Anda di halaman 1dari 25

PT.

CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

BAB I. PENDAHULUAN

I.A. KLASIFIKASI UDANG VANNAMEI


Kingdom : Animalia
Phylum : Anthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Malacostraca
Subclass : Eumalacostraca
Super Order : Eucarida
Order : Decapoda
Suborder :Dendrobranchiata
Super Family : Penaeoidea
Family : Penaeidae
Genus : Penaeus
Species : Litopenaeus vannamei
Old Name : Penaeus vannamei
New Name : Litopenaeus vannamei
(Dr. Isabel Perez, Dr Brian Kensley, 1997)

I.B. SEJARAH BUDIDAYA UDANG VANNAMEI


Berikut adalah sejarah budidaya udang Litopenaeus Vannamei di Indonesia, dan di CP Prima.
Litopenaeus vannamei adalah species asli lautan Pasifik
1978 - 1979 : Budidaya dengan kepadatan rendah di Ekuador
1992 : Texas, mulai dikembangkan fry SPF
1997 : Taiwan, masuk induk SPF dari Hawai
1998 : China, Hainan, impor induk SPF dari Hawai
2001 : Masuk Indonesia (Jawa Timur), dan petambak profit tinggi.
2002 : CP group impor induk Hawaii
2005 : CP group akuisisi SIS (Shrimp Improvement System) Hawaii

I.C. CIRI - CIRI DAN SIFAT UDANG VANNAMEI


1. Warna bening kecoklatan atau kehitam-hitaman.
2. Kulit licin, lebih tipis dari udang windu.
3. Jika stress berwarna putih kapas.
4. Meloncat jika ada kejutan cahaya.
5. Kanibalisme rendah.
6. Tempat hidup di kolom volume air.
7. Suka mengaduk dasar kolam (active detritivore)
11. Bersifat omnivora dan continous feeder

I.D. POLA BUDIDAYA VANNAMEI


1. Metode budidaya Tertutup (Closed System), air yang masuk selalu ditreatment.
2. Size panen bisa mencapai: 25 ekor/kg
3. Pola budidaya dan padat penebaran :
Tradisional : < 10 ekor / m2
Trad. Plus : 10 - 25 ekor / m2
Semi Intensif : 25 - 70 ekor / m2

1
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
Intensif : >70ekor / m2
4. Penerapan panen parsial
5. Pertumbuhan (ADG ) : 0,17 – 0,25 gram/hari
6. Umur budidaya : 90 - 120 hari
7. Pakan : IRAWAN
8. Penerapan Probiotik dan feed additive
9. Biaya produksi udang : Rp 40.000 - Rp 50.000 /kg

BAB II. PERSYARATAN BUDIDAYA

II.A. BIOSECURITY
Definisi:
Mencegah masuknya penyakit kedalam sistem budidaya udang dengan mencegah adanya carrier
/ pembawa penyakit serta mencegah penyebaran penyakit dari kolam yang
sudah terinfeksi.

CARRIER PENANGANAN

a. Pencuci tangan dan pencuci sepatu tiap petak tambak dengan


desinfectan/alkohol
Manusia
b. Membatasi tamu untuk tidak melihat udang di anco
c. Pemahaman terhadap konsep biosecurity ke semua karyawan tambak
Pemasangan senar diatas kolam (BSD), senar no 400-500 jarak antar senar 20 cm
Burung

a. Pemasangan pagar plastik (CPD) di sekeliling kolam setinggi 50 cm dan ditanam


sedalam 15 cm
Kepiting b. Pemasangan screen / saringan 1000 mikron
c. Sterilisasi tandon dengan crustacide diawal persiapan sebanyak 1 ppm

a. Hindari penggunaan alat secara bersama, setiap petak mempunyai peralatan kerja.
b. Sterilisasi Jala / alat setelah dipakai (Kalium Permanganat 100 ppm)
c. Setiap kendaraan yang masuk lokasi tambak harus masuk deep wheel Desinfectan.
Alat

a. Close system, penambahan air harus melalui sterilisasi terlebih dahulu di tandon.
treatment
Air
b. DOC 1 – panen clorine 20 ppm (aktive)

a. Udang <5 gr: Flush out (crustacide 1,5 ppm) ditahan selama lebih dari 3x24 jam
Outbreak WSSV b. Udang >5 gr: Dua-tiga jam sebelum dipanen didesinfeksi dengan potasium
monopersulfat 1 ppm atau clorine 10 ppm

II.B. KEBUTUHAN KINCIR UNTUK BUDIDAYA VANNAMEI


Syarat Oksigen Terlarut selama budidaya adalah > 4 ppm.
Kebutuhan Kincir :
1. Sebelum budidaya menentukan jumlah kincir yang dibutuhkan.
Satu unit kincir untuk mengcover : 200-250 m2 luas dasar tambak.
2. Selanjutnya menentukan jumlah benur yang dibutuhkan.
Satu unit kincir untuk mengcover 25.000-30.000 ekor benur.
3. Pada saat proses budidaya.
Satu Unit kincir untuk mengcover 300-350 kg biomass udang.

Kincir rangkai:
Untuk kincir rangkai putaran minimal adalah 70 rpm pada siang hari dan 90 rpm pada malam hari.
Satu lengan kincir rangkai (8-10 daun) : untuk mengcover 700 – 800 kg biomass udang

2
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

BAB III. PERSIAPAN TAMBAK DAN TEBAR BENUR

III.A. PERSIAPAN LAHAN


Definisi:
Merupakan tahap lanjutan setelah tambak selesai dilakukan pemanenan.
Persiapan tambak dilakukan pada kolam budidaya dan tandon sebagai penyuplai
kebutuhan air selama kegiatan budidaya berlangsung.

Membutuhkan waktu lebih kurang 10 hari, terhitung dari selesai panen sampai
menjelang masuk pengisian air ke tambak budidaya,
tergantung tipe dasar kolam, ketersediaan tenaga dan cuaca.

TIME TABLE 1 PERIOD CULTURE

POND PREPARATION WATER INTAKE WATER PREPARATION CULTURE PERIOD


HARVEST PERIOD

Day -55 Day -45 Day -14 DOC 1 DOC 110 DOC 120

Perlakuan Persiapan lahan untuk berbagai konstruksi tambak :

Dasar Dasar Dasar


Parameter Keterangan
Tanah Semen Plastik
Pengeringan lahan Ya Ya Ya kering retak (dasar tanah), plastik dan semen kering
Pengangkatan lumpur Ya Ya Ya semua lumpur terbuang sampai bersih
sebelum dan sesudah pengapuran (dasar tanah) nilai redoks
Cek Redoks Potensial Ya Tidak Tidak
minimal +50 mV
sesuai hasil pengecekan redoks. Untuk tambak semen
Pengapuran Ya Ya Tidak pengapuran sebanyak 1 ton/ha

Pembajakan / singkal Ya Tidak Tidak melintang dan membujur sedalam 5-15 cm untuk dasar tanah
Perbaikan lahan/Repair Ya Ya Ya tidak ada kebocoran/porositas lahan
Perbaikan BSD+CPD Ya Ya Ya sudah terpasang sebelum sterilisasi
Pembersihan & perbaikan Ya Ya Ya

3
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
Form Check List Persiapan lahan:
PT. Central Proteina Prima, TBK.
Pemilik Tambak : Kontruksi Kolam : Luas Kolam :

Area/Sub area : No. Kolam : Alamat Tambak :

TARGET /
No AKTIVITAS TANGGAL YA TIDAK KETERANGAN
STANDART

1 Pengeringan dasar kolam Lumpur k ering

2 Pembuangan lumpur Dasar Bersih

3 Pembajakan tanah Selesai

Pengecekan Redoks Potensial Menentukan dosis


4
Nilai redoks: Kapur
Pengapuran:
5 Selesai
Kapur Gamping
-
- Kapur Kaptan Selesai

- Kapur D olomit Selesai

6 Perataan dan pemadatan tanah Selesai

7 Setting kincir :
Sesuai kebutuhan
- Pemasangan kincir dikolam
- Pemasangan kabel dan kontraktor Sesuai kebutuhan

8 Pemasangan meter air/water lev el Selesai

9 Persiapan secchi disc Selesai

10 Persiapan anco Selesai

11 Pemasangan strimin filter inlet Selesai

12 Pemasangan papan pintu Outlet Selesai

13 Pemasangan senar BSD Selesai

14 Pemasangan terpal CPD Selesai

15 Pegisian air : Selesai, 120 cm


- Kolam Tandon
- Kolam Budida ya Selesai, 120 cm

Dilaporkan oleh : Mengetahui :


( ) ( )

4
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

Form Check List Persiapan Air dan Tebar benur :


PT. Central Proteina Prima, TBK.
Pemilik Tambak : Kontruksi Kolam : Luas Kolam :
Area/Sub area : No. Kolam : Alamat Tambak :

TARGET /
No AKTIVITAS TANGGAL YA TIDAK KETERANGAN
STANDART
1 Pegisian air :
- Kolam Tandon Selesai, 120 cm
- Kolam Budidaya Selesai, 120 cm
2 Aplikasi Kuprisulfat (tot
Alk/100)+0,5ppm
3 Aplikasi Crustacide 1 ppm
4 Aplikasi Klorin 20 ppm
5 Aplikasi pupuk Fermentasi 2x seminggu
6 Cek kualitas air dan plankton 2 hari sebelum
tebar
7 Bioassay benur 7 hari setelah
Crustacide
8 Benur datang
Rata / variasi
- Cek Visual variasi ukuran benur
- Cek Visual keaktivan benur Aktiv / lemas
-
Hitung jumlah benur kantong Jumlah benur
-
sample
Hitung jumlah bok dan jumlah Sesuai SJ
karton
9 Tebar Benur
Sesuai kolam
- Aklimatisasi suhu dan salinitas
- Tebar Benur Selesai
Dilaporkan oleh : Mengetahui :

( ) ( )

5
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

III.B. PERSIAPAN TANDON


Dalam satu set modul ada tandon dan tambak budidaya, tandon harus :
1.Bisa dioperasionalkan terpisah antara modul satu dengan modul yang lainnya dan
bisa saling mensupplay melewati saluran inlet.
2.Tandon harus disediakan central drain / siphon untuk membuang lumpur central (flush out).
3.Tandon minimal 30% volume (minimal 2 unit tandon) tambak budidaya dan
ganti air minimal 600% selama budidaya.
4.Cegah porositas seluruh tambak (tandon & budidaya), untuk efiensi biaya dan
mengurangi goncangan air.

III.C. PERSIAPAN TAMBAK KOLAM TANAH


1. Penjemuran kolam tidak tergenang air, sampai lumpur/tanah bisa diangkat
2. Pembersihan & perbaikan peralatan : kincir, kabel, saringan / strimin, paralon dll.
3. Perbaikan kebocoran & kelandaian kolam
4. Buang lumpur sampai bersih, sampai kelihatan tanah dasar, bagian yang tidak kering
diberi clorine 100 ppm (aktif).
5. Cek potensial Redoks (standart minimal : +50 mV)
6. Pengapuran menggunakan kapur CaO sebanyak 50% dari dosis,
bajak melintang, kapur CaO 50%, sisanya lalu dibajak membujur.
7. Ada jeda 5 hari setelah pengapuran sebelum isi air penuh
8. Dosis kapur CaO per Ha :
a. apabila nilai redoks dibawah -110 mV (ex: -115 mV, -150 mV)
maka dosis pengapuran berdasarkan rumus sbb:

Rumus: ((50-(pengukuran mv))/10) x 375 kg

b. Jika setelah pembuangan lumpur, redoks lahan tanah lebih dari -110 mV
(ex: -50 mV, +20 mV, +100 mV) dosis CaO yang digunakan sebanyak 6 ton/ha.

c. Pemasangan saringan pada inlet&central drain.


c. Strimin ukuran 1.000 mikron (hijau, panjang 2 mtr) dipasang ujung pipa
pompa laut yang masuk ke tandon.
d. Strimin ukuran 300 mikron (warna putih) sepanjang 2 m dipasang di
masing-masing pipa masuk ke kolam (inlet) atau talang air.
9. Jika sebelumnya ada riwayat terinfeksi WSSV / IMNV dilakukan perendaman dasar,
ketinggian air 20 cm dengan clorine 100 ppm disiram-siramkan merata ke tanggul.
10. Pengisian air sampai 120 -130 cm, pada semua kolam tandon dan kolam budidaya.

III.D. PERSIAPAN AIR


Langkah-langkah persiapan air sebagai berikut:
1. Pengisian air (kolam budidaya dan tandon)
Pengisian air sampai ketinggaian 120-130 cm
2. Sterilisasi air
Definisi :
Merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mensterilkan tambak dari bibit penyakit
yang terdiri dari inang, carrier maupun predator dalam kolamdengan meggunakan bahan kimia.
Sterilisasi dalam satu sistem (tambak budidaya, tandon dan outlet) sebaiknya dilakukan dalam
waktu yang bersamaan dan dimulai dari tempat yang lebih tinggi.

6
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

3. Tahap-tahap Sterilisasi air :


1) Aplikasi Kuprisulfat segera setelah setiap kolam penuh diisi air,
dengan Dosis = (alkalinitas total/100)+0.5 ppm)
untuk membunuh trisipan / tritip /molusca / lumut / BGA (per kolam budidaya)
2) Aplikasi Crustacide 1 ppm, hari ke 2 untuk membunuh udang liar & kepiting
3) Aplikasi Clorine 20 ppm (aktif) pada hari ke 3 untuk desinfektan,
Jika pH air lebih dari 8,0 maka perlu penurunan pH

4. Menumbuhkan Plankton
Definisi :
Merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan plankton (zoo dan phyto)
dengan jumlah tertentu serta menkondisikan kualitas air tambak agar memenuhi
syarat-syarat teknis yang dibutuhkan sebelum dilakukan pe nebaran benur.

Tindakan yang dilakukan adalah pemupukan dengan pupuk organik yang dibuat sendiri
dengan cara fermentasi (peragian).
Pemberian fermentasi dimulai hari ke-5 preparasi, setiap 2 hari sekali sampai tumbuh plankton
dan terbentuk warna air.
Setelah tebar benur fermentasi tetap dilakukan 2x seminggu sampai doc 2 minggu dari tebar.
Bahan Fermentasi Per-Hektar
1) Dedak halus 10 kg,
2) Ragi roti 150 gr, direndam dalam air tawar
3) Peram selama 48 jam, tanpa aerasi.
Untuk mempercepat tumbuh phytoplankton, aplikasi Super-NB mulai hari ke-4
setelah desinfeksi clorine dengan dosis 0,5 ppm 2x seminggu.

5. Bioassay
Definisi :
Merupakan suatu kegiatan untuk menguji apakah air tambak sudah netral dari residu
bahan sterilisasi, dan siap untuk dilakukan penebaran benur.

Cara Bioassay :
Hari ke-10 setelah aplikasi crustacide, ambil sampel air setiap petak untuk dicek di
laboratorium kualitas air, untuk di analisa kualitas airnya.
Lalu dilakukan bioassay dengan cara sbb :
Ambil air dalam timba dari masing-masing petak, masukan 25 ekor benur sehat kedalam air
tersebut.
Amati setelah 12 jam, air disebut aman ditebari jika SR 100% tanpa aerasi dan tanpa pakan.

6. Sipon sebelum penebaran benur


Siphon dilakukan di semua petak yang akan ditebari benur , 2 – 3 hari sebelum tebar.
Siphon ini untuk membersihkan dasar dari sisa-sisa bahan organik dan
lumpur saat sterilisasi dan persiapan air.

III.E. SETTING POSISI KINCIR


Tujuan setting posisi dan arah kincir :
1. Perataan sebaran DO, Suhu dan perlakuan
2. Centralisasi lumpur/ limbah

7
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
3. Efektifitas suplay DO

Prinsip dasar setting kincir

1. Ditarik garis diagonal kolam.


2. Ring 1(central 8-10 m) menjadi acuan ring selanjutnya, ring terluar 5 mtr dari dasar tanggul.
jarak antar ring menyesuaikan luas kolam, luas kolam 2500-3500 m2 jarak antar ring 10-14 m.
3.Jarak antar kincir maksimal 25m.
Arah Kincir diatur mengumpulkan lumpur di sentral dan meminimalisir dead zone

III.E.1. POSISI SETTING KINCIR KOLAM BUJUR SANGKAR (luas 60 x 60 = 3.600 m2)

5m

8 - 10 m

60m

8 - 10 m

5m

5m 5m
60m

8
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

III.E.2. POSISI SETTING KINCIR KOLAM PERSEGI PANJANG (luas 90 x 60 = 3.600 m2)

III.E.3. POSISI KINCIR TERLUAR 5 METER DARI DASAR TANGGUL

III.F. TEBAR BENUR VANNAMEI


Definisi :
Proses memasukan benur dari hatchery ke kolam budidaya yang merupakan penanda
diawalinya kegiatan budidaya (doc 1)

Penebaran benur :
1. Pemasangan hapa (3x4m) dipasang 40-50 cm dari permukaan air.
Pengecekan hapa dilakukan 10-12 jam dari penebaran.
2. Pengecekan kualitas air kantong benur (DO, suhu, pH, salinitas)
3. Penghitungan sampel benur dilakukan sebelum penebaran
(minimal 2 kantong per kode secara acak)
4. Aklimatisasi
Kantong yang datang dimasukkan kedalam kolam dalam kondisi masih terikat
(agar oksigen tidak lepas),
kantong disiram-siram sampai mengembun (suhu kantong = suhu air tambak), lalu ditebar.
Jika perbedaan salinitas antara tambak dan hatchery tinggi (> 5 ppt),
perlu aklimatisasi salinitas dengan Membuka kantong kemudian secara bertahap
memasukkan air tambak ke dalam kantong.

4. 5. Jika selisih salinitas antara kolam dengan hatchery lebih dari 10 ppt,
maka penebaran dilakukan dengan konicle tank.
9
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

PT CENTRAL PROTEINA PRIMA, Tbk


STANDART KUALITAS AIR
BUDIDAYA VANNAMEI

1. Kedalaman air : isi air pertama, min 120 cm


: saat tebar, min 100 cm
: saat budidaya, 100- 130 cm
2. Salinitas : optimal 15 - 25 ppt
3. Disolved Oxygen : > 4 ppm
4. pH pagi : 7,5 - 8,0
sore : 8,0 - 8,4 range pagi-sore < 0.5
total 120 - 150
5. Alkalinitas : ppm
: bicarbonat > 80 ppm
6. Total hardness : > 4000 ppm
Ca Hardness : > 1200 ppm
7. TAN : 0.005 - 0.2 ppm
8. Ammonia : < 0,1 ppm
9. NO2 : < 0,1 ppm
10. H2S : < 0.01 ppm
11. Total Organik (TOM) : < 80 ppm
12. PO4 : 0.5 - 1 ppm
13. Transparansi : 25 - 35 cm budidaya
: < 60 cm saat tebar
14. Plankton : Clorophyta dan/ diatom 50 -90%
: Cyanophyta < 10%
: Dinoflagellata <5%
: Zooplankton < 10 %
15. Total Bakteri : >10 x TVC cfu/ml
16. Total Vibrio : < 3 x 103 cfu/ml
17. Total Vibrio Kuning : < 1 x 103 cfu/ml
18. Total Vibrio Hijau : < 1 x 102 cfu/ml
19. Total Vibrio luminescence : 0 cfu/ml

PENGUKURAN DAN PENGAMBILAN SAMPEL KUALITAS AIR


* Diukur tiap hari ( Pagi dan Sore ) : Tinggi air, pH, Transparansi, Suhu, Salinitas
* Diukur Malam hari (jam 21.00 - 22.00) : DO
tempat pengukuran : kemungkinan tempat yg terendah DO nya termasuk
feeding area, 10 - 20 cm dr dasar kolam
Diukur rutin 5-7 hari sekali: Plankton, alkalinitas, TAN, Nitrit, TBC, TVC, PO4,
* Hardness.
Note : pagi (sebelum matahari terbit), sore (sebelum matahari terbenam).

BAB IV. MANAJEMEN KUALITAS AIR

Definisi :
Merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kualitas air tambak yang
memenuhi syarat-syarat teknis untuk budidaya udang berdasarkan data kualitas air yang ada.

* Kegiatan manajemen air juga tidak dapat dipisahkan dengan manajemen pakan
dan manajemen dasar kolam dengan kata lain ketiga hal tersebut saling berkaitan .
10
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

IV.A. PROGRAM PERGANTIAN AIR


IV.A.1. TANDON / RESERVOAR / WADUK
1. volume tandon treatment 30% ( minimal 2 kolam)
2. Bahan Sterilisasi tandon :

Klorin (bahan aktif) 20 ppm ( masa rilis 24 - 96 jam) DOC 1 - PANEN

3. Waktu perlakuan pada saat pH rendah ( pH semakin netral semakin bagus) `

IV.A.2. PERGANTIAN AIR


1. Pergantian air berasal dari air tandon yang telah siap pakai.
2. Pergantian air harus selalu menyesuaikan dengan kondisi kestabilan kualitas air.
3. Total pergantian air dalam 1 siklus budidaya minimal 600 %.
4. Pergantian (pengisian) air sebaiknya dilakukan maksimal 1 cm/jam.

DOC % pergantian air* % pergantian/hari**

<30 hari 10 3
31-60 hari 30 6
60 - 90 hari 40 8
> 90 hari 20 4

*) pergantian air dari 600%


**) prosentase pergantian air dari tinggi air petakan.

IV.B. OPERASIONAL KINCIR


Kincir dihidupkan nonstop menurut umur sbb:
Umur (hari) SIANG MALAM Keterangan
Sterilisasi air 100% minimal 2 jam
Pembentukan plankton 50% 50% kincir bergantian
1 - 15 50%* 100%
16 - PANEN 100% 100%
*) jumlah kincir yang hidup, dibulatkan kelipatan 4 keatas terdekat.

IV.C. MANAJEMEN DASAR TAMBAK


Manajemen dasar kolam bisa dilakukan dengan :
IV.C.1 Buka Pipa Outlet
Adalah mengeluarkan endapan lumpur didasar kolam dengan cara mengeluarkan
air dari tengah kolam melalui saluran pipa (central drainage).

Umur Frekuensi Buka Pipa Out Let

Sebelum tebar Dilakukan sebelum sipon pertama

doc > 15 hari Sebelum pakan dan setelah cek anco (sampai airnya bersih)
Note: Ukuran pipa sentral disesuaikan dengan luas kolam

11
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
IV.C.2. Siphon
1. Pemetaan Lumpur
- Adalah kegiatan untuk memastikan posisi lumpur di dasar kolam.
- Hasil dari pemetaan lumpur bisa digunakan untuk evaluasi tata letak kincir

2. Siphon
- Adalah mengeluarkan endapan lumpur didasar kolam dengan suatu alat
(selang penghisap) yang dibisa diarahkan dan digerakkan secara fleksibel,
baik dengan tenaga mesin pompa atau gravitasi.
- Waktu sipon dilakukan siang hari antara jam pakan pertama - kedua
Jadwal siphon sbb:
Frekuensi Lama siphon
Umur Keterangan
seminggu (jam)
Sebelum tebar H -3
15 - 20 pemetaan lumpur
21 - 30 2X < 2 jam
31 - 60 3X < 2 jam
61 - panen 4X < 2 jam Frekuensi siphon kondisional

3. Aplikasi setelah Siphon


- Setelah siphon aplikasi Super PS di area central 0,25 - 0,5 ppm dan zeolit/kaptan
sebagai pengikat.

12
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
PROGRAM PROBIOTIK BUDIDAYA UDANG VANNAMEI CP PRIMA
UNTUK LUAS Per 1 Ha

JENIS PROBIOTIK (Liter, Kg)


UMUR
Fermentasi Sp.NB Sp.PS Bio Solution Pond Plus Pond Detox
Persiapan Fermentasi 10
Minggu 1 Fermentasi 10
Minggu 2 Fermentasi 10
Minggu 3 10 2,5
Minggu 4 10 2,5 0,5
Minggu 5 5 2,5 0,5
Minggu 6 5 2,5 0,8
Minggu 7 5 5 0,8
Minggu 8 5 5 0,8
Minggu 9 5 5 2,5 0,8
Minggu 10 5 5 2,5 0,8
Minggu 11 5 10 5 0,5
Minggu 12 5 10 5 0,5
Minggu 13 5 10 5 0,8
Minggu 14 5 10 5 0,8
Minggu 15 10 5 0,8
Minggu 16 10 5 0,8
Minggu 17 10 5 0,8
TOTAL 100 100 40 5 5
Note:
- Dalam kondisi cuaca yang tidak kondusif atau plankton tidak stabil perlakuan
Bio Solution bisa digantikan dengan perlakuan Super NB
- Vitamin C dan Vetegrad 3-5 gr/kg pakan, sehari sekali , mulai umur 15 hari
- Omega Protein dicampur pakan, 10 ml/kg pakan, sehari sekali, mulai umur 15 hari.
- Biklin dicampur pakan, 10 ml/kg pakan, sehari sekali, mulai umur 20 hari.
- Super lacto hasil peram dicampur pakan 100 ml/kg pakan

13
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
MATERIAL DAN EFEKNYA 1.

MATERIAL FUNGSI EFEK SAMPING Pengaruh terhadap Plankton

Bila terlalu banyak akan merubah


parameter kualitas air ( pH, Suhu, Salinitas,
Media hidup organisme dsb. ) terutama bila parameter kualitas air Goncangan parameter kualitas air
budidaya. Pengenceran sumber berbeda dengan air kolam. Bila dapat menyebabkan plankton
Air
plankton, probiotik dan kualitas air sumber tidak baik, akan drop/mati atau sebaliknya tergantung
biokimia air kolam. menyebabkan terjadinya perubahan kondisi parameter kualitas air sumber.
kondisi lingkungan parameter kualitas air
kolam berubah.

Ca CO3 dapat mengikat CO2 yang


Penebaran di kolom air dapat
dibutuhkan untuk fotosintesa
mengganggu proses fotosintesa plankton.
plankton, sehingga bila terlalu banyak
Bisa digunakan untuk meningkatkan Ca
Desinfeksi dasar kolam dan akan menyebabkan plankton
Ca CO 3 (Kaptan) Hardness. Mematikan sebagian probiotik
kolom air, Bufer pH drop.Dan ukuran butiran yang halus
yang ada di kolom air dan di dasar
akan lebih lama terapung sehingga
(sehingga kebutuhan oksigen bisa turun).
menghalangi intensitas sinar matahari
Mengcov er dasar kolam yang kotor.
ke kolom air.

Penebaran di kolom air dapat


mengganggu proses fotosintesa plankton.
Bisa digunakan untuk meningkatkan Ca
Sifatnya yang panas dan menaikkan
Hardness. Mematikan sebagian probiotik
Desinfeksi, menaikkan pH air / pH dengan cepat akan
CaO ( Kapur Aktif ) yang ada di kolom air dan di dasar
tanah menyebabkan plankton lebih cepat
(sehingga kebutuhan oksigen bisa turun).
drop.
Mengcov er dasar kolam yang kotor.
Menaikkan pH air kolam. Lebih keras
dibanding kapur tohor dan kaptan.

Ca (OH)2 ( Kapur Desinfeksi, menaikkan pH air / Efek samping hampir sama dengan kapur Hampir sama dengan CaO, hanya
Tohor/ Bangunan ) tanah aktif ( CaO ) hanya lebih lemah. lebih lemah efeknya.

Bila berlebihan akan menyebabkan


Dalam jumlah sedikit, akan
Ca Mg (CO 3)2 ( Desinfeksi, Bufer pH, Nutrisi plankton drop. Kadar Mg nya akan
mensupport pertumbuhan green
Dolomite ) micro untuk plankton mensupport pertumbuhan green algae
algae termasuk BGA.
dan BGA.

14
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
MATERIAL DAN EFEKNYA 2.

MATERIAL FUNGSI EFEK SAMPING Pengaruh terhadap Plankton

Menguraikan bahan organik Pemberian yang terlalu banyak akan Dalam jumlah sedikit atau secukupnya
Super NB dan NH3 menjadi NO2 dan meningkatkan kebutuhan oksigen, akan mensupport pertumbuhan
NO3 . memacu pertumbuhan plankton plankton.

Menguraikan H2 S secara Memanfaatkan CO2 dalam menguraikan Mengendalikan pertumbuhan


Super PS
fotosintetik H2S secara fotosintetik plankton

Menguraikan bahan organik,


Bakteri dekomposer Dalam kondisi anaerob akan
meningkatkan dominasi Mengendalikan pertumbuhan
( biosolution, menggunakan NO3 sebagai sumber
bakteri menguntungkan dan plankton
vanapro, pond plus) energi
menekan v ibrio

Dalam kondisi anaerob akan


Menguraikan H2 S secara Mengendalikan pertumbuhan
Pond Dtox menggunakan NO3 sebagai sumber
oksidatif plankton
energi

Proses oksidasi Chlorin yang tidak


Kaporit Desinfektan sempurna akan mematikan plankton dan Menyebabkan plankton mati.
bakteri.

Residu Crustacide yang tidak teroksidasi


Crustacide Desinfektan Menyebabkan plankton mati.
sempurna akan mematikan udang

Kuprisulfat Desinfektan Menyebabkan plankton mati.

15
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

KENDALA DAN PENANGANANNYA 1.

PENANGANAN TERHADAP KOLAM BUDIDAYA


PARAMETER OPTIMAL KENDALA AKIBAT PENYEBAB
Mengutamakan pada kestabilan plankton

Cuaca mendung Operasional kincir dimaksimalkan


Operasional kincir dimaksimalkan dan
Aktifitas fotosintesa Plankton lemah/akan drop pemberian probiotik dekomposer
Range < 0,2 (penyumbang nutrien )
rendah
Pengurangan probiotik dan material penunjang
Terlalu banyak probiotik
probiotik ( bahan organik, molase / tetes ), sipon

Plankton masih baru tumbuh Normal untuk aw al budidaya, Lanjutkan


dan lingkungan belum stabil penumbuhan plankton.
Cuaca sangat panas Operasional kincir dimaksimalkan
Pengenceran, sipon, Kaptan, Biosol dan
v anapro ( Bisa salah satu atau digunakan
Phytoplankton pekat
bersamaan disesuaikan dengan kepekatan
plankton )
Aktifitas fotosintesa Menggeser dominansi BGA dengan diatom
Range > 0,5
tinggi dengan pemberian kaptan di pagi hari dan
BGA mensupport pertumbuhan diatom di sore hari
dengan pupuk phosphat dan Nitrat dosis
rendah setiap hari hingga dominansi berubah.

Pemberian kaptan di setiap sore atau malam


7,5 - 8,5
Dinoflagellata/Red Tide hari untuk menurunkan Phosphat hingga
(Range
dominansi bergeser.
max 0,5 ),
Jumlah bakteri rendah Tretment probiotik ditingkatkan
pH Di chek
pH naik karena Sipon, Treatment super NB 1 ppm murni tidak
pada
penggunaan kapur boleh lebih dari 1 hari. Penumbuhan plankton
w aktu pag- Plankton drop di usia aw al
yang tinggi saat kembali secepat mungkin dengan fermentasi
sore.
persiapan katul + ragi

Aktifitas probiotik Pemberian probiotik dekomposer secepatnya


Kematian probiotik
menurun untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem

pH naik Menggeser dominansi BGA dengan diatom


dengan pemberian kaptan di pagi hari dan
Dominansi BGA mensupport pertumbuhan diatom di sore hari
Aktifitas fotosintesa dengan pupuk phosphat dan Nitrat dosis
tinggi rendah setiap hari hingga dominansi berubah.

Pemberian kaptan di setiap sore atau malam


Dominansi Dinoflagellata/Red
hari untuk menurunkan Phosphat hingga
Tide
dominansi bergeser.
Semakin banyaknya limbah
Pelan : Aktifitas
organik di dasar seiring Peraw atan dasar kolam dengan siphon dan
probiotik
dengan bertambahnya usia central drain untuk membuang lumpur.
dekomposer normal.
budidaya.
pH turun
Cepat (range < 0 ) : Bertambah banyaknya limbah
URGENT !!! Secepat mungkin di sipon dan
Aktifitas probiotik organik yang berlebihan
tretment super PS, kemudian penumbuhan
dekomposer yang (ex.Drop plankton masal atau
plankton segera bila karena plankton drop.
berlebihan terlambat sipon)

16
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

KENDALA DAN PENANGANANNYA 2.

PENANGANAN TERHADAP KOLAM BUDIDAYA


PARAMETER OPTIMAL KENDALA AKIBAT PENYEBAB
Mengutamakan pada kestabilan plankton
Kurang kincir Partial Harv est
Buang plankton mati yang telah mengendap
Berkurangnya Suplai secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
Oksigen Plankton drop kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
1 ppm murni, tambahkan operasional kincir,
ev aluasi material treatment.
> 4 ppm
DO Jam 21.00- < 4 ppm Lakukan siphon secara rutin dan jaga kestabilan
Aktifitas
23.00 Tingginya bahan organik plankton agar penambahan bahan organik
dekomposer yang
tidak tinggi, kurangi pemberian pakan
tinggi
Redoks Tanah rendah Pengapuran dasar
Banyaknya
Kepadatan Plankton dan
mikroorganisme Pengenceran
bakteri aerob
yang mengkonsumsi
oksigen Tingginya biomass udang Partial Harv est
Usahakan air tidak terlalu dalam,Usahakan
plankton lebih pekat ( 25 cm ), bila plankton
lemah tumbuhkan pada saat yang tepat.
Hujan terus menerus / Angin Lakukan siphon untuk mengurangi penimbunan
< 28 Cuaca
dingin ( Bediding ) lumpur karena probiotik tidak bisa bekerja
Suhu 28 - 32 maksimal. Operasikan kincir maksimal. Ev aluasi
material yang digunakan agar plankton tidak
semakin lemah.

Operasikan kincir maksimal untuk menghindari


> 32 Cuaca Cuaca panas
pelapisan, w aspadai perkembangan plankton.

Nutrisi sedikit Pemberian probiotik dekomposer ( Super NB )


Kepadatan plankton Pemberian material
> 35
rendah penghambat pertumbuhan Koreksi terhadap manajemen treatment.
plankton
Kepadatan plankton Nutrisi tinggi karena bahan Kurangi pakan, siphon dan pengenceran (
tinggi organik tinggi pemberian probiotik super PS, BI OSOL ).
< 25
Naikkan ketinggian air, Pengendapan suspensi
Suspensi Kolam dasar tanah berdebu
dan sipon, Plankton ditumbuhkan.

Buang plankton mati yang telah mengendap


secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
DO rendah 1 ppm murni, tambahkan operasional kincir.
Pemberian Super NB paling lambat 1 hari sejak
plankton drop. Selanjutnya ev aluasi pemberian
pakan, sipon lebih sering.

Transparansi 25 - 35 Buang plankton mati yang telah mengendap


secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
Kepadatan plankton Plankton drop karena nutrisi kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
Naik
berkurang atau cuaca 1 ppm murni, tambahkan operasional kincir.
Pemberian Super NB paling lambat 1 hari sejak
plankton drop.

17
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

KENDALA DAN PENANGANANNYA 3.

PENANGANAN TERHADAP KOLAM BUDIDAYA


PARAMETER OPTIMAL KENDALA AKIBAT PENYEBAB
Mengutamakan pada kestabilan plankton
Buang plankton mati yang telah mengendap
secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
Sebagian plankton drop 1 ppm murni, tambahkan operasional kincir.
karena nutrisi atau cuaca Pemberian NB paling lambat 1 hari sejak
plankton berubah. Kontrol keseimbangan
Hijau muda antara pemberian pakan, sipon dan
Warna Pergeseran
Warna air / Coklat pengenceran.
berubah dominansi plankton
muda Buang plankton mati yang telah mengendap
Sebagian plankton drop secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
karena pemberian material kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
penghambat pertumbuhan 1 ppm murni, tambahkan operasional kincir.
plankton Koreksi terhadap manajemen kestabilan
Lingkungan.Pemberian NB paling lambat 1 hari
sejak plankton berubah.
Buang plankton mati yang telah mengendap
Peningkatan limbah bahan secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
Peningkatan aktifitas organik karena plankton drop kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
> 0,2 ** probiotik 1 ppm murni, tambahkan operasional kincir
dekomposer
Peningkatan limbah bahan
TAN 0,005-0,2 organik karena ov er feeding Siphon, kurangi pakan, pengenceran.
dan kotoran udang
Limbah bahan organik sedikit. Kurangi sipon, Fermentasi katul.
Aktifitas probiotik
<0,005 dekomposer Menurunnya jumlah probiotik Kontrol nilai DO dan pH apakah sesuai dengan
menurun yang berfungsi sebagai yg dibutuhkan oleh probiotik? Tebar super NB
dekomposer bahan organik. 0,5 - 1 ppm murni.

Sipon, kurangi pakan, pengenceran,bila terlalu


Peningkatan proses Adanya peningkatan bahan tinggi, naikkan DO dengan penambahan kincir,
Nitrifikasi organik. super NB 1 ppm, v anapro 0,1 ppm., oxy O 1
Nitrit < 0,1 > 0,1 ppm.

Rantai Nitrifikasi
Oksigen rendah Oxy O 1 ppm, jaga kestabilan plankton, sipon.
tidak sempurna.

Buang plankton mati yang telah mengendap


secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
Peningkatan Plankton mati / drop 1 ppm murni, tambahkan operasional kincir.
TOM < 80 > 80 kandungan bahan Koreksi terhadap manajemen kestabilan
organik Lingkungan.Pemberian NB paling lambat 1 hari
sejak plankton berubah.

Ov er feeding, sipon tidak Kurangi pakan, siphon ditingkatkan,


lancar, pergantian air kurang. pengenceran ditingkatkan.

18
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

KENDALA DAN PENANGANANNYA 4.

PENANGANAN TERHADAP KOLAM BUDIDAYA


PARAMETER OPTIMAL KENDALA AKIBAT PENYEBAB
Mengutamakan pada kestabilan plankton
> 300 belum Tingginya Air sumber ditampung dulu di dalam tandon
Sumber air banyak
ditemui ada kandungan alkali di atau kolam sebelum digunakan selama 1
mengandung batu kapur.
masalah sumber air. minggu.
Pemberian dolomite rutin dengan menjaga
Kekurangan kapur di aw al kestabilan plankton, 5 - 10 ppm perhari. Bila
Kekurangan bahan persiapan lahan plankton tipis / sedikit sebaiknya ditumbuhkan
penyusun alkali dulu hingga stabil.
Tumbuhkan plankton hingga stabil, pemberian
CO2 rendah
Alkalinitas 120 - 150 probiotik rutin.
Pengeringan dan pengapuran yang cukup di
< 120
masa persiapan lahan.Di masa budidaya,
Dasar tanah asam / gambut pemberian dolomite rutin dengan menjaga
Kandungan asam kestabilan plankton, 5 - 10 ppm perhari.
yang tinggi Tumbuhkan plankton dan bakteri hingga stabil.

Proses pengasaman yang Kurangi pemakaian probiotik, pengenceran


tinggi ( Heterotroof ) perlahan-lahan.

Salinitas terlalu Hujan lebat, terlalu banyak air Naikkan salinitas perlahan-lahan, dengan air
< 15
rendah taw ar laut.
Salinitas 15 - 25
Tidak ada air taw ar dan Turunkan salinitas sebisa mungkin, naikkan
> 45 Salinitas terlalu tinggi
penguapan tinggi kedalaman air untuk mengurangi penguapan.

Total 4.000 -
? ? ? ?
Hardness 6.000
Kandungan Ca
Pemberian kaptan 5 - 10 ppm 2 hari sekali,
hardness terlalu Terlalu banyak air taw ar / bor
pemakaian omega protein secara rutin, Natural
Ca Hardness > 1200 < 1200 rendah yang dapat dengan kadar Ca hardness
micro mineral dan menaikkan Ca hardness
menyebabkan rendah.
dengan penambahan air laut.
terjadinya Soft Cell.
Mg Hardness ? ? ? ? ?

Vibrio Yellow < 1.000 > 1.000 Buang plankton mati yang telah mengendap
secepatnya, Cov er dengan kaptan 5-10 ppm
Peningkatan kandungan
Vibrio Green < 1-0 > 100 kemudian tebar probiotik dekomposer Super NB
bahan organik karena
1 ppm murni, tambahkan operasional kincir.
Jumlah v ibrio plankton tidak stabil atau
Pemberian NB paling lambat 1 hari sejak
meningkat. drop, timbunan lumpur yang
Vibrio plankton berubah. Tumbuhkan plankton
tinggi, ov er feeding, DO
Luminescens 0 >0 kembali dan dijaga kestabilannya. Kontrol
rendah.
e pakan dan pembersihan dasar kolam dengan
sipon dan central drain.

Bakteri mati karena Penambahan probiotik, peningkatan DO,


Goncangan cuaca, drop penumbuhan plankton kembali dan dijaga
TBC < 20.000 Jumlah TBC rendah plankton atau DO rendah kestabilannya.

Kekurangan pemberian
Penambahan probiotik
probiotik
Up Date : 22-03-2016

19
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
BAB V. FEEDING MANAGEMENT

Definisi:
merupakan rangkaian kegiatan pemberian pakan yang dilakukan secara sistematis
melalui mekanisme kontrol yang ketat dan tepat
sesuai dengan SOP yang ada untuk mendukung kegiatan
budidaya secara optimal dan berkesinambungan.
Tujuan:
tujuan pengaturan pakan adalah:
- membuat pertumbuhan udang optimal.
- mempertahankan daya dukung lahan untuk periode selanjutnya.
- menciptakan kondisi lingkungan perairan sekitar demi kegiatan
budidaya agar dapat berkesinambungan

V.A. MANAJEMEN PAKAN DALAM BUDIDAYA UDANG.


V.A.1. Manajemen penyimpanan pakan.
- Gudang pakan harus bersih , kering, terpisah dengan penyimpanan bahan kimia
- Terpisah dengan penyimpanan bahan katul, jagung
- Tidak lembab, ventilasi baik (ada kasa)
- Aman dari gangguan tikus, serangga, unggas
- Terlindung dari sinar matahari langsung
- Tidak bocor saat hujan
- Disusun diatas pallet, staple maksimal 12
- Penerapan FIFO

V.A.2. Metode pemberian pakan & anco


- Penggunaan nomor pakan sesuai DOC & MBW
- Pakan no 01-02 dibasahi dengan air sebelum ditebar
- Frekuensi pemberian pakan 4-5 kali
- Cara menyebar pakan, merata di feeding area ( 1-2 m dari kaki tanggul)
- Pakan ditimbang sesuai kebutuhan
- Bentuk anco persegi ukuran 80x80x10 cm
- Jumlah anco 4 buah, setiap sisi 1 anco
- Pemberian pakan di anco, setelah selesai menebar pakan

V.A.3. Manajemen pakan buta/blind feeding


- Standart blind feeding disesuaikan jumlah aktual benur
- Untuk kondisi tertentu , kualitas air dan fasilitas terbatas program feeding disesuaikan.
- Blind feeding dilaksanakan sampai 30 hari

V.A.4. Manajemen pasca blind feeding


Manajemen pakan pasca blind feeding berdasarkan sampling dan cek anco.
- Sampling udang dilakukan mulai doc 33 hari, lakukan
setiap 7 hari sekali.
- Menentukan Target Pertumbuhan udang (ADG) tiap sampling,
cross check simpangan pakan dengan pakan total, pakan mingguan dan harian.

20
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
PT CENTRAL PROTEINA PRIMA, Tbk
PROGRAM PAKAN TAMBAK UDANG VANNAMEI

PAKAN IRAWAN (681 - 684)


Blind Feeding, mulai tebar s/d umur udang 30 hari :
Umur Udang Berat Udang Panjang Udang Kode Kenaikan Pakan Frekuensi Est. SR Awal
(hari) (gram) (cm) Pakan (gram/hari) pakan/hari (%) pemberian (Kg)
1 - 10 PL 8 - 1,2 0,6 - 1,2 01 - 02 200 4 100 3 Kg per
11 - 20 1,2 - 2,5 1,2 - 2,0 02 400 4 99 100.000 ekor
21 - 30 2,5 - 3,5 2,0 - 3,5 03 800 4 98 benur

Umur Udang 31 hari sampai panen :


Umur Udang Berat Udang Panjang Udang Kode Frekuensi (%) Waktu Kontrol
% Pakan (FR)
(hari) (gram) (cm) Pakan pakan/hari Ancho (jam)
30 - 38 3,5 - 5,0 6,0 - 9,0 03 - 03SP 5,6 - 4,6 4 0,6 2,5
38 - 60 5,0 - 10,0 9,0 - 12,0 03SP 4,6 - 3,4 4 0,8 2
60 - 78 10,0 - 15,0 12,0 - 14,0 03SP - 04S 3,4 - 2,9 4 1,0 1,5
78 - 93 15,0 - 20,0 14,0 - 16,0 04S 2,9 - 2,5 5 1,2 1,5
93 - 105 20,0 - 25,0 16,0 - 17,0 04S - 04 2,5 - 2,2 5 1,4 1,0
105 - 115 25,0 - 30,0 17,0 - 18,0 04 2,2 - 2,0 5 1,6 1,0
> 115 > 30,0 >18,0 04 2,0 5 1,8 1,0
Note : - Dengan program Panen Parsial - Update April 2016

Resume
Doc Mbw F/d
(%FR)
(gr) (Kg)
38 5 4,6 23
60 10 3,4 34
78 15 2,9 43
93 20 2,5 50
05 25 2,2 55
115 30 2,0 62

21
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

PT CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK Feed (Kg) H1 : 3 Fry Stocking : 100.000 pcs
Penambahan 2-10 : 0,2 Area : 1.000 m2
FEEDING PROGRAM PAKAN IRAWAN CP PRIMA Penambahan 11-20 : 0,4 Density : 100 pcs/m2
Penambahan 21-30 : 0,8
Dengan Program Panen Parsial 1
MBW adg per day Size adg kum %FR sr population biomass f/d acc feed
doc fcr feed type
(gr) (gr/day) (e/kg) (gr/day) (%) (pcs) (kg) (kg) (kg)
1 0,001 0,097 1.000.000 0,00 300,00 100,0 100.000 0,1 3,0 3,0 30,00 01
2 0,10 0,097 10.226 0,05 30,00 100,0 100.000 10 3,2 6,2 0,63 01
3 0,19 0,097 5.139 0,06 28,67 100,0 100.000 19 3,4 9,6 0,49 01
4 0,29 0,097 3.432 0,07 27,33 100,0 100.000 29 3,6 13,2 0,45 01
5 0,39 0,097 2.576 0,08 26,00 100,0 100.000 39 3,8 17,0 0,44 01
6 0,48 0,097 2.062 0,08 24,67 100,0 100.000 48 4,0 21,0 0,43 01
7 0,58 0,097 1.719 0,08 23,33 100,0 100.000 58 4,2 25,2 0,43 01
8 0,68 0,097 1.474 0,08 22,00 100,0 100.000 68 4,4 29,6 0,44 01
9 0,78 0,097 1.290 0,09 20,67 100,0 100.000 78 4,6 34,2 0,44 01/02
10 0,87 0,097 1.147 0,09 19,33 100,0 100.000 87 4,8 39,0 0,45 01/02
11 0,97 0,104 1.032 0,09 18,00 100,0 100.000 97 5,2 44,2 0,46 01/02
12 1,07 0,111 938 0,09 16,67 100,0 100.000 107 5,6 49,8 0,47 01/02
13 1,16 0,118 860 0,09 15,33 100,0 100.000 116 6,0 55,8 0,48 01/02
14 1,26 0,124 794 0,09 14,00 100,0 100.000 126 6,4 62,2 0,49 02
15 1,36 0,131 737 0,09 12,67 100,0 100.000 136 6,8 69,0 0,51 02
16 1,45 0,138 688 0,09 11,33 100,0 100.000 145 7,2 76,2 0,52 02
17 1,55 0,145 645 0,09 10,00 100,0 100.000 155 7,6 83,8 0,54 02
18 1,65 0,152 607 0,09 8,67 100,0 100.000 165 8,0 91,8 0,56 02
19 1,74 0,159 574 0,09 7,33 100,0 100.000 174 8,4 100,2 0,57 02
20 1,84 0,166 543 0,09 6,00 100,0 100.000 184 8,8 109,0 0,59 02
21 2,01 0,167 499 0,10 5,96 100,0 100.000 201 9,6 118,6 0,59 02
22 2,17 0,169 460 0,10 5,92 100,0 100.000 217 10,4 129,0 0,59 02
23 2,34 0,170 428 0,10 5,88 100,0 100.000 234 11,2 140,2 0,60 02
24 2,50 0,172 399 0,10 5,84 100,0 100.000 250 12,0 152,2 0,61 02/03
25 2,67 0,173 375 0,11 5,80 100,0 100.000 267 12,8 165,0 0,62 02/03
26 2,84 0,174 353 0,11 5,76 100,0 100.000 284 13,6 178,6 0,63 02/03
27 3,00 0,176 333 0,11 5,72 100,0 100.000 300 14,4 193,0 0,64 02/03
28 3,17 0,177 316 0,11 5,68 100,0 100.000 317 15,2 208,2 0,66 02/03
29 3,33 0,179 300 0,11 5,64 100,0 100.000 333 16,0 224,2 0,67 02/03
30 3,50 0,180 286 0,12 5,60 97,0 97.000 340 16,8 241,0 0,71 02/03

31 3,68 0,180 272 0,12 5,48 96,8 96.811 356 19,5 260,5 0,73 03
32 3,86 0,180 259 0,12 5,36 96,6 96.622 373 20,0 280,5 0,75 03
33 4,04 0,180 248 0,12 5,24 96,4 96.433 390 20,4 301,0 0,77 03
34 4,22 0,180 237 0,12 5,13 96,2 96.244 406 20,8 321,8 0,79 03
35 4,40 0,180 227 0,13 5,01 96,1 96.056 423 21,2 342,9 0,81 03
36 4,58 0,180 218 0,13 4,89 95,9 95.867 439 21,5 364,4 0,83 03
37 4,76 0,180 210 0,13 4,77 95,7 95.678 455 21,7 386,1 0,85 03
38 4,94 0,180 202 0,13 4,65 95,5 95.489 472 21,9 408,0 0,87 03
39 5,12 0,180 195 0,13 4,59 95,3 95.300 488 22,4 430,5 0,88 03
40 5,30 0,180 189 0,13 4,54 95,1 95.111 504 22,9 453,3 0,90 03
41 5,52 0,220 181 0,14 4,48 94,9 94.922 524 23,5 476,8 0,91 03/03SP
42 5,74 0,220 174 0,14 4,42 94,7 94.733 544 24,0 500,8 0,92 03/03SP
43 5,96 0,220 168 0,14 4,37 94,5 94.544 563 24,6 525,4 0,93 03/03SP
44 6,18 0,220 162 0,14 4,31 94,4 94.356 583 25,1 550,6 0,94 03/03SP
45 6,40 0,220 156 0,14 4,25 94,2 94.167 603 25,6 576,2 0,96 03/03SP
46 6,62 0,220 151 0,15 4,20 94,0 93.978 622 26,1 602,3 0,97 03SP
47 6,84 0,220 146 0,15 4,14 93,8 93.789 642 26,6 628,8 0,98 03SP
48 7,06 0,220 142 0,15 4,08 93,6 93.600 661 27,0 655,8 0,99 03SP
49 7,28 0,220 137 0,15 4,03 93,4 93.411 680 27,4 683,2 1,00 03SP
50 7,50 0,220 133 0,15 3,97 93,2 93.222 699 27,7 710,9 1,02 03SP
51 7,75 0,250 129 0,15 3,91 93,0 93.033 721 28,2 739,1 1,03 03SP
52 8,00 0,250 125 0,15 3,85 92,8 92.844 743 28,6 767,8 1,03 03SP
53 8,25 0,250 121 0,15 3,80 92,7 92.656 764 29,0 796,8 1,04 03SP
54 8,50 0,250 118 0,16 3,74 92,5 92.467 786 29,4 826,2 1,05 03SP
55 8,75 0,250 114 0,16 3,68 92,3 92.278 807 29,7 855,9 1,06 03SP
56 9,00 0,250 111 0,16 3,63 92,1 92.089 829 30,1 886,0 1,07 03SP
57 9,25 0,250 108 0,16 3,57 91,9 91.900 850 30,4 916,4 1,08 03SP
58 9,50 0,250 105 0,16 3,51 91,7 91.711 871 30,6 947,0 1,09 03SP
59 9,75 0,250 103 0,16 3,46 91,5 91.522 892 30,8 977,8 1,10 03SP
60 10,00 0,250 100 0,17 3,40 91,3 91.333 913 31,1 1.008,9 1,10 03SP

22
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

PT CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK Feed (Kg) H1 : 3 Fry Stocking : 100.000 pcs
Penambahan 2-10 : 0,2 Area : 1.000 m2
FEEDING PROGRAM PAKAN IRAWAN CP PRIMA Penambahan 11-20 : 0,4 Density : 100 pcs/m2
Penambahan 21-30 : 0,8
Dengan Program Panen Parsial 1
MBW adg per day Size adg kum %FR sr population biomass f/d acc feed
doc fcr feed type
(gr) (gr/day) (e/kg) (gr/day) (%) (pcs) (kg) (kg) (kg)
61 10,25 0,250 98 0,17 3,38 91,1 91.144 934 31,5 1.040,4 1,11 03SP
62 10,50 0,250 95 0,17 3,35 91,0 90.956 955 32,0 1.072,4 1,12 03SP
63 10,75 0,250 93 0,17 3,33 90,8 90.767 976 32,4 1.104,8 1,13 03SP
64 11,00 0,250 91 0,17 3,30 90,6 90.578 996 32,9 1.137,7 1,14 03SP
65 11,25 0,250 89 0,18 3,27 90,4 90.389 1.017 33,3 1.171,0 1,15 03SP
66 11,50 0,250 87 0,18 3,24 90,2 90.200 1.037 33,6 1.204,6 1,16 03SP
67 11,75 0,250 85 0,18 3,21 90,0 90.011 1.058 34,0 1.238,6 1,17 03SP
68 12,00 0,250 83 0,18 3,19 89,8 89.822 1.078 34,3 1.273,0 1,18 03SP
69 12,25 0,250 82 0,18 3,16 89,6 89.633 1.098 34,7 1.307,6 1,19 03SP
70 12,50 0,250 80 0,16 3,13 89,4 89.444 1.118 35,0 1.342,6 1,20 03SP
71 12,80 0,300 78 0,17 3,10 89,3 89.256 1.142 35,4 1.378,0 1,21 03SP
72 13,10 0,300 76 0,17 3,07 89,1 89.067 1.167 35,8 1.413,9 1,21 03SP
73 13,40 0,300 75 0,17 3,04 88,9 88.878 1.191 36,2 1.450,1 1,22 03SP
74 13,70 0,300 73 0,17 3,01 88,7 88.689 1.215 36,6 1.486,7 1,22 03SP
75 14,00 0,300 71 0,17 2,99 88,5 88.500 1.239 37,0 1.523,7 1,23 03SP
76 14,30 0,300 70 0,17 2,96 88,3 88.311 1.263 37,3 1.561,1 1,24 03SP
77 14,60 0,300 68 0,17 2,93 88,1 88.122 1.287 37,7 1.598,7 1,24 03SP
78 14,90 0,300 67 0,18 2,90 87,9 87.933 1.310 38,0 1.636,7 1,25 03SP
79 15,20 0,300 66 0,18 2,87 87,7 87.744 1.334 38,3 1.675,0 1,26 03SP
80 15,50 0,300 65 0,19 2,85 87,6 87.556 1.357 38,6 1.713,7 1,26 03SP
81 15,80 0,300 63 0,20 2,82 87,4 87.367 1.380 38,9 1.752,6 1,27 03SP
82 16,10 0,300 62 0,20 2,79 87,2 87.178 1.404 39,2 1.791,7 1,28 03SP
83 16,40 0,300 61 0,20 2,76 87,0 86.989 1.427 39,4 1.831,2 1,28 03SP
84 16,70 0,300 60 0,20 2,74 86,8 86.800 1.450 39,7 1.870,8 1,29 03SP
85 17,00 0,300 59 0,20 2,71 86,6 86.611 1.472 39,9 1.910,7 1,30 04S
86 17,40 0,400 57 0,21 2,68 86,4 86.422 1.504 40,3 1.951,0 1,30 04S
87 17,80 0,400 56 0,21 2,65 86,2 86.233 1.535 40,7 1.991,8 1,30 04S
88 18,20 0,400 55 0,21 2,63 86,0 86.044 1.566 41,1 2.032,9 1,30 04S
89 18,60 0,400 54 0,21 2,60 85,9 85.856 1.597 41,5 2.074,4 1,30 04S
90 19,00 0,400 53 0,21 2,57 85,7 85.667 1.628 41,9 2.116,3 1,30 04S

91 19,40 0,400 52 0,22 2,54 85,5 85.478 1.658 42,2 2.158,5 1,30 04S
92 19,80 0,400 51 0,22 2,52 85,3 85.289 1.689 42,5 2.201,0 1,30 04S
93 20,20 0,400 50 0,22 2,49 85,1 85.100 1.719 42,8 2.243,8 1,31 04S
94 20,60 0,400 49 0,22 2,47 84,9 84.911 1.749 43,1 2.286,9 1,31 04S
95 21,00 0,400 48 0,22 2,44 84,7 84.722 1.779 43,4 2.330,3 1,31 04S
96 21,40 0,400 47 0,22 2,42 84,5 84.533 1.809 43,7 2.374,1 1,31 04S
97 21,80 0,400 46 0,23 2,39 84,3 84.344 1.839 44,0 2.418,1 1,32 04S
98 22,20 0,400 45 0,23 2,37 84,2 84.156 1.868 44,3 2.462,3 1,32 04S
99 22,60 0,400 44 0,23 2,35 84,0 83.967 1.898 44,5 2.506,8 1,32 04S
100 23,00 0,400 43 0,23 2,32 83,8 83.778 1.927 44,7 2.551,6 1,32 04S
101 23,40 0,400 43 0,23 2,30 83,6 83.589 1.956 44,9 2.596,5 1,33 04S
102 23,80 0,400 42 0,23 2,27 83,4 83.400 1.985 45,1 2.641,6 1,33 04S
103 24,20 0,400 41 0,24 2,25 83,2 83.211 2.014 45,3 2.686,9 1,33 04S
104 24,60 0,400 41 0,24 2,22 83,0 83.022 2.042 45,4 2.732,3 1,34 04S
105 25,00 0,400 40 0,24 2,20 82,8 82.833 2.071 45,6 2.777,9 1,34 04S
106 25,40 0,400 39 0,24 2,19 82,6 82.644 2.099 45,9 2.823,8 1,35 04S
107 25,80 0,400 39 0,24 2,17 82,5 82.456 2.127 46,2 2.870,0 1,35 04S
108 26,20 0,400 38 0,24 2,16 82,3 82.267 2.155 46,6 2.916,5 1,35 04S
109 26,60 0,400 38 0,25 2,15 82,1 82.078 2.183 46,9 2.963,4 1,36 04
110 27,00 0,400 37 0,25 2,13 81,9 81.889 2.211 47,2 3.010,6 1,36 04
111 27,40 0,400 36 0,25 2,12 81,7 81.700 2.239 47,5 3.058,0 1,37 04
112 27,80 0,400 36 0,25 2,11 81,5 81.511 2.266 47,7 3.105,8 1,37 04
113 28,20 0,400 35 0,25 2,09 81,3 81.322 2.293 48,0 3.153,8 1,38 04
114 28,60 0,400 35 0,25 2,08 81,1 81.133 2.320 48,3 3.202,0 1,38 04
115 29,00 0,400 34 0,26 2,07 80,9 80.944 2.347 48,5 3.250,6 1,38 04
116 29,40 0,400 34 0,26 2,05 80,8 80.756 2.374 48,8 3.299,3 1,39 04
117 29,80 0,400 34 0,26 2,04 80,6 80.567 2.401 49,0 3.348,3 1,39 04
118 30,20 0,400 33 0,26 2,03 80,4 80.378 2.427 49,2 3.397,5 1,40 04
119 30,60 0,400 33 0,26 2,01 80,2 80.189 2.454 49,4 3.446,9 1,40 04
120 31,00 0,400 32 0,26 2,00 80,0 80.000 2.480 49,6 3.496,5 1,41 04
Note: * Parsial 1 * * Parsial 2 * * Parsial 3

23
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI

IV.B. KONTROL ANCHO

Penambahan dan pengurangan pakan berdasar cek Ancho:


1. Jika 4 Anco Habis, pakan besoknya dinaikkan 1% - 2% dari pakan hari ini.
Diaplikasikan untuk jam pakan yang sama pada hari berikutnya.
2. Jika 3 Anco yang Habis, pakan tetap.
3. Jika 2 Anco Tidak Habis, Pakan dipotong 20-25%.
4. Jika 3 dan / 4 Anco tidak habis, pakan dipotong 40-50%

Note :
a. Jika dilakukan 5 kali pakan maka pakan jam terakhir (21.00 – 23.00),
tidak lebih dari 30 % pakan normal di siang hari.
b. Jika setelah pemotongan 40 - 50 % pakan habis maka pakan dikembalikan
secara bertahap ke kondisi normal (dinaikkan 10% - 25 %)
dan kontrol ancho seperti sediakala (poin 1 atau harus 4H).
c. Jika terjadi kenaikan pakan diatas konsumsi SR 100 % (pakan naik terus)
segera estimasi SR dari cara lain (pakan, jala dll)
dan cek/pemetaan lumpur di dasar tambak.

BAB. V. PANEN

V.A. PANEN
PARSIAL
Definisi: Proses pengurangan biomas di kolam yang bertujuan untuk
mempertahankan daya dukung lahan.
Tujuan Parsial:
1. Menjaga kualitas air agar tetap mendukung budidaya
2. Koreksi kepadatan tebar
3. Mengurangi resiko kegagalan
4. Meningkatkan ADG

Kapan untuk dilakukan parsial ? :


1. Bila DO 3,5- 4 ppm selama tiga hari berturut-turut
2. Bila "estimasi biomass" melebihi carrying capacity
3. Pada saat kondisi udang masih sehat
4. Parsial harus dilakukan sesuai pertimbangan teknis (mengesampingkan harga dan size)

Jumlah yang di panen parsial:


1. Parsial I : 15-20% dari biomass
2. Parsial II : 15-20% dari biomass
3. Parsial III : 20-25% dari biomass

24
PT.CENTRAL PROTEINA PRIMA, TBK__________SOP BUDIDAYA VANNAMEI
V.B. PANEN AKHIR

1. Lakukan sampling dengan jala sehari sebelum panen


Hitung estimasi biomas dan info ke pembeli untuk
menyiapkan jumlah es dan tenaga yang cukup.
2. Panen akhir dilakukan dengan mempertimbangkan
Kenaikan Pertumbuhan udang (ADG), kesehatan udang/ mortalitas
dan prospek harga udang.
3. Sarana dan prasarana panen harus disiapkan sebaik-baiknya
agar panen cepat, lancar dan udang tidak rusak.

--------********-----

25