Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN FARMAKOGNOSI

IDENTIFIKASI SIMPLISIA

Disusun Oleh:

Sinta Nurlaela ( 10060316181)


Shift / Kelompok :G/5

Asisten : Nelly Wismayanti, S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2017 M / 1439 H
IDENTIFIKASI SIMPLISIA

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Indonesia sangat kaya akan kekayaan alam yang melimpah , mulai dari
tanaman herbal sampai mineral tersimpan dalam bumi pertiwi. Di indonesia
banyak berbagai tumbuhan obat yang telah diteliti oleh para ahli yang mana
banyak tercantum pada buku-buku ataupun artikel tentang obat tradisional.
Tumbuhan obat atau yang biasa dikenal dengan obat herbal adalah sediaan
obat baik berupa tradisional, obat herbal terstandar maupun fitofarmaka,
dapat berupa simplisia segar atau yang dikeringkan.

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang


belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain,
simplisia berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia terdiri dari
simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral
(Bruneton, 1999).

Simplisia nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh, bagian


tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Simplisia
hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat
berguna yang dihasilkan hewan yang belum berupa zat kimia murni.
Sedangkan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berasal dari
bumi, baik yang telah diolah maupun yang belum, tidak berupa zat kimia
murni (Evans, 2002).

Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk


simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian
makroskopik, dan pengujian mikroskopik (Anonim, 1989).
1.2. Tujuan
1. Mengidentifikasi simplisia dari sampel yang diberikan
2. Mengidentifikasi simplisia berdasarkan makroskopik yang
meliputi; identifikasi bau, rasa, warna dan bentuk
3. Mengidentifikasi bentuk fragmen khas yang dimiliki setiap
simplisia
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Simplisia dan Pembuatanya
2.1.1. Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain,
simplisia berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia terdiri dari
simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral
(Bruneton, 1999).

Simplisia nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh, bagian


tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Simplisia
hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat
berguna yang dihasilkan hewan yang belum berupa zat kimia murni.
Sedangkan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berasal dari
bumi, baik yang telah diolah maupun yang belum, tidak berupa zat kimia
murni (Evans, 2002).

2.1.2. Pembuatan Simplisia

Dasar pembuatan simplisia secara umum

1. simplisia dibuat dengan cara pengeringan

Pembuatan simplisa dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan


pengeringan cepat, tetapi dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan
yang terlalu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh akan
ditumbuhi kapang. Pengeringan dengan suhu tinggi akan mengakibatkan
perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal
tersebut, maka dilakukan perajangan sehingga diperoeh tebal irisan yang
pada pengeringan tidak mengalami kerusakan.

2. simplisia dibuat dengan fermentasi

3. simplisia dibuat dengan proses khusus

4. simplisia pada proses pembuatan memerlukan air

Pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatanya memerlukan air.


Air yang digunakan harus terbebas dari pencemaran serangga, kuman
patogen, logam berat dan lain-lain.

Adapun tahapan pembuatan simplisia adalah sebagai berikut:

a. Sortasi basah

Tahap ini perlu dilakukan karena bahan baku simplisia harus benar
dan murni, artinya berasal dari tanaman yang merupakan bahan baku
simplisia yang dimaksud, bukan dari tanaman lain. Dalam kaitannya
dengan ini, perlu dilakukan pemisahan dan pembuangan bahan organik
asing atau tumbuhan atau bagian tumbuhan lain yang terikut. Bahan
baku simplisia juga harus bersih, artinya tidak boleh tercampur dengan
tanah, kerikil, atau pengotor lainnya ( Depkes RI, 1985).

b. Pencucian

Pencucian merupakan tahapan kedua dalam pasca panen yang


bertujuan untuk menghilangkan tanah atau pengotor lainya yang tersisa
setelah sortasi basah. Sebaiknya digunakan air dari mata air, sumur, atau
air ledeng (PAM). Setelah dicuci ditiriskan agar kelebihan air cucian
mengalir. Ke dalam air untuk mencuci dapat dilarutkan kalium
permanganat seperdelapan ribu, hal ini dilakukan untuk menekan angka
kuman dan dilakukan untuk pencucian rimpang ( Depkes RI, 1985).
c. Perajangan

Banyak simplisia yang memerlukan perajangan agar proses


pengeringan berlangsung lebih cepat. Tujuan dari perajangan adalah
untuk mempermudah pengeringan sehingga lama waktu pengeringan
dapat dihemat. Perajangan dapat dilakukan “manual” atau dengan mesin
perajang singkong dengan ketebalan yang sesuai. Apabila terlalu tebal
maka proses pengeringan akan terlalu lama dan kemungkinan dapat
membusuk atau berjamur. Perajangan yang terlalu tipis akan berakibat
rusaknya kandungan kimia karena oksidasi atau reduksi ( Depkes RI,
1985).

d. Pengeringan

Pengeringan merupakan proses pengawetan simplisia sehingga


simplisia tahan lama dalam penyimpanan. Selain itu pengeringan akan
menghindari teruainya kandungan kimia karena pengaruh enzim.
Pengeringan yang cukup akan mencegah pertumbuhan mikroorganisme
dan kapang (jamur). Menurut persyaratan obat tradisional tertera bahwa
Angka khamir atau kapang tidak Iebih dari 104. Mikroba patogen harus
negatif dan kandungan aflatoksin tidak lebih dari 30 bagian per juta
(bpj). Tandanya simplisia sudah kering adalah mudah meremah bila
diremas atau mudah patah. Menurut persyaratan obat tradisional
pengeringan dilakukan sampai kadar air tidak lebih dari 10%. Cara
penetapan kadar air dilakukan menurut yang tertera dalam Materia
Medika Indonesia atau Farmakope Indonesia. Pengeringan sebaiknya
jangan di bawah sinar matahari langsung, melainkan dengan lemari
pengering yang dilengkapi dengan kipas penyedot udara sehingga
terjadi sirkulasi yang baik. Bila terpaksa dilakukan pengeringan di
bawah sinar matahari maka perlu ditutup dengan kain hitam untuk
menghindari terurainya kandungan kimia dan debu. Agar proses
pengeringan berlangsung lebih singkat bahan harus dibuat rata dan tidak
bertumpuk ( Depkes RI, 1985).
e. Sortasi kering

Simplisia yang telah kering tersebut masih sekali lagi dilakukan


sortasi untuk memisahkan kotoran, bahan organik asing, dan simplisia
yang rusak karena sebagai akibat proses sebelumnya ( Depkes RI, 1985).

f. Pengepakan dan penyimpanan

Bahan pengepak harus sesuai dengan simplisia yang dipak.


Misalnya simplisia yang mengandung minyak atsiri jangan dipak dalam
wadah plastik, karena plastik akan menyerap bau bahan tersebut. Bahan
pengepak yang baik adalah karung goni atau karung plastik. Simplisia
yang ditempatkan dalam karung goni atau karung plastik praktis cara
penyimpanannya, yaitu dengan ditumpuk. Selain itu, cara
menghandelnya juga mudah serta cukup menjamin dan melindungi
simplisia di dalamnya. Pengepak lainnya digunakan menurut
keperluannya. Pengepak yang dibuat dari aluminium atau kaleng dan
seng mudah melapuk, sehingga perlu dilapisi dengan plastik atau malam
atau yang sejenis dengan itu ( Depkes RI, 1985).

Penyimpanan harus teratur, rapi, untuk mencegah resiko tercemar


atau saling mencemari satu sama lain, serta untuk memudahkan
pengambilan, pemeriksaan, dan pemeliharaannya. Simplisia yang
disimpan harus diberi label yang mencantumkan identitas, kondisi,
jumlah, mutu, dan cara penyimpanannya. Adapun tempat atau gudang
penyimpanan harus memenuhi syarat antara lain harus bersih, tentutup,
sirkulasi udara baik, tidak lembab, penerangan cukup bila diperlukan,
sinar matahari tidak boleh leluasa masuk ke dalam gudang, konstruksi
dibuat sedemikian rupa sehingga serangga atau tikus tidak dapat leluasa
masuk. Pengeluaran simplisia yang disimpan harus dilaksanakan dengan
cara mendahulukan bahan yang disimpan Iebih awal (“First in — First
out” = FIFO) ( Depkes RI, 1985).
2.2.Identifikasi Simplisia

A. Makroskopik

1. Blumeae balsamiferae folium

Daun sembung adalah daun blumea balsamifera (L) DC., memiliki


kadar minyak atsiri tidak kurang dari 0,19% b/v. Bau dan rasa mirip kamfer,
agak pahit. Daun tunggal,bertangkai, pada tangkai dau terdapat beberapa
pasang dau kecil berbentuk lidah tombak sampai bulat panjang dengan
ujung dan pangkal daun runcing, panjang helai daun 10-30 cm, lebar 2,5-12
cm, tepi daun umumnya bergerigi tajam tidak beraturan, kadang-kadang
bergerigi. Permukaan daun berambut,permukaan bawah berambut sangat
rapat dan terasa seperti beludru, warna kelabu kehijauan, permukaan atas
kasar, warna hijau tua sampai hijau coklat kelabu. memiliki kegunaan
sebagai antilmintik, malaria, demam, masuk angin, gangguan haid, dan beri-
beri (Depkes RI, 1979).

2. Coriandri sativi fructus

Buah ketumbar adalah buah masak coriandrum sativum L. Memiliki


kegunaan sebagai bumbu masak, nyeri lambung, pusing, anti-emetik,
sariawan, dan gangguan haid. Buahnya berbentuk bulat berwarna hijau bila
sudah tua berwarna coklat muda, panjang buah 4-5 mm, jika sudah masak
buahnya mudah dirontokan. Tanaman ketumbar termasuk jenis semak
semusim yang berbentuk herba, dengan tinggi bisa mencapai 100 cm
(Depkes RI, 1979).

B. Mikroskopik

1. Blumeae balsamiferae folium

Organoleptis dari daun sembung berbau lemah, rasa khas, serbuk


berwarna hijau. Mikroskopik daun sembung memiliki fragmen pengenal
rambut berdinding tipis, pembuluh kayu dengan penebalan tangga dan
spiral serabut sklerenkim, fragmen mesofil, fragmen epidermis, fragmen
epidermis bawah. Daun sembung memiliki fragmen khas yaitu rambut
penutup dengan garis ditengah-tengah.

2. Coriandri sativi fructus

Organoleptis dari buah ketumbar adalah serbuk berwarna coklat


muda kekuningan atau coklat kemerahan, serbuk tidak halus, memiliki bau
yang khas, memiliki rasa sedikit pedas mirip seperti lada hitam. Lada hitam
memiliki fragmen pengenal seperti sklerenkim mesokarp, fragmen
endokarp berikut parenkim mesokarp, fragmen epikarp dengan hablur
kalsium oksalat berbentuk prisma, fragmen epikarp dari bagian ujung buah,
fragmen mesokarp berikut endokarp, spermoderm dan endosperm, fragmen
pembuluh kayu, hablur kalsium oksalat berbentuk prisma dan roset. Tidak
terdapat rambut enutup atau butir pati.

III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1. Makroskopik

Gambar Keterangan
G-18 Serbuk berwarna hijau bercampur
dengan serbuk yang berwarna
coklat muda kekuningan. Serbuk
yang berwarna coklat muda tidak
terlalu halus.
3.2. Mikroskopik

Rambut penutup

Epidermis bawah dengan


stomata dan rambut kelenjar

Endokarp berikut parenkim


mesokarp terlihat tangensial

Serabut skelernkim mesokarp

Berkas pembuluh

3.3. Pembahasan

Pengamatan mikroskopik pada simplisia yang diberikan terlihat


adanya rambut penutup yang khas yaitu; pada rambut penutup terdapat
garis-garis yang merupakan ciri khas dari simplisia Blumeae balsamiferae
folium. Terdapat pula serabut sklerenkim mesokarp yang berwarna hitam
yang merupakan fragmen dari simplisia Coriandri sativi fructus.
IV. KESIMPULAN

Pada sampel G-18 yang diberikan, terdapat simplisia Blumeae


balsamiferae folium dan Coriandri sativi fructus yang ditandai dengan
adanya rambut penutup khas yang dimiliki simplisia Blumeae balsamiferae
folium dan serabut sklerenkim mesokarp yang merupakan fragmen dari
simplisia Coriandri sativi fructus.
V. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Bruneton, J. 1999. Pharmacognosy – Phytochemistry – Medicinal Plants,
Second edition. USA: Lavoisier Pub. Inc. c/o Springen Verlag.
Departemen Kesehatan RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Materia Medika Indonesia Jilid IV.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Evans,W.C. and Evans, D. 2002. Phamacognosy. 15 th Edition. London:
W.B.Saunders Edinburg.
Hutapea, J. R. 2001. Inventaris Tanaman Obat Indonesia Jilid II. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.