Anda di halaman 1dari 7

ANAMNESIS

IDENTITAS

1. Nama :
2. Jenis Kelamin :
3. Usia :
4. Pekerjaan :
5. Alamat :
6. Agama :
7. Status Perkawinan :
8. Suku/ Ras :

KU : Pucat kronis tanpa manifestasi perdarahan

RPS

1. Onset : Lama (kronis)


2. Intensitas :
3. Frekuensi :
4. Durasi :
5. Progresifitas :
6. Keparahan :
7. Sifat :
8. Faktor pencetus :
9. Faktor pereda :
10. Gejala penyerta : Mudah lelah, lemas, berdebar-debar, sering pusing, kadang dapat
ditemui sesak napas, Orang tua mengeluhkan adanya keterlambatan pertumbuhan, pada
bayi dan anak kecil ditemukan keterlambatan perkembangan psikomotor, pada usia lebih
lanjut dijumpai gangguan kognitif, iritabel & anoreksia (bila kadar Hb<5 g/dL)
11. Lokasi :
12. Penjalaran :

RPD
Infeksi malaria, infeksi parasit seperti ankylostoma dan schistosoma.

RIWAYAT KEBIASAAN

-Memakan bahan makanan yang kurag mengandung zat besi, bahan makanan yang menghambat
penyerapan zat besi seperti kalsium dan fitat (beras, gandum), serta konsumsi susu sebagai
sumber energi utama sejak bayi sampai usia 2 tahun (milkaholics)

-Gemar memakan makanan yang tidak biasa (pica) seperti es batu, kertas, tanah, rambut

PEMERIKSAAN FISIK

1. Tingkat kesadaran :
2. Kesan sakit :
3. Tekanan darah :
4. Nadi pasien :
5. Laju pernafasan :
6. Suhu pasien :
7. VAS :
8. BB :
9. TB :
10. IMT :
11. Status gizi :
12. Inspeksi dan palpasi kepala : Pucat (bila kadar Hb<7 g/dL), atrofi papil lidah, glositis,
stomatitis angularis
13. Inspeksi leher :
14. Inspeksi toraks :
15. Inspeksi abdomen :
16. Inspeksi ekstremitas : Dapat ditemukan koilonikia (perubahan pada epitel kuku)
17. Auskultasi abdomen :
18. Palpasi leher pasien :
19. Palpasi toraks pasien :
20. Palpasi abdomen pasien : Tidak ada organomegali
21. Palpasi ektremitas pasien :
22. Perkusi toraks : Gangguan jantung bila sudah terjadi komplikasi
23. Perkusi abdomen :
24. Auskultasi toraks : takikardia

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Darah lengkap yang terdiri dari: hemoglobin rendah; MCV, MCH, MCHC rendah. RDW
yang lebar dan MCV yang rendah merupakan salah satu skrining defisiensi besi.
- Nilai RDW tinggi >14.5% pada defisiensi besi, bila RDW normal (<135) pada
talasemia trait.
- Ratio MCV/RBC (Mentzer index) >>13 dan bila RDW index (MCV/RBC x
RDW) 220, merupakan tanda anemia defisiensi besi.
- Apusan darah tepi: mikrositik, hipokromik, anisositosis, dan poikilositosis.
2. Kadar besi serum yang rendah, TIBC meningkat, serum feritin <12 ng/mL
dipertimbangkan sebagai diagnosis defisiensi besi.
3. Nilai retikulosit normal atau menurun, menunjukkan produksi sel darah merah yang tidak
adekuat.
4. Serum Transferin Receptor (STfR): sensitif untuk menentukan defisiensi besi,
mempunyai nilai tinggi untuk membedakan anemia defisiensi besi dan anemia akibat
penyakit kronik.
5. Kadar zink protoporphyrin (ZPP) akan meningkat
6. Terapi besi: respon pemberian preparat besi dengan dosis 3 mg/kgBB/hari, ditandai
dengan kenaikan jumlah retikulosit antara 5-10 hari diikuti kenaikan kadar hemoglobin 1
g/dL atau hematokrit 3% setelah 1 bulan menyokong diagnosis anemia defisiensi besi.
Kira-kira 6 bulan setelah terapi, Hb dan Ht dinilai kembali untuk menilai keberhasilan
terapi.

TATALAKSANA

1. Mengatasi faktor penyebab. Penyebab defisiensi besi menurut umur:

Bayi kurang dari 1 tahun

1. Cadangan besi kurang, a.l. karena bayi berat lahir rendah, prematuritas, lahir kembar,
ASI ekslusif tanpa suplementasi besi, susu formula rendah besi, pertumbuhan cepat
dan anemia selama kehamilan.
2. Alergi protein susu sapi

Anak umur 1-2 tahun

1. Asupan besi kurang akibat tidak mendapat makanan tambahan atau minum susu
murni berlebih.
2. Obesitas
3. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis.
4. Malabsorbsi.

Anak umur 2-5 tahun

1. Asupan besi kurang karena jenis makanan kurang mengandung Fe jenis heme atau
minum susu berlebihan.
2. Obesitas
3. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis baik bakteri, virus ataupun
parasit).
4. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan (divertikulum Meckel / poliposis dsb).

Anak umur 5 tahun-remaja

1. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan(a.l infestasi cacing tambang) dan


2. Menstruasi berlebihan pada remaja puteri.

2. Pemberian preparat besi (Bertujuan untuk pencegahan atau terapi)


- Dosis profilaksis: diberikan jika SI masih menunjukkan batas normal atau
pada bayi berisiko tinggi mengalami anemia defisiensi besi. Dosis besi
elemental yang diberikan 1 mg/KgBB/hari
- Dosis terapeutik:
o Besi elemental 4-6 mg/KgBB/hari. Respon terapi dengan menilai
kenaikan Hb/Ht setelah satu bulan, yaitu kenaikan Hb sebesar 2 g/dL
atau lebih. ES antara lain mual, muntah, kolik abdomen.
o Intramuskular/IV: diberikan apabila respon terapi dengan besi oral
tidak baik atau kehilangan besi dalam waktu yang cepat. ES antara lain
mual, muntah, lemas, demam, nyeri kepala, sampai anafilaksis.
o Transfusi darah jarang diperlukan, hanya pada kelainan anemia yang
sangat berta dengan kadar Hb <4g/dL. Komponen darah yang diberi
PRC.

DIAGNOSIS

Kriteria diagnosis ADB menurut WHO:

-Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia

-Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata 31% (N: 32-35%)

-Kadar Fe serum <50µg/dL (N: 80-180 µg/dL)

-Saturasi transferin <15% (N: 20-50%)

Kriteria ini harus dipenuhi, paling sedikit keriteria nomor 1, 3 dan 4. Tes yang paling efisien
untuk mengukur cadangan besi tubuh yaitu ferritin serum. Bila sarana terbatas, diagnosis dapat
ditegakkan berdasarkan:

-Anemia tanpa perdarahan

-Tanpa organomegali

-Gambaran darah tepi mikrositik hipokromik, anisositosis, sel target

-Respon terhadap pemberian terapi besi

DIAGNOSIS BANDING

-Talasemia minor

-anemia krena penyakit kronik


PROGNOSIS

 Ad vitam :
 Ad functionam :
 Ad sanationam :

PENCEGAHAN

Primer:

1. Mempertahankan ASI eksklusif hingga 6 bulan

2. Menunda pemakaian susu sapi sampai usia 1 tahun

3. Menggunakan sereal/makanan tambahan yang difortifikasi tepat pada waktunya, yaitu sejak
usia 6 bulan sampai 1 tahun

4. Pemberian vitamin C seperti jeruk, apel pada waktu makan untuk meningkatkan absorbsi besi
serta menghindari bahan yang menghambat absorbsi besi seperti teh, fosfat, dan fitat pada
makanan.

5. Menghindari minum susu yang berlebihan dan meningkatkan makanan yang mengandung
kadar besi yang berasal dari hewani

Sekunder:

1. Skrining ADB:

-Skrining ADB dilakukan dengan pemeriksaan Hb atau Ht, waktunya disesuaikan dengan
BB lahir dan usia bayi. Waktu yang tepat masih kontroversial. American Academy of Pediatrics
(AAP) menganjurkan antara usia 9-12 bulan, 6 bulan kemudian, dan usia 24 bulan. Pada daerah
dengan risiko tinggi dilakukan tiap tahun sejak usia 1 tahun sampai 5 tahun.

-Skrining dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan MCV, RDW, feritin serum dan trial
terapi besi. Skrining dilakuakn sampai usia remaja.

-Nilai MCV yang rendah dengan RDW yang lebar merupakan salah satu alat skrining
ADB.
-Skrining yang paling sensitif, mudah dan dianjurkan yaitu zinc erythrocyte
protoporphyrin (ZEP)

-Bila bayi dan anak diberi susu sapi sebagai menu utama dan berlebihan sebaikinya
dipikirkan melakukan skrining untuk deteksi ADB dan segera memberi terapi.

2. Suplementasi besi

Dosis besi elementasi yang dianjurkan:

-Aterm: 1 mg/KgBB/hari, sejak usia 6 bulan

-BBLR:

1. 1500-2000 g: 2 mg/Kg/hari, diberikan sejak usia 2 minggu

2. 1000-1500 g: 3 mg/Kg/hari, diberikan sejak usia 2 minggu

3. <1000 g: 4 mg/Kg/hari, diberikan sejak usia 2 minggu

3. Bahan makanan yang sudah difortifikasi seperti susu formula untuk bayi dan makanan
pendamping ASI seperti sereal