Anda di halaman 1dari 3

No Nama spesies FR KR DR INP

1 Cyperus rotundus L
2 Mimosa pudica
3 Ageratum conyzoides
L.
4 Echinochloa crus-
galli
5 Amaranthus sp.
6. Ageratum conyzoides

7 Euphorbia hirta L
8 Chromolaena odorata
9 Axonopus compressus
Dalam praktikum ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi menggunakan metode
kuadrat. Berdasarkan hasil penelitian analisis vegetasi dengan menggunakan metode kuadrat
yang dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo, yang dilakukan sepanjang 20 plot didapatkan
data sebanyak 9 jenis tumbuhan yang berbeda spesiesnya. Jenis tumbuhan tersebut yaitu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kerapatan, kerimbunan, frekuensi


dan nilai penting untuk dapat memberi nama suatu vegetasi berdasarkan dominansinya.
Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu. Dari
hasil analisa data mengenai tingkat kerapatan, dapat diketahui bahwa spesies Leea sp.
memiliki nilai kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi paling tinggi dengan nilai 38,46 %,
32,76 %, dan 25%.

Indeks nilai penting (INP) dari hasil penelitian ini didominasi oleh spesies Leea sp.
dengan nilai sebesar 67,37%. Nilai penting tertinggi dimiliki oleh spesies Leea sp. sehingga
dapat dikatakan bahwa nama dari komunitas vegetasi herba dan peranakan pohon stasiun 18
di Taman Nasional Alas Purwo berdasarkan INP adalah adalah komunitas vegetasi Leea sp.

Spesies Leea sp. mendominasi pada tingkat kerapatan, kerimbunan, dan indeks nilai
penting di alas Purwo stasiun 18. Hal ini dikarenakan pada saat penelitian Leea sp. banyak
ditemukan di daerah hutan yang lebih dalam, yaitu terletak pada plot antara 13 sampai 20.
Tidak semua jenis tumbuhan mampu bertahan dalam keadaanyang kuarng sinar matahari.
Diduga tumbuhan ini mampu bertahan dalam keadaan ternaung yang terletak di dalam hutan
karena sumber nutrisi berasal dari unsur hara yang terdapat di dalam tanah. Seperti yang
diketahui bahwa unsur hara pada tanah dengan keadaan ternaung lebih efisien menyimpan
nutrisi. Hal ini pula yang menunjukkan bahwa semakin ke dalam menuju hutan, maka
tumbuhan yang dapat ditemukan bersifat homogen. Hal ini berkaitan dengan faktor abiotik
yang mempengaruhi. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa spesies Leea sp. memiliki
kemampuan adaptasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan spesies lain. Selain itu,
spesies Leea sp. memiliki struktur daun yang cukup lebar sehingga memiliki tingkat
kerimbunan paling tinggi.

Sedangkan pada spesies Pandanus tectorius merupakan jenis spesies yang ditemukan
di daerah tepi hutan pantai, yaitu pada plot pertama dan kedua. Namun pada plot selanjutnya
spesies ini tidak dapat ditemukan. Hal ini disebaban karena kemampuan adaptasi dari
tumbuhan jenis ini, dimana pada plot selanjutnya intensitas cahaya sudah sangat berkurang
karena terhalang pohon yang tinggi. Sedangkan pada plot pertama yang belum terdapat
pohon tinggi, spesies ini dapat hidup subur di daerah yang terdedah. Selain itu, pada plot
yang belum terlalu masuk ke dalam hutan, masih dapat ditemukan berbagai jenis tumbuhan
yang bersifat heterogen. Meski dalam jumlah yang sedikit namun jenis tumbuhan tersebut
bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada daerah yang terletak di dekat pantai atau belum
terlalu masuk ke dalam hutan masih terdapat banyak jeinis tumbuhan yang mampu
beradaptasi.

Hasil yang diperoleh pada penelitian sesuai dengan literatur yang kami temukan yang
menyatakan bahwa secara umum hutan pantai memiliki keragaman jenis yang rendah.
Biasanya di hutan pantai ditemukan jenis conifer (daun jarum), liana serta tumbuhan (pohon)
berbunga yang disertai dengan kelimpahan Pandanus sp. dan Barringtonia sp. Beberapa jenis
epifit juga ditemukan dibatang Barringtonia seperti dari jenis Myrmecodia sp. Di hutan
pantai tidak ditemukan komunitas vertebrata yang spesifik. Meskipun demikian, hutan pantai
juga dijadikan sebagai habitat favorit jenis langka seperti Cacatua sp., Tanygnathus sp., atau
Megapodius sp. dll.

Pandanus tectorius ex Z (Pandanaceae) atau Pandan, pohon dapat mencapai


ketinggian hingga 6 m (Gambar 16). Daun Berduri pada sisi daun dan ujungnya tajam.
Panjang antara 0,5 – 2,0 meter, Bunga Warna merah ungu. Buahnya seperti buah nenas dan
ketika matang berwarna kuning jeruk. Tumbuh pada habitat dengan substrat berpasir di depan
garis pantai, terkena pasang surut hingga agak ke belakang garis pantai (Noor et al., 2006).