Anda di halaman 1dari 10

Materi Inisiasi 8-IDIK4012 MBS

RANGKUMAN

BAB 1
Ada beberapa tujuan pendidikan. Pertama bersifat mendasar, yaitu untuk mempersiapkan manusia
menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera, baik sebagai individu maupun secara kolektif
sebagai warga masyarakat, bangsa maupun antarbangsa. Tujuan atau fungsi pendidikan lainnya adalah
peradaban, artinya pendidikan bermanfaat untuk mencapai suatu tingkat peradaban. Peradaban adalah
hasil karya manusia yang semula dimaksudkan untuk mendukung kesejahteraan manusia. Tujuan
pendidikan berikutnya adalah pada gilirannya menyiapkan individu (dalam memenuhi kebutuhan
individualnya) untuk dapat beradaptasi/menyesuaikan diri atau memenuhi tuntutan-tuntutan sesuai
wilayah tertentu (nasional, regional ataupun global) yang senantiasa berubah.

Model pendidikan yang tepat adalah model pendidikan yang diharapkan oleh setiap warga negara.
Model pendidikan yang dipandang tepat disebut customized design, yaitu desain yang sesuai dengan
kondisi, konteks, dan aspirasi masyarakat. Dengan demikian, model tersebut dapat mengakomodasikan
berbagai ragam kepentingan, tingkat, dan wilayah relevansi. Model yang tepat dalam pengelolaan
pendidikan yang sesuai dengan alur berpikir tersebut adalah MBS dan Pendidikan Berbasis Masyarakat.
Untuk mewujudkan model yang tepat tersebut sekolah harus mengembangkan berbagai pilihan program
baik program ilmu dasar, pendidikan nilai, program keterampilan (life skills), dan program tambahan
lainnya. Penjabaran dari kurikulumnya, seperti strategi pembelajaran, sumber belajar, program
pengayaan untuk pelaksanaan program yang disebutkan sebelumnya pun memiliki berbagai pilihan
dalam upaya mengakomodasikan tuntutan masyarakat.

Pendidikan nilai terkait dengan salah satu ranah pendidikan, yaitu ranah afektif. Di Indonesia pendidikan
nilai yang dominan adalah pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama. Kedua mata pelajaran
tersebut mempunyai peran yang penting untuk tetap menumbuhkembangkan tanggung jawab bersama
di dalam suatu kehidupan masyarakat baik masyarakat lokal, nasional, regional maupun global.
Pendidikan nilai yang diharapkan berpeluang untuk terwujud dengan diterapkannya MBS. Hal ini
mengingat MBS dengan dukungan masyarakat berupaya memperkuat jati diri peserta didik dengan nilai-
nilai sosial budaya setempat, mensinergikannya dengan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan serta
nilai-nilai yang dianut.

Ada beberapa alasan diterapkannya MBS di Indonesia, yaitu sistem pemerintahan Indonesia yang baru
mengalami perubahan besar dan masih akan terus berkembang, sistem pendidikan, kebijakan yang
mendukung dan pengalaman Indonesia di masa lalu dan dianggap sebagai “guru terbaik”. Sistem
pemerintahan Indonesia cenderung berubah sejalan dengan suasana masyarakat yang menghendaki
desentralisasi, transparansi, demokratisasi, akuntabilitas serta dorongan peningkatan peran masyarakat
dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik termasuk sistem pendidikan. Landasan hukum atau
kebijakan disebarluaskannya MBS adalah UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah, PP No.25/2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, UU No. 25/2000
tentang Propenas, UU NO.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Kepmendiknas
No.122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga tahun 2000
- 2004.

Keberhasilan MBS di Indonesia cenderung disebabkan karena kondisi objektif yang mendukung pada
saat yang tepat, antara lain iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi,
demokratisasi dan akuntabilitas, desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat, keinginan para
tokoh pendidikan untuk mengaktualisasikan konsep manajemen pendidikan yang telah lama dipendam,
serta keinginan birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak
publikasi.

Pendidikan nilai terkait dengan salah satu ranah pendidikan, yaitu ranah afektif. Di Indonesia pendidikan
nilai yang dominan adalah pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama. Kedua mata pelajaran
tersebut mempunyai peran yang penting untuk tetap menumbuhkembangkan tanggung jawab bersama
di dalam suatu kehidupan masyarakat baik masyarakat lokal, nasional, regional maupun global.
Pendidikan nilai yang diharapkan berpeluang untuk terwujud dengan diterapkannya MBS. Hal ini
mengingat MBS dengan dukungan masyarakat berupaya memperkuat jati diri peserta didik dengan nilai-
nilai sosial budaya setempat, mensinergikannya dengan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan serta
nilai-nilai yang dianut.
Ada beberapa alasan diterapkannya MBS di Indonesia, yaitu sistem pemerintahan Indonesia yang baru
mengalami perubahan besar dan masih akan terus berkembang, sistem pendidikan, kebijakan yang
mendukung dan pengalaman Indonesia di masa lalu dan dianggap sebagai “guru terbaik”. Sistem
pemerintahan Indonesia cenderung berubah sejalan dengan suasana masyarakat yang menghendaki
desentralisasi, transparansi, demokratisasi, akuntabilitas serta dorongan peningkatan peran masyarakat
dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik termasuk sistem pendidikan. Landasan hukum atau
kebijakan disebarluaskannya MBS adalah UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah, PP No.25/2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, UU No. 25/2000
tentang Propenas, UU NO.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Kepmendiknas
No.122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga tahun 2000
- 2004.

Keberhasilan MBS di Indonesia cenderung disebabkan karena kondisi objektif yang mendukung pada
saat yang tepat, antara lain iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi,
demokratisasi dan akuntabilitas, desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat, keinginan para
tokoh pendidikan untuk mengaktualisasikan konsep manajemen pendidikan yang telah lama dipendam,
serta keinginan birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak
publikasi.

BAB 2
Alasan diterapkannya sistem desentralisasi dapat ditelusuri dari ketidakberhasilan pemerintah Orde Baru
dalam mengatasi krisis tahun 1997-1998 yang berakibat pada jatuhnya pemerintahan Soeharto.
Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie yang menandai titik awal dimulainya reformasi di segala bidang.
Pada era reformasi masyarakat seakan-akan mendapatkan kebebasan yang sebelumnya tidak pernah
dirasakan. Masyarakat sungguh-sungguh menuntut sistem pemerintahan yang transparan, accountable,
efektif dan efisien, serta mengindahkan aspirasi masyarakat yang beragam. Sistem desentralisasi
dipandang dapat mengakomodasikan tuntutan masyarakat tersebut.

Pengertian sentralisasi dan desentralisasi secara umum mengikuti kesepakatan tentang letak/posisi
pengambilan keputusan. Berbagai pendapat dari para ahli yang relevan diajukan dalam uraian tersebut.
Para ahli tersebut adalah Mintzberg, Robbin, Simon, Rondinelli dan Cheema, Fiske, dan Duhou. Berbagai
pendapat mereka diharapkan saling melengkapi dan memperjelas persepsi Anda. Untuk tidak semakin
mengaburkan persepsi, ada 3 hal penting yang dapat disarikan. Pertama, sentralisasi dan desentralisasi
dilihat dari segi formalitas kekuasaan dan kewenangan untuk mengambil keputusan. Kedua, di dalam
proses kerja (kenyataannya) organisasi, dapat terjadi penyimpangan oleh staf sehingga mengurangi
karakter sentralisasi, dan makin banyak penyimpangan maka organisasi tersebut berubah karakternya
menjadi lebih desentralistik. Ketiga, pengertian sentralisasi-desentralisasi bersifat nisbi/relatif, tidak
absolut (mutlak).

Meskipun sentralisasi cenderung ditinggalkan, namun tidak berarti tidak mempunyai kelebihan.
Demikian pula sebaliknya meskipun desentralisasi cenderung diterapkan, namun tidak dapat dikatakan
bahwa desentralisasi tidak mempunyai kekurangan. Masing-masing mempunyai kekurangan dan
kelebihan. Kekurangan dan kelebihan tersebut, antara lain terkait erat dengan kebutuhan koordinasi,
kekuasaan, waktu penerapan, dan formalisasi yang semuanya terdapat dalam suatu organisasi.

Desentralisasi tidak dilakukan pada semua sektor, namun pendidikan termasuk sektor yang
didesentralisasikan. Uraian subbab tersebut diawali dengan dikemukakannya pengertian-pengertian
yang perlu dipahami oleh Anda dalam upaya mempelajari dasar-dasar peraturan diterapkannya
desentralisasi dalam bidang pendidikan. Dasar peraturan tersebut adalah UU No. 22/1999 tentang
Pemerintahan Daerah, UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, serta Peraturan Pemerintah No. 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah. Selanjutnya
dikemukakan tentang kewenangan-kewenangan milik pemerintah pusat dan daerah.

Ciri-ciri desentralisasi yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada level sekolah, antara lain dalam
bentuk pemberian wewenang untuk mengambil keputusan, pendelegasian wewenang untuk hal-hal
tertentu. Ciri-ciri tersebut juga ada dalam konsep MBS atau menjadi dasar-dasar pemikiran MBS. Oleh
karena itu, dikatakan konsep MBS sejalan dengan konsep Desentralisasi.

BAB 3
Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diterbitkan pemerintah pusat sebenarnya bukan merupakan
harga mati dan menjadi keharusan bagi semua penyelenggara pendidikan. Namun demikian, SPM
diharapkan menjadi rambu-rambu minimal yang dijadikan pegangan bagi penyelenggara pendidikan
untuk menjaga kualitas pendidikannya. Hal ini mempunyai implikasi bahwa sekolah-sekolah yang mampu
mendekati atau bahkan melebihi standar itu akan mampu menjaga kualitas sekolah dengan optimal dan
sebaliknya, sekolah yang tidak mampu mempersiapkan sesuai dengan standar, akan ketinggalan
dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain.

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah tidak dapat dipisahkan dari komponen-komponen atau
subsistem lain dalam manajemen sekolah, seperti personalia, kurikulum, sarana dan prasarana, serta
keuangan sekolah. Oleh karena itu, kegiatan belajar ini mengkaji perlunya peningkatan kemampuan
personel dalam menunjang implementasi MBS. Agar para personel sekolah dapat mandiri maka mereka
perlu memperoleh training tentang manajemen pola MBS, training tentang kemampuan profesional
guru/tenaga kependidikan, training bagi Kelompok Kerja Pengembang dan Pendamping MBS.

Di samping itu, pola pendanaan sekolah juga perlu diarahkan dalam rangka Manajemen Berbasis
Sekolah. Pola pendanaan (funding formula) diharapkan tidak membela kepada sekolah yang kuat dan
seolah-olah menafikan yang lemah. Dengan pola itu, sekolah kuat semakin kuat dan sekolah lemah akan
semakin terpuruk.

BAB 4
Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia merupakan produk kebijakan pengelolaan pendidikan yang
mulai dirintis sejak tahun 1999. Perintisan itu perlu sosialisasi yang lebih luas agar dipahami oleh seluruh
pihak yang berkepentingan dan masyarakat sebagai pemakai dan yang kena dampak kebijakan itu. MBS
memberikan keleluasaan (bukan tidak terbatas) kepada kepala sekolah untuk mengatur sekolahnya
berdasarkan potensi sekolah dan stakeholder-nya. Dengan pengaturan desentralisasi berbasis dari
sekolah ini, diharapkan akan tercapai tujuan peningkatan kualitas dan relevansi, pemerataan, efektivitas
dan efisiensi, serta meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen seluruh stakeholder.

Logika umum yang dapat dipahami oleh semua orang pada umumnya bahwa implementasi Manajemen
Berbasis Sekolah akan meningkatkan kualitas pembelajaran atau prestasi peserta didik. Namun
demikian, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa implementasi Manajemen Berbasis Sekolah tidak
senantiasa berkorelasi positif dengan peningkatan prestasi peserta didik. Meskipun demikian,
pemerintah Indonesia tetap melakukan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah itu dengan tujuan
jangka panjang.

Konsep mutu pendidikan dapat dilihat dari berbagai perspektif maka pengertian prestasi peserta didik
yang selama ini hanya berupa prestasi akademik perlu diluruskan. Di samping itu, pelanggan tampaknya
juga menjadi faktor yang menentukan output dan out come lembaga pendidikan diterima atau tidak
diterima secara umum.

Sekolah efektif pada dasarnya sekolah yang dapat melaksanakan tujuan dengan tepat sasaran. Sekolah
mempunyai beberapa fungsi maka fungsi sekolah itu dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur
dalam melihat efektivitas sekolah. Fungsi sekolah tersebut mencakup fungsi teknis/ekonomi, fungsi
manusiawi/sosial, fungsi politik, fungsi kultural, fungsi pendidikan, dan fungsi spiritual.

Untuk menilai efektivitas sekolah juga dapat menggunakan pendekatan lain, misalnya dengan
memandang sekolah sebagai organisasi. Pendekatan itu, misalnya pendekatan berdasarkan tujuan ( goal-
attainment approach), pendekatan sistem (system approach), pendekatan konstituen strategis (strategic
constituent approach), dan pendekatan persaingan nilai (competing values approach).

Di samping dua cara di atas, sejumlah tokoh juga melakukan studi mengenai sekolah efektif. Dari
beberapa kajian terhadap studi-studi itu, Umaedi akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa model
sekolah efektif yang sejalan dengan pendekatan manajemen berbasis sekolah adalah sekolah yang
mempunyai:
1. Lingkungan yang aman dan tertib,
2. Perumusan visi, misi, dan target mutu yang jelas,
3. Kepemimpinan yang kuat,
4. Harapan prestasi yang tinggi,
5. Pengembangan sekolah yang terus-menerus,
6. Evaluasi belajar dalam rangka penyempurnaan pembelajaran,
7. Komunikasi dan dukungan orang tua serta masyarakat,
8. Komitmen seluruh warga sekolah akan pentingnya peningkatan mutu.
BAB 5
Manajemen Berbasis Sekolah sebenarnya merupakan pengelolaan pendidikan yang berpusat di sekolah
dan kepala sekolah sebagai manager-nya. Oleh karena itu, segala komponen yang ada di sekolah, seperti
kurikulum, sarana dan prasarana, keuangan, ketenagaan, kesiswaan dan ketatalaksanaan sekolah
menjadi substansi yang dikelola oleh kepala sekolah. Pengelolaan substansi tersebut dilakukan dengan
menerapkan fungsi-fungsi manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan, evaluasi, dan kepemimpinan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus benar-benar mampu
menunjukkan kemampuan managerial-nya dalam mengelola sekolah.

Dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen tersebut, kepala sekolah dipandu di antaranya oleh
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan peraturan lainnya yang
lebih operasional.

Gambar Bangunan MBS

Keterangan:
1. Atap Segitiga Akuntabilitas
a. Standar Nasional/Standar Kurikulum
b. Evaluasi Independen (oleh lembaga mandiri)
c. Akreditasi Sekolah
2. Bangunan Segi Empat MBS; Proses Pendidikan
a. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
b. Sumber Daya Pendidikan (SDP)
c. Komite Sekolah
d. MBS
3. Daerah Lingkaran: Proses Belajar-Mengajar (PBM)
a. Lantai Prasyarat: Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Sekolah (P-SPM-S)
b. Fondasi: Kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota dan APBD
c. Lahan: Aspirasi Masyarakat (Dewan Pendidikan)

Bangunan MBS bukan merupakan kumpulan dari beberapa unsur pendidikan, akan tetapi merupakan
kumpulan dari elemen-elemen manajemen pendidikan yang saling mempengaruhi dan melengkapi.
Peningkatan kualitas pendidikan tidak mungkin hanya dicapai oleh sekolah sendiri dalam lingkaran
proses belajar mengajar tanpa melibatkan elemen-elemen lain yang melingkupinya. Oleh karena itu,
tugas manager pendidikan dalam model Manajemen Berbasis Sekolah adalah memberdayakan segala
elemen tersebut untuk mencapai tujuan sekolah.

Manajemen Berbasis Sekolah merupakan model kebijakan pengelolaan pendidikan yang memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan di
sekolah. Model manajemen ini mengakomodasi keyakinan bangsa Indonesia bahwa pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah (dalam hal ini pemerintah) dan
masyarakat. Oleh karena itu, model Manajemen Berbasis Sekolah meskipun belum dapat
diimplementasikan sepenuhnya, merupakan kebijakan yang pas dengan kondisi Indonesia.

Agar penyelenggaraan pendidikan menjadi lebih optimal dan terarah, baik Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional maupun Kepmendiknas tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah mengatur
peran serta masyarakat. Peran serta ini lebih terdesentralisasi ke lapisan masyarakat yang paling dekat
dengan sekolah. Sebagai wadah dan bentuk peran serta masyarakat dalam pendidikan, pembentukan
Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah bukanlah suatu kebijakan yang eksklusif atau terpisah. Hal ini
merupakan bagian dari serangkaian kebijakan pendidikan yang disemangati oleh desentralisasi,
demokratisasi, transparansi, dan akuntabilitas pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
BAB 6
Manajemen Berbasis Sekolah bukan hanya merupakan wacana yang berkembang di Indonesia dalam
pembaruan manajemen pendidikan. MBS mempunyai langkah-langkah konkret untuk mewujudkan
keinginan peningkatan mutu pendidikan. Adapun langkah-langkah yang diajukan dalam menerapkan
Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia adalah:
1. Evaluasi diri sekolah dalam penyelenggaraan sekolah.
Suatu langkah yang menuntut keterbukaan, kesadaran dan kejujuran pengelola sekolah untuk
membuka ‘jati dirinya’. Langkah ini diikuti dengan:
2. Perumusan visi, misi dan tujuan sekolah,
3. Perencanaan,
4. Pelaksanaan,
5. Evaluasi,
6. Pelaporan.
Rangkaian kegiatan ini merupakan siklus yang dapat ditingkatkan atau diperbaiki dalam mencapai
hasil yang paling optimal.

Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia sudah mulai dirintis sejak tahun 1999 ke berbagai jenjang
sekolah (SD, SMP, SMA, dan SMK) dan berbagai kabupaten dan provinsi di seluruh Indonesia meskipun
secara formal baru muncul pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Berbagai dukungan dari berbagai lembaga internasional muncul untuk percepatan
implementasi MBS tersebut seperti dari UNESCO, UNICEF, pemerintah New Zealand, The British
Women’s Association.

Jenis program dalam rangka mendukung rintisan MBS, seperti Bantuan Operasional Manajemen Mutu
(BOMM), Bantuan Program Layanan Pendidikan Berbasis Luas melalui Pembekalan Kecakapan Hidup
(Broad-Based Education-Life Skill/BBE-LS), Bantuan Pelaksanaan Kurikulum dan Sistem Penilaian Berbasis
Kompetensi (KSPBK), Bantuan Pengembangan Teknologi Informasi (TI). Rintisan MBS juga dilaksanakan
melalui program lintas jenjang dan jenis pendidikan, seperti Proyek Jaring Pengaman Sosial Beasiswa dan
Dana Bantuan Operasional (DBO), Decentralized Basic Education Project (DBEP), dan Proyek Pendidikan
Kecakapan Hidup (Life-Skill Education).
Hasil studi dan monitoring terhadap program rintisan MBS dengan berbagai block-grant itu menunjukkan
bahwa masyarakat dapat menerima dan antusias dengan MBS. Namun demikian, implementasinya
masih harus dilaksanakan dengan hati-hati dan peningkatan akuntabilitasnya.