Anda di halaman 1dari 51

IDENTITAS BUKU

BUKU UTAMA :

Judul Buku : PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Penulis Buku : Prof. Dr. Sudarwan Danim

Edisi : Edisi ke dua

Penerbit : ALFABETA, cv

Jumlah Halaman : x + 182 hlm

Ukuran Buku : 16 x 24 cm

Tahun Terbit : 2011

ISBN : 978-602-8800-43-3

Isi Pembahasan Buku :

I. Definisi, Hakikat, dan Kebutuhan Peserta didik

II. Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan

III. Asumsi dan Dimensi Perkembangan Peserta Didik

IV. Multidimensi Perkembangan Peserta Didik

V. Perkembangan Anak Usia 0-2 Tahun

VI. Perkembangan Peserta Didik Usia 2-6 Tahun

VII. Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Dasar

VIII. Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Menengah

IX. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik

X. Dimensi dan Tugas-Tugas Perkembangan Peserta Didik

XI. Perkembangan Kepribadian Peserta Didik dengan Kecerdasan Ganda

XII. Perkembangan Kreativitas Peserta Didik


XIII. Perkembangan dalam Kelompok Sebaya

XIV. BK untuk Optimasi Perkembangan Peserta Didik

XV. Psikologi Pendidikan dan Optimasi Perkembangan Peserta Didik

XVI. Orientasi Belajar Peserta Didik yang Dewasa

BUKU PEMBANDING :

Judul Buku : PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Penulis Buku : Prof. Dr. Sudarwan Danim

Edisi : Edisi ke dua

Penerbit : ALFABETA, cv

Jumlah Halaman : x + 182 hlm

Ukuran Buku : 16 x 24 cm

Tahun Terbit : 2011

ISBN : 978-602-8800-43-3

Isi Pembahasan Buku :


I

Defenisi, Hakikat, Dan Kebutuhan Peserta Didik

A. Defenisi Peserta Didik

Peserta didik merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan
formal. Tidak ada peserta didik, tidak ada guru. Peserta didik bisa belajar tanpa guru.
Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. “peserta didik” merupakan padanan
kata “siswa” dan sebutan yang terakhir ini untuk mereka yang belajar pada jenjang sekolah
menengah ke bawah. Di dalam literature akademik, sebutan peserta didik (educational
participant) umumnya berlaku untuk pendidikan orang dewasa (adul education), sedangkan
untuk pendidikan ”konvensional”, disebut siswa. Peserta didik didefenisikan sebagai setiap
manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur
pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan
dan jenis pendidikan tertentu.

B. Hakikat Peserta Didik

Ada hal-hal yang esensial mengenai hakikat peserta didik.

1. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki deferensiasi potensi dasar kognitif
atau intelektual, efektif, dan psikomotirik.
2. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki deferensiasi priodesasi
perkembangan dan pertumbuhan, meski memiliki pola yang relative sama.
3. Peserta didik memiliki imajinasi, persepsi, dan dunia sendiri, bukan sekedar miniature
orang dewasa.
4. Peserta didik merupakan manusia yang memiliki deferensiasi kebutuhan yang harus
dipenuhi, baik jasmani maupun rohani, meski dalam hal-hal tertentu banyak
kesamaannya.
5. Peserta didik merupakan manusia betanggung jawab bagi proses belajar pribadi dan
menjadi pembelajar sejati, sesuai dengan wawasan pendidikan sepanjang hayat.
C. Kebutuhan dan Karakteristik Peserta Didik

Kebutuhan-kebutuhan peserta didik dilihat dari dimensi pengembangannya, yaitu


seperti berikut ini:

1. Kebutuhan intelektual, dimana peserta didik memiliki rasa ingin tahu, termotivasi
untuk mencapai prestasi saat ditantang dan mampu berfikir untuk memecahkan
masalah-masalah yang kompleks.
2. Kebutuhan social, dimana peserta didik mempunyai harapan yang kuat untuk
memiliki dan dapat diterima oleh rekan-rekan mereka sambil mencari tempatnya
sendiri di duniannya.
3. Kebutuhan fisik, di mana peserta didik “jatuh tempo” perkembangan pada tingkat
yang berbeda dan mengalami pertumbuhan yang cepat dan tidak berturunan.
4. Kebutuhan emosional dan psikologis, di mana peserta didik rentan dan sadar diri, dan
sering mengalami “mood swings” yang tidak terduga.
5. Kebutuhan moral, di mana peserta didik idealis dan ingin memiliki kemauan kuat
untuk membuat dunia dirinya dan dunia diluar dirinya menjadi tempat yang lebih baik.
6. Kebutuhan homodivinous, di mana peserta didik mengakui dirinya sebagai makhluk
yang berketuhanan atau makhluk homoriligius alias insane yang beragama.

Ada empat hal dominan dari karakteristik siswa:

1. Kemampuan dasar, misalnya, kemampuan kognitif atau intelektual, efektif, dan


psikomotor.
2. Latar belakang cultural lokal, status sosial, status ekonomi, agama, dan sebagainya.
3. Perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dan lain-lain.
4. Cita-cita, pandangan kedepan, keyakinan diri, daya tahan, dan lain-lain.

D. Hak dan Kewajiban Peserta Didik

Hak dan kewajiban itu antara diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sidiknas.
Di dalam UU ini disebutkan bahwa setiap peserta didik pada satuan peserta didik berhak:

1. Mendaatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan
oleh pendidikan yang seagama;
2. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;
3. Mendapat beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai
pendidikannya;

Sejalan dengan itu, setiap peserta didik harus memenuhi kewajiban tertentu. UU No. 20
Tahun 2003 tentang Sidiknas telah mengatur kewajiban peserta didik. Pertama, menjaga
norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan
pendidikan. Kedua, ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta
didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Ketiga, warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan
yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

E. Karakteristik Peserta Didik yang Sukses

Inilah karakteristik peserta didik yang sukses:

1. Menghindari semua sesi kelas dan acara di laboratorium atau di luar kelas secara
teratur. Mereka hadir tepat waktu.
2. Menjadi pendengar yang dan melatih diri untuk memutuskan perhatian. Jika mereka
kehilangan sesi, mereka memberitahu gurunya sebelum sesi kelas baru dimulai.
3. Memastikan ingin mendapatkan semua atas tugas, dengan cara menghubungi
instruktur atau siswa lain.
4. Memanfaatkan peluang pembelajaran ekstra ketika ditawarkan. Mereka menunjukan
kepedulian tinggi pada nilai-nilai pribadi dan bersedia bekerja untuk memperbaiki
dirinya.
5. Melak8ukan hal yang bersifat opsional dan sering menantang tugas baru ketika
banyak siswa lain justru menghindarinya.
II

Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan

A. Defenisi

Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik memiliki makna yang berbeda.


Pertumbuhan didefenisikan sebagai peningkatan dalam ukuran. Perkembangan didefenisikan
ebagai kemajuan menuju kedewasaan. Jadi, istilah “pertumbuhan dan perkembangan”
digunakan bersama untuk menggambarkan proses-proses fisik, mental, dan emosional yang
kompleks yang terkait dengan “bertumbuhkembangnya” peserta didik.

B. Faktor-faktor Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh pengaruh genetik dan


lingkungan. Agaknya memang perlu menguji dampak positif dan negatif dari faktor-faktor
berikut ini bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik pada umumnya. Pertama,
faktor warisan genetik dan bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi dengan lingkungan
pengaruh. Kedua, faktor sosial ekonomi, termasuk pengaruh pendapatan, perumahan, gizi,
pendidikan dan akses ke layanan kesehatan. Ketiga, faktor pengaruh linkungan global dan
lokal, misalnya dampak pencemaran sehingga mengganggu kesehatan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia dapat dirangkum seperti berikut ini:

 Jenis kelamin
 Penghasilan
 Polusi
 Etnis dan agama
 Diet
 Warisan genetik
 Kondisi perumahan
 Persahabatan
 Pengalaman hidup (kelahiran, perkawinan, kematian, dan perceraian )
 Harta atau barang-barang yang dimiliki
 Ketenagakerjaan/pengangguran
 Hubungan keluarga
 Jumlah dan jenis aktivitas fisik
 Pengalaman pendidikan

C. Prinsip-prinsip Pertumbuhan

Novella J. Ruffin dari Universitas Virginia mengemukakan prinsip-prinsip yang


mencirikan pola atau proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Prinsip-prinsip itu
merupakan karakteristik khas yang menjelaskan perkembangan sebagai proses yang
diprediksikan dan teratur. Meskipun ada perbedaan individu atau kepribadian, tingkat
aktivitas, dan waktu pengembangan anak-anak menurut usia, prinsip-prinsip dan karakteristik
pengembangan mengikuti pola universal.

Pengembangan itu berawal dari kepala kebawah. Prinsip ini disebut cephalocaudle.
Prinsip ini menjelaskan arah pertumbuhan dan perkembangan dimulai dari kepala, lengan,
kemudian kaki. Bayi mengembangkan kontrol dari gerakan kepala dan wajah dalam waktu
dua bulan pertama setelah lahir.

D. Beberepa Kebiasaan

Peserta didik atau anak-anak pada umumnya memiliki kebiasaan tertentu. Ada
kebiasaan baik dan pula ada kebiasaan buruk. Beberapa kebiasaan dimaksud disajikan berikut
ini:

1. Kebiasaan tidur (sleeping habits). Ada anak atau peserta didik yang tidurnya sangat
lelap. Ada juga yang gelisah, mimpi buruk, atau besungut-sungut ketika bangun bagi.
Ada juga anak yang insomnia alias susah tidur.
2. Kebiasaan makan (eating habits). Ada anak yang doyan makan, ada pula yang sulit.
Ada yang makannya sangat banyak dan ada pula yang sangat sedikit.
3. Kebiasaan ke toilet (toilet habits). Aakalanya anak bermasalah dengan usus atau
kantung kemihnya. Adakalanya mereka tidak teratur dalam pola makan dan
minumnya, sehingga terpaksa keluar masuk toilet sekolah, ketika seharusnya belajar
secara bersungguh-sungguh.
4. Rentang emosi (range of emotions). Secara emosional anak-anak sangat beragam.
Ada yang mennjukan kemarahan, frustasi, kesedihan, kegelisahan, uring-uringan, dan
sebagainya.
5. Persahabatan (friendship). Seorang anak yang menjalani kondisi “serba enak” atau
tidak pernah mengalami masalah dalam perkembangannya, seringkali tidak cukup
kompetetif secara sosial.
6. Variasi dalam bermain (variations in play). Ada anak yang bermainya berlebihan, ada
pula yang kurang waktu atau kesempatan bermain.
7. Respon atau otoritas (response to authority). Ada anak yang menerima baik otoritas
orang dewasa atau gurunya, Ada pula yang memberontak.
8. Rasa ingin tahu (curiosity). Sering kali peserta didik tertentu kadang-kadang
menunjukan rasa ingin tahu, dan bahkan cenderung merusak.
9. Minat (interest). Adakalanya anak atau peserta didik disebut terlibat menyerap, dan
tertarik pada suatu diluar dirinya sendiri.
10. Afeksi spontan (spontaneous affection). Sebagian anak bisa mengekspresikan efeksi
atau kecintaan antar sesama secara spontan dan bertanggung jawab, namun sebagian
lagi cenderung tidak peduli dengan sesama.
11. Kenikmatan hidup (enjoyment of the good things of life). Sebagian besar anak atau
peserta didik menikmati “hal-hal yang baik dalam hidup ini”, sebagian nya lagi
kurang merasakannya.
III

Asumsi dan Dimensi Perkembangan Peserta Didik

A. Tridimensi Peserta Didik

Hampir semua referensi kependidikan selalu mengawali pembahasan dengan


mengedepankan esensi manusia, yang dalam konteks sekolah disebut peserta didik. Dengan
mengikuti pemikiran filsuf Kuno, Bas van Rijken (2009) berpendapat bahwa manusia,
termasuk peserta didik, terdiri dari unsure atau dimensi, yaitu fisik, nurani, dan pikiran. Fisik
manusia adalah penampakan di permukaan: jangkung, pendek, berkulit sawo matang,
berambut ikal, bermuka lonjong, berhidung mancung, berbadan tegap, bermata sipit, beralis
tebal, dan sebagainya.

Sebagai manusia biasa, peserta didik itu beragam, baik secara fisik, nurani, maupun
penalarannya. Kemampuan mereka berkembang pun untuk ketiga aspek itu beragam adanya.
Peserta didik yang nalar intelektualnya lebih dibandingkan dengan yang lain menginspirasi
layanan pendidikan untuk mengaktivasinya dalam rangka bimbingan sejawat. Peserta didik
yang tingkat penalarannya kurang, menginspirasi layanan pendidikan menjadi lebih efektif,
penyedian program remedial, bimbingan khusus, dan sebagainya.

B. Dimensi Sosial Peserta Didik

Peserta didik, seperti hal nya manusia pada umumnya, dengan ciri dasar memiliki
kemampuan untuk berkembang, menalar abstrak, berbahasa dan berkomunikasi, melakukan
intropeksi, merefleksi, dan memecahkan masalah. Pada sisi lain, peserta didik merupakan
makhluk sosial yang unik dibandingkan dengan primate lainnya, seperti kemampuan
memanfaatkan sistem komunkasi untuk mengekspresikan diri, mengadopsi budaya, beretika,
bertukar ide, dan mengorganisasikan diri. Peserta didik memiliki keinginan untuk memahami
dan menerima pengaruh lingkungan mereka, berusaha menjelaskan dan memanipulasi
fenomena alam melalui ilmu pengetahuan, penalaran, percobaan, bahkan juga dengan filsafat,
serta mitologi dan agama.
C. Dimensi Spiritual dan Intelektual Peserta Didik

Bebicara mengenai perkembangan manusia akan menyibak sebuah pertanyaan “dari


nama” manusia berasal? Menurut Bill Dougherty (2009) asal-usul manusia adalah salah satu
pertanyaan yang paling mendalam yang dihadapi dalam agama, filsafat, dan penelitian ilmiah.
Tapi yang paling pokok disini, kita harus menerima bahwa peserta didik adalah makluk yang
memiliki energi spiritual. Ketika dimensi spiritual tidak memainkan peran apapun di dalam
dirinya, maka sosok manusia itu bukanlah apa-apa.

Sebagai makhluk spiritual, peserta didik memiliki jiwa yang sangat pribadi. Di
dalamnya terkandung sifat yang suci untuk saling mengasihi, membangun aspirasi dan
harapan, serta visi. Dimensi spiritual ini merupakan nilai kemanusian sejati. Kemanusiaan
merupakan salah satu “tuan rumah” dari entitas spiritual. Peserta didik adalah insan yang
berkesadaran dan memiliki pusat kesadaran, berupa “diri sejati” atau “jati diri”, yang
didalamnya terkandung rasa cinta, inspirasi, kasih sayang, hati nurani, bahkan iluminasi.
Dimensi spiritual dan intelektual sesuai dengan kepentingannya menjadi alat bagi peserta
didik untuk belajar, mengingat fakta, menghitung persamaan, merencanakan kegiatan, dan
sebagainya. Ketika peserta didik telah mencapai tingkat kesadaran ini, perkembangan bahasa
merekapun terus berlanjut. Perkembangan inilah yang kemudian akan mecapai hasil yang
luar biasa dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke depan.

D. Asumsi-asumsi Perkembangan Peserta Didik

Atas dasar itu, kejadian mengenai perkembangan peserta didik dan bagaimana
mengembangkannya, tidak sebatas berbasis pada tahap-tahap perkembangan mereka menurut
usia. Melainkan juga berbasis pada asumsi yang mendasari perkembangan peserta didik
selanjutnya. Berkaitan dengan ini, teoritikus kependidikan biasanya berpijak pada tiga aliran
berpikir yang menjadi asumsi dasar layanan pendidikan.

Pertama, ketika dilahirkan anak manusia yang kemudian menjadi peserta didik di
bangku sekolah diasumsikan sudah memiliki bawaan tersendiri yang berbeda dengan yang
lain. Kedua, perkembangan anak atau peserta didik merupakan fenomena buatan dan
karenanya proses pengembangan mereka harus dioptimasi. Jika peserta didik menerima
pelayanan dari guru yang baik, belajar di sekolah dengan fasilitas yang lengkap, dan
lingkungan yang kondusif, perkembangan mereka akan menjadi optimal. Pandangan ini
sering pula disebut sebagai pedagogi optimistik, di mana asumsinya bahwa peserta didik bisa
berkembang mengikuti irama lingkungan dan prilaku kependidikan pada tempat dia belajar.

Ketiga, perkembangan anak merupakan fungsi dari interaksi faktor bawaan dan
lingkungan. Perkembangan anak ibarat bibit yang baik ditanam pada tempat yang cocok, dan
pemeliharaan yang prima. Pemikiran ini dianut oleh aliran konvergensi dengan tokoh
utamanya adalah William Stren, seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman. Bagi Stren,
kombinasi yang kongruen antara pembawaan dan lingkungan menentukan perkembangan
anak.

Konvergensi berasal dari kata convergative yang bermakna penyatuan atau kerja sama
dua sisi untuk mencapai hasil yang optimal. Dalam kerangka layanan pendidikan, ini
bermakna bahwa perkembangan peserta didik akan teroptimasi, jika guru dan tenaga
kependidikan mampu memerankan fungsi pada tempat dan ruang yang sesuai.
IV

Multidimensi Perkembangan Peserta Didik

A. Energi dan Kreativitas Peserta Didik

Teori perkembangan yang berpusat pada peserta didik harus mendasarkan diri pada
gagasan bahwa kemampuan eksternal mereka merupakan cerminan dari perkembangan
progesif dari kesadaran internal dan kapasitasnya. Perkembangan dan pengembangan peserta
didik terus berlanjut sejalan dengan perubahan sistem sosial dan kompleksitas kehidupan.
Substansi dan proses interaksi mereka dengan manusia dewasa pun sangat kuat pengaruhnya.

Mengikuti pemikiran Robert Macfarlane (1999) peserta didik secara individual


mengembangkan hali itu dengan cara meningkatkan kapasitas dirinya melepaskan, mengatur,
serta mengekspresikan energy dan kapasitas untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya.
Oleh karena aspirasi, emosi, dan penalaran peserta didik masih dalam proses metamorphosis,
hal ini bisa dan bisa juga tidak terkait dengan dimensi masa depan, kesejahteraan ekonomi,
pengakuan sosial, pemahaman mental, atau pencerahan spiritual.

B. Lima Dimensi Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan peserta didik mengkuti alur perkembangan manusia pada umumnya.


Dalam makna luas, perkembangan peserta didik mencakup lima ranah, yang secara ringkas
disajikan seperti berikut ini:

1. Perkembangan fisik, dimana lajunya relative sesuai dengan faktor genetis, menu
makanan, pelatihan yang diperoleh, kebiasaan hidup, dan kondisi lingkungan.
2. Perkembangan sosial, di mana anak dapat berkembang dengan bentukan masyarakat.
3. Perkembangan mental, di mana peserta didik tumbuh makin bermental stabil arif,
dewasa, dan bijaksana.
4. Perkembangan budaya atau spiritual, di mana peserta didik harus menumbuhkan
toleransi terhadap orang-orang dengan keyakinan yang berbeda, pengakuan hak asasi
manusia, dan nilai-nilai umum.
5. Perkembangan intelektual, khususnya pergeseran peserta didik merupakan evolusi
progresif dan dimensi fisik, sosial, mental, budaya dan spiritual, dan intelektual.

C. Anatomi Perkembangan Peserta Didik


Pengembangan dan perkembangan peserta didik merupakan evulusi progresif dari
dimensi fisik, sosial, mental, budaya dan spiritual, dan intelektul. Selama proses ini
berlangsung sifat kesadaran manusia berovolusi dari lebih didominasi oleh dimensi fisik
menjadi lebih mengandalkan dan mementingkan dimensi dan mental, spiritual, dan
intelektual.

Ranah pengembangan dimaksudkan diatas disajikan berikut ini:

Ranah Pengembangan Perkembangan Individu

1. Fisik 1. Pengorganisasian energi fisik melalui


keterampilan fisik
2. Sosial 2. Pengorganisasian energi sosial melalui
keterampilan sosial dan sikap
3. Mental 3. Pengorganisasian energi mental melalui
dan keterampilan pemahamankonseptual
4. Budaya dan spiritual 4. Pengorganisasian energy budaya dan
spiritual melalui interaksi antar-orang
dengan keyakinan yang berbeda dan
penghargaan atas hak-hak asasi manusia
5. Intelektual 5. Pengorganisasian energi otak-intelektual
melalui skema penalaran konkrit ke
abstrak, pemecahan masalah yang rumit,
berfikir induktif dan deduktif

D. Dimensi Kesadaran Peserta Didik

Kesadaran sebagian berada di alam sadar dan sebagian lagi di alam bawah sadar.
Kesadaran fisik adalah yang “paling kasar”, sebagian besar berupa alam bawah sadar,
bertindak secara otonom dan sebagai respon atas kemauan mental. Kesadaran mental adalah
kesadaran yang paling halus dan “paling sadar”, termasuk kesadaran diri atas “sikap sadar”
dan kemauan. Kesadaran spiritual hampir seluruhnya berada pada alam bawah sadar atau
lebih akurat disebut suprnatural.
E. Perkembangan Fisik Peserta Didik

Pertumbuhan dan perkembangan fisik merupakan sisi yang paling nyata dari manusia
mana pun, demikian juga peserta didik. Manusia mulai berkembang sebelum mereka keluar
dari rahim ibunya. Setelah pembuahan, zigot merupakan sosok fisik yang paling awal dari
perkembangan manusia. Periode zigot ini berlangsung sekitar dua minggu, kemudian menjadi
embrio. Priode embrio berlangsung dari minggu kedua hingga minggu kedelapan kehamilan
dimulai. Embrio kemudian berubah menjadi bentuk janin. Periode janin mulai dari minggu
kesembilan sampai akhir kehamilan. Zigot, embrio, dan janin terbentuk pada trimester
pertama atau kehamilan. Pada trimester ketiga, janin berbobot sekitar tujuh setengah pon.

Bayi berkembang jauh lebih cepat daripada manusia dewasa. Tubuh bayi tumbuh dan
membesar pada tingkat paling cepat selama dua tahun pertama. Transisi yang paling sulit
dialami oleh anak secara fisik adalah ketika memasuki masa pubertas. Pubertas adalah waktu
ketika tubuh anak usia sekolah berubah menjadi orang dewasa. Pertumbuhan ini diatur oleh
hormon yang dipengaruhi oleh faktor genetik. Perempuan biasaya mencapai pubertasrata-rata
dua tahun lebih awal dari pada anak laki-laki.

F. Kapasitas Otak Peserta Didik

Otak merupakan organ berfikir yang berkembang melalui proses belajar dan
berinteraksi dengan dunia melalui persepsi dantindakan. Stimulasi mental meningkatkan
fungsi otak anak dan hal itu benar-benar melindungi mereka dari penuruan kognitif, seperti
halnya latihan fisik. Otak manusia mampu terus beradaptasi dan mengingat kembali apa yang
dialami. Bahkan di usia tua, dapat tumbuh neuron baru.

Otak manusia, termasuk peserta didik, berkembang terinspirasi oleh gerakan. Sistem
saraf mampu mengkoordinasikan gerakan, sehingga organism tubuh dapat leluasa pergi
mencari makanan atau aktivitas lain. Otak manusia memiliki daya elastisitas dan plastisitas.
Elastis berasal dari kata Yunani untuk “drive” atau “penggerak”. Elastis bermakna
kecenderungan dari suatu material untuk kembali ke bentuk aslinya setelah merenggang.
Elastis adalah penggerak yang member kekuatan dan keseimbangan-fleksibilitas, mobilitas,
dan adabtalibilitas. Plastis berasal dari kata Yunani yang berarti “dibentuk” atau “terbentuk”.
Plastis merupakan kecenderungan otak membentuk diri sesuai dengan pengalaman. Plastisitas
adalah drive mental dasar, bahwa jaringan otak manusia, memberikan daya kognisi dan
memori-keluwesan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi.
Bagi peserta didik, latihan mental amat penting untuk fungsi otak yang lebih baik.
Ketika masih memasuki kelas-kelas awal sekolah atau saat masih muda anak-anak melihat
dunia tampak penuh dengan keajaiban, memancing kepenasaran, memunculkan “penemuan”
yang menyenangkan, bahkan juga tantangan yang menakutkan.
V

Perkembangan Anak Usia 0-2 Tahun

A. Perkembangan Kepribadian

Selama masa bayi dan balita, anak-anak dengan mudah beradaptasi dan mendekatkan
diri kepada orang lain. Pada fase inipun kepribadian nya mulai terbentuk menjadi modal awal
baginya ketika memasuki usia sekolah. Kepribadian itu sendiri meliputi cirri-ciri psikologis
yang stabil yang membuat setiap manusia tumbuh secara unik. Menurut Sigmund Freud, bayi
biasanya bersifat egosentris atau egois dan sangat dominan dalam memuaskan kebutuhan
fisik, seperti orang yang lapar. Bagi Sigmund Freud, fokus pada kepuasan fisik itu sebagai
bentuk upaya memuaskan diri. Ahli teori setelah Freud, telah menawarkan perspektif
tambahan tentang pengembangan kepribadian bayi.

Menurut Klein, inti dari kepribadian berasal dari hubungan awal dengan ibu.
Sementara Freud berspekulasi bahwa ketakutan anak yang kuat terhadap seorang ayah
menentukan kepribadian, Klein berteori bahwa kebutuhan anak untuk seorang ibu yang kuat
lebih penting. Beberapa psikolog berteori bahwa kesalahan dalam ikatan awal dan
pengalaman dapat memunculkan maslah psikologis di kemudian hari. Masalah-masalah ini
mencakup garis batas gangguan kepribadian (borderline personality disorder) yang ditandai
dengan perubahan yang cepat dalam menyukai atau membenci diri sendiri dan orang lain.

B. Hubungan Keluarga

Hubungan pertama bayi umumnya dengan anggota keluarga, kepada siapa bayi
mengekspresikan berbagai emosi dan sebaliknya. Jika ikatan sosial dan emosional antara bayi
dan keluarga rusak dalam beberapa cara, anak tidak pernah dapat mengembangkan
kepercayaan, pengendalian diri, atau penalaran emosional yang diperlukan untuk berfungsi
secara efektif di dunia kehidupan. Bagi bayi, hubungan dengan orang lain mengandung
makna bahwa dia mencari kedekatan dengan siapa tempatnya berhubungan. Proses di mana
seorang individu atau bayi mencari kedekatan dengan orang lain disebut attachmen.

Hubungan atau attachment adalah sentral bagi keberadaan manusia, sebaliknya


pemisahan antara ibu dan bayi cenderung merugikan. Pada akhirnya, memang hubungan itu
akan terhenti atau bubar sendiri sejalan dengan kedewasaan dan kemandirian anak.
Pemisahan dan kecemasan akan kehadiran orang asing merupakan indicator kuat dari proses
hubungan, karena sebagai anak mereka telah mampu membedakan antara rangsangan akrab
dan familiar dengan rangsangan yang aneh dari orang yang masih asin.

C. Seksualitas

Kata seksualitas (sexuality) menciptakan bayangan atau sensasi yang beragam. Dia
banyak negara kebudayaan, banyak orang tidak mengakui sifat seksual bayi dan balita.
Mereka mengkategorikannya sebagai seksual (asexual) atau tidak memiliki minat atau
kemampuan seksual alias antara ada dan tiada.

Menurut Erikson, bagi bayi kontak fisik antara anak dan orang tua adalah sumber
kesenangan. Bayi tidak menyadari pentingnya dimensi seksual dalam kaitannya ketika
melakukan kontak dengan orang, meski dia sadar akan adanya perasaan menyenangkan yang
berkaitan dengan kontak fisik dengan orang tuanya. Bayi memperoleh keterampilan motorik
(motor skills) atau kemampuan untuk bergerak dengan niat dan mulai mengeksplorasi tubuh
mereka sendiri.
VI

Perkembangan Peserta Didik Usia 2 – 6 Tahun

A. Perkembangan Fisik

Umur 2 sampai 6 tahun adalah anak usia dini (early childhood) atau tahun-tahun
prasekolah atau masa menjalani Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), baik formal maupun
non formal. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan dan
pengembangan yang ditunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Di
dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan bahwa PAUD diselenggarakan
sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan
formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk taman
kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur
pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), teman penitipan anak (TPA), atau
bentuk lain yang sederajat. Meskipun perkembangan fisik pada anak-anak prasekolah sangat
dramatis, perkembangan itu cenderung lebih lambat dan lebih stabil dibandingkan dengan
pada masa bayi. Beberapa pengaruh penting pada perkembangan fisik selama masa
prasekolah dalam perubahan kemampuan otak, keterampilan motorik kasar dan halus, serta
kesehatan anak.

Perubahan Fisik

Ketika masih bayi anak-anak begitu banyak berlemak. Pada usia ini, anak-anak mulai
kehilangan lemak bayi atau kegemukan mereka, yaitu sekitar usia 3 tahun. Anak balita segera
tumbuh lebih ramping dan lebih atletis.

Perkembangan Otak

Perkembangan otak dan sistem saraf pada anak usia dini juga terus berlangsung
dramatis. Otak dan sistem saraf anak-anak berkembang lebih baik, disertai dengan
perkembangan perilaku dan kognitif yang lebih kompleks.

Keterampilan Motorik

Keterampilan motorik (motor skills) terdiri dari dua jenis, yaitu keterampilan motorik
kasar (gross motor skills) dan keterampilan motorik halus (fine motor skills). Keterampilan
motorik adalah kemampuan fisik atau keterampilan motorik kasar yang meliputi berjalan,
melompat, meloncat, berputar, melempar, menyeimbangkan, dan menari yang melibatkan
penggunaan gerakan tubuh besar.

Kesehatan

Anak-anak prasekolah umumnya cukup sehat, tetapi mungkin sebagian mengalami


masalah-masalah medis. Kebanyakan penyakit anak-anak bisasanya tidak memerlukan
perhatian dokter atau perawat. Selain itu, penyakit ringan dapat membantu anak-anak untuk
belajar menghadapi keterampilan, khususnya bagaimana menghadapi ketidaknyamanan fisik
dan marabahaya.

B. Perkembangan Kognitif

Usia prasekolah memberikan contoh luar biasa bagaimana anak-anak memainkan


peran aktif dalam pengembangan kognitif mereka sendiri, khusunya dalam upaya memahami,
menjelaskan, mengorganisasikan, memanipulasi, membangun, dan memprediksi. Menurut
Piaget perkembangan kognitif terjadi antara umur 2 dan 7 tahun sebagai tahap praoperasional.
Pada tahap ini, anak-anak meningkatkan penggunaan bahasa dan symbol lainnya, mereka
meniru perilaku dan permainan orang dewasa. Setelah melewati masa praoperasional, anak
memasuki fase operasional.

Piaget menggunakan istilah operasional untuk mengacu pada kemampuan reversible


bahwa anak-anak belum berkembang. Piaget percaya bahwa kemampuan kognitif anak-anak
prasekolah dibatasi oleh egosentrisme atau ketidakmampuan untuk membedakan antara titik
pandang mereka sendiri dan sudut pandang orang lain.

Ingatan

Memori adalah kemampuan untuk menyandikan, mempertahankan, dan mengingat


kembali informasi yang diperoleh dari waktu ke waktu. Anak-anak harus belajar
mengkodekan objek, orang, dan tempat-tempat; kemudian bisa mengingatnya dengan memori
jangka panjang.
Bahasa

Kemampuan bahasa juga terus mengalami perbaikan selama anak usia dini. Bahasa
merupakan hasil dari kemampuan seorang anak untuk menggunakan dan memakai simbol-
simbol, sesuai dengan tingkat penalarana mereka.

C. Pengembangan Kepribadian

Tahun-tahun prasekolah erat kaitanya dengan keutamaan pengembangan kepribadian


dan sosialisasi bagi anak-anak muda. Kepribadian meliputi ciri-ciri psikologis yang stabil
yang mendefenisikan bahwa setiap manusia merupakan pribadi unik. Baik anak-anak maupun
orang dewasa memiliki ciri-ciri kepribadian (karakteristik jangka panjang, seperti tempramen)
dan sikap dasar (karakteristik yang berubah, seperti kemurungan).

Dalam analisis akhir, tidak ada prespektif sendiri yg cukup bisa menjelaskan proses
kompleks pengembangan kepribadian. Kombinasi pengaruh psikososial, orang tua, dan
biologislah yang mungkin bertanggung jawab untuk penentuan sifat-sifat utama manusia dan
kebiasaannya.

D. Hubungan Keluarga

Hubungan keluarga sangat penting untuk perkembangan kesehatan fisik, mental, dan
sosial anak prasekolah.

Anak

Fungsi orang tua antara lain adalah mengasuh anak dengan baik, seperti halnya guru
kepada peserta didiknya. Orang tua yang berbeda menggunakan teknik pengasuhan yang
berbeda pula kepada anak-anaknya. Orang tua yang demokratis menggunakan control relative
dan dengan hubungan kehangatan yang tinggi. Orang tua yang permisif menunjukan
kehangatan tinggi dan control orang tua rendah, seperti halnya terjadi pada keluarga yang
demokratis.

Saudara Kandung

Saudara adalah kelompok sepermainan (peer group) pertama dan terutama bagi anak-
anak did a dalam keluarga dan dalam pendampingan untuk pergaulan sosial. Salah satu
penjelasan yang mungkin dikedepankan di sini, bahwa anak yang pertama dalam urutan
kelahiran, anak-anak hanya dapat memiliki perhatian penuh atau hampir penuh perhatian
orangtuanya, yang pada gilirannya memiliki banyak menghabiskan waktu secara berkualitas
dalam berinteraksi dengan anak satu-satunya.

Keadaan Keluarga dan Kelas Sosial

Keadaan keluarga secara pasti mempengaruhi perkembangan anak-anak muda.


Karenanya, dengan keluarga yang aman dan utuh serta mempunyai kemampuan keuangan
yang baik anak-anaknya pun cenderung berkembang dengan baik.

E. Teman dan Sahabat Bermain

Kontak awal yang baik di dalam keluarga dapat menentukan kemudahan anak-anak
untuk membangun persahabatan dan hubungan lainnya. Anak-anak yang memiliki hubungan
yang penuh kasih, stabil, dan menerima asuhan yang baik dari orang tua dan saudara kandung
pada umumnya lebih cenderung membentuk hubungan yang sama baiknya dengan teman-
teman dan teman bermain.

F. Seksualitas

Anak usia 3 – 6 tahun ditandai dengan tahap perkembangan psikoseksual falik


(phallic stage), ketika mereka telah melalui pengalaman konkret pada alat kelaminnya.
Sebagian besar anak melakukan masturbasi di beberapa titik selama tahap falik (phallic
stage). Orang tua mungkin perlu diingatkan bahwa masturbasi terbesar luas dikalangan anak-
anak. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung preposisi bahwa masturbasi berbahaya dengan
cara apapun, dengan pengecualian pada rasa bersalah dan emosi negative lainnya yang timbul
dari reaksi orang lain.
VII

Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Dasar

A. Perkembangan Fisik

Usia 7 hingga 11 atau 12 tahun merupakan usia remaja awal. Mereka ini umumnya
sedang menjalani pendidikan pada jenjang sekolah dasar. Perkembangan fisik di masa anak-
anak tengah dirincikan oleh variasi yang cukup besar dalam pola pertumbuhan. Variasi ini
mungkin karena jenis kelamin, asal etnis, genetika, hormon, gizi, lingkungan, atau penyakit
yang diderita.

Perubahan Fisik

Pada awal masa kanak-kanak tengah, anak-anak biasanya menunjukan perolehan


penampilan baru, di man tampil lebih ramping dan atletis. Anak perempuan dan anak laki-
laki masih memiliki bentuk tubuh dengan proporsi yang sama sampai dengan keduanya
mencapai pubertas (puberty), proses di mana dorongan seksual anak-anak tumbuh kuat
hingga ia dewasa.

Perkembangan Otak dan Sistem Saraf

Perkembangan Otak dan sistem saraf terus berlangsung selama masa kanak-kanak
menengah. Kemampuan perilaku dan kognitif yang lebih kompleks sejalan dengan makin
kuatnya sistem kuatnya sistem saraf pusat. Perkembangan otak selama masa kanak-kanak
tengah ditandai oleh pertumbuhan struktur yang spesifik, khususnya lobus frontal. Lobus ini
terletak di bagian depan otak, tepat di bawah tengkorak. Lobus ini fungsinya antara lain
bertanggungjawab untuk perencanaan, penalaran, penilaian sosial, etika, dan pengembalan
keputusan.

Keterampilan Motorik

Keterampilan motorik adalah kemampuan berperilaku atau kemampuan melakukan


gerak motorik. Keterampilan motorik bruto (gross motor skills) melibatkan penggunaan
gerakan tubuh yang besar. Keterampilan motorik halus (soft motor skills) melibatkan
penggunaan gerakan tubuh kecil. Kedua keterampilan motorik kasar dan halus terus
mengalami penyempurnaan pada masa kecil menengah.
Kesehatan

Masa kanak-kanak tengah cenderung menjadi masa hidup yang sangat sehat bagi
mereka, terutama pada masyarakat Barat dan di negara-negara maju lainnya. Penyakit utama
bagi anak-anak muda: influenza, radang paru-paru, kanker, penyakit yang merusak jaringan
kekebalan tubuh (HIV, human immunodeficiency virus), dan acquired immunodeficiency
syndrome (AIDS).

B. Perkembangan Kognitif

Kemampuan berpikir secara sistematis tentang beberapa topic pada anak-anak usia
sekolah lebih mudah dari anak-anak prasekolah. Perkembangan kognitif yang terjadi antara
usia 7 dan 11 tahun disebut oleh Piaget sebagai tahap operasi konkret (concrete operations
stage). Piaget menyatakan bahwa proses berfikir anak-anak berubah secara signifikan selama
tahap operasi konkret. Anak-anak usia sekolah bisa terlibat dalam klasifikasi atau
kemampuan untuk mengelompokan sesuai dengan perkembangan logis.

Ingatan

Anak usia sekolah lebih baik pada keterampilan mengingat dari pada rata-rata anak-
anak yang berusia di bawahnya. Di sekolah, anak-anak yang lebih tua juga belajar bagaimana
menggunakan perangkat mnemonic (mnemonic devices) atau strategi memori. Anak-anak
dapat mengingat lebih banyak ketika berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif
(cooperative learning), di mana pendidikan awasi oleh orang dewasa bergantung pada rekan-
rekan berinteraksi, berbagi, merencanakan, dan mendukung satu sama lain.

Anak yang Cerdas

Psikolog inteligensi dan otoritas lainnya sangat tertarik pada kecerdasan anak.
Kecerdasan adalah kapasitas kognitif yang merujuk pada pengetahuan, adaptasi, dan
kemampuan seseorang untuk berpikir dan bertindak secara sengaja.

C. Konsep Diri

Menurut Erikson, tugas perkembangan masa kanak-kanak menengah adalah untuk


mencapai industry (industry) atau perasaan kompeten secara sosial. Anak yang berhasil
mengembangkan industry akan membantunya membangngun rasa percaya diri (self-esteem)
atau sikap evaluative terhadap diri sendiri yang pada gilirannya membangun rasa percaya diri
yang diperlukan untuk membentuk hubungan sosial yang efektif dan abadi.

D. Kognisi Sosial

Sebagai manusia yang tumbuh dewasa, peserta didik meningkatkan pengembangan


dalam kognisi sosial (social cognition) atau pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman
tentang kehidupan masyarakat dan aturan-aturan perilaku sosial.

E. Hubungan Keluarga

Hubungan keluarga dengan anak-anak biasanya melibatkan unsure-unsur orang tua


mereka, kakek-nenek, saudara, dan anggota keluarga besar. Masa kanak-kanak tengah adalah
tahap transisi, fase ketika orang tua mulai berbagi kekuasaan dan pengambilan keputusan
dengan anak-anak mereka. Anak-anak mengalami peningkatan tanggung jawab selama masa-
masa kecil menengah. Disiplin (discipline), meski tidak selalu identik dengan hukuman
(ipunishment), tetap merupakan masalah di masa kanak-kanak menengah

Kualitas Hubungan

Kebanyakan keluarga modern memerlukan “pendapatan ganda” untuk memenuhi


kebutuhan. Anak-anak mungkin bertanya mengapa orang tua mereka memilih menghabiskan
waktu yang begitu singkat dengan mereka atau menjadi kesal karena tidak disambut
kehadirannya setelah pulang sekolah oleh salah satu atau kedua orang tua.

F. Persahabatan

Persahabatan, khususnya persahabatan bagi anak sesama jenis merupakan fenomena


umum yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar. Bagi peserta didik jenjang sekolah
dasar teman berfungsi sebagai teman sekelas, sepetualang, tempat curahan hati, dan sebagai
pantulan kepribadian.

G. Tekanan Teman Sebaya


Banyak ahli psikologi perkembangan atau pengamat anak mempertimbangkan
tekanan teman sepermainan (peer pressure) membawa konsekuensi negative dan hubungan
persahabatan secara sekaligus dari rekan mreka.

H. Seksualitas

Pada anak sekolah dasar, termasuk masa usia dini, minat seksual merupakan
peranjangan dari sensasi yang menyenangkan dan rasa ingin tahu, bukan dari hasil erotisme.

I. Stres

Anak laki-laki dan perempuan pada tahun-tahun bersekolah di ekolah dasar, termasuk
di dalam kelas tidak kebal terhadap stress dari dunia kehidupan mereka. Pekerjaan rumah
(homework) yang diperoleh dari sekolah, kesulitan membantu atau berhubungan dengan
teman-teman, perubahan lingkungan dan sekolah, orang tua yang bekerja dalam takaran
waktu yang panjang, sering menimbulkan stress bagi mereka.

Perceraian

Saat ini setengah dari semua pernikahan di Amerika Serikat berakhir dengan
perceraian (divorce), sebagian besar pernikahan berakhir pada sepuluh tahun pertama
perkawinan. Di Indonesia, data ini tidak cukup jelas, namun anak-anak yang hidup di bawah
tekanan akibat perceraian orang tua mereka tidak sedikit jumlahnya.

Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik pada anak (child physical abuse) adalah penderitaan yang
menimbulkan rasa sakit, cidera, atau membahayakan anak secara disengaja oleh pihak lain.

Pelecehan Seksual Anak

Bentuk tindakan lain yang dapat dikategorikan sebagai pelecehan terhadap anak
secara emosional adalah pelecehan seksual kepada anak-anak (child sexual abuse). Pelecehan
semacam ini dkenal sebagai pelecehan terhadap anak, di mana pelecehan seksual itu terjadi
ketika seorang remaa atau orang dewasa membujuk atau memaksa anak untuk berpartisipasi
dalam aktivitas seksual.
VIII

Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Menengah

A. Perkembangan Anak

Peserta didik usia 12 -19 tahun merupakan periode remaja transisi, yaitu priode
transisi antara masa kanak-kanak dan usia dewasa. Periode ini merupakan masa perubahan
yang sangat besar. Selama periode tahun ini pertumbuhan fisik, emosional, dan intelektual
terjadi dengan kecepatan yang “memusingkan”, menantang peserta didik sebagai remaja
untuk menyesuaikan diri dengan suatu bentuk “tubuh baru”, indentitas sosial, dan
memperluas pandangannya tentang dunia.

B. Masalah Kesehatan

Gangguan Makan

Gangguan makan sering muncul akibat keasyikan dengan makanan. Keasyikan


dengan makanan ini berdampak paling umum di kalangan remaja, yaitu obesitas (obesity)
atau kegemukan.

Depresi

Sebanyak 40 persen remaja memiliki masa depresi (depression), jenis gangguan mood
yang ditandai dengan perasaan harga diri rendah dan tak berharga, hilangnya minat dalam
aktivitas kehidupan, serta perubahan pola makan dan tidur.

Penyalahgunaan Zat

Beberapa remaja, termasuk peserta didik, menyalahgunakan zat atau obat-obatan


terlarang untuk menghindari rasa sakit, mengatasi stress sehari-hari, atau untuk kepentingan
“solidaritas” dengan rekan-rekannya yang merupakan bagian dari aktivitas per-geng-an
tertentu.

C. Perkembangan Kognitif

Kebanyakan peserta didik mencapai tahap operasi forman (formal operations) versi
Piaget pada usia sekitar 12 tahun atau lebih, di mana mereka mengembangkan alat baru untuk
memanipulasi informasi. Pada fase sebelumnya, ketika masih sebagai anak-anak mereka
hanyaa bisa berpikir konkret. Ketika memasuki tahap operasi formal mereka bisa berpikir
abstrak dan deduktif.

Titik puncak atau jatuh tempo perkembangan kognitif terjadi ketika peserta didik
sudah memasuki usia dewasa dan jaringan sosial makin berkembang.

Pengembangan Intlektual

Menurut Robert Strenberg, kecerdasan terdiri dari tiga aspek atau dikenal dengan
triarkis teori (triarchic theory), yaitu: componential, experiential, dan contextual.
Komponensial adalah aspek kritis, pengalaman adalah aspek berwawasan, dan kontekstual
adalah aspek praktis. Kecerdasan eksperiensial (experiential intelligence) adalah kemampuan
mentransfer pembelajaran secara efektif untuk memperoleh keterampilan baru. Kecerdasan
kontekstual (contextual intelligence) adalah kemampuan untuk menerapkan kecerdasan
praktis, termasuk memiliki kepedulian sosial, budaya, dan konteks historis.

Pengembangan Moral dan Penilaian

Sisi lain perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah menengah adalah
pengembangan moral dan penimbangan (moral development and judgment) atau kemampuan
berpikir tentang benar dan salah.

Pencarian untuk Identitas: Usia 12-19 Tahun

Peserta didik yang memasuki masa remaja berarti mereka berada pada periode trensisi
antara masa kanak-kanak dan dewasa. Erikson mencatat bahwa konflik utama yang dihadapi
peserta didik berusi remaja pada tahap ini adalah munculnya salah satu dari apa yang disebut
sebagai identitas versus kebingungan identitas (identity versus identity confusion). Untuk
membentuk identitas, mereka harus menetapkan peranan pribadi dalam masyarakat dan
mengintegrasikan berbagai dimensi kepribadiannya menjadi keseluruhan yang masuk akal.
D. Orientasi Seksual dan Seksualitas

Peserta didik pada usia sekolah menengah berusaha secara total menemukan satu
identitas, berupa perwujudan orientasi seksual (sexual orientation), yang tercermin dari hasrat
seksual, emosional, romantis, dan atraksi kasih sayang kepada anggota jenis kelamin yang
sama atau berbeda atau keduanya. Seseorang peserta didik yang tertarik pada anggota jenis
kelamin lain disebut heteroseksual (heterosexual). Sebaliknya, seseorang yang tertarik pada
anggota jenis kelamin yang sama disebut homoseksual (homosexual).

E. Kenakalan Remaja

Tekanan teman sepermainan atau rekan yang sangat selama masa remaja. Ada dua
kategori kenakalan remaja.

1. Anak-anak yang melakukan kejahatan dan dihukum sesuai dengan aturan hukum,
seperti perampokan.
2. Anak-anak yang melakukan tindakan pidana yang biasanya tidak dianggap sebagai
kriminal, seperti membolos.
IX

Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik

A. Bawaan Sejak Lahir atau Lingkungan

Peserta didik itu beragam karakteristik, misalnya, tinggi badan, warna kulit, warna
mata, dan sebagaianya. Sebagai contoh, Santianty memiliki dua anak perempuan dengan ibu
biologis yang sama. Keduanya tinggi, sopan, dan gemar musik. Meskipun memiliki
kesamaan seperti ini, anak yang lebih tua kurang gaul secara sosial dan tenang, sementara
yang lebih muda, yang lahir pada lingkungan keluarga yang sama, tampaknya lebih terbuka.

B. Bukti Pengaruh Herediter

Menurut McDevitt dan Ormrod, hasil penelitian membuktikan bahwa ukuran


kecepatan pengolahan informasi berkolerasi positif dengan skor IQ. Kenyataan bahwa anak-
anak dengan cacat genetic tertentu memiliki IQ rata-rata jauh lebih rendah dari rekan-rekan
mereka yang tidak memiliki cacat yang sama (Keogh & MacMillan, 1996).

Studi Si Kembar

Sejumlah penelitian telah menggunakan kembar monozigotik (identik) dan kembar


dizigotik (persaudaraan) untuk mengetahui berapa kuat faktor hereditas mempengaruhi IQ.

Studi Adopsi

Cara lain untuk membedakan pengaruh hereditas dan lingkungn adalah


membandingkan anak-anak yang diadopsi oleh kedua orang tua biologis dan angkat mereka.
Anak yang diadopsi cenderung mirip dengan oran tua biologis mereka dalam susunan
genetiknya.

C. Perkembangan Peserta Didik

Studi tentang perusahaan progresif perilaku dan kemampuan manusia, termasuk


peserta didik, dari konsepsi sampai mati merupakan tugas psikologi perkembangan. Ketika
dilahirkan, anak manusia itu sudah lengkap secara fisik, namun, bayi manusia itu akan mati
jika tidak dirawat. Beberapa dimensi perkembangan anak dijelaskan seperti berikut ini.
1. Pematangan atau maturation. Kemunculan dan perkembangan karakteristik pribadi
berjalan dalam sebuah urutan terartur sejalan dengan pertumbuhan fisik.
2. Sekuensi teratur atau orderly sequence. Tingkat kematangan bervariasi pada masing-
masing anak.
3. Prinsip kesiapan keutamaan gerak atau readiness principle of motor primacy.
Pematangan biasanya menciptakan kondisi kesiapan untuk belajar.
4. Temperamen atau temperament. Mengacu pada ciri-ciri kepribadian, seperti suasana
hati, kepekaan, dan tingkat energi.

D. Perkembangan Peserta Didik dan Lingkungan

Berikut ini disajikan beberapa ragam perkembangan anak, baik karena faktor bawaan
maupun terutama karena bentuk linngkungan itu sendiri, khususnya lingkungan sosial.

1. Kesadaran diri. Seperti halnya perkembangan anak pada umumnya, kesadaran diri
tergantung pada pematangan sistem saraf.
2. Pengacuan sosial. Anak memiliki kemampuan melirik ekspresi wajah orang lain
untuk memutuskan cara tertentu dalam menanggapi mereka.
3. Periode kritis. Suatu sensitivitas anak menjadi meningkat sebagai pengaruh dari
lingkungan mereka, baik positif maupun negatif.
4. Perawatan primer. Anak mengalami perawatan atau pelayanan primer dari
lingkungannya, terutama orang tua dan pengasuhnya.
5. Pengayaan dalam pengembangan. Lingkungan merangsang perkembangan fisik,
emosi, persepsi, dan intlektual anak.

E. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik

Tugas perkembangan adalah sesuatu yang bisa diduga timbul dan konsisten pada atau
sekitar periode tertentu dalam kehidupan individu (Havighurst, 1953). Konsep tugas
perkembangan didasari asumsi bahwa perkembangan manusia, termasuk peserta didik, dalam
masyarakat modern ditandai oleh serangkaian tugas di mana individu harus belajar sepanjang
hidupnya.
F. Tahapan-Tahap Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan peserta didik menjadi bagian integral dari perkembangan manusia


pada umumnya. Perkembangan dimaksud adalah perubahan yang sistematis, progresif, dan
berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya. Perkembangan
manusia melalui tahapan yang sistematis dalam urutan tertentu yang bersifat serial.
Perkembangan itu bergerak langkah demi langkah, dan sebagian geraknya lebih dekat untuk
beberapa bentuk status dewasa.
X

Dimensi dan Tugas-Tugas Perkembangan Peserta Didik

A. Dimensi-dimensi Perkembangan Peserta Didik


Perkembangan manusia dapat dilihat dari multidimensi, baik fisik maupun nonfisik.
Perkembangan itu umumnya berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkelanjutan.
Dimensi-dimensi perkembangan individu, termasuk peserta didik, disajikan berikut ini.
1. Perkembangan fisik. Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek
anatomis dan fisiologis. Perkembangan anatomis berupa perubahan kuantitatif
pada struktur tulang, tinggi dan berat badan, dan lain-lain. Perkembangan
fisiologis ditandai dengan perubahan secara kuantitatif, kualitatif dan fungsional
dari sistem kerja biologis.
2. Perkembangan perilaku psikomotorik. Perkembangan ini menuntut koordinasi
fungsional antara sistem syaraf dan otot, serta dan fungsi-fungsi psikis.
3. Perkembangan bahasa. Manusia memiliki potensi dasar berbahasa. Potensi ini
berkembang tergantung pada dimana dia bermukin dan berinteraksi dengan
masyarakat berbahasa apa.
4. Perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif kata lainnya adalah
perkembangan kapasitas nalar otak atau inteligensi. Perkembangan inteligensi
berlangsung sangat pesat sampai masa remaja.
5. Perkembangan perilaku sosial. Manusia merupakan makhluk sosial. Ini bukanlah
keunggulan manusia yang utama, karena singa pun sering dinilai memiliki spirit
“sosial yang tinggi” dalam komunitasnya.
6. Perkembangan moralitas. Tahap perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi
atau rendahnya moral seseorang berdasarkan penalaran moralnya.
7. Perkembangan bidang keagamaan. Manusia meyakini bahwa ada kekuatan yang
“Serba Maha” di luar dirinya.
8. Perkembangan konatif. Konatif merupakan perilaku yang berkaitan dengan
motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebuthan-
kebutuhannya.
9. Perkembangan emosional. Perkembangan ini melibatkan banyak variabel, seperti
rangsangan yang menimbulkan emosi, perubahan fisiologis, suasana lingkungan,
kondisi kesehatan, ketersediaan kebutuhan, iklim interaksi dengan lingkungan dan
orang lain, dan sebagainya.

B. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik


Tugas-tugas perkembangan berkenaan dengan sikap, perilaku dan keterampilan
idealnya harus dikuasai dan diselesaikan sesuai dengan fase usia perkembangannya. Tugas-
tugas perkembangan individu bersumber pada faktor-faktor kematangan fisik, tuntutan
kultural kemasyarakatan, cita-cita, dan norma-norma agama.
C. Problema Peserta Didik
Problema yang dihadapi oleh peserta didik atau anak usia sekolah esensinya sama
dengan anak-anak pada umumnya. Masa usia sekolah, yang ketika mereka berada pada
satuan pendidikan disebut peserta didik, khususnya antara umur 12 tahun sampai dengan
18/20 tahun, atau yang disebut juga masa remaja ditandai dengan adanya aneka perubahan.
Problema yang mungkin timbul pada diri peserta didik atau masa usia sekolah disajikan
berikut ini.
1. Problema perkembangan fisik dan motorik. Pada masa usia sekolah, khususnya
setelah anak menyelesaikan sekolah dasar, ditandai dengan pertumbuhan fisik
yang cepat.
2. Problema perkembangan kognitif dan bahasa. Ketika memasuki bangku sekolah,
anak tidak mampu atau tidak berkesempatan mengoptimasi pengembangan
kemampuan intelektual, sangat mungkin potensi intelektualnya tidak akan
berkembang optimal.
3. Problema perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan. Masa usia
sekolah disebut pula sebagai masa kehausan sosial.
4. Problema perkembangan kepribadian dan emosional . Masa usia sekolah
merupakan waktu yang tepat bagi anak untuk menemukan identitas dirinya.
D. Perkembangan Peserta Didik dan Praktik Pembelajaran
Tidak cukup mudah bagi psikolog pendidikan, guru BP/BK, apalagi guru pada
umumnya untuk memberikan layanan pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan
rentang usia dan karakteristinya. Berikut ini disajikan beberapa implikasi
perkembangan anak bagi praktik pendidikn dan pembelajaran di sekolah.
1. Implikasi pralayanan
 Guru harus memahami teori perkembangan peserta didik menurut rentang
usia.
 Guru harus mengenali latar belakang peserta didik
 Guru harus mengenali nama-nama peserta didiknya
 Guru harus mengenali minat dan bakat peserta didiknya
 Guru harus memahami esensi pelayanan individual peserta didik
2. Implikasi layanan pendidikan dan pembelajaran
 Guru dan orang tua harus berusaha menciptakan lingkungan fisik,
lingkungan sosial dan psikis yang sebaik-baiknya bagi proses
perkembangan peserta didik.
 Layanan pendidikan kepada peserta didik oleh orang tua dan guru harus
sesuai dengan tingkat kematangan intelektual, sosial, emosional, serta
kemampuan jasmaninya.
 Tuntuan gerakan fisik kepada peserta didik harus disesuaikan dengan
karakteristik khusus dan kematangan jasmani peserta didik.
 Guru hendaklah memperhatikan keterkaitan antara berbagai segi
kematangan jasmani dan rohani peserta didik dalam menciptakan
lingkungan belajar yang efektif.
BAB XI

Perkembangan Kepribadian Peserta Didik dengan Kecerdasan Ganda

A. Kecerdasan Ganda
Menilai profil atau tingkat kecerdasan seseorang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi
kecerdasan gandanya. Hingga kini tidak ada tes yang dapat menilai sifat atau kualitas
kecerdasan orang dengan benar-benar akurat. Tes-tes standar hanya mengukur sebagian kecil
dari keseluruhan spektrum kemampuan manusia. Kehadiran teori kecerdasan ganda,
karenanya, menjadi bagian integral dari usaha Gardner untuk memperluas lingkup potensi
manusia melampaui batas nilai IQ. Ada banyak jenis kecerdasan manusia menurut Gardner
(1999) dan pendapat ahli lain, seperti disajikan berikut ini.

No Jenis-jenis Kecerdasan Deskripsi dan Makna


1. Linguistik Kemampuan individu dalam
menggunakan kata-kata secara efektif,
baik secara lisan maupun tulisan.
2. Matematika-Logis Kemampuan individu dalam
mengguanakan angka-angka dengan baik
dan melaukan penalaran dengan benar.
3. Keruangan Kemampuan individu dalam
mempersepsi dunia keruangan-visual
secara akurat, misalnya, sebagai
pemburu, tebak-lokasi, pewisata alam.
4. Kinestetik-jasmani Keahlian individu dalam menggunakan
seluruh atau sebagian organ tubuh untuk
mengekspresikan ide dan perasaan.
5. Musikal Kemampuan individu menangani atau
mengenali bentuk-bentuk musikal,
dengan cara mempersepsi.
6. Interpersonal Kemampuan mempersepsi dan
membedakan suasana hati, maksud,
motivasi serta perasaan orang lain.
7. Intrapersonal Kemampuan memahami diri sendiri dan
bertindak berdasarkan pemahaman
tersebut.
8. Naturalis Memungkinkan manusia untuk
mengenali, mengelompokkan dan
menggunakan fitur tertentu dri
lingkungan.
9. Kecerdasan adversarial Kecerdasan ini berkaitan dengan
kemampuan seseorang memilih jalan
keluar untuk memecahkan masalah-
masalah paling sulit yang dia hadapi.
10. Kecerdasan moral Kecerdasan moral berkaitan dengan
aturan-aturan, perilaku dan sikap yang
mengatur kesucian hidup.
11. Kecerdasan spritual Posisi yang berkaitan dengan kecerdasan
spiritual jauh lebih kompleks.

B. Sumber Daya Kecerdasan Ganda


Teori kecerdasan ganda adalah model yang sangat tepat baik untuk melihat kekuatan
mengajar maupun untuk mempelajari wilayah-wilayah yang perlu diperbaiki. Beberapa
cara menggunakan sumber-sumber kecerdasan tersebut menurut Gardner (1999) antara
lain disajikan seperti berikut ini.
1. Meminta bantuan teman yang ahli.
2. Meminta bantuan peserta didik.
3. Menggunakan teknologi yang ada.
4. Memupuk secara saksama atau melalui pengembangan secara pribadi kecerdasan ganda.
C. Mengembangkan Kecerdasan Ganda
Ketika berbicara mengenai kecerdasan peserta didik, guru mestinya berusaha
menghindari istilah “kecerdasan yang kuat” dan “kecerdasan yang lemah” ketika
menjelaskan perbedaan individual mereka. Apakah kecerdasan dapat berkembang atau
tidak, tergantung pada tiga faktor penting berikut :

 Faktor biologi, termasuk di dalamnya faktor keturunan atau genetis dan luka atau
cedera otak sebelum, selama, dan setelah kelahiran.
 Sejarah hidup pribadi, termasuk di dalamnya pengalaman-pengalaman dengan
orang tua, guru, teman sebaya, kawan-kawan, dan orang lain.
 Latar belakang kultural dan historis, termasuk waktu dan tempat peserta didik
dilahirkan dan dibesarkan, serta sifat dan kondisi perkembangan historis atau
cultural di tempat-tempat lain.
Berikut ini dikemukakan beberapa poin kunci dalam pengembangan kecerdasan ganda.

1. Setiap peserta didik memiliki kesebelasan kecerdasan.


2. Peserta didik pada umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada
tingkat penguasaan yang memadai.
3. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori.
BAB XII
Perkembangan Kreativitas Peserta Didik
A. Kreativitas dan Teori Belahan Otak
Perkembangan kreativitas peserta didik sangat erat kaitannya dengan perkembagan
kognitifnya. Berkenaan dengan teori belahan otak beserta fungsinya ini (Clark, 1983)
mengumukakan sejumlah fungsi otak sesuai dengan belahannya. Menurutnya, ketika otak
kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.
Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan,khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi,
musik, dan warna. Jadi, otak kanan berfungsi dalam perkembangan kecerdasan emosional
(emotional quotient, EQ), secara lebih luas dapat dijelaskan bahwa otak kanan
diidentikkan tentang kretivitas, persamaan, khayalan, bentuk atau ruang, emosi, musik dan
warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang
terlalu mendetail. Berikut ini digambarkan perbedaan ringkas antara otak kiri dan otak
kanan dalam berpikir.

Otak kiri Right Brain

 Logis Berurut Acak


 Rasional Intuitif
 Analitik Holistik Sintesis
 Objektif Subyektif
 Melihat bagian Melihat keutuhan
B. Perkembangan Kreativitas
Perkembangan kreativitas menjadi bagian integral dari proses perkembangan kognitif. Ketika
memasuki usia sekolah dasar anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret, disertai
dengan berkembangnya rasa ingin tahu (curiosity) yang cukup kuat. Menurut Piaget dan
beberapa pakar lainnya, faktor-faktor memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas itu
adalah sebagai berikut.

 Kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, meskipun masih memerlukan bantuan


objek-objek konkret.
 Kemampuan berpikir logis dalam bentuk sederhana.
 Kemampuan menampilkan operasi-operasi mental.
 Berkembangnya kemampuan memelihara identitas diri.
 Meluasnya konsep tentang ruang sudah semakin meluas.
 Kesadaran akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
C. Karakteristik Peserta Didik yang Kreatif
Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas seperti berikut ini.

 Senang mencari pengalaman baru.


 Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
 Memilki inisiatif.
 Memiliki ketekunan yang tinggi.
 Cenderung kritis terhadap orang lain.
 Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya.
 Selalu ingin tahu.
 Enerjik dan ulet.
 Percaya kepada diri sendiri.
 Memilki rasa keindahan.
D. Tahap-tahap Pengembangan Kreativitas
Salah satu tugas guru adalah membantu atau memfasilitasi perkembangan peserta didiknya.
Disamping keempat tahap seperti dikemukakan oleh Wallas, penulis menambahkan
“penyadaran” dan “tindakan” sebagai bagian dari pengembangan kreativitas.

1. Penyadaran (consciousness) akan imajinasi. Peserta didik yang kreatif memilki


banyak imajinasi.
2. Persiapan (preparation), dimana peserta didik berusaha mengumpulkan informasi
atau data untuk memecahkan masalah yan dihadapi sehingga menjadi tindakan kreatif.
3. Inkubasi (incubation), dimana peserta didik seolah-olah melepaskan diri untuk
sementara waktu dari masalah yang dihadapinya.
4. Iluminasi (illumination), dimana peserta didik mulai membangun proses psikologis
untuk mempersiapkan diri bagi transformasi tindakan kreatif atas gagasan baru yang
dimilikinya.
5. Verifikasi (verivication), di mana gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis
dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas.
6. Tindakan kreatif (creative action), dimana peserta didik melakukan tindakan nyata
atas ide-ide kreatif atau imajinasinya, sehingga mewujud menjadi kenyataan yang
dikendaki.
BAB XIII
Perkembangan dalam Kelompok Sebaya
A. Definisi
Kelompok sebaya sebaya berpengaruh penting bagi perkembangan sepanjang sejarah hidup
peserta didik. Tetapi pengaruhnya paling kritis selama tahun-tahun perkembangan mereka
ketika masih masa kanak-kanak dan remaja. Penellitian terbaru menunjukkan bahwa orang
tua terus memiliki pengaruh signifikan, bahkan selama masa remaja, penemuan yang
meyakinkan bagi banyak orang tua.
B. Keanggotaan Kelompok Sebaya
Meskipun terdapat keuntungan yang signifikan dalam keragaman hubungan dengan teman
sebaya, kuat cenderung bahwa anak-anak kurang menerima mereka yang berbeda dari diri
mereka sendiri. Kelompok sebaya menawarkan kepada anak-anak dan orang dewasa sama
kesempatan untuk mengembangkan berbagai keterampilan sosial, seperti kepemimpinan,
berbagi atau kerja sama tim, dan empati.
C. Agresi dalam Kelompok Sebaya
Meskipun keroyokan dan menjahili telah lama menjadi bagian dari interaksi kelompok
sebaya (peer group), perilaku-perilaku negatif telah meningkat selama dekadae terakhir, yang
mengakibatkan kekerasan sekolah terjadi dalam banyak perkara dan bentuk. Interaksi negatif
dengan teman sepermainan juga terjadi lebih sering mengikuti pola pershabatan atau
keromantisan hubungan yang sudah asam. Tingkat pelecehan dalam aneka bentuk pun kerap
terjadi kepada anak-anak perempuan, bahkan melibatkan orang dewasa.
D. Pengaruh Kelompok Sebaya
Kelompok sebaya dapat memiliki pengaruh positif, suatu fakta yang telah dikenal banyak
orang tua dan guru selama bertahun-tahun. Banyak orang tua mempersepsi bahwa pengaruh
teman-teman sebaya dapat memiliki dampak positif pada motivasi akademik dan kinerja
anak-anak muda. Karena sekolah sering menjadi situs interaksi negatif, komunitas sekolah
memiliki kesempatan unik untuk intervensi yang efektif. Banyak sekolah mengembangkan
program media sejawat, di mana peserta didik didorong untuk menyelesaikan konflik mereka
sendiri tanpa penggunaan kekerasan atau agresi.
E. Keterampilan Bersahabat
Kemampuan menjalin persahabatan merupakan hal yang penting dalam perkembanga jiwa
peserta didik. Menurut Zick Rubin keterampilan bersahabat umumnya melewati empat tahap
penting dan saling bertumpang tindih.
1. Tahap egosentris. Tahap ini dilalui oleh anak sekitar tiga hingga tujuh tahun.
2. Tahap pemenuhan kebutuhan. Tahap ini dimulai antara usia 4 sampai 9 tahun.
3. Tahap balas jasa. Anak usia 6 sampai 12 tahun biasanya mulai memasuki tahap ini.
4. Tahap intim. Usia 9 sampai 12 tahun dominan dengan persahabatanyang intim.
BAB XIV
BK untuk Optimasi Perkembangan Peserta Didik
A. Definisi Bimbingan dan Konseling
Konsep bimbingan dan konseling (BK) berangkat dari asumsi bahwa orang dewasa, guru,
lembaga, atau sekolah harus mempromosikan kehidupan individu yang efisien dan bahagia
dengan cara membantu anak atau peserta didik menyesuaikan diri pada realita sosial.
Bimbingan merupakan upaya memberi nasihat dan saran dari seorang atau sekolompok guru
kepada peserta didik. Bimbingan adalah proses menempatkan pilihan bagi peserta didik pada
waktu dan tempat yang harus dilakukan. Konseling (counseling) merupakan aktivitas guru
atau konselor menginisiasi atau menginspirasi, bahkan meminta peserta didik menggunakan
kemampuan, pemahaman, dan keterampilan yang memungkinkan mereka mengelola
kehidupannya sendiri, kini, dan di masa depan.
Dengan demikian, BK adalah pelayanan bantuan bagi peserta didik, baik secara
perseorangan maupun kelompok agar mereka bisa mandiri dan berkembang secara optimal,
baik dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan
dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
B. Tujuan dan Fungsi Bimbingan Konseling
Secara rinci tujuan layanan BK bagi peserta didik disajikan berikut ini.
1. Mendorong aktivasi potensi multikecerdasan peserta didik agar berkembang secara
optimal.
2. Memadu peserta didik untuk dapat menyelesaikan aneka persoalan akademik, pribadi,
dan sosialnya dari hari ke hari.
3. Memberi pencerahan dan memadu arah peserta didik untuk mewujudkan cita-citanya
sesuai dengan potensi internal dan sumberdaya yang dimilikinya.
4. Merencanakan proses pemeblajaran, penyelesaian studi, perkembangan karir, dan
arah kehidupannya di masa yang akan datang.
5. Membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan
lingkungan masyarakat, serta lingkungan kontekstualnya.

Dengan menggabungkan kegiatan bimbingan dan kegiatan konseling, Akhmad Sudradjat


(2008) mengemukakan fungsi Bk seperti berikut ini.
1. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi BK membantu peserta didik agar memiliki
pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,
dan norma agama).
2. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa
mengantisipasi berbagi masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk
mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik.
3. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi BK yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-
fungsi lainnya.
4. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi BK yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat
dengan upaya pemberian bantuan kepada peserta didik yang telah mengalami masalah.
5. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi BK dalam membantu peserta didik memilih kegiatan
ekstrakulikuler, jurusan atau program studi.
6. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala
Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program
pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan
peserta didik.
7. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi BK dalam membantu psesrta didik agar dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi BK untuk membantu peserta didik sehingga dapat
memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak (berkendak).
9. Fungsi fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh
aspek dalam diri peserta didik.
10. Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi BK untuk membantu peserta didik supaya dapat
menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
C. Prinsip-prinsip Bimbingan
Beberapa prinsip dasar bimbingan disajikan berikut ini.
1. Bimbingan merupakan proses yang berkesinambungan.
2. Kegiatan bimbingan secara khusus direncanakan dan dikembangkan untuk
memastikan efektivitas program.
3. Bimbingan dilakukan secara multitujuan, multisubstansi, dan tanpa deskriminasi.
4. Bimbingan dilakukan dengan melibatkan tanggung jawab orang tua di rumah dan
membuka peluang akses mereka berpatisipasi di sekolah.
5. Bimbingan berfokus utama pada program pendidikan, namun tidak semua program
pendidikan adalah bimbingan.
6. Bimbingan menginisiasi proses pembelajaran peserta didik.
7. Bimbingan membantu peserta didik memahami dirinya sendiri.
8. Bimbingan dilakukan dengan panduan tertentu dan didasarkan pada konsep yang
benar mengenai peserta didik.
D. Perbedaan Bimbingan dengan Konseling
Perbedaan dimaksud disajikan berikut ini.
Fungsi/kegiatan bimbingan Fungsi/kegiatan
konseling
 Orientasi
Layanan masuk  Pemahaman diri
 Pendaftaran
studi/melanjutkan studi  Konseling
 Pilihan program
 Memahami orang
 Familiarisasi dengan
lain, termasuk guru
situs-situs penting dan
dan dimensi
lokasi di sekolah
kelembagaan
seperti perpustakaan,
lainnya
kafteria, pusat
 Konseling
kesehatan, dan lain-
kelompok dalam
lain.
tiga bidang :
akademik, sosial,
karir pribadi.

 Peningkatan belajar  Hubungan antara


Layanan proses
efektif program/seleksi
pembelajaran
 Penggunaan program dan
perpustakaan secara rencana masa
intensif dan pencarian depan
bahan pustaka  Konseling
 Perubahan/inovasi akademik dalam
pembelajaran berbagai bentuk
 Strategi menjaga  Stabilisasi
stabilitas akademis, hubungan antar
sosial, dan lain-lain. pribadi
 Pelaksanaan ujian  Etika pemeriksaan

 Mencari pekerjaaan  Hidup sebagai


Layanan persiapan lulus
 Menulis aplikasi dan lulusan baru
mengumpukan  Realitas dunia
informasi tentang kerja
formasi.  Frustasi mencari
 Keterampilan pekerjaan
wawancara pekerjaan  Menghadapi pasar
tenaga kerja.

E. Kunci Sukses Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling


Menurut Noah H. Kersey, keempat kunci sukses dimaksud disajikan berikut ini. Pertama,
kerelaan, di mana banyak peserta didik yang membutuhkan konseling, baik datang sendiri
maupun sengaja dipanggil. Kedua, motivasi, di mana beberapa peserta didik dituntut dan
berkemauan kuat membuat perubahan dalam hidup sekaligus memiliki dorongan atau energi
untuk benar-benar melakukannya. Ketiga, komitmen, di mana pepatah lama mengatakan : Si
Pendiam pernah menang dan pemenang tidak pernah berhenti. Keempat, keyakinan, di mana
hal ini merupakan titik final dan langkah yang paling kritis dalam menciptakan keberhasilan.
F. Bimbingan Pengembangan Kecerdasan Emosional
Salah satu tugas guru adalah membantu proses pertumbuhan dan perkembangan emosional
peserta didik. Bimbingan kepada peserta didik untuk pengembangan kecerdasan emosional
bermanfaat dalam hal-hal seperti berikut ini.
1. Peserta didik memiliki daya adaptabilitas tinggi, tanpa harus berstandar ganda atau
berpura-pura.
2. Peserta didik memiliki toleransi terhadap aneka perilaku teman-temannya, guru, dan
masyarakat.
3. Peserta didik memiliki toleransi terhadap aneka kekecewaan.
4. Peserta didik mampu mengungkapkan kemarahan tanpa wujud sebagai pertengkaran.
5. Peserta didik memiliki kemampuan menahan diri atau “menunda nafsu amarah”,
sehingga tidak menjadi agresif.
Beberapa prinsip yang harus diterapkan oleh orang tua dan guru dalam mengembangkan
kecerdasan emosional anak disajikan berikut ini.
 Membina hubungan persahabatan yang baik dan harmonis.
 Membangun semangat egaliter dan kesetaraan kontekstual.
 Bekerja dalam komunitas yang berlangsung secara harmonis.
 Berempati tinggi dan toleran terhadap perilaku anak-anak.
 Berbicara dan mendengarkan secara efektif.
 Mencapai prestasi yang lebih tinggi sesuai dengan regulasi yang ada atau bersikap
jujur.
BAB XV
Psikologi Pendidikan dan Optimasi Perkembangan Peserta Didik
A. Metode Psikologi Pendidikan
Salah satu tugas guru adalah mengoptimasi perkembangan peserta didik. Optimasi itu dapat
dilakukan dengan aneka pendekatan. Salah satu pendekatan yang dapat dipakai dalam
kerangka ini adalah pendekatan psikologis kepada peserta didik, sebagai bagian dari ranah
psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan esensinya merupakan aplikasi teori dan metode
psikologi ke dalam dunia pendidikan atau pembelajaran. Beberapa metode yang lazim
dipakai dalam psikologi pendidikan disajikan berikut ini.
Metode Wawancara
Salah satu metode pengumpulan data untuk mengetahui kondisi peserta didik dari sisi aneka
keunggulan, masalah, kendala pengembangan, serta perilaku dan faktor-faktor penyebabnya
adalah wawancara.
Metode Introspeksi
Secara historis introspeksi adalah metode tertua dari semua metode psikologi pendidikan.
Metode ini sebelumnya digunakan dalam filsafat dan kemudian dalam psikologi untuk
mengumpulkan data tentang pengalaman sadar subjek.
Metode Observasi
Dengan perkembangan psikologi sebagai ilmu objektif tentang perilaku, metode introspeksi
digantikan oleh pengamatan seksama terhaddap perilaku manusia atau hewan.
Metode Tes
Untuk mengetahui minat, bakat, potensi, tingkat kecerdasan, dan kecenderungan-
kecenderungan lainnya dari peserta didik, seringkali psikolog pendidikan atau guru (dengan
meminta bantuan psikolog) melakukan tes kepada peserta didiknya.

Metode Kuesioner
Angket atau kuesioner adalah seperangkat pertanyaan atau penyataan tertulis dalam
lembaran kertas atau sejenisnya dan disampaikan oleh psikolog pendidikan atau guru kepada
peserta didik untuk diisi tanpa intervensi pihak lain.
Studi Kasus
Studi kasus merupakan kajian atau penelitian mendalam tentang subjek.
Metode lainnya
Beberapa metode lainnya yang dapat dipakai oleh psikolog pendidikan atau guru adalah
eksperimen (baik semu maupun sungguhan), metode diferensial, metode klinis, dan
sebagianya.
B. Kontribusi Psikologi Pendidikan
Psikolog pendidikan telah membuat kemajuan besar untuk memahami bagaimana peserta
didik dengan karakter yang berbeda bisa belajar dengan baik menurut keragaman mata
pelajaran. Psikologi pendidikan akan terus memberikan kontribusi bagi pendidikan, karena
ilmu ini mempelajari lebih lanjut tentang otak dan bagaimana belajar terjadi perkembangan
intelek, pengaruh, kepribadian, karakter, dan motivasi cara menilai pembelajaran dan
penciptaan multifaset lingkungan belajar.
BAB XVI
Orientasi Belajar Peserta Didik yang Dewasa
A. Pengantar
Peserta didik yang baik adalah pembelajar sejati. Karena itu, di samping memahami
perkembangan peserta didik, guru harus mengenal pula orientasi cara belajar mereka. Dari
perspektif pendidikan, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses
pengembangan kognitif dan emosional untuk memperoleh, meningkatkan, atau mengubah
pengetahuan, keterampilan, nilai, serta pandangan individu tentang dunia dan lingkungannya
(Illeris, 2000).
Menurut Hill (2002), teori belajar memiliki dua nilai utama. Pertama, sebagai
kerangka kerja konseptual untuk menafsirkan contoh pembelajaran yang diamati. Kedua,
mengancang dan membuat solusi atas masalah-masalah praktis dalam pembelajaran.
B. Orientasi Dasar
Ada tiga orientasi utama atau kerangka dasar filosofi teori belajar, yaitu behaviorisme,
kognitivisme, dan konstruktivisme. Behaviorisme merupakan aliran pembelajaran
yang berfokus pada aspek objektif atas dasar pengamatan. Pandangan kognitivisme
menjelaskan perilaku pembelajaran berbasis otak, meski dapat saja lebih dari itu,
karena prosesnya tidak dibentuk oleh variabel tunggal. Pandangan konstruktivisme
menjelaskan pembelajaran sebagai proses di mana peserta didik aktif membangun ide-
ide atau konsep-konsep baru. Berikut ini disajikan beberapa mode orientasi belajar
peserta didik dewasa.
Belajar Mandiri
Belajar mandiri atau sering disebut belajar berbasis arah-diri (self-directed learning)
berfokus pada proses di mana orang dewasa mengendalikan pembelajaran mereka
sendiri, khusunya bagaimana menetapkan tujuan belajar.

Refleksi Kritis
Mengembangkan refleksi kritis merupakan suatu metode yang telah lama dikalim
sebagai bentuk dan proses pembelajaran khas orang dewasa.
Belajar dari Pengalaman
Belajar dari pengalaman, dalam keseharian kita sering diungkapkan dalam pepatah:
pengalaman adalah guru terbaik.
Belajar untuk Belajar
Kemampuan orang dewasa “belajar bagaimana untuk belajar” atau “belajar menjadi
terampil belajar” dalam berbagai situasi dan berbagai gaya yang berbeda, merupakan
tujuan yang menyeluruh bagi para pendidik yang bekerja dengan orang dewasa.
Belajar Jarak Jauh
Berbeda dengan banyak bahasan dalam literatur yang selalu membatasi studi dengan
format korespondensi, pendidikan jarak jauh kini dianggap sebagai sebuah pengaturan
penting, karena di dalamnya banyak terjadi pembelajaran orang dewasa yang
signifikan (Gibson, 1992).
Pembelajaran Observational
Kegiatan belajar melalui observasi atau pembelajaran observasional merupakan salah
satu mode belajar peserta didik atau orang dewasa.
Pengaturan Diri
Pengaturan diri adalah mengendalikan perilaku diri sendiri. Pengaturan diri biasanya
dilakukan oleh peserta didik yang “bekerja atau belajar keras”, lebih dari yang lain.
Belajar sebagai Produk
Pada banyak buku tes psikologi pendidikan terbitan tahun 1960-an dan 1970-an,
istilah belajar umumnya didefinisikan sebagai perubahan perilaku atas dasar
pengalaman.
“Tahu Apa” dan “Tahu Bagaimana”
Seorang peserta didik yang mengetahui serba sedikit ilmu kedokteran tidak bisa
menjadi ahli bedah yang baik. Demikian juga, keunggulan seorang dokter dalam
melakukan operasi tidak sama dengan pengetahuan ilmu kedokteran. Seorang dokter
memang harus banyak “tahu apa” (know what) yang diperoleh dari hasil pembelajaran,
induksi dan pengamatan sendiri. Namun demikian, dia juga harus banyak melakukan
praktik yang relevan agar benar-benar “tahu bagaimana” (know how) melakukan
tindakan operasi yang benar.
Belajar sebagai Suatu Proses
Nama lain untuk “belajar sebagai suatu proses” adalah “belajar teori”. Fokus belajar
pada proses membawa peserta didik ke dalam dunia belajar teori, menggali ide
tentang bagaimana atau mengapa perubahan terjadi. Berikut ini disajikan empat
orientasi yang berbeda dalam proses belajar, yaitu :
 Orientasi belajar behavioris,
 Orientasi belajar kognitif,
 Orientasi belajar humanistik dan,
 Orientasi belajar situasional atau orientasi belajar sosial.