Anda di halaman 1dari 4

E.

Hubungan Terbalik Riba dan Sedekah


Hubungan yang terjadi antara riba dan sedekah adalah berbanding
terbalik. Hal ini karena jika seseorang memakan riba, maka orang tidak
infaq/zakat/sedekah (final spending (C + Infaq) kecil dan saving besar karena
pendapatan riba), dan jika orang tidak memakan riba; orang tidak bekerja;
dan harus menegeliarkan infaq/zakat/sedekah dari hartanya, maka final
spending (C + infaq) besar dan saving kecil karena tidak ada pendapatan dari
riba.
Ada suatu keadaan dimana, orang tidak mau bekerja atau tidak
mempunyai pendapatan, adanya praktek riba yang sudah mentradisi di
masyarakat, dan wajibnya mengeluarkan zakat. Dalam keadaan ini sumber
pendapatan masyarakat hanyalah dari riba dan tidak ada sumber pendapatan
yang lain. Dari keadaan ini akan digambarkan tiga kombinasi unility
function (dalam hal ini) disebut indifference curve atau IC dengan budged
line.1
Kurva Indeferen (b)

Kasus 1
Buged line menunjukkan keadaan dimana:
1. Orang yang tidak memakan riba berarti tambahan pendapatannya nihil.
Dapat ditulis: Yt = Yt+1riba dimana riba = 0, sehingga Yt+1 = Yt

1
Adiwarman A Karim Ekonomi Mikro Islami, edisi kelima, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2015), h. 117.
2. Orang yang tidak mengeluarkan zakat. Bila telah menerima pendapatan
dan mengeluarkan zakat, maka tidak mengeluarkan zakat kembali pada
periode pertama. Yt adalah pendapatan setelah zakat.
Titik optimal yang terjadi pada persinggungan budgeg line dan
indifference curve yaitu pada titik R, dan tingkat konsumsi dan infaknya
adalah FS.
Kasus 2
Budged line menunjukkan keadaan dimana:
1. Orang memekan riba berarti tambahan pendapatannya positif.
Dapat ditulis dengan Yt = Yt + riba, dimana riba > 0, sehingga Yt+1 > Yt
2. Orang tidak mengeluarkan zakat, dalam hal ini kenaikan zakat hartanya
akibat riba.2
Titik optimal terjadi pada persinggungan budget line dengan indifference
curve pada titik R’, dimana tingkat kosumsi dan infaknya adalah FS’.
Dalam teori konsumsi Islam, konsumsi dua periode, pendapatan
diasumsikan hanya muncul pada periode pertama saja, dan pendpatan pada
periode kedua dianggap tidak ada.
Yt = Ct + St dimana Ct < Yt
Sehingga pendapatan pada periode kedua hanya diperoleh dari saving
periode pertama yaitu sisa pendapatan setelah dikurang dengan konsumsi.
Pendapatan pada periode kedua tidak ada; pendapatan hanya diperoleh
dari saving saja; dan seseorang tersebut tidak mau memakan riba, jika
pendapatan tersebut dipakai untuk konsumsi, dimana dalam konsep Islam
konsumsi adalah C + Infak (final spending), maka secara otomatis saving
yang diperoleh di periode kedua akan berkurang. Hal ini karena pendapatan
yang hanya diperoleh dari saving periode pertama teralokasikan untuk
konsumsi yang di dalamnya terdapat infaq/zakat/sedekah. Sehingga sisa
pendapatan yang digunakan untuk saving akan menurun.
Pendapatan pada periode kedua diperoleh dari saving hasil periode
pertama, kemudian orang mau memakan riba, maka pendapatan pada periode
kedua akan positif (Yt+1 > Y1) karena pendapatan juga diperoleh dari riba.

2
Ibid.
Orang yang memiliki harta dari memakan riba tidak mengeluarkan
infaq/zakat/sedekah atas hartanya. Sehingga final spending yang dikeluarkan
oleh orang tersebut akan menurun. Dengan berkurangnya pendapatan untuk
final spending, berarti pendapatan yang akan dialokasikan untuk saving
periode kedua akan naik.3
Semakin besar riba, semakin kecil infak, semakin kecil riba, semakin
besar infak. Dalam suatu masyarakat di mana riba telah begitu merajalela,
maka tingkat infaknya akan kecil bahkan kadangkala orang berusaha
menghindar untuk membayar zakat yang memang merupakan kewajibannya.
Sebaliknya bila riba dihapuskan dari perekonomian, maka infak akan tumbuh
subur. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 276 sebagai berikut:
  
:‫ )البق رة‬...   
(276
Artinya: “Allah menghapuskan riba dan menyuburkan sedekah …”
(QS. Al-Baqarah/2: 276).
Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa seseorang yang
memakan riba tidak mengeluarkan infaq/zakat/sedekah. Sehingga pendapatan
akan bertambah karena riba, dan final spendingnya akan menurun karena
tidak mengeluarkan infaq/zakat/sedekah. Pendapatan yang besar dan final
spending yang kecil akan mengakibatkan saving pada periode kedua pun
besar karena riba. Sebaliknya, seseorang tidak mau memakan riba; tidak mau
bekerja mencari pendapatan; maka pendapatan periode kedua akan nihil dan
hanya mempunyai pendapatan yang diperoleh dari saving periode pertama.
Selain itu, orang tersebut harus mengeluarkan infaq/zakat/sedekah atas
hartanya, maka final spending pun menjadi naik/besar. Pendapatan yang kecil
dan pengalokasian pendpatan untuk final spending yang besar mengakibatkan
saving pada periode kedua menjadi kecil karena tidak adanya riba.

F. Hubungan Terbalik Saving Ratio dengan Final Spending

3
Tia Marlela, “Hubungan Terbalik Riba dan Sedekah” dalam http://tiamarlela.blogspot.co.id/
2015/12/hubungan-terbalik-riba-dan-sedekah.html, diakses tanggal 13 Maret 2018.
Hubungan antara saving ratio dan final spending dapat dilihat dalam
dua periode, yaitu periode pertama dan kedua.
FStotal = + FS(t=2)
= (Y1-S1) + (S1-zS1)
= (Y1-sY1) + (sY1-zsY1)
= Y1 (1-zs)
Dari persamaan ini, terlihat ‘zs’ bertanda negatif, yang menunjukkan
adanya hubungan terbalik antara saving ratio dan final spending. Sedangkan
zakat ‘z’ besarnya tetap. Semakin besar ‘-s’ semakin kecil FS, begitupun
sebaliknya semakin kecil ‘-s’ semakin besar FS. Secara grafis dapat
digambarkan kurva Ys1, Ys2, dan Ys3. Kemiringan atau slope yaitu pada –{(1-
z)/1}.
Final Spending tahun kedua

Dalam Islam tidak memberikan intensif terhadap


saving yang tidak diinvestasikan, namun dalam Islam memberikan intensif
untuk melakukan investasi. Dalam Islam dilarang adanya penimbunan harta. 4
Dengan adanya investasi dapat muncul peluang untuk untung atau rugi.

4
Karim Ekonomi Mikro …, h. 123.