Anda di halaman 1dari 9

A.

Kelompok mikroorganisme yang bermanfaat dalam bioteknologi

1. Kelompok Mikroorganisme Bidang Pangan

Terdapat beberapa kelompok bakteri yang mampu melakukan proses fermentasi dan hal ini telah banyak diterapkan
pada pengolahan berbagi jenis makanan. Bahan pangan yang telah difermentasi pada umumnya akan memiliki masa
simpan yang lebih lama, juga dapat meningkatkan atau bahkan memberikan cita rasa baru dan unik pada makanan
tersebut. Beberapa makanan hasil fermentasi dari mikroorganisme dijelaskan dalam table berikut ini

tabel 2.1 kelompok mikroorganisme dalam bidang pangan

No. Nama produk atau makanan Bahan baku Bakteri yang berperan

1. Yoghurt susu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus

2. Mentega susu Streptococcus lactis

3. Terasi ikan Lactobacillus sp.

4. Asinan buah-buahan buah-buahan Lactobacillus sp.

5. Sosis daging Pediococcus cerevisiae

6. Kefir susu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus lactis

Beberapa spesies bakteri pengurai dan patogen dapat tumbuh di dalam makanan. Kelompok bakteri ini mampu
memetabolisme berbagai komponen di dalam makanan dan kemudian menghasilkan metabolit sampingan yang
bersifat racun. Clostridium botulinum, menghasilkan racun botulinin, seringkali terdapat pada makanan kalengan dan
kini senyawa tersebut dipakai sebagai bahan dasar botox.

2. Pembuatan antibiotik.

Antibiotik yaitu produk metabolisme yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu dengan sifat menghambat
pertumbuhan atau merusak mikroorganisme lain. Antibiotik digunakan untuk melawan infeksi-infeksi yang
disebabkan oleh mikroorganisme patogen (penyebab penyakit). Berikut ini adalah jenis-jenis mikroorganisme yang
dapat menghasilkan antibiotik.

Tabel 2.2 kelompok mikroorganisme yang bermanfaat dalam bidang farmasi

No. Mikroorganisme Antibiotik


Actinomycetes
1. Sterptomycetes griseus Streptomycin
2. Sterptomycetes erythareus Erythromycin
3. Sterptomycetes noursei Nystatin
4. Sterptomycetes nodosus Amphoetericin-B
5. Sterptomycetes niveus Novobiocin
Bakteri
6. Bacillus licheniforis Bacitracin
7. Bacillus polymyxa Polymxyn B
Jamur
8. Aspergillus fumigates Fumigilin
9. Penicillium notatum Penisilin
10. Penicillium griseofulvum Griseofulvin

3. Peranan Bakteri yang Menguntungkan dalam Bidang Industri

Bakteri digunakan dalam skala industri untuk menghasilkan berbagai macam untuk zat kimia, enzim, asam amino,
vitamin, dan substansi lain (Tiniew, 2012). Peranan bakteri yang menguntungkan dalam bidang industri dapat dilihat
pada tabel berikut (Intan, 2012):

Tabel 2.3 kelompok mikroorganisme yang bermanfaat dalam bidang industri


No Bakteri Produk Kegunaan
1. Clostridium Aseton-Butanol Pelarut : Pembuatan
asetobutylicum bahan kimia
2. Bacillus polymyxa Buthanedhiol Pelembab
Enterobacter aerogenes intermediat kimia

3. Gluconobacter Dihidroksiaseton Bahan Kimia halus


suboxydans
4. Pseudomonas sp Asam-2 Ketoglekunat Intermediet untuk
asam D-
araboaskorbat
5. Gluconobacter Asam 5-ketoglukonat Intermediet asam
suboxydans tartat
6. Lactobacillus Asam Laktat Produk pangan,
delbrueckii tekstil, dan
pe\mbuatan bahan
kimia,
menghilangkan kapur
dari kulit binatang
7. Bacillus subtillis Amilase bakteri Memodifikasi pati,
merekatkan kertas,
melepaskan perekat
pada tekstil
8. Bacillus subtilis Protase bakteri Memperhalus
struktur dan urat kulit
binatang, melepaskan
serat, penghilang
noda, pengempuk
daging
9. Leuconostoc Dekstran Stabilisator dalam
mesenteroides produk pangan,
pengganti plasma
darah
10. Gluconobacter Sarbose Pembuatan asam
suboxydans askorbat
11. Streptomycesalivaceus Kobalamin Pengobatan anemia
Propionibacterium pernisiosa, pelengkap
freudenreichii makanan, dan
makanan ternak
4. Bioteknologi dalam bidang Pertanian dan Lingkungan

Pertanian organik semakin berkembang dengan sejalan dengan timbulnya kesadaran akan petingnya menjaga
kelestarian lingkungan dan kebutuhan bahan makanan yang relatif lebih sehat.dalam pertanian organik yang tidak
meggunakan bahan kimia buatan seperti pupuk kimia buatan dan pestisida, biofertilizer atau pupuk hayati menjadi
salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan. Beberapa mikroba tanah seperti Rhizobium, Azaosprillium,
Azotobacter mikoriza perombak sellulosa dan efektif mikroorgnisme dapat dimanfaatkan sebagai biofertilizer pada
pertanian organik, biofertilizer tersebut fungsinya antara lain membantu penyediaan hara pada tanaman,
mempermudah penyediaan hara bagi tanaman membantu dekomposisi bahan organik, meyediakan lingkungn rhizosfer
sehingga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan dan produksi peningkatan tanaman. Berikut ini merupakan
mikroorganisme yang berperan dalam bidang pertanian dan lingkungan.

Tabel 2.4 kelompok mikroorganisme yang bermanfaat dalam bidang pertanian dan lingkungan
No Jenis Mikroorganisme Peran
1 Bacillus Thuringiensis Pathogen pada ulat (hama tanaman)
2 Feromon Insekta Menyebabkan sereangga kehilangan daya
seksualnya
3 Metanobacterium SP Membuat gas metana/menghasilkan biogas
4 Enterobacter Cloocae Pengurai limbah kromium
5 Thiobacillus Ferrotidans Memisahkan tembaga dengan bijihnya
6 Trichoderma Pseudokoningii Pengendali penyakit tanaman
7 Spirulina Matinga Mengikat CO2 diperairan
8 Chaetomium Cellulotyticus Memisahkan ikatan kimia selulosa
9 Pseudomonas Putida Menguraikan limbah minyak bumi
Candida Lyptica
10 Clostridium Bityrium Menghasilkan gas hitrogen sebagai bahan bakar
non polusi.

5. Bioteknologi dalam bidang pertambangan

Bakteri Thiobacillus Ferooksidans dapat memisahkan tembaga dari bijihnya hasil oksidasi senyawa besi dan belerang
dengan teknologi biomining. Dapat mengekstrak mineral dan bijih yang berkadar rendah.
Reaksi : CuSO4 + Fe -> Cu + FeSO4

B. Contoh Proses bioteknologi

1. Fermentasi Alkohol

Beberapa jasad renik seperti ragi, glukosa


dioksidasi menghasilkan etanol dan CO2 dalam
proses yang disebut fermentasi alkohol. Jalur
metabolisme proses ini sama dengan glikolisis
sampai dengan terbentuknya piruvat. Dua tahap
reaksi enzim berikutnya adalah reaksi perubahan
asam piruvat menjadi asetaldehida, dan reaksi
reduksi asetaldehida menjadi alkohol. Dalam reaksi pertama piruvat didekarboksilasi diubah menjadi asetaldehida
dan CO2 oleh piruvat dekarboksilase, suatu enzim yang tidak terdapat dalam hewan. Reaksi dekarboksilase ini
merupakan reaksi yang tak reversible, membutuhkan ion Mg2+ dan koenzim tiamin pirofosfat. Reksi berlangsung
melalui beberapa senyawa antara yang terikat secara kovalen pada koenzim. Dalam reaksi terakhir, asetaldehida
direduksi oleh NADH dengan enzim alkohol dehidrogenase, menghasilkan etanol. Dengan demikian etanol dan CO2
merupakan hasil akhir fermentasi alkohol, dan jumlah energi yang dihasilkan sama dengan glikolisis anaerob, yaitu
2 ATP.

2. Fermentasi Asam Laktat

Fermentasi asam laktat banyak dilakukan oleh fungi dan bakteri tertentu digunakan dalam industri susu untuk
membuat keju dan yoghurt. Aseton dan methanol merupakan beberapa produk samping fermentasi mikroba jenis
lain yang penting secara komersil. Dalam fermentasi asam laktat, piruvat direduksi langsung oleh NADH untuk
membentuk laktat sebagai produk limbahnya, tanpa melepaskan CO2. Pada sel otot manusia, fermentasi asam laktat
dilakukan apabila suplay oksigen tubuh kurang. Laktat yang terakumulasi sebagai produk limbah dapat
menyebabkan otot letih dan nyeri, namun secara perlahan diangkut oleh darah ke hati untuk diubah kembali menjadi
piruvat.

Bakteri asam laktat mampu mengebah glukosa menjadi asam laktat. Bakeri tersebut adalah Laktobbacillus,
Streptococcus, Leuconostoc, Pediococcus dan Bifidobacterium. Ada 2 kelompok fermentasi asam laktat, yaitu
homofermentatif dan heterofermentatif. Homofermentatif menggunakan glikolisis melalui jalur EMP dan
heterofermentatif menggunakan glikolisis melalui jalur HMP.

a. Fermentasi Asam Laktat Homofermentatif


Bakteri asam laktat homofermentatif menghasilkan mayoritas asam laktat dengan sedikit produk samping, yaitu
gliserol, etanol, asetat, format dan CO2. Bakteri asam laktat homofermentatif mengoksidasi glukosa menjadi 2 asam
piruvat melalui jalur EMP. Pada jalur itu menghasilkan 2 ATP. NADH yang dihasilkan pada jalur itu dipakai untuk
mereduksi piruvat menjadi asam laktat. Adanya produk samping, karena bakteri asam laktat homofermentatif
mempunyai berbagai enzim yang dapat mengubah piruvat menjadi etanol dan CO2, asetat, format, serta laktat. Jika
piruvat tidak segera diubah menjadi produk di atas, NADH dipakai untuk mereduksi dihidroksi aseton fosfat menjadi
gliserol.

b. Fermentasi asam laktat Heterofermentatif


Pada fermentasi asam laktat heterofermentatif bakteri yang dikibatkan adalah bakteri gram positif yang tidak
membentuk spora dan dapat memfermentasikan karbohidrat untuk menghasilkan asam laktat, yakni umumnya
menggunakan bakteri Leuconostoc dan Streptococcus. Bakteri asam laktat heterofermentatif selain menghasilkan
asam laktat juga menghasilakn CO2, etanol (umumnya), dan asam asetat. Hal tersebut disebabkan karena mereka
mengoksidasi glukosa menjadi asam piruvat dan asetil fosfat melalui HMP. Piruvat kemudian direduksi menjadi
asam laktat, sedangkan asetil fosfat kemudian direduksi menjadi etanol. Pada heterofermentatif, tidak ada aldolase
dan heksosa isomerase tetapi menggunakan enzim fosfoketolase dan menghasilkan CO2. Metabolisme
heterofermentatif dengan menggunakan heksosa (golongan karbohidrat yang terdiri dari 6 atom karbon) akan
melalui jalur heksosa monofosfat atau pentosa fosfat Pada jalur berikut menghasilkan 1 ATP. Reaksi keseluruhannya
sebagai berikut. (Anonim, 2011)

Urutan reaksi pada jalur tersebut yaitu pertama-tama glukosa akan difosforilasi menjadi Glukosa 6-fosfat dengan
bantuan heksokinase. Glukosa 6-fosfat menjadi 6-Fosfoglukonolakton dengan bantuan 6-fosfat dehidrogenase
(terjadi pembentukan NADPH). 6-Fosfoglukonolakton direduksi (didehidrasi) menjadi 6-fosfoglukonat dengan
bantuan laktanase. 6-Fosfoglukonat didekarboksilasi menjadi Ribulosa 5-fosfat yang dibantu oleh 6-Fosfoglukonat
dehidrogenase (terjadi pembentukan NADPH). Kemudian, Ribulosa 5-fosfat diisomerasi menjadi Xilulosa 5-fosfat
dengan bantuan Ribulosa 5-fosfat epimerase. Xilulosa 5-fosfat dipecah menjadi Gliseraldehid 3-fosfat dan Asetil
fosfat yang dibantu oleh fosfoketolase. Pada Gliseraldehid 3-fosfat akan diubah menjadi piruvat kemudian akan
menjadi asam laktat yang dibantu oleh laktat dehidrogenase, sedangkan pada Asetil fosfat akan dipecah menjadi
Asetaldehid dan Asetat (jarang terjadi). Pada Asetaldehid fosfat akan kembali dipecah menjadi Etanol.

Bakteri Streptococcus mutans mempunyai kemampuan dalam memfermentasi glukosa menjadi asam laktat
(heterofermentatif) dalam suasana aerob. Pada kondisi aerob NADH dioksidasi menjadi NAD+ dengan bantuan
oksigen dan NADH oksidase. Oleh karena itu, terdapat perubahan produk, etanol diubah menjadi asetil KoA dan
kemudian menjadi asetat. Perubahan asetil KoA menjadi asam asetat menghasilkan ATP. Jamur Rhizopus oryzae
juga mempunyai kemampuan memfermentasi karbohidrat (pati dan glukosa) menjadi etanol dan asam laktat secara
aerob. (Purwoko, 2007)
3. Fermentasi Propionat

Propionat merupakan produk akhir fermentasi gula dan


pati. Sebagian besar energi yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan produksi laktosa diperoleh dari
propionat. Bahan dengan kandungan karbohidrat mudah
terfermentasi sehingga menghasilkan propionat dan
butirat relatif lebih tinggi daripada asetat. Propionat
dianggap lebih efisien sebagai sumber energi karena
fermentasi dalam produksi propionat menghasilkan
lebih sedikit gas metan dan karbondioksida. Propionat,
asetat, dan karbon dioksida merupakan produk utama
dari fermentasi laktat, glukosa dan gliserol oleh
Propionibacterium, Veillonella, Bacteroides, dan
beberapa Clostridium spp. Hipotesis awal menyatakan
bahwa langkah awal fermentasi propionat adalah
dehidrasi laktat menjadi akrilat. Akrilat kemudian
diredukasi menjadi propionat. Rute tersebut teramati
pada Clostridium propionicum, Bacteroides rumocola, dan Peptostreptococcus. Pada Propionibacterium dan
Veillonella pembentukan propionat melalui rute yang lebih kompleks. (Purwoko, 2007)

a. Pada Clostridium propionicum


Clostridium propionicum mampu memfermentasi asam laktat menjasi asetat (melalui jalur asetil KoA) dan propionat
(memlalui jalur akrilil KoA) dan menghasilkan 1 ATP. Satu molekul laktat didehidrogenasi menjasi piruvat oleh
laktat dehidrogenase. Piruvat didehidrogesi dan dekarboksilasi menjadi asetil KoA oleh piruvatferedoksin
oksidoreduktaase. Gugus fosfat menggantikan gugus KoA oleh fosfotransasetilase, sehingga Asetil KoA diubah
menjadi asetil fosfat. Asetil fosfat didefosforilasi (dikopling dengan sintesis ATP) menjadi asetat oleh asetatkinase.
Pada jalur tersebut menghasilkan 1 ATP, 1 CO2, dan 4 elektron. Empat elektron dipakai untuk mereduksi 2 molekul
laktat menjadi 2 molekul propionat. Gugus KoA (berasal dari propionil KoA) ditransfer ke laktat oleh KoA
transferase, sehingga menjadi laktil KoA. Laktil KoA terdehidrasi menjadi akrilil KoA. Reaksi itu dikatalis oleh
akrililase. Akrilil KoA direduksi menjadi propionil KoA oleh pripionil KoA dehidrogenase. Propionil KoA diubah
menjadi propionat.

b. Pada Propionibacterium
Propionibacterium memfermentasi laktat, triosa, dan heksana menjadi propionat (jalur suksinat propionat), asetat
(jalur asetil KoA), dan karbon dioksida. Tiga molekul laktat diubah menjadi tiga molekul piruvat oleh laktat
dehidrogenase. Satu molekul piruvat diubah menjadi satu molekul asetat sama seperti C. propionicum. Fermentasi
laktat menjadi asetat menghasilkan 2 elektron dan perubahan 2 molekul laktat menjadi 2 molekul piruvat
menghasilkan 6 elektron. Delapan electron tersebut dipakai untuk mereduksi piruvat menjadi propionat. Piruvat
dikarboksilasi (berasal dari dekarboksilasi metilmalonil KoA) menjadi oksaloasetat oleh transkarboksilase. Reduksi
oksaloasetat menjadi malat oleh malat dehidrogenase. Malat dihidrasi menjadi fumarat oleh fumarase. Fumarat
direduksi menjadi suksinat oleh fumarat reduktase. Transfer gugus KoA (berasal dari propionil KoA) ke suksinat,
sehingga menjadi suksinil KoA. Reaksi itu dikatalis oleh suksinil KoA transferase. Rearansemen suksinil KoA
menjadi metal malonil KoA oleh transkarboksilase, sehingga menjadi propionil KoA. Propionil KoA diubah menjadi
propionat. Secara teoritis rasio
Tampak bahwa reduksi piruvat menjadi suksinil KoA merupakan rute pada jalur reduktif-asam sitrat. Jadi, boleh
dikatakan bahwa fermentasi propionat pada Propionibacterium melalui jalur reduktif-asam sitrat. Produksi propionat
dan asetat dapat ditingkatkan, jika gas CO2 diturunkan.

4. Fermentasi Butirat

Fermentasi butirat dilakukan oleh Clostridium sp. yang merupakan bakteri penghasil spora heterogenus sebagai
sakarolitik dan proteolitik. Tergolong bakteri anaerob. Berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ujung
bulat, herukuran 0,7 mikron x 5,0 terpisah-pisah, berpasangan dalam rantai pendek; kadang-kadang membentuk
filamen pañjang, dapat bergerak secara aktif. Spora berbentuk bulat telur, eksentrik atau sub-terminal membentuk
clostridium. Bersifat gram positif yang dapat berubah menjadi gram negatif. Mengubah susu lakmus menjadi asam,
cepat menggumpal dan kehilangan warna. Tumbuh baik pada suhu antara 30° dan 37° C. Dapat dikucilkan dan keju,
susu yang asam, bahan-bahan nabati berpati yang mengalami fermentasi Asam butirat dan dan tanah. Dalam
fermentasi menghasilkan asam butirat, asam cukak, butanol dan isopropanol.
Clostridium proteolitik sangat penting untuk mendekomposisi anaerob yang disebut putrefaction. Clostridium
butyricum mampu memfermentasi karbohidrat menjadi butirat dengan produk lain seperti gas hidrogen, karbon
dioksida, dan sedikit asetat.

Glukosa dipecah menjadi piruvat melalui EMP (menghasilkan 4 elektron dan 2 ATP). Piruvat didekarboksilasi oleh
piruvatferedoksi eksidoreduktase menjadi asetil KoA dan CO2 . H2 diperoleh dari aktivitas oksidasi hidrogenase
terhadap feredoksin. Dua molekul asetil KoA dan CO2 berkondensasi menghasilkan asetoasetil KoA dengan
bantuan asetil KoA asetiltransferase. Asetoasetil KoA direduksi menjadi Beta-hidroksibutiril KoA oleh
dehidrogenase. Beta-Hidroksibutiril KoA didehidrasi menjadi krotonil KoA oleh krotonase. Krotonil KoA direduksi
menjaadi butiril KoA oleh butiril KoA dehidrogenase. Penggantiaan gugus KoA oleh fosfat mengakibatkan butiril
KoA menjadi butiril fosfat. Reaksi tersebut dikatalisis oleh fosfotransbutirilase. Butiril fosfat didefosforilasi
menjadi butirat oleh butirat kinase.

Clostridium tyrobutyricum mampu memproduksi butirat dan asetat dari glukosa. Untuk menurunkan produksi asetat,
gen pta yang mengkode aseta kinase dapat dihilangkan. Meskipun gen pta dihilangkan tetapi Clostridium
tyrobutyricummasih mampu menghasilkan asetat.
Bakteri rumen Butyrivibrio fibrisolvens mampu memfermentasi glukosa menjadi butirat. Fermentasi glukosa
menjadi butirat oleh Butyrivibrio fibrisolvensmelalui jalur yang sama dengan Clostridium. Pada fase pertumbuhan
tinggi (fase eksponensial) glukosa difermentasi menjadi butirat, asetat, H2, dan CO2 . Asetat merupakan produk
samping dan diperoleh dari fosforilasi asetil KoA menjadi asetil fosfat oleh fosfotransasetilase. Asetil fosfat
kemudian didefosforilasi menjadi asetat oleh asetat kinase.

Ketika sel masuk ke fase statis dan kandungan butirat tinggi, terjadi fermentasi glukosa dan pentosa menjadi aseton.
Selain itu, terjadi konsumsi butirat asetaat menjadi butanol dan etanol.
Glukosa dan pentosa diglikolisis menjadi piruvat yang kemudian didekarboksilasi menjadi asetil KoA oleh
piruvatferedoksin oksidoreduktase. Kondensasi 2 molekul asetil KoA menjadi asetoasetil KoA oleh transasetilase.
Asetoasetat dipecah menjadi aseton dan CO2 oleh asetoasetat dekarboksilase. Gugus KoA dari asetoasetil KoA
ditransfer ke butirat atau asetat, sehingga menjadi butiril KoA atau asetil KoA. Reaksi tersebut dikatalisis oleh
asetoasetil KoA-butirat atau asetat-KoA transferase. Butiril KoA direduksi menjadi butiraldehid oleh butiraldehid
dehidrogenase, kemuadian direduksi menjadi butanol oleh butanol dehidrogenase. Sedangkan asetil KoA direduksi
menjadi asetildehid oleh asetildehid dehidrogenase, kemudian direduksi menjadi etanol.

Peran Fermentasi Butirat untuk menghambat pertumbuhan kanker kolorektal. Kolon (usus besar) merupakan bagian
akhir dari saluran pencernaan yang terletak setelah usus halus, terdiri dari kolon sebelah kanan (kolon asenden),
kolon sebelah tengah atas (kolon transversum) dan kolon sebelah kiri (kolon desenden). Rektum merupakan saluran
diatas dubur. Bagian kolon yang berhubungan dengan usus halus disebut caecum, sedangkan bagian kolon yang
berhubungan dengan rektum disebut kolon sigmoid. Kolon berbentuk sebuah tabung (lumen) yang dilapisi oleh sel-
sel khusus yang disebut sel-sel epitel kolonik. Sel-sel ini selalu membelah diri secara teratur, dan kanker kolon
mungkin terjadi jika proses pembelahan sel-sel epithelial mengalami penyimpangan. Kanker yang menyerang kolon
disebut kanker kolon dan kanker yang menyerang rectum disebut kanker rectum (rectal). Kanker yang menyerang
kedua bagian ini disebut kanker kolorektal. Seperti kanker lainnya, kanker kolorektal tumbuh relatif cepat, dapat
menyusup (infiltrasi) dan merusak jaringan disekitarnya serta menyebar (metastasis) ke organ yang lebih jauh dari
tempat asal tumbuhnya melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah. Penanganan yang tidak tepat pada
akhirnya akan menyebabkan kematian. Di Amerika Serikat, kanker kolorektal menempati urutan ke-4 dari kanker
yang paling sering menyerang pria setelah kanker kulit, prostat dan paru-paru. Pada wanita, kanker kolorektal juga
menempati urutan ke-4 setelah kanker kulit, payudara dan kanker paru-paru (National Cancer Institute – NCI, 2006).
Fermentasi prebiotik oleh mikroflora di dalam saluran pencernaan akan menghasilkan berbagai komponen yang
bermanfaat terhadap kesehatan inangnya. Salah satu dari komponen tersebut adalah asam butirat, yang masuk dalam
kelompok asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid – SCFA).
Butirat menunjukan kemampuan untuk menghambat pertumbuhan kanker kolorektal. Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa butirat dapat menghambat pertumbuhan sel-sel kanker kolorektal dengan cara menghambat
proliferasi sel, serta meningkatkan kemampuan diferensiasi dan apoptosis sel. Jenis karbohidrat akan mempengaruhi
jumlah produksi SCFA. Secara in vitro diketahui bahwa peningkatan konsumsi pangan kaya serat seperti fraksi kulit
atau sekam (bran) dari gandum, oat, barley, jagung dan beras, serat kedelai ekstrak sayuran, dan serat pea akan
meningkatkan produksi SCFA pada fekal manusia. Kemampuan fermentasi (tingkat dan kecepatan fermentasi
karbohidrat sangat beragam). Sebagai contoh, pektin dilaporkan tingkat fermentasi pektin mencapai 97% sementara
tingkat fermentasi selulosa dan kulit (sekam, bran) maizena hanya 6-7%. Komponen wheat bran yang terfermentasi
kurang dari 50%, sementara psyllium berkisar antara 20 – 50% dan oat bran mencapai 96%. Makin besar (sempurna)
tingkat fermentasi dari suatu polisakarida, maka jumlah SCFA yang dihasilkan akan semakin besar. Inkubasi fluida
yang mengandung 30 mg glukosa, pectin dan selulosa/ml akan menghasilkan total SCFA berturut-turut sebesar 220,
172, dan 23 mmol/l. Selain itu, tingkat fermentasi yang tinggi biasanya memiliki waktu fermentasi yang lebih cepat

.
5. Fermentasi Asam Campuran

Enterobacteriaceae (Escherichia, Enterobacter, Salmonella, Klebsiella, dan Shigella) memfermentasikan glukosa


menjadi campuran asam asetat, format, suksinat, etanol, CO2, dan H2. Semua produk diperoleh dari fosfoenol
piruvat (PEP) atau lebih tepatnya suksinat dari PEP, sedang yang lainnya dari piruvat (piruvat diperoleh dari PEP).

Suksinat diperoleh dari karboksilasi PEP melalui jalur reduktif-asam sitrat (jalur suksinat). PEP diubah menjadi
oksaloasetat oleh PEP karboksilase. Perubahan oksaloasetat menjadi suksinat melalui rute dan melibatkan enzim
yang sama seperti pada perubahan oksaloasetat menjadi pada fermentasi propionat untuk bakteri Propionibacterium.
Laktat diperoleh langsung dari reduksi piruvat oleh laktat dehidrogenase. Format diperoleh dari pemecahan piruvat
(hasil lain adalah asetil KoA), kemudian dapat diubah menjadi CO2 dan H2. Asetil KoA dapat diubah menjadi etanol
maupun asetat.

Lactobacillus helveticus memfermentasi sitrat dan laktosa menjadi laktat. Akan tetapi, jika laktosa ditiadakan, terjadi
perubahan produk fermentasi, yaitu menghasilkan asetat dan suksinat, bukan laktat. Asetoin dan diasetil tidak
terdektesi pada produk fermentasi Lactobacillus helveticus. Produksi asetat dari piruvat (hasil konversi sitrat)
diperantai oleh NADH oksidase, bukan asetat kinase.

C. Keuntungan penerapan bioteknologi


Secara umum bioteknologi dikembangkan untuk kesejahteraan umat manusia. Meningkatnya populasi manusia dan
menipisnya Sumber Daya Alam yang ada membuat manusia mau tidak mau harus menciptakan sesuatu yang baru yang
dapat dengan cepat diperoleh dengan meminimalisir dampak negatif yang mungkin timbul (Adisan jaya, 2012).
Pemanfaatan Bioteknologi bagi kehidupan manusia dintaranya digunakan dalam bidang:

a. Bidang Pertanian

Di bidang pertanian, bioteknologi diantaranya berperan dalam:

1. Pembentukan tumbuhan tahan hama


2. Pembuatan tumbuhan yang mampu menambat nitrogen
3. Mengendalikan serangga perusak tanaman budidaya
4. Pembiakan tanaman unggul tahan hama
5. Mengatasi produksi bibit yang sama dalam jangka waktu singkat
6. Mengatasi terbatasnya lahan pertanian
b. Bidang Kesehatan

Dalam bidang kesehatan, baik bioteknologi konvensional maupun bioteknologi modern memiliki peranan yang
sangat besar. Melalui bioteknologi, berbagai produk obat-obatan, vaksin, antibodi dan hormon ditemukan, misalnya
penicilin dan hormon insulin. Beberapa penyakit menurun atau kelainan genetik dapat disembuhkan dengan cara
menyisipkan gen yang kurang pada penderita, cara ini dikenal dengan istilah terapi gen

c. Bidang lingkungan
Pencemaran lingkungan merupakan salah satu isu global yang marak dibicarakan saat ini. Tingginya tingkat
pencemaran akan berdampak serius terhadap kelangsungan hidup umat manusia.
Di bidang lingkungan, bioteknologi diantaranya berperan dalam:

1. Menghasilkan energi berupa bahan bakar yang ramah lingkungan, misalnya etanol dan biogas (gas metana)
2. Pengolahan berbagai macam limbah, misalnya limbah industri, limbah plastik dan pencemaran air yang
disebabkan oleh minyak melalui bioremediasi.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa, Bioteknologi adalah usaha terpadu dari berbagai
disiplin ilmu pengetahuan, seperti Mikrobiologi, Genetika, Biokimia, Sitologi, dan Biologi Molekuler untuk mengolah
bahan baku dengan bantuan mikroorganisme, sel, atau komponen selulernya yang diproleh dari tumbuhan atau hewan
sehingga menghasilkan barang dan jasa. Peranan mikroorganisme dalam bioteknologi, yaitu dalam bidang pangan,
dalam bidang pertanian, dalam bidang kedokteran dan farmasi, dalam bidang lingkungan (bioremediasi), dan dalam
bidang pertambangan (biometalurgi).

3.2 Penutup

Demikian yang dapat saya paparkan mengenai Bioteknologi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya
masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi
yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.