Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN KEGIATAN DOKTER INTERNSIP

PUSKESMAS SALOBULO KABUPATEN WAJO


PERIODE FEBRUARI 2017 – FEBRUARI 2018

F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR


“PENANGANAN HOLISTIK PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS”

A. Latar Belakang

Menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, diabetes melitus merupakan


suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada
diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, dan disfungsi beberapa organ
tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Diabetes melitus adalah
suatu penyakit metabolik yang ditandai adanya hiperglikemia yang disebabkan karena defek
sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya.
Di Indonesia, prevalensi DM mencapai 15,9-32,73%, dimana diperkirakan sekitar 5
juta lebih penduduk Indonesia menderita DM. Di masa mendatang, diantara penyakit
degeneratif diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat
jumlahnya di masa mendatang. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah
pengidap diabetes di atas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu
25 tahun kemudian, pada tahun 2025 jumlah tersebut akan membengkak menjadi 300 juta
orang.
Dalam jangka waktu 30 tahun, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan naik
sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien DM yang jauh lebih besar yaitu 86-138%
yang disebabkan oleh karena :
a) faktor demografi
b) gaya hidup yang kebarat-baratan
c) berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi
d) meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes semakin panjang
Penanganan yang terbaik dari penyakit DM adalah pencegahan. Pencegahan terdiri
dari pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer yaitu mencegah
terjadinya penyakit DM dengan gaya hidup yang sehat dan aktifitas fisik secara rutin.
Pencegahan sekunder adalah suatu upaya skrining kesehatan sehingga dapat dilakukan
penegakan diagnosis sejak dini dan pemberian terapi yang tepat dan adekuat. Mengingat
penyakit DM adalah penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi dan kemungkinan
kecacatan yang besar, maka juga perlu dilakukan pencegahan tersier yaitu berupa
pencegahan terjadinya kecacatan dan upaya rehabilitasi guna mengembalikan kondisi fisik/
medis, mental, dan sosial.

B. Permasalahan di Masyarakat
Pada tanggal 16 November 2017, Ny. BS (49 tahun), datang berobat ke Puskesmas
Salobulo dengan keluhan sering kencing pada malam hari dan badan terasa cepat letih. Ny.
BS juga mengeluhkan kesemutan pada jari-jari kaki dan tangan. Keluhan ini dirasakan
sejak 3 bulan terakhir. Tiga bulan yang lalu pasien pernah memeriksakan diri ke dokter
praktek umum dengan keluhan serupa disertai dengan rasa haus terus menerus dan nafsu
makan yang meningkat namun berat badan menurun. Sejak saat itu pasien mengonsumsi
obat DM yang yang diberikan oleh dokter (Glibenklamid) namun diminum tidak secara
teratur. Pasien menyangkal adanya riwayat keluarga DM pada orangtua pasien.
Pada saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah didapatkan hasil 120/ 90, gula darah
sewaktu 325 mg/dl. Dengan adanya trias hiperglikemia (poliuria, polidipsia, dan polifagia)
dan pada pemeriksaan gula darah sewaktu >200mg/dl, maka Tn S didiagnosis dengan
diabetes mellitus.
Pengetahuan pasien mengenai penyakit yang dideritanya masih rendah. Oleh karena
itu, selain pemberian terapi obat-obatan perlu dilakukan tatalaksana non medikamentosa
berupa edukasi mengenai penyakit, dan yang paling utama adalah membiasakan gaya hidup
sehat.

C. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang apabila tidak terkontrol
akan menyebabkan munculnya komplikasi yang memperburuk prognosis.
Intervensi medikamentosa dan non medikamentosa diperlukan bagi pasien diabetes
mellitus dalam kasus ini pada Ny. BS Intervensi tersebut merupakan tatalaksana kuratif
sekaligus preventif untuk mencegah timbulnya komplikasi akibat diabetes mellitus yang
tidak terkontrol. Selain itu pasien juga perlu dikonsultasikan dengan bagian gizi Puskesmas
Salobulo untuk edukasi mengenai menu diet pada penderita DM.
Hal-hal yang perlu diketahui pasien mengenai penyakit DM adalah antara lain :
1. Apa penyebab dan faktor risiko penyakit DM
2. Penyakit DM tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol dengan gaya hidup
sehat dan minum obat teratur
3. Pengaturan makanan (Diet)
4. Olahraga yang baik bagi penderita DM
5. Komplikasi pada penyakit DM
6. Perawatan diri dan higien tubuh.

D. Pelaksanaan
Setelah terdiagnosis dengan diabetes mellitus, Ny. BS memerlukan tatalaksana
medikamentosa dan nonmedikamentosa untuk mengontrol penyakitnya tersebut.
Tatalaksana medikamentosa yang kita berikan adalah:
1. Metformin 500 mg 3x1 pc
2. Glibenclamid 5 mg 1x1 (1-0-0) ac
3. Vit B.Com 1x1
Tatalaksana non medikamentosa juga sangat diperlukan, di antaranya:
1. Pasien diminta untuk secara rutin mengontrolkan gula darah maupun tekanan darahnya.
Untuk jadwal kontrol pertama dilakukan setelah obat dari kunjungan pertama habis.
Jadwal kontrol selanjutnya menyesuaikan hasil pemeriksaan saat kontrol pertama.
2. Pasien diminta untuk menjaga pola hidup maupun pola makan. Olahraga ringan minimal
2 kali dalam satu minggu. Makan sedikit-sedikit tapi sering lebih baik daripada makan
banyak dalam sekali tempo. Konsumsi makanan berkalori dan kolesterol tinggi
sebaiknya dihindari.
E. Monitoring dan Evaluasi
Untuk monitoring dan evaluasi, pasien diminta kembali mengontrolkan tekanan
darah dan gula darahnya secara rutin ke fasilitas kesehatan. Hal ini diperlukan supaya tidak
terjadi overdose ataupun lowerdose, sehingga tujuan pengobatan tercapai, yaitu untuk
mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi dari diabetes mellitus.

Salobulo, Februari 2018

Peserta Pendamping,

dr. A. M. Irsyad Sulkifli MB, S.Ked dr. Hj. Maskura Syam, M.Kes

Anda mungkin juga menyukai