Anda di halaman 1dari 9

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/291346523

PEMANFAATAN KULIT BUAH NIPAH UNTUK


PEMBUATAN BRIKET BIOARANG SEBAGAI
SUMBER ENERGI ALTER....

Article · April 2013

CITATIONS READS

11 3,552

3 authors, including:

Arie Febrianto Mulyadi ika atsari Dewi


Brawijaya University Brawijaya University
66 PUBLICATIONS 57 CITATIONS 12 PUBLICATIONS 14 CITATIONS

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Application Pulses Electric Field on plant processing View project

agroindustry View project

All content following this page was uploaded by Arie Febrianto Mulyadi on 21 January 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

PEMANFAATAN KULIT BUAH NIPAH UNTUK PEMBUATAN


BRIKET BIOARANG SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF

Utilization of Nypa (Nypa fruticans) Bark for Making Biocharcoal Briquette as


Alternative of Energy Sources

Arie Febrianto Mulyadi*, Ika Atsari Dewi, Panji Deoranto


Jurusan Teknologi Industri Pertanian - Fakultas Teknologi Pertanian - Universitas Brawijaya
Jl. Veteran Malang
Penulis Korespondensi: email arie_febrianto@ub.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kombinasi perlakuan yang terbaik antara
jumlah perekat pati tapioka dan bahan tambahan kapur untuk dapat menghasilkan briket arang
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif dan untuk mengetahui biaya produksi
yang dibutuhkan untuk pembuatan briket bioarang kulit buah nipah. Rancangan percobaan
yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu konsentrasi
perekat pati tapioka (P) dan konsentrasi bahan imbuh kapur (K) yang masing-masing terdiri
dari 3 level yaitu P1 (20%), P2 (30%), dan P3 (40%); K1 (1%), K2 (3%), K3 (5%) yang diulang
sebanyak 2 kali. Pengamatan dilakukan pada rendemen produk, kadar air, ketahanan tekan, nilai
kalor, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah perlakuan
penambahan konsentrasi perekat pati tapioka 20% dan konsentrasi kapur 5%. Perlakuan terbaik
mempunyai rendemen produk 78.04%, kadar air 4.10%, ketahanan tekan 157.57 N/cm2, nilai
kalor 2753.71 kal/g, dan kadar abu sebesar 22.35%. Hasil analisis biaya produksi diperoleh HPP
sebesar sebesar Rp. 1120.23 per kilogram dengan harga jual Rp. 1700 per kilogram dengan mark
up 40%, sehingga diperoleh BEP (unit) 11986.03 kilogram atau sebesar Rp. 20252297.18.

Kata Kunci: Briket, Bioarang, Kulit buah nipah, Kapur, Perekat

ABSTRAK

This research aim are to get combination of the best treatment between the amount of tapioca glue and
lime as additional material to be able to produce charcoal briquette which is able to be taken the beneficial as
alternative energy source, and to know production price which needed in making leaf sugarcane biocharcoal
briquette. The experiment for this research is Completely Randomized Block Design with 2 factors;, they
are concentration of Tapioca glue (P) and Concentration of lime as additional material (K). Each of the
factors has three levels, they are: P1 (20 %), P2 (30 %), and P3 (40 %); K1 (1%), K2 (3%), K3 (5%) which
are repeated twice. Product yield, water content, endurance press, heat value, and ash content are analysed
on this reserach. The best treatment is on biocharcoal briquette with the tapioca glue is 20% and lime is 5%
with product yield is 78.04%, water content is 4.10%, the endurance press is 157.57 kg/cm2, heat value
is 2753.71 cal/g, and ash content is 22.35%. The result of production analysis show the base price of the
product is Rp. 1120.00/ kilogram. The price of product sold is Rp. 1700/ kilogram with profit expectation is
40 so that the BEP value (unit) is 11986.03 kilograms or Rp.18224978.07.

Keywords: biocharcoal, briquette, lime, nypa bark, tapioca.

PENDAHULUAN negara. Jika hal ini terjadi secara terus


menerus akan menyebabkan terjadinya
Tingkat pemakaian bahan bakar krisis bahan bakar. Melihat situasi
terutama bahan bakar fosil semakin tersebut, perlu dipikirkan alternatif suatu
meningkat seiring dengan semakin sumber bahan bakar yang lebih murah
bertambahnya populasi manusia dan dan mudah didapat. Sumber bahan bakar
meningkatnya laju industri di berbagai atau energi alternatif tersebut haruslah

65
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

sumber daya alam dapat diperbaharui, muara-muara sungai yang berair payau.
antara lain bersumber pada tenaga air Di Indonesia luas daerah tanaman nipah
(hydro), panas bumi, energi cahaya, energi adalah 10% dari luas daerah pasang surut
angin dan biomassa. sebesar 7 juta Ha atau sekitar 700.000 Ha.
Di antara sumber-sumber energi Penyebarannya meliputi wilayah kepulauan
alternatif tersebut, energi biomassa Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi,
merupakan sumber energi alternatif Maluku, dan Irian Jaya (Rachman dan
yang perlu mendapatkan prioritas dalam Sudarto, 1992). Di wilayah Provinsi Jawa
pengembangannya karena Indonesia sebagai Timur, daerah sentra tanaman nipah berada
negara agraris banyak menghasilkan limbah di Pulau Bawean, di wilayah tersebut
pertanian yang belum dimanfaatkan sekarang terdapat 280 Ha tanaman nipah
secara optimal. Selain itu, penggunaan yang tersebar di kawasan pantai.
energi biomassa cenderung murah karena Dalam rangka memaksimalkan
bahan baku yang digunakan juga murah, peningkatan nilai ekonomis tanaman
ketersediaannya melimpah serta cara nipah selain dimanfaatkan niranya untuk
(teknologi) pengolahannya tidak rumit. produksi gula, juga perlu diversifikasi
Beberapa contoh biomassa antara lain kulit menjadi produk yang nilai ekonominya
kelapa, ampas tebu, tongkol jagung, sekam tinggi, diantaranya adalah pemanfaatan
padi, jerami padi, kulit kopi, tempurung kulit buah untuk biobriket. Pemanfaatan
kelapa dan serasah dedaunan misalnya limbah agroindustri sebagai bahan baku
daun dan pelepah nipah. briket dinilai strategis untuk menggantikan
Nipah (Nypa fruticans) merupakan minyak tanah. Briket yang dihasilkan
tumbuhan yang termasuk famili Palmae relatif lebih ramah lingkungan karena tidak
dan tumbuh di daerah pasang surut. menghasilkan emisi gas beracun, seperti
Selama ini nipah hanya ditanam untuk NOx dan SOx. (Mulia, 2007)
melindungi daratan/pantai dari abrasi air Dalam pembuatan briket diperlukan
laut, padahal banyak sekali manfaat yang sebuah perekat (binder). Bahan perekat
dapat diambil dari tanaman nipah. Hampir yang digunakan yaitu molase, pati
setiap bagian dari tumbuhan ini dapat tapioka (kanji) dan tanah liat. Yang
dimanfaatkan seperti daun untuk atap paling banyak digunakan sebagai perekat
rumah, nira untuk dibuat gula, dan buah pada briket adalah pati tapioka karena
untuk makanan segar atau dibuat tepung. harganya lebih murah, ketersediaannya
Tanaman nipah (Gambar 1) tumbuh cukup banyak, mudah didapat, mudah
subur di hutan daerah pasang surut (hutan dalam pemakaiannya, dapat menghasilkan
mangrove) dan daerah rawa-rawa atau kekuatan rekat kering yang tinggi serta

Gambar 1. Pohon Nipah dan buahnya

66
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

dapat pula mengurangi bau limbah c. P3 = 40% perekat pati tapioka dari
(Gafar dan Butarbutar, 1995; Saechu, 1997; berat campuran bahan (b/b)
Sulistyanto, 2006). 2. Faktor II: Penambahan kapur yaitu:
Selain perekat pati tapioka, juga a. K1 = 1% kapur dari berat campuran
terdapat bahan tambahan lain yaitu bahan (b/b)
kapur dengan jenis kapur mati (slake lime) b. K2 = 3% kapur dari berat campuran
sehingga briket akan memiliki ketahanan bahan (b/b)
terhadap kelembaban dan meningkatkan c. K3 = 5% kapur dari berat campuran
kekuatan mekanik serta dapat mengikat bahan (b/b)
senyawa biomassa untuk mempercepat
atau mempermudah proses pembakaran Proses Pembuatan Briket Bioarang
dan menyerap emisi gas SO2 (Grigorova Kulit buah dijemur untuk mengurangi
dan Kuzev, 2003; Sulistyanto, 2006). kadar airnya. Kemudian diarangkan
Untuk meningkatkan nilai ekonomis dengan cara dimasukkan dalam drum
dari daun dan pelepah kering dengan yang terbuat dari logam yang berbentuk
jumlah yang cukup melimpah maka bisa silinder yang sudah dilubangi bagian
dimanfaatkan menjadi briket bioarang sisi silinder dari drum serta bagian atas
yang dapat digunakan sebagai energi drum diberi penutup, kemudian dibakar.
alternatif pengganti BBM yang harganya Pada proses pembakaran ini, begitu api
semakin mahal. menyala sisi drum yang dilubangi ditutup
perlahan-lahan dari arah bawah ke atas
BAHAN DAN METODE drum. Sebelum menjadi abu, bahan-bahan
yang dibakar disiram dengan air untuk
Alat yang digunakan dalam mematikan apinya. Proses pengarangan
pembuatan briket bioarang kulit buah yang telah selesai ditandai dengan tidak
nipah yaitu: drum, panci, alat pres manual ada lagi asap yang keluar dari dalam
yang dilengkapi dengan pencetak briket drum. Arang kulit buah nipah kemudian
berbentuk silinder besi dengan diameter dihaluskan dengan penumbuk kemudian
5 cm, ayakan 60 mesh, alat pengaduk, disaring dengan ayakan ukuran 60 mesh
timbangan digital, alat penumbuk, dan alat- untuk menyeragamkan ukurannya.
alat yang digunakan untuk analisa yaitu: Pembuatan perekat berupa larutan
oksigen bom kalorimeter, “stop watch”, pati tapioka dilakukan dengan cara yaitu
cawan besi, oven, desikator, timbangan pati tapioka diencerkan dengan air dengan
digital, tungku pembakaran, isolator, perbandingan 1:16 (b/v). Campuran ini
kompor. kemudian dipanaskan sampai matang
Bahan yang digunakan dalam (selama ±15 menit pada suhu 70 ºC).
penelitian ini yaitu: kulit buah nipah yang Perekat yang sudah matang ditandai
diperoleh di Kab. Malang, pati tapioka, dengan perubahan warna campuran dari
kapur dan air. Bahan-bahan kimia yang putih keruh menjadi bening. Pembuatan
digunakan untuk analisa yaitu: asam bahan tambahan kapur dilakukan dengan
benzoat (C7H6O2), akuades, kawat nikel cara yaitu kapur dicampur dengan air
45C10, oksigen murni 99.5%. sebanyak 5% dari berat kapur sampai
homogen.
Metode Penelitian Serbuk arang kulit buah nipah
Penelitian ini dilakukan dengan ditimbang sebanyak 30 g kemudian
faktorial menggunakan Rancangan Acak dicampur dengan perekat larutan pati
Kelompok dengan dua faktor yang diulang tapioka sesuai dengan perlakuan (20, 30,
2 (dua) kali. Faktor yang digunakan adalah dan 40%) dan bahan tambahan kapur sesuai
persentase perekat pati tapioka (P) dan dengan perlakuan (1, 3, dan 5%) sehingga
bahan tambahan kapur (K). Berikut adalah didapatkan adonan briket. Adonan briket
faktor yang digunakan dalam penelitian: dicetak pada cetakan silinder dengan
diameter 5 cm dan ditekan dengan alat
1. Faktor I: Persentase perekat tapioka (P) pres manual dengan tekanan 1.54 kg/cm2.
a. P1 = 20% perekat pati tapioka dari
berat campuran bahan (b/b) Briket yang telah dibuat kemudian
b. P2 = 30% perekat pati tapioka dari dikeringkan. Pengeringan dilakukan
berat campuran bahan (b/b) dalam oven pada suhu 105 °C selama ± 2

67
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

jam. Dilakukan analisa rendemen produk, HASIL DAN PEMBAHASAN


kadar air, ketahanan tekan, nilai kalor, dan
kadar abu dan hasil analisis dibandingkan Rendemen
dengan data dari SNI briket biomassa. Rerata rendemen briket bioarang
Analisa Hasil Penelitian berkisar antara 69.79% sampai 7.04%.
Pada tahap analisa data dilakukan Nilai rendemen terendah diperoleh dari
pengolahan data dari berbagai data yang perlakuan penambahan perekat pati tapioka
sudah diambil dan dikumpulkan dari 40% dan kapur 5% yaitu sebesar 69.79%,
masing-masing parameter yang diuji. Analisis sedangkan rendemen tertinggi diperoleh
ragam dilakukan terhadap hasil pengamatan dari perlakuan penambahan perekat pati
rendemen produk, kadar air, ketahanan tapioka 20% dan konsentrasi kapur 5% yaitu
tekan, nilai kalor, dan kadar abu dengan sebesar 32.34%.
tujuan untuk mengetahui apakah faktor yang Hasil analisa ragam terhadap rende-
dikaji (persentase perekat pati tapioka dan men briket bioarang menunjukkan bahwa
kapur) memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan penambahan persentase perekat
parameter-parameter tersebut. pati tapioka memberikan pengaruh yang
nyata, namun perlakuan penambahan
Penentuan Perlakuan Terbaik persentase kapur dan interaksi antara
Pemilihan perlakuan terpilih keduanya (α = 0.05) tidak memberikan
terhadap parameter dilakukan dengan pengaruh yang nyata. Nilai rerata rendemen
membandingkan hasil analisa briket yang briket bioarang kulit buah pada perlakuan
diperoleh dengan SNI arang kayu sebagai penambahan persentase perekat pati
standar baku mutu briket biomassa. Hasil tapioka dapat dilihat pada Tabel 1.
yang mendekati dan atau melebihi standar Tabel 1 menunjukkan bahwa rerata
mutu briket yang terdapat dalam SNI adalah rendemen terendah terdapat pada perlakuan
briket dengan perlakuan terpilih. penambahan konsentrasi perekat pati
Briket bioarang kulit buah nipah tapioka 40% dan tertinggi pada penambahan
dengan perlakuan terpilih kemudian konsentrasi perekat pati tapioka 20%.
dibandingkan dengan arang kayu dan briket
bioarang komersial untuk membandingkan Kadar air
kualitas yang meliputi kadar air, ketahanan Berdasarkan hasil analisis ragam
tekan, nilai kalor, dan kadar abu, serta dari terhadap kadar air briket bioarang
segi harganya. menunjukkan bahwa perlakuan penambahan
persentase perekat pati tapioka memberikan
Analisis biaya produksi pengaruh yang nyata, sedangkan per-
Analisis biaya produksi dilakukan lakuan penambahan persentase kapur
untuk mengetahui pada titik mana industri tidak memberikan pengaruh yang nyata.
briket bioarang dapat mencapai titik Interaksi antara kedua perlakuan yaitu
impas. Analisis biaya produksi meliputi penambahan persentase perekat pati
perhitungan biaya produksi, total biaya, tapioka dan penambahan persentase kapur
harga pokok produksi, harga jual dan tidak memberikan pengaruh yang nyata
keuntungan yang diperoleh serta Break (α = 0.05). Nilai rerata Kadar Air briket
Event Point (BEP). Analisis biaya produksi bioarang kulit buah nipah pada perlakuan
hanya dilakukan pada briket bioarang penambahan persentase kapur dapat dilihat
dengan perlakuan terpilih. pada Tabel 2.

Tabel 1. Rerata Rendemen Briket Bioarang Tabel 2. Rerata Kadar Air Briket Bioarang
Kulit Buah Nipah Pada Penambahan Kulit Buah Nipah Pada Penambahan
Persentase Perekat Pati Tapioka Persentase Perekat Pati
Konsentrasi Perekat Rerata Rendemen Konsentrasi Rerata Kadar Air
Pati Produk Perekat Pati (%) Produk (%)
20% 77.13 20 5.71
30% 73.78 30 4.28
40% 72.69 40 6.59

68
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

Tabel 3. Rerata Nilai Kalor Briket Bioarang Kulit Buah Nipah Berdasarkan Interaksi
Penambahan Persentase Perekat Pati Tapioka Dan Kapur
Persentase Pati Rerata Nilai
Persentase Kapur (%)
Tapioka (%) Kalor (kal/g)
1 2834.40
20 3 2885.35
5 2753.71
1 2943.64
30 3 3150.82
5 2429.16
1 2836.30
40 3 2880.64
5 2939.78

Berdasarkan Tabel 2 kadar air briket Pemberian bahan perekat bertujuan


bioarang semakin meningkat dengan semakin untuk menarik air dan membentuk tekstur
besarnya penambahan persentase perekat, yang padat atau menggabungkan dua
hal ini diduga karena semakin tingginya substrat yang akan direkatkan. Kekuatan
persentase perekat pati akan berpengaruh rekat dipengaruhi oleh sifat perekat, alat
dalam mengikat air. Hal ini diduga karena yang digunakan, serta teknik perekatan.
semakin tingginya persentase kapur akan Pemberian tekanan disamping akan
berpengaruh dalam mengikat air. Hal ini memberikan kekuatan rekat yang kuat,
sesuai dengan pernyataan Grigorova dan juga meratakan bahan pada permukaan dan
Kuzev (2003) bahwa dengan penambahan memasukkan perekat tersebut dalam pori-
kapur pada briket akan memiliki ketahanan pori bahan (BPPI, 1996).
terhadap air dan untuk mengurangi asap
serta emisi gas SO2. Nilai Kalor
Pada penelitian tentang pembuatan Berdasarkan hasil analisis ragam
briket arang sekam dengan menggunakan menunjukkan bahwa penambahan persen-
perekat pati tapioka 6%, didapatkan nilai tase perekat pati tapioka dan penambahan
kadar air sebesar 6.4% (lebih rendah diband- persentase kapur berpengaruh nyata
ingkan kadar air sekam yaitu 7.35%). Begitu- terhadap nilai kalor briket serta ada interaksi
pula dengan penelitian pembuatan briket antara penambahan persentase perekat pati
dari cangkang kelapa sawit memiliki nilai tapioka dengan penambahan persentase
rata-rata kadar air sebesar 6.4% (BPPP, 2006; kapur terhadap nilai kalor briket yang
Sekianti, 2007). dihasilkan. Rerata nilai kalor briket bioarang
kulit buah nipah. Rerata nilai kalor briket
bioarang kulit buah nipah berdasarkan
Ketahanan Tekan interaksi penambahan persentase perekat
Berdasarkan hasil analisis rag- pati tapioka dan kapur dapat dilihat pada
am menunjukkan bahwa penambahan Tabel 3.
persentase pati tapioka tidak berpengaruh Dengan semakin meningkatnya
nyata terhadap nilai ketahanan tekan briket konsentrasi perekat pati tapioka dan kapur
bioarang kulit buah nipah dan penamba- yang digunakan dalam briket maka nilai
han persentase kapur tidak berpengaruh kalor briket akan semakin menurun. Dengan
nyata terhadap nilai ketahanan tekan briket penambahan persentase perekat pati tapioka
serta tidak ada interaksi antara penamba- yang semakin tinggi dan didukung oleh sifat-
han persentase perekat pati tapioka dengan sifat pati tapioka yang dapat membentuk
penambahan persentase kapur terhadap gel seperti yang telah disebutkan di atas,
nilai ketahanan tekan briket yang dihasil- maka hal ini akan menurunkan nilai kalor
kan. briket. Hal ini sesuai dengan penelitian

69
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

Gambar 2. Briket hasil eksperimen dengan sembilan total perlakuan

Saechu (1997) yang menyatakan bahwa abu. Abu yang merupakan salah satu hasil
pemakaian kanji sebagai perekat cenderung pembakaran merupakan unsur-unsur atau
menurunkan nilai kalori briket. bahan-bahan yang tidak dapat diubah
Nilai kalor briket yang diperoleh menjadi fasa gas atau cair. Jumlah abu ini
kemudian dibandingkan dengan nilai kalor mempengaruhi mutu bahan bakar, dimana
biobriket seperti yang terdapat dalam SNI semakin tinggi jumlah abu maka semakin
1-6235-2000 yaitu minimal 5000 kal/g. Nilai rendah mutu bahan bakar tersebut.
kalor briket bioarang kulit buah nipah ini Hasil analisis ragam menunjukkan
tidak sesuai dengan standar yang sudah bahwa penambahan persentase pati tapioka
ditetapkan, hal ini disebabkan nilai kalor dan penambahan persentase perekat pati
awal kulit buah nipah yang masih di bawah dan persentase kapur berpengaruh nyata
standar, sehingga apabila akan digunakan terhadap kadar abu serta terdapat interaksi
dalam perdagangan harus dicampur dengan antara penambahan persentase perekat pati
biomassa lain yang memiliki nilai kalor tapioka dengan penambahan persentase
relatif tinggi yang lebih dari 5000 kal/g kapur terhadap nilai kadar abu briket
seperti tempurung kelapa, tandan kelapa yang dihasilkan. Rerata kadar abu briket
sawit, bungkil jarak pagar dan serbuk bioarang kulit buah nipah berdasarkan
gergajian kayu. Namun demikian, briket interaksi penambahan persentase perekat
bioarang kulit buah nipah ini masih mungkin pati tapioka dan kapur dapat dilihat di
digunakan untuk pemenuhan kebutuhan Tabel 4.
rumah tangga sebagai bahan bakar alternatif Pada penelitian tentang pembuatan
untuk mengantisipasi harga BBM yang terus briket arang campuran limbah kayu
meningkat. gergajian dan sabetan kayu memiliki nilai
kadar abu rata-rata sebesar 13.22-21.41%
Kadar Abu (Hendra dan Winarni, 2003). Nilai kadar
Kadar abu pembakaran digunakan abu ini lebih kecil daripada kadar abu pada
untuk mengetahui persentase berat sisa briket bioarang kulit buah nipah. Kadar
pembakaran terhadap berat awal bahan abu akan berpengaruh terhadap kapasitas
terbakar. Dari analisa ini sekaligus dapat pembakaran dan efisiensi pembakaran, jadi
diketahui persentase bahan yang terbakar. briket bioarang kulit buah nipah memiliki
Sisa pembakaran yang dimaksud adalah kapasitas dan efisiensi pembakaran yang

70
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

Tabel 4. Rerata Kadar Abu Briket Bioarang Kulit Buah Nipah Berdasarkan Interaksi
Penambahan Persentase Perekat Pati Tapioka Dan Kapur
Nomor Persentase Pati Persentase Rerata
Perlakuan Tapioka (%) Kapur (%) Kadar Abu (%)
K1P1  20 1 22.47
K1P2 20 3 20.98
K1P3 20  5 22.35
K2P1 30  1 21.44
K2P2 30 3 19.83
K2P3 30  5 20.45
K3P1 40  1 19.03
K3P2 40 3 19.72
K3P3 40  5 21.37

Tabel 5. Rerata Nilai Produk dari Setiap Perlakuan


Perlakuan Nilai
Parameter
P1K1 P1K2 P1K3 P2K1 P2K2 P2K3 P3K1 P3K2 P3K3 SNI

Rendemen (%) 7.92 75.42 78.04** 71.04 73.11 77.18 75.23 73.04 69.79
Maks
Kadar Air (%) 6.22* 6.80* 4.10* 4.18* 5.17* 3.49* 6.59* 7.18* 5.99*
8%
Ketahanan
166.5 112.8 157.6 257.4** 207.4 174.3 219.1 241.0 168.5  
Tekan (N/kg3)
Min
Nilai Kalor
2834 2885 2753 2943 3150** 2429 2836 2880 2939 5.000
(cal/g)
kal/g
Maks
Kadar Abu (%) 2247 20.98 22.35 21.44 19.83 20.45 19.03** 19.72 21.37
8%
Keterangan :
* sesuai nilai SNI
** terpilih dari perlakuan
P : Perekat Pati Tapioka
K : Kapur

lebih kecil daripada briket arang campuran Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa
limbah kayu gergajian dan sabetan kayu. terdapat empat produk briket bioarang
kulit buah nipah yang memiliki nilai
Pemilihan Perlakuan Terpilih parameter paling banyak sesuai SNI yaitu
Briket hasil eksperimen dapat dilihat P1K3, P2K1, P2K2, dan P3K1. Dari keempat
pada Gambar 2. Pemilihan perlakuan terpilih produk tersebut perlakuan semuanya
pada briket bioarang kulit buah nipah memenuhi untuk SNI untuk kriteria kadar
dilakukan dengan cara membandingkan air, dan masing-masing memiliki indikator
nilai produk setiap perlakuan dengan SNI keunggulan yang berbeda-beda. Karena
sebagai standar baku mutu briket. SNI yang rentang perbedaannya tidak terlalu besar,
digunakan adalah SNI 13-4931-1998 yang maka dasar pemilihan perlakuan terbaik
merupakan standar baku mutu biobriket. adalah dari segi biaya produksi yang
Nilai terpilih masing-masing parameter paling murah yaitu penambahan perekat
adalah rendemen maksimal (tertinggi), kadar yang paling sedikit sehingga produk P1K3
air briket maksimal 8%, nilai ketahanan tekan terpilih. Produk terpilih adalah perlakuan
maksimal (tertinggi), nilai kalor maksimal persentase perekat pati tapioka 20% dan
(tertinggi), laju pembakaran maksimal persentase kapur 5%. Perlakuan terpilih
(tertinggi) dan kadar abu minimal (terendah). mempunyai rendemen produk 78.04%,
Nilai produk briket bioarang dari perlakuan kadar air 4.10%, ketahanan tekan 157.57 N/
penambahan persentase perekat pati tapioka cm, nilai kalor 2753.71 kal/g, dan kadar abu
dan kapur disajikan pada Tabel 5. sebesar 22.35%

71
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 1 [April 2013] 65-72
Pemanfaatan Kulit Buah Nipah [Mulyadi dkk]

Perhitungan Biaya Produksi Badan Standarisasi Nasional. 2000. Standar


Modal tetap yang dibutuhkan untuk Nasional Indonesia Briket Arang Kayu
memulai produksi briket bioarang kulit (SNI 1-6235-2000). Jakarta
buah nipah adalah Rp. 21264600.00. Biaya BPPI. 1996. Pengembangan Pembuatan Briket
tetap selama 1 bulan sebesar Rp. 975000.00 Abu Sabut Kelapa untuk Ekspor.
dan biaya tidak tetap selama sebesar Rp. Departemen Perindustrian Banjarbaru.
12602200.00 Banjarbaru.
Produk briket bioarang kulit buah Budhi AS dan Widiadi JB. 2003. Pembuatan
nipah ini dikemas dalam kemasan berupa Briket Arang Dari Feses Sapi dan Tempu-
plastik PP dengan berat 3 kg per kemasan. rung Kelapa Sebagai Alternatif Sumber
Untuk meminimalisasi kerusakan pada briket Energi. Jurnal Purifikasi. 4(2): 49-54
bioarang yang memiliki nilai ketahanan Gafar PA dan Butarbutar R. 1995. Pemanfaatan
tekan relatif rendah, maka briket diatur Limbah Pertanian Untuk Pembuatan
sedemikian rupa sehingga tertata rapi dan Briket Arang Dengan Campuran
tidak terdapat celah sehingga posisi briket di Batu Bara. Badan Penelitian dan
dalam kemasan tidak mudah untuk bergeser. Pengembangan Industri. Balai
Kapasitas produksi perhari 150 kemasan, per Penelitian dan Pengembangan Industri
bulan 3750 kemasan. Dari perhitungan HPP Proyek Pengembangan dan Pelayanan
didapat HPP produk sebesar Rp. 1120.00 dan Teknologi Industri Kalimantan Timur.
harga jual yang ditawarkan yaitu sebesar Rp. Samarinda
1700.00 per kilogram dengan mark up 40%. Grigorova I and Kuzev L. 2003. Briquetting
Hasil perhitungan BEP menunjukkan bahwa of Brown Coals With A Binding Agent
titik balik pokok akan dicapai pada volume Modified Amylum With Soluble
penjualan 11986.03 kilogram atau senilai Rp. Colophony. Annual Mining and Mineral
20252297.18. Processing 46(2):127-129
Harga jual briket bioarang dari kulit Hendra, D dan I. Winarni. 2003. Sifat Fisis dan
nipah ini masih lebih murah dibandingkan Kimia Briket Arang Campuran Limbah
dengan arang kayu dan briket arang Kayu Gergajian dan Sabetan Kayu.
komersial merk “Super BBQ”. Harga arang Badan Penelitian dan Pengembangan
kayu adalah Rp. 2500.00/kg dan briket arang Kehutanan. http://www.forda-mof.
komersial ”Super B.B.Q” adalah Rp. 31900.00 org/informasi.asp?kategoriid=46&rooti
per kemasan dengan berat 2.5 kg atau Rp. d=13&page=7. Dilihat pada 29 Mei 2008
12760.00/kg. Mulia, A. 2007. Pemanfaatan Tandan Kosong
dan Cangkang Kelapa Sawit Sebagai
SIMPULAN Briket Arang. Thesis. Universitas
Sumatra Utara
Perlakuan terbaik adalah perlakuan Rachman, A. K., dan Sudarto, Y., 1992,
penambahan konsentrasi perekat pati tapioka Nipah Sumber Pemanis Baru, Kanisius,
20% dan konsentrasi kapur 5%. Perlakuan Yogyakarta
terbaik mempunyai rendemen produk 78.04%, Saechu, M.1997. Briket Arang Ampas Sebagai
kadar air 4.10%, ketahanan tekan 157.57 N/ Sumber Energi Alternatif. Berita P3GI 20:
cm, nilai kalor 2753.71 kal/g, dan kadar abu 51-54
sebesar 22.35% Sekianti, A. 2007. Analisis Teknik dan Finansial
Hasil analisis biaya produksi diperoleh pada Produk Bahan Bakar Briket dari
HPP sebesar sebesar Rp. 1120.23 per kilogram Cangkang Kelapa Sawit. Fakultas
dengan ha rga jual Rp. 1700 per kilogram Pertanian. Universitas Sriwijaya.
dengan mark up 40%, sehingga diperoleh Sulistyanto, A. 2006. Karakteristik Pembakaran
BEP (unit) 11986.03 kilogram atau sebesar Rp. Biobriket Campuran Batubara dan Sabut
20252297.18. Kelapa. Jurnal Media Mesin. 7(2): 77-84

DAFTAR PUSTAKA

BPPP. 2006. Giliran sekam untuk Bahan


Bakar Alternatif. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Volume 2
(2):1-3

72

View publication stats