sesak, khususnya ketika berolahraga
5. gangguan kognitif (sulit berkonsentrasi, dll.)
6. Nyeri pada dada
7. Kaki dan/atau tangan terasa dingin dan sering kram
8. Pusing, kepala pening, dan penglihatan menjadi berkunang-kunang
9. Sakit kepala

5
E. Patofisiologi Anemia
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang
atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya.

Anemia

Viskositas darah menurun

Resistensi aliran darah perifer

Penurunan transport O2 ke jaringan

Hipoksia, pucat , lemah

Beban jantung meningkat

Kerja jantung meningkat

Payah jantung

6
F. Pathway Anemia

Pendarahan masif Terhentinya


pembuatan sel darah
Oleh sumsum tulang

kurang bahan baku penghancuran eritrosit

pembuatan sel darah yg berlebihan

Anemia

Anoreksia Resti Gangguan nutrisi kadar


Hb turun
Kurang dari

Lemas komparten sel


penghantar oksigen
Atau zat nutrisi ke sel
kurang dari

Cepat lelah
Gangguan perfusi
jaringan

Intoleransi aktifitas

7
G. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium hematologi

a) Tes penyaring
1) Kadar hemoglobin
2) Indeks eritrosit
3) Hapusan darah tepi
b) Pemeriksaan rutin
1) Laju endap darah
2) Hitung deferensial
3) Hitung retikulosit
c) Pemeriksaan sum sum tulang
d) Pemeriksaan atas indikasi khusus

2. Pemeriksaan laboratorium non hematologi


Pemeriksaan faal ginjal , hati , endokrin , asam urat , kultur bakteri

3. Pemeriksaan Biopsy kelenjar

4. Pemeriksaan Radiologi

H. Komplikasi

Komplikasi Ringan pada Anemia :


1. Menurunnya kemampuan dan konsentrasi belajar/bekerja - akibat
kurangnya hemoglobin dalam darah membuat seseorang menjadi lesu
dan berpengaruh juga terhadap konsentrasi seseorang.
2. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak tumbuh secara
optimal
3. Menurunnya kemampuan fisik olahraga
4. Mengakibatkan wajah menjadi pucat
5. Daya tahan tubuh akan menurun sehingga mudah diserang penyakit
6. Sering merasakan kesemutan pada kaki dan lengan

8
Komplikasi Berat pada Anemia
1. Infeksi
2. Radang paru-paru
3. Kerusakan mata
4. Kecatatan akibat stroke
5. Hipertensi akibat paru-paru
6. Ulcer
7. Gagal ginjal
8. Gagal jantung
9. Kanker
10. Gondok
11. Kelainan darah
12. Nyeri sendi
13. Radang selaput otak
14. Gangguan sistem imun
15. Batu empedu
16. Mual dan sakit perut kronis

I. Penatalaksanaan / Penanganan

1. Anemia defisiensi besi


Penatalaksanaan :
a) Mengatasi penyebab pendarahan kronik, misalnya : pada
ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai
b) Pemberian preparat Fe : fero sulfat diberikan 3 x 324 mg secara oral
dalam keadaan perut kosong , dapat dimulai dengan dosis rendah
dan dinaikan secara bertahap. Pada pasien yang tidak kuat dapat
diberikan bersamaan dengan makanan . Fero glukonat 3 x 200 mg
secara oral sehabis makan. Bila terdapat intoleransi terhadap
pemberian preparat Fe oral atau gangguan pencernaan sehingga
tidak dapat diberikan oral, maka dapat diberikan secara parenteral
dengan dosis 250 mg Fe ( 3mg/kg BB ) untuk tiap g% penurunan
kadar Hb di bawah normal.
Iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml, diberikan secara
intramuscular mula-mula 50 mg, kemudian 100-250 mg tiap 1-2 hari
sampai dosis total sesuai perhitungan. Dapat pula diberikan intravena,

9
mula-mula 0,5 ml sebagai dosis percobaan, Bila dalam 3-5 menit tidak
mnimbulkan reaksi, boleh diberikan 250-500 mg
c) Selain itu, pengobatan anemia ini biasanya terdiri dari suplemen
makanan dan terapi zat besi. Kekurangan zat besi dapat diserap dari
sayuran, produk susu dan telur . tetapi yang paling baik adalah
diserap dari daging, ikan dan unggas

2. Anemia Pernisiosa
Penatalaksanaan :
a) Pemberian vitamin B12 1.000 mg/hari secara intramuscular selama 5-7
hari, 1 kali tiap bulan.

3. Anemia Defisiensi asam folat


Penatalaksanaan :
a) Pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan
pemberian / suplementasi asam folat oral 1 mg per hari.

4. Anemia penyakit kronik


Penatalaksanaan :
a) Pada anemia yang mengancam nyawa, dapat diberikan transfusi
darah merah seperlunya.Pengobatan dengan suplementasi besi tidak
diindikasikan. Pemberian kobalt dan eritropoeitin dikatakan dapat
memperbaiki anemia pada penyakit kronik.

5. Anemia Aplastik
Penatalaksanaan :
a) Transfusi darah, sebaiknya diberikan transfusi darah merah. Bila
diperlukan trombosit, berikan darah segar atau platelet concentrate.
b) Atasi komplikasi ( infeksi ) dengan antibiotik. Higiene yang baik perlu
untuk mencegah timbulnya infeksi.
c) Kortikosteroid, dosis rendah mungkin bermanfaat pada perdarahan akibat
trombositopenia berat.
d) Androgen, seperti fluokrimesteron, testosteron, metandrostenolon, dan
nondrolon. Efek samping yang mungkin terjadi, virilisasi, retensi air dan
garam, perubahan hati, dan amenore.

10
e) Imunosupresif, seperti siklosporin, globulin antitimosit. Champlin, dkk
menyarankan penggunaannya pada pasien > 40 tahun yang tidak
menjalani transplantasi sumsum tulang dan pada pasien yang telah
mendapat transfusi berulang
f) Transplantasi sumsum tulang.

6. Anemia Himolitik
Penatalaksanaan :
a) Penatalaksanaan anemia hemolitik disesuaikan dengan
penyebabnya. Bila karena reaksi toksik-imunologik, yang dapat
diberikan adalah kortikosteroid ( prednisone, prednisolon ), kalau
perlu dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak berhasil, dapat
diberikan obat-obat sitostatik, seperti klorambusil dan siklofosfamid.

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
 Anemia merupakan rendahnya nilai sel darah merah dan kadar hemoglobin
dan hematokrit di bawah normal.
 Klasifikasi anemia antara lain yaitu :
 Anemia defisiensi besi yang penatalaksanaan umumnya dapat diberikan
preparat Fe (fero sulfat, fero glukonat, dan iron dekstran).
 Anemia pernisionsa, penatalaksanaannya dengan pemberian vitamin B12.
 Anemia defisiensi asam folat, penatalaksanaannya dengan pemberian /
suplementasi asam folat.
 Anemia pada penyakit kronik dapat diberikan transfusi darah merah
seperlunya dan pemberian kobalt serta eritropoeitin.
 Anemia aplastik dapat diberikan transfusi darah merah, kortikosteroid,
androgen, imunosupresif, transplantasi sumsum tulang, dan antibiotic
(jika terjadi infeksi).
 Anemia hemolitik, penatalaksanaannya dapat diberikan obat
kortikosteroid (jika karena reaksi toksik imunologik), serta dapat diberikan
obat-obat sitotastik

B. Saran
sebaiknya lebih dikaji lagi mengenai penatalaksanaan pada anemia agar
dapat ditemukan cara terapi yang lebih efektif dan ekonomis

12
DAFTAR PUSTAKA

Smaltzer, C., S., dan Bare, G., B., 2001, Buku Ajar Medikal Keperawatan Bedah,
Edisi 8, Penerjemah Agung Waluyo, EGC : Jakarta.

13