Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH HUKUM BISNIS

TENTANG

ASPEK PAJAK DALAM BISNIS

DISUSUN

ANGGI LESTARI (7143342005

ARDIANA PUTRI (7143342006)

A EKSTENSI 2014

PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmad dan hidayat-Nya sehingga makalah tentang kepemimpinan ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya.

Makalah ini ditujukan kepada dosen mata kuliah Hukum Bisnis untuk menambah nilai
tugas kami. Makalah ini memuat tentang pengertian pajak, jenis-jenis pajak dalam dunia bisnis
dan fungsi pajak.

Penyusunan makalah ini tidak lepas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada dosen
mata kuliah Hukum Bisnis. Kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya
untuk memperbaiki makalah ini.

Dengan segala keterbatasan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu
penyusun berharap saran maupun kritik demi penyempurnaan dan semoga dapat member
manfaat bagi mahasiswa untuk menambah sumber bacaan dalam mempelajari mata kuliah
Hukum Bisnis. Amin.

Medan, November 2014

Penyusun

Kelompok

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................... I


DAFTAR ISI................................................................................................................................................ II
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................................................ 2
BAB II........................................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Pajak................................................................................................................................. 3
2.2 Jenis-Jenis Pajak Dalam Dunia Bisnis ............................................................................................... 4
1. Pajak Penghasilan ........................................................................................................................ 5
2. Pajak Pertambahan Nilai .............................................................................................................. 8
3. Pajak Bumi dan Bangunan ......................................................................................................... 10
2.3 Sistem Pemungutan Pajak ........................................................................................................... 13
2.4 Tarif Pajak........................................................................................................................................ 13
2.5 Fungsi Pajak ..................................................................................................................................... 14
2.6 Aspek Hukum Dalam Perpajakan .................................................................................................... 15
BAB III ....................................................................................................................................................... 18
PENUTUP .................................................................................................................................................. 18
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................................... 18
3.2 Saran ................................................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 19

II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini, bisnis dan pajak tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Di mana ada potensi
keuntungan ekonomis, di situ biasanya akan ada kegiatan bisnis. Di mana pun ada bisnis di situ
ada pajak yang mewakili kepentingan negara. Semua kegiatan berbisnis tidak akan luput dari
kewajiban pajak. Untuk penyerahan barang dan atau jasa yang dilakukan akan ada kewajiban
memungut, menyetor dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Untuk itu terdapat
berbagai kewajiban administratif yang harus dijalankan seperti membuat Faktur Pajak, mengisi
Surat Setoran Pajak (SSP) kemudian menyetorkannya ke kas negara melalui bank persepsi atau
kantor pos dan mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) dan kemudian melaporkannya ke Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) di mana pengusaha tersebut terdaftar. Bila dalam menjalankan bisnisnya
diperoleh keuntungan, maka yang bersangkutan harus membayar Pajak Penghasilan (PPh).
Belum lagi kewajiban memotong atau memungut PPh atas penghasilan pihak lain melalui
mekanisme withholding tax.
Pajak memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam bisnis. Artinya pajak bisa
mempengaruhi kelangsungan bisnis seorang pengusaha. Banyak contoh kasus di lapangan yang
sudah terjadi, ada perusahaan yang terpaksa ditutup hanya karena persoalan perpajakan.
Mengapa harus bayar pajak? negara perlu memungut pajak karena untuk Komponen APBN yaitu
belanja gaji pegawai negeri, TNI dan POLRI, belanja barang/jasa, belanja modal, belanja
utang/bunga, belanja subsidi, bantuan sosial dan bantuan lain-lain. Belanja tersebut timbul dalam
rangka menjalankan fungsi negara, pegawai negeri melayani masyarakat, guru melayani
kebutuhan pendidikan anak usia sekolah, TNI menjaga keamanan negara dari serangan musuh,
POLRI menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Belanja barang dan modal untuk merawat
dan atau menyediakan fasilitas umum, jalan, jembatan, gedung-gedung pemerintah, sekolah dll.
Mungkin saja, masyarakat suatu Negara tidak bayar pajak, asal negara itu mampu mencukupi
pengeluarannya dalam rangka mengelola negara dari sumber dana non pajak, misalkan dari

1
kekayaan alam yang dimilikinya. Namun tidak ada negara yang sama sekali bebas pajak, 100%
bebas pungutan oleh negara. Namun ada negara dengan tarif pajak yang rendah atau dikenal tax
haven country.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam pembahasan makalah ini antara lain :
1. Pajak-pajak apa saja yang dikenakan dalam dunia bisnis
2. Pengertian dan dasar hukum dari jenis-jenis pajak.
3. Permasalahan apa saja yang timbul dari praktek perpajakan dalam kehidupan sehari hari.

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penulisan dan pembahasan
makalah ini adalah :
1. Memahami tentang jenis-jenis pajak yang berkaitan dengan dunia bisnis/ekonomi.
2. Mampu menjelaskan pengertian dan dasar hukum dari pajak-pajak yang dikenakan dalam
bisnis.
3. Mampu memecahkan masalah-masalah yang menyangkut perpajakan dalam dunia bisnis
sehari-hari.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pajak


Pajak adalah peralihan dari sektor swasta ke sektor publik berdasarkan undang-undang
yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan (tegenprestatie) yang secara langsung
dapat ditunjukkan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan yang digunkan
sebagai alat pendorong, penghambat atau pencegah untuk mencapai tujuan yang ada di luar
bidang keuangan negara.
Dapat diartikan pula Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-
undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung.Pajak
dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-
barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.Lembaga Pemerintah yang
mengelola perpajakan negara di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang
merupakan salah satu direktorat jenderal yang ada di bawah naungan Kementerian Keuangan
Republik Indonesia. Terdapat bermacam-macam batasan atau definisi tentang "pajak" yang
dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah :

Rifhi Siddiq
Pajak adalah iuran yang dipaksakn pemerintahan suatu negara dalam periode tertentu
kepada wajib pajak yang bersifat wajib dan harus dibayarkan oleh wajib pajak kepada
negara dan bentuk balas jasanya tidak langsung
Leroy Beaulieu
Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang dipaksakan oleh
kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk menutup belanja pemerintah
P. J. A. Adriani
Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh
yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan
tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah

3
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan
Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari sektor privat
kepada sektor publik.Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa adanya pajak menyebabkan
dua situasi menjadi berubah.Pertama, berkurangnya kemampuan individu dalam menguasai
sumber daya untuk kepentingan penguasaan barang dan jasa.Kedua, bertambahnya kemampuan
keuangan negara dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan kebutuhan
masyarakat.

Sementara pemahaman pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro merupakan suatu
perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang menyebabkan timbulnya kewajiban
warga negara untuk menyetorkan sejumlah penghasilan tertentu kepada negara, negara
mempunyai kekuatan untuk memaksa dan uang pajak tersebut harus dipergunakan untuk
penyelenggaraan pemerintahan. Dari pendekatan hukum ini memperlihatkan bahwa pajak yang
dipungut harus berdsarkan undang-undang sehingga menjamin adanya kepastian hukum, baik
bagi fiskus sebagai pengumpul pajak maupun wajib pajak sebagai pembayar pajak.

Pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah disempurnakan


terakhir dengan UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah
"kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung
dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat''

2.2 Jenis-Jenis Pajak Dalam Dunia Bisnis


Setelah berlakunya undang-undang perpajakan sejak tahun 1983, terdapat bermacam-
macam pajak yang berlaku dalam dunia bisnis,Adapun pajak-pajak yang dikenakan dalam
kegiatan bisnis di Indonesia antara lain :
1. Pajak Penghasilan (PPh)
2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
3. Pajak Bumi dan Bangunan(PBB)
4. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
5. Pajak atas Bea Materai

4
1. Pajak Penghasilan
Definisi pajak penghasilan menurut UU No. 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan
UU No. 10 Tahun 1994 adalah pajak yang dikenakan pada setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh seseorang atau suatu badan atau Wajib Pajak baik
yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk
apapun.Pengertian penghasilan yang dianut Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah
pengertian ekonomis, yakni setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima atau diperoleh
oleh seseorang atau suatu badan.Dengan demikian pengertian penghasilan dipandang dari segi
mengalirnya tambahan kemampuan ekonomi kepada Wajib Pajak, dapat diklasifikasikan mejadi
4 (empat) macam, yaitu :
 Penghasilan dari pekerjaan, baik dalam hubungan kerja maupun atas pekerjaan
bebas.Penghasilan dari hubungan kerja demikian misalnya penghasilan yang diterima
subjek pajak karena bekerja pada pemberi kerja, seperti karyawan suatu perusahaan, guru
suatu sekolah, dan sebagainya.Sedangkan penghasilan atas pekerjaan bebas yaitu
penghasilan yang diterima subjek pajak karena menjalankan usaha yang bebas yang tidak
berkaitan pada pemberi kerja tertentu tetapi pekerjaan karena profesinya, seperti
pekerjaan bebas seorang akuntan public, pekerjaan seorang dokter , pengacara, dan
sebagainya.
 Penghasilan dari kegiatan usaha, yakni kegiatan melalui sarana perusahaan, misalnya laba
atau Sisa Hasil Usaha (SHU), baik dari usaha perseorangan, perseroan, maupun koperasi.
 Penghasilan dari modal yaitu penghasilan dari harta gerak, harta tidak bergerak, dan harta
yang dikerjakan sendiri. Misalnya bunga dari deposito, tabungan, atau surat-surat
berharga lainnya, serta penghasilan berupa pembagian laba suatu perusahaan baik berupa
dividen maupun bentuk lainnya.
 Penghasilan lain-lain, misalnya bisa berupa hadiah undian (menang lotre), penghasilan
karena pembebasan utang, dan penghasilanl lainnya.

Sekalipun penghasilan yang akan dikenakan adalah setiap tambahan kemampuan


ekonomis, tetapi tetap ada hal-hal yang sebenarnya merupakan tambahan kemampuan ekonomis

5
yang tidak diperlakukan sebagai objek pajak.Menurut Pasal 4 Ayat (3) UU No. 10 Tahun 1994,
pengecualian sebagai objek pajak adalah sebagai berikut :
 Bantuan atau sumbangan, harta hibahan yang diterima keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat dan oleh badan keagamaan atau badan social atau pengusaha
kecil termasuk koperasi, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan,
pemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
 Warisan
 Harta termasuk setoran yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai
pengganti penyetoran modal.
 Pengganti atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari wajib pajak atau pemerintah.
 Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi
kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwi guna, dan asuransi bea siswa.
 Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib
Pajak dalam negeri.
 Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan.
 Bagian laba yang diperoleh atau diterima oleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi.
 Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksa dana.
 Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba
dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di
Indonesia.

Pajak penghasilan juga dapat dibedakan berdasarkan pasal-pasalnya, antara lain :


1) PPh Pasal 21
2) PPh Pasal 22
3) PPh Pasal 23
4) PPh Pasal 24
5) PPh Pasal 25
6) PPh Pasal 26

6
 PPh Pasal 21
PPh Pasal 21 merupakan pengenaan pajak terhadap penghasilan yang diterima atau
diperoleh dari pekerjaan dalam hubungan kerja (karyawan, karyawati, pegawai), dan
pekerjaan bebas (dokter, pengacara, akuntan) atau dengan kata lain dikenakan terhadap
gaji, upah, honorarium, tunjangan, atau pembayaran lainnya.

 PPh Pasal 22
PPh Pasal 22 mengatur tentang pengenaan dan pemungutan pajak terhadap penghasilan
dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain yang memperoleh
pembayaran untuk barang dan/atau jasa dari APBN atau APBD.

 PPh Pasal 23
PPh Pasal 23 mengatur tentang pengenaan dan pemungutan pajak atas penghasilan modal
yang diperoleh atau diterima Wajib Pajak dalam negeri dalam suatu tahun pajak .Objek
atau penghasilan dari modal tersebut dapat berupa : dividen, bunga, termasuk premium,
diskonto,dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang, royalti, hadiah,
dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, dan imbalan sehubungan
dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain.

 PPh Pasal 24
PPh Pasal 24 merupakan pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan
dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri, yang bisa
dikreditkan (diperhitungkan kemudian).

 PPh Pasal 25
PPh Pasal 25 merupakan pajak penghasilan yang terutang berdasarkan Surat
Pemberitahuan Tahunan dan dalam melakukan pelunasan pembayaran pajaknya, maka
Wajib Pajak diperbolehkan mengangsurnya.

7
 PPh Pasal 26
PPh Pasal 26 mengatur tentang pemotongan pajak atas penghasilan yang dibayarkan atau
yang terutang dengan nama dan dalam bentuk apapun oleh badan pemerintah, BUMN,
BUMD atau Wajib Pajak dalam negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri.

2. Pajak Pertambahan Nilai


Jenis pajak kedua yang sering menjadi masalah dalam dunia bisnis adalah masalah Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 yang
mulai berlaku tanggal 1 Juli 1984 dan terakhir diubah dengan UU No. 18 Tahun 2000.
Pengertian dari Pajak Pertambahan Nilai adalah golongan pajak yang dikenakan atas konsumsi
suatu barang ataupun jasa tertentu di daerah pabean Indonesia.Dengan demikian apabila suatu
barang diproduksi di daerah pabean Indonesia tetapi tidak dikonsumsi di Indonesia atau
dilakukan ekspor , maka atas ekspor barang tersebut terkena tarif sebesar 0% (nol persen).
Dari pengertian di atas jelas bahwa ada 6 (enam) kegiatan yang dapat dikenakan PPN,
yaitu berupa :
1. Penyerahan BKP di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha.
Penyerahan barang ini harus memenuhi syarat :
- Barangnya merupakan barang kena pajak
- Penyerahan dilakukan di daerah pabean
- Penyerahan dilakukan dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan pengusaha
yang bersangkutan.
2. Impor BKP.Artinya siapa pun yang memasukkan BKP ke dalam daerah pabean tanpa
memperhatikan apakah dilakukan dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya atau
tidak, tetap dikenakan pajak.
3. Penyerahan JKP di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha. Penyerahan
jasa ini harus memenuhi syarat :
- Jasa yang diserahkan merupakan barang kena pajak
- Penyerahan dilakukan di daerah pabean
- Penyerahan dilakukan dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan pengusaha
yang bersangkutan.
4. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.

8
5. Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
6. Ekspor BKP oleh pengusaha kena pajak.

Rupanya tidak semua barang dan jasa dikenakan PPN. Menurut PP No. 144 Tahun 2000
terdapat barang-barang tertentu dan jasa-jasa tertentu yang tidak dikenakan PPN. Untuk barang
yang tidak dikenakan PPN, ada 4 (empat) jenis, yaitu sebagai berikut :
1. Barang hasil pertambangan, atau hasil pengeboran, yang diambil langsung dari
sumbernya, yaitu minyak mentah (crude oil), gas bumi, panas bumi, pasir dan kerikil,
batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara dan bijih besi, bijih timah, bijih
emas, bijih tembaga, bijih nikel, dan bijih perak serta bijih bauksit.
2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, meliputi :
beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, dan garam baik yang berjudium maupun yang tidak.
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan
sejenisnya.
4. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.

Sedangkan untuk jasa yang tidak dikenakan PPN, ada 12 jenis yaitu :
1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medic
2. Jasa di bidang pelayanan social
3. Jasa di bidang pengiriman surat
4. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi
5. Jasa di bidang keagamaan
6. Jasa di bidang pendidikan
7. Jasa di bidang kesenian
8. Jasa di bidang penyiaran
9. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan laut
10. Jasa di bidang tenaga kerja
11. Jasa di bidang perhotelan
12. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara
umum

9
Tarif PPN secara umum adalah sebesar 10 %, sedangkan tariff PPN atas ekspor BKP
adalah 0% karena PPN adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang di dalam negeri,
maka barang yang diekspor atau dikonsumsi di luar negeri tidak dikenakan PPN .Oleh karenanya
tariff PPN untuk barang yang di ekspor adalah 0%. Di dalam UU PPN ditentukan adanya tariff
minimum dan tariff maksimum yang akan diatur dalam Peraturan Pemerintah, yaitu serendah-
rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%. Namun demikian tariffnya tidak boleh meninggalkan
prinsip tariff tunggal. Artinya harus diberlakukan tariff yang sama untuk semua penyerahan
BKP dan JKP . Sedangkan tariff untuk PPn BM telah ditentukan yaitu serendah-rendahnya 10 %
dan setinggi-tingginya 50 %.

3. Pajak Bumi dan Bangunan


Pajak Bumi dan Bangunan adalah salah satu jenis pajak yang dikenakan terhadap objek
berupa bumi dan /atau bangunan. Oleh karena jenis pajak ini mengenakan pajak terhadap bumi
dan bangunan, maka kalangan dunia usaha atau bisnis juga seringkali memantau ketentuan-
ketentuan yang mengaturnya, agar mereka juga dapat mengantisipasi dalam rangka kegiatan
bisnis sehari-hari. Dunia bisnis yang sering kali mengantisipasi masalah ini adalah bisnis di
bidang property serta bisnis yang berkaitan dengan masalah tanah dan bangunan lainnnya.
Untuk itu beberapa termonologi yang diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 1994 tentang
PBB perlu dikemukakan, sebagai berikut :
 Bumi : permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya .Pengertian permukaan
bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia.
 Bangunan : konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah
dan/atau perairan. Termasuk dalam pengertian bangunan adalah: jalan lingkungan yang
terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan
lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut, jalan
TOL, kolam renang, pagar mewah, tempat olah raga, galangan kapal, dermaga, taman
mewah, tempat penampungan,/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak, fasilitas lain
yang memberikan manfaat.
 Nilai Jual Objek Pajak (NJOP):harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli
yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli. Nilai Jual

10
Objek Pajak ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis,
atau nilai perolehan baru, atau nilai jual objek pajak pengganti.

Seperti diketahui bahwa PBB tergolong pada jenis pajak obyektif yang bersifat kebendaan,
yang dapat diartikan bahwa pengenaannya tidak memandang kepada kemampuan atau daya pikul
subjeknya (sebagai wajib pajak) tetapi didasarkan pada wujud benda yang menjadi objek PBB.
Namun demikian UU PBB tetap memberikan suatu fasilitas khusus berupa pengurangan pajak
yang terutang seperti disebutkan dalam pasal 19 karena 2 (dua hal), yaitu :
a. Karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak dan
sebab-sebab tertentu lainnya, yang dapat berupa lahan pertanian yang sangat terbatas,
bangunan yang ditempati sendiri yang dikuasai atau dimiliki oleh golongan wajib pajak
tertentu, lahan yang nilai jualnya meningkat sebagai akibat perubahan lingkungan dan
dampak positif pembangunan serta yang pemanfaatannya belum sesuai dengan
peruntukan lingkungan
b. Dalam hal objek PBB terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa. Misalnya
seperti gempa bumi, banjir , longsor, kebakaran, kekeringan, wabah penyakit tanaman,
dan hama tanaman.

Yang menjadi subjek pajak dalam PBB adalah badan atau perseorangan yang mempunyai
hak atas bumi baik memiliki, menguasai, maupun memanfaatkan bumi dan/atau bangunan.
Pada dasarnya dalam Pajak Bumi dan Bangunan tidak mengenal pengecualian terhadap
subjek pajak, oleh karena PBB merupakan pajak yang objektif atau termasuk pajak kebendaan,
pengecualian hnaya pada objek saja.
Objek-objek pajak yang tidak dikenakan PBB antara lain :
 Yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah,
social, kesehatan, pendidikan, kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk
memperoleh keuntungan.
 Yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis dengan itu.
 Yang merupakan hutang lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah
penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu
hak.

11
 Yang digunakan oleh perwakilan diplomatic, konsulat berdasarkan asas perlakuan
timbale balik
 Yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan
oleh Menteri Keuangan.

Berdasarkan wujudnya, pajak dibedakan menjadi:

a. Pajak langsung adalah pajak yang dibebankan secara langsung kepada wajib pajak seperti
pajak pendapatan, pajak kekayaan.
b. Pajak tidak langsung adalah pajak/pungutan wajib yang harus dibayarkan sebagai
sumbangan wajib kepada negara yang secara tidak langsung dikenakan kepada wajib
pajak seperti cukai rokok dan sebagainya.

Berdasarkan jumlah yang harus dibayarkan, pajak dibedakan menjadi:

a. Pajak pendapatan adalah pajak yang dikenakan atas pendapatan tahunan dan laba dari
usaha seseorang, perseroan terbatas/unit lain.
b. Pajak penjualan adalah pajak yang dibayarkan pada waktu terjadinya penjualan
barang/jasa yang dikenakan kepada pembeli.
c. Pajak badan usaha adalah pajak yang dikenakan kepada badan usaha seperti perusahaan
bank dan sebagainya.

Pajak berdasarkan pungutannya dapat dibedakan menjadi:

a. Pajak bumi dan bangunan (PBB) adalah pajak/pungutan yang dikumpulkan oleh
pemerintah pusat terhadap tanah dan bangunan kemudian didistrubusiakan kepada daerah
otonom sebagai pendapatan daerah sendiri.
b. Pajak perseroan adalah pungutan wajib atas laba perseroan/badan usaha lain yang
modalnya/bagiannya terbagi atas saham–saham.
c. Pajak siluman adalah pungutan secara tidak resmi/pajak gelap dan merupakan sumber
korupsi.
d. Pajak transit adalah pajak yang dipungut di tempat tertentu yang harus dilalui oleh
pengangkutan orang/barang dari suatu tempat ke tempat lain.

12
2.3 Sistem Pemungutan Pajak

1. Offcial Assessment System yaitu suatu sistem pemungutan pajak yang memberikan
wewenang kepada fiskus pajak (pemungut pajak) untuk menentukan besarnya pajak yang
terutang (yang harus dibayar) oleh wajib pajak.
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
 Wewenang untuk menentukan besarnya pajak ada pada fiskus
 Wajib pajak bersifat pasif
 Utang pajak (besarnya pajak) akan tampak setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak
oleh fiskus

2. Self Assessment System yaitu sistem yang memberikan wewenang penuh kepadawajib pajak
untuk menentukan atau menghitung sendiri besarnya pajak yang akan dibayar.
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
 Wewenang untuk menentukan besarnya pajak ada pada wajib pajak sendiri
 Wajib pajak aktif dalam menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajaknya
 Fiskus tidak ikut campur namum tetap mengawasi

3. With holding system yaitu sistem yang memberikan wewenang penuh kepada pihak ketiga
(bukan fiskus dan wajib pajak) untuk menentukan atau menghitung besarnya pajak yang
akan dibayar oleh wajib pajak

2.4 Tarif Pajak


Para serjana di bidang perpajakan mengemukakan ada empat macam tarif pajakyaitu
sebagai berikut:
a. Tarif sepadan/sebanding/ proporsional
Tarif sebading ini maksudnya tarif yang ditetapkan kepada objek pajak bersifat tetap
terhadap berapapun jumlah yang dikenal pajak sehingga besarnya pajak yang terutang
sebading terhadap besarnya terhadap besarnya nilai yang dikenal pajak.

13
b. Tarif tetap yaitu suatu tarif pajak yang besarnya tetap tidak tergantung kepada lapisan
penghasilan kena pajak
c. Tarif progresif yaitu persentase tarif yang digunakan dengan tarif progresif ini adalah
suatu tarif akan semakin besar bila jumlah yang dikenakan pajak semakin besar.
d. Tarif Degresif yaitu kenaikan persentase tarif pajak akan semakin rendah ketika dasar
pengenaan pajaknya semakin meningkat

2.5 Fungsi Pajak


Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di
dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk
membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas
maka pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

Fungsi anggaran (budgetair)


Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran negara.Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan
pembangunan, negara membutuhkan biaya.Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan
pajak.Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai,
belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.Untuk pembiayaan pembangunan,
uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi
pengeluaran rutin.Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai
kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama
diharapkan dari sektor pajak.

Fungsi mengatur (regulerend)


Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.Dengan
fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan.Contohnya
dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri,
diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi
dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.

14
Fungsi stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang
berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa
dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan
pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.

Fungsi redistribusi pendapatan


Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua
kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat
membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.

2.6 Aspek Hukum Dalam Perpajakan


Sistem Pemerintahan Republik Indonesia Mengatur asas desentralisasi, dan tugas
pembantu yang dilaksanakan secara bersama-sama. Untuk mewujudkan pelaksanaan
desentralisasi tersebut maka dibentukla daerah otonom yang terbagi dalam daerah provinsi,
daerah kabupaten, dan daerah kota yang bersifat otonom sesuai dengan ketentuan pasal 1ayat 6
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Dasar hukum pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah. Adapun yang terkait dengan Pajak Daerah antara lain :
Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas Daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam
ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh
orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang
dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,

15
yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan
pembangunan Daerah.
Badan, adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas,
perseroan komanditer, perseroan lainnya. Badan Usaha Milik Negara atau Daerah
dengan
nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pension, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi social politik, atau organisasi yang
sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
Subjek Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan Pajak Daerah.
Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan Daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak
yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Pajak dan Retribusi Daerahtelah


menetapkan jenis pajak yang dapat dipungut oleh pemerintah provinsi dan jenis pajak yang
dipungut dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
1. Pajak Propinsi, terdiri dari :
a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.
2. Pajak Kabupaten/Kota, Terdiri dari:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Iklan;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C;
g. Pajak Parkir;
h. Pajal lain-lain.

16
Tarif Pajak sebagaimana disebutkan di atas ditetapkan paling tinggi sebesar:
a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air sebesar 5% (lima persen);
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air sebesar 10%
(sepuluh persen);
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 5% (lima persen);
d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan sebesar
20% (dua puluh persen);
e. Pajak Hotel sebesar 10% (sepuluh persen);
f. Pajak Restoran sebesar 10% (sepuluh persen);
g. Pajak Hiburan sebesar 35% (tiga puluh lima persen);
h. Pajak Reklame sebesar 25% (dua puluh lima persen);
i. Pajak Penerangan Jalan sebesar 10% (sepuluh persen);
j. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C sebesar 20% (dua puluh persen);
k. Pajak Parkir sebesar 20% (dua puluh persen)

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ternyata dunia bisnis tidak bisa
dilepaskan dari aspek perpajakan.Pajak dan bisnis dikatakan sebagai satu mata uang dengan dua
sisi yang saling berkaitan satu sama lain.Berkembang tidaknya dunia bisnis tentu akan
dipengaruhi oleh aspek perpajakan yang berlaku.Begitupun dengan penerimaan pajak, akan
berhasil bila dunia bisnis berkembang dengan baik.
Setelah berlakunya undang-undang perpajakan sejak tahun 1983, terdapat bermacam-
macam pajak yang berlaku dalam dunia bisnis. Jenis-jenis pajak tersebut sering menjadi masalah
dalam dunia bisnis saat ini, jenis-jenis pajak tersebut antara lain seperti Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai, Pajak Bumi dan Bangunan,Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan,
Pajak atas Bea Materai.

3.2 Saran
Kegiatan ekonomi merupakan kegiatan yang selalu ada dalam setiap kehidupan manusia
yang mana kegiatan tersebut tidak bisa lepas dari adanya aspek perpajakan, untuk itu ,kita
sebagai mahasiswa ekonomi yang merupakan calon-calon ekonom dan pebisnis ataupun
enterpreuner masa depan, haruslah mampu untuk mendalami dan mengerti,bahkan bisa
mengaplikasikan aspek pajak yang berkaitan dengan ekonomi yang menjadi permasalahan dalam
kegiatan ekonomi sehari-hari serta diharapkan mampu untuk berbagi pengetahuan kepada
segenap lapisan masyarakat di sekeliling kita.

18
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/search?q=aspek+hukum+dalam+perpajakan&ie=utf-8&oe=utf-8

https://www.google.com/search?q=aspek+pajak+dalam+bisnis&ie=utf-8&oe=utf-8

http://andiansaruddin.blogspot.co.id/2010/05/aspek-pajak-dalam-bisnis.html

https://www.google.com/search?q=aspek+pajak+dalam+bisnis+pdf&ie=utf-8&oe=utf-8

https://www.google.com/search?q=makalah+aspek+pajak+dalam+bisnis&ie=utf-8&oe=utf-8

https://www.google.com/search?q=latar+belakang+makalah+aspek+pajak+dalam+bisnis&ie=utf
-8&oe=utf-8

http://rrezkiansyah.blogspot.co.id/2012/05/aspek-hukum-dalam-perpajakan.html

19