Anda di halaman 1dari 5

Propaganda Media Daesh Dari Lahir Hingga Mati - 1

Tidak diragukan, media massa dan media sosial adalah peluang besar bagi kelompok teroris
Daesh untuk mengenalkan dirinya kepada khalayak. Tentu perlu dikaji secara serius bagaimana
fenomena itu bisa terwujud. Langkah pertama untuk mengkaji propaganda media Daesh adalah
dengan melakukan kilas balik tentang bagaimana awal mula terbentuknya kelompok teroris ini.
Artinya, pertama kita harus memahami bagaimana proses kemunculan Daesh.

Akar Daesh bisa dilacak dari kelompok Jama'at al-Tawhid wal-Jihad pimpinan Abu Musab Al
Zarqawi, warga Yordania, yang didirikan pada tahun 1999 dan pada 17 Oktober 2014
bergabung dengan jaringan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Kelompok teroris yang
berperang melawan pemerintah Irak dan pasukan Amerika Serikat di negara itu, pada tahun
2006 bubar dan pecahannya bergabung dengan beberapa kelompok ekstrem lain. Lalu
membentuk Dewan Syura Mujahidin yang kemudian berubah menjadi sebuah kekuatan
penting di Provinsi Al Anbar, salah satu provinsi terluas di Irak.

Abu Bakar al-Baghdadi dan Ayman al-Zawahiri

Pada 13 Oktober 2006 kelompok itu bersama beberapa kelompok pemberontak lain mendirikan
Negara Islam Irak. Abu Ayyub Al Masri dan Abu Omar Al Baghdadi adalah dua pimpinan
utama Negara Islam Irak ini. Keduanya tewas dalam sebuah operasi militer Amerika pada 18
April 2010, dan posisi Abu Ayyub Al Masri akhirnya digantikan oleh Abu Bakr Al Baghdadi
yang diangkat sebagai pemimpin baru Negara Islam Irak pada tanggal 16 Mei 2010.

Bersamaan dengan naiknya Al Baghdadi ke tampuk kekuasaan Negara Islam Irak, jangkauan
operasi dan serangan kelompok teroris semakin luas dan saat krisis di Suriah pecah, anasir-
anasir kelompok itu juga terlibat aktif dalam aksi teror di negara itu. Kelompok teroris Front
Al Nusra didirikan pada akhir tahun 2011 seiring dengan pecahnya krisis di Suriah sebagai
sayap Negara Islam Irak. Pada tahun 2013, Abu Bakr Al Baghdadi dalam sebuah rekaman suara

1
mengumumkan bergabungnya Negara Islam Irak dengan Front Al Nusra, sehingga Negara
Islam Irak berubah nama menjadi Negara Islam Irak dan Syam atau Daesh (ISIS).

Anasir-anasir teroris Daesh awalnya hanya menduduki sejumlah wilayah kecil di beberapa
bagian provinsi Irak terutama Al Anbar dan menjadikan provinsi itu sebagai markas untuk
melancarkan aksi teror ke seluruh penjuru Irak. Namun pada Juni 2014, secara mengejutkan
Daesh menyerang Mosul, pusat Provinsi Ninawa, Irak dan hanya dalam beberapa jam saja
berhasil mereka duduki. Seiring dengan bertambahnya wilayah Irak yang dikuasai Daesh,
anasir-anasir teroris kelompok itu juga menyebar ke banyak provinsi Suriah seperti Raqqa,
Aleppo, Latakia, Rif Damaskus, Deir Ezzor, Homs, Hama, Hasaka dan Idlib. Mereka bahkan
berhasil merebut kontrol penuh beberapa wilayah itu.

Setelah sekian lama, bersamaan dengan munculnya perselisihan dan pertempuran antara
teroris Front Al Nusra dan Daesh di Suriah, Ayman Al Zawahiri, Pemimpin Al Qaeda
membatalkan keputusan Abu Bakr Al Baghdadi yang menggabungkan kelompoknya dengan
Front Al Nusra. Akan tetapi masalah ini tidak diterima oleh Pemimpin Daesh.

Ayman Al Zawahiri

Dalam sebuah rekaman suara, Al Baghdadi mengumumkan penolakannya atas keinginan Al


Zawahiri untuk membatalkan penggabungan Daesh dengan Front Al Nusra. Hingga akhirnya
kedua kelompok teroris tersebut berpisah dan pertumpahan darah di antara merekapun dimulai.
Tidak ada laporan resmi yang mengumumkan jumlah korban tewas dari kedua kelompok itu,
namun dari mayat-mayat yang ditemukan, mereka dibunuh dengan cara yang sadis.

Abu Bakr Al Baghdadi juga merekrut anggota dari Eropa dan memberikan pelatihan singkat
tentang perang dan cara membunuh kepada mereka dengan diterjunkan ke medan tempur di
Suriah dan Irak. Selain itu, sebagian dari mereka diperintahkan kembali ke negaranya dan
berbekal pengalaman yang dimiliki, menyebarkan teror. Para teroris Daesh dilatih sedemikian
rupa sehingga seluruh rasa kemanusiaan dan belas kasihnya mati.

2
Struktur organisasi Daesh menurut klaimnya adalah Darul Khilafah dan puncak pimpinannya
adalah seorang khalifah dibantu para menteri, angkatan bersenjata dan intelijen. Daesh juga
punya lembaga untuk mengesahkan aturan atau menjalankannya dan semuanya dikelola
dengan mekanisme yang di luar kebiasaan. Mereka mengenalkan diri sebagai kelompok Jihad-
Sunni yang berusaha mendirikan negara dan pemerintahan multietnis berlandaskan syariat
Islam.

Para pengamat meyakini bahwa sebagian pendapatan Daesh diperoleh dari penyelundupan,
pemerasan dan jenis kejahatan lain. Bahkan sebagian pihak menduga, pendapatan delapan juta
dolar Daesh setiap bulannya sebelum menduduki Mosul, diperoleh dari pemerasan dan pajak
bisnis baik skala besar maupun kecil. Setelah merebut bank-bank kota Mosul, Daesh
merampok sedikitnya 430 juta dolar aset bank tersebut, dan dari sumur-sumur minyak yang
dikuasainya, kelompok teroris itu setiap bulannya bisa mengantongi hingga 40 juta dolar setiap
bulan.

Daesh membentuk pengadilan untuk para tahanan, pengkhianat dan musuh-musuhnya dan
mengeksekusi mereka secara sadis. Orang-orang yang dieksekusi Daesh kebanyakan adalah
warga sipil. Aaron Y. Zelin, salah satu peneliti di Institut Washington untuk Kebijakan Timur
Dekat, WINEP percaya bahwa Daesh menggunakan teknologi masa kini seperti media sosial
khususnya Twitter untuk menyampaikan pesannya. Menurutnya, cara itu terbukti ampuh
merekrut 2.000 anggota Daesh dari sejumlah negara Barat. Aaron mengatakan, Daesh adalah
pakarnya dalam menciptakan pendukung palsu di media sosial.

Mengingat pentingnya teknologi komunikasi di era globalisasi ini, Daesh membentuk sebuah
lembaga kajian bernama Institut Al Etesam sebagai media komunikasi kelompok itu. Gurita
media Daesh terdiri dari 10 saluran televisi dan tiga pemancar radio. Kelompok teroris ini juga
menerbitkan sejumlah edisi majalah online, Dabiq dalam bahasa Arab dan Inggris. Dabiq
diambil dari nama sebuah kota di Suriah. Dalam kitab hadis Sahih Muslim, Dabiq adalah nama
sebuah kota lokasi terjadinya salah satu perang akhir zaman.

Daesh memanfaatkan dunia maya untuk menarik simpati dan merekrut anggota, dan
menggunakan majalah online dan konten beberapa situs ekstrem untuk menyebarkan
pemikirannya. Di dunia maya, Daesh memperkenalkan diri sebagai organisasi yang memerangi
ketidakadilan, ketertindasan dan pelecehan. Perbincangan di ruang-ruang chat sangat berperan
dalam menarik simpati pemuda Eropa untuk bergabung dan menjalin komunikasi ideologis
yang kuat dengan mereka.

Banyak kasus membuktikan, kesediaan berkomunikasi di ruang-ruang chat atau keanggotaan


dalam situs-situs ekstrem memerlukan proses yang di dalamnya anggota baru harus
menunjukkan komitmen dan kesetiaannya pada Daesh. Ruang-ruang chat itu juga digunakan
sejumlah orang yang seideologi untuk saling berbagi metode dakwah yang jelas. Di ruang chat
atau situs Daesh dibagikan buku petunjuk atau video-video latihan kepada para anggota dan
pendukungnya.

Dengan berpartisipasi aktif di dunia maya khususnya di situs-situs ekstrem, Daesh leluasa
menyampaikan ide, pemikiran dan aktivitasnya kepada setiap orang di seluruh penjuru dunia.
Kelompok itu juga memproduksi pesan dan slogan dengan sentuhan seni lewat gambar, grafik,
audio dan musik, sehingga pemikiran mereka bisa lebih merasuk dan diterima oleh semua
audiens.

3
Daesh menggunakan Medsos

Propaganda Daesh di internet bisa disebut sebagai propaganda hitam. Artinya, informasi keliru
dan bohong dicampur dengan rekayasa kenyataan di lapangan, diproduksi oleh Daesh dan
menjadi konsumsi para pemuda Eropa dan bagian dunia lainnya. Penggunaan teknik canggih
di media, mengumumkan jurnalis asing sebagai musuh dan beberapa dari mereka bahkan
dipenggal untuk menciptakan pembatasan akses media, merupakan salah satu cara Daesh di
bidang ini.

Video-video propaganda Daesh yang dibuat mirip seperti film Hollywood, adalah faktor
terpenting yang menarik minat pemuda Barat untuk bergabung. Konten video itu bermacam-
macam, mulai dari menampilkan kehidupan sederhana anggota Daesh hingga aksi balas
dendam mereka terhadap musuh. Pesan yang disampaikan video-video itu juga berbeda sesuai
dengan kontennya.

Salah satu isi konten video itu adalah ajakan untuk hijrah dari negara yang sekarang ditinggali
yang mereka sebut "tanah ketakutan" dan bergabung di wilayah yang aman, tempat tegaknya
kekhalifahan Islam. Di sisi lain, beberapa video berisi konten mengerikan yang menyajikan
adegan pemenggalan orang dan menampilkan pelaku sebagai orang Eropa atau berkulit putih,
sehingga pemirsa dipaksa mengakui kekuatan desktruktif kelompok ini.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pesan propaganda Daesh berisi beragam konten seperti
cerita heroisme, perang melawan ketidakadilan dan mengenalkan diri sebagai manifestasi
khilafah Islam di muka bumi untuk menarik minat dan simpati para pemuda dari berbagai
negara kepada ekstremisme.

Daesh sebenarnya meniru cara propaganda Al Qaeda. Maksudnya, dalam produk-produk


visual, secara profesional mereka menggabungkan tayangan-tayangan kekerasan dengan
negara impian atau Madinah Fadhilah sehingga ketika ditampilkan secara bersamaan akan
menarik perhatian pemirsa. Dua kelompok pemirsa yang disasar adalah mereka yang
cenderung pada ekstremisme dan mereka yang ingin melampiaskan nafsu kekerasannya.

Gelombang propaganda Daesh begitu dahsyat menerpa masyarakat dunia. Kelompok teroris
ini juga diakui telah menemukan formula baru yang merupakan kombinasi dari kekerasan dan
ilusi tentang stabilitas dan kedudukan. Ide ini ternyata cukup menarik banyak peminat.

4
Pesan agresif dan klaim mengubah kelemahan menjadi kekuatan di satu sisi, dan menampilkan
visi masa depan di sisi lain, dianggap bisa menarik simpati para pemuda di berbagai belahan
bumi. Orang-orang yang terpengaruh ilusi Daesh di dunia maya dan bersedia meninggalkan
tanah airnya untuk bergabung, akan menjadi prajurit yang siap membunuh orang-orang tak
bersalah selama bertahun-tahun.