Anda di halaman 1dari 15

Makalah Analisis Laporan Keuangan PT.

Gudang Garam
Untuk memenuhi tugas Auditing I yang dibimbing oleh dosen Mirna Dianita S.E.,M.M.,Ak.,Ca.

Achmad Jovian Janitra 0115101419

Muhammad Berry P R 0115101476

Desvia Avisina 0115101515

Eveline Sarah A 0115101541

FAKULTAS EKONOMI
PRODI AKUNTANSI (S1)
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2017
SHEET 2 (Statement Of Financial Position)

ASET 2016 2015


Aset Lancar
Kas dan setara kas 1,595,120 2,725,891 -1,130,771 -41%
Piutang usaha pihak ketiga 2,089,949 1,568,098 521,851 33%
Persediaan 37,545,222 37,255,928 289,294 1%
Pajak pertambahan nilai dibayar dimuka 187,418 448,631 -261,213 -58%
Beban dibayar dimuka 333,084 309,744 23,340 8%
Aset lancar lainnya 182,380 260,139 -77,759 -30%
Total Aset Lancar 41,933,173 42,568,431 -635,258 -1%

Aset Tidak Lancar


Aset tetap, bersih 20,498,950 20,106,488 392,462 2%
Aset pajak tangguhan, bersih 128,507 88,210 40,297 46%
Pajak penghasilan dibayar dimuka 9,923 103,114 -93,191 -90%
Aset tidak lancar lainnya 381,081 639,170 -258,089 -40%
Total Aset Tidak Lancar 21,018,461 20,936,982 81,479 0%

TOTAL ASET 62,951,634 63,505,413 -553,779 -1%


LIABILITAS DAN EKUITAS 2016 2015
LIABILITAS
Liabilitas Jangka Pendek
Pinjaman bank jangka pendek 19,753,245 20,561,189 -807,944 -4%
Utang usaha
Pihak ketiga 1,091,412 2,349,264 -1,257,852 -54%
Pihak berelasi 26,545 21,075 5,470 26%
Utang pajak 308,852 556,163 -247,311 -44%
Utang pajak pertambahan nilai 7,114
Beban akrual 160,811 211,745 -50,934 -24%
Liabilitas jangka pendek lainnya 290,586 345,650 -55,064 -16%
21,638,565 24,045,086 -2,406,521 -10%
Total Liabilitas Jangka Pendek
Liabilitas Jangka Panjang
Liabilitas imbalan pasca kerja 1,377,390 1,114,407 262,983 24%
Liabilitas pajak tangguhan, bersih 371,451 338,011 33,440 10%
Total Liabilitas Jangka Panjang 1,748,841 1,452,418 296,423 20%
TOTAL LIABILITAS 23,387,406 25,497,504 -2,110,098 -8%
EKUITAS
Modal saham, nilai nominal
Rp 500 (rupiah penuh)
per saham:
Modal dasar:
2.316.000.000 saham
Modal ditempatkan dan disetor penuh:
1.924.088.000 saham 962,044 962,044 0%
Agio saham 53,700 53,700 0%
Selisih transaksi dengan pihak
Nonpengendali -16,168 -15,250 -918 6%
Saldo laba
Dicadangkan 200,000 200,000 0 0%
Belum dicadangkan 38,287,441 36,699,588 1,587,853 4%
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada
pemilik entitas induk 39,487,017 37,900,082 1,586,935 4%
Kepentingan nonpengendali 77,211 107,827 -30,616 -28%
TOTAL EKUITAS 39,564,228 38,007,909 1,556,319 4%

TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 62,951,634 63,505,413 -553,779 -1%


SHEET 3 ( Laporan Laba Rugi )

2016 2015
Pendapatan 76,274,147 70,365,573 5,908,574 8%
-
Biaya pokok penjualan 59,657,431
-54,879,962 -4,777,469 9%
Laba bruto 16,616,716 15,485,611 1,131,105 7%
Pendapatan lainnya 161,286 124,999 36,287 29%
Beban usaha -6,644,400 -5,579,370 -1,065,030 19%
Beban lainnya -13,515 -38,436 24,921 -65%
Laba kurs, bersih 1,951 72,063 -70,112 -97%
Laba usaha 10,122,038 10,064,867 57,171 1%
Beban bunga -1,190,902 -1,429,592 238,690 -17%
Laba sebelum pajak penghasilan 8,931,136 8,635,275 295,861 3%
Beban pajak penghasilan -2,258,454 -2,182,441 -76,013 3%
Laba 6,672,682 6,452,834 219,848 3%
Penghasilan komprehensif lain
Pos-pos yang tidak akan pernah
direklasifikasi ke laba rugi
Pengukuran kembali liabilitas imbalan
Pasti -115,412 7,576 -122,988 -1623%
Pajak penghasilan atas penghasilan
komprehensif lain 28,811 -1,894 30,705 -1621%
Jumlah penghasilan komprehensif lain -86,601 5,682 -92,283 -1624%
Jumlah penghasilan komprehensif 6,586,081 6,458,516 127,565 2%

Laba yang dapat diatribusikan kepada:


Pemilik entitas induk 6,677,083 6,435,654 241,429 4%
Kepentingan nonpengendali -4,401 17,180 -21,581 -126%
6,672,682 6,452,834 219,848 3%
Jumlah penghasilan komprehensif yang
dapat diatribusikan kepada:
Pemilik entitas induk 6,590,482 6,441,336 149,146 2%
Kepentingan nonpengendali -4,401 17,180 -21,581 -126%
6,586,081 6,458,516 127,565 2%

Laba per saham (dalam Rupiah penuh) 23 3,470 3,345 125 4%


SHEET 4 (Laporan Arus Kas )

ARUS KAS DARI AKTIVITAS


OPERASI: 2016 2015
Penerimaan kas dari pelanggan 75,745,184 70,331,169 5,414,015 8%
Pembayaran kas kepada pemasok -58,271,179 -58,015,980 -255,199 0%
Pembayaran untuk beban usaha -4,197,322 -3,482,970 -714,352 21%
Pembayaran kas kepada karyawan -2,833,313 -2,407,036 -426,277 18%
Penerimaan bunga 40,818 50,058 -9,240 -18%
Pembayaran bunga -1,233,286 -1,524,309 291,023 -19%
Pembayaran pajak penghasilan badan -2,405,902 -1,830,188 -575,714 31%
Penerimaan lainnya 92,650 80,076 12,574 16%
Kas bersih dari aktivitas operasi 6,937,650 3,200,820 3,736,830 117%

ARUS KAS DARI AKTIVITAS


INVESTASI:
Perolehan aset tetap -2,335,396 -2,923,422 588,026 -20%
Penerimaan kas dari penjualan aset tetap 109,353 23,028 86,325 375%
Kas bersih untuk aktivitas investasi -2,226,043 -2,900,394 674,351 -23%

ARUS KAS DARI AKTIVITAS


PENDANAAN:
Penerimaan dari pinjaman jangka pendek 14,700,000 11,800,000 2,900,000 25%
Pembayaran pinjaman jangka pendek -14,800,000 -10,499,500 -4,300,500 41%
Pembayaran dividen kepada:
Pemilik entitas induk -5,002,629 -1,539,270 -3,463,359 225%
Kepentingan nonpengendali -21,737 -28,697 6,960 -24%
Penyetoran modal saham entitas anak oleh
pemegang saham nonpengendali Pembelian saham entitas anak dari 2 1 1 100%
pemegang saham nonpengendali
-5,398 -17,044 11,646 -68%
Kas bersih untuk aktivitas
Pendanaan -5,129,762 -284,510 -4,845,252 1703%

(Rugi) laba kurs atas kas dan setara kas -4,672 8,474 -13,146 -155%

Foreign exchange (loss) gain on cash


and cash equivalents

(Penurunan) kenaikan bersih kas dan


setara kas -422,827 24,390 -447,217 -1834%

Net (decrease) increase in cash and cash


equivalents Cash and cash equivalents, beginning

Kas dan setara kas, awal tahun 1,264,702 1,240,312 24,390 2%


Kas dan setara kas, akhir tahun 841,875 1,264,702 -422,827 -33%
BERITA GUDANG GARAM

(https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20151112144442-78-91233/gudang-garam-berutang-rp-9-triliun-akibat-aturan-cukai-baru/)

Jakarta, CNN Indonesia -- PT Gudang Garam Tbk berencana meminjam Rp 9 triliun di akhir tahun ini akibat perubahan sistem pembayaran
cukai rokok yang dimulai tahun ini.

Perubahan sistem pembayaran tersebut tercantum di Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 20 tahun 2015, di mana industri rokok
diharuskan membayar cukai di tahun berjalan, dan tidak dibayar tertunda 2 bulan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Akibat kebijakan tersebut maka pembayaran cukai pada November dan Desember 2015 juga harus dibayar tahun ini, dan tidak dibayar pada
Januari dan Februari seperti tahun sebelumnya.

"Dengan peraturan cukai yang baru, maka semua cukai harus dibayar pada bulan itu. Makanya nanti akan ada payable sebesar Rp 9 triliun untuk
membayar penumpukan tagihan cukai di akhir tahun," jelas Sekretaris Perusahaan Gudang Garam Heru Budiman di Jakarta, Kamis (12/11).

Heru mengungkapkan, manajemen berharap bisa menarik pinjaman tersebut dengan tenor jangka pendek (short term loan), di mana pembayaran
kembali utang tersebut ditargetkan bisa selesai dalam waktu kurang dari satu tahun. Pasalnya, utang tersebut nantinya akan dibayar dengan
penerimaan lain-lain yang terjadi sepanjang Januari dan Februari.

"Biasanya pada Januari dan Februari kami bayar cukai untuk November dan Desember tahun lalunya, tapi sekarang kami tak usah bayar cukai
lagi di bulan-bulan tersebut. Jadinya penerimaan yang seharusnya digunakan sebagai pembayaran cukai bisa digunakan untuk menutupi utang
itu. Lambat laun utang juga akan berkurang sendiri," ujarnya.

Total Utang Jangka Pendek

Dengan rencana tersebut, maka utang jangka pendek perusahaan diekspektasikan akan sebesar Rp 23 triliun hingga akhir 2015. Sebagai
gambaran, Gudang Garam memiliki utang jangka pendek sebesar Rp 14 triliun hingga kuartal III 2015.
Sayangnya Heru enggan mengungkapkan identitas bank atau lembaga keuangan yang tengah dijajaki Gudang Garam untuk dapat memberikan
pinjaman Rp 9 triliun.

"Tapi utang ini hanya untuk pembayaran cukai saja. Untuk pendanaan belanja modal sebesar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun di tahun depan
kami belum ada rencana penambahan dana lagi," ujarnya.

Hingga kuartal III tahun ini, perusahaan telah membayarkan cukai rokok sebesar Rp 27,28 triliun kepada negara. Di mana pengeluaran tersebut
membebani 68 persen komponen harga pokok penjualan (HPP) perusahaan. Dengan kata lain, beban cukai yang dibayar perusahaan rata-rata
sebesar Rp 3,03 triliun per bulannya.

Sedangkan perusahaan masih memiliki utang cukai dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp 6,44 triliun di periode yang sama. Angka
tersebut meningkat 41,85 persen dari Rp 4,54 triliun di periode yang sama tahun lalu.

2.( http://market.bisnis.com/read/20160621/192/559787/gudang-garam-ggrm-bagikan-dividen-rp2.600-per-saham )
KEDIRI - Produsen rokok PT Gudang Garam Tbk. membagikan dividen Rp5 triliun kepada pemegang saham atau Rp2.600 per saham untuk
tahun buku 2015.

Keputusan pembagian dividen itu ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) emiten berkode saham GGRM itu di Kediri, Selasa
(21/6/2016).

Pembagian dividen dilakukan setelah GGRM tahun lalu mengantongi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp6,45 triliun,
naik 18,78% dari perolehan tahun sebelumnya.

Bagian laba tersebut sesungguhnya naik drastis dari dividen tahun buku 2012-2014 yang hanya flat sekitar Rp1,5 triliun atau 800 per saham.

Direktur GGRM Heru Budiman mengatakan peningkatan pay out ratio itu karena perseroan tidak lagi membutuhkan belanja modal yang besar.
"Dengan selesainya pembelanjaan barang modal, maka di 2015 dan 2016 ini, melihat bahwa level utang mengalami penurunan, maka dividen
diputuskan untuk ditingkatkan sampai dengan Rp2.600 per saham," kata Heru seusai RUPS.

Dia menjelaskan, keuntungan perseroan sebetulnya meningkat pada 2014. Namun, kebutuhan belanja modal saat itu besar dan membuat utang
meningkat. Pada saat yang sama, suku bunga pinjaman naik mulai kuartal III/2014 sehingga kian melambungkan utang perusahaan milik taipan
Susilo Wonowidjojo itu.

Akibatnya, pemimpin pasar sigaret kretek mesin (SKM) tersebut menahan sebagian besar pembayaran dividen.

3.( https://finance.detik.com/bursa-valas/2874589/omzet-rokok-rp-65-triliun-untung-gudang-garam-naik-24-jadi-rp-5-triliun

Jakarta - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan laba bersih Rp 5,36 triliun di 2014, tumbuh 24% dibandingkan laba tahun sebelumnya
Rp 4,32 triliun. Naiknya laba ini seiring dengan omzet yang meningkat.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan Gudang Garam tahun buku 2014, Selasa (31/3/2015), produsen rokok itu meraih omzet atau
pendapatan Rp 65,1 triliun di 2014, lebih tinggi 17,5% dari pendapatan di 2013 sebesar Rp 55,4 triliun.

Beban pokok penjualan emiten berkode GGRM itu juga ikut naik, dari sebelumnya Rp 44,5 triliun di 2013 menjadi Rp 51,8 triliun tahun lalu.
Setelah omzet dipotong beban usaha, maka laba kotor perusahaan tercatat sebesar Rp 13,3 triliun di 2014, naik 23%.

Perseroan mendapat laba selisih kurs sebesar Rp 16,7 miliar di 2014, dibandingkan rugi selisih kurs di 2013 sekitar Rp 12,9 miliar.

Laba usaha perusahaan yang bermarkas di Kediri, Jawa Timur, ini Rp 8,5 triliun tahun lalu, masih naik dibandingkan periode yang saham 2013
sebesar Rp 6,6 triliun.
Beban bunga yang naik tinggi hingga sebesar 81% tidak menggerus kinerja Gudang Garam. Laba sebelum pajak masih bisa tumbuh dari Rp 5,9
triliun menjadi Rp 7,2 triliun di 2014.

Pada penutupan perdagangan Sesi hari ini, harga saham GGRM naik 825 poin (1,67%) ke level Rp 50.325 per lembar. Sahamnya sudah
diperdagangkan 1.697 kali dengan volume 6.762 lot senilai Rp 34 miliar.
Analisis Laporan Keuangan

Laporan Laba-Rugi Pendapatan Usaha/Penjualan Pendapatan penjualan meningkat sebesar 8,4% menjadi Rp 76,3 triliun (2015: naik 7,9%
menjadi Rp 70,4 triliun). Kenaikan harga jual rata-rata per batang sepanjang tahun 2016 tercatat sebesar 10,5% untuk SKM dan 13,1% untuk
SKT, sementara volume penjualan keseluruhan turun 2% menjadi 77,1 miliar batang (2015: 78,6 miliar batang), tanpa terjadi banyak perubahan
bauran produk. Penjualan ekspor secara keseluruhan menyumbang 3,9% dari total pendapatan (2015: 4,0%). Biaya pokok penjualan naik 8,7%
menjadi Rp 59,7 triliun (2015: 5,9% menjadi Rp 54,9 triliun) dan laba bruto meningkat 7,3% menjadi Rp 16,6 triliun (2015: 15,7% menjadi Rp
15,5 triliun). Marjin laba bruto berada pada 21,8%, dibandingkan 22,0% pada tahun sebelumnya, memperlihatkan efektivitas dari strategi
penetapan harga jual untuk mengimbangi biaya pokok penjualan.
Kenaikan biaya pokok penjualan terutama dipengaruhi oleh kenaikan cukai rokok (termasuk pajak rokok dan PPN), yang meningkat signifikan
dari 68,7% menjadi 71,4% dari keseluruhan biaya pokok penjualan yang dibukukan Perseroan. Nilai cukai rokok tersebut adalah sebesar Rp 42,6
triliun pada tahun 2016, meningkat dari sebelumnya Rp 37,7 triliun pada tahun 2015, suatu peningkatan sebesar 13,1%, dibandingkan
peningkatan sebesar 7,0% pada tahun 2015. Sementara itu, biaya bahan baku sedikit meningkat, sebesar 0,4% menjadi Rp 13,5 triliun, dari Rp
13,4 triliun tahun sebelumnya. Laba Sebelum Pajak Penghasilan Laba sebelum pajak penghasilan meningkat 3,4% menjadi Rp 8,9 triliun (2015:
19,0% menjadi Rp 8,6 triliun).
Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh stabilitas marjin laba bruto di tengah dapat dipertahankannya peningkatan pendapatan penjualan
Perseroan. Naiknya beban usaha sebagai dampak upaya Perseroan mempertahankan posisi sebagai yang terdepan, namun demikian, menjadi
faktor yang mengurangi optimalnya dampak terjaganya stabilitas marjin laba bruto tersebut terhadap peningkatan laba sebelum pajak
penghasilan. Penurunan beban bunga seiring pengurangan pinjaman, sebaliknya, membantu tercapainya peningkatan laba sebelum pajak
penghasilan di tahun 2016.
Beban usaha naik 19,1% menjadi Rp 6,6 triliun, dibanding kenaikan 16,1% menjadi Rp 5,6 triliun pada tahun 2015, seiring dengan investasi
Perseroan dalam memperkuat distribusi, menjaga keberadaan produk di pasar serta mempromosikan mereknya. Dalam beban usaha, beban
penjualan naik 21,7% menjadi Rp 4,0 triliun (2015: 23,3% menjadi Rp 3,3 triliun), sementara beban umum dan administrasi meningkat 15,3%
menjadi Rp 2,6 triliun (2015: 7% menjadi Rp 2,3 triliun). Beban bunga mengalami penurunan 16,7% menjadi Rp 1.191 miliar, sementara pada
tahun 2015 Perseroan mencatatkan kenaikan 4,2% menjadi Rp 1.430 miliar, yang disebabkan oleh penurunan saldo rata-rata pinjaman bank
sebesar 4,8% dan biaya pinjaman bank rata-rata turun 1,2% selama kurun tersebut. Perseroan memiliki eksposur minimum terhadap gejolak nilai
tukar mata uang asing yang timbul dari pembelian barang impor, yaitu peralatan dan bahan baku tertentu. Laba Bersih Peningkatan beban usaha
berdampak terhadap penurunan marjin laba bersih dari 9,2% di 2015 menjadi 8,7% di 2016. Meskipun marjin turun, laba bersih meningkat 3,4%
menjadi Rp 6,7 triliun.
Laba per saham untuk tahun 2016 adalah sebesar Rp 3.470 (2015: Rp 3.345). Posisi Keuangan Dibanding tahun sebelumnya, perubahan
terutama disebabkan oleh penurunan liabilitas jangka pendek seiring menurunnya total utang serta utang usaha sejalan dengan waktu antara
pembelian dan arus kas, sehingga neraca secara umum menguat. Aset Kebutuhan modal kerja secara umum sama dibanding tahun sebelumnya
dengan peningkatan pada jumlah persediaan, jumlah kas menurun, sedangkan piutang naik pada akhir tahun sejalan dengan pertumbuhan usaha.
Aset lancar pada 2016 turun 1,5% menjadi Rp 41,9 triliun.

Aset Tidak Lancar Aset tetap tercatat sebesar Rp 20,5 triliun, meningkat 2%, yang berasal dari belanja rutin peralatan dan bangunan serta
teknologi informasi. Tidak ada proyek ekspansi skala besar selama 12 bulan terakhir mengingat kapasitas produksi cukup untuk memenuhi
kebutuhan mendatang. Liabilitas Liabilitas Jangka Pendek Pinjaman jangka pendek turun 3,9% menjadi Rp 19,8 triliun, yang dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Perseroan.
Saldo pinjaman rata-rata selama tahun 2016 menurun, karena disesuaikan dengan kebutuhan dana Perseroan, dan karena arus kas yang kuat.
Penurunan utang usaha sepanjang 2016 terutama merupakan dampak dari transaksi impor tembakau, yang terjadi di penghujung tahun lalu.
Fasilitas pinjaman dari sejumlah bank papan atas adalah pinjaman bergulir dalam mata uang Rupiah dengan periode bunga pinjaman 1, 3 hingga
6 bulan, dan pada akhir periode bunga, Perseroan memiliki opsi untuk melunasi sebagian atau seluruh pinjaman tersebut. Perseroan tidak
memiliki pinjaman jangka panjang pada tahun 2016. Kas yang diperoleh dari kegiatan usaha memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran
pinjaman.
Rasio utang terhadap ekuitas turun dari 75,8% di tahun 2014 menjadi 67,1% di tahun 2015 dan kemudian menjadi 59,1% di 2016. Manajemen
menilai rasio tersebut berada di kisaran yang wajar. Ekuitas Kenaikan ekuitas Perseroan dari Rp 38,0 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 39,6
triliun berasal dari kenaikan laba yang ditahan setelah dikurangi pembayaran dividen. Perseroan tetap memiliki kemampuan permodalan yang
memadai untuk memenuhi semua kebutuhan usaha di masa mendatang.

Arus kas Aktivitas Operasi Kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp 6,9 triliun. Penerimaan kas dari pelanggan naik 7,7% menjadi Rp
75,7 triliun disebabkan peningkatan pendapatan yang tinggi selama tahun 2016. Pembayaran kas kepada pemasok untuk bahan baku utama serta
cukai rokok mencapai Rp 58,3 triliun, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Pembayaran untuk beban usaha mengalami peningkatan
20,5% menjadi Rp 4,2 triliun, dan pembayaran kas untuk remunerasi karyawan naik 17,7% menjadi Rp 2,8 triliun. Aktivitas Investasi Kas yang
diinvestasikan untuk perolehan aset tetap, yang mencakup peralatan, gedung dan teknologi informasi, turun dari Rp 2,9 triliun menjadi Rp 2,3
triliun. Aktivitas Pendanaan Penerimaan dari pinjaman jangka pendek sebesar Rp 14,7 triliun, sementara pembayaran pinjaman jangka pendek di
tahun 2016 berjumlah Rp 14,8 triliun. Nilai dividen tunai yang dibayarkan kepada pemegang saham adalah Rp 5,0 triliun, lebih tinggi Rp 3,5
triliun dibanding nilai yang dibayarkan tahun sebelumnya, mempertimbangkan kondisi-kondisi yang dijelaskan lebih lanjut di bagian mengenai
Dividen. Kas bersih untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp 5,1 triliun.
Dividen Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang diadakan pada 21 Juni 2016, menyetujui pembagian dividen senilai Rp 2.600 per lembar
saham yang diambil dari laba tahun 2015. Dividen yang dideklarasikan pada tahun 2015 senilai Rp 800 per lembar saham, dibayarkan pada
tahun 2015 dan diambil dari laba tahun 2014. Pembayaran dividen pada tahun 2016 ini jauh melampaui kebijakan pembagian dividen sebesar
20% hingga 40% dari laba bersih per saham Perseroan mengingat Perseroan tidak lagi melakukan investasi yang signifikan, serta kondisi
perbankan yang lebih kondusif. Semua usulan terkait pembagian dividen yang diajukan kepada pemegang saham telah mempertimbangkan
kondisi arus kas, belanja modal, rasio utang terhadap ekuitas dan ketersediaan fasilitas serta biaya kredit perbankan.

Beri Nilai