Anda di halaman 1dari 12

PARADIGMA POSITIF

DALAM PENELITIAN
(AKUNTANSI MULTIPARADIGMA)

Oleh:
Ajeng Pipit

MALANG, 2014
ABSTRAK

Paradigma penelitian merupakan salah satu bagian yang tidak bisa


dilepaskan dari proses penelitian. Paradigma penelitian merupakan kerangka
berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta
kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Dalam dunia
penelitian, seorang peneliti perlu mengetahui paradigma yang dianut. Pentingnya
sebuah paradigma dalam sebuah penelitian karena paradigma ibarat sebuah
jendela yang digunakan untuk menjelajahi dunia dengan wawasannya.
Pada pembahasan kali ini akan difokuskan pada paradigma positif.
Paradigma positif disebut juga dengan structural functionary atau aliran
mainstream menggunakan metodologi yang biasa digunakan dalam ilmu alam
untuk menganalisis fenomena sosial. Oleh karena itu paradigma positif
menempatkan ilmu sosial, sebagai ilmu alam.

Kata kunci: metodologi penelitian, paradigma positif, positivisme


PENDAHULUAN

Perkembangan cepat dialami oleh banyak ilmu serta pengaruhnya semakin


besar terhadap kehidupan masyarakat. Filsafat ilmu ialah penyelidikan tentang
ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara memperolehnya. Sehingga bisa juga
filsafat ilmu ini sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan.
Sejarah tentang ilmu merupakan sebuah kisah kesuksesan dan kemenangan
yang luar biasa hingga saat ini. Selain itu, ilmu menggambarkan suatu proses
kumulatif peningkatan pengetahuan dan rangkaian kemenangan terhadap
kebodohan tahayul. Dan dari ilmulah kemudian mengalir arus penemuan-
penemuan yang berguna untuk kemajuan hidup manusia. Sejarawan segera
menyadari bahwa gagasan ilmu yang diperoleh selama dalam pendidikannya
hanyalah salah satu dari sekian banyak gagasan dan itu merupakan produk-produk
dari konteks-konteks yang bersifat sementara.
Sesuai dengan ajaran filsafat Auguste Comte yang dikenal sebagai
Sosiologi, logico-positivisme , merupakan model epistemologi yang di dalamnya
terdapat langkah-langkah progresinya menempuh jalan melalui observasi,
eksperimentasi, dan komparasi mendapatkan apresiasi yang berlebihan sehingga
model ini juga mulai dikembangkan dalam penelitian lainnya. Dan dari sinilah
kemudian muncul tiga paradigma penelitian penting yaitu paradigma positivisme,
post-positivisme, dan konstruktivisme. Pada kesempatan kali ini akan dijelaskan
lebih lengkap mengenai positvisme.

A. Penelitian
Penelitian adalah penyelidikan atau investigasi yang terkelola,
sistematis, berdasarkan data, kritis, objektif, dan ilmiah terhadap suatu
masalah spesifik, yang dilakukan dengan tujuan menemukan jawaban atau
solusi terkait (Sekaran, 2007:7). Pada dasarnya penelitian memberikan
informasi yang diperlukan untuk memandu manajer mengambil keputusan
yang terinformasi agar bisa memecahkan masalah secara sukses. Informasi
yang diperoleh bisa berasal dari analisis mendalam terhadap yang
dikumpulkan dari tangan pertama, atau data yang telah tersedia (data
kuantitatif atau data kualitatif).
Menurut Sekaran (2007, 9), penelitian dapat dilakukan dengan dua
tujuan yang berbeda. Yang pertama adalah penelitian terapan (applied
research), digunakan untuk memecahkan masalah mutakhir yang dihadapi
oleh manajer dalam konteks pekerjaan, yang menuntut solusi tepat waktu.
Yang kedua adalah penelitian dasar (basic research), digunakan untuk
menghasilkan pokok pengetahuan dengan berusaha memahami bagaimana
masalah tertentu yang terjadi dalam organisasi dapat diselesaikan.

B. Paradigma Penelitian
Menurut Wang (1999, 56), paradigma adalah suatu model penyelidikan
dan alat khusus, instrumen dan prosedur yang diterima secara universal yang
digunakan untuk meneliti dalam disiplin keilmuan. Paradigma memiliki akar
filosofis yaitu peneliti secara sadar atau tidak mengikuti paradigma yang
membentuk cara berpikirnya kearah pendekatan umum. Hal ini berarti sebuah
masalah penelitian dapat mengambil berbagai pendekatan sebagaimana
ditentukan oleh peneliti.
Paradigma disebut juga sebagai intelektual komitmen, yaitu suatu citra
fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu (Salim, 2006). Namun
secara umum menurut Salim (2006) paradigma memiliki arti yaitu seperangkat
kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak
atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam
kehidupan sehari-hari.

C. Paradigma Positif
Dalam paradigma ilmu, ilmuwan telah mengembangkan sejumlah
perangkat keyakinan dasar yang digunakan dalam mengungkapkan hakikat
ilmu yang sebenarnya dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Tradisi
pengungkapan ilmu dimulai secara sistematis sejak abad ke-17, ketika
Descartes (1596-1656) dan para penerusnya mengembangkan cara pandang
positivisme. Kemudian berlanjut sampai abad ke-19, dunia filsafat semakin
dipengaruhi oleh filsafat positivisme, terutama di bidang ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, dalam sejarah filsafat Barat, orang sering menyatakan bahwa
abad ke-19 merupakan “Abad Positivisme”, yang ditandai dengan dominasi
fikiran-fikiran ilmiah, atau apa yang disebut ilmu pengetahuan modern.
Kebenaran atau kenyataan filsafat dinilai dan diukur menurut nilai
positivistiknya, sedang perhatian orang ke filsafat lebih ditekankan kepada
segi-seginya yang praktis bagi tingkah laku dan perbuatan manusia. Orang
tidak lagi memandang penting tentang dunia yang abstrak.
Sebagai pendiri aliran filsafat positivisme, Isidore Auguste Marie
Francois Xavier Comte (1798-1857), telah menampilkan ajaran yang sangat
terkenal, yaitu hokum tiga tahap (law of three stages). Hukum ini menyatakan
bahwa sejarah manusia, baik secara individual maupun secara keseluruhan,
telah berkembang menurut tiga tahap, yaitu tahap teologi atau fiktif, tahap
metafisik atau abstrak, dan tahap positif atau ilmiah atau riil. Secara eksplisit
juga ditekankan bahwa istilah positif adalah suatu istilah yang dijadikan nama
bagi aliran filsafat yang dibentuknya sebagai sesuatu yang nyata, pasti, jelas,
bermanfaat, serta sebagai lawan dari sesuatu yang negatif.
1. Tahap teologi
Tahap teologi merupakan tahap awal setiap perkembangan jiwa
masyarakat. Dalam tahap ini manusia selalu berusaha untuk mencari dan
menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada.
Manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat kekuasaan
yang mengatur fungsi dan geraknya. Menurut Auguste Comte, tahap
teologi ini tidak akan muncul begitu saja, melainkan didahului pula oleh
suatu perkembangan secara bertahap, yaitu
a. Fetisyisme/ animisme
Yaitu suatu bentuk kehidupan masyarakat yang didasari oleh
pemikiran-pemikiran yang mempunyai anggapan, bahwa segala
sesuatu yang berada di sekeliling manusia mempunyai suasana
kehidupan yang sama seperti manusia sendiri, dan mempunyai
pengaruh yang akan menentukan terhadap kehidupan manusia
sedemikian rupa sehingga manusia harus menyesuaikan diri
dengannya.
b. Politeisme
Yaitu suatu bentuk kehidupan masyarakat yang didasari oleh
pemikiran-pemikiran yang mempunyai anggapan bahwa daya
pengaruh atau kekuatan penentu tidak lagi berasal dari benda-benda
yang ada di sekeliling manusia, melainkan berasal dari makhluk-
makhluk yang tidak kelihatan yang berada di sekeliling manusia.
c. Monoteisme
Yaitu suatu bentuk kehidupan masyarakat yang didasari bahwa
pengaruh dan kekuatan penentu itu tidak lagi berasal dari dewa-dewa
melainkan dari satu kekuatan mutlak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Tuhan merupakan satu-satunya penentu, sebab pertama dan tujuan
akhir segala sesuatu yang ada, sehingga dengan demikian segala
fikiran, tingkah laku, dan perbuatan manusia selalu diorientasikan
kepada Tuhan, sejalan dengan dogma-dogma agama yang dianut
manusia.
2. Tahap metafisik/ abstrak
Tahap terakhir yaitu metafisik, dimana manusia mulai merubah cara
berfikirnya, dalam usahanya untuk mencari dan menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan gejala-gejala alam. Dogma-
dogma agama ditinggalkan, kemampuan akal budi dikembangkan. Tahap
metafisik menurut Auguste Comte merupakan tahap peralihan, disini
manusia sudah mampu melepaskan diri dari kekuatan adikodrati, dan
beralih pada kekuatan abstraksinya. Pada saat inilah ontologi mulai
digunakan.
Perkembangan teori positif tidak dapat dilepaskan dari ketidakpuasan
terhadap teori normatif (Watt & Zimmerman, 1986). Dasar pemikiran untuk
menganalisa teori akuntansi dalam pendekatan normative terlalu sederhana
dan tidak memberikan dasar teoritis yang kuat. Menurut Watt & Zimmerman
(1986) terdapat tiga alasan mendasar terjadinya pergeseran pendekatan
normatif ke positif yaitu:
1. Ketidakmampuan pendekatan normatif dalam menguji teori secara
empiris, karena didasarkan pada premis atau asumsi yang salah sehingga
tidak dapat diuji keabsahannya secara empiris.
2. Pendekatan normatif lebih banyak berfokus pada kemakmuran investor
secara individual daripada kemakmuran masyarakat luas.
3. Pendekatan normatif tidak mendorong atau memungkinkan terjadinya
alokasi sumber daya ekonomi secara optimal di pasar modal. Hal ini
mengingat bahwa dalam sistem perekonomian yang mendasarkan pada
mekanisme pasar, informasi akuntansi dapat menjadi alat pengendali bagi
masyarakat dalam mengalokasi sumber daya ekonomi secara efisien.
Selanjutnya Watt & Zimmerman (1986) menyatakan bahwa dasar
pemikiran untuk menganalisa teori akuntansi dalam pendekatan normatif
terlalu sederhana dan tidak memberikan dasar teoritis yang kuat. Untuk
mengurangi kesenjangan dalam pendekatan normatif, Watt & Zimmerman
mengembangkan pendekatan positif yang lebih berorientasi pada penelitian
empirik dan menjustifikasi berbagai teknik atau metode akuntansi yang
sekarang digunakan atau mencari model baru untuk pengembangan teori
akuntansi di kemudian hari.
Menurut positivisme, ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari
empirik. Dengan pendekatan positivisme dalam metodologi penelitian
kuantitatif, menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikkan
objeknya secara eksplisit, dipisahkan dari objek-objek lain yang tidak diteliti.
Metode penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili
paham positivistik. Metodologi penelitian kuantitatif mempunyai batasan-
batasan pemikiran yaitu: korelasi, kausalitas, dan interaktif; sedangkan objek
data, ditata dalam tata pikir kategorisasi, interfalisasik, dan kontinuasi.
(Muhadjir, 2008:12).
Dalam filsafat positivisme, filosofi penelitian yang dikembangkan dari
unsur-unsur filsafat secara umum yaitu:
1. Ontologi (materi)
Yaitu unsur dalam pengembangan filsafat sebagai ilmu yang
membicarakan tentang objek (materi) kajian suatu ilmu. Dalam hal ini,
penelitian kuantitatif akan meneliti sasaran penelitian yang berada dalam
kawasan dunia empiris.
2. Epistemologi (metode)
Yaitu unsur dalam pengembangan ilmu filsafat yang membicarakan
bagaimana metode yang ditempuh dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan.
3. Aksiologi (nilai)
Dalam penelitian kuantitatif menjunjung tinggi nilai keilmuan yang
objektif, yang berlaku secara umum dan mengesampingkan hal-hal yang
bersifat spesifik.
Sebagai dasar acuan filosofik dalam metodologi penelitian positif
kuantitatif adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian terdahulu dijadikan bahan acuan
Positivisme tunduk kepada bukti kebenaran empirik, maka sumber pustaka
yang perlu dicari adalah bukti empirik hasil-hasil penelitian terdahulu.
2. Analisis, sintesis, dan refleksi
Dalam metodologi positif, menuntut dipilahnya analisis dari sintesis.
Dituntut data dikumpulkan, dianalisis, baru dibuat kesimpulan atau
sintesis.
3. Fakta objektif
a. Variabel
Yang dicari adalah hubungan relevan antara unit terkecil jenis satu
dengan unit terkecil jenis lain.
b. Eliminasi data
Meneliti sejumlah variabel dan mengeliminasi variabel yang tidak
teliti.
c. Uji reliabilitas, validitas instrumen, dan validitas butir
Dalam penelitian positif, dituntut data objektif. Objektif diwujudkan
dalam uji kualitas instrumennya yang disebut uji reliabilitas dan
validitas instrumen. Kualitas instrumen lebih tinggi lagi dapat diuji
lebih lanjut lewat uji validitas setiap soalnya atau uji validitas setiap
butirnya. Dalam uji validitas butir yang diuji adalah daya diskriminasi
dan tingkat kesukarannya.
4. Argumentasi
a. Fungsi parameter
Beberapa variabel diuji pengaruhnya dengan teknik uji relevansi atau
korespondensi antar sejumlah variabel. Uji korespondensi hanya
membuktikan hubungan paralel antar banyak variabel (bukan sebab
akibat).
b. Populasi
Subjek penelitian adalah subjek pendukung data, subjek yang memiliki
data yang diteliti.
c. Wilayah penelitian
Pembahasan mengenai lingkungan dengan tujuan untuk memberi
gambaran tentang latar belakang atau suatu lingkungan khusus yang
dapat memberi warna lain pada populasi yang sama.
5. Realitas
a. Desain standar
Harus jelas kerangka berfikir hubungan variabel-variabelnya,
dirancang hipotesis yang dibuktikan, termasuk dirancang instrumen
pengumpulan data yang teruji validitas instrumen dan validitas butir
soalnya dan dirancang oleh teknik analisis.
b. Uji kebenaran
Realitas dalam paradigma positif adalah kebenaran sesuai signifikansi
statistik dan pemaknaannya juga sebatas teknik uji yang digunakan.
Unsur-unsur data untuk uji kebenaran menyangkut melihat antara lain
jumlah subjeknya, jenis datanya, distribusi datanya, mean, simpangan
baku, dan teknik uji korelasinya.
Berdasarkan uraian di atas bisa digambarkan dalam bagan sebagai
berikut:

Ontologi Epistemologi Aksiologi


(Materi) (Metode) (Nilai)

Positivisme

Hasil penelitian Analisis, sintesis, Fakta objektif


terdahulu dan refleksi

Argumentasi Realitas

D. Pengembangan Paradigma Positif dalam Penelitian


Dalam perkembangannya, metodologi dari sudut pandang filosofi yang
mendasari penelitian masih terjadi perdebatan. Perbedaan pandangan ini baik
dilihat secara ontologis yaitu realis dan idealis, yang nantinya akan
berpengaruh juga pada perbedaan epistemologi yaitu positivisme dan anti
positivisme, sehingga berdampak pada metodologi yang digunakan oleh
masing-masing pengikut aliran tertentu.
Paradigma positif berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan
dengan tiga komponen bahasa teoritis, bahasa observasional, dan kaidah-
kaidah korespondensi yang mengkaitkan keduanya. Tekanan positivistik
menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang
menyatakan informasi faktual sampai pernyataan-pernyataan ini
diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah
korespondensi.
Paradigma positif memberikan pengaruh yang nyata dalam mengkaji
ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, pendekatan positivisme dipakai sangat luas
dalam dalam berbagai penelitian dasar dan juga di bidang pendidikan.
Penganut positivisme sepakat bahwa tidak hanya alam semesta yang bisa
dikaji, melainkan fenomena sosial termasuk pendidikan harus mencapai taraf
objektifitas dan valid melalui metode yang empirik. Dalam rangka mengkaji
gejala/ fenomena sebagai ilmu pengetahuan ilmiah, positivisme memiliki
pokok-pokok paradigma positivistik sebagai berikut:
1. Keyakinan bahwa suatu teori memiliki kebenaran yang bersifat
universal.
2. Komitmen untuk berusaha mencapai taraf objektif melalui
fenomena.
3. Kepercayaan bahwa setiap gejala dapat dirumuskan dan dijelaskan
mengikuti hukum sebab akibat.
4. Kepercayaan bahwa setiap variabel penelitian dapat
diidentifikasikan, didefinisikan dan diformulasikan menjadi teori dan
hukum.
DAFTAR PUSTAKA

Peiling Wang, “Methodologies and methods for user behavioral research.” Annual
Review of Information Science and Tcehnology(ARIST), vol. 34, 1999:56
Agus, Salim. 206. Teori dan Paradigma Penelitan Sosial. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Sekaran, Uma. 2007. Research Methods for Business Buku2. Edisi 4. Salemba
Empat. Jakarta.
Endraswara, Suwardi.2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press
Muhadjir, Noeng. 2007. Metodologi Keilmuan. Yogyakarta : Penerbit Rake
Sarasin
Muhadjir, Noeng. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Penerbit
Rake Sarasin
Muhadjir, Noeng. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Penerbit Rake Sarasin
Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara
Hamami, Tasman, et al. 2005. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga
Denzin, Norman K, et al. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Slamet, Yulius . 2008 . Pengantar Penelitian Kuantitatif. Surakarta : LPP UNS
dan UNS Press
Widodo, T. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif. Surakarta : LPP UNS
Hanurawan, Fattah. 1998. Pendekatan Positivistik, Interpretif, dan Kritis dalam
Penelitian Pendidikan.Forum Penelitian Pendidikan 10, 3-16
E. G. Guba and Y. S. Lincoln, “Competing paradigms in qualitative research,” in
Handbook of Qualitative Research, N. K. Denzin and Y. S. Lincoln, Eds.
Thousand Oaks, CA: Sage, 1994, pp. 105-117.