Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN SINDROM NEFROTIK

A. LANDASAN TEORI

1. Definisi

Nephrotic Syndrome adalah merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya
injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik; proteinuria, hypoproteinuria,
hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema. (Suriadi, 2006)

Sindroma nefrotik adalah suatu sindroma yang ditandai dengan proteinuria,


hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema. Sindrom ini dapat terjadi karena adanya faktor
yang menyebabkan premeabilitas glomerulus. (Hidayat, A.Aziz, 2006)

Sindroma Nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia,


hiperlipidemia, kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi, dan penurunan fungsi ginjal.
(Ngastiyah, 2005)

2. Anatomi fisiologi

Ginjal adalah organ ekskresi yang berperan penting dalam mempertahankan


keseimbangan internal dengan jalan menjaga komposisi cairan tubuh/ekstraselular. Ginjal
merupakan dua buah organ berbentuk seperti kacang polong, berwarna merah kebiruan. Ginjal
terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal disebelah kanan dan kiri
tulang belakang, dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal di belakang peritoneum atau di luar
rongga peritoneum.

Ketinggian ginjal dapat diperkirakan dari belakang di mulai dari ketinggian vertebra
torakalis sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri
karena letak hati yang menduduki ruang lebih banyak di sebelah kanan. Masing-masing ginjal
memiliki panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm dan tebal2,5 cm.. Berat ginjal pada pria dewasa 150-
170 gram dan wanita dewasa 115-155 gram.
Ginjal ditutupi oleh kapsul tunikafibrosa yang kuat, apabila kapsul di buka terlihat
permukaan ginjal yang licin dengan warna merah tua. Ginjal terdiri dari bagian dalam, medula,
dan bagian luar, korteks. Bagian dalam (interna) medula.Substansia medularis terdiri dari
pyramid renalis yang jumlahnya antara 8-16 buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal,
sedangkan apeksnya menghadap ke sinus renalis. Mengandung bagian tubulus yang lurus,
ansahenle, vasa rekta dan duktuskoli gensterminal. Bagian luar (eksternal) korteks. Subtansia
kortekalis berwarna coklat merah, konsistensi lunak dan bergranula. Substansia ini tepat dibawah
tunika fibrosa, melengkung sepanjang basis piramid yang berdekatan dengan sinus renalis, dan
bagian dalam di antara pyramid dinamakan kolumnarenalis. Mengandung glomerulus, tubulus
proksimal dan distal yang berkelok-kelok dan duktus koligens.

Struktur halus ginjal terdiri atas banyak nefron yang merupakan satuan fungsional ginjal.
Kedua ginjal bersama-sama mengandung kira-kira 2.400.000 nefron. Setiap nefron biasa
membentuk urin sendiri. Karena itu fungsi dari satu nefron dapat menerangkan fungsi dari ginjal.
3. Klasifikasi

a. Sindrom Nefrotik Lesi Minimal ( MCNS : minimal change nephrotic syndrome).


Kondisi yang sering menyebabkan sindrom nefrotik pada anak usia sekolah. Anak
dengan sindrom nefrotik ini, pada biopsi ginjalnya terlihat hampir normal bila dilihat
dengan mikroskop cahaya.
b. Sindrom Nefrotik Sekunder
Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler seperti lupus eritematosus sistemik, purpura
anafilaktik, glomerulonefritis, infeksi system endokarditis, bakterialis dan neoplasma
limfoproliferatif.
c. Sindrom Nefrotik Kongenital
Factor herediter sindrom nefrotik disebabkan oleh gen resesif autosomal. Bayi yang
terkena sindrom nefrotik, usia gestasinya pendek dan gejala awalnya adalah edema dan
proteinuria. Penyakit ini resisten terhadap semua pengobatan dan kematian dapat terjadi
pada tahun-yahun pertama kehidupan bayi jika tidak dilakukan dialysis.
4. Etiologi

a. Sindrom nefrotik bawaan


Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Gejalanya adalah
edema pada masa neonatus. Sindrom nefrotik jenis ini resisten terhadap semua
pengobatan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pencangkokan ginjal pada masa
neonatus namun tidak berhasil. Prognosis buruk dan biasanya penderita meninggal dalam
bulan-bulan pertama kehidupannya.
b. Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh:
a) Malaria kuartana atau parasit lain.
b) Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid.
c) Glumeronefritis akut atau glumeronefritis kronis, trombisis vena renalis.
d) Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, sengatan
lebah, racun oak, air raksa.
e) Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif
hipokomplementemik.
c. Sindrom nefrotik idiopatik ( tidak diketahui sebabnya )
Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dengan pemeriksaan
mikroskop biasa dan mikroskop elektron, Churg dkk membagi dalam 4 golongan yaitu:
kelainan minimal,nefropati membranosa, glumerulonefritis proliferatif dan
glomerulosklerosis fokal segmental.

5. Manifestasi klinis

a. Edema
b. Penurunan jumlah urin : urine gelap, berbusa
c. Pucat
d. Hematuri
e. Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa usus.
f. Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan meningkat dan keletihan umumnya
terjadi.
g. Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang)

6. Patofisiologi

a. Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat pada hilangnya


protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria. Lanjutan dari proteinuria
menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan menurunnya albumin, tekanan osmotik plasma
menurun sehingga cairan intravaskuler berpindah ke dalam interstitial. Perpindahan
cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang, sehingga menurunkan
jumlah aliran darah ke renal karena hypovolemi.
b. Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan
merangsang produksi renin – angiotensin dan peningkatan sekresi anti diuretik hormon
(ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian terjadi retensi kalium dan air. Dengan
retensi natrium dan air akan menyebabkan edema.
c. Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan stimulasi
produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin dan penurunan onkotik plasma
d. Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipopprtein dalam hati
yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak dalam
urin (lipiduria)
e. Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh karena
hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng.
7. Pathway
8. Komplikasi

a. Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah akibat


hipoalbuminemia.
b. Shock: terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang
menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock.
c. Trombosis vaskuler: mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga terjadi
peninggian fibrinogen plasma.
d. Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal.

9. Penatalaksanaan

a. Prisipnya supportive
b. Anak dipertahankan dalam keadaan bed rest namun aktivitasnya tidak dibatasi pada fase
remesi
c. Infeksi akut: dengan pemberian antibiotik yang sesuai
d. Memberikan diet yang sesuai: membatasi garam
e. Intake tinggi proteindikurangi: gagal ginjal & azotemia
f. Terapi kortikosteroid :
a) Dimulai dini pada saat anak didiognosis NS
b) Pemberian secara oral dalam dosis 2 mg/kg BB = 10 hari – 2 mgg sampai urine
bebas dari protein
c) Perhatikan Efek Samping yang terjadi seperti Growth Retardation, katarak,
obesitas, hypertensi, perdarahan GI, infeksi
g. Terapi imunosupresant:
a) Memungkinkan mengurangi relaps dan memberikan tahap remisi dalam jangka
waktu yang lama
b) Misalnya pemberian cyclophos phamide yang digabung dengan prednison 2-3
bulan
h. Pemberian diuretic:
a) Furosemid yang dikombinasi dengan metolazone
b) Plasma expander seperti salt poor human albumin

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Fokus pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dari tahapan proses keperawatan. Dalam mengkaji,
harus memperhatikan data dasar pasien. Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung
pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian. Pengkajian yang perlu dilakukan pada
klien anak dengan sindrom nefrotik, sebagai berikut :

1. Lakukan pengkajian fisik termasuk pengkajian luasnya edema


2. Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat, terutama yang berhubungan dengan penambahan
berat badan saat ini, disfungsi ginjal.
3. Observasi adanya manifestasi sindrom nefrotik :
a. Penambahan berat badan
b. Edem
c. Wajah sembab : Khususnya di sekitar mata, timbul pada saat bangun pagi, dan berkurang
di siang hari
d. Pembengkakan abdomen (asites)
e. Kesulitan pernafasan (efusi pleura)
f. Pembengkakan labial (scrotal)
g. Edema mukosa usus yang menyebabkan :
a) Diare
b) Anoreksia
c) Absorbsi usus buruk

2. Diagnosa keperawatan

a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan volume urine, retensi cairan
dan natrium.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien.
c. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, kontrol dan atau
massa.

3. Intervensi keperawatan

No Dx Keperawatan NOC NIC


1 Kelebihan volume cairan Tujuan: Kelebihan volume 1. Pemantauan elektrolit
b.d penurunan volume cairan dapat dikurangi 2. Manajemen cairan
urine, retensi cairan dan Kriteria hasil: 3. Pemantauan cairan
natrium - Keseimbangan elektrolit 4. Tentukan derajat dan
asam-basa lokasi edema
- Keseimbangan cairan 5. Kaji ekstrimitas
- Keparahan overload 6. Ajarkan pasien penyebab
cairan dan cara mengatasi edema
7. Konsultasikan dengan ahli
gizi untuk memberikan diet

2 Ketidakseimbangan Tujuan: Memperlihatkan 1. Manajemen gangguan


nutrisi kurang dari status gizi: asupan makanan makan
kebutuhan tubuh b.d dan cairan 2. Manajemen elektrolit
ketidakmampuan untuk Kriteria hasil: 3. Terapi nutrisi
mengabsorpsi nutrien - Status gizi 4. Tentukan motivasi pasien
- Berat badan: massa tubuh untuk mengubah kebiasaan
- Perawatan diri: makan makan
5. Ajarkan metode untuk
perencanaan makanan
6. Diskusikan dengan ahli
gizi dalam menentukan
kebutuhan protein pasien
3 Hambatan mobilitas fisik Tujuan: Memperlihatkan 1. Kaji kebutuhan pasien
b.d penurunan kekuatan mobilitas terhadap kebutuhan
otot, kontrol dan atau Kriteria hasil: pelayanan kesehatan di
massa - Keseimbangan rumah
- Ambulasi 2. Berikan penguatan positif
- Performa mekanika tubuh selama aktivitas
- Pergerakan terkoordinasi 3. Pengaturan posisi
4. Ajarkan pasien tentang dan
pantau penggunaan alat
mobilisasi

4. Daftar pustaka

Hidayat, A. A. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Judith M. Wilkinson, N. R. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA,


Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC, Ed. 9. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Muttaqin, A. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba


Medika.

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: EGC.

Suriadi. (2006). Asuhan Keperawatan Anak Edisi 2. Jakarta: CV Sagung.

Anda mungkin juga menyukai