Anda di halaman 1dari 12

PAPER

PENGERTIAN PARIWISATA INTERNASIONAL, WISATAWAN


INTERNASIONAL, ELEMEN DAN NILAI-NILAI PARIWISATA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pariwisata Internasional


Dosen Pengampu:
Edriana Pangestuti, SE., M.Si., DBA.

Disusun Oleh:
Frishanty Yuan Paramita 176030200111001
Rahma Aprilia Kumaji 176030200111022

PROGRAM MAGISTER ADMINISTRASI BISNIS


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
PENGERTIAN PARIWISATA INTERNASIONAL, WISATAWAN
INTERNASIONAL, ELEMEN DAN NILAI-NILAI PARIWISATA

Pengertian Pariwisata Internasional

Pariwisata berdasarkan beberapa konsep-konsep seperti Robert Christie


Mill dan Alastair M. Morrison (1992) dalam buku The Tourism System: An
Introductory Text, mengatakan : “ From an image viewpoint is presently thought of
in ambigious terms. No definitions of tourism are very universally accepted. There
is a link between tourism, travel, recreation, and leisure, yet the link fuzzy. If tourism
involves travel, yet not all travel is tourism. All tourism involves recreations, yet not
all recreation is tourism. All tourism occurs during leisure time, but not all leisure
time is given to tourist pursuit. The definition of tourism as an industry with clearly
defined limits would aid both those within and outside of tourism in getting a clear
picture of what tourism is all about. With a clear image would come better
understanding “.
Spillane (1991) menyebutkan suatu perjalanan dapat dikatakan sebagai
perjalanan wisata setidaknya memenuhi 3 kriteria :
1. Harus bersifat sementara
2. Harus bersifat sukarela, dalam arti tidak dipaksa
3. Tidak bekerja, dalam hal ini menghasilkan upah atau bayaran
Sementara Mill dan Morrison (1992) mengungkap ada batasan ataupun kriteria
yang mana perjalanan disebut pariwisata jika memenuhi kriteria dibawah ini:
1. Perjalanan dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, perjalanan
dilakukandiluar tempat kediaman dari mana wisatawan itu tinggal.
2. Perjalanan dilakukan minimal 24 jam kecuali excursionist atau
darmawisata yang kurang dari 24 jam.
3. Tujuan perjalanan semata-mata hanya untuk pleasure atau bersenang-
senang tanpa mencari nafkah di destinasi wisata yang dikunjungi.
4. Uang yang dibelanjakan wisatawan berasal dari negaranya atau uangnya
sendiri dan bukan yang didapat ketika melakukan perjalanan wisata.
Professor Hunziker dan Prof. Kraff dari Swiss dalam Pendit (1999) telah mencoba
memberikan batasan yang tegas dan sama pada pengertian pariwisata dengan
memasukkan berbagai macam aspek berikut implikasinya sebagai berikut :
Tourism is the total relationship and phenomena linked with the stay of a
foreigner at a locality, provided that they do not settle there to exercise a
major, permanent or temporary remunerated activity.

Bisa dikatakan bahwa seseorang melakukan perjalanan wisata adalah untuk


memuaskan hasrat ingin tahu terhadap suatu tempat atau budaya atau kultur,
mengurangi ketegangan pikiran, beristirahat, dan mengembalikan kesegaran
pikiran dan jasmaninya dimana tempat yang dimaksud adalah tempat dan
lingkungan yang berbeda dari lingkungan sehari-harinya.

Pengertian Wisatawan Mancanegara/Internasional

Kata wisatawan berasal dari bahasa Sansekerta, dari asal kata “ wisata”
yang berarti perjalanan ditambah dengan akhiran “wan” yang berarti orang yang
melakukan perjalanan wisata. Dalam bahasa Inggris, orang yang melakukan
perjalanan disebut traveller. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan untuk
tujuan wisata disebut Tourist.
Definisi mengenai tourist, diantara berbagai ahli atau Badan Internasional,
masih belum ada keseragaman pengertian. Perbedaan pengertian atau batasan
di sebabkan karena perbedaan latar belakang pendidikan atau keahlian,
perbedaan kepentingan dan perbedaan pandangan dari para ahli atau badan
tersebut. Baik mengenai batasan wisatawan internasional maupun wisatawan
domestik.
Konsep mengenai Wisatawan Internasional, yang dikemukakan Norval,
seorang ahli ekonomi Inggris yang dikutip oleh Spillane (1991), memberi batasan
mengenai wisatawan internasional sebagai berikut :
“Every person who comes to a foreign country for a reason than to establish
his permanent residence or such permanent work and who spends in the
country of his temporary stay, the money he has earned else where”.

Pada tahun 1937 , Komisi Ekonomi Liga Bangsa- Bangsa ( Economis Commission
of The league of Nations), pertama kali memberikan batasan pengertian mengenai
international tourist pada forum international . Rumusan tersebut adalah sebagai
berikut :
“The term tourist shall , in principle, be interpreted to mean any person
travelling for a period of 24-hours or more in a country other than in which
he usually resides”.

Hal pokok yang penting dari batasan Liga Bangsa-Bangsa tersebut yang perlu
dicatat adalah :
a) Perjalanan dari satu negara ke negara lain
b) Lama perjalanan sekurang-kurangnya 24 jam
Untuk selanjutnya PBB, menyempurnakan batasan pengertian tersebut, dengan
mengelompokkan orang –orang yang dapat disebut sebagai wisatawan dan bukan
wisatawan.
Yang termasuk wisatawan adalah :
a) Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan bersenang-senang,
mengunjungi keluarga, dll.
b) Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan pertemuan –
pertemuan atau karena tugas tertentu , seperti dalam ilmu pengetahuan,
tugas negara, diplomasi, agama , olah raga dll.
c) Mereka yang mengadakan perjalanan untuk tujuan usaha.Mereka yang
melakukan kunjungan mengikuti perjalanan kapal laut, walaupun tinggal
kurang dari 24 jam.
Yang dianggap sebagai bukan wisatawan :
a) Mereka yang berkunjung dengan tujuan untuk mencari pekerjaan atau
melakukan kegiatan usaha.
b) Mereka yang berkunjung ke suatu negara dengan tujuan utuk bertempat
tinggal tetap.
c) Penduduk di daerah tapal batas negara dan bekerja di negara yang
berdekatan.
d) Wisatawan yang hanya melewati suatu negara tanpa tinggal di negara
yang dilaluinya itu.
Batasan tersebut tidak dapat diterima oleh Komisi Statistik dan Komisi Fasilitas
Internasional Civil Aviation Organization, PBB. Komisi ini membuat rumusan baru.
Istilah Tourist diganti dengan Foreign Tourist, dan memasukkan kategori Visitor di
dalamnya. Dalam rumusan Komisi Statistik ini dicantumkan batas maksimal
kunjungan selama 6 bulan, sedangkan batas minimum 24 jam dikesampingkan.
Selanjutnya batasan yang semula berdasarkan kebangsaan (nationality), diganti
dengan berdasarkan tempat tinggal sehari –hari wisatawan. (Country of
Residence).
Menyadari ketidakseragaman pengertian tersebut Internasional Union of
Official Travel Organization ( IUOTO), sebagai badan organisasi pariwisata
internasional yang memiliki anggota lebih kurang 90 negara telah mengambil
inisiatif dan memutuskan batasan yang sifatnya seragam melalui PBB pada tahun
1963 di Roma.
Visitor adalah “ Any person travelling to country other than that of his usual place
of residence, for any reason other than the exercise of a remunerated activity”.
Batasan tersebut mencakup dua kategori pengertian Tourist dan Excursionists.
Wisatawan adalah pengunjung sementara, tinggal sekurag-kuragnya 24 jam di
negara yang dikunjungi dan motif perjalanannya adalah :
a) Kesenangan, liburan, kesehatan, belajar, keagamaan dan olah raga
b) Usaha, kunjungan keluarga, misi, pertemuan-pertemuan
Excursionists adalah pengunjung sementara, tinggal satu hari di negara yang
dikunjungi tanpa menginap, termasuk penumpang kapal pesiar.
Definisi wisatawan sebaiknya dapat diaplikasikan secara umum, baik
dalam konteks internasional dan domestik. Aktivitas wisatawan menurut Burkart
dan Medlik (1974, h.40) memiliki dua komponen, yaitu elemen dinamis
‘perjalanannya’ dan elemen statis ‘tinggalnya’. Sehingga dapat didefinisikan
bahwa aktivitas wisatawan meliputi tinggal jauh dari tempat yang biasanya paling
tidak selama satu malam. Kriteria ’menginap’ ini digunakan karena menginap
mempengaruhi psikologis partisipannya, perubahan rutinitas yang disebabkan
menginap mempengaruhi pola perilaku sehingga memberi karakteristik tersendiri
dalam pariwisata (Leiper, 1979, h.395).
Terdapat konsep lain yang menggambarkan wisatawan secara umum yaitu
aktivitas dalam penggunaan waktu dan sumber daya moneternya. Hal ini dapat
terlihat pada wisatawan yang berlibur dan wisatawan yang melakukan perjalanan
bisnis. Perjalanan bisnis seperti konferensi merupakan aktivitas di luar rutinitas
normal harian seorang pegawai, sehingga dapat pula digolongkan sebagai
wisatawan. Sedangkan perjalanan bisnis yang rutinitasnya di jalan seperti petugas
audit, dipandang sebagai aktivitas rutin sehingga tidak termasuk wisatawan.
Konsep berikutnya untuk mendefinisikan wisatawan adalah konsumen dari
sumber daya ekonomi dalam daerah yang mereka kunjungi (Leiper, 1979, h.395).
Wisatawan tidak melakukan perjalanan dengan tujuan utama untuk mendapat
remunerasi dari perjalanannya. Wisatawan bepergian dari daerah asalnya dan
tidak menghasilkan keuntungan ekonomi, namun memberi kontribusi pada daerah
yang dikunjungi. Kemudian konsep akhir untuk mendefiniskan wisatawan adalah
mereka melakukan tur. Perjalanan mereka seperti sirkuit, sehingga harus kembali
ke tempat asal. Wisatawan berangkat dari daerah asal mereka dalam waktu
sementara, sehingga berbeda dengan ekspatriat dan imigran yang berdomisili di
lokasi baru.
Berdasarkan beberapa konsep di atas dapat ditarik sebuah definisi bahwa
wisatawan adalah seseorang yang melakukan tur sementara waktu dari daerah
asal mereka yang meliputi paling tidak satu malam menginap, di mana tur yang
dilakukan tidak bertujuan untuk mendapat remunerasi.

Elemen dalam Pariwisata

Pariwisata didefinisikan dalam sebuah sistem yang terdiri dari beberapa


elemen (Gunn dalam Leiper, 1979, h. 395). Terdapat empat elemen yang
termasuk dalam pariwisata yaitu wisatawan (elemen manusia), elemen geografis,
komponen industri, dan berbagai interaksi dengan lingkungan yang lebih luas.
Elemen manusia atau wisatawan telah didefinisikan dalam sub-bab sebelumnya.
Berikutnya, yaitu elemen geografis, menurut Gunn pariwisata meliputi tiga elemen
geografis antara lain:
1. Tourist generating regions
Daerah pembangkit wisatawan dapat didefinisikan sebagai daerah
permanen asal wisatawan, tempat tur dimulai dan berakhir, dan terdapat
bagian dari daerah ini yang secara tidak langsung menjadi penyebab arus
keluar sementara.
2. Tourist destination regions
Daerah tujuan wisatawan dapat didefinisikan sebagai lokasi yang menarik
wisatawan untuk tinggal sementara. Hal yang menarik di sini merupakan
karakteristik yang diharapkan oleh wisatawan, seperti hal yang tidak ada di
daerah asal mereka, atau dapat disebut sebagai atraksi wisata.
3. Transit routes
Rute transit adalah jalan yang menghubungkan daerah pembangkit
wisatawan dengan daerah tujuan wisatawan dalam perjalanan wisatawan.
rute transit adalah lokasi dari transportasi yang merupakan komponen
utama dari industri pariwisata.
Elemen berikutnya adalah elemen industri yang dapat didefinisikan dengan
membaginya ke dalam enam sektor fungsional yaitu pemasaran, pengangkut,
akomodasi, atraksi, beragam jasa dan regulasi. Pemasaran pariwisata
merangsang dan memfasilitasi jaringan komunikasi antar beberapa elemen dalam
sistem pariwisata. Pemasaran dapat berbentuk agen perjalanan, penyedia tur,
travel writers dan penerbit literatur perjalanan, juga berbagai organisasi non-profit
yang menyediakan panduan dan informasi bagi wisatawan. Spesialis pemasaran
dalam pariwisata dapat merupakan seorang operator tur, pemandu, penerjemah,
petugas tourist information, dan lain sebagainya.
Pengangkut menyediakan transportasi publik dari dan menuju tujuan
wisatawan. contohnya seperti maskapai penerbangan, kereta api, bus, kapal, dan
apapun yang dipasarkan untuk wisatawawan. Akomodasi menyediakan tempat
tinggal sementara dan jasa-jasa yang berhubungan seperti makanan, umumnya
berlokasi di daerah tujuan namun juga terdapat di titik-titik perhentian pada rute
transit. Contoh akomodasi adalah hotel, motel, lahan berkemah, hostel, guest
house, dan sejenisnya. Atraksi adalah pemandangan, events, dan fasilitas lainnya
yang berorientasi untuk menjadi pengalaman baru bagi wisatawan. Atraksi
terdapat dalam berbagai bentuk baik yang alami maupun buatan, terkadang
fasilitas buatan ditambahkan pada atraksi yang alami.
Beragam jasa dalam pariwisata meluputi duty-free, souvenir, dan toko-toko
khusus wisatawan, asuransi perjalanan, restoran, taksi, dan lain sebagainya yang
dikhususkan untuk pasar wisatawan. Jasa-jasa di atas berlokasi di tiga elemen
geografi yang telah dibahas sebelumnya. Kemudian regulasi pariwisata
menyediakan mekanisme untuk membantu kelancaran operasi dalam industri,
yang juga secara khusus namun tidak langsung melayani wisatawan. Termasuk di
dalamnya adalah peranan pemerintah.
Elemen yang terakhir adalah berbagai interaksi dengan lingkungan yang
lebih luas. Industri pariwisata dapat dipandang sebagai rantai yang terhubung
sepanjang generating regions, transit routes, dan destinations. Bentuk
hubungannya beragam, termasuk hubungan informal di mana pelanggan
memperoleh layanan dari perusahaan independen dan fasilitas, serta hubungan
formal yang terjadi dalam perjanjian agen perjalanan maupun perjanjian antar
pemilik unit dari sektor yang berbeda. Contohnya, maskapai penerbangan
menambah jasa yang mereka tawarkan yaitu di sektor akomodasi seperti
pemesanan hotel, kemudian maskapai juga melakukan pemasaran melalui agen
perjalanan. Pemerintah juga perlu mengembangkan keterlibatannya dalam
industri pariwisata, contohnya dalam peranannya sebagai investor dalam
infrastruktur dan pengembangan lahan.

Nilai-Nilai dalam Pariwisata

Adanya berbagai batasan tentang wisatawan internasional dan


pemakaiannya yang tidak sistematik oleh berbagai negara, terutama untuk
keperluan statistik menimbulkan kesulitan serius. Harus ditentukan batasan arti
wisatawan mana yang dipakai sebagai dasar pembuatan angka statistik masing-
masing. Namun batasan mengenai pengertian-pengertian tersebut tidak
mengurangi nilai-nilai pariwisata. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, batasan
pariwisata merinci motif-motif yang mendorong seseorang untuk mengadakan
perjalanan wisata. Terutama dalam pariwisata internasional, motif-motif tersebut
sangat bervariasi dan mempunyai pengaruh yang menentukan pada daerah tujuan
wisata mana yang akan dikunjungi. Perbedaan motif-motif tersebut tercermin
dengan adanya berbagai jenis pariwisata. Karena suatu daerah maupun suatu
negara pada umumnya dapat menyajikan berbagai atraksi wisata, maka akan
sangat menarik untuk mempelajari dan mempersoalkan jenis pariwisata mana
yang sekiranya mempunyai kesempatan paling baik untuk dikembangkan di
daerah atau negara tersebut. Hal ini juga akan berpengaruh pada fasilitas yang
perlu dipersiapkan dalam pembangunan maupun dalam program-program
promosi dan periklanannya.
Penting untuk produk wisata seperti resort untuk memahami perilaku
perjalanan dan lebih spesifiknya motivasi perjalanan wisatawan, karena dapat
membantu pengembangan produk, strategi pemasaran yang lebih baik,
pendekatan pemberian layanan yang lebih baik dan penciptaan keunggulan
kompetitif. Oleh karena itu, perilaku perjalanan memainkan peran penting dalam
pariwisata sebagai konsep, industri dan ekonomi, dan demands investigation.
Gambaran mengenai wisatawan biasanya dibedakan berdasarkan
karakteristik perjalanannya (trip descriptor) dan karakteristik wisatawannya (tourist
descriptor) (Seaton dan Bennet, 1996).
1. Trip Descriptor
Wisatawan dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan jenis
perjalanan yang dilakukannya. Secara umum jenis perjalanan dibedakan
menjadi : perjalanan rekreasi, mengunjungi teman/keluarga (VFR = visiting
friends and relatives), perjalanan bisnis dan kelompok perjalanan lainnya
(Seaton & Bennet, 1996). Smith (1995) menambahkan jenis perjalanan
untuk kesehatan dan keagamaan di luar kelompok lainnya. Lebih lanjut
jenis-jenis perjalanan ini juga dapat dibedakan lagi berdasarkan lama
perjalanan, jarak yang ditempuh, waktu melakukan perjalanan tersebut,
jenis akomodasi atau transportasi yang digunakan dalam perjalanan,
pengorganisasian perjalanan, besar pengeluaran dan lain-lain.
2. Tourist Descriptor
Memfokuskan pada wisatawannya, biasanya digambarkan dengan “Who
wants what, why, when, where and how much?”. Untuk menjelaskan hal-
hal tersebut digunakan beberapa karakteristik diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Karakteristik Sosio-demografis
Karakteristik sosio-demografis mencoba menjawab pertanyaan “who wants
what”. Pembagian berdasarkan karakteristik ini paling sering dilakukan
untuk kepentingan analisis pariwisata, perencanaan dan pemasaran,
karena sangat jelas definisinya dan relatif mudah pembagiannya (Kotler,
1996). Yang termasuk dalam karakteristik sosio-demografis diantaranya
adalah jenis kelamin, umur, status perkawinan, tingkat pendidikan,
pekerjaan, kelas sosial, ukuran keluarga atau jumlah anggota keluarga dan
lain-lain yang dielaborasi dari karakteristik tersebut.
Karakteristik sosio-demografis juga berkaitan satu dengan yang lain secara
tidak langsung. Misalnya tingkat pendidikan seseorang dengan pekerjaan
dan tingkat pendapatannya, serta usia dengan status perkawinan dan
ukuran keluarga.
Pembagian wisatawan berdasarkan karakteristik sosio-demografis ini
paling nyata kaitannya dengan pola berwisata mereka. Jenis kelamin
maupun kelompok umur misalnya berkaitan dengan pilihan jenis wisata
yang dilakukan (Seaton & Bennet, 1996). Jenis pekerjaan seseorang
maupun tipe keluarga akan berpengaruh pada waktu luang yang dimiliki
orang tersebut, dan lebih lanjut pada kemampuannya berwisata. Selain
karakteristik sosio-demografis, karakteristik lain yang biasa digunakan
dalam mengelompokkan wisatawan adalah karakteristik geografis,
psikografis dan tingkah laku (behavior) (Smith, 1995).
b. Karakteristik geografis
Karakteristik geografis membagi wisatawan berdasarkan lokasi tempat
tinggalnya, biasanya dibedakan menjadi desa-kota, propinsi, maupun
negara asalnya. Pembagian ini lebih lanjut dapat pula dikelompokkan
berdasarkan ukuran (size) kota tempat tinggal (kota kecil, menengah,
besar/metropolitan), kepadatan penduduk di kota tersebut dan lain-lain.
c. Karakteristik psikografis
Sementara itu karakteristik psikografis membagi wisatawan ke dalam
kelompok-kelompok berdasarkan kelas sosial, life-style dan karakteristik
personal. Wisatawan dalam kelompok demografis yang sama mungkin
memiliki profil psikografis yang sangat berbeda.
Scott A. Cohen, Girish Prayag & Miguel Moital (2014) melakukan
penelitian mengenai Consumer behaviour in tourism: Concepts, influences
and opportunities, Current Issues in Tourism, mereka memberikan ulasan
kontemporer dan ekstensif mengenai kemajuan terkini dalam pendekatan
konseptual utama yang telah digunakan untuk memahami Consumer
Behaviour di bidang pariwisata: pengambilan keputusan, nilai, motivasi,
konsep diri dan kepribadian, harapan, sikap, persepsi, kepuasan dan
kepercayaan dan kesetiaan. Kajian selanjutnya menguji bagaimana tiga
pengaruh eksternal yang penting, yaitu teknologi, Generasi Y dan
peningkatan kepedulian terhadap etika konsumsi, berdampak pada
pariwisata CB. Terdapat pula identifikasi beberapa peluang penelitian di
bidang-bidang yang harus ditangani oleh penelitian CB. Ulasan dilengkapi
dengan identifikasi dan diskusi tentang peluang penelitian mengenai topik
pengambilan keputusan kelompok dan bersama, segmen penelitian, isu
lintas budaya di pasar negara berkembang, emosi dan perilaku konsumen.
Pengambilan keputusan dan konsumsi pariwisata seringkali sangat
interpersonal dan emosional. Sebagian besar penelitian CB di bidang pariwisata
bersandar pada asumsi kerangka rasionalitas dan kerangka pengambilan
keputusan yang dikembangkan untuk barang konsumsi, tanpa memperhatikan
aspek hedonis dan emosional dari konsumsi pariwisata (Decrop & Snelders,
2004). Penelitian CB di bidang pariwisata harus memperhatikan dimensi ini, dan
selanjutnya memberi konteks yang kaya untuk lebih mengembangkan
pemahaman tentang bagaimana perilaku perjalanan saling terkait, dan berdampak
pada lanskap konsumsi yang lebih luas.
REFERENSI

Cohen, Scott A., Girish Prayag & Miguel Moital. 2014. Consumer behaviour in
tourism: Concepts, influences and opportunities, Current Issues in Tourism,
17:10, 872-909, DOI: 10.1080/13683500.2013.850064 To link to this article:
https://doi.org/10.1080/13683500.2013.850064

Decrop, A., & Snelders, H. (2004). Planning the summer vacation: An adaptable
process. Annals of Tourism Research, 31(4), 1008– 1030.

Drew Martin & Arch G. Woodside (2008) Grounded Theory of International Tourism
Behaviour, Journal of Travel & Tourism Marketing, 24:4, 245-258, DOI:
10.1080/10548400802156695 To link to this article:
https://doi.org/10.1080/10548400802156695

Leiper, N. (1979). The Framework of tourism: Towards a definition of tourism,


tourist, and the tourist industry. Annals of Tourism Research.

Medlik, S. (1973). The tourist product and its marketing implications. International
Tourism Quarterly (3) 28-35.

Mill, Robert. 1992. The Tourism System: An Introductory Text. Prentice Hall.
Subsequent edition (June 1, 1992)

Pendit, Nyoman S. 1999. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta.


Pradnya Paramita

Seaton and Bennet. 1996. The Marketing Tourism Products : Concepts, Issues,
Cases. Cengange Learning

Spillane, J. 1991. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya. Penerbit


Kanisius. Yogyakarta