Anda di halaman 1dari 3

Shalat Sunah Mutlak

Shalat mutlak merupakan salah satu dari sekian banyak shalat sunnah yg dapat dikerjakan
setiap umat muslim, shalat sunnah ini dapat kita kerjakan tanpa harus ada sebab tertentu.
Semisalnya seperti shalat hajat, shalat sunnah hajat ini secara umum dikerjakan oleh orang-
orang ketika memiliki sebuah hajat atau mungkin permintaan yg sedang mereka inginkan.

Sedangkan untuk shalat sunnah mutlak ini, kita dapat mengerjakannya tanpa harus kita
memiliki sebuah hajat atau sebab tertentu. Adapun untuk waktu shalat hajat sendiri dapat kita
kerjakan kapan saja, selama waktu untuk mengerjakan shalat sunnah ini bukan termasuk
waktu yg memang diharamkan untuk mengerjakan shalat. Sehingga anda dpt mengerjakan
shalat sunnah ini sesuai dengan waktu yg anda miliki.

Macam-macam Shalat Sunah

Shalat sunah ada dua macam: mutlak dan muqayad

Shalat sunah muqayad adalah shalat sunah yang dianjurkan untuk dilakukan pada waktu
tertentu atau pada keadaan tertentu. Seperti tahiyatul masjid, dua rakaat seusai wudhu, shalat
sunah rawatib, dst.

Sedangkan shalat sunah mutlak: semua shalat sunah yang dilakukan tanpa terikat waktu,
sebab tertentu, maupun jumlah rakaat tertentu. Sehingga boleh dilakukan kapanpun, di
manapun, dengan jumlah rakaat berapapun, selama tidak dilakukan di waktu atau tempat
yang terlarang untuk shalat (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27:154).

Hukum Shalat Sunah Mutlak

Shalat sunah mutlak, dianjurkan untuk banyak dilakukan setiap waktu, siang maupun
malam, selain waktu larangan untuk shalat. Waktu terlarang tersebut adalah:

Setelah subuh sampai matahari terbit.

Ketika matahari tepat berada di atas kepala, hingga condong sedikit kebarat.

Ketika matahari sudah menguning setelah asar, hingga matahari terbenam.

Allah berfirman,

َ‫ط َمعًا َو ِم َّما َرزَ ْقنَا ُه ْم يُ ْن ِفقُون‬


َ ‫اجعِ يَدْعُونَ َربَّ ُه ْم خ َْوفًا َو‬
ِ ‫ض‬َ ‫تَت َ َجافَى ُجنُوبُ ُه ْم َع ِن ْال َم‬

“Punggung-punggung mereka jauh dari tempat tidur, karena beribadah kepada Allah,
dengan penuh rasa takut dan rasa harap. Mereka juga menginfakkan sebagian dari rezeki
yang Aku berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Keutamaan Shalat Sunah Mutlak

Dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Aku pernah tidur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku layani beliau dengan
menyiapkan air wudhu beliau dan kebutuhan beliau. Setelah usai, beliau bersabda: “Mintalah
sesuatu.” Aku menjawab: ‘Aku ingin bisa bersama anda di surga.’ Beliau bersabda: “Yang
selain itu?” ‘Hanya itu.’ Kataku. Kemudian beliau bersabda,
ُّ ‫فَأ ِعنِِّي َعلَى نَ ْفسِكَ ِب َكثْ َرةِ ال‬
‫س ُجو ِد‬

“Jika demikian, bantulah aku untuk mewujudkan harapanmu dengan memperbanyak sujud.”
(HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan figur yang pandai berterima kasih
kepada orang lain. Sehingga ketika ada orang yang melayani beliau, beliau tidak ingin itu
menjadi utang budi bagi beliau. Sebagai wujud rasa terima kasih, beliau menawarkan kepada
Rabi’ah yang telah membantunya, agar meminta sesuatu sebagai upahnya. Namun sang
sahabat menginginkan agar upahnya berupa surga, bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Untuk mewujudkan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar
Rabi’ah memperbanyak sujud, dalam arti memperbanyak shalat sunah. Karena seseorang bisa
melakukan sujud sebanyak-banyaknya dengan rajin shalat sunah mutlak.

Dalam hadis yang lain, dari Ma’dan bin Abi Thalhah al-Ya’mari mengatakan,

Saya pernah bertemu Tsauban, budak yang dibebaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Tolong ceritakan kepadaku, amalan apa yang bisa
menjadi sebab Allah memasukkanku ke dalam surga?’ Dalam riwayat yang lain: ‘Sampaikan
kepadaku amalan yang paling dicintai Allah?’ Tsauban pun terdiam. Kemduian aku
mengulangi pertanyaanku tiga kali. Setelah itu beliau menjawab, ‘Aku pernah menanyakan
hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau menjawab:

ً‫َطيئَة‬ َّ ‫ َو َح‬،ً‫سجْ دَةً إِال َرفَعَكَ هللاُ بِ َها دَ َر َجة‬


ِ ‫ط َع ْنكَ بِ َها خ‬ ُّ ‫َعلَيْكَ بِ َكثْ َرةِ ال‬
َ ،ُ ‫ فَإِنَّكَ ال ت َ ْس ُجد‬،ِ‫س ُجود‬

“Perbanyaklah bersujud. Karena tidaklah kamu bersujud sekali, kecuali Allah akan
mengangkat satu derajat untukmu dan menghapus satu kesalahan darimu.” (HR. Muslim).

Tingkat keutamaan

Pada penjelasan sebelumnya, telah disebutkan bahwa shalat sunah ada 2: shalat sunah mutlak
dan shalat sunah muqayad. Semua shalat sunah ini, tingkatannya berbeda-beda. Berikut
rinciannya:

Shalat sunah muqayad, lebih utama dibandingkan shalat sunah mutlak. Meskipun shalat
sunah muqayad ini dilakukan di siang hari.

Shalat sunah mutlak yang dilakukan di malam hari, lebih utama dibandingkan shalat sunah
mutlak yang dilakukan di siang hari.

Sebagai contoh, orang yang mengerjakan shalat sunah mutlak antara maghrib dan isya, lebih
utama dibandingkan orang yang mengerjakan shalat sunah mutlak antara zuhur dan asar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ف اللَّ ْي ِل‬ َّ ‫صالةِ ال َم ْكتُو َب ِة ال‬


ِ ‫صالة ُ فِي َج ْو‬ َ ‫أ ْف‬
َّ ‫ض ُل ال‬
َّ ‫صالةِ بَ ْعدَ ال‬

“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat sunah yang dikerjakan di
malam hari.” (HR. Muslim)

Shalat sunah mutlak yang dikerjakan di sepertiga malam terakhir, lebih utama dibandingkan
shalat sunah mutlak di awal malam. Karena sepertiga malam terakhir adalah waktu mustajab
untuk berdoa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫ َو َم ْن‬،ُ‫يب لَه‬ َ ‫ َم ْن يَدْعُونِي فَأ َ ْست َِج‬:ُ‫ فَيَقُول‬،‫ث اللَّ ْي ِل ْاْل ِخ ُر‬
ُ ُ‫ ِحينَ يَ ْبقَى ثُل‬،‫اء الدُّ ْنيَا‬ َّ ‫اركَ َوت َ َعالَى ُك َّل لَ ْيلَ ٍة ِإلَى ال‬
ِ ‫س َم‬ َ َ‫يَ ْن ِز ُل َربُّنَا تَب‬
َُ‫ َو َم ْن يَ ْستَ ْغ ِف ُرنِي فَأ َ ْغ ِف َر له‬،ُ‫ْطيَه‬ ُ َ ُ َ
ِ ‫يَ ْسألنِي فأع‬

“Tuhan kita Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, turun setiap malam ke langit dunia, ketika
tersisa sepertiga malam yang terakhir. Kemudian Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa
kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan siapa
yang memohon ampun kepada-Ku akan aku ampuni.” (HR. Muslim)

Demikian yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita imani
sebagaimana yang beliau sampaikan. Allah turun ke langit dunia, dengan cara yang sesuai
kebesaran dan keagungannya, dan tidak boleh kita khayalkan.

Shalat sunah yang dilakukan di rumah, lebih utama dibandingkan shalat sunah yang
dikerjakan di masjid.

َ‫صالَة ُ ال َم ْر ِء فِي بَ ْيتِ ِه ِإ َّال ال َم ْكتُوبَة‬


َ ِ‫صالَة‬ َ ‫ِإ َّن أ َ ْف‬
َّ ‫ض َل ال‬

“Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat yang dilakukan seseorang di
rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Shalat Sunah Mutlak

Shalat sunah mutlak tata caranya sama dengan shalat biasa. Tidak ada bacaan khusus,
maupun doa khusus. Sama persis seperti shalat pada umumnya.

Untuk bilangan rakaatnya, bisa dikerjakan dua rakaat salam – dua rakaat salam. Bisa diulang-
ulang dengan jumlah yang tidak terbatas.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Bagaimana cara shalat di malam hari?’ Beliau
menjawab:

َ‫صلَّيْت‬
َ ْ‫ تُوتِ ُر لَكَ َما قَد‬،ٍ‫احدَة‬ ُّ ‫ فَإذَا َخشِيتَ ال‬،‫َمثْنَى َمثْنَى‬
ِ ‫ص ْب َح فَ ْأوتِ ْر ِب َو‬

“Dua rakaat-dua rakaat, dan jika kamu khawatir nabrak subuh, kerjakanlah witir satu
rakaat, sebagai pengganjil untuk semua shalat yang telah anda kerjakan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

Untuk shalat sunah mutlak yang dikerjakan siang hari, bisa juga dikerjakan empat rakaat
dengan salam sekali, tanpa duduk tasyahud awal.

Allahu a’lam