Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH FISIOLOGI

“Deteksi Glukosa pada Spesimen Urine”

Oleh : Nikmatus Sholihah

NIM. 170400381

PRODI S1 ILMU GIZI ALIH JENJANG


UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
TAHUN 2017
PRAKTIKUM DETEKSI GLUKOSA PADA SPESIMEN URINE

I. Tujuan
1. Mengetahui glukosa dalam urine

II. Dasar Teori


Tubuh manusia memiliki organ ekskresi yang bertugas membuang zat sisa
hasil metabolisme tubuh. Urine atau air seni merupakan cairan sisa yang
diekskresikan oleh ginjal yang selanjutnya dikeluarkan dari tubuh. Eksresi urine
membuang molekul sisa dalam darah yang telah disaring oleh ginjal untuk menjaga
homeostaisi cairan tubuh.
Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang dieksresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinalisasi.
Eksresi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga haemoestasis cairan tubuh. Dalam
mempertahankan haemoestasis tubuh. Peranan urin sangat penting, karena sebagian
pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. (Elisabet J. Corwin, 2000)
Glukosa merupakan jenis substansial gula yang paling umum ditemukan dalam
specimen urine, khususnya pada pasien diabetik dan pasien gagal ginjal kronis.
Glukosa adalah substansi yang mereduksi blue copper sulfate pada larutan benedict
menjadi red copper oxide yang bersifat tak terlarutkan.
Glukosa mempunyai sifat mereduksi. Ion cupri direduksi menjadi cupro dan
mengendap dalam bentuk merah bata. Semua larutan sakar yang mempunyai
gugusan aldehid atau keton bebas akan memberikan reaksi positif. Na sitrat dan Na
karbonat (basa yang tidak begitu kuat) berguna untuk mencegah pengendapan Cu++.
Sukrosa memberikan reaksi negatif karena tidak mempunyai gugusan aktif
(Ayu,2012)
Reaksi benedict sensitif karena larutan sakar dalam jumlah sedikit
menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan
perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis lebih mudah mengenalnya. Uji
benedict lebih peka karena benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa
secara kasar, karena dengan berbagai kadar glukosa memberikan warna yang
berlainan
III. Alat dan Bahan
a. Alat 4. Bunsen
1. Tabung reaksi 5. Pipet tetes
2. Gelas beaker 6. Penjepit kayu
3. Gelas ukur 7. Rak tabung reaksi
b. Bahan :
1. Specimen urine
2. Larutan benedict

IV. Cara Kerja


1. Memasukkan larutan benedict 5 ml ke dalam tabung reaksi dengan menggunakan
gelas ukur 5 ml.
2. Menambahkan 8 tetes urine menggunakan pipet tetes dan kocok hingga urine
tercampur dengan larutan benedict.
3. Memanaskan dengan menggunakan bunset selama 2 menit atau hingga larutan
mendidih, panaskan dengan penjepit kayu
4. Apabila sudah mendidih hingga rata, angkat dan kocok isinya.
5. Meletakkan tabung reaksi di atas rak agar suhunya sama dengan suhu ruangan.
6. Mengamati perubahan warna yang terjadi dan mengamati adanya presipitat.

V. Hasil
Tabel 1. Hasil Deteksi Glukosa pada Spesimen Urine

Probandus ke- Usia (tahun) Jenis kelamin Warna Urine Keterangan

1 (kelompok C) 22 Perempuan Biru Negatif

Urin probandus setelah


dipanaskan
VI. Pembahasan
Pada praktikum ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya glukosa dalam
tubuh. Glukosa dalam tubuh ini dapat diketahui melalui specimen urine yang akan
menunjukkan ada tidaknya glukosa dalam tubuh. Uji benedict adalah salah satu cara
yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya kandungan glukosa pada urine.
Menurut Yazid (2006), prinsip uji Benedict yaitu gula pereduksi akan mereduksi ion
Cu2+ dalam suasana alkalis menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O berwarna
merah bata. Untuk mengetahui hasil dari uji benedict, dilakukan proses pemanasan
terlebih dahulu yang bertujuan untuk mempercepat laju reaksi.
Pereaksi Benedict berupa larutan yang mengandung kupri sulfat, natrium
karbonat, dan natrium sitrat. Gula pereduksi dapat mereduksi ion Cu2+ dari
kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Adanya
natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi Benedict bersifat basa lemah.
Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning, atau merah bata. Warna
endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa (Poedjiadi
1994).
Dalam praktikum uji glukosa pada spesimen urin dilakukan pada probandus
wanita dengan usia 22 tahun. Pengujian dilakukan dengan mereaksikan 5mL larutan
benedict dengan 8 tetes urine probandus kemudian dilakukan pemanasan untuk
mempercepat laju reaksi benedict dalam mengurai urine probandus. Hasil pada
praktikum ini setelah pemanasan dan diamati perubahan yang terjadi adalah urine
probandus berwarna biru kehijauan (seperti tampak pada gambar hasil). Warna biru
kehijauan yang terbentuk dan tidak adanya endapan pada urine probandus dapat
diartikan bahwa urine probandus Negatif mengandung glukosa.
Uji benedict atau tes benedict digunakan untuk menunjukkan adanya
monosakarida dan gula pereduksi. Tembaga sulfat dalam reagen benedict akan
bereaksi dengan monosakarida dan gula pereduksi membentuk endapan berwarna
merah bata. Monosakarida dan gula pereduksi dapat bereaksi dengan reagen benedict
karena keduanya mengandung aldehida ataupun keton bebas. Hasil positif pada uji
benedict yang mengandung glukosa ditunjukkan dengan perubahan warna larutan
menjadi hijau, kuning, orange, atau merah bata dan muncul endapan hijau, kuning,
orange atau merah bata (Panji, 2015)
Uji benedict dikatakan positif mengandung glukosa apabila suatu larutan
sampel yang telah direaksikan dengan benedict terdapat perubahan warna dan
endapan merah bata pada dinding bawah tabung reaksi maka hal tersebut
menandakan adanya gula pereduksi pada sampel yang diujikan. Endapan yang
terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata tergantung pada konsentrasi
gula reduksinya. Semakin berwarna merah bata maka gula pereduksi dalam sampel
tersebut semakin banyak (Kusbandari A, 2015)
Pada probandus yang dalam pemeriksaan glukosa urine yang menunjukkan
warna hijau atau merah bata maka dikatakan urine tersebut mengandung glukosa.
Pada orang sehat dengan ginjal yang normal, mempunyai kemampuan untuk
memfiltrasi hampir seluruh glukosa pada glomeruli dan direabsorbsi kembali pada
tubuli proximalis, sehingga urin tidak mengandung glukosa atau mempunyai batasan
nilai 0 - 0,08 mmol glukosa per liter dalam urin. Ketika jumlah glukosa berlebih,
ginjal akan mengekskresikan glukosa dalam urin sebesar 10 – 12 mmol per liter,
keadaan demikian sering menandakan Diabetes Mellitus (Ma’rufah, 2011). Uji
benedict hanya bisa digunakan untuk mengetahui ada tidaknya glukosa pada urin.
Apabila hasil pengujian menunjukkan hasil positif maka perlu dilakukan serangkaian
proses pemeriksaan lain untuk mengetahui kadar glukosa pada tubuh.

VII.Kesimpulan
- Hasil praktikum pengujian kandungan glukosa pada specimen urin menunjukkan
hasil negatif yang ditandai dengan adanya perubahan warna larutan menjadi biru
dan tidak adanya reaksi yang menunjukkan adanya gugus aldehid pada urin
probandus.
VIII. Sumber Pustaka
Kusbandari A. 2015. Analisis Kualitatif Kandungan Sakarida Dalam Tepung
Dan Pati Umbi Ganyong (Canna edulis Ker.) Jurnal Pharmaҫiana, Vol. 5, No. 1,
2015: 35-42 Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Yazid, E. dan Nursanti, L., (2006), Penuntun Praktikum Biokimia, Penerbit
Andi,. Yogyakarta
Panji, 2015. Uji Benedict dalam www.edubio.info. Diakses pada tanggal 23
Desember 2014 22:00
Poedjiadi Anna, (1994), Dasar-dasar Biokimia, UI Press, Jakarta
Ma’rufah 2011. Hubungan Glukosa Urin Dengan Berat Jenis Urin. Jurnal
Glukosa Urin No. 3 Vol 1. Dosen Analis Kesehatan Akademi Analis Kesehatan
Malang.
Corwin, Elizabeth J.2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta