Anda di halaman 1dari 13

Referat

Kehamilan Ektopik Terganggu

Oleh:
Tristi Lukita Wening
11.2016.238

Pembimbing:
Dr. Hendra Sp.OG

Fakultas Kedokteran UKRIDA


Kepaniteraan Klinik Obstetri dan ginecology
Periode 29 Januari 2018 s/d 7 April 2018
RSU Rajawali, Bandung
PENDAHULUAN

Blastokista, dalam keadaan normal, tertanam di dalam lapisan endometrium rongga uterus.
Implantasi di tempat lain dianggap sebagai kehamilan ektopik. Kata ini berasal dari bahasa
Yunani ektopos-di luar tempatnya. Menurut American College of Obstetricians and
Gynecologist (2008), 2 % dari seluruh kehamilan trimester pertama di Amerika Serikat
adalah kehamilan ektopik, dan jumlah ini menyebabkan sekitar 6% dari semua kematian
terkait hamil. Resiko kematian akibat kehamilan di luar uterus lebih besar daripada
kehamilan yang memberi hasil lahir hidup atau dihentikan secara sengaja. Selain itu,
kemungkinan untuk kembali hamil dengan baik akan berkurang setelah kehamilan ektopik.
Namun, dengan diagnosis yang lebih dini, baik kelangsungan hidup ibu maupun konservasi
kapasitas reproduksi dapat ditingkatkan. Hampir 95% kehamilan ektopik terimplantasi di
berbagai segmen tuba uterina. Dari kehamilan-kelamilan ini, sebagian besar terletak di
ampula. Sisa 5% tertanam di ovarium, rongga peritoneum, atau di dalam serviks. Kehamilan
di skar caesar baru-baru ini dilaporkan lebih sering terjadi dibandingkan dahulu. Kadang-
kadang, dan biasanya, dengan penggunaan assisted reproductive technology (ART), terjadi
kehamilan multijanin yang berimplantasi ektopik keduanya, atau satu ektopik dan satunya
intrauterus.1
ISI
Definisi
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel tuba yang telah dibuahi tidak
menepel pada dinding endometrium kavum uteri. Lebih dari 95% kehamian ektopik berada di
saluran telur (tuba falopi).2

Berdasarkan lokasi terjadinya, kehamilan ektopik dapat dibagi menjadi 5 berikut ini:
Kehamilan tuba meliputi >95% yang terdiri atas : pars ampularis (55%), pars ismika (25%),
pars fimbriae (17%) dan pars intersititalis (2%). Kehamilan ektoptik yang lain (<5%) antara
lain terjadi di serviks uterus, ovarium, atau abdominal. Untuk kehamilan abdomina; lebih
sering merupakan kehamilan tuba yang kemudian abortus dan meluncur ke abdomen dari
ostium tuba pars abdominalis (abortus tubaria) yang kemudian embrio/buah kehamilannya
mengalami reimplantasi di kavum abdomen, misalnya di mesenterium/mesovarium atau di
omentum, kehamilan intraligamenter jumlahnya sangat sedikit, kehamilan ektopik ganda
merupakan kehamilan ganda di mana satu janin berada di kavum uteri sedangkan yang lain
merupakan kehamilan ektopik. Kejadian sekitar satu per 15.000-40.000 kehamilan.2

Gambar 1. Macam-macam kelainan implantasi.


Epidemiologi

Telah dilaporkan bahwa 1,3-2,4% dari semua kehamilan bersifat ekstrauterine. Frekuensi
sebenarnya tidak dapat diperkirakan lebih akurat dari ini, karena statistik umumnya hanya
mencerminkan kasus yang dirawat di rumah sakit dan dengan operasi. Pada pertengahan abad
kedua puluh, diperkirakan bahwa 0,4% dari semua kehamilan di Amerika Serikat bersifat
ekstrauterine; Data terakhir menunjukkan angka saat ini lebih tinggi dari 1,4%. Di Jerman
saat ini, ada sekitar 20 kehamilan extrauterine untuk setiap 1000 kelahiran hidup.
Meningkatnya frekuensi kehamilan extrauterine (didiagnosis) disebabkan oleh sejumlah
faktor, termasuk:3

1. Peningkatan pemanfaatan teknologi reproduksi terbantu,


2. meningkatnya jumlah operasi yang dilakukan pada tuba falopi,
3. Meningkatnya usia ibu, dan
4. diagnosis lebih sensitif

Etiologi

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam nidasi embrio ke endometrium


menjadi penyebab kehamilan ektopik ini. Faktor-faktor yang disebutkan adalah sebagai
berikut.2

1. Faktor tuba. Adanya peradangan yang mengalami hipoplasia dan saluran tuba yang
berkelok kelok panjang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak berfungsi dengan
baik. Faktor tuba yang lain adanya kelainan endometriosis tuba atau divertikel saluran
tuba yang bersifat kongenital. Adanya tumor disekitar saluran tuba misalnya mioma
uteri atau tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk dan patensi tuba, juga
dapat menjadi etiologi kehamilan ektopik.
2. Faktor abnormalitas dari zigot. apabila tumbuh dengan ukuran besar, maka zigot
akan tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba, kemudian terhenti dan
tumbuh di saluran tuba.
3. Faktor ovarium, bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang
kontralateral, dapat membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang
sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik lebih besar
4. Faktor hormonal, pada akseptor pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat
mengakibatkan gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan dapat
menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik
5. Faktor lain, termaksut disini antara lain adalah pemakaian IUD dimana proses
peradangan yang dapat timbul pada endometrium dan endosalping dapat
menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik. Faktor umur penderita yang sudah menua
dan faktor perokok juga sering dihubungkan denan terjadinya kehamilan ektopik. 2

Patofisiologi

Pada proses awal kehamilan apabila embrio tidak bisa mencapai endometrium untuk proses
nidasi maka embrio tidak bisa mecapai endometrium untuk proses nidasi mak embrio dapat
tumbuh di saluran tuba dan kemudian akan mengalami beberapa proses seperti pada
kehamilan pada umuunya. Karena tuba bukan merupakan suatu media yang baik untuk
pertumbuhan embrio atau mudigah, maka pertumbuhan dapat mengalami perubahan dalam
bentuk berikut ini.2

1. Hasil konsepsi mati dini dan diresobsi. Pada implantasi secara kolumner, ovum
yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang dan dengan mudah terjadi
resorbsi total. Dalam keadaan ini penederita tidak mengeluh apa-apa untuk beberapa
hari.2
2. Abortus tuba, pendarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh
darah oleh vili korialis pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan
mudigah dari dinidng tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis.
Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, bergantung pada derajat
pendarahan yang timbul. Bila pelepasan menyeluruh, mudigah dengan selaputnya
dikeluarkan dalam lumen tuba dan kemudian didorong oleh darah ke arah ostium tuba
pars abdominalis. Frekuensi abortus dalam tuba bergantung pada implantasi telur
yang dibuahi. Abortus ke lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars
ampularis, sedangkan penembusan dinding tuba oleh vili korialis ke arah peritonium
biasanya terjadi pada kehamilan pars ismika. Perbedaan ini disebabkan oleh lumen
pars ampularis yang leih luas sehingga dapat mengikuti lebih mudah pertumbuhan
hasil konsepsi jika dibandingkan dengan bagian imus dengan lumen sempit. Abortus
yang kira-kira terjadi antara minggu ke6 hingga ke12. Keluarnya abortus keluar dari
ujung tuba menimbulkan pendarahan yang mengisi kavum douglasi, yang disebut
hematokel retrouterin. Ada kalanya ujung tuba tertutup oleh perlekatan sehingga
darah terkumpul di dalam tuba dan mengembungkan tuba. Keadaan ini disebut
hematosalping.2,4
3. Ruptur dinding tuba, terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda. Sebaliknya, ruptur pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang
lebih lanjut. Faktor utama yang utama yang menyebabkan ruotur ialah pemembusan
vili korialis ke dalam lapisan ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritonium.
Ruptur ismus tuba terjadi sebelum minggu ke 12 karena dinding tuba di daerah ini
cukup tipis. Namun, ruptur pars interstisialis terjadi lebih lambat bahkan terkadang
baru terjadi pada bulan ke4, karena lapisa otot di daerah ini cukup tebal. Ruptur dapat
terjadi dengan sendirinya atau akibat manipulasi kasar, seperti akibat pemeriksaan
dalam, defekasi atau koitus. Ruptur biasany aterjadi ke dalam kavum peritonium,
terkadang ke dalam lig. Latum bila implantasi terjadu di dinding bawah tuba. Pada
ruptur tuba, seluruh bagian telur yang sudah mati dapat keluar dari tuba melalui
robekan dan masuk kedalam kavum peritonium. Bila penegluaran janin melalui
robekan tidak diikitu oleh plasenta yang tetap melekat pada dasarnya, kehamilan
dapat berlangsung terus dan berkembang sebagai kehamilan abdominal. Plasenta
dalam kehamilan ini dapat meluas ke dinding belakang uterus, ligamentum latum,
omentum dan usus.2,4
Faktor Resiko

Meskipun wanita dengan kehamilan ektopik sering tidak memiliki faktor risiko yang dapat
diidentifikasi, sebuah studi prospektif yang dikendalikan oleh kasus telah menunjukkan
bahwa meningkatnya kesadaran akan kehamilan ektopik dan pengetahuan tentang faktor
risiko terkait membantu mengidentifikasi wanita berisiko tinggi untuk memfasilitasi
diagnosis dini dan lebih akurat. Faktor risiko dikaitkan dengan risiko kerusakan sebelumnya
pada tabung Fallopi Faktor-faktor ini mencakup operasi panggul atau perut sebelumnya, dan
infeksi pelvis. Chlamydia trachomatis telah dikaitkan dengan 30-50% dari semua kehamilan
ektopik. Mekanisme pasti dari asosiasi ini tidak diketahui namun telah diusulkan bahwa
selain distorsi arsitektur tuba Beberapa jenis kontrasepsi, seperti kontrasepsi hanya
progestogen dan alat kontrasepsi intrauterine, dikaitkan dengan peningkatan kejadian
kehamilan ektopik saat terjadi kegagalan kontrasepsi. Sepertiga dari semua kasus kehamilan
ektopik dianggap berhubungan dengan merokok. Ada hubungan dosis-efek, dengan rasio
odds paling tinggi bila lebih dari 20 batang rokok diisap sehari. Beberapa mekanisme untuk
asosiasi ini telah disarankan, termasuk satu atau lebih dari berikut ini: ovulasi tertunda,
perubahan motilitas tuba dan rahim dan lingkungan mikro, atau kekebalan yang berubah.
Risiko kehamilan ektopik meningkat seiring dengan bertambahnya usia ibu, dengan usia di
atas 35 tahun menjadi faktor risiko yang signifikan. Hipotesis untuk hubungan ini mencakup
kemungkinan yang lebih tinggi terkena sebagian besar faktor risiko lain dengan
bertambahnya usia, peningkatan kelainan kromosom pada jaringan trofoblastik dan usia yang
terkait. perubahan fungsi tuba menunda transportasi ovum, mengakibatkan implantasi tuba.
Wanita dengan riwayat kehamilan ektopik sebelumnya juga memiliki peningkatan risiko,
yang meningkat lebih jauh sesuai dengan jumlah kehamilan ektopik sebelumnya.5

Gejala dan Tanda

Kehamilan ektopik yang masih utuh menimbulkan gejala dan tanda serupa dengan kehamilan
muda intrauterin. Kehamilan ektopik biasanya baru dengan kehamilan muda intrauterin.
Kehamilan ektopik biasanya baru menimbulkan beragam gejala dan tanda yang jelas dan
khas bila terganggu. Kehamilan ektopik terganggu memunculkan kisah yang khas : seorang
wanita yang sudah terlambat haid sekonyong-konyong menderita nyeri perut, terkadang jelas
lebih pada sebelah kiri atau sebelah kanan. Selanjutnya, penderita pusing, sesekali pingsan,
dan sering mengalami sedikit pendarahan per vaginam.4
Jadi, gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu yang patut diketahui antara lain :

1. Nyeri perut, paling sering dijumpai dan terdapat pada hampir semua penderita. Nyeri
perut bersifat unilateral atau bilateral di bagian bawah perut, dan terkadang sampai
bagian atas perut. Bila kavum abdomen terisi darah lebih dari 500ml, perut akan
terasa menegang dan terasa nyeri ketika dipegang
2. Amenorea, walau amenorea sering dikemukakan dalam anamnesis, kehamilan
ektopik tidak boleh dianggap mustahil terjadi bila gejala ini tidak ditemukan .
3. Pendarahan pervaginam, kematian telur menyebabkan desidua mengalami
degenerasi dan nekrosis. Desidua kemudia dikeluarkan dalam bentuk pendarahn.
Umunya volume pendarahan sedikit. Bila pendarahan banyak kecurigaan kearah
abortus
4. Syok hipovolemik
5. Pembesaran uterus, pada kehamilan ektopik uterus terus membesar akibat pengaruh
hormon-hormon kehamilan, tetapi umunya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan
uterus pada kehamilan intrauterin yang berusia sama
6. Perubahan darah, kadar hemoglobin kemungkinan menurun pada kehamilan ektopik
terganggu akibat pendarahan yang banyak ke dalam rongga perut.4

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik harus digunakan untuk mendeteksi peritoneal tanda-tanda, seperti rebound
tenderness dan gerakan nyeri tekan serviks, yang mengindikasikan kemungkinan
hemoperitoneum. Nyeri perut dengan tanda peritoneal pada pasien hamil harus segera
dievaluasi oleh ginekolog untuk menentukan kebutuhan akan operasi darurat. Pemeriksaan os
serviks untuk perdarahan dan bukti produk konsepsi di vagina membantu membedakan aborsi
spontan dari kehamilan ektopik. Evaluasi patologis jaringan yang diambil dari vagina sangat
penting untuk menghindari misdiagnosis desidual sebagai produk konsepsi.5

Pemeriksaan Penunjang

Imaging

Sonografi Abdomen. Identifikasi produk kehamilan di tiba Fallopii sulit dilakukan dengan
menggunakan sonografi abdomen. Jika kantong gestasi teridentifikasi dengan jelas di dalam
rongga uterus, kecil kemungkinan adanya kehamilan ektopik yang terjadi bersamaan.
Kehamilan uterus biasanya belum terlihat dengan menggunakan ultrasonografi abdomen
sampai 5-6 minggu setelah haid terakhir terakhir atau 28 hari setelah saat ovulasi. Sebaliknya
terlihat massa di adneksa atau cul-de-sac dangan sonografi tidak begitu membantu. Kista
korpus luteum dan usus yang kusut kadangkala terlihat seperti kehamilan tuba secara
sonografi. Namun, identifikasi kerja jantung janin pada sonografi yang jelas-jelas berada
diluar uterus adalah bukti yang kuat akan adanya kehamilan ektopik.1

Ultrasonografi transvaginal adalah yang direkomendasikan teknik pencitraan untuk pasien


dengan kehamilan ektopik yang dicurigai. Ini lebih disukai daripada ultrasonografi
transabdominal karena pandangan transvaginal memungkinkan untuk visualisasi langsung
dari massa ektopik, sedangkan pandangan transabdominal tidak. Dengan usia kehamilan 5,5
minggu, kehamilan intrauterin harus dapat dikenali dengan ultrasonografi sebagai kantung
kehamilan yang mengandung kuning telur.Mengenal struktur ini di dalam rahim secara
efektif mengesampingkan kehamilan ektopik, mengingat kejadian kehamilan heterotopik
(kehamilan ektopik dan intrauterin terjadi bersamaan) hanya sekitar satu dari 4.000 konsepsi
spontan. Ketika ultrasonografi transvaginal awal secara langsung memvisualisasikan kantung
kehamilan atau tiang embrio di lokasi ektopik, pengobatan untuk kehamilan ektopik harus
dimulai. Pengobatan dini mengurangi morbiditas dari kehamilan ektopik yang pecah, namun
berisiko menimpa aborsi spontan yang terus berlanjut atau mengganggu kehamilan yang
semestinya.6

Pemeriksaan Laboratorium

Tingkat Diskriminasi β-hCG. Bila ultrasonografi transvaginal nondiagnostik, subunit beta


manusia.Tingkat diskriminatif chorionic gonadotropin (β-hCG) mungkin berguna. Ini adalah
nilai di atas yang kehamilan intrauterine harus divisualisasikan dengan ultrasonografi. Pada
pasien dengan nilai β-hCG di atas tingkat ini, kegagalan untuk memvisualisasikan kehamilan
intrauterin sangat menunjukkan kehamilan ektopik. Tingkat β-hCG yang diskriminatif yang
digunakan pada berbagai institusi bervariasi, walaupun 1.500 sampai 2.000 mIU per mL
(1.500 sampai 2.000 IU per L) adalah tipikal. Secara umum, karena tingkat β-hCG
meningkat, spesifisitas ultrasonografi untuk mendeteksi kehamilan intrauterine yang layak
juga meningkat. Penggunaan tingkat diskriminatif β-hCG tidak sempurna, namun karena
kasus kehamilan intrauterine yang layak yang tidak terdeteksi oleh ultrasonografi telah
terjadidilaporkan dengan kadar β-hCG sampai 4.300 mIU per mL (4,300 IU per L)
Kehamilan intrauterin yang paling tepat pada trimester pertama (99%) memiliki nilai β-hCG
yang meningkat sekitar 50% dalam 48 jam. Kegagalan untuk meningkat pada tingkat ini
menunjukkan kehamilan ektopik atau kehamilan intrauterin yang tidak diinginkan. Namun,
1% pasien dengan kehamilan intrauterine yang layak memiliki tingkat peningkatan yang
lebih lambat. Pasien ini sering menerima kesalahan diagnosa kehamilan intrauterine atau
ektopik yang tidak dapat diantisipasi. Demikian juga, tingkat β-hCG pada sekitar 20%
kehamilan ektopik meningkat lebih dari 50% selama 48 jam. Progesteron Serum. Pengukuran
tunggal digunakan sering untuk memastikan bahwa terdapat kehamilan yang berkembang
normal. Nilai di atas 25 ng/ml menyingkirkan kehamilan ektopik dengan sensitivitas 97,5%.
Nilai kurang dari 5 ng/ml menunjukan bahwa janin-embrio sudah mati, tetapi tidak
menunjukan lokasinya. Kadar progesteron antara 5-25ng/ml sayangnya tidak konklusif.6,1

Diagnostik Laparascopi

Dalam kasus dimana kehamilan ektopik dicurigai dan ultrasound tidak dapat disimpulkan,
diperlukan laparoskopi diagnostik. Hal ini diyakini oleh banyak orang sebagai 'standar emas'
dalam penyelidikan kehamilan ektopik. Memang keengganan atau keterlambatan dalam
melakukan laparoskopi diagnostik telah disorot sebagai faktor dalam kasus fatal. Namun,
beberapa kehamilan ektopik kecil mungkin hilang pada saat laparoskopi atau laparotomi.
Dalam sebuah penelitian, 2 dari 44 (4.5%) wanita dilaporkan tidak memiliki bukti kehamilan
ektopik pada saat laparoskopi. Alternatif untuk laparoskopi diagnostik mungkin memerlukan
pemeriksaan ultrasound berulang, terutama bila konsentrasi β-hCG mendekati 1500 IU / l.5

Diagnosa Banding

Kehamilan ektopik terganggu harus dibedakan dari :4

1. Radang alat-alat dalam panggul, terutama salpingitis yang menunjukan tanda-tanda :


riwayat seranganan nyeri perut, nyeri perut bilateral, demam, test kehamilan bila
postif kemungkinan terjadi kehamilan ektopik. Sementara, bila negatif tidak ada
artinya
2. Abortus biasa, volume pendarahan yang banyak, sering terjadi pembukaan serviks dan
uterus biasanya besar dan lunak.
3. Kista torsi atau appendisitis, pada kista torsi ditemukan masa yang lebih jelas,
sedangkan pada kehamilan tuba batasnya tak jelas, nyeri appendisitis tempatnya lebih
tinggi tepatnya di titik McBurney
4. Gastroentritis.

Penatalaksanaan

Setelah diagnosis pasti dilakukan, pengobatan meliputi terapi metotreksat, operasi terbuka
atau laparoskopi, atau manajemen hamil. Bagi pasien yang secara medis tidak stabil atau
mengalami penyakit yang mengancam jiwa, perawatan bedah segera diindikasikan. Bagi
orang lain, pilihan terapi harus didasarkan pada preferensi pasien setelah diskusi mengenai
risiko, manfaat, dan persyaratan pemantauan dari semua pendekatan.6

Pengobatan

Metotreksat, antagonis asam folat yang menghambat sintesis DNA dan replikasi sel, pertama
kali digunakan untuk mengobati kehamilan ektopik pada tahun 1982 dan sekarang menjadi
agen yang paling umum. Digunakan untuk pengobatan medis. Mekanisme tindakannya
adalah membunuh sel sitotrofoblastik secara selektif (sel yang membelah dengan cepat di
lokasi implantasi tabung nekroskopis), yang secara alami diserap oleh tubuh. Seleksi pasien
penting saat perawatan medis digunakan untuk kehamilan ektopik. Prediktor umum
kegagalan pengobatan dengan metotreksat mencakup kantung kehamilan lebih besar dari 3,5
cm, adanya aktivitas kardiovaskular embrio, adanya darah bebas di peritoneum, tingkat
progesteron tinggi, dan tingkat β-hCG awal yang tinggi. Dari jumlah tersebut, kadar β-hCG
paling prediktif terhadap kegagalan pengobatan; tingkat keberhasilan menurun seiring
konsentrasi β-hCG awal meningkat.6

Gambar 2. Tingkat keberhasilan dengan metrotrexat.

Metotreksat dikontraindikasikan pada pasien dengan berbagai kondisi, termasuk yang


memiliki bukti kompromi sistem kekebalan tubuh, kerusakan organ yang memetabolisme
metotreksat (hati dan ginjal), atau kondisi medis yang dapat diperburuk dengan pengobatan,
seperti penyakit ulkus peptik aktif atau asma parah. Untuk alasan ini, wanita yang sedang
dipertimbangkan untuk pengobatan metotreksat harus diskrining dengan darah lengkap,
pengukuran tingkat kreatinin serum, dan tes fungsi hati dan ginjal, selain pengukuran tingkat
β-hCG. Pasien juga harus stabil secara hemodinamik dan bersedia mengikuti follow up
setelah perawatan.6

Gambar 3. Kontraindikasi metrotrexat.

Follow up. Setelah pemberian metotreksat, tingkat β-hCG harus turun paling sedikit 15% dari
hari ke 4 sampai hari ke 7 setelah injeksi. Namun, tidak jarang tingkat β-hCG pada awalnya
dataran tinggi atau sebelumnya meningkat mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh terus
produksi β-hCG dari sinsitiotrofoblas, meskipun penghancuran sitotrofoblast. Jika tingkat β-
hCG tidak turun paling sedikit 15% dari hari ke 4 sampai hari ke 7 setelah injeksi, atau jika
naik atau naik setelah minggu pertama setelah injeksi, kegagalan pengobatan harus
diasumsikan. Dalam kasus ini, pemberian metotreksat tambahan atau intervensi bedah
diperlukan. Setelah penurunan 15% terjadi, kadar β-hCG harus dipantau mingguan sampai
mereka mencapai nol. Ini memakan waktu lima minggu, tapi mungkin memakan waktu
hingga tujuh minggu.6

Pembedahan

Pilihan bedah meliputi salpingectomy atau salpingostomy, dilakukan dengan laparoskopi atau
laparotomi. Laparotomi disediakan untuk pasien dengan perdarahan intraperitoneal ekstensif,
atau visualisasi panggul yang buruk pada saat laparoskopi. Bagi pasien yang ingin
mempertahankan kesuburan di masa depan, salpingostomy lebih disukai. Namun,
salpingostomy dapat menyebabkan evakuasi yang tidak adekuat dan gejala rekuren. Oleh
karena itu, setelah pasien menjalani salpingostomy, penting untuk memeriksa tingkat β-hCG
setiap minggu. dasar untuk memastikan bahwa ia mencapai nol.6

Manajemen Ibu Hamil

Manajemen ekspektasi adalah alternatif untuk pasien dengan tingkat β-hCG rendah dan
menurun, tidak ada bukti massa ektopik yang divisualisasikan oleh ultrasonografi
transvaginal, dan gejala minimal. Sebuah percobaan terkontrol acak yang baru-baru ini
diterbitkan menemukan bahwa Penatalaksanaa alternatif pengobatan dengan metotreksat
sistemik dalam rejimen dosis tunggal, tanpa perbedaan tingkat keberhasilan pengobatan
primer dan tidak ada efek samping yang serius. pasien harus menerima konseling ekstensif
mengenai risiko pecah tuba dan kebutuhan untuk pengawasan ketat. Karena Ada risiko ruptur
tuba bahkan dengan kadar hCG rendah atau menurun, pengukuran harus diperoleh setiap 48
jam untuk memastikan penurunan. Setelah penurunan dikonfirmasi, Tingkat harus diukur
setiap minggu sampai mencapai nol. manajemen hamil harus dihentikan jika pasien
mengalami peningkatan nyeri perut atau jika tingkat β-hCG meningkat. Penelitian lebih
lanjut diperlukan sebelum manajemen hamil secara rutin direkomendasikan sebagai
pengobatan untuk kehamilan ektopik.6
Daftar Pustaka

1. Chunningham, F., Gary., Gant, F., Norman., Leveno, J., Kenneth., et all. Obstetri
Williams. Ed.21. Jakarta: EGC; 2005
2. Prawirohardjo S, Wiknjosastro H. Ilmu kandungan. Edisi 4 cetakan 3.Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2013
3. Florin-Andrei Taran, Karl-Oliver Kagan, Markus Hübner, dkk. Continuing Medical
Education: The Diagnosis and Treatment of Ectopic Pregnancy. Dtsch Arztebl Int
2015; 112: 693–704
4. Martaadisoebrata Djamhoer, Wirakusumsah F Firman, Effendi S Jusuf. Obstetri
patologi ilmu kesehatan reproduksi edisi 3. Jakarta : EGC, 2012
5. Vanitha N Sivalingam, W Colin Duncan, Emma Kirk,dkk. Diagnosis and
management of ectopic pregnancy. J Fam Plann Reprod Health Care. 2011 October ;
37(4): 231–240.
6. Joshua H Barash, Edward M Buchanan,Christina Hillson.Diagnosis and
Managementof Ectopic Pregnancy. American Family Physician : July 1, 2014
Volume 90, Number 1

Anda mungkin juga menyukai