Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia, banyak kasus keratitis yang terlambat didiagnosis hingga telah terjadi
komplikasi pada mata. Keratitis dapat menimbulkan kekeruhan kornea dan kebutaan bila
tidak diidentifikasi dan ditangani secara tepat. Pada beberapa kasus yang berat, keratitis
dapat menyebabkan terjadinya perforasi kornea hingga hilangnya fungsi penglihatan.1
Kesadaran dari pasien untuk berobat serta kemampuan diagnosis yang tepat menjadi
faktor kunci dalam pencegahan komplikasi keratitis. Dengan perhatian medis yang baik,
keratitis biasanya dapat ditangani dengan baik sehingga hilangnya penglihatan jangka
panjang dapat dicegah. Timbulnya sikatrik kornea dapat menimbulkan gangguan
penglihatan mulai dari kabur hingga kebutaan.2
WHO pada tahun 2011 menyatakan bahwa kekeruhan pada kornea merupakan
penyebab nomer 4 (5,1%) kebutaan di dunia setelah katarak, glaukoma, dan Aged-related
Macular Degeneration (AMD). WHO juga menyatakan keratitis menjadi salah satu silent
epidemic karena perannya sebagai penyebab utama kekeruhan kornea. Trauma okuler dan
ulkus kornea merupakan penyebab utama kebutaan kornea, dimana sebagian besar ulkus
kornea disebabkan oleh infeksi pada kornea. Data menunjukkan bahwa insidensi keratitis
bakterial jauh lebih tinggi di negara berkembang dibandingkan di negara maju.
Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, prevalensi kekeruhan kornea nasional adalah 5,5%.
Gonzales et. al. melaporkan insiden keratitis di Distrik Madurai di India Selatan mencapai
113 per 100.000 per tahun, 10 kali lebih besar dibanding di negara maju. Di Nepal,
insidens keratitis mencapai 799 per 100.000 per tahun. Faktor risiko terbesar terjadinya
keratitis bakterial di negara maju adalah penggunaan lensa kontak, sedangkan di Asia
Tenggara, abrasi kornea merupakan faktor risiko terbesar.3
Selain tingginya insidensi, biaya terapi keratitis infektif relatif mahal dengan
pemulihan tajam penglihatan yang rendah. Pada banyak negara berkembang, obat-obat
keratitis sulit didapatkan. Dengan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh keratitis
infektif, solusi utama di masyarakat adalah strategi preventif. Terdapat beberapa upaya
preventif yang telah berhasil dilaksanakan di negara berkembang. Sebuah penelitian di
Bhaktapur oleh Bhaktapur Eye Study menunjukkan bahwa pasien dengan abrasi kornea
yang datang dalam 48 jam setelah terjadinya jejas tanpa adanya tanda-tanda infeksi diberi
salep kloramfenikol 1% 3x sehari selama 3 hari. Dari 442 pasien, hanya 18 pasien yang
mengalamai ulkus kornea.4 WHO mengaplikasikan hasil penelitian tersebut di Bhutan
dan sukses menurunkan angka kejadian ulkus kornea pada pasien-pasien dengan abrasi
kornea hinggal nol. Sebagai pembanding, angka kejadian ulkus kornea di luar area
penelitian WHO di Bhutan adalah 339 per 100.000.3
Keratitis menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena kemungkinan besar
masih merupakan sebuah fenomena gunung es dimana masih banyak kasus yang tidak
terdiagnosis dan ditemukan awal. Pernyataan WHO bahwa keratitis menjadi sebuah silent
epidemic perlu untuk diperhatikan. Jika keratitis tidak ditangani dengan benar maka
penyakit ini akan berkembang menjadi suatu ulkus yang dapat merusak kornea secara
permanen sehingga akan menyebabkan gangguan penglihatan bahkan dapat sampai
menyebabkan kebutaan sehingga pengobatan keratitis haruslah cepat dan tepat agar tidak
menimbulkan komplikasi yang merugikan di masa yang akan datang terutama pada
pasien yang masih muda. Kemampuan dalam melaksanakan tindakan preventif penting
untuk menjadi perhatian bersama.3

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI KORNEA


Kornea merupakan bagian selaput mata yang tembus cahaya, bersifat
transparan, berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11 mm veritkal, tebal 0,6-1 mm.
Indeks bias kornea 1,375 dengan kekuatan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapat
ditembus cahaya ini disebabkan oleh struktur kornea yang uniform, avaskuler, dan
disturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea yang dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.
Endotel lebih penting daripada epitel dalam mencegah dehidrasi, dan cedera
kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel.
Kerusakan sel-sel endotel jauh menyebabkan sifat transparan hilang dan edema
kornea, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena
akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel.5
Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan
lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Jika kornea oedem
karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat
menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.5
Kornea bersifat avaskuler, maka sumber-sumber nutrisi kornea berasal dari
pembuluh-pembuluh darah limbus, humor aquaeus dan air mata. Kornea superfisial
juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer. Kornea dipersarafi oleh
banyak serat saraf sensorik yang didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari
nervus kranialis V yang berjalan supra koroid, masuk kedalam stroma kornea,
menembus membran bowman dan melepaskan selubung schwannya. Bulbus
Krause untuk sensasi dingin ditemukan didaerah limbus. Daya regenerasi saraf
sesudah dipotong didaerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.5
Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan
dan terdiri atas lima lapisan dari anterior ke posterior yaitu: lapisan epitel (yang
bersambung dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris), membran bowman,
stroma, membran descemet dan lapisan endotel.5

2
Gambar 1. Anatomi Kornea5
Kornea dalam bahasa latin “cornum” artinya seperti tanduk, merupakan
selaput bening mata, bagian dari mata yang bersifat tembus cahaya, merupakan
lapis dari jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas :
1. Epitel
Terdiri dari sel epitel squamos yang bertingkat, terdiri atas 5 lapis sel epitel
tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; sel poligonal dan sel gepeng. Tebal
lapisan epitel kira-kira 5 % (0,05 mm) dari total seluruh lapisan kornea. Epitel
dan film air mata merupakan lapisan permukaan dari media penglihatan. Pada
sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi
lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal
berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya
melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran ait,
elektrolit, dan glukosa melalui barier. Sel basal menghasilkan membran basal
yang melekat erat padanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi
rekuren. Sedangkan epitel berasal dari ektoderm permukaan. Epitel memiliki
daya regenerasi.5
2. Membran Bowman
Membran yang jernih dan aselular, Terletak di bawah membran basal dari
epitel. Merupakan lapisan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma

3
dan berasal dari epitel bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya
generasi.5
3. Stroma
Lapisan ini mencakup sekitar 90% dari ketebalan kornea. Merupakan lapisan
tengah pada kornea. Bagian ini terdiri atas lamel fibril-fibril kolagen dengan
lebar sekitar 1 µm yang saling menjalin yang hampir mencakup seluruh
diameter kornea, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di
bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen
memakan waktu lama, dan kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel
stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma.
Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam
perkembangan embrio atau sesudah trauma.5
4. Membran Descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
yang dihasilkan oleh endotel. Bersifat sangat elastis dan jernih yang tampak
amorf pada pemeriksaan mikroskop elektron, membran ini berkembang terus
seumur hidup dan mempunyai tebal + 40 mm. Lebih kompak dan elastis
daripada membran Bowman. Juga lebih resisten terhadap trauma dan proses
patologik lainnya dibandingkan dengan bagian-bagian kornea yang lain.5
5. Endotel
Berasal dari mesotelium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk heksagonal, tebal
antara 20-40 mm melekat erat pada membran descement melalui taut. Endotel
dari kornea ini dibasahi oleh aqueous humor. Lapisan endotel berbeda dengan
lapisan epitel karena tidak mempunyai daya regenerasi, sebaliknya endotel
mengkompensasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh
endotel dan memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi
dapat menjaga keseimbangan cairan yang tepat akibat gangguan sistem pompa
endotel, stroma bengkak karena kelebihan cairan (edema kornea) dan kemudian
hilangnya transparansi (kekeruhan) akan terjadi. Permeabilitas dari kornea
ditentukan oleh epitel dan endotel yang merupakan membrane semipermeabel,
kedua lapisan ini mempertahankan kejernihan daripada kornea, jika terdapat

4
kerusakan pada lapisan ini maka akan terjadi edema kornea dan kekeruhan pada
kornea.5

2.2 FISIOLOGI KORNEA


Kornea mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai medium refraksi dan untuk
memproteksi lensa intraokular. Kornea menjalankan dua fungsi utama ini dengan
cara mempertahankan sifat transparansi kornea dan pergantian dari jaringannya.
Transparansi kornea dimungkinkan oleh sifatnya yang avaskuler, memiliki struktur
yang uniform yang sifat deturgescence – nya. Transparansi stroma dibentuk oleh
pengaturan fisis special dari komponen – komponen fibril. Walaupun indeks
refraksi dari masing – masing fibril kolagen berbeda dari substansi infibrilar,
diameter yang kecil (300 A) dari fibril dan jarak yang kecil diantara mereka (300
A) mengakibatkan pemisahan dan regularitas yang menyebabkan sedikit pembiasan
cahaya dibandingkan dengan inhomogenitas optikalnya. Sifat deturgescence di jaga
dengan pompa bikarbonat aktif dari endotel dan fungsi barrier dari epitel dan
endotel. Kornea di jaga agar tetap berada pada keadaan “basah” dengan kadar air
sebanyak 78%.5
Peran kornea dalam proses refraksi cahaya bagi penglihatan seseorang sangatlah
penting. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 43,25 dioptri dari
total 58,6 kekuatan dioptri mata normal manusia, atau sekitar 74% dari seluruh
kekuatan dioptri mata normal. Hal ini mengakibatkan gangguan pada kornea dapat
memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam fungsi visus seseorang. Kornea
merupakan struktur vital dari mata dan oleh karenanya kornea sangat sensitif. Saraf
– saraf kornea masuk dari stroma kornea melalui membran bowman dan berakhir
secara bebas diantara sel – sel epithelial serta tidak memiliki selebung myelin lagi
sekitar 2 – 3 mm dari limbus ke sentral kornea, sehingga menyebabkan sensitifitas
yang tinggi pada kornea.5
Kornea menerima suplai sensoris dari bagian oftalmik nervus trigeminus. Sensasi
taktil yang terkecil pun dapat menyebabkan refleks penutupan mata. Setiap
kerusakan pada kornea (erosi, penetrasi benda asing atau keratokonjungtivitis
ultraviolet) mengekspose ujung saraf sensorik dan menyebabkan nyeri yang intens
disertai dengan refleks lakrimasi dan penutupan bola mata involunter. Trias yang

5
terdiri atas penutupan mata involunter (blepharospasme), refleks lakrimasi
(epiphora) dan nyeri selalu mengarahkan kepada kemungkinan adanya cedera
kornea.5
Seperti halnya lensa, sklera dan badan vitreous, kornea merupakan struktur
jaringan yang braditrofik, metabolismenya lambat dimana ini berarti
penyembuhannya juga lambat. Metabolisme kornea (asam amino dan glukosa)
diperoleh dari 3 sumber, yaitu :
- Difusi dari kapiler – kapiler disekitarnya
- Difusi dari humor aquous
- Difusi dari film air mata
Tiga lapisan film air mata prekornea memastikan bahwa kornea tetap lembut dan
membantu nutrisi kornea. Tanpa film air mata, permukaan epitel akan kasar dan
pasien akan melihat gambaran yang kabur. Enzim lisosom yang terdapat pada film
air mata juga melindungi mata dari infeksi.5

2.3 KERATITIS
A. Definisi
Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut
lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal
lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut
juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma.5, 8
B. Epidemiologi
Frekuensi keratitis di Amerika Serikat sebesar 5% di antara seluruh kasus
kelainan mata. Di negara-negara berkembang insidensi keratitis berkisar antara
5,9-20,7 per 100.000 orang tiap tahun. WHO pada tahun 2011 menyatakan
bahwa kekeruhan pada kornea merupakan penyebab nomer 4 (5,1%) kebutaan
di dunia setelah katarak, glaukoma, dan Aged-related Macular Degeneration
(AMD). WHO juga menyatakan keratitis menjadi salah satu silent epidemic
karena perannya sebagai penyebab utama kekeruhan kornea. Trauma okuler dan
ulkus kornea merupakan penyebab utama kebutaan kornea, dimana sebagian
besar ulkus kornea disebabkan oleh infeksi pada kornea. Data menunjukkan
bahwa insidensi keratitis bakterial jauh lebih tinggi di negara berkembang

6
dibandingkan di negara maju. Berdasarkan Riskesdas Tahun 2013, prevalensi
kekeruhan kornea nasional adalah 5,5%. Gonzales et. al. melaporkan insiden
keratitis di Distrik Madurai di India Selatan mencapai 113 per 100.000 per
tahun, 10 kali lebih besar dibanding di negara maju. Di Nepal, insidens keratitis
mencapai 799 per 100.000 per tahun. Faktor risiko terbesar terjadinya keratitis
bakterial di negara maju adalah penggunaan lensa kontak, sedangkan di Asia
Tenggara, abrasi kornea merupakan faktor risiko terbesar.3
C. Etiologi
Keratitis disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan protozoa. Keratitis
pada umumnya didahului :5,8
- defisiensi vitamin A
- Reaksi konjungtivitis menahun
- Trauma dan kerusakan epitel
- Lensa kontak dapat mengakibatkan infeksi sekunder dan non-infeksi
keratitis
- Daya imunitas yang berkurang
- Musim panas dan daerah yang lembab
- Pemakai kortikosteroid
- Herpes genital
D. Patofisiologi
Epitel merupakan barrier yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme
ke dalam kornea. Pada saat epitel mengalami trauma, struma yang avaskuler dan
lapisan bowman menjadi mudah untuk mengalami infeksi dengan organisme
yang bervariasi, termasuk bakteri, amoeba dan jamur. Streptokokus pneumonia
merupakan pathogen kornea bakterial, patogen-patogen yang lain
membutuhkan inokulasi yang berat atau pada host yang immunocompromised
untuk dapat menghasilkan sebuah infeksi di kornea. Ketika patogen telah
menginvasi jaringan kornea melalui lesi kornea superfisial, beberapa rantai
kejadian tipikal akan terjadi, yaitu :5,8
- Lesi pada kornea
- Patogen akan menginvasi dan mengkolonisasi struma kornea
- Antibodi akan menginfiltrasi lokasi invasi patogen

7
- Hasilnya akan tampak gambaran opasitas pada kornea dan titik invasi
pathogen akan membuka lebih luas dan memberikan gambaran infiltrasi
kornea
- Iritasi dari bilik mata depan dengan hipopion (umumnya berupa pus yang
akan berakumulasi pada lantai dari bilik mata depan)
- Patogen akan menginvasi seluruh kornea.
- Hasilnya stroma akan mengalami atropi dan melekat pada membarana
descement yang relatif kuat dan akan menghasilkan descematocele dimana
hanya membaran descement yang intak.
Ketika penyakit semakin progresif, perforasi dari membrane descement
terjadi dan humor aquos akan keluar. Hal ini disebut ulkus kornea perforata dan
merupakan indikasi bagi intervensi bedah secepatnya. Pasien akan
menunjukkan gejala penurunan visus progresif dan bola mata akan menjadi
lunak.8
Karena kornea memiliki serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea, superficial
maupun dalam menimbulkan rasa sakitdan fotofobia. Rasa sakit ini diperhebat
oleh gesekan palbebra (terutama palbebra superior) pada kornea akan emnetap
sampai sembuh. Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan
membiaskan berkas cahaya, lesi kornea umumnya agak mengaburkan
penglihatan, terutama kalo letaknya dari pusat.8
Fotofobia pada penyakit kornea adalah akibat kontraksi iris beradang yang
sakit. Dilatasi pembuluh iris beradang yang sakit. Dilatasi pembuluh iris adalah
fenomena reflex yang disebabkan iritasi pda ujung saraf kornea. Fotofobia, yang
berat pada kebanyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena
hipestasi terjadi pada penyakit ini, yang merupakan tanda diagnosis berharga.8
E. Manifestasi Klinis8,9
1) Nyeri.
2) Fotofobia (takut sinar, silau) oleh karena nyeri. Di samping itu, jika iris
mengalami radang akan berkontraksi oleh datangnya sinar.
3) Blefarospasme (refleks menutup mata).
4) Epifora, yaitu air mata yang berlebihan.

8
i. Fotofobia, blefarospasme, dan epifora dinamakan TRIAS penyakit kornea
(keratitis). Hal ini sangat penting untuk membedakan dengan radang
konjungtiva. Pada penderita keratitis Herpes Simpleks (HSK) tidak
didapatkan nyeri.
F. Diagnosis
Pada anamnesis diungkapkan adanya riwayat trauma (benda asing dan abrasi
merupakan dua lesi yang paling umum pada kornea), riwayat penyakit kornea
juga bermanfaat, tanyakan gejala untuk membedakan jenis keratitis, tanyakan
juga pemakaian obat local.10, 11
1) Keluhan utama
Tanyakan kepada klien adanya keluhan seperti nyeri, mata berair, mata
merah, silau dan sekret pada mata.10
2) Riwayat penyakit sekarang
Informasi yang dapat diperoleh meliputi informasi mengenai penurunan
tajam penglihatan, trauma pada mata, riwayat gejala penyakit mata seperti
nyeri meliputi lokasi,awitan, durasi, upaya mengurangi dan beratnya,
pusing, silau.10
3) Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada klien riwayat penyakit yang dialami klien seperti diabetes
mellitus, herpes zooster, herpes simpleks
Pada pemeriksaa fisik dapat ditemukan adanya kelainan berikut :10,11
1) Palpebra superior
Merah,sakit jikaditekan
2) Palpebra inferior
Bengkak, merah, ditekan keluar sekret
3) Kornea
a. Erosi kornea, uji fluoresin positif
b. Infiltrat, tertibunnya sel radang
c. Pannus, terdapat sel radang dengan adanya pembuluh darah yang
membentuk tabir kornea
d. Flikten
e. Ulkus

9
f. Sikatrik
Pemeriksaan laboratorium biomikroskopik dengan atau tanpa fluorescein,
kerokan ulkus, biopsy kornea. Beberapa tes yang dapat dilakukan pada kornea
antara lain adalah:10,11
- Tes pachometry : tes untuk mengukur tebal kornea dengan memberikan
seberkas sinar
- Tes dengan keratoskop atau plasido : untuk melihat licinnya kelengkungan
kornea
- Tes sensibilitas kornea : tes untuk pemeriksaan fungsi saraf trigeminus yang
memberikan sensibilitas kornea
- Tes sensibilitas kuantitatif kornea : tes untuk mengetahui derajat sensibilitas
kornea
- Tes fluoresin : tes untuk mengetahui terdapatnya kerusakan epitel kornea.
- Tes rose Bengal : untuk melihat sel mati pada kornea
- Tes metilen biru : tes untuk melihat adanya kerusakan saraf pada kornea
- Tes fistel : tes untuk memeriksa adanya fistel atau kebocoran pada kornea
- Tes seidel : tes untuk mengetahui letak kebocoran pada luka operasi
pascabedah intraocular.
G. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan keratitis adalah mengeradikasi penyebab keratitis,
menekan reaksi peradangan sehingga tidak memperberat destruksi pada kornea,
mempercepat penyembuhan defek epitel, mengatasi komplikasi, serta
memperbaiki ketajaman penglihatan. Ada beberapa hal yang perlu dinilai dalam
mengevaluasi keadaan klinis keratitis meliputi: rasa sakit, fotofobia, lakrimasi,
rasa mengganjal, ukuran ulkus dan luasnya infiltrat.5,8
Sebagian besar para pakar menganjurkan melakukan debridement
sebelumnya. Debridement epitel kornea selain berperan untuk pengambilan
spesimen diagnostik, juga untuk menghilangkan sawar epitelial sehingga obat
lebih mudah menembus. Dalam hal ini juga untuk mengurangi subepithelial
"ghost" opacity yang sering mengikuti keratitis dendritik. Diharapkan
debridement juga mampu mengurangi kandungan virus epithelial jika
penyebabnya virus, konsekuensinya reaksi radang akan cepat berkurang.5,8

10
Penatalaksanaan pada ketratitis pada prinsipnya adalah diberikan sesuai
dengan etiologi. Untuk virus dapat diberikan idoxuridine, trifluridin atau
acyclovir. Untuk bakteri gram positif pilihan pertama adalah cafazolin, penisilin
G atau vancomisin dan bakteri gram negatif dapat diberikan tobramisin,
gentamisin atau polimixin B. Pemberian antibiotik juga diindikasikan jika
terdapat secret mukopurulen, menunjukkan adanya infeksi campuran dengan
bakteri. Untuk jamur pilihan terapi yaitu: natamisin, amfoterisin atau
fluconazol. Selain itu obat yang dapat membantu epitelisasi dapat diberikan.5,8
Namun selain terapi berdasarkan etiologi, pada keratitis ini sebaiknya juga
diberikan terapi simptomatisnya agar dapat memberikan rasa nyaman dan
mengatasi keluhan-keluhan pasien. Pasien dapat diberi air mata buatan,
sikloplegik dan kortikosteroid. Pemberian air mata buatan yang mengandung
metilselulosa dan gelatin yang dipakai sebagai pelumas oftalmik, meningkatkan
viskositas, dan memperpanjang waktu kontak kornea dengan lingkungan luar.
Pemberian tetes kortikosteroid pada KPS ini bertujuan untuk mempercepat
penyembuhan dan mencegah terbentuknya jaringan parut pada kornea, dan juga
menghilangkan keluhan subjektif seperti fotobia namun pada umumnya pada
pemeberian steroid dapat menyebabkan kekambuhan karena steroid juga dapat
memperpanjang infeksi dari virus jika memang etiologi dari keratitis tersebut
adalah virus.5,8
Namun pemberian kortikosteroid topikal pada keratitis ini harus terus diawasi
dan terkontrol karena pemakaian kortikosteroid untuk waktu lama dapat
memperpanjang perjalanan penyakit hingga bertahun-tahun dan berakibat
timbulnya katarak dan glaukoma terinduksi steroid, menambah kemungkinan
infeksi jamur, menambah berat radang akibat infeksi bakteri juga steroid ini
dapat menyembunyikan gejala penyakit lain. Penggunaan kortikosteroid pada
keratitis menurut beberapa jurnal dapat dipertimbangkan untuk diganti dengan
NSAID. Dari penelitian-penelitian tersebut telah menunjukan bahwa NSAID
dapat mengurangi keluhan subjektif pasien dan juga mengatasi peradangannya
seperti halnya kortikostroid namun lebih aman dari steroid itu sendiri karena
tidak akan menyebabkan katarak ataupun glaukoma yang terinduksi steroid.5,8

11
Lensa kontak sebagai terapi telah dipakai untuk mengendalikan gejala,
supaya dapat melindungi lapisan kornea pada waktu kornea bergesekan dengan
palpebra, khususnya pada kasus yang mengganggu. Pemberian siklopegik
mengakibatkan lumpuhnya otot sfingter iris sehingga terjadi dilatasi pupil dan
mengakibatkan paralisis otot siliar sehingga melemahkan akomodasi. Terdapat
beberapa obat sikloplegia yaitu atropin, homatropin, dan tropikamida.5,8
Namun atropin (0,5%-2%) merupakan sikloplegik yang sangat kuat dan juga
bersifat midriatik sehingga biasanya tidak dijadikan pilihan terapi pada keratitis
tertentu misalnya KPS. Efek maksimal atropin dicapai setelah 30-40 menit dan
bila telah terjadi kelumpuhan otot akomodasi maka akan normal kembali dalam
2 minggu setelah obat dihentikan. Atropin juga memberikan efek samping nadi
cepat, demam, merah, dan mulut kering. Homatropin (2%-5%) efeknya hilang
lebih cepat dibanding dengan atropin, efek maksimal dicapai dalam 20-90 menit
dan akomodasi normal kembali setelah 24 jam hingga 3 hari. Sedangkan
trokamida (0,5%-1%) memberikan efek setelah 15-20 menit, dengan efek
maksimal dicapai setelah 20-30 menit dan hilang setelah 3-6 jam. Obat ini sering
dipakai untuk melebarkan pupil pada pemeriksaan fundus okuli.5,8
Pada keratitis yang telah mengalami penipisan stroma dapat ditambahkan lem
cyanoacrylate untuk menghentikan luluhnya stroma. Bila tindakan tersebut
gagal, harus dilakukan flap konjungtiva; bahkan bila perlu dilakukan
keratoplasti. Flap konjungtiva hanya dianjurkan bila masih ada sisa stroma
kornea, bila sudah terjadi descemetocele flap konjungtiva tidak perlu; tetapi
dianjurkan dengan keratoplastik lamellar.5,8
Selain terapi medikamentosa sebaiknya diberikan pula edukasi pada pasien
keratitis. Pasien diberikan pengertian bahwa penyakit ini dapat berlangsung
kronik dan juga dapat terjadi kekambuhan. Pasien juga sebaiknya dianjurkan
agar tidak terlaru sering terpapar sinar matahari ataupun debu karena keratitis
ini dapat juga terjadi pada konjungtivitis vernal yang biasanya tercetus karena
paparan sinar matahari, udara panas, dan debu, terutama jika pasien tersebut
memang telah memiliki riwayat atopi sebelumnya. Pasien pun harus dilarang
mengucek matanya karena dapat memperberat lesi yang telah ada.5,8

12
Pada keratitis dengan etiologi bakteri, virus, maupun jamur sebaiknya kita
menyarankan pasien untuk mencegah transmisi penyakitnya dengan menjaga
kebersihan diri dengan mencuci tangan, membersihkan lap atau handuk, sapu
tangan, dan tissue.5,8
H. Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea dan
akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis sampai
hilangnya penglihatan (kebutaan). Beberapa komplikasi yang lain
diantaranya:12
- Gangguan refraksi
- Jaringan parut permanent
- Ulkus kornea
- Perforasi kornea
- Glaukoma sekunder
I. Prognosis
Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepat dan jika
tidak diobati dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks
dan dapat mengakibatkan hilang penglihatan selamanya. Prognosis visual
tergantung pada beberapa faktor, tergantung dari :12
- Virulensi organisme
- Luas dan lokasi keratitis
- Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen
2.4 JENIS-JENIS KERATITIS
A. BERDASARKAN LOKASI 5,8,12
1) Keratitis Pungtata
Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman, dengan infiltrat
berbentuk bercak-bercak halus. Keratitis pungtata biasanya terdapat
bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva,
ataupun tanda akut, yang biasanya terjadi pada dewasa muda.

13
2) Keratitis Marginal
Keratitis marginal merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea
sejajar dengan limbus. Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat
mengakibatkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Merupakan
reaksi hipersensitivitas terhadap eksotoksin stafilokokus. Bila tidak diobati
dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea.
3) Keratitis Interstitial
Merupakan keratitis yang ditemukan pada jaringan kornea yang lebih
dalam pada kedua mata. Keratitis interstitial merupakan keratitis
nonsupuratif profunda disertai dengan neovaskularisasi. Keratitis ini disebut
juga keratitis parenkimatosa. Pengobatan keratitis profunda tergantung pada
penyebabnya berupa antibiotika, anti jamur, dan antivirus. Pada keratitis
diberikan sulfas atropin tetes mata untuk mencegah sinekia akibat terjadinya
uveitis dan kortikosteroid tetes mata.
B. BERDASARKAN ETIOLOGI 5,8,12
1) Keratitis Bakterial
Setiap bakteri seperti Staphylococcus, Pseudomonas, Haemophilus,
Streptococcus, dan Enterobactericiae dapat mengakibatkan keratitis
bakterial. Faktor predisposisi adalah pemakaian lensa kontak, trauma,
kontaminasi obat tetes.
Pada keratitis bakteri akan terdapat keluhan kelopak mata lengket
setiap bangun pagi. Mata silau, merah, berair, dan penglihatan yang
berkurang. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada pemakaian lensa
kontak dengan pemakaian lama. Kosmetika terkontaminasi dapat
mengandung bakteri. Kornea menjadi keruh dan dapat menjadi abses di
dalam stroma kornea. Pengobatan antibiotika dapat diberikan pada
keratitis bakterial berdasarkan:
Batang Gram (-) Batang Gram (+) Kokus Gram (-)
Tobramisin Cefazoline Ceftriaxone
Ceftazidime Vancomycin Cefatzidime
Fluoroquinolone Moxifloxacin/Gatifloxacin Moxifloxacin/Gatifloxacin

14
2) Keratitis Jamur
Keratitis jamur lebih jarang dibandingkan keratitis bakterial.
Dimulai dengan suatu trauma pada kornea oleh ranting pohon, daun, dan
bagian tumbuh-tumbuhan. Kebanyakan keratitis jamur disebabkan oleh
Fusarium, Filamentous, Yeast, Candida, Aspergilus. Sulit membedakan
ciri khas jamur ini. Pada masa sekarang infeksi jamur bertambah dengan
pesat dan dianggap sebagai efek samping pemakaian antibiotik dan
kortikosteroid yang tidak tepat, pemakaian lensa kontak.
Keluhan baru timbul setelah 5 hari ruda paksa atau 3 minggu
kemudian. Pasien akan mengeluh sakit mata yang hebat, berair,
penglihatan menurun, dan silau. Untuk menegakkan diagnosis klinik
dapat dipakai pedoman berikut :
- Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama
- Lesi satelit
- Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan
tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh
- Plak endotel
- Hypopyon, kadang-kadang rekuren
- Formasi cincin sekeliling ulkus
- Lesi kornea yang indolen
Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan mikroskopik dengan
KOH 10% terhadap kerokan kornea yang menunjukkan adanya hifa.
Disarankan pasien dengan infeksi jamur dirawat dan diberi
pengobatan Natamicin 5% (keratitis jamur filamentosa, Fusarium sp.).
Amphotericin B 0,15%-0,30% (keratitis yeast, Aspergilus sp.).
Diberikan pengobatan sistemik ketoconazole (200-600 mg/hari) dan
siklopegik. Bila disertai peningkatan tekanan intraokular diberikan obat
oral anti glaukoma. Keratoplasti dilakukan jika tidak ada perbaikan.
Penyulit yang dapat terjadi adalah endoftalmitis.

15
3) Keratitis Virus
Virus yang mengakibatkan infeksi pada kornea termasuk infeksi
virus pada saluran napas seperti adenovirus dan semua yang
menyebabkan demam. Virus herpes simples dan herpes zoster dapat
menyebabkan keratitis.
Kelainan pada kornea didapatkan sebagai keratitis pungtata
superfisial dan memberikan gambaran seperti infiltrat halus berititik-
titik pada dataran depan kornea yang dapat terjadi pada penyakit seperti
herpes simpleks, herpes zoster, infeksi virus, vaksinia, dan trakoma.
Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman. Pada keratitis ini
biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala
kelainan konjungtiva ataupun tanda akut.
4) Keratitis Herpetik
Keratitis Herpetik disebabkan oleh herpes simpleks dan herpes
zoster. Herpes simpleks yang merupakan penyebab penyakit mata utama
pada dewasa yang dapat mengakibatkan infeksi kornea kronis. Gejala
berupa terbentuknya pembuluh darah halus pada mata, penglihatan
berkurang, jaringan parut, dan glaukoma.
Infeksi herpes biasanya dimulai radang konjungtiva yang mengenai
satu mata. Biasanya berlanjut menjadi keratitis dendritik. Kambuhnya
penyakit ini disebabkan stres, lelah, terpajan sinar ultraviolet.
Kambuhnya biasanya disertai keratitis dendritik dan radang iris. Sangat
tidak boleh memberi steroid topikal karena akan mengakibatkan
memburuknya keratitis yang disetai dengan kebutaan.
Lesi pada keratitis herpetik dibedakan menjadi 4 bentuk yaitu:
- Bentuk vesikel kornea
Merupakan tanda awal keratitis herpetik yang ditandai adanya
vesikel kecil pada epitel kornea. Keadaan ini jarang terdiagnosis
hingga selanjutnya terbentuk lesi dendritik.
- Bentuk dendritik
Merupakan tanda paling sering pada keratitis herpetik yang ditandai
adanya lesi bercabang linear dengan ulkus sentral hingga mencapai

16
membrana basalis. Didapatkan adanya edema pada tepi epitel yang
mengandung virus.
- Bentuk geografik
Terjadi saat ulkus dendritik meluas dan bentuknya tidak lagi linier.
Bentuk ini seringkali mincul pada individu imunokompromais dan
pengguna steroid topikal.
- Bentuk discoid atau disciform
Berupa edema stroma berbentuk lonjong atau gambarang melingkar
seperti cakram disertai dengan infiltral lingan. Edema terbatas pada
bagian depan stroma, tetapi dapat juga meluas ke seluruh tebal
stroma.
5) Keratitis Alergi
a. Keratokonjungtivitis Sika
Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya
permukaan kornea dan konjungtiva. Kelainan ini terjadi pada
penyakit yang mengakibatkan defisiensi komponen lemak air mata,
defisiensi kelenjar ait mata, defisiensi komponen musin, akibat
penguapan yang berlebihan, parut pada kornea atau menghilangnya
mikrovili kornea.
Pasien dengan keratokonjungtivitis sika akan mengeluh mata
gatal, berpasir, silau, dan dapat penglihatan kabur. Pada mata
didapatkan sekresi mukus yang berlebihan, sukar menggerakkan
kelopak mata, dan mata kering karena erosi kornea.
b. Keratokonjungtivitis epidemi
Merupakan akibat reaksi peradangan kornea dan konjungtiva yang
disebabkan oleh reaksi alergi terhadap adenovirus tipe 8, 19, atau 37.
Penyakit ini dapat timbul sebagai suatu epidemi dan bersifat
bilateral.
Keluhan umum adalah demam, gangguan saluran nafas,
penglihatan menurun, merasa seperti ada benda asing, berair, kadang
disertai nyeri.

17
Pengobatan pada keadaan akut sebaiknya diberikan kompres
dingin, cairan air mata, dan pengobatan penunjang lainnya. Lebih
baik diobati secara konservatif. Bila terdapat kekeruhan pada kornea
yang menyebabkan penurunan visus yang berat dapat diberikan
steroid tetes mata 3x/hari. Pemberian IDU tidak memberikan hasil
yang memuaskan.
c. Tukak atau Ulkus Fliktenular
Tukak flikten sering ditemukan berbentuk sebagai benjolan abu-
abu, yang pada kornea terlihat sebagai:
- ulkus fasikular, berbentuk ulkus yang menjalar melintas kornea
dengan pembuluh darah jelas di belakangnya
- flikten multipel di sekitar limbus
- ulkus cincin, yang merupakan gabungan ulkus
pengobatannya menggunakan steroid topikal maupun sistemik.
Dalam keadaan yang berat dapat terjadi ulkus kornea.
d. Keratitis Fasikularis
Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar
dari limbus ke arah kornea. Biasanya berupa tukak kornea akibat
flikten yang menjalar ke daerah sentral disertai fasikulus pembuluh
darah.
Keratitis fasikularis adalah suatu penampilan flikten yang berjalan
yang membawa jalur pembuluh darah baru sepanjang permukaan
kornea dimulai dari limbus.
e. Keratokonjungtivitis Vernal
Merupakan penyakit rekuren dengan peradangan tarsus dan
konjungtiva bilateral. Penyebabnya tidak diketahui, akan tetapi
didapatkan terutama pada musim panas dan menganai anak sebelum
berusia 14 tahun, terutama laki-laki.
Pasien umumnya mengeluh gatal, biasanya disertai riwayat alergi
pada keluarga atau pada pasien sendiri, blefarospasme, fotofobia,
penglihatan buram, dan kotoran mata yang berserat-serat. Sering
ditemukan hipertrofi papil yang kadang-kadang berbentuk cobble

18
stone pada kelopak atas dan konjungtiva daerah limbus. Pengobatan
yang diberikan adalah antihistamin topikal dan kompres dingin.

C. BERDASARKAN BENTUK KLINIS 5,8,12


1) Keratitis Numularis
Keratitis numularis bentuk keratitis dengan infiltrat yang bundar
berkelompok dan tepinya berbatas tegas sehingga memberikan
gambaran halo. Keratitis ini berjalan lambar sering terdapat unilateral
pada petani sawah. Diduga penyebabnya adalah infeksi virus. Tes
fluoresin pada keratitis numularis adalah negatif.
2) Keratitis Flikten
3) Keratitis Sika
4) Keratitis Neuroparalitik
Keratitis neuroparalitik merupakan keratitis akibat kelainan saraf
trigeminus, sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif
disertai kekeringan kornea.
Gangguan persarafan nervus V dapat terjadi akibat herpes zoster,
tumor fosa posterior cranium, peradangan atau keadaan lain atau
keadaan lain sehingga kornea menjadi anastesis.
Pada keadaan anastesis dan tanpa persarafan, kornea kehilangan
daya pertahanannya terhadap iritasi dari luar, diduga terjadi kemunduran
metabolism kornea yang memudahkan terjadinya peradangan kornea.
Kornea mudah terjadi infeksi yang akan mengakibatkan terbentuknya
tukak kornea.
Pasien akan mengeluh tajam pengelihatan menurun, silau dan tidak
nyeri. Mata akan memberikan gejala jarang berkedip karena hilangnya
refleks mengedip, injeksi siliar, permukaan kornea keruh, infiltrate dan
vesikel pada kornea. Dapat terlihat terbentuknya deskuamasi epitel
seluruh permukaan kornea yang dimulai pada bagian tengah dan
meninggalkan sedikit lapisan epitel kornea yang sehat di dekat limbus.
Pada keadaan ini pengobatan diberikan dengan air mata buatan dan
salep untuk menjaga kornea tetap basah, sedangkan untuk mencegah

19
infeksi sekundernya berupa pengobatan keratitis, tarsorafi, dan menutup
pungtum lakrimal.

20
BAB III

KESIMPULAN

Keratitis merupakan suatu masalah kesehatan mata yang perlu menjadi


perhatian karena komplikasinya dapat dicegah dengan diagnosis dan penanganan
yang tepat. Di Indonesia, diagnosis dini dan kesadaran untuk segera berobat
merupakan hal yang perlu menjadi perhatian dalam penanganan keratitis. Kebutaan
karena keratitis infeksi di negara berkembang perlu untuk ditanggulangi melalui
tindakan preventif terhadap terjadinya komplikasi ulkus maupun sikatrik kornea.

Gejala umum keratitis adalah visus turun mendadak, mata merah, rasa silau,
dan merasa ada benda asing di matanya. Gejala khususnya tergantung dari jenis-
jenis keratitis yang diderita oleh pasien. Gambaran klinik masing-masing keratitis
pun berbeda-beda tergantung dari jenis penyebab dan tingkat kedalaman yang
terjadi di kornea, jika keratitis tidak ditangani dengan benar maka penyakit ini akan
berkembang menjadi suatu ulkus yang dapat merusak kornea secara permanen
sehingga akan menyebabkan gangguan penglihatan bahkan dapat sampai
menyebabkan kebutaan.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Erry. Distribusi dan Karakteristik Sikatrik Kornea di Indonesia, RISKESDAS 2007.


2012. Media Litbang Kesehatan, 22(1), 30-37
2. Baskhar, VN. A Review on Microbial Keratitis. 2014. World Journal of
Pharmaceutical Research, 3 (7), 189-201.
3. Mcleold SD, et. al. Preferred Practice Pattern Bacterial Keratitis. 2013. New York:
American Academy of Ophthalmology.
4. Upadhyay MP, Karmacharya PC, Koirala S, et. al. The Bhaktapur eye study: ocular
trauma and antibiotic prophylaxis for the prevention of corneal ulceration in Nepal.
2001. Br J Ophthalmol, 85, 388-92
5. Ilyas S. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-4. 2012.
Jakarta: Badan penerbit FKUI.
6. American Academy of Ophthalmology. External Eye Disease and Cornea. 2009.San
Fransisco: American Academy of Ophtalmology.
7. Budiono S., dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. 2013. Surabaya: Airlangga
University Press.
8. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima. 2015. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
9. James Bruce, Chris Chew, Anthony Bron. Lectures Note Oftalmologi Edisi
kesembilan. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2006.
10. Mansjoer, Arif M. Kapita Selekta Edisi-5 jilid-1. 2015. Jakarta: Media Aesculapius
FKUI.
11. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata. 2006. Ed. III.
Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya.
12. Roderick B. 2009. Kornea. In: Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum Edisi 17.
Jakarta: EGC.

22

Anda mungkin juga menyukai