Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN METODE GRAVITASI DAN MAGNETIK

Judul Penelitian

oleh:
Felix Geovanny Tjioewinata
165090707111004

Asisten:
Hakam Ezra Elyusa

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERISTAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
KATA PENGANTAR

i
DAFTAR ISI

ii
DAFTAR GAMBAR

iii
DAFTAR TABEL

iv
DAFTAR LAMPIRAN

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Perumusan Masalah

1.3 Batasan Masalah

1.4 Tujuan Penelitian

1.5 Manfaat Penelitian

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Gravitasi

2.1.1 Teori Dasar Fisika Gravitasi


Teori fisika yang mendasari survei Gravitasi adalah Teori hukum newton tentang gaya
tarik-menarik antara dua buah titik massa 𝑚1 dan 𝑚2 , dengan jarak r.
𝑚 .𝑚
𝐹⃗ (𝑟⃗) = -G 1 2 2 ... (1
𝑟

Dimana F adalah gaya dengan satuan Newton, r adalah jarak antara dua massa benda dalam
satuan meter, m1 dan m2 adalah massa masing-masing benda dalam kilogram dan G adalah
konstanta gravitasi universal (6,67 x 10−11 𝑁𝑚2 /𝑘𝑔2 ). Se;anjutnya gaya per satuan massa
dari partikel 𝑚1 yang mempunyai jarak r dari 𝑚2 disebut sebagai medan gravitasi dari
partikel 𝑚1 , yang dapat dinyatakan sebagai
⃗𝐹 (𝑟⃗) 𝑚
𝐸⃗⃗ (𝑟⃗)= 𝑚 = -G 𝑟 21 𝑟̂ ... (2
2

Karena medan gravitasi konservatif, maka medan gravitasi dapat ditulis dalam bentuk gradien
suatu fungsi potensial skalar U(𝑟⃗), sehingga persamaan 2 dapat ditulis
𝐸⃗⃗ (𝑟⃗)= - ∇ U(𝑟⃗) ... (3
𝑚
Dengan U(𝑟⃗) = -G 𝑟 1 adalah potensial Gravitasi dari massa 𝑚1 . (Reswara, Ardhana. 2014.
Pendugaan Lapisan Reservoir Panas Bumi diKawasan Gunungapi Slamet dengan
Memanfaatkan Data Anomali Medan Gravitasi Citra Satelit. Purworkerto. Universitas
Jendral Soedirman).

2.1.2 Metode Gravitasi


Survei dengan metode gravitasi didasarkan untuk mengukur variasi medan gravitasi
dipermukaan bumi. Dalam eksplorasi Sumberdaya alam survei metpde gravitasi dilakukan
untuk menggambarkan profil dua dimensi struktur geologi untuk kemudian diinterpretasi jenis
lapisan batuan bawah permukaannya. Dengan alat yang memiliki ketelitian tinggi Gravimeter
dapat diperoleh variasi medan gravitasi dipermukaan bumi yang sangat kecil. Dalam
gravimeter terdapat massa yang tergantung dalam sebuah pegas, sehingga jika densitas batuan
pada bawah permukaan berbeda akan menyebabkan tarikan atau gaya yang berbeda. Pada
tempat yang memiliki kandungan bawah permukaan dengan densitas yang tinggi akan
menyebabkan nilai gravitasi yang terukur akan lebih besar dan jika tempat yang memiliki
kandungan bawah permukaan yang densitasnya rendah maka nilai gravitasi yang terukur akan
2
rendah. Harga rata-rata gaya berat dipermukaan bumi adalah 9.8 𝑚⁄𝑠 2 . Dengan satuan gaya

berat adalah miliGal (1 mGal=10−3 , 1Gal = 10−3 𝑐𝑚⁄𝑠 2 . 1Gal sendiri adalah satuan yang

diperoleh pada eksperimen Galileo dengan mengukur waktu tempuh suatu benda yang
dijatuhkan dari atas menara Pisa.

2.1.3 Koreksi Metode Gravitasi


Bentuk bumi yang bukan merupakan bola pejal sempurna, relief yang tidak rata, tidak
homogen, kesalahan alat, dan faktor lain akan mempengaruhi hasil pengukuran metode
gravitasi, oleh karena itu dilakukan koreksi untuk meminimalisir kesalahan akibat
pengukuran.
2.1.3.1 Koreksi Pasang Surut
Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh gaya tarik yang di alami
bulan dan matahari, yang berubah terhadap lintang dan waktu. Koreksi pasang surut
juga bergantung pada kedudukan bulan dan matahari terhadap bumi:
gst =gs + t ... (4
gst = gravitasi terkoreksi pasang surut
gst = gravitasi pada pembacaan alat
t = nilai koreksi pasang surut

2.1.3.2 Koreksi Apungan


Koreksi apungan muncul karena gravity meter selama digunakan untuk melakukan
pengukuran akan mengalami guncangan, yang menyebabkan adanya pergeseran pembacaan
titik nol pada alat tersebut. Koreksi ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dengan
metode looping, yaitu dengan pembacaan ulang pada titik ikat (base station) dalam satu kali
looping, sehingga nilai penyimpangannya diketahui.
𝑔𝐴′ +𝑔𝐴
DC = 𝑡𝐴′ −𝑡𝐴
(tn-tA) ... (5

DC = koreksi drift titik acuan pengamatan


gA = harga gravitasi di titik acuan pada waktu tA
gA’ = harga gravitasi di titik acuan pada waktu tA’
tA = waktu pengamatan di titik acuan saat awal
tA’ = waktu pengamatan di titik acuan saat penutupan
tn = waktu pengamatan di titik n

2.1.3.3 Koreksi Lintang

3
Koreksi karena bentuk bumi tidak bulat sempurna tetapi pepat pada
daerah ekuator, karena rotasi bumi dan karena perbedaan diameter bumi pada kutub
ke kutub dengan khatulistiwa. Semakin menuju kutub maka semakin tinggi nilai
gravitasi. Maka nilai gravitasi yang terkoreksi adalah
gt = 9,780327(1.0+0.0053024 sin²(θ) – 0.0000058 sin²(2θ)).

2.1.3.4 Koreksi Bouger


Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan atau mengkompensasi adanya
pengaruh massa batuan terhadap stasiun penguuran dengan tinggi rata rata air laut
yang diabaikan pada koreksi udara bebas (FAC).
gB = 0.04193 x ρ x h
gB = gravitasi koreksi bouger
ρ = densitas batuan (Mg𝑚−3)
h = ketinggian dari atas permukaan laut (meter)

2.1.3.5 Koreksi Udara Bebas (Free Air Correction)


Koreksi ini dilakukan untuk mengkompensasi ketinggian antara titik
pengamatan dan datum (rata- rata permukaan air laut). Dengan mengabaikan massa
yang berada diantara permukaan air laut dengan titik pengamatan.
gFA = -0.3086 x h
gFA = gravitasi terkoreksi udara bebas
h = ketinggian permukaan dari datum (meter).

2.1.3.6 Koreksi Medan (Terrain Correction)


Koreksi yang dilakukan untuk mengoreksi adanya pengaruh penyebaran massa
yang tidak teratur pada sekitar titik pengukuran. Pada saat pengukuran, elevasi
topografi di sekitar titik pengukuran, biasanya pada radius dalam dan luar, diukur
elevasinya.
𝜌
TC(mGal) = 0.04191 ℎ ( r2 – r1 + √𝑟1 2 + 𝑧 2 - √𝑟2 2 + 𝑧 2 )

ρ = densitas (Mg𝑚−3)
r1 = jari-jari radius dalam
r2 = jari-jari radius luar
h= ketinggian
2.1.4 Interpretasi Gravitasi

4
Pada prinsipnya interpretasi dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.
Interpretasi kualitatif dilakukan dengan cara membaca pola anomali gravitasi yang
kemudian dihubungkan dengan tatanan geologinya dan data geologi lainnya.
Sedangkan interpretasi kuantitatif dapat dilakukan dengan menganalisa penampang
pola anomali sepanjang lintasan tertentu yang telah di tentukan. Dalam penelitian ini
dibuat dua penampang anomali yaitu penampang AB dan CD. Pada tahap interpretasi
parameter benda yang diestimasi adalah posisi, dimensi, kontras rapat massa dengan
sekitar, besar benda, dan lain-lain. Karena sifat ketidakunikan data gravitasi artinya
benda dengan bentuk yang berlainan dapat menerangkan data yang sama, maka
banyak dikembangkan berbagai metode untuk mendapatkan hasil yang optimum.
Disamping itu juga diperlukan kontrol-kontrol lain misalnya data geologi, data
metode geofisika yang lain.

2.2 Metode Magnetik


2.2.1 Teori Fisika Metode Magnetik
Gaya magnet yang ditimbulkan oleh dua buah kutub yang terpisah pada jarak r dan
memiliki muatan masing-masing 1 p dan 2 p , diberikan oleh (Telford, 1990).
1 𝑝1 𝑝2
𝐹⃗ = µ0 𝑟 2 𝑟̂
𝐹⃗ = Gaya coulomb (N)
r = Jarak antara kurub P1 dan P2 (m)
𝑟̂ = Vektor Satuan
P1 dan P2 = kuat kutub yaitu banyaknya muatan magnet (C)
µ0 = Permeabiitas medium sekitar dalam ruang hampa

Jika m1 dan m2 berbeda tanda kutub maka gaya F akan tarik menarik dan sebaliknya apabila
sama akan tolak menolak.
2.2.2 Metode Magnetik
Variasi medan magnet yang terukur di permukaan merupakan target dari survey magnetik
(anomali magnet). Besarnya anomal magnetik berkisar ratusan sampai ribuan nanotesla, tetapi
ada juga yang lebih besar dari 1000.000 nT yang berupa endapan magnetik. Secara garis besar
anomal ini disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnet induksi. Medan
magnet remanen mempunyai peranan yang besar pada magnetisasi batuan, yaitu pada besar
dan arah medan magnetnya serta sangat rumit untuk diamati, karena berkaitan dengan
peristiwa kemagnetan yang dialami sebelumnya. Sisa kemagnetan ini disebut dengan normal
residual magnetism yang merupakan akibat dari magnetisasi medan utama. Anomali yang di
peroleh dari survei merupakan hasil gabungan dari keduanya, bila arah medan magnet
remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka anomalinya bertambah besar,
demikian sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek medan remanen akan diabaikan apabila
anomali medan magnet kurang dari 25 % medan magnet bumi (Telford, 1990). Adanya
anomali magnet menyebabkan perubahan dalam medan magnet total bumi dan dapat
dituliskan sebagai berkut:

⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝐴 = ⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝑇 + ⃗⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝑀 + ⃗⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝑂

⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝐴 = Medan anomali magnet
⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝑇 = Medan magnet total
⃗⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝑀 = Medan magnet Utama
⃗⃗⃗⃗⃗
𝐵𝑜 = Medan magnet luar

5
2.2.3 Koreksi Metode Magnetik
2.2.3.1 Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan
magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam satu
hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu pengukuran
data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi.
Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian dilakukan dengan cara
menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data
medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi harian bernilai
positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara mengurangkan nilai variasi harian
yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi,
datap dituliskan dalam persamaan
ΔH = Htotal ± Δhharian.........................(2.1)

2.2.3.2 Koreksi IGRF


Data hasil pengukuran medan magnetikpada dasarnya adalah konstribusi dari
tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar
danmedan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika
nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi
medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat
dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik total
yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis yang
sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai
berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0
Dimana H0 = IGRF
2.2.3.3 Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik
sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai aturan
yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan
membangun suatu model topografi menggunakan pemodelan beberapa prisma
segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas
magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model topografi yang dibuat,
menghasilkan nilai anomali medan magnetik (ΔHtop) sesuai dengan fakta.
Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreksi harian dan IGRF) dapat
dituliskan sebagai
ΔH = Htotal ± ΔHharian – H0 – Δhtop

2.2.4 Interpretasi Magnetik


Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu interpretasi
kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali medan
magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda termagnetisasi atau struktur geologi
bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola anomali medan magnetik yang dihasilkan
ditafsirkan berdasarkan informasi geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik
atau struktur geologi, yang dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang
sebenarnya. Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan
kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan matematis. Untuk
melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana antara satu dengan lainnya
mungkin berbeda, tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang dicapai dan
ketelitian hasil pengukuran. (Santosa, Bagus Jaya. Dkk. 2012. Interpretasi Metode
Magnetik Untuk Penentuan Struktur Bawah Permukaan di Sekitar Gunung Kelud
Kabupaten Kediri. Surabaya. Institut Teknologi Sepuluh Nopember).
6
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

3.2 Rancangan Penelitian

3.3 Materi Penelitian


Dalam dilakukannya penelitian ini digunakan beberapa materi yang berupa data dan
pengolahan data, antara lain:
1. Data yang digunakan, antara lain:
2. Peralatan yang digunakan pada akuisisi data metode .................. antara lain:
 Nama Alat 1

7
Gambar 3.* Nama Alat 1
Penjelasan Alat 1
 Nama Alat 2

Gambar 3.* Nama Alat 2


Penjelasan Alat 2
3. Perangkat lunak yang digunakan antara lain:


3.4 Langkah Penelitian

3.4.1 Akuisisi Data

3.4.2 Pengolahan Data

3.4.3 Interpretasi

3.5 Diagram Alir Penelitian

Mulai / Selesai

8
Arah

Proses

Input/output data

Percabangan
(ya / tidak)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

9
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

10
DAFTAR PUSTAKA

11
LAMPIRAN

Lampiran 1: Data Hasil Pengukuran

Lampiran 2: Dokumentasi

12