Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

No. ID dan Nama Peserta: dr. Andi M. Irsyad Sulkifli MB, S.Ked
No. ID dan Nama Wahana: RSUD Lamaddukelleng, Kabupaten Wajo
Topik: Konjungtivitis Alergi
Tanggal (Kasus): 7 Agustus 2017
Nama Pasien: Nn. L No. RM: 17120583
Tanggal Presentasi:2017 Pendamping: dr. Andi Sukmawati
Pembimbing : dr. Darnisah, Sp.M
Tempat Presentasi: RSUD Lamaddukelleng, Kabupaten Wajo
Obyek Presentasi:
 Keilmuan  Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □ Anak □ Remaja Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi:
Gatal pada kedua mata yang dialami sejak ± 3 bulan yang lalu, mata terasa gatal terutama pada
pagi hari saat pasien baru bangun tidur. Keluhan ini disertai dengan mata berair dan mata berwarna
kemerahan. Pasien juga mengeluhkan bahwa sering adanya kotoran pada kedua mata berwarna
putih tetapi tidak banyak. Nyeri pada mata tidak ada, penglihatan silau tidak ada. Menurut pasien,
dia memakai obat tetes mata polydex yang digunakan ketika pasien merasa gatal pada matanya.
Riwayat trauma pada mata tidak ada. Riwayat alergi tidak ada, Riwayat DM tidak ada, riwayat
hipertensi tidak ada. riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada.
Riwayat oftalmologi :
Riwayat memakai kacamata sejak 5 tahun yang lalu dengan lensa spheris – 5,00 D ODS
Riwayat menggunakan lensa kontak sejak 4 bulan terakhir dengan lensa spheris – 6,00 D ODS.
Riwayat keluarga menggunakan kacamata (+)
Bahan bahasan: □ Tinjauan Pustaka □ Riset  Kasus □ Audit
Cara □ Diskusi  Presentasi dan diskusi □ E-mail □ Pos
Membahas:
Data pasien: Nama: Nn. L No. registrasi: 17120583
Nama Klinik: RSUD Telp: - Terdaftar Sejak:7/08/2017
Lamaddukelleng
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Gatal pada kedua mata yang dialami sejak ± 3 bulan yang lalu, mata terasa gatal terutama pada
pagi hari saat pasien baru bangun tidur. Keluhan ini disertai dengan mata berair dan mata berwarna
kemerahan. Pasien juga mengeluhkan bahwa sering adanya kotoran pada kedua mata berwarna
putih tetapi tidak banyak. Nyeri pada mata tidak ada, penglihatan silau tidak ada. Menurut pasien,
dia memakai obat tetes mata polydex yang digunakan ketika pasien merasa gatal pada matanya.
Riwayat trauma pada mata tidak ada. Riwayat alergi tidak ada, Riwayat DM tidak ada, riwayat
hipertensi tidak ada. riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada.
2. Riwayat Pengobatan:Tidak pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya
3. Riwayat kesehatan/Penyakit: tidak pernah masuk rumah sakit sebeumnya
4. Riwayat keluarga : Tidak ada riwayat penyakit yang serupa dalam keluarga
5. Riwayat Ophtalmologi :
Riwayat memakai kacamata sejak 5 tahun yang lalu dengan lensa spheris – 5,00 D ODS
Riwayat menggunakan lensa kontak sejak 4 bulan terakhir dengan lensa spheris – 6,00 D ODS.
6. Lainnya : -
Daftar Pustaka:
1. Ilyas, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia. Jakarta. 2013
2. Khurana AK. Diseases of the conjunctiva. Dalam : Khurana AK, editor. Comprehensive
Ophtalmology Fourth Edition. New Delhi: New Age; h51-88.
3. Putz, R. & Pabst R. Sobotta. Jilid 1. Edisi 21. Jakarta: EGC, 2000. hal 356
4. Lang, G.K. Conjunctiva. Dalam : Ophtalmology : A short Textbook. Newyork : Georg Thieme
stuttgart; 2000. p 67-81
5. Vaughan, Daniel G., Asbury Taylor, Riordan Eva-Paul. Ofthalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta:
EGC; 2009. h. 97-114
6. Ventocillia M, Roy H. Allergic Conjunctivitis. 2012. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/1191467-overview#a0104. Avaleibel at 17 mei 2016
7. Manzourni, B. Flynn, T. Ono, SJ. Allergic Eye Disease. In : Cornea And External Eye Disease.
Editor : Reinhard T, Lartin F. German : Springer ; 2006
8. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section 8. San Fransisco:
MD Association, 2014-2015. h 171-180.
9. Bowling B. Conjungtiva. In : Kanski’s Clinical Ophthalmology. 8 Edition. China : Elsevier ;
2016. P. 62-4
10. Pedoman Diagnosis dan Terapi, SMF Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, 2006, Rumah Sakit Umum
Dokter Soetomo, Surabaya.
Rangkuman hasil pembelajaran portofolio
1. Subjektif:
Gatal pada kedua mata yang dialami sejak ± 3 bulan yang lalu, mata terasa gatal terutama pada
pagi hari saat pasien baru bangun tidur. Keluhan ini disertai dengan mata berair dan mata berwarna
kemerahan. Pasien juga mengeluhkan bahwa sering adanya kotoran pada kedua mata berwarna
putih tetapi tidak banyak. Nyeri pada mata tidak ada, penglihatan silau tidak ada. Menurut pasien,
dia memakai obat tetes mata polydex yang digunakan ketika pasien merasa gatal pada matanya.
Riwayat trauma pada mata tidak ada. Riwayat alergi tidak ada, Riwayat DM tidak ada, riwayat
hipertensi tidak ada. riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada.
Riwayat oftalmologi :
Riwayat memakai kacamata sejak 5 tahun yang lalu dengan lensa spheris – 5,00 D ODS
Riwayat menggunakan lensa kontak sejak 4 bulan terakhir dengan lensa spheris – 6,00 D ODS.
Riwayat keluarga menggunakan kacamata (+)
2. Objektif:
PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
A. Inspeksi

OD OS
Palpebra Normal Normal

Silia Normal Normal

Apparatus lakrimasi (+) lakrimasi (+)


Lakrimalis

Konjungtiva Hiperemis (+) tampak Hiperemis (+) tampak


papil pada konjungtiva papil pada konjungtiva
palpebra inferior palpebra inferior
Mekanisme Normal Ke segala arah Normal Ke segala arah
Muskular

Kornea Jernih Jernih

Bilik Mata Kesan normal Kesan normal


Depan

Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)

Pupil Bulat, sentral, RC (+) Bulat, sentral, RC (+)


Isokor Isokor

Lensa Jernih Jernih

FOTO KLINIS PASIEN:


B. Palpasi
OD OS
Tekanan intraokuler Tn Tn
(palpasi)
Nyeri Tekan (-) (-)

Massa tumor (-) (-)

Glandula Pre-Aurikuler Tidak ada Tidak ada


pembesaran pembesaran

C. Pemeriksaan visus
OD VISUS OS

3/60 Visus jauh tanpa koreksi 3/60

S – 6,00 D Koreksi S – 6,00 D

1,0 Visus jauh dengan koreksi terbaik 1,0

- Visus dekat -

- Koreksi -

- Visus dekat dengan koreksi -

D. Pemeriksaan Slit lamp


SLOD : Palpebra hiperemis tidak ada, edema tidak ada. Konjungtiva hiperemis ada, tampak papil
pada konjungtiva palpebra inferior. Kornea jernih BMD kesan normal. Iris coklat, kripte ada.
Pupil bulat, sentral, refleks cahaya ada. Lensa jernih.
SLOS : Palpebra hiperemis tidak ada, edema tidak ada. Konjungtiva hiperemis ada, tampak papil
pada konjungtiva palpebra inferior. Kornea jernih BMD kesan normal. Iris coklat, kripte ada.
Pupil bulat, sentral, refleks cahaya ada. Lensa jernih.

E. Funduskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan
3. Diagnosis
ODS konjungtivitis alergi
ODS myopia gravior

4. Terapi
Vernacel ED 4 dd 1 gtt ODS
C.lyteers ED 4 dd 1 gtt ODS
Cetirizine tab 1 dd 1
Edukasi : hindari faktor pencetus alergi dan anjurkan untuk melakukan pemeriksaan skin prick
test.

5. Prognosis
Quad Ad Vitam : Dubia et bonam
Quad Ad Sanation : Dubia et bonam
Quad Ad Visam : Dubia
Quad Ad Cosmeticam : Dubia et bonam
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau selaput lendir pada mata dan bagian dalam

kelopak mata atau palpebra. Seperti gejala-gejala peradangan akut pada umumnya, yaitu calor, rubor,

dolor, tumor, dan fungtio laesa, peradangan pada konjungtiva juga menyebabkan perubahan warna

kemerahan pada mata, nyeri, bengkak, serta gangguan fungsi normal konjungtiva. Peradangan pada

konjungtiva ini menimbulkan gejala yang cukup bervariasi mulai dari hiperemi dari konjungtiva bulbi

(injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata pada pagi hari, pseudoptosis

akibat pembengkakan dari kelopak mata, hipertrofi papil dan mata terasa seperti terdapat benda asing.

Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan alergi.1

Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap

noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasanya dan reaksi lambat sesudah beberapa hari

kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri dan toksik. Di negara-negara maju, 20-30% populasi

mempunyai riwayat alergi, dan 50% individual tersebut mengidap konjungtivitis alergi. Konjungtivitis

alergi bisa berlangsung dari peradangan ringan seperti konjungtivitis alergi musiman atau bentuk kronik

yang berat seperti keratokonjungtivitis alergi.1,2

B. Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan

posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris).

Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan

epitel kornea limbus. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin

bersifat membasahi bola mata terutama kornea.2


Gambar 1. Anatomi Konjungtiva dan Palpebra dikutip dari kepustakaan 3

Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:2

1. Konjungtiva palpebralis : menutupi permukaan posterior dari palpebra dan dapat dibagi menjadi

marginal, tarsal, dan orbital konjungtiva.

a. Marginal konjungtiva memanjang dari tepi kelopak mata sampai sekitar 2 mm di belakang

kelopak mata menuju lengkung dangkal, sulkus subtarsalis. Sesungguhnya merupakan zona

transisi antara kulit dan konjungtiva sesungguhnya.

b. Tarsal konjungtiva bersifat tipis, transparan, dan sangat vaskuler. Menempel ketat pada

seluruh tarsal plate pada kelopak mata atas. Pada kelopak mata bawah, hanya menempel

setengah lebar tarsus. Kelenjar tarsal terlihat lewat struktur ini sebagai garis kuning.

c. Orbital konjungtiva berada diantara tarsal plate dan forniks.

2. Konjungtiva bulbaris : menutupi sebagian permukaan anterior bola mata. Terpisah dari sklera

anterior oleh jaringan episklera dan kapsula Tenon. Tepian sepanjang 3 mm dari konjungtiva
bulbar disekitar kornea disebut dengan konjungtiva limbal. Pada area limbus, konjungtiva, kapsula

Tenon, dan jaringan episklera bergabung menjadi jaringan padat yang terikat secara kuat pada

pertemuan korneosklera di bawahnya. Pada limbus, epitel konjungtiva menjadi berlanjut seperti

yang ada pada kornea.

3. Forniks : bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan bola

mata. Forniks konjungtiva berganbung dengan konjungtiva bulbar dan konjungtiva palpebra. Dapat

dibagi menjadi forniks superior, inferior, lateral, dan medial forniks.

Gambar 2. Struktur anatomi dari konjungtiva dikutip dari perpustakaan 4

Secara histologis, konjungtiva terdiri atas beberapa lapisan :2

1. Lapisan epitel konjungtiva, terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat,

superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karankula, dan di dekat

persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.
2. Sel-sel epitel supercial, mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus.

Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara

merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial

dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.

3. Stroma konjungtiva, dibagi menjadi :

a. Lapisan adenoid (superficial)

Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung

struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang

sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis

inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi

folikuler.

b. Lapisan fibrosa (profundus)

Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal

ini menjelaskan gambaran reksi papiler pada radang konjungitiva. Lapisan fibrosa tersusun

longgar pada bola mata.

Konjungtiva mempunyai dua macam kelenjar, yaitu:2

1. Kelenjar sekretori musin. Mereka adalah sel goblet (kelenjar uniseluler yang terletak di dalam

epitelium), kripte dari Henle (ada pada tarsal konjungtiva) dan kelenjar Manz (pada konjungtiva

limbal). Kelenjar-kelenjar ini menseksresi mukus yang mana penting untuk membasahi kornea dan

konjungtiva.

2. Kelenjar lakrimalis aksesorius, terdiri dari:

a. Kelenjar Krause (terletak pada jaringan ikat konjungtiva di forniks, sekitar 42mm pada forniks

atas dan 8mm di forniks bawah).


b. Kelenjar Wolfring (terletak sepanjang batas atas tarsus superios dan sepanjang batas bawah

dari inferior tarsus).

Suplai arterial konjungtiva

Konjungtiva palpebra dan forniks disuplai oleh cabang dari arcade arteri periferal dan merginal

kelopak mata. Konjungtiva bulbar disuplai oleh dua arteri, yaitu: arteri konjungtiva posterior yang

merupakan cabang dari arcade arteri kelopak mata dan arteri konjungtiva anterior yang merupakan

cabang dari arteri siliaris anterior. Cabang terminal dari arteri konjungtiva posterior beranastomose

dengan arteri konjungtiva anterior untuk membentuk pleksus perikornea.2

KONJUNGTIVITIS ALERGI

1. Definisi

Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan

bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah

satunya adalah mata merah. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair

sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh

virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa.1,5

Salah satu bentuk konjungtivitis adalah konjungtivitis alergi. Konjungtivitis alergi adalah

peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi atau hipersensitivitas tipe humoral ataupun

sellular. Konjungtiva sepuluh kali lebih sensitif terhadap alergen dibandingkan dengan kulit.5

2. Epidemiologi

Konjungtivitis alergi dijumpai paling sering di daerah dengan alergen musiman yang tinggi.

Keratokonjungtivitis vernal paling sering di daerah tropis dan panas seperti daerah mediteranian, Timur

Tengah, dan Afrika. Keratokonjungtivitis vernal lebih sering dijumpai pada laki-laki dibandingkan
perempuan, terutamanya usia muda (4-20 tahun). Keratokonjungtivitis atopik umumnya lebih banyak

pada dewasa muda.2,6

3. Etiologi

Konjungtivitis alergi dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti:5

a. Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang

b. Iritasi oleh angin, debu, asap, dan polusi udara

c. Pemakaian lensa kontak terutama dalam jangka panjang.

Konjungtivitis vernal terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata,

sering terjadi pada orang dengan riwayat keluarga yang alergi. Mengenai pasien usia muda 3-25 tahun

dan kedua jenis kelamin sama. Biasanya pada laki-laki mulai pada usia dibawah 10 tahun. Penderita

konjungtivitis vernal sering menunjukkan gejala-gejala alergi terhadap serbuk sari rumput-rumputan.1

4. Patofisiologi

Normalnya konjungtiva mengandung imunoglobulin dan beberapa leukosit polimorfonuklear

(neutrofil), limfosit, makrofag, sel plasma dan sel mast di dalam jaringan subepitelial. Sebagai tambahan,

stroma konjungtiva memiliki Antigent Presenting-Cell (APC) dendritik tersendiri. Epitel memiliki

subpopulasi dari APC dendritik yang disebut Langerhans Cell, yang mampu menangkap antigen dan

mensensitisasikan antigen ke Limfosit T yang belum tersensititsasi. Oleh karena itu, sel dendritik

berperan sebagai sel utama dalam sistem imun dari permukaan mata.7

Pada konjungtivitis terjadi reaksi hipersensitivitas tipe 1. Paparan pertama antigen dari alergen

pada konjuntiva akan meransang terbentuknya IgE yang spesifik. IgE ini kemudian akan melekatkan diri

pada sel mast, basofil dan kemungkinan juga makrofag serta eosinofil pada individu yang alergi. Pada
paparan berikutnya antigen akan berikatan dengan segmen fraksi antibodi (Fab) IgE yang telah tertanam

di dinding sel mast dan sel alergi lainnya, mengakibatkan timbulnya:7

- Ikatan antigen pada segmen Fab mengiduksi perubahan fragmen komplemen yang tertanam pada

membran sel mast dal sel lainnya.

- Perubahan segmen fraksi komplemen menstimulasi alfa reseptor membran plasma dan

menyebabkan penurunan level cAMP intra sel.

- Perubahan cAMP menyebkan degranulasi pada sel mast dan melepaskan mediator inflamasi primer

dan sekunder.

- Lepasnya mediator inflamasi selanjutnya menyebabkan timbulnya gejalan alergi.

Mediator primer (immidiate mediator) terdiri atas histamin, serotonin heparin, eosinophil

chemotactic factor (RCF-A) dan netrofil chemotactic factor of anaphylaxis (NCF-A). Mediator ini segera

dilepaskan pada reaksi alergi karena selalu berada dalam jumlah banyak pada granul sel mast dan

basofil.7

5. Jenis – jenis konjungtivitis alergi

Jenis konjungtivitis Alergi sebagai berikut:

a. Konjungtivitis Vernal

Gejala yang muncul biasanya gatal, blefarospasme, fotopobia, pandangan kabur dan sekret

mukoid. Ada 2 bentuk konjutivitis vernal, yaitu tipe palpebral dan limbal.1,8

Tipe palpebral biasanya muncul pada konjuntiva palpebral, dimana muncul hipertrofi papil difus

(cabble stone) biasanya terdapat pada palpebra superior dibanding inferior. Juga muncul hiperemis

konjungtiva bulbar dan kemosis.1,8


Tipe limbal biasanya muncul pada pasien Afrika dan Asia dan meningkat pada iklim yang panas.

Limbus menjadi tebal, berbentuk gelatin, dengan deposit opak serta injeksi konjungtiva. Akan terlihat

bintik Horner-Trantas yang menunjukkan makroagregat dari degenerasi eosinofil dan sel epitel.1,8

Gambar 3. Konjungtivitis Vernal Palpebral dikutip dari kepustakaan 4

Gambar 4. Konjungtivitis Vernal Limbal dikutip dari kepustakaan 8

b. Konjungtivitis hay fever (konjungtivitis demam jerami/konjungtivitis simpleks)

Konjungtiva adalah permukaan mukosa yang sama dengan mukosa ena itu, alergen yang bisa

mencetuskan rhinitis allergi juga dapat menyebabkan konjuntivitis alergi. Allergen airborne seperti
serbuk sari, rumput, bulu hewan dan lain-lain dapat memprovokasi terjadinya gejala pada serangan akut

konjuntivitis alergi. 2

Perbedaan konjungtivitis alergi seisonal dan perennial adalah waktu timbulnya gejala. Gejala pada

individu dengan konjungtivitis alergi seasonal timbul pada waktu tertentu seperti pada musim bunga di

mana serbuk sari merupakan alergen utama. Pada musim panas, alergen yang dominan adalah rumput

dan pada musim dingin tidak ada gejala karena menurunnya tranmisi allergen airborne. Sedangkan

individu dengan konjungtivitis alergi perennial akan menunjukkan gejala sepanjang tahun. Alergen

utama yang berperan adalah debu rumah, asap rokok, dan bulu hewan.2

Gambaran patologi pada konjunktivitis hay fever berupa:2

1) Respon vascular dimana terjadi vasodilatasi dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah yang

menyebabkan terjadinya eksudasi.

2) Respon seluler berupa infiltrasi konjungtiva dan eksudasi eosinofil, sel plasma dan mediator lain.

3) Respon konjungtiva berupa pembengkakan konjungtiva, diikuti dengan meningkatnya

pembentukan jaringan ikat.

c. Konjungtivitis atopi

Konjungtivitis atopi sering diderita oleh pasien dermatitis atopi. Tanda dan gejalanya berupa

sensasi terbakar, kotoran mata berlendir, merah dan fotofobia. Terdapat papil halus tetapi papil raksasa

tidak ditemukan seperti pada konjungtivitis vernal. Kerokan konjungtiva menampakan eosinofil meski

tidak sebanyak terlihat pada keratokonjungtivitis vernal.2


Gambar 5. Konjungtuvitis Atopi dengan papil kecil, oedem dan fibrosis subepitelial dikutip dari
kepustakaan 8
d. Giant papilary konjungtivitis

Giant papilary konjungtivitis dengan tanda dan gejala mirip dengan konjungtivitis vernal dapat

timbul pada pasien yang menggunakan mata buatan dari plastik atau lensa kontak terutama jika

memakainya melewati waktunya. Konjungtivitis Giant Papillarry diperantarai reaksi imun yang

mengenai konjungtiva tarsalis superior. Konjungtivitis ini mungkin merupakan reaksi hipersensitivitas

tipe lambat kaya basofil dan mungkin dimediasi oleh IgE. Keluhan berupa mata gatal dan berair. Pada

pemeriksaan fisik ditemukan hipertrofi papil. Pada awal penyakit, papilnya kecil (sekitar 0,3 mm

diameter). Bila iritasi terus berlangsung, papil kecil akan menjadi besar (giant) yaitu sekitar 1 mm

diameter.2

Gambar 6. Giant Papillary Conjungtivitis dikutip dari kepustakaan 9


e. Konjungtivitis flikten

Konjungtivitis flikten disebabkan oleh karena alergi (hipersensitivitas tipe IV) terhadap bakteri

atau antigen tertentu, seperti tuberkuloprotein pada penyakit tuberkolosis, infeksi bakteri (stafilokok,

pneumokok, streptokok, dan Koch Weeks), virus (herpes simplek), toksin dari moluskum kontagiosum

yang terdapat pada margo palpebra, jamur (kandida albikan), cacing (askaris, tripanosomiasis),

limfogranuloma venereal, leismaniasis, infeksi parasit dan infeksi di tempat lain dalam tubuh.

Konjungtivitis flikten biassanya dimulai dengan munculnya lesi kecil berdiameter 1-3 mm yang keras,

merah, menimbul dan dikelilingi zona hiperemis. Di limbus sering berbentuk segitiga dengan apeks

mengarah kornea.1

H. Gejala Klinik

Gejala-gejala dari konjungtivitis alergika secara umum antara lain:

1. Gatal.

2. Hiperemia.

Mata yang memerah adalah tanda tipikal dari konjungtivitis. Injeksi konjungtival diakibatkan

karena meningkatnya pengisian pembuluh darah konjungtival, yang muncul sebagian besar di fornik dan

menghilang dalam perjalanannya menuju ke limbus. Hiperemia tampak pada semua bentuk

konjungtivitis. Tetapi, penampakan/visibilitas dari pembuluh darah yang hiperemia, lokasi mereka, dan

ukurannya merupakan kriteria penting untuk diferensial diagnosa. Seseorang juga dapat membedakan

konjungtivitis dari kelainan lain seperti skleritis atau keratitis berdasar pada injeksinya.4
Gambar 7. Bentuk-bentuk injeksi pada konjungtiva dikutip dari kepustakaan 4

Tipe-tipe injeksi dibedakan menjadi:4

a. Injeksi konjungtiva (merah terang, pembuluh darah yang distended bergerak bersama dengan

konjungtiva, semakin menurun jumlahnya saat menuju ke arah limbus).

b. Injeksi perikornea (pembuluh darah superfisial, sirkuler atau cirkumcribed pada tepi limbus).

c. Injeksi siliar (tidak terlihat dengan jelas, pembuluh darah berwarna terang dan tidak bergerak pada

episklera di dekat limbus).

d. Injeksi komposi

Dilatasi perilimbal atau siliar menandakan inflamasi dari kornea atau struktus yang lebih dalam.

Warna yang benar-benar merah menandakan konjungtivitis bakterial, dan penampakan merah susu

menandakan konjungtivitis alergik. Hiperemia tanpa infiltrasi selular menandakan iritasi dari sebab

fisik, seperti angin, matahari, asap, dan sebagainya, tetapi mungkin juda didapatkan pada penyakit

terkait dengan instabilitas vaskuler (contoh, acne rosacea).


3. Discharge

Discharge atau sekret berasal dari eksudasi sel-sel radang. Kualitas dan sifat alamiah eksudat

(mukoid, purulen, berair, ropy, atau berdarah) tergantung dari etiologinya.10

4. Chemosis

Adanya Chemosis atau edema konjungtiva mengarahkan kita secara kuat pada konjungtivitis

alergik akut tetapi dapat juga muncul pada konjungtivitis gonokokal akut atau konjungtivitis

meningokokal, dan terutama pada konjungtivitis adenoviral. Chemosis dari konjungtiva bulbar dapat

dilihat pada pasien dengan trikinosis. Meskipun jarang, chemosis mungkin timbul sebelum adanya

infiltrasi atau eksudasi seluler gross.5

Gambar 8. Kemosis pada mata dikutip dari kepustakaan 4

5. Lakrimasi (pengeluaran air mata berlebih)

Lakrimasi yang tidak normal (illacrimation) harus dapat dibedakan dari eksudasi. Lakrimasi

biasanya mencerminkan lakrimasi sebagai reaksi dari benda asing pada konjungtiva atau kornea atau

merupakan iritasi toksik. Juga dapat berasal dari sensasi terbakar atau garukan atau juga dari gatal.

Transudasi ringan juga ditemui dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah aktifitas
pengeluaran air mata. Jumlah pengeluaran air mata yang tidak normal dan disertai dengan sekresi mukus

menandakan keratokonjungtivitis sika.4,10

6. Pseudoptosis.

Kelopak mata atas seperti akan menutup, disebabkan karena adanya infiltrasi sel-sel radang pada

palpebra superior maupun karena edema pada palpebra superior.4

7. Hipertrofi folikel.

Terdiri dari hiperplasia limfoid lokal dengan lapisan limfoid dari konjungtiva dan biasanya

mengandung germinal center. Secara klinis, folikel dapat dikenali sebagai struktur bulat, avaskuler putih

atau abu-abu. Pada pemeriksaan menggunakan slit lamp, pembuluh darah kecil dapat naik pada tepi

folikel dan mengitarinya.Terlihat paling banyak pada kasus konjungtivitis viral dan pada semua kasus

konjungtivitis klamidial kecuali konjungtivitis inklusi neonatal, pada beberapa kasus konjungtivitis

parasit, dan pada beberapa kasus konjungtivitis toksik diinduksi oleh medikasi topikal seperti

idoxuridine, dipiverin, dan miotik. Folikel pada forniks inferior dan pada batas tarsal mempunyai nilai

diagnostik yang terbatas, tetapi ketika diketemukan terletak pada tarsus(terutama tarsus superior), harus

dicurigai adanya konjungtivitis klamidial, viral, atau toksik (mengikuti medikasi topikal).5

8. Hipertrofi papiler

Hipertofi papiler adalah reaksi konjungtiva non spesifik yang muncul karena konjungtiva terikat

pada tarsus atau limbus di dasarnya oleh fibril. Ketika pembuluh darah yang membentuk substansi dari

papilla (bersama dengan elemen selular dan eksudat) mencapai membran basement epitel, pembuluh

darah tersebut akan bercabang menutupi papila seperti kerangka dari sebuah payung.5

Eksudat inflamasi akan terakumulasi diantara fibril, membentuk konjungtiva seperti sebuah

gundukan. Pada kelainan yang menyebabkan nekrosis (contoh,trakoma), eksudat dapat digantikan oleh
jaringan granulasi atau jaringan ikat. Ketika papila berukuran kecil, konjungtiva biasanya mempunyai

penampilan yang halus dan merah normal. Konjungtiva dengan papila berwarna merah sekali

menandakan kelainan disebabkan bakteri atau klamidia (contoh, konjungtiva tarsal yang berwarna merah

sekali merupakan karakteristik dari trakoma akut). Injeksi yang ditandai pada tarsus superior,

menandakan keratokunjungtivitis vernal dan konjungtivitis giant papillary dengan sensitivitas terhadap

lensa kontak; pada tarsal inferior, gejala tersebut menandakan keratokonjungtivitis atopik.5

Papila yang berukuran besar juga dapat muncul pada limbus, terutama pada area yang secara

normal dapat terekspos ketika mata sedang terbuka (antara jam 2 dan 4 serta antara jam 8 dan 10). Di

situ gejala nampak sebagai gundukan gelatin yang dapat mencapai kornea. Papila limbal adalah tanda

khas dari keratokonjungtivitis vernal tapi langka pada keratokonjungtivitis atopik.5

Gambar 9. Gambaran klinis hipertrofi papiler (Cobble Stone) dikutip dari kepustakaan 4

I. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan

keluhan mata menganjal, mata berpasir, mata berair, mata merah dan mata bengkak. Sebelum muncul

gejala biasanya pasien terdapat kontak dengan dengan alergen, seperti sebuk sari, debu, angin,
pemasangan kontak lens, cuaca dingin dan panas. Keluhan muncul tiba-tiba, dan gejala khas untuk

konjungtivitis alergi yaitu ada rasa gatal.2,4,8,10

Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan slit lamp dengan eversi kelopak mata. Pada inspeksi

tanpa eversi didapatkan injeksi konjungtiva, epifora, serta edema konjuntiva yang memberi kesan mata

tenggelam (kemosis). Pada inspeksi slitlamp dengan eversi, diperhatikan apakah terdapat folikel atau

papil. Gambaran khas untuk konjungtivitis vernal ditemukan gambaran “cabble stone”atau papil besar

yang bersepta-septa. Pada konjuntiviitis atopi terdapat papil kecil, fibrosis subepitelial dan udem. 2,4,8

Untuk pemeriksaaan penunjang dapat dilakukan sitologi smear dengan melakukan swab epitel

konjungtiva pada kaca objek dan diberi giemsa, untuk mendeteksi terdapatnya eosinofil granulositik

yang khas pada konjungtivitis alergi. Dapat juga dilakukan skin prick test untuk mendeteksi alergen yang

menyebabkan atopi.4,10

Gambar 10. Pemeriksaan swab konjungtiva dikutip dari kepustakaan 4


J. Pentalaksanaan

1. Konjungtivitis vernal

Keratokonjungtivitis vernal biasanya dapat sembuh sendiri tanpa diobati. Pada kasus sedang

hingga berat kombinasi antihistamin digunakan sebagai profilaksis dan pengobatan. Pemakaian steroid

sistemik atau topikal akan dapat menyembuhkan, tetapi sangat merugikan pada pemakaian jangka

panjang. Kompres dingin, vasokonstriktor dapat diberikan, natrium karbonat membuat pasien rasa

nyaman pada mata.1

Natrium cromolyn topical dapat mengobati kelainan kornea dan konjungtiva. Bila terdapat tukak

maka diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dengan siklopegik. 1

2. Konjungtivitis hay fever

Pada konjungtivitis alergi hay fever penatalaksanaan bukan dengan tujuan untuk mengobati tetapi

bersifat simptomatik dan profilaktif:8

a. Non-medikamentosa

Penatalaksanaan non-medikamentosa ditujukan pada eleminasi dan menghindari sumber allergen.

Kompres dingin bisa diberikan untuk membantu mengatasi gatal-gatal.

b. Medikamentosa

a. Lokal

- Topikal antihistamin

- Mast-cell stabilizer seperti cromolyn sodium

- Topical vasokonstriktor seperti adrenalin, efedrin dan nafazoline.


- Air mata artificial guna untuk dilusi dan irrigasi alergen dan mediator inflamasi di

permukaan ocular.

b. Sistemik : antihistamin oral

c. Imunoterapi : hiposensitisasi dengan pemberian injeksi ekstrak allergen.

3. Konjungtivitis atopi

Penanganan konjungtivitis atopi sering mengecewakan. Setiap infeksi sekunder harus diobati dan

harus kontrol lingkungan dengan mengindari alergen. Terapi topikal jangka panjang dengan obat

penstabil sel mast merupakan hal penting.5,8

Pada konjungtivitis atopik antihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari),

astemizole (10 mg empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200mg)

ternyata bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac dan iodoxamid,

ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. Pada kasus berat, plasmaferesis merupakan terapi

tambahan. Pada kasus lanjut dengan komplikasi kornea berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea

untuk mengembalikan ketajaman penglihatannya.5

4. Konjungtivitis Giant Papillary

Pada konjungtivitis giant papillary tatalaksana yang paling baik adalah hindari kontak dengan

iritan. Jika memakai lensa kontak, dinasehatkan agar mengganti dengan memakai kaca mata. Jika tetap

menggunakan lensa kontak, perawatan lensa kontak yang baik seperti desinfeksi dan pembersihan

dengan cairan yang tepat dan jangan memakai melewati waktunya. Dapat juga diberikan disodium

cromoglyn sebagai terapi simptomatik.5


5. Konjungtivitis Flikten

Pengobatan pada konjungtivitis flikten adalah dengan pemberian steroid topikal, midriatika bila

terjadi penyulit pada kornea, diberi kacamata hitam karena adanya rasa silau yang sakit. Diperhatikan

higiene mata, air mata buatan, dan diberi antibiotika salep mata waktu tidur.1

Pengobatan ditujukan pada penyakit pencetus. Antibiotik topikal hendaknya diberikan bila ada

blefarokonjungtivitis stafilokokal aktif. Transplantasi kornea mungkin diperlukan pada parut kornea

berat. Vitamin dan makanan tambahan sebaiknya diberikan pada anak dengan gizi kurang. 1

K. Prgonosis

Prognosis penderita konjungtivitis baik karena sebagian besar kasus dapat sembuh spontan (self-

limited disease), namun komplikasi juga dapat terjadi apabila tidak ditangani dengan baik.10