Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer.
Definisi hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan atau
tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima
menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Menurut data WHO tahun 2013, penderita hipertensi
hampir mencapai 1 milyar jiwa di seluruh dunia. Kematian akibat hipertensi diperkirakan 7,5 juta
jiwa setiap tahunnya. Di Indonesia, angka kejadian hipertensi berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskedas) Departemen Kesehatan tahun 2013 mencapai sekitar 25,8%. Kementerian Kesehatan
(2013) juga menyatakan bahwa terjadi peningkatan prevalensi hipertensi dari 7,6% tahun 2007
menjadi 9,5% pada tahun 2013. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran
pada usia >18 tahun sebesar 25,8%, sedangkan data penderita hipertensi di Kepulauan Riau
diketahui sebanyak 22,4%.1,2

Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat
menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak
(menyebabkan stroke). Kematian akibat komplikasi hipertensi tercatat 9,4 juta setiap tahunnya;
45% kematian akibat sakit jantung dan 51% kematian akibat stroke disebabkan oleh hipertensi. Di
samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak
tersedia.1,2

Kemampuan pasien hipertensi agar tidak menjadikan penyakitnya semakin parah adalah
menjaga perilaku pola makan yang salah satunya melakukan diet rendah garam dengan membatasi
konsumsi natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau hipertensi, yang terdiri
dari diet Rg I, Rg II, dan Rg III (Almatsier, 2006).

Data World Hypertension League Brochure 2009 menyebutkan bahwa hipertensi lebih 1/3 dari
1,5 miliar jiwa di seluruh dunia akibat garam yang berlebihan adalah faktor utama dalam
meningkatkan tekanan darah. Pola konsumsi garam dalam diet menurut Badan Kesehatan Dunia
yaitu WHO merekomendasikan pola konsumsi natrium yang dapat mengurangi risiko terjadinya

1
hipertensi adalah tidak lebih dari 2400 miligram natrium atau 6 gram garam perhari (Almatsier,
2008).

Konsumsi natrium yang berlebihan menyebabkan konsentrasi natrium dalam cairan diluar sel
akan meningkat. Akibatnya natrium akan menarik keluar banyak cairan yang tersimpan dalam sel,
sehingga cairan tersebut memenuhi ruang diluar sel. Berjejalnya cairan diluar sel membuat volume
darah dalam sistem sirkulasi meningkat. Hal ini menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk
mengedarkan darah keseluruh tubuh dan menyebabkan tekanan darah meningkat sehingga
berdampak pada timbulnya hipertensi (Apriadji, 2007).

Namun demikian keberhasilan menjalankan diet rendah garam baik dirumah ataupun dirumah
sakit selama perawatan pada pasien hipertensi sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien
dalam menjalankan diet tersebut. Pada kenyataannya, kepatuhan akan diet rendah garam masih
sangat rendah. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan yang asin
serta garam merupakan tambahan yang penting dalam suatu masakan karena garam akan membuat
masakan menjadi enak, jika tidak menggunakan garam masakan akan terasa hambar yang akan
berpengaruh pada selera makan. Berdasarkan survey awal yang saya lakukan bahwa lebih banyak
pasien rawat inap yang tidak mematuhi diet rendah garam yang diberikan, mereka lebih menyukai
dan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang di bawa oleh keluarga dari pada makanan yang
diberikan dengan alasan tidak enak, tidak asin dan tidak berselera mengkosumsi makanan tersebut.
Kepatuhan akan diet yang diberikan sangat mempengaruhi kestabilan tekanan darah pasien
hipertensi. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Aris Sobirin bahwa hasil tabulasi silang
antara diet Natrium dengan kestabilan tekanan darah pada hipertensi primer menunjukan tekanan
darah stabil lebih banyak pada diet Natrium baik, sedangkan tekanan darah tidak stabil lebih
banyak pada responden yang diet natriumnya kurang baik (Sobirin.A, 2005).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Menurut data WHO tahun 2013, sekitar 1 milyar orang diseluruh dunia menderita
hipertensi, diperkirakan kematian akibat hipertensi diperkirakan 7,5 juta jiwa setiap tahunnya
dan kematian akibat komplikasi hipertensi 9,4 juta jiwa setiap tahunnya.
1.2.2 Menurut data Riskesdas tahun 2013, hipertensi merupakan masalah kesehatan di
Indonesia dengan prevalensi yang tinggi yaitu sebesar 25,8%, dan di Kepulauan Riau sebesar

2
22,4%. Pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak
tersedia.
1.2.3 Masih rendahnya kepatuhan konsumsi diet rendah garam berkaitan dengan
tingginya konsumsi natrium pada pasien hipertensi maka peneliti merumuskan masalah
penelitian.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan diet Rendah Garam
dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Batu 10 pada
bulan Oktober 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran pengetahuan diet Rendah Garam pada pasien usia lebih dari
56th di wilayah kerja Puskesmas Batu 10.
2. Mengetahui gambaran tekanan darah pada pasien usia lebih dari 56th di wilayah
kerja Puskesmas Batu 10.
3. Mengetahui hubungan pengetahuan diet Rendah Garam dengan tekanan darah pada
pasien usia 56-65th di Puskesmas Batu 10.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
1.4.1.1 Diharapkan penelitian ini akan memberikan wawasan dan pengetahuan baru tentang
kepatuhan diet rendah garam dengan kejadian hipertensi di masyarakat.
1.4.1.2 Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan
pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.
1.4.1.3 Meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan sistematis dalam mengidentifikasi
dan menyelesaikan masalah kesehatan.
1.4.1.4 Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

1.4.2 Bagi Puskesmas


1.4.2.1 Sebagai salah satu masukan sebagai bahan informasi bagi petugas kesehatan
khususnya dokter puskesmas.

3
1.4.2.2 Adanya dukungan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Batu 10.
1.4.2.3 Hasil penelitian ini merupakan dasar bagi penelitian selanjutnya di Puskesmas.

1.4.3 Bagi Masyarakat


1.4.4.1 Sebagai bahan pengetahuan masyarakat untuk mencegah hipertensi.
1.4.4.2 Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai
diet Rendah Garam dengan tekanan darah pada pasien hipertensi.

4
BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1 Hipertensi
2.1.1 Pengertian Hipertensi
Menurut WHO, hipertensi merupakan peningkatan sistolik lebih besar atau sama dengan 160
mmHg dan atau tekanan diastolik saama atau lebih besar 95 mmHg. Menurut JNC VII
berpendapat hipertensi adalah peningkatan tekanan darah diatas 140/90 mmHg. Menurut
Kementrian Kesehatan, hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah
sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari sama dengan
90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang.3-6
2.1.2 Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention (JNC VII)
klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi,
hipertensi derajat satu dan dua.7
Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII.7

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Sistol Tekanan Darah Diastol


Darah (mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi Stage 1 140-159 90-99
Hipertensi Stage 2 160 atau >160 100 atau >100

2.1.3 Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:7,8
a) Hipertensi primer/Hipertensi esensial
Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan dengan
kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang gerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadinya
pada sekitar 90% penderita hipertensi.

5
b) Hipertensi sekunder/Hipertensi non esensial
Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya
adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau
pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
2.1.4 Patogenesis
Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara
faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang mendorong timbulnya kenaikan tekanan
darah tersebut adalah: 8
a) Faktor risiko seperti genetik.
b) Sistem saraf simpatis
• Tonus simpatis
• Variasi diurnal
c) Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi. Endotel pembuluh darah
berperan utama, tetapi remodeling dari endotel, otot polos dan interstitium juga memberikan
kontribusi akhir.
d) Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiotensin dan
aldosterone.
2.1.5 Faktor Risiko Hipertensi
1. Faktor risiko yang tidak dapat diubah
a. Genetis
Hipertensi seperti banyak kondisi kesehatan lain, terjadi dalam keluarga. Jika satu atau dua
orang dari orang tua atau saudara kandung menderita hipertensi peluang untuk mendita
hipertensi semakin besar. Penelitian menunjukkan bahwa 25% dari kasus hipertensi esensial
dalam keluarga mempunyai dasar genetis.
b. Usia
Hipertensi biasanya terjadi pada usia lebih tua. Pada usia antara 35 dan 65 tahun,
tekanan sistolik meningkat rata-rata sebanyak 20 mmHg dan terus meningkat setelah usia 70
tahun. Peningkatan risiko yang berkaitan dengan faktor usia ini sebagian besar menjelaskan
tentang hipertensi sistolik terisolasi dan dihubungkan dengan peningkatan peripheral vascular
resistence (hambatan aliran darah dalam pembuluh darah perifer) dalam arteri.

6
c. Jenis Kelamin
Pria sering mengalami tanda-tanda hipertensi pada usia akhir tiga puluhan, sedangkan wanita
sering mengalami hipertensi setelah menopause. Tekanan darah wanita, khususnya sistolik
meningkat lebih tajam sesuai usia. Setelah usia 55 tahun, wanita mempunyai risiko lebih tinggi
untuk menderita hipertensi. Salah satu penyebab terjadinya pola tersebut adalah perbedaan
hormon kedua jenis kelamin. Produksi hormon estrogen menurun saat menopause, wanita
kehilangan efek menguntungkannya sehingga tekanan darah meningkat.
d. Ras
Orang Afrika – Amerika menunjukkan tingkat hipertensi lebih tinggi dibandingkan populasi
lain, dan cenderung berkembang lebih awal dan agresif. Hipertensi merupakan penyebab
kematian nomor satu pada orang Afrika – Amerika.
2. Faktor risiko yang dapat diubah
a. Merokok
Peningkatan tekanan darah pada perokok terjadi karena nikotin yang dihisap atau dikunyah,
menyempitkan pembuluh darah sehingga memaksa jantung untuk bekerja lebih keras. Sebagai
hasilnya kecepatan jantung dan pembuluh darah meningkat.
b. Obesitas
Kelebihan berat badan dan hipertensi sering berjalan beriringan, karena tambahan beberapa
kilogram membuat jantung bekerja lebih keras. Obesitas dinyatakan bila berta badan lebih dari
20% berat badan ideal. Orang dengan kelebihan lemak diatas pinggul lebih berisiko terkena
hipertensi.
c. Kurang Olahraga
Dibandingkan dengan mereka yang aktif secar fisik, orang yang sering duduk secara signifikan
lebih mengkin mengalami hipertensi dan serangan jantung. Keuntungan kardiovaskular dari
olahraga adalah menurunkan berat badan, meningkatkan level LDL, dan menurunkan
trigliserida (lemak dari makanan yang menjadi bagian dari sirkulasi darah dalam aliran darah).
d. Kafein
Kebanyakan penelitian tidak menunjukkan indikasi yang jelas bahwa asupan kafein dalam
jumlah normal (< 100 mg/hari) menyebabkan hipertensi.

7
e. Penggunaan Alkohol
Banyak penelitian yang menghubungkan asupan alkohol dengan hipertensi. Minum alkohol
secara berlebihan, yaitu tiga kali atau lebih dalam sehari merupakan faktor penyebab 7% kasus
hipertensi.
f. Stress
Stress memainkan peranan dalam hipertensi. Bila level stress menurun maka tekanan darah
juga akan menurun.
g. Kelebihan Garam
Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO merekomendasikan pola konsumsi natrium yang dapat
mengurangi risiko terjadinya hipertensi adalah tidak lebih dari 2400 miligram natrium atau 6
gram garam perhari (Almatsier, 2008). Hampir 50% orang yang memiliki hipertensi sensitif
terhadap garam, yang berarti terlalu banyak mengkonsumsi garam langsung menaikkan
tekanan darah mereka (Casey dan Benson, 2012).
Pengaturan masukan garam merupakan metode pengendalian hipertensi yang penting di
samping obat antihipertensi. Untuk mengatasi pengaturan masukan garam dalam pengendalian
hipertensi maka dibutuhkan keseriusan dan kesanggupan dalam menjalankan diet Rendah
Garam, kepatuhan akan diet sangat berpengaruh pada kestabilan tekanan darah pada pasien
hipertensi.
2.2 Diet Rendah Garam
Diet rendah garam adalah garam natrium seperti yang terdapat di dalam garam dapur (NaCl),
soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoate, dan vetsin (mono natrium glutamate).
Dalam keadaan normal jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urin sama dengan
jumlah yang dikonsumsi, sehingga terdapat keseimbangan.
Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang dibutuhkan sehingga tidak ada
penetapan kebutuhan natrium sehari. WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam
dapur hingga 6 gram sehari ekivalen dengan 2400 mg Na. Asupan natrium yang berlebihan
terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan
tubuh, sehingga menyebabkan edema atau asites dan atau hipertensi.
Tujuan dari diet rendah garam adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam
jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Syarat diet rendah garam
adalah cukup energy, protein, mineral dan vitamin, bentuk makanan sesuai denga keadaan

8
penyakit, jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air atau
hipertensi (Almatsier, 2006).
Almatsier (2006) membagi diet rendah garam menjadi:
1. Diet rendah garam I (200-400 mg Na)
Diet rendah garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites atau hipertensi berat. Pada
pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur. Dihindari makanan yang tinggi kadar
natriumnya.
2. Diet rendah garam II (600-800 mg Na)
Diet rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema, asites atau hipertensi tidak terlalu
berat. Pemberian makanan sehari sama dengan diet rendah garam I. Pada pengolahan
makanannya menggunakan ½ sendok teh garam dapur atau 2 gram. Dihindari bahan makanan
yang tinggi kadar natriumnya.
3. Diet rendah garam III (1000-1200 mg Na)
Diet rendah garam III diberikan pada pasien dengan edema atau penderita hipertensi ringan.
Pemberian makanan sehari sama dengan diet garam rendah 1. Pada pengolahan makanannya
mengunakan 1 sendok teh atau 4 gram garam dapur.

Tabel 2. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan

Bahan makanan Dianjurkan Tidak dianjurkan


sumber karbohidrat beras, kentang, singkong, roti, biskuit dan kue-kue
terigu, tapioka, hunkwe, yang dimasak dengan
gula, makanan yang diolah garam dapur atau baking
dari bahan makanan tanpa powder dan soda
garam dapur dan soda
seperti: makaroni, mi,
bihun, roti, biscuit dan roti
kering
sumber protein hewani daging dan ikan maksimal otak, ginjal, lidah,
100 gram sehari; telur sardine; daging, ikan,
maksimal 1 butir sehari susu dan telur yang

9
diawet dengan garam
dapur seperti daging
asap, ham, bacon,
dendeng, abon, keju,
ikan asin, ikan kaleng,
kornet, ebi, udang
kering, telur asin dan
telur pindang
sumber protein nabati semua kacang-kacangan keju kacang tanah dan
dan hasilnya diolah dan semua
dimasak tanpa garam dapur kacang-kacangan dan
hasilnya yang dimasak
dengan garam dapur dan
lain ikatan natrium
Sayuran semua sayuran segar, sayuran yang dimasak
sayuran yang diawet tanpa dan diawet dengan
garam dapur dan natrium garam dapur dan lain
benzoate; ikatan natrium, seperti
sayuran dalam kaleng,
sawi asin, asinan dan
acar
Buah-buahan semua buah-buahan segar, Buah-buahan yang
buah yang diawet tanpa diawet dengan garam
garam dapur dan natrium dapur dan lain ikatan
benzoat; natrium, seperti buah
dalam kaleng
Lemak minyak goreng, margarin ;
dan mentega tanpa garam margarin dan mentega
biasa
Minuman Teh dan kopi minuman ringan

10
Bumbu semua bumbu-bumbu garam dapur untuk Diet
kering yang tidak Rendah Garam I, baking
mengandung garam dan powder, soda kue, vetsin
lain ikatan natrium. Garam dan bumbu-bumbu yang
dapur sesuai ketentuan mengandung garam
untuk Diet Rendah Garam dapur seperti kecap,
II dan III) magi, tomato ketchup,
petis dan tauco

Pengurangan penggunaan garam yang dimaksud bukanlah dilaksanakan pada semua jenis
garam, namun pengurangan yang ada lebih kepada maksud pembatasan jumlah garam atau
natrium klorida (NaCl) dalam makanan selain penyedap masakan (monosodium glutamat =
MSG), serta sodium karbonat. Sangat dianjurkan pada pelaku diet ini untuk mengonsumsi
garam dapur (garam yang mengandung iodium) tidak lebih daripada 6 gram per hari atau setara
dengan satu sendok teh. Untuk memudahkan diet ini cobalah untuk :
1. Tidak meletakkan garam di atas meja makan.
2. Pilihlah sayuran yang segar. Makanan yang terdapat di kemasan kaleng banyak
mengandung garam. Jika pun mau tidak mau harus mengonsumsi sayuran kaleng maka cuci
bersih sayuran dengan air sebelum dikonsumsi untuk mengurangi kandungan garam yang
melekat di sayuran tersebut.
3. Pilihlah buah yang segar, karena umumnya buah-buah yang segar memiliki kandungan
rendah natrium namun kaya akan kandungan kalium.
4. Menambahkan rasa di makanan dengan bumbu atau rempah lainnya seperti bawang putih,
bawang merah, jahe, kunyit, salam, gula, atau cuka selain garam.
5. Untuk makanan camilan pilihlah kacang, biskuit, dan makanan camilan lainnya yang tidak
mengandung banyak garam.
Hindarilah penggunaan saus tomat, terasi, petis, MSG, tauco pada makanan yang akan anda
konsumsi (Sapardan, 2009).

11
2.3 Hubungan Diet Rendah Garam dengan Hipertensi
Kepatuhan diet rendah garam berpengaruh pada kestabilan tekanan darah pada pasien
hipertensi. Pasien yang secara teratur mematuhi diet rendah garam yang diberikan oleh pihak
rumah sakit dengan hanya mengkonsumsi makanan yang diberikan dan menghabiskan
makanan tersebut cenderung terjaga kestabilan tekanan darahnya dibandingkan dengan pasien
yang tidak mematuhi secara teratur diet rendah garam dengan sama sekali tidak mengkonsumsi
makanan yang diberikan atau mengkonsumsi makanan yang diberikan juga mengkonsumsi
makanan dari luar. Hal ini dapat terlihat dari asupan natrium pasien sesuai atau tidaknya
dengan tingkat retensi garam atau hipertensi. Pasien yang menjalani diet Rendah Garam I
dengan tekanan darah ≥ 180 / ≥ 110 mmHg asupan natriumnya maksimal ≤ 400 mg Na/hari,
diet Rendah Garam II dengan tekanan darah 160-179/100-109 mmHg asupan natriumnya
maksimal ≤ 800 mg Na/hari dan diet Rendah Garam III dengan tekanan darah 140-159/90-99
mmHg asupan natriumnya maksimal ≤ 1200 mg Na/hari (Almatsier, 2006)
Konsumsi natrium yang berlebihan menyebabkan konsentrasi natrium dalam cairan diluar sel
akan meningkat. Akibatnya natrium akan menarik keluar banyak cairan yang tersimpan dalam
sel, sehingga cairan tersebut memenuhi ruang diluar sel. Berjejalnya cairan diluar sel membuat
volume darah dalam sistem sirkulasi meningkat. Hal ini menyebabkan jantung bekerja lebih
keras untuk mengedarkan darah keseluruh tubuh dan menyebabkan tekanan darah meningkat
sehingga berdampak pada timbulnya hipertensi (Apriadji, 2007).
Pasien yang secara teratur mematuhi diet rendah garam cenderung terjaga kestabilan tekanan
darahnya dibandingkan dengan pasien yang tidak mematuhi secara teratur diet rendah garam
tersebut. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Aris Sobirin bahwa hasil tabulasi silang
antara diet Natrium dengan kestabilan tekanan darah pada hipertensi primer menunjukan
tekanan darah stabil lebih banyak pada diet Natrium baik, sedangkan tekanan darah tidak stabil
lebih banyak pada responden yang diet natriumnya kurang baik (Sobirin. A, 2005).
Dr. Gregg C. Fonarow, profesor Kardiologi di Universitas Carolina, Los Angeles, setuju bahwa
garam dapat berperan di dalam resistensi hipertensi. Penelitian ini sangat menarik karena
menunjukkan bahwa pasien hipertensi resisten, dengan diet rendah garam yang dilakukan dan
dikonsumsi secara teratur memiliki pengaruh besar di dalam menurunkan tekanan darahnya
dengan cara mengurangi retensi atau penumpukan cairan di intravaskuler dan memperbaiki
fungsi vaskularisasi atau pembuluh darah (Sapardan, 2012).

12
2.4.Pengetahuan
2.4.1.Konsep Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).
Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut
sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian
besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera
penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang
berbeda-beda (Notoatmodjo,2010).
2.4.2.Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010), ada beberapa cara untuk memperoleh pengetahuan, yaitu:
a. Cara Coba-Salah (Trial and Error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan
masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan
yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba dengan
kemungkinan ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan
seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut
metode trial (coba) and error (gagal atau salah) atau metode coba-salah coba-coba.
b. Cara Kekuasaan atau Otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan- kebiasaan dan tradisi-tradisi
yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau
tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi
berikutnya, dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau
kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli- ahli ilmu
pengetahuan. Prinsip ini adalah, orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang
yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik
berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena
orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa yang dikemukakannya adalah
benar.

13
c. Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah, pepatah ini mengandung maksud
bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu
cara untuk memperoleh pengetahuan.
d. Melalui Jalan Pikiran
Sejalan dengan perkembangan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari
sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya.
Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan
jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi.
e. Cara Modern dalam Memperoleh Pengetahuan
Cara baru dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah.
Cara ini disebut "metode penelitian ilmiah", atau lebih popular disebut metodologi penelitian
(research methodology).
2.4.3.Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku
terbuka (overt behavior). Tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif, mencakup 6
tingkatan, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah
mengamati sesuatu (Notoatmodjo,2010).
2. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat
menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat meng-interpretasikan secara benar tentang
objek yang diketahui tersebut (Notoatmodjo,2010). Orang yang telah paham terhadap objek
atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari (Fitriani, 2011).
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan
atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Contohnya orang
yang telah paham metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal penelitian dimana
saja (Notoatmodjo,2010).

14
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau memisahkan, kemudian
mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek
yang diketahui.Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis
adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan,
objek tersebut (Notoatmodjo, 2010).
5. Sintetis (synthesis)
Sintetis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk meletakkan dan merangkum dalam
suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki dengan kata
lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi
yang telah ada (Notoatmodjo, 2010). Misalnya dapat menyusun, meringkas, merencanakan,
dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada (Fitriani, 2011).
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria
yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat (Notoatmodjo, 2010)
2.4.4.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
1. Pengalaman
Dipengaruhi dari pengalaman sendiri maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman yang
diperolehi dapat memperluaskan pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2005).
2. Umur
Pertambahan umur seseorang akan menyebabkan proses perkembangan mentalnya semakin
bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental
ini tidak secepat seperti ketika berusia belasan tahun. Selain itu, daya ingat seseorang banyak
dipengaruhi oleh umur. Dari uraian dapat disimpulkan bahwa dengan bertambahnya umur
seseorang, akan mempengaruhi pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi
pada satu umur tertentu atau pada menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau
mengingat suatu pengetahuan berkurang (Notoatmodjo, 2005).
3. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang dapat memperluas pengetahuan dan wawasan seseorang. Secara
umumnya, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi, akan mempunyai pengetahuan yang

15
lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih
rendah (Notoatmodjo, 2005)
4. Keyakinan
Keyakinan biasanya diperoleh secara turun menurun dan tanpa ada pembuktian terlebih dahulu.
Keyakinan ini biasanya akan mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik dari segi positifnya
maupun yang negatifnya (Notoatmodjo, 2005).
5. Sumber Informasi
Sumber informasi yang baik akan meningkatkan pengetahuan seseorang meskipun seseorang
itu memiliki pendidikan yang rendah. Sumber informasi dimasa sekarang sangat banyak
antaranya termasuklah radio, televisi, majalah, koran dan buku (Notoatmodjo, 2005).
6. Penghasilan
Sebenarnya penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap tingkat pengetahuan seseorang.
Namun bila seseorang mempunyai penghasilan yang cukup besar, maka beliau akan mampu
untuk menyediakan fasilitas-fasilitas sumber informasi (Notoatmodjo, 2005).
2.4.5.Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2010), pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan
skala yang bersifat kualitatif, yaitu:
1) Baik : hasil presentase 76-100%
2) Cukup : hasil presentase 56-75%
3) Kurang : hasil presentase< 56% (Dewi dan Wawan, 2011).

16
2.5 Kerangka Teori

Jenis Kelamin

Merokok

Menopause

Usia
Nikotin

Aktivitas HDL ↓
Fisik

Kejadian
Hipertensi
Kejadian
Obesitas

Pengetahuan
Diet Rendah Kadar
Garam Natrium ↑

17
2.6 Kerangka Konsep

Pengetahuan Diet
Rendah Garam

Jenis Kelamin

Kejadian Hipertensi

Merokok

Kejadian Obesitas

18
BAB III
Metedologi Penelitian

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross
sectional mengenai hubungan antara kepatuhan diet garam dengan kejadian hipertensi pada pasien
yang berusia lebih dari 56 tahun di wilayah Puskesmas Batu 10, periode Oktober 2017.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2017 di wilayah kerja Puskesmas Batu 10.

3.3 Sumber Data


Sumber data terdiri dari data primer yang diambil dari subyek penelitian dengan
menggunakan kuesioner yang sudah diuji coba dan dari pemeriksaan fisik pada pasien yang berusia
lebih dari 56 tahun di wilayah Puskesmas Batu 10 periode Oktober 2017.

3.4 Populasi
3.4.1 Populasi Target
Semua pasien dengan usia lebih dari 56 tahun di wilayah Puskesmas Batu 10.
3.4.2 Populasi Terjangkau
Semua pasien dengan usia lebih dari 56 tahun di wilayah Puskesmas Batu 10 pada
Oktober 2017.

3.5 Kriteria
3.5.1 Kriteria inklusi
Semua pasien berusia lebih dari 56 tahun yang datang berobat di wilayah Puskesmas
Batu 10 pada bulan Oktober 2017 dan bersedia mengikuti penelitian.

3.5.2 Kriteria eksklusi


3.5.2.1 Semua pasien yang tidak memiliki ekstremitas atas tubuh.
3.5.2.2 Ibu hamil.

19
3.6 Sampel
3.6.1 Besar Sampel
Melalui rumus dibawah ini, didapatkan besar sampel penelitian sebagai berikut:
( Zα )2.p.q
n1 =
L2
n2 = n1 + (10%. n1)

Keterangan:
 n1 = jumlah sampel minimal
 n2 = jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen
responden yang mungkin drop out)
 zα = nilai konversi pada tabel kurva normal, dengan nilai α = 5% didapatkan
zα pada kurva normal = 1,96
 p = Proporsi variabel yang ingin diteliti, yaitu hipertensi di Kepulauan Riau
pada tahun 2013, sebesar 22,4% , sehingga p = 22,4% = 0,224
 q = 100%-p = 100% - 22,4% = 77,6% = 0,776
 L = Derajat kesalahan yang masih dapat diterima sebesar 10%
Berdasarkan rumus diatas, didapatkan angka:

n1 = (1,96)2 x 0,224 x 0,776

(0,1)2
n1 = 66,776
Untuk menjaga adanya kemungkinan subyek penelitian yang drop out, maka dihitung:

n2 = 66,776 + (10% x 66,776)


n2 = 73,45  Dibulatkan menjadi 73 subyek penelitian

Jadi, jumlah sampel minimum yang dibutuhkan adalah 73 orang.

3.6.2 Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik non-
probability sampling, yaitu purposive sampling.

20
3.7 Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini digunakan variabel terikat (dependent) dan variabel bebas (independent).
Variabel terikat adalah kejadian hipertensi. Variabel bebas berupa

Variabel Bebas Variabel Terikat


 Pengetahuan Diet Rendah  Kejadian hipertensi
Garam

 Jenis kelamin

 Kejadian obesitas

 Riwayat Merokok

3.8 Cara Kerja


3.8.1 Menghubungi Kepala Puskesmas Batu 10 untuk meminta ijin untuk melakukan
penelitian.
3.8.2 Menghubungi bagian balai pengobatan umum wilayah kerja Puskesmas Batu 10 untuk
meminta ijin dalam hal pengumpulan data.
3.8.3 Melakukan pengumpulan data dengan meminta subyek penelitian untuk mengisi
instrument penelitian berupa kuesioner.
3.8.4 Melakukan pengolahan survey dan interpretasi data yang telah dikumpulkan.
3.8.5 Penulisan laporan penelitian.
3.8.6 Pelaporan penelitian.

3.9 Manajemen Data


3.9.1 Pengumpulan Data
Data primer diperoleh dari pasien dengan usia 56-65 tahun dengan menggunakan
kuesioner.

21
3.9.2 Pengolahan Data
Terhadap data-data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan berupa proses
editing, verifikasi dan koding. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan
program Statistical Package for Social Sciences (SPSS) 16.0.
3.9.3 Analisis Data
Terhadap data yang telah diolah akan dilakukan analisis menggunakan uji statistik non
parametrik Chi Square.
3.9.4 Interpretasi Data
Data diinterprestasikan antar variabel-variabel yang telah ditentukan.
3.9.5 Penyajian Data
Data yang didapat disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular.
3.9.6 Pelaporan Data

Data disusun dalam bentuk laporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan dihadapan
staf Puskesmas Batu 10.

3.10 Definisi Operasional


3.10.1 Kejadian hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari
atau sama dengan 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama
dengan 90 mmHg dengan menggunakan manset yang diletakan di lengan atas dimana
orang yang diperiksa berada dalam posisi duduk dengan posisi lengan yang akan
diperiksa berada di atas meja dan setelah beristirahat minimal 15 menit. Pengukuran
dilakukan selama 2 kali dengan selang waktu 5 menit.
Cara ukur : Mengukur tekanan darah
Alat ukur : Sphygmomanometer + stetoskop
Skala ukur : Nominal

22
Hasil ukur :
Kategori Tekanan Darah Koding

Tidak Sistolik < 140, dan/atau diastolik < 90 1

Ya Sistolik ≥ 140, dan/atau diastolik ≥ 90 2

3.10.2 Pengetahuan diet rendah garam


Hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera
yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).
Cara Ukur : Mengisi Kuisioner
Alat Ukur : Kuesioner
Skala Ukur : Nominal
Hasil Ukur :
Kategori Skor Koding
Baik 76-100% 1
Cukup 56-75% 2
Buruk <56% 3

3.10.3 Jenis kelamin


Perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Jenis
kelamin berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki
memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara
biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui.
Cara ukur : Mengisi Kuesioner
Alat ukur : Kuesioner
Skala ukur : Nominal
Hasil ukur :
Kategori Koding
Laki- laki 1
Perempuan 2

23
3.9.1 Merokok
Merupakan sebuah kegiatan menghisap tembakau dalam bentuk rokok ataupun pipa.
Cara ukur : Mengisi kuesioner
Alat ukur : Kuesioner
Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur :
Kategori Jumlah Rokok per Hari Koding
Bukan perokok 0 1
Perokok ringan <10 2
Perokok sedang 10-20 3
Perokok berat >20 4

3.9.2 Kejadian obesitas


Kondisi dimana Indeks Massa Tubuh (IMT) melebihi nilai normal yang diukur dengan
rumus BB (kg)/TB2 (m).
Cara ukur : Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan
Alat ukur : Timbangan dan staturmeter
Skala ukur : Nominal
Hasil ukur :
Kategori Index Massa Tubuh Koding
Tidak < 25 1
Ya ≥ 25 2

24
Bab IV
Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang mengenai


hubungan pengetahuan diet rendah garam dan faktor-faktor lain dengan kejadian hipertensi periode
Oktober 2017, dengan jumlah sampel adalah 74 subyek penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:

4.1 Tabel Univariat


Tabel 4.1.1 Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Pengunjung Puskesmas Batu 10,
Tanjungpinang Periode Oktober 2017.

Variabel Frekuensi Persentase


Kejadian Hipertensi
Tidak 31 41.9
Ya 43 58.1

Tabel 4.1.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan diet rendah garam pada Pengunjung Puskesmas
Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.

Variabel Frekuensi Persentase


Pengetahuan Diet Rendah Garam
Pengetahuan Baik 9 12.2
Pengetahuan Cukup 24 32.4
Pengetahuan Rendah 41 55.4

25
Tabel 4.1.3 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin, Kejadian Obesitas, Riwayat merokok pada
Pengunjung Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.

Variabel Frekuensi Persentase


Jenis Kelamin
Laki-laki 28 37.8
Perempuan 46 62.2
Merokok
Bukan Perokok 55 74.3
Perokok Ringan 4 5.4
Perokok Sedang 10 13.5
Perokok Berat 5 6.8
Kejadian Obesitas
Tidak 47 63.5
Ya 27 36.5

26
4.2 Tabel Bivariat
Tabel 4.2.1 Hubungan antara Pengetahuan diet rendah garam, Jenis Kelamin, Merokok, dan
Kejadian Obesitas dengan Kejadian Hipertensi pada Pengunjung Puskesmas Batu 10,
Tanjungpinang Periode Oktober 2017.

Variabel Kejadian Hipertensi Total Uji P H0


Tidak Ya Statistik
Pengetahuan diet rendah garam
Baik 6 3 9
Cukup 17 7 24 Chi Square 0.000 Ditolak
Rendah 8 33 41
Jenis Kelamin
Laki-laki 11 17 28 Gagal
Chi Square 0.727
Perempuan 20 26 46 Ditolak
Merokok
Bukan Perokok 25 30 55
Perokok Ringan 2 2 4 Gagal
Chi Square 0.499
Perokok Sedang 2 8 10 Ditolak
Perokok Berat 2 3 5
Kejadian Obesitas
Tidak 19 28 47 Gagal
Chi Square 0.462
Ya 12 15 27 Ditolak

27
Bab V
Pembahasan

5.1 Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Pengunjung


Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang, Periode Oktober 2017.
Pada tabel 4.1.1 didapati distribusi frekuensi kejadian hipertensi pada pengunjung
Puskesmas Batu 10 dengan kategori hipertensi sebanyak 41 orang dengan persentase 58,1%,
sedangkan kategori tidak hipertensi sebanyak 31 orang, dengan persentase 41,9%. Hasil
tersebut didapatkan dari 74 sampel yang diambil dari pengunjung Puskesmas tersebut. Angka
ini lebih besar dibandingkan dengan hasil Riskesdas pada tahun 2013 di Tanjungpinang
sebesar 22,4%. Perbedaan ini kemungkinan dikarenakan perbedaan jumlah sampel, perbedaan
tempat dan perbedaan jangka waktu pengambilan sampel.

5.2 Analisis Univariat Distribusi Pengetahuan diet rendah garam pada Pengunjung
Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.
Pada tabel 4.1.2 didapati distribusi frekuensi lama tidur pada pengunjung Puskesmas
batu 10, dengan frekuensi pengetahuan diet rendah garam rendah sebanyak 41 subyek
penelitian dengan persentase 55,4%, sedangkan pengetahuan diet rendah garam sedang
sebanyak 24 subyek penelitian dengan persentase 32,4% dan pengetahuan diet rendah garam
baik sebanyak 9 subyek penelitian dengan presentase 12,2%.

5.3 Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin, Merokok, dan Kejadian
Obesitas pada Pengunjung Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.
Dari 74 subyek dalam penelitian ini, diketahui distribusi subyek berdasarkan kuesioner,
diketahui yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 subyek penelitian dengan persentase
37,8%, sedangkan pada jenis kelamin perempuan sebanyak 46 subyek penelitian dengan
persentase 62,2%.
Dari 74 subyek penelitian didapatkan distribusi merokok pada kategori bukan perokok
sebanyak 55 subyek penelitian dengan persentase 74,3%, pada kategori perokok ringan
sebanyak 4 subyek penelitian dengan persentase 5,4%, pada kategori perokok sedang sebanyak
10 subyek dengan persentase 13,5% dan pada kategori perokok berat sebanyak 5 subyek
dengan persentase 6,8%.

28
Dari 74 subyek penelitian didapatkan distribusi pada kejadian obesitas dengan kategori
tidak obesitas sebanyak 46 subyek penelitian dengan persentase 63,5%, sedangkan pada
kategori obesitas sebanyak 27 subyek penelitian dengan persentase 35,5%.

5.4 Analisis Bivariat Hubungan antara Pengetahuan diet rendah garam dengan Kejadian
Hipertensi pada Pengunjung Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober
2017.
Berdasarkan tabel 4.2.1 didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
Pengetahuan diet rendah garam dengan kejadian hipertensi melalui uji Chi Square dengan
Continuity Correction dengan p <0,05 yaitu p = 0,000.
5.5 Analisis Bivariat Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian Hipertensi pada
Pengunjung Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.
Berdasarkan tabel 4.2.1 didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi melalui uji Chi Square dengan Continuity
Correction dengan p >0,05 yaitu p = 0,727.
5.6 Analisis Bivariat Hubungan antara Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada
Pengunjung Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.
Berdasarkan tabel 4.2.1 didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi melalui uji Chi Square dengan p >0,05
yaitu p = 0,499.
5.7 Analisis Bivariat Hubungan antara Kejadian Obesitas dengan Kejadian Hipertensi
pada Pengunjung Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang Periode Oktober 2017.
Berdasarkan tabel 4.2.1 didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
kejadian obesitas dengan kejadian hipertensi melalui uji Chi Square dengan p >0,05, yaitu p =
0,462.

29
Bab VI
Kesimpulan dan Saran

6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai hubungan antara lama tidur dan faktor-faktor lainnya dengan
kejadian hipertensi di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang pada periode Oktober 2017, dapat
diambil kesimpulan:
6.1.1 Dari total 74 subyek penelitian di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang didapatkan
subyek yang tidak hipertensi sebanyak 43 orang (58,1%), sedangkan yang hipertensi
sebanyak 31 orang (41,9%).
6.1.2 Dari total 74 subyek penelitian di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang didapatkan subyek
dengan pengetahuan diet rendah garam baik sebanyak 9 orang (12,2%), sedangkan
pengetahuan diet rendah garam cukup sebanyak 24 orang (32,4%), dan pengetahuan diet
rendah garam rendah sebanyak 41 orang (55,4%).
6.1.3 Dari total 74 subyek penelitian di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang didapatkan subyek
yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 orang (37,8%), sedangkan yang berjenis
kelamin perempuan sebanyak 46 orang (62,2%).
6.1.4 Dari total 74 subyek penelitian di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang didapatkan pada
kategori bukan perokok sebanyak 55 orang (74,3%), pada kategori perokok ringan
sebanyak 4 orang (5,4%), perokok sedang sebanyak 10 orang (13,5%) dan pada kategori
perokok berat 5 orang (6,8%).
6.1.5 Dari total 74 subyek penelitian di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang didapatkan subyek
yang tidak obesitas sebanyak 47 orang (63,5%), sedangkan yang obesitas sebanyak 27
orang (36,5%).
6.1.6 Terdapat hubungan antara Pengetahuan diet rendah garam dengan kejadian hipertensi.
6.1.7 Tidak Terdapat hubungan antara merokok dengan kejadian hipertensi.
6.1.8 Tidak Terdapat hubungan antara kejadian obesitas dengan kejadian hipertensi.
6.1.9 Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi.

30
6.2 Saran
6.2.1 Bagi Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang
6.2.1.1 Perlunya peningkatan pelayanan Puskesmas dalam hal penyuluhan rutin kepada
masyarakat mengenai pengetahuan tentang penyakit hipertensi meliputi
pencegahan, faktor-faktor yang dapat menyebabkan hipertensi serta komplikasi
hipertensi.
6.2.2 Bagi Peneliti selanjutnya
6.2.2.1 Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat melakukan desain penelitian dengan
tingkat lebih tinggi seperti desain penelitian eksperimental, agar hubungan sebab
akibat antar variabel dapat lebih jelas terlihat.

31
Daftar Pustaka

1. Pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI. Hipertensi. Infodatin; 2014. hal.1-6.
2. World health day 2013. Why hypertension is a major public health issue, In: A global brief
on hypertension. WHO; 2013. p. 9.
3. Kaplan HI, Sadock BJ. Buku ajar psikiatri klinis. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.
4. Zeidler MR. Insomnia. Dipublikasi 14 Februari 2014. Diakses pada tanggal 6 November
2015 melalui www.emidicin.medscape.com/article/1187829.com. Tanggal 14 Februari
2014.
5. American Academy of Sleep Medicine. ICSD2 - International classification of sleep
disorders. In: American Academy of Sleep Medicine Diagnostic and Coding Manual.
Diagnostik dan Coding Manual. 2nd Edition. Westchester: American Academy of Sleep
Medicine; 2005. p. 1-32.. http://www.esst.org/adds/ICSD.pdf
6. WHO/ISH Hypertension guidelines. Definition of hypertension. Dipublikasi Pada
September 2015. Diakses pada tanggal 6 November 2015 dari
http://www.who.int/cardiovascular_diseases/guidelines/hypertension/en/
7. James et al. The Management of High Blood Pressure in Adults. Evidence-Based Guideline
the Eighth Joint National Committee (JNC 8). Dipublikasi Desember 2014. Diakses pada
tanggal 5 November 2015 dari
http://csc.cma.org.cn/attachment/2014315/1394884955972.pdf
8. Nuraini B. Risk Factors of Hypertension. J MAJORITY Vol. 4 No. 5. Dipublikasikan Pada
Februari 2015. Diakses pada tanggal 6 November 2015 dari
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/download/602/606
9. Departemen Kesehatan RI. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI:
Hipertensi. Dipublikasikan Pada 17 Mei 2014. Diakses pada tanggal 5 November 2015 dari
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-hipertensi.pdf
10. Chobanian et al. JNC VII Express The Seventh Report of the Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. Dipublikasikan
Pada Desemr 2003. Diakses pada tanggal 5 November 2015.
https://www.nhlbi.nih.gov/files/docs/guidelines/express.pdf
11. Sudoyo AW dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. 2006. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

32
12. Novia O, Handoyo, Safrudin. Hubungan lama tidur dengan perubahan tekanan darah pada
lansia dengan hipertensi di POSYANDU lansia desa karang aren. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Keperawatan,Vol.7, No.2. Dipublikasi Pada Juni 2011. Diakses pada 5 November 2015
dari http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/files/disk1/27/jtstikesmuhgo-gdl-oktinovian-
1328-2-hal.60--0.pdf
13. Moniung SY, Rondonuwu R, Bataha Y B. Hubungan tekanan darah sistolik dengan
kualitas tidur pasien hipertensi di puskesmas bahu manado. Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Saratulangi Manado. Dipublikasi pada Juli
2014. Diakses pada 5 November 2015
dari:http://download.portalgaruda.org/article.php?article=172698&val=5798&title=HUB
UNGAN%20TEKANAN%20DARAH%20SISTOLIK%20DENGAN%20KUALITAS%2
0TIDUR%20PASIEN%20HIPERTENSI%20DI%20PUSKESMAS%20BAHU%20MAN
ADO
14. Remmes A. H., 2012. Current Diagnosis and Treatment Neurology. Sleep Disorders.
Second Edition. Singapore : The McGraw-Hill Companies, Inc. pp. 483-491
15. Gangwich, et al. Short sleep duration as a risk factor for hypertension. Analyses of the First
National health and Nutrition Examination Survey. Dipublikasi Mei 2006. Diakses pada
Tanggal 5 November 2015 melalui http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16585410
16. Bansil P, et al. Associations between sleep disorders, sleep duration, quality of sleep, and
hypertension : Results from The National Health and Nutrition Examination Survey, 2005
to 2008. American Society of Hypertension. Dipublikasi pada Juli 2011. Diakses pada 5
November 2015 melalui http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21974761
17. Bruno R. M. et al., 2013. Poor sleep quality and resistant hypertension. department of
clinical and experimental medicine, University of Pisa, Italy. Dipublikasi pada Tahun 2013.
Diakses pada Tanggal 5 November 2015 melalui
http://www.researchgate.net/publication/256330527_Poor_sleep_quality_andresistant_hy
pertension
18. Vgontaz AN, Liao D, Bixler E, Churousos GP, Vela-Bueno A. Insomnia with objective
short sleep duration is associated with a high risk for hypertension sleep. National Library
of Medicine. Dipublikasi pada Tahun 2010. Diakses pada Tanggal 5 November 2015
melalui http://www.biomedicalfindings.com/bmfgs/g4/2005-2010/100/is+741.html

33
19. Sateia MJ, Buysse DJ. Insomnia diagnosis and treatment. United Kingdom: Informa
Healthcare. Dipublikasi pada Tanggal 20 Februari 2013. Diakses pada Tanggal 5 November
2015 melalui http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3632369/
20. Ilham FA. Hubungan antara kualitas tidur dan lama kerja dengan kejadian hipertensi pada
usia dewasa muda di Desa Kabupaten Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dipublikasi pada Bulan Oktober 2013. Diakses pada Tanggal 5 November 2015 melalui
http://eprints.ums.ac.id/27276/12/File_Naskah_Publikasi_Ilmiah.pdf
21. Kaplan NM, Victor RG. Kaplan’s Clinical Hypertension. 10th Ed. Philadelphia: Lippincott;
p. 6-8; 2010.
22. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Hypertensive vascular disease. In: Robin and Cotran
Pathologic Basis of Disease, Edisi 7. Philadelpia. p: 28-529; 2010.
23. Sitepoe, M. Usaha mencegah bahaya merokok. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama;
1997.
24. Anggreany R, Wahiduddin, Rismayanti. Fakto resiko aktivitas fisik, merokok, dan
konsumsi alkohol terhadap kejadian hipertensi pada lansia di wialyah kerja puskesmas
pattingalloanh kota Makassar. Universitas Hasanuddin . Diakses pada Tanggal 13
November 2013 melalui http://repository.unhas.ac.id/.
25. Sundaram KR, Sudhakar A, Kumar RK et al. 2009. Body mass index trend and its
association with blood pressure distribution in children. Diunduh dari:
http://www.Pubmed.com. Pada tanggal 6 November 2015.
26. Harahap H, Widodo Y, Mulyati S. Penggunaan berbagai cut-off indeks massa tubuh sebagai
indikator obesitas terkait penyakit degeneratif di Indonesia. Gizi Indonesia. h: 31: 1-1;
2005.
27. Whitaker. Reversing hypertension. Warner Books, Inc.New York: 2000.
28. Mannan H, Wahiduddin, Rismayanti. Faktor risiko kejadian hipertensi di wilayah kerja
puskesmas Bangkala Kabupaten Jeneponto. Makassar. 2012.
29. Aris, S. Mayo klinik hipertensi, mengatasi tekanan darah tinggi. Intisari Mediatam. Jakarta,
2007.
30. Anggara FHD, Prayitno N. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di
puskesmas telaga murni, cikarang barat tahun 2012. Jakarta: Jurnal ilmiah kesehatan. 2013.
Hal 20-3.

34
31. Natalia D, Hasibuan P, Hendro. Hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi di
kecamatan sintan, kalimantan barat. Kalimantan Barat: CDK. 2015. Hal 336-8.

35