Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

Otitis Media Supuratif Kronik

Disusun Oleh :

Pamela Vasikha

112016358

Dokter Pembimbing :

dr. Hari Haksono, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK

RSAU dr. ESNAWAN ANTARIKSA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

PERIODE 19 February 2018 – 24 Maret 2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

Otitis media supuratif kronik adalah peradangan telinga tengah dengan perforasi
membrane timbani dan riwayat keluarnya secret dari telinga lebih dari dua bulan, baik terus
menerus maupun hilang timbul. Terdapat dua tipe OMSK, yaitu OMSK tipe aman (tanpa
kolesteatoma) dan tipe bahaya (dengan kolesteatoma). Kerusakan fungsi pendengaran
merupakan salah satu gejala sisa yang sering terjadi dari otitis media supuratif kronik. OMSK
juga merupakan penyebab umum terjadinya kecacatan, penurunan kinerja pendidikan dan
dapat menyebabkan infeksi fatal intracranial serta mastoiditis akut yang terjadi pada negara
miskin.1
Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis media supuratif
kronik apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan,
disebut otitis media supuratif subakut.2
Faktor resiko dari OMSK belum jelas, namun infeksi saluran napas atas berulang dan
kondisi sosio-ekonomi yang buruk (perumahan padat, higienitas dan nutrisi yang buruk)
mungkin berhubungan dengan perkembangan dari OMSK. Penyebab paling umum dari OM
akut adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae dan Moraxella catarrhalis.
Namun pseudomonas aeruginosa dan staphylococcus aureus merupakan bakteri aerob yang
paling sering ditemukan pada pasien OMSK, diikuti dengan Proteus vulgaris dan Klebsiella
pneumoniae.1

2
BAB II

LAPORAN KASUS

RUMAH SAKIT PUSAT TNI AU Dr. ESNAWAN ANTARIKSA


SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROK
Jl. Merpati No. 2, Halim Perdanakusuma Jakarta Timur-13610

Nama Mahasiswa : Pamela Vasikha

NIM : 112016358

Dokter Pembimbing : dr. Hari Haksono, Sp.THT-KL

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. YR
Tanggal lahir : 06 Juli 1971
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Pendidikan : S1
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Dirgantara I Jl. Permadi no 124 Jakarta

Tanggal Masuk berobat ke poli THT: 06 Maret 2018

B. ANAMNESIS
Diambil secara : Autoanamnesis
Pada tanggal : 06 Maret 2018
Jam : 11.15 WIB

Keluhan utama : Telinga sebelah kiri keluar air sejak 2 hari SMRS.

3
Riwayat penyakit sekarang :
Os datang ke poliklinik THT dengan keluhan telinga sebelah kiri keluar cairan sejak 2
hari SMRS. Cairan berwarna bening, berbau dan tidak bercampur darah. Keluhan tersebut
muncul setelah pasien berenang. Os mengeluh telinga nya terasa berbunyi mendengung
dan pendengarannya berkurang. Os juga mengeluh sedang pilek (+) namun keluhan batuk,
sering bersin-bersin pada pagi hari, nyeri telinga, pusing berputar, nyeri tekan di daerah
wajah dan nyeri menelan disangkal.
Os mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Dan pasien juga tidak pernah berobat ke poliklinik THT sebelumnya. Namun os rutin
membersihkan telinganya dengan menggunakan cotton bud.

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat darah tinggi, diabetes mellitus dan alergi disangkal oleh pasien.
- Pasien baru pertama kali merasakan keluhan seperti ini
- Riwayat dirawat di RS dan operasi juga disangkal oleh pasien.

Riwayat penyakit keluarga :


Riwayat darah tinggi, diabetes mellitus dan alergi dalam keluarga disangkal oleh pasien.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum
Kesadaran : compos mentis
Keadaan umum : baik
TTV
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 87 x/menit
Frek Napas :21 x/menit
Suhu :36,5°C

4
Status Lokalis
 Kepala dan Leher
Kepala : normocephali
Wajah : simetris
Leher : KGB tidak tampak membesar
Lain-lain : tidak ada

 Telinga
o Pemeriksaan rutin umum telinga

Kanan Kiri

Bentuk Daun Telinga Normal Normal


Deformitas (-) Deformitas (-)

Kelainan Kongenital Tidak ada Tidak ada

Radang, Tumor Tidak ada Tidak ada

Nyeri Tekan Tragus Tidak ada Tidak ada

Penarikan Daun Telinga Tidak ada Tidak ada

Kelainan pre-, infra-, Tidak ada Tidak ada


retroaurikuler
Regio Mastoid Tidak ada kelaianan Tidak ada kelaianan

Liang Telinga Lapang, nanah (-), Lapang, nanah (+),


serumen (-), sekret (-), serumen (-), hiperemis
hiperemis (-), oedem (-) (+), oedem (-)

Valsava Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Membran Timpani Perforasi (-) Perforasi (+)

5
 Hidung

Bentuk : Normal, tidak ada deformitas


Tanda peradangan : Hiperemis (-), Panas (-), Nyeri (-), Bengkak (-)
Vestibulum : Hiperemis -/-, sekret (+/+), darah -/-
Cavum nasi : Lapang (-), edema (-), hiperemis (-), polip (-)
Konka inferior : Hipertrofi (+/+), hiperemis (+/+), secret (+/+)
Konka medius : Eutrofi/eutrofi
Meatus nasi medius : Sekret -/-
Septum nasi : Deviasi -/-
Dasar hidung : normal

- RHINOPHARYNX (RHINOSKOPI POSTERIOR)


Tidak dilakukan

o Pemeriksaan rutin khusus sinus paranasal


 Proyeksi nyeri sinus paranasal
Dextra Sinistra
Infraorbita Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)
Nyeri Ketuk (-) Nyeri Ketuk (-)
Glabela Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)
Nyeri Ketuk (-) Nyeri Ketuk (-)
Supraorbita Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)
Nyeri Ketuk (-) Nyeri Ketuk (-)

 Tenggorok
o Pemeriksaan rutin umum tenggorok

Pharynx
Dinding faring : merah muda, hiperemis (-), granular (-)
Tonsil : T1-T1, hiperemis (-), kripta melebar (-), detritus (-)
Uvula : simetris di tengah, hiperemis (-)

6
Gigi : tidak ada kelainan

Dinding posterior orofaring:


Post nasal drip (-), granulasi (-), hiperemis (-)

 Leher
Kelenjar limfe submandibula : tidak teraba membesar

Kelenjar limfe servikal : tidak teraba membesar

 Maksilofasial
Parese nervus cranial : tidak ada

Bentuk : deformitas (-); hematom (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil pemeriksaan endoskopi telinga didapatkan:

- Nanah (+), serumen (-), hiperemis (+), edema (-), jamur (-)
- Membran timpani telinga kiri ada perforasi (+)

E. RESUME
Dari anamnesis didapatkan OS, seorang perempuan berusia 46 tahun datang dengan
keluhan telinga sebelah kiri keluar cairan sejak 2 hari SMRS. Cairan berwarna bening,
berbau dan tidak bercampur darah. Keluhan tersebut muncul setelah pasien berenang. Os
mengeluh telinga nya terasa berbunyi mendengung dan pendengarannya berkurang. Os
juga mengeluh sedang pilek (+) namun keluhan batuk, nyeri telinga, pusing berputar, nyeri
tekan di daerah wajah dan nyeri menelan disangkal.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan telinga kiri terdapat perforasi membrane
timpani (+), nanah (+), hiperemis (+), KGB membesar (-), nyeri telinga (-). Pada

7
pemeriksaan hidung didapatkan secret (+/+) , konka inferior hipertrofi (+) dan hiperemis
(+).

F. DIAGNOSIS SEMENTARA

OMSK Benigna AS Aktif

Dasar diagnosis:
Diagnosis kerja Otitis Media Supuratif Kronik diambil berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang didapatkan pada OS.

Anamnesis:

- Pendegeran berkurang dan keluar secret berwarna bening dari telinga


- OS mengaku keluhan telinga keluar cairan setelah berenang

Pemeriksaan fisik telinga:

- Telinga kiri nyeri tekan tragus (-), nyeri tarik auricula (-), hiperemis (+), edema (-), nanah
(+)

Pemeriksaan penunjang endoskopi telinga:


- Membran timpani tampak ada perforasi di telinga kiri

G. PENATALAKSANAAN
Medika mentosa

 Tarivid 2 x gtt II AS
 Cetirizine 1 x 1
 Ciprofloxacin 2 x 500mg

Non – medika mentosa

 Saat mandi atau berenang jangan sampai kemasukan air ke dalam telinga
 Pasien dilarang mengorek – ngorek telinga dengan instrumen yang tidak
tepat seperti cotton bud

8
 Kontrol kembali ke poli THT minggu depan

H. PROGNOSIS
Ad Vitam : Bonam
Ad Fungsionam : Dubia ad malam
Ad Sanationam : Dubia ad malam

9
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Otitis Media Supurtif Kronik (OMSK) atau dahulu disebut otitis media perforate
(OMP) atau dalam sebutan sehari – hari congek merupakan penyakit infeksius kronik tersering
di dunia, tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di dunia maju. OMSK adalah
perubahan struktural pada sistem telinga tengah yang memiliki hubungan dengan perforasi
membrane timpani permanen dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan dan secret yang keluar
terus – menerus atau hilang timbul. Secara histologi, OMSK didefinisikan sebagai perubahan
mukosa telinga tengah yang irreversible.2,3

3.2 Klasifikasi
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:
1. Tipe Tubotimpani (tipe jinak / tipe aman / tipe rhinogen)
Penyakit tubotimpani ditandai dengan adanya perforasi central
atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan
penyakit. Beberapa factor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama
patensi tuba eustachius, infeksi saluran napas atas, pertahanan mukosa
terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang
rendah, disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan
derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous.
Sekret mucoid kronis berhubungan dengan hyperplasia sel goblet,
metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar
yang jelek.4
Secara klinis, penyakit tubotimpani terbagi atas:4
a) Penyakit aktif
Pada jenis ini, terdapat secret pada telinga
dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan
infeksi saluran napas atas melalui tuba
eustachius, atau setelah berenang dimana kuman
masuk melalui liang telinga luar. Secret

10
bervariasi dari mucoid sampai mukopurulen.
Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum
sampai perforasi subtotal pada pars tensa. Jarang
ditemukan polip yang besar pada liang telinga
luas. Perluasan infeksi ke sel-sel mastoid
mengakibatkan penyebaran yang luas dan
penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai
bila tindakan konservatif gagal untuk mengontrol
infeksi, atau jika granulasi pada mesotimpanum
dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit,
dimana kadang-kadang adanya sekret yang
berpulsasi diatas kuadran posterosuperior.4

b) Penyakit tidak aktif


Pada pemeriksaan telinga dijumpai
perforasi total yang kering dengan mukosa
telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai
berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang
dijumpai seperti vertigo, tinnitus, atau suatu rasa
penuh di dalam telinga.
Faktor predisposisi pada penyakit
tubotimpani:4
- Infeksi saluran napas yang
berulang, alergi hidung,
rhinosinusitis kronis.
- Pembesaran adenoid pada anak,
tonsillitis kronis
- Mandi dan berenang di kolam
renang, mengkorek telinga
dengan alat yang terkontaminasi
- Malnutrisi dan
hipogammaglobulinemia

11
- Otitis media supuratif akut yang
berulang
2. Tipe Atikoantral (tipe ganas / tipe tidak aman / tipe ulang)
Pada tipe ini, ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya.
Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya
dengan terbentuknya kantong berisi retraksi yang mana bertumpuknya
keratin sampai menghasilkan kolesteatom.
Kolesteatom adalah suatu masssa amorf, konsistensi seperti
mentega, berwarna putih, terdiri dari lapisan sel epitel bertatah yang
telah nekrosis. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:4

a. Kongenital
Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital:
 Berkembang dibelakang dari membrane
timpani yang masih utuh
 Tidak ada riwayat otitis media
sebelumnya
 Pada mulanya dari jaringan embryonal
dari epitel skuamos atau dari epitel
undifferential yang berubah menjadi
epitel skuamos selama perkembangan.
Kongenital kolesteatom lebih sering
ditemukan pada telinga tengah atau tulang
temporal, umumnya pada apeks petrosal.
Dapat menyebabkan fasialis parese, tuli
saraf berat unilateral, dan gangguan
keseimbangan.

b. Didapat
 Primary acquired cholesteatoma
Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik
atau pars flaksida.

12
Banyak teori yang diajukan sebagai
penyebab kolesteatom didapat primr, tetapi
sampai sekarang belum ada yang bisa
menunjukkan penyebab yang sebenarnya. Teori-
teori tersebut antara lain:
- Tekanan negative dalam atik,
menyebabkan invaginasi pars
flaksida dan pembentukan kista
- Metaplasia mukosa telinga tengah
dan atik akibat infeksi
- Hyperplasia invasive diikuti
terbentuknya kista dilapisan basal
epidermis pars flaksida akibat
iritasi oleh infeksi
- Sisa – sisa epidermis kongenital
yang terdapat di daerah atik
- Hyperkeratosis invasive dari kulit
liang telinga bagian dalam

 Secondary acquired cholesteatoma


Berkembang dari suatu kantong retraksi
yang disebabkan peradangan kronis biasanya
bagian posterosuperior dari pars tensa. Khasnya
perforasi marginal pada bagian posterosuperior.
Terbentuknya dari epitel kanal aurikula eksterna
yang masuk ke kavum timpani melalui perforasi
membrane timpani atau kantong retraksi
membrane timpani pars tensa.
Ada beberapa teori yang mengatakan
bagaimana epitel dapat masuk kedalam kavum
timpani. Pada umumnya kolesteatom terdapat

13
pada otitis media kronik dengan perforasi
marginal. Teori itu adalah:
- Epitel dari liang telinga masuk
melalui perforasi kedalam kavum
timpani dan disini ia membentuk
kolesteatom (migration teori
menurut Hartmann); epitel yang
baru masuk menjadi nekrosis,
terangkat keatas. Dibawahnya
timbul epitel baru. Inipun
terangkat hingga timbul epitel-
epitel mati, merupakan lamel-
lamel. Kolesteatom yang terjadi
ini dinamakan “secondary
acquired cholesteatoma”.
- Embrional sudah ada pulau-pulau
kecil dan ini yang akan menjadi
kolesteatom.
- Mukosa dari kavum timpani
mengadakan metaplasia oleh
karena infeksi (metaplasia teori
menurut Wendt).
- Ada pula kolesteatom yang
letaknya pada pars flaksida (attic
retraction cholesteatoma). Oleh
karena tuba tertutup terjadi
retraksi dari membrane flaksida,
akibat pada tempat ini terjadi
deskuamasi epitel yang tidak
lepas, akan tetapi bertumpuk
disini. Lambat laun epitel ini
hancur dan menjadi kista. Kista
ini tambah lama tambah besar dan
tumbuh terus kedalam kavum
14
timpani dan membentuk
kolesteatoma. Ini dinamakan
“primary acquired
cholesteatoma” atau “genuines
cholesteatoma”. Mula-mula
belum timbul peradangan, lambat
laun dapat terjadi peradangan.
Primary dan secondary acquired
cholesteatoma ini dinamakan juga
“pseudo cholesteatoma” oleh
karena ada pula kongenital
kolesteatoma. Ini juga merupakan
suatu lubang dalam tenggorok
terutama pada os temporal. Dalam
lubang ini terdapat lamel
konsentris terdiri dari epitel yang
dapat juga menekan tulang
sekitarnya. Beda kongenital
kolesteatoma ini tidak
berhubungan dengan telinga dan
tidak akan menimbulkan infeksi.

Bentuk perforasi membrane timpani 4


1. Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior, dan
postero-superior, kadang-kadang sub total.

2. Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membrane timpani dengan adanya erosi
dari annulus fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar
digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada pinggir postero-
superior berhubungan dengan kolesteatoma.

15
3. Perforasi atik
Terjadi pada pars flaksida, berhubungan dengan primary
acquired cholesteatoma.

3.3 Etiologi
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang
dimulai setelah dewasa. Factor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsillitis,
rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius. Fungsi tuba Eustachius
yang abnormal merupakan factor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan Cleft Palate
dan Down’s Syndrome. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang
merupakan factor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Faktor host yang berkaitan
dengan insiden OMSK yang relative tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral
(seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan
leukosit) dapat bermanifestasi sebagai sekresi telinga kronis.4
Penyebab OMSK antara lain:4
1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan factor social ekonomi belum
jelas, tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK
dan sosioekonomi, dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki
insiden yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini
berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, tempat tinggal yang
padat.

2. Genetik
Factor genetic masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama
apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang
dikaitkan sebagai factor genetic. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil
pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah ini primer atau
sekunder.

16
3. Otitis Media sebelumnya
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan
kelanjutan dari otitis media akut dan / atau otitis media dengan efusi,
tetapi tidak diketahui factor apa yang menyebabkan satu telinga dan
bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis.

4. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah
hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif
menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat.
Organisme yang terutama dijumpai adalah gram-negatif, flora tipe-usus,
dan beberapa organisme lainnya.

5. Infeksi saluran nafas atas


Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi
saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga
tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme
yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri.

6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih
besar terhadap otitis media kronis.

7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang
lebih tinggi disbanding yang bukan alergi.

8. Gangguan fungsi tuba eustachius


Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk
mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa
tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negative menjadi normal.
Beberapa factor yang menyebabkan perforasi membrane timpani
menetap pada OMSK:4
17
 Infeksi yang menetap pada telinga tengah
mastoid yang mengakibatkan produksi secret
telinga purulent berlanjut
 Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang
mengurangi penutupan spontan pada perforasi
 Beberapa perforasi yang besar mengalami
penutupan spontan melalui mekanisme migrasi
epitel
 Pada pinggir perforasi dari epitel skuamos dapat
mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi
medial dari membrane timpani. Proses ini juga
mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Factor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah


supuratif menjadi kronis, antara lain:4
 Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronik
atau berulang
 Perforasi membrane timpani yang menetap
 Terjadinya metaplasia skuamosa atau perubahan
patologik menetap lainnya pada telinga tengah
 Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau
rongga mastoid. Hal ini dapat disebabkan oleh
jaringan parut, penebalan mukosa, polip, jaringan
granulasi atau timpanosklerosis.
 Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau
osteomyelitis persisten di mastoid
 Factor-faktor konstitusi dasar seperti alergi,
kelemahan umum atau perubahan mekanisme
pertahanan tubuh.

18
3.4 Epidemiologi
Prevalensi OMSK dipengaruhi oleh keadaan social, ekonomi, suku, kepadatan tempat
tinggal, hygiene, dan nutrisi dari sebuah negara.5
Di Indonesia sendiri, prevalensi OMSK adalah 3,1% dari seluruh penduduk Indonesia,
dengan kata lain dari 220 juta penduduk Indonesia diperkirakan 6,6 juta menderita OMSK.
Jumlah penderita ini kecil kemungkinannya untuk berkurang bahkan mungkin bertambah
setiap tahunnya mengingat kondisi ekonomi, hygiene, dan kesadaran masyarakat akan
kesehatan yang masih kurang.5

3.5 Patogenesis
OMSK hampir selalu timbul sebagai kelanjutan dari infeksi akut yang berulang.
Diawali dengan inflamasi pada mukosa telinga tengah. Respon inflamasi menyebabkan edema
mukosa. Sumbatan tuba eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis media. Karena
fungsi tuba eustachius terganggu, maka pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga
terganggu, sehingga kuman masuk kedalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Proses
peradangan yang berlangsung akan menyebabkan ulserasi mukosa dan bila terbentuk pus maka
akan terperangkap didalam kantong mukosa telinga tengah. Kerusakan epitel sehingga
menghasilkan jaringan granulasi yang dapat terus berlanjut, menyebabkan kerusakan tulang di
sekitarnya dan akhirnya menyebabkan berbagai komplikasi pada OMSK. Infeksi yang terjadi
juga bisa berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membrane timpani,
maka terjadilah inflamasi. Walaupun belum terbukti, diduga bakteri anaerob dengan bakteri
aerob pada OMSK akan meningkatkan virulensi infeksi ketika kedua jenis bakteri tersebut
berkembang ditelinga tengah. Dengan perbaikan fungsi ventilasi telinga tengah, biasanya
proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal.6

3.6 Gejala Klinis


Tipe Benigna
a. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulent (kental, putih) atau mucoid (seperti air dan
encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mucus dihasilkan oleh
aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak,

19
cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang seringkali sebagai
reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membrane timpani dan
infeksi. Keluarnya secret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah secret
dapat disebabkan infeksi saluran napas atas atau kontaminasi dari liang telinga
luar setelah mandi atau berenang.4
Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya secret telinga. Secret
yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma
dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keeping-keping kecil, berwarna putih,
mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mucoid dan secret telinga tengah
berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Secret yang
bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip
telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatoma yang mendasarinya. Suatu
secret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberculosis.4

b. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat,
karena daerah yang sakit ataupun kolesteatoma, dapat menghambat bunyi
dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatoma, tuli
konduktif kurang dari 20 dB ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran
masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan
penurunan pendengaran lebih dari 30 dB.4
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membrane
timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga
tengah. Pada OMSK tipe maligna, biasanya didapatkan tuli konduktif berat
karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatoma
bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat
harus diintepretasikan secara hati-hati.4
Penurunan fungsi kokhlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila
terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat
menggambarkan sisa fungsi kokhlea.4
20
c. Otalgia (nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan
suatu tanda yang serius. Pada OMSK, keluhan nyeri dapat karena
terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi
akibat hambatan pengaliran secret, terpaparnya duramater atau dinding sinus
lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada
tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda
berkembang komplikasi OMSK seperti petrositis, subperiosteal abses atau
thrombosis sinus lateralis.4

d. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin
akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatoma. Vertigo yang timbul biasanya
akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada penderita yang
sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membrane
timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh
perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan
keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula
merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut
dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan
dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan
pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian
tekanan positif dan negative pada membrane timpani, dengan demikian dapat
melalui rongga telinga tengah.4

Tipe Maligna
Tanda klinis OMSK tipe maligna:4
- Adanya abses atau fistel retroaurikular
- Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal
dari kavum timpani
- Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma
kolesteatoma)
21
- Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatoma

3.7 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif. Tetapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya
ketulian tergantung besar dan letak perforasi membrane timpani serta keutuhan
dan mobilitas sistem penghantaran suara di telinga tengah.5
Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang,
sedang berat dan ketulian total. Derajat ketulian ditentukan dengan
membandingkan rata-rata kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi
percakapan terhadap skala ISO 1964 yang ekuivalen dengan skala ANSI 1969.
Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran yaitu:5

- Normal = -10 dB sampai 26 dB


- Tuli ringan = 27 dB sampai 40 dB
- Tuli sedang = 41 dB sampai 55 dB
- Tuli sedang berat = 56 dB sampai 70 dB
- Tuli berat = 71 dB sampai 90 dB
- Tuli total = > 90 dB

Evaluasi audiometri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan


fungsi koklea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran
udara dan tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang
pendengaran dapat diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi
rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran.5

b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai
diagnostiknya teratas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Pemeriksaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak
sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid
yang satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik

22
memberi kesan kolesteatoma. Proyeksi radiografi yang sekarang biasa
digunakan adalah:5

- Proyeksi Schuller
Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah
lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena
memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan
mastoid yang skleritik, gambaran radiografi ini sangat
membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral.

- Proyeksi Mayer atau Owen


Diambil dari arah anterior telinga tengah. Akan tampak
gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat
diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-
struktur.

- Proyeksi Stenver
Memperlihatkan gambaran sepanjang pyramid petrosus
dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna,
vestibulum, dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini
menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat
menunjukkan adanya pembesaran akibat kolesteatom.

- Proyeksi Chause III


Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga
dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik.
Politomografi dana tau CT Scan dapat menggambarkan
kerusakan tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak tulang-
tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada
kanalis semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan
operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada
keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak
lebih anterior menunjukkan adanya penyakit mastoid.

23
3.8 Penatalaksanaan
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Sekret
yang keluar tidak cepat kering / selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh
satu atau beberapa keadaan yaitu: 1) adanya perforasi membrane timpani yang permanen,
sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar, 2) terdapat sumber inefksi di faring,
nasofaring, hidung dan sinus paranasal, 3) sudah terbentuk jaringan patologik yang irreversible
dalam rongga mastoid, dan 4) gizi dan hygiene yang kurang.2

OMSK tipe aman 2


Prinsip terapi OMSK tipe aman adalah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila
secret yang keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2
3% selama 3-5 hari. Setelah secret berkurang maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat
tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. OMSK jangan diberikan secara
terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara oral
diberikan antibiotika dari golongan ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap
penisilin), sebelum hasil tes resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena
penyebabnya telah resisten terhadap ampisillin, dapat diberikan ampisilin asam klavulanat.
Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan,
maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk
menghentikan infeksi secara permanen, memperbaikin membran timpani yang perforasi,
mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta
memperbaiki pendengaran.
Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan secret tetap ada, atau terjadinya infeksi
berulang, maka sumber infeksi harus diobati terlebih dulu, mungkin juga perlu melakukan
pembedahan misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi.

OMSK tipe bahaya 2


Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi bila
terdapat OMSK tipe bahay, maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi
dengan atau tanpa timpanoplasty. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah
merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal
retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi.

24
Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK
dengan mastoiditis kronis, baik tipe aman atau bahaya, antara lain: 1) mastoidektomi sederhana
(simple mastoidektomy), 2) mastoidektomi radikal, 3) mastoidektomi radikal dengan
modifikasi, 4) miringoplasti, 5) timpanoplasti, 6) pendekatan ganda timpanoplasti (combined
approach tympanoplasty).
Jenis operasi mastoid yang harus dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau
kolesteatom, sarana yang tersedia serta pengalaman operator. Sesuai dengan luasnya infeksi
atau luas kerusakan yang sudah terjadi, kadan-kadanga dilakukan kombinasi dari jenis operasi
atau modifikasinya.

3.9 Komplikasi
Komplikasi OMSK mulai dari gangguan pendengaran yang ringan sampai yang
mengancam seperti infeksi intracranial. Komplikasi intratemporal termasuk kelumpuhan saraf
wajah, fistula postauricular, dan petrositis. Jika infeksi menyebar di luar batas-batas tulang
temporal, komplikasi intracranial seperti absesn epidural, subdural, trombofleibitis sinus
lateral, meningitis, dan abses otak dapat terjadi. 7
OMSK tipe benigna tidak menyerang tulang, sehingga jarang menimbulkan
komplikasi. Tapi jika tidak mencegah invasi organisme baru dari nasofaring, maka dapat terjadi
superimpose otitis media supuratif akut eksaserbasi akut dapat menimbulkan komplikasi
dengan terjadinya trombofleibitis vaskuler.6,8
Komplikasi sering terjadi pada OMSK tipe maligna karena adanya kolesteatoma.
Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatoma berupa:6,8
 Erosi canalis semisirkularis
 Erosi canalis tulang
 Erosi segmen timpani dan abses ekstradural
 Erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses
subperiosteal
 Erosi pada sinus sigmoid

Distribusi penyakit OMSK berdasarkan komplikasi tersering didapatkan komplikasi


terbanyak adalah erosi tulang, sedangkan komplikasi terkecil adalah tuli saraf. Pencetus
terjadinya komplikasi ini adalah infeksi saluran napas atas (ISPA) akibat tersumbatnya tuba
eustachius.6,8

25
BAB IV
KESIMPULAN

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan peradangan atau infeksi kronis yang
mengenai mukosa dan struktur tulang di dalam kavum timpani, ditandai dengan perforasi
membran timpani, sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul, rasa nyeri di telinga
dan kepala terasa pusing berputar.
Penurunan pendengaran pada pasien OMSK tergantung dari derajat kerusakan tulang-
tulang pendengaran yang terjadi. Biasanya dijumpai tuli konduktif, namun dapat pula terjadi
tuli persepsi yaitu bila telah terjadi invasi ke labirin, atau tuli campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit
ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi sampai dengan efektif ke fenestra ovalis.
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta
keutuhan dan mobilitas sistim pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK benigna, letak
perforasi membrane timpani biasanya di sentral, sedangkan pada OMSK tipe maligna, letak
perforasi membrane timpani paling sering di marginal dan atik.
Prinsip pengobatan pada pasien OMSK benigna adalah dengan pemberian obat cuci
telinga H2O2 3% selama 3-5 hari jika secret keluar terus menerus. Jika secret sudah berkurang
maka berikan obat tetes telinga yang berisi antibiotic dan kortikosteroid. Sedangkan prinsip
pengobatan pada pasien dengan OMSK maligna adalah dengan terapi pembedahan.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Farida Y, Sapto H, Oktaria D. Tatalaksana terkini otitis media supuratif kronis (OMSK).
Volume 6, No, 1; 2016. Lampung: Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan
Bagian THT Rumah Sakit Abdoel Moeloek. Diunduh dari
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/medula/article/download/877/pdf, 10 Maret
2018.
2. Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala & leher. Edisi ke 7. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2012.h.62-7.
3. Diana F, Haryuna SH. Hubungan rhinitis alergi dengan kejadian otitis media supuratifa
kronik. Medan: Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
RSUP H. Adam Malik. Diambil dari Jurnal MKB, Volume 49, No. 2. Juni 2017.
4. Nursiah S. Pola kuman aerob penyebab OMSK dan kepekaan terhadap beberapa
antibiotika di bagian THT FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan. Medan: Program
pendidikan Dokter Spesialis Bidang Studi Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara; 2003. Diunduh dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-siti%20nursiah.pdf, 9 Maret 2018.
5. Oeniasih P. Otitis Media Supuratif Kronis. Jakarta: Departemen ilmu penyakit telinga
hidung tenggorokan RS. Bhayangkara Tingkat 1 Raden Said Sukanto; 2012.
6. Zanah WR. Gambaran audiologi pasien otitis media supuratif kronik di poliklinik
telinga hidung tenggorok Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati tahun 2012 – 2014.
Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah; 2015. Diunduh dari
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/27650/1/WULAN%20ROU
DOTUL%20ZANAH-FKIK.pdf, 10 Maret 2018.
7. Healy GB, Rosbe KW. Otitis Media and Middle Ear Effusions. In: Snow JB, Ballenger
JJ, eds. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke 16. New
York: BC Decker; 2003.h.250-1.
8. Adam GL, Boeis LC, Hilger PA. Boeis Buku Ajar Penyakit THT (Boeis Fundamentals
of Otolaryngology). Edisi ke 6. Jakarta: Buku Ajar Kedokteran EGC; 2009.

27