Anda di halaman 1dari 37

MINI CEX

OD KATARAK SENILIS IMATUR


OS PTERIGIUM grade IV

Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Mata
RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun oleh:
Teuku M Arief Yamin
01.211.6539

Pembimbing:
dr. Rosalia Septiana W, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA


RSUD DR. LOEKMONO HADI KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Tn. M
Umur : 60 tahun
Agama : Islam
Alamat : Gondoharum
Pekerjaan : Tidak bekerja
No. RM : 773080
Tanggal Pemeriksaan : 22 Februari 2018

II. ANAMNESIS

Autoanamnesis pada tanggal 22 Februari 2018 jam 09.00 di Poli Mata.


A. Keluhan Utama :
Mata kiri terasa ada yang mengganjal.
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli mata RSUD loekmono hadi kudus pada tanggal
22 Februari 2018 dengan keluhan mata kirinya seperti ada yang mengganjal
sejak 3 bulan terakhir terutama bila mata terkena cahaya matahari, debu atau
angin serta adanya selaput yang tumbuh semakin tebal pada tepi mata kirinya.
Keluhan semakin terasa sejak 3 minggu terakhir. Awalnya penderita merasa
gatal, rasa gatal kemudian di ikuti dengan rasa perih dan panas yang disertai
dengan pengeluaran air mata dan mata menjadi merah pada. Keluhan mata
nyeri, mata silau, kelopak mata bengkak, disangkal
Pasien juga mengeluhkan pandangan nya agak berkabut pada mata
kanan sejak 1 tahun yang lalu, Awalnya pandangan seperti berkabut namun
semakin lama semakin kabur dan terlihat tidak jelas. Pandangan mata kabur
pada penglihatan jauh maupun penglihatan dekat Keluhan tidak sampai
mengganggu penglihatan.

C. Riwayat Penyakit Dahulu :


 Riwayat Hipertensi (-)
 Riwayat DM (-)
 Riwayat trauma (-)
 Riwayat alergi (-)
 Riwayat penggunaan kacamata (-)
D. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluhan serupa di keluarga
E. Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien sudah tidak bekerja dan berobat menggunakan BPJS

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. STATUS GENERALIS
 Keadaan Umum : Baik
 Kesadaran : Composmentis
 Vital Sign
 Tekanan Darah :130/80 mmHg
 Nadi : 88 kali/ menit
 Suhu : 36,60C
 Respiration Rate (RR) : 22 x / menit
 Status Gizi : Baik
B. STATUS OFTALMOLOGI

OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)


1/60 Visus 1/60
Pinhol (-) Pinhol (-)
Tidak dikoreksi Koreksi Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal, Gerak bola mata normal,
enoftalmus (-), eksoftalmus (-), enoftalmus (-), eksoftalmus (-),
Bulbus okuli
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (-),
blefarospasme (-), lagoftalmus Palpebra blefarospasme (-), lagoftalmus
(-) (-)
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat,jernih Bulat, jernih
edema (-), edema (-),
arkus senilis (-) arkus senilis (-)
Kornea
keratik presipitat (-), infiltrat keratik presipitat (-), infiltrat
(-), sikatriks (-) (-), sikatriks (-)
pterigium (-) pterigium (+)
Jernih, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, arkus senilis (-),
hipopion (-), hifema (-), Anterior hipopion (-), hifema (-),
Digital N TIO Digital N
Kripta(+), atrofi (-) coklat, Kripta(+), atrofi (-) coklat,
Iris
edema(-), synekia anterior (-) edema(-), synekia anterior (-)
Bulat, Diameter ± 3mm Bulat, Diameter ± 3mm
Pupil
refleks pupil L/TL: +/+ refleks pupil L/TL: +/+
Keruh pada sebagian lensa,
shadow tes (+) Lensa Jernih, IOL, letak sentral

Sulit dinilai Vitreus Sulit dinilai


Sulit dinilai Retina Sulit dinilai
Refleks fundus (+) Funduscopy Refleks fundus (+)
Normal Sistem Lakrimasi Normal
Tidak ada penyempitan lapang Tidak ada penyempitan lapang
Tes Konfrontasi
pandang pandang

IV. RESUME
Subjektif
Pasien mengeluh mata kirinya seperti ada yang mengganjal sejak 3
bulan terakhir terutama bila mata terkena cahaya matahari, debu atau angin
serta adanya selaput yang tumbuh semakin tebal pada tepi mata kirinya.
Keluhan semakin terasa sejak 3 minggu terakhir. Awalnya penderita merasa
gatal, rasa gatal kemudian di ikuti dengan rasa perih dan panas yang disertai
dengan pengeluaran air mata dan mata menjadi merah pada. Keluhan mata
nyeri, mata silau, kelopak mata bengkak, disangkal
Pasien juga mengeluhkan pandangan nya agak berkabut pada mata
kanan sejak 1 tahun yang lalu, Awalnya pandangan seperti berkabut namun
semakin lama semakin kabur dan terlihat tidak jelas. Pandangan mata kabur
pada penglihatan jauh maupun penglihatan dekat Keluhan tidak sampai
mengganggu penglihatan.

Objektif
 Pemeriksaan mata :
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
6/30 6/30
Visus
Pinhol (-) Pinhol (-)
Tidak dikoreksi Koreksi Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal, Gerak bola mata normal,
enoftalmus (-), eksoftalmus (-), enoftalmus (-), eksoftalmus (-),
Bulbus okuli
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (-),
blefarospasme (-), lagoftalmus Palpebra blefarospasme (-), lagoftalmus
(-) (-)
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat,jernih Bulat, jernih
edema (-), edema (-),
arkus senilis (-) arkus senilis (-)
Kornea
keratik presipitat (-), infiltrat keratik presipitat (-), infiltrat
(-), sikatriks (-) (-), sikatriks (-)
pterigium (-) pterigium (+)
Jernih, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, arkus senilis (-),
hipopion (-), hifema (-), Anterior hipopion (-), hifema (-),
Digital N TIO Digital N
Kripta(+), atrofi (-) coklat, Kripta(+), atrofi (-) coklat,
Iris
edema(-), synekia anterior (-) edema(-), synekia anterior (-)
Bulat, Diameter ± 3mm Bulat, Diameter ± 3mm
Pupil
refleks pupil L/TL: +/+ refleks pupil L/TL: +/+
Keruh pada sebagian lensa,
shadow tes (+) Lensa Jernih, IOL, letak sentral

Sulit dinilai Vitreus Sulit dinilai


Sulit dinilai Retina Sulit dinilai
Refleks fundus (+) Funduscopy Refleks fundus (+),
Normal Sistem Lakrimasi Normal
Tidak ada penyempitan lapang Tidak ada penyempitan lapang
Tes Konfrontasi
pandang pandang

V. DIAGNOSA DIFFERENSIAL
OD OS

- Katarak senilis imatur - Pinguekula


- Katarak senilis insipien - Pseudopterigium

VI. DIAGNOSA KERJA


 OD Keratopati
 OS Pterigium derajat IV

VII. DASAR DIAGNOSIS


a) OD Katarak senilis imatur
Subjektif
- Usia >50 tahun
- Pandangan berkabut sejak 3 tahun yang lalu
- Pandangan kabur jauh maupun dekat
Objektif
- Kekeruhan pada sentral lensa
- Shadow tes (+)
b) OS Pterigium grade IV
Subjektif :
- Mata terarsa ada yang ganjel
Objektif :
- Visus 1/60
- Tampak gambaran serabut avaskular berbentuk segitiga pada
permukaan bola mata
VIII. TERAPI
 Promotif :
 Menjelaskan tentang hasil pemeriksaan kepada penderita
 Menjelaskan tentang penyakit yang diderita kepada penderita
 Menjelaskan kepada penderita tentang akibat – akibat atau
komplikasi yang mungkin dapat ditimbulkan oleh penyakit dan
cara mencegahnya
 Preventif
 Kontrol secara rutin
 Dilanjutkan menggunakan obat tetes mata dan obat minum secara
teratur
 Kuratif
Medikamentosa
 Cendo Lyteers ED fl I
S 4 dd gtt 1 ODS
 Vitamin B12 mg No X
S I dd I
 Rehabilitative
 Konsumsi obat secara rutin
 Pola hidup sehat
IX. PROGNOSIS

OKULI DEKSTRA OKULISINISTRA(OS)


(OD)

Quo Ad Visam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad Vitam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad Kosmetikam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad Sanam Ad bonam Ad bonam

X. USUL DAN SARAN


Usul :
• Dilakukan EKEK + IOL
• Dilakukan pembedahan pada pterigium
• Koreksi visus pasca operasi
• Pembuatan kacamata baca pasca operasi
Saran :
 Menyarankan untuk meminum obat serta memakai tetes mata secara
teratur
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Pterigium berasal dari bahasa Yunani, pteron yang artinya wing atau
sayap, yang merupakan penetrasi lapisan Bowman akibat pertumbahan
fibrovaskuler konjungtiva yang berasal dari penebalan dan lipatan konjungtiva
bulbi yang bersifat degeneratif dan invasif. Biasanya terletak pada rima palpebrae
bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea dan
mudah mengalami peradangan. Pertumbuhan ini berbentuk seperti sayap (bentuk
lipatan segitiga abnormal) yang memiliki banyak permbuluh darah dengan puncak
di bagian sentral atau di daerah kornea. Bila terjadi iritasi maka pterigium akan
berwarna merah.

Gambar 1. Arah pertumbuhan pterigium 9


Pada dasarnya pertumbuhan ini bersifat jinak sehingga tidak memerlukan
penanganan yang khusus kecuali jika mengenai daerah pupil yang dapat
menurunkan fungsi penglihatan sehingga diperlukan tindakan pembedahan untuk
memperbaiki penglihatan. 1,2,3,4
B. Epidemiologi
Penyebaran kasus pterigium lebih banyak di daerah berdebu, beriklim
panas dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator.
Insidensi pterigium di Indonesia, yang terletak di daerah ekuator, cukup tinggi
yakni 13,1%. Suatu penelitian menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara
peningkatan prevalensi dengan peningkatan kadar paparan sinar ultraviolet (UV)
di daerah lintang selatan. Dilaporkan laki-laki dua kali lebih sering terkena
dibandingkan wanita. Kasus ini jarang ditemui pada usia di bawah 20 tahun.
Prevalensi pterigium meningkat dengan bertambahnya usia, namun rekurensi
lebih sering pada usia muda dibandingkan pada usia tua. Prevalensi paling tinggi
terdapat pada pasien dengan usia di atas 40 tahun dan insidensi paling tinggi
didapatkan pada usia 20-40. 4,5
C. Faktor Risiko
Faktor risiko pterigium meliputi: 4,5
1. Radiasi UV
Faktor risiko lingkungan yang utama timbulnya pterigium adalah paparan
sinar matahari. Sinar UV yang diabsorbsi kornea dan konjungtiva
menyebabkan kerusakan sel dan proliferasi sel.
2. Faktor Genetik
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterigium
dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga
dengan pterigium, kemungkinan diturunkan secara autosom dominan. Selain
itu, terdapat kecenderungan genetik yang berhubungan dengan insidensi yang
lebih tinggi pada laki-laki dalam jumlah yang signifikan daripada perempuan.
3. Faktor Lain
Iritasi kronik dari bahan tertentu di udara yang terjadi pada area limbus atau
perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan
terjadinya limbal defisiensi. Saat ini teori baru mengenai patogenesis dari
pterigium juga menunjukkan adanya “pterygium angiogenesis factor“. Debu,
kelembapan yang rendah, trauma kecil dari partikel tertentu, dry eye, virus
papilloma, tinggal di daerah beriklim subtropis-tropis, dan pekerjaan yang
membutuhkan kegiatan di luar ruangan juga merupakan faktor penting yang
dapat memicu timbulnya pterigium.
D. Etiologi
Etiologinya tidak diketahui dengan jelas namun diduga neoplasma, radang
dan degenerasi jaringan kolagen dan proliferasi fibrovaskuler konjungtiva yang
dapat disebabkan oleh iritasi lama akibat rangsangan asap rokok, debu, cahaya
sinar ultraviolet (sinar matahari), kelembapan yang rendah, dan udara yang panas
merupakan faktor predisposisi terjadinya pterigium.1,5
E. Patofisiologi
Berbagai faktor risiko menyebabkan terjadinya degenerasi elastis jaringan
kolagen dan proliferasi fibrovaskular dan progresivitas diduga merupakan akibat
dari kelainan lapisan Bowman kornea serta adanya pengaruh genetik.
Konjungtiva bulbi selalu mengalami kontak dengan dunia luar, seperti sinar UV,
debu, serta udara yang kering akibat cuaca panas yang mengakibatkan terjadinya
penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi yang berkembang ke kornea.
Penebalan abnormal ini dapat mengenai kedua mata (bilateral) karena kedua mata
mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan faktor-faktor tersebut.
Semua kotoran pada konjungtiva akan menuju ke bagian nasal kemudian melalui
punctum lacrimalis dialirkan ke meatus nasi infeirior. Selain itu, daerah nasal
juga mendapat paparan sinar UV yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian
konjungtiva yang lain akibat pantulan sinar UV tidak langsung dari hidung.
UV adalah mutagen untuk p53 tumor supressor gene pada limbal basal
stem cell yang merupakan sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan
defisiensi, terjadi konjungtivalisasi pada permukaan kornea yang pada gejala
muncul sebagai pertumbuhan konjungtiva ke arah kornea, vaskularisasi, inflamasi
kronis, kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terigium merupakan manifestasi
dari defisiensi limbal stem cell interpalpebral terlokalisasi yang diduga akibat
paparan sinar UV yang dapat merusak stemcell di daerah interpalpebral.
Tanpa apoptosis, TGFβ akan mengalami produksi berlebih dan
menimbulkan peningkatan proses kolagenase, sel-sel bermigrasi dan terjadi
angiogenesis. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat
jaringan subepitel fibrovaskuler. Jaringan subkojungtiva terjadi degenerasi elastis
dan proliferasi jaringan granulasi vaskuler di bawah epitel yang akhirnya
menembus kornea. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran
Bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskuler degan inflamasi ringan. Epitel
dapat normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia.
Secara histologi, epitel konjungtiva ireguler, terkadang berubah menjadi
epitel pipih berlapis dan mengalami degenerasi kolagen hialin dan elastis. Pada
puncak pterigium, epitel kornea meninggi dan membran Bowman mengalami
degenerasi hialin dan elastis. Terdapat degenerasi stroma yang berproliferasi
sebagai jaringan granulasi yang memiliki banyak pembuluh darah. Degenerasi ini
menyebuk ke dalam kornea serta merusak membran Bowman dan stroma kornea
bagian atas. Histopatologi dari kolagen pada daerah yang mengalami degenerasi
elastis menunjukkan basophilia dengan pengecatan hematoxylin dan eosin (HE).
1,4,5,6

Gambar 2. Histopatologi Pterigium 10


F. Manifestasi Klinik
1. Gejala Subjektif
Pasien dengan pterigium memiliki berbagai keluhan, mulai dari tidak
mengalami keluhan sama sekali hingga mata merah, gatal, panas, mengganjal,
mata mudah merah kemudian berair ataupun penurunan visus pada salah satu
mata ataupun keduanya namun pasien tidak mengeluhkan adanya pterigium.
Beberapa lainnya datang dengan keluhan adanya sesuatu yang tumbuh di atas
korneanya dan merasa seperti kelilipan saat berkedip. 5,6,7
2. Gejala Objektif
Pada bentuk dini, pterigium sulit dibedakan dengan pinguekula. Pada bagian
puncak, pterigium dini terdapat inflitrat kecil berwarna bercak kelabu yang
disebut pulau Fuchs. Dari pemeriksaan akan didapatkan adanya penonjolan
daging berwarna putih, tampak jaringan fibrovaskuler yang berbentuk segitiga
berkembang dari konjungtiva interpalpebrae menuju ke kornea. Tepi jaringan
berbatas tegas sebagai suatu garis yang berwarna coklat kemerahan, umumnya
tumbuh di daerah nasal. Bila mengalami iritasi, pterigium akan berwarna
merah dan menebal. 2,3,8

Gambar 3. Pterigium 11
Pterigium dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) body, bagian segitiga
yang meninggi pada pterigium dengan dasarnya ke arah kantus; (2) apex,
bagian atas pterigium, dan (3) cap yakni bagian belakang pterigium.4
Berdasarkan perjalanan penyakit, pterigium dibagi menjadi dua tipe, yaitu:
a. Pterigium Progresif : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di
kornea di bagian cap.
b. Pterigium Regresif : tipis, atrofi, sedikit vaskularisasi, membentuk
membran tetapi tidak pernah hilang.4
Bila pterigium hanya terdapat di daerah nasal/temporal saja disebut
sebagai pterigium simpleks. Apabila pterigium terdapat pada nasal dan
temporal, maka disebut sebagai pterigium dupleks.
Menurut Youngson, derajat pterigium ditentukan berdasarkan bagian
kornea yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium dan dibagi menjadi 4 yaitu:
a. Derajat 1 : Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
b. Derajat 2 : Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak
lebih dari 2 mm melewati kornea
c. Derajat 3 : Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak
melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal
(diameter pupil sekitar 3-4 mm)
d. Derajat 4 : Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga
mengganggu penglihatan.
G. Diagnosa Banding
1. Pseudopterigium
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang
cacat. Sering pseudopterigium ini terjadi pada proses penyembuhan tukak
kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea.5,6
Pada pseudopterigium yang tidak melekat pada limbus kornea, maka
probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah
pseudopterigium pada limbus,sedangkan pada pterygium tak dapat dilakukan.
Pada pseudopteyigium tidak didapat bagian head, cap dan body dan
pseudopterygium cenderung keluar dari ruang interpalpebra fissure yang
berbeda dengan true pterigium.
Perbedaan pseudopterigium dengan pterigium adalah5
- Pseudopterigium didahului riwayat kerusakan permukaan kornea seperti ukak
kornea, sedangkan pterigium tidak.
- Letak pseudopterigium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan
proses kornea sebelumnya. Beda dengan pterigium adalah selain letaknya
tidak harus pada celah kelopak mata atau fisura palpebra.
- Puncak pterigium menunjukkan pulau-pulau Fuchs pada kornea sedang
pseudopterigium tidak.
- Pseudopterigium dapat diselipkan sonde di bawahnya, sedangkan pterigium
tidak.
- Jumlah pembuluh darah pada pseudopterigium sama dengan keadaan
pembuluh darah normal.
- Pterigium bersifat pregresif, pseudopterigium tidak.

Gambar 4. Histopatologi Pseudopterigium 10


2. Pinguekula
Berbentuk kecil dan meninggi, merupakan massa kekuningan berbatasan
denganlimbus pada konjungtiva bulbi di fissura intrapalpebra dan kadang
terinflamasi. Prevalensi dan insiden meningkat denganmeningkatnya umur.
Pingecuela sering pada iklim sedang dan iklim tropis. Angka kejadian sama
pada laki laki dan perempuan. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor risiko
pinguecula.1
Secara histopatologik ditemukan epitel tipis dan gepeng, sering terdapat
hanya dua lapis sel. Lapisan subepitel tipis. Serat-serat kolagen stroma
berdegenerasi hialin yang amorf kadang-kadang terdapat penimbunan serat-
serat yang terputus-putus. Dapat terlihat penimbunan kalsium pada lapisan
permukaan.1

Gambar 5. Pinguekula 11
H. Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2
yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi
antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa
penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan
intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.
2. Bedah
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian
konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva
yang diambil dari konjungtiva bagian superior untuk menurunkan angka
kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil
yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin,
angka kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC)
sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi
dari pemakaian MMC juga cukup berat.

a. Indikasi Operasi
1) Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2) Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi
pupil
3) Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan
silau karena astigmatismus
4) Kosmetik, terutama untuk penderita wanita
b. Teknik Pembedahan
Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah
kekambuhan, dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke
kornea. Banyak teknik bedah telah digunakan, meskipun tidak ada yang
diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel.
Terlepas dari teknik yang digunakan, eksisi pterigium adalah langkah
pertama untuk perbaikan. Banyak dokter mata lebih memilih untuk
memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya.
Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat, jaringan parut yang
minimal dan halus dari permukaan kornea.

1) Teknik Bare Sclera


Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium, sementara
memungkinkan sclera untuk epitelisasi. Tingkat kekambuhan tinggi,
antara 2% dan 89%, telah didokumentasikan dalam berbagai laporan.
2) Teknik Autograft Konjungtiva
Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2% dan setinggi
40% pada beberapa studi prospektif. Prosedur ini melibatkan
pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva bulbar
superotemporal, dan dijahit di atas sklera yang telah di eksisi
pterygium tersebut. Komplikasi jarang terjadi, dan untuk hasil yang
optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan
Tenon dari graft konjungtiva dan penerima, manipulasi minimal
jaringan dan orientasi akurat dari graft tersebut. Lawrence W. Hirst,
MBBS, dari Australia merekomendasikan menggunakan sayatan besar
untuk eksisi pterigium dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat
rendah dengan teknik ini.

Gambar 6. Teknik Autograft Konjungtiva 9


3) Cangkok Membran Amnion
Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk
mencegah kekambuhan pterigium. Meskipun keuntungkan dari
penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi, sebagian besar
peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi
faktor penting untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan
epithelialisai. Sayangnya, tingkat kekambuhan sangat beragam pada
studi yang ada, diantara 2,6% dan 10,7% untuk pterygia primer dan
setinggi 37,5% untuk kekambuhan pterygia. Sebuah keuntungan dari
teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar
konjungtiva. Membran amnion biasanya ditempatkan di atas sklera,
dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap ke
bawah. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem
fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan
episkleral dibawahnya. Lem fibrin juga telah digunakan dalam
autografts konjungtiva.
3. Terapi Tambahan
Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi
masalah, dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke
dalam pengelolaan pterygia. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi
telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini, namun ada komplikasi dari
terapi tersebut.
MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena
kemampuannya untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan iradiasi
beta. Namun, dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan. Dua
bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke
sklera setelah eksisi pterygium, dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal
setelah operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan
MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.
Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan, karena
menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium, meskipun
tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan yang tersedia. Namun, efek
buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral, endophthalmitis dan
pembentukan katarak, dan ini telah mendorong dokter untuk tidak
merekomendasikan terhadap penggunaannya.
Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan
dengan pemberian:

1. Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari,


bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1 tetes/hari
kemudian tappering off sampai 6 minggu.
2. Mitomycin C 0,04% (0,4 mg/ml): 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan
bersamaan dengan salep mata dexamethasone.
3. Sinar Beta
4. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata: 1 tetes/ 3
jam selama 6 minggu, diberikan bersamaan dengan salep antibiotik
chloramphenicol, dan steroid selama 1 minggu
I. Komplikasi
Komplikasi pterigium meliputi: 4
1. Mata merah
2. Iritasi
3. Keterlibatan otot ekstraokular menyebabkan diplopia
4. Jaringan parut kronik pada konjungtiva dan kornea
5. Dry eye sindrom
6. Keganasan epitel pada jaringan epitel di atas pterigium

Komplikasi postoperative pterigium 4


1. Reaksi terhadap bahan benang
2. Rekurensi
3. Infeksi
4. Perforasi korneosklera
5. Jahitan graft terbuka hingga terjadi pembengkakkan dan perdarahan
6. Korneoscleral dellen
7. Granuloma konjungtiva
8. Epithelial inclusion cysts
9. Conjungtiva scar
10. Adanya jaringan parut di kornea
J. Prognosis
Prognosis penglihatan dan kosmetik eksisi pterigium adalah baik.
Penderita dapat beraktivitas normal setelah 48 jam setelah tindakan eksisi.
Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata
atau beta radiasi. Pasien yang mengalami kekambuhan dapat dilakukan eksisi
ulang dengan grafting.4 Umumnya rekurensi terjadi pada 3-6 bulan pertama
setelah operasi. Pasien dengan risiko tinggi timbulnya pterygium seperti riwayat
keluarga atau karena terpapar sinar matahari yang lama dianjurkan memakai
kacamata sunblock dan mengurangi intensitas terpapar sinar matahari.8
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, hal: 46-47.
2009
2. Vaughan G, Daniel et al. Konjungtiva dalam Opthalmologi Umum. Edisi 14.
Jakarta: Widya Medika. 2000
3. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Binarupa Aksara. 1983
4. Laszuarni. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6395/1/10E00178.pdf. 2009
5. Fisher JP. Pterygium. http://emedicine.medscape.com/article/1192527-
overview#showall. 2013
6. Wisnujono S, dkk. Pterigium dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr.
Soetomo, Surabaya. 1994
7. Ilyas, S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman R, Simarwata M., Widodo PS (eds).
Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Edisi ke-2.
Jakarta: Sagung Seto. 2010
8. Pterygium. Handbook of Ocular Disease Management. (Online)
http://www.revoptom.com. Diakses Oktober 2014
9. Olver J, Cassidy L. Ophthalmology at a glance. Oxford: Blackwell Publishing
company. 2005. pp: 34.
10. Sehu KW, Lee WR. Ophtalmic pathology: An illustrated guide for clinicians.
Oxford: Blackwell Publishing company. 2005. pp:48.
11. Lang GK. Gareis O, Lang GE, Recker D, Wagner P. Ophthalmology: A pocket
textbook atlas. 2nd ed. New York: Thieme. 2006. pp: 69,70,72
TINJAUAN PUSTAKA
KATARAK

2.1 Definisi
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang terjadi
akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi
akibat kedua – duanya.
Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif
ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
2.2 Faktor Resiko

Faktor resiko terjadinya katarak sangat bervariasi bergantung dari


proses patogenesis. proses umur, genetik, makanan, diabetes melitus, radiasi
ultraviolet, merokok merupakan faktor penyebab terjadinya katarak.
Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor, baik faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik yang
berpengaruh antara lain adalah umur, jenis kelamin dan faktor genetik,
sedangkan faktor ekstrinsik yang berpengaruh antara lain adalah pendidikan
dan pekerjaan yang berdampak langsung pada status sosial ekonomi dan
status kesehatan seseorang serta faktor lingkungan, dalam hubungannya
dengan paparan sinar ultraviolet.
2.3 Klasifikasi
Berdasarkan waktu perkembangannya katarak diklasifikasikan
menjadi katarak kongenital, katarak juvenil dan katarak senilis.
1. Katarak kongenital dapat berkembang dari genetik, trauma atau infeksi
prenatal dimana kelainan utama terjadi di nukleus lensa. Kekeruhan
sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir dan
umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh
lensa
2. Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah
lahir.Kekeruhan lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-
serat lensa.Biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut
sebagai soft cataract. Katarak juvenil biasanya merupakan bagian dari satu
sediaan penyakit keturunan lain.
3. Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Telah
diketahui bahwa katarak senilis berhubungan dengan bertambahnya usia
dan berkaitan dengan proses penuaan lensa.
Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Massif
Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam
depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
mata
Shadow test Negative Positif Negatif Pseudopos
Penyulit - Glaucoma - Uveitis +
glaucoma

Berdasarkan stadiumnya, katarak dibagi menjadi stadium insipien,


stadium imatur,stadium matur, dan stadium hipermatur.
1. Stadium insipien. Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan
gangguan visus. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa
bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda),terutama mengenai korteks
anterior, sedangkan aksis relatif masih jernih. Gambaran ini disebut
spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan.
2. Stadium imatur. Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa.
Kekeruhan terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang
nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka sinar dapat
masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena
kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai
bagian yang keruh ini akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan,
terlihat di pupil ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan
cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap,akibat
bayangan iris pada lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test
(+).
3. Stadium matur . Pada stadium ini lensa telah menjadi keruh seluruhnya,
sehingga semua sinar yangmelalui pupil dipantulkan kembali di
permukaan anterior lensa. Tak ada bayangan iris. Shadow test (-). Di pupil
tampak lensa yang seperti mutiara. Shadow test membedakan stadium matur
dari imatur, dengan syarat harus diperiksa lebih lanjut dengan
midriatika,oleh karena pada katarak polaris anterior juga terdapat shadow
test (-), karena kekeruhan terletak di daerah pupil. Dengan melebarkan
pupil, akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil
saja. Kadang-kadang, walaupun masih stadium imatur, dengankoreksi,
visus tetap buruk, hanya dapat menghitung jari, bahkan dapat lebih buruk
lagi1/300 atau satu per tak hingga, hanya ada persepsi cahaya, walaupun
lensanya belumkeruh seluruhnya. Keadaan ini disebut vera matur.
4. Stadium hipermatur. Korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur
telah mencair, sehingga nukleus lensa turun oleh karena daya beratnya ke
bawah. Melalui pupil, pada daerah yang keruh, nukleus ini terbayang
sebagai setengah lingkaran di bagian bawah, dengan warna yang lain
daripada bagian yang diatasnya, yaitu kecoklatan. Pada stadium ini juga
terjadikerusakan kapsul lensa, yang menjadi lebih permeabel, sehingga
isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi kempis, yang di
bawahnya terdapat nukleus lensa. Keadaan ini disebut katarak
Morgagni.
Pada perjalanan dari stadium I ke stadium IV, dapat timbul suatu
keadaan yang disebut intumesensi yaitu penyerapan cairan bilik mata depan
oleh lensa sehingga lensamenjadi cembung dan iris terdorong ke depan, bilik
mata depan menjadi dangkal. Hal ini tidak selalu terjadi.Pada umumnya
terjadi pada stadium II.
Selain itu terdapat jenis katarak lain :
Katarak rubella :
 Ditularkan melalui Rubella pada ibu hamil
Katarak Brunesen
 Katarak yang berwarna coklat sampai hitam, terutama pada
nucleus lensa
 Dapat terjadi pada pasien diabetes mellitus dan myopia tinggi.
Katarak Komplikata :
 Katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses
degenerasi.
 Mempunyai tanda khusus yaitu selamanya dimulai di korteks atau
dibawah kapsul menuju ke korteks atau dibawah kapsul menuju
sentral
 Pada lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular ayng sewaktu-waktu
menjadi katarak lamelar.
Katarak Diabetik :
 Akibat adanya penyakit Diabetes Mellitus.
 Meningkatkan insidens maturasi katarak
 Pada lensa terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsularyang
sebagian jernih dengan pengobatan.
Katarak Sekunder
 Adanya cincin Soemmering (akibat kapsul pesterior yang
pecah) dan
 Mutiara Elsching (epitel subkapsular yang berproliferasi)
Katarak Traumatika
Dapat terjadi akibat trauma mekanik, agen-agen fisik (radiasi,
arus listrik, panas dan dingin)
2.4 Patofisiologi
Lensa mengandung tiga komponen anatomis yaitu :
 Nukleus  zone sentral
 Korteks  perifer
 Kapsul anterior dan posterior
Sebagian besar katarak terjadi karena suatu perubahan fisik dan
perubahan kimia pada protein lensa mata yang mengakibatkan lensa mata
menjadi keruh.Perubahan fisik (perubahan pada serabut halus multiple
(zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar lensa) menyebabkan
hilangnya transparansi lensa.
Perubahan kimia pada protein inti lensa mengakibatkan pigmentasi
progresif sehingga nukleus menjadi kuning atau kecokelatan juga terjadi
penurunan konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi
natrium dan kalsium serta peningkatan hidrasi lensa. Perubahan ini dapat
terjadi karena meningkatnya usia sehingga terjadi penurunan enzim yang
menyebabkan proses degenerasi pada lensa.
Penyebab pada katarak senilis belum diketahui pasti, namun diduga
terjadi karena:
a. Proses pada nucleus
Oleh karena serabut-serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong
ke arah tengah, maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih
padat (nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion kalsium dan
sklerosis.Pada nukleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen.Pada
keadaan ini lensa menjadi lebih hipermetrop. Lama kelamaan nukleus
lensa yang pada mulanya berwarna putih menjadi kekuning-kuningan, lalu
menjadi coklat dan kemudian menjadi kehitam-hitaman. Karena itulah
dinamakan katarak brunesen atau katarak nigra.
b. Proses pada korteks
Timbulnya celah-celah di antara serabut-serabut lensa, yang berisi air dan
penimbunan kalsium sehingga lensa menjadi lebih tebal, lebih cembung
dan membengkak, menjadi lebih miop. Berhubung adanya perubahan
refraksi ke arah miopia pada katarak kortikal, penderita seolah-olah
mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang
bertambah
c. Gejala Klinis

Kekeruhan lensa dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, dan dijumpai


pada pemeriksaan mata rutin. Gejala katarak yang sering dikeluhkan adalah :
i. Silau
Pasien katarak sering mengeluh silau, yang bisa bervariasi keparahannya
mulai dari penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan yang terang
hingga silau pada saat siang hari atau sewaktu melihat lampu mobil atau
kondisi serupa di malam hari.Keluhan ini khususnya dijumpai pada tipe
katarak posterior subkapsular.pemeriksaan silau (test glare) dilakukan
untuk mengetahui derajat gangguan penglihatan yang disebabkan oleh
sumber cahaya yang diletakkan di dalam lapang pandangan pasien.
ii. Diplopia monokular atau polypia
Terkadang, perubahan nuklear terletak pada lapisan dalam nukleus lensa,
menyebabkan daerah pembiasan multipel di tengah lensa.Daerah ini dapat
dilihat dengan refleks merah retinoskopi atau oftalmoskopi direk.Tipe
katarak ini kadang-kadang menyebabkan diplopia monokular atau polypia.
iii. Halo
Hal ini bisa terjadi pada beberapa pasien oleh karena terpecahnya sinar
putih menjadi spektrum warna oleh karena meningkatnya kandungan air
dalam lensa.
iv. Distorsi
Katarak dapat menyebabkan garis lurus kelihatan bergelombang, sering
dijumpai pada stadium awal katarak.
v. Penurunan tajam penglihatan
Katarak menyebabkan penurunan penglihatan progresif tanpa rasa nyeri.
Umumnya pasien katarak menceritakan riwayat klinisnya langsung tepat
sasaran, dan pasien menceritakan kepada dokter mata, aktivitas apa saja
yang terganggu. Dalam situasi lain, pasien hanya menyadari adanya
gangguan penglihatan setelah dilakukan pemeriksaan. Setiap tipe katarak
biasanya mempunyai gejala gangguan penglihatan yang berbeda-beda,
tergantung pada cahaya, ukuran pupil dan derajat miopia.Setelah didapat
riwayat penyakit, maka pasien harus dilakukan pemeriksaan penglihatan
lengkap, dimulai dengan refraksi.Perkembangan katarak nuklear sklerotik
dapat meningkatkan dioptri lensa, sehingga terjadi miopia ringan hingga
sedang.
vi. Sensitivitas kontras
Sensitivitas kontras mengukur kemampuan pasien untuk mendeteksi
variasi tersamar dalam bayangan dengan menggunakan benda yang
bervariasi dalam hal kontras, luminance, dan frekuensi spasial.Sensitivitas
kontrak dapat menunjukkan penurunan fungsi penglihatan yang tidak
terdeteksi dengan Snellen.Namun, hal tersebut bukanlah indikator spesifik
hilangnya tajam penglihatan oleh karena katarak.
vii. Myopic shift
Perkembangan katarak dapat terjadi peningkatan dioptri kekuatan lensa,
yang umumnya menyebabkan miopia ringan atau sedang.Umumnya,
pematangan katarak nuklear ditandai dengan kembalinya penglihatan dekat
oleh karena meningkatnya miopia akibat peningkatan kekuatan refraktif
lensa nuklear sklerotik, sehingga kacamata baca atau bifokal tidak
diperlukan lagi. Perubahan ini disebut ”second sight”. Namun, seiring
dengan perubahan kualitas optikal lensa, keuntungan tersebut akhirnya
hilang juga.
d. Diagnosis
a) ANAMNESIS :
 Penurunan ketajaman penglihatan secara bertahap (gejala utama
katarak)
 Mata tidak merasa sakit, gatal , atau merah
 Gambaran umum gejala katarak yang lain seperti :
 Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film
 Perubahan daya lihat warna
 Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar
sangat menyilaukan mata
 Lampu dan matahari sangat mengganggu
 Sering meminta resep ganti kacamata
 Penglihatan ganda (diplopia)
b) PEMERIKSAAN FISIK MATA
1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan
2. Melihat lensa dengan penlight dan loop
Dengan penyinaran miring (45 derajat dari poros mata)
dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir
iris pada lensa yang keruh (iris shadow).Bila letak bayangan
jauh dan besar berarti kataraknya imatur, sedangkan bayangan
dekat dan kecil dengan pupil terjadi katarak matur.
3. Slit lamp
4. Pemeriksaan opthalmoskop (sebaiknya pupil dilatasi)
e. Penatalaksanaan
Tidak ada terapi medis untuk katarak.Ekstraksi lensa diindikasikan
apabila penurunan penglihatan mengganggu aktivitas normal penderita.
Indikasi pembedahan pada katarak senilis :
 Bila katarak menimbulkan penyulit seperti uveitis atau glukoma,
meskipun visus masih baik untuk bekerja, dilakukan operasi
juga setelah keadaan menjadi tenang.
 Bila sudah masuk dalam stadium matur karena dapat
meninmbulkan penyulit
 Bila visus meskipun sudah dikoreksi, tidak cukup untuk
melakukan pekerjaan sehari-hari atau visus < 6/12.
Terapi pembedahan :
a. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsuler)
Teknik ini sudah jarang digunakan setelah adanya teknik EKEK. Pada
EKIK dilakukan pengangkatan seluruh lensa, termasuk kapsul lensa. Pada
teknik ini dilakukan sayatan 12-14 mm, lebih besar dibandingkan dengan
teknik EKEK. Dapat dilakukan pada zonula zinn yang telah rapuh/
berdegenerasi/ mudah diputus.2
- Keuntungan :
o Tidak timbul katarak sekunder
o Diperlukan instrumen yang tidak terlalu canggih (lup operasi,
cryoprobe, forsep kapsul)
- Kerugian :
o Insisi yang lebih besar dapat mengakibatkan :
o Penyembuhan dan rehabilitasi visual tertunda
o Astigmatisma yang signifikan
o Inkarserasi iris dan vitreus
o Lebih sering menimbulkan penyulit seperti glaukoma, uveitis,
endolftalmitis.
b. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler)
Dilakukan dengan merobek kapsul anterior, mengeluarkan nukleus dan
korteks. Sebagian kapsul anterior dan seluruh kapsul posterior
ditinggal.Cara ini umumnya dilakukan pada katarak dengan lensa mata
yang sangat keruh sehingga sulit dihancurkan dengan teknik
fakoemulsifikasi.Selain itu, juga dilakukan pada tempat-tempat di mana
teknologi fakoemulsifikasi tidak tersedia.Teknik ini membutuhkan sayatan
yang lebar, karena lensa harus dikeluarkan dalam keadaan utuh.Setelah
lensa dikeluarkan, lensa buatan/ Intra Ocular Lens (IOL) dipasang untuk
menggantikan lensa asli, tepat di posisi semula.Lalu dilakukan penjahitan
untuk menutup luka. Teknik ini dihindari pada penderita dengan zonulla
zinii yang rapuh.2
- Keuntungan :
o Luka insisi lebih kecil (8-12 mm) dibanding EKIK
o Karena kapsul posterior utuh maka :
 Mengurangi resiko hilangnya vitreus durante operasi
 Posisi anatomis yang lebih baik untuk pemasangan IOL
 Mengurangi insidensi ablasio retina, edema kornea,
perlengketan vitreus dengan iris dan kornea
 Menyediakan barier yang menahan pertukaran beberapa
molekul antara aqueous dan vitreus
 Menurunkan akses bakteri ke kavitas vitreus yang dapat
menyebabkan endofthalmitis.
- Kerugian :
o Dapat timbul katarak sekunder.
c. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan
getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nucleus dan korteks melalui
insisi limbus yang kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan
luka pasca-operasi, disamping perbaikan penglihatan juga lebih
baik.Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik dan
kebanyakan katarak senilis. Teknik ini kurang efektif pada katarak senilis
yang padat, dan keuntungan insisi limbus yang kecil agak berkurang kalau
akan dimasukkan lensa intraokuler. Kerugiannya kurve pembelajaran lebih
lama, biaya tinggi, dan komplikasi saat operasi bisa lebih serius.1,4Teknik
ini menghasilkan insidensi komplikasi luka yang lebih rendah, proses
penyembuhan dan rehabilitasi visual lebih cepat. Teknik ini membuat
sistem yang relatif tertutup sepanjang fakoemulsifikasi dan aspirasi, oleh
karenanya mengontrol kedalaman COA sehingga meminimalkan risiko
prolaps vitreus.5
Persiapan operasi :
1. Status oftalmologik
 Tidak dijumpai tanda-tanda infeksi
 TIO normal
 Saluran air mata lancar
2. Keadaan umum/sistemik
 Hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin, waktu
pembekuan, waktu perdarahan, kadar gula darah dalam batas normal
 Tidak dijumpai batuk produktif
 Pada penderita DM atau hipertensi, keadaan penyakit tersebut
harus terkontrol.
Perawatan pasca operasi :

- Mata dibebat
- Diberikan tetes antibiotika dengan kombinasi antiinflamasi
- Tidak boleh mengangkat benda berat, menggosok mata, berbaring di
sisi mata yang baru dioperasi, dan mengejan keras.
- Kontrol teratur untuk evaluasi luka operasi dan komplikasi setelah
operasi.
- Bila tanpa pemasangan IOL, maka mata yang tidak mempunyai lensa
lagi (afakia) visusnya 1/60, sehingga perlu dikoreksi dengan lensa
S+10D untuk melihat jauh. Koreksi ini diberikan 3 bulan pasca operasi.
Sedangkan untuk melihat dekat perlu diberikan kacamata S+3D.
d. Komplikasi
Komplikasi operasi katarak bervariasi berdasarkan waktu dan
luasnya.Komplikasi dapat terjadi intra operasi atau segera sesudahnya atau
periode pasca operasi lambat. Oleh karenanya penting untuk mengobservasi
pasien katarak paska operasi dengan interval waktu tertentu yaitu pada 1 hari,
1 minggu, 1 bulan, dan 3 bulan setelah operasi katarak. Angka komplikasi
katarak adalah rendah.Komplikasi yang sering terjadi endoftalmitis, ablasio
retina, dislokasi atau malposisi IOL, peningkatan TIO, dan edema macula
sistoid.
e. Prognosis
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan
pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis, karena
adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau
retina.Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi
paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak
kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat.Prognosis penglihatan
pasien dikatakan baik apabila:
 Fungsi media refrakta baik
 Fungsi retina baik
 Fungsi makula baik
 Fungsi optik disc baik
 Fungsi N. Opticus (N.II) baik
 Fungsi serebral baik
 Tidak terdapat kelainan refraksi
 Tidak ada amblyopia
DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan DG, Taylor A, Paul R. Oftalmologi umum edisi 14. Jakarta : Widya
Medika, 2000
2. Ilyas S. Penglihatan Turun Perlahan Tanpa Mata Merah. Dalam : Ilmu
Penyakit Mata. Jakarta: Balai penerbit FK UI, 1998
3. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Jogjakarta: Universitas Gajah
Mada. 2007.
4. Bobrow JC, Mark HB, David B et al. Section 11: Lens and Cataract.
Singapore : American Academy of Ophthalmology, 2008.
5. The Eye M.D. Association. Fundamentals and Principles of ophthalmology.
In: Basic and Clinical Science Course American Academy of Ophthalmology.
Section 2. Singapore : LEO; 2008.
6. Ilyas S. Katarak. Dalam : Ilyas S, Editor. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta
: Balai penerbit FKUI; 2008. Hal. 212-17.
7. The Eye M.D. Association. Fundamentals and Principles of ophthalmology.
In: Basic and Clinical Science Course American Academy of Ophthalmology.
Section 2. Singapore : LEO; 2008.
8. Crick RP, Khaw PT. Practical Anatomy and Physiology of The Eye and Orbit.
In: A Textbook of Clinical Ophtalmology. 3thEd. Singapore : FuIsland Offset
Printing (S) Pte Ltd; 2003. p 5-7.
9. Guyton AC, Hall JE. Fluid System of the Eye. In: Textbook of Medical
Physiology. 11th Ed. Pennyslvania: Elsevier Inc; 2006. p 623-25.