Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada tahun 2012

sedikitnya sejumlah 839 juta kasus hipertensi, dimana penderitanya lebih

banyak dari wanita (30%) dibanding pria (29%). Di Amerika, menurut

National Health and Nutrition Examination Survey (NHNESIII), insiden

hipertensi pada orang dewasa di Amerika tahun 2010–2012 adalah sekitar

39–51% yang berarti bahwa terdapat 58–65 juta orang menderita

hipertensi (Triyanto, 2014).

Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang

menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas nilai normal, yaitu melebihi

140/90 mmHg (Triyanto, 2014). Prevalensi hipertensi di Indonesia

mencapai 31, 7% dari populasi usia 18 tahun keatas. Hipertensi sebagai

penyebab kematian ke – 3 setelah stroke dan tuberkolosis, jumlahnya

mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua umur di

Indonesia. Pada lansia di kota Depok didapatkan adanya hipertensi tinggi

sebesar 70,9% hipertensi sedang sebesar 65,2% dan hipertensi rendah

sebesar, 5% (Sunanto, 2009).

Hasil observasi penulis pada tanggal 10 maret 2015 pada Ny. W

dengan hipertensi di Ruang Teratai RSUD Dr. Soediran Mangoen

Soemarso Wonogiri, diperoleh data pada Ny. W mengalami nyeri kepala


cekot-cekot TD 170/70 mmHg, Nadi 70x/menit, RR 25x/menit, suhu

37,5oC. Sebagai perawat masalah utama pada pasien hipertensi yaitu

penurunan nyeri kepala yang harus ditangani karena ini merupakan acuan

penting dalam masalah yang muncul diantaranya nyeri akut. Data Rekam

Medis pada RSUD Dr. Soediran Mangoen Soemarso Wonogiri per 2014

adalah 18,5% penderita hipertensi mengalami nyeri kepala.

Nyeri merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan, baik

sensori maupun emosional yang berhubungan dengan risiko atau aktualnya

kerusakan jaringan tubuh (Judha, 2012). Berdasarkan penjelasan di atas

kasus hipertensi harus segera diatasi, penanganan hipertensi dapat

dilakukan secara farmakologis dan nonfarmakologis. Penanganan secara

farmakologi dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat penurun

hipertensi. Sedangkan penanganan secara nonfarmakologis dapat

dilakukan dengan memberikan terapi yang memberikan manfaat relaksasi

kepada tubuh. Manajemen nonfarmakologi yang diberikan yaitu terapi

alternatif komplementer. Ada berbagai cara untuk membantu mengurangi

nyeri antara lain relaksasi otot, masase kepala, pemberian obat gosok, obat

anti cephalgia, obat penenang ringan, akupuntur, dan injeksi tempat nyeri

dengan anestesi local (Triyanto, 2014).

Terapi alternatif komplementer merupakan sebuah kelompok dari

bermacam–macam sistem pengobatan dan perawatan kesehatan atau

praktek dan produk yang secara umum tidak menjadi bagian dari

pengobatan konvensional. Salah satu terapi alternatif yaitu masase. Masase


adalah sebagai pijat yang telah disempurnakan dengan ilmu-ilmu tentang

tubuh manusia atau gerakan – gerakan tangan yang mekanis terhadap

tubuh manusia dengan mempergunakan bermacam – macam bentuk

pegangan atau tehnik (Triyanto, 2012). Dalam hal ini akan melihat

fisioterapi kepala (masase kepala) terhadap penurunan nyeri kepala pada

klien hipertensi. Salah satu cara terbaik untuk menurunkan tekanan darah

yaitu dengan terapi pijat. Sejumlah studi menunjukan bahwa terapi pijat

yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan tekanan darah sistolik

dan diastolik, menurunkan kadar hormone stress cortisol, merupakan

kecemasan sehingga tekanan darah akan turun dan fungsi tubuh semakin

membaik (Triyanto, 2014).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik dalam

mengaplikasikan pemberian masase kepala terhadap penurunan nyeri

kepala pada asuhan keperawatan dengan hipertensi di Ruang Anggrek

Panti Sosial Pucang Gading Kota Semarang dari 17 orang pasien, 14 orang

pasien yang menderita hipertensi (82,3%) dengan sering mengeluh pusing

kepala. Dimana rata-rata Tekanan Darah berkisar anatara 160/90 mmHg

dari 14 pasien menderita Tekanan Darah tinggi yang terkontrol.


B. Tujuan Penulisan

Tujuan umum dan tujuan khusus dari karya tulis ini adalah :

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui pemberian fisioterapi kepala (masase kepala)

terhadap penurunan nyeri kepala pada asuhan keperawatan dengan

hipertensi di Panti Sosial Pucang Gading Kota Semarag


2. Tujuan Khusus

a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada kasus hipertensi.

b. Penulis mampu merumuskan diagnose keperawatan hipertensi.

c. Pasien mampu menyusun rencana asuhan keperawatan dengan hipertensi.

d. Penulis mampu melakukan implementasi pada hipertensi.

e. Penulis mampu melakukan evaluasi dengan hipertensi

f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian masase kepala

terhadap penurunan nyeri kepala pada kasus hipertensi.

C. Manfaat Penulisan

1. Bagi Pasien

Diharapkan dapat sebagai sumber referensi dalam memberikan

pilihan terhadap penanganan hipertensi dengan menerapkan masase

kepala dalam kehidupan sehari-hari.


2. Bagi Panti Sosial Pucang Gading Kota Semarang

Dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memberikan asuhan

keperawatan yang komprehensif terutama pada pasien hipertensi.

3. Bagi institusi pendidikan

Sebagai sumber informasi bagi institusi pendidikan dalam

pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan

datang.

4. Bagi Penulis

Dapat menjadi pegangan atau manfaat bagi penulis dalam hal

pemberian fisioterapi kepala (masase kepala) terhadap penurunan

nyeri kepala pada Asuhan Keperawatan dengan hipertensi di Ruang

Anggrek Panti Sosial Pucang Gading Kota Semarang.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Hipertensi

a. Pengertian Hipertensi

Hipertensi dapat didefinisikan Suatu keadaan dimana

seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang

mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan angka kematian

(Triyanto, 2014). Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah

arteri yang persisten (Hardhi, 2013).

b. Etiologi

1. Hipertensi primer atau esensial yaitu kurang lebih Sembilan

puluh persen hipertensi yang ada di masyarakat termasuk

golongan hipertensi ini, dan belum diketahui penyebabnya, klien

tidak menunjukan keluhan.

2. Hipertensi sekunder yaitu jenis hipertensi ini diketahui

penyebabnya dan penanganannya lebih mudah. Klien menunjukan

gejala atau keluhan dari penyakit yang mendasarinya misalnya

kelainan ginjal : GNA/GGA, Hormon : Diabetes Millitus,

Neurologis : Tumor otak, lain-lain : Preeklamsi (Herlambang,

2013).
Penyebab hipertensi dibagi menjadi 3 yaitu :

a. Secara garis keturunan menyebabkan kelainan berupa :

Gangguan fungsi barostat renal, sensitifitas terhadap

konsumsi garam, abnormalitas transportasi natrium

kalium, respon SSP (Sistem Saraf Pusat) terhadap

stimulasi psiko-sosial, Gangguan metabolisme (glikogen,

lipid, dan resistensi urin).

b. Faktor lingkungan : Faktor psikososial yaitu kebiasaan

hidup, stress mental, keturunan dan kegemukan, Faktor

konsumsi garam, dan Pengobatan obat-obatan seperti

golongan ankotirkosteroid.

c. Adaptasi dan struktual jantung serta pembuluh darah :

pada jantung terjadi hypertropi dan hyperplasia monosit,

pada pembuluh darah : terjadi vaskuler hypertropi

(Pudiastuti, 2013).

c. Manifestasi klinik

Gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi

biasanya berupa : pusing, mudah marah, telinga berdengung, Sesak

nafas, rasa berat di tengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang ,

dan miisan (jarang dilaporkan). Individu yang menderita hipertensi

kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala bila

ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi


yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh

darah bersangkutan (triyanto, 2014).

Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun

selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan

peruban pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan),

penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat edema pupil

(edema pada diskus optikus). Individu yang menderita hipertensi

kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala

bila ada menunjukkan adanya kerusakan vaskuler, dengan

manifestasi yang khas sesuai system organ yang divaskularisasi oleh

pembuluh darah yang bersangkutan (Brunner & Suddarth, 2005).

d. Patofisiologi

Meningkatnya tekanan darah didalam arteri bisa terjadi

melalui beberapa cara yaitu, jantung memompa lebih kuat sehingga

mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya arteri besar

kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka tidak

dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri

tersebut. Darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui

pembuluh yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan naiknya

tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding

arterinya telah menebal dan kaku karena arterioskalierosis.

Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada

saat terjadi vasokontriksi, yaitu jika arteri kecil (Arteriola).


Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak

mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh.

Volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga

meningkat.

Sebaliknya, jika aktifitas memompa jantung berkurang, arteri

mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi, maka

tekanan darah akan menurun.

Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi

pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan

tekannan darah kembali normal. Ginjal juga bisa meningatkan

tekanan darah dan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang

memicu pembentukan hormone aldosterone. Ginjal merupakan organ

penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena berbagai

penyakit dan kelainan pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya

tekanan darah tinggi (Triyanto, 2014).

e. Komplikasi

Berikut ini adalah penyakit yang ditimbulkan akibat

hipertensi.

Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi diotak,

Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang

memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga

aliran darah kedaerah-daerah yang di perdarahinya berkurang.

Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat menjadi

lemah, sehingga meningkatkan kemungkinann terbentuknya


aneurisma. Gejala terkena stroke adalah sakit kepala secara tiba-

tiba,seperti orang bingung, bertingkah laku seperti orang mabuk,

salah satu bagian tubuh terasa lemah atau sulit digerakan (misalnya

wajah, mulut atau lengan terasa kaku, tidak dapat berbicara secara

jelas) serta tidak sadarkan diri secara mendadak.

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri coroner yang

arterisklerosis tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium

atau apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah

melalui pembuluh darah tersebut. Hipertensi kronik dan hipertensi

ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat

terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan

infark.

Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan akibat tekanan

tinggi pada kapiler-kapiler ginjal. Dengan rusaknya glomerulus,

darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron akan

terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian.

Dengan rusaknya membrane glomerulus, protein akan keluar melalui

urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang,

menyebabakan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik

(Corwin,2000 dalam Triyanto 2014).


f. Klasifikasi

Klasifikasi tekanan darah orang dewasa yaitu sebagai berikut.

Kategori Tekanan Darah Tekanan Darah


Darah tekanan darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Normal <130 <85


Normal Tinggi 130-139 85-89
Stadium 1 (ringan) 140-159 90-99
Stadium 2 (sedang) 160-179 100-109
Stadium 3 (berat) 180-209 110-119
Stadium 4 (sangat berat) ≤210 ≤120

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi (Sumber : Triyanto, 2014)

g. Penatalaksanaan

Penanganan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2

jenis yaitu non farmakologis dan farmakologis. Kondisi patologis

hipertensi memerlukan penanganan atau terapi. Terapi hipertensi

dapat dikelompokan dalam terapi non farmakologis dan terapi

farmakologis. Terapi non farmakologis merupakan terapi tanpa

menggunakan agen obat dalam proses terapinya, sedangkan terapi

farmakologis menggunakan obat atau senyawa yang dalam kerjanaya

dapat mempengaruhi tekanan darah pasien. Pengelompokan terapi

farmakologis yang digunakan untuk mengontrol tekanan darah pada

pasien hipertensi adalah Angiotensin Converting Enzym (ACE)

inhibitor, Angiotensin Receptor Blocker (ARBs), beta-blocker,

calcium chanel blocker, direct renin inhibitor, diuretic, vasodilator.


Dalam algoritme penanganan hipertensi, terapi non

farmakologis diantaranya modifikasi gaya hidup termasuk

pengelolaan stres dan kecemasan merupakan langkah awal yang

harus dilakukan. Penanganan non farmakologis dengan menurunkan

obesitas, menciptakan keadaan rileks, mengurangi asupan garam.

Pada orang yang normal, kecemasan mengakibatkan terjadinya

peningkatan tekanan darah sesaat. Pada pasien hipertensi kecemasan

dapat memicu kenaikan heart rate (HR), tekanan darah dan

ketegangan otot yang membutuhkan intervensi medis maupun

intervensi keperawatan.

Manajemen nyeri melalui teknik relaksasi dapat menurunkan

tekanan darah dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Penggunaan akupuntur dengan metode kiiko matsumoto telah

dilaporkan secara nyata menunjukan efektifitas terhadap penurunan

tekananan darah. Terapi dengan menggunakan trancendental

meditation dan medical hypnosis secara nyata berdampak pada

penurunan tekanan darah dan dapat digunakan sebagai terapi non

farmakologis untuk membantu mengontrol tekanan darah.

Terapi non farmakologis harus diberikan kepada semua

pasien hipertensi primer dengan tujuan menurunkan tekanan darah

dan mengendalikan faktor risiko serta penyakit penyerta lainya.

Ketidakpatuhan pasien terhadap modifikasi gaya hidup yaitu

konsumsi alkohol, pengendalian berat badan, termasuk pengendalian


stres dan kecemasan merupakan salah satu penyebab terjadinya

hipertensi resisten.

Berbagai cara untuk menciptakan keadaan rileks dengan

terapi relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis yang dapat

mengontrol sistem saraf, sehingga dapat menurunkan tekanan darah.

Hasil penelitian Ridjad (2005) tenyata olah raga seperti senam

aerobik selama 30-45 menit senyak 3-4 kali seminggu efektif

menurunkan tekanan darah. Olah raga dapat memperlancar

peredaran darah, mengurangi obesitas dan mengurangi kadar garam

dalam tubuh berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit. Gaya

hidup yang kurang sehat seperti merokok dan konsumsi alkohol

berpengaruh dalam meningkatkan resiko hipertensi.

Penanganan hipertensi dan lamanya pengobatan dianggap

komplek karena tekanan darah cenderung tidak stabil. Penyakit ini

bertanggung jawab terhadap tingginya biaya pengobatan

dikarenakan alasan tingginya angka kunjungna ke dokter, perawatan

dirumah sakit, puskesmas, posyandu maupun praktik tenaga

kesehatan. Namun demikian, angka hipertensi masih saja tinggi yaitu

urutan ke – 2 penyakit terbanyak. Hal ini dikaitkan dengan

kompleknya penanganan hipertensi dan lamanya pengobatan karena

tekanan darah yang cenderung tidak stabil.

Penyakit hipertensi merupakan penyakit kronis dengan

karakteristik tekanan darah cenderung naik turun dalam waktu yang


lama, sehingga diperlukan pengobatan yang lama bahkan mungkin

seumur hidup. Ketidakpatuhan dan stres yang berkepanjangan dapat

menambah parah hipertensi. Tidak bisa dipungkiri obat-obatan

merupakan jenis racun yang dalam batas-batas tertentu bisa

merugikan dan berdampak negatif terhadap tubuh manusia bila

digunakan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, terapi non

farmakologis hanya kalau perlu saja, sedangkan terapi non

farmakologis lebih diutamakan yang berdasarkan banyak penelitian

diyakini lebih aman dan memberikan efek positif.

Beberapa alasan ketidakpatuhan penderita hipertensi dalam

pengobatan adalah kebosanan minum obat karena tekanan darah

masih naik turun. Terkadang akibat diet rendah lemak dan garam

bagi penderita hipertensi menyebabkan anggota keluarga lain

merasakan tidak enaknya menu makanan. Keberhasilan tindakan

pencegahan dan kekambuhan dipengaruhi oleh kepatuhan penderita

hipertensi dalam mengontrol diet dan tekanan darah. Healthy Peole

2010 for Hyperention menganjurkan perlunya pendekatan yang lebih

komprehensif dan intensif guna mencapai pengontrolan tekanan

darah secara optimal (Triyanto, 2014).


h. Konsep Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan pada pasien hipertensi meliputi

1. Pengkajian

Data biografi : Nama, alamat, umur tanggal masuk rumah sakit,

diagnosa medis, penanggung jawab, catatan kedatangan. Riwayat

kesehatan keluhan utama biasanya pasien datang ke Rumah Sakit

dengan keluhan kepala terasa pusing, tidak bisa tidur. Riwayat

kesehatan sekarang biasanya pada saat dilakukan pengkajian pasien

masih mengeluh kepala masih terasa sakit, penglihatan berkunang-

kunang dan tidak bisa tidur. Riwayat kesehatan dahulu biasanya

penyakit hipertensi ini adalah penyakit yang menahun yang sudah

lama dialami oleh pasien. Riwayat kesehatan keluarga biasanya

penyakit hipertensi ini adalah penyakit keturunan. Data dasar

pengkajian yaitu aktifitas atau istirahat gejala kelemahan, tekanan

darah naik, letih, nafas pendek, pola nutrisi berkurang, takhikardi.

Eliminasi gejala gangguan ginjal saat ini atau yang lalu. Makanan

yang disukai biasanya mencakup makanan tinggi garam, lemak dan

kolesterol, tanda berat badan normal atau obesitas. Gejala keluhan

pusing atau sakit kepala, kepala berdenyut, nyeri hilang timbul.


2. Diagnosa keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorsi

makanan.

c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan keadaan lingkungan ;

bising.

3. Intervensi Keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24

jam di harapkan nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria hasil :

1) Pasien dapat mengontrol nyeri

2) Skala nyeri berkurang 1-3

3) Pasien nyaman atau tidak gelisah

4) Pasien tidak menahan nyeri

5) Tanda-tanda vital dalam batas normal

TD : 120/80 mmHg

RR : 16-24 kali per menit

Nadi : 60-100 kali per menit

Suhu : 36,50 -37,50C

6) Pasien mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk

mengurangi nyeri
Intervensi :

a) Kaji skala nyeri (PQRST)

Rasional : untuk mengetahui skala nyeri pasien

b) observasi tanda-tanda vital

Rasional : tanda-tanda vital dalam batas normal dan untuk

melihat tindakan lebih lanjut

c) Berikan terapi masase kepala

Rasional : menurunkan nyeri kepala

d) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam

Rasional : untuk meningkatkan kemampuan dalam

mengurangi manajemen nyeri

e) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet rendah

garam

Rasional : Untuk membantu menurunkan tekanan darah

pasien serta untuk memberikan diet makanan yang tepat pada

pasien

f) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgesik

Rasional : mengobati rasa nyeri secara tepat

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorsi

makanan

Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24

jam diharapkan nutrisi klien dapat terpenuhi.


Kriteria Hasil :

1) Adanya peningkatan berat badan

2) mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

3) tidak ada tanda-tanda malnutrisi

4) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

Intervensi :

a) Kaji adanya alergi makanan

Rasional : untuk mengetahui ada tidaknya alergi pada

pasien

b) Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang

dibutuhkan

Rasional : untuk meningkatkan asupan nutrisi pada pasien

c) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

Rasional : untuk memberikan pengetahuan pada

pasiendalam pemenuhan nutisi

d) Kolaborasi dengan tim ahli gizi

Rasional : Untuk memilih makanan yang tepat sesuai

dengan kebutuhan tubuh pasien

c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan keadaan lingkungan ;

bising

Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24

jam diharapkan pola tidur dapat terpenuhi dengan

kriteria hasil :
1. Pasien dapat istirahat dengan tenang

2. Pasien tidak gelisah

3. Tidur 7-8 jam/hari

4. Mata tidak cekung

5. Tidak terdapat lingkar lingkar hitam dimata

6. Perasaan segar sesudah tidur atau istirahat

Intervensi

1. Lakukan pengkajian gangguan pola tidur pasien

Rasional : Mengetahui penyebab gangguan tidur pasien

2. Bantu pasien mencari posisi yang nyaman ditempat tidur

Rasional : Memberikan kenyamaman saat tidur

3. Ciptakan suasana lingkungan rumah sakit yang kondusif

dengan membatasi jam pengunjung pasien

Rasional :Meningkatkan kualitas tidur pasien

4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat tidur

Rasional : agar pasien dapat tidur (NANDA, 2013).

2. Nyeri

a. Pengertian nyeri

Nyeri adalah pengalaman pribadi, subyektif, yang

dipengaruhi oleh budaya, persepsi seseorang, perhatian, dan

variabel-variabel psikologis lain, yang mengganggu perilaku


berkelanjutan dan memotivasi setiap orang untuk menghentikan rasa

tersebut (Judha, 2010 dalam andarmoyo 2013).

Nyeri merupakan suatu mekanisme proteksi bagi tubuh,

timbul ketika jaringan sedang rusak, dan menyebabkan individu

tersebut bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri (Prasetya, 2010

dalam andarmoyo 2013).

Nyeri kepala adalah perasaan sakit atau nyeri, termasuk rasa

tidak nyaman yang menyerang bagian tengkorak (kepala) mulai dari

kening kearah atas dan belakang kepala dan bagian wajah (Wiyoto,

2011).

Pada orang hipertensi sering mengalami nyeri kepala

(Sidharta, 2009 dalam astuti 2014). Nyeri kepala pada hipertensi

disebut sebagai nyeri kepala vascular, karena disebabkan oleh

adanya gangguan vascular atau gangguan kontraktilitas pembuluh

darah di kepala (Wiguna P.1990 dalam astuti 2014)

Nyeri kepala pada hipertensi disebabkan oleh pergeseran

jaringan intracranial yang peka nyeri akibat meningginya tekanan

intracranial. Nyeri kepala tidak hanya disebabkan oleh hipertensi

saja, banyak faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya nyeri

kepala. Nyeri kepala merupakan cara tubuh untuk memberi alarm

bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dengan kesehatan

kita. Ada rasa sakit yang tidak perlu dirisaukan, tapi ada pula yang

merupakan sinyal penting dan tidak boleh diabaikan. Mengalami


nyeri kepala yang sangat hebat secara tiba-tiba bisa menjadi salah

satu tanda adanya penyakit serius di dalam tubuh. Dr Anrich Burger

menjelaskan ada delapan kemungkinan indikasi ketika kita

merasakan sakit dikepala, yaitu seperti dikutip fari Healt 24 yaitu

stroke, infeksi bakteri , glocoma, sakit kepala cluster, trauma,

tempoaral, arteritis, keracunan (Astuti, 2014).

b. Klasifikasi nyeri

Menurut Andarmoyo.2013 sebagai berikut :

1. Nyeri berdasarkan durasi

a. Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cidera akut,

penyakit, atau intervensi bedah yang memiliki awitan yang

cepat, dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai berat)

dan berlangsung untuk waktu singkat.

b. Nyeri kronik

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang

menetap sepanjang suatu periode tertentu.

2. Nyeri berdasarkan asal

a. Nyeri Nosiseptif

Nyeri nosiseptif (nociceptive pain) adalah nyeri yang

diakibatkan oleh aktivasi atau sensitisasi nosiseptor perifer

yang merupakan reseptor khusus yang menghantarkan

stimulus noxious.
b. Nyeri Neuropatik

Nyeri neuropatik adalah hasil suatu cedera atau abnormalitas

yang didapat pada struktur saraf perifer maupun sentral.

3. Nyeri berdasarkan lokasi

a. Superficial atau kutaneus

Superficial atau kutaneus adalah nyeri yang disebabkan

stimulus kulit.

b. Viseral dalam

Viseral dalam adalah nyeri yang terjadi akibat stimulus organ

– organ internal.

c. Nyeri alih

Nyeri alih adalah merupakan fenomena umum dalam nyeri

visceral karena banyak organ tidak memiliki reseptor nyeri.

d. Radiasi

Radiasi merupakan sensasi nyeri yang meluas dari tempat

awal cidera kebagian tubuh yang lain.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon nyeri

1. Usia

Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan memahami

nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan

nyeri. Sebab, mereka belum dapat mengucapkan kata-kata untuk

mengungkapkan secara verbal dan mengekspresikan nyeri

kepada orang tua atau petugas kesehatan. Pada sebagian anak,


terkadang segan untuk mengungkapkan keberadaan nyeri yang

di alami disebabkan mereka takut akan tindakan perawatan yang

harus mereka terima nantinya.

Pada pasien lansia, seorang perawat harus melakukan

pengkajian secara lebih rinci ketika seorang lansia melaporkan

adanya nyeri. Pada kondisi lansia sering kali memiliki sumber

nyeri yang lebih dari satu. Terkadang penyakit yang berbeda-

beda yang diderita lansia menimbulkan gejala yang sama,

sebagai contoh nyeri dada tidak selalu mengindikasikan

serangan jantung. Nyeri dada dapat timbul karena gejala arthritis

pada spinal dan gejala pada gangguan abdomen. Sebagian lansia

terkadang pasrah terhadap apa yang mereka rasakan. Mereka

menganggap hal tersebut merupakan konsekuensi penuaan yang

tidak bisa dihindari.

Meskipun banyak lansia mencari perawatan kesehatan

karena nyeri, yang lainya enggan untuk mencari bantuan bahkan

ketika mengalami nyeri hebat, karena mereka menganggap

bahwa nyeri yang dirasakan adalah bagian dari proses penuaan

yang normal yang terjadi pada setiap lansia. Diperkirakan lebih

dari 85% dewasa tua mempunyai sedikitnya satu masalah

kesehatan kronis yang dapat menyebabkan nyeri. Lansia

cenderung untuk mengabaikan nyeri dan menahan nyeri yang

berat dalam waktu yang lama sebelum melaporkannya atau


mencari perawatan kesehatan. Lansia yang lainya tidak mencari

perawatan karena merasa takut nyeri tersebut menandakan

penyakit yang serius atau takut kehilangan control..

2. Jenis kelamin

Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara

bermakna dalam berespons terhadap nyeri. Diragukan apakah

hanya jenis kelamin saja yang merupakan suatu faktor dalam

mengekspresikan nyeri. Beberapa kebudayaan mempengaruhi

jenis kelamin dalam memaknai nyeri (misal, menganggap

bahwa seorang anak laki-laki harus berani dan tidak boleh

menangis, sedangkan anak perempuan boleh menangis dalam

situasi yang sama.

3. Kebudayaan

Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara

individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang

diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Hal

ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri.

Budaya dan etnisitas berpengaruh pda bagaimana

seseorang merespons terhadap nyeri. Sejak dini pada masa

kanak-kanak, individu belajar dari sekitar mereka respons nyeri

yang bagaimana yang dapat diterima atau tidak diterima.

Sebagai contoh, anak dapat belajar bahwa cedera akibat olah

raga tidak diperkirakan akan terlalu menyakitkan dibandingkan


dengan cedera akibat kecelakan motor. Sementara yang lainya

mengajarkan anak stimulasi apa yang diperkirakan akan

menimbulkan nyeri dan respons perilaku apa yang diterima.

Nilai-nilai budaya perawat dapat berbeda dengan nilai-

nilai budaya pasien dari budaya lain. Harapan dan nilai-nilai

budaya perawat dapat mencakup menghindari ekspresi nyeri

yang berlebihan, seperti meringis atau menangis yang

berlebihan, mencari pereda nyeri dengan segera dan

memberikan deskripsi lengkap tentang nyeri. Harapan budaya

pasien mungkin saja menerima orang untuk meringis atau

menangis ketika merasa nyeri, untuk menolak tondakan pereda

nyeri yang tidak menyembuhkan penyebab nyeri, dan untuk

menggunakan kata sifat seperti “tidak tertahankan” dalam

menggambarkan nyeri. Pasien dari latar belakang budaya lainya

bisa bertingkah secara berbeda, seperti diam seribu bahasa

ketimbang mengekspresikan nyeri dengan suara keras. Perawat

harus bereaksi terhadap persepsi nyeri pasien dan bukan pada

perilaku nyeri karena perilaku berbeda dari satu pasien dengan

pasien lainya.

4. Makna Nyeri

Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri

mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang

beradaptasi terhadap nyeri. Hal ini juga dikaitkan secara dekat


dengan latar belakang budaya individu tersebut. Individu akan

mempersepsikan nyeri dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri

tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman,

dan tantangan. Misalnya, seorang wanita yang sedang bersalin

akan mempersepsikan nyeri berbeda dengan seorang wanita

yang mengalami nyeri akibat cedera karena pukulan

pasanganya. Derajat dan kualitas nyeri akan dipersepsikan klien

berhubungan dengan makna nyeri.

5. Perhatian

Tingkat seseorang klien memfokuskan perhatianya pada

nyeri dapat mempengaruhui persepsi nyeri. Perhatian yang

meingkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat,

sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan

respon nyeri yang menurun.

6. Ansietas

Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks.

Ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri

juga dapat menimbulkan sesuatu perasaan ansietas.

7. Pengalaman Sebelumnya

Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian

episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri yang

berat maka ansietas atau bahkan rasa takut dapat muncul.

Sebaliknya, apabila individu mengalami nyeri dengan jenis yang


sama berulang-ulang, tetapi kemudian nyeri tersebut dengan

berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi individu tersebut

untuk menginterpretasikan akibatnya,klien akan lebih siap untuk

melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk

mengilangkan nyeri.

8. Gaya Koping

Nyeri dapat menyebabkan ketidakmampuan, baik sebagian

maupun keseluruhan atau total. Klien sering kali menemukan

berbagai cara untuk mengembangkan koping terhadap efek fisik

dan psikologis nyeri.

9. Dukungan Keluarga dan Sosial

Faktor yang mempengaruhi nyeri ialah kehadiran orang-

orang terdekat klien dan bagaimana sikap mereka terhadap

klien. Individu yang mengalami nyeri sering kali bergantung

pada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh

dukungan, bantuan atau perlindungan. Walaupun nyeri tetap

klien rasakan, kehadiran orang yang dicintai klien akan

meminimalkan kesepian dan ketakutan. (Prasetya ,2010).


d. Penilaian respon intensitas nyeri

1. Skala Wong Baker

Gambar 2.1 Skala Wong Baker

Keterangan:

a) Wajah nol: tidak nyeri

b) Wajah pertama: sedikit sakit

c) Wajah kedua: sedikit lebih sakit

d) Wajah ketiga: lebih sakit lagi

e) Wajah keempat: sangat sakit

f) Wajah kelima: sakit hebat.

Sumber: Wahit Iqbal Mubarak & Nurul Chayatin, 2008, “

Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori & Aplikasi dalam

Praktik” Jakarta : EGC

3. Massase

a. Pengertian masase

Massase merupakan pijat yang telah disempurnakan dengan

ilmu-ilmu tentang tubuh manusia atau gerakan-gerakan tangan yang


mekanis terhadap tubuh manusia dengan mempergunakan

bermacam-macam bentuk pegangan atau tehnik (wiyanto, 2012).

Masase adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan

lunak, biasanya otot, tendon, atau ligamentum, tanpa menyebabkan

gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan

nyeri,menghasilkan relaksasi dan atau memperbaiki sirkulasi

(Mander, 2004 dalam Andarmoyo 2013).

Berdasarkan hasil penelitian dan dikaitkan dengan teori

didapatkan bahwa masase kepala berpengaruh terhadap penurunan

nyeri kepala dengan dilakukan nyeri kepala semua pasien mengalami

penurunan nyeri kepala. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan tehnik

masase yang benar dan tepat pada titik pemijatan sehingga peredaran

darahnya lancar, saraf-saraf dapat merangsang dan otot-otot yang

kaku menjadi rileks. Keberhasilan masase yang yang dilakukan pada

pasien tidak lepas dari kepatuhan pasien untuk mengikuti anjuran

peneliti saat dilakukan masase kepala seperti pasien harus rileks,

posisi duduk atau berbaring dan pasien harus benar-benar percaya

bahwa tindakan masase dapat membantu proses penurunan nyeri

kepala (Astuti, 2014).

Menurut Trisnowiyanto (2012) dalam enyastuti tehnik yang

digunakan dalam masase kepala yaitu eflourage (gosokan) dari

tengah dahi sampai pada kepala belakang melewati atas daun telinga,

petrissage (pijatan) daerah kepala dari tepi menuju kebagian tengah


atas kepala (umbun-umbun atau parietalis), friction (gerusan) dari

pelipis sampai atas daun telinga dan friction (gerusan) dari bawah

prosesus mastoideus dari sebelah kiri menuju ke kanan yang

bertujuan membantu melancarkan peredaran darah vena, relaksasi

dan mengurangi nyeri dan merangsang saraf-saraf dan otot-otot yang

jauh letaknya dari permukaan tubuh. Sehingga rangsangan akan

dihantarkan melalui serabut saraf besar. Menyebabkan inhibitory

neuron dan projection neuron aktif. Tetapi inhibitory neuron

mencegah projection neuron untuk mengirim sinyal terkirim ke otak.

Sehingga gerbang masih tertutup dan tidak ada persepsi nyeri.

b. Penatalaksanaan masase

1. Mengatur posisi klien senyaman mungkin duduk atau

berbaring

2. Menyiapakan lotion secukup nya

3. Gosokan dari mulai tengah dahi sampai pada kepala belakang

melewati atas daun telinga

4. Pijat daerah kepala dari tepi menuju ke bagian tengah atas

kepala (umbun-umbun)

5. Gerus dari pelipis sampai atas daun telinga kemudian gerus

dari bawah prosesus mastoideus dari sebelah kiri menuju ke

kanan (Bambang, 2012).


B. Kerangka teori

Penyebab 2.Tanda dan gejala Adanya Nyeri Pemberian


hipertensi pusing, mudah gangguan kepala tindakan
3.marah, telinga vaskuler atau
- Hipertensi fisioterapi
primer berdengung, gangguan kepala
4.
- Hipertensi sesak nafas, rasa kontraktilitas (masase
sekunder 5.berat di tengkuk, pembuluh kepala )
mudah lelah, darah di
mata berkunang- kepala
kunang, dan Penurunan
mimisan. nyeri kepala

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Sumber : Herlambang (2013 ), triyanto (2014), R.P. Sidabutar dan Wiguna

P. 1990 dalam jurnal eyastuti (2014), Bambang (2012).


C. Kerangka Konsep

Masase kepala (Fisioterapi Menurunkan nyeri Pada pasien


kepala) dengan kepala dengan hipertensi
menggunakan lotion

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

(Bambang, 2012)
A. Alat ukur evaluasi dan aplikasi tindakan berdasarkan riset

Alat ukur yang digunakan adalah dengan menggunakan Wong Baker.

Gambar 3.1

Menurut Mubarak dan Chayatin 2008 menyebutkan bahwa karakteristik

nyeri adalah :

a) Wajah nol: tidak nyeri

b) Wajah pertama: sedikit sakit

c) Wajah kedua: sedikit lebih sakit

d) Wajah ketiga: lebih sakit lagi

e) Wajah keempat: sangat sakit

f) Wajah kelima: sakit hebat.

B. Analisa Fisioterapi Kepala (Masase Kepala)

Evaluasi pertama Sebelum dilakukan pemberian fisioterapi kepala

(masase kepala) diperoleh data subyektif pasien mengatakan nyeri kepala

ketika digerakan, nyeri cekot-cekot, nyeri kepala bagian belakang, skala nyeri

5 dihitung dari skla nyeri 10 sampai 5, hilang saat tiduran timbul saat duduk

dengan durasi kurang lebih 3 menit. Data obyektif ekspresi wajah pasien

meringis kesakitan menahan nyeri, pasien tidak nyaman, tangan pasien

memegangi kepala,tekanan darah 165/70 mmHg, nadi 70x/menit.

Setelah dilakukan pemberian fisioterapi kepala (masase kepala)

diperoleh data subyektif pasien mengatakan nyeri kepala, nyeri cekot-cekot,

nyeri kepala bagian belakang, skala nyeri 2 dihitung dari skala 10 sampai 2,

hilang saat tiduran timbul saat duduk dengan durasi kurang lebih setengah
menit. Data obyektif ekspresi wajah pasien nyaman tidak menahan nyeri,

pasien tidak gelisah, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi

80x/menit.Berdasarkan hasil penelitian ini menyatakan ada pengaruh


pemberian fisioterapi kepala (masase kepala) terhadap penurunan nyeri

kepala pada penderita hipertensi.

Evaluasi kedua sebelum dilakukan tindakan membatasi pengunjung

diperoleh data subyektif pasien mengatakan tidak bisa tidur karena

lingkungan rumah sakit yang ramai, tidur 4 sampai 5 jam per hari. Data

obyektif pasien gelisah, terdapat mata merah, setelah dilakukan tindakan

membatasi pengunjung diperoleh data subyektif pasien mengatakan sudah

bisa tidur, tidur 7 sampai 8 jam per hari, mata tidak cekung, tidak terdapat

kantung mata hitam, pasien terlihat segar.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1. KSIMPULAN

Setelah penulis melakukan pngkajian, penentuan diagnosa,

perencanaan, implementasi dan evaluasi tentang Asuhan keperawatan

hipertensi di Ruang Teratai Anggrek Panti Sosial Kota Semarang dengan

mengaplikasikan Pengaruh Fisioterapi Kepala (Masase Kepala) terhadap

penurunan nyeri kepala, maka dapat ditarik kesimpulan.

• Pengkajian

Hasil pengkajian pada pertama yaitu data subyektif klien mengatakan

nyeri kepala,nyeri cekot-cekot, dibagian kepala belakang, skala nyeri

5, hilang saat tiduran timbul saat duduk dengan durasi kurang lebih 3

menit. Data objektif ekspresi wajah pasien meringis kesakitan

menahan nyeri, pasien tidak nyaman, tangan pasien memegangi

kepala, tekanan darah 165/70 mmHg, nadi 70x/menit. Hasil

pengkajian ke dua yaitu data subyektif pasien mengatakan sulit tidur

karena lingkungan terlalu ramai, tidur kurag lebih 4 sampai 5 jam per

hari. Data obyektif mata cekung, mata merah, terdapat kantung mata

hitam dimata, pasien gelisah.

71
• Diagnosa

Hasil perumusan diagnosa keperawatan adalah nyeri akut

berhubungan dengan agen cidera biologis, gangguan pola tidur

berhubungan dengan keadaan lingkungan bising.

• Intervensi

Intervensi yang dibuat oleh penulis untuk diagnosa pertama nyeri akut

berhubungan dengan cidera biologis adalah kaji skala nyeri pasien

P,Q,R,S,T, observasi tanda-tanda vital, lakuakan atau berikan

fisioterapi kepala (masase kepala), ajarkan relaksasi nafas dalam,

kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet rendah garam,

kolaborasi dengan Dokter dalam pemberian obat analgesic (injeksi

antalgin 500mg/8 jam). Intervensi kedua dengan diagnosa gangguan

pola tidur berhubungan keadaan lingkungan, bising adalah lakukan

pengkajian gangguan pola tidur pasien, bantu klien mencari posisi

yang nyaman ditempat tidur, ciptakan suasana lingkungan Rumah

Sakit yang kondusif dengan membatasi jam pengunjung pasien,

kolaborasi dengan Dokter dalam pemberian obat tidur.

• Implementasi

Implementasi yang dilakuakan penulis pada diagnosa pertama nyeri

akut berhubungan agen cidera biologis adalah meliputi mengkaji skala

nyeri pasien (P,Q,R,S,T ), mengobservasi tanda-tanda vital,

melakuakan atau memberiakan fisioterapi kepala (masase kepala),

mengajarkan relaksasi nafas dalam, melakukan kolaborasi dengan ahli


gizi dalam pemberian diet rendah garam, melakukan kolaborasi

dengan Dokter dalam pemberian obat analgetik (injeksi antalgin 500

mg/8jam). Implementasi pada diagnosa kedua gangguan pola tidur

berhubungan dengan keadaan lingkungan, bising meliputi melakukan

pengkajian gangguan pola tidur pasien, membantu klien mencari

posisi yang nyaman ditempat tidur, menciptakan suasana lingkungan

rumah sakit yang kondusif dengan membatasi jam pengunjung pasien,

melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat tidur.

• Evaluasi

Hasil evaluasi keperawatan pertama nyeri akut berhubungan dengan

agen cidera biologis, di dapatkan hasil sebagai berikut subjektif pasien

mengatakan nyeri kepala berkurang, objektif ekspresi wajah pasien

nyaman atau tidak menahan nyeri, pasien tidak gelisah, tekanan darah

130/80 mmHg, nadi 80x/menit. Analyse masalah teratasi. Planning

pertahankan intervensi yaitu berikan masase kepala.. Gangguan pola

tidur berhubungan dengan keadaan lingkungan ; bising di dapat hasil

sebagai berikut subyektif pasien mengatakan sudah bisa tidur . tidur 7-

8 jam/hari, obyektif pasien tenang, pasien nyaman atau tidak gelisah,

tidur 7-8 jam/hari, mata tidak cekung, tidak terdapat kantung mata

hitam, pasien terlihat segar. Analyse masalah teratasi. Planning

hentikan intervensi.
• Analisa Pemberian Fisioterapi Kepala (Masase Kepala)

Sebelum dilakukan pemberian fisioterapi kepala (masase kepala) data

subyektif kllien mengatakan nyeri kepala nyeri cekot – cekot dibagian

kepala belakang dengan skala 5 dihitung dari skala nyeri 10 sampai 5

nyeri hilang saat tiduran timbul saat duduk dengan durasi kurang lebih

3 menit. data obyektif ekspresi wajah pasien meringis kesakitan

menahan nyeri, pasien tidak nyaman, tangan kiri pasien memegangi

kepala, tekanan darah : 170/70 mmHg, nadi : 70x.menit. Berdasarkan

hasil ini menyatakan ada penurunan nyeri kepala dengan skala 2

sesudah dilakukan fisioterapi kepala (masase kepala), ini

membuktikan bahwa fisioterapi kepala (masase kepala) terbukti

efektif dalam menurunkan nyeri kepala pada penderita hipertensi.

2. SARAN

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan

hipertensi penulis memberikan masukan yang positif terutama dalam

bidang kesehatan antara lain:

• Bagi Pasien

Diharapkan dapat sebagai sumber referensi dalam memberikan

pilihan terhadap penanganan hipertensi dengan menerapkan masase

kepala dalam kehidupan sehari-hari.


• Bagi Panti Sosial Pucang Gading Kota Semarang

Diharapkan Rumah Sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan dan

mempertahankan hubungan kerja sama yang baik antara tim kesehatan

maupun klien sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan

keperawatan yang optimal pada umumnya yaitu dengan memberikan

Fisioterapi Kepala (masase kepala) pada pasien hipertensi

• Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan dapat sebagai sumber informasi bagi institusi pendidikan

dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikana di masa

yang akan datang

• Bagi Penulis

Dapat menjadi pegangan atau manfaat bagi penulis dalam hal

pemberian fisioterapi kepala (masase kepala) terhadap penurunan

nyeri kepala pada Asuhan Keperawatan dengan hipertensi di Ruang

Anggrek Panti Sosial Pucang Gading Kota Semarang serta penurunan

skala nyeri akan lebih terkontrol apabila memperhatikan waktu

pemberian obat.
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistya. 2013. Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta


: AR- RUZZ MEDIA.

Alimul, A. Aziz. 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba


Medika.
Amin, Hardhi.2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
& Nanda Nic-Noc : Yogyakart

Dermawan, deden. 2012. Proses Keperawatan (Penerapan Konsep Dan Kerangka


Kerja). Yogyakarta : Gosyen Publising.

Herlambang. 2013. Menakhlukkan Hipertensi Dan Diabetes. Jakarta Selatan : PT.


Suka Buku.

ISO.2013. Informasi Spesialite Obat. Jakarta Barat : Penerbit PT. ISFI.

Judha, M, dkk. 2012. Teori Pengukuran Nyeri & Nyeri Persalinan. Yogyakarta :
Nuha Medika.

Muttaqin, Arif.2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskuler. Jakarta Selatan : Salemba Medika.

Nanda. 2011. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : Penerbit


Buku Kedokteran : EGC.

Prasetya, S.N. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta : Graha
Ilmu.
Pudiastuti, Ratna Dewi. 2013. Penyakit-penyakit Mematikan. Nuha Medika :
Yogyakarta.