Anda di halaman 1dari 15

Analisis Aktivitas Pendanaan atas Laporan Tahunan Tahun Buku 2016 PT

Charoen Pokphand Indonesia Tbk

(Makalah)

Untuk memenuhi Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Analisis Laporan
Keuangan yang diampu oleh Ibu Putu Prima Wulandari, SE., MSA., Ak.

Oleh :
Richa Resti Utami 155020301111002

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
OKTOBER 2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................ii

I PENDAHULUAN ..............................................................................................1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................1

1.2 Tujuan. .......................................................................................................2

II PEMBAHASAN ...............................................................................................3

2.1 Profil PT Charoen Pokphand...........................................................................3

2.2 Analisis Aktivitas Pendanaan..........................................................................3

2.2.1 Kewajiban san Analisis Kewajiban ......................................................3

2.2.2 Sewa dan Analisis Sewa........................................................................7

2.2.3 Imbalan Pasca Pensiun dan Anaisis Imbalan Pasca Pensiun.................7

2.2.4 Kontinjensi dan Komitmen dan Analisis Kontinjensi dan Komitmen. .8

2.2.5 Pendanaan di luar Neraca .....................................................................11

2.2.6 Ekuitas Pemegang Saham dan Analisis Ekuitas Pemegang Saham......11

III KESIMPULAN ...............................................................................................13

3.1 Kesimpulan .....................................................................................................13

REFERENSI .......................................................................................................14

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia, dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia


merupakan pasar konsumen terbesar di Asia Tenggara. Namun penduduk
Indonesia yang mengkonsumsi daging ayam terbilang lebih sedikit dibandingkan
dengan penduduk negara lain di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan adanya
ruang untuk pertumbuhan pada pasar daging ayam ini. PT Charoen Pokphand
mampu memanfaatkan dan mengelola ruang pertumbuhan tersebut, sehingga pada
tahun 2016 mengalami peningkatkan laba serta penurunan liabilitas
tanggungannya. Laba bersih perusahaan meningkat 21,43% dari laba tahun
sebelumnya. Begitu pula dengan penurunan liabilitas perusahaan yang mencapai
17,17% di tahun 2016. Hal ini merupakan pencapaian yang baik, meskipun
konsumen daging ayam masih sedikit namun hal ini menunjukkan bahwa
perusahaan mampu bertahan bahkan berkembang pesat dalam kondisi pasar yang
masih kecil. Dengan perkembangannya yang pesat, saham PT Charoen Pokphand
pun menjadi salah satu saham yang direkomendasikan, karena prospek
pertumbuhannya yang baik.
PT Charoen Pokphand dalam menjalankan usahanya memiliki entitas anak
dan memiliki usaha yang terintergrasi secara vertikal dari hulu ke hilir. Mulai dari
ternak ayam, peralatan ternak, hinggan pengelolaan hasil ternak terintergrasi baik
yang dikelola induk maupun anak perusahaannya. Sehingga apabila kebutuhan
produksi dapat dipenuhi dalam kelompok usaha. Dengan usaha yang terintegrasi
ini memungkinkan kegiatan perusahaan lebih produktif dan dapat menyediakan
produk yang diperlukan pelanggan secara terintegrasi. PT Charoen Pokphand dan
entitas anaknya memiliki kegiatan usaha mulai dari pakan ternak, peralatan,
pengolahan hasil ternak hingga penggudangan dan distribusi .
Selain berorientasi terhadap keuntungan ekonomis, PT Charoen Pokphand
menurut sumber berita baru-baru ini memberikan bantuan untuk para korban
letusan Gunung Agung Bali, Pokphand memberikan bantuan pakan ternak kepada

1
pengungsi. Tidak hanya pakan ternak, Pokphan melalui Singa Mas Indonesia
(entitas anak) memberikan bantuan berupa minuman.
PT Charoen Pokphand ini patut dijadikan contoh dan dilihat lebih dalam
lagi bagaimana kondisi perusahaan tersebut. Dengan adanya berbagai pencapaian
dan aksi-aksi sosial yang telah dilakukan Pokphand, merupakan hal menarik
untuk dianalisis. Oleh karena itu, penulis memilih PT Charoen Pokphand
Indonesia Tbk sebagai bahan bahasan makalah berikut.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana analisis aktivitas pendanaan atas laporan tahunan PT Charoen
Pokphand Tbk tahun 2016?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana aktivitas pendanaan yang dilakukan PT Charoen
Pokphand Tbk pada tahun 2016 berdasarkan laporan tahunan perusahaan tersebut.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Profil PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk didirikan di Indonesia dengan nama


PT Charoen Pokphand Indonesia Animal Feedmill Co. Limited, berdasarkan akta
pendirian yang dimuat dalam Akta No. 6 tanggal 7 Januari 1972. Kegiatan usaha
Pokphand antara lain industry makanan ternak, pembibitan dan budidaya ayam ras
serta pengolahan makanan, pengawetan daging ayam dan sapi serta menjual
nyabaik di Indonesia maupun ke luar negeri. Seain kegiata utama tersebut terdapat
kegiatan usaha penunjang yaitu mengimpor dan menjual bahan baku dan farmasi,
memproduksi dan menjual kemasan dan peralatan industry berbahan plastic,
melakukan perdagangan besar, melakukan kegiatan pengangkutan barang dan
penggudangan. Produk utama dari Pokphand dan entitas anaknya adalah pakan
ternak, ayam pedaging, anak ayam usia sehari komersial dan daging ayam olahan.

2.2 Analisis Aktivitas Pendanaan

Aktivitas pendanaan adalah suatu cara yang dilakukan perusahaan untuk


memperoleh dana untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan perusahaan. Sumber
pendanaan eksternal berasal dari pemilik atau pemegang saham dsn pemberi
pinjaman.

2.2.1 Kewajiban dan Analisis Kewajiban

Kewajiban

Kewajiban sendiri merupakan klaim pihak luar atas asset dan sumber daya
perusahaan saat ini dan di masa depan. Kewajiban muncul dari aktivitas operasi
dan pendanaan. Kewajiban dapat dibagi menjadi dua kewajiban jangka pendek
dan kewajiban jangka pajang.

3
a. Kewajiban jangka pendek dapat berasal dari aktivitas operasi dan
pendanaan. Kewajiban yang muncul dari aktivitas operasi meliputi utang
pajak, pendapatan diterima di muka, uang muka, piutang usaha, dan beban
operasi akrual lainnya, seperti utang gaji. Jenis kedua kewajiban lancer
dari aktivitas pendanaan, meliputi pinjaman jangka pendek, bagi utang
jangka yang jatuh tempo dan utang bunga.
b. Kewajiban tak lancer atau jangka panjang merupakan kewajiban yang
tidak jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasi,
mana yang lebih panjang. Kewajiban ini meliputi pinjaman, obligasi,
utang, dan wesel bayar.
Pengakuan dan pengukurannya memerlikan pengungkapan meliputi tingkat
bunga, tanggal jatuh tempo, hak konversi, fitur penarikan, dan provisi subordinasi.
Analisis Kewajiban
Berdasarkan laporan posisi keuangaan tahunan PT Charoen Pokphand
kewajiban telah di kelompokkan menjadi liabilitas jangka pendek dan liabilitas
jangka panjang. Semua liabilitas keuangan diakui pada nilai wajar saat pengakuan
awal dan liabilitas keuangan dalam bentuk utang dan pinjaman, dicatat pada nilai
wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung (CaLK
2aa).
Berdasarkan Laporan Direksi PT Charoen Pokphand berkomitmen untuk
mengurangi utang karena pada tahun ini perusahaan dinilai telah kembali pada
posisi keseimbangannya. Pada tahun 2016, tingkat liabilitas menurun hingga
17,17%. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan dan menghadapi
tantangan di masa depan maka perusahaan memperbaiki neraca mengurangi
tingkat utang.
Utang yang dilakukan oleh PT Charoen Pokphand sebagian besar untuk
tambahan modal kerja dan untuk melunasi utang yang sudah jatuh tempo,
khususnya untuk utang bank jangka panjang. Berikut rasio keuangan PT
Pokphand :

Rasio Likuiditas
Rasio lancar

4
2016 Aset lancar Rp 12.059.433 12.059 .433
=2,1728
Liabilitas jangka pendek Rp 5.550.257 5.550 .257
2015 Aset lancar Rp 12.058.873 12.058 .873
=2,1142
Liabilitas jangka pendek Rp 5.703.841 5.703 .841

Rasio cepat
2016 Aset lancar Rp 12.059.433 12.059 .433−5.109.719
=1,2521
Persediaan Rp 5.109.719 5.550 .257
Liabilitas jangka pendek Rp 5.550.257
2015 Aset lancar Rp 12.058.873 12.058 .873−5.483.906
=¿
Persediaan Rp 5.483.906 5.703 .841
Liabilitas jangka pendek Rp 5.703.841
1,2184

Rasio Solvabilitas
Rasio liabilitas terhadap ekuitas
2016 Total liabilitas Rp 10.047.751 10.047 .751
=0,7097
Total ekuitas Rp 14.157.243 14.157 .243
2015 Total liabilitas Rp 12.129.993 12.129 .993
=0,9486
Total ekuitas Rp 12.786.663 12.786 .663
Rasio liabilitas terhadap aset
2016 Total aset Rp 24.204.994 10.047 .751
=0,4151
Total liabilitas Rp 10.047.751 24.204 .994
2015 Total asset Rp 24.916.656 12.129.993
=0,4868
Total liabilitas Rp 12.129.993 24.916 .656
Rasio profitabilitas

Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas dapat dilihat dari rasio lancar dan rasio cepat. Berdasarkan
pada rasio lancar Pokphand memiliki rasio yang meningkat dari tahun 2015 yang
sebesar 2,11 menjadi 2,17 di tahun 2016. Rasio ini menunjukkan kemampuan
Pokphand semakin meningkat dalam menjamin setiap liabilitas lancar yang
ditanggung. Begitu dengan rasio cepat pada tahun 2015 sebesar 1,21 sedangkan
tahun 2016 meningkat sebesar 0,04 menjadi 1,25. Rasio ini juga menunjukkan
kemampuan Pokphand dalam menjamin liabilitas dengan aset lancarnya
dikurangkan dengan persediaan. Dalam rasio ini persediaan dikeluarkan dari aset
lancar karena dinilai kurang likuid. Dengan rasio ini juga dapat dilihat jika terjadi
banyak penumpukan pada persediaan yang terlihat dari turunnya rasio cepat
sebesar 0,92 dari rasio lancar pada tahun 2016. Meskipun demikian Pokphand

5
memiliki likuiditas yang baik karena setiap liabiitas lancar yang ditanggung dapat
dijamin dengan lebih dari 1 aset lancar yang dimiliki.

Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas diukur berdasarkan pada rasio liabilitas terhadap aset


dan rasio liabilitas terhadap ekuitas. Bedasarkan pada rasio liabilitas terhadap aset
pada tahun 2016 mengalami penurunan dari 0.48 menjadi 0.41. angka dari rasio
ini menunjukkan bahwa pada tahun 2016 aset Pokphan dibiayai menggunakan
liabilitas sebesar 41% dari total aset. Sedangkan untuk rasio liabilitas terhadap
ekuitas juga mengalami penurunan yang signifikan dari 0.95 menjadi 0.71. hal ini
menunjukan jika pendanaan Pokphand melalui liabilitas yang pada tahun 2015
sebesar 95% dibandingkan yang berasal dari pemegang saham sedangkan pada
tahun 2016 pendanaan melalui liabilitas turun menjadi 71% dibandingkan yang
berasal dari pendanaan pemegang saham. Penurunan ini dapat dikarenakan
Pokphan mampu mebayar utang jangka panjang nya pada tahun 2016 yang
terlihat dari laporan arus kas aktivitas pendanaan.

Berdasarkan rasio likuiditas dan solvabilitas Pokphand pada tahun 2016


memiliki kemampuan yang baik dalam menjamin liabilitas perusahaan baik
liabilitas lancar maupun liabilitas jangka panjang.

2.2.2 Sewa dan Analisis Sewa


Sewa
Sewa (lease) merupakan perjanjian kontraktual antara pemilik (lessor) dan
penyewa (lessee). Perjanjian ini memberikan hak pada lessee untuk menggunakan
aktiva yang dimiliki oleh lessor, selama masa sewa. Sebagai balasannya, lessee
membayar sewa/kewajiban, sewa merupakan bentuk pendanaan utama aset tetap.
Lessee mengklasifikasikan dan mencatat sewa sebagai sewa pendanaan (capital
lease) jika pada saat terjadinya, transaksi tersebut memenuhi minimal satu dari
empat kriteria sebagai berikut: (1) terdapat transfer kepemilikan (2) terdapat opsi
untuk membeli (3) masa sewa minimal 75% dari estimasi umur ekonomis aset

6
(4) nilai sekarang pembayaran sewa dan pembayaran sewa minimum lainnya
minimal sebesar 90% nilai wajar aset dikurangi dengan kredit pajak investasi yang
ditahan oleh lessor. Sewa dapat diklasifikasikan sebagai sewa operasi (operating
lease) bila tidak satu pun kriteria tersebut terpenuhi.
Analisis Sewa
Menurut dari laporan poisisi keuangan, PT Charoen Pokphand memiliki
sewa jangka panjang dibayar di muka sebagai aset tetap dan bagian yang
lancarnya sebagai aset lancar. Sewa jangka panjang pada bagian aset tetap yang
dilaporkan dalam laporan posisi keuangan telah dikurangi dengan bagian yang
lancar. Berdasarkan keputusan bersama dalam kelompok usaha sewa ini
dikategorikan sebagai sewa operasi karena bukan merupakan capital lease.

2.2.3 Imbalan Pasca Pensiun dan Analisis Imbalan Pasca Pensiun


Imbalan Pasca Pensiun
Program pensiun merupakan janji pembeli kerja untuk menyediakan
imbalan pensiun bagi pekerja. Perjanjian tersebut melibatkan tiga pihak yaitu
pemberi kerja, pekerja dan dana pensiun terpisah dari pemberi kerja dan
diadministrasikan oleh pihak yang ditunjuk (trustee). akuntansi membuat
perkiraan kewajiban dan beban yang dibutuhkan untuk menciptakan pembayaran
kas yang mungkin terjadi di tahun-tahun yang akan datang. Arus kas masuk dan
keluar dari program pensiun memengaruhi status pendanaan. Arus kas masuk
meningkatkan nilai aset program sedangkan arus kas keluar karena pembayaran
manfaat kepada pekerja yang sudah pensiun. Pembayaran manfaat mengurangi
kedua aset program dan kewajiban pensiun dengan tepat dalam jumlah yang sama,
sehingga pembayaran manfaat tidak memengaruhi status pendanaan bersih dari
program tersebut.
Analisis Imbalan Pasca Kerja
PT Charoen Pokphand mengakui imbalan pasca kerja sebagai liabilitas
jangka panjang dan jangka pendek. Liabilitas imbalan pasca kerja jangka pendek
menurut kebijakan manajemen pada penjelasan dalam catatan atas laporan
keuangan dinilai berdasarkan nilai tercatatnya. Sedangkan untuk liabilitas imbalan
kerja jangka panjang dinilai berdasarkan penilaian aktuaris dan disetiap tahun
dilakukan penilaian kembali. Selisih nilainya angsung mendebit atau mengkredit
laba komprehensif. Jadi kerugian atau kentungan penilaian kembali tidak
memiliki akun khusus di dalam laporan keuangan PT Charoen Pokphand.

7
2.2.4 Kontinjensi dan Komitmen dan Analisis Kontinjensi dan Komitmen
Kontinjensi dan Komitmen
Kontinjensi merupakan keuntungan dan kerugian potensial
yangpenyelesaiannya bergantung pada satu atau lebih peristiwa di masa depan.
Kerugian kontinjensi atau disebut juga dengan kewajiban kontijensi. Kewajiban
kontinjen muncul dari perkara hukum, ancaman pengambil alihan penagihan
piutang, klaim atas garansi produk atau kerusakan produk, garansi kinerja,
perhitungan pajak, risiko yang diasuransikan sendiri dan kerugian properti.
Kerugian kontinjensi harus memenuhi dua kondisi yaitu besar kemungkinan untuk
terjadi dan jumlah kerugian dapat diestimasikan.
Komitmen merupakan klaim potensial atas sumber daya
perusahaanberdasarkan kinerja di masa depan sesuai kontrak. Komitmen
tidakdiakui dalam laporan keuangan karena peristiwa sepertipenandatangan
kontrak atau penerbitan pesanan pembelian.

Analisis Kontinjensi
Berdasarkan penjelasan dalam catatan atas laporan keuangan PT Charoen
Pokphand, perusahaan memiliki beberapa kontinjensi antara lain :
a. Pajak penghasilan
PT Charoen Pokphand mengakui utang pajak penghasilan badan di dalam
catatan atas laporan keuangannya. Sehingga kewajiban kontinjensi ini diniai
perusahaan kemungkinan terjadinya renda. Besarnya utang pajak penghasilasn
badan berdasarkan estimasi, karena adanya transaksi dan perhitungan terterntu
yang menyebabkan penentuan akhir pajak tidak pasti sepanjang usaha normal.
Peraturan yang sering berubah juga mendorong estimasi utang pajak penghasilan.
Pokphand mengestimasi nilai tercatat neti utang pajak penghasilan badan untuk
periode yang berakhir tanggal 31 Desemeber 2016 dan 2015 masing-masing
sebesar Rp520.905.000.000 dan Rp18.885.000.000.
b. Penyisihan penurunan nilai pasar dan keusangan persediaan
Penyisihan penurunan niai pasar dan persediaan ini dijelaskan Pokphan
dalam catatan atas laporan posisi keuangan. Penyisihan ini diestimasi berdasarkan
fakta dan situasi yang sebenarnya dan akan dievaluasi serta disesuaikan jika
terdapat informasi yang mempengaruhi jumlah yang diestimasi. Penyisishan ini
langsung dikurangkan dengan persediaan jadi persediaan yang ditampilkan dalam
laporan keuangan merupakan persediaan bersih. Pokphand mengestimasi

8
penyisihan penurunan nilai nilai pasar dan keusangan persediaan pada tahun 2016
sebesar Rp5.318.000.000.

c. Deplesi dan Cadangan Kematian Ayam Pembibit Turunan


Deplesi dihitung dengan menggunakan metode saldo menurun
berdasarkan taksiran umur produktif ayam telah menghasilkan sejak awal masa
produksi dengan memperhitungkan nilai sisa. Cadangan kematian diestimasi
berdasarkan data kematian sebelumnya, serta usia ayam. Besarnya estimasi
deplesi dan cadangan kematian ayam pembibitan turunan pada tanggal 31
Desemeber 2016 sebesar Rp58.228.000.000.
d. Cadangan atas Penurunan Nilai Piutang Usaha
Cadangan atas Penurunan Nilai Piutang Usaha ini dijelaskan dalam catatan
atas laporan keuangan Pokphand. Cadangan ini dinilai memiliki pengaruh
signifikan terhadap penurunan piutang usaha. Estimasi yang digunakan Pokphan
dalam menilai cadangan ini berdasarkan pengalaman kerugian historis bagi
piutang usaha dengan karakteristik risiko kredit yang serupa. Nilai cadangan atas
penurunan nilai piutang usaha pada tanggal 31 Desember 2016 sebesar
Rp15.041.000.000.
e. Keputusan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (“KPPU”)
Dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan Pokphand, KPPU menilai
perusahaan dan 11 perusahaaan lainnya melakukan monopoli untuk meningkatkan
harga DOC. Sehingga Pokphand diharuskan membayar denda sebesar
Rp25.000.000.000, namun kasus ini belum terselesaikan.
Analisis Komitmen
Pokphand memiliki beberapa perjanjian dan komitmen yang dipaparkan
dalam catatan atas laporan keuangan antara lain :

a. Kontrak Berjangka Komoditas (KBK)


KBK ini akan digunakan sebagai lindung nilai atas bahan baku namun
tidak memenuhi persyaratan. Keuntungan pada tahun 2016 yang belum ditutup
berdasarkan nilai pasar sebesar Rp 551.000.000 dan disajikan pada akun “Piutang
Lainlain-Pihak Ketiga”.
b. Perjanjian Lisensi
 Charoen Pokphand International Group of Companies Ltd., Republic of
Seychelles

9
Pada tanggal 3 Agustus 2009 dilakukan perjanjian ini oleh entitas anak, dan
berjangka waktu selama lima tahun dan dapat diperpanjang. Tahun 2016, royalti
yang dibebankan pada usaha berjumlah Rp356.963 dan utang royati yang masih
harus dibayar sebesar Rp240.010.
 Cobb-Vantress Incorporated, AS
Pada tanggal 30 Juni 2013, entitas anak menandatangani perjanjian lisensi ini
denganjangka waktu 5 tahun hingga 1 Januari 2018. Namun pada tahun 2016
Pada tahun 2016, tidak melakukan pembelian Great Grand Parent dengan COBB.
c. Perjanjian Fasilitas Pinjaman
Pada tanggal 26 Januari 2015 Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman
dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan jumlah maksimal sebesar
AS$20.000.000 namun diperpanjang hingga tanggal 26 Januari 2017 dengan
syarat tertentu.
d. Perjanjian Kerjasama Kemitraan
Perjanjian kerjasama ini berlaku sejak tanggal ditanda-tanganinya surat
perjanjian dan berlaku selama 6 (enam) periode atau siklus pemeliharaan ayam,
dan dapat diperpanjang kembali sesuai kesepakatan antara Inti dan anggota mitra.
Pembayaran apabila anggota mitra menjual ayam kepada Inti, diperhitungkan
langsung dari harga ayam dan kelebihannya, apabila ada, akan dibayar/diserahkan
oleh Inti kepada anggota mitra.
e. Pengembangan Fasilitas Peternak
Perjanjian ini untuk CSR, Pokphand memberikan pinjaman dana untuk
pengembangan dan modernisasi kadang ayam milik Peternak. Perjanjian ini
berlaku untuk jangka waktu dua puluh tahun dan dapat diperpanjang kembali.
Besarnya saldo perjanjian terdapat dalam piutang laing-lain.

2.2.5 Pendanaan di luar usaha


Berdasarkan pada laporan keuangan tahunan tahun 2016 PT Charoen Pokphand
tidak memiliki entitas bertujuan khusus.

2.2.6 Ekuitas Pemegang Saham dan Analisis Ekuitas Pemegang Saham


Ekuitas Pemegang Saham

10
Mengacu pada pendanaan oleh pemilik (pemegang saham) perusahaan.
Klaim pemegang sekuritas ekuitas umumnya berada dibawah kreditor, yang
berarti klaim kreditor dipenuhi terlebih dahulu. Pemegang saham dihadapkan pada
resiko tinggi perusahaan. Pada saat yang sama, pemegang saham memiliki
kemungkinan pengembalian maksimum karena ketika mereka berhak atas seluruh
pengembalian setelah hak kreditor terpenuhi.
Analisis Ekuitas Pemegang Saham
Berdasarkan potongan laporan posisi keuangan bagian ekuitas PT Charoen
Pokphand menunjukkan komposisi ekuitas perusahaan. Pokphand hanya memiiki
saham biasa dengan nilai nominal Rp 10 sedangkan saat ini jumlah saham yang
beredar sebanyak 16.398.000.000 yang dimiliki oleh perusahaa holding dan
masyarakat (NCI) sedangkan karyaawan tidak memiliki kepemilikan atas saham
perusahaan. Total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
meningkat sebesar Rp1,60 triliun dari Rp12,54 triliun di 2015 menjadi Rp14,14
triliun. Dari total ekuitas tersebut milik perusahaan induk sebesar Rp
14.137.991.000.000 sedangkan Rp 19.252.000.000 milik pemegang saham yang
dibawah 50% atau NCI. Sebagai tambahan pada tahun 2016 tidak ada aktivitas
merger.

Sumber: laporan keuangan tahunan tahun 2016 PT Charoen Pokphand Tbk

11
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk merupakan industri yang bergerak


dibidang peternakan. Pokphand memiliki produk mulai dari pakan ternak,
pembibitan hingga pengolahan daging ayam dan sapi. Dalam menjalankan
aktivitas bisnisnya Pokphand medapatkan dana dari pinjaman ke pihak lain dan
dari kepemilikan saham, baik saham sendiri atau saham dari entitas anaknya.
Aktivitas pendanaan ini meliputi kewajiban, sewa, imbalan kerja, kontinjensi dan
komitmen, pendanaan diluar usaha, serta ekuitas pemegang saham.

Berdasarkan pada rasio likuiditas dan solvabilitas pada tahun 2016


Pokphand mampu menjamin liabilitas lancar maupun jangka panjang dengan baik.
Sewa yang tercatat sebagai bagian dari aset didalam laporan posisi keuangan
merupakan sewa operasi sehingga tidak akan mempengarhi liabilitas perusahaan.
Pokphand mencatat imbaan pasca kerja menjadi dua yaitu liabilitas imbalan pasca
kerja jangka pendek dan jangka panjang pembedaan ini berdasarkan kemungkinan
diakui dari liabiitas tersebut. Sedangkan kontinjensi dan komitmen Pokphand
memiliki mencadangkan penyisihan untuk kematian aset biologisnya karena aset
biologis ini memiliki risiko yang tinggi. Namun, meskipun Pokphand memiliki
aset biologis tetapi belum menerapkan PSAK 69 karena masih dalam tahap
penelaahan. Tetapi Pokphand telah mengakui aset biologis tersebut di dalam
laporan keuangannya. Pokphand tidak memiliki pendanaan diluar usaha. Untuk
ekuitas sendiri Pokphand memiliki 16.398.000.000 saham yang beredar yang
dimiliki oleh perusahaan holding dan masyarakat (NCI- Non Controlling Interest).

12
REFERENSI

Biantara, Anak Agung Adi. 2012. Analisis Aktivitas Pendanaan.


http://analisislaporankeuanganajung25.blogspot.co.id/2012/10/analisis-aktivitas-
pendanaan.html (diunduh tanggal 25 Oktober 2017)

Hasibuan, Ahmad Husein. 2015. Analisis Aktivitas Pendanaan.


https://ahmadhuseinkonsepdanpengenalanpadalaporankeuangan.wordpress.com/2
015/03/15/analisis-aktivitas-pendanaan/ (diunduh pada tanggal 25 Oktober 2017)

Subramanyam, K.R dkk. 2010. Analisis Laporan Keuangan . Salemba Empat

Sutanto, Prilly Viliariezta. Analisis Laporan Keuangan.


https://dokumen.tips/documents/analisis-aktivitas-pendanaan-
55b08358837aa.html (diunduh tanggal 25 Oktober 2017)

___. 2017. Laporan Tahunan 2016 PT Charoen Pokphand.


http://annualreport.id/annualreport/pt-charoen-pokphand-indonesia,-tbk-laporan-
tahunan-2016 (diunduh tanggal 25 Oktober 2017)

13