Anda di halaman 1dari 22

4.

STABILITAS FREKUENSI (FREQUENCY STABILITY)

4.1 Pengantar Stabilitas Frekuensi

4.1.1 Konsep Dasar dan Definisi

Stabilitas frekuensi adalah kemampuan suatu sistem tenaga untuk menjaga frekuensi
dalam batas nominal setelah terjadi suatu gangguan yang menyebabkan ketidakseimbangan
yang signifikan antara pembangkitan dan beban. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan
suatu bentuk ayunan frekuensi yang berdampak pada trip unit pembangkit dan/atau beban.
Secara umum, masalah stabilitas frekuensi dapat dikaitkan dengan kekurangan respon
peralatan, kekurangan koordinasi kontrol dan proteksi sistem.

Pada sistem interkoneksi yang kecil, stabilitas frekuensi menjadi perhatian yang utama
untuk setiap gangguan yang menyebabkan hilangnya beban atau generator secara signifikan.
Hal ini karena untuk sistem yang kecil indeks kekuatan sistemnya masih kecil. Besarnya
perubahan daya yang menyebabkan frekuensi berubah satu Hz, disebut indeks kekuatan
sistem dalam satuan MW/Hz.

Sedangkan pada sistem interkoneksi yang besar tentunya indeks kekuatan sistemnya
juga besar. Kestabilan frekuensi yang disebabkan oleh fluktuasi frekuensi dalam batasan
normal sudah tidak menjadi masalah yang utama. Akan tetapi, stabilitas frekuensi yang menjadi
perhatian utama adalah terjadinya gangguan besar yang menyebabkan sistem terpisah menjadi
beberapa island operation, baik berupa island sistem maupun island subsistem. Pada kondisi
ini, kestabilan frekuensi ditinjau berdasarkan kemampuan island untuk menyeimbangkan jumlah
pembangkitan dan total beban, dengan jumlah pelepasan beban atau pembangkit seminimal
mungkin.

4.1.2 Respon Sistem Terhadap Ketidak-seimbangan Pembangkitan dan Beban

Ketidakseimbangan antara pembangkitan dan beban akan mengakibatkan deviasi


frekuensi yang direspon oleh speed control pada pembangkit dan dilanjutkan dengan respon
oleh prime mover dan suplai energi. Pada kondisi ini sering ditambah dengan keadaan
tegangan yang tinggi atau rendah.
Untuk island dengan kondisi kekurangan pembangkitan, maka:

- Frekuensi akan turun


- Jika cadangan putar generator tidak tersedia, frekuensi akan turun sampai pada titik
yang dapat menyebabkan unit pembangkit trip akibat kerja dari proteksi
underfrequency relay.
- Pada kondisi ini diperlukan skema Under Frequency Load Shedding untuk
mengembalikan frekuensi ke titik normalnya (50 Hz)
- Besar jumlah trafo yang terpasang relay under frekuensi dihitung berdasarkan selisih
antara total beban island dikurangi dengan daya pembangkit di island tersebut.

Sedangkan untuk kondisi kelebihan pembangkitan, maka:

- Governor akan merespon kenaikan frekuensi dengan menurunkan daya keluaran


generator.
- Performa dari island operation sangat ditentukan oleh kemampuan pembangkit
untuk melakukan ”partial load rejection”.
- Kemungkinan satu atau beberapa pembangkit akan trip karena overspeed relay.

Ketidaksetimbangan antara pembangkit dan beban juga berdampak pada ketidaksetimbangan


daya reaktif. Ketidakseimbangan daya reaktif antara pasokan dan permintaan menyebabkan
perubahan tegangan dari nilai nominalnya. Apabila ketidakseimbangan ini cukup signifikan,
kondisi overvoltage atau sebaliknya undervoltage akan terjadi. Pada sisi generator, proteksi
untuk under/over eksitasi dan loss-of-excitation mungkin akan bereaksi.

Sedangkan respon masing-masing pembangkit apabila sistem mengalami gangguan


besar bervariasi sesuai dengan jenis pembangkitnya. Kemampuan pembangkit untuk
menurunkan bebannya ( Partial load rejections) sangat penting untuk meminimalkan dampak
dari gangguan besar di sistem dan membantu mempercepat mengembalikan kondisi sistem ke
”normal state”.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kondisi gangguan besar, yaitu :

a) Alat kontrol pembangkit


Alat kontrol pembangkit harus dengan cepat menurunkan input bahan bakar yang
berhubungan dengan besar keluaran listrik generator.
b) Kontrol boiler
Kontribusi dalam Partial load rejections pembangkit di boiler adalah dengan menurunkan
keluaran aliran uap dan masukan air di boiler.
c) Kontrol turbin generator
Kontrol overspeed di turbin didesain untuk membatasi overspeed karena full load
rejection sebesar 1% dibawah setting trip karena overspeed. Hal ini akan mencegah
pembangkit trip karena overspeeds selama partial load rejections.
d) Alat – alat bantu di pembangkit
Dampak dari perubahan tegangan dan frekuensi selama periode gangguan harus di
pastikan tidak sampai mentripkan alat bantu.

4.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Penurunan Frekuensi

Kecepatan menurunan frekuensi dipengaruhi oleh: a/. Besarnya pembangkit yang hilang
(trip), dan b/. Nilai inersia sistem. Semakin besar daya unit pembangkit yang hilang semakin
besar turun frekuensinya, dan begitu juga semakin kecil inersia sistem makin cepat turun
frekuensinya. Hubungan tersebut dapat dilihat pada persamaan 4.2.

Gambar 4.1 Pengaruh besar pembangkit yang trip terhadap penurunan frekuensi

Konstanta inersia pembangkit (H) merupakan konstanta dari karakteristik kelambanan


suatu mesin berputar. Suatu mesin generator yang sebelumnya berputar pada kecepatan
konstan pada frekuensi nominalnya akan mengalami perlambatan setelah terjadi kelebihan
beban. Perlambatan ini terjadi karena adanya energi kinetik yang tersimpan dalam putaran
rotor. Mula-mula kelebihan beban ini dilayani oleh sebagian energi kinetik yang dimiliki mesin-
mesin tersebut. Hai inilah yang menyebabkan frekuensi sistem turun.

Dengan demikian konstanta inersia dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara


kinetik yang tersimpan pada rotor yang berputar pada frekuensi nominal dengan daya
generatornya.

Nilai konstanta inersia dari suatu unit pembangkit telah ditentukan oleh pabrikan atau
juga dapat ditentukan dengan persamaan berikut:

𝐻 = (𝐸𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 𝐾𝑖𝑛𝑒𝑡𝑖𝑘 𝑀𝑒𝑠𝑖𝑛 (𝑀𝑊𝑠))/(𝑅𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑀𝑒𝑠𝑖𝑛 (𝑀𝑉𝐴) ) … … … … … (4.1)

Respon Frekuensi Terhadap Waktu

Penurunan frekuensi rata-rata:

𝑑𝑓𝑎𝑣𝑒 (𝑡) 𝐷𝑃𝐺


= … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . (4.2)
𝑑𝑡 2𝑝(𝐻1 + 𝐻2 )
dimana:
dfave(t)/dt = Rata-rata penurunan prekuensi pada sistem
DPG = Beban Unit Pembangkit Trip ( MW )
H1, H2 = Koefisien Inersia Area 1 dan Area 2
Dari persamaan diatas, semakin besar konstanta inersia sistem, laju penurunan frekuensi
semakin lambat. Besaran inersia sistem (H) merupakan ukuran kekakuan sistem (Stiffness).

Gambar 4.2 Pengaruh inersia pembangkit terhadap penurunan frekuensi


4.1.4 Skema Pertahanan Proteksi Frekuensi

Skema Under Frequency Load Shedding (UFLS)

UFLS adalah skema yang menggunakan elemen frekuensi dan delay waktu untuk
mendeteksi kondisi underfrequency dan memutus secara selektif beban dari sistem. Dengan
UFLS ini diharapkan ancaman-ancaman gangguan frekuensi yang mengarah pada instabilitas
sistem dan atau sistem padam total (blackout) dapat dihindari. UFLS juga bertujuan untuk
menghindari potensi kerusakan sudu-sudu turbin generator (khususnya PLTU) yang rentan
terhadap frekuensi rendah

Jenis UFLS :
1. Konvensional: dengan relay frekuensi
2. Semi-adaptif: dengan melihat df/dt
3. Adaptif: menggunakan besar (magnitude) gangguan

Islanding operation

Islanding operation adalah operasi unit / entitas pembangkit secara terpisah dari sistem
interkoneksi induknya ketika terjadi gangguan penurunan frekuensi yang cukup besar dan
berpotensi menyebabkan runtuhnya seluruh subsistem atau seluruh sistem. Islanding operation
sebagai perlindungan terakhir akan bekerja setelah semua tahapan skeme pertahanan yang
lain dilaksanakan tetapi frekuensi masih tetap turun. Islanding operation merupakan sistem
defense scheme yang sangat penting dan menentukan kontinuitas operasi sistem selanjutnya.

Dalam desain skema pertahanan proteksi frekuensi, harus diperhatikan beberapa hal seperti :

- Keseimbangan pembangkitan & beban tiap pulau


- Setting frekuensi dan relay
- Jumlah beban yang dilepas (besar & step-nya)
- Pertimbangan tambahan: koherensi generator
4.2 Praktikum Stabilitas Frekuensi

4.2.1 Membuat dan Menjalankan Simulasi Stabilitas Frekuensi

Langkah – langkah yang harus dilakukan dalam membuat dan menjalankan simulasi
stabilitas frekuensi adalah sebagai berikut:

1. Aktivasi Project

2. Input Parameter Dinamik di Komponen Tenaga Listrik

Sudah dilakukan di subbab 3.2.1

3. Penentuan skenario gangguan

Untuk menentukan skenario gangguan, klik kanan pada generator di diagram atau di daftar
peralatan pada data manager kemudian klik Define > Switch Event.
Pada praktikum ini, gangguan yang terjadi adalah trip pembangkit G3.

Tentukan waktu awal terjadi gangguan (event) pada simulasi. Karena gangguan berupa trip
pembangkit, maka pilih Open pada Action di Breaker or Element dan pilih All Phases (semua
fasa PMT terbuka).
Daftar kejadian (event) dapat dilihat dengan klik (Edit Simulation Events).
4. Pemilihan parameter yang akan ditampilkan

Untuk menampilkan parameter yang akan ditampilkan, klik kanan pada peralatan sistem tenaga
listrik (generator, saluran transmisi, busbar, trafo, dll) di diagram atau di daftar peralatan pada
Data Manager kemudian pilih Define > Variable Set (Sim).

Pada praktikum ini, parameter yang akan ditampilkan adalah frekuensi di pembangkit G2.
Kemudian klik kanan pada peralatan > Edit > pilih variabel yang akan ditampilkan.
Daftar peralatan dengan variabel yang akan ditampilkan dapat dilihat dengan klik (Edit
Result Variables).

5. Pembuatan grafik frekuensi

Untuk membuat grafik frekuensi, klik (Insert New Graphic) > pilih Virtual Instrument Panel >
Execute.
Klik kanan pada area grafik > klik Create VI > Subplot.

Klik kanan pada area grafik kemudian isikan dengan variabel yang akan ditampilkan.
6. Menjalankan simulasi

Klik (Calulate Initial Condition) atau pilih Calculation > Stability > Initial Conditions,
kemudian klik Execute.
Klik icon (Start Simulation) atau pilih Calculation > Stability > Start Simulation dan tentukan
lama waktu simulasi, kemudian klik Execute.
7. Menampilkan grafik hasil simulasi (frekuensi)

Grafik frekuensi dapat dilihat di Sheet Grafik.

Untuk mengatur zoom


dan autoscale di grafik

4.2.2 Pembuatan setting under frequency relay (UFR) untuk skema pengamanan sistem.

Langkah – langkah yang harus dilakukan untuk membuat setting under frequency relay
(UFR) untuk skema pengamanan sistem adalah sebagai berikut:

1. Aktivasi Project
2. Copy data relay under frequency dari library database digsilent dan paste ke dalam
library project yang sudah diaktifkan.
3. Pilih beban (load) yang akan dipasangi relay underfrequency.
Klik kanan di PMT beban > New Devices > Relay Model.

Pada windows Relay Model: pada Relay Type pilih Select Project Type

Pilih jenis relay yang sudah di-copy ke library, yaitu Frq-U</f<, kemudian klik OK.
4. Setting relay underfrequency.
Pada Slot Definition, isikan setting relay sesuai gambar berikut.
Setelah relay underfrequency terpasang, lakukan simulasi sesuai skenario di subbab
4.2.1, yaitu trip pembangkit G3. Grafik frekuensi yang dihasilkan setelah terpasang UFR
di Load B adalah sebagai berikut.
4.3 Studi Kasus Stabilitas Frekuensi

Berikut adalah sistem 9 busbar (data sesuai dengan materi praktikum) yang akan
dievaluasi stabilitas frekuensinya.

1. Set gangguan trip pembangkit G2.


2. Buat kurva frekuensi di Bus 8 untuk skenario di atas.
3. Set relay underfrequency di Load A.
4. Buat kurva frekuensi di Bus 8 setelah relay underfrequency terpasang.