Anda di halaman 1dari 2

Tahun 2017 ini Sudah 45

TKI Asal NTT yang


Meninggal di Malaysia
KONTRIBUTOR KUPANG, SIGIRANUS MARUTHO BERE
Kompas.com - 10/09/2017, 10:31 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Terhitung dalam rentang waktu delapan bulan, mulai dari
Januari hngga Agustus 2017, sudah 45 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa
Tenggara Timur (NTT) meninggal di Malaysia.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Balai Pelayanan Perlindungan dan


Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, Siwa mengatakan, 45 TKI yang
meninggal itu berasal dari 14 kabupaten di NTT, sedangkan dua orang TKI lainnya tidak
diketahui daerah asalnya, hanya menyebutkan berasal dari NTT.

Ke-14 kabupaten itu yakni Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Ende,
Malaka, Kabupaten Kupang, Flores Timur, Sikka, Manggarai, Sumba Barat, Sumba
Barat Daya, Sumba Timur, Nagekeo, dan Ngada.

"Total TKI yang meninggal di Malaysia sejak Januari sampai dengan akhir Agustus 2017
ini yakni 45 orang. Dua orang TKI tidak diketahui asalnya, hanya dituliskan berasal dari
NTT,"kata Siwa kepada Kompas.com, Minggu (10/9/2017).

Dua orang TKI yang bernama Elci dan Anton, lanjut Siwa, akhirnya dimakamkan di
Malaysia, karena alamat keduanya hanya disebut Nusa Tenggara Timur, sedangkan
nama jenazah tidak didukung dengan nama marga.

"Dua orang itu terpaksa dimakamkan di Malaysia, karena kalau dibawa ke Indonesia
tentu tidak tahu siapa keluarga mereka," ujar dia.

TKI terakhir yang meninggal yakni Maria Goreti Mamo (37), asal Aplal, Desa Tasinifu,
Kecamatan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ia meninggal di Kuching,
Sarawak, Malaysia karena karena perdarahan setelah melahirkan atau post partum
hemorrhagic (PPH).

Jenazahnya dipulangkan ke kampung halamannya pada Jumat (25/8/2017) lalu.

Dari 45 TKI itu lanjut Siwa, hanya satu orang TKI yang legal dan berangkat melalui jalur
resmi yakni Arni Kabnani yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan. Arni
diberangkatkan secara legal oleh PT Citra Bina Tenaga Mandiri. Sehingga setelah Arni
meninggal, kepada ahli waris sudah diserahkan asuransi TKI sebesar Rp 80 juta.

Menurut Siwa, para TKI tersebut meninggal karena penyakit, kecelakaan kerja, dan
tenggelam di laut dan kolam. Mereka bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pekerja
di kebun sawit.
"Sebagian besar mereka meninggal karena sakit. Kami akan selalu siap menjemput dan
memfasilitasi jenazah TKI yang meninggal, mulai dari Bandara El Tari Kupang hingga ke
kediaman TKI yang meninggal," kata dia.