Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH OPTIK

Penjalaran Cahaya (Prinsip Malus, Huygens dan Fermat)

Kelompok 1 :

1. Nur Alissa Anwar (15030224019)


2. Ninik Setiyawati (15030224023)
3. Muhamad Armansyah (15030224033)
4. Dhimas Ardeansyah (15030224036)
5. Varilia Wardani (15030224039)

FISIKA D 2015

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan
dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Surabaya,18 Februari 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................................1
KATA PENGANTAR...................................................................................................................2
DAFTAR ISI.................................................................................................................................3
BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................................................4
BAB 2 PEMBAHASAN
Penjalaran cahaya menurut Malus.................................................................................5
Penjalaran cahaya menurut Huygens.............................................................................7
Penjalaran cahaya menurut Fermat...............................................................................11
Pemantulan Sempurna.....................................................................................................13
BAB 3 PENUTUP.........................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................18

3
BAB I
PENDAHULUAN

Para ahli sejak zaman sebelum masehi mengatakan bahwa kita dapat melihat benda karena
terdapat cahaya dari mata kita, yang dipancarkan pada benda tersebut. Seperti sebuah senter yang
disorotkan pada benda sehingga kita bisa melihat benda tersebut. Teori ini dipelopori oleh filosof
Yunani seperti Euclid, Aristoteles dan Ptolomeus.

Optika geometris atau optika sinar menjabarkan perambatan cahaya sebagai vektor yang
disebut sinar. Sinar adalah sebuah abstraksi atau "instrumen" yang digunakan untuk menentukan arah
perambatan cahaya. Sinar sebuah cahaya akan tegak lurus dengan muka gelombang cahaya tersebut,
dan ko-linear terhadap vektor gelombang.

Pengertian mengenai cahaya sendiri menjadi bahan perdebatan fisikawan sejak zaman Newton
bahkan mungkin jauh sebelumnya dan mencapai puncaknya pada kegagalan teori gelombang
elektromagnetik dalam menjelaskan data empirik tentang gejala radiasi benda hitam dan berakhir pada
penemuan efek fotolistrik Einstein dan efek hamburan Compton. Beberapa teori/pendapat para ahli
fisika tentang cahaya adalah Teori Malus yang ditemukan oleh Etienne Louis Malus pada tahun 1890,
Teori Huygens yang diajukan oleh fisikawan Christian Huygens (1629-1695) dan Prinsip Fermat yang
dikemukakan Pierre de Fermat (1601-1665). Ketiga contoh teori tersebut membahas mengenai
penjalaran cahaya dan peristiwanya seperti pemantulan, pembiasan dan polarisasi cahaya.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penjalaran Cahaya Menurut Malus

Polarisasi dengan Penyerapan Selektif

Tehnik yang umum untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi adalah menggunakan


polaroid. Polaroid akan meneruskan gelombang-gelombang yang arah getarnya sejajar
dengan sumbu transmisi dan menyerap gelombang-gelombang pada arah lainnya. Oleh
karena tehnik berdasarkan penyerapan arah getar, maka disebut polarisasi dengan
penyerapan selektif. Suatu polaroid ideal akan meneruskan semua komponen medan
listrik E yang sejajar dengan sumbu transmisi dan menyerap suatu medan listrik E
yang tegak lurus pada sumbu transmisi.

Jika cahaya tidak terpolarisasi dilewatkan pada sebuah kristal, maka arah getaran yang
keluar dari kristal hanya terdiri atas satu arah disebut

cahaya terpolarisasi linier. Kristal yang dapat menyerap sebagian arah


getar disebut dichroic.(gambar 2)

Selanjutnya, pada Gambar 3 ditunjukkan susunan dua keping Polaroid. Keping


Polaroid yang pertama disebut polarisator, sedangkan keping polaroid yang kedua
disebut analisator. .Polarisatorberfungsi untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi dari
cahaya tak terpolarisasi (cahaya alami).Analisator berfungsi untuk mengurangi
intensitas cahaya cahaya terpolarisasi. Polarisasi karena absorbsi.

Selektif Polaroid adalah suatu bahan yang dapat menyerap arah bidang getar
gelombang cahaya dan hanya melewatkan salah satu bidang getar. Seberkas sinar yang
telah melewati polaroid hanya akan memiliki satu bidang getar saja sehingga sinar
5
yang telah melewati polaroid adalah sinar yang terpolarisasi. Peristiwa polarisasi ini
disebut polarisasi karena absorbsi selektif. Polaroid banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, antara lain untuk pelindung pada kacamata dari sinar matahari
(kacamata sun glasses) dan polaroid untuk kamera.(gambar 3)

Prinsip kerja sistem adalah sebagai berikut, seberkas cahaya alami menuju polarisator.
Di sini cahaya dipolarisasi secara vertikal, yaitu hanya komponen vektor medan listrik
E yang sejajar dengan sumbu transmisi saja yang diteruskan sedangkan lainnya
diserap. Cahaya terpolarisasi yang masih mempunyai kuat medan listrik belum
berubah menuju analisator (sudut antara sumbu transmisi analisator dan polarisator
adalah θ). Di analisator, semua komponen E yang sejajar sumbu analisator yang
diteruskan. Jadi, kuat medan listrik yang diteruskan oleh analisator adalah

Jika seberkas cahaya dengan intensitas I0 dilewatkan pada sebuah polalisator ideal,
intensitas cahaya yang dilewatkan adalah 50% atau ½ I0. Akan tetapi, jika cahaya
dilewatkan pada polalisator dan analisator yang dipasang bersilangan, tidak ada
intensitas cahaya yang melewati analisator. Secara umum, intensitas yang dilewati
analisator adalah :

Dengan I2 adalah intensitas cahaya yang lewat analisator.I0 adalah intensitas awal
seblum maasuk polalisator dan θ adalah sudut antara arah polarisasi polalisator dan
6
arah polarisasi analisator. Jika keduanya sejajar, θ = 0°. jika keduanya saling
bersilangan, θ = 90°.

Intensitas cahaya yang diteruskan oleh sistem Polaroid mencapai maksimum jika
kedua sumbu polarisasi adalah sejajar (θ = 0° atau 180°) dan mencapai minimum jika
kedua sumbu polarisasi saling tegak lurus atau 90.

Polarisasi jenis ini dapat terjadi dengan bantuan kristal polaroid. Bahan polaroid
bersifat meneruskan cahaya dengan arah getar tertentu dan menyerap cahaya dengan
arah getar yang lain. Cahaya yang diteruskan adalah cahaya yang arah getarnya sejajar
dengan sumbu polarisasi polaroid. Polaroid banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, antara lain untuk pelindung pada kacamata dari sinar matahari (kacamata
sun glasses) dan polaroid untuk kamera.

Suatu cahaya tak terpolarisasi datang pada lembar polaroid pertama disebut polarisator
(Polarisator berfungsi untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi), dengan sumbu
polarisasi ditunjukkan oleh garis-garis pada polarisator. Kemudian dilewatkan pada
polaroid kedua yang disebut analisator (Analisator untuk mengetahui apakah cahaya
sudah terpolarisasi atau belum). Maka intensitas sinar yang diteruskan oleh analisator
I, dapat dinyatakan sebagai:

Dengan I0 adalah intensitas gelombang setelah melalui analisator. Sudut q adalah sudut
antara arah sumbu dan polarisator dan analisator.
Persamaan di atas dikenal dengan hukum malus, ditemukan oleh Etienne Louis Malus
pada tahun 1809. Dari persamaan hukum Malus ini dapat disimpulkan :
2.1.1 Intensitas cahaya yang diteruskan maksimum jika kedua sumbu polarisasi
sejajar ( ).
2.1.2 Intensitas cahaya yang diteruskan sama dengan nol (diserap seluruh oleh
analisator) jika kedua sumbu polarisasi tegak lurus satu sama lain.

2.2 Penjalaran Cahaya Menurut Huygens

Menurut teori Huygens yang dikenal sebagai prinsip Huygens diajukan oleh fisikawan
Christian Huygens (1629-1695), pada dasarnya menyatakan bahwa, “Setiap titik pada suatu
muka gelombang (wave front), dapat dipandang sebagai pusat gelombang sekunder yang
memancarkan gelombang baru ke segala arah (wavelet) dengan kecepatan yang sama dengan
kecepatan rambat gelombang. Muka gelombang yang baru diperoleh dengan cara melukis
sebuah permukaan yang menyinggung (menyelubungi) gelombang-gelombang sekunder
tersebut”

Prinsip Huygens bisa dipakai untuk menerangkan terjadinya difraksi cahaya pada celah
kecil. Pada saat melewati celah kecil, muka gelombang (wave front) akan menimbulkan

7
wavelet yang jumlahnya tak terhingga sehingga gelombang tidak mengalir lurus saja, tetapi
menyebar dan merambat keluar dari celah.

Gambar 2.1 : Difraksi cahaya

Gambar 2.2 : Cahaya menggandakan diri setiap satuan waktu

Jadi proses penjalaran cahaya menurut prinsip Huygens disebabkan oleh partikel cahaya
yang cenderung menggandakan diri tiap satuan waktu dengan arah lurus sehingga mampu
mencapai jarak tertentu.

Gambar 2.3 : Gambaran prinsip Huygens untuk gelombang siferis


8
Gambar diatas melukiskan gelombang cahaya yang dipancarkan oleh sebuah titik H ke
segala arah, pada suatu saat muka gelombang digambarkan sebagai permukaan bola AB, pada
t detik kemudian.Menurut prinsip Huygens, setiap titik pada muka gelombang AB merupakan
pusat gelombang baru ( gelombang skunder ) misalnya titik PQR, dengan titik tersebut dilukis
sebagai pusat gelombang baru dengan jari-jari yang sama sebesar R = ct.

Peninjauan Peristiwa Pemantulan menurut Prinsip Huygens

Menurut prinsip Huygens setiap titik pada gelombang cahaya dapat dianggap
sebagai pusat gelombang baru (sekunder) yang memancarkan gelombang baru ke sagala arah
dengancepat rambat yang sama dengan cepat rambat gelombang. Hal ini dapat menjelaskan
proses pemantulan cahaya melalui visualisasi sebagai berikut:

Gambar 2.4 : Pemantulan cahaya berdasarkan prinsip Huygens

Pada gambar diatas terlihat bahwa Muka gelombang datang AA’ menabrak
bidang pantul MM’. Posisi muka gelombang pada selang waktu t dapat dicari dengan
menerapkan asas Huygens. Dengan sejumlah titik pada AA’ sebagai pusat, dapat ditarik
sejumlah gelombang sekunder pada radius vt, dimana v adalah cepat rambat gelombang di
medium 1. Gelombang sekunder yang muncul di dekat ujung atas AA’ menyebar tanpa
penghalang dan membentuk muka gelombang yang baru yaitu garis OB. Namun gelombang
sekunder yang berada di dekat ujung bawah AA’ terhalang bidang pantul, seandainya bidang
pantul ditiadakan maka gelombang sekunder yang muncul adalah sepanjang garis BB”. Efek
bidang pantul mengubah arah rambatan gelombang yang membentur bidang pantul tersebut,
sehingga sebagian gelombang yang seharusnya menembus bidang pantul (warna abu-abu)
menjadi berubah arah dengan posisi tetap berada di sebelah kiri bidang pantul (warna merah)
yaitu garis OB’. Jadi setelah selang waktu t maka gelombang primer (garis AA’) membentuk
gelombang sekunder (garis BOB’). Dengan proses yang sama, setelah selang waktu
berikutnya gelombang akan membentuk gelombang sekunder lagi sesuai garis CPC’.

9
Gambar 2.5 : Pemantulan cahaya membentuk sudut tertentu

Sudut ɸ adalah sudut antara sinar datang dengan permukaan bidang pantul yang
selanjutnya disebut dengan sudut datang. Begitu pula dengan r yang merupakan sudut antara
sinar pantul dengan bidang pantul selanjutnya disebut dengan sudut pantul.

Berikut adalah visualisasi sinar datang dan sinar pantul untuk mengetahui hubungan
antara sudut datang dan sudut pantul.

Gambar 2.6 : Visualisasi sinar datang dan sinar pantul

Dari titik O ditarik garis OP = vt yang tegak lurus terhadap garis AA’. Kemudian dari titik
A ditarik garis AQ sepanjang vt yang tegak lurus terhadap garis sinar pantul OB. Maka
didapatkan dua buah segitiga siku-siku yang sebangun, yaitu APO dan AQO (AQ = OP dan
AO berhimpit) sehingga sudut ɸ sama dengan sudut r. sudut datang sama dengan sudut pantul.

10
Gambar 2.7 : Dua buah segitiga APO dan AQO

AQ = OP = x

Sin ɸ = Sin r

ɸ=r

Peninjauan Peristiwa Pemantulan menurut Prinsip Huygens

Menurut prinsip Huygens setiap titik pada gelombang cahaya dapat dianggap
sebagai pusat gelombang baru (sekunder) yang memancarkan gelombang baru ke sagala arah
dengancepat rambat yang sama dengan cepat rambat gelombang. Hal ini dapat menjelaskan
proses pemantulan cahaya melalui visualisasi sebagai berikut:

Gambar 2.8 : Pembiaasan cahaya berdasarkan prinsip Huygens

Pada gambar diatas terlihat bahwa gelombang cahaya yang datang di sepanjan garis AA’
menyentuh permukaan medium b (garis MM’). sesuai dengan asas Huygens, dapat ditinjau

11
beberapa titik di sepanjang garis AA’ sebagai pusat yang kemudian membentuk gelombang
sekunder (garis BB’) pada radius setelah selang waktu t. adalah cepat rambat gelombang
di medium a. Dapat diperhatikan bahwa ketika gelombang menembus medium b, gelombang
tidak bergerak bersamaan dengan bagian gelombang yang bergerak di medium a. sehingga
bentuk sinar yang muncul patah di titik O. Hal ini dikarenakan cepat rambat gelombang di
medium a dan medium b berbeda. Dengan proses yang sama gelombang kembali akan

membentuk gelombang sekunder CC’ dalam selang waktu t berikutnya. Sudut menunjukkan

sudut antara sinar datang dengan garis batas antara medium a dengan medium b (garis MM’)

yang selanjutnya akan disebut sebagai sudut datang. Sudut menunjukkan sudut antara sinar

yang dibiaskan dengan garis batas antara medium a denganmedium b (garis MM’).
selanjutnya sudut ini disebut dengan sudut bias.

Berikut adalah analisa yang menunjukkan hubungan antara sudut datang dan sudut bias
dalam peristiwa pembiasan yang ditinjau menurut prinsip Huygens:

Gambar 2.9 : Hubungan sinar datang dan sinar pantul

Dari gambar di atas diketahui bahwa dari titik O ditarik garis OQ = tegak lurus terhadap

sinar datang yaitu garis AQ. Dari titik A ditarik garis AB = tegak lurus terhadap sinar bias
(garis OB) sehingga terbentuk dua segitiga siku-siku yaitu AQO dan ABO.

Berdasarkan segitiga AQO:

Berdasarkan segitiga ABO:

12
Sehingga:

Karena va/vb merupakan konstanta, maka persamaan ini merupakan Hukum Snell. Berikut
adalah bentuk umum dari Hukum Snell:

Sehingga:

atau

2.3 Penjalaran Cahaya Menurut Fermat

Prinsip Fermat atau principle of least time adalah sebuah prinsip yang mendefinisikan
jarak tempuh yang terpendek dan tercepat yang dilalui oleh cahaya. Prinsip ini kadang-kadang
digunakan sebagai definisi sinar, sebagai cahaya yang merambat sesuai prinsip Fermat. Prinsip
ini merupakan penyederhanaan yang dilakukan oleh Pierre de Fermat pada tahun 1667 dari
konsep-konsep serupa sebelumnya dari berbagai macam percobaan refleksi cahaya. Pada
pengembangan teori-teori cahaya, prinsip Fermat selalu ditilik ulang dan disempurnakan.
Pada hukum Snellius, dijelaskan rasio yang terjadi akibat prinsip ini sebagai:

walaupun terdapat keraguan metode yang digunakan Willebrord Snellius pada tahun 1621
untuk menentukan nisbah kecepatan cahayamengingat bahwa cahaya baru dipastikan
mempunyai kecepatan yang konstan pada tahun 1676 oleh Ole Christensen Rømer. Dan Isaac
Newton baru pada tahun 1675 menyatakan bahwa partikel cahaya mempunyai kecepatan yang
lebih tinggi pada medium yang lebih padat, akibat gaya gravitasi, walaupun teori ini kemudian
dibuktikan adalah keliru.
Isaac Newton dengan persamaan gaya yang sangat terkenal:

yang mendefinisikan massa sebagai kelembaman benda terhadap perubahan kecepatan, dapat
menjabarkan hukum Snellius sebagai teori partikel cahaya:

13
karena analogi indeks bias dengan massa dan percepatan dengan perubahan sudut sinar bias
terhadap perubahan sudut sinar insiden. Dan mendefinisikan prinsip Fermat sebagai prinsip
kekekalan gaya dengan sinar cahaya sebagai gaya yang memicu kecepatan massa pada jarak
tempuhnya.

sehingga:

dan dengan penurunan persamaan ini, banyak yang menyangsikan bahwa Isaac
Newton mengatakan kecepatan cahaya pada medium yang lebih padat menjadi lebih cepat.
Prinsip Fermat disebut sebagai konsekuensi extremum principle of wave
mechanics dari teori gelombang yang dipresentasikan Christiaan Huygens pada tahun 1690
yang kemudian disebut prinsip Huygens, dengan menambahkan parameter panjang
gelombang pada nisbah hukum Snellius:
.of all secondary waves (along all possible paths) the waves with the extrema (stationary)
paths contribute most due to constructive interference.
sebagai kecenderungan gelombang cahaya untuk merambat melalui jarak tempuh yang
stasioner yang membentuk sudut tertentu terhadapat normal antarmuka dua medium.

KECEPATAN dan WAKTU

Kecepatan dalam mekanika klasik didefinisikan sebagai pergeseran posisi dalam kurun waktu:

Jika pada diagram ditumpangkan sebuah lingkaran dengan jari-jari yang disebut kurun waktu,
dan menggabungkan dengan persamaan hukum Snellius dengan Hukum Newton sebagai
berikut:

maka:

Persamaan ini mendefinisikan kecepatan sebagai proyeksi berjalannya waktu terhadap rentang
sudut pengamatan pengamatnya. Sebagai contoh, sebuah kereta api yang berjalan pada
kecepatan yang sama, jika diamati dari jarak dekat akan terasa lebih cepat daripada jika
diamati dari kejauhan, karena sudut pandang pengamatan yang lebih kecil, pada kurun waktu
pengamatan yang sama.
Prinsip Fermat menyatakan bahwa jarak tempuh refraksi yang membias adalah jarak
tempuh yang tersingkat bagi cahaya. Pernyataan ini dari sudut pandang geometris adalah
14
keliru sama sekali, karena jarak tempuh yang tersingkat adalah sebuah garis lurus yang
menghubungkan dua buah titik pada satu bidang. Dilihat dari sudut pandang
kenisbian, cahayayang membias merupakan arah rambat waktu yang melengkung akibat
ketergantungan terhadap kecepatan. Ini berarti bahwa waktu ada karena adanya gerakan
pada kecepatan tertentu.
Waktu masih mempunyai proyeksi yang lain berupa kecepatan pada sumbu normal yang
lepas dari pengamatan, sehingga waktu menurut prinsip Fermat adalah bilangan kompleks
yang terdiri dari dua unsur kecepatan, yaitu kecepatan kejadian yang diamati oleh pengamat
dari kecepatan tertentu.
Jarak tempuh dalam mekanika klasik ditulis ulang berdasarkan sudut pengamatan menjadi:

yang ditunjukkan oleh luas area di antara waktu dan kecepatan.

GAYA DAN MASSA


Pada hukum Newton, gaya ditentukan menurut persamaan:

Persamaan ini mengatakan bahwa gaya adalah produk sebuah massayang


mengalami percepatan, sesuai dengan hukum Newton yang pertama, yang menyebutkan
bahwa benda yang mempunyai massa akan mempunyai kecepatan yang konstan dan akan
mengalami percepatanpada saat dikenai gaya. Dengan penggabungan dengan prinsip Fermat,
diperoleh persamaan sebagai berikut:

yang menjadi addendum hukum Newton yang pertama dengan mengaitkan pengurangan
massa dengan penambahan kecepatan dan sebaliknya, sehingga terjadi relasi antara
impulsi percepatan dengan perubahan massa. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kejadian saat
sebuah pesawat terbang atau kapal laut yang membuang sebagian muatan untuk
mempertahankan kecepatan.
Persamaan hukum Newton kemudian ditulis ulang menjadi menurut prinsip Fermat:

Menurut persamaan tersebut, gaya didefinisikan ulang sebagai bilangan kompleks produk dari
sifat kebendaan suatu materi dan sifat gelombang materi tersebut. Persamaan ini kemudian
dikenal dengan teori partikelcahaya yang mendefinisikan massa dari gelombang
cahaya. Gaya adalah penjumlahan produk dari massa yang mengalami percepatan dan produk
dari bertambahnya/berkurangnya sebagian dari massa akibat percepatanyang dialaminya.

2.4 Pemantulan Sempurna


Berikut adalah gambar peristiwa pemantulan sempurna :
15
Gambar 2.10 : Pemantulan Sempurna

Gambar di atas menunjukkan beberapa sinar yang memancar dari titik P dalam medium a yang
indeks biasnya na dan dibiaskan di medium b yang indeks biasnya nb (na>nb).Sesuai dengan
hukum Snell,

Karena na/nb lebih besar daripada 1 maka Sin lebih besar daripada Sin . Sehingga sinar dari
titik P yang melewati medium A menuju medium B dengan sudut tertentu akan dibiaskan
dengan sudut 90⁰ terhadap garis normal, bahkan lebih. Pada sinar nomor 3 yang digambarkan di
atas, sinar dari titik P menuju medium b dibiaskan menyusuri permukaan (90⁰ terhadap garis
normal). Sudut datang yang dibentuk sinar nomor 3 disebut dengan sudut kritis. Apabila sudut
datang semakin besar dan telah melampaui sudut kritismaka sinar tidak akan dibiaskan ke
medium b, namun akan memantul sempurna dari bidang batas. Besar sudut kritis dapat
diketahui melalui persamaan hukum Snell sebagai berikut:

contoh fenomena pemantulan sempurna : fatamorgana

16
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hukum Malus, Intensitas cahaya yang diteruskan maksimum jika kedua sumbu

polarisasi sejajar ( ) dan intensitas cahaya yang diteruskan sama dengan nol
(diserap seluruh oleh analisator) jika kedua sumbu polarisasi tegak lurus satu sama lain. Jika
berdasarkan Teori Huygens, setiap titik pada suatu muka gelombang (wave front) dapat dipandang
sebagai pusat gelombang sekunder yang memancarkan gelombang baru ke segala arah (wavelet)
dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan rambat gelombang, peristiwa penjalaran cahaya
seperti pemantulan dan pembiasannya sesuai dengan Hukum Snellius. Sedangkan Prinsip Fermat
mendefinisikan jarak tempuh yang terpendek dan tercepat yang dilalui oleh cahaya biasa disebut
atau principle of least time, dengan menggabungkan dua persamaan sekaligus yakni Hukum Newton
dan Hukum Snellius.

17
DAFTAR PUSTAKA

Arthur Schuster.1904. An Introduction to the Theory of Optics, London: Edward Arnold, 1904
Pedrotti, Frank L & Pedrotti, Leno S. 1993. Introduction To Optic Second Edition.Canada
: A Simon & Schuster Company.

18