Anda di halaman 1dari 33

MODUL 5

“VISKOSITAS DAN RHEOLOGI”

I. Prinsip Percobaan
Penentuan viskositas berdasarkan pengukuran dari viskometer
Hopper yang bekerja pada rate of shear tunggal yang dapat digunakan
untuk cairan newton dan viskometer Brookfield yang bekerja pada
berbagai rate of shear, sehingga tepat untuk digunakan pada cairan non-
Newton.

II. Tujuan Percobaan


1. Menerangkan arti viskositas dan rheologi
2. Membedakan cairan Newton dan Non-Newton
3. Menentukan alat-alat penentuan viskositas dan rheologi
4. Menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton dan Non-newton
5. Menerangkan pengaruh BJ terhadap viskositas larutan

III. Teori
3.1. Pengertian Viskositas dan Rheologi

Viskositas adalah suatu cara untuk menyatakan berapa daya tahan


dari aliran yang diberikan oleh suatu cairan. Kebanyakan viskometer
mengukur kecepatan dari suatu cairan mengalir melalui pipa gelas (gelas
kapiler), bila cairan itu mengalir cepat maka berarti viskositas dari cairan
itu rendah (misalnya air). Dan bila cairan itu mengalir lambat, maka
dikatakan cairan itu viskositas tinggi. Viskositas dapat diukur dengan
mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung silinder. Cara ini
merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik
untuk cairan maupun gas. Menurut poiseulle, jumlah volume cairan yang
mengalir melalui pipa per satuan waktu. (Dudgale. 1986).
Viskositas biasanya diterima sebagai “kekentalan” atau penolakan
terhadap penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluid
kepada aliran dapat dipikir sebagai cara untuk mengukur gesekan fluid.
Prinsip dasar penerapan viskositas digunakan dalama sifat alir zat cair atau
rheologi. Rheologi merupakan ilmu tentang sifat alir suatu zat. Rheologi
terlibat dalam pembuatan, pengemasan atau pemakaian, konsistensi,
stabilitas dan ketersediaan hayati sediaan. (Moechtar, 1990).

3.2. Kegunaan dalam Bidang Farmasi

Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Dalam bidang farmasi,


prinsip-prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspense,
emulsi, lotion, pasta, penyalut tablet, dll. Selain itu, prinsip rheologi
digunakan untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (Dosage Form)
sebagai penjamin kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga
meliputi pencampuran aliran dari bahan, penuangan, pengeluaran dari
tube, atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu
dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat,
bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga
viskositas telah terbukti dapat mempengauhi laju absorbsi obat dalam
tubuh.

3.3. Faktor yang mempengaruhi


Faktor- fator yang mempengaruhi viskositas adalah sebagai berikut:
 Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan
viskositas gas tidak dipengaruhi oleh tekanan.
 Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangkan viskositas
gas naik dengan naiknya suhu. Pemanasan zat cair menyebabkan molekul-
molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul cairan bergerak
sehingga gaya interaksi antar molekul melemah. Dengan demikian
viskositas cairan akan turun dengan kenaikan temperatur.
 Kehadiran zat lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan
tambahan seperti bahan suspensi menaikkan viskositas air. Pada minyak
ataupun gliserin adanya penambahan air akan menyebabkan viskositas
akan turun karena gliserin maupun minyak akan semakin encer, waktu
alirnya semakin cepat.
 Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran
alkohol cepat, larutan minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya
tinggi seta laju aliran lambat sehingga viskositas juga tinggi.
 Berat molekul
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak.
 Kekuatan antar molekul
Viskositas air naik denghan adanya ikatan hidrogen, viskositas
CPO dengan gugus OH pada trigliseridanya naik pada keadaan yang sama.
(Bird, 1987)

3.4. Tipe Aliran atau Sifat Alir


3.4.1. Sistem Newton
Cairan yang mengikuti hukum Newton viskositasnya tetap pada
suhu dan tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan geser. Oleh
karena itu viskositasnya dapat ditentukan pada satu kecepatan geser saja
dengan menggunakan viskometer kapiler atau bola jatuh. Sifat alir ini
dimiliki untuk cairan – cairan murni dan beberapa larutan zat contohnya
larutan gula, sorbitol, gliserin, minyak jarak, kloroform dan air. Balok zat
cair ini terdiri lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan
terbawah tetap diam, sedangkan lapisan diatasnya bergerak dengan
kecepatan konstan, sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan
kecepatan yang berbanding langsung dengan jaraknya terhadap lapisan
terbawah yang tetap. Perbedaan kecepatan dv antara dua lapisan yang
dipisahkan dengan jarak dx disebut dv/dx atau kecepatan geser (rate of
shear). Sedangkan gaya per satuan luas F/A atau tekanan geser (Shearing
stress). (Sinko, 2008)

3.4.2. Sistem Non-Newton


Viskositasnya tidak mengikuti hukum newton (berubah pada setiap
kecepatan geser sehingga tidak ada viskositas absolute). Untuk melihat
sifat alirnya, dilakukan pengukuran pada beberapa kecepatan geser.
Ahli farmasi kemungkinan besar lebih sering menghadapi cairan
Non-Newton dibanding dengan cairan biasa. Oleh karena itu mereka harus
mempunyai metode yang sesuai untuk mempelajari zat – zat kompleks ini.
Non-Newtonia Bodies adalah zat – zat yang tidak mengikutin persamaan
aliran Newton, dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan
koloid, emulsi, suspensi cair, salep dan produk – produk yang serupa.
Berdasarkan grafik sifat aliran atau rheogramnya, cairan non-newton
terbagi menjadi dua kelompok, yaitu (Sinko, 2008):
1. Cairan yang sifat alirnya tidak dipengaruhi oleh waktu
Pada cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi waktu,
apabilatekanan geser dihilangkan, sistem akan segera kembali ke kondisi
semula. Oleh karena itu, kurva menaik dan menurun akan berhimpit.
Kelompok ini terbagi atas tiga bagian, yaitu:
a. Aliran plastik
Cairan yang mempunyai aliran plastik tidak akan mengalir sebelum
suatu gaya tertentu dilampauinya. Gaya tersebut adalah yield value
atau f. Pada tekanan di bawah yield value cairan tersebut bertindak
sebagai bahan plastik, sedangkan di atas harga tersebut, alirannya
mengikuti hukum Newton. (Astuti dkk, 2008)
Gambar 3.1. Grafik aliran Plastik.
b. Aliran Pseudoplastik
Viskositas cairan pseudoplastik akan menurun dengan meningkatnya
kecepatan geser. Berbeda dengan aliran plastik, yield value tidak
dijumpai. Oleh karena kurva tidak menunjukkan bagian yang linier,
maka cairan pseudoplastik tidak mempunyai harga viskositas absolut.
Contoh cairan yang memiliki sifat aliran pseudoplastik adalah dispersi
cair tragakan, natirum alginate, CMC-Na dan metil selulosa. (Astuti
dkk, 2008)

Gambar 3.2. Grafik aliran Pseudoplastik.

c. Aliran Dilatan
Viskositas cairan dilatan meningkat dengan meningginya kecepatan
geser karena terjadi peningkatan volume antar partikel sehingga
pembawa tidak lagi mencukupi. (Astuti dkk. 2008)
Gambar 3.3. Grafik aliran Dilatan.

2. Cairan yang sifat alirnya dipengaruhi oleh waktu


Pada cairan yang sifat alirannya dipengaruhi waktu, apabila
tekanan geser diturunkan,cairan tidak mengikuti kecepatan geser semula
sehingga kurva menaikdan menurun tidak berhimpit. Akibatnya terbentuk
suatu celah yangdinamakan hyteresis loop. (Astuti dkk, 2008). Kelompok
ini terbagi atas tiga bagian, yaitu:
a. Aliran Tiksotropik
Pada aliran tiksotropik, kurva menurun berada di sebelah kiri
kurva menaik. Fenomena ini umumnya dijumpai pada zat yang
mempunyai aliran plastik dan pseudoplastik. Kondisi ini disebabkan
karena terjadinya perubahan struktur yang tidak segera kembali ke
keadaan semula pada saat tekanan geser diturunkan. Sifat aliran
semacam ini umumnya terjadi pada partikel asimetrik misalnya
polimer yang memiliki banyak titik kontak dan tersusun membentuk
jaringan tiga dimensi. Pada keadaan diam, sistem akan membentuk gel
dan bila diberik tekanan geser, gel akan berubah menjadi sol. (Astuti
dkk, 2008)
Gambar 3.4. Grafik aliran Tiksotropik

b. Aliran Rheopeksi
Aliran terbentuknya gel menjadi sol, pada saat stress ditiadakan,
struktur tersebut mulai terbentuk kembali, proses ini tidak akan timbul
dengan cepat, tetapi secara bertahap dan terjadi restorasi dari
konsistensi pada saat partikel – partikel asimetris berhubungan satu
dengan lainya disebabkan terjadi pergerakan Brown. Karena itu
rheogram yang didapat dari tiksotropik sangat bergantung pada laju
yang meningkatkan dan yang mengurangi shear serta lamanya waktu
sampel tersebut mengalami rate of shear. (Astuti dkk, 2008)

Gambar 3.5. Grafik aliran Rheopeksi.


c. Aliran antitiksotropik
Suatu gejala kenaikan dalam hal kekentalan atau hambatan
(resistensi) mengalir dengan bertambahnya waktu shear ini telah
diselidiki oleh Chong et al. dalam analisis rheologi dari magma
magnesia. Dari penyelidikan bahwa magma magnesia di shear
berganti-ganti pada rate of shear yang meningkat, kemudian menurun,
magma tersebut akan terus mengental (suatu peningkatan dalam
shearing stress per unit shear rate). Tetapi pada laju yang menuun dan
akhirnya mencapai suatu keaadan seimbang, di mana putaran
selanjutnya dari laju shear yang menaik –menurun tidak lagi
meningkatkan konsitensi dari bahan tersebut. (Astuti dkk, 2008)

Gambar 3.5. Grafik aliran Antitiksotropik.

3.5. Metode Penentuan Viskositas dan Rheologi


Pemilihan vaskometer, berhasil atau tidaknya penentuan dan
evaluasi sifat-sifat rheologis dari suatu sitem tertentu tergantung pada
pemilihan peralatan yang tepat. Karena rate of shear pada system newton
berbanding langsung dengan shearing stress. Viskositas cairan akan naik
dengan naiknya kecepatan geser karena volumenya akan naik bila ia
bergeser. Alat untuk mengukur voskositas dan rheology suatu zat cair
disebut viscometer. Ada dua jenis viscometer yaitu (Sinko, 2011):
1. Viskometer satu titik
Alat ini bekerja pada rate of shear tunggal, sehinnga dapat
digunakan untuk cairan newton yang memiliki rate of shearnya berbanding
langsung dengan shearing stress. Yang termasuk kedalam jenis ini
misalnya viscometer kapiler, bola jatuh, penetrometer, dan plate-
plastometer.
2. Viskometer titik ganda
Alat ini bekerja pada berbagai rate of shear, sehingga tepat untuk
digunakan pada cairan non-Newton. Dengan menggunakan alat ini dapat
diperoleh rheogram lengkap untuk menentukan karakteristik sifat aliran
suatu system, yang termasuk ke dalam jenis ini viscometer nya adalah
viscometer rotasi tipe stromer, Brookfield, dan rotovisco.

3.6. Cara Menentukan Viskositas


Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang
dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa
digunakan antara lain :
1. Viskometer kapiler / Oswald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu
yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika
mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari
cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi
suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat
2 tanda tersebut (Moechtar,1990).
2. Viskometer Hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi
keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides.
Prinsip kerjanya adalah menggelindingkanz bola ( yang terbuat dari
kaca ) melalui tabung gelas yang berisi zat cair yang diselidiki.
Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel
(Moechtar, 1990).
3. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antaradinding luar
dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-
tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang
disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube
sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi. Penurunan konsentras
ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal
ini disebut aliran sumbat (Moechtar, 1990).
4. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah
papan, kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut
digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya
digeser di dalam ruang semitransparan yang diam dan kemudian
kerucut yang berputar (Moechtar, 1990).
5. Viskometer Brookfield
Pada viskometer ini nilai viskositas didapatkan dengan mengukur
gaya puntir sebuah rotor silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam
sample. Viskometer Brookfield memungkinkan untuk mengukur
viskositas dengan menggunakan teknik dalam viscometry. Alat ukur
kekentalan (yang juga dapat disebut viscosimeters) dapat mengukur
viskositas melalui kondisi aliran berbagai bahan sampel yang diuji.
Untuk dapat mengukur viskositas sampel dalam viskometer Brookfield,
bahan harus diam di dalam wadah sementara poros bergerak sambil
direndam dalam cairan. (Atkins, 1994)
Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan yang
akan diukur viskositasnya. Gaya gesek antara permukaan spindle
dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas cairan. Sebuah
spindle dimasukkan ke dalam cairan dan diputar dengan kecepatan
tertentu. Bentuk dari spindle dan kecepatan putarnya inilah yang
menentukan Shear Rate. Oleh karena itu untuk membuat sebuah hasil
viskositas dengan metode pengukuran Rotational harus dipenuhi
beberapa hal sebagai berikut:
a. Jenis Spindle
b. Kecepatan putar Spindle
c. Type Viscometer
d. Suhu sample
e. Shear Rate (bila diketahui)
f. Lama waktu pengukuran (bila jenis sample-nya Time Dependent).
(Sukardjo, 1997)
Viskometer Brookfield merupakan salah satu viskometer yang
menggunakan gasing atau kumparan yang dicelupkan ke dalam zat uji
dan mengukur tahanan gerak dari bagian yang berputar. Tersedia
kumparan yang berbeda untuk rentang kekentalan tertentu dan
umumnya dilengkapi dengan kecepatan rotasi (FI IV, 1038).
Prinsip kerja dari viskometer Brookfield ini adalah semakin kuat
putaran semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya semakin
besar (Moechtar, 1990).

3.7. Monografi Zat


a. Sirupus simplex (Farmakope Indonesia III hal 567)
Warna : tidak berwarna
Rasa : manis
Bau : tidak berbau
Pemeriaan : cairan jernih, tidak berwarna
Polimorfisme :-
Ukuran partikel :-
Kelarutan : larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih,
sukar larut dalam eter
Titik lebur : 1800
pKa / pKb :-
Bobot jenis : 1,587 gram/mol
pH larutan :-
Stabilitas : ditempat sejuk
Inkompatibilitas :-
Kegunaan : sebagai pemanis

b. Gliserin
C3H8O3 92.09
Pemerian: bahan yang jernih, tidak berwarna, tidak berbau, cairan
higroskopis, agak berasa manis, tepatnya 0,6 kali kemanisan
sukrosa.
Alasan: Sebagai pembasah agar zat aktif dapat dipenetrasi oleh medium
pendispersi (air) dengan menurunkan tegangan permukaan
cairan sehingga air dengan mudah membasahi zat aktif.
Merupakan polialkohol yang dapat mengusir udara antar
permukaan partikel dengan cara mendesak udara. Sering
digunakan sebagai stabilisator pelarut campur/pembantu
hubungannya dengan air/ alkohol juga sebagai emolien dan
homektan

c. Propilenglikol (FI III, 1979 : 534)


NamaResmi : PROPYLEN GLYCOLUM
Nama : Propilenglikol
RM/BM : C3H8O2/76,10
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, rasa agak manis, Higroskopik.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P.
Dan dengan kloroform P., larut dalam 6 bagianeter
P. Tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P.
Dan dengan minyak lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pengawet.
d. CMC Na (Farmakope Indonesia Edisi IV hal 175)
Pemerian : Serbuk atau granul warna putih, praktis tidak berbau,
higroskopis
Kelarutan : Larut dalam air, alkohol, metanol, membentuk koloid.
pH : 5,0 – 8,5
Khasiat : Suspending agent
Konsentrasi : 0,25-1%
Stabilitas : Larutan stabil pada pH 2-10, pengendapan terjadi pada
pH di bawah 2
OTT : Larutan asam kuat dan larutan garam besi serta
beberapa logam.
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat

e. PGA (Pulpis Gummi Arabicum)


Pemerian hampir tidak berbau, rasa tawar seperti lendir
Kelarutan mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang kental dan
tembus cahaya. Praktis tidak larut dalam ethanol
Kegunaan dan khasiat: sebagai suspending agent
Penggunaan : 5-10 %

IV. Prosedur Percobaan


4.1. Viskometer Hoppler (Bola Jatuh)
Dengan menggunakan viskometer Hoppler, ditentukan viskositas
mutlak dari bermacam-macam cairan Newton : Gliserin, Propilenglikol,
dan Siripus simpleks (65%).

Tabung yang ada di dalam alat diisi dengan cairan yang akan diukur
viskositasnya sampai hampir penuh.
Dimasukkan bola yang sesuai (bola 6,5,4, dan 3)

Ditambahan cairan sampai tabung penuh dan alat ditutup.

Apabila bola sudah turun melampaui garis awal, bola dikembalikan ke


posisi semula dengan cara memutar tabung 3600.

Waktu tempuh bola melalui tabung dicatat mulai dari garis m1 sampai
m3 dalam detik.

Bobot jenis (BJ) cairan ditentukan dengan menggunakan piknometer.

Viskositan cairan dihitung dengan menggunakan rumus yang sesuai.

Dijelaskan pengaruh BJ terhadap viskositas laritan.

4.2. Viskometer Brookfield


Ditentukan sifat aliran dari : Gliserin 65% dalam 500 mL, CMC Na 1%
dalam
1000 mL, dan PGA 33.3% dalam 500 m

Dipasang spindel pada gantungan spindel.


Diturunkan sedemikan rupa, sehingga batas spindel tercelup ke dalam
cairan yang akan diukur viskositasnya.

Stop kontak dipasang dan dihidupkan motor sambil menekan tombol.

Spndel dibiarkan berputar dan angka viskositas yang tertera pada alat
dicatat.

Rpm diubah-ubah, diperoleh viskositas cairan pada berbagai rpm.

Dibuat grafik antara rpm dan viskositas, kemudian ditentukan tipe


aliran dari masing-masing zat.

Dijelaskan pengaruh BJ terhadap viskositas larutan.


V. Data Pengamatan dan Perhitungan
5.1. Data Pengamatan
5.1.1. Viskometer Hoppler (Bola Jatuh)

Tabel 5.1.1. Viskometer Hoppler

Bola Gliserin Propilenglikol Sirupus Simpleks

Bola 6 1,6 0,19 0,16


Bola 5 6,73 0,81 0,66
Bola 4 82,68 6,72 4,41
Bola 3 466,24 35,41 23,32

Tabel 5.1.2. Viskometer Hoppler

Konstanta
Bola Massa Jenis (g/cm²)
(mPa.cm³/g)

3 8,1279 0,0932
4 8,127 0,497
5.1.2. Viskometer Brookfield

Tabel 5.2.1. Viskometer Brookfield pada Gliserin

Titik Normal Titik Balik


Spindel rpm rpm
CP % CP %

10 411,6 68,6 100 E E


20 E E 50 E E
61
50 E E 20 E E
100 E E 10 417 69,4
10 276 9,2 100 E E
20 306 20,4 50 409,8 68,3
62
50 402,6 67,1 20 333 22,2
100 E E 10 288 9,6
10 230 1,9 100 361 30,1
20 276 4,6 50 355 14,8
63
50 288 12 20 312 5,2
100 361 30,1 10 200 1,7
10 0 0 100 384 6,4
20 450 1,5 50 250 2,1
64
50 110 0,9 20 330 1,1
100 384 6,4 10 - -0,5

Grafik antara Gliserin dengan rpm spindle 63

35
G
30
25
Viskositas

20 Titik normal
15
Titik Balik
10
5
0
0 50 100 150
rpm

Gambar 5.2.1. Grafik Viskositas Brookfield pada Gliserin


Tabel 5.2.2. Viskometer Brookfield pada CMC Na 1%

Titik Normal Titik Balik


Spindel rpm rpm
CP % CP %

10 E E 100 E E
20 E E 50 E E
61
50 E E 20 E E
100 E E 10 E E
10 2280 76 100 E E
20 E E 50 E E
62
50 E E 20 E E
100 E E 10 1410 67
10 1540 12,8 100 1103 91,9
20 1542 25,7 50 1414 58,9
63
50 1438 59,9 20 1728 28,8
100 1103 91,9 10 1810 15,1
10 1680 2,8 100 1630 27,3
20 1920 6,4 50 2240 18,7
64
50 1840 15,3 20 2670 8,9
100 1630 27,3 10 2400 4

Grafik antara CMC Na 1 % dengan spindle rpm 63


100
90
80
70
Viskositas

60
50
40 Titik Normal
30 Titik Balik
20
10
0
0 50 100 150
rpm

Gambar 5.2.2. Grafik Viskositas Brookfield pada CMC Na 1%


Tabel 5.2.3. Viskometer Brookfield pada PGA 33,33 %

Titik Normal Titik Balik


Spindel rpm rpm
CP % CP %

10 122,4 22,4 100 E E


20 151,2 50,4 50 E E
61
50 E E 20 163,8 54,6
100 E E 10 137,4 22,9
10 51 1,7 100 195 65
20 132 8,8 50 169,2 28,2
62
50 172,2 28,7 20 152 10,1
100 195 65 10 78 2,6
10 0 0 100 185 15,4
20 120 2 50 156 6,5
63
50 151 6,3 20 114 1,9
100 185 15,4 10 0 0
10 - -2,6 100 324 5,4
20 - -0,8 50 180 1,5
64
50 80 0,7 20 0 0
100 324 5,4 10 - -1,2

Grafik antara PGA 33,33 % dengan spindle 62


70
60
50
Viskositas

40
30 Titik Normal

20 Titik Balik

10
0
0 50 100 150
rpm

Gambar 5.2.3. Grafik Viskositas Brookfield PGA 33,33 %


5.2. Perhitungan
5.2.1. Perhitungan Penimbangan
 CMC Na 1% dalam 1 L

1
CMC Na = 100 x 1000 = 10 gram

 PGA 33,33% dalam 750 mL

33,33
PGA = x 750 = 249, 975 gram
100

 Sirupus Simpleks 65% dalam 500 mL

65
Sirupus simpleks = 100 x 500 = 325 gram

5.2.2. Perhitungan Viskometer Hoppler


 Viskositas Gliserin
t untuk gliserin :
1. 82,68 detik pada bola 4
2. 466,24 detik pada bola 3

Bola 4 Bola 3
ɳ = t (Sb-Sf). B ɳ = t (Sb-Sf). B
= 82,68 (8,1270 – 1,2629) = 466,24 (8,1279 – 1,2629)
0,497 0,0932
=82,68 (6,841) 0,497 = 466,24 (6,865) 0,0932
= 282, 06 poise = 298,31 poise
 Viskositas Propilenglikol

t pada bola 3 → 35,41 detik

Bola 3
ɳ = t (Sb-Sf). B
= 35,41 (8,1279 – 1,0498) 0,0932

= 35,41 (7,0781) 0,0932

= 23,36 poise

 Viskositas Sirupus

t pada bola 3 → 23,32 detik

Bola 3
ɳ = t (Sb-Sf). B
= 23,32 (8,1279 – 1,2435) 0,0932

= 23,32 (6,8844) 0,0932

= 14,96 poise

5.2.3. Perhitungan Bobot Jenis


𝑤1 = 18,9907 gram
𝑤2 = 30,2261 gram
𝑤3(𝑔𝑙𝑖𝑠𝑒𝑟𝑖𝑛) = 33,1801 gram
𝑤3(𝑝𝑟𝑜𝑝𝑖𝑙𝑒𝑛𝑔𝑙𝑖𝑘𝑜𝑙) = 30,7862 gram
𝑤3(𝑠𝑖𝑟𝑢𝑝𝑢𝑠) = 32,9620 gram
𝑤3(𝐶𝑀𝐶) = 30, 2955 gram
𝑤3(𝑃𝐺𝐴) = 31, 6880 gram
𝒘 −𝒘
BJ= 𝒘𝟑 −𝒘𝟏
𝟐 𝟏

1. BJ gliserin
33,1801 − 18,9907 14,1894
= = 1,2629 𝑔/𝑚𝐿
30,2261 − 18,9907 11,2354
2. BJ propilenglikol
30,7862 − 18,9907 11,7955
= = 1,0498 𝑔/𝑚𝐿
30,2261 − 18,9907 11,2354
3. BJ sirupus
32,9620 − 18,9907 13,9713
= = 1,2435 𝑔/𝑚𝐿
30,2261 − 18,9907 11,2354
4. BJ CMC
30,2955 − 18,9907 11,3048
= = 1,0062 𝑔/ 𝑚𝐿
30,2261 − 18,9907 11,2354
5. BJ PGA
31,6880 − 18,9907 12,6973
= = 1,1301 𝑔/ 𝑚𝐿
30,2261 − 18,9907 11,2354
VI. Pembahasan
6.1. Viskometer Hoppler (Bola Jatuh)

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menerangkan apa itu


viskositas dan rheologi, membedakan cairan Newton dan cairan Non-
Newton, menggunakan alat – alat penentuan viskositas dan rheologi,
menentukan viskositas dan rheologi cairann Newton dan Non-Newton
serta menerangkan pengaruh BJ terhadap viskositas larutan.
Pada percobaan ini, alat untuk menentukan viskositas dan rheologi
menggunakan Viskometer bola jatuh atau Hoppler dan viskometer rotasi.
Viskometer bola jatuh atau Hoppler mempunyai prinsip alat yaitu
suatu bola gelas atau bola besi jatuh ke bawah dalam suatu tabung gelas
yang hampir vertikal yang didalamnya mengandung cairan yang diuji pada
temperatur konstan. (Moechtar, 1990)
Pada percobaan menggunakan viskometer bola jatuh (Hoppler)
kami menggunakan bola no 6, 5, 4 dan bola 3 yaitu bola besi. Dimana
masing – masing dihitung waktu jatuhnya bola menggunakan larutan
Gliserin, Propilenglikol dam Sirupus Simpleks. Untuk menghitung
viskositas digunakan waktu jatuhnya bola dengan rentang waktu 30 – 500
detik sehingga didapat waktu jatuhnya bola dan pada Gliserin didapatkan
bola 4 selama 82,68 detik dan bola 3 selama 466,24 detik untuk dihitung
viskositasnya. Pada Propilenglikol didapatkan bola 3 dengan waktu selama
35,41 detik dan pada Sirupus Simplek tidak ada bola yang dapat dihitung
viskositasnya sehingga diambil waktu dengan nilai terbesar yaitu pada
bola ke- 3 selama 23,32 detik. Sehingga didapat hasil viskositas untuk
gliserin pada bola 4 sebesar 282,06 poise dan pada bola 3 sebesar 298,31
poise. Untuk propilenglikol, nilai viskositas yang didapat pada bola 3
sebesar 23,36 poise dan untuk sirupus simpleks nilai viskositas pada bola 3
sebesar 14,96 poise.
Berdasarkan data yang diperoleh dihitung viskositas dari tiap
larutan. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai viskositas tertinggi
adalah gliserin dan untuk bobot jenis yang tertinggi adalah gliserin. Bobot
jenis dapat mempengaruhi waktu tempuh bola untuk turun melalui dua
garis pada tabung. Semakin besar atau semakin tinggi bobot jenis, maka
waktu yang ditempuh bola akan semakin cepat. Untuk propilenglikol yang
bobot jenisnya lebih kecil dibandingkan dengan gliserin dan sirupus
simpleks memiliki waktu tempuh bola yang paling lama. Viskositas
bergantung pada waktu tempuh bola, bobot jenis bola dan bobot jenis
cairan.
Faktor yang mempengaruhi viskometer bola jatuh, diantaranya:
1. Waktu tempuh bola
Dimana semakin lama bola turun dari garis 1 ke garis 3, maka
viskositasnya semakin besar karena waktu tempuhnya semakin lama
dan viskositasnya semakin kecil jika waktu tempuh bola untuk turun
semakin cepat. (Bird, 1987)
2. Perbandingan bobot jenis (BJ) bola dan bobot jenis (BJ) cairan.
Dimana jika BJ bola lebih kecil daripada BJ cairan, maka waktu
yang ditempuh bola semakin lama sehingga viskositas cairan semakin
besar begitupun sebaliknya dimana jika BJ bola lebih besar daripada BJ
cairan, maka waktu tempuh bola dari garis 1 ke garis 3 akan semakin
cepat sehingga menyebabkan viskositas cairan semakin kecil. (Bird,
1987)

Berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi viskometer bola


jatuh, didapatkan hasil untuk waktu yang diperlukan untuk bola turun dari
garis m1 ke m3 serta bobot jenis (BJ) dari bola dan zat, dimana untuk
waktu yang diperlukan bola untuk turun dari garis m1 ke m3 saat
menggunakan gliserin yaitu bola ke-3 dengan waktu selama 466,24 detik,
kemudian bola ke-4 dengan waktu selama 82,68 detik. Lalu saat
menggunakan larutan propilenglikol dipilih bola ke-3 dengan waktu
selama 35,41 detik dan saat menggunakan larutan sirupus simpleks dipilih
bola ke-3, tetapi untuk larutan sirupus simpleks, tidak ada waktu yang
memenuhi syarat waktu tempuh dalam viskometer bola jatuh yaitu pada
rentang 30 – 500 detik, sehingga dipilihlah waktu terlama atau tertinggi
untuk menentukan viskositas dari sirupus simpleks yaitu selama 23,32
detik. Waktu tertinggi yang diperlukan bola untuk turun dari garis m1 ke
m3 adalah pada bola 3 dengan waktu selama 466,24 detik pada cairan
gliserin dimana hal ini menunjukkan semakin lama waktu yang
dibutuhkan bola untuk turun, maka semakin besar pula viskositas cairan
tersebut dalam hal ini adalah gliserin. (Bird, 1987)
Untuk Bobot Jenis (BJ) bola, dalam percobaan ini kami memilih
bola 3 dan 4 pada uji coba menggunakan gliserin, bola 3 pada
propilenglikol dan bola 3 juga pada sirupus simpleks, dimana BJ untuk
bola 3 sebesar 8,1279 dan untuk bola 4 sebesar 8,1270. Yang dipakai
untuk percobaan adalah bola 6, 5 4 dan 3 dan yang dipilih adalah bola 4
dan 3.
Untuk Bobot Jenis (BJ) cairan diantaranya yaitu gliserin, sirupus
simpleks dan propilenglikol. Dimana BJ dari gliserin sebesar 1,2629 gram,
BJ sirupus simpleks sebesar 1,2435 gram dan BJ dari propilenglikol
sebesar 1,0498 gram. Disini BJ yang paling tinggi adalah gliserin dan
terendah adalah propilenglikol. Sehingga ini menunjukkan bahwa
viskositasnya lebih besar daripada viskositas propilenglikol karena pada
saat uji coba dari bola 6 sampai bola 3, waktu yang diperlukan bola untuk
turun semakin lama sehingga nilai viskositasnya semakin besar serta BJ
dari bola lebih kecil dari BJ gliserin. (Bird, 1987). Untuk bola 1 dan bola 2
tidak dipakai pada saat percobaan karena merupakan bola kaca dimana BJ
dari bola 1 dan 2 yang terbuat dari kaca jauh lebih kecil dibandingkan
dengan cairan sehingga bola tersebut tidak turun – turun saat dimasukkan
ke dalam cairan maka bisa dikatakan bahwa viskositas dari cairan besar
sehingga bola 1 dan 2 yang merupakan bola kaca tidak dapat turun karena
BJ bola kaca sangat kecil dibandingkan dengan BJ cairan.
6.2. Viskometer Brookfield
Prinsip kerja dari viskometer brookfield ini adalah semakin kuat
putaran semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya semakin
besar (Moechtar,1990). Pada percobaan kedua adalah menentukan sifat
aliran dari suatu cairan non newton. Cairan non newton memiliki
viskositas yang berbeda pada variasi kecepatan geser, sehingga untuk
mengukur viskositasnya dilakukan dengan mengukur pada beberapa
kecepatan geser. Pada percobaan ini pengukuran aliran dilakukan dengan
menggunakan viskometer Brookfield. Pemilihan spindel tergantung pada
viskositasnya cairan yang akan di uji, semakin besar viskositas dari suatu
cairan uji maka spindel yang digunakan makin kecil untuk mempermudah
proses pengukuran sifat aliran.
Langkah awal yakni spindel dipasang pada gantungan spindel
untuk mengukur kecepatan geser (shearing stress) dari suatu larutan.
Larutan yang akan diukur ditempatkan pada gelas beker. Turunkan spindel
sedemikian rupa pada cairan tadi sehingga batas spindel tercelup ke dalam
cairan tanpa menyentuh dasar maupun dinding dari gelas beker karena jika
spindel menyentuh dasar akan terjadi gesekan yang akan memberi gaya
yang menghambat perputaran spindel dan dapat merusak alat. Hal ini
menyebabkan pengukuran menjadi kurang tepat.
Dalam pengukuran viskometer titik ganda dengan viskometer
Brookfield menggunakan cairan ( larutan ) gliserin, CMC Na 1 % dan
PGA 33,33%. Pada percobaanmenggunakan cairan gliserinsetelah
grafiknya dibandingkan dengan literatur, gliserintermasuk pada cairan
nonnewton yang dipengaruhi waktu dengan tipe aliran tiksotropi.
Viskositas
Grafik antara Gliserin dengan
rpm spindel 63

35
30
25
20 Titik
normal
15
10 Titik Balik
5
0
0 100 200
rpm

Gambar 6.1. Kurva gliserin dengan spindle nomor 63.

Gambar 6.2. Kurva shearing stress.

Tiksotropi bisa didefinisikan sebagai suatu pemulihan yang


isotherm dan lambat pada pendiaman suatu bahan yang kehilangan
konsistensinya karena shearing. Gejala tiksotropi sering dikenal dengan
shear thinning sistem (aksi plastis dan pseudoplastis). Kurva menurun
seringkali diganti kesebelah kiri dan kurva yang menaik menunjukkan
bahan tersebut mempunyai konsistensi lebih rendah pada setiap harga rate
of shear pada kurva menurun dibandingkan dengan pada kurva menaik. Ini
menunjukkan adanya pemecahan struktur dan juga shear thinning yang
tidak terbentuk kembali dengan segera jika stress tersebut dihilangkan atau
dikurangi (Sinko, 2011). Sedangkan cairan gliserin menurut literatur
merupakan cairan newton, karena gliserin memiliki viskositas konstan
pada suhu dan tekanan konstan. Faktor kesalahan yang mungkin terjadi
pada saat percobaan adalah kurang tepat dalam mengamati pembacaan
angka yang tertera pada alat viskometer brookfield dan kesalahan dalam
pembuatan cairan gliserin.
Pada percobaan menggunakan cairan CMCNa 1% setelah
grafiknya dibandingkan dengan literatur, CMC Na 1% termasuk dalam
cairan non newton yang tidak di pengaruhi oleh waktu yaitu dilatan.

Grafik antara CMC Na 1 %


dengan spindle rpm 63
100
90
80
70
Viskositas

60
50 Titik Normal
40
30 Titik Balik
20
10
0
0 100 200
rpm

Gambar 6.3. Kurva CMC Na 1% dengan spindle nomor 63.

Gambar 6.4. Kurva shearing stress.

Suspensi-suspensi tertentu dengan presentase zat padat terdispersi


yang tinggi menunjukkan peningkatan tahanan untuk mengalir dengan
meningkatnya laju geser. Sistem seperti ini sebenarnya mengalami
peningkatan volume jikadiberigeseran (shear) sehingga diberi istilah
dilatan (Sinko, 2011). Sedangkan menurut literatur cairan CMC Na 1%
termasuk ke dalam cairan pseudoplastik, karena CMC Na memiliki
viskositas tidak konstan. Faktor kesalahan yang mungkin terjadi pada saat
percobaan adalah kurang tepat dalam mengamati pembacaan angka yang
tertera pada alat viskometer Brookfield dan kesalahan dalam pembuatan
cairan CMC Na 1%.
Pada pengujian dengan cairan PGA33,33% didapatkan sifat cairan
newton.

Grafik antara PGA 33,33%


dengan spindle 62
70
60
50
Viskositas

40
Titik
30
Normal
20
10 Titik Balik
0
0 200

rpm

Gambar 6.5. Kurva PGA 33,33% dengan spindle nomor 62.

Rate of shear

Shearing stres

Lapisan dasar dianggap menempel pada tempatnya. Jika bidang


cairan paling atas bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan
dibawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan
dibawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan yang berbanding lurus
dengan jarak dari lapisan dasar yang diam. Sehingga dapat disimpulkan
sistem newton menghasilkan garislurus/sistem linier, hal ini disebabkan
karena adanya gaya persatuan luas F’/A yang diperlukan untuk
menyebabkan aliran yang menghasilkan sistem linier (Sinko,2011).
Sedangkan menurut literatur PGA 33,33% termasuk ke dalam sifat cairan
non newton yang tidak dipengaruhi oleh waktu yaitu aliran dilatan. Faktor
kesalahan yang mungkin terjadi pada saat percobaan adalah kurang tepat
dalam mengamati pembacaan angka yang tertera pada alat viskometer
Brookfield dan kesalahan dalam pembuatan cairan PGA 33,33%.
Pengukuran dengan viskometer ini menggunakan spindle dengan
rpm yang berbeda-beda yaitu 10, 20, 50 dan 100 rpm. Itu bertujuan untuk
mengetahui pengaruh kecepatan rpm terhadap viskositas. Semua berlaku
untuk sample yang lain. Dengan rpm yang berbeda-beda didapat pula CP
dan % yang berbeda pula dari setiap sample nya. hal ini disebabkan karena
semakin besar spindle dan semakin besar viskositas semakin sulit
dilakukan pendeteksian viskositas menggunakan spindle. Dengan
mengetahui nilai viskositas dari masing-masing sampel dapat diketahui
bahwa Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu
larutan dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi
pula, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang
terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang terlarut,
gesekan antar partikel semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi
pula. Setiap bertambahnya konsentrasi semakin bertambanhnya viskositas
(kekentalan) sehingga grafik yang ditunjukan adalah kenaikan dari setiap
bertambahnya konsentrasi.
Selain ukurannya yang berbeda-beda, ketiga jenis spindle ini
memiliki fungsi yang berbeda. Jika sediaan yang akan diuji mempunyai
karakteristik aliran Newton maka digunakan spindle 3 atau dapat juga
dengan spindle 1 karena larutan yang memiliki daya alir Newton bersifat
tidak terlalu kental (encer). Namun untuk mengukur viskositas larutan
yang memiliki karakteristik aliran Non-Newton dapat digunakan spindle 2
yang berbentuk kecil karena pada aliran Non-Newton larutannya
mempunyai kekentalan yang tinggi.
Dari hasil percobaan setelah dilakukan percobaan pada larutan gliserin,
sesuai dengan literatur, dimana semakin tinggi nilai rpm maka nilai viskositasnya
semakin besar. Pada spindel 63 mulai dari rpm 10,20,50 dan 100 viskositas secara
berturut-turut adalah 230; 276; 288; dan 361 cP. Untuk titik balik, digunakan
kecepatan putar 100, 50, 20, dan 10 rpm. Hasil viskositas secara berturut-turut
adalah 361; 355; 312; dan 200 cP. Sedangkan untuk % nya pada spindel 63 pada
rpm 10, 20, 50, dan 100 berturut-turut adalah 1,9%; 4,6; 12,0; dan 30,1 %. Karena
menurut literatur sifat alirnya ditentukan pada presentase 10% atau lebih,
walaupun pada rpm 10 dan 20 presentase kurang dari 10% tetapi percobaan
spindle 63 adalah percobaan yang paling stabil.

Pada larutan CMC Na pada kecepatan yang sama di titik normal


didapatkan hasil secara berturut-turut yaitu 1540, 1542, 1438, dan 1103 cP.
Sementara untuk titik balik, hasil pengamatannya terlihat sama saja dengan titik
normal, terjadi ketidaksesuaian antara literatur dengan hasil percobaan, dimana
dari hasil pengamatan, nilai viskositas yang mula-mula kecil ke besar lalu kembali
kecil yang seharusnya semakin tinggi kecepatan putar (rpm), maka nilai viskositas
semakin besar. Pada spindle 63 ini presentase nya pada rpm yang sama berturut-
turut 12,8; 25,7; 59,9; dan 91,9%, didapat sifat alir nya lebih dari 10%.

Pada larutan PGA setelah dilakukan pengukuran nilai viskositas dengan


menggunakan spindle 62 didapat hasil yang sangat kecil. Viskositas larutan secara
berurutan yaitu 51; 132; 172,2; dan 185 cP. Nilai viskositas PGA pada kecepatan
100 rpm terbilang paling kecil antara gliserin dan CMC Na. Hal tersebut terjadi
karena larutan PGA jenis larutannya sangat encer, sehingga nilai viskositasnya
kecil. Pada spindle 62 ini presentase nya pada rpm yang sama berturut-turut 1,7;
8,8; 28,7; dan 65%, didapat sifat alir nya lebih dari 10%. Pada rpm 10 dan 20
presentase kurang dari 10% tetapi percobaan spindle 63 adalah percobaan yang
paling stabil.
VII. Kesimpulan

Viskositas adalah suatu cara untuk menyatakan berapa daya tahan


dari aliran yang diberikan oleh suatu cairan. Rheologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang aliran cairan dan deformasi. Cairan yang mengikuti
hukum Newton viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan
tidak tergantung pada kecepatan geser. Oleh karena itu viskositasnya dapat
ditentukan pada satu kecepatan geser saja dengan menggunakan
viskometer kapiler atau bola jatuh. Pada non-Newton viskositasnya tidak
mengikuti hukum newton (berubah pada setiap kecepatan geser sehingga
tidak ada viskositas absolute). Untuk melihat sifat alirnya, dilakukan
pengukuran pada beberapa kecepatan geser dengan menggunakan alat
Viskometer Brookfield.
Pengukuran viskositas dari cairan gliserin, propilen glikol, dan
sirupus simpleks dengan menggunakan viskometer Hoppler secara
berturut-turut adalah -1029,481 dan -1.088,607; -74,777; dan -53,975.
Sedangkan pengukuran viskositas cairan gliseri, CMC Na, dan PGA
menggunakan viskometer Brookfield didapat hasil berturut-turut pada
splindel 63, 63, dan 62. Bobot jenis dapat mempengaruhi waktu tempuh
bola untuk melalui 2 titik pada tabung, semakin tinggi berat jenis, maka
tahanan pada laju bola akan rendah, jadi viskositasnya pun rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, dkk. 2008. “Buku Ajar Farmasi Fisik”. Jimbaran: Universitas Udayana
Atkins, P.W. 1994. “Kimia Fisika Jilid 1”. Jakarta: Erlangga
Bird, Tony. 1987. “Kimia Fisik Untuk Universitas”. Jakarta: PT Gramedia

Depkes RI. 1979. “Farmakope Indonesia Edisi III”. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia
Depkes RI. 1995. “Farmakope Indonesia Edisi IV”. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Dudgale. 1986. “Mekanika Fluida Edisi 3”. Jakarta: Erlangga
Moechtar. 1990. “Farmasi Fisik”. Yogyakarta: UGM Press
Sinko, Patrick. J. 2008. “Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika edisi 5”.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Sinko, Patrick. J. 2011. “Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika edisi 5”.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Sukardjo. 1997. “Kimia Fisika 1”. Jakarta: Rineka Cipta