Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI

Pemeriksaan Kadar Flavonoid Total Ekstrak sebagai Kuersetin


dan Penentuan Kadar Quersetin
Rabu, 15 November 2017

Disusun Oleh :

ATHARIA REFI KHAIRANI NASUTION


260110160102
SHIFT C

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
I. Tujuan
1.1 Menentukan kadar flavonoid ekstrak dengan metode kolorimetri
aluminium klorida.
1.2 Menguji adanya kandungan kuersetin dalam ekstrak dengan metode
KLT.

II. Prinsip
2.1 Kolorimetri, kuersetin akan bereaksi dengan AlCl 3 membentuk
kompleks warna. Hasil warna dari pencampuran ekstrak uji dengan
AlCl 3 dibandingkan dengan warna kompleks kuersetin dengan AlCl
3 (Chang,2002).
2.2 Spektrofotometri, senyawa satu dengan lainnya memiliki daya serap
gelombang cahaya berbeda-beda, sehingga dapat diidentifikasi
dengan menembakkan sinar tampak dan melihat absorbansi senyawa
terhadap sinar tersebut (Adeeyinwo, 2013).
2.3 KLT, setiap senyawa memiliki kepolaran yang berbeda-beda, dengan
eluen yang tepat, senyawa-senyawa dapat terpisah dan diidentifikasi
dalam KLT (Abidin, 2011).

III. Mekanisme Reaksi


Prinsip penetapan kadar flavonoid metode aluminium klorida adalah
terjadinya pembentukan kompleks antara aluminium klorida dengan gugus
keto pada atom C-4 dan gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang
bertetangga dari golongan flavon dan flavonol. Senyawa yang digunakan
sebagai standar pada penetapan kadar flavonoid ini adalah quersetin,
karena quersetin merupakan flavonoid golongan flavonol yang memiliki
gugus keto pada atom C-4 dan juga gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-
5 yang bertetangga (Azizah, et al, 2014).

IV. Teori Dasar


Karena peningkatan penggunaan obat herbal di seluruh dunia dan
produk herbal membuat pasar global digunakan secara global, keamanan
dan kualitas tanaman obat dan produk herbal jadi menjadi perhatian utama
bagi otoritas kesehatan, farmasi dan masyarakat (Pathik, et al., 2011).
Berbagai penelitian dan pengembangan yang memanfaatkan
kemajuan teknologi juga dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu dan
keamanan produk yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan
terhadap manfaat obat bahan alam tersebut (Anam, 2013).
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai, kemudia semua atau hampir semua pelarut diuapkan
dan massa yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku
yang telah ditentukan (Depkes RI, 1995).
Mutu simplisia dan ekstrak berkaitan dengan kandungan metabolit
sekunder dalam tanaman. Metabolit sekunder adalah senyawa kimia hasil
biogenesis dari metabolit primer yang bukan merupakan senyawa penentu
kelangsungan hidup secara langsung tetapi lebih sebagai hasil mekanisme
pertahanan diri organism, umumnya dihasilkan tumbuhan tingkat tinggi.
Kadar metabolit sekunder memegang peran penting karena perbedaan
kandungan senyawa secara teoritis akan memberikan aktivitas
farmakologi berbeda untuk setiap ekstrak. Aktivitas ini dapat secara
sinergis dan dapat pula antagonis bila terjadi interaksi (Lisdawati, 2008).
Sejumlah tanaman obat yang mengandung flavonoid telah
dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus,
antradang, antialergi dan antikanker. Efek antioksidan senyawa ini
disebabkan oleh penangkapan radikal bebas melalui donor atom hidrogen
dari gugus hidroksil flavonoid. Flavonoid menjadi perhatian karena
peranannya bersifat obat dalam pencegahan kanker dan penyakit
kardiovaskular (Hamka, 2013).
Prinsip penetapan flavonoid dengan metode kolorimetri AlCl3
adalah pembentukan kompleks antara AlCl3 dengan gugus keton pada
atom C-4 dan juga dengan gugus hidroksil pada atom C-3 atau C-5 yang
bertetangga dari flavon dan flavonol. Sehingga metode ini dapat
digunakan untuk menentukan jumlah flavonoid golongan flavon dan
flavonol (Desmiaty, 2009).
Klasifikasi senyawa flavonoid ada beberapa macam. Pertama
flavonoid o-glikosida yaitu senyawa tersebut terdapat 1 gugus hidroksil
flavonoid terikat pada satu gula dengan ikatan hemiasetat yang tidak tahan
asam. Kedua, flavonoid c-glikosida. Ketiga, flavonoid sulfat. Keempat,
biflavonoid. Kelima, yaitu aglikon flavonoid. Senyawa flavonoid adalah
suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada
tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol
dengan C- dan O-glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon C- dan
O-glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon,
proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-
glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon
juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya (Markham, 1988).
Spektofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur
energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau
diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer
menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu,
dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan
atau yang diabsorpsi (Neldawati dan Gusnedi, 2013).
Spektrum flavonoid biasanya ditentukan dalam larutan dengan
pelarut metanol atau etanol. Spektrum khas flavonoid terdiri atas dua
maksimal pada rentang 230-295 nm (pita II) dan 300-560 nm (pita I)
(Neldawati dan Gusnedi, 2013).
Sebagai pembanding dapat digunakan kuersetin yang merupakan
flavonoid golongan flavonol yang mempunyai gugus keto pada C-4 dan
memiliki gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang bertetangga dari
flavon dan flavonol (Cahyanta, 2016).
Pemisahan ekstrak dapat menggunakan teknik kromatografi lapis
tipis (KLT). Teknik ini merupakan suatu cara pemisahan komponen
senyawa kimia di antara dua fase, yaitu fase gerak dan fase diam. (Teknik
tersebut hingga saat ini masih digunakan untuk mengidentifikasi senyawa-
senyawa kimia, karena murah, sederhana, serta dapat menganalisis
beberapa komponen secara serempak. Teknik standar dalam
melaksanakan pemisahan dengan KLT diawali dengan pembuatan lapisan
tipis adsorben pada permukaan plat kaca. Tebal lapisan bervariasi,
bergantung pada analisis yang akan dilakukan (kualitatif atau kuantitatif)
(Eni dan May, 2005).
Di dalam isolasi senyawa, kromatografi sangat penting dan
fundamental untuk identifikasi, deteksi pemisahan, deteksi optimasi fase
gerak, deteksi kemurnian, dll. KLT akan memvisualkan senyawa-senyawa
yang terkandung dalam bahan sehingga bisa diketahui sifat-sifatnya
terutama polaritas (Saifudin, 2014).

V. Alat dan Bahan


5.1 Alat
a. Chamber KLT
b. Gelas kimia
c. Gelas ukur
d. Kertas saring
e. Pipet
f. Silika gel
g. Spektrofotometer UV-Vis
h. Stirrer

5.2 Bahan
a. AlCl 3
b. Amonia
c. Aquades
d. Asam asetat
e. Ekstrak kental
f. Etanol
g. Kuersetin
h. Natrium asetat
i. N-butanol
VI. Metode
6.1 Pembuatan larutan uji ekstrak
Ekstrak ditimbang sebanyak 1 g kemudian dilarutkan dalam 25 ml
etanol 95%.Campuran ekstrak dan etanol diaduk selama 2 jam
dengan menggunakan alat pengaduk pada kecepatan 200 rpm. Filtrat
disaring kemudian ditambahkan etanol 95% sampai 25ml.

6.2 Pembuatan larutan stok kuersetin


Kuarsetin baku ditimbang sebanyak 20 mg kemudian dilarutkan ke
dalam 100 ml etanol 96%.

6.3 Pembuatan kurva baku


Serangkaian larutan kuersetin dibuat dalam etanol dengan
konsentrasi 40, 60, 80, 100, dan 120 μg/mL (ppm). 0,5 mL larutan
diambil dari masing-masing konsentrasi dan dicampur dengan 1,5 mL
etanol 95%; 0,1 mL alumunium klorida 10%, 0,1 mL Natrium asetat
1M dan 2,8 mL aquadest. Campuran larutan diinkubasi pada suhu
kamar selama 30 menit. Setelah itu, diukur serapan dengan
spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang maksimum yaitu
438 nm. Dibuat kurva baku standar.

6.4 Penentuan jumlah flavonoid dari larutan uji ekstrak


0,5 mL ekstrak etanol sampel diambil lalu dicampurkan dengan 1,5
mL etanol 95%; 0,1 mL alumunium klorida 10%, 0,1 mL natrium
asetat 1M dan 2,8 mL aquadest. Campuran larutan diinkubasi pada
suhu kamar selama 30 menit. Setelah itu, diukur serapan dengan
spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang maksimum yaitu
438 nm. Jumlah flavonoid diukur dengan metode kolorimetri
alumunium korida.
6.5 Pengujian kualitatif kandungan kuersetin dalam ekstrak
Larutan ekstrak dan baku kuersetin ditotolkan masing-masing 1 cm
diatas plat KLT. Plat dikembangkan dalam chamber yang
mengandung 10 mL campuran n-butanol, asam asetat, dan air (4:1:5).
Plat dikeringkan dan dilihat di bawah sinar UV 254 dan 366 nm. Nilai
Rf sampel dihitung dan dibandingkan dengan Rf standar. Plat
ditempatkan pada chamber jenuh uap amonia, kemudian hasilnya
diamati. Jika hasil positif, akan terjadi perubahan bercak warna
menjadi kuning

VII. Hasil dan Perhitungan


7.1 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak

No. Perlakuan Hasil

1 Ekstrak ditimbang sebanyak 1 Diperoleh ekstrak


gram. sebanyak 1 gram.

2 Ekstrak dilarutkan dalam 25 ml Diperoleh ekstrak larut


etanol 95%. dalam etanol.
3 Larutan ekstrak dan etanol Diperoleh ekstrak yang
diaduk selama 2 jam dengan telah diaduk.
menggunakan alat pengaduk
pada kecepatan 200 rpm.

4 Larutan ekstrak disaring Diperoleh larutan


kemudian filtrate ditambahkan ekstrak etanol sebanyak
etanol 95% sampai 10 ml dalam 10 ml berwarna hijau
labu ukur. kecoklatan.

7.2 Pembuatan larutan stok kuersetin

No Perlakuan Hasil
Kuarsetin baku ditimbang sebanyak 20 Didapatkan larutan kuarsetin 200 ppm
1 mg kemudian dilarutkan ke dalam 100 berwarna kuning
ml etanol 96%.

7.3 Pembuatan kurva baku

No Perlakuan Hasil

1 Serangkaian larutan kuersetin dibuat dalam Diperoleh larutan baku dengan


etanol dengan konsentrasi 40, 60, 80, 100, berbagai konsentrasi.
dan 120 μg/mL (ppm).
2 0,5 mL larutan diambil dari masing-masing Diperoleh campuran larutan
konsentrasi dan dicampur dengan 1,5 mL berwarna kuning.
etanol 95%; 0,1 mL alumunium klorida
10%, 0,1 mL Natrium asetat 1M dan 2,8
mL aquadest.
3 Campuran larutan diinkubasi pada suhu Diperoleh larutan yang telah
kamar selama 30 menit. diinkubasi.
4 Larutan diukur serapannya dengan Diperoleh nilai absorbansi rata-
spektrofotometer uv-vis pada panjang rata:
gelombang 431 nm. 40 ppm = 0,2712
60 ppm = 0,3426
80 ppm = 0,46813
100 ppm = 0,605667
120 ppm = 0,731867
5 Dibuat kurva baku standar. Diperoleh persamaan
y = 0,0059x + 0,0101
R2 = 0,98949

7.4 Penentuan jumlah flavonoid dari larutan uji ekstrak

No Perlakuan Hasil

1 0,5 mL ekstrak etanol sampel diambil lalu Diperoleh 5 ml campuran larutan


dicampurkan dengan 1,5 mL etanol 95%; berwarna hijau kekuningan
0,1 mL alumunium klorida 10%, 0,1 mL
natrium asetat 1M dan 2,8 mL aquadest.
2 Campuran larutan diinkubasi pada suhu Diperoleh larutan yang telah
kamar selama 30 menit. diinkubasi
3 Diukur serapan dengan spektrofotometer Diperoleh nilai Absorbansi
uv-vis pada panjang gelombang 431 nm.

A1 = 0,5391
A2 = 0,5392
A3 = 0,5395
A’ = 0,5392
4 Jumlah flavonoid diukur dengan metode Diperoleh jumlah flavonoid
kolorimetri alumunium korida. sebesar 2,242%.

7.5 Pengujian kualitatif kandungan kuersetin dalam ekstrak

No Perlakuan Hasil

1 Larutan ekstrak dan baku kuersetin


ditotolkan masing-masing 2 cm dari
bawah plat KLT.

2 Plat dikembangkan dalam chamber


yang mengandung 10 mL campuran
n-butanol, asam asetat, dan air
(4:1:5).
3 Plat dikeringkan dan dilihat di bawah Diperoleh plat kering dan terdapat spot
sinar UV 254 nm. bercak
4 Nilai Rf sampel dihitung dan Diperoleh Rf sampel = 0,96 dan Rf
dibandingkan dengan Rf standar. baku = 0,94.

7.6 Perhitungan
 Pembuatan Kurva Baku
Tabel nilai absorbansi pada panjang gelombang 431 nm

C (ppm) A1 A2 A3 A'
40 0.2712 0.2712 0.2712 0.2712
60 0.3439 0.3415 0.3424 0.3426
80 0.4681 0.468 0.4683 0.468133
100 0.6057 0.6058 0.6055 0.605667
120 0.7334 0.7318 0.7304 0.731867

Ket:

C = Konsentrasi (ppm)

A1 = Absorbansi pertama

A2 = Absorbansi kedua

A3 = Absorbansi ketiga

A’ = Absorbansi rata-rata
Kurva Baku Larutan Kuarsetin
0.8
0.7
y = 0.0059x + 0.0101
0.6

Absorbansi
R² = 0.9895
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 20 40 60 80 100 120 140
Konsentrasi (ppm)

 Perhitungan Konsentrasi Larutan Sampel Ekstrak Etanol Daun Jati


Belanda
Absorbansi
A1 = 0,5391
A2 = 0,5392
A3 = 0,5395

A rata rata = = 0,5392

y = 0.0059x + 0.0101
ket :
y = Absorbansi
x = Konsentrasi (ppm)

0,5392 = 0.0059x + 0.0101


0,5291667 = 0.0059x
x = 89,6893 ppm

Konsentrasi larutan sampel ekstrak etanol = 89,6893 ppm.


 Perhitungan Jumlah Flavonoid Total

F1 =

Ket:
F1 = Jumlah flavonoid
C = Kesetaraan kuarsetin (g/ml)
V = Volume total ekstrak etanol (ml)
F = Faktor pengenceran
m = Massa sampel (g)

F1 =

= 2,242%

 Perhitungan Nilai Rf

Rf baku = = = 0,94

Rf sampel = = 0,96
VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan terhadap ektrstrak
yang telah dibuat di dalam laboratorium farmakognosi dan bahan alam
yaitu berupa ekstrak etanol dari daun jati belanda atau Guazuma
Ulmifolia. Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh denga cara
ekstraksi senywa aktif dari simplisia nabati maupun hewani menggunakan
pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan
dan massa yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku
yang telah ditentukan. Proses yang dilalui untuk mendapatkan ekstrak dari
suatu simplisia disebut dengan ekstraksi.
Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan kadar flavonoid total
ekstrak sebagai kuersetin dengan metode kolorimetri dan penentuan kadar
kuersetin dengan metode kromatografi latis tipis (KLT). Flavonoid
merupakan salah satu dari kandungan metabolit sekunder yang senyawa
tersebut hampir terkandung di semua tumbuhan. Flavonoid juga
merupakan metabolit sekunder yang memiliki banyak khasiat atau fungsi
yaitu sebagai antioksidan yang dapat menangkap atau mengikat radikal
bebas yang ada pada lingkungan karena mengandung gugus hidroksil
yang mampu menjadi donor hidrogen pada radikal bebas. Sedangkan
Kuersetin adalah flavonoid yang dapat ditemui di dalam berbagai buah,
sayur dan daun.
Hal pertama yang dilakukan yaitu dibuat larutan stok kuarsetin 200
ppm sebanyak 100 mL. Lalu dari larutan stok tersebut dilakukan
pengenceran sehingga didapat larutan baku quersetin dengan konsentrasi
120 ppm, 100 ppm, 80 ppm, 60 ppm dan 40 ppm. Alasan dilakukan
pengenceran yaitu untuk mendapatkan larutan baku quersetin dalam
berbagai variasi konsentrasi sehingga dapat dibuat kurva baku yang
memiliki regresi linier. Pengenceran juga dilakukan agar sampel tidak
terlalu pekat sehingga dapat diidentifikasi di spektrofotometer. Lalu
jumlah volume pengenceran yang dibuat tidak terlalu banyak disesuaikan
dengan kebutuhan pengamatan yang akan dilakukan agar tidak ada bahan
yang terbuang.
Setelah itu ke dalam beberapa gelas erlenmeyer dimasukkan 0,5 ml
larutan quersetin dengan berbagai konsentrasi lalu ditambahkan 0,1 mL
AlCl3, 0,1 mL kalium asetat, 1 mL etanol 95% dan 2,8 mL aquades.
Setelah itu, campuran larutan diinkubasi selama 30 menit pada suhu
ruang lalu diamati di spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang
maks 438 nm. Kurva kalibrasi dibuat dengan menghubungkan nilai
absorbansi sebagai sumbu y dan nilai konsentrasi baku quersetin sebagai
sumbu x.. Dari hasil pengukuran dan perhitungan didapat kurva baku
quersetin dengan y = 0,0059x + 0,0101.dan R² = 0.9895. Nilai R2 yang
baik menurut penelitian terbaru yaitu mendekati 1 Dengan begitu dapat
disimpulkan bahwa kurva baku yang dibuat dapat digunakan karena
memenuhi syarat validasi regresi linier. Nilai absorbansi yang digunakan
pada pembuatan kurva baku ini diambil dari absorbansi pada panjang
gelombang 431 nm pada alat spektrofotometer uv-vis.
Selanjutnya, dilakukan penentuan jumlah flavonoid dari larutan uji
ekstrak daun jati belanda. Pertama, 0,5 mL ekstrak etanol sampel diambil
lalu dicampurkan dengan 1,5 mL etanol 95%; 0,1 mL alumunium klorida
10%, 0,1 mL natrium asetat 1M dan 2,8 mL aquadest. Perlakuan ini sama
seperti perlakuan terhadap larutan baku kuarsetin karena keduanya akan
dibandingkan.
Alasan ditambahkannya AlCl3 yaitu agar terbentuk kompleks
berwarna biru antara AlCl3 dengan gugus keto pada atom C-4 dan gugus
hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang bertetangga dari golongan flavon
dan flavonon sehingga akan dapat diserap pada spektrofotometri UV-
Visibel. Panjang gelombang maksimal yang digunakan yaitu 438 nm
karena pada panjang gelombang tersebut dapat menyerap warna biru yang
dihasilkan oleh komplek AlCl3 dan quersetin secara maksimal.
Sedangkan penambahan kalium asetat berfungsi untuk mendeteksi adanya
gugus 7-hidroksil pada quersetin. Sebelum diamati di spektrofotometri
UV-Vis sampel diinkbasi terlebih dahulu agar reaksi dapat berjalan
sempurna sehingga memberikan intensitas warna yang maksimal, dengan
begitu cahaya yang diserap akan maksimal juga. Penambahan aquades
hanya sebagai pelarut agar didapat konsentrasi yang diinginkan.
Dalam menggunakan kuvet untuk uji spektrofotometri perlu
diperhatikan. Bagian kuvet yang boleh dipegang yaitu bagian yang agak
buram, jangan memegang bagian yang bening. Hal tersebut karena bagian
bening kuvet akan dilewati oleh sinar. Jika bagian bening dipegang
dengan tangan, dikhawatirkan ada kotoran atau lemak yang menempel
pada kuvet sehingga cahaya yang dilewatkan pada kuvet tidak dapat
menembus dan lewat pada larutan uji. Dengan begitu proses pengukuran
absorbansi akan terganggu.
Dari hasil pengukuran didapat nilai absorbansi rata-rata ekstrak
daun jati belanda yaitu 0,5392. Nilai tersebut merupakan nilai y.
Selanjutnya nilai y tersebut disubtitusikan pada persamaan yang didapat
pada pembuatan kurva baku untuk mendapatkan konsentrasi quersetin (C)
sebagai x. Dari hasil perhitungan didapat nilai konsentrasi sebesar
89,6893 ppm. Selanjutnya dihitung jumlah flavonoid yang terkandung
dalam ekstrak menggunakan rumus.

F1 =

F merupakan faktor pengenceran. Perlu dikalikan dengan faktor


pengencernya karena yang akan dihitung adalah kadar flavonoid total dari
sejumlah 1 gram ekstrak yang dilarutkan pada 25 mL etanol. Jika tidak
dikalikan dengan faktor pengencer, maka yang didapat hanyalah
kadar flavonoid yang terkandung dalam ekstrak yang telah diencerkan,
hasil yang diperoleh akan lebih kecil dan hal tersebut akan salah. Dari
hasil perhitungan didapat jumlah flavonoid dalam ekstrak sebesar 2,242%.
Menurut Farmakoper Herbal Indonesia kadar flavonoid total
ekstrak daun jati belanda seharusnya tidak kurang dari 3,20% dihitung
sebagai kuarsetin. Oleh Karena itu, sampel ekstrak daun jati belanda yang
digunakan pada pengujian ini belum memenuhi syarat.
Setelah ditentukan kadar flavonoid total, selanjutnya dilakukan
pengujian kualitatif kandungan kuersetin ekstrak dengan metode KLT.
Pada metode ini semakin dekat nilai Rf sampel dengan baku maka
semakin murni sampel yang digunakan. Biasanya metode KLT ini
digunakan untuk mengetahui apakah benar didalam suatu sampel itu
mengandung zat yang berada didalam baku atau standard dan biasanya
standard yang digunakan yaitu zat murni yang ingin dibandingkan dengan
sampel. Hal pertama yang dilakukan yaitu membuat eluen atau faase
gerak dari campuran n-butanol, asam asetat dan aquades dengan
perbandinga 4:1:5 yang dikembangkan dalam chamber. Eluen tersebut
harus dikembangkan terlebih dahulu sampai jenuh yang ditandai dengan
adanya uap yang menempel di dinding chamber dan apabila tangan
dimasukkan akan terasa hangat. Sampel dan baku kuarsetin ditotolkan
pada 2 cm dari bawah plat KLT. Penotolan larutan ekstrak dan baku
quersetin dilakukan menggunakan pipa kapiler agar sampel yang
ditotolkan jumlahnya tidak terlalu banyak. jika jumlah sampel yang
ditotolkan terlalu banyak, bentuk spot bisa menjadi tidak bulat sehingga
dapat mengganggu proses pengukuran Rf. Totolan antara baku dan
ekstrak diberikan jarak 0,7 cm agar titik antara ekstrak dengan baku tidak
bercampur. Plat KLT diletakkan ke dalam chamber berisi eluen dalam
posisi lurus. Hal ini dilakukan agar eluen yang bergerak naik hasilnya
sejajar agar mudah dihitung jarak spotnya. Spot dilihat dibawah sinar UV
pada panjang gelombang 254 nm kemudian diukur dan dihitunga nilai Rf
nya. Pada percobaan ini digunakan eluen yang bersifat polar sehingga
sampel atau zat yang diuji dapat tertarik bersama eluen. Nilai Rf adalah
nilai perbandingan antara jarak yang ditempuh sampel terhadap jarak
yang ditempuh pelarut, semakin besar nilai Rf maka sampel yang diujikan
semakin baik kualitasnya dan sebaliknya semakin kecil Rf maka semakin
buruk kualitas sampelnya.
Pada pengujian kali ini didapatkan nilai Rf untuk daun jati belanda
sebesar 0,96 dan nilai Rf baku kuarsetin sebesar 0,94. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa sampel ekstrak daun jati belanda mengandung
quersetin karena nilai Rf antara larutan ekstrak dan larutan baku kuarsetin
berdekatan.

IX. Kesimpulan
9.1 Dapat ditentukan kadar flavonoid ekstrak daun jati belanda dengan
metode kolorimetri aluminium klorida sebesar 2,242%. Hal ini tidak
sesuai dengan literature Farmakope Herbal Indonesia yang
seharusnya tidak kurang dari 3,20%.
9.2 Dapat diketahui adanya kandungan kuersetin dalam ekstrak daun jati
belanda dengan metode KLT dimana diperoleh Rf ekstrak sebesar
0,96 dan Rf baku kuarsetin sebesar 0,94.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2011. Analisis Pengukuran Kadar Larutan Temulawak Menggunakan


Metode TLC. Available at http://digilib.its.ac.id/ [diakses tanggal 10
November 2017].
Adeeyinwo, C.E., Okorie, N.N., dan Idowu, G.O. (2013). Basic Calibration of
UV/Visible Spectrophotometer. International Journal of Science and
Technology. 2(3): 247-251
Anam, Syariful, M. Yusran, Alfred T., Nurlina I., Ahmad K., Ramadanil, M.
Sulaiman Z. 2013. Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia
amara Blanco). Online Journal of Natural Science.Vol. 2 (3) : 1-8.
Azizah, Dyah Nur, dkk. 2014. Penetapan Kadar Flavonoid Metode AlCl 3 pada
Ekstrak Metanol Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.). Kartika Jurnal
Ilmiah Farmasi, 2 (2), 45-49 ISSN 2354-6565.
Cahyanta, Agung Nur. 2016. Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Daun Pare
Metode Kompleks Kolori dengan Pengukuran Absorbansi secara
Spektrofotometri. Jurnal Ilmiah Farmasi. Vol. 5 (1) : 58-61.
Chang, C., Yang. M., Wen, H & Chern, J., 2002, Estimation of Total Flavonoid
Content in Propolis by Two Complementary Colorimetric Methods. Journal of
Food and Drug Analysis. 10(3): 178-182.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Depkes RI.
Desmiaty, Yesi. 2009. Penentuan Jumlah Flavonoid Total Ekstrak Etanol Daun Buah
Merah secara Kolorimetri Komplementer. Tersedia online di
http://dosen.univpancasila.ac.id [diakses pada 1 Nov 2016 pukul 17.00 WIB].
Eni Hayani dan May Sukmasari. 2005. TEKNIK PEMISAHAN KOMPONEN
EKSTRAK PURWOCENG SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS.
Tersedia online di http://pustaka.litbang.pertanian.go.id/publikasi/bt10205k.pdf
[diakses pada 19 November 2017].
Hamka. 2013. Analisis Nilai Absorbansi dalam Penentuan Kadar Flavonoid untuk
Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat. Pillar of Physic. Vol 2 : 72-83.
Lisdawati, V. 2008. Karakterisasi Daun Miana dan Buah Sirih secara Fisiko Kimia
dari Ramuan Lokal Antimalaria Daerah Sulawesi Selatan. Media Litbang
Kesehatan. Vol 18 (4) : 213-225.
Markham, K.R. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung : ITB.
Neldawati, Ratnawulan dan Gusnedi. 2013. Analisis Nilai Absorbansi dalam
Penentuan Kadar Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat. Pillar
of Physics. Vol. 2 : 76-83.
Pathik, Patel, Patel N. M., Patel P. M. 2011. WHO Guidelines on Quality Control of
Herbal Medicines. IJRAP. Vol. 2 (4) : 1148-1154.
Saifudin, Aziz. 2014. Senyawa Alam Metabolit Sekunder Teori, Konsep dan Teknik
Pemurnian. Yogyakarta : Deepublish.

Anda mungkin juga menyukai