Anda di halaman 1dari 15

1.

Pengertian
Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan
“pancung”. Amputasi juga dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian
tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan
yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang
terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan
menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan
keselamatan tubuh pasien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti
dapat menimbulkan komplikasi infeksi.
Trauma amputasi adalah hilangnya bagian tubuh biasanya jari, jari kaki,
lengan, atau kaki yang terjadi sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma. Sebuah
amputasi traumatik dapat melibatkan bagian tubuh, termasuk lengan, tangan, jari
tangan, kaki, jari kaki, telinga, hidung, kelopak mata dan alat kelamin. Anggota
tubuh bagian atas termasuk jari-jari (falang), tangan (metakarpal), pergelangan
tangan (carpals), lengan (radius/ulna), lengan atas (humerus), tulang belikat
(tulang belikat) dan tulang kerah (klavikula). Amputasi ekstremitas lebih dari 65%
dari traumatik amputasi, sementara orang yang dapat terlibat dalam amputasi
korban kebanyakan antara usia 15 dan sebagian besar korban 80% adalah laki-
laki.

2. Etiologi
Penyebab utama amputasi ekstremitas atas adalah trauma berat (cedera
akut, luka bakar listrik, luka bakar dingin), tumor ganas, infeksi gas ganggren
fulminal, osteomielitis kronis dan malforasi kongenital. (Smeltzer, 2002: 2387).
Trauma amputasi biasanya hasil langsung dari pabrik, peternakan, atau
kecelakaan perkakas listrik atau dari kecelakaan kendaraan bermotor. Bencana
alam, perang, dan serangan teroris juga bisa menyebabkan amputasi traumatik.
Trauma adalah penyebab paling sering dari suatu amputasi, cedera terkait
pekerjaan, aktivitas di alam bebas, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kendaraan
bermotor dan cedera terkait pekerjaan. Terdapat suatu insiden yang lebih besar
dari hilangnya ekstermitas bawah, meliputi hampir 10% tindakan amputasi,
terutama pada kecelakaan kerja.

1 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


3. Patofisiologi

Terjadinya amputasi (kehilangan bagian tubuh) pada seseorang dapat


disebabkan karena berbagai faktor antara lain penyakit vaskuler perifer yaitu
penyakit pada pembuluh darah, trauma disebabkan kerena kecelakaan, tumor
ganas seperti osteosarkoma (tumor tulang) serta congenital (bawaan sejak lahir).
Amputasi sendiri bisa diartikan sebagai diskontinuitas jaringan tulang dan otot
yang dapat mengakibatkan terputusnya pembuluh darah dan syaraf serta
kehilangan bagian tubuh, dimana pada terputusnya pembuluh darah dan syaraf ini
akan menimbulkan rasa nyeri yang sering kali berdampak pada resiko terjadinya
infeksi pada luka yang ada dan gangguan mobilitas fisik yang dapat menimbulkan
resiko kontraktur fleksi pinggul. Selain disebabkan oleh nyeri, gangguan mobilitas
fisik juga bisa disebabkan oleh kehilangannya bagian tubuh terutama pada
ekstremitas bawah. Kehilangan bagian tubuh juga dapat menimbulkan stress
emosional dikarenakan gangguan psikologis yang disebabkan oleh adanya
perubahan dari struktur tubuh yang berdampak pada timbulnya gangguan citra diri
dan penurunan intake oral. Pada penurunan intaka oral ini biasanya akan
menimbulkan resiko kurangnya pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh
dan akan terjadi kelemahan fisik serta resiko penyembuhan luka yang lambat.

4. Pathway

2 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


5. Klasifikasi
Jenis amputasi secara umum dibedakan menjadi:
a. Amputasi Terbuka
Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi yang berat dimana pemotongan
pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Yang memerlukan tekhnik
aseptik ketat dan revisi lanjut.
b. Amputasi Tertutup
Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana
dibuat skait kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang
lebih 5 m di bawah potongan otot dan tulang.
Berdasarkan pelaksanaannya, amputasi dibedakan menjadi:
a. Amputasi Selektif/ Terencana
Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat
penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi
dilakukan sebagai salah satu tindakan alternative terakhir.
b. Amputasi Akibat Trauma
Amputasi akibat trauma merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat
trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki
kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum pasien.
c. Amputasi Darurat
Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya
merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma
dengan patah tulang multipel dan kerusakan/ kehilangan kulit yang luas

6. Penatalaksanaan Amputasi
a. Tingkat Amputasi
Amputasi dilakukan pada titik paling distal yang masih dapat mencapai
penyembuhan dengan baik. Tempat amputasi ditentukan berdasarkan dua
faktor yaitu peredaran darah pada bagian itu dan kegunaan fungsional. Tujuan
pembedahan adalah mempertahankan sebanyak mungkin panjang ekstremitas
konsisten dengan pembasmian proses penyakit. Mempertahankan lutut dan

3 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


siku adalah pilihan yang diinginkan. Hampir pada semua tingkat amputasi
dapat dipasangi protesis.
b. Sisa Tungkai
 Tujuan bedah utama adalah mencapai penyembuhan luka amputasi,
menghasilkan sisa tungkai yang tidak nyeri tekan, dengan kulit yang sehat
untuk penggunaan protesis.
 Balutan rigid tertutup. Balutan rigid tertutup sering digunakan untuk
mendapatkan kompresi yang merata, menyangga jaringan lunak, mengontrol
nyeri, dan mencegah kontraktur.
 Balutan lunak. Balutan lunak dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan
bila diperlukan inspeksi berkala puntung sesuai kebutuhan. Bidai imobilisasi
dapat dibalutkan dengan balutan. Hematoma (luka) puntung dikontrol dengan
alat drainase luka untuk meminimalkan infeksi.
c. Amputasi bertahap. Amputasi bertahap bisa dilakukan bila ada gangren atau
infeksi

7. Komplikasi
Komplikasi amputasi meliputi perdarahan, infeksi dan kerusakan kulit.
Karena adanya pembuluh darah yang besar yang dipotong, dapat terjadi
perdarahan massif. Infeksi merupakan infeksi pada semua pembedahan, dengan
peredaran darah buruk atau terkontaminasi luka setelah amputasi traumatika,
dimana risiko infeksi meningkat. Penyembuhan luka yang buruk dan iritasi akibat
prostetis dapat menyebabkan kerusakan kulit ( Suzane & Brenda, 2001).
Kejadian klinis umum sering menjadi sumber ketidak nyamanan untuk
kebanyakan pasien adalah sensasi fantom limb. Rasional untuk fenomena ini tidak
jelas tetapi diyakini berhubungan dengan inflamasi potongan ujung saraf.
Meskipun jarang, sensasi fantom limb dapat menjadi kronis, masalah berat yang
memerlukan intervensi lebih agresif seperti blok saraf, psikoterapi, terapi obat,
stimulasi saraf listrik atau eksisi neuroma (Engram, 2000).

4 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


8. Indikasi
Adapun indikasi amputasi yaitu penyakit vascular perifer yang tidak
dapat direkonstruksi dengan nyeri iskemik atau infeksi yang tidak dapat
ditoleransi lagi, nyeri atau infeksi yang tidak dapat di toleransi lagi dalam pasien
yang tidak dapat bergerak dengan penyakit vaskuler perifer, infeksi yang
menyebar secara luas dan tidak responsive terdapat terapi konservatif, tumor yang
responsnya buruk terhadap terapi nonoperatif, trauma yang cukup luas sehingga
tidak memungkinkan untuk direparasi.

9. Komplikasi
Komplikasi amputasi meliputi perdarahan, infeksi, dan kerusakan kulit.
Karena ada pembuluh darah besar yang dipotong, dapat terjadi perdarahan masif.
Infeksi merupakan infeksi pada semua pembedahan. Dengan peredaran darah
yang buruk atau kontaminasi luka setelah amputasi traumatika, risiko infeksi
meningkat. Penyembuhan luka yang buruk dan iritasi akibat prostesis dapat
menyebabkan kerusakan kulit. (Smeltzer, 2002:2389)

10. Pemeriksaan Diagnostik


a. Foto Rontgen (untuk mengidentifikasi abnormalitas tulang)
b. CT scan (mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomfelitis, pembentukan
hematoma)
c. Angiografi dan pemeriksaan aliran darah (mengevaluasi perubahan
sirkulasi/perfusi jaringan dan membantu memperkirakan potensial
penyembuhan jaringan setelah amputasi
d. Kultur Luka (mengidentifikasi adanya infeksi dan organisme penyebab)
e. Biopsy (mengkonfirmasi diagnosa benigna/maligna)
f. Led (mengidentifikasi respon inflamasi)
g. Hitung darah lengkap/deferensial

5 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


11. Dampak Masalah Terhadap Sistem Tubuh
Adapun pengaruhnya meliputi:
a. Kecepatan metabolisme
Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan
penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah
sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal.
b. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar
dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini
menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar ke ruang interstitial pada
bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas
menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan
yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk
menghambat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan diuresis.
c. Sistem respirasi
1) Penurunan kapasitas paru
Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot
intercosta relatif kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi
maksimal dan ekspirasi paksa.
2) Perubahan perfusi setempat
Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio
ventilasi dengan perfusi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi
peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia.
3) Mekanisme batuk tidak efektif
Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan
sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan
mengganggu gerakan siliaris normal.
d. Sistem kardiovaskuler
1) Peningkatan denyut nadi
Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan
mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada
pasien dengan immobilisasi.

6 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


2) Penurunan cardiac reserve
Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini
mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi
sekuncup.
3) Hipotensi
Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior
dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari
pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah,
volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat
diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah
menurun, akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat
juga merasakan pingsan.
e. Sistem muskuloskeletal
1) Penurunan kekuatan otot
Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan
suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan
pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan
otot.
2) Atropi otot
Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan
fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.
3) Kontraktur sendi
Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya
keterbatasan gerak.
4) Osteoporosis
Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan
organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi
keropos.

7 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


f. Sistem pencernaan
1) Anoreksia
Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi
kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan
kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.
2) Konstipasi
Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat peristaltik usus dan
spincter anus menjadi konstriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam
colon, menjadikan feces lebih keras dan orang sulit buang air besar.
g. Sistem perkemihan
Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing
berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya
gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan:
Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal,
tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman
dan dapat menyebabkan ISK (Infeksi Saluran Kemih).
h. Sistem integumen
Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan
bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah
dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hyperemis
dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk
meningkatkan suplai darah.

12. Penatalaksanaan Dini


Tujuan bedah utama adalah mencapai penyembuhan luka amputasi,
menghasilkan sisa amputasi (puntung) yang tidak nyeri tekan dengan kulit yang
sehat untuk penggunaan prostesis. Penyembuhan dipercepat dengan penanganan
lembut terhadap sisa amputasi, pengontrolan edema, dengan balutan kompres
lunak atau rigit dan menggunakan teknik aseptik dalam perawatan luka untuk
meghindari infeksi.

8 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


a. Balutan rigit tertutup, ini sering digunakan untuk mendapat kompresi yang
merata, menyangga jaringan lunak dan mengontrol nyeri dan mencegah
kontraktur.
b. Balutan lunak, dengan atau tanpa kompresi dapat digunakan bila diperlukan
inspeksi berkala sesuai kebutuhan. Bidai imobilisasi dapat dibalutkan dengan
balutan. Hematoma (luka) puntung dikontrol dengan alat drainase luka untuk
meminimalkan infeksi. (Smeltzer, 2002:2388-2389)

9 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Primary Survey
Tujuan dari Primary survey adalah untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki dengan segera masalah yang mengancam kehidupan. Prioritas yang
dilakukan pada primary survey antara lain (Fulde, 2009) :
 Airway maintenance dengan cervical spine protection
 Breathing dan oxygenation
 Circulation dan kontrol perdarahan eksternal
 Disability-pemeriksaan neurologis singkat
 Exposure dengan kontrol lingkungan
Sangat penting untuk ditekankan pada waktu melakukan primary survey
bahwa setiap langkah harus dilakukan dalam urutan yang benar dan langkah
berikutnya hanya dilakukan jika langkah sebelumnya telah sepenuhnya dinilai dan
berhasil. Setiap anggota tim dapat melaksanakan tugas sesuai urutan sebagai
sebuah tim dan anggota yang telah dialokasikan peran tertentu seperti airway,
circulation, dll, sehingga akan sepenuhnya menyadari mengenai pembagian waktu
dalam keterlibatan mereka (American College of Surgeons, 1997). Primary survey
perlu terus dilakukan berulang-ulang pada seluruh tahapan awal manajemen.
Kunci untuk perawatan trauma yang baik adalah penilaian yang terarah, kemudian
diikuti oleh pemberian intervensi yang tepat dan sesuai serta pengkajian ulang
melalui pendekatan AIR (assessment, intervention, reassessment).
2. Secondary Assessment
Survey sekunder merupakan pemeriksaan secara lengkap yang dilakukan
secara head to toe, dari depan hingga belakang. Secondary survey hanya
dilakukan setelah kondisi pasien mulai stabil, dalam artian tidak mengalami syok
atau tanda-tanda syok telah mulai membaik.
Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa didapat dari
pasien dan keluarga (Emergency Nursing Association, 2007):
A: Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester, makanan)

10 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


M: Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti sedang menjalani
pengobatan hipertensi, kencing manis, jantung, dosis, atau penyalahgunaan
obat
P: Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit yang pernah
diderita, obatnya apa, berapa dosisnya, penggunaan obat-obatan herbal)
L: Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi, dikonsumsi berapa
jam sebelum kejadian, selain itu juga periode menstruasi termasuk dalam
komponen ini)
E: Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera (kejadian yang
menyebabkan adanya keluhan utama)
3. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan tergantung pada kondisi dasar perlunya amputasi dan
digunakan untuk menentukan tingkat yang tepat untuk amputasi.
Foto rontgen: Mengidentifikasi abnormalitas tulang
Skan CT: Mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomielitis, pembentukan
hematoma
Angiografi dan pemeriksaan aliran darah: Mengevaluasi perubahan
sirkulasi/perfusi jaringan dan membantu memperkirakan potensial
penyembuhan jaringan setelah amputasi.
Ultrasound Doppler, flowmetri dopller laser: Dilakukan untuk mengkaji dan
mengukur aliran darah
Tekanan O2 transkutaneus: Memberi peta area perfusi paling besar dan paling
kecil dalam keterlibatan ekstremitas
Termografi: Mengukur perbedaan suhu pada tungkai iskemik pada dua sisi,
dari jaringan kutaneus ke tengah tulang. Perbedaan yang rendah antara dua
pembacaan, makin besar kesempatan untuk sembuh.
Pletismografi: Mengukur TD segmental bahwa terhadap ekstremitas bawah
mengevaluasi aliran darah arterial.
LED: Peninggian mengidentifikasi respon inflamasi.
Kultur luka: Mengidentifikasi adanya infeksi dan organisme penyebab
Biopsi: Mengkonfirmasi diagnosa massa benigna/maligna

11 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


Hitung darah lengkap/diferensial: Peninggian dan “perpindahan ke kiri” di
duga proses infeksi.
Smeltzer dan Bare (2000:2390) menguraikan rangkaian sebelum pembedahan,
status neurovaskuler, fungsional ekstremitas harus dievaluasi melalui riwayat
dan pengkajian fisik.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan menurut yang mungkin muncul pada klien
amputasi sebagai berikut:
a. Gangguan citra diri berhubungan dengan faktor biopsiko atau kehilangan
bagian tubuh
b. Nyeri berhubungan dengan cidera fisik/jaringan dan trauma syaraf. Dampak
psikologis dari kehilangan bagian tubuh
c. Perfusi jaringan, perubuhan perifer berhubungan dengan penurunan aliran
darah, edema jaringan
d. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan primer (kulit robek, jaringan traumatik) prosedur invasif, terpajan
pada lingkungan
e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan tungkai, gangguan
perseptual
f. Kurang pengetahuan belajar tentang kondisi prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang perpajan/mengingat

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Rencana keperawatan yang dijumpai pada klien dengan amputasi antara
lain:
a. Gangguan citra diri berhubungan dengan faktor biopsiko atau kehilangan
bagian tubuh
Tujuan/kriteria hasil:
Klien menunjukkan adaptasi dan menyatakan penerimaan pada situasi diri
(amputasi)

Intervensi:
1) Kaji/pertimbangan persiapan klien dan pandangan terhadap amputasi
Rasional: Memandang amputasi sebagai rekonstruksi akan menerima diri yang
baru.
2) Dorong ekspresi ketakutan perasaan negatif, dan kehilangan bagian tubuh.

12 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


Rasional: Ekspresi emosi membantu klien menerima kenyataan dan realita
hidup tanpa tungkai
3) Kaji derajat dukungan untuk klien
Rasional: Dukungan yang cukup dari orang terdekat membantu proses
ketakutan
4) Dorongan dalam aktivitas sehari-hari, beri kesempatan untuk
memandang/merawat puntung menggunakan waktu untuk menunjukkan tanda
positif kesembuhan
Rasional: Meningkatkan kemandirian, meningkatkan perasaan harga diri,
membantu dalam pemecahan masalah.
b. Nyeri berhubungan dengan cidera fisik/jaringan dan trauma syaraf. Dampak
psikologis dari kehilangan bagian tubuh.
Tujuan/kriteria hasil:
Klien menyatakan nyeri hilang/terkontrol.
Klien tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat dan menyatakan
pemahaman nyeri fantom dan metode untuk menghilangkannya.
Intervensi:
1) Catat lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10) selidiki perubahan karakteristik
nyeri.
Rasional: Membantu dalam evaluasi dan keefektifan intervensi
2) Terima kenyataan sensasi fantom tungkai yang biasanya hilang dengan
sendirinya dan banyak alat akan dicobakan untuk menghilangkan nyeri.
Rasional: Mengetahui tentang sensasi ini memungkinkan klien memahami
fenomena normal yang terjadi segera atau beberapa minggu pasca operasi.
3) Berikan pijatan lembut pada puntung sesuai toleransi bila balutan telah lepas.
Rasional: Meningkatkan sirkulasi, menurunkan tegangan otot
4) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, analgesik, relaksan otot
Rasional: Menurunkan nyeri/spasme otot.
c. Perfusi jaringan, perubahan perifer berhubungan dengan penurunan aliran
darah, edema jaringan
Tujuan/kriteria hasil:
Mempertahankan perfusi jaringan adekuat dibuktikan dengan nadi perifer
teraba, kulit hangat/kering, penyembuhan luka tepat waktu.
Intervensi:
1) Awasi tanda-tanda vital, palpasi nadi perifer, perhatikan kekuatan dan
kesamaan
Rasional: Indikator umum status sirkulasi dan keadekuatan perfusi
2) Inspeksi alat balutan/draine, perhatikan jumlah dan karakteristik balutan
Rasional: Kehilangan darah mengindikasikan kebutuhan untuk cairan, dan
evaluasi gangguan koagulasi.

13 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


3) Berikan tekanan langsung pada sisi pendarahan, bila terjadi pendarahan
hubungi dokter segera
Rasional: Tekanan langsung dengan balutan untuk mengamankan pendarahan
4) Kolaborasi berikan cairan IV/produksi darah sesuai indikasi
Rasional: Mempertahankan volume sirkulasi untuk memaksimalkan pefusi
jaringan
d. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
Tujuan/kriteria:
Klien mencapai penyembuhan tepat pada waktunya, bebas draine purulen, atau
eritema, dan tidak demam.
Intervensi:
1) Pertahankan tekhnik antiseptik bila merawat luka/ganti balutan
Rasional: Meminimalkan introduksi bakteri
2) Inspeksi puntung yang tepat, mencegah komplikasi
Rasional: Deteksi dini terjadinya infeksi, memberikan kesempatan untuk
intervensi yang tepat, mencegah komplikasi
3) Buka puntung terhadap udara, pencucian dengan sabun ringan dan air setelah
balutan konraindikasi
Rasional: Mempertahankan kebersihan, meningkatkan penyembuhan kulit
yang lunak
4) Awasi tanda vital
Rasional: Peningkatan suhu dapat menunjukkan adanya sepsis
e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan tungkai, gangguan
perseptual
Tujuan/kriteria:
Klien menyatakan situasi individu/pemahaman tindakan keamanan klien
menunjukkan partisipasi dalam aktivitas mempertahankan posisi fungsi
Intervensi:
1) Berikan perawatan puntung secara teratur
Rasional: Memberikan kesempatan untuk mengevaluasi penyembuhan dan
komplikasi
2) Bantu latihan tentang gerak khusus untuk area sakit dan yang tak sakit
Rasional: Untuk mencegah kontraktur, perubahan bentuk
3) Instruksi klien untuk berbaring tengkurap sesuai toleransi dengan bantal di
bawah abdomen dan puntung ekstremitas bawah
Rasional: Menguatkan otot untuk mencegah kontraktur fleksi pinggul
4) Tunjukkan/bantu tekhnik pemindahan dan penggunaan alat mobilitas
Rasional: Membantu perawatan diri dan kemandirian klien
f. Kurang pengetahuan/kebutuhan belajar tentang kondisi prognosis, dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat
Tujuan/kriteria:

14 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian


Klien mengatakan memahami kondisi/proses penyakit dan pengobatan. Klien
melakukan perubahan pada pola hidup dan berpartisipasi dalam program
pengobatan.
Intervensi:
1) Kaji ulang proses penyakit, prosedur bedah dan harapan yang akan datang
Rasional: Memberikan dasar pengetahuan dimana klien dapat membuat pilihan
berdasarkan informasi
2) Instruksikan perawatan puntung/luka pada klien
Rasional: Meningkatkan perawatan diri kompeten
3) Identifikasi tekhnik untuk mengatasi nyeri fantom
Rasional: Menurunkan tekanan otot dan meningkatkan kontrol kemampuan
koping.

15 Laporan Pendahuluan Traumatik Amputasi by Muhammad Alfian