Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS

No. ID dan Nama Peserta: dr. Andi M. Irsyad Sulkifli MB, S.Ked
No. ID dan Nama Wahana: RSUD Lamaddukelleng, Kabupaten Wajo
Topik: Ca. mammae
Tanggal (Kasus): 20 Juli 2017
Nama Pasien: Nn. N No. RM: 17111083
Tanggal Presentasi:2017 Pendamping: dr. Andi Sukmawati
Pembimbing : dr. M. Nawir, Sp.B M.Kes
Tempat Presentasi: RSUD Lamaddukelleng, Kabupaten Wajo
Obyek Presentasi:
 Keilmuan  Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □Anak □ Remaja □ Dewasa Lansia □ Bumil
□ Deskripsi:

Benjolan pada payudara kiri yang disadari sejak ± 6bulan yang lalu. Awalnya, muncul benjolan kecil
sebesar biji jagung dan lama-kelamaan semakin membesar. Benjolan dirasakan semakin cepat
membesar dalam 2bulan terakhir. Pasien juga merasakan adanya benjolan disekitar ketiak yang sebesar
kelereng. Puting pada payudara kiri tertarik kedalam tetapi tidak pernah keluar cairan, nanah maupun
darah. Benjolan tidak disertai rasa nyeri. Nyeri kepala tidak ada, batuk tidak ada, sesak tidak ada, nyeri
dada tidak ada, nyeri tulang belakang tidak ada. Nafsu makan dan berat badan menurun. Tidak ada
keluhan pada payudara kanan. Tidak ada riwayat trauma. Riwayat penyakit hipertensi, Diabetes
mellitus dan pembedahan sebelumnya tidak ada. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak
ada.Pasien menarche pertama kelas 6 SD, durasi 7 hari, 1 kali sebulan, Pasien belum menikah

Bahan bahasan: □ Tinjauan Pustaka □ Riset  Kasus □ Audit


Cara  Diskusi □ Presentasi dan diskusi □ E-mail □ Pos
Membahas:
Data pasien: Nama: Nn. N No. registrasi: 17111083
Nama Klinik: RSUD Telp: - Terdaftar Sejak:20/07/2017
Lamaddukelleng
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Benjolan pada payudara kiri yang disadari sejak ± 6bulan yang lalu. Awalnya, muncul benjolan kecil
sebesar biji jagung dan lama-kelamaan semakin membesar. Benjolan dirasakan semakin cepat
membesar dalam 2bulan terakhir. Pasien juga merasakan adanya benjolan disekitar ketiak yang sebesar
kelereng. Puting pada payudara kiri tertarik kedalam tetapi tidak pernah keluar cairan, nanah maupun
darah. Benjolan tidak disertai rasa nyeri. Nyeri kepala tidak ada, batuk tidak ada, sesak tidak ada, nyeri
dada tidak ada, nyeri tulang belakang tidak ada. Nafsu makan dan berat badan menurun. Tidak ada
keluhan pada payudara kanan. Tidak ada riwayat trauma.

2. Riwayat Pengobatan:Tidak pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya


3. Riwayat kesehatan/Penyakit: Anak tidak pernah masuk rumah sakit sebeumnya
4. Riwayat keluarga : Tidak ada riwayat penyakit yang serupa dalam keluarga
5. Riwayat imunisasi : Imunisasi lengkap
6. Riwayat reproduksi :Pasien menarche pertama kelas 6 SD, durasi 7 hari, 1 kali sebulan, Pasien
belum menikah
Daftar Pustaka:
1. World Health Organization. Breast cancer : Prevention and Control. 2009. Available
from :www.who.int
2. Ramli, Muchlis. Kanker payudara. Soelarto Reksoprojo dkk (editor), Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah. Edisi pertama. Binarupa Aksara 1995. Hlmn : 342 – 364.
3. Albar, Zafiral Azdi dkk (editor). Protokol PERABOI 2003. PERABOI. Jakarta, edisi pertama.
2004. Hlm: 2 – 15.
4. Asrul. Hubungan Antara Besar Tumor dengan Tipe Histologi Kanker Payudara dengan Adanya
Metastase pada Kelenjar Getah Bening Aksila. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatra Utara. 2003. Available from: http://www.usu.ac.id
5. De Jong Wim. Buku ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta. Edisi pertama. 2004. Hlm: 387 – 402
6. Manuaba, Tjakra W. Payudara. R Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (editor). Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi kedua.ECG.2005. Hlm: 387 – 402.
7. Haskell, Charles M. And Dennis A. Casciato and Berry B. Lowitz (editor). Manual on Clinical
Oncology. Lippincott Williams and Wilkins. Philladelphia, 2000. Page: 11.
8. Souhami, robert L. Et al (editor). Oxford Textbook of Oncology. 2nd Ed. Oxford Press. Page: 110
– 116.
9. American Cancer Society. Detailed Guide: Breast Cancer. 2009. Available from: www.acs.org
10. Wan desen. Onkologi klinis. 2008. Edisi 2. FKUI
11. National Breast Cancer Foundation. Stage of Breast Cancer. 2010
12. Makhoul, Issam. Breast Cancer. 2006. Available from: http://www.emedicine.com
13. Yuliana. Deteksi dini Efektif Melacak Kanker Payudara. Available from: http://www.infi-
sehat.com
Toward Optimized Practice (TOP) Program. Guidline for the Early Detection of Breast Cancer.
Available from: http://www.albertadoctors.org

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio


1. Subjektif:
Benjolan pada payudara kiri yang disadari sejak ± 6bulan yang lalu. Awalnya, muncul benjolan
kecil sebesar biji jagung dan lama-kelamaan semakin membesar. Benjolan dirasakan semakin cepat
membesar dalam 2bulan terakhir. Pasien juga merasakan adanya benjolan disekitar ketiak yang
sebesar kelereng. Puting pada payudara kiri tertarik kedalam tetapi tidak pernah keluar cairan,
nanah maupun darah. Benjolan tidak disertai rasa nyeri. Nyeri kepala tidak ada, batuk tidak ada,
sesak tidak ada, nyeri dada tidak ada, nyeri tulang belakang tidak ada. Nafsu makan dan berat badan
menurun. Tidak ada keluhan pada payudara kanan. Tidak ada riwayat trauma. Riwayat penyakit
hipertensi, Diabetes mellitus dan pembedahan sebelumnya tidak ada. Riwayat keluarga dengan
keluhan yang sama tidak ada. Pasien menarche pertama kelas 6 SD, durasi 7 hari, 1 kali sebulan,
Pasien belum menikah

2. Objektif:
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Vitalis
Sakit Berat/gizi baik/compos mentis
Tekanan Darah: 120/70 mmHg
Nadi : 92 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,7oC

B. Status Generalis
1. Kepala :
Deformitas : Tidak ada
Simetris wajah : Simetris kiri dan kanan
Rambut : Sukar dicabut
Ukuran : Normocephal
Bentuk : Mesocephal
2. Mata :
Eksoftalmus : Tidak ada
Konjungtiva : Tidak Anemis
Pupil : Isokor, Diameter 2,5 mm/2,5 mm
Sklera : Tidak ikterus
3. Telinga :
Pendengaran : Dalam batas normal
Nyeri tekan d prosesus mastoideus : Tidak ada
4. Hidung :
Perdarahan : Tidak ada
Sekret : Tidak ada
5. Mulut :
Bibir : Tidak kering, Tidak ada sianosis
Lidah : Tidak kotor
Faring : Tidak hiperemis
Tonsil : T1-T1 tidak hiperemis
6. Paru :
Inspeksi : Simetris, tidak ada retraksi, simetris kiri = kanan
Palpasi : Fremitus kiri = kanan
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru kiri = kanan
Auskultasi : Vesikuler, Bunyi tambahan : Ronkhi (-), Wheezing (-)
7. Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas atas ICS III
Batas kanan linea parasternal kanan
Batas kiri, linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : BJ I/II murni reguler, Bising tidak ada
8. Abdomen :
Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
Palpasi : Hepar dan Lien tidak teraba
Massa tumor tidak teraba
Perkusi : Timpani (+)
Auskultasi : Peristaltik ada, kesan normal
9. Ekstremitas :
PEMERIKSAAN HASIL
Tidak ada deformitas
HGB 11,2 gr/dl
Tidak ada
RBCedema 4,20 x 106
WBC 7,4 x 103
PLT 232 x 103
C. Status Lokalis
CT/BT 8,15/4,10
PT/APTT 10,1/26,5
Regio Mammae Sinistra
Albumin 3,8 gr%
GDS 112 mg/dl
Inspeksi : Payudara kiri dan kanan asimetris. Tampak benjolan pada payudara kiri di bagian lateral,
SGOT/SGPT 38/38 U/L
warna kulit sama dengan warna sekitar, tampak
HBsAg retraksi papilla mammae ke arah benjolan, tidak ada
Non Reactive
Anti
darah, tidak ada HCV
pus. Tampak ada gambaran Non
PeauReactive
d' Orange.
Palpasi : Teraba benjolan ± 6 cm x 3 cm x 2 cm pada kuadran caudo lateral dan medial. Berbentuk
bulat, konsistensi keras, mobile, tidak ada nyeri tekan.

Regio Mammae Dekstra


Inspeksi : Tidak tampak benjolan, warna kulit sama dengan sekitar, tidak ada retraksi papilla mammae,
tidak ada ulserasi
Palpasi : Tidak teraba tumor atau massa.

Regio Axilla Dextra


Inspeksi :Tidak tampak benjolan dan ulserasi
Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar aksilla dan tidak teraba benjolan
Regio Axilla Sinistra
Inspeksi : Tampak benjolan sebesar kelereng
Palpasi :Teraba satu buah massa dengan ukuran 2cm x 2 cm x 1 cm, konsistensi keras, batas tegas,
mobile, dan tidak ada nyeri tekan.

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
2. Pemeriksaan Radiologi
Foto Thorax (01/10/2015)
Kesan :
1. Cardiomegaly dengan atherosclerosis
2. Tidak tampak tanda-tanda metastasis ke paru

3. Patologi Anatomi (FNA)


Mikroskopik : Sediaan apusan sangat seluler terdiri dari kelompokan sel –sel epitel dengan inti
bulat besar,ipik, hiperkromatik, sedikit pleomorfik, beberapa sel dengan anak inti menonjol,
sitoplasma sedikit, ratio inti sitoplasma meningkat dan kohesi sel longgar.
Kesimpulan : Carcinoma Mammae
Catatan : konfirmasi biopsy eksisi
E. Diagnosa
Carcinoma mammae sinistra stadium III A (T3N1M0)

F. Terapi
Operatif : Mastectomy Radical
Kemoterapi Lanjutan setelah mastectomy radical
Terapi hormonal

G. Prognosis
Ad vitam : Dubia
Ad functionam : Malam
Ad sanatiam : Dubia

TINJAUAN PUSTAKA
I. PENDAHULUAN

Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia. Berdasarkan laporan dari
WHO, tahun 2004 diperkirakan 519.000 wanita meninggal karena kanker payudara dan dari angka itu,
69% kematian terjadi di negara berkembang. Pada tahun 2009, diperkirakan 192.370 kasus baru dari
invasive carsinoma mammae didiagnosis di amerika serikat dan 62.280 kasus baru carsinoma mammae
insitu. Data di Indonesia, kanker payudara menduduki tempat kedua (11,5 %) setelah kanker leher
rahim. Di indonesia diperkirakan terdapat 20.000 kasus baru kanker payudara pertahun dan lebih dari
50% kasus berada dalam stadium lanjut.Etiologi yang belum diketahui dengan pasti, perjalanan
penyakit yang tidak dapat diperkirakan serta usaha pencegahan yang sulit dilakukan serta adalah
masalah yang sampai saat ini belum teratasi. Namun demikian usaha – usaha untuk mendeteksi dini
dapat dilakukan dengan baik dengan mengikutsertakan masyarakat melalui penyuluhan. Selain itu,
kemajuan dalam deteksi dini yang dilengkapi dengan kemajuan terapi, baik teknik operasi, radiasi,
terapi hormonal serta kemoterapi, yang didasarkan pada ketetapan penentuan stadium dan pengenalan
sifat – sifat biologis kanker, semakin membawa harapan baru untuk penderita kanker payudara ini.1,2,3,4

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang mempunyai prevalensi cukup tinggi.
Kanker payudara dapat terjadi pada pria maupun wanita, hanya saja prevalensi pada wanita jauh lebih
tinggi. Diperkirakan pada tahun 2006 di Amerika, terdapat 212.920 kasus baru kanker payudara pada
wanita dan 1.720 kasus baru pada pria.2

Kanker payudara sebagian besar (sekitar 70%) ditandai dengan adanya gumpalan yang biasanya
terasa sakit pada payudara, juga adanya tanda lain yang lebih jarang yang berupa sakit pada bagian
payudara, erosi, retraksi, pembesaran dan rasa gatal pada bagian puting, juga secara keseluruhan timbul
kemerahan, pembesaran dan kemungkinan penyusutan payudara.1,2

Penyebab kanker payudara sangat beragam, tetapi ada sejumlah faktor risiko yang dihubungkan
dengan perkembangan penyakit ini yaitu asap rokok, konsumsi alkohol, umur pada saat menstruasi
pertama, umur saat melahirkan pertama, lemak pada makanan, dan sejarah keluarga tentang ada
tidaknya anggota keluarga yang menderita penyakit ini.2

II. DEFINISI
Carsinoma mammae adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya sel pada jaringan
mammae yang tidak normal/abnormal yang terbatas serta tumbuh perlahan karena suplai limpatik yang
jarang ketempat sekitar jaringan mammae yang banyak mengandung banyak pembuluh limfe dan
meluas dengan cepat dan segera bermetastase.

Penyakit kanker payudara adalah penyakit keganasan yang berasal dari struktur parenkim
payudara. Paling banyak berasal dari epitel duktus laktiferus (70 %), epitel lobulus (10%) sisanya
sebagian kecil mengenai jaringan otot dan kulit payudara, kanker payudara tumbuh lokal ditempat
semula, lalu selang beberapa waktu menyebar melalui saluran limfe (penyebaran sisitemik) ke organ
vital lain seperti paru-paru, tulang, hati, otak dan kulit.

III. ANATOMI

Payudara dewasa normalnya terletak dihemithorax kanan dan kiri dengan dasarnya terletak dari
kira – kira iga kedua sampai iga ke enam. Bagian medial payudara mencapai pingir sternum dan di
lateral sejajar garis aksillaris anterior. Payudara meluas ke atas lapisan fascia otot pektoralis mayor
pada dua pertiga superomedial dan otot seratus anterior pada sepertiga lateral bawah. Pada 15% kasus
jaringan payudara meluas kebawah garis tepi iga dan 2% melewati pinggir anterior otot lattisimus
dorsi.4

Payudara yang asimetri sering dijumpai diantara wanita normal dan penderita tidak begitu
menyadarinya atau mungkin menerimanya sebagai variasi normal. Setengah wanita mempunyai
perbedaan volume 10% antara payudara kiri dan kanan dan seperempatnya dengan perbedaan 20%.
Payudara kiri selalu lebih besar dibanding dengan yang sebelah kanan.4

Payudara terdiri dari berbagai struktur yaitu parenkim epitelial, jaringan lemak, pembuluh
darah, saraf, dan saluran getah bening serta otot dan fascia. Parenkim epitelial dibentuk oleh kurang
lebih 15 – 20 lobus. Masing - masing lobus dialiri oleh sistem duktus dari sinus laktiferous (bila
distensi mempunyai diameter 5 – 8 mm) terbuka pada nipel, dan masing – masing sinus menerima
suatu duktus lobulus dengan diameter 2 mm atau kurang. Di dalam lobus mempunyai diameter 2 – 3
mm dan dapat terlihat dengan mata telanjang. Masing – masing lobulus mengandung 10 sampai 100
alveoli (acini) yang merupakan unit dasar sekretori. Payudara dibungkus oleh fascia pektoralis
superfisialis yang bagian anterior dan posteriornya dihubungkan oleh ligamentum cooper sebagai
penyangga. 2,4,6

Gambar 1. Anatomi mammae

Vaskularisasi Payudara 2,4,5

A. Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari :
1. Cabang – cabang perforantes a. Mammaria interna yang memperdarahi tepi medial glandula
mammae.
2. Rami pectoralis a. Thorakoakromialis yang memperdarahi glandula mammae bagian dalam
(deep surface).
3. A. Thorakalis lateralis ( a. Mammaria eksterna yang memperdarahi bagian lateral payudara).
4. Pembuluh darah lain yang juga penting artinya meskipun tidak memperdarahi glandula
mammae adalah a. Thoracodorsalis. Pada tindakan radikal mastektomi perdarahan yang terjadi
akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol sehingga daerah ini dinamakan “ the bloody angel”.
Gambar 2. Vaskularisasi payudara
B. Vena
Pada daerah payudara terdapat tiga grup vena yaitu :
1. Cabang – cabang perforantes v. Mammaria interna
2. Cabang – cabang v. Aksillaris
a. V. Thorako – akromialis
b. V. Thorako – dorsalis
c. V. Thorako lateralis
3. Vena – vena kecil yang bermuara pada v. Interkostalis
Vena interkostalis bermuara pada v. Vertebralis kemudian bermuara pada v. Azygos (melalui
vena – vena ini metastasis dapat langsung terjadi di paru).
C. Persarafan
Kulit payudara dipersarafi oleh cabang pleksus servikalis dan n. Interkostalis sedangkan jaringan
glandula mammae sendiri dipersarafi oleh sistem simpatis. Parsarafan sensoris dibagian superior dan
lateral berasal dari nervus supraklavikular (C3 dan C4) dari cabang lateral nervus intercostal thorakal 3
– 4. Bagian medial payudara dipersarafi oleh cabang anterior nervus intercostal thoracal. Kuadran
lateral atas payudara dipersarafi terutama oleh nervus interkostalis (C8 dan T1). Pada mastektomi
dengan diseksi aksila n. Intercostobrachialis dan n. Cutaneus brachius medialis yang mengurus
sensibilitas daerah aksilla dan bagian medial lengan atas sedapat mungkin dipertahankan agar tidak
terjadi mati rasa didaerah tersebut.
D. Sistem limfatik
1. pembuluh getah bening aksilla.
2. pembuluh getah bening mamaria interna.
3. pembuluh getah bening didaerah tepi medial kuadran medial bawah payudara.

Gambar 3. Kelenjar Getah Bening pada


Payudara

E. Metastasis carcinoma mammae


Metastasis kanker payudara dapat terjadi melalui dua jalan :

1. Metastasis melalui sistem vena.


Kanker payudara dapat bermetastasis ke paru – paru, vertebra, dan organ – organ lain. Vena
mamaria interna merupakan jalan utama metastasis kanker payudara ke paru – paru melalui sistem
vena sedangkan metastasis ke vertebra terjadi melalui vena – vena kecil yang bermuara ke vena
interkostalis yang selanjutnya bermuara kedalam vena vertebralis.
2. Metastasis melalui sistem limfe
Metastasis melalui sistem limfe pertama kali akan memgenai KGB regional terutama KGB aksilla.
KGB sentral (central nodes) merupakan KGB aksilla lateral yang paling sering (90%) terkena
metastasis sedangkan KGB mamaria eksterna adalah yang paling jarang terkena. Kanker payudara juga
dapat bermetastasis ke KGB aksilla kolateral melalui kolateral, tapi jalannya masih belum jelas, diduga
melalui deep lymphatic fascial plexus di bawah payudara kolateral melalui kolateral limfatik. Jalur ini
menjelaskan mengapa bisa terjadi metastasis ke kelenjar aksilla kolateral tanpa metastasis ke payudara
kolateral.
Metastasis ke KGB supraclavicula dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Penyebaran langsung yaitu melalui kelenjar subclavicula tanpa melalui sentral nodes yang terletak
disekitar grand central limfatik terminus yang menyebabkan statis aliran limfe sehingga terjadi aliran
balik menuju ke KGB supraclavicula. Metastasis ke hepar selain melalui sistem vena dapat juga terjadi
melalui sistem limfe. Keadaan ini dapat terjadi bila tumor primer terletak ditepi medial bagian bawah
payudara dan terjadi metastasis ke kelenjar preperikardial. Selanjutnya terrjadi statis aliran limfe yang
berakibat adanya aliran balik limfe ke hepar.

IV. ETIOLOGI

Kanker payudaramerupakan hasil dari mutasi pada salah satu atau beberapa gen. Dua
diantaranya terletak pada kromosom 17. Gen yang paling berpengaruh disebut BRCA-1 (pada lokus
17q21), yang lainya adalah gen p53 (pada lokus 17p13). Gen ketiga adalah BRCA-2 yang terletak pada
kromosom 13. Gen yang keempat yang juga terlibat adalah gen reseptor androgen pada kromosom Y.
Mutasi gen ini berhubungan dengan insiden kanker payudara pada pria. Etiologi kanker payudara
masih belum diketahui dengan pasti hingga sekarang namun yang paling diyakini sebagai penyebab
adalah paparan terhadap mutagen. Mutagen ini bisa berupa mutagen endogen yaitu radikal bebas
seperti lipid peroksidase dan malondyaldehida (MDA) juga mutagen eksogen yaitu radiasi.6,8

V. FAKTOR RESIKO

Saat ini, penyebab utama kanker payudara belum diketahui secara pasti, namun berbagai
penelitian dan pengumpulan bukti – bukti epidemiologi telah dilakukan untuk tahu faktor – faktor yang
meningkatkan resiko terkena kanker

payudara. Berbagai faktor itu antara lain :

A. Usia
Kanker payudara jarang dijumpai pada usia dibawah 30 tahun tapi insidennya meningkat tajam
hingga usia sekitar 50 tahun (30,35%). Setelah usia 50 tahun frekuensinya tetap meningkat tapi
perlahan. Perbedaan insiden berdasarkan usia ini diinterpretasikan sebagai efek dari hormon ovarium
pada perkembangan penyakit.2,3,4
Sekitar 1 – 8 kejadian kanker payudara yang invasif ditemukan pada wanita yang lebih muda dari
usia 45 tahun, sedangkan 2 hingga 3 kejadian ditemukan pada wanita berusia 55 tahun ke atas.
B. Geografi
Insiden kanker payudara sangat bervariasi diantara negara – negara diseluruh dunia. Wanita
asian-hispanic memiliki resiko kejadian kanker payudara yang lebih rendah dari pada wanita aficana-
american. Angka kejadian kanker payudara di Amerika utara sekitar 5 kali lebih tinggi dari pada di
Jepang. Bahkan didalam satu negara insiden kanker payudara berbeda – beda. Misalnya di Israel,
keturunan Jews mempunyai resiko empat kali lebih tinggi dari pada non-jjews dan di Italia terdapat
perbedaan angka kejadian sekitar dua kali lipat antara daerah utara dan selatan. Variasi geografis ini
lebih disebabkan oleh faktor lingkungan daripada genetik karena penduduk yang bermigrasi dari
negara beresiko rendah ke negara beresiko tinggi mengalami peningkatan frekuensi kanker payudara.2,7
C. Jenis kelamin
Kanker payudara 100 kali lebih sering terjadi pada perempuan dari pada laki – laki. Alasan
utamanya adalah karana pada wanita, sel – sel pada payudara lebih sering terekspos dengan hormon
estrogen dan progesteron yang mempengaruhi pertumbuhan sel – sel pada payudara. Angka kejadian
kanker payudara pada laki – laki hanya 1%.
D. Menstruasi
Menarche pada usia dini dan menopause yang terlambat dapat meningkatkan resiko kanker
payudara. Menarche sebelum usia 12 tahun mempunyai resiko kanker payudara 20% lebih besar dari
menarche setelah usia 15 tahun. Resiko kanker payudara berkurang sekitar setengahnya jika
menopause terjadi sebelum usia 45 tahun dibandingkan jika menopause terjadi setelah usia 55 tahun. 2,3,6
Hal ini mungkin disebabkan karena eksposure hormon estrogen dan progesteron yang berkepanjangan
yang mempengaruhi pertumbuhan sel –sel payudara. 9

E. Reproduksi
Status reproduksi juga mempengaruhi resiko terkena kanker payudara. Wanita yang tidak pernah
melahirkan (nulipara) atau yang pertama kali melahirkan anak pada usia lebih dari 31 tahun
mempunyai resiko tingga hingga empat kali lebih besar dibandingkan perempuan yang melahirkan
anak pertamanya sebelum berusia 18 tahun. Wanita yang mempunyai banyak anak (multipara)
diasosiasikan dengan berkurangnya resiko kanker payudar, tentunya setelah memperhitungkan usia saat
melahirkan anak pertama. Menyusui lebih lama juga dianggap dapat menurunkan resiko kanker
payudara.2,4,6
F. Diet
Perbedaan insiden kanker payudara di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa diet mungkin
memegang peranan penting dalam perkembangan kanker payudara. Bukti – bukti yang ada
menunjukkan bahwa tingginya konsumsi kalori, lemak, daging dan alkohol dapat meningkatkan resiko
sedangkan tingginya konsumsi serat, sayur, buah, vitamin, dan phytoestrogens dapat menurunkan
resiko. Diet dinegara – negara barat biasannya mengandung lemak dan gula yang tinggi sedangkan di
Asia dan negara yang belum berkembang dietnya lebih banyak mengandung vitamin dan serat.
Wanita – wanita dari negara barat mempunyai resiko terkena kanker kanker payudara enam kali lebih
tinggi dibandingkan wanita – wanita Asia dan negara berkembang lainnya. Resiko ini akan berubah
jika penduduk dari negara yang beresiko rendah migrasi ke negara beresiko tinggi dan mengadaptasi
pola makan dinegara tersebut. Meskipun demikian pengaruh diet pada insiden kanker payudara
tampaknya terjadi pada usia muda seperti anak – anak dan remaja. Tidak ada datayang membuktikan
bahwa perubahan pola makan dari diet tinggi lemak ke diet rendah lemak pada usia pertengahan dan
tua dapat menurunkan resiko kanker payudara.2,4,6

G. Status Gizi
Ukuran tubuh yang mencerminkan status gizi dan pola makan dengan sendirinya dapat
mempengaruhi resiko terkena kanker payudara. Usia terjadinya menarche sangat dipengaruhi oleh
ukuran tubuh dengan demikian gizi pada masa anak – anak akan mempengaruhi pada usia berapa
menarche terjadi. Tinggi badan yang lebih yang juga ditentukan oleh keadaan nutrisi diteliti dapat
sedikit meningkatkan resiko kanker payudara terutama setelah manopause. Pada usia dewasa, tubuh
yang kurus dapat meningkatkan resiko kanker payudara sebelum menopause sedangkan obesitas dapat
meningkatkan resiko sesudah menopause. Lemak tubuh adalah situs konversi anrostenedione menjadi
oestradiol, satu – satunya sumber endogenikestrogen setelah menopause, mungkin inilah yang
memediasi efek berat badan terhadap resiko kanker payudara pada wanita post-menopause.2,4,6
H. Hormon
Faktor menstruasi dan reproduksi yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan peran hormon
seks dalam perkembangan kenker payudara. Hormon seks mempengaruhi proliferasi sel – sel dan
jaringan payudara serta meningkatkan karsinogenesis payudara pada hewan percobaan, namun bukti –
bukti epidemiologisnya pada manusia masih merupakan konflik. Mungkin hal ini disebabkan olah
kesulitan dalam pengukurannya. Sebuah studi populasi pada wanita post menopause yang berasal dari
negara yang beresiko tinggi menunjukkan level serum oestradiol rata – rata sekitar 20% lebih tinggi
dari pada wanita – wanita yang berasal dari negara beresiko rendah. Studi case control lain
menunjukkan wanita dengan kanker payudara mempunyai level progesteron yang lebih tinggi dari
kelompok kontrol pada analisis yang terbatas pada saat ovulasi. Prolactin adalah mitogen dalam
jaringan payudara dan merupakan hormon yang penting untuk perkembangan tumor payudara pada
hewan percobaan tapi perannya pada kanker payudara manusia belum jelas. Meskipun demikian
terdapat bukti – bukti yang meyakinkan bahwa level prolaktin dipengaruhi oleh sejumlah even yang
juga mempengaruhi resiko kanker payudara. Selain hormon seks endogen, hormon seks eksogen
seperti terapi pengganti hormon dan kontrasepsi oral juga dianggap berpengaruh terhadap resiko
kanker payudara. Terapi pengganti hormon meningkatkan resiko kanker payudara pada orang – orang
yang baru atau sedang menggunakan (dalam jangka waktu lima tahun). Resiko meningkat sekitar 2%
untuk setiap tahun penggunaan. Kontrasepsi oral juga dikatakan dapat meningkatkan resiko bila
digunakan jangka panjang. Pada penelitian terbukti kontasepsi oral hanya sedikit meningkatkan resiko
kanker payudara yaitu sebesar 1,16% pada orang yang telah berhenti menggunakan 1- 4 tahun
sebelumnya.2,4,6
I. Riwayat keluarga
Insiden orang – orang dalam satu keluarga besar terkena kanker payudara terjadi pada sekitar
18% kasus, 5% diantaranya benar – benar diwarisi secara familial berdasarkan analisis pedigree.
Dengan demikian individu yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara beresiko tiinggi untuk
terkena kanker payudara. Tingginya resiko ini dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga yang
menderita kanker payudara, sejak usia berapa mereka menderita kanker payudara, dan hubungan
mereka terhadap individu tersebut. Resiko kanker payudara meningkat kira – kira dua kali lipat pada
anak perempuan yang ibunya menderita kanker dan pada wanita yang saudara perempuannya
menderita kanker. Kanker familial ini cenderung terjadi pada usia lebih muda dan bilateral.
Peningkatan resiko sebagian besar disebabkan oleh pewarisan gen – gen yang mempredisposisi kanker
payudara. Pada keluarga beresiko tinggi dengan empat atau lebih anggota keluarga terkena kanker
payudara, 33% diantaranya mengalami mutasi BRCA-1. Suatu studi populasi menemukan mutasi
BRCA-1 pada 12 dari 193 wanita (6,2%) yang terkena kanker payudara sebelum usia 35 tahun dan 15
dari 208 wanita (7,2%) dengan riwayat kanker payudara pada anggota keluarga tingkta pertama (first-
degree relatives). Kanker payudara familial juga sering berhubungan dengan keganasan pada organ lain
seperti colon, ovarium, dan uterus.2,4,6
J. Radiasi
Pada hewan percobaan terbukti adanya peranan sinar radiasi sebagai faktor penyebab kanker
payudara. Dari penelitian epidemiologi setelah ledakan bom atom atau penelitian pada orang setelah
pajanan sinar rongen.2

VI. JENIS-JENIS KANKER PAYUDARA

1. Karsinoma in situ
Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya, merupakan kanker
dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat asalnya.

2. Karsinoma duktal

Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju ke puting susu. Sekitar
90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal. Kanker ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah
masa menopause. Kadang kanker ini dapat diraba dan pada pemeriksaan mammogram, kanker ini
tampak sebagai bintik-bintik kecil dari endapan kalsium (mikrokalsifikasi). Kanker ini biasanya
terbatas pada daerah tertentu di payudara dan bisa diangkat secara keseluruhan melalui pembedahan.
Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita kanker invasif (biasanya pada payudara
yang sama).

3. Karsinoma lobuler

Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah menopause.
Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada mammogram, tetapi biasanya ditemukan secara
tidak sengaja pada mammografi yang dilakukan untuk keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita
karsinoma lobuler pada akhirnya akan menderita kanker invasif (pada payudara yang sama atau
payudara lainnya atau pada kedua payudara).

4. Kanker invasif

Kanker invasif adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan lainnya, bisa terlokalisir
(terbatas pada payudara) maupun metastatik (menyebar ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker
payudara invasif adalah kanker duktal dan 10% adalah kanker lobuler.

5. Karsinoma meduler

Kanker ini berasal dari kelenjar susu.

6. Karsinoma tubuler

Kanker ini berasal dari kelenjar susu.

VII. PATOFISIOLOGIS
Beberapa jenis kanker payudara sering menunjukkan disregulasi hormon HGF dan onkogen Met, serta
ekspresi berlebih enzim PTK-6.

A. Transformasi

Tanda-tanda awal kanker payudara Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses
rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.

B. Fase inisiasi

Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi
ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen,
yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak semua sel
memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetik dalam sel atau bahan
lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Bahkan
gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.

Progesteron, sebuah hormon yang menginduksi ductal side-branching pada kelenjar payudara dan
lobualveologenesis pada sel epitelial payudara, diperkirakan berperan sebagai aktivator lintasan
tumorigenesis pada sel payudara yang diinduksi oleh karsinogen. Progestin akan menginduksi
transkripsi regulator siklus sel berupa siklin D1 untuk disekresi sel epitelial. Sekresi dapat ditingkatkan
sekitar 5 hingga 7 kali lipat dengan stimulasi hormon estrogen,oleh karena estrogen merupakan hormon
yang mengaktivasi ekspresi pencerap progesteron pada sel epitelial.Selain itu, progesteron juga
menginduksi sekresikalsitoninsel luminal dan morfogenesis kelenjar.

C. Fase promosi

Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Sel yang
belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. Karena itu diperlukan beberapa
faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).

D. Fase metastasis

Metastasis menuju ke tulang merupakan hal yang kerap terjadi pada kanker payudara, beberapa
diantaranya disertai komplikasi lain seperti simtomahiperkalsemia, pathological fractures atau spinal
cord compression. Metastasis demikian bersifat osteolitik, yang berarti bahwa osteoklas hasil induksi
sel kanker merupakan mediator osteolisis dan mempengaruhi diferensiasi dan aktivitas osteoblas serta
osteoklas lain hingga meningkatkan resorpsi tulang.

Tulang merupakan jaringan unik yang terbuat dari matriks protein yang mengandung kalsium
dengan kristalhydroxyappatite sehingga mekanisme yang biasa digunakan oleh sel kanker untuk
membuat ruang pada matriks ekstraselular dengan penggunaan enzimmetaloproteinase matriks tidaklah
efektif. Oleh sebab itu, resorpsi tulang yang memungkinkan invasi neoplastik terjadi akibat interaksi
antara sel kanker payudara dengan sel endotelial yang dimediasi oleh ekspresi VEGF merupakan
mitogen angiogenik positif yang bereaksi dengan sel endotelial. Tanpa faktor angiogenik negatif seperti
angiostatin, sel endotelial yang berinteraksi dengan VEGF sel kanker melalui pencerap VEGFR-1 dan
VEGFR-2, akan meluruhkan matriks ekstraselular, bermigrasi dan membentuk tubulus.

VIII. MANIFESTASI KLINIS

1. Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak bentuknya tak
beraturan dan terfiksasi.
2. Nyeri di daerah massa.
3. Perubahan bentuk dan besar payudara, adanya lekukan ke dalam, tarikan dan refraksi pada areola
mammae.
4. Edema dengan “Peau d’ orange” (keriput seperti kulit jeruk)
5. Pengelupasan papilla mammae
6. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan encer padahal ibu tidak
sedang hamil / menyusui.
7. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi
Gambar 4 : gambaran klinik karsinoma mammae

IX. DIAGNOSIS
A. Anamnesis
Anamnesis dimulai dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap dilanjutkan dengan
keluhan utama. Keluhan utama penderita dapat berupa adanya benjolan pada payudara, rasa nyeri ,
keluar cairan dari puting susu, retraksi puting susu, adanya ekzema disekitar areola, keluhan kulit
berupa dimpling, venektasi, ulserasi atau adanya peau d’orange, adanya benjolan diketiak, edema
lengan dan tanda metastasis jauh misalnya nyeri tulang (vertebrae, femur).2,3,6,8
Benjolan payudara dapat dideteksi pada 90% pada pasien dengan kanker payudara dan
merupakan tanda yang paling umum. Benjolan kanker cenderung soliter, unilateral, padat, keras,
ireguler, tidak dapat digerakkan, cepat besar dan tidak nyeri. Cairan yang kelura secara spontan dari
puting susu (nipple discharge) adalah tanda kedua yang umum dari kanker payudara. Karakter nipple
discharge dapat membantu menegakkan diagnosis. cairan seperti susu menandakan galaktore, cairan
purulen disebabkan oleh infeksi, cairan multiwarna atau lengket menandakan ektasia duktus
(comedomastitis). Cairan serous, serosanguinus, berdarah atau seperti air mungkin menandakan
papiloma (80%) atau karsinoma induktal (20%).6
Selain itu juga ditanyakan mengenai pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor,
menstruasi pertama pada usia berapa, bila sudah menopause pada usia berapa, usia saat pertama kali
melahirkan anak, menyusui atau tidak, riwayat kanker payudara atau kanker lainnya dalam keluarga,
riwayat pemakaian obat – obat hormonal, riwayat operasi tumor payudara atau genikologi, dan riwayat
radiasi didarah dada. Faktor – faktor resiko ini perlu ditanyakan agar dokter dapat mempertimbangkan
untuk melakukan pemerikasaan mamografi pada penderita yang beresiko tinggi, dan bagi pasien agar
lebih waspada dan rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Keluhan pasien di organ lain yang
berhubungan dengan metastasis perlu ditanyakan seperti batuk, sesak, rasa penuh diuluhati, nyeri
tulang, dan sakit kepala hebat. Tanda – tanda umum tentang nafsu makan dan penurunan berat badan
juga perlu ditanyakan.2,3
B. Pemeriksaan fisis
Pada status generalis, selain status vital perlu juga diperiksa perfomance status penderita. Karena
payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain estrogen dan progesteron maka sebaiknya
pemeriksaan payudara dilakukan saat pengaruh hormon ini seminimal mungkin, yaitu lebih kurang satu
minggu dari hari pertama menstruasi. Dengan pemeriksaan fisis yang baik dan teliti, ketetapan
pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi.
Tehnik pemeriksaan
Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka
1. Posis tegak (duduk)
Lengan penderita jatuh bebas disamping tubuh, pemeriksa berdiri didepan dalam posisi yang
lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi dilihat simetris payudara kiri dan kanan, perubahan kulit
berupa peau d’orange, kemerahan, dimpling, edema, ulserasi dan nodus satelite, kelainan puting susu
seperti retraksi, erosi, krusta dan adanya discharge.
2. Posisi berbaring
Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata diatas lapangan dada, jika
perlu bahu atau punggung diganjal dengan bantal kecil terutama pada penderita yang payudaranya
besar. Palpasi dilakukan dengan mempergunakan falang distal dan falang medial jari II, III, dan IV
yang dikerjakan secara sistematis mulai dari cranial setinggi iga kedua sampai ke distal setinggi iga
keenam, juga dilakukan pemeriksaan daerah sentral subareolar dan papil. Palpasi juga dapat dilakukan
dari tepi kesentral (sentrifugal) berakhir didaerah papil. Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada
cairan keluar dengan menekan daerah sekitar papil. Pemeriksaan dengan rabaan halus akan dapat
membedakan kepadatan massa payudara.
Pada pemeriksaan ini ditentukan lokasi tumor berdasarkan kuadran payudara (lateral atas, lateral
bawah, medial atas, medial bawah, dan daerah sentral), ukuran tumor (diameter terbesar), konsitensi,
permukaan, bentuk, batas – batas tumor, dan jumlah tumor, serta mobilitasnya terhadap jaringan sekitar
payudara, kulit, m. Pectoralis dan dinding dada.
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Regional
1. Axilla
Sebaiknya dalam posisi duduk karena dalam posisi ini fossa axilla jatuh ke bawah sehingga
mudah untuk diperiksa dan lebih banyak yang dicapai. Pada pemeriksaan axilla kanan tangan kanan
penderita diletakkan atau dijatuhkann lemas ditangan/bahu kanan pemeriksa. Diraba kelompok KGB
mammaria eksterna dibagian anterior dan dibawah tepi m. Pectoralis axilla, KGB subkapsular
diposterior axilla, KGB central dibagian pusat axilla, dan KGB apikal di ujung atas fossa axillaris. Pada
perabaan ditentukan ukuran, konsistensi, jumlah, apakah terfiksasi satu sama lain atau kejaringan
sekitarnya.

2. Supra dan infra clavicula serta leher utama, bagian bawah dipalpasi dengan cermat dan teliti.
Selain payudara dan KGB, organ lain yang ikut diperiksa adalah paru – paru, tulang, hepar, dan otak
untuk mencari metastasis jauh.

C. Pemeriksaan Penunjang
1. Mammografi
Mammografi merupakan suatu pemeriksaan dengan soft tissue technic yang dapat mendeteksi
85% kanker payudara. Meskipun 15% kanker payudara tidak bisa divisualisasikan dengan mammografi
sebelum mereka dapat diraba. Adanya proses keganasan akan memberikan tanda – tanda primer dan
sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign, mikrokalsifikasi, deposit kalsium baik
dalam pola mulberry curvulinear, dan distoersi duktus mamaria. Tanda – tanda sekunder berupa
bertambahnya vascularisasi, adanya brigde of tumor dan jaringan fibrogranuler tidak teratur.
Mammografi sangat baik digunakan untuk diagnosis dini dan skrining., hanya saja untuk scrining
harganya mahal sehingga dianjurkan penggunaan yang selektif yaitu untuk wanita – wanita dengan
resiko tinggi. Sensitifitas mammografi sekitar 75% dan spesifitasnya hampir 90%.
Ultrasonografi berguna terutama untuk membedakan lesi padat atau kistik juga untuk memandu
FNAB dan Core-neddle biopsy. Mammografi dan USG payudara dilakukan pada tumor yang
berukuran < 3cm.
Pemeriksaan termografi ditemukan oleh Lawson tahun 1956. Dengan menggunakan sinar infra
merah pemeriksaan ini memanfaatkan perbedaan suhu dimana suhu kanker payudara lebih tinggi
dibanding jaringan disekitarnya.
Xerografi merupakan pemeriksaan yang menggunakan sistem pencitraan foto elektrik.
Kecepatannya mencapai 95,3% dengan false positive ± 5%.
Scintimammografi merupakan tehnik pemeriksaan radionuklir menggunakan radioisotop Tc 99m.
Sensitifitasnya dalam menilai aktifitas sel kanker payudara cukup tinggi. Pemeriksaan ini juga dapat
mendeteksi lesi yang multiple dan adanya keterlibatan KGB.
2. Pemeriksaan Histopatologi jaringan (gold standard)
Pemeriksaan histologi jaringan merupakan cara untuk menegakkan diagnosis pasti kanker
payudara. Bahan pemeriksaan dapat diambil melalui biopsi eksisional (untuk ukran tumor < 3 cm) atau
biopsi insisional (untuk tumor operable dengan ukuran > 3 cm sebelum operasi defenitif dan untuk
tumor yang inoperable) yang kemudian diperiksa potong beku atau PA. Untuk biopsi kelainan yang
tidak dapat diraba seperti temuan pada mammografi dapat dilakukan ultrasound atau stereotactic core
biopsy yaitu pungsi dengan jarum besar yang akan menghasilkan suatu silinder jaringan yang cukup
untuk pemeriksaan termasuk tehnik biokimia.2,3,6
3. Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan sitopatologi dilakukan dengan FNAB (find needle aspiration biopsy).
Sensitifitasnya dalam mendiagnosis keganasan dilaporkan sebesar 90 -95% bila tepat cara pengambilan
dan ekspertisi oleh ahlinya.2,3
4. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin dan kimia darah dilakukan sesuai dengan perkiraan metastasis
misalnya alkali fosfatase dan liver finction test untuk metastasis ke hepar atau kadar kalsium dan fosfor
untuk metastasis ke tulang.

5. Pemeriksaan metastasis jauh


Pemeriksaan lain seperti foto thoraks, bone scanning, USG abdomen, dan CT scan dilakukan
dengan mencari metastasis jauh. Pemeriksaan yang direkomendasikan oleh PERABOI adalah foto
thoraks dan USG abdomen sedangkan bone scaning (bila sitologi dan/atau klinis sangat mencurigakan
pada lesi > 5 cm) dan CT scan dilakukan atas indikasi.
Metastasis diparenkim paru pada foto rontgen memperlihatkan gambaran coin lesion yang
multiple dengan ukuran yang bermacam – macam. Metastasis dapat pula mengenai pleura yang akan
menimbulkan efusi pleura. Metastasis ketulang vertebra akan terlihat pada foto rontgen sebagai
gambaran osteolitik/destruksi yang dapat menyebabkan fraktur patologis.2,3
6. Pemeriksaan penanda tumor (tumor marker) dan imunohistokimia
Pemeriksaan kadar CEA dan CA 27.29 (CA 15-3) mungkin berguna untuk memantau respon
terhadap terapi pada penyakit yang lebih lanjut. Pemeriksaan imunohistokimia seperti ER, PR, c-erb-2
(HER – 2 neu), cathepsin-D, dan p53 bersifat situasional.6

X. KLASIFIKASI
A. Sistem TNM2
Tumor primer (T)
Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 : Tidak terdapat tumor primer
Tis : Karsinoma insitu
T1 : Tumor ≤ 2 cm
T2 : Tumor > 2 cm dan < 5 cm
T3 : Tumor > 5 cm
T4 : Berapapun ukuran tumor dengan eksitasi langsung ke dinding dada atau pada keduanya, dapat
berupa borok, edema, atau bengka, kult payudara kemerahan, atau ada benjolan kecil dikulit
diluar tumor utama.
Kelenjar getah bening regional / nodul (N)
Nx : KGB regional tidak bisa dinilai
N0 : Tidak terdapat metastase KGB regional
N1 : Dijumpai metastase KGB aksila ipsilateral yang mobile.
N2 : Teraba KGB aksila ipsilateral terfiksasi, berkoglomerasi, atau secara klinis ada pembesaran KGB
mamaria interna ipsilateral tanpa adanya metastase ke KGB aksila.
N3 : Metastase pada KGB infraklavicula ipsilateral dengan atau tanpa keterlibatan KGB aksila atau
klinis terdapat metastase pada KGB mamaria interna ipsilateral dan secara klinis terbukti adanya
metastase pada KGB aksila atau adanya metastase pada KGB atau adanya metastase pada KGB
supraklavikula ipsi lateral dengan atau tanpa keterlibatan KGB aksila atau mamaria interna.
Metastase Jauh (M)
Mx : Metastase jauh tidak dapat dinilai
M0 : Tidak terdapat metastase
M1 : Terdapat metastase jauh

Stadium Klinis

Stadium T N M
Stadium 0 Tis N0 M0
Stadium I T1 N0 M0
Stadium II A T0 N1 M0
T1 N1 M0
T2 N0 M0
Stadium II B T2 N1 M0
T3 N0 M0
Stadium III A T0 N2 M0
T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N1 M0
T3 N2 M0
Satdium III B T4 N0 M0
T4 N1 M0
T4 N2 M0
Stadium III C Semua T N3 M0
Stadium IV Semua T Semua N M1

1. Stadium I
Tumor sangat kecil, diameter tumor
terbesar kurang dari atau sama dengan 2 cm dan
tidak ada metastase ke kelenjar limfe regional.10
Gambar 5. Stadium I kanker payudara

2. Stadium II A
A. Tidak ada tanda – tanda tumor payudara, tapi terdapat matastase kelenjar limfe mobile di
fossa aksila ipsilateral.
B. Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan telah ditemukan metastase kelenjar
limfe mobile di fossa aksila ipsilateral.
C. Diameter tumor lebih dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5 cm dan tidak ada metastase ke kelenjar
limfe regional.

Gambar 6. Sadium IIA kanker payudara11

3. Stadium II B
A. Diameter tumor lebih dari 2 cm
tapi tidak lebih dari 5 cm dan
terdapat metastase kelenjar di
fossa aksila ipsilateral.
B. Diameter tumor lebih dari 5 cm,
tetapi tidak terdapat metastase
kelenjar limfe ragional.
Gambar 7. Kanker payudara stadium IIB 11

4. Stadium III A
A. Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan terdapat metasstase kelenjar limfe di fossa aksila
ipsilateral yang terfiksasi dengan jaringan lainnya.
B. Diameter tumor lebih dari 5 cm dan terdapat metastase kelenjar limfe di fossa aksila
ipsilateral yang terfiksasi dengan jaringan lain.

Gambar 8. Kanker payudara stadium IIIA


11

5. Stadium III B
Tumor telah menyebar ke dinding
dada atau menyebabkan pembengkakan bisa
juga luka bernanah di payudara. Didiagnosis
sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah
atau bisa juga belum menyebar ke
pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas,
tapi tidak menyebar kebagian lain dari organ tubuh.11

Gambar 9. Kanker payudara stadium IIIB11

6. Stadium III C
Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastase kelenjar limfe infraclavicular ipsilateral,
atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastase kelenjar limfe mammaria interna dan metastase
kelenjar aksila, atau metastase ke kelenjar limfe supraklavikular ipsilateral.11

Gambar 10. Kanker payudara


stadium III C11

7. Stadium IV
Ukuran tumor bisa
berapa saja, tetapi telah
menyebar ke lokasi yang jauh,
yaitu tulang, paru – paru, liver, atau tulang rusuk.11

Gambar 11. Kanker payudara stadium IV11

B. Histopatologi
Kanker payudara mempunyai beberapa tipe histologi khusus yang turut mempengaruhi
prognosis, meskipun satdium klinis lebih berpengaruh. Pada stadium I tanpa keterlibatan KGB regional
5 – year survival rate sekitar 80% untuk karsinoma duktal invasif dan sekitar 90 – 95% untuk
karsinoma lobular, koloid dan comedocaesinoma. 2
Malignant (carsinoma)
1. Non invasive carsinoma
a. Non invasive ductal carsinoma
b. Lobular carsinoma in situ
2. Invasive carsinoma
a. Invasive ductal carsinoma
- Papillobular carsinoma
- Solid-tubular carsinoma
- Schirrous carsinoma

b. Special types
- Mucinous carsinoma
- Medullary carsinoma
- Invasive lobular carsinoma
- Adenoid cystic carsinoma
- Squamous cell carsinoma
- Spindel cell carsinoma
- Apocrine carsinoma
- Carsinoma with cartilaginous and or asseous metaplasia
- Tubular carsinoma
- Secretory carsinoma
- Others
c. Paget’s disease
Gradasi histologi (G)
Gx : grading tidak dapat dinilai
G1 : low grade
G2 : intermediet grade
G3 : high grade

Berikut beberapa tipe histologi dari kanker payudara :2,6,12


a. Karsinoma duktal
Karsinoma duktal invasif merupakan kelompok terbesar (78%) dari seluruh tumor ganas payudara.
Secara microskopis tampak proliferasi anaplastik epitel duktus yang dapat memenuhi dan dapat
menyumbat duktus. Karsinoma duktal noninvasif (karsinoma duktal in situ atau karsinoma intraduktal)
biasanya terjadi tanpa membentuk massa karena tidak ada komponen scirrhous.
b. Karsinoma lobular (9%)
Separuh kasus karsinoma lobular ditemukan in situ tanpa tanda – tanda invasi lokal sehingga
sering dianggap premaligna dan disebut neoplasma lobular. Secara histologi menunjukkan gambaran
sel – sel anaplastik yang semuanya terletak didalam lobulus – lobulus.
c. Comedocarsinoma
Dictus yang diisi oleh tumor sel kecil dan debris sentral.
d. Karsinoma medular (4%)
Gambaran histologi menunjukkan strome yang sedikit dan penuh berisi kelompok sel yang belum
berdifferensiasi, tidak teratur dan tidak jelas membentuk kelenjar atau pertumbuhan kapiler. Terdapat
banyak sebukan limfosit yang menjolok pada stroma didalam tumor.
e. Karsinoma koloid (3%)
Duktus dihambat oleh sel – sel karsinoma dan kista proksimal berkembang.
f. Karsinoma mukoid/musinus (3%)
Tumor ini tumbuh perlahan – lahan dan secara mikroskopik sel tumor yang menghasilkan musin
terususun membentuk asinus pada beberapa tempat. Juga tampak sel – sel cincin stempel (signet ring
cells).
g. Karsinoma skirus (schirrous)
Pada pemeriksaan mikroskopik tumor terdiri dari stroma yang padat dengan kelompok sel epitel
yang terlepas atau membentuk kelenjar. Sel – sel berbentuk bulat atau poligonal, hiperkromatik.
h. Karsinoma inflamasi (1%)
Karsinoma ini memiliki prognosis paling buruk. Sistem limfa dipenuhi oleh tumor memicu
perubahan [payudara dan kulit yang mirip infeksi.
i. Penyakit paget (1%)
Merupakan karsinoma intraduktus pada saluran ekskresi utama yang menyebar ke kulit puting susu
dan areola, sehingga terjadi kelainan menyerupai ekzema yaitu adanya krusta di daerah papil dan
areola. Jika tidak ditemukan massa tumor dibawahnyapenyakit ini termasuk karsinoma in situ, tapi jika
ada massa tumor termasuk karsinoma duktal invasif. Kelainan ini ditemukan pada wanita berusia lebih
tua dari penderita kanker payudara umumnya dan bersifat unilateral. Tanda khas adalah adanya
penyebukan epidermis oleh sel ganas yang disebut sel peget.

XI. PENATALAKSANAAN
A. Modalitas terapi
Untuk kanker payudara terdapat beberapa modalitas terapi yang bisa dipilih :
1. Operasi 2,3,7
Terdapat beberapa jenis operasi untuk terapi yaitu BCS (breast conversing surgery), simple
mastektomy, modified radical mastectomny, dan radical mastectomy. Diantara beberapa jenis operasi
tersebut metode yang paling tua adalah radical mastectomy klasik dari halsted. Pada radical
mastectomy dilakukan pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya, m. Pectoralis mayor,
m. Pectoralis minor dan semua kelenjar ketiak sekaligus. Pembedahan ini merupakan standar baku
sejak awal abad ke 20 hingga tahun 50-an namun sekarang sudah jarang dilakukan kecuali jika ada
tumor payudara yang sangat besar dan melekat ke otot pectoralis.
Setelah tahun 60-an radical matectomy mulai digantikan oleh modified radical mastectomy. Oleh
Patey. Pada modified radical mastectomy ini m. Pectoralis mayor dipertahankan sehingga suplai
persarafannya tidak terganggu dan efek kosmetik pada dinding dada yang terjadi bila dilakukan radical
mastectomy dapat dikurangi. M. Pectoralis monir dapat pula dipertahankan, atau diretraksi untuk
mendapatkan akses ke aksila. Bukti – bukti menunjukkan tidak ada perbedaan pada tingkat rekurensi
lokal dan survival antara radical mastectomy dan midified radical mastectomy.
Pada simple mastectomy dilakukan pengangkatan payudara saja tanpa mengangkat limfonodus
atau otot. Pembesaran KGB aksilla dirawat dengan radioterapi. Metode ini dipopulerkan oleh
MacWirter di Inggris. Bila dilakukan pengangkatan payudara pertimbangkan kemungkinan
rekonstruksi mammae dengan implantasi prostesis atau cangkok flap musculocutan. Rekonstruksi ini
dapat dilakukan sekaligus dengan bedah kuratifatau beberapa waktu setelah radioterapi atau
kemoterapi adjuvan. Bila hal ini tidak dapat dilakukanusahakan prostesis eksterna.
Sekarang biasanya dilakukan pembedahan kuratif dengan mempertahankan payudara yang disebut
dengan Breast convesing surgery (BCS). BCS merupakan satu paket yang terdiri dari tiga tindakan
yaitu pengangkatan tumor (lupektomi luas atau tumorektomi atau segmentektomi atau kuadrantektomi)
ditambah diseksi kelenjar aksilla dan radioterapi pada sisa payudara tersebut.penyinaran diperlukan
untuk mencegah kambuhnya tumor da payudara dari jaringan tumor yang tertinggal atau dari sarang
tumor lain (karsinoma multisentrik) BCS secara kosmetik labih baik dari mastekstomi bahkan yang
telah direkonstruksi sekalipun. Tapi deseksi aksilla disini lebih sulit dikerjakan karena otot – otot
pektoral tetap intact dan jaringan payudara masih ada sehingga pembukaan lapangan operasi aksilla
terhambat.
Indikasi BCS :
- T = 3 cm (stadium I atau II)
- Pasien ingin mempertahankan payudaranya
Syarat BCS :
1. Keinginan penderita setelah dilakukan informed consent.
2. Penderita dapat melakukan kontrol rutin setelah pengobatan.
3. Tumor terletak tidak sentral
4. Perbandingan ukuran tumor dan volume payudara cukup baik untuk kosmetik pasca BCS.
5. Mammografi tidak mempertahankan mikrokalsifikasi atau tanda keganasan lain yang difus (luas).
6. Tumor tidak multiple.
7. Belum pernah terapi radiasi di dada.
8. Tidak menderita SLE atau penyakit kolagen.
9. Terdapat saran radioterapi yang memadai (megavolt)

2. Radiasi 2,3,6,7
Radioterapi untuk kanker payudara dapat diberikan sebagai terapi primer, adjuvant atau paliatif.
Radioterapi kuratif tunggal tidak begitu efektif tetapi radioterapi adjuvan cukup bermanfaat.
Radioterapi paliatif dapat dilakukan dengan hasil baik untuk waktu terbatas bila tumor sudah tidak
operabel.

Radioterapi adjuvant diberikan bila ditemukan keadaan sebagai berikut :


1. Setelah tindakan operasi terbatas (BCS)
2. Tepi sayatan dekat (T>T2) atau tidak bebas tumor
3. Tumor sentral atau medial
4. KGB (+) dengan eksistensi ekstra kapsuler

Acuan pemberian radioterapi :

A. Pada dasarnya diberikan radiasi lokoregional (payudara dan aksilla beserta supraklavikula) kecuali
:
- Pada keadaan T < T2 bila cN = 0 dan pN, maka tidak dilakukan radiasi pada KGB aksilla
supraklavikula.
- Pada keadaan tumor dimedial/sentral diberikan tambahan radiasi pada mammaria interna.
B. Dosis lokoregional profilaksis adalah 50Gy, booster delakukan sebagai berikut :
- Pada yang potensial terjadi residif ditambahkan 10 Gy (misalnya tepi sayatan dekat tumor atau
post BCS).
- Pada yang terdapat massa tumor atau residu post op (mikroskopik atau makroskopik) maka
diberikan booster dengan dosis 20 Gy kecuali untuk aksilla 15 Gy.

3. Kemoterapi 2,3,6,7
Kemoterpai merupakan salah satu terapi sistemik yang dapat digunakan sebagai terapi adjuvan
atau paliatif. Kemoterapi adjuvant dapat diberikan pada pasien pasca mastektomi yang pada
pemeriksaan histopatologik ditemukan metastase disebuah atau beberapa kelenjar. Kemoterapi juga
dapat diberikan sebelum pembedahan pada kanker payudara yang besar namun masih operabel pada
stadium lokal lanjut. Berdasarkan penelitian kemoterapi yang disebut kemoterapi neoadjuvan ini dapat
mengecilkan ukuran tumor sehingga memudahkan pembedahan. Kemoterapi paliatif dapat diberikan
pada pasien yang telah menderita metastase sistemik. Obat kemoterapi siberikan dalam bentuk
kombinasi seperti CAF (CEF), CMF dan AC. Kemoterapi adjuvann diberikan sebanyak 6 siklus,
paliatif 12 siklus dan neoadjuvan 3 siklus praterapi primer ditambah 3 siklus pasca terapi primer.
4. Hormonal 2,3,6,7
Dasar dari pemberian terapi hormonal adalah fakta bahwa 30 – 40% kanker payudara adalah
hormon dependen. Terapi ini semakin berkembang dengan ditemukannya reseptor estrogen dan
progesteron. Kanker payudara dengan reseptor estrogen dan progesteron yang merespon positif terapi
hormonal mencapai 77%. Terapi hormonal merupakan terapi utama stadium IV dasamping kemoterapi
karena kedua – duanya merupakan terapi sistemik. Terapi hormonal biasanya diberikan sebelum
kemoterapi karena efek terapinya lebih lama dan efek sampingnya lebih sedikit.
Sebelum pemberian terapi hormonal dilakuakan uji reseptor (estrogen reseptor/ER positif atau
progestero reseptor/PR positif) dan dipertimbangkan status hormonal penderita (premenopause, 1-5
tahun menopause, dan pasca menopause). Setelah itu ditentukan apakah terapai hormonal akan
diberikan secara addiktif atau ablatif. Terapi additif berupa pemberian obat – obatan (antiestrogen,
aromatase inhibitor, megestrol acetat dan androgen atau estrogen) dilakukan pada pasien
pascamenopause. Yang tergolong antiestrogen adalah tamoxifen citrate, toremifene, dan raloxifene tapi
raloxifene lebih banyak digunakan untuk pengobatan osteoporosis. Aromatase inhibitor seperti
anasrtozole dan lertozole menghambat konversi androgen menjadi estrogen. Terapi ablatif berupa
ovarektomi bilateral, dilakukan bila tanpa pemeriksaan reseptor, pada wanita premenopause dan wanita
yang sudah 1 – 5 tahun menopause dengan ER (+) dan pada penyakit yang bersifat slow growing dan
intermediategrowing.
5. Imunologik
Sekitar 15 – 25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu pertumbuhan atau HER2
secara berlebihan dan untuk pasien seperti ini, trastuzumab, antibodi yang secar khusus dirangsang
untuk menyerang HER2 den menghambat pertumbuhan tumor, bisa menjadi pilhan terapi. Pasien
sebaiknya juga menjalanai ter HER2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab.
B. Pilihan terapi berdasarkan stadium
Pada stadium I, II, dan III awal (stadium operable) sifat pengobatan adalah kuratif dengan
pembedahan sebagai terapi primer, terapi lainnya hanya bersifat adjuvan. Semakin cepat dilakukan
pembedahan semakin tinggi akurasinya. Sedangkan untuk stadium III akhir dan stadium IV sifat
pengobatannya adalah paliatif yang terutama untuk mengurangi penderitaan pasien dan memperbaiki
kualitas hidup.
1. Kanker payudara stadium 0
Dilakukan BCS atau simple mastectomy. Terapi definitif pada T0 tergantung pada pemeriksaan
blok parafin, lokasinya didasarkan pada hasil pemeriksaan imaging.
2. Kanker payudara stadium dini/operable
Dilakukan BCS (harus memenuhi syarat) atau modified radical mastectomy atau radical
mastectomy dengan atau tanpa terapi adjuvan. Terapi adjuvan diberikan berdasarkan ada atau tidaknya
metastase kekelenjar getah bening aksila, reseptor estrogen atau reseptor progesteron dan usia
premenopause atau postmenopause atau usia tua.
3. Kanker payudara lokal lanjut/locally advanced
a. Operable locally advanced
Simple mastectomy + radiasi kuratif + kemoterapi adjuvan + terapi hormonal.
b. Inoperable locally advanced
- Radiasi kuratif + kemoterapi + terapi hormonal
- Radiasi + operasi + nkemoterapi + terapi hormonal
- Kemoterapi neoadjuvan + operasi + kemoterapi + radiasi + hormonal terapi.
4. Kanker payudara lanjut metastase jauh
Terapi primer pada stadium IV adalah terapi sistemik yaitu terapi hormonal dan kemoterapi. Terapi
lokoregional seperti radiasi dan pembedahan hanya dilakukan untuk palisi pada daerah – daerah tulang
weight bearing yang mengandung metastase atau pada tumor bed yang berdarah, difus, dan berbau
yang mengganggu disekitarnya.

XII. DIAGNOSIS BANDING


1. Fibroadenoma
Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak dan merupakan golongan terbesar dari tumor payudara
yaitu 45,28% di RS Dr Soetomo. Fibroadenoma mammae (FAM) ini secara klinis diketahui sebagai
tumor dipayudara dengan konsistensi padat kenyal, dapat digerakkan dari aringan disekitarnya
berbentuk bulat lonjong dan berbatas tegas. Pertumbuhannya lambat tidak ada perubahan dengan
warna disekitarnya, dan tidak disertai rasa nyeri. FAM terdapat pada usia muda yaitu 15 – 30 tahun,
dapat dijumpai bilateral atau multilpel (15%). Sebagai tumor jinak, tidak ada metastase regional dan
jauh, pengobatanya cukup dengan eksisi tumor. 12
2. Penyakit fibrokistik
Fibrocystic disease (FCD) biasanya multipel dan bilateral, disertai rasa nyeri terutama menjelang
haid. Ukurannya dapat berubah, terasa lebih besar, penuh, dan nyeri menjelang haid dan akan mengecil
serta nyeri berkurang setelah haid selesai. Hal ini terjadi karena FCD dipengaruhi oleh keseimbangan
hormon. Tumor jenis ini umumnya tidak berbatas tegas kecuali kista soliter. Konsistensinya padat
kenyal, dapat pula kistik. Jenis yang padat kadang – kadang sukar dibedakan dengan kanker payudara
dini. Kelainan ini dapat juga dijumpai tanpa massa tumor yang nyata hingga jaringa payudara teraba
padat, permukaan granular. Pengobatan FCD umunya adalah medikamentosa simptomatis. Namun
apabila medikamentosa tidak menghilangkan keluhan nyerinya dan ditemukan pada usia pertengahan
sampai tua diperlukan terapi operatif.12
3. Cystosarcoma philloides
Gambaran klinis cystosarcoma philloides dapat seperti FAM yang besar. Bentuknya bulat lonjong,
permukaan berbenjol, batas tegas ukuran bisa mencapai 20 – 30 cm. Konsistensinya dapat padat kenyal
tapi ada bagian yang kistik. Walaupun ukuranya besar tidak ada perlengketan didasar atau kulit. Kulit
payudara tegang, mengkilat dan tampak venektasi. Chystosarcoma philloides tidak bermetastase karena
ini dalah kelainan jinak tapi sejumlah kecil (27%) ditemukan dalam bentuk ganas yang disebut
malignant cystosarcoma philloides. Pengobatannya dalah simple mastekstomy untuk encegah residif.
Pada orang muda atau belum berkeluarga dapat dipertimbangkan untuk mastektomi subkutan. 12
4. Galactocele
Galactocele bukan kelainan neoplasma atau pertumbuhan baru melainkan suatu massa tumor kistik
yang timbul akibat tersumbatnya duktus laktiferus pada ibu – ibu yang sedang atau baru selesai masa
laktasi. Tunot ini berbatas tegas, bulat dan kistik karena berisi ait susu yang mengental.12
5. Mastitis
Mastitis adalah suatu infeksi pada kelenjar payudara yang biasanya terdapat pada wanita yang
sedang menyususi. Ditemukan tanda – tanda radang dan sering sudah menjadi abses.12

XIII. PENCEGAHAN
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena
dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai
faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat. Pencagahan primer ini juga bisa berupa pemeriksaan
SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) yang dilakukan secara rutin sehingga bisa memperkecil
faktor risiko terkena kanker payudara.

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri).

Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan benjolan pada
stadium dini. Sebaiknya SADARI dilakukan pada waktu yang sama setiap bulan. Bagi wanita yang
masih mengalami menstruasi, waktu yang paling tepat untuk melakukan SADARI adalah 7-10 hari
sesudah hari 1 menstruasi. Bagi wanita pasca menopause, SADARI bisa dilakukan kapan saja, tetapi
secara rutin dilakuka setiap bulan (misalnya setiap awal bulan).

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)

1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan
kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan
perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari utting susu.
Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut
2. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua
tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan
perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada
payudara bagian bawah.

3. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan
sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara.

4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri.
Gerakkan jari- jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara,
mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara
perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap
payudara kanan

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker
payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal merupakan populasi at risk dari
kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode
deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui mammografi diklaim memiliki akurasi
90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada
wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena itu, skrining
dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain:

a. Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk assessement survey.
b. Pada wanita dengan faktor risiko mendapat Referensi untuk dilakukan mammografi setiap tahun.
c. Wanita normal mendapat Referensi mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia 50 tahun.
Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada
wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dibandingkan yang
tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila
dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%

3. Pencegahan tertier

Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara.
Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi
kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan
pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap
ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi
dengan sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan yang diberikan hanya berupa simptomatik dan
dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif dengan obat herbal kanker payudara.

XIV. PROGNOSIS

Prognosis kanker payudara dapat ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu :6

A. Stadium klinik
Tabel . Prognosis kanker payudara berdasarkan stadium klinik

Stadium klinik 5 tahun (%) 10 tahun (%)


0 >90 90
I 80 65
II 60 45
IIIA 50 40
IIIB 35 20
IV 10 5

B. Keterlibatan histologik KGB aksila


Tabel . Prognosis kanker payudara berdasarkan keterlibatan histologik KGB aksila

KGB Aksila 5 tahun (%) 10 tahun (%)

Tidak ada 80 65

1-3 KGB 65 40

>3 KGB 30 15

C. Ukuran tumor
Tabel . Prognosis kanker payudara berdasarkan ukuran tumor

Ukuran tumor (cm) 10 tahun (%)

<1 80
3–4 55
5 – 7,5 45

D. Histologi
Kanker yang poor differentiated, metaplasia dan grade tinggi mempunyai prognosis yang lebih
buruk dibandingkan dengan kanker yang well differentiated.
E. Reseptor hormon
Pasien dengan kanker yang bersifat ER positif mempunyai waktu survival yang lebih lama
dibandingkan pasien dengan kanker yang bersifat ER negatif.